SUATU Keberanian Mendamaikan Iman dan Kebebasan

Irshad Manji

Renebook Jl. Siaga Raya No. 21 C Pejaten Barat Jakarta Selatan 12510 Telp. (021) 456 73324 E-mail: redaksi@renebook.com

Suatu Keberanian Mendamaikan Iman dan Kebebasan Diterjemahkan dari Allah, Liberty and Love: the Courage to Reconcile Faith and Freedom karya Irshad Manji, terbitan Random House Canada, Canada, 2011. Copyright © 2011 Irshad Manji Published by Random House Canada, a division of Random House of Canada Limited, Toronto, and simultaneously in the United States of America by Free Press, a division of Simon & Schuster, New York. xxviii + 352 hal; 14 x 21 cm ISBN: 978-602-19153-4-9 Penerjemah: Meithya Rose Prasetya Editor: Wiyanto Suud Desainer Sampul: Alta Rivan Lay Outer: Ade Damayanti Cetakan 1, Mei 2012

Mengenang nenekku, “Leila Liberty”

Catatan Penulis
Allah adalah sebutan untuk Tuhan dalam bahasa Arab—
Tuhan kebebasan dan cinta yang berlaku universal. Aku sa­ dar, pemahaman ini tidak sama persis dengan persepsi ke­ banyakan orang tentang Allah. Tapi seperti yang akan aku tunjukkan, Tuhan begitu mencintaiku dengan memberiku pi­ lihan-pilihan dan kebebasan untuk menentukannya. Pada gi­ lir­ annya, mencintai sesama makhluk Tuhan berarti meyakini akan kemampuan mereka untuk menentukan pilihan sendiri. Dengan demikian, cinta menuntutku melakukan dua hal secara bersamaan: mem­ perjuangkan kebebasan, bukan sekadar untuk diriku sendiri, dan melawan penjajah-kekuasaan yang mencuri pilihan-pilihan itu dari kita sebagai manusia merdeka. Di masamasa yang kacau-balau begini, hubungan antara kebebasan dan cinta harus dieksplorasi secara jernih. Sebagaimana yang akan ku­ perlihatkan, keharmonisanku dengan Allah membantuku un­ tuk melakukan itu. Memang, kejernihan memerlukan nalar yang selalu meng­ arah pada pertanyaan “Bagaimana kau tahu Tuhan itu ada?” Aku tidak tahu, tapi aku meyakininya. Sejak dini, aku mengakui

vii

aku meng­ unggah semua catatan kaki di situs webku. sekaligus untuk menghindari pemangkasan yang terlalu banyak. irshadmanji. Melalui keyakinanku akan kapasitas kreatif setiap individu. aku pun mengubah nama mereka. izinkan aku bercerita se­ dikit tentang narasumberku. Faktanya. individu-individu dari berbagai keyakinanlah yang membentuk pemikiranku. LIBERTY.ALLaH. Begitu banyak penelitian tambahan untuk memperkaya buku Allah. Selama satu dasawarsa terakhir. supaya tidak merendahkan kecerdasan para pembaca yang agnostik dan ateis. aku berharap dapat berbicara dengan penuh hormat kepada mereka yang beragama maupun yang tak beragama. daripada duduk melamun dengan harapan fatalistik tentang kehidupan setelah kematian. & LOVE ini. sehingga mencantumkan semua catatan kaki akan menghambur-hamburkan jumlah halaman. Sebagian besar. aku hanya mencantumkan nama depan mereka. Supaya buku ini enak dibaca dan terjangkau.com. Jika Anda ingin memperdalam tentang 1 surat elektronik atau email viii . di facebook. aku juga akan memperlihatkan bahwa cara terbaik untuk menghargai kecerdasan manusia adalah dengan memiliki keyakinan akan potensi kita untuk menjadi agen perubahan dalam kehidupan ini. Liberty and Love ini. atau me­ lalui surel1. di antara guru-guru yang paling mempengaruhiku berasal dari kalangan Muslim dan non-Muslim yang berhubungan langsung denganku—baik di berbagai acara. kujalin kisah mereka menjadi buku ini. Dan ketika me­ nyadari bahaya yang akan menimpa korespondenku. Sebagai bentuk rasa terima kasih yang mendalam. Jadi. Namun. Aku juga menggunakan catatan kaki untuk menerangkan se­ jumlah pernyataan.

Semoga bacaan itu bisa menjadi inspirasi se­ kaligus sumber informasi bagi Anda.IRSHAD MANJi segala sesuatu yang telah Anda baca di sini. silakan kunjungi situs webku. di halaman belakang buku ini. ix . aku menyajikan daftar rekomendasi bacaan—beberapa di antaranya masih mem­ ­ buatku terkesan. Akhir kata.

.

aku tiba di Texas untuk pertama kalinya. Tak berapa lama ke­ mudian. Wilayah bagian Selatan dan Barat Tengah Amerika Serikat. dan kami gembira karena “teori super-senar. Yahudi. Universitas Rice di Houston me­ ng­ undangku untuk berbicara tentang bukuku The Trouble with Islam Today: A Wake-Up Call for Honesty and Change. aku dan tuan rumah men­ diskusikan tentang (apa lagi kalau bukan) sains. aku ber­ diri di hadapan barisan manusia yang me­ refleksi­ kan Bible Belt3 (Jalur Injil) tapi dengan keragamannya: Muslim. xi . yang didominasi oleh kaum Kristiani taat dan ketat. di dalam auditorium modern bernama Shell Oil.Kata Pengantar Dari Amarah Menuju Aspirasi Di suatu sore yang dingin di bulan Februari 2007. Buddha. 2 3 Diterbitkan di Indonesia dengan judul Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini. memiliki pendukung sekaligus pihak-pihak yang meragukannya.2 Dalam per­ jalanan menuju pusat dialog antaragama itu. Kami terkagum dengan temuan teori para fisikawan yang mengeksplorasi dunia di luar materi. Nasrani.” sebagai sebuah perjalanan spiritual yang penuh misteri.

yang kuyakini memiliki kapasitas untuk meng­ ubah dunia untuk selamanya. Ateis. penalaran.” tapi tidak seperti jihad (berjuang) yang xii . Aku janji. “percakapan tentang Islam yang sangat ber­ beda. menurut Muslim moderat. “berjuang. cerita yang akan kututurkan. “Aku ke sini untuk menjalin percakapan. tapi banyak di antara para peserta yang merasa khawatir. dan penafsiran kem­ bali. Malu-malu. yaitu pe­ ngeboman.” Kita semua tahu tentang Islam yang muncul di tajuk utama media massa: tiga serangkai kengerian. Kita juga tahu. Untuk para peserta non-Muslim. LIBERTY. dan—Tuhan mencintai kita semua—orang-orang yang terpinggirkan. Setiap orang bisa merasakan kegelisahan.ALLaH. bahkan di Texas sekalipun. & LOVE Politeis. Aku men­ deklarasi­ kan diriku sebagai penutur-ke­ benaran. Tulisan ten­ tang ke­ butuhan perubahan dalam Islam tidak akan me­ menang­ kan­ mu dalam diplomasi. tapi bukan itu misiku. “berkisar satu gagasan sangat besar. Islam itu damai. se­ orang keturunan Afrika-Amerika (chutzpah merupakan sebutan dalam bahasa Yahudi untuk keberanian yang hampir mendekati gila). Kata ini berasal dari akar yang sama dengan kata jihad. aku melafalkannya secara hati-hati: ij-tee-had. Setiap orang boleh jadi telah mem­ berikan hal yang kurang lebih sama.” aku menenang­ kan mereka. sang tuan rumah me­ manfaatkan keragaman ini dan memperkenalkanku sebagai Muslim yang dianugerahi Chutzpah Award oleh Oprah Winfrey. pe­ menggalan. Para peserta tertawa. justru itu akan me­micu ketegangan. Terpesona dengan apa yang disaksikannya.” Gagasan itu adalah ijtihad—tradisi dalam Islam yang men­ ­ cakup perbedaan pendapat. dan darah.

ia ber­ henti untuk me­ ngajukan satu pertanyaan lagi. Yang membuatku tak sabar untuk bercerita adalah surel dari Jim. se­ orang mahasiswa Muslim diam-diam meng­ hampiriku dan berkata bahwa ia baru mendengar ijtihad ketika masuk universitas di Amerika Serikat.” ungkapnya dengan penuh antusias. salah seorang pembacaku dari Amerika. berguna bukan hanya bagi umat Muslim. “tidakkah kita diajarkan me­ ngenai tradisi Islam ini di madrasah kita?” Aku mengarahkan dia ke bagian di buku­ ku yang membahas tentang pertanyaannya. ijtihad terkait dengan perjuangan untuk me­ mahami dunia kita dengan menggunakan pikiran. Seorang perempuan Mus­ lim berkulit cokelat (aku) meng­ inspirasi seorang lelaki Nasrani ber­ kulit putih! Bukankah kebebasan itu mengagumkan? Aku hampir saja teringat betapa mengagumkannya ke­ bebasan. tantanglah. Ia berterima kasih pada­­ ku dan berbalik. baik bagi kaum Muslim maupun non-Muslim. tentang mengajukan pertanyaan. Buang­ lah sekat-sekat kebenaran politik dan berdiskusilah. dan belajarlah. “Bagaimana aku men­ dapatkan chutzpah Anda?” xiii . Aku bicara mengenai mengapa kita semua memer­ lukan ijtihad. ini ber­ implikasi pada penggunaan kebebasan untuk mengajukan per­ tanyaan—yang terkadang terasa begitu tidak nyaman.IRSHAD MANJi penuh kekerasan. ber­ ­ debatlah. “Mengapa?” ia bertanya. Diskusi malam itu menyisakan pertanyaan di benak­ ku: Bagaimana dengan persoalan di dunia Barat? Akankah perempuan yang memulai reformasi dalam Islam? Bagaimana kau menggunakan ijtihad untuk mengalahkan para teroris? Di peng­ hujung malam. “Pesan ten­ tang ijtihad. Baru separuh jalan. Tentu.

“Permohonan Seorang Muslim untuk Intro­ speksi. seperti yang pernah kuajukan kepada guru madrasah­ ku di Vancouver dua puluh tahun silam. untuk pertama kalinya aku mengadakan rapat sebagai produser eksekutif dari sebuah saluran TV yang didedikasikan untuk spiritualitas. Aku sama sekali tidak tahu mengenai tragedi World Trade Centre sampai selesai rapat dan aku kembali ke satu ruangan kantor yang semua karyawannya terpaku mencondongkan tubuh ke arah TV. aku menulis editorial tentang ke­ napa umat Muslim tak bisa lagi menunjuk golongan non-Mus­ lim untuk menerangkan disfungsi kita.” memicu banjir respons sehingga penerbit bermaksud mem­ buatnya ke dalam satu buku yang utuh. Editorialku. Sudah terlalu lama kita menyelewengkan Islam dari Al-Quran surah 13. “Tuhan tidak mengubah nasib suatu kaum sampai mereka meng­ ubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Itulah solusi 13:11 bagi kekejaman tragedi 9/11.ALLaH. Pada pagi hari tanggal 11 September 2001. Mengapa aku tidak boleh berteman dengan Nasrani dan Yahudi? Mengapa wanita tidak boleh menjadi imam shalat? Mengapa aku meng­ hindar untuk menyelidiki Al-Quran dan memahaminya? Bukan­kah semua ini merupakan resep untuk memberantas ke­ busukan? Sebelum 9/11. xiv . Marilah sejenak kita kilas balik. Segera sesudah itu. Mereka membawaku ke suatu perjalanan surealis yang berujung pada buku yang sedang Anda pegang saat ini. ayat 11. LIBERTY. tidak seorang pun tampak peduli. & LOVE Selama delapan tahun terakhir. Aku harus me­ mutuskan apakah aku akan menyerahkan pekerjaan impianku demi menuangkan isi hatiku ke dalam suatu bentuk yang mung­ kin umat Muslim belum siap mendengarnya. aku sudah mengalami ratusan per­ cakapan seperti ini. Pertanyaan-per­ tanyaan.

Tur buku ini berkembang men­ jadi isu global. Presiden Pakistan. begitu juga India. Islamic Jihad. sesungguhnya. buku itu men­ jadi nomor satu selama berbulan-bulan. menulis The Trouble with Islam Today sebagai surat terbuka bagi sesama Muslim. Satu per satu. perjumpaanku yang paling berkesan justru datang dari warga biasa.IRSHAD MANJi Aku mengikuti nuraniku. Ketika terbit di bulan September 2003 di negaraku Kanada. Indonesia. dan juga menjadi buku terlaris di Amerika Serikat. Persoalan da­ lam Islam. justru kaum Muslim arus utamalah yang telah meng­ ubah agama Islam menjadi ideologi ketakutan. sebagian Eropa Timur dan beberapa di Timur Tengah. me­ nyuruhku untuk “Duduk!” karena ia tidak menyukai perta­ nyaanku terkait catatan pelanggaran HAM yang dilakukannya. negaranegara Eropa menerbitkan edisi ter­ jemahannya. Australia. yang membawaku ke semua negara di Amerika Utara dan Eropa Barat. menurut argumenku. aku sebe­ nar­­­ nya memulai apa yang Al-Quran sebut sebagai “jalan me­ nanjak.” Aku menemukan diriku berkonfrontasi dengan wakil presiden Iran mengenai kejahatan merajam wanita sampai meninggal dunia. Terlepas dari gebyar perhatian internasional. mengusirku dari Gaza ketika ia tak bisa men­ cari justifikasi di dalam Al-Quran untuk taktik kekerasan yang katanya “me­ limpah” dalam khasanah Islam. Tapi. diikuti oleh ne­ gara ber­ penduduk Muslim terbesar di dunia. dan Indonesia—di mana kaum Muslim puritan yang kaku dan seorang transeksual xv . Pervez Musharraf. Pemimpin politik dari sebuah kelompok teroris. per­tanyaan-pertanyaan yang kuajukan memancing reaksi keras justru dari mereka yang tergolong kaum Muslim arus utama. Terbukti. tidak semata terletak pada kaum militan.

LIBERTY. Banyak yang datang untuk mencela. aku mengunjungi empat puluh empat negara bagian. “Jutaan orang berpikir seperti Anda namun takut untuk muncul ke publik dengan pandangan-pandangan mereka. Semua un­ dangan dari umat Muslim dihadang oleh imam masjid yang meng­ anggapku sebagai biang onar. “Aku sudah membaca unggahan di situs webmu. banyak Muslim menghadiri acara-acaraku di depan publik. aku meng­unggah beberapa pesan baru. Tapi. tetapi mereka merasa tidak sanggup.ALLaH. dan biara. Seorang pembaca bernama Ayesha meringkaskannya dalam surelnya. & LOVE Muslim yang percaya diri menghadiri pesta bukuku. Tapi. Tetap saja. irshadmanji. ruang-ruang kelas. ruang olahraga. Surel Ayesha ditampilkan di muka situs webku. com. Di Amerika Serikat sendiri. “Bahkan. menemui kawan dan lawan di per­ pustakaan.” tulis Jonathan. kalaupun kau seperti yang dikatakan oleh para kritikus—kafir. sampai-sampai aku harus menari bak Muhammad Ali untuk menerima pukulan dan bertahan. (Lebih banyak tentang ini akan kupaparkan nanti). banyak juga yang datang untuk mencari ke­ tenangan. kapel. teater. xvi . yang menghubungkanku dengan apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh orang-orang yang memiliki keyakinan sangat berbeda tentang reformasi Islam— dan tentang mengapa aku tidak meng­ anggap reaksi buruk itu sebagai sesuatu yang personal. Situs­ ku langsung berubah menjadi ajang perdebatan. ada seseorang yang mengatakan apa yang mereka ingin katakan. disertai jawabanku. ternyata. tidak satu pun di dalam masjid. penghina Tuhan. Setiap beberapa minggu sekali. Karena.” Aku mengerti: Ada hari-hari aku menerima begitu banyak surel yang penuh ke­ bencian. karena takut menghadapi hukuman.

” Ia mengutip filsuf Yahudi abad ke-12 Maimonides.” Balasanku pada Jonathan. Dan pernah suatu waktu aku memiliki pengawal pribadi.IRSHAD MANJi pembenci-diri. Yahudi pecinta lesbian. dan aku tidak ingin mereka mengasumsikan bahwa satu-satunya cara untuk selamat adalah dengan menyewa pengamanan seharian penuh. Tampan pula. supaya kaum xvii . Tapi aku pensiunkan dini. Beberapa surel seperti itu aku serah­ kan kepada kepolisian. yang mem­ buktikan bahwa musuh-musuhku sudah merencanakan khayalan eksekusi mereka. “Yeah. Titik. pengeruk-uang. peracun-pikiran. tapi kau kan cuma seorang pembencidiri.” Aku mulai menanggapi ancaman kematian secara serius ketika ancaman itu diikuti dengan hal-hal spesifik. Pakar-pakar antiterorisme menyarankan agar aku tidak menggunakan ponsel karena pihak-pihak yang bermaksud buruk bisa dengan mudah memanfaatkan teknologi untuk melacakku. Kotak masukku di­ banjiri pesan dari Timur Tengah yang menanyakan kapan bukuku diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. yang dipengaruhi oleh kaum Muslim pemikir bebas: “Kebenaran tidak akan menjadi lebih benar hanya karena seisi dunia menyetujuinya. Keputusan untuk melepaskan keamanan 24-jam berhasil mem­ buka komunikasi dengan para pemuda Muslim—dan ke­ sempatan untuk mewujudkan perubahan. atau ku­ rang benar jika seisi dunia tidak menyetujuinya. pengeruk-uang. supaya kaum muda Muslim menyaksikan bagaimana aku menghadapi konsekuensi-konsekuensi akibat muncul di depan publik dengan pertanyaan-pertanyaanku. lesbian Zionis (apakah ada yang terlewat?)—hal itu tidak akan berhasil karena pemikiranmu tidak men­ datangkan manfaat. peracun pikiran.

Saat menyaksikan kalangan Muslim sangat haus akan reformasi.) Aku pun berpikir. Dalam banyak kasus—keamanan masih menjadi per­ masalahan tersendiri—aku mengiyakan mereka. Sungguh subversif. LIBERTY. aku duduk bersama se­ orang jurnalis yang memperlihatkan bukuku dalam edisi ter­ je­ mahan yang diedarkan oleh kalangan pemuda Arab.ALLaH. (mereka memang masih muda tapi bukan anak kemarin sore. Di tengah deru ancaman pembunuhan. Banyak kaum muda yang kemudian membalas. “Kamu Irshad. & LOVE reformis generasi baru di sana bisa berbagi dengan teman-te­ man mereka. Sekali waktu. kan?” tanya me­ reka. yang nantinya bisa mereka unduh secara gratis. Aku ingin sekali. “Lalu kenapa?” Mereka mendorongku untuk mengunggah hasil terjemahan Arab di situs webku. Setahun kemudian. Sejauh ini. Ini meng­ inspirasikanku untuk memberikan akses yang sama pada pem­ baca di Iran. mereka berkata kepadaku kalau mereka sudah membaca bu­ ku­ ku secara online. sesuatu pun terjadi pada diriku. berbagai terjemahan yang diunggah di situsku sudah diunduh lebih dari dua juta kali. di mana bukuku dilarang beredar. Aku ingat satu kejadian yang xviii . tapi sebutkan satu saja penerbit Arab yang bersedia mendistribusikan buku seper­ ti ini. aku mengunggah bukuku dalam terjemahan Arab ke situs webku yang bisa diunduh para pembacaku secara gratis. Mana mung­ kin aku menolaknya?” Di tahun 2005. Di lain waktu. aku semakin mendewasakan diriku—beranjak dari amarah menjadi aspirasi. sejumlah aktivis demokrasi mem­ berhentikanku di jalanan Kairo. “Keren. jawabku.

Habib. aku tak akan menyelaraskan diriku de­ ngan praktik-praktik kaum Muslim tertentu. Salah satu di antara banyak tempat. Barangkali Anda bisa mendorong Islam un­ tuk lebih berpikiran terbuka dan menatap ke depan..IRSHAD MANJi luar biasa: Hamza. Se­ panjang pembuatan film.. kaum Muslim moderat sering seka­ li menghindari pertanyaanku yang mendasar: apa yang bisa kita lakukan untuk menyucikan ke­ imanan agar sesuai dengan ayat yang mengagumkan di dalam Al-Quran. film dokumenterku. ia memperlihatkan keyakinan akan kapasitasku untuk tumbuh. suatu hari nanti akan menjadi seorang martir. kami me­ wawancarai mantan pengawal Osama bin Laden. Aku pun menjalani serangkaian tur. seorang remaja Kanada keturunan Pakistan. aku dan kru mengambil gambar di Yaman. Di sana. tetapi lebih pada apa yang bisa kita cintai dari Islam—dari perspektif pihak yang berseberangan. me­ mohon kepadaku dalam surelnya “agar tidak meninggalkan Islam” karena “kami benar-benar membutuhkan orang seperti Anda. “terkadang Anda mengkritik Islam terlalu berlebihan.” Tapi. yang dengan bangga mengutarakan harap­ an agar putranya yang berusia lima tahun. dan kujawab dengan penawaran: jangan ­ fokus pada persoalan-persoalan di dalam Islam. Faith Without Fear. tayang pertama kali di bulan April 2007. “Tuhan tidak mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah keada­ an yang ada pada diri mereka sendiri”? Demi semua rasa cintaku terhadap Islam. PBS (America’s public broadcaster) mendekatiku untuk membuat film dokumenter ber­ dasarkan bukuku.” Aku me­ nerima tantangannya. ber­ temu dengan banyak orang yang mengatakan padaku bahwa mereka xix . ia mengecam. Aku tersentak kaget.

Secara intrinsik. Kennedy menggambarkan ke­ bera­ nian moral sebagai kesediaan untuk berbicara kebenaran pada pihak kuasa dalam komunitasmu demi kebaikan yang lebih be­ sar. dogma ter­ ancam oleh pertanyaanpertanyaan. dan lebih mendekatkan kepada Sang Pen­ cipta melalui pengenalan terhadap diri sendiri. tradisi. Keberanian moral memungkinkan masing-masing dari ki­ ta untuk menggunakan nurani. dan Sikh yang bertekad meninggalkan kung­ kungan mereka yang sempit—sampai merasa dibangkitkan se­ mangatnya oleh per­ juangan dari kaum pembaharu Islam. Setelah menyaksikan filmku di Robert xx . Robert F. & LOVE berjuang dengan budaya.” sebuah frase yang belum pernah kudengar. Dogmalah yang melarang. Iman tidak melarang eksplorasi. Aku mendengarkan umat Nasrani. Hindu.ALLaH. Itulah Tuhan yang rahmat-Nya bisa dirasakan oleh individu-individu yang penuh rasa ingin tahu di manapun juga. tidak berarti komunitas lain duduk manis. menggantikan konsensus de­ ngan individualitas. dan struktur ke­ kuasaan yang membatasi pengalaman religius mereka. Yahudi. bisa menghadapi semua itu. Semakin jelas bagiku. LIBERTY. betapa pentingnya keberanian moral bagi siapa saja yang ingin hidup sempurna—integritasnya—baik di dalam tra­ disi keagamaan maupun di luar agama. Walau­ pun Muslim menjadi sorotan sejak 9/11. Diskusi-diskusi itu me­ maksaku untuk berpikir lagi tentang perbedaan antara iman dan dogma. sementara iman me­ nerima pertanyaan-pertanyaan karena iman meyakini bahwa Tuhan yang Maha Pengasih. Kemudian. Para akademisi di Universitas New York mulai menyadari penting­ nya integritas. seorang teman yang agnostik mengenalkanku pada konsep “keberanian moral.

Di tahun 2008. terlalu xxi . Namun di dunia yang multi­ kultural. surat yang ditulis-tangan dari masyarakat. Sementara itu. sebetulnya terlahir dari budaya. jika mereka mengutarakan perta­ nya­ an mereka mengenai apa yang dilakukan Muslim atas nama Islam. Misalnya. yang. jika mereka jujur mengakui apa yang me­ reka yakini. Karena ketakziman terhadap multi­ kulturalisme yang tidak pada tempatnya. Dikelilingi oleh banyak sekali surel. di Eropa.IRSHAD MANJi F. non-Muslim takut tercemar sebagai orang yang berprasangka. di Asia. aku kembali memulai bab berikut­ nya dalam perjalanan ini: mengaitkan misi reformasi di kalangan Muslim dengan pesan keberanian moral yang univer­ sal bagi kita semua. dan catatan yang kutorehkan untuk diriku sendiri selama bertahun-tahun. dan yang kian meningkat di Amerika Utara. Begitu aku nyaman di New York. aku menyaring dan memilah. menyelenggarakan kelas pertamaku dan bernapas lega. pem­ bunuhan terhadap wanita dan gadis yang “hina” di Timur Tengah. se­ cara budaya. budaya menjelma seumpama de­ wa—bahkan di kalangan orang sekuler. Pola pun bermunculan. Wagner Graduate School of Public Service. Kami akan mengajarkan individu untuk bersuara lan­ tang di dunia yang sering kali menginginkan kita bungkam. Hasil­ nya adalah kebungkaman kolektif. bukan agama. sang dekan berta­ nya kepadaku: apa­ kah aku mau mempertimbangkan untuk melun­ cur­ kan Gerakan Keberanian Moral (Moral Courage Project) ber­ samanya. tidak sensitif terhadap kekejian. Muslim takut mencemari keluarga mereka dan Tuhan. aku menjadi direktur pendiri Gerakan Keberanian Moral.

” Bicara tentang refleksi pada kematangan cinta mereka ter­ ­ hadap kebebasan. yang berusaha untuk hidup berdampingan? Pesan dari para pembacaku membantuku me­ ngaitkan titik-titik ini. yang memprediksikan bahwa para reformis Muslim “akan meng­ ajarkan Barat betapa berharganya kebebasan berekspresi bagi masyarakat yang beradab dan berfungsi dengan baik. Kita semua bisa menjadi instrumen perubahan. bukan ketakutan dan amarah. Aku sekarang bisa menyuarakan pendapatku tanpa dibebani perasaan sangat bersalah karena merasa tidak toleran. Bagaimana bisa kita bisa acuh tak acuh terhadap penyelewengan kekuasaan yang begitu nyata. Di tempat yang sama.” Aku kemudian mengalihkan perhatian ke surel dari Zahur. LIBERTY. aku teringat kembali dengan satu ke­ ja­ dian yang mengganggu perjalananku. Ketidakadilan semacam itu membuatku sedih. Tanyalah generasi muda Iran bagaimana perasaan mereka tentang itu. Helene menulis: “Anda mendorong pemeluk Nasrani se­ perti­ ku untuk melihat kelompok Islam dengan penuh kasih dan pemahaman. para penegak xxii . & LOVE banyak di antara kita melanggengkan kebungkaman yang me­ matikan. hanya karena ketidakacuhan itu dianggap sebagai ketersinggungan? Di mana kompas yang bisa di­ guna­ kan untuk memandu kita keluar dari kebohongan ini? Dan ke­ baikan apa lagi yang lebih mengagumkan dari orang-orang luar biasa dalam spektrum budaya.ALLaH. kaum non-Muslim yang baik hati membisiki bahwa mereka ingin mendukung misiku tapi mereka merasa tidak ber­ hak untuk terlibat. Di kampus-kampus univer­ sitas Barat. setelah menyadari kalau aku telah mempertimbangkan segala sesuatunya secara arif dan bijaksana.

“Ini konyol. Martin Luther King. (Ya. yang berkampanye de­ mi reformasi “budaya kehormatan” di AS bagian Selatan— sumber segregasi ras yang sudah bertahan lama. Karena. teolog Reinhold Niebuhr. bukan malah meng­­ ­ hambatnya. memang ada! Aku akan men­ ceritakan kisahnya kepadamu.) Mereka dan agen-agen keberanian moral lainnya memacu­ ku untuk memikirkan pertanyaan-pertanyaan besar yang ku­ ­ dengar dari orang-orang dari setiap latar belakang dan ke­­ ya­ kinan berbeda: Mengapa aku harus mempertaruhkan repu­ ta­ siku untuk mengatakan kebenaranku? Bagaimana aku meng­ xxiii .” aku bergumam sendiri ketika meng­ ingatnya. yang bisa menjadi panduan bagi kita semua. begitu juga guru-guru King: filsuf Socrates. aku mulai menyadari tentang tantangan ke­ beranian moral di zaman kita. tidak mungkin ada integritas—baik dalam diri mau­ pun masyarakat. Aku menenggelamkan diriku dalam penelitian tentang bagaimana gerakan-gerakan pembebasan sebelumnya bisa ber­ hasil. novelis Lilian Smith.IRSHAD MANJi supremasi Islam merasa jauh lebih bebas daripada Muslim liberal dalam mempertahankan interpretasi mereka ter­ hadap Al-Quran. “Pembenci ke­ bebasan begitu menghargai ke­ bebasan mereka dengan memanfaatkannya untuk menekan orang lain. memiliki arti bagi gadis Muslim ini (yaitu aku). Bagaimana bisa kita membiarkan mereka lolos begitu saja?” Dari situlah. Aku juga mem­ pelajari Islam versi Gandhi. Jr. Muslim dan non-Muslim yang hidup di alam demokrasi harus mengembangkan keberanian untuk memperluas kemerdekaan individu. tanpa kebebasan untuk berpikir dan ber­ ekspresi.

Kebusukan itu menyebar ke Amerika. walaupun sibuk dengan urusan sen­ diri. Di suatu lingkungan xxiv . mulai protes tentang perubahan ekonomi yang tidak bisa di­ serah­ kan hanya kepada orang-orang di dalam Wall Street. barbar. yang jaminan keuangannya berantakan.” kata satu surel yang menggambarkan iklim kita. tapi kini lawan mereka yang paling vokal—pengecam Islam—justru me­ nargetkan golongan reformis sepertiku. Penegak supremasi Islam sudah lama menjadikan para re­ formis muslim sebagai sasaran kemarahan mereka. Dan aku menerima lebih banyak surat yang bernada kebencian.ALLaH. Orang-orang biasa. hanya karena tetap menjadi Muslim. satu perdebatan yang buruk terjadi terkait dengan pengajuan pembangunan pusat kajian keislaman dan masjid di area Ground Zero. LIBERTY. “Islam merupakan ideologi para Fasis yang melakukan pembantaian massal dan kalian adalah kaum Muhammad yang terbelakang. Muslim dan non-Muslim saling mem­ butuh­ kan demi memperluas lingkaran kebebasan. & LOVE hadapi masyarakat yang tidak setuju? Apa hubungannya Tuhan dengan semua ini? Bahkan kegagalan perekonomian kita semakin memperkuat arah baru dari perjalanan ini. sebagai agama global yang dinamika internalnya mempengaruhi begitu banyak kehidupan di luar agama ini sendiri. Pemahaman ini juga berlaku dalam Islam. Di tahun 2010. orang-orang Wall Street ini berusaha untuk mem­ pertahankan status mereka. Bagaimana­pun juga. Tentu saja. Politik busuk yang mengadu dom­ ba antara Islam dengan Barat telah mengacaukan Eropa se­ lama bertahun-tahun. dan bodoh.

keberanian moral terkadang seperti mimpi di siang bolong. dan cinta. Ke­ dua. seperti yang kuyakini. Sejak 9/11. maka kita sangat mampu menghadapi pertanyaan-pertanyaan se­ perti itu. masyarakat bebas meng­ hadapi dilema yang menuntut pemikiran berani. Saat ini. Al-Quran berisi tiga kali lebih banyak ayat-ayat yang men­ desak umat Islam untuk berpikir dibandingkan ayat-ayat yang menganjurkan ketaatan buta. hampir setiap surah dalam Al-Quran dimulai dengan memuji Tuhan sebagai “yang Maha Pengasih dan Penyayang. Bagai­ mana. Itulah mengapa. Namun untuk benar-benar berani. cinta perlu didampingi dengan berpikir. tanpa menjadi relativis (membenarkan semua hal lantaran tidak memiliki pendirian)? Negara-negara demokrasi harus mengajukan per­ tanyaan-per­ tanyaan itu. Keberanian moral sangat dibutuhkan. bukan lantas membungkam mereka karena takut tidak mampu bersikap dewasa. Pertama. yang individu-individunya melebur ke dalam kelompok suku. Dengan menggabungkan anjuran Kitab Suci untuk menggunakan akal dan afirmasi Tuhan yang Mahabijak. Untuk memantapkan diriku. kita menghasilkan masyarakat pluralis (me­ miliki to­ leransi terhadap berbagai perspektif).IRSHAD MANJi yang emosional. dan ini di­ mu­­ lai dengan cinta. misalnya. bahwa Tuhan kita yang sama menganugerahi rahmat untuk tumbuh berkembang. kebebasan. Aku ingin menunjukkan kalau Anda pun tetap bisa hidup dengan bebas—apa pun agama Anda. Jika Anda yakin. kalian telah xxv .” bukan yang plin-plan dan jahat. aku bersandar pada dua tonggak rahmat Tuhan. aku mendapatkan jalan untuk menyelaraskan Allah. sekaranglah waktu yang tepat untuk bu­ ku ini.

dengan harapan akan semakin banyak yang ber­ gabung denganku ke dalam salah satu gerakan reformasi pen­ ting di abad ini. Di buku ini.” Anda akan membangun keberanian untuk mengajukan pertanyaan pada komunitas Anda. Tuhan bisa menjadi nurani Anda. atau gabungan keduanya yang sungguh memesona. Dan Anda akan menemukan Tuhan yang mencintai pertanyaan-pertanyaan itu. LIBERTY. Aku membagi pelajaran-pelajaran ini ke­ pada Anda. Anda akan belajar bagaimana mentransformasi sikap defensif yang tinggi terhadap “Pihak Lain” (the Other) dan ekspektasi yang rendah pada diri sendiri menjadi kebalikannya: ekspektasi yang tinggi pada diri sendiri dan sikap defensif yang rendah terhadap “Pihak Lain. & LOVE mem­ bentuk perjalananku.ALLaH. yang dikenal sebagai integritas. dan pertumbuhan yang kualami telah membawa tujuh pelajaran untuk hidup dengan penuh ke­ beranian moral dan akan dipaparkan di dalam buku yang akan Anda baca ini. xxvi . Pencipta Anda.

Identitas Bisa Menjebakmu. Beberapa Hal yang Lebih Penting Daripada Rasa Takut—1 2. Budaya Itu Tidak Sakral—95 4. Kehilangan Makna Adalah Ancaman Kematian yang Sesungguhnya—291 Resep: Teh Chai Ala Irshad—339 Rekomendasi Bacaan—341 Ucapan Terima Kasih—347 Tentang Penulis—349 xxvii . Tinggalkan Sikap Moderat—241 7. Tapi Integritas akan Membebaskanmu—49 3. Tersinggung adalah Harga dari Keragaman—193 6. Atas Nama Krisis Moral.Daftar Isi Catatan Penulis—vii Kata Pengantar: Dari Amarah Menuju Aspirasi—xi 1. Kaulah yang Menentukan Kehormatanmu —145 5.

.

Syukurlah. Ketika Mama mendadak terdiam. cangkircangkir teh bermotif bunga terhampar di hadapan kami. Dan memang. seolah siap menangkis apa pun yang terbetik di be­ nakku sebagai pembelaan yang lemah.1 Beberapa Hal yang Lebih Penting Daripada Rasa Takut “Dapatkah kau bayangkan hidupku tanpamu? Cobalah ba­ yang­ kan sesaat saja!” Bagaimana rasanya kalau kata-kata itu datang dari ibumu sendiri? Apa yang kau bayangkan kalau ibumu memintamu untuk meredakan seruanmu kepada Muslim moderat agar mereka berbicara terang-terangan menentang kaum ekstremis yang destruktif? Saat itu kami sedang di meja makan. Air mukanya tampak seakan ia mau muntah.” dengan lembut ia meng­ ingatkanku. mulutnya masih agak terbuka. pem­ 1 . Mama tak bisa menelan sekarang. “Setiap hari aku hidup dalam ketakutan. na­ mun hampir tak tersentuh. hatinya menghalangi kerongkongannya.

sementara kau bersikeras bahwa meringkuk dalam ke­ takutan hanya akan membuat musuh-musuh kemanusiaan men­­ jadi lebih kuat daripada sebelumnya? Bahwa mereka bisa saja mem­ berimu pe­ ringatan terakhir. Jadi. “Apa pun yang kau lakukan. aku akan pergi dengan nurani yang utuh dan jiwa yang tetap berkobar hidup. Pelajaran Pertama: Beberapa hal yang lebih penting daripada rasa takut. & LOVE belaan­ ku terasa lemah. tapi kau menolak mem­ beri mereka kata-kata terakhir? Aku tidak berharap ibuku setuju. aku pun menjawab­ nya. Aku tak mau ber­ bohong pada ibuku. karena umur panjang bukanlah ja­ minan bagi kita semua. bukan sebaliknya. “Ba­ gaimana dengan yang terbaru?” kata Mama dengan lirih. keyakinan bahwa kalau pun aku mati esok hari. “Apa yang mereka katakan?” lanjutnya. harus memikirkan kalau Tuhan yang Mahaadil dan Pe­ nyayang akan murka kepadamu karena ideologi keke­ rasan mungkin akan mem­ buatmu melanggar kaidah “orang­ tua-ha­ rus-mati-terlebih-dulu!” Bicara tentang pukulan telak. Beberapa tahun silam Mama pernah menasihatiku. LIBERTY. melainkan. Tapi mematuhi hukum semesta bahwa anak-anaklah yang se­ harusnya mengubur orangtua mereka.” Dapatkah kau bayangkan. karena masalah yang terpenting di sini bukan­ lah untuk memenangkan perdebatan dengan ibuku. bagaimana ibumu bersikap te­ nang. Yang ku­ harapkan darinya adalah keyakinan—bukan agar aku hidup lebih lama. “Ini peringatan terakhir buat­ mu. ketika ia menanya­ kan ten­ tang ancaman kematian yang terakhir. jangan buat Allah marah!” Bisa kau bayang­ kan. Kubilang ke dia kalau salah satu­ nya diakhiri dengan.ALLaH. 2 .

tapi begitulah dia. sebetulnya. Khomeini me­ ngerah­ kan mesin pembunuh di Republik Islam Iran untuk men­ janjikan kematian Rushdie. seperti yang juga diamini oleh Rushdie.” “Disfungsi keluarga itu normal. ketika ibuku sangat membutuhkan dukungan.” Rushdie me­ ngo­ reksi ucapan­ ku. sepertinya kaum Muslim itu tidak sungguh-sungguh mengincar Anda.” Aku suka pria ini—dia bersikap baik kepada ibuku.” “Well. “Setelah fatwa Khomeini. Maksud saya. pada dasarnya kita me­ mang tak pernah suka [Salman].” jawabku. Dia juga membenciku. Aku tidak suka padanya.IRSHAD MANJi Sungguh luar biasa.” Kisahnya itu mengingatkanku pada sesuatu yang di­ ucap­ kan oleh seorang kerabatku yang cukup terpelajar beberapa tahun silam. 3 . paman-paman Muslim memang me­ng­­ucapkan hal-hal yang mengutuk. “Anda masih tinggal di tempat yang sama?” tanya Rushdie. Namun. “Ya. Salman Rushdie hidup lebih lama dari­ pada Ayatollah Khomeini! Pada 14 Februari 1986. novelis ini melawan ulama paling terkenal di dunia itu. mungkin ancaman terhadap keselamatan itu tidak sungguhan. “Anda te­ mui itu di mana-mana. dia menunjukkan satu iklan di koran lalu mengatakan. Saat mengikuti bincang publik di Kota New York untuk memperingati dua puluh tahun “Fatwa” tersebut. Namun. “Kalau begitu. sang pengarang The Satanic Verses (Ayat-Ayat Setan). Rushdie ber­ cerita kepadaku tentang salah seorang ang­ gota keluarganya. “Aku memiliki seorang paman yang men­­jabat sebagai Jenderal di angkatan bersenjata Pakistan.” aku menyela. tidak begitu normal.

& LOVE Mempertaruhkan risiko tidak disetujui oleh keluarga me­ rupa­ kan ketakutan terbesar di kalangan Muslim. —Alya Saya mengamati sesama Muslim yang lain dan bertanya ke mereka. Yang saya inginkan adalah sebentar saja jauh dari agama. Ingin rasanya saya mem­ beri­ tahukan dunia tentang perasaan saya. lebih-lebih di kalangan Muslim. Tak heran. Ke­ luarga saya menjadi warga negara Uni Emirat Arab. untuk menghancurkan dinding baja ini. supaya saya bisa menemukan jati diri saya tanpa pengaruh luar. Saya lahir di Irak bagian Utara. tapi saya sayang keluarga dan tak mau menghancurkan hidup mereka. martabat seseorang tidak akan ada tanpa konsensus masyarakat. Sederhananya.. karena tak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya me­ ratapi­ nya. Mereka semua menjawab “tidak” tanpa ragu-ragu. Apa ada se­ suatu yang salah denganku? Mengapa orang-orang sepertinya me­ nerima saja apa diajarkan pada mereka? Saya sangat frustrasi saat ini. Perlu lebih banyak orang seperti Anda dan saya. Saya adalah generasi abad ini dan akan hidup sesuai cara hidup masa kini.. dibandingkan mengklaim mar­­ tabat untuk diri sendiri. Budaya kehormatan kami—yang akan kujelaskan sebentar la­ gi—membuat kami percaya bahwa kami harus melindungi ke­­ luarga dari aib terlebih dahulu. bukan zaman kuno. Kaum muslimin masih terikat dengan aturan mereka. LIBERTY. aku me­­ nerima pesan-pesan se­ macam ini dari kalangan Muslim yang tinggal di Timur dan Barat: Saya membaca buku Anda di Internet dan Anda benar. 4 . Ini memang ber­ laku pada semua orang. kita mem­ butuhkan seruan untuk bangkit. apakah mereka memiliki keraguan terhadap Islam.ALLaH.

Saya pernah menjalani hubungan se­ macam itu. dibilang tidak boleh bertanya. Mereka takkan pernah lagi bicara dengan saya jika saya meng­ ambil jalan yang saya kehendaki. Saya tipe orang yang menyimpan sendiri perasaan demi keluarga. Ibu saya se­ orang Nasrani dan ayah saya seorang Muslim. saya harus meninggalkan keluarga. Namun demikian. Bagaimana saya bisa menjadi orang yang saya ingin­ kan? Atau menjadi diri saya yang sebenarnya. 5 . saya akan meng­ hargainya.. saya ter­ biasa dengan pandangan miring dari sesama Muslim.IRSHAD MANJi Tapi untuk melakukan itu. Satu-satunya harapan adalah saya me­ ninggalkan keluarga saya. Setiap kali hendak mengajukan per­ tanyaan kepada mereka. Setelah bertahun-tahun lamanya. seiring bergulirnya waktu. karena saya sadar tidak ada harapan lagi. Saya tak pernah mengatakan bahwa untuk memercayai pen­ jelasan itu. saya menemukan jati diri saya terbelah antara menjadi pendukung reformasi Islam dan me­ lepaskan agama saya seutuhnya. Tapi sekarang sudah berakhir. namun keluarga terlalu penting untuk itu. Karena itu.. saya kini berada dalam kondisi tertekan. saya dibentak. saya perlu memiliki keyakinan kuat terhadap Al-Quran. Jika Anda memiliki saran apa pun. Seakan tidak cukup umat Muslim menerima cercaan dari non-Muslim dan harus berjuang terus-menerus untuk melepaskan diri dari cap teroris. atau disuruh menerima penjelasan yang langsung dikutip dari Al-Quran. —Yasmin Banyak pertanyaan di situs web Anda mengangkat pasangan Muslim dan non-Muslim. kalau saya terlalu takut untuk bersuara? —Phirdhoz Saya seorang Muslim dan bercita-cita menjadi penulis. kita pun se­ pertinya harus menghadapi penghakiman dari sesama Muslim.

dan saya ingin mereka mencintai saya karena apa yang saya yakini. orang-orang ini tidak bisa diubah. & LOVE Ada kalanya. ketika saya merasa sudah tidak ada yang berharga lagi. Kami bergerak dengan me­ nyebarkan publikasi ke banyak universitas. dan kami menerima telepon yang mengatakan kalau mereka akan mengirim ratusan laskar Allah untuk menghentikan kami. Tapi pencarian jiwa yang membutuhkan shalat dan surah-surah Al-Quran yang menenteramkan jiwa. meninggalkan seorang istri dan putra tanpa perawatan yang sepatutnya. Barubaru ini. untuk membuat mereka melihat hal-hal dari perspektif yang berbeda dan bahkan mungkin menunjukkan belas kasih? —Elizabeth Kampung halaman saya di Solo. Beberapa tahun yang lalu. Apa­ kah ada cara. Sekarang ia dipenjara. LIBERTY. saya mengalami masa-masa lemah. Jawa Tengah. yang setiap hari kubaca adalah bagian dari diri yang sangat saya sukai. Keluarga saya juga sangat konservatif. kami menyelenggarakan sebuah seminar tentang pluralisme.ALLaH. saya tetap men­ cintai keluarga saya. Mereka bicara di belakangmu karena mereka merasa benar sendiri. Jihad macam apa itu? Tapi betapa pun konservatifnya mereka. saya sudah bergabung dalam sebuah kelompok kepemudaan yang mengampanyekan reformasi Islam dan pluralisme. Saya sering kali tak berdaya ketika ber­ 6 . Setiap karya saya dipublikasikan. Semua paman dan bibi yang lebih tua selalu saja punya bahan kritikan. saya sedang menghadapi kesulitan di keluarga. Daerah saya ini juga menjadi rumah bagi Majelis Mujahidin Indonesia. sebuah organisasi Islam radikal. saya sangat dikecewakan oleh seorang kerabat yang merupakan imam lokal. mereka mengirimi surat-surat ancaman. menurut pengalaman Anda. Saat ini. Sejak tahun 2005. Ia terlibat dalam salah satu kelompok teroris.

(4:135). Barang­ kali. Saya tidak me­ nyuarakan pikiran saya. Tak mau menyakitinya dan tak ingin ayah menyakiti saya. Ke­ curigaan terhadap kaum Muslim yang ber­ pikiran reformis akan tetap berlangsung. tanpa peduli siapa pun yang akan tersinggung karenanya. dan itulah yang meng­ undang rasa sakit. Nuranimu penting. Elizabeth. menjadi saksi karena Allah. dan Sakdiyah tidak peduli. maka otomatis mereka akan apatis. bagaimana saya menggunakan kebebasan saya untuk berbicara? —Sakdiyah Tanggapanku ke mereka semua adalah.IRSHAD MANJi hadapan dengan ayah. Bagaimana mungkin keluarga tra­ disional mau melawan Al-Quran? Mereka tidak akan berani men­cobanya. Kau peduli dengan Islam. Jadi. Kau merasa sakit justru karena kau memedulikan inte­ gritas keyakinanmu. mereka akan selalu mencari-cari dalih un­ tuk me­ ngecilkan makna yang dimaksud ayat tersebut. dan masing-ma­ sing kita harus bergumul dengan pertanyaan yang diajukan Yasmin: Apa ada yang salah dengan saya? Di satu sisi. se­ hing­ ga mengutip ayat saja tidaklah cukup untuk berbicara benar terhadap pihak yang berkuasa dalam keluarga—atau komunitas Muslim. Namun begitu. memang ada yang salah. renungkan­ lah salah satu ayat yang paling tidak diindahkan di dalam AlQuran: Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak ke­ adilan. Ayat ini me­ rupakan panggilan untuk jujur. Seandainya saja Alya. Phir­ dhoz. karena saya tak mau membencinya. itulah yang terjadi pada banyak ke­ 7 . Saat itulah saya berbohong. sebelum kalian me­­ mutuskan tak sanggup mengecewakan keluarga. walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Yasmin.

” Berlebihan? Tidak. Jika mereka tidak me­ nolerir rasa ingin tahu kita. maka kita mengatribusikan ke­ wenangan pada sesuatu selain Tuhan. Meskipun demikian. LIBERTY. Seja­ rawan Taylor Branch menulis. kami mungkin lebih terfokus dengan keimanan—karena banyak­ nya pertanyaan yang menghantui kami—dibandingkan umat yang tidak memiliki pertanyaan sama sekali. Georgia. seorang guru yang sangat aktif terlibat dalam Gerakan Reformis Muslim di New York. Daddy King (Ayah King) ber­ 8 .ALLaH. ada sesuatu yang tidak perlu begitu kita pedulikan: persetujuan orang lain. Bahkan sebelum ia ber­ ha­ dapan melawan segregasi kulit putih. menurut seorang reformis sadar-Tu­ han bernama Martin Luther King. yang menginginkan kita untuk hidup secara sadar dan bertanggung jawab atas ke­ hidupan kita. The Quran and the Life of Excellence (Al-Quran dan Hidup Penuh Keunggulan). mereka yang mengaku beragama menyatakan kalau Muslim yang berpikiran reformis itu tidak beriman. akankah aku meng­ hormati­ nya sampai ingin menjadikannya sebagai teman?” Sultan Abdul­ hameed. mengapa mereka yang berpikiran sempit dapat menikmati kekuasaan untuk mendefinisikan mar­ tabat kita? Aku teringat saat bertanya kepada ibu­ ku sendiri (yang pertalian darahnya begitu berarti segala-galanya). Ironis­ nya. King harus me­ nantang prasangka kuat sang ayah. & LOVE luarga dan teman-teman mereka. begitu juga diriku. dalam rangkaian esainya yang mengandung pembebasan. mem­ peringatkan agar tidak menuhankan keluarga. Jr. Padahal. “Jika kita membiarkan di­ dikte oleh takhayul dan prasangka yang di­turunkan oleh nenek moyang kita. seorang pendeta Kristen yang me­ mesona sekaligus tokoh terkemuka di Atlanta. “Ji­ ka si anu bukan keluarga kita.

“Fakta bahwa ia muncul dengan celana blue jeans menyatakan kalau ‘Saya tak akan pergi ke kebaktian yang penuh bunga-bunga. M. kedudukan ayah­ nya. Seiring meningkatnya per­ ta­ ruh­ an rasa bersalah. kewajiban. ia tak perlu meng­ucapkan sepatah kata pun. Para aktivis sudah dibe­ rikan peringatan tertulis agar tidak melakukan pawai di Birmingham. menginginkan putranya kem­ bali ke gereja di saat akhir pekan yang paling meriah dalam kalender Kristiani. ide putranya itu tidak masuk akal. Apakah King mengikuti hukum dan mematuhi pe­ ringatan tersebut? Dilema membuncah. orangtua menuntut peng­ hormatan gaya robot—sampai pada kondisi di mana anak-anak 9 . yang boleh jadi merupakan wilayah pen­ dukung rasisme paling kuat di Amerika Serikat pada masa itu. King harus memilih antara ayahnya atau nuraninya. sebagai pemimpin hak-hak sipil.IRSHAD MANJi usaha “mencegah putranya untuk bergabung dengan dewan ma­ hasiswa antar-ras yang baru dibentuk dari beberapa Pergu­ ruan Tinggi Kulit Putih dan Perguruan Tinggi Negro di Atlanta. secara terang-terangan. King berpikir. dan paduan suara yang megah. Menurut Branch. King mundur ke ruang lain untuk berdoa.L. Waktu itu menjelang akhir pekan Paskah tahun 1963. Alabama. Argumennya. Ketika muncul kembali. sebaiknya tetap bersama golongan­ nya dan tidak perlu mempertaruhkan dirinya untuk ‘dikhianati’ oleh ma­ ha­ siswa kulit putih. lagu gereja.’ yang berarti masuk penjara.” Di banyak keluarga Muslim saat ini. Saya akan pergi ke suatu tempat dengan celana blue jeans.” Bertahun-tahun kemudian. dan rasa hormat.

dan memaklumi bahwa itu tergolong tindakan beriman. Mengakui Tuhan yang Maha Bijaksana berarti mengetahui kebijaksanaan kita ter­ batas dan karena itu membolehkan beragam gagasan ber­ kembang. Sebagai monoteis. Tetapi jalan yang lurus pun bisa berupa “jalan lapang”. menciptakan masyarakat yang di dalamnya kita bisa tidak bersetuju satu sama lain tanpa saling menyakiti secara fisik. kita pun tidak mung­ kin memainkan peran Tuhan. Jawabannya terletak di blue jeans-nya. & LOVE mereka terbiasa melakukan “sensor-diri” (dihantui bayangbayang kehormatan orangtua mereka). Umat Muslim memandang Islam ada­ lah “jalan yang lurus”—aturan hidup yang sederhana dan jelas. yang menghubungkan kita kepada Tuhan yang lebih tinggi dari­ pada keluarga biologis. pertanyaannya bukanlah apakah hukum me­ nuntut kepatuhan. tapi apakah hukum la­ yak mendapat ke­ patuhan. Yang ada hanyalah dogma. maka tak ada lagi perdamaian yang perlu di­ bicarakan. LIBERTY. Pada kondisi ini. Tak ada juga keyakinan. Setiap Muslim yang berpikiran-reformis harus mengambil risiko untuk menerima reaksi yang tidak menyenangkan demi me­ lapangkan jalan Islam. se­­ mentara manusia tidak. Anda harus menerima bahwa Allah mengetahui kebenaran yang utuh. Kita tahu di mana posisi King atas pertanyaan ini. Muslim adalah monoteis.ALLaH. Untuk menjadi monoteis. 10 . Tapi baru saja kita si­ mak beberapa surat dari generasi muda Muslim yang menya­ ta­ kan sensor-diri tidaklah mendatangkan ketenangan pikiran. Jika “agama damai” dianut oleh sekian banyak nurani yang secara diam-diam bergejolak. Sehing­ ga. melampaui komunitas lokal. dan lebih transenden daripada kelompok Muslim internasional.

IRSHAD MANJi Meng­ ab­ dikan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa sama artinya dengan membela kebebasan. pengorbanannya tinggi— tapi begitu pula imbalannya. seorang seniman yang mengirim surel dari Mesir. pola pikir Muslim reformis berkesempatan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi sebagian besar penghuni di bumi Tuhan yang hijau ini. Tahukah Anda bahwa ada seorang gadis ditangkap karena dia membuat grup di facebook yang menyerukan pemogokan? Dan seorang jurnalis terkenal di­ penjara karena ia mengatakan Mubarak mungkin. Maksud saya. aku diingatkan Ahmadollah. 11 . saya tidak akan langsung me­ mutuskan membunuh Anda. kami. berhak ber­ sorak-sorak dalam pertandingan bola. bangsa Mesir. tapi kami tidak punya hak untuk memprotes urusan politik atau agama. Buku Anda membuat saya mem­ pertanyakan beberapa fakta dan membuka pikiran saya untuk mencoba hal buruk yang disebut berpikir bebas. apa pesan yang ingin dia sampaikan. dan pendidikan macam apa yang mendorongnya melakukan per­ buatan bodoh itu? Saya yakin. Misalnya. putra Ariel Sharon di penjara. tiga tahun sebelum terjadinya pemberontakan untuk kebebasan di negaranya pada Januari 2011: Meskipun saya seorang Muslim tradisional dan sangat taat men­ jalani shalat lima waktu dalam sehari. mengapa media di Mesir menunjuk Israel sebagai musuh jahat? Anda tahu. persoalannya adalah kita hidup di alam berpikir yang terus-menerus ditekan. Mengingat betapa dunia kini telah saling terhubung. sementara Gamal Mubarak mengendarai mobil-mobil pemerintah dengan pe­ ngawalan keamanan yang besar? Mengapa seorang insinyur muda berkebangsaan Mesir terbang dan menabrakkan diri ke gedung WTC. Dalam melapangkan jalan Islam. Tentang hal ini.

“Saya akan men­ jadi seorang sarjana yang reformis dan saya akan men­ dukung lesbian dan gay. yang mem­ bubuhkan namanya dan aku berkewajiban melindunginya de­ ngan tidak mencantumkan namanya. sakit lantaran tidak menghadiri sebuah upacara peringatan baru-baru ini? Seperti yang kita tahu sekarang. LIBERTY. sebuah perguruan tinggi terkenal di dunia Muslim. tetapi wilayah itu dikotori otoritarianisme. menulis kepadaku disertai sebuah ikrar. Uni­ versitas Al-Azhar. & LOVE mungkin saja. tetapi juga karena adanya tanda-tanda halus yang memperlihatkan haus­ nya kebebasan beragama. Sewaktu aku melakukan perjalanan ke Mesir pada bulan Mei 2006.ALLaH. Kairo. Mahasiswa. harapan itu masih ada. “Oh. Seseorang yang menyebut diri­ nya “Mahasiswa Hukum Syariah” di Universitas Al-Azhar.” Bisakah kita berhenti di sini sebentar? Pikir­ kan tentang kemauan intelektual dan kekuatan moral yang di­ perlukan untuk menjadi diri sendiri di fakultas Syariah. Pekan itu di Kairo. terkadang aku nekat bertanya—ketika saya sedang bersembunyi dalam kegelapan—apakah ada ha­ rap­ an bagi kita?” Aku yakin. Irshad. Bukan hanya karena rakyat Mesir telah menunjukkan kalau mereka mampu me­ mo­ bilisasi masa demi memperjuangkan kebebasan politik. Saya bisa memahami ke­ putusasaan Ahmadollah ketika ia menuntaskan pesannya ke­ padaku. banyak spanduk mengumandangkan ke­ terbukaan. memahami betapa ba­ nyak rintangannya: 12 . antek-antek sewaan Presiden Mubarak memukuli para aktivis demokrasi di jalanan. Ahmadollah tidak me­ le­ bih-lebihkan. Semoga Tuhan menolongnya.

Jika saya menyuarakan apa yang saya pikirkan. Inilah pelajaran yang membuatku ber­ semangat dan bersyukur. kaum Yahudi. dan lain-lain. sang diktator militer. berutang kepada pemuda ini. Hal terbaik saat ini adalah.. atau sebaliknya. Saya sangat butuh dukungan Anda dan saya ingin Anda tahu bahwa Saya. Sudah saya putuskan bahwa saya akan mendukung Anda sebisanya dan saya tidak akan membaca Al-Quran atau Sunnah (ucapan dan perbuatan Nabi Muhammad SAW) dengan cara seperti dulu. tak seorang pun menggunakan akal­ nya atau kritis berpikir kreatif. Kami bermukim di dekat Van­ couver. Bagi kita yang cukup beruntung berada di kelompok masyarakat yang ter­ buka. saya akan dituding kafir [tidak beriman] lalu keluarga saya akan terluka.. namun demikian. keluarga saya akan melukai saya. Kami memasuki Kanada melalui pelabuhan di 13 . Kita yang mencintai kebebasan. maka kita bertanggung jawab untuk menghargai apa yang dilakukan pemuda ini: yaitu ada hal-hal yang lebih pen­ ting daripada rasa takut. mengusir kami dan ratusan ribu penduduk Muslim lainnya. Jenderal Idi Amin. memiliki seorang sahabat yang bersedia mendengarkan saya. karena kesuksesannya akan membantu menyelamatkan ke­ bebasan melampaui batasan-batasannya sendiri. Aku dan keluargaku adalah pengungsi dari Uganda. Saya tak bisa mengutarakan keinginan. insya Allah [Jika Allah Menghendaki] mendukung Anda. perasaan. sebagai pemimpin masa depan. atau pikiran saya mengenai hijab.IRSHAD MANJi Saya sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas Islam terbesar.

) dan dapat berbahasa Prancis. 14 . tapi saya tak sabar untuk me­ lihat salju!” “Kalau begitu. Beberapa orang memandang petugas imigrasi ini sebagai pe­ ngawas yang dingin terhadap tenaga kerja imigran murah.” Merasakan kegelisahan ibuku... ia lebih kompleks daripada perannya sebagai tokoh yang tidak berperasaan. Dengan menggali hal-hal lain yang mungkin kita butuhkan—kedamaian. “Begini. kepastian. “Belum. ke­ mudian kami terbang ke bagian lain di Kanada—ke Vancouver.ALLaH. dan nama keluarga kami berawalan huruf M. saya ingin me­ ngirim Anda dan putri-putri Anda ke daerah terdekat yang me­ miliki cuaca yang sejuk. ibuku berseru. tapi toh ia mengajak ibuku bicara. “dan saya sadar mereka semua ber­pakaian untuk cuaca tropis. mungkin Tuhan ber­ pikir kami pas di sini. Anda datang ke negara yang tepat. Petugas imigrasi yang tengah bertugas tidak punya alasan untuk memedulikan kami. Mama besar di Belgia-Kongo (kini dikenal dengan nama Re­pu­blik Demokratik Kongo—penj. & LOVE Montreal. “Saya hanya melihat ke­ tiga putri Anda. “Kenapa kami ingin tinggal di Montreal?” jawab ibu­ ku. petugas itu meyakinkan bah­wa pertanyaannya bukanlah interogasi. tapi menurutku. pernahkah Anda me­lihat salju?” Masih mengira ini sebagai dalih untuk menolak kami masuk. “Kenapa Anda ingin tinggal di Montreal?” petugas itu ber­ tanya dalam bahasa Prancis.” petugas ter­ sebut menegaskan. meng­ ulur waktu. juga ke­ ­ ha­ ngatan—petugas ini melawan birokrasi yang sedingin es.” Setelah beberapa cap dokumen. Montreal berawalan huruf M. LIBERTY. “Tapi dengan izin Anda. Madam Manji. Jadi.” katanya.

Syukur adalah esensi hubungan­ ku dengan Allah. orang yang ingkar agama dan orang yang tidak ber­ syukur kepada Allah—tak satu pun berlaku untukku. aku memohon kepada Allah agar mem­­ ­ bantuku menjadi warga negara yang bermanfaat di ma­ sya­ ra­ kat terbuka. aku masih tetap bangun dalam keadaan bersyukur kepada Tuhan. kami di­ anugerahi kebebasan. saudari-saudariku. dan ke­ mungkin­ an besar mempertaruhkan pekerjaannya. atau berekspresi. bernurani. Sebagaimana maha­ siswa Al-Azhar tadi. tin­ dakan sepe­ lenya meluangkan waktu untuk mengajukan pert­ anyaan yang penuh belas kasih ini merupakan sebuah momen yang memuat pesan mendidik. Kata ini merujuk pada dua hal. aku memilih 15 . Selain bersyukur. Kini. Tak seorang pun dari kami me­ min­ ta-minta kebebasan ini. Itulah kenapa.IRSHAD MANJi mengundang perhatian dari rekan-rekannya. Begitu pula dengan pilihan-pilihannya. Di Vancouver. yang takut dicap kafir. Ketika ibuku. aku berakhir di belahan dunia yang aku bisa me­ wu­ judkan banyak—jika tidak semua—potensiku. Karena sebagai pe­ ­ ngungsi. Di tengah masyarakat ter­ buka. terlebih lagi dengan menyandang senjata atau secara sem­ bunyi-sembunyi berjuang meraihnya. Sebab. kebebasan demi mewujudkan masa de­ pan yang lebih gemilang daripada masa lalu adalah harta yang tidak kudapatkan. kebebasan diserahkan ke­ pada kami. Lebih dari tiga dasawarsa berlalu. aku merasa berkewajiban memanfaatkan anugerah ini untuk menegakkan martabat mereka yang belum menikmati ke­ bebasan berpikir. sebagaimana Anda lihat nanti). bersamaan dengan jas hujan. individu sa­ ngatlah penting. dan aku menginjakkan kaki di bumi Kanada yang indah. Bagiku. aku harus ter­ tawa kecil ketika dihujat kafir atau kuffar (pengejaan dalam ber­ bagai cara.

aku memutuskan untuk meninggalkan posisiku sebagai presenter di stasiun TV yang paling keren di Toronto waktu itu. Berbeda dengannya. aku mengira ka­ lau ucapan selamat dari rekan-rekanku pasti terkait dengan eksekusi kesempatan ini.ALLaH. seolah ada polisi pe­ rusahaan yang membuntuti. Tak dinyana. Sedih hatiku melihat orang-orang di negara yang relatif bebas dan demokratis. Setelah berada di sana se­ lama tiga tahun. menjalani hidup seakan-akan kebebasan mereka untuk memilih hanyalah abstraksi yang terpisah dari ke­hidupan sehari-hari. “Aku muak dengan cara me­ reka (pihak manajemen perusahaan) mem­ perlakukanku di sini. Semua jawaban mereka dapat diartikan. Gempuran inter­ net sudah meledak saat itu. “Kalau be­ gitu. aku bisa me­ neriakkan pertanyaanku. kemungkinan besar. menggemakan jawaban banyak orang. “Se­ mua orang di luar sana ingin bekerja di sini. Pada saat itulah. kenapa kalian tetap ber­ tahan di sini?” Jawaban yang membuatku tercengang datangnya dari pe­ muda lajang tak beranak dan. Pekerjaan 16 .” katanya. dan memperoleh apa yang telah menjadi visiku. pertanyaan-per­ ­ tanyaan menjadi maslahat bagi masyarakatku dan bukan dia­ log dalam diri semata. membuat peluncuran semua yang berbau digital menjadi penuh tantangan. “Kamu berani sekali mengundurkan diri!” “Apa maksudmu?” kutanya mereka satu per satu. & LOVE untuk mengajukan pertanyaan.” Pertanyaanku berikutnya (dengan suara keras). aku menerima jabatan sebagai produser eksekutif sebuah saluran digital yang mengangkat spiritualitas. Sebulan sebelum 9/11. mereka menarik lenganku lalu ber­ seru berulang-ulang. “Gengsi. tidak memi­ liki hipotek. LIBERTY. Jadi.

aku menjelaskan ke maha­ siswa-mahasiswaku bahwa yang dimaksud dengan “ke­ ­ be­ ranian” adalah berani bicara kebenaran. Tetapi aku hanya tersenyum me­ nang­ gapi alasan mereka dan mengucapkan semoga mereka baik-baik saja menjalaninya. Dengan memberitahukan alasan mengapa aku sa­ lah. mereka dapat memperoleh nilai A.IRSHAD MANJi ini memberiku harga-diri. dan merasa tidak aman. lemah. Kuakui. Kemudian aku beri­ kan mereka beberapa insentif konkret. Kalau yang melakukan itu lantas dianggap se­ bagai seorang pahlawan. Te­ rus-menerus.” Lupakan khotbah panjang-lebar ten­ tang asal-usul harga diri yang sejati: aku ingin menunjukkan satu hal lain. padahal kau hanya perlu menafkahi dirimu seorang? Tapi kini. Meng­ apa tindakan me­ ninggalkan pekerjaan yang buruk justru di­ ang­ gap sangat berani. Bagi teman-temanku yang manja di stasiun TV yang sangat keren itu—di mana mereka merasa kurang keren setiap harinya—ujian keberanian bukanlah sekadar ke­ luar da­ ri pekerjaan. agar mereka mem­ per­ li­ hatkan keberanian dalam lingkup kelas yang aman: silabus mata kuliahku menyatakan bahwa sebagian nilai mereka bergantung pada frekuensi dan kualitas tantangan mereka kepadaku. karena aku akhirnya menyadari tantangan untuk mengajarkan ke­ beranian. menolak secara jujur asumsi dan kesimpulanku bukan hanya diperbolehkan. Di Universitas New York. tapi dianjurkan. menjadi manja. aku merasa jijik dengan betapa kita. penerima manfaat dari keberadaan masyarakat terbuka. aku berempati pada rekan-rekan lamaku itu. Kuingatkan mahasiswaku. maka jangan terkejut jika jiwa pengungsi dalam diriku akan marah. Se­ muanya demi pen­ 17 . Mereka seharusnya bisa melakukan itu tanpa ada drama.

Secara terpisah. mereka menekankan bahwa mereka mengasosiasikan ruangan kelas dengan ke­ pa­ sifan. Aku: Kenapa tidak? Dia: Aku tidak tahu.ALLaH. Simak percakapan berikut ini dengan salah seorang pe­ mu­ da paling menjanjikan. Inilah kesempatan untuk mengekspresikan gagasan-gagasanmu. tapi hilangnya rasa ke­ sadaran untuk meng­ gunakan keyboard demi hal-hal yang be­ ra­ ni. Beberapa kali aku harus memberi umpan ini. yang saya kenal di Kota New York. LIBERTY. Kamu seorang pemikir yang serius dan peduli terhadap keadilan. Dia: Anda mau aku menulis blog? Aku: Tentu. hanya untuk memastikan keraguan yang “kami pahami”. Dia: Aku tak yakin kalau aku bisa. lingkungan pendidikan yang semakin mapan dengan banjir­ nya komputer dan layar video. Aku undang mahasiswa-mahasiswaku untuk membantuku me­­ mahami mengapa membicarakan kebenaran tampaknya su­ lit untuk diwujudkan. & LOVE cerahan diri. Inilah pemuda berusia dua puluhan yang mencari jalan ke­ luar dari lingkungan yang penuh kejahatan. tapi kemudian didiamkan begitu saja. sehingga tidak mau mem­ beber­ kan permasalahan secara lebih mendalam. kemudian ber­ 18 . apa yang akan digunakan untuk melawanku. Saya mengobrol dengan dia mengenai blogging untuk se­bu­ah kampanye pemberantasan pelanggaran HAM terhadap perem­ puan di Iran.

seorang ilmuwan psikologi Stanley 19 . Itu menjadi pilihanmu sepenuh­ nya. Akhirnya. Tapi jujurlah.IRSHAD MANJi tengger sebagai asisten dekan dan berencana masuk fakultas hukum. Pikirkan itu. apa kau yakin diam akan melindungimu? Jika semuanya bisa di­ gunakan untuk melawanmu. para pemimpin kulit hitam yang paling berhasil tidak mencemaskan siapa pun yang berbicara tentang diri mereka. Beberapa bulan kemudian. baca­­ lah blog dan beri tahu aku kalau kau ikut ber­ gabung. ia bergabung dalam kampanye HAM sebagai se­ orang blogger. ia memperlihatkan ke­ padaku sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa da­ lam sejarah Amerika. Aku dan dia telah melakukan riset perbandingan ten­ tang ke­ pemimpinan—salah satu alasan yang membuatku tahu kalau dia termasuk pribadi yang penuh pertimbangan. Aku akan meringankan beban generasi mahasiswa ini: ke­ takutan akan dihakimi ini sudah dimulai sejak sebelum generasi mereka. Ketika mendengarkan ini. melainkan lebih terkait pada per­ tumbuh­ annya—dan termasuk pertumbuhanku juga. begitu juga dengan tidak bertindak. Di­ tambah lagi keberanian untuk berbagi pemikiran itu menjadi goyah lantaran khawatir kata-katanya yang bisa saja tanpa sengaja akan menyinggung perasaan seseorang. kegembiraanku bukan pada penelitiannya. Selalu begitu. Singkatnya: apa yang akan “mereka” pikirkan tentang diriku? Aku: Segala sesuatu bisa digunakan untuk melawan­ mu. Pada tahun 1960-an.

yang me­ miliki pan­ dangan berbeda dengan manajemen senior.). hanya karena seseorang yang berjas lab me­ merintahkannya. Jika mereka memiliki keraguan terhadap kebijakan saham. saat kebijaksanaan konvensional tidak ada? Atau mungkin ini berkaitan dengan keadaan situasinya? Subjek pertama yang diuji oleh Milgram adalah para mahasiswa di Universitas Yale. melakukan sesuatu yang meng­ ganggu keadaan saat itu—penj. Seluruh sampel Milgram. mereka akan mati! 20 . & LOVE Milgram melakukan serangkaian eksperimen mengenai me­ ngapa orang patuh pada otoritas—atau. akan segera me­ nemukan dirinya di tempat lain. ketika perahu ter­ ba­ lik. Seperti yang diungkapkan mantan Wakil Presiden Senior Lehman Brothers.ALLaH. Setiap peserta diminta mengoperasikan sebuah alat yang mereka yakini dapat “menyetrum” peserta lain. Dan setelah itu. LIBERTY. cepat atau lambat. yang merupakan mahasiswa kampus bergengsi. Anda tidak dibayar untuk mengguncang perahu (artinya. pada pe­ nyalah­ gunaan otoritas. Alhasil. “Setiap orang di level kami. Masalah ini tidak hanya menjadi masalah anak muda. menyerah pada oto­ ritarianisme. ternyata juga mengesampingkan pe­ mikiran mandiri. Dan mereka melakukan itu. di masa-masa men­ jelang kejatuhan ekonomi global tahun 2008. Milgram harus mencari lebih banyak lagi perwakilan sampel di luar universitas. mereka justru kehilangan bayaran. perumahan atau kredit. Apakah kepribadian dapat men­ do­ rong kepatuhan buta. lebih akuratnya. hanya sedikit di antara mereka yang berani membeberkannya. termasuk orang-orang yang suka berpikir untuk dirinya sendiri.” Tetapi. Se­ bagian besar eksekutif investasi dan ekonom.

Yang pertama kali ada di pikiran me­ reka bukan kematian.” Satu lagi.” Aku tak akan membeli bukumu! Kecuali kau mem­ berikan gratis padaku. tapi cemoohan orang lain. adalah tujuan yang “palsu”? Mau coba lagi? Halo Nona Irshad sang Lesbian Feminis Liberal. Untuk saat ini. Aku ini sepalsu “neraka. biar bisa me­ rasakan api neraka membakarmu hidup-hidup. —Mo Biar aku luruskan. “Bagaimana menjual diri­ mu pada setan. yang bungkam di gedung-gedung saham.IRSHAD MANJi Inilah benang merah yang menghubungkan kaum muda Muslim. The Trouble with Islam Today meng­ inspirasi (atau memicu) sejumlah kecaman dari sesama Muslim di situs webku. dan orang-orang penting di Wall Street. Mo. 21 . Aku seorang Muslim moderat yang berpendidikan. Nah. aku akan sejenak melepas ke­ tegangan dan mem­ bagi beberapa percakapan lucu: Kami mestinya menendang pantatmu ke neraka. ini judul yang bagus dan bisa kau pertimbangkan untuk buku-bukumu selanjutnya: “Bagaimana aku bisa membodohi Barat agar berpikir homo­ seksualitas diterima dalam Islam. Kau memang se­ palsu neraka.” tapi pantatku harus ditendang “ke neraka”—yang menurut penjelasanmu. dan kurasa kamu ini ber­ khayal demi ketenaran dan ketamakan. Aku akan membakarnya di cerobong asap rumahku. Aku mengerti perasaan itu. yang berhenti bersuara di dalam rumah keluarganya. jangan muncul dengan buku-buku bodohmu tentang Islam.

maka keputusanku adalah. Semoga saja.” Aku masih menyesuaikan diri.R Salam Tetangga Liberal. Aku yakin.. Trims juga karena bersedia mem­ bakar bukuku kalau diberi gratis. aku meminta dia berterus terang me­ ngenai agamanya.ALLaH. bersenang-senang­ lah dengan tetanggamu. Tapi setelah kupikir panjang dan keras apakah memang harus. sampai tak mau memberikan gratis. —S. Kau kan tahu. & LOVE PS: Tetangga sebelahku adalah pasangan Lesbian dan kami sangat menghormati satu sama lain. LIBERTY. Jawaban dia. ketika menghadiri ke­ baktian sebagai bagian dari penelitianku untuk program TV baru. Namun begitu. karena aku masih terus menimbun kekayaan sambil me­ nolak penerbit-penerbit yang semakin menginginkanku dan moralitas ketidakislamanku. Aku pasti akan mempertimbangkan se­ muanya. Trims atas surelmu yang menarik—dan judul-judul buku barunya. (tolong bunyikan genderang). Aku menuntut kebenaran. Mantan-saudari se-Islam..9 persen umat Islam sejati di dunia ini. aku ini memang terlalu tamak mengeruk keuntungan. maka se­ baiknya aku menjadi contoh. Irshad: Apa agama pasangan lesbi Anda? Yahudi? —Anonim Aku bertemu pasanganku di gereja Anglikan. Terkait pertanyaanmu. mereka adalah wanita baikbaik. Islam bukan agama yang sulit untuk dimengerti.. “Panggil saja aku Shlomo. dan 22 . mereka sadar betapa baiknya dirimu. Tidak. Anda sudah membuat gusar 98. Buat apa menyangkal ketamakanku? Karena dalam buku ini. aku menyerukan kejujuran. jadi coba cari sudut pandang lain dalam bantahanmu..

jadi kalau kau punya judul lebih baik yang bisa diajukan (seperti 23 . —Anonim Pertama. seperti yang kulakukan dalam setiap klaimku di bukuku yang sepenuhnya tidak akademis. bagaimana kau bisa menentukan kalau 98. Tolong jangan bahas topik yang Anda tak punya urusan untuk mem­ bahasnya. bukankah kau seharusnya juga diam? Mau­ kah kau diam? Kedua. Terakhir. Gucci. Saya setuju kalau banyak sekali individu dan kelompok Islam yang bingung atau memanipulasi ajaran agama Islam demi mencapai agenda pribadi atau politik. Buku Anda muncul sebagai produk tanpa nilai akademis. dan Perhiasan di Balik Burqa Mereka. Tulis saja buku tentang fashion atau hal lain. dibeli oleh para ibu rumah tangga yang penasaran karena suka menonton CNN sepanjang hari. kuhargai usulmu untuk menulis tentang mode.IRSHAD MANJi saya tak perlu membaca buku Anda untuk memahami apa yang salah dengannya.7 persen atau 99. Anda mengingatkan saya pada Islam ekstrem kanan yang membunuh orang tanpa pandang bulu. aku tidak mahir men­ ciptakan judul-judul buku yang tidak memicu sakit hati. haruskah aku diam karena kau merasa ter­ singgung? Kalau aku katakan bahwa aku juga merasa tersinggung oleh ketersinggunganmu. Aku bisa menyampaikan satu judul sekarang—Dosa Para Kardinal: Apa yang Dapat Dipelajari Biara Katolik yang Membosankan tentang Berbusana untuk Sukses dari Para Ibu Rumah Tangga Wahabi yang Alim dengan Sport Prada. maka mengikuti logikamu. Seperti kau tahu.9 persen Muslim sejati di dunia ini akan tersinggung olehku? Kenapa bukan 98. hanya saja Anda ada di posisi ekstrem kiri. Tidak ada yang salah dengan Islam.1 persen? Tolong kutip sumbersumber­ mu.

ini ada gunanya bagi penjualan bukumu. ini­lah aku. sebut saja. hukumnya adalah halal. Aku jamin. Buku kamu akan bertambah laku kalau disertai pe­ lembab. buku itu jauh lebih murah digunakan sebagai tisu toilet ketimbang paket tisu toilet biasa. Tapi. Anda untuk mengubahnya menjadi “Muslim Binal yang Tidak Mem­ praktikkan Agama. & LOVE yang pernah dilakukan orang lain). Sedangkan serpihan daging babi yang menyangkut di sela-sela rambut yang diberi gel. Menurutku. karena tidak me­ nyerap ke dalam kepala. sementara kulitku sensitif.. walau aku lebih suka metode kebersihan yang tradisional. aku bukan orang yang mengumbar kebiasaanku di kamar mandi 24 . LIBERTY. Lalu. Menyewa seorang humas mungkin ada gunanya (atau memecat yang sekarang). betapa bermanfaat buku Anda sesungguhnya. Saya sarankan. insya Allah.” Anda sesungguhnya harus memeriksa pe­ raturan agama tentang memiliki potongan rambut seperti itu.. aku ada keluhan: lembaran-lembarannya sedikit kasar di bagian tertentu. “Haram hukumnya menggunakan gel rambut yang mengandung alkohol. Tentang citra kamu. Sukses dan terus menulis. —Shauaib Aku sudah mengkaji Fatwa tentang Mode #4866 dan di situ dinyatakan. Anda bilang Anda seorang Muslim. kalau kau setidaknya memikirkan ide ini. —Falaha Salam pantat kasar! Mengenai masalah pencitraanku. terlintas ide bagus. tak banyak yang bisa aku katakan atau sarankan untuk perbaikan.ALLaH. ternyata. Sementara itu.” Izinkan aku mengawali dengan mengatakan. Cosmo. Tolong beritahu.

walaupun kaum non-Muslim sering meyakinkanku bahwa Islam pada dasarnya fasis dan aku berjuang tanpa kemenangan. ideologi. Cercaan jus­ tru semakin membuatku berani berterus terang mengapa aku meyakini apa yang kuyakini—dan apakah aku perlu mem­ per­­ ca­ yainya secara mutlak. karena orangorang yang mengadopsi pendekatan ini setia pada nu­ rani 25 . kau meng­ ambil bukuku secara teratur juga.IRSHAD MANJi pada dunia. “Intinya”. para pengritik yang sarkastis pun bisa menjadi sahabat dalam evolusiku. aku tetap bisa mengandalkan tradisi kaum pendobrak. selama aku memilikimu. Orang-orang yang bertindak atas keberanian moral akan se­ lalu menghadapi pertentangan. Tapi aku lega (begitulah kira-kira). Dari sisi ini. aku tak pernah butuh humas. Aku tak bermaksud itu sebagai pembelaan diri. kalau jadwal buang air besarmu kelihatannya teratur. Dan artinya. Memiliki keberanian moral ber­ arti menentang kemapanan dalam kelompok kita—baik itu kelompok agama. Literatur tentang ke­ pemimpinan mengenal istilah keberanian moral. walau­ pun orang-orang Muslim mengatakan aku gila. Pena mereka adalah zenku. Humor untuk melepas ketegangan bisa memperkaya jiwa. ke­ beradaan frase “keberanian moral” sendiri mengungkapkan sesuatu yang menenteramkan: walaupun aku merasa terkucil. Merekalah yang berulang kali mengajarkanku bahwa beberapa hal lebih penting dari sekadar rasa takut. budaya. maupun profesional—dan me­ lakukannya demi kebaikan yang lebih universal. Faktanya.

kecaman dari rekan-rekan­ nya. Pada tahun 1966. LIBERTY. Ketika me­ ­ nuduh orang di luar kelompok. sekarang bagaimana kau tahu siapa dirimu? 26 . Keberanian moral adalah komo­ ditas yang lebih langka daripada keberanian di medan perang atau­ pun kejeniusan. ia pun merupakan kua­ litas yang esensial dan penting bagi mereka yang hendak meng­ ubah dunia yang paling sulit diubah. “Lihat aku. jika kau mem­ beberkan ketidakadilan yang dilakukan oleh kelompokmu sen­ diri. Nah.” Per­ hatikan pujian yang datang menghujani. “Sedikit orang yang bersedia menghadapi tentangan dari kawan-kawan­ nya.’ Aku tahu aku ada di mana. Tapi. peng­ hinaan. Selain itu. Dalam menembus penghalang berbasis rasial. “karena aku membela ‘kita’ di hadapan ‘mereka. Kennedy mengakui. Aku tidak sendirian—dan tidak akan pernah sendirian. Bagaimanapun. wah. maka hilanglah rasa aman karena menjadi bagian dari se­ suatu yang lain. memilih untuk menghadapi intimidasi. suatu kebijakan pemisahan kulit hitam dan kulit putih.” Keberanian moral berada di atas sifat-sifat unggul lain karena tak ada luka yang lebih dalam selain dikucilkan oleh orang-orang kalian sendiri. ter­ dengar seperti gagasan yang mustahil. kau bisa menggunakan kema­ rahanmu se­ bagai lambang kredibilitas kelompokmu. Robert F. Kennedy mendesak mahasiswa Afrika Selatan untuk me­­ lawan Apartheid. & LOVE mereka sambil mengangkat komunitas mereka dari dalam. Manusia sering terpancing untuk me­­ nyalahkan orang asing. rasanya enak. Dan. dan kemarahan dari masyarakat. dan luka yang berasal dari kalangan kita sendiri.ALLaH.” kata­ mu untuk menarik perhatian.

di situ pasti ada sebuah identitas yang dilanggengkan dan se­ perangkat aturan yang merepresentasikan identitas ter­ sebut secara “benar. Di mana ada ortodok­ si. Aku tidak. pasti sudah menuduhku menjajakan ke­ bencian terhadap “kelompok-kelompok yang teridentifikasi.IRSHAD MANJi Selamat datang di salah satu kesempatan yang paling mem­ bebas­ kan di zaman kita: kebangkitan dari “politik identitas. Jika pesan Al-Quran di­ salahtafsirkan. tinggal sebut saja. —Shawn Seandainya aku memberi judul The Trouble with Muslims. Bagus sekali—kalau tujuanmu hanya untuk menjual buku. Seharusnya ber­ judul The Trouble with Muslims. queer (sebutan bagi kaum homoseksual—penj. feminis.). bukan berarti itu adalah bagian dari ajaran Islam. Namun.” Bayangkan tuntutan hukumnya. bankir. Yahudi. para pe­ lobi profesional yang menggadaikan diri mereka sebagai “per­ wakilan” Muslim. gelak tawa tidak meng­ alihkan kita dari pemahaman bahwa orang yang tu­ lus pun dapat terlena. Berani-beraninya kau masih mengaku Muslim? Siapa yang kau wakili? Aku seorang perempuan Muslim. Aku me­ lakukan ini untuk menyadarkan kaum Muslim supaya me­ nyadari hak-haknya dan bertanggung jawab untuk berpikir. penggemar Bollywood. bukan Islam yang salah.” Kami melihat politik ini berperan dalam kirim­ an surel dari para pengkritikku yang lucu. Aku tidak menutup 27 . Pembangkanganku ini bisa masuk persidangan beberapa kali.” Po­ litik ini mereduksi individu ke dalam maskot kelompok ma­ ­ syarakat yang menjadi identitas kita: Muslim. Hanya karena Muslim yang me­ lakukan hal-hal yang menyakitkan dan penuh kebencian. Nasrani. Saya tidak sependapat dengan judul buku Anda.

LIBERTY. yang menjadi alasan mengapa “kami belum berhasil me­ ngembang­ kan gagasan negara bagi warga (a state of citizenry). suamiku merasa umat Muslim adalah orang-orang ter­ baik sedunia. maka kau adalah anti-Palestina jika bukan anti-Muslim. Ambil contoh. perbedaan pendapat dianggap se­ bagai pengkhianatan. Tapi. Kedua kependudukan itu harus ber­ akhir. Aku dan keluargaku bertebaran di mana-mana. kami adalah bangsa terbaik yang dipilih Allah. —Mona Aku tidak terkejut bila kau menuduhku mengabaikan bangsa Palestina.” Struktur kesukuan itulah. kalau kalian menyebut (seperti yang kulakukan) bangsa Israel dan bangsa Arab memikul kesalahan yang sama atas penderitaan bangsa Palestina. Aku tidak ter­ makan dengan itu. Semoga Allah menolong kami dari orang-orang sepertimu dan Osama Bin Laden. Mona. Alasannya? Karena kalian tidak menyebutkan Israel adalah penindas tunggal. dan dia berharap umat Nasrani memiliki moral yang sama seperti bangsa Arab. Aku sendiri seorang pengungsi Palestina sejak 1968. Menurut beliau. pendiri Gaza Community Mental Health Program (Program Kesehatan Mental Komunitas Gaza). yang marah akan korupsi “pemimpin-pemimpin” mereka dan juga kehadiran militer IDF. 28 . & LOVE rambut­ ku dan menikah dengan pria non-Muslim berkebangsaan Amerika. Eyad Serraj. Begitu juga banyak bangsa Palestina.ALLaH. Dr. Kenapa kau tidak bisa mengatakan apa pun demi membantu Palestina? Aku tahu. katanya kepada­ ku. Dalam lingkungan kita yang terpolarisasi secara politis. Semua masalah di Timur Tengah di­ karenakan Israel. “Kami bangsa Arab dan bangsa Palestina perlu banyak mengkritik diri sendiri” karena “di dalam struktur kesukuan.

kuingin kau menyadari kalau bukumu mungkin berkontribusi terhadap kesulitan dalam ke­ hidupan saudara sesama Muslim. Apakah ini tidak me­ nunjukkan kalau dikotomi antara “Islam” dan “Barat” se­ betulnya artifisial? Saya tidak menentang fakta kalau kau menyuarakan pan­ dangan­ mu tentang Islam.” Jadi. apakah kau mengerti mengapa aku tidak terganggu meskipun kau meng­ anggap­ ku Muslim yang buruk? Apa yang tidak kau singgung adalah bagaimana Muslim dapat ber­ interaksi dengan budaya-budaya lain dan dunia yang lebih luas tanpa kehilangan identitas mereka. dapatkah “semua masalah di Timur Tengah” benar-benar dibebankan pada Israel? Kedua. Tapi orang-orang yang tidak kenal Islam sebelum tragedi September 11 mungkin akan memegang buku­ mu sebagai kebenaran dan tidak mau lagi mempelajari aspekaspek lain dari agama mulia kita. Kau tidak lepas dari apa yang 29 . atau mencoba melindas kita dengan mobil mereka (seperti yang baru-baru ini menimpaku).IRSHAD MANJi di seluruh negara Arab. Kau seharusnya menekankan pada karakteristik positif utama Islam sebelum lanjut dengan aspek-aspek negatif. di mana semua orang setara di hadapan hukum. Peradaban Islam telah me­ letakkan dasar bagi Renaisans Eropa. supaya bisa mendidik masyarakat yang haus akan pengetahuan tentang Muslim. —Bongo Kata kunci di sini adalah “takut”. Beberapa kalangan Muslim takut kehilangan jati diri mereka di tengah budaya Barat. kutinggalkan kau dengan beberapa per­ tanyaan: Pertama. Ketika orang terus me­ natapi kita. tidakkah kau ter­ dengar seperti Zionis sejati saat kau bersikeras Allah telah “me­ milih” bangsa Arab sebagai bangsa terbaik? Ketiga. Mona.

Kau masih menjadi salah satu dari kami. Inilah yang membawaku kepada kontradiksi dasar dari argumentasimu. Menarik bukan.ALLaH. maka mengapa mereka mem­ perlakukan bukuku sebagai ke­ simpulan akhir dalam mem­ pelajari Islam? Kau terlalu berlebihan dalam menilai ke­ kuatanku dan sekaligus terlalu kecil menilai publik. Kita. Tapi sudahkah kau membaca buku­ ku? Jika sudah. Jika orang-orang kehausan. kenalilah bahwa ketika mengasumsikan non-Muslim itu kekanakkanakan. laporkan mereka ke polisi—demi keselamatan semua orang. yakinlah pada sesama manusia. mereka yang mencoba mencelakaimu dengan mobil adalah penjahat. & LOVE orang-orang yakini tentang Muslim. kau mengatakan bahwa masyarakat “haus akan pengetahuan tentang Muslim. Kau mungkin merasa sudah melakukan pe­ kerjaan yang luar biasa dan sangat berani dalam bukumu. Saya menulis dari Irak. —Anonim Terima kasih atas peringatannya. Di satu sisi. LIBERTY. seperti kau ingin mereka yakin kepadamu. pluralistik. kau berspekulasi bahwa orangorang akan berhenti membaca begitu mereka selesai membaca bukuku. dan progresif tentang Islam: ijtihad. kendati kau merasa menjadi korban. kaum Muslim. dapat menghidupkan itu kem­ bali jika kita peduli—dan berani. Berikut tiga saranku: Pertama. kau memberikan stereotip ke mereka sebagaimana kau khawatir kalau mereka akan menstereotipkanmu.” Di sisi lain. Ketiga. maka kau akan tahu bahwa aku me­ nekankan apa yang dulunya menjadi nilai positif. tapi 30 . sebuah tradisi mengenai ber­ pikir mandiri. kau sendiri justru me­ nerapkan kuasamu untuk menuduh orang lain sesuai dengan khayalan­mu. Kedua.

IRSHAD MANJi

itu tidak beda dari yang sudah dilakukan Mullah dan ekstremis, yaitu menyimpangkan Islam lebih jauh. Pada dasarnya, Muslim TIDAK diidentifikasikan dengan Islam. Kalau kau buruk dan kau se­ orang Marxis, bukan berarti Marx itu jelek. —Nizar Muslim tidak diidentifikasikan dengan Islam? Jelas itu tidak logis. Aku setuju kalau teori Islam, sebagaimana teori Marxisme, berbeda dari apa yang kebanyakan dilakukan oleh para praktisinya. Namun nilai dari teori itu terbatas jika tidak di­ terjemahkan ke dalam bentuk perilaku. Sebenarnya, Islam adalah apa yang dibentuk oleh kita sebagai Muslim. Seandainya Muslim tidak ada hubungannya dengan Islam, maka kita tak bisa menyelamatkan Islam dari kerusakan. Pendekatanmu tidak menawarkan harapan. Untungnya. Nabi Muhammad punya gagasan lain. Menurut sebuah riwayat, beliau bertanya, “Apa­ kah agama itu?” Dan beliau menjawab, “Agama adalah cara kita berperilaku terhadap orang lain.” Sesuai definisi tersebut, bagaimana kita, sebagai Muslim, berperilaku maka itu adalah Islam. Mengapa kau menyebut dirimu seorang Muslim? Kami tidak perlu duri dalam daging. Silakan bergabung saja dengan agama lain. Saya yakin, Kristen akan menerima lesbian dengan tangan ter­buka. —Siddique Kau benar tentang satu hal. Banyak umat Kristen yang me­ nerima­ ku. Umat Kristen yang tidak-liberal akan menolak pen­ dekatanku, dan untuk alasan yang sama kau pun begitu: fakta bahwa aku seorang lesbian yang menggugat penafsiran harfiah. Tidak­ kah kau mengerti apa artinya ini, Siddique? Kau memiliki

31

ALLaH, LIBERTY, & LOVE

per­ samaan dengan umat Nasrani yang kau benci! Demi Tuhan, aku senang sekali dapat membangun jembatan buat kalian. Tapi kupikir kau keliru mengenai hal lainnya. Kau bilang, Muslim tidak perlu duri dalam daging. Sebetulnya, setiap masyarakat, budaya dan agama perlu ada provokator—orang keras kepala ala Sokrates yang menghapus ”mentalitas gerombolan” dengan memberikan pertanyaan yang tidak nyaman secara ter­ buka. Lihatlah Martin Luther King, Jr. Ia dituduh oleh rekan-rekan pastor (orang-orang Kristen kau kutuk) karena men­ ciptakan ketegangan yang tidak perlu. Respons MLK? “Harus kuakui, aku tidak takut dengan kata ‘ketegangan.’ Saya se­ sungguh­ nya menentang ketegangan yang mengandung ke­ kerasan, namun ada tipe ketegangan konstruktif dan tanpa ke­ kerasan yang diperlukan untuk perubahan. Seperti Socrates yang merasa perlu menciptakan ketegangan dalam pikiran supaya individu dapat keluar dari kungkungan mitos dan ke­ benaran yang setengah-setengah menuju ke alam analisis kreatif dan penilaian objektif yang tanpa kekangan, maka kita juga harus melihat adanya kebutuhan akan pengganggu-peng­ ganggu tanpa-kekerasan yang menciptakan ketegangan di masyarakat. Mereka ini akan membantu manusia keluar dari kegelapan prasangka dan rasisme menuju kemuliaan pe­ mahaman dan persaudaraan.” Banyak umat Nasrani yang tidak mau duri dalam daging—tetapi, mereka memerlukannya. Waktunya sudah tiba, Siddique, untuk Muslim mengambil tindakan yang serius.
Perhatikan asumsi berulang dari para pembaca ini perihal diri­ ku yang harus menyesuaikan dengan pemikiran, sikap, dan pen­ dekatan umum. Aku perlu merepresentasikan orang lain

32

IRSHAD MANJi

se­ belum bisa berbicara untuk diriku sendiri. Itu bukan untuk integritas diriku; itu untuk identitas mereka. Mengembangkan indi­ vidualitas untuk menyuarakan kebenaran diriku di­ anggap berada di luar jalur regulasi ini. Dalam tekanan seperti itu, kita bisa melihat bagaimana ketakutan yang terus-menerus dapat menyiksa kevokalan siapa saja. Tentu saja, umat Islam bukanlah satu-satunya pihak yang mengusung ilusi kemurnian (purity) dengan berusaha me­­ mak­ sakan standar umum (atau “anggapan umum”) ke tingkat indi­ vidual. Se­ andainya aku seorang perempuan pribumi Australia, maka aku pasti tersentak dengan arogansi yang ditunjukkan oleh salah seorang “juru bicara” kaumku. Di tahun 2008, sebuah buku terlaris di Inggris terbit di Australia. Buku berjudul Daring Book for Girls (Buku Pe­ tualangan Nekat Bagi Remaja Pu­ tri) mengajarkan gadis muda me­ lakukan apa yang terlarang buat mereka. Sengaja tidak menghiraukan maksud judul ini, ketua asosiasi pendidikan Aborigin di Australia, Mark Rose, menuduh penerbit telah me­ lakukan “kecerobohan ekstrem” ka­ rena lancang me­ masukkan bab tentang bermain didgeridoo, sebuah instrumen yang diperlakukan sebagai kegiatan eksklusif pria di kalangan pribumi. “Kita jelas sekali tahu, ada serangkaian konsekuensi bagi wanita yang menyentuh didgeridoo,” ucap Rose. “Minimal, ke­ man­ dulan.” Ia menambahkan, “Saya sendiri tidak akan mem­ biarkan putri saya menyentuhnya.” Tampaknya, buku itu juga tak boleh disentuh—oleh siapa saja. Nasihat si pendidik itu ter­ hadap penerbit: “Hancurkan saja.” HarperCollins Australia me­­ ngalah. Penerbit ini meminta maaf “secara terbuka” dan ber­­ janji akan mengganti bab yang menyinggung itu di cetakan

33

ALLaH, LIBERTY, & LOVE

berikut­ nya. Nah, lihatlah: sebuah buku tentang keberanian justru kehilangan nyali. Suatu hari nanti, gadis-gadis pribumi akan memperjuangkannya. Dengan apa pengorbanannya, aku tidak tahu. Paling tidak, konsekuensinya berupa ancaman verbal. Ran­ dall Kennedy adalah seorang profesor bidang Hukum di Uni­ versitas Harvard dan keturunan Afrika-Amerika. “Saya dipang­ gil ‘sang pem­ belot’ pada beberapa kesempatan,” kenangnya. Salah satu alasan­ nya? Ia mempertanyakan apakah akademisi non-kulit putih memiliki “wawasan khusus”—yang ditentukan secara rasial—terhadap undang-undang tentang hubungan ras, dan apakah, terkait dengan prosedur akademis, statusras-minoritas harus dipandang sebagai kredensial intelektual. Aduh, sungguh seperti bom nuklir. Akibat pertanyaan ini, Kennedy mendapat julukan “Si Tonto1 berbahaya versi kulit hitam” yang punya motif “menyelamatkan kehormatan orang kulit putih, terutama yang akan memberinya jabatan.” Tak satu pun dari cemoohan ini mampu menghentikan penyelidikan Kennedy. Di tahun 2003, ia me­ ngeluar­ kan sebuah buku berjudul Nigger: The Strange Career of A Troublesome Word (Negro: Riwayat Aneh Tentang Satu Kata Yang Bermasalah). Di buku itu, Kennedy bersaksi, “Council on Black Internal Affairs (Dewan Urusan Internal Kulit Hitam) meng­ kritikku sebagai ‘tukang bonceng rasial’ yang mereka ‘benci [sejak dulu]’. Mereka menegaskan, aku telah ‘secara oportunis’ menggunakan status [ku] sebagai intelektual publik ter­ kenal berkulit hitam untuk mengeruk keuntungan dan ke­ tenaran yang tidak beralasan...”
1 Tonto adalah tokoh fiksi Amerika dalam The Lone Ranger, karakter koboi yang populer di Amerika. Tonto adalah pria asli pribumi Amerika dan digambarkan sebagai teman Lone Ranger yang cerdas.

34

IRSHAD MANJi

Setelah bersaksi di pengadilan atas kasus penggunaan kata Ne­ gro yang vulgar, Kennedy “si pengeruk-keuntungan” ini pun menemukan dirinya dicap “pelacur murahan.” Murah karena “Saya tidak menerima bayaran apapun untuk kesaksianku. Saya bertindak pro-bono (pro­ fesional yang bekerja volunteer -ed.)... Saya tidak bisa membayangkan apa yang akan orang katakan tentang saya kalau saya dibayar.” Adapun dewan yang dengan cemerlangnya dinamakan Council on Black Internal Affairs, Kennedy mengatakan pada waktu itu, puncak prestasi dewan adalah publikasi berjudul The American Directory of Certified Uncle Toms: Being a Review of the History, Antics, and Attitudes of Handkerchief Heads, Aunt Jemimas, Head Negroes in Charge, and House Negroes Against the Freedom Aims of the Black Race. Sepertinya Dewan tidak keberatan meng­ gunakan istilah yang merendahkan itu di dalam judul publi­ kasinya sendiri. Ironi tidak? Dalam novel Harriet Beecher Stowe, tokoh Uncle Tom memilih untuk mati ketimbang membiarkan majikannya menang. Sungguh sebuah pem­ belotan! Namun kritikan untuk pembelot Afrika-Amerika berbeda dari apa yang harus dihadapi oleh Muslim berpikiran reformis. Kennedy mengemukakan satu hal penting: “Saya tidak merasa ter­ ancam oleh musuh-musuh ideologis mana pun. Tidak pula saya merasa meletakkan diri saya dalam bahaya serius akibat pe­ mikiran yang saya tulis itu.” Hal yang sama tak mungkin bisa diklaim oleh reformis Muslim. Beda keduanya seperti antara hidup dan mati.

35

ALLaH, LIBERTY, & LOVE

Kita, umat Muslim, harus memiliki ekspektasi yang lebih tinggi terhadap diri sendiri. Kita pernah memperlakukan pikiran kita seperti seni; menghidupkan begitu banyak pilihan di dalam pe­ ngamalan iman. Pada Islam seribu tahun yang lalu, semangat ijtihad—dalam diskusi, debat, dan perbedaan pendapat—me­ ngalami perkembangan. Bukan kebetulan, pada masa itu, per­ adaban Islam memimpin dunia dengan cerdik cendekia. Di bawah rezim yang menguasai Andalusia, atau Muslim Spanyol, para siswa dapat berdialog dengan Al-Quran dari ber­ bagai segi. Sejarawan George Makdisi menulis, madrasah di abad ke19 merupakan sumber dari kebebasan akademik di masa kini. Terdengar seperti klaim yang berlebihan mengingat madrasah saat ini bersifat reaksioner dan tidak sesuai zaman, tetapi di masa itu, kebebasan bukanlah hal yang aneh. Se­ orang tokoh Andalusia yang skeptis di abad ke-11, Ibnu Bajjah, secara terbuka memperkenalkan “inteligensia aktif.” Ia juga mem­ postulasi bahwa ketika pikiran rasional berhubungan dengan Sang Ilahi, maka individu tersebut akan menemukan ke­ bahagiaan. Pe­ nguasa yang tidak suka pun memasukkan dia ke penjara. Tapi imam dari sebuah masjid berpengaruh, La Mezquite, turun tangan, dan Ibnu Bajjah dibebaskan. Dari se­ kitar abad ke-8 sampai abad ke-12, 135 sekolah tafsir Islam tumbuh subur, sementara itu kota-kota yang lebih kosmopolitan me­ nyediakan 70 perpustakaan, menyaingi jumlah perpustakaan di sebagian besar kota besar di Amerika Serikat saat ini. Praktisi ijtihad bahkan mewariskan beberapa budaya po­ puler di Barat. Di setiap perbincangan publik, aku selalu ber­ foya-foya dengan contoh seperti berikut ini: Muslim mem­ berikan kopi moka pada dunia (Terima kasih kembali, Star­

36

IRSHAD MANJi

bucks!), juga gitar (Terima kasih kembali, Springsteen!), dan bahkan mungkin ekspresi “Olé!”—dari bahasa Arab “Allah!” (Terima kasih kembali, Spanyol!). Aku bisa begitu bersemangat hanya dengan memikirkan tentang metabolisme pertanyaanpertanyaan di kalangan leluhur kita yang menjadi praktisi ijtihad. Kemudian matahari pun tenggelam di abad ke-12. Kaum Muslim fanatik dari Maroko melintasi Selat Gibraltar dan men­­­duduki Spanyol. Imperium Islam, yang membentang dari Spanyol di bagian Barat sampai ke Irak bagian Timur, terpecah belah. Pecahan-pecahan yang saling berlawanan men­ deklara­ sikan pemerintahan mereka sendiri. Khalifah yang berbasis di Baghdad, yang merupakan gabungan negarawan dan ro­ haniwan, mengambil tindakan keras dan menutup barisan untuk mengamankan kesatuan politik Imperium. Se­ baliknya, kaum Muslim menjadi seragam di balik kedok ke­ satuan ini. Dalam beberapa generasi saja, gerbang ijtihad me­ nyempit, terutama di bawah dominasi sekte Islam, Suni. Dari 135 sekolah pemikiran Suni, hanya empat yang ber­ tahan—masing-masing lebih atau kurang sedikit ortodoks. Kematian pemikiran kri­ tis sekaligus memberikan legitimasi ter­ hadap pem­ bacaan AlQuran yang kaku. Kaum intelektual men­ jungkir­ balikkan fat­ wa, atau opini hukum, dengan pertaruhan diri yang tinggi. Berpikir untuk diri sendiri berarti memancing hukuman berat, termasuk eksekusi. Sudah tiba masanya untuk bertindak lebih baik. Aku tidak me­ nyerukan umat Muslim untuk memutar kembali waktu dan meng­ gali ”sisa-sisa” Islam di abad ke-11 yang sudah pasti tidak relevan untuk abad ke-21. Tak perlu nostalgia; nanti

37

ALLaH, LIBERTY, & LOVE

kau akan lihat bagaimana ijtihad masih bisa relevan untuk saat ini. Pun, aku tidak mengharuskan sulitnya pekerjaan ahli fikih dipopulerkan dan dipaparkan secara terbuka. Ahli fikih memiliki tempat tersendiri—tapi jauh di bawah Tuhan, jangan lupa itu. Aku hanya menyerukan agar semangat ijtihad di­ sebarluaskan, tidak hanya sebatas untuk akademisi dan teolog. Singkirkan elitisme yang menanamkan pola kepatuhan di ka­ langan Muslim—kepatuhan menghentikan kita untuk me­ nyu­ arakan dogma yang dipolitisasi dan ketinggalan zaman. Ingrid Mattson, seorang pakar dari Seminari Hartford dan mantan Presiden Islamic Society of North America (Masyarakat Islam di Amerika Utara), mengajak kaum Muslim di garis utama untuk mengkaji dogma mereka. “Karena sangat sempitnya visi—visi legalistik dan model pengambilan keputusan yang kita miliki—kita mengabaikan orang-orang yang mungkin me­­ nawarkan visi berbeda untuk masa depan,” begitu per­ nya­ taannya dalam sebuah percakapan dengan pakar-pakar lain di tahun 2004. Mattson bahkan bergerak lebih jauh dengan men­ dorong ijtihad di kalangan komikus, penyair dan musisi. Olé! Memperbaharui semangat ijtihad berarti menegakkan in­ tegritas, yang dimulai dengan integritas Islam. Dalam sebuah esai yang elok, Innovation and Creativity in Islam (Inovasi dan Kreativitas dalam Islam), salah seorang pemikir Muslim dunia yang sangat di­­ hormati menggambarkan ijtihad sebagai “tugas besar” spiritual. “Di masa awal Islam”, tulis Umar Faruq AbdAllah, “setiap orang yang melakukan ijtihad pada dasarnya ada­ lah benar—bahkan jika salah se­ cara teknis. Namun kemudian tibmul perdebatan antara teolog dan ahli fikih mengenai apa­ kah mungkin ada lebih dari satu jawaban yang benar untuk

38

IRSHAD MANJi

satu per­ tanyaan. Nah, apakah ada? Mayoritas ulama cukup pu­ as dengan mengatakan bahwa setiap orang yang melakukan ijtihad menerima pahala ketika keliru, bukan berdasarkan ke­ salahannya tetapi karena kepatuhan kepada Tuhan dalam me­ menuhi perintah-Nya untuk melakukan ijtihad.” Itulah yang perlu diketahui oleh keluarga Alya, Yasmin, Phirdhoz, Elizabeth, dan Sakdiyah. Jika para pemuda-pemudi Muslim ini merasa gentar, saat berpikir akan membuat murka keluarga dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Islam, aku akan berkata: Taruh buku ini. Kunjungi lamanku. Ketik “AbdAllah” di mesin pencari. Unduh esai beliau. Bacalah. Kemudian beri­ tahukan orangtuamu. Fakta bahwa otoritas tradisional telah me­ ngesahkan makalah ini mungkin akan mengurangi sikap defensif mereka terhadap keinginanmu untuk melepaskan diri dari kepatuhan. Aku bisa jamin kalau strategi ini sering kali berhasil karena be­berapa pemuda Muslim sudah menjalankannya ketika meng­ hadapi satu isu populer di abad ke-21: pernikahan antar­ agama. Semakin banyak Muslim yang lahir di Barat atau pindah ke sini, mereka ber­ temu dengan pemeluk agama lain dan jatuh cinta. Orangtua Muslim dan para imam sering memberitahu anak-anak mereka dan anak-anak muda bahwa Islam me­ larang mereka—terutama wanita—menikahi non-Muslim. “Benar­ kah demikian?” Aku sering mendapat pertanyaan begitu, kepa­ nikan men­ jalari suara para pe­ nanyaku. “Apakah aku harus me­ninggalkan kekasihku demi mem­pertahankan agama­­ku?” Itulah pertanyaan yang paling jamak di­ ajukan di dalam ko­ tak masuk lamanku selama beberapa tahun terakhir. Cinta antar­­ agama merupakan fenomena yang meluas dan memiliki

39

ALLaH, LIBERTY, & LOVE

implikasi yang luar biasa dalam pengintegrasian komunitas. Melihat risikonya, aku harus memastikan kalau jawaban­ ku me­ nyertakan otoritas supaya pasangan antaragama ini dapat me­ nerangkan ke keluarga mereka. Aku melibatkan Khaleel Mohammed, seorang imam dan profesor di bidang Islam yang dididik di sekolah Suni dan Syiah di Timur Tengah. Dengan menggunakan ijtihad, Imam Mohammed menafsir ulang bagian Al-Quran terkait, dan meng­ hasilkan dua halaman berisi restu Islam terhadap per­ ni­ kah­ an antaragama. Pada tahun 2006, aku memasang restu ber­ bahasa Inggris ini di lamanku. Dalam kurun waktu enam bulan, dokumen ini menjadi bahan yang populer diunduh sampai aku harus memasangnya dalam dua puluh bahasa. Setahun kemudian, aku memberikan kuliah di Berlin. Se­ usai salah satu ceramahku, sekelompok wanita Muslim Jer­ man tetap tinggal untuk mengucapkan terima kasih atas do­ kumen restu pernikahan antaragama. Kini di usia dua puluh­ an, mereka sudah melewati ambang “usia menikah.” Orang­ tua mereka memaksa mereka untuk menikah dengan lelaki Muslim yang tidak mereka kenal, apalagi cintai. Wanita-wanita ini memperlihatkan restu pernikahan antaragama di depan orangtua, paman dan saudara-saudara lelaki mereka. Karena seorang imam yang menulisnya, maka keluarga dengan eng­ gan menerima kredibilitasnya. Terlebih, karena restu ini bisa diunduh dalam bahasa Jerman, Arab, dan Turki, keluarga mereka tidak punya alasan bahasa untuk tidak tahu. Seperti yang diungkapkan salah seorang wanita kepadaku, “Ayahku tidak menyukai cara berpikir imam itu, tapi sekarang dia tahu, se­ tidaknya ada seorang otoritas Islam yang akan menikahkan

40

IRSHAD MANJi

aku dengan pacarku yang berkebangsaan Jerman. Akhirnya, aku bisa berhenti mengkhawatirkan bagaimana reaksi keluarga atas pilihanku.” Pilihan-pilihan pribadi, seperti pilihan wanita ini, bisa sa­ ngat meningkatkan kemampuan masyarakat untuk meng­ atasi ke­ takutan terhadap Pihak Lain (Others). Semakin lama aku meneliti apa yang memotivasi keberanian moral, semakin aku terkejut dengan apa yang sepertinya kebetulan, bahwa mereka yang rela mengorbankan diri demi koeksistensi se­ ring kali menikah dengan orang yang dianggap musuh. Paul Ru­ sesabagina menyelamatkan hampir 1300 nyawa saat terjadi genosida penduduk Rwanda. Sebagai manajer salah satu ho­ tel terbaik di Kigali, ia memberikan penampungan pada rakyat Rwanda yang ketakutan di tempat kerjanya dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Sebagai anggota suku Hutu yang menikahi anggota suku Tutsi, Rusesabagina me­ mahami bahwa yang terpenting dari “pihak lain” adalah ma­ nusia. “Ketika mertua dan kerabat dari suku Tutsi datang meminta bantuan kepadanya, ia menanggapi mereka sebagai individu, bukan sebagai suku Tutsi,” tutur penulis Courageous Resistance (Perlawanan Yang Berani), suatu kajian tentang orang biasa yang meng­ hadapi korupsi di komunitas mereka. Pernikahan antaragama juga terjadi di puncak kemenangan yang singkat, dan hampir mustahil, terhadap Nazi. Kejadiannya bulan Februari 1943. Untuk mengantisipasi dorongan terakhir Jerman di Perang Dunia Kedua, pihak berwenang menawan lebih dari 1500 lelaki di pusat komunitas yang terletak di salah satu jalan utama di Berlin, Rosenstrasse. Para lelaki Yahudi ini me­ miliki istri non-Yahudi, dan Hitler belum memutuskan apa

41

ALLaH, LIBERTY, & LOVE

yang harus “dilakukan” kepada mereka. Para istri ini secara ter­ buka menuntut untuk dipertemukan dengan suami mereka. Setiap hari, mereka muncul di Rosentrasse, diceramahi panjang lebar oleh polisi untuk “mengosongkan jalan.” Akhirnya, dan tanpa satu pun tembakan, Nazi menyerah. Hitler dan Goebbels enggan mengganggu warga wanita di Berlin pada saat Menteri Propaganda baru saja menyerukan mobilisasi untuk ”perang total,” demikian kesimpulan sejarawan Richard J. Evans. Nazi bahkan melepaskan tiga puluh lima Yahudi pelaku pernikahan antar­ agama yang sudah berangkat ke Auschwitz. Ketika cinta menyelubungi hati para pemberontak Rosenstrasse, per­ nikahan antaragama itu sendiri membantu menguatkan mereka. Sela­ma bertahun-tahun mereka melawan pelecehan sosial dan gang­ guan petugas untuk menceraikan suami mereka. Non-konfor­ mitas menjadi sebuah kebiasaan. Hubungan antara pernikahan antaragama dan keberanian moral tidaklah kuat, tetapi nilai yang diterapkan pernikahan antar­ agama dapat melapangkan jalan Islam. “Satu predisposisi penting [yang] dimiliki oleh banyak penentang yang berani adalah pandangan dunia mereka yang luas,” kata penulis Cou­ rageous Resistance. “Mereka melihat penduduk bumi yang lain sebagai bagian dari kelompok mereka sendiri (yaitu, ‘orangorang yang sepertiku’) dan karenanya berhak diperlakukan setara.” Dalam kasus tersebut, identitas bukanlah sesuatu yang rapuh; identitas selalu disertai dengan kemauan untuk me­ negosiasikan makna keluarga. Edip Pilku berayahkan Muslim Albania dan ibu Jerman. Pada tahun 1942, orangtuanya memberikan perlindungan ke­ pada Gerechters, keluarga Yahudi dari Hamburg, Jerman. Se­

42

IRSHAD MANJi

tiap kali tentara Nazi datang ke rumah mereka, keluarga Pilku akan memperkenalkan keluarga Gerechters sebagai kerabat— suatu pendefinisian kembali tentang keluarga dan sekaligus taktik untuk Gestapo (akronim dari Geheime Staatspolizei, polisi rahasia jerman pada masa Nazi -ed.). “Tentu saja,” Pilku mengakui tentang semua orang yang terlibat, “mereka ke­ takutan.” Tapi seperti para wanita yang menjalani pernikahan antar­ agama di Rosentrasse, ibunya, Liza, berhasil menghadapi situasi yang sulit. Suatu hari, jalanan mereka berubah menjadi adegan anjing-memburu-Yahudi yang dilepas Gestapo. “Ibuku ke­ luar rumah dan memaki Gestapo di Jerman,” kenang Pilku. “Ibu meminta mereka jangan pernah kembali lagi, sambil meng­ ingat­ kan kalau dia juga orang Jerman.” Pasukan pengacau itu pun pergi. Muslim Albania lainnya, Nadire Proseku, bersaksi bahwa ia dan suaminya, Islam, menampung Yahudi karena “kami me­ mandang [mereka] seperti saudara. Sebagai muslim religius na­ mun liberal, kami hanya melakukan kewajiban kami.” Prose­ ku lebih lanjut menggambarkan keluarganya. “Sekarang cucu saya menganut Kristen Evangelis,” katanya tanpa ditanya. “Tidak masalah buat putraku dan saya. Hanya ada satu Tuhan.” Dževad Karahasan, seorang artis Bosnia yang menikah dengan orang Serbia, mendukung optimismeku tentang mak­ na ke­ luarga yang dapat dinegoisasikan, bahkan di masa-masa penuh keraguan. Selama kampanye pembersihan etnis di ta­ hun 1990, ibu mertuanya dibunuh karena menyembunyikan dua keluarga Muslim. Di antara cerita pedih yang di­ tutur­ kan Karahasan di Sarajevo, Exodus of a City (Sarajevo, Eksodus

43

ALLaH, LIBERTY, & LOVE

sebuah Kota), salah satunya melibatkan masjid di ling­ kungan­ nya: Beberapa kejadian di malam sebelumnya, yang menyi­ sakan lubang rudal yang sangat besar di jalan­ ku, me­ yakinkanku bahwa daerah terbuka di atas bumi me­ rupakan undangan bagi kematian untuk me­ ngunjungi kami. Batu bata yang ada di ruang bawah tanah tidak cukup. Jadi, kuputuskan untuk mengambil be­ berapa ashlar [batu segi-empat] dari Masjid Magribiya. Berapa banyak rudal dan peluru yang menghantam masjid ini sampai bisa meruntuhkannya?... “Boleh saya ambil?” tanyaku ke imam Masjid Magribiya, yang ber­ diri dekat situ. “Tentu saja,” jawab imam. “Jika batu-batu ini akhirnya me­ nyelamatkan nyawa seseorang, atau pun sekadar meng­­ hilang­ kan ketakutan orang, maka mereka benarbenar sakral. Dan inilah yang seharusnya dilakukan oleh tempat ibadah—mereka membebaskan kita dari ke­takutan.” Pernahkah terpikir, kau akan mendengar tentang masjid yang membebaskan manusia dari ketakutan? Ini mungkin saja terjadi dalam suatu masyarakat yang selalu memberi-dan-me­ nerima, sebuah pola pikir yang para filsuf menamakannya “di­ alektik.” Karahasan berhasil meretas gagasan itu. Silakan mem­ baca cerita di bawah ini secara perlahan, seperti yang ku­ lakukan, sampai nuansanya meresap:

44

merupakan kelanjutan dari agama Yahudi dan Kristen. Secara sederhana. aku percaya Kemahaesaan. 45 . Aku percaya kehidupan abadi setelah ke­ matian. juga ada di agama lain. Tetapi dalam sistem dialektik. sebenarnya kita tengah mengobarkan perang sipil melawan bagian dari diri kita sendiri. Bosnia dan Serbia. “pihak lain” hanya tampak­ nya saja sebagai pihak lain.IRSHAD MANJi Setiap anggota dari sistem budaya yang dramatis mem­ butuhkan “pihak lain” sebagai bukti atas identitasnya. ketika kita merasa unggul dibanding yang lain. atau bagian lain dari diri saya. Aku percaya bahwa Islam. individu-individu Muslim ha­ nya perlu merekonsiliasi identitasnya dengan integritas hibrida Islam. Aku percaya Sang Pencipta semesta. bagaimanapun juga. padahal sebetulnya ia adalah “saya” yang bertopeng. juga nabi-nabi yang rentan terhadap ke­ salahan. karena kekhasan seseorang dibuktikan dan di­ arti­ kula­ si­ kan dalam hubungannya dengan kekhasan “pihak lain”. Umat Muslim berhutang pada non-Muslim untuk landasan-landasan keimanan ini. Kita takut menjadi tidak murni—atau tidak unggul. ”fakta yang berlawanan”—suami dan istri. Muslim dan non-Muslim—”se­ sung­ guh­­ nya adalah satu fakta. Jadi.” Sebagai Muslim. Apa yang selama ini kita anggap sebagai “ajaran murni” agama kita. kehendak bebas. Untuk mengendalikan ketakutan itu.

dalam Islam. Tetapi integritas ada­ lah keutuhan yang tak bisa dipecah-pecahkan dan dikuasai. Aku percaya bahwa kita menerima se­ seorang itu apa adanya. tapi aku secara tegas meyakini Tuhan. Dua pembacaku me­ nunjuk­ kan maksudnya dengan sikap menentang: Aku bertunangan dengan seorang pria berkarakter yang luar biasa dan bukan Muslim. Aku lalu bertanya: “Bagaimana jika kalimat ITU-lah yang pertama kali diubah?” Suamiku mencoba me­ mahami sudut pandangnya.ALLaH. —Mariam Sebagai orang Amerika yang menikahi lelaki Pakistan. Jika aku meneruskan. aku tak peduli apa yang dipikirkan orang lain! Seandainya 46 . Untuk pertama kali­ nya. aku me­ miliki hubungan yang dekat dengan Islam dan Pakistan. Setelah 35 tahun dalam masa pencarian (aku dibesarkan sebagai pemeluk Katolik). dan ia memberitahukanku kalau keluarga Mesirku tidak akan pernah menerimanya. aku akhirnya memahami bahwa diriku bukanlah bagian dari agama mana pun. dan aku menolak terlibat dalam ke­ munafikan dengan meminta tunanganku pindah agama hanya demi memuaskan keyakinan agama orang lain. LIBERTY. ayahku boleh dengan mudah menikahi perempuan keturunan Prancis-Kanada. & LOVE Identitas merupakan bangunan rentan yang dikonstruksikan orang lain untuk mengkotak-kotakkanmu. Hal ini membuat Ayahku marah besar. tapi kupikir kami tidak akan benar-benar mendapatkan jalan tengah. maka aku tak boleh me­ ngunjungi mereka lagi di Timur Tengah. yang kau ciptakan untuk diri sendiri. tapi aku sendiri tak punya hak memilih pasanganku. Aku sulit memahami mengapa. Al-Quran adalah firman langsung Tuhan karena Al-Quran sendiri menyatakan ayat-ayatnya tidak bisa di­ ubah dengan cara apapun. Suamiku selalu bilang.

Da­ lam persaingan sengit antara identitas dan integritas. —Giovanny Delapan tahun yang lalu. Kau harus bertanya pada dirimu. tapi hubungan kami tidak lebih baik dari yang sekarang. Dan dia pun tidak masalah. Kami jatuh cinta dan memulai hubungan yang sangat jujur dan dewasa yang di­ ketahui oleh keluarga dan teman-teman kami. Aku bilang kepadanya kalau aku tidak akan berpindah agama demi menikahinya. pandangan dia ber­ ubah sampai-sampai dia mengatakan kalau kami tidak bisa 47 . apa yang kau yakini dan mengapa. Namun seiring pertambahan usia. Aku seorang Sikh dan dia Muslim. dengan mengatakan dia tak akan pernah me­ mintaku pindah agama karena yang penting baginya adalah aku percaya Tuhan. aku bertemu pria impianku. Dia selalu merasa bersalah. Aku mencintainya se­ penuh hati. lari dari sampingku saat pacarku melihat seseorang yang dikenalnya. Tapi identitas mengandung emosi yang meledak-ledak dan berputar terus di baliknya. maka biarlah. sembunyi-sembunyi. Ia adalah Muslim Afghanistan. Tepatnya: berbohong kepada orangtuanya. dan keluarganya akan menolaknya. Aku ingin membangun ke­ hidupan bersamanya. tapi dia tidak melepaskan ketakutannya bahwa ia melanggar Islam. —Katherine Selamat buat mereka! Masalahnya. tebak ma­ na yang biasanya menang? Aku sudah berpacaran dengan pasanganku selama tiga tahun ter­ akhir. Ini adalah ke­ putusan yang membebaskan. meskipun demikian.IRSHAD MANJi pun hal ini mengakhiri pernikahanku. aku sangat menghormati agamanya sehingga tidak keberatan jika anak-anak kami kelak dibesarkan sebagai Muslim. integritas memerlukan ke­ tenangan dan refleksi diri.

Me­ nurutnya. Mari kita tinggalkan pe­ nuhanan rasa takut yang palsu. Tapi dia akan meninggalkanku karena dia takut akan membuat Allah tidak senang. Dengan mendefinisikan diri kita secara sempit.. 48 . perluaslah gerbang ijtihad dan jelajahi apa terjadi ketika kita mendahulukan integritas. umat Muslim membatasi kemungkinan-kemungkinan akan cinta Allah. LIBERTY. Dia takut perbedaan kami akan membingungkan anak-anak kami kelak dan dia akan melawan Tuhan. hanya laskar-laskar Sang Pencipta yang ke­ bakaran jenggot yang merasa demikian. & LOVE me­ nikah kecuali aku menjadi Muslim sejati dan mengamalkan ajaran Islam. —DS Aku berasal dari keluarga Muslim tapi aku juga seorang agnostik dan sedang menjalin hubungan dengan seorang wanita Muslim. Sang Maha Pencipta yang berdaulat tidak terancam oleh pe­ nge­ tahuan-diri kita. —Ehsan Kuberitahu apa yang membuat hatiku hancur: iden­ titas Muslim yang diselubungi ketakutan justru mengecilkan Allah. hanya karena gadis itu memeluk Islam.. Kami men­ derita karena situasi ini. Sekarang dia berencana menikahi se­ orang gadis Muslim. Kami saling tergila-gila dan ingin menghabiskan sisa hidup kami bersama. dia melakukan dosa ketika bersamaku dan tak bisa me­ nikahiku. Hati kami pun hancur.ALLaH.

kemudian ber­ balik menyerang berbagai kelompok. Di buku-buku sejarah kami. seorang remaja yang bercakap-ca­ kap denganku di dunia maya. Saya adalah blasteran Irlandia-Arab. Di satu waktu. Tapi Integritas akan Membebaskanmu Kaum Muslim reformis memang belum sepenuhnya mem­ pro­ klamirkan diri mereka sebagai pemikir bebas. Tingkat kebencian yang dibangkitkan negara ini ter­ hadap bangsa Yahudi dan Eropa sungguh luar biasa. Justru lamake­ lama­ an mereka semakin lumpuh dan membutuhkan dukungan ter­ baik kita. Saya bersyukur kepada Tuhan karena mengaruniai saya seorang 49 . Seperti Kareem. mereka me­ ngajarkan kami bahwa Islam agama yang damai. Saya menetap di Libya dan sekarang ini menghadapi masalah yang serius dengan ke­ yakinan saya. tidak pernah menyebutkan Yahudi tanpa kata “rasis” terlebih dahulu. termasuk kaum gay (yang saya pun baru menyadari bahwa saya adalah salah satunya). dan tidak pernah menyebutkan Eropa tanpa kata “teroris” sebelumnya.2 Identitas Bisa Menjebakmu.

ALLaH. Saya memahami ketika Anda menyerahkan ini ke­ pada Tuhan. saya akan meneruskan hidup ini dengan penuh kejujuran dan kehormatan.. koneksi Internet. tetapi saya sangat menghargai jika Anda mem­ berikan saya sedikit saja dukungan. Sedikit dukungan? Jelas tidak. Saya tahu Anda sibuk sekali. & LOVE ibu yang membantu saya memahami bahwa cinta adalah lebih baik daripada agama. lebih dari kewarganegaraan saya. Pemikiran dan moralitas adalah pegangan hidup saya. mempertahankan keyakinan dengan an­ tusiasme yang sama. pengalaman. yaitu Emirati. sedangkan kita hanya para pencari Kebenaran. Saya selalu berusaha mengungkapkan ini! Bahkan. Diam saja. dan lain sebagainya—saya telah menemukan beberapa kesimpulan yang saya akui kebenarannya. juga telepon genggam saya. apa yang saya lakukan atau yakini mungkin saja salah—tetapi dengan akal. tidak akan lagi berhasil. LIBERTY. TUHAN mengenal diriku jauh lebih baik daripada siapa pun. bahwa hanya Dia satu-satunya yang memiliki Ke­ benaran. seperti yang cenderung saya lakukan sebelum ini. Saya menyurati Anda karena kita berbicara dengan bahasa yang sama. saya selalu me­ ngatakan. kawan! Aku bahkan akan menjadikanku sekutumu. Tetapi.. perkataan. Apa pun yang terjadi. pasti me­ ngetahui betapa saya berjuang memperkecil jurang antara pikiran. Hal inilah yang membuat saya siap menghadapi hari pembalasan! —Fatema 50 . Simak seorang pemuda Muslim lainnya yang surelnya langsung kuterima setelah surelmu: Saya tinggal dan bekerja di Abu Dhabi. dan perbuatan saya. ayah menyalahkan akses saya ke dunia luar dan berusaha merampas laptop. pengetahuan. dan dikelilingi oleh mereka yang menjuluki kita kafir.

Kareem. Pelajaran Kedua: Identitas bisa menjebakmu. 51 . Tuhan yang pantas di­ sembah harus lebih daripada sekadar Pencipta perangkat kecil dan robot ini. Raihlah kekuatan dari Fatema. sebagai seorang Arab atau Muslim. jika keyakinanmu sangat tergantung pada per­ setujuan orang lain. yang tidak mungkin Tuhan yang Agung menolaknya. Ayah Kareem bertindak me­ lampaui kelompok keturunan biologisnya demi menikahi se­ seorang yang berbeda secara akidah. Wajar saja. tetapi dia masih me­ nyalah­ kan “dunia luar” karena kepercayaan anaknya yang ter­ go­ yahkan. Tapi Integritas akan Membebaskanmu. Identitas tidak akan lepas. separuh Irlandia dan separuh Arab. Dengan meletakkan Tuhan yang transenden di pusat keimanannya. apa yang sudah kita pelajari dari Fatema? Kita belajar bahwa identitas diri Fatema. tanpa basi-basi Kareem mengakui dirinya seorang gay. Karena. Sebagai produk pernikahan cam­ puran. Kareem. maka lepaskan keyakinanmu itu. yang telah menemukan nurani dan Sang Penciptanya di dalam situasi kerak teologi yang mengeras. tidak lebih penting daripada integritas dirinya se­ bagai seorang individu—seorang makhluk ciptaan Tuhan yang kompleks dan penuh lika-liku.IRSHAD MANJi Nah. teknologi informasi akan menjadi ben­ cana bagi orangtua seperti itu. Karena se­ sungguhnya itu bukanlah keyakinan. Itu adalah hingar-bingar budaya dan agama yang sudah karatan. Fatema mengabaikan gangguan negatif yang senantiasa dilemparkan oleh manusia atas nama tuhan kecil. Teknologi mengacaukan batas­ an-batasannya yang memang sudah kacau.

. Identitas sangat ter­ kait dengan ke­ per­ cayaan diri. net. para pe­numpang yang menyadari kalau dia memiliki ransel–mirip dengan yang dibawa oleh para pengebom London 2005—me­ nolak untuk naik kembali. aku hanya dapat men­ dengar 52 . seorang supir bus berhenti di tepi jalan di London dan menurunkan para pe­ ­ num­ pangnya supaya dia bisa melakukan shalat Zuhur. dan pada gilirannya. ia mempersilakan para penumpang yang di­ telan­ tarkannya untuk kembali menaiki bus. LIBERTY. Di masa Perang Dingin. bahkan menghujam di hati sanubari orang-orang Barat. khawatir jika supir tersebut me­ rupakan seorang fanatik yang akan meledakkan bus tersebut. tidak pernah timbul alasan untuk bertanya. pertanyaan itu amat­ lah relevan. ke­ percayaan diri atau justru kekurangpercayaan diri. Tetapi. Tetapi di dunia yang terus-menerus berubah tanpa ba­ tas. Kita semua berada dalam perjalanan yang keras—ter­ ka­ dang secara harfiah. Apa pun yang di­ pahami oleh para pembaca dari kisah itu. & LOVE Dalam buku The Geopolitics of Emotion. The Sun. yang tentu saja telah di­ baca oleh umat Muslim maupun non-Muslim. Situs berita itu mengangkat kabar tersebut dari tabloid terkenal London.ALLaH. “Siapakah kita?” Jawabannya tampak jelas di setiap peta yang menggambarkan dua sistem ber­ lawanan. di­ ekspresikan dalam bentuk emosi.” lapor Al-Arabiya.. seorang analis Pran­ cis Dominique Moïsi mengatakan bahwa identitas me­ libatkan lebih banyak kontrol. Di bulan April 2008. Begi­ tu selesai. yang membelah dunia menjadi dua kubu.

sebuah jaringan pasar swalayan besar di Inggris. Langkah itu telah “memicu kekhawatiran kelompok agama lainnya yang mungkin akan meminta perlakuan yang sama. ia memilih mengenakan cadar dengan alasan keyakinan agama dan bersikukuh mempertahankan penampilannya itu di kelas bahasa Prancis yang diikutinya.IRSHAD MANJi seruan liar. Aku pun praktis mengeluarkan salah satu kisahku sendiri.” Pada waktu yang hampir bersamaan. Pada akhirnya. Cerita ini dimulai ketika ia mendaftarkan diri pada sebuah program pelatihan karyawan. Ia pun menuduh telah terjadi “rasisme. Hanya beberapa bulan sebelumnya. seorang pria Muslim di Swedia memenangkan beberapa ribu dolar dalam bentuk kom­ pensasi setelah memprotes tentang perlakuan diskriminasi yang dialaminya.net me­ muat berita bahwa Sainsbury’s. Ia menghadiri wa­ wancara kerja. Katolik beranggapan men­ jual alat kontrasepsi sebagai pelanggaran terhadap doktrin mereka. Sebagai ahli farmasi. telah memutuskan mengecualikan karyawan Muslim mereka untuk mengurusi alkohol. ia tidak bisa mendapatkan nilai dalam materi pe­ lafalan bahasa karena mulutnya tertutup.” Maafkan aku. dan Yahudi menuntut pengecualian untuk menjual babi. karena aku merasa frustrasi di sini. Kemudian ada kisah di bulan Maret 2010 tentang seorang wanita Muslim dari Mesir yang hijrah ke Quebec. di mana sang CEO wanita mengulurkan tangan­ 53 . karena dikeluarkan dari kelas. Wanita ini merasa syok. ter­masuk mem­biarkannya melakukan presentasi dengan pung­ gung menghadap teman-teman kelasnya. Al-Arabiya. mes­ ki­ pun demikian. Sang instruktur meng­ guna­­ kan berbagai solusi untuk mengakomodasi pilihannya.

mereka juga saling bersinggungan. Gadis-gadis Muslimah berjilbab ditolak men­ da­ pat­ kan kerja paruh waktu untuk membolak-balik burger. Emosi. & LOVE nya saat bertemu. Di antara kita yang berjuang menjadi warga dunia yang solid. Politik identitas menciptakan lebih banyak kekacauan. Mereka ke­ hilangan semangat karena multikulturalisme yang tanpa pikir panjang mungkin saja membuktikan adanya “benturan per­ adaban. Pria tersebut tidak membalas uluran tangan sang CEO. 54 . dan menyatakan bahwa kualifikasinya kurang.ALLaH. Teman-teman di Eropa sering membocorkan perseteruan-per­ seteruan kecil yang tidak muncul ke permukaan. Diperlakukan demikian. seperti juga individu-individu yang me­ rasakannya. Ia hanya me­ letakkan tangan ke dadanya sambil menerangkan bahwa Islam melarang kontak fisik dengan wanita yang bukan muhrim. Re­ maja Muslim enggan mengikuti eksperimen sains di sekolah me­ nengah jika spesimen mereka berbau formaldehida alkohol. dan keterhinaan. LIBERTY. perusahaan itu menolak untuk me­ nawar­ kan magang. tidak sekadar saling berbaur.” Menurut Dominique Moïsi. kita pun terhanyut dalam gelombang harapan. apa yang disebut benturan per­ adaban sebenarnya adalah “benturan emosi. sering kali.” Saat bangsa dan orang-orang berlomba-lomba meraih kehormatan di abad baru ini. pria tersebut menuntut secara hukum—dan menang. Selanjutnya. mengapa pria itu justru tidak di­ tuntut atas diskriminasi seksual. banyak peng­ guna dunia maya yang penasaran. pasti ingin me­ rasakan harapan. yang kebanyakan tak lagi dianggap cukup heboh untuk dijadikan berita utama. ke­ ta­ kutan. Kemudian. Begitu berita itu tersebar. agen penempatan memberhentikan pria itu dari program.

keadilan untuk semua orang. tidak semua) masih menyimpan wanita mereka di dalam rumah. dan semakin takut. Bisakah kita menolak beberapa bagian yang mengerikan dalam Islam tanpa menimbulkan kemarahan Yang Mahakuasa? Tetapi saya juga bergulat dengan serangan xenofobia (ketakutan ter­ hadap bangsa lain) terhadap Muslim. Kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. tapi sejak lama saya telah men­ jadi seorang humanis. Ada berbagai kelompok 55 .IRSHAD MANJi Kalau tidak. Di Belanda ada ke­ bebasan ber­ bicara. saya tidak menyukai banyak hal yang berhubungan dengan Islam. dan malu karena takut—berarti kita kehilangan orientasi. saya sudah mencari sekian banyak topik tentang Islam. pe­ rajaman terhadap kaum homoseksual. Saya seorang wanita Belanda yang tinggal di Prancis. Apa yang bisa kami lakukan. kebebasan beragama. Dan jujur. atau orang-orang yang hanya bisa melihat tanpa berbuat apa-apa? Semua ini memunculkan pertentangan antar­­ kelompok. memanggil wanita dengan julukan. Sejak 12 bulan terakhir. dan ke­ nyataan bahwa seorang wanita boleh ditampar jika dia tidak patuh. Saya di­ besar­­ kan dalam tradisi Kristen. Tapi warga semakin berang satu sama lain. penzina. tiap kelompok bebas mem­ bangun sekolah mereka sendiri. bukan agamis. Misalnya. meng­­ aniaya kaum gay. Bagaimana untuk mengambil tindakan sekarang ini? —Boukje Saya seorang Muslim Suni berusia 18 tahun yang menetap di London. maka kita tenggelam dalam perasaan bersalah dan malu. sebagai non-Muslim? Bagaimanakah kita harus bersikap terhadap Muslim yang (hanya segelintir. Ketika terganggu oleh emosi-emosi yang bertentangan— seperti harapan yang tertahan. ketakutan yang serius. murtad. ber­­ siul ke wanita Kristen.

di Republik Ceko). fokus utama Anda adalah dunia Muslim tapi pasti Anda juga tahu. —Michal 56 . perjuangan menuju pemikiran bebas masih jauh dari kemenangan. Saya mulai menjadi sangat ketakutan. sekilas kita tidak memiliki persamaan. Kedua pengalaman ini nyata dan ber­ langsung secara bersamaan. LIBERTY. menurut saya. Saya adalah maha­ siswa dari Praha dan pria heteroseksual yang tidak percaya pada Tuhan.ALLaH. Atau apakah mereka memang begitu? Ha­ ruskah setiap orang mewakili berdasarkan label? Tidak bo­ lehkah kita mewakili melalui nilai-nilai kita? Berikut adalah surel ketiga yang mengobarkan harapanku: Irshad. Per­tama. yang juga dialami oleh masyarakat terbuka. Bagaimana saya menghadapi masalah-masalah ini? —Osman Aku menjajarkan Osman dan Boukje karena dua alasan. Umat Muslim merasa dihina oleh para xenofobia non-Muslim. situasi semakin mem­ buruk karena Boukje dan Osman mewakili identitas yang saling bertentangan. & LOVE yang tampaknya bertekad untuk mengadu domba kita. mereka mengekspresikan situasi sulit dengan solusi yang mustahil. ada sesuatu bisa kita bagi. bahkan di alam demokrasi liberal di dunia Barat sekalipun (ter­ masuk juga. Fakta bahwa dua orang dengan latar belakang berbeda berbagi nilai yang sama me­ nunjukkan bahwa nilai-nilai ini sangat universal… Saya tahu. Tetapi. yaitu kecintaan kita terhadap kebebasan dan keberanian. Kelihatannya. se­­ mentara para humanis merasa dihina oleh Muslim yang ma­ sih memegang tradisi lama.

Osman harus per­ ca­ ya bahwa Boukje akan membelanya dari siapa pun yang meng­­ anggap Osman tidak bisa menjadi warga Barat yang baik hanya karena dia seorang Muslim. Dengan alasan yang sama. “Hanya sebagian. komunitas bisa dibentuk oleh orang-orang berbeda yang mengamalkan ni­ lai-nilai yang sama. dan merekalah yang menyebabkan masyarakatnya defensif terhadap nilai-nilai kesetaraan. Osman akan setuju bahwa terlalu banyak Muslim yang ber­ tindak tidak manusiawi terhadap kaum wanita dan gay. Osman melemparkan pertanyaan tabu yang tidak perlu di­ khawatirkan oleh para humanis: dapatkah Muslim “menolak bagian-bagian Islam yang mengerikan tanpa menimbulkan ke­ marahan Yang Mahakuasa?” Aku melihat Osman adalah sekutu Boukje. Seperti yang nanti akan kita temukan. Nilai-nilai Osman mencerminkan nilai-nilai Boukje. Boukje tidak berteriak-teriak kalau semua Muslim memenjarakan kaum wanita dan menganiaya kaum gay. bukan hanya xenofobia yang melakukan asumsi-asumsi keliru. Osman perlu tahu bahwa humanis seperti Boukje akan melakukan lebih dari mengundangnya makan malam bersama. Karena itulah. Boukje tidak 2 Lihatlah ini! (bahasa Prancis) 57 . Itulah alasan kedua untuk menjajarkan Boukje dan Osman.IRSHAD MANJi Voila!2 Komunitas tidak harus didefinisikan dengan sebuah identitas tinggal-pasang yang diberikan kepadamu. maka Mus­ lim dan non-Muslim saling membutuhkan. Boukje pun perlu tahu bahwa Osman dan Islam liberalnya ada. Jika masyarakat terbuka ingin menjadi utuh dan meraih integritas. tetapi banyak kalangan “progresif” pun melakukannya.” demikian ia mengatakan. suatu pandangan merendahkan yang tidak ingin diterimanya.

Satu hari di bulan September 1963. ke­ lompok persaudaraan Kristiani rasis yang sangat berkuasa. Dan ia belum berbicara karena masih berayun-ayun di antara emosi-emosi yang saling bertentangan.ALLaH. Osman perlu memahami secara emosional—tidak sekadar intelektual—bahwa Tuhan mencintai individu yang bergerak menuju keutuhan. [Namun] pandang­ an Beyers telah dibuktikan kebenarannya ketika Nelson Mandela 58 . Naudé mengalami krisis hati nurani. LIBERTY. & LOVE mendengar suaranya karena Osman belum berbicara me­ nge­ nai perlunya mereformasi Muslim.” putra Naudé me­ nyimpulkan bahwa Injil dan Kristus tidak membenarkan apartheid. menyebut teman­ nya dengan nama awal: Beyers memilih kepatuhan terhadap nurani. Se­ telah banyak “doa..” ucap­ nya.” Sebagai ilustrasi. Hidupnya terlihat berantakan. Ayah Naudé membantu mendirikan Afrikaner Broederbond. belajar. Lalu.” tulis Uskup Desmond Tutu dan putrinya Mpho dalam Made for Goodness (Diciptakan untuk Kebaikan). ia meng­ gantungkan jubahnya ke mimbar dan ber­ jalan keluar gereja… Anggota Afrikaner lainnya mengucilkan dia dan ke­ luarganya. dan renungan. “Kesempurnaan ilahiah bukanlah keadaan tanpa cacat. “Ke­ sem­ purnaan ilahiah adalah keutuhan.. Lantunan penyangkalan tidak bisa menenangkan ke­ benaran: segregasi memecah belah jiwa kita. ayah dan putrinya ini menceritakan kepada kita tentang Beyers Naudé. Uskup Tutu kemudian bercerita. seorang menteri beragama Kristen dan keturunan se­ buah dinasti politik pada era apartheid di Afrika Selatan. ia mengumumkan keputusannya kepada para jemaatnya. “Kita harus menunjukkan loyalitas lebih be­ sar kepada Tuhan dibandingkan kepada manusia.

IRSHAD MANJi menjadi presiden pertama yang terpilih secara demokratis. Integritas dirinya dan juga integritas Islam. Osman yang berusia 18 tahun bisa berusaha menuju keutuhan juga. Tetapi. bergantung pada usaha itu. bersama anak-anak geng yang juga Muslim. aku akan bertindak lebih kasar kepada kaum kafir yang me­ nentang Allah! —Kessar 59 . orang Yahudi dan kulit putih itu kafir di mata Allah. Ia telah memberanikan diri untuk berdiri se­ bagai saksi tunggal atas ketidakadilan yang dilakukan oleh orang-orang di kelompoknya. maafkan sebelumnya. jangan salah. aku pernah berbuat salah. Ia telah memperdagangkan ke­ sempur­ na­ an palsu untuk mendapatkan keutuhan ilahiah. Jika kita ragu-ragu menuju momen harmoni yang saling men­ dukung. karena aku akan merusak mo­ men itu. dan sudah pasti. se­ orang remaja berusia 18 tahun mengirim surel: Bagaimana kau bisa memanggil dirimu Muslim? Jika Tuhan meng­ inginkan kita menjadi robot untuk-Nya. Tak peduli jawabanmu nanti­ nya. Seperti yang akan kuilustrasikan. yaitu kumpulan ke­ baktian di Johannes­ burg yang pertama kali mendengar deklarasinya ten­ tang nu­ rani. Aku seorang Muslim yang tinggal di dunia Barat. Aku penghisap berat ganja dan menganiaya orang Yahudi serta kulit putih kapan pun aku mau. maka itulah yang harus kita jalani. Be­ yers menjalani lima tahun terakhir hidupnya se­ bagai se­ orang jemaah di Aasvoëlkop. tapi aku sudah menyampaikan maksudku. Setelah mendengarkan salah satu wawancaraku di BBC. sementara kita Muslim adalah golongan beriman.

kurang sukses. Syukurlah. Ketika kafir me­ lihat Muslim berdebat. Ibrahim mungkin orang awam yang bodoh. Ibrahim. & LOVE Meskipun aku seorang Muslim yang memiliki kehidupan bersih. “Islam me­ ngatakan bahwa jika saudara sesama Muslim melakukan sesuatu yang salah. aku tidak perlu fatwa untuk menyadari kalau Kessar ini seorang penganut segregasi. kalau begitu. tidak ber­ pendidikan. Seharusnya. Nah. Muslim yang 60 . maka adalah tanggung jawabmu untuk me­ luruskannya—tetapi luruskanlah di dalam Islam. dan setelah kafir menertawakan kita—apakah ada yang lebih buruk untuk Islam?” Baiklah.ALLaH. haruskah kuberharap kalau Kessar sedang mabuk saat ia me­ nuliskan maha karya ini? Apakah penting jika dia menonton TV kafir Barat (yang barangkali diproduksi oleh orang kulit putih yang dikendalikan oleh Yahudi)? Di mana fatwa yang bisa membantuku memahami persoalan ini? Untungnya. secara ter­ tutup atau di luar penglihatan kaum kafir. dan segudang alasan yang bisa kita duga untuk meminimalisir sikap moderatnya yang tidak moderat. ia tidak akan menghadapi cacian mereka. mereka akan menertawakan kita. Fatema bersaksi kalau Muslim sering meng­ kritiknya sebagai seorang kafir.” Namun demikian. mengawali dengan me­ ­ yakin­­ kanku bahwa ia “senang” karena aku “memanfaatkan demokrasi dan kebebasan bersuara. Ia membagi galaksi kita menjadi “Kaum Beriman” dan “Kafir”. LIBERTY. seorang Muslim moderat. bagaimana dengan pengalaman Fatema? Ia adalah wanita muda di Abu Dhabi yang telah ku­ singgung di awal bab ini. Pemuda ini tidak tertarik dengan in­ tegritas karena termakan oleh identitas siap jadi—dan dia sama sekali tidak luar biasa.

IRSHAD MANJi ber­ pikiran reformis belajar dari Fatema. mereka adalah kuffar. Kita “didoktrin bahwa orang-orang itu. ia adalah salah satu dari segelintir imam yang menjadi penghulu bagi akad nikah antar agama untuk wanita Muslim. sebagian besar Muslim arus utama tidak mem­ bagi-bagikan lintingan ganja dan berkumpul di kedai makan Yahudi (kecuali mereka ingin memuaskan nafsu makan setelah mengisap ganja). Fatema Mernissi. Semua agama memiliki umat yang menganut segregasi. memperbesar poin ini dalam Islam and Democracy: Fear of the Modern World (Islam dan Demokrasi: Ketakutan Dunia Modern). mereka tidak beriman. Seorang pelopor sosiolog berkebangsaan Maroko. kepala Muslim Education Centre di Oxford. memerangi apartheid di tanah kelahiran mereka di Afrika Selatan.” Hargey dan istrinya. tetapi agama apa selain Islam yang kaum moderatnya marah-marah dengan cara begini? “Kita me­ nyaksikannya sejak kau masih kecil. Tentu saja. Tetapi ada pemujaan dogma kamiversus-mereka di kalangan Muslim arus utama. Kini. seluruh pola pe­ ngondisian menjadi fokus ketika Muslim merasa berhak untuk “menganiaya kaum Yahudi dan kulit putih” karena mereka “Kafir”. karena kita sedang meng­ hadapi suatu bentuk yang lebih besar daripada pecandu mariyuana dan bajingan. Baginya. Inggris. dan ini mem­ buat keutuhan individu berada dalam pengaruh pemikiran kelompok (groupthink).” kata Taj Hargey. Jackie. Dorongan segregasi yang tersebar luas mengalir melalui praktik-praktik Islam saat ini. dan juga bagiku. Ia menggambarkan ketakutan Muslim yang sudah umum adalah “mengungkapkan opini individual akan 61 . Mereka tidak setara denganmu.

politik identitas men­ diktekan bahwa untuk menjadi seorang Muslim otentik. & LOVE me­ lemahkan kelompok dan dapat dimanfaatkan oleh pihak lawan. tak berpemikiran. Integritas dimulai dengan menerima apa yang membuat kita sebagai individu. supaya kita mengenal Sang Pencipta dengan me­ ngenali diri kita sendiri.” Dan karena soli­ daritas kelompok terbentuk dengan mengorbankan kreativitas ke­ lompok. Bagaimana? Yaitu dengan meng­ gantikan ka­ sih sayang Tuhan dengan politik manusia. banyak orang tumbuh ber­­ kembang dengan ketergantungan yang sangat be­ sar pada pengakuan bahwa mereka memiliki sedikit 62 . Setia kepada sifat Islam yang pluralistik menjadikanku kafir. di mana segala se­ sua­ tunya berjalan pasif—mediocrity dilekatkan kepada kita se­ bagai esensi otensitas kita.. aku harus menyesuaikan diri dengan pemikiran segregasi—atau lebih baiknya.. Tak heran Mernissi mencurigai ada yang tidak beres.” Identitas kelompok mengandung “kecenderungan emosional” yang dimanfaatkan oleh mereka yang mengusung kata-kata seperti kafir—bahasa “yang cukup untuk membuat si tertuduh menjadi sasaran hukuman yang sah. “dunia Muslim [telah] bergerak menuju jurang me­ diocrity (keadaan yang biasa-biasa saja). Meng­­ ­ ikatkan diri pada kelompok artinya terlalu mengecilkan iden­ titas individual Muslim bahkan saat ini menyulitkan in­ tegritas individu Muslim. Sultan Abdulhameed menguraikan: Di saat kemapanan dipaksakan.ALLaH. Al-Quran me­ yakin­ kan kita bahwa Allah lebih dekat daripada “urat leher kita” (50:16).” Dengan kata lain. LIBERTY. Dalam Quran and the Life of Excellence (Al-Quran dan Kehidupan yang Luar Biasa).

dan Anda sanggup melepaskannya untuk mem­ bahagia­­ kan orang lain. kita takut akan kesempatanke­ sempatan ini karena kita rancu antara keimanan spiritual de­ ngan politik identitas. Hidup demi penampilan adalah sebuah ke­­ ru­ gian besar. Anda hanya memiliki sekali kesempatan hidup. Sultan Abdulhameed yakin. termasuk Osman yang berpikiran reformis. Anda tidak menghargai bahwa keunikan Anda adalah anugerah Tuhan kepada dunia. dapat berjalan menuju Tuhan secara ju­ jur tanpa khawatir akan membuat-Nya murka. Anda ter­ jebak dalam suatu karir yang dipilihkan orang lain untuk Anda.IRSHAD MANJi inisiatif dalam kehidupan dewasa. dengan demikian menjadi su­ atu jalan lapang untuk menyelaraskan banyak sisi dalam diri kita. Anda menikahi seseorang yang di­ pilihkan orang lain untuk Anda. Identitas kelompok mewajibkan kita untuk masuk ke dalam berbagai kategori. Bagi Osman. Anda tidak menggunakan ke­ sem­patan ini untuk menemukan apakah yang membuat Anda istimewa dan berbeda. dan Anda membacakan doa yang dipilihkan orang lain untuk Anda. 63 .” Islam. Individu dari semua golongan. jalan yang lurus. namun keimanan “adalah serangkaian kepercayaan yang membebaskanmu dari batasan-batasan dan meningkatkan potensi-potensi dalam hi­ dup. Anda tinggal di rumah yang dipilihkan orang lain untuk Anda. Anda menjadi sa­ ngat ter­ gantung pada tokoh-tokoh otoritas. sehingga Anda tak mampu me­ ngenali kehendak Anda sendiri.

yang dulunya merupakan penghargaan atas kehebatan Sang Pencipta. • Mencintai Penciptamu adalah mencintai ciptaan-Nya yang beragam. umat Muslim yang bersuara paling vokal telah menjadikan identitas kelompok seperti inte­ gritas individu. Pilihan hidup yang ber­ ke­ limpahan. kini menjadi pukulan telak bagi persatuan yang ha­ rus diperlihatkan di depan mereka. Ke­ 64 . Perdebatan menimbulkan keretakan. Tentara Salib. Lebih buruknya lagi. jalan yang lurus dan lapang untuk menuju integritas dapat diringkas ke dalam tiga pernyataan: • Mencintai keunikanmu adalah mencintai yang telah men­ ciptakannya. Utsmaniyah. Ber­ pikir dengan cara berbeda akan mengakibatkan runtuhnya ke­ kuasaan. Satu Tuhan. yang keutuhannya belum sepenuhnya terwujud. Sang Penciptamu. Perdebatan sama dengan perpecahan. • Mencintai ciptaan-Nya adalah mencintai mereka yang ter­ aniaya dengan membela mereka tanpa menganiaya yang lain sebagai balasan. keseragaman adalah prasyarat bagi persatuan. Tiga pernyataan. LIBERTY. dan Fatema. Barbar. Oleh karena itu. Keberagaman pe­ nafsir­ an. yang diam-diam ingin melemahkan kita. atau Amerika—setiap anggota ummah (ka­ um Islam internasional) harus berpikiran sama. Namun sejak kematian ijtihad. mereka membuat premis integritas dengan tiga rumusan yang tidak mengandung cinta: Persatuan setara dengan keseragaman.ALLaH. Untuk bertahan meng­ hadapi penyerang—entah dia seorang Mongol. & LOVE Kareem.

Berdasarkan asumsi-asumsi itu. Kaum anti­ modernis bersikeras bahwa menghidupkan ijtihad berarti me­ rangkul ide-ide Barat dan menjilat para penjajah Eropa. dan jauh melampaui Mesir. tetapi mereka gagal karena pihak lawan memelintir isu itu sebagai kontestasi antara pecah atau bersatu. ayah dari seorang war­ tawan Wall Street Journal yang tewas dibunuh. “Alim ulama itu memberitahukanku kalau buku itu cenderung memecah-belah. Mernissi menulis. Jadi. Begitu gerbang ijtihad di­ tutup rapat-rapat. secara otomatis. Bagaimana bisa begini?” 65 . “Itulah. Jadi. meng­­ hubungiku dengan satu pertanyaan. perdebatan mengakibatkan per­ pecahan (fitna). para feminis Mesir membangun suatu gerakan “menghormati in­ dividu” sebagai “keimanan yang mendasar. mereka berani mencoba memperbarui ijtihad. bid’ah. Kelom­ pok nontradisional mestilah. per­ pecahan menandakan bid’ah. Sementara semua itu masih berlaku. Pada tahun 2006. alasan dia tidak mau mengajarkannya.” sesal Pearl. Judea Pearl. Danny Pearl. Inovasi memecah-belah Muslim me­ ­ la­ lui cara merayu kita agar menyimpang dari tradisi. mungkinkah ada sepeng­ gal misteri mengenai mengapa Islam belum menyaksikan re­ formasi liberalnya? Sekitar tahun 1930-an. Cuma begitu saja.” Dengan me­ lakukan hal tersebut. Ia pernah menemui se­ orang Alim ulama Muslim di Amerika untuk mengajarkan buku­ ku. gagasan-gagasan inovasi pun menjadi sua­ tu penyimpangan (bid’ah). Perpecahan sama dengan bid’ah.IRSHAD MANJi retakan memecah-belah. Seruan mereka untuk solidaritas Muslim—keseragaman di bawah ben­ dera persatuan—memenangkan pertandingan itu.

Memang benar. Muslim lebih takut pada imbauan para reformis dibandingkan ideologi-ideologi teroris. Ibu merasa dipermalukan dan iden­ titasnya terluka. Tolong pikirkan. Ia menyatakan diriku se­ bagai “penjahat yang lebih besar” daripada Osama bin Laden. tidakkah hal itu menjelaskan sesuatu untuk­ mu? Dan jika Muslim tidak boleh memperdebatkan isu-isu penting. Fitna” (nona biang kerok). Demi kepentingan integritas—dia dan aku—aku dengan hormat memintanya merenung daripada mengikuti emosi. bahkan di sebuah negara yang kelihatan moderat seperti Yordania. “Tidak? Kalau begitu runtuh­ lah perbandingan antara aku dengan bin Laden. ada juga makna dari apa yang diucapkannya. dengan muram ia menyiratkan kalau aku sudah menimbulkan masalah untuk sesuatu yang tak berarti. Ketika ibu meneleponku setelah itu. Suatu malam. “Aku tidak membaca buku Anda karena aku tinggal 66 . Alasannya: di kalangan Muslim. bukuku diduga telah me­ nimbulkan lebih banyak perdebatan. Mom! Jika Muslim lebih marah pada pembangkang tak bersenjata sepertiku dibandingkan pembunuh yang royal seperti bin Laden. imam itu melebih-lebihkan ke­ kuatan gaib bukuku—namun demikian. mengapa Tuhan menganugerahkan kita akal dan nu­ rani?” Dengan reaksi yang dipolitisasi. dan mengakibatkan per­ pecahan. dibandingkan yang sudah dilakukan para teroris alQaeda. & LOVE Pada saat itu. Ibuku datang ke sebuah masjid di pinggir kota Vancouver. aku sudah menghadapi julukan “misfit“ (orang aneh) dan “Ms. “Apa­­ ­ kah aku memerintahkan pesawat menabrak gedung yang di­ pe­ nuhi manusia?” aku tanya ke ibuku. sang imam menyampaikan ceramah. LIBERTY.ALLaH.

tetapi in­ tegritas keyakinan pribadi memprioritaskan hubungan indi­ vidu dengan Tuhan. “Bagaimana seseorang yang merupakan produk dari se­ 67 .. Bagaimana bisa umat Muslim—atau di an­ tara kita—melawan pemikiran kelompok (groupthink) yang ra­ kus. Banyak Muslim religius melarikan diri ke agama untuk me­ nutupi kegagalan mereka.. pernah menyak­ sikan Perang Balkan. Berpikir dilarang. Identitas agama insti­ tusional lebih menghargai in-group (kelompok mereka).” Tareq memilih integritas yang dipandu oleh iman daripada identitas yang dihasilkan oleh dogma.IRSHAD MANJi di Yordania dan mereka tidak memperbolehkan membacanya. Tapi saya membaca sebuah artikel yang meng­ kritik Anda di satu koran lokal dan saya melakukan pe­ nelusuran di internet. Ke­ suksesan sosial membutuhkan kerja keras dan pengetahuan luas.” isi surel Tareq padaku. dan bahagia merupakan cara terbaik untuk beribadah kepada Tuhan. yang melahap integritas individu? Slavenka Drakulić. Pertanyaan yang serupa mencengkeram­ nya. Saya lebih memilih “iman” di­ bandingkan “agama. sehat. Tak pernah terpikir ada orang lain yang bisa memandang dengan cara yang sama sepertiku. Saya tidak keberatan menjadi bagian dari suatu kelompok. Belajar untuk memberikan hidup yang lebih baik untuk generasi men­ datang agar mereka bisa hidup dengan sukses. tetapi kelompok yang diwakili oleh Islam saat ini adalah yang terjauh dari saya. seorang wartawati Kroasia. Islam mem­ butuhkan gerakan reformasi.

& LOVE buah masyarakat totaliter belajar tentang tanggung jawab.ALLaH. in­­ di­ vidualitas.” Tapi sampai hari ini. LIBERTY. inisiatif. “sungguh sulit menghubungkan ‘aku’ yang umum dan pri­ badi: untuk mulai percaya bahwa pendapat. kerumunan yang hangat. atau suara individu benar-benar dapat membuat perbedaan. memikirkan ‘aku. “’Aku’ berarti mem­ berikan kesempatan pada individualitas dan demokrasi.” tulisnya.” Drakulić menegaskan. Ia menekankan pada semua pengguna face­ book bahwa “Irshad tidak mewakili kita semua. serta diterapkan secara tertutup. mengingat perbedaan pen­ dapatku dengan kalangan Muslim arus utama. berbicara. Menurut pan­ danganku.’ dan melakukan ‘aku‘—di depan publik mau­ pun privat. Masih sangat besar bahaya orang akan menarik diri mereka ke dalam kelompok anonim ‘kita. dan orang lain yang me­ mutuskan takdir Anda.” “Kita” ini mirip konsep ummah.” Ia mencatat bahwa individualitas “selalu berada di bawah ko­ munisme. kepasrahan. Totalitas. “Dengan me­ nga­ ta­ kan ‘tidak. perbedaan antara “kita” dan “aku” bukan bersifat semantik. Ia mengasumsikan bahwa semua orang yang berbicara sebagai Muslim juga berbicara atas nama kelompok “kita. Masih banyak 68 . “’Kita’ berarti ketakutan. dan inisiatif?” Ia menjawab. wanita yang cemas itu sedang memproyeksikan perjuangan pribadinya dengan “aku” yang berpikir. pe­ nyerahan.’” Wawasannya mengingatkanku pada konflik yang kualami dengan seorang wanita Muslim yang sering mengunjungi la­ man facebookku.’ Tetapi ini dimulai dengan mengatakan ‘aku’.” Sehingga banyak pengguna facebook yang membalas kalau aku tidak pernah berpra-pura—agak berlawanan. dan berbuat. disingkirkan dari wilayah publik dan kehidupan po­ litik.

Kalian akan mampu melihat kalau aku berbicara mewakili diriku. Aku berdoa. kita semua akan cukup rendah hati mewakili diri kita sendiri. maniak yang mencintai diri sendiri yang menghina kelu­ arga. mari becermin pada integritas untuk men­ jinakkan emosi yang ada di balik identitas. suatu hari nanti. Sudah pasti Muslim reformis akan dituduh nar­ ­ sistik. Tetapi sekali lagi.” Dan kalian pasti benar. kalian tidak perlu takut ka­ lau kalian diwakili secara buruk. Beberapa tahun silam.” Saat merenung kembali. Jika aku terlalu memperhatikan “bagaimana penampilanku untuk orang lain. Yang artinya. Ketika umat Muslim mempraktikkan kerendah-hatian pada “aku” yang berpikir.IRSHAD MANJi orang yang memiliki asumsi demikian. “Dia bukan Muslim tipeku. berbicara. karena kalian sama sekali tidak diwakilkan. Daripada sibuk me­ yakinkan diri kalian kalau “dia bukan seorang Muslim. bukan mewakili seluruh Muslim. Tuhan. aku melihat bahwa katarsisku me­ ngandung pencerahan.” 69 . aku mencurahkan tulisan di salah satu buku catatanku. “Untuk para Muslimlah yang mengkritikku: Begitu kalian menyelaraskan diri dengan individualitas kalian. masyarakat kita. Isinya. dan otoritas yang paling agung. dan be­ rbuat—di ­­­ depan publik maupun privat—reformasi Islam akan dimulai.” kalian bisa mencibir. kalian tidak akan merasa terancam dengan ka­ ta-kataku karena kalian akan mampu melihat pan­ dang­ anku apa adanya—pandanganku.

“Sekarang. maka dia mengenali Tuhan­ nya.ALLaH. Karena itu. aku mendapati diriku dikelilingi oleh mahasiswa yang tak sabar ingin bicara. Individualisme merusak komunitas dengan pernyataan. “Aku adalah diriku. Khaled Abou El Fadl.” Sebaliknya. menulis The Great Theft: Wrestling Islam from the Extremists (Pencurian Akbar: Mem­ perjuangkan Islam dari Kaum Ekstremis). karena Arafat sudah tiada.” salah seorang dari mereka memecah kebisuan. ia menyoroti sebuah pesan dari Nabi Muhammad: barang­ siapa yang mengenali dirinya. Mana sisi yang saleh atau rendah hati dari pemujaan-citra? Aku berdebat untuk individualitas—bukan individualisme. aku mencerap keesaan Tuhan dengan me­ ngakui berbagai dimensi yang kumiliki. Pada bulan Februari 2005. sewaktu kunjungan dadakan ke An-Najah National University di jantung Tepi Barat. LIBERTY. Ke­ wajiban untuk mengenal Tuhan itu melebihi rasa bersalah yang ditimbulkan oleh tuhan-tuhan palsu dalam keluarga dan bangsa. Di dalam buku­ nya itu. dan masyarakat tumbuh ketika aku meng­­­ekspresikan keunikanku. & LOVE maka artinya aku terobsesi dengan citraku. Jalan Islam yang lapang men­ ciptakan ruang untuk paradoks ini. “Aku­ lah yang penting dan aku tak peduli apakah masyarakat akan men­ dapat manfaatnya. tapi saya juga manusia 70 .” Ada perbedaannya. individualitas menyata­ kan. termasuk bakat dan pemikiran yang akan dimusuhi oleh orangtua dan politisi. Ada juga pa­ ra­ doksnya: kita memperluas komunitas melalui keberanian untuk mengembangkan individualitas. yang mengajarkan Hukum Islam di Universitas California (Los Angeles). Palestina. “waktu­ nya untuk menerima Israel. Saya ingin penjajahan ini ber­ akhir.

Meskipun demikian. “Kita masing-masing shalat sebagai dirinya sendiri.” Namun “perbedaan bukanlah hal yang buruk. aku perlu hidup aman da­ ­ mai dengan Yahudi dan kita semua harus menyongsong masa depan. ke­ nyamanan adalah prioritas nomor satu.” ujarnya. “Itu hanya mitos. menunjukkan hal ini kepadaku di sebuah dis­ kusi publik tentang keberanian moral. Abdullah Ah­ med An-Na’im. Bagi sebagian dari mereka.” “Bukankah sikap ini melanggar konsep Islam tentang um­ mah—bangsa yang global dan seragam?” tanyaku. Saya tidak ­ 71 .IRSHAD MANJi dengan impian dan harapan untuk masa depan. tidak pernah ada ummah yang seragam. “Saat saya berdiri dalam shalat sebagai seorang Muslim.” An-Na’im menambahkan “terkadang umat Muslim an. Dalam shalat berjemaah sekalipun. Untuk meraih im­­ pian­ ku sebagai seorang individu.” Pernyataannya itu—yang memang di­ se­ ­ ngaja dan tegas—mengisyaratkan bahwa ia tidak ingin disa­ ma­ kan dengan kelompok gabungan yang tidak jelas oleh pi­ hak penjajah lain­ nya: para pemimpin Arab. Pada Maret 2008. “Se­ jarah Islam menunjukkan. seorang profesor di bidang HAM dari Uni­ versitas Emory. kau tidak perlu me­ ninggal­­ kan individualitasmu.” ketusnya dengan kilauan di matanya. yang salah satu­ nya mungkin bisa me­ ngecamnya demi mempertahankan kesuci­ an kampanye ke­ merdekaan negara. saya berdiri di antara barisan orang yang sangat banyak. Mahasiswa AnNajah tadi memastikan bahwa itu adalah pilihan yang salah.” Mahasiswa ini menyampaikan pernyataan yang meng­ agumkan itu di depan mahasiswa lain. Mereka bahkan tidak meng­ kritik ke­ putusannya untuk mengidentifikasi dirinya “seba­ gai seorang individu. seolah ko­ mu­ nitas tidak bisa menolerir individualitas.

” merasa takut kalau kalangan Muslim arus utama akan memberikan stigma karena sudah terang-terangan meng­ gunakannya. bukanlah awal. & LOVE tahu. secara harfiah. Mereka sadar kalau kita bisa melepaskan stig­ ma dengan cara menyambutnya dengan ter­ senyum. LIBERTY. para peserta pun berubah sikap karena ketenangannya. Ia telah memelopori sebuah konferensi yang dengan genitnya dinamakan Celebration of Bid’ah: Critical Thinking for Islamic Reform (Perayaan Ajaran Bid’ah: Pe­ mikiran Kritis untuk Reformasi Islam). Yang buruk adalah kekerasan.” Diasingkan dari Sudan karena aktivitas reformisnya. dan akhirnya. An-Na’im tidak peduli dengan pem­ berian stigma tersebut. Kata “kita” dapat menjadi semacam obat pada era pasca­ kolonial. Terpujilah. Penyensoran diri. 72 . Tapi. men­­ jadi sebentuk aturan yang mengatakan kaum kulit putih menjadi milik (belong to) dari satu keluarga yang lebih hebat daripada ke­ kaisaran-kekaisaran di masa lalu. “Aku” adalah awal yang di­ perlukan untuk memperoleh “kita” yang utuh dalam Islam.ALLaH. “Kita” sudah menjadi penghibur bagi kemanusiaan.” Fatema. Termasuk bisa berarti “memilih untuk mengidentifikasikan dengan” atau bisa juga termasuk “sudah dipunyai. AnNa’im terlihat sangat bahagia sebagai pengembara di jalan Islam yang luas. selama kita bungkam dalam ketakutan. gerakan reformasi aga­ ma yang masih hijau ini akan gagal. Beberapa delegasi me­ nolak ka­ ta “bid’ah. kenapa orang-orang sangat gelisah dengan per­ bedaan dan per­ tentangan… Masing-masing kita adalah individu. tapi kata pemilikan (belonging) bukanlah suatu gagasan yang tanpa cela.

Kultur sang ayah harus menjadi kultur sang anak juga.IRSHAD MANJi sahabat kita di Abu Dhabi. generasi Eropa. daripada ke­ warga­ negaraan saya. Ia menjadi bagian. pe­ muda Muslim lainnya mempunyai “kita” yang dirancang untuk mereka sendiri. bah­ kan budak pun akan tahu tempatnya dan memiliki tempat. atau membiarkannya kian bersinar.” Bagaimanapun. individu bukan agency (pelaku)—tidak juga. Thomas Hobbes mengusulkan se­ balik­ nya. sebagai anak-anak imigran Muslim. Mereka sering menghadapi asumsi bahwa. Dalam sebuah sistem yang luhur. karena pilihan harus dibuat oleh dirinya sendiri. mereka dimiliki oleh komunitas etnik ayah mereka. individualitas generasi baru. Sekitar dua ribu tahun kemudian. tertutup di dalam “kita” orang lain. Menurut Aristoteles. Karena itulah. yang terjadi di tangan para huma­ nitarian. Dengan “pemilikan” yang sudah begitu pasti.” Hebat! Begitulah seharusnya. cukuplah sekadar me­ nyampaikan bahwa umat non-Muslim memainkan peran yang sama dalam memudarkan Muslim.. memberitahukan kita kalau “Saya adalah milik pemikiran dan nurani saya. setidaknya. Dan demi ke­ sta­ bil­ an sosial. sebagai contoh. Individu memiliki sejumlah agency.. Kau adalah apa yang kau inginkan sa­ at di­ lahirkan. aku akan mem­ per­ kenalkan se­ orang antropolog yang mendokumentasikan bagaimana ketidakadil­ an ini. seorang penguasa harus menekan ambisi setiap 73 . bahkan ketika mereka hidup di dunia Barat. Dalam bab berikutnya. yang membuat eksistensinya berarti. pemuda Muslim lainnya memiliki “kita. Saat ini. Ia menentukan “kita”-nya sendiri. Tetapi. mengapa non-Muslim dapat memanfaatkan kursus kilat tentang sejarah identitas kelompok Barat itu sen­ diri.

Sebagai produksi dari zaman Roman­ tisme Jerman. Madam. seorang fil­ suf Prancis. tetapi ia juga ber­ ­ seteru dengan kebanyakan tradisi Eropa. Volkgeist merujuk pada mengasah karakter kolektif sebagai esensi orang-orang demi memperkuat rasa ke­ bangsaan mereka dan mengilhami mereka bahwa kehormatan berada di atas segalanya. Masih dalam masa pemulihan dari Perang Dunia Pertama dan gampang di­ pengaruhi oleh pen­ deritaan sehari-hari. Aristoteles dan Hobbes telah mencapai satu kesimpulan yang bisa diperbandingkan: kemajuan yang teratur menuntut suatu sistem yang menenggelamkan individu. Non!” kaum pemurni identitas Eropa mungkin akan meng­ go­ yanggoyangkan jari (tanda tidak setuju). & LOVE manusia. Hitler memberikan imbauan kepada rakyat Jerman yang ke­ hormatannya tercabik-cabik.ALLaH. “Jangan pernah me­ nya­ makan tribalisme Islam dengan perilaku Barat. Dalam pidatonya yang membakar se­ mangat di Beer Hall pada tahun 1923 (di antara sekian banyak lainnya). para pendengar Hitler ini mendukung dengan penuh gegap-gempita. Dari kedua perspektif yang sangat berbeda. ditopang dengan gagasan Volkgeist di abad ke-19.” agen tertinggi rak­ yat yang berdaulat secara politik. tentunya! Apakah ini kemudian akan selesai? 74 . Karena itu perlunya “Leviathan. Alain Finkielfraut. Dan inilah hasilnya. “Non. LIBERTY. menelusuri kembali epidemi “kita” yang tribal— politik identitas—yang langsung mengarah pada persoalan Volkgeist. Kelompok Nazi pun menjadikan kesimpulan tersebut se­ bagai klimaks yang mengerikan. individualitas berjalan berlawanan dengan praktik Islam selama berabad-abad. Ya. Siapa yang menikahi seorang yang berumur sembilan tahun?” Nabi Muhammad.

tidak sepenuhnya men­­ dorong pemikiran terbuka. Ketika aku me­ ngunjungi situs web resmi Korea Utara yang berbahasa Inggris di bulan Februari 2006. individualitas menjadi universal. 75 . Di luar kandang. Individuali­ tas pun ditakuti oleh pengusung identitas murni. Istri Lavoisier yang masih kanak-kanak itu men­ jadi asisten laboratoriumnya—walaupun tidak lama. Berkat implikasinya yang menem­ bus batas. Begini. Itulah ke­ bajikan dari individualitas. aku tidak tertarik dengan pertandingan kandang antara pihak ateis. Dengan taktik yang cocoknya dilakukan kalangan diktator Arab yang ber­ pengalaman.IRSHAD MANJi Non! Seorang ilmuwan terkemuka di zaman Pencerahan Eropa. humanis. menikahi seorang gadis berusia tiga belas. kaum dogmatis ini sanggup me­ lakukan tindakan yang sangat kejam. Sebuah kan­ dang niscaya membatasi ruang dan mensirkulasikan uda­ ra yang apek. berada di dalam kandang. Antoine Lavoisier. Entah itu atas nama Tuhan atau tanpa tuhan. sehingga inilah yang menjadikan individualitas sebagai pusat untuk menerapkan keberanian moral—keinginan untuk menembus pemikiran ke­ lompok. dan ortodoks agama. Kediktatoran menjajakan dirinya sebagai sesu­ atu “yang merangkul sains dan rasionalisme…” Kaum ateis tak boleh merasa girang. algojo Revolusi Prancis telah memenggal ke­ pala Lavoisier. Selanjutnya: ayah mertuanya. aku membaca satu pernyataan yang kemudian sudah dihapus. di dalam dan di luar Islam. kita bisa me­­­ nemukan nilai-nilai yang memperbolehkan kita untuk ber­­ ­ pindah dan berintegrasi tanpa perlu terlalu terikat.

Camkan.” tulis Jacques Barzun dalam kajian monumentalnya mengenai Barat modern. ala Trotsky. & LOVE Nabi Muhammad mengajarkan bahwa apa yang kuinginkan untuk diriku sendiri. Ketika ditangkap dengan rasa kebencian. berhutang sebagian kebebasan mereka pada Voltaire yang seorang ateis. From Dawn to Decadence (Dari Kebangkitan hingga Kejatuhan). “Bahkan teroris yang mengemudikan mobil yang 76 . Banyak dari imam-imam tersebut tergesa-gesa mencari tempat untuk mulai praktik kem­ bali se­ telah diusir dari kampung halaman mereka: Voltaire “juga harus melewati perbatasan untuk menghindari penyiksaan dan tetap mempertahankan pendapatnya. “universalis” semacam itu merupakan hipokrit yang paling rendah. Misalnya. menegaskan kembali ajaran Muhammad: Saya hanya boleh bertindak berdasarkan prinsip-prinsip yang bisa diterapkan secara universal. Namun demikian. aku pun harus menginginkannya untuk orang lain. Para pengkhotbah kemurnian ini mem­ bukti­ kan bahwa kita semua meminjam dari imam-imam Imi­ gran asing di Barat yang menyerukan jihad kekerasan ter­ hadap golongan kafir. kapitalis versus proletar—mengentalkan pandangan dunia (worldview) mereka. terhadap Kant. dan mereka bisa menghancurkan kalimat Muhammad yang me­ ngandung anti-tribal agar sesuai dengan tujuan totalitarian mereka. LIBERTY.ALLaH. maka pesan ini bisa mematikan. aspek lain dari kemunafikan mereka mem­ buatku senang. Immanuel Kant. persis seperti yang dilakukan sosialis internasional. seorang nabi pada zaman Pen­ cerahan Eropa. Polarisasi—golongan ber­ agama versus kafir. seorang khalifah Islam yang universal adalah hal terakhir yang ku­ inginkan. Ia melanjutkan. Tetapi sebagian Muslim juga menginginkannya.

digantikan oleh visi bintang yang lebih besar yang bertebaran di ruang angkasa. 77 . menjulukinya “Seniman Tuscan” dan menulis ten­ tang bulan yang dilihat lewat “Kaca Optik” seniman itu. dengan seluruh bintang yang tersusun rapi dalam bi­ dang yang tiada batas.. telah merangsang berpikir di kalangan Yahudi dan Latin terpelajar sampai tahun 1600-an. Seperti juga Star Wars dan Star Trek yang ter­­ inspirasi oleh kosmologi modern. cendekiawan Muslim di abad ke-12. Daya pikat Ibnu Rusyd di universitas-universitas Italia “berdampak langsung pada munculnya sains modern.” Begitu juga dengan teleskop sederhana Galileo. kini tidak berlaku. yang telah menyingkap galaksi Tuhan yang tiada batas bagi seorang pe­ nyair Inggris John Milton.. Ibnu Rusyd. nyatakan: Milton menyinggung tentang Galileo dalam Paradise Lost.IRSHAD MANJi dipenuhi dinamit menuju ke sebuah bangunan di negara yang dibencinya adalah bagian dari apa yang ingin ia musnahkan: senjata­ nya merupakan hasil karya Alfred Nobel dan para pe­ nemu mesin pembakaran internal. Semesta ala Aristotelian yang diakui sebelumnya. Seperti yang Dick Teresi. puisi di abad ke-17 pun ditransformasikan oleh Copernicus dan Galileo. “Di luar konteks ini muncullah Galileo.” de­ mikian catatan filsuf Paul Kurtz.” Chauvinistik di zaman Pencerahan Eropa seharusnya me­ mer­ hati­ kan pelajaran yang sama: kita semua meminjam. pendiri majalah Omni.

Rasa penasaran juga melanda sosok di balik Patung Liberty di Amerika. Ia ingin “mengukir rupa seorang wanita petani Mesir yang meng­ acungkan obor kebebasan. rasa pe­­ nasaran kembali melandanya dan ia membayangkan lagi si pem­ bawa obor. ia masih tetap terhubung dengan Timur Tengah: insinyur Patung Liberty asal Amerika. dan pem­ bangunan proyek itu selama bertahun-tahun. akan menjaga jalur masuk terusan kanal. Setelah di­anugerahi medali Star of Egypt. yang melahirkan gagasan besarnya di Ti­ mur Tengah. para donatur Arab mengalami kebangkrutan. “lenyap semua harapan untuk mem­ bangun sebuah negara merdeka. seorang Muslim penuh optimis yang menyatukan rasionalitas dan iman dengan melakukan pe­ nyelidikan—yang berbeda dari keraguan.” Sejak mengetahui hubunganhubungan ini. Leila Nasser.” tulis sejarawan Michael Oren. bertugas sebagai jenderal militer di masa pemberontakan Mesir melawan Inggris. saat mengikuti kata-katanya. & LOVE Dan begitulah Ibnu Rusyd. negosiasi. Stone mengundurkan diri. sebuah visi menyelubungi Bartholdi. “Namanya bakal dipanggil Egypt (atau Kemajuan) Membawa Cahaya kepada Asia.” Setelah itu. pemahat Prancis Frédéric-Auguste Bartholdi mengunjungi Luxor di Mesir. Begitu memasuki pelabuhan New York. di mana ia terpesona pada arsitektur kuno yang membuat se­ rasa dikirim ke “masa depan tanpa batas. Sekitar pertengahan 1800-an.” Tapi sebelum karya­ nya selesai. Charles Pomeroy Stone. aku terkadang menyebut Lady Liberty sebagai Leila Liberty—untuk mendiang nenekku. Monumen itu. dua kali lebih tinggi dari Sphinx.ALLaH. yang 78 . LIBERTY. saat pem­ bukaan Terusan Suez. Melalui pengumpulan dana. Bartholdi mengobati kekecewaannya dengan berlayar ke Amerika Serikat.

aku memanggil Aristoteles dan Aurelius dan siapa pun yang kuinginkan. Cyrus sudah menjadikan kebebasan beragama sebagai prinsip se­­ ­ belum banyak orang memahaminya.” Meminjam adalah nama permainan peradaban. W.” Tokoh penting lainnya dalam pembebasan perbudakan adalah Frederick Douglass. Jika HAM me­ rupakan konsep yang hanya dimiliki Barat. Pandangannya yang ke depan menjadi acuan utama bagi komisi PBB untuk merancang 79 . yang kerap terlintas dalam benakku. di mana para pria yang tersenyum dan para wanita yang menyambut dengan hangat berjalan di dalam aula yang mewah. dan mereka semua datang dengan penuh keang­ gunan tanpa cemooh atau sikap merendahkan..B Du Bois melintasi batas warna kulit dalam karya kesastraan yang membahas nilai-nilai­ nya dibandingkan labelnya. seorang budak pelarian. dan yang menganggap “Amerika” menakjubkan tak ada habis-habisnya. tokoh-tokoh anti­ per­­­ budakan Amerika juga meminjam. aku hidup di luar tabir. men­ dorongku untuk mengutarakan segala pemikiranku. dan pembelaan yang kuat terhadap HAM. dan lenyap dalam keinginan untuk diucapkan. bagaimana men­­ ­ jelaskan Cyrus Agung? Sebagai Bapak Kekaisaran Persia. “Dalam benakku. Ia me­ nun­ jukkan betapa orator-orator Inggris yang penuh daya pikat itu “me­ nyuarakan pemikiran-pemikiran dari jiwaku. Apa yang kuperoleh dari Sheridan adalah pe­ ngecaman yang berani atas perbudakan. Membaca dokumen-dokumen ini. mengabdi pada Kebenaran..” ucapnya lepas. Demi mewujudkan janji Lady Liberty.E. “Aku bergerak bersamasama Balzac dan Dumas. Jadi.IRSHAD MANJi mungkin bisa menjadi model “wanita petani Mesir” untuk Bar­ tholdi.

Sebagai seorang pen­ deta Lutheran berkebangsaan Jerman yang terkenal melawan rezim Nazi.ALLaH. Sementara “gereja di Jerman tanpa sadar menjual jiwanya. Filipina. Bonhoeffer mengangkat kisah inspiratif tentang pemuridan (discipleship) Kristen dari kaum Afrika-Amerika pa­ da tahun 1930. Dietrich Bonhoeffer pun meminjam.. Saat gerejanya dengan tenang menjalin sekutu dengan pe­ merintahan.” demikian pengamatan pendeta Metodis John Hay. Libanon. Cili. LIBERTY. Mereka sering meminjam satu sama lain. hati Bonhoeffer dihangatkan oleh sak­ si dari Ge­ reja Baptis Abyssinian… Sementara gereja­ nya menyelaraskan 80 . India.. ke­ yakinan­ nya menjadi tersalurkan. Tapi justru di Harlem. Terkadang deklarasi ini lebih mirip se­ perti ga­ bungan dari prioritas-prioritas budaya yang saling ber­ tentangan diban­ dingkan per­nyataan yang mulus mengenai HAM. Jr. Mesir—para delegasi ini duduk berdampingan dengan utusan negara-negara Barat untuk menghasilkan sebuah dokumen yang mam­ pu meng­ gerak­ kan masyarakat mereka menuju eks­ pektasi yang lebih tinggi. Ia menempuh pendidikan di Union Theological Seminary di bagian Utara Manhattan. menemukan.. dan mengeksplorasi apa yang tidak pernah ditawarkan oleh gereja di tempat asalnya—perasaan berkomunitas sesuai Al­ kitab. Cina. wakil pimpinan ko­ mite adalah Ghasseme Ghani dari Iran. Dipimpin oleh Eleanor Roosevelt. Uni Soviet. “Bonhoeffer mendambakan. & LOVE Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia setelah Perang Dunia Kedua. tetapi kontra­ diksi dalam piagam ini menguatkan maksud­ ku: tak seorang pun dapat secara sah melukiskan para pe­ rancangnya sebagai tokoh-tokoh bayangan dalam sebuah konspirasi Anglo-Saxon.

buku-buku Barat memberikan ketenangan se­ bagaimana teks-teks Timur. pembelaan Thoreau terhadap perbedaan pen­ dapat yang benar telah memberikan Gandhi “argumen yang men­ dukung perjuangan kita. Menghadapi sikap apatis dari orangorang India di sana. akankah rakyat India gagal dalam tugas mereka dan takut akan penjara?” Di balik jeruji. Ia menulis literatur Amerika penting lain­ nya.IRSHAD MANJi masa depannya bersama Hitler.” Mahatma Gandhi pun meminjam. Misalnya. Thoreau memasukkan kisah seorang pria yang berniat mengukir sebatang tongkat secara sempurna dan kehilangan teman-temannya karena fokus untuk pe­ menuhan kepuasannya.” Ke mana Thoreau berpaling untuk kebanyakan inspirasi­ nya? Dunia Timur. Walden. Gandhi menyelami esai Henry David Thoreau. semangat Gandhi tak jarang melemah. Sebuah kontribusi klasik untuk indi­ vidualitas di Amerika. Keteladanan mereka membangkitkan Gandhi untuk menantang konstituennya. Bonhoeffer mene­ mukan cara tanpa kekerasan yang kreatif. Dilahirkan di India. sebuah perenungan atas eksperimennya dalam hidup sederhana. Cuplikan berikut ini menekan tombol uni­ ver­ salisku: 81 . ia berkampanye melawan struktur yang rasis di negara tempat ia berimigrasi sebagai panitera muda di Afrika Selatan. On the Duty of Civil Disobedience (Tentang Tugas dari Ketidakpatuhan Sipil). “Jika wanita saja sudah mem­ perlihatkan keberanian seperti itu. para wanita pendemo di Inggris yang memperjuangkan hak pilih suara. menerima pe­ menjaraan sebagai satu langkah dalam perjuangan hak pilih suara wanita. Di saat-saat demikian. meskipun hanya untuk afirmasi.

Material ini murni. seorang teman dari Iran bernama Ali telah memicu “Momen King” pribadiku dengan mendesakku mem­ baca Martin Luther King. Bertahun-tahun silam. dan seninya pun murni. Gandhi mempengaruhi King. demi dirinya dan karyanya. & LOVE Dan sekarang ia melihat di dekat tumpukan gerusan kayu yang masih segar di kakinya. Jr. dan tak ada lagi waktu berlalu daripada yang di­ butuh­ kan untuk satu kilatan cahaya dari otak Brahma yang ter­­ pancar dan me­ nyalakan otak manusia.” suatu keadaan yang terhanyut dalam me­ lakukan apa yang kau cintai. Ramin Jahanbegloo. me­ nyebut “Momen Gandhi” terkait teman-teman se­ per­ juangan­ nya di Negara Republik Islam itu. Dan di ujungnya. Pemim­ pin hak sipil itu mendapati dirinya terjepit antara kaum rasis 82 . bahwa. se­ mua itu mem­ pengaruhi rakyat Iran untuk berdemo demi meraih ke­ bebasan mereka. waktu yang berlalu telah menjadi ilusi. LIBERTY. dari Hindu Gita sampai Konstitusi US. Betapapun sangat Amerika—namun demikian sangat Asia juga. bagaimana bisa meng­ hasil­ kan selain sesuatu yang mengagumkan? Otak Brahma menjadi indikasi awal apa yang psikologi positif sebut “hanyut. Thoreau mempengaruhi Gandhi. Jr. Keterpengaruhan ini membuatku ter­ pikat. Martin Luther King. seorang pakar HAM di Universitas Toronto sekaligus mantan narapidana di Iran. Kehanyutan memudahkan pen­ carian kebahagiaan. Gita mempengaruhi Thoreau.ALLaH. meminjam—dari keyakinan tanpakekerasan Gandhi sampai ajaran cinta Kristus. agar aku bisa secara efektif me­ lawan kaum pemurni identitas di zaman sekarang.

” ia mengusulkan dalam Letter from Birmingham Jail. di sini dan saat ini adalah urusan kita. sebagai akibat dari penindasan yang sangat panjang. kita telah mengumpulkan serangkaian nilai-nilai kemanusiaan: ke­ merdekaan individu. dan para penindas lainnya. begitu juga untuk banyak warga Iran. Dengan berkelana dari Timur ke Barat dan kembali lagi. su­ dah kehilangan rasa hormat terhadap diri sendiri dan perasaan sebagai “seseorang” (somebodiness) sehingga mereka sudah me­ nyesuaikan diri dengan pemisahan warna kulit. Buat King.IRSHAD MANJi berkulit putih dan mitra pendukung supremasi mereka.” Temanku membandingkan mereka dengan Muslim yang me­ nerima keadilan hanya ada di akhirat. King mungkin akan memperbaiki rasa cepat puas diri itu.. ka­ langan nasionalis kulit hitam. atau setidaknya mereka sudah dibohongi supaya percaya. universalitas dari “cara yang jauh lebih baik” ini berarti me­ negakkan martabat—di sini. Nilai-nilai kemanusiaan telah melampaui batasan-batasan yang diciptakan oleh para segregasi. Perasaan mereka un­ tuk menjadi “seseorang” harus menunggu kehidupan berikut­ ­ nya. kaum pengusung pemisahan diri. akhirat adalah urusan Tuhan. ia mesti meng­ hadapi “desakan untuk puas diri” (force of complacency). penjajah. “Ada cara jauh lebih baik untuk cinta dan protes tanpa ke­ kerasan. Itulah istilah yang digunakan King untuk memotret pola pikir “Negro yang. Di atas itu semua. kebebasan nurani. Nilai-nilai kemanusiaan memungkinkan individu untuk me­ 83 . Untuk temanku.. saat ini juga. dan pluralisme ideide tanpa kekerasan.

aku me­­ nampilkan pernyataannya di laman webku: Aku tidak akan surut dalam melawan fanatisme Islam ini. Jauh sebelum serangan teroris Bombay pada bulan November 2008.ALLaH. Bagi Muslim ini. tetapi menuntut sesegera mungkin agar “dunia” berhenti menyakiti hati umat Muslim. Seorang kolumnis biro surat kabar yang berbasis di New York. Aku hidup di sebuah negara sekuler yang de­ mokra­ 84 . tidak ada jumlah kartun Den­ mark atau film Belanda yang lebih menyakiti dari­ pada tujuh serangan bunuh diri yang telah menewaskan se­ dikitnya 100 orang di Pakistan dalam waktu tiga minggu terakhir saja. dan jika dilakukan secara masif. yang tinggal di India dan menyatakan “aku”—secara publik. Setelah pengeboman terjadi. Aku bersyukur pada Mona Eltahawy. Eltahawy me­ nyuarakan sesuatu yang jarang diucapkan banyak orang: “Sa­ saran utama kekerasan Muslim adalah saudara sesama Muslim di dalam dunia Muslim… Demonstrasi yang sering dilakukan di dunia Muslim tidak menyerukan penghentian terhadap pembantaian Muslim oleh sesama Muslim. Pada bulan Maret 2008. & LOVE nerap­ kan keberanian moral. ia membuat orang heran karena tidak membiarkan identitas Muslimnya me­ ngecilkan integritasnya menjadi seorang individu me­ mi­ liki keberanian moral. LIBERTY. Aku bersyukur pada Akbar Ladak. Ladak menyusun se­ buah manifesto untuk saudara-saudara Muslim yang hidup dalam masyarakat terbuka. maka kita akan melenyapkan aksi-aksi supremasi.

aku memahami kalau rekanrekan sewarga negara dan sesama manusia lain­ nya me­ nemukan agama atau filosofi lain lebih cocok bagi hidup mereka. Filsafat penuh kebencian dan misoginis3 mereka. Aku juga menghargai segala ke­ sempatan ada di dalam kelompok masyarakatku un­ tuk sependapat. Islam. Hari ini. maka akan banyak yang diharapkan darinya. Aku mungkin akan menjadi orang yang lebih malang se­ andainya tidak dilahirkan di negara seperti ini. dan berteman dengan me­ reka yang memiliki pandangan berbeda dariku. didanai oleh para diktator yang kaya minyak. Aku bersyukur menjadi se­ orang Muslim karena Islam memberiku suatu kerang­ ka moral untuk menjalani hidup ini. Aku berhutang budi pada demokrasi di negaraku. berada dalam ancaman. karena membiarkanku memilih ke­ yakinan yang kujalani. Sementara aku merasa kerangka yang diberikan oleh agamaku adalah yang paling cocok buatku. Hal ini memutarbalikkan keyakinan yang saya cintai untuk menjustifikasi ideologi yang terlalu me­ nyederhanakan sehingga memikat umat Muslim 3 Orang yang membenci wanita 85 . oleh ekstremis Muslim yang menyatakan niat mereka untuk me­ wujudkan khalifah global. di mana aku memiliki kebebasan untuk mengamal­ kan keyakinanku.IRSHAD MANJi tis. ken­ dati tidak sempurna. masyarakat kita yang relatif bebas dan semakin multi­ kultural. Bagi mereka yang banyak diberi. berdebat. Pertama.

dan kita semua adalah penjaganya. Agama dan negara kita membutuhkan kita sekarang. yang mengatakan Islam yang mereka tahu lebih murni daripada Islam yang kita tahu. atau kekerasan. kemajuan. dan jangan sekali-sekali mundur dari perlawanan ini. Muslim mendefinisikan Islam. misoginis. Hanya kita yang bisa me­ nyampai­kan interpretasi alternatif mengenai Islam yang meng­ usung visi keamanan. hari ini marilah berjanji demi keyakinan.ALLaH. daripadanya 86 .” Sebagaimana Islam meminjam dari Judaisme dan Kris­ ten. dan diri kita sendiri. dan ke­ setaraan. Ladak memperkaya manifestonya dengan satu pan­ dangan dari Injil. “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi. Kita tidak bisa. Kita tidak akan tinggal diam ke­tika se­seorang memanfaatkan agama kita untuk me­legitimasi ke­ fanatikan. Kita akan mela­ wan sekuat-kuatnya. negara. Jadi. Kita tidak akan diger­ tak oleh me­ reka yang menunjuk dirinya sebagai penjaga agama. umat Muslim yang hidup dalam masyarakat ter­ ­ buka. tetapi juga demi ruh keyakinan kita. Kita mesti mempertahankan masyarakat demokratis kita meskipun sebagian orang curiga dan meragukan motif kita karena keyakinan kita. & LOVE yang belum pernah terekspos oleh berbagai variasi ide dan ketegangan di dalam Islam. Ladak memulai dengan “aku” tetapi mengakhiri dengan “kita. LIBERTY. Kita berjuang tidak hanya demi keamanan dan integritas masyarakat tempat tinggal kita. Kita. harus berada di baris terdepan dalam per­ juangan ini.

IRSHAD MANJi akan banyak dituntut” (Lukas 12:48). ia akan langsung dira­ gukan oleh sebagian orang. ia tahu bahwa ia akan menghadapi masamasa berbahaya dari sesama orang Arab. Sejarawan Muslim di masa-masa awal. maka me­ nyesuaikan dengan tradisi-tradisi itu dapat menghalau tujuan reformasi. Tapi toh Ladak tetap maju. pemuda 18 tahun di London yang bimbang antara mengambil haknya untuk me­ laku­ kan reformasi atau menyerah pada sikap defensif. Tetapi. Jika mereka mengetahui cerita yang akan kusampaikan. mungkin bisa mengubah pikiran me­ reka. ia menyadari kalau dirinya memiliki pilihan. pertanyaanku bagi umat Muslim adalah. Dan ia memerhatikan bah­ wa hanya karena ia menganut Islam. lebih radikal lagi. identitas Muslim arus utama me­ ngarantina individu dan memadamkan api nurani. Sikap defensif yang rendah dan ekspektasi tinggi men­ jadikan dia sebagai teladan bagi Osman. Kita semua punya pilihan. Ladak tidak hanya berhasil menentukan pilihannya. Umat Muslim mengingatkanku akan hal ini ketika mereka menasihatiku agar pesan-pesanku dibuat sesuai dengan tradisi identitas mereka supaya aku ti­ dak banyak dikritik. meriwayatkan bahwa Nabi pernah berniat bunuh diri dengan menghempaskan diri dari gunung 87 . Ketika Nabi Muhammad pertama kali menerima wahyu tentang Tuhan yang Esa. Konsekuensinya. al-Tabari. “Apakah yang lebih penting—popularitas di antara kalian sendiri atau integritas kalian di hadapan Allah?” Aku berharap agar ada sebagian orang yang terusik hingga mau memikirkan pilihan tersebut.

nabi tetap berdiri tegar. Quraisy. Pertama-tama. Waraqa memberitahu Nabi. Khadija. Muhammad dianggap mencemarkan reputasi sukunya yang luhur. Mereka mengejek Nabi se­ bagai “ke­ rasukan jin. Nabi mempermalukan masyarakatnya. Sebaliknya. Orangorang dari seluruh pelosok Arab berziarah untuk menyembah tiga dewa lokal: al-Lat. meskipun sesosok manusia. Dituduh berkhianat luar biasa. & LOVE ketimbang menyebarkan pesan yang akan membuatnya ter­ dengar gila. Muhammad mengganti sebutan bagi Tuhan. menenangkan suaminya dan me­ yakinkannya untuk menerima status barunya sebagai utus­ an terpilih ilahi. istri Nabi. pun berterus terang akan tantangan yang menghadang di depan.” Kaum Arab Mekkah nyatanya sesuai de­ ngan yang diperkirakan. Merasakan tekanan yang tidak menyenangkan akibat be­ ­ berapa orang yang berganti agama dan meningkatnya ke­ ben­ cian. menganiaya. dan memerangimu. Waraqa. al-Uzza dan Manat. Bagaimanapun juga. kemudian melawan tradisi pe­ nin­ dasan seperti perbudakan dan pembunuhan bayi perem­ puan. Di waktu yang sama paman Khadija. Tidak hanya para pe­ ziarah ini membawa uang untuk dihamburkan. LIBERTY. “Me­ reka akan memanggilmu pembohong. Semakin lama ia bertahan. pesannya mengenai keesaan Tuhan mem­ bahayakan pelancong yang sering berkunjung. Nabi pun membuat keputusan strategis: ia mengurangi intensitas pesannya demi memenangkan hati warga Mekah.” Sekalipun kepercayaan dirinya lemah. mereka ju­ ga mem­ buat kaum pagan di Mekah bangga akan budaya mereka. meng­ usir. Ia mengecam tuhan-tuhan palsu. Apa yang awalnya ia sebut sebagai “ilah” (Tuhan) kemudian 88 . semakin intens pula ancaman yang diterimanya.ALLaH.

kemarahan atas dakwahnya justru semakin memuncak. Ini merupakan contoh klasik untuk “Setan menyuruhku melakukannya. setan memanfaatkan hasrat Nabi untuk tetap di­ percayai oleh sukunya.IRSHAD MANJi men­ jadi “Allah”—“Kaum Pagan Qurais sudah akrab dengan kata Allah. Muncullah “ayat-ayat setan.” demi­ kian al-Tabari menyampaikan. Ternyata. Tetap saja.” Kredibilitas Nabi di ma­ ta warga langsung meroket. jadi apa salahnya mengemas pesan ini sesuai identitas kelompok supaya bisa dipasarkan secara maksimal? Memang benar. di mana umat yang tulus “tidak mencurigai adanya hasrat berlebihan atau kekeliruan” pada pihak utusan Allah ini. ketika kaum Quraisy mendengar dewi-dewi mereka dipuja-puji. Ia mem­ buat riwayatnya dengan bantuan sahabat-sahabatnya. dengan kemampuan penalarannya sebagai manusia bisa keliru. Muhammad kemudian me­ narik ayat-ayat itu. mengapa justru Setan yang ber­ hasil? Saat kita mengajukan pertanyaan ini. hanya untuk menyadari kemudian bahwa ayat-ayat ini me­ nuhan­ kan berhala-berhala kaum pagan. mengakuinya sebagai wahyu ilahi.” Yaitu. maka kisah ini menjadi lebih menarik: ini menjadi pencerahan. suku itu tunduk. 89 . menyalahkan kesalahannya akibat tipu daya se­ tan. Kita semua membutuhkan legitimasi demi menjual sebuah pesan. surah-surah Al-Quran yang mana Nabi. Orang-orang yang tulus mau­ pun munafik mendengarkan. “mereka sangat senang.” tulis Subhash C. Inabdar dalam Muhammad and the Rise of Islam (Muhammad dan Kebangkitan Islam). jika cinta Allah yang tidak tergoyahkan senantiasa membimbing Nabi. “dengan mengatakan Muhammad telah me­ nyebut tuhan-tuhan kita dengan sangat baik. Untuk pertama kalinya.” Tetapi.

90 . Nabi belum menyampaikan kebenaran. berkat cinta Tuhan: [Malaikat] Jibril mendatangi Rasul dan berkata. menenangkannya. sikap tunduk mengarah kepada pem­ bingung­ ­ an. dan bahwa berhala se­ harusnya diganti dengan Tuhan tunggal yang memperlakukan semua ciptaan-Nya dengan penuh belas kasih.” Ra­ sul pun begitu sedih dan sangat ketakutan kepada Tuhan. LIBERTY. seorang sejarawan Muslim. Apa yang beliau sampaikan pada kaum pagan Arab ini adalah pe­ ngecilan Islam yang benar secara budaya: sebuah versi yang melemahkan. serta mengatakan padanya bahwa setiap nabi dan rasul sebelumnya juga memiliki hasrat seperti ia berhasrat dan menginginkan apa yang ia inginkan dan Setan pun menyela membisikkan se­ suatu ke dalam hasratnya. tantangan reformasi pribadi.. Alih-alih menekankan bahwa penyembahan berhala adalah siasat dagang untuk memikat turis datang ke Mekkah.ALLaH. Nabi justru me­ muaskan diri dengan ritual yang dangkal. Ibnu Ishaq. sehingga ia menghilangkan makna misinya. Begitu inginnya di­ dengarkan.. “Apa yang telah engkau lakukan. bahkan menghancurkan. menceritakan satu legenda yang terjadi setelah itu. dan me­ ringankan urusan itu. & LOVE Masalahnya. Tuhan pun menganulir apa yang telah dihasut oleh Setan. Muhammad? Kau telah me­ nyatakan pada orang-orang ini sesuatu yang tidak ku­ sampaikan dari Tuhan kepadamu dan kau telah me­ ngatakan apa yang Dia tidak katakan kepadamu. Maka Tuhan pun menurunkan (sebuah wahyu) tentang Dia mengampuninya.

IRSHAD MANJi Dalam kisah ini. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada agama-Nya. tapi HENTIKAN ini! —Syed 91 . Ini adalah agama-Nya. itulah apa yang diajarkan oleh kisah perjumpaan ayat-ayat setan: identitas ke­ lompok bukan alasan untuk melemahkan kritikan pada ke­ luarga. Bukankah ada pelajaran di sini bagi banyak Muslim? Kita di­ minta untuk meneladani Muhammad. Tapi saya tidak melihat banyak orang yang berkampanye sepertimu. bukankah Dia akan mengutus seseorang untuk me­ nyelamatkannya? Apakah itu kamu? Apakah kamu orang yang ter­ pilih itu? Sebagai seorang manusia. Kenapa? Karena aku malu untuk mengatakan bahwa aku sendiri pun takut untuk dituduh bergaya bak utusan Tuhan di zaman sekarang. betapa­ pun menyakitkan. Seorang pembacaku dari Arab memperjelas pelajaran ini untukku: “Lebih baik berbicara kebenaran. komunitas. Irshad? Apa yang sedang coba kau laku­ kan? Memangnya satu orang sepertimu bisa mengubah dunia? Banyak sekali Muslim yang mengalami perasaan yang sama persis sepertimu. aku berterima kasih. Allah menciptakan agama ini. aku belum menggunakan kisah per­ umpamaan ini untuk menggambarkan kekeliruan dalam politik identitas. daripada tetap diam tentangnya. sampai saat ini. atau negara seseorang. Semuanya. Simak surel berikut: Ada apa sih denganmu.” Bagiku. Itulah tra­ disi Nabi Muhammad. tapi kita tidak dididik untuk melakukannya dengan menolak menjadi tawanan bagi politik identitas. Muslim perlu memahami bahwa setiap isu harus diperdebatkan. ketakutan akan diberikan stigma oleh ko­ munitasnya membuat Nabi mengompromikan prinsip utama. Namun.

biasanya dengan me­nyata­kan Muhammad sebagai avatar mereka. Bagaimanapun. LIBERTY. Para pejihad. Tetapi menegakkan sisi tanpa kekerasan dari sesosok nabi yang sangat manusiawi ini hampir sama sekali tidak mengikuti aturan main para pejihad.” suatu persekutuan Muslim yang me­ ngecamku. maka kau pun tidak mau aku me­ lakukannya juga. Itulah mengapa kita harus melangkah maju dan mau mengungkapkan cerita-cerita semacam ini. arti­ nya aku akan sama seperti kecurigaannya yang meng­ ung­ kapkan kalau aku menganggap diriku sebagai nabi. banyak di antara kita yang merasa tidak layak menjalankan tugas itu karena tafsiran liberal tentang ke­ nabian. Sementara itu.ALLaH. ke­ lompok Muslim reformis layu. lalu aku menanggapi Syed: Kau mengakui bahwa banyak Muslim tahu ada masalah dengan Islam arus utama saat ini. sangat sulit untuk diterima dibandingkan tafsiran konservatif. tidak raguragu untuk menganggap diri mereka penting. Kau telah membawa kemapanan pada level 92 . Dengan mengikuti teladan Muhammad. Setelah introspeksi yang sehat tentang apakah aku ter­ pe­ rosok ke dalam gangguan “Muhammad-kompleks”. kita hanya akan mem­ biar­ kan kaum konservatif mendominasi lebih banyak wilayah. seperti juga apapun yang bersifat Islami. aku menerjunkan diri ke dalam “permainan yang sama seperti para pejihad. tentu saja. & LOVE Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan ini? Jika aku mengingatkan Syed bahwa Nabi adalah “manusia” juga. yang lebih jauh lagi akan mempersempit kesempatan untuk me­ lapangkan jalan Islam. Jika tidak. tapi karena kebanyakan Muslim tidak me­ lakukan apa-apa tentang itu. Tidak mem­ bantu sama sekali.

maka tradisi-tradisi itu harus diekspos tanpa memedulikan siapa yang mengutuk ayah kita. harus kubilang. aku akan meng­ ajukan argumen bahwasanya Muslim harus berhenti meng­ ­ ambil sikap seolah-olah budaya adalah hal yang sakral.” bukan budaya yang membuat pilihan—individulah yang melakukannya. Bu­ ­ daya tidak mengambil keputusan—individulah yang me­ la­ ku­­­ kannya. Begitu kita mengakhiri sandiwara itu. justru kemerosotan yang baru. Padahal. Muslim sering kali mudah mempercayai prinsip ini.” Syed. Dan jika tradisi-tradisi tertentu mengarah pada pe­­­ nin­­ dasan. kita akan menjadi Muslim “kontra-budaya”—sebuah identitas baru yang mengabadi pada integritas dengan menghadapi budaya yang mencuri Islam 93 . mengapa bukan kita yang bangkit melawan kejahatan budaya yang sudah menodai agama kita? Di bab berikutnya. bersi­ keras bahwa tak ada masalah dengan Islam. Ini membuatku sadar akan pilihan-pilihanku. Kalau begitu. Mengikuti perintah itu tidak serta-merta membuatku sebagai “yang terpilih. budayalah yang merendahkan praktik-praktik keislaman. Bacalah kisah mengenai bagaimana Nabi hampir meng­ ubah pesan Tuhan demi menyesuaikan dengan budaya pagan. nenek kita. Tuhan telah mencegah Muhammad untuk berkompromi. dan anak-anak kita di masa depan. seperti yang terjadi pada ritual-ritual di Mekkah yang ditentukan oleh ekonomi dan moral yang rendah. Aku me­ nafsirkan ini sebagai perintah ilahi: jangan menyesuaikan dengan kebodohan dan ketidakadilan suatu budaya.IRSHAD MANJi tingkat yang baru—atau. Episode ayat-ayat setan menunjukkan bahwa apa pun yang budaya kita nyatakan sebagai perilaku “normal.

dengan menolak multikulturalisme ortodoks. 94 . Entah memiliki landasan religius atau humanis.ALLaH. Aku juga akan menjelaskan bahwa kaum nonMuslim harus menjadi “kontra-budaya” sesuai dengan cara­ nya masing-masing. tidak ada yang sakral mengenai budaya. & LOVE dari cinta Tuhan. LIBERTY.

pria berusia 23 tahun. Bom. yang disimpan di celana dalam yang dipakainya. mendarat di Detroit dengan bom di se­ lang­ kangan dan banyak hal yang harus dijelaskan. budaya kehormatan Arab ber­ pindah dari Timur Tengah ke Detroit. Aku sendiri punya pe­ ngalaman pribadi dengan dampak kehormatan ter­ hadap pemuda Muslim di Amerika. aku dan Mama pergi ke Detroit untuk pemutaran perdana. Ia gagal men­ jalankan misinya meledakkan sebuah pesawat dari Amsterdam. Bukan pertama kalinya. Umar Farouk Abdulmutallab. sehingga PBS merasa akan menyenangkan jika kami meng­ ­ eksplorasi perbedaan kami di depan audiens Muslim yang 95 . Ibuku. al-Qaeda membaptis pelaku bom pakaian dalam ini sebagai pahlawan. membintangi film dokumenterku. Mumtaz. Ketegangan antara tra­ disionalisme ibuku dan liberalismeku terpancar sepanjang film. Se­ tidaknya ia mempertahankan kehormatan: di salah video. Tak lama sebelum Faith Without Fear ditayangkan.3 Budaya Itu Tidak Sakral Pada Hari Natal 2009. tidak meledak.

ALLaH. Namun demikian. Mama duduk di atas panggung ber­ samaku. acara terus berlanjut. jumlah ArabKris­ ten melampaui Muslim—tapi warga Muslimlah yang da­ tang berbondong-bondong pada malam itu. kemarahan audiens mengguncang ibu­ ku sampai ke ulu hati. Para panelis. LIBERTY. dan menandatangani buku—di­ selenggarakan secara gratis oleh PBS. warga keturunan Arab yang tinggal di dae­ rah pinggiran kota Detroit lebih banyak dibandingkan dengan wilayah metropolitan manapun di luar Timur Tengah. Setelah kredit film berganti gelap. Memperhatikan panjang­ nya barisan. dan seorang moderator non-Muslim yang begitu gugup sampai sulit mengendalikan gerakannya. ia mem­ beritahuku kalau ia akhirnya memahami mengapa aku ter­ lalu letih untuk meneleponnya sering-sering. perpustakaan. tetap bersikap sopan terhadapku walau­ pun eng­ gan. tanpa klarifikasi membatalkan di menit-menit terakhir. Tidak semuanya Muslim—di beberapa lingkungan. melakukan wa­­ wancara dengan media. “Menurutmu. Mama penasaran. aku dan Mama menghadiri resepsi publik di mana aku mendengar kembali anggota audiens. yang menjadi tempat awal ka­ mi. diapit oleh seorang mahasiswa berhijab. Diperkirakan. Setelah pemutaran do­ kumenter. & LOVE kurang bergairah. mereka semua akan membacanya?” 96 . Te­ tap saja. Seseorang di Perpustakaan Umum Detroit memiliki pikiran lain mengenai dampak dari rencana me­ nyenangkan ini. berkat ibuku. Hubunganku de­ ngan ibuku pun pulih: satu alasan lagi. seorang profesor lakilaki Muslim. (Beberapa waktu kemudian. kenapa aku sangat ber­­ terima kasih kepada para pengkritikku).

“Wa ‘Alaikum Salaam. “Semoga mereka meletakkan buku­ ku biar kerabat mereka melihatnya. tapi aku tidak mengatakan itu padanya. “Saya penasaran.” beberapa di antara mereka menyapa malu-malu se­ cara hampir bersamaan. sebagian besar dari mereka membaca Al-Quran?” tanya­ ku ke ibuku. Ia mendesah. “Assalamu ‘Alaikum.” “Dan kepada Anda. Kami mendukungnya juga. Aku menghela napas. “Begini. mereka ber­ jalan menuju ke Mama dan aku. Tamutamu lain malam ini seharusnya menunjukkan rasa hormat yang lebih atas gagasan­ nya.” ketus seorang anak laki-laki. kali ini terdorong oleh “percakapan” Kami. Terima kasih.” Mama mendesah lagi.IRSHAD MANJi Terlintas di benakku.” candaku. Sepanjang malam itu. “Kami hanya ingin berterima kasih kepada Anda karena mendukung Irshad.” jawab kami. sebagai ibunya. Setelah wartawan terakhir pergi.” Keheningan menyeruak muncul. ibuku malah meng­ anggapnya sebagai peluang bagi lebih banyak umat Mus­ lim untuk mengkritik anaknya. “Sangat bagus. Apa yang kuanggap se­ bagai kesempatan bagi umat Muslim berpikir. bahasa tubuh ibuku me­­ yakini kalau aku akan menghadapi serangan lagi. di suatu tempat di Detroit.” Mama berkata kepada mereka. ke­ mudian ibu­ku berbicara tanpa basa-basi. oke? 97 . Ia memperhatikan beberapa pemuda Muslim yang bergerombol di sudut aula resepsi dan sering se­ kali me­ mandang ke arah kami.” salah seorang gadis memulai percakapan dengan ragu-ragu. bahkan. “Me­ nurutmu. mata ibuku yang setajam elang meng­ amati sesuatu yang lain. “Begitulah cara untuk memulai percakapan. ada api unggun menyala. “Bagus.

Pertimbangkan tekanan padamu untuk membatalkan perta­ ­ nyaan ketika kehormatan seluruh keluarga bersandar pada penyensoran-dirimu.ALLaH. Jika kau melanggar batas-batas mo­ ral. LIBERTY.” saranku de­ ngan halus. & LOVE Cuma penasaran. Kehidupan kita bukanlah milik kita.” Gerombolan itu mulai bergerak-gerak. kau “memalukan” lebih banyak orang selain dirimu sendiri. “bisakah kalian berbicara kepada kami sebelum se­ mua kamera pergi? Jika media dapat menayangkan apa yang kalian katakan kepada ibuku. Keluarga kami di sini. “Atau. ke­ hidupan kita menjadi milik keluarga besar kita—biasanya yang berhubungan darah. Apakah itu alasan si pelaku bom-di-ce­ lana-dalam memutuskan hubungan dengan keluarga biolo­ gis­ nya ketimbang berterus-terang dengan pertanyaan-pertanyaan rahasia dirinya? Pertanyaan tentang hasratnya terhadap wanita? pertanyaan tentang kekhawatirannya untuk menjadi manusia sempurna dapat mencemarkan reputasi orangtuanya? Per­ ta­ nyaan-pertanyaan yang ia kembangkan sebagai mahasiswa di tengah masyarakat terbuka seperti Inggris? 98 . Muslim diajarkan untuk me­ lepaskan individualitas dan menerima takdirnya sebagai har­ ta milik keluarga.” Di bawah kode kehormatan Arab. Kami tidak bisa. Bisa-bisa kami dituding men­ cemarkan nama baik mereka. maka pemuda Muslim yang ber­ pikiran seperti kalian mungkin akan menyadari bahwa mereka tidak sendirian. Kenapa kalian tidak mengatakan hal ini saat sesi tanya-jawab? Segala sesuatu yang kami dengar tadi cukup pedas. “Anda dan Irshad bisa meninggalkan komunitas ini beberapa jam lagi.” Salah seorang gadis bersitatap dengan Mama.

Jika kita bertahan pada budaya dengan mengatasnamakan Islam. saya berkata ke orang-orang itu: ‘Tolong. “Mereka itu orang Amerika. kehormatan terhadap keluarga besar diekspor ke luar Timur Tengah untuk menjerat pemuda Muslim di Barat.IRSHAD MANJi Melalui para orangtua yang mencampuradukkan budaya dengan agama. mantan editor Timur Tengah di koran The Guardian. “Adat kehormatan sudah ada sebelum Islam. bukan Tuhan. “ketika hendak se­ le­ sai. demi Tuhan!” Begitu aku pulih dari kekecewaan. Mahasiswa-mahasiswa Detroit tak bisa menanggung “aib” ke­ luarga hanya karena menggunakan kebebasan untuk menyua­ ra­ kan kebenaran mereka dengan lantang. “Itulah kebodohan. What’s Really Wrong with the Middle East (Apa Yang Sesungguhnya Salah dengan Timur Tengah).” Pelajaran Ketiga: Budaya itu tidak sakral. maka kita sama saja menyembah apa yang manusia. jangan bicarakan 99 . Brian Whitaker. hanya satu pernyataan yang di­ anggap sebagai persoalan yang paling mendesak— sampai-sampai. Whitaker mengungkapkan. melakukan suatu eksperimen ketika tengah me­ la­ ku­ kan penelitian untuk bukunya. katakata yang lebih tenang keluar dari rahangku yang mengeras. ciptakan? Bukan­ kah itu disebut menyembah berhala?” Mama menghela napas. “Mengapa para pe­ muda ini merasa terjebak dengan adat-istiadat yang bukan milik mereka?” Aku berbicara ke Mama. Menyisihkan yang lainnya. Ia memberikan sepuluh pernyataan kritis tentang Timur Tengah kepada orang-orang Arab yang diwawancarai dan meminta mereka untuk memilih mana yang ingin di­ dis­ kusi­ kan.

Untuk pertama kalinya. rasa takut sangat ter­ tanam di jiwa saya dan semoga suatu hari nanti. Whitaker mengutip seorang sosiolog Suriah. Saya selalu hidup sesuai aturan dan melakukan hal yang benar. Oleh karena itu. hal-hal yang saya terima begitu saja selama hidup menjelma men­ jadi pertanyaan. LIBERTY. dan ma­ syarakat adalah dombanya: warga di negara Arab sering kali disebut ra’iyyah (jemaat). mendukung analisis ini dengan kalimat yang hampir sama. dan penguasa me­ miliki karakter yang sama. & LOVE tentang itu lagi. “men­ cermin­ kan citra ayah. sementara warga mencerminkan citra anak. Sepertinya. di dalam masyarakat Arab. “Saya telah mem­baca The Trouble with Islam Today. Pe­ mimpin po­ litik. saya bisa me­ lenyapkannya. Saya sudah cukup mendengarnya.. Otak saya kini mengalami kegelisahan. yang dibesarkan untuk takut kepada ayah. dan tak bisa saya katakan betapa buku ini sangat membuka mata bagi saya.ALLaH.. dan saya senang.” tulisnya dalam surel. Saya masih tak bisa menahan diri mengaitkan setiap kejadian buruk yang menimpa saya dengan kemurkaan Tuhan atas perbuatan saya. 100 . sang ayah. Merekalah penggembala.’” Apakah per­ nyataan itu? “Keluarga adalah kendala utama dalam me­ reformasi dunia Arab. seorang perempuan muslim. Tuhan. guru. seorang warga Mesir berusia 37 tahun. dan Tuhan. meski­ pun saya tidak bersalah.” Wawancara Whitaker menegaskan sesuatu yaitu. Saya mulai berpikir dan menalar.” Mona. keluarga merupakan “mekanisme utama ba­ gi kontrol sosial”—pencengkeram pertama pada indi­ vidualitas dan pencetak bagi lebih banyak lagi kekangan.

” Secara definisi. yang berarti aib bagi Anda. Itulah kelebihannya. Aku akan selalu punya penolong.IRSHAD MANJi Budaya.” tuturnya kepada Whitaker. “Aku tahu sekali.” yang menurut Whitaker. Sebaliknya. Anda akan selalu di­ hantui ketakutan dibuang dari keluarga. disebut sebagai “ketakutan berpikiran mer­ deka.” Waktulah yang akan menjawab. Paradigma kul­ tural semacam ini mencerminkan “persoalan mendasar. Otonomi men­ jadi suatu ancaman bagi tata tertib sosial. karena aku sangat bergantung pada ke­ luargaku. Kebanyakan pemerintah di dunia Arab berfungsi seperti itu juga. Ada orang yang menjadi kepala keluarga. membela struktur keluarga Arab. apakah revolusi Mesir 101 . Tapi sekali lagi. ”selu­ ruh” di sini mencakup sifat-sifat yang baik.. adalah “seluruh pengetahu­ an dan pengalaman yang diperoleh atau dipelajari di tengah hubungan kolektivitas antarmanusia. jika ada sesuatu yang buruk terjadi. kepala negara. Diusir dari keluarga adalah sesuatu yang harus Anda khawatirkan sejak usia muda. Salam Pax. dan Anda akan melakukan apa yang dikatakannya. aku selalu bisa bersandar pada se­ suatu. menurut antropolog. aku menger­ ti mengapa seorang blogger terkenal dari Irak. Jadi. Individu layaknya orang buangan-yang-menunggu-giliran... ke­ pala suku. maka aku perlu selalu memastikan agar mereka menyetujui semua keputusanku.. Warga sebagai domba yang harus digembalakan. yang menjadi penentu akhir dari setiap keputusan.

& LOVE 2011 berhasil mengenyahkan rasa takut itu untuk se­ lama-lama­ nya. menghilangkan kepicikan budaya bukanlah tan­ tangan bangsa Arab semata. Se­ baliknya. aspek-aspek ke­ sukuan yang terburuk yang justru direstui dengan pujianpujian dari otoritas Muslim. Namun. se­ orang komentator dari Turki dan Muslim taat. tetap saja. Hal ini tidak akan menimbulkan masalah jika para pengkhotbah Islam menggunakan agama untuk me­ nonjolkan aspek-aspek terbaik dari kehidupan Arab seharihari. Lebih dari 80 persen Muslim di dunia bukanlah bangsa Arab. ini adalah tantangan bagi se­ bagian besar umat Muslim karena budaya kesukuan telah melebur dalam praktik keislaman. “Islam diturunkan untuk mem­ bawa bangsa Arab keluar dari budaya kesukuan. Keramah-tamahan bisa menjadi adat yang bagus untuk men­ dampingi fatwa-fatwa yang keras. Serraj. yang karena keteruste­ rangannya mendorong Yasser Arafat me­ menjara­ kan­ nya lebih dari sekali.ALLaH. “Tapi Islam tidak berhasil menaklukkan budaya Arab. Akan tetapi. 102 . Islam Arab masih diasumsikan sebagai Islam yang otentik. LIBERTY. Mustafa Akyol.” ujar Dr. seorang psiko­ log terkenal berkebangsaan Palestina.” Para pemerhati bisa saja dimaafkan karena tidak menyadari apa yang seharusnya menjadi perbedaan antara agama Islam dan budaya Arab. budaya Arab yang berhasil menaklukkan Islam.” Frasenya sesuai dengan gagas­ an yang diusulkan kepadaku oleh Eyad Serraj. memberi nama pe­ le­ buran ini “Islamo-tribalisme.

Imad ke­ mudian mengirim surel kepadaku: . Semua orang men­ dengarkan. seakan-akan dia tak lebih dari orang udik yang tak berbahaya. Lupa­ kan otakmu. Imad menegaskan ke­ ­ pada­ ku bahwa syekh itu “benar-benar mengatakan: ‘lupakan otak­ mu... Syekh berjanggut dengan pakaian lusuh berdiri di antara 80 lebih orang yang berkumpul me­ ngelilingi pusara yang masih baru dan mulai berkhotbah. Berikut petikannya: —“Kerjakan apa yang diperlukan di dunia ini demi menghindari siksa api neraka yang Allah persiapkan bagi mereka yang mem­ bangkang kepada-Nya. Tidak sulit untuk mengikutinya. tidak sembunyi-sembunyi. Buddha. semua adalah orang-orang yang ingkar.. jawabannya sudah tersedia. baru saja kembali dari penguburan saudara laki-laki dari pe­ muda yang bekerja pada ayahku.” Memberi tekanan pada kejijikannya.” Kaum Muslim modern boleh saja menertawakan ulama gembel di pusat industri Yordania ini..” —“Tuhan telah menurunkan Islam kepadamu sebagai jalan hidup dan panduan tentang segala sesuatu dalam kehidupan. dan juga dalam konteks yang jelas. Ia banyak meng­­­ habis­ kan waktunya di Zarqa. semuanya ada dalam Islam.IRSHAD MANJi Teman saya dari Yordania adalah saksinya. tapi Imad menulis ke­ padaku untuk menunjukkan satu hal yang serius: bagi Mus­ 103 . sebuah kota di Yordania yang men­ jadi tempat masa remaja Abu Musab al-Zarqawi. Hindu. lupakan berfilosofi. Yahudi. Persis begitulah yang di­ kata­­ kan­ nya.” —“Waspadalah terhadap orang-orang kafir. Para penganut Nasrani. Ini adalah hal yang umum di sini.‘ Saya tidak mengada-ada.

” Menurutku.ALLaH. yaitu reaksi dari mahasiswa. sebuah agama dengan kitab suci yang.” kita “seharusnya tidak menghilangkannya [hu­ kuman mati] begitu saja. tetapi juga para pelaku penindasan intelektual yang terpelajar di Universitas Al-Azhar. & LOVE lim yang lugu. LIBERTY. “walaupun ini membuat beberapa orang tidak nyaman. koran Harvard ini melewati cerita besarnya. Dan siapakah ”juru bicara” modern yang kita miliki untuk Islam seperti ini? Bukan hanya pengkhotbah gemuk dan pendek yang setengah buta huruf. harus kuulangi. ia mengirimkan surel kepada seorang mahasiswa dengan mengatakan. Pada April 2009. Belakangan. The Crimson mengutip se­ orang 104 . Kairo. Syekh yang memiliki otoritas khusus itu menyangkal kalau ia secara pribadi menganut pandangan ini. bisa diterima se­ bagai ajaran agama. berkat budaya. The Harvard Crimson. Apa­ pun yang dia lakukan. melaporkan bahwa imam Muslim di kampus tersebut telah mengeluarkan fatwa hukuman mati bagi yang keluar dari Islam. Artikel tersebut menyebutkan be­ ­ berapa mahasiswa yang mempertanyakan sikap sang imam. Sang pecundang bukanlah syekh itu. suara Tuhan bergaung lewat syekh tersebut. yang merupa­ kan sebuah benteng bagi kebebasan individual. Harvard sendiri. baru-baru ini melihat dampak paham tribalisme pada para pemuda Muslim yang terpelajar. Namun. koran universitas. me­ ngandung tiga kali lebih banyak bagian yang mendesak men­ dahulukan kesadaran yang awas (mindful awareness) dibandingkan ke­ patuhan buta. Yang pecundang adalah Islam. Tetapi tidak sampai di situ. Harvard-nya Islam Suni. namun banyak dari mereka yang menentangnya menolak un­ tuk diidentifikasi—karena takut.

men­ cantumkan identitasnya pada versi cetak cerita ini. pembalasan ini dilakukan untuk melawan Muslim yang merangkul rahmat Tuhan—dan se­ kaligus keluwesan Al-Quran.” Penentangan yang paling terang-terangan dari semuanya. Ekspektasi rendah terhadap sesama Muslim dan pertahanan yang tinggi terhadap kemungkinan adanya pembalasan. “sangat mengagetkan dan sesuatu yang tidak saya perkirakan atau inginkan keluar dari seorang imam di universitas ternama manapun di Ame­ rika. Jika pendeta Kristen berkata orang-orang yang ber­ pindah dari agama Kristen sebaiknya dibunuh. muncul dari seorang mahasiswa ketiga.” Namun maha­ siswa itu juga “meminta agar namanya tidak disebutkan karena takut akan membahayakan hubungannya dengan ko­ munitas Islam. Mahasiswa itu “diberikan anonimitas karena ia mengungkapkan kalau kalimat­ nya itu bisa menimbulkan konflik yang serius dengan otoritas religius Muslim. tetapi me­ miliki ekspektasi yang rendah dan pembelaan diri yang tinggi. Ini yang kumaksud dengan ke­ 105 . Kabar buruk­ nya: edisi daring-nya meng­ hapus namanya. tidakkah Anda berpikir Universitas [akan] melakukan sesuatu?” Kabar baik­ nya: mahasiswa dibalik pernyataan yang mengagumkan ini. yang menyatakan de­ ngan jelas bahwa syekh itu “tidak tergolong sebagai imam resmi.” Seorang mahasiswa dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) berpendapat sama.” Orang ini “juga meminta untuk tetap anonim demi men­ jaga hubungannya dengan komunitas Islam. ya. Hal yang menjengkelkan adalah.IRSHAD MANJi mahasiswa Muslim yang mengatakan kalau komentar imam tersebut “merupakan langkah awal yang memicu sikap in­ toleransi dan menghasut orang menuju kekerasan.” Lihat polanya? Takut.

LIBERTY. & LOVE luwesan: setahun sebelum imam Muslim di Harvard menjadi berita utama. Begitu pula. Syekh Gomaa merujuk ke beberapa ayat Al-Quran yang menegaskan ke­ bebasan nurani: Pertama. Islamo-tribalisme. atau ketakutan terhadap Islam. Mufti Agung di Mesir. dan ekspresi mereka. takut terhadap Islam se­ bagai agama yang mentransformasi pribadi. “Tidak ada paksaan untuk me­ masuki agama” (2: 256). Islamofobia ini adalah para Muslim yang tunduk di hadapan budaya kesukuan. hanya ada dua tipe Islamofobia. ada juga mereka yang takut dengan jalan Islam yang lapang—jalan yang mengarah pada kebebasan nurani. dan untukku­ lah agama­ku” (109: 6). Kedua. Selain itu. melepaskan kebe­ basan nurani. Mereka yang takut Islam karena mereka yakin tafsiran apa pun mengandung kekerasan. Ada pemutarbalikan dalam istilah ini: Islamo-tribalisme se­ bagai Islamofobia. Syekh Ali Gomaa. Keputusannya menghebohkan Muslim di Mesir dan di tempat lain. dan ekspresi. Isla­ mofobia ini mengidentikkan Islam sebagai jalan yang sempit. pikiran. tapi Anda dan saya tidak boleh membenci.” Ketiga. Mahasiswa-ma­ hasiswa universitas kita sesuai dengan Islamofobia tipe ini ka­ rena me­ nolak berbeda pendapat secara publik. Pengondisian budaya perlahan menghilang. sebuah keputusan yang mencengangkan tentang kemurtadan dan pilihan datang di dunia Muslim Suni. “Untukmulah agamamu. “Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. Tuhan mungkin membenci orang yang murtad. 106 . memutuskan bahwa seorang Muslim boleh mengadopsi agama lain dan tak ada kuasa di alam duniawi ini yang berhak menghukum eks-Muslim karena meninggalkan Islam.ALLaH. pikiran. Sekarang ini.

Hanya pada saat itu­­ lah Muslim akan mentransformasi dirinya menjadi orang yang se­ jalan antara ucapan dan tindakan. Seandainya bisa. Akan tetapi. Namun. kenyataan mengatakan sebaliknya. Bagaimana­ pun juga. umat Muslim bisa berteori dari menara gading ter­ tinggi bahwa Islam tidak menimbulkan ketakutan. umat Muslim harus mereformasi dirinya supaya frase “Islamo-tri­ balisme” yang mengganggu dapat digantikan dengan “Islam” yang tepat. Bush meng­ umum­ kan bahwa Amerika tidak melakukan penyiksaan? Idealnya. Islam secara praktik yang berperan besar. Islam akan selalu terimplikasi dalam ketakutan selama umat Muslim berjuang di balik ano­ nimitas dalam menghadapi tantangan yang melibatkan agama dengan berbagai cara. tidak. sewaktu kaum moderat yang berpe­ rilaku seakan-akan demikian—muncul ke publik mem­ bawa in­ dividualitas mereka—haruskah mereka membenci orangorang yang mengolok-olok mereka? Bukankah umat Muslim juga mencemooh ketika Presiden George W. Demikian juga.IRSHAD MANJi Islamo-tribalisme akan berkurang jika umat Muslim ber­ henti menjadi budak ketakutan untuk menodai komunitas ki­ ta—keluarga besar kita—dan mulai berbicara kebenaran demi mem­­ peroleh kekuatan secara nyata. ketakutan memang tidak seharusnya terjadi. Dan aku sungguh yakin. aku ingin mengajukan beberapa per­ ta­ nya­an kepada para mahasiswa Muslim di Harvard dan MIT itu. 107 . Islam secara teori tidak ber­ pengaruh banyak dalam pencapaian perdamaian. Bahasa lainnya. Muslim moderat bisa saja dengan antusias meyakinkan kalangan non-Muslim bahwa Islam berhubungan erat dengan kebebasan. Tetapi ke­ nyataannya tetap saja.

” Hawa benar. Kenapa terganggu oleh ego “otoritas agama” jika persoalannya bersifat budaya dan bukan agama? Mengapa menghargai otoritas agama jika mereka keliru meng­­ identikkan budaya dengan agama? Kalian tidak akan meng­ hargai kebodohan non-Muslim.. Lalu. tapi bahkan di Amerika Serikat. & LOVE Kalian tidak mau disebutkan nama karena kalian ingin mem­ pertahankan hubungan yang baik dengan “otoritas agama”. LIBERTY. Al-Quran menge­ muka­­ kan ayat-ayat yang mendukung kebebasan individual. kerabat dan teman-teman Muslim saya merasa ragu mengkritik ortodoksi Muslim tradisional. saya sangat menyadari kebutuhan reformasi dalam Islam. mengalami kebingungan ini. tapi se­ karang mereka sudah puas diri. kan? Mengapa menaruh ekspektasi yang lebih rendah pada umat Muslim? Apakah hanya kaum non-Muslim saja yang keliru? Ataukah kalian juga demikian? Seperti yang diperlihatkan Syekh Gomaa.. salah seorang pembacaku. Masa-masa ini sangat mem­ bingungkan. Banyak orang berasumsi bahwa hanya ka­ 108 . bukan? Inilah yang mengusikku. apa yang men­­ cegah umat Muslim—bahkan di dalam demokrasi libe­ ral—untuk menggugat budaya kesukuan di antara kita? Apa lagi yang me­ ngacaukan hati dan pikiran umat Muslim yang merasa dirinya siap untuk menciptakan perubahan positif yang memperkukuh hidup mereka? Hawa. Dulu. kaum liberal lebih kritis. Kita hidup di zaman penuh ke­ bingungan moral. Ayat-ayat itu dapat dikutip secara gamblang. “Sebagai Muslim.ALLaH.

dan kenangan Holocaust yang masih membakar. Budaya bukan pemberian Tuhan. Pernyataan ini diawali de­ ngan menegaskan kebutuhan untuk menghormati “budayabudaya dari kelompok manusia yang berbeda.” Nazi telah meng­ hancurkan budaya kelompok-kelompok seperti Yahudi dan gay.IRSHAD MANJi rena manusia terlahir setara. Poin-poin dasar ini tersingkir seiring ketertundukan kita ter­ hadap “hak-hak budaya. Namun budaya tidak di­ lahir­ kan. maka demikian pula dengan bu­ da­ ya. budaya pun demikian. ia dikonstruksikan. ia buatan manusia. mitos hak-hak budaya melompat dari lingkaran antropologis yang tersembunyi menjadi institusi pembelajaran tingkat tinggi di pentas dunia. Pernyataan mereka. Di tengah puing-puing Perang Dunia Kedua yang masih membara. apa yang kita katakan kepada individuindividu yang me­ nemukan dirinya tertindas oleh tradisi yang 109 . di kalangan antropolog sendiri terjadi perdebatan apakah budaya pantas men­ dapatkan proteksi seperti layaknya individu. Sejak tahun 1947. Asosiasi Antro­ pologi Amerika mengirimkan pernyataan tentang HAM ke­ pada Perserikatan Bangsa-Bangsa. menuntut satu per­ tanyaan penting: bagaimana kita menghadapi penyalah­ guna­ an ke­ kuasaan yang terjadi di dalam kolektivitas? Apabila kelompok-kelompok dan budaya mereka bisa ditolerir seperti layaknya individu. dan antroplog-antropolog Amerika ingin memastikan bahwa penghancuran ini “tidak akan pernah lagi” terjadi pada kelompok-kelompok masyarakat yang dapat diidentifikasikan di mana pun berada.” Hanya dalam kurun waktu lima puluh tahun. Manusia me­ ru­ pakan sosok yang sama sekali tidak sempurna. meskipun demikian.

maka kau adalah seorang pem­ benci-diri (self-loather).” Terjemahannya: Kau tidak bisa mengkritik budaya lain karena budayamu juga punya kelemahan. ke­ pala komisi HAM Iran baru-baru ini menyatakan pada CNN bahwa “kekejaman adalah gagasan yang sangat relatif secara budaya. Satu hasil­ nya: relativisme. apakah HAM betul-betul universal atau hanya ter­ sedia bagi mereka yang cukup beruntung terlahir dalam ke­ luarga dan masyarakat yang sudah mempertahankan kebe­ basan indi­ vidualnya? Untuk pertanyaan semacam ini. LIBERTY.ALLaH. mungkin juga tidak—mungkin kau seorang pembela HAM sejati. dan orang tak boleh berkomentar jika dia tidak “me­ 110 . Tetapi. “Memang benar. premis yang berat-ke-Holocoust— bahwa toleransi kelompok adalah perintah moral (moral impe­ rative)—hanya mendapatkan perhatian serius. Kecuali kau seorang kulit berwarna. pernya­ taan tahun 1947 tidak memiliki jawaban. istilah malu (embarrassment) di­­ guna­ kan secara terus-menerus. Kecuali kau membicarakan kebenaran pada pihak yang berkuasa di dalam budaya. yang menyatakan bahwa tidak ada satu norma budaya yang lebih unggul atas budaya lainnya. Tapi. Ya. Selama beberapa dekade. sebuah paham yang sekarang menjamur. orang-orang kulit putih tak bisa mengkritik karena bisa saja dianggap menghakimi budaya lain. & LOVE ber­ laku di dalam lingkup kelompok dan budaya tersebut? Singkatnya. para antropolog bergidik dengan per­­ nyataan itu. Saat membela kebijakan negara­ nya yang memperbolehkan merajam wanita sampai mati. maka kau boleh mengkritik budaya kulit pu­ tih karena kau hanya berbicara benar pada pihak yang ber­ kuasa.” demikian seorang pakar HAM memberi catatan.

Alice jatuh ke dalam sebuah lubang kelinci dan setelah mendarat. kau sangat tidak otentik. “Saya sangat syok.. Namun relativisme bukan dongeng. Kecuali kau seorang wanita kulit cokelat atau laki-laki kulit hitam. Tulisan­ nya memenangkan beberapa penghargaan—di antaranya “Is­ lamo­ fobia Tahun ini” yang dianugerahkan oleh sekelompok aktivis yang menahbiskan diri mereka sebagai Komisi Hak Asasi Islam. Aku menyebut ini adalah lubang kelinci relativisme. yang kutahu paling pro-Muslim. Kau sebut ini kontradiksi? Ya. The Guardian.IRSHAD MANJi wakili”. pemimpin Partai Nasional Inggris dan seorang rasis yang blak-blakan. kami tahu di mana kau tinggal. kau meng­ khianati ke­ lompok yang tidak menolerirmu tapi menuntut toleransi dari orang lain. orang-orang kulit putih tidak bisa bilang kepadamu kalau kau tidak “me­ wakili” karena bisa diartikan mereka menjajahmu lagi. “Hati-hati dengan anak-anakmu. “Ta­ pi itu­ lah yang terjadi kalau Anda berbicara lantang.” Toynbee mengakui. Toynbee berkampanye untuk kesetaraan wanita di mana-mana.” 111 . maka kau boleh menghakimi budaya kulit putih meskipun kau tidak “mewakili”. yang sangat kasar. Tapi. membuka pintu menuju ke alam yang berganti-ganti. benar. Hal ini mengingatkanku pada kegilaan yang digambarkan oleh Lewis Carrol dalam cerita Alice in Wonderland. amat sangat kasar.. Mereka menyandingkan Toynbee bersama Nick Griffin. Tanya saja Polly Toynbee. Saya mendapatkan ribuan sehari. kolumnis pada koran arus utama. maka ketika ber­ suara akan dicap pengkhianat. dan sangat mengancam. Dan tentu saja. Itu benar. saya menerima begitu banyak surel dari seluruh dunia karena ini. Tapi jika penjajahan yang terjadi berasal dari kalanganmu sendiri.

& LOVE Massoud Shadjareh. Ia bisa dengan gampang berlindung di balik pernyataan para antropolog Amerika tahun 1947 di PBB. David Littman dari Association for World Education (Asosiasi untuk Pen­ didikan Dunia) menghadap ke Dewan Hak Asasi Manusia PBB. menyela. LIBERTY. “Ada batasan­ nya untuk itu. “Islam tidak akan dikritik keras di dalam Dewan ini!” Dikritik keras? Karena menawarkan jalan 112 . sese­ orang yang diabaikan kesempatannya untuk meng­ ekspre­ sikan fungsi mereka sebagai makhluk rasional. Aneh. Saat itu. ia akan men­ definisi­ kan batasan itu secara sepihak. Shadjareh lanjut mem­ bandingkan feminis Toynbee dengan Nazi anti-Semit. “Setiap kali kami mengesampingkan seseorang dari wacana ini karena ber­ da­ ­ sarkan minat tertentu mereka [yang dipersepsikan]. Komisi Hak Asasi Islam sering menjadi kon­ sultan bagi PBB.” mengakui bahwa “kami perlu ber­ temu dan berdiskusi. Di sana ia mengajukan bahwa Syekh Agung Universitas Al-Azhar mengeluarkan fatwa yang menentang kejahatan me­­ rajam wanita sampai mati.ALLaH. Pada bulan Juni 2008. sehingga Shadjareh tahu bagaimana me­ nyi­ sihkan Toynbee yang “tidak benar secara budaya” (culturally incorrect) dari pertemuan dengar pendapat yang utuh dan adil. ia secara tegas menambahkan. kami men­ ­ ciptakan lagi korban baru dari pelanggaran HAM—yaitu.” Dan tentu saja.” Tapi. karena di tempat lain Shadjareh mendorong terjadinya per­ cakapan yang bersemangat tentang HAM. salah seorang yang memahkotai Toyn­ bee “Islamofobia Tahun ini. atau di salah satu badan PBB terkemuka yang menganut politik membeo ter­ hadap pernyataan tersebut. Amr Roshdy Hassan. delegasi Mesir.” Kebetulan.

Tidak mengapa bila kejahatan-kejahatan itu menistakan Allah karena menyelubungi budaya buatan-manusia se­ bagai perintah ilahi. Semua hanya karena diplomat Muslim me­ ngecam bahwa penyingkapan kawin paksa dan perajaman me­ rupakan penistaan Islam.IRSHAD MANJi untuk solusi—Islami—religius? Lubang kelinci relativisme pun semakin dalam dan gelap. Ber­­ peganganlah erat-erat—sebentar lagi aku akan membantu­ mu men­ cari jalan keluar dari lubang kelinci ini. komunitas mereka. Beberapa tahun terakhir ini. Dewan ini juga me­ nolak pembahasan tentang anak gadis berusia sembilan tahun yang dijodohkan. lebih luas lagi. Aku tak bisa menyalahkan siapa pun yang merasa bingung dengan keanehan yang telah menginfeksi multikulturalisme. The Organization of the Islamic Conference/OIC (Organisasi Konferensi Islam/OKI) adalah perhimpunan lima puluh tujuh negara mayoritas Muslim. Dewan Hak Asasi Manusia telah membatasi in­ tervensinya terhadap perajaman wanita. Tidak mengapa bila Islamofobia yang se­ benar­ nya—para Muslim yang merendahkan derajat cinta Sang Pen­ 113 . Menggunakan istilah ”Memerangi Penistaan Agama. Ke­ hormatan tribal mengubah korban menjadi penjahat dengan mem­bebankan kepada mereka tanggung jawab karena menodai re­ putasi keluarga dan.” resolusi ini mencerminkan logika busuk dari kehormatan tribal. pertamatama. (Ingat kasus anak-anak Detroit?). Tapi. OKI men­ dorong resolusi yang bermuatan-kehormatan melalui PBB. Dengan menggunakan “penalaran” ala budaya. kita perlu melihat kenyataan mengenai politik yang mem­­ bangkitkan kesengsaraan pada kelompok yang ada saat ini.

yang hanya melindungi agama Kristen. Tetapi yang bisa menjelaskan adalah satu pernyataan yang sering diulang-ulang dan menjadi pegangan OKI: bah­ wasanya “hak fundamental dan kebebasan” seharusnya ti­ dak hanya di­ nikmati oleh individu semata tetapi juga oleh “kelompok-kelompok dan masyarakat. Tak mengapa bila permainan terkutuk itu me­ lukai hati banyak Muslim yang tak punya suara di dalam koridor PBB yang terlalu berhati-hati terhadap budaya. dan sebelum George W. Tetapi kenapa tidak sekalian saja menghapus klausa pe­ nis­ taan? Dengan begitu. Bush. Dalam pembelaannya. Menteri Kehakiman me­ mi­ sahkan imigrasi dengan alasan untuk mengadaptasi kons­ titusi di negaranya. Tapi “tren-tren baru” ini tidak menjelaskan mengapa Pakistan menyampaikan resolusi anti­ penistaan agama yang pertama di PBB pada tahun 1999—se­ belum 9/11. dan karenanya. Pada bulan Juli 2009. sebelum krisis kartun. Perasaan ter­ singgung hanya akan berarti ketika dialami oleh mereka yang memiliki otoritas untuk mendefinisikan penghormatan pada budaya. LIBERTY.ALLaH. OKI keberatan dengan “tren-tren baru” yang mengancam rangka multikultural di dalam banyak ma­ syarakat kita. Tren yang dirancang oleh editor Denmark. mendefinisikan budaya itu sendiri. dan guru-guru di Inggris bersenjatakan teddy bear bernama Muhammad.” Tuntutan hak budaya semakin banyak didengungkan bah­ kan di luar Islam. tak ada komunitas agama yang akan 114 . Tak mengapa bila drama ke­ kuasaan tak berperikemanusiaan diakomodasi oleh Dewan Hak Asasi Manusia. pem­ buat film Belanda. Irlandia “memper­ barui” UU tentang Penistaan Agama. & LOVE cipta dan pengampunan Al-Quran—menampilkan diri mereka sebagai korban Islamofobia.

). sebagaimana OKI. yaitu dengan menangkap siapa pun yang mengganggu peserta Hari Pemuda Dunia yang disponsori Vatikan. hukumannya bisa jadi penggeledahan setengah telan­ jang. bagaimana Gereja Katolik melindungi politik kekuasaan dengan alasan sensitivitas budaya. Untuk ke­ jahatan melawan Tubuh Kristus (sebutan lain untuk Gereja Katolik— penj. Vatikan menerapkan “hak” untuk tidak boleh dicela. yang menunjukkan bahwa ketelanjangan memiliki tempat nonreproduktifnya. termasuk pilihan untuk tidak beragama. pengadilan federal Australia membatalkan UU yang mengatur kekebalan Vatikan terhadap penghinaan—kemunduran kecil dalam gam­ baran yang lebih besar. Polisi di Sydney. atau orang-orang yang selamat dari pelecehan seksual. Setiap komunitas bisa dengan bangga men­ jelaskan secara terperinci apa yang mereka yakini karena demokrasi liberal melindungi pilihan-pilihan yang dibuat de­ ngan bebas. Bayangkan! Di akhir bulan itu. memperlihatkan kekuasaan yang tak pernah dilakukan sebelumnya. Tidak butuh protes besar-besaran ka­ lau kaos katun T-irani bisa melakukannya. kondom. 115 . Para pengambil kebijakan di Irlandia. Gangguan apa yang bisa ditimbulkan se­ seorang? Dengan mendekati daerah festival memakai kaos yang membela aborsi. Sang Mahakuasa tidak butuh alat pencegah politik: wakil-wakil-Nya yang menunjuk diri sendirilah yang butuh. Pada bulan Januari 2008.IRSHAD MANJi me­ miliki pelindung konstitusional yang melindunginya dari pandangan orang lain. Lebih busuknya lagi. telah memfitnah Sang Pen­ cipta yang sesungguhnya dapat menerima gangguan kecil seperti skeptisisme manusia.

Inggris. drama ini me­ nyingkap rahasia umum melalui penggambaran pelecehan seksual di da­ lam kuil. mengingat betapa panasnya tuntutan pelecehan seksual terhadap Gereja. maka ia akan menghadapi seruan-seruan untuk mengakui adanya perilaku pastor yangseperti-behzti. berencana untuk mementaskan drama di Birming­ ham. Sementara itu. memanfaatkan kesempatan ini untuk memprotes “penggambaran negatif” itu. terhadap tempat ibadah agama Sikh sama saja merendahkan tempat ibadah semua agama. LIBERTY. Ketika polisi angkat tangan. Negosiasi di antara mereka ber­ jalan alot namun Teater Birmingham pantang mundur—sam­ pai beberapa Sikh religius menyerbu tempat itu.” Ia pasti tahu bagaimana pelanggaran seksual merendahkan tempat iba­ dah. “Pelanggaran yang disengaja. Uskup Agung Vincent Nichols berkata. 116 . seorang Sikh kon­ tra-budaya. yang diundang untuk menghadiri geladi resik. Gurpreet Kaur Bhatti. Lebih aman menyebarkan mitos tentang hakhak budaya supaya budaya memperoleh semacam radiasi-rasemo­ sional dan membuatnya berbahaya untuk dipertanyakan. Berjudulkan Behzti (Aib). Behzti dihentikan dan Bhatti harus hidup dalam persembunyian. Beberapa tahun lalu. perwakilan Paus di Birmingham langsung me­nyuruh si penulis naskah mencium cincinnya (sebuah tradisi dalam keuskupan sebagai tanda penghormatan—penj.). hak-hak suatu ke­ lompok (seperti yang didefinisikan oleh pialang kekuasaan) melebihi hak seorang individu sebagai anggota kelompok. Seandainya keuskupan Birmingham men­ dukung keberanian moral Bhatti.ALLaH. Juru bicara Sikh. walau­ pun berbentuk fiksi. & LOVE Jari Paus juga meninggalkan sidiknya pada kasus yang me­ libatkan “Hak-Hak Sikh”—sekali lagi.

sebagai gabungan pengaruh dari semua penjuru. Di Frankfurt. Tetapi hati kita yang-mendambakan-identitas bergumul dengan kebenaran itu. Jika tradisi yang dipertanyakan adalah “non-Barat. Teman pendeta itu menyatakan kalau orang Yahudi “segera mengenali gejala-ge­ jala yang sama. Itulah cara lain orang yang cerdas bisa jatuh ke lubang kelinci relativisme. 117 . sehingga kita memperkuat identitas pemurni tidak hanya me­ lalui emosi. Apakah pihak ber­ wenang di Jerman menyingkirkan Madam Keadilan sebagai tindakan pen­ citraan saja? Atau mereka secara tulus mengakui bahwa budaya tidak berarti apa-apa tanpa individu yang ber­ tindak atas namanya? Firasatku.IRSHAD MANJi Strategi ini mencapai puncaknya—atau lembahnya. Raniero Cantalamessa mengumumkan bahwa seorang te­ man Yahudi mengirimkan surat yang menyamakan tuduhan terhadap gereja itu seperti anti-Semitisme. tapi sesudah jurnalis mengeksposnya. Pend. seorang perempuan ke­ lahiran Maroko yang dipukul suaminya mengajukan perce­ raian kilat. bukan hal aneh kalau suami menggunakan hukuman fisik ke­ pada istrinya.” di kalangan mereka. Hakim menolaknya karena “dalam budaya Maroko. mereka yang menyingkap sisi buruk tradisi bisa disingkirkan sebagai fanatik. Ketika skandal se­ jumlah pelecehan seksual mencengkeram Vatikan.” Kalkulasi Cantalamessa? Dengan budaya sebagai ras baru. begitu menurutku—pada saat pekan paskah 2010. “penggunaan stereotip itu.” Hakim itu—seorang wanita—dicopot dari ka­ sus. Penasihat pri­ badi Paus memperlihatkan sikap budaya-sebagai-rasnya.” politik ke­ kuasaan akan terasa kental. Cap “non-Barat” seharusnya tidak berarti apa-apa mengingat bahwa peradaban bersifat universal. bukan yang terakhir.

Imigran Muslim bukanlah satu-satunya yang bersalah di sini. tidak pantas memiliki hak. Proses bermasalah ini tumbuh subur di kalangan penjilat pri­ bumi Eropa. Terlepas dari Pencerahan Eropa di abad ke18. persepsi. Budaya tidak bicara untuk dirinya sendiri. Unni Wikan adalah seorang antropolog dengan keberani­ an moral.ALLaH. & LOVE Karena itu. Memberikan hak pada sesuatu yang bisa langgeng hanya melalui penilaian. LIBERTY. banyak orang Eropa menjilat ke budaya seolah budaya itu orang suci di abad ke-14 yang pantang ditanya-tanya. individulah yang demikian. Ia merupakan mantan peneliti PBB yang bidang ker­ janya mem­ bawa dia sampai ke Mesir dan memiliki spesialisasi di bidang perkembangan anak. Norwegia. dan tindakan manusia sungguh lebih dari keterlaluan—berbahaya sekali ka­ rena memperkuat kekuasaan yang sudah kuat. Selama lima belas tahun ter­ akhir. Wikan menulis: 118 . satu asumsi yang mencabut rasa keterikatan yang penuh makna dari anak-anak ini terhadap tempat tinggal mereka secara de facto. pekerja sosial. manusia­ lah yang bicara untuknya. Wikan telah menganalisa bagaimana negaranya Norwe­ gia me­lucuti hak-hak anak Muslim imigran dengan meletakkan budaya orangtua mereka sebagai landasan utama. dan guru berasumsi bahwa anakanak Muslim dimiliki oleh budaya dari mana ayah dan ibu mereka berasal. bahkan ketika berposisi sebagai agama yang sakral. izinkan aku menjelaskan secara terperinci me­ ngapa budaya. Budaya bukanlah makhluk suci dengan kehendak bebas dan nurani. Para pem­ buat ke­ bijakan.

IRSHAD MANJi Budaya sering digambarkan seakan-akan memiliki oto­ ritas yang tidak boleh disandingkan dan diper­ banding­ ­ kan. dan hasilnya. Padahal. se­ mangat Islam untuk berpikir kritis. Kami bertemu di sebuah konferensi mengenai keamanan global di Washington D. “konsensus” apa pun adalah ilusi karena hanya segelintir orang dengan hakhak istimewa yang merasa aman untuk bersuara. Sen­ ­ 119 . sampai kaum Muslim dapat mengatasi rasa takut mereka untuk mengekspresikan diri. Sarjana itu menggeleng kepala dengan jengkel— tidak mengejutkan karena dia adalah bagian dari elite yang ingin membungkam suara-suara. di sepanjang masa. otoritas itu sebenarnya bersandar pada mereka yang memegang tampuk kekuasaan. Budaya dan kekuasaan saling berdampingan. Itulah hubungan budaya/ kekuasaan yang tersaji secara utuh. aku pernah terlibat dalam adu pandangan dengan seorang sarjana Suriah. adalah “ke­ benaran” otoritatif.C. sarjana itu mengambil mikrofon. Aku meng­ gambarkannya sebagai konsensus dari mereka yang me­ miliki kepastian. Dengan berpura-pura bahwa budaya memiliki le­gi­ti­masi­­­ nya sendiri. Be­ berapa orang memiliki hak—atau mengambil hak—untuk men­ definisikan apa yang penting. sering disebut sebagai budaya. Mengangkat hal yang sama. Setelah aku berceramah tentang kebangkitan ijtihad. Aku bilang padanya. di semua kelompok masyarakat. Ia mendukung isi pesanku dengan satu tambahan: sudah ada “Konsensus Islami” mengenai isu-isu penting. kita memastikan kalau anggota kelompok yang percaya-diri akan selalu menguasai anggota terlemah.

Sudah menjadi tanggung jawabnya untuk memberitahukan hakhak hukum mereka dan menyarankan mereka untuk mengajukan tuntutan. Kaum Muslim. Surel berikut datang dari Ann. sering kali diiringi dengan kalimat. Dalam konteks tribal. Kita belum membuktikan pada­­ 120 . agar mereka dapat keluar dari siklus kekerasan. Ia memegang posisi itu selama dua puluh tahun lebih dan memberitahuku kalau ia tidak pernah melihat kekerasan yang begitu banyak terhadap perempuan sebagaimana yang di­ alaminya lima tahun terakhir. LIBERTY. seorang pem­ baca dari Amerika Serikat: Seorang tetangga dekat baru saja pensiun sebagai kepala pe­ rawat bagian luka fisik di sebuah rumah sakit besar di New York. Tingkat kebenaran politik yang men­ jalar di berbagai diskusi tentang Islam hanya membantu mem­ pertahankan agama. Laki-laki memiliki hak untuk melakukan ini. Berkalikali bantuan itu ditolak. Ia masih marah dengan pemukulan sadis yang dilakukan oleh suami dan kerabat laki-laki mereka.ALLaH. akhirnya menghasilkan musuh dari sensitivitas: toleransi terhadap penyalahgunaan kekuasaan. dan pengikutnya berada di zaman kegelapan. itu jelas mematikan. ini bagian dari budaya kami. jangan teralihkan oleh penyebutan “Islam” dan bukan “budaya” oleh Ann. begitu memasuki usia 15 atau 16 tahun. & LOVE sitivitas pada perbedaan. “Anda tidak mengerti. yang sama sekali tidak di­ per­ timbang­ kan. yang umumnya berasal dari Pakistan.” Tetangga saya pun diberitahu oleh banyak perempuan muda bahwasanya saudara laki-laki mereka mulai membantu sang ayah memukuli mereka. Isu ini harus dibawa ke publik. yang kebanyakan terjadi di kalangan perempuan Muslim.

seorang antropolog. Suatu malam di atas kapal feri. kalian seharusnya bilang kepada para Muslim bahwa kalian mengharapkan kami menjadi individu dari­ pada sebuah produk rakitan budaya. Lebih baik memiliki ekspektasi yang tinggi seperti yang Ann lakukan daripada memelihara kecurigaan bahwa semua Muslim menganut adat yang brutal. mungkin saya bisa melakukan bagian saya. adalah tugas kita untuk menganggap kepri­ hatinan Ann ini sebagai pengakuan bahwa wanita Islam ada­ lah manusia di atas segala-galanya. atau pem­ buat kebijakan daerah. Kaum non-Muslim. ma­ najer perusahaan. Oleh karena itu. yang mungkin akan menuntut kalian untuk mengintrospeksi hal-hal apa yang diremehkan oleh orang-orang baik di era multikultural ini. kalian per­ caya pada kemampuan individualitas kami. pendidik di perguruan tinggi. Jadilah Muslim yang kontra-budaya. mereka berhak memiliki martabat manusia sebagaimana yang lain­ nya. Ada se­ sua­ tu dalam perkataannya. melakukan bagian kita. Tun­ jukkan individualitasmu yang memancar. Sang suami sering me­ 121 . Untuk saat ini. lalu mengapa ha­ rus pe­ du­ li mengatakan sesuatu? Untungnya. Ini artinya. teman-teman Muslim. Dan pahamilah bah­ wa hak-hak budaya seharusnya tidak diterapkan dalam Islamo-tribalisme—jika kita menginginkan alasan untuk meng­ hi­ langkan “tribalisme” dari frase berbahaya itu.IRSHAD MANJi nya bahwa tribalisme bisa dihapuskan dari praktik keislam­ an. Dengan menuliskannya. Bersuaralah. Baik yang berkedudukan sebagai konselor sekolah. “Tidak harus seperti ini. kalian pun bisa melakukan lebih dari Ann. Ann peduli.” Itulah petunjuknya. bertemu dengan wanita keturunan Denmark-Turki yang melarikan diri dari suaminya. Anne Knudsen.

meng­ impli­ kasikan keluwesan. memaparkannya sebagai berikut: pikirkan kata “ke­ ter­ ikatan” dan “kapasitas. Kapasitas.” Dalam analisis Malik. dalam beberapa kasus. Tetapi jika kita memersepsikan mereka 122 . & LOVE nyiksa­ nya dan wanita itu sekarang memerlukan bantuan dari keluarganya di Istanbul. “Mereka hanya berpikir ini adalah budaya!” Tetapi kerabatnya di Turki “adalah orang-orang modern.” Mengerti. Sekarang kau bilang kepada kami. maka kita me­ milih untuk melihat mereka seperti orang yang terikat dan tidak mampu tumbuh. “Hah? Bagaimana aku tahu kalau seorang wa­ nita Muslim bisa memanfaatkan bantuanku?! Irshad. kau baru saja men­ceritakan kepada kami tentang wanita-wanita Pakistan yang mengklaim penyiksaan terhadap istri sebagai budaya mereka. LIBERTY. seorang kritikus Inggris terhadap dogma multikultural dan aktivis antirasisme vete­ ran. di pihak lain. Dua cerita ini menyoroti dilema yang bisa.” Aku memahami orang-orang non-Muslim yang menyerah dan mencetus. “Mereka!” balas wanita itu. Apa maksud­ nya? Selesai­kan sendiri dan kirim kami jawabannya. seorang wanita keturunan Denmark-Turki tidak suka mendengar bagaimana budaya men­ justifikasi penyiksaan terhadap istri.ALLaH. Kenan Malik. Knudsen bertanya mengapa pekerja sosial Denmark tidak turun tangan. keterikatan mengimplikasikan kekakuan. dipecahkan. Jawabannya ada hubungannya dengan bagaimana kita me­ li­ hat potensi orang lain. Kita harus memilih mana bingkai yang akan digunakan untuk memandang orang lain. Jika kita me­ mersepsikan orang melalui bingkai keterikatan.

dengan tujuan hidupku. “keterikatan” merupakan suatu tindakan afirmatif. “Kami tak bisa menanggung kehidupan lain sendiri. Bagi banyak orang. Namun Malik meminta kita berempati dengan mereka yang tidak memiliki kebebasan untuk mengenal dirinya sebagai individu.” Tapi seandainya mereka mengatakan. Ann bisa saja menafsirkan klaim mereka mengandung arti. Mungkin. maka dengan lebih banyak pilihan.IRSHAD MANJi melakukan bingkai kapasitas. Mohon ma­ af untuk umat Buddha yang percaya bahwa segala penderita­ an berasal dari keterikatan. De­ ngan me­ miliki kehendak bebas. Kristen Evangelis dan Yahudi ultra-ortodoks secara rutin meng­ hubungiku terkait persoalan pelik ini. dan sebelum kami mampu. Contoh wanita-wanita Pakistan tadi. maka kita memberikan ruang ke­ pada mereka untuk tumbuh mekar menjadi diri mereka sendiri. bahwa mereka tidak bisa menerima intervensi karena budaya mereka menyetujui pemukulan terhadap wanita oleh pria. ini semua bisa menjadi keter­ ikatan yang positif. sepertiku. tapi bukankah kau sangat suka terikat dengan pasanganmu? Atau dengan anak-anakmu? Atau dengan hobi­ mu? Atau. mereka akan mungkin mengambil keputusankeputusan yang baru.” Lalu apa? Lalu bingkai kapasitas yang masuk. tempat mereka di dalam tatanan sosial bergantung 123 . mereka yang menempatkan identitas tribal sebagai integritas pribadi. Aku sadar. panduan kami hanyalah budaya yang kami tahu. bagi kita yang bersuka cita dalam individualitas. jadi mundurlah. si kepala perawat di rumah sakit New York. Jika wanita-wanita ini mampu memimpikan ke­ hidupan yang bebas dari bilur dan lebam. “Kami terikat oleh budaya versi ini. Mereka bilang ke te­ tangga Ann.

ia menggunakan kata “modern” untuk meng­ gambarkan keluarganya di Istambul. mereka akan memiliki kom­ pas berbeda—yang memperlihatkan pilihan-pilihan baru. Mereka yang ditugaskan untuk membantu wanita di kapal menuju Turki memandangnya sebagai kor­ ban keterikatan yang tak berdaya. tapi aku bisa menjelaskan bahwa dogma bukanlah batu karang se­ bagaimana yang tampak. sejauh ini. bukan keterikatan. Aku memiliki keyakinan pada potensi mereka untuk tumbuh. LIBERTY. Secara alamiah. Ann. Keyakinan. Mereka ingin ruang bernapas tetapi tidak tahu bagaimana mendapatkannya karena. memandang wanita-wanita Pakistan itu melalui lensa kapasitas daripada keterikatan. beberapa pekerja sosial di Denmark dapat belajar dari Ann. budaya kelompok agama mereka menentukan nilai manusia (human worth) mereka dan budaya berjemaah adalah satu-satunya kom­ pas yang mereka miliki. Bahkan. maka aku mengadopsi lensa kapasitas. ia melihat wanita-wanita itu layak sebagai individu dengan kesempatan untuk membentuk masa depan mereka sendiri. dogma tidak pernah merasa aman dan memaksa kita untuk melekat padanya. Setidaknya. mereka terikat de­ ngan itu. juga. perhatikan baikbaik. Aku tidak memaksakan pilihan-pilihan ini kepada mereka. Alih-alih sebagai makh­luk statis dan barang pusaka budaya yang diawetkan di masa lalu seseorang. Setelah membaca buku ini. memiliki kepercayaan diri dan membebaskan kita untuk bereksplorasi. Ia memuliakan mereka dengan sisi kemanusiaan yang dinamis. & LOVE pada apakah mereka mengikuti aturan-aturan yang didiktekan kepada mereka. Tetapi. sungguh kontras yang 124 . wanita ini tidak merasa menikahi budaya asal suami­ nya. di sisi lain.ALLaH.

mungkinkah pesan ini bisa sampai? Bagaimanapun ju­ ga. penyerahan diri yang buta pada budaya tribal telah meracuni penyerapan Pencerahan. dan sekaligus kapa­ si­­ tas­ nya.” Berbeda sekali dari istilah kesewenang-wenangan. definisi ini datang langsung dari zaman Pencerahan Eropa. Bayangkan kalau kita semua meng­ usahakan satu langkah ekstra? Bagaimana jika kita ber­ suara tetapi yang lainnya menyalahgunakan tradisi? Wanita keturunan Denmark-Turki itu mengambil langkah ini dengan meng­ gambarkan kecenderungan antimodern dari pekerja so­ sial yang harus bertengkar dengannya. Namun. hal ini harus dimulai dari umat Muslim—karena memiliki 125 . seperti juga hal­ nya dalam penyerapan Islam. Kata “modern” oleh wanita Muslim itu diartikan sebagai “meng­ hormati individualitas seseorang. Permasalahannya tidak lantas berkurang. Dengan demikian. Orang-orang Muslim yang melihat ini terjadi di kalang­ an mereka perlu menegur teman-teman mereka. suatu proyek yang berupaya untuk menggantikan pola pikir bangsa Eropa yang feodal dan hierarkis dengan etos pencapaian. tetapi jika lebih banyak Mus­ lim yang mengekspos bagaimana orang-orang Eropa yang “ter­ ­ cerahkan” tanpa sadar dapat bertindak tribal di zaman seka­ rang.IRSHAD MANJi tajam dengan kelompok komunalis di agen pelayanan sosial Denmark. aku tahu. Begitu pula dengan kaum non-Muslim. Baik Islam maupun Pen­ cerahan telah dikhianati oleh penikmat mereka yang tak peduli. “benturan” bukanlah terjadi antara Islam dan Pencerahan. yang mengunggulkan individu dengan hak untuk melampaui status sosial yang di­ warisinya. melainkan antara praktisi di dalam setiap tradisi yang mencekik individualitas.

Di bab sebelumnya. “Anda menuntut saya untuk menyetujui tribalisme.” Wanita itu mungkin akan kesal mendengar ucap­ an tersebut. Hal ini tidak sejalan dengan fakta bahwa penilaian yang adil untuk pelafalan (pronunciation) men­syaratkan si instruktur untuk melihat gerakan mulut se­ tiap muridnya. Padahal tidak. Dan jika Anda tidak tahu. Alangkah sayangnya. Quebec mengumumkan niat mereka untuk me­ larang pemakaian hijab di semua kantor pe­ merintahan—dan menolak memberikan pelayanan publik yang pokok pada wa­ nita bercadar. Anda memiliki fleksibilitas saat di­ butuhkan. saya memberitahukan Anda bahwa hal itu dibutuhkan sekarang. Al-Quran dengan jelas mengatakan bah­ wa tidak ada paksaan dalam ber­ agama. Tiga ming­ gu kemudian. kita menanam­ kan benih-benih introspeksi pada orang-orang yang mengira dirinya telah menolong. Berulang kali instruktur mencari cara untuk mengakomodasi kebutuhan wanita itu. aku membahas seorang imigran Mesir di Quebec yang mendaftar ke kelas bahasa Prancis. menurutku. terhadap ke­ bo­ dohan Islamo-tribalis. Tetapi pastinya ia akan mere­ nungkan kata-kata instruktur itu nanti.ALLaH. tapi dia me­ nolak membuka cadarnya. Akhirnya. Sebagai instruktur An­ da. LIBERTY. bukan Islam. & LOVE kredibilitas! (lelucon yang buruk). sekalipun dia membayar pajak. Maaf. tapi tribalisme bukan agama yang diakui—Islam. bayangkan kalau orang non-Muslim mengatakan hal yang sama ke Islamo-tribalis. Paling tidak. si instruktur bisa saja mengatakan kepada muridnya. Sebagai Muslim. wanita itu pun dikeluarkan dari kursus. Daripada membiarkan berke­ panjangan seperti itu. Suatu reaksi yang berlebihan. Sekarang. Begitu juga pria Muslim Swedia yang tidak mau berjabat tangan dengan CEO wanita 126 .

Tetapi kebajikan berbagi ada di pihak­ mu. Awalnya. Seharusnya. Masalahnya. Jangan harap kau akan menerima kartu Hallmark berucapkan terima kasih dalam surelmu.IRSHAD MANJi karena Islam. sepertinya hal ini lebih sebagai tanda ideologis atau politis. ter­ jun ke arah itu pada saat debat negaranya tentang cadar di bu­ lan April 2010. Al-Quran. Di dalam interaksi keseharian­ lah. “bukan karena Islam. kita tidak menunggu isu-isu ini menjadi san­ tapan perundang-undangan. Tapi karena budaya tribal. “Tidak. seorang anggota parlemen Belgia.” Bravo Bacquelaine! Ia menerjang kaum Islamotribalis dengan fakta-fakta yang tidak nyaman. Dengan demikian. “Karakter 127 . atau Sunnah yang memaksakan bentuk baju ini. kau mampu juga melakukannya. Muslim dan non-Muslim harus saling menekan demi meng­ hidupkan aspek-aspek positif dari tradisi kita. “Tuhan tidak mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Sebagai Muslim. ia mengajukan pernyataan penting ini sebagai dukungan atas undang-undang untuk mengkriminalisasikan cadar—satu kon­ teks yang langsung disambar oleh kaum Islamo-tribalis un­ tuk mengumumkan bahwa demokrat sekuler telah me­ lakukan pe­ mak­ saan. “Tidak ada di Islam. Al-Quran mengajarkan. Ia berkata kepada para jurnalis. Bagiku. kebenaran dalam analisis Bacquelaine pun hilang bagi kaum Muslim yang perlu di­ pro­ gram ulang dari tribalisme ini. Islam sendiri memiliki kemampuan yang lebih luwes dibandingkan yang kau perlihatkan.” Daniel Bacquelaine.” ia mungkin tak sanggup mendengarnya.” begitu juga pemikir zaman Pencerahan Jean-Jacques Rousseau menegaskan hal yang sama. tidak akan ada orang yang dengan mudah menerima upaya ini.

Orang Norwegia otentik memi­ liki kapasitas pada diri mereka. disebutnya bu­ da­ ya?” demikian kenang Wikan. & LOVE manusia yang utama” adalah “kemampuan memperbaiki diri. mereka paham pertanyaannya. Firasatku? Semua pemimpin politik ini memandang orang Nor­ wegia “otentik”—kulit putih kelahiran pribumi—melalui bingkai yang berbeda dari yang mereka gunakan un­ tuk me­­ man­ dang kaum imigran. “Menurut Anda mereka tidak me­ ngerti pertanyaanku?” Oh. Unni Wikan meng­ ingat suatu debat publik di mana ia dan seorang tamu lagi bertanya pada pemimpin-pemimpin partai politik tentang kualitas kehidupan imigran di Oslo. Penanya kedua. LIBERTY. maka pria yang bertanya itu berpaling ke aku sete­ lahnya dan bertanya. Ada baiknya aku memberikan contoh terakhir tentang ba­ gai­­ mana menggunakan kompas kapasitas dalam situasi yang sulit. “Para politikus itu tidak bisa menjawab.” Aku tak bisa memikirkan alat penunjuk arah yang manusiawi apalagi selain kompas yang menunjuk kepada kapasitas. bukan Bosnia. sudah tinggal di Norwegia selama dua puluh tahun dan “memperkenalkan dirinya secara empatik sebagai orang Norwegia. betapa mu­ dahnya orang-orang Eropa sering menelan budaya tribal wa­ laupun merasa sudah menerapkan politik yang tercerahkan. sekali lagi. tapi yang patut di­pikir­ kan adalah mengapa pertanyaan itu membuat mereka diam. “Kalian mampu bergerak melampaui pra­ 128 . Aku akan mendemonstrasikan.” Ia datang dengan satu pertanyaan khusus buat para kandidat. disebutnya rasis­ me. tetapi jika seorang imigran tidak mengizinkan putrinya me­ nikah pria Norwegia.ALLaH. yang lahir di Bosnia. “Mengapa jika seorang Norwegia yang tidak membiarkan putrinya menikahi imigran.

” Astaga.” Asum­ si dibalik itu: Orangtua Muslim Haneef merasa terikat pada cara tertentu untuk berperilaku. atau teman. maka harus kukatakan kau adalah rasis yang serba-tanggung. Apakah kau akan mengatakan 129 . seperti seorang Norwegia berharap untuk ditantang? Jika tidak. kebanyakan orang Inggris sudah berkembang.” Tapi bagaimana kalau skenarionya terbalik.. Pergilah ke fjord (teluk) dan bersantailah. di mana orang­ tua Haneef menghapus harapan putri mereka untuk menikahi Lars? “Itu bukan rasisme melawan kami. pe­ merintahan merendahkan orang-orang itu.. mengapa tidak mau? Mengapa me­ miliki keyakinan terhadap yang satu dan merendahkan yang lain? Kenan Malik mengusikku dengan satu wawasan tentang negara­ nya. konsep Inggris atau Inggris Raya yang mengikat orang-orang keturunan Inggris di seluruh Persemakmuran.” seorang Eropa pro­ gresif mungkin akan protes. Keterikatan mereka tidak terlalu melekat. “Karena aku tahu kau mampu lebih baik dari itu.IRSHAD MANJi sangka budaya Nordik yang sudah dianggap kuno. Pada tahun 1955. Inggris Raya. Kantor Kolonial me­ mutus­ kan bahwa “Banyaknya komunitas berwarna se­ bagai ciri yang nampak di kehidupan masyarakat kita akan me­ lemah­ kan. Sungguh? Maukah poli­ tikus-politikus itu menantang orangtuanya Haneef untuk me­ lakukan hal sebaliknya. “Itu adalah budaya mereka. Memang tidak ada alasan untuk meng­ hen­ tikan putrimu menikahi pria sopan seperti Haneef.” aku bisa mendengar politikus-politikus itu meyakinkan seorang sau­ dara. Walaupun be­ berapa orang “keturunan Inggris” merasa gelisah (atau jijik) dengan heterogenitas di sekeliling mereka. rekan. ya? Ternyata.

kita semua perlu memodernisasi persepsi kita me­ ngenai Islam otentik. Semangat bertanya. maka pencerahan akan me­ nemui kiamat. Umat Muslim harus memanfaatkan kapasitas—mari kita jangan kehilangan pandangan dari kata itu—untuk mengobarkan jalan Islam yang lapang.ALLaH.” Kita perlu membuktikan Muslim kontra-budaya adalah bernilai di hadapan Allah. Bersuaralah yang kencang. akan digantikan dengan penyelidikan lebih banyak lagi terhadap Barat yang “rasis” dan Muslim yang “pembenci-diri. Jangan khawatirkan kemarahan dari otoritas agama. serta mengingatkan keluarga kita mengenai hal ini. Pada waktu bersamaan. untuk memperbaharui janji Pen­ ­ cerahan. 130 . LIBERTY. yang diperbolehkan oleh Al-Quran dan digalakkan oleh filsuf. baik me­ lalui perbincangan sehari-hari antar kita. antar ulama atau dengan media. & LOVE bahwa kesediaan mereka untuk tumbuh membuat orang-orang ke­ turunan Inggris kurang asli keinggrisannya? Pertanyaan-pertanyaan ini seharusnya membantu Muslim dan non-Muslim berpikir jernih mengenai bagaimana mereformasi diri sendiri demi kebaikan yang lebih besar. akan menumpulkan gigitan para sesepuh otoritas dan menjadi bagian dari pelindung emosi kita. Melengkapi diri kita dengan pengingat ini. Mari lakukan itu dengan menolak kecenderungan tribal dan bersuara sebagai individual. Jika kita bersandar kepada kaum Islamotribalis untuk “mewakili” Islam. Protes kita adalah dengan budaya mereka. bukan Pencipta mereka.

Tetapi. mereka pun sama juga selektifnya. Beberapa orang mungkin akan memberi tanggapan bahwa kau mendapatkan argumen ini dari “kafir lesbian” Irshad Manji. kuduga. Ayat ini diakhiri dengan peringatan terhadap kita bahwa hanya Tuhan yang mengetahui makna dari kata-kata-Nya. kau akan mendengar para Islamotribalis menuduh Muslim kontra-budaya pilih-pilih ayat yang meng­ untungkan mereka dari Al-Quran. Jika demikian. mengapa kalian menyimpang dari Al-Quran dengan mendesak bahwa tafsiran kalianlah yang paling benar? Apakah kalian termasuk golongan yang hatinya sesat? Tidak sedikit Islamo-tribalis. Muslim kontra-budaya memperluas pilihan bagi se­ mua orang karena kita menerima bahwa Tuhan dan tidak ada yang lainnya yang memiliki kebenaran sejati. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada ke­ sesatan.IRSHAD MANJi Tidak diragukan lagi. Bedanya. kau memiliki satu kesempatan berharga untuk bertanya: Apakah kafir lesbian yang menulis surah 3 ayat 7 di AlQuran? Didiklah mereka tentang apa yang secara transparan di­ katakan oleh ayat ini—bahwa ada ayat-ayat yang tersurat dan yang lain tersirat. Beritahukan kepada mereka bahwa dengan menyimpang dari bagian-bagian AlQuran yang pro-kebebasan. maka Islamo-tribalis boleh mengatakan itu pada Sang Hakim Akhir. Paham mono­ teisme kita mengakui Sang Pencipta sebagai Hakim dan Juri Akhir. Apakah Irshad Manji menyelipkan kata-kata ini? Jika tidak. Jika itulah satu-satunya Islam otentik yang bisa dibahas. maka mereka akan mengikuti yang tersirat supaya dapat me­ nyatakan tafsiran tertentu. penggertak-penggertak tribal memainkan peran Tuhan. yang akan mencoba mengalihkan perhatianmu dengan berteriak tentang “Agenda 131 .

Sementara kita. Aku tidak tahu apakah aku benar. menurut Al-Quran. lanjutkan mengutip surah 3: 7. kau tidak menjawab per­ tanyaan awalku: “Ada apa dengan hatimu yang sesat?” Untuk bersiteguh dalam menghadapi Islamo-tribalis. LIBERTY. tapi sebetulnya bisa saja meng­ angkat perkosaan pria “lurus” oleh pria “lurus” lainnya sebagai penggambaran atas kekuasaan dan kontrol. patahkan keyakinan dengan ayat-ayat Al-Quran sederhana yang mendorongmu untuk tidak terlalu berlebihan dengan ayat-ayat yang tersirat. betapapun kasarnya suara atau tinggi­ nya jabatan kita. Nah. Cerita Sodom dan Gomorah—kisah Nabi Luth dalam Islam—tergolong tersirat (ambigu). bukankah kau justru yang mem­ punyai agenda gay? Dan sementara kau begitu. tetap hanya dalam posisi sebagai pencari ke­ benaran. Kaum Muslim. begitu kalian selaras dengan pen­ dekatan yang penuh kerendah-hatian terhadap keimanan. menumpuk ke­ kayaan. kalau kau masih ter­ obsesi untuk mengutuk homoseksual. Jika aku boleh me­ na­ war­ kan pemikiran lebih jauh. ter­ masuk non-Muslim—kita tidak boleh bersikap rendah hati 132 . Namun demikian. & LOVE gay-nya Manji” dan berkoar-koar bahwa Al-Quran secara jelas menyatakan homoseksualitas itu dosa. kau perlu berfokus pada perintah utama Islam: bahwa hanya Allah dan tidak ada selain Allah yang memegang kebenaran mut­ lak. Perkosaan antara pria bisa jadi merupakan dosa disengaja (the sin of choice) untuk menimbulkan ketakutan di kalangan pengembara. Tuhan menghukum ka­ um Nabi Luth karena memotong jalur perdagangan. Kau merasa yakin kalau surat ini mengenai homoseksual. Nah sekali lagi. ka­ lian akan memiliki apa yang dibutuhkan untuk menjadi kontrabudaya. Tetapi—dan ini adalah penting bagi kita semua. dan berlaku tidak hormat terhadap orang luar.ALLaH. kau pun tidak bisa yakin apakah kau benar.

. 133 .. masyarakat akan mendukung supaya kejadian ini diceritakan kepada seseorang. Banyak nyawa yang dipertaruhkan. Ini mengindikasikan bah­ wa ia mampu menunjukkan individualitasnya.” Samia menghubungiku untuk meminta bantuan memublikasikan ceritanya. Saya tahu di masyarakat Amerika. Bukan karena Aku (ia menekankan) tidak mau. Tiga tahun setelah kunjunganku ke Detroit dan bertemu kaum muda Muslim Amerika yang hidup dalam dua eksistensi. “tapi saya me­ rasa keselamatan dan kewarasan saya akan dipertaruhkan jika orang lain mengetahuinya. Samia mengisyaratkan kalau dia tak jauh beda dari ke­ banyakan gadis Amerika—kecuali perasaannya yang ge­ ram terhadap kehormatan keluarga. maka maafkan saya karena mematahkan semangat Anda bahwa saya tak bisa secara terang-terangan men­ dukung Anda.. Samia me­ ngirim surel ke aku dari kota itu. Beberapa tahun yang lalu.IRSHAD MANJi dalam memvalidasi Muslim kontra-budaya. semua hanya karena sesuatu yang bukan kesalahanku. Menurut pengakuannya. Ia seorang mahasiswi. melainkan karena jika aku bercerita. ia membutuhkan dorongan se­ mangat.” tulisnya. ia menjalani kekerasan seksual oleh seorang teman keluarga dan “digerogoti rasa ber­ salah” sejak itu. Saya tahu ini sesuatu yang pasti sudah sering dengar. keluargaku akan mem­ benci­ ku. Kehormatan keluarga akan tercoreng. Konflikku tidak bisa kuceritakan. “Saya berharap bisa menjadi pengikut Anda di Twitter atau men­ jadi penggemar Anda di Facebook.

” Orangtua Samia.” Ia menceritakan kembali bagaimana luapan amarah ibu­ ­ nya yang menyengat. Semua anggota keluarga besar akan tercoreng sampai mereka meng­ 134 . bertindak. se­ dang­ kan ‘ird mengacu khusus kepada kehormatan wanita. ibunya Samia justru marah besar karena takut para tetangga Muslim mereka. Aku tidak tahu apakah hal ini sudah terlambat buat mereka. bukan ketakutan. Ia ingin ibunya “kesal padaku karena ibu khawatir tentang AKU dan bukan tentang MEREKA”—yaitu. Alih-alih. orangtua Samia harus menghargai gunanya “aku” yang ber­ kata.” maka ia membawa aib bagi keluarga.” Untuk melakukan itu. LIBERTY. ‘ird me­nentukan sharaf. “dijunjung tinggi dan dicegah sedemikian rupa sehingga hati kita steril dari rasa simpati. yang “mendahulukan nama dan ke­­ hor­ matan keluarga dibandingkan keselamatanku. dan berpikir. yang mengintip melalui jendela. sharaf me­ rujuk kepada ke­ hormatan keluarga atau masyarakat. & LOVE Malu.ALLaH. yang berjuang dengan segenap hati untuk menyelaraskan “nilai-nilai di rumah saya dan nilai-nilai yang diam-diam diyakini dalam benak saya. Ketika seorang wanita “mencemarkan. Untuk sekali saja. Dalam kenyataannya. Muslim lainnya. tapi aku tahu ini belum terl­ ambat bagi Samia. akan menggunjingkan Samia yang pulang larut malam. mem­ prak­ tik­ kan Islam versi budaya Arab yang mengekspor dua tipe kehormatan. meskipun dari Asia Selatan.” Malam ketika terjadinya pelecehan seksual itu. Dalam masyarakat tradisional Arab. dan bukan mata tetangga. yang diungkapkan Samia. “Saya ingin cinta. yang ada di keluarga saya. saya ingin ibu dan ayah melihat dunia dengan mata mereka. Samia datang terlambat.

Anda sangat beruntung memiliki ibu yang menerima diri Anda dan di saat yang sama adalah Muslim yang saleh. Tapi. Trad Fayez. “Seorang wanita ibarat pohon Zaitun. Tapi apakah dia menyadari kapasitasnya? Tidak tanpa bantuan kita. Saya ingin bercerita ke mereka tapi mereka mungkin akan membunuh saya demi kehormatan atau memaksa saya menikah dengan orang lain yang mungkin nyaris tidak di­ kenal. Saya selalu benci diri saya dan meminta ampunan dari Allah. nyatanya tidak.” Bushra.IRSHAD MANJi ambil tindakan drastis pada wanita tersebut. Warga New York berusia 18 tahun ini mengirimku surel dengan putus-asa: Saya lesbian. siapa di antara kalian yang mau ber­ ga­ bung denganku untuk meyakinkan Bushra bahwa Sang Maha­ 135 . Saya hukum diri saya dengan mengiris tubuh. Umat Muslim. maka harus dipotong supaya masyarakat tetap bersih dan murni. Anda mungkin mengira saya punya sedikit kebebasan karena tinggal di New York. Jadi rasanya saya tidak bisa mengubah siapa diri saya. Dalam obrolan berikutnya dengan Bushra. walaupun inginnya bisa. Bahkan saya mencoba untuk suka cowok tapi tidak berhasil. tidak menganut ke­terikatan pada adat seperti yang dimiliki pemimpin Yordania itu. Orangtua saya berpikiran sangat sempit. mendukung analogi berikut. dan ketat. aku mengetahui kalau sudah bertahun-tahun orangtuanya memaksa dia untuk me­ nikah dengan pria dari negara asal mereka. kolot. seorang wanita Muslim lainnya. Ketika batangnya ter­ kena ulat kayu. Saya juga berpikir untuk bunuh diri tapi tahu bahwa saya akan masuk [neraka] Jahanam. se­ orang pemimpin suku di Yordania.

Pada Desember 2007. Aqsa sudah lama takut dengan apa yang ayahnya akan lakukan jika ia bertahan pada keputusannya untuk menolak hijab. Aqsa men­ curahkan perasaannya pada orang dewasa dan temanteman di sekolah tentang betapa dia merasa lebih aman di halte dibandingkan di rumahnya. kita berkontribusi pada budaya pe­ nye­ la­ mat­ an iman? Dan karena aku tidak cukup aneh untuk tampil sendirian.” Tiga puluh menit setelah Aqsa kembali ke rumah dari percobaan melarikan diri yang kedua. siapa yang akan pergi denganku untuk bicara ke keluarga Bushra mengenai jalan Islam yang lapang? Semakin lama kita menunggu untuk mereformasi diri. LIBERTY.” 136 . maka jalan-jalan ini akan semakin dikotori dengan mayat seperti Aqsa Parves. Mr. seorang Muslim Kanada berusia 16 tahun tewas di tangan keluarganya sendiri. Penyebab kematian: “cekikan di leher. & LOVE kuasa menciptakannya sesuai pilihan-Nya? Siapa yang mau menjelaskan kepadanya bahwa dengan melawan budaya pe­ nye­ lamatan muka. Beberapa guru benar-benar memahami. Teman-temannya meyakinkan dia kalau ayahnya “ti­ dak mungkin serius.ALLaH. Parves menelepon 911 untuk bilang ia telah membunuh putrinya. hijab adalah penutup kepala yang dimandatkan oleh kehormatan suku ”pra-Islam”. Itu bukan penutup kepala “Islami” bagi perempuan. yang kemudian dianggap persyaratan agama yang benar oleh Islamo-tribalis seperti ayah gadis itu. tetapi teman-teman sebaya Aqsa menyepelekan ancaman itu walaupun dia sudah menjelaskan kalau ayahnya yang kelahiran-Pakistan bersumpah demi Al-Quran bahwa ia akan membunuh Aqsa jika kabur lagi dari rumah mereka di Toronto.

“Saya tidak bisa mengatakan apa-apa. misalnya. Padahal. maka ia membawa kehinaan di keluarga ayah­ nya. Apa pun yang dia pikirkan. Mrs. Ketika polisi menanyakan ibunya Aqsa mengenai pandangan­ nya terhadap pembunuhan itu. Parvez. Waqas. seorang wa­ ni­ ta­ lah yang menjadi penanggung aib. “Dia membuatku telanjang. Begitu cerita ini menjadi berita. Ketika wanita me­ le­ wati parameter moral yang dibuat oleh pria (adat. ber­­ gabung dengan pihak yang dituakan oleh keluarga dalam pengakuan resmi tentang pembunuhan itu. abangnya Aqsa.IRSHAD MANJi Lebih dari dua tahun kemudian. Waqas merasa ter­ kekang seperti Aqsa. Parves me­ lebih-lebihkan tentang Aqsa. dan pria ini tidak menganggap mencekik putri­ nya sebagai tindakan yang memalukan. para Islamo-tribalis di Kanada melakukan penyangkalan.. Parves menjawab. Menurut Surat Pernyataan yang sudah disetujui. menikahi wanita pilihannya. ia dilarang. sangat ber­ kebalikan: Di dalam kode kehormatan tribal. Setelah itu.” Dia adalah Mr. karena siapa yang tahu apa yang menindas keluarga Aqsa hingga tertekan? Dalam wa­ wancara media. aku menanggapi bahwa pembunuhan ti­ dak akan pernah menjadi pendekatan yang diterima untuk me­ redakan tekanan keluarga.” Dari pers­ pektif Islamo-tribal. aku menerima be­ berapa surel bernada tajam yang mengatakan kalau aku perlu mempelajari moralitas dasar karena Al-Quran mewajibkan wa­ 137 .. seorang ayah tak memiliki pilihan selain membersihkan reputasinya di depan mata-mata yang me­ mangsa sesama Muslim—bahkan di daerah pinggiran kota kosmo­politan Toronto.” ucap Mr. “Komunitas saya akan bilang kalau saya tidak bisa mengendalikan putriku sendiri. begitulah umumnya dikenal).

Bushra. meminta wanita dan pria untuk berpakaian sopan. Lebih sering. Yang lebih aneh lagi. ukur­ an. bahwa hijab berasal dari budaya sebelum Islam. Pusat Antar-Agama di New York menyebarkan kartu pos. Setelah 9/11. mengapa ia “harus” menutup ram­ but­ nya? Apabila kau sebagai pria khawatir terangsang. haluan liberal menyebutnya Muslim Kanan. aku tidak mendengar balasan dari para pria Muslim yang keberatan-keberatannya sudah aku sengaja lu­ ang­ kan waktu untuk membahasnya. dan Samia. tentu saja) dan berpesta-pora dengan minuman tersebut. Al-Quran. Satu lagi contoh Islamo-tribalis yang mencampuradukkan an­ tara budaya dan agama menjadi satu minuman keras yang ber­ nama martini kelalaian moral (virgin martini. me­ ngapa tidak melakukan sebagaimana yang disarankan AlQuran dan menunduk selama yang dibutuhkan hormonmu? Mengapa kompensasinya harus membebani hanya pada wanita? Anehnya. Tuhan Maha Pengampun. mengapa bukan topi baseball yang di­ pilihnya? Kemudian lagi. Kartu ini memperlihatkan wanita-wanita Muslim dari berbagai usia. kaum liberal jarang memanggil Muslim non-liberal sebagai kaum sayap-kanan budaya. Di Amerika Serikat. politik di kalangan non-Muslim yang seh­ arusnya menjadi sekutu Aqsa. & LOVE nita beriman mengenakan hijab—sesuatu yang “kembar kafir Irshad dan Aqsa” belum mengerti. di sisi lain. Aku mendidik teman-teman surelku. LIBERTY. misalnya. dan kulit warna sedang berdoa berdampingan di jalanan 138 .ALLaH. Mengapa ini tidak bisa diartikan sebagai lengan panjang? Dan jika seorang wanita harus menutup rambutnya.

sepertinya malah terpenjara oleh ke­ rancuan hak-hak budaya. Militer AS bisa mengira memperjuangkan kesetaraan wanita Muslim. Bias terhadap Islam konservatif ini juga menjangkau sam­ pai keluar Amerika. yang men­ jadi tempat konsultasi Angkatan Darat. Gambar menjadi tidak kon­ ser­ vatif dengan setiap pendoa yang berlalu lalang. FBI. slogan di belakang kartu pos itu yang merayakan “keragaman komunitas Muslim di kota. Lady Liberty pun menangis. yang tidak segan-segan pada lawannya. ia tidak boleh me­­ mimpin shalat jamaah pria. tapi tidak di Ame­ rika sendiri. Tetapi mungkin stereotip dianggap penting hanya ketika muncul dari institusi-institusi yang dipercayai oleh neo-konser­ vatif. Seorang wanita yang tertutup penuh duduk di ujung barisan para pendoa. Setiap wanita ditandai sebagai Muslim melalui gaya pakaian pra-Islam mereka. Bush me­ nge­ sah­ kan penyerangan ke Irak. hanya saja tidak sampai menampilkan wanita Muslim yang berdoa tanpa ke­ rudung. bukan juga dia tidak mau.” Keragaman? Di dalam kartu penghormatan pada Islam dengan gambar semua wanita berhijab? Sungguh ste­ reotip yang parah. Ketika Presiden George W. Angkatan Darat AS tidak memperbolehkan kopral wanita Muslim pertama ber­ tugas sebagai penasihat agama. aku membuat asumsi berani 139 . baik pria dan wanita. Bukan berarti wanita ini tidak mampu. Tambah tidak logisnya lagi. Terlebih lagi.IRSHAD MANJi Manhattan. FBI takluk pada tuntutan dari para pelobi Muslim agar istilah “membunuh demi kehormatan” dihapus dari posterposter pencarian buronan pria yang diduga membunuh istri atau putri mereka demi kehormatan keluarga. ia dilarang oleh normanorma budaya Islamo-tribalis. Alasannya.

mari menyoroti frase “cara mereka melakukan sesuatu. Bush. Per­ tama-tama. dengan kalimat yang pasif. Di bawah pe­ merintahan George W. Muslim fanatik mungkin akan sadar kalau mereka tidak bisa mengelak dari pe­ langgaran HAM dengan menggunakan Islam sebagai kedok. Atau.” Mau bertaruh kalau Islamo-tribalis yang menjadi pengambil keputusan dari apa yang disebut “berlaku” dalam Islam? Pasal 3 dalam kons­ titusi Afghanistan menyatakan bahwa “tidak ada hukum yang dapat berlawanan dengan keyakinan dan ketentuan agama suci Islam. bagaimana sesuatu itu dila­ 140 .” Budaya adalah bagaimana orang melakukan sesuatu. LIBERTY. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Persekutuan dengan mereka pasti akan men­ jamin bahwa konstitusi Irak baru akan lebih mengusung hu­ kum sipil daripada hukum agama. begitulah cara mereka melakukan sesuatu dan siapa kita hingga berhak untuk memberitahukan mereka yang sebaliknya? Kesampingkan dulu frase yang mengandung rasa-bersalah “siapa kita”? Aku akan membahas pertanyaan itu sebentar lagi. Pasal Dua pada konstitusi Irak jelas me­ ngatakan bahwa “tidak ada hukum yang bertentangan dengan ke­ tentuan Islam yang telah berlaku boleh lolos.” Kata “suci” memastikan bahwa para pe­ nguasa saat ini bisa berbuat sesuai kehendak mereka dengan meng­ asumsikan izinnya berasal dari ketentuan Allah. Amerika Serikat memperkuat tipuan halus ini dan jatuh ke dalam logika relativisme—yakni. & LOVE yang naif: bahwa pemerintahan Bush akan membangun ikatan dengan pendukung demokrasi Irak yang paling konsisten— kaum sekularis. Dengan begitu. Irak dan Afghanistan yang baru saja “merdeka” mengadopsi hukum syariah dalam konstitusi mereka.ALLaH.

atau tidak bertindakmu. Jadi. King menyuarakan suatu gagasan yang akan meresahkan multikulturalisme. Ketika hal ini melibatkan persoalan hidup-mati. Martin Luther King. pada individu-individu yang berjuang membawa perspektif baru pada komunitasnya. Belajar dari Reinhold Niebuhr. Ke­ anggo­ taan dalam komunitas apa pun selalu ada harganya. mereka bisa melakukan tugas itu sendiri. memberikan khotbah serupa. Unni Wikan membawa kita kembali pada realitas politik kekuasaan di dalam kelompok. Bushra. budaya merupakan konsep konservatif secara in­ trin­ sik. seorang teolog Kristen dan pecinta demokrasi liberal. “Kelompok cen­ derung lebih tidak bermoral daripada individu. Jr. Mereka dengan kekuasaan untuk 141 . Kaum konservatif Muslim tidak membutuhkan bantu­ an kaum liberal mana pun untuk mempertahankan dunia se­ bagaimana adanya. Arti­ nya. tanggung-jawabmu pun semakin besar.” Dengan men­ cengkeram pernyataan ini baik-baik akan melepaskan pegangan terhadap kebenaran budaya. Muslim kontra-budaya—Aqsa. dan Samia—yang mem­­butuhkan kita semua. Demikianlah tanggapanku terhadap pertanyaan “begitulah cara mereka melakukan sesuatu dan siapa kita hingga berhak untuk memberitahukan mereka yang sebaliknya?” Bila kau meng­ hargai keberanian moral—berbicara kebenaran pada pihak yang berkuasa dalam komunitasmu demi kebaikan yang lebih besar—maka kau adalah seseorang yang wajib mem­ prio­ ritaskan individualitas di atas pemikiran kelompok. “tetapi harga itu tidak tersebar rata. kau harus mem­ pertimbangkan dampak tindakan. Menghabiskan hidupnya dengan mempelajari konsekuensi-konsekuensi yang tidak diharapkan dari kebenaran budaya. Ia menulis.IRSHAD MANJi kukan.

kaum liberal tidak akan mau mengorbankan diri mereka sendiri. tentang dorong-dorongan bawah sadar mereka yang terkait dengan pengorbanan pihak yang rentang. contohnya— ketika kita gagal untuk mendiskusikan kekuasaan yang ber­ main di dalam budaya.” Ia sedang membicarakan tentang pengorbanan yang dipaksakan kepada pihak-pihak yang rentan—wanita dan anak-anak. Jr. “hor­ mat terhadap ‘budaya‘ merupakan prinsip moral yang cacat. karena sebagai awal saja. Di dalam Letter for Birmingham Jail (Surat dari Penjara Birmingham). “Hukum yang tidak adil 142 . Per­ tanyaan khusus itu adalah: saat aku menghormati adat. Tidak adil. terbuka untuk di­ reformasi.. memperingatkan sekutu kulit pu­ tih­ nya yang setengah-hati. LIBERTY. biasanya men­ definisikan adat atau budaya dengan sedemikian rupa sehingga melayani kepentingan mereka semata.. Ketiga. jadikan bertanya sebagai suatu kebiasaan. dan untuk apa. yaitu kaum liberal yang berkuasa pada saat itu. camkan dalam pikiran kita bahwa budaya adalah hasil konstruksi ma­ nusia yang tidak sempurna. selalu ajukan satu pertanyaan khusus.” Dengan demikian. Dengan menghormati hukum dan tata tertib—tata cara melakukan se­ suatu—mereka menuntut kaum kulit hitam untuk melakukan pengorbanan yang tidak adil. Pertama. Oleh karenanya. King berargumen. Kedua.” Obat penangkal bagi kebenaran budaya terdiri dari tiga aksi kecil yang bisa kita lakukan secara individual. Martin Luther King.ALLaH. apakah ada akibatnya pada anggota kelompokku yang lebih lemah? Penelitian Wikan mengonfirmasi bahwa pertanyaan se­ macam itu “perlu untuk mencegah korban-korban di atas altar budaya. & LOVE memutuskan apa yang penting.

tetapi tidak mengikat kelompok mayoritas itu sendiri. Tetapi jika kita mau memperluas kebebasan. kita memperkuat Muslim non-Liberal dengan ang­ gapan seolah itu adalah hal yang liberal untuk dilakukan. pada dasar­ nya termasuk egois. walaupun mendukung hak-hak sipil. banyak di antara kita yang mengulangi ke­ salahan itu. Apakah kau melihat persamaan antara sikap mereka dan sikap kita? Hasrat mereka untuk berubah. Dan kita sendiri merasa lebih baik dengan terlihat baik di depan orang-orang yang kita hormati: mereka yang berkuasa di dalam komunitaskomunitas budaya tertentu. dalam urusan keislaman. non-Muslim pun melakukan hal yang serupa. Bahkan lebih egoisnya.” Ia memberikan penjelasan ini pada para pendeta di Alabama yang. yang tidak bisa bersuara dalam sistem. Sekarang ini. Kita menjadikan harkat kemanusiaan dari umat Islam yang paling rentan sebagai persoalan orang lain. tetapi tidak terlalu banyak dan tidak begitu cepat. kita memaksakan kaum lemah untuk berkorban supaya kita sendiri bisa merasa lebih baik. kita pun perlahan-lahan menghancurkan jiwa liberalisme: kebebasan individual. Kehormatan ke­ ­ lompok menuntut seseorang hanya berfokus pada citra publik­ nya.IRSHAD MANJi adalah aturan yang dipaksakan kepada kelompok minoritas oleh sekelompok mayoritas (berdasarkan kekuasaan atau jum­ lah). Tidak hanya Muslim yang tersesat oleh kode kehormatan tribal. Dengan demikian. Sikap ini akan melanggengkan beban pen­ deritaan dari mereka yang paling rentan. maka kita mesti memikirkan 143 . meskipun harus menekan nurani pribadinya. Tanpa berpikir dua kali. atau bah­ kan sekali. Inilah paradoks klimaksnya. merasa sulit untuk ber­ gerak sangat cepat.

Kemudian kita juga harus kembali me­ mikirkan makna kehor­ matan yang sebenarnya. LIBERTY. Apakah ke­ hormatan berkenaan de­ ngan reputasi. & LOVE betapa jauhnya kita tergelincir ke dalam budaya kehormatan.ALLaH. atau berkenaan dengan integritasmu? 144 .

dan meskipun saya cuma membaca intisari buku Anda. kini usia saya 15 tahun dan sudah mengerti bahwa tidak semua yang saya dengarkan itu benar. Saya sangat marah akan hal ini. Waktu masih kecil. saya tetap bisa memahami sudut pandang Anda. Saya yakin bahwa segala niat dan ambisi Anda justru mengagumkan. saya dipaksa untuk sependapat dengan orang­ tua saya dan juga para guru madrasah. nama saya Haroun dan saya berasal dari Inggris Raya. Sepertinya Anda perlu tahu bahwa saya ini ternyata salah satu sepupu Anda. saya tidak beranggapan demikian. dan saya pun sependapat dalam banyak hal. Alasan mengapa saya tidak membeli buku Anda karena saya tidak diperbolehkan—untuk alasan membeli buku pun orangorang di keluargaku tidak mau mendengarnya. Walaupun sebagian besar anggota keluarga saya memiliki pandangan sangat negatif terhadap Anda dan opini Anda. Buat mereka.4 Kaulah yang Menentukan Kehormatanmu Nona Manji. sulit untuk mempertimbangkan gagasan 145 .

ras. ter­ lepas dari apa pun pilihan seks. agama. kini saya muak terhadap budaya yang dianut oleh para Muslim saat ini. yaitu mereka yang tidak tahu apa yang mereka amal­ kan atau kenapa mereka mengamalkannya. LIBERTY. Keluarga semacam ini hanya menghasilkan apa yang saya sebut “mesin”. dan karena itulah. Manusia tetaplah manusia. Saya melihat mereka me­ maksakan gagasan-gagasan keagamaan ke dalam pemikiran anak-anak mereka dan melarang anak-anak mereka untuk mem­ per­ tanya­ kan­ nya. tetapi ada juga (khususnya keluarga saya) yang masih ber­ tahan pada satu budaya. saya merasa kasihan ketika mereka sering dilecehkan dan menjadi sasaran kebencian. Kebanyakan di antara mereka tidak pernah mem­ baca buku Anda. mereka kembali membantahnya dengan meng­ ungkit sejarah keluarga (yang saya juga yakin ini adalah bias) atau mengklaim kalau saya tidak religius dan tidak patriotik terhadap keimanan saya. Seperti Anda juga.ALLaH. mereka meng­ anggap kalau Anda sedang menyebarkan pandangan-pandangan negatif tentang Islam. 146 . & LOVE bahwa mungkin tidak semua hal yang disampaikan oleh para ulama kepada kita itu benar. Walaupun saya bukan seorang homo­ seksual. Saya melihat beberapa Muslim men­ jalani kehidupan yang normal dan merangkul budaya Timur dan Barat. Karena inilah saya menjadi marah ketika melihat orangorang mengolok-olok tindakan Anda. yang saya anggap me­ ngagumkan. namun tiap kali saya mencoba berdebat tentang poin ini (bahwa mereka tidak boleh menyimpulkan suatu ke­ putusan yang rasional tanpa setidaknya mencari informasi tentang buku tersebut). Saya setuju dengan Anda bahwa manusia diperlakukan secara tidak adil di dalam budaya. atau keimanan mereka.

jika mereka mem­ bicarakan kebusukan penyalahgunaan kekuasaan di dalam budaya Muslim kontemporer. seorang pembaca di Belfast. walaupun itu berarti saya terpaksa membelinya se­ cara diam-diam! Pelajaran Keempat: Kaulah yang Menentukan Kehormatanmu. orang-orang non-Muslim mungkin bisa menyuarakan pikiran mereka. meskipun Anda tidak mengabaikan apa yang Anda warisi. dan pernikahan paksa yang terjadi di tengah masyarakat Barat sudah diabaikan terlalu 147 . Secara teoritis. Namun kenyataannya.IRSHAD MANJi Saya melihat. sa­ ngat banyak non-Muslim yang masih terpaku dengan pe­ rasaan takut dipermalukan sebagai orang fanatik. menulis sebuah pesan kepadaku yang bernada sama dengan beberapa pesan lain yang kuterima: Sudah tiba saatnya kita miliki keberanian moral untuk mengakui ke­ benaran yang Anda sampaikan ke publik. Anda sudah mengadopsi sebuah gaya Islam yang me­ mungkinkan bagi Anda untuk terhubung dengan kebudayaan Timur dan Barat. Saya tidak meragukan tentang bagaimana agama Kristen juga telah digunakan untuk me­ naklukkan para wanita. mutilasi alat kelamin wanita. di saat banyak Muslim harus berjuang meng­ hadapi budaya kehormatan yang terlalu mementingkan nama keluarga di atas segalanya. Eileen. Saya bekerja dengan para wanita yang pernah diperkosa dan disiksa. Namun sulit bagi wanita non-Muslim untuk mengkritisi perlakukan Islam terhadap wanita tanpa tuduhan rasisme. pembunuhan ke­ hormatan. Saya pasti akan mendapatkan satu eksemplar buku Anda. Namun begitu.

Aku sudah memberikan beberapa ma­ sukan dan aku akan menyinggungnya lagi.ALLaH. maka praktik budaya yang melanggar harkat tersebut tidak boleh dibela. tanpa melihat ras. LIBERTY. atau masyarakat bisa dengan angkuhnya menentukan makna “hormat”.” Benar. “Tapi itu tidak bisa bertahan lama.” demikian aku menjelaskan. Tidak ada jalan un­ tuk melarikan diri dari keangkuhan mereka. saya akan disebut penjajah. Yang bisa di­ ubah adalah kepatuhan kita terhadap keangkuhan mereka. menggembar-gemborkan uni­ versalitas HAM bersamaan dengan kesetaraan semua budaya. Inilah saatnya agar semua manusia yang bermartabat. agama. Supaya nurani kita mem­ peroleh kembali daya kendalinya. atau jenis kelamin. karena men­ campuri urusan orang lain. Nurani kita membisikkan apa yang telah diketahui oleh akal kita. Ka­ langan non-Muslim dengan malu-malu memberitahukanku.” Mereka yang paling berkuasa di sebuah kelompok. aku menjawab. & LOVE dalam dengan alasan menghormati budaya lain. “Kare­ na jika kau percaya semua manusia berhak mendapatkan har­ kat kemanusiaan. komunitas. Mempersiapkan diri kita untuk mengajukan pertanyaan berarti akan menghadapi ketidaknyamanan secara pribadi. “Lanjutkan!” Aku juga me­ me­ r­ hatikan bahwa masyarakat Barat sekarang ini meng­ ingin­­ kan dua hal yang berbeda. bahwa menganiaya anggota yang lemah dalam suatu komunitas adalah hal jelas-jelas salah. bangkit menentang kekejaman dan tirani. Kepada Eileen. “Jika saya mendukung upaya Anda untuk merekonsiliasi Islam dengan kebebasan. Kau mesti 148 . maka kita perlu me­ ngajukan pertanyaan yang lugas. kau akan disebut penjajah karena mau memedulikan martabat kemanusiaan.

Kita tidak pernah bisa lagi hidup dengan gagasan ’pengacau luar’ yang sempit dan terbatas. Oleh karena itu.IRSHAD MANJi mem­­ biasakan diri untuk itu.) di belahan bumi yang lain. Mereka menegur King sebagai “orang luar” (out­ sider) karena dia tidak menetap di Birmingham dan tidak mengetahui budaya setempat. mau bersusah-payah agar diterima umat Muslim. maka investasimu dapat untung dan ru­ gi seiring dengan keberhasilan bangsa-bangsa yang tak per­ nah kau kunjungi. Tapi tak perlu mempercayainya. Lihatlah orang-orang non-Muslim yang. dan di mana konsep “saling-ketergantungan” telah menyebar tidak hanya melalui seminar-seminar perguruan tinggi. Apa­ pun yang mempengaruhi seseorang secara langsung. King menanggapinya dengan realitas saling-ketergantungan: “Kita terjebak dalam sebuah hubungan saling timbal-balik yang tak terhindarkan.” Inilah salah satu pernyataan King yang paling ter­ kenal. Emosi yang intens mendasari ketaatan kita terhadap ke­ ­ hormatan kelompok. apakah masih ada yang disebut urusan “orang lain”? Tidak bagi Martin Luther King. terikat dalam secarik kain takdir. akan mem­ pengaruhi yang lainnya secara tidak langsung. tetapi maknanya masih belum berhasil dipahami sampai abad ke-21 ini. di mana penguapan gletser akan me­ ma­ naskan wilayah sabuk matahari (wilayah yang paling sering mendapatkan sinar matahari—penj. segera me­ 149 . Jr. Di dunia di mana keamanan negaramu terkait dengan politik desa nun jauh di sana. dia tidak boleh me­ mindahkan perjuangannya atas kesetaraan dari luar ruang pengadilan ke jalanan yang hiruk-pikuk di Birmingham. Ingat kembali kisah delapan pendeta Alabama yang telah kuceritakan di bab se­ belumnya.

“Dan saya mau ber­usaha keras untuk tidak menyakiti hati kalian. atau motivasi saya. aku sempat bicara santai dengan­ nya. secara kebetulan. LIBERTY. bahkan bagi orang Muslim yang sudah melihatnya demikian. Maka. “Saya menerima jawaban yang hampir sama. aku dijadwalkan untuk ber­ bicara di sebuah konferensi di lapangan Universitas Oxford. Trims!” Ia menceritakan usahanya di masa lalu untuk berdialog dengan Muslim. Alabama.” Komedi situasi Amerika yang 150 . Setiap kali. Dilihat dari kenyamanan perbincangan. kenapa mem­ persoalkannya. dia tidak perlu merendah­ kan dirinya dengan mengirimkan surel tindak-lanjut kepadaku.. & LOVE ngecilkan diri mereka. “Saya tidak membenci kalian. Saya rela berbohong kalau memang harus.” orang-orang non-Muslim yang ramah ingin umat Muslim mengetahui itu. Dia merujuk pada masa setelah be­ berapa pengeboman di jalur transportasi umum London pada bulan Juli 2005 ketika. Di sela-sela wawancara.” Karl menulis surat kepadaku dari Bir­ ming­ ham. yang telah menguping wawancara Anda di Oxford minggu lalu.’” Tidak ingin disalahpahami lagi. dia pun melanjutkan: “Anda dengan sopan menjawab per­ ta­ nyaan bodoh saya tentang Islam tanpa merendahkan per­­ tanyaan tersebut. Tapi Karl merasa tidak begitu yakin tentang itu. “Saya adalah orang Amerika yang ge­ muk dan usil. merendahkan saya.. Seakan-akan pilihan yang tersedia ha­ nya­ lah antara menutup diri (eggshells) dan membuka diri (bombshells). Karl pun melakukan introspeksi-diri supaya menjadi orang yang sangat tulus. yang bunyinya kurang lebih adalah ‘siapa dirimu.ALLaH. Para wartawan muncul dengan kekuatan penuh dan Karl pun mendengarkan secara diam-diam.

IRSHAD MANJi populer. seorang perancang interior. dan heteroseksual yang tinggal di New York bersama Will. lalu men­ jejalkannya ke tong sampah. dengan menjadikan diriku pantas untuk dihargai.” asisten itu balik menye­ rang. yang kepemimpinan presidensialnya mem­ bantu menyelamatkan Amerika Serikat. asisten baru itu menghancurkan salah satu desain milik Grace. Will & Grace mengangkat tema mengenai kesediaan ber­ bohong sebagai bagian dari permainan multikulturalisme yang njelimet. “Bagus sekali! Aku juga Yahudi! Aku tidak perlu bersikap toleran terhadap kaumku sen­ diri. seorang pengacara berkulit putih dan gay. Kecuali saat dia mempekerjakan seorang wanita Iran sebagai asistennya. kamu tidak melihatku berteriak-teriak padamu!” Grace meminta maaf. Yahudi. Aku tidak berhutang apa-apa kepadamu. sebuah upacara yang meresmikan gadis Yahudi men­ jadi wanita dewasa. Kamu dipecat. Grace. “Toh. menunjukkan bahwa Grace siap berduel dengan wanita mana pun. dengan melemparkan permen karet ke dalam desain itu. Sampai jumpa di Sinagog!” Dapatkah kejujuran dan kehormatan dipersatukan? Abra­ ham Lincoln. Grace yang kaget tak kepalang mengomel: “Butuh dua tahun untuk men­ dapatkan gagasan desain!” “Butuh delapan belas tahun untukku mengumpulkan uang tiket pesawatku ke Amerika. ditonjolkan dengan karakter neurotik­ nya. Beberapa waktu kemudian.” Tetapi 151 . Dengan karakter yang sama-sama neu­ ro­ tik. “Kau Yahudi?” Grace terkesiap. mencatat ini se­ bagai impian terdalamnya: “Menjadi benar-benar dihargai oleh sesama te­ man. Perbedaan mereka. merupakan wanita kulit putih. asistennya menyebut-nyebut bat mitzvah.

Sungguh suatu fakta yang mencengangkan untuk zaman se­ karang. maka apa yang membuat penilaian mereka tentang dirimu berarti penting bagimu? Arthur Scho­ penhauer. 152 . Se­ ring kali aku harus bilang ke suara-suara kritikan di dalam diri­ ku: “Kau kira aku membutuhkan dukungan kalian.” Dengan kejelasan itu. seorang filsuf. Tidak sama sekali.” seperti yang ditulis oleh sejarawan Robert Faulkner. bukan hanya dihargai semata. golongan yang paling lemah di dalam masyarakatnya. Satu-satunya dukungan yang terpenting buatku berasal dari nuraniku dan Sang Pencipta. pilihan yang dimiliki pengkritik-pengkritikku adalah pergi atau menghadapi pertanyaan-pertanyaanku. Selama bertahun-tahun aku menghubungkan diriku dengan sisi-Schopenhauer-ku. mengapa dia tidak me­ ngikuti normanorma yang berlaku saja? Sebab Lincoln ingin “menjadi ‘be­ nar-benar’ dihargai. mengemukakan pertanyaan se­ rupa: “Apakah seorang musisi merasa tersanjung oleh tepukan ge­ muruh dari para pendengarnya ketika mengetahui bahwa. publik yang anggotanya sudah cukup lama menahan hasratnya untuk berpikir. & LOVE Lincoln secara terbuka bersimpati pada para budak. Si Abe Yang Jujur mencari dukungan “tidak sekadar melalui opini publik. me­ lainkan melalui opini dari publik yang ter­ diskriminasi. Jika Lincoln meng­ inginkan sanjungan. para pendengarnya itu terdiri dari orang-orang yang tuli?” Oh.ALLaH. Mengapa kau mau repot-repot dijunjung tinggi oleh Muslim yang enggan mendiskusikan secara rasional per­ ta­ nya­ an-pertanyaanmu tentang Islam? Jika mereka tidak mau ber­ usaha mendengarkan pandangan-pandanganmu dengan sema­ ngat sesuai harapanmu. kecuali satu atau dua orang.” Tepat­ nya. LIBERTY. Tidak.

Oprah. “Kau sendiri saja sudah cukup.” Kemudian Maya Angelou. Sebagai pembantu Negro yang bertugas mengasuh anak-anak tuannya. aku pun merasa bebas. Kau tidak harus menjelaskan apa-apa lagi. ia merujuk ke­ pada Marcus Aurelius. Oprah Winfrey mengundang ejekan dari para akade­ misi yang me­ nyamakan dirinya dengan sosok “mammy” di dalam sejarah per­ budakan Amerika. berkata pada­ nya. dituduh. Betapa indahnya. mungkin aku juga menghubungkan di­ ri­­ ku dengan sisi Oprah-ku. ”Akhirnya aku mengerti. kita harus me­ nun­ duk­­ kan suara-suara peng­ kritik kita dengan uji nalar.” Bagi Oprah. Seba­ gai satu contoh. bukan berarti kalian bisa mengaturku. sepanjang masa. seorang penyair. mereka yang me­ mi­ liki sesuatu untuk diraih dalam hidupnya pernah merasa di­ hantui oleh bagaimana mereka dipersepsikan selama proses pen­ ca­ pai­ an itu. tersingkaplah bahwa arti kehormatan terletak pada kemampuan untuk menentukan diri sendiri (self-determined). Di awal karir megawatt-nya di media. Aurelius bertanya ke­ pada pengikutnya. lebih memperlihatkan ketertarikannya dalam memihak pe­ mirsa kulit putih dibandingkan menjaga persaudaraan wanita kulit hitam.IRSHAD MANJi Pemikiran kedua. mammy lebih memerhatikan bayi kulit putih daripada darah dagingnya sendiri. Di dalam bukunya. sang kaisar Romawi. “Saya selalu mendapat kritikan. Alain de Botton mem­­ ­ per­ lihat­ kan bahwa. Kecemasan Status. Begitu aku paham... “Apakah 153 .” ratu acara bincang di televisi ini men­ curahkan isi hatinya ke sebuah majalah wanita AfrikaAme­ rika. “Itulah hal yang paling su­ lit buatku pada awalnya. Tetapi untuk meraih apa pun. Hanya karena kalian adalah bagian dari budayaku.” Aku merasakan kebebasan Oprah.

Kontroversi itu ber­ ­ kobar di waktu yang tepat bagi Ayatollah Khomeini. apakah sebuah zamrud ber­ ubah menjadi lebih buruk jika tidak dipuji? Dan bagaimana dengan emas. yang per­ lu mengalihkan perhatian warga Iran dari jumlah korban yang terus bertambah semasa perang Iran-Iraq. Hampir tak ada di dalam novelnya. LIBERTY. apakah Aurelius melupakan betapa ra­ puh­­ nya ego itu? Apa yang sering kali kita khawatirkan bukan­ lah kecantikan hakiki dari zamrud itu sendiri. Kita tahu bahwa permata tidak menjadi lebih baik hanya lewat pujian. Ayatollah meng­ umumkan imbalan jutaan dolar untuk kepala pengarang yang dicap kafir itu. gading. tetapi pengetahuan ini sangat dianggap remeh. Bukankah hal yang sama berlaku untuk persepsi publik tentang kita? Salman Rushdie mengalami satu atau dua kali mengenai penghakiman ini. mereka membakar gambarnya dan me­ nye­ rukan pembunuhan terhadap Rushdie. ia membawa si tokoh protagonis Saladin Chamcha ke penjara penampungan imigran gelap. Novelnya yang berjudul The Satanic Verses (Ayat-Ayat Setan) berisi lima halaman (dari 550 halaman) yang membuat syok sekelompok minoritas Muslim Inggris. & LOVE se­­ suatu yang jika dipuji akan ber­ ubah menjadi lebih baik? Sebaliknya. Persepsi publik ten­ tang permata itulah yang memprovokasi kita. Saladin langsung memperhatikan bahwa manusia yang ditahan itu 154 . karena ia pasti mengubah nilai yang dianggap harus dimiliki. atau satu tumbuhan kecil?” Per­ hatikan keku­ atan bertanya—yang sangat lantang! Pemikiran ketiga. sekuntum bunga.ALLaH. Se­ bagai balasannya. Rushdie menghasut kita masuk ke penjara yang dibuat sendiri oleh mereka yang menerima persepsi tentang orang lain yang terlalu harfiah. Dengan lihai.

Tak lama lagi. Bagaimana bisa harapan untuk ber­ dialog menjadikanku seorang Islamofobia? Bukankah aku akan men­ jaga jarak—karena ketakutan—jika aku mengalami fobia? Tetapi dalam bertanya. kerbau berbulu. ja­ nganlah melibatkan emosi.” Gagasan-ga­ 155 . akan mulai percaya bahwa itulah kita adanya.IRSHAD MANJi sudah berubah menjadi hewan. Lebih mudah. Itu saja. Sehingga kita pun membungkam diri daripada ber­ tanya lebih banyak lagi. beberapa lainnya. Emosi ini akan mem­ bahayakan pendirianmu ketika berada di antara mereka yang merasa gelisah dan merasa kau pun harus gelisah. yang memiliki pertanyaan-per­tanyaan tidak nyaman. Mereka yang memiliki ke­ kuasaan untuk menggambarkan dan kami pasrah pada gam­ baran yang mereka buat. Tahanan itu menggumam datar. Maka. Beberapa menjadi reptilia. jauh lebih mudah adalah melepaskannya mengalir begitu saja. Dalam per­ jalanan ke Mesir di bulan Mei 2006 untuk World Economic Forum. Saladin sendiri menjadi seekor kambing dan bertanya ke sesama tahanan. “Mereka yang menggambarkan kita. aku menjadi moderator pada sebuah diskusi ter­ tutup untuk para pemuda Timur Tengah dan Afrika Utara. tetapi sama sekali tidak bermanfaat. bagaimana semua ini bisa terjadi. Delegasi Palestina mengeluh bahwa para politisi Palestina memperlakukan me­ reka sebagai “tersangka” dan “pe­ nyimpang.” Bukankah ini bagian dari sesuatu yang menyiksa orangorang baik saat ini? Para penjaga sensitivitas budaya meng­ gambar­ kan siapa pun yang mengkritik Muslim sebagai Islamo­ fobia. kita.

Aku dan saudara laki-lakiku me­lawan sepupuku. para pemuda Palestina ini telah memproklamirkan sebuah fatwa imajiner mengenai ke­ pen­ dudukan. & LOVE gasan inovatif dilabeli sebagai “ber­ bahaya” oleh para tetua yang “tidak tersentuh.” kataku. nekad. Kau harus menyaksikan bagaimana gadis-gadis Saudi “mendebat” para pria.” Kemudian ini: “Kami tidak boleh terus-menerus menyalah­ kan orang Israel karena permasalahan kami. LIBERTY. dan seni. teknologi. bukan sebagai maskot dalam keluarga atau kehormatan suku. yang berhubungan seputar Arab World Com­petitiveness Report (Laporan Persaingan Dunia Arab). aku menarik napas da­ lam-dalam. “Kode kehormatan tribal mengekang para wanita dan pria un­ tuk mengejar impian mereka karena takut membawa aib ke ke­ lu­ ar­ ga mereka. para mahasiswa ini tahu bagaimana ber­ argumen. Sete­ lah menyimak semua paparan pakar tentang peningkatan akses pendidikan.ALLaH. semuanya menyimpulkan bahwa kebebasan berarti adalah kesuksesan sesuai kondisimu—sebagai individu. semua opini di dalam masyarakat Arab ditentukan oleh ke­ setiaan ter­ hadap keluarga daripada nalar. Kemudian aku mengambil bagian bicara. baik tentara Israel maupun para penguasa Arab. Suara-suara mereka mengantarkanku pada acara tak ter­ lupa­ kan berikutnya. Apa pun keluhan mereka satu sama lain. dan aku melawan ancaman luar. Se­ perti para mahasiswa yang kutemui di An-Najah National Uni­ versity di bulan Februari 2005. “Apa peran kehormatan yang membangkang (defying honor) di dalam renaisans Arab yang sedang kita bincangkan di sini?” Geseran-geseran di 156 . Percayalah. sepupuku. Kita semua tahu.” Tidak ada yang menentang klaim itu. saudara laki-lakiku.

Aku bicara dengan diri sendiri sebanyak aku bicara pada panelis. tak peduli mereka sudah memuja-muji pencapaian Arab di masa lalu dalam laporan mereka? Dan roda kehormatan pun terus berputar. Memang tidak boleh. Sara Mohammad se­ ha­ rusnya me­ nikmati dukungan yang vokal dari para feminis Barat. ekspektasi yang rendah saling menguatkan. Berapa banyak cara seseorang dapat kecewa apabila para pakar inovasi—inovasi!—menghasilkan formula yang gagal? Ka­ pan mereka melakukan manuver pada generasi baru caloncalon visioner? Paling penting. demikian balas wanita itu. namun respons me­­ re­ ka tidak menyentuh isu-isunya. seorang wa­ nita Suriah mendekatiku untuk menyatakan bahwa aku telah mengajukan pertanyaan “yang sangat sulit dilisankan. Aku tak bisa menyalahkan kepentingan bisnis yang ber­ main di World Economic Forum. Tak lama 157 . Kemudian. kapan mereka menutup mulut. Wanita kelahiran Kurdishtan ini tinggal di Swedia. Ia mengatur per­ lindungan bagi gadis-gadis imigran Arab yang diancam akan di­ bunuh dengan mengatasnamakan kehormatan ke­ luarga. yang berhasil menuntut ayah dan saudara laki-lakinya atas dasar ancaman mereka terhadap diri­ nya dan pacarnya yang berkebangsaan Swedia. Kejahatan yang memicu aksi Sara menyangkut se­ orang wanita muda.” “Me­ ngapa pertanyaan ini tidak harus dilisankan?” aku bersikukuh.IRSHAD MANJi tem­ pat duduk bergema di jantungku yang berdebar-debar. Tetapi “tuduh­ an-tuduhan terhadap rasisme” pun mengandung stigma se­ perti-fatwa. sebab kebisuan bermotif ke­ hormatan berlaku di banyak ideologi.” aku menyemangati diri dengan apa yang ku­ harap adalah senyuman meyakinkan. Patrik. Fadime. “Berani­ lah.

Begitulah emosi bekerja dan mempermainkan pikiran.. para feminis Swedia me­ negurnya karena mereka takut terlihat tidak toleran terhadap kaum Muslim. korban muda dari ’pembunuhan kehormatan’ ini me­ nerima banyak perhatian terkait dengan standar ganda budaya yang sudah sangat lama diperjuangkannya. “Ketika Fadime masih hidup”. tapi sangat kecil keinginan mereka untuk terlibat karena hal ini dianggap urusan keluarga. & LOVE setelah kasus pengadilan—bertepatan di hari ia dan Fadime pindah untuk tinggal bersama—Patrik tewas dalam sebuah ke­­ celakaan mobil. Haruskah pendapat dari orang-orang yang bebal moral mengalahkan Muslim yang membela harkat manusia? “Ini gila. “kita sudah sampai di kon­ disi ketika kita khawatir membuat tersinggung mereka yang tidak peduli pada nyawa dan bahkan menemukan kenikmatan dalam mencabut nyawa dengan cara yang mengerikan. Ibu­ nya Fadime membocorkan kunjungannya ke suaminya.” 158 . Tak jarang. “ia menarik simpati di kalangan warga Swe­ dia. Orang-orang Muslim yang mencap Sara “tidak toleran” tidak yakin untuk menyelamatkan nyawa gadis-gadis itu. Berencana untuk meninggalkan Swedia. LIBERTY. Hanya setelah di­ bunuh.ALLaH. kata Sara Mohammad.” Standar ganda ini tidak terkubur bersama Fadime. Kunjungan itu ternyata untuk selama-lamanya. yang kemudian menembak putrinya tepat di kepala.” jerit seorang anggota komunitasku di Facebook. Fa­ dime mengunjungi ibu dan adik-adik perempuannya sebagai per­ pisahan. jurnalis Rana Husseini meng­­­­ ungkapkan.. pe­ nyelamat para gadis yang mengambil risiko dengan kejahatan ke­ hormatan di Swedia.

“Lain kali. diketahui terlibat beberapa hubungan di luar nikah. mana edisi revisi buatku? Jika tidak. karena Elin tidak ter­ makan emosi. Elin ada­ lah pahlawan kami.” dengus salah satu wartawan andalannya. mengakui bahwa.IRSHAD MANJi Kaum feminis berargumen bahwa patriarki bersifat global. Elin Nordegren. mengapa pria Muslim dibebaskan dari tanggung jawab? Apakah aku perlu meng­ ingatkan teman-teman feminis Swediaku bahwa mereka tidak benar-benar inklusif dengan mengecualikan Muslim dari kelompok orang dewasa? Kontradiksi ini semakin transparan ketika Tiger Woods. se­ orang kolumnis untuk Expressen. Elin!” seru Jan Helin. Aftonbladet. se­ orang pemain golf terbaik dunia. Persis. Britta Svensson. (Woods menyangkal telah dipukul dengan keras. tetapi tidak bagi gadis-gadis Arab itu? Harus­ kah kita kembali ke perbedaan yang sangat penting antara kapasitas dan keterikatan? 159 . hati. Apa­ kah buku pegangan kita sudah ditulis ulang sepenuhnya? Jika ada. Ann Söderlund. istrinya yang ke­ la­ hiran Stockholm. gadis Swedia memang tangguh.) “Ayun­ kan lagi. diduga mengayunkan tongkat golf ke ke­ pa­ la­ nya.” Mengapakah sangat sedikit feminis Swedia yang meng­ inginkan gadis-gadis imigran Arab ini memiliki kebebasan pikiran. kepala editor sebuah koran Swedia bergengsi. kuharap dia meng­ gunakan tongkat yang lebih besar. dan jiwa seperti yang mereka kagumi dari Elin? Apa­kah Elin adalah “bagian dari kami” sementara imigran Arab tidak? Apakah karena feminis Swedia meyakini kemampuan Elin untuk melawan. “Jiwa Swedia kami meluapkan kebanggaan.

seorang Muslim. ”Hal ini sangat aneh bagi saya. & LOVE Secara pribadi. Perbedaan pendapat yang paling menonjol. Dia mendesakku untuk terus bertahan. Tetapi. Di tengah ke­ sadaran terhadap pembunuhan Fadime.” Perdana Menteri Palme memimpin Partai Demokratik Sosial di Swedia. Anda mulai terdengar seperti penerus Olof Palme. Kemudian dia menulis. LIBERTY. “Saya tidak menentang Islam atau Al-Quran. lalu menambahkan bahwa Islam “bukanlah yang 160 . (Aku lebih memilih menjadi Pippi Longstocking daripada Olof Palme. itu bukanlah satu-satunya alasanku menaruh ekspektasi tinggi pada orang Swedia. Itu­ lah perbedaan yang benar. Ia ditembak mati di sebuah jalan di Stockholm pada tahun 1986.ALLaH.” begitulah si pengirim memperkenalkan diri­ nya. Aftonbladet memantau per­ de­ batan publik. Sebagai warga Swedia yang cermat. gadis ini bermain mata dengan ketakutan dipersepsikan sebagai rasis. banyak orang di segala tempat—untuk tum­ buh melampaui ortodoksi multikultural. Di antara mereka yang mengelukan adalah si gadis “biasa” yang menyamakan aku. aku meyakini kapasitas dari banyak wanita Swedia—bahkan. diketahui. Jutaan rakyat Swedia mengeluk-elukkan semangat “reformis revolusioner” Palme. begitulah ia digambarkan. Setelah tur di Stockholm di tahun 2009. tidak banyak menyangkut pribumi versus imigran melainkan nilai-nilai kemanusiaan versus tradisi patriarki. aku menerima sebuah surel dari “gadis biasa di Swedia. tapi saya terus ber­ pikir. tapi dua-duanya me­ nye­ nangkan!) Karena gadis ini bisa memahami tantangan saya.” dia meyakinkan di awal surelnya. maka banyak alasan untuk ber­ ha­ rap rekan-rekan se­ warga­ negara­ nya dapat membuka hati me­ reka untuk menerima tan­ tanganku. dengan pahlawan Swedia.

” Tetapi sebetulnya tidak demikian. asumsi budaya tentang pria ini me­ rendah­ kan kedua jenis kelamin artinya mengecilkan pertanyaan yang me­ remehkan. sebagai awalnya saja. Ketika budaya kehormatan terjalin di dalam praktik Islam. Kaum pria dianggap lemah moral sehingga mereka bisa dibebaskan untuk memilih. ini men­ jadi persoalan bagi seluruh dunia. Menurut para Islamo-tribalis. malu terletak di wanita. Me­ reka mengimbangi kekurangan pria yang mengabaikan tun­ tunan Al-Quran untuk menurunkan pandangan mata mereka di depan wanita. seorang wanita menanggung beban seluruh repu­ tasi keluarga. maka muncullah satu hal: 161 . Bisa dikatakan. atau pamannya. pria pun terlepas dari ke­ wajiban. inilah yang harusnya umat nonMuslim sadari. Ini­ lah yang perlu disadari para non-Muslim demi menghargai alasan bahwa urusan para Muslim adalah urusan mereka juga. anak laki-laki. para pria tidak akan kuat menahan diri saat memandang bagian belakang tubuh wanita. Dibandingkan saudara laki-laki. kita tahu kalau mereka tidak memiliki kemampuan mengikuti Al-Quran.IRSHAD MANJi mempengaruhi hidupku selama ini. Inilah alasan mengapa wanita harus me­ nutupi rambutnya dan terkadang seluruh tubuh mereka. Karena pengendalian diri pria yang seperti anak-anak. Pada akhirnya. Ketika norma Arab menetapkan ekspektasi yang kekanak-kanakan terhadap pria. Setidaknya. maka tergantung wanita untuk mem­ ­ batasi pilihan pria. Ini pula yang menjadi alasan wanita tidak diperkenankan memimpin shalat berjemaah. Ketika budaya kehormatan ternyata benar. demi mengenali mengapa urusan Muslim adalah urusan mereka juga. Sebagai akibatnya. Sekarang aku akan menyintesiskan bagian-bagian yang me­ ny ­ edihkan.

. trauma mereka membahayakan keamanan banyak orang. Dalam praktik Islam saat ini. Mereka menjadikan ke­ takutan terhadap liyan (Other) berdampak luas. Apa yang di­ maksud Mernissi dengan “dampak segregasi yang me­ lum­ puh­ kan” hanya bisa dimulai dengan kaum wanita. karena “bagaimana. bisa mem­ bedakan sifat maskulin jika sifat feminin diharamkan untuk diperlihatkan. Setelah terlalu lama ditekan untuk diam. & LOVE men­ talitas korban yang membolehkan pria Muslim melakukan berbagai penyalahgunaan kekuasaan. “Mengidentifikasi demokrasi sebagai 162 . lagu mereka pun mendendangkan ‘kebebasan’ dengan ’indi­ vidualitas’. celah bisu. dengan Islamo-tribalis yang membagi kemanusiaan menjadi dua kategori yang dipolitisasi: yang asing (the foreign) dan yang otentik (the authentic). maka begitu juga sosiolog Fatema Mernissi. dan Australia—konsepsi tentang pria pun bisa juga berkembang dengan baik. mulai dari keluarga mereka sampai warga di Barat. yang merancukan budaya dengan agama. Tetapi perkembangan tidak akan terjadi jika wanita dipaksa untuk bergaya sopan-denganburqa. Jika aku gila. “Ke­sopanan wanita Arab menjadi tonggak” sistem. demikian ia menulis. apakah kewanitaan itu berupa lubang hitam.. tolong beritahukanku.ALLaH. termasuk menyerang si­ apa pun yang mempermalukan identitas diri mereka yang lemah dan terpecah-pecah. Entah nyata atau imajinasi. wajah yang tidak ada ekspresi? Pertanyaan Mernissi mengantar kita pada pertanyaan me­­ ngapa ini menjadi perjuangan semua orang.” Di mana wanita Muslim memiliki ruang batin untuk bangkit—sedangkan di masyarakat terbuka seperti Ero­ pa. Amerika Utara. wanita mendapati diri mereka “tertindas oleh hukum kelompok. LIBERTY.

yaitu per­ budakan. yang merupakan salah satu bentuk kekerasan terhadap kulit hitam.” Seperti yang kita tahu.IRSHAD MANJi penyakit Barat. “Lihat kode kehormatan yang menyedihkan di Ame­ rika Serikat bagian Selatan. Dan pemerkosaan ter­ hadap budak. “Kau ingin bicara norma-norma budaya yang melemahkan harkat semua orang?” Bisa kubayangkan perbincangan ini akan memanas. Greenberg dokumentasikan dalam Honor & Slavery. hal-hal internal di Islam dapat berdampak seismik terhadap hal-hal di luar Islam. Dosa orisinal bangsa Amerika. bersumber dari kehormatan budaya lokal yang me­ lakukan penindasan demi memelihara reputasi pria kulit putih. Muslim atau non-Muslim. Aku se­pendapat denganmu. merupakan operasi strategis bernilai jutaan dolar dari hasil minyak.” seperti yang Kenneth S. dan menutupinya dengan sebutan pihak asing. Dalam dunia yang saling tergantung. strategi itu memiliki gaung secara global. Di pengadilan. Taruh itu dalam pipa hookah-mu dan hisaplah!” Tenang. kesaksian dari orang kulit hitam tidak ada nilainya—walaupun tercatat. Hukum mereka melarang kaum kulit hitam untuk melek-huruf guna “menutup sumber-sumber kontaminasi eksternal. 163 . Adalah kepentingan semua orang untuk me­ reformasi norma-norma budaya yang melemahkan harkat se­ mua orang—baik pria atau wanita. tidak terdaftar di pemerintahan sebagai tindak ke­ jahatan berat yang aktual. Kode ini memicu arogansi majikan kulit putih yang tidak hanya memperbudak wanita “dari ka­ langan mereka tetapi juga orang-orang kulit hitam.

dan kami melakukannya dengan sangat ganas sampai lima gene­ rasi mendatang dari keturunan mereka masih belum bisa me­ maafkan warga Utara. dan institusi yang menyebarkannya. & LOVE Peringatan Unni Wikan bahwa budaya mengandung nuan­ sa kekuasaan adalah sangat lantang dan jelas di sini. pemimpin. James Norcom.” Demikian tulis Tom Friedman. Dr. Ada kalanya tuannya itu mengacungkan pisau di lehernya. 164 . majikannya yang berusia lima puluh tahun.ALLaH. seorang kolumnis The New York Times di bidang urusan luar negeri. Kini.” sang tuan selalu mengikutinya ke mana saja sambil berusaha membuatnya terbujuk oleh rayuan­ nya—bahkan ketika Jacobs berjalan keluar setelah se­ harian bekerja. LIBERTY. “Dia bilang padaku bahwa aku ada­ lah miliknya. Satu cerita yang disampaikan Greenberg mewakili sekian banyak kisah lagi: Harriet Jacobs sangat mengerti hubungan antara ke­ ­ hormatan dan kekuasaan saat dia mencoba mem­ per­ ­ tahan­ kan topeng kehormatan sembari berjuang me­ lawan rayuan seksual tuannya. “Kami me­ ngalahkan gagasan-gagasan tersebut beserta individu-in­ di­ vidu.” Jacobs mengingatnya di kemudian hari. “mulai membisikkan kata-kata ko­ tor” di telinganya. “bahwa aku harus tunduk dengan keinginannya dalam semua hal. atau bersimpuh di samping pusara ibu­ nya. Ketika ia berusia lima belas tahun. kebanyakan warga Amerika bangga akan fakta bahwa elemen tersadis dari budaya Selatan mereka telah berlalu.

budaya kehormatan yang menopang hu­ bungan majikan-budak di Amerika memiliki kemiripan men­ colok dengan budaya kehormatan di komunitas Arab (dan yang di­ pengaruhi Arab). tidak jarang mendengar tuntutan mereka untuk berurusan hanya dengan petugas polisi pria. Akhirnya. meskipun saat ini jumlahnya lebih rendah dibandingkan dua puluh tahun silam. sering disebut-sebut sebagai penghambat pem­ bangunan ekonomi Arab.“ Ketika rumor beredar kalau barangnya ter­ lihat bersama pria yang bukan muhrimnya. 165 . Bahkan ketika pria Muslim melakukan tindak kejahatan di Barat. seperti Harriet Jacobs yang dianggap komoditi. Selain itu.” Darah pada selaput dara istrinya yang pecah membuktikan bahwa “‘barang’ benar-benar baru dan istri­ nya tidak akan mampu membandingkan performanya de­ ngan pria lain. para wanita yang hidup di bawah kode kehormatan tribal men­ jadi milik tuan mereka. Seorang calon suami. Semua wanita di anggap lebih rendah dari mereka. menurut Rana Husseini. Bagaimanapun. pemilik wanita itu dapat bertindak kejam bak pembeli yang menyesal. Ini adalah hal yang mendesak tidak hanya dari perspektif kontra-terorisme tetapi juga dari HAM. menganggap keperawanan sebagai “bukti ke­ pemilikan eksklusif. Dia pun bisa membunuhnya.IRSHAD MANJi dalam sebuah komentarnya tentang perlunya menumpas para pejihad kekerasan sampai ke akar-akarnya. Buta huruf di kalangan wanita dan gadis. kejahatan berbasiskehormatan terhadap wanita sering tidak terdaftar sebagai kejahatan sama sekali karena kesaksian dari wanita diragukan ke­ absahannya.

. “Tidak.” Khalid mengakui per­ buatannya terhadap saudara perempuannya.. 166 . Husseini telah mewawancarai para pria mu­ da yang berdalih bahwa perlakuan mereka yang kurang manu­ siawi terhadap wanita sebagai perintah budaya. dan ini tak akan pernah berubah. Ia dan beberapa orang temannya membentuk sebuah komite yang menuntut agar hukum pidana Yordania diubah. nama baik keluarga akan kembali pulih.” Dalam kejadian lain. sa­ at mengenang kembali. terhadap sesama warga Yordania. Namun. Hanya dengan mengorbankan Sarhan. Husseini berbicara dengan Sarhan. dan keyakinan lebih besar.” Tidak pernah? Husseini memiliki ekspektasi yang lebih tinggi. & LOVE Di Yordania. “Tak ada orang yang ingin mem­ bunuh saudara perempuannya. saat tidak lagi perawan.ALLaH. yang menembak saudara pe­ rempuannya setelah seorang saudara ipar memerkosanya. Inilah masyarakat kami. LIBERTY. inilah cara kami dibesarkan.” ia memberitahukan Hussei­ ni.” Apakah dia akan melakukannya lagi? “Aku akan membunuh saudara perempuanku dan saudara pe­ rem­ puan siapa saja yang mengalami hal yang sama. Sebagaimana Khalid dan Sarhan pun mengaku tak berdaya. ia mau mengambil pilihan lain me­ ngenai bagaimana mengendalikan properti ini: “Saya akan mengikatnya seperti domba di dalam rumah sehingga dia mati atau seseorang menikahinya. Lebih buruknya lagi. Yasmin menjadi barang yang rusak. “tetapi tradisi dan masyarakat yang memaksakan keadaan kepada kami. pelaku yang sebenarnya tidak di­ per­ lakukan seperti orang dewasa. saya tidak menyesal telah membunuh Kifaya. Inilah definisi kehormatan berat sebelah yang mengubah korban menjadi pelaku.

koki. komite Husseini mengeluarkan se­ buah pernyataan 167 .” Ketika akhirnya para politisi menyentuh isu ini. pelayan wanita.IRSHAD MANJi Di bagian pembukaan petisi. bisa tersenyum cerah. Pangeran Ali menyerukan demonstrasi ke Parlemen untuk “memprotes melawan pembunuhan atas nama kehormatan. terlepas dari seorang mantan penasihat kerajaan me­ mastikan ke Hussesini bahwa monarki Yordania tidak akan memprovokasi kaum tradisionalis yang mendominasi ke­ kua­ saan. “Tentu. “Apa yang bisa kita lakukan? Konsep kehormatan keluarga telah tertanam secara sosial dalam masyarakat kita. mereka melakukan pemungutan suara dengan sangat cepat sampai Husseini “hampir melewatkannya. Hussesini pun mendekati satu per satu pelang­ gan di restoran—“audiens yang tak punya pilihan!”—yang sering “menandatangani dengan senang hati.” Ia dengan rasa sesal me­ laporkan. tukang pembersih dan ma­ najer. Jr.” Martin Luther King. “Undang-Undang ini ditolak tanpa mem­ per­ hitung­ kan perolehan suara. Dua hari kemudian. Komite dari Husseini mendapat kabar dari para guru pria yang ingin mengetahui apakah para siswa mereka menandatangani petisi tersebut.” Begitu juga “pe­ layan pria.” Bahkan seorang pemulung juga andil dalam aksi itu.” Sekali lagi. mereka menggambarkan diri mereka sebagai “individu bebas” yang digerakkan oleh “satu isu bersama”: masyarakat yang “mematuhi Konstitusi yang me­­ mastikan kesetaraan hak dan kewajiban semua orang di ha­ dapan hukum.” Sesuatu yang jauh berbeda datang menteri kabinet Yordania yang pernah mengeluh kepada Husseini.” Husseini mengenang kata si pemulung. Tapi jangan putus asa dulu. saya akan tanda tangani. karena kejahatan berdasarkan kehormatan “ber­ tentangan dengan agama kami.

ALLaH. dia pun pantas dihargai atas program yang didanai-Inggris untuk melatih para hakim. “Mereka semua me­ masuki gedung Parlemen lewat pintu belakang pada hari itu. polisi. & LOVE pers yang mendesak bahwa “setiap orang me­ miliki hak indi­ vidual…” Hukum pidana Yordania tetap tidak berubah. semua pelaku me­ ­ 168 .” Sekarang. dan bahkan ulama untuk lebih peduli dengan kejahatan terhadap wanita. “para hakim dan jaksa penuntut umum ingin sekali saya mengetahui keputusan-keputusan keras yang pernah mereka lihat. jaksa penuntut. peradilan menolak argumen yang marah-marah tanpa kendali. Mereka tidak bisa diselamatkan. meskipun upaya komite ini telah menghasilkan dua UU baru. sungguh keajaiban kecil mengingat tidak seorang pun anggota Parlemen wanita hadir dalam sidang pengusulan isu ini. dokter. karyawan sosial.” Tersingkap pula—untuk lebih baiknya lagi—evolusi baru: prasangka yu­ disial terlihat makin melemah di Yordania. hakim tersebut memberitahu Husseini bahwa “pembunuhan ini merupakan produk dari budaya kita. men­ dapatkan hakim yang bersikap lunak kepadanya. Sarhan. Husseini yakin.” Selain segunung pujian perlu diberikan atas keberanian moral pada kampanye Husseini. Dengan meng­ hapus dugaan individu telah merencanakan tindak kejahatan sebelumnya. Namun demikian. tulisnya mengesankan kelegaan. Menurut Husseini. LIBERTY. Salah satu­ nya melonggarkan peraturan untuk wanita Yordania yang me­ nuntut cerai. penyidik. Upaya ini. yang telah membunuh Yasmin yang telah diperkosa. [Dalam] kebanyakan kasus. terbayar lewat “kasus bersejarah” yang melibatkan dua saudara perempuan yang dipotong-po­ tong oleh saudara laki-laki mereka dengan kapak.

Campur tangan asing— istilah sindiran yang digunakan sebagian orang saat ini—mem­ percepat usaha-usaha di dalam negeri. para demonstran hak sipil saling bergandeng tangan dengan umat Kristen. mi­ salnya. seorang perajin tembikar dan aktivis antiperbudakan berkebangsaan Inggris. tidak dapat mengikuti perjalanan Desember 1955—yang menjadi tonggak sejarah bagi 169 . mengirimi Benjamin Franklin beberapa medali yang bergambar seorang Afrika se­ dang duduk berlutut. Seabad kemudian. Entah kita sedang membicarakan anggota gerakan penghapusan perbudakan atau individu-individu di Kanada dan Amerika Serikat bagian Utara yang me­ nolong membebaskan budakbudak melalui Jalan Kereta Api Bawah Tanah. “Apakah Aku Bukan Seorang Manusia dan Saudara?” Pesan dari Inggris Raya itu akan meng­ gemparkan gerakan anti­ per­ budakan di Amerika. Seperti di Yordania. agnostik. Pada tahun 1788. Yahudi. dan ateis dari berbagai lapisan masyarakat. seorang tukang jahit berkulit hitam yang tidak mau memberikan tempat duduknya di bus kepada seorang pria kulit putih. para putra-putri yang-bukan-dari-Selatan ini berhasil menghancurkan bangun­ an yang seakan mustahil untuk diruntuhkan. saat sisa-sisa diskriminasi perbudakan harus ditangani. kehormatan tribal di Amerika Serikat ba­ gian Selatan tidak terkikis dalam tempo singkat. Rosa Parks.IRSHAD MANJi nerima vonis hukuman lebih lama dari yang diperkirakan war­ ga Yordania sepuluh tahun yang lalu. dan ber­ tanya kepada sesama manusia. Josiah Wedgwood. tetapi juga tidak dibiarkan ambruk dengan sendirinya. tangan dan kaki dibelenggu.

se­ orang mahasiswa teologi asal Tennessee. Dengan kebebasan yang diberikan polisi se­ tempat. hingga semakin cepat semua penumpang terbakar menjadi abu.ALLaH. Hampir tidak bisa lolos. yang menunjukkan ke­ beranian moral untuk turut campur tangan. Ditelantarkan oleh mobil ambulans. segerombolan massa mengepung bus itu. Kennedy untuk bergabung dengan Freedom Riders. tim pertama Freedom Riders kemu­ dian digantikan oleh tim kedua—kali ini diserang oleh anggota Ku Klux Klan. & LOVE penegakan harkat manusia—tidak perlu dilatih terlebih dahulu dalam aktivisme sosial oleh masyarakat kulit putih dan kulit hitam. menyayat ban. sebuah perjalanan dengan bus yang me­ lewati kubu pengusung pemisahan ras di Deep South (Bagian paling Selatan di Amerika Serikat—penj. tujuh relawan ku­ lit hitam dan enam relawan kulit putih duduk bersama da­ lam Freedom Ride. Di antara mereka: seorang pejabat Departemen Kehakiman yang dikirim oleh Jaksa Agung Robert F. para anggota Klan ini memisahkan relawan kulit pu­ tih untuk menerima pemukulan yang lebih kejam. Meski banyak UU yang telah diluluskan sebelum dan se­ telah aksinya yang terkenal itu. Bulan Mei 1961. dan pialang Wall Street.) Beberapa di antara relawan ini adalah seorang anggota Serikat Michigan. seorang kapten Ang­ katan Laut. mereka yang sudah ber­ simbah darah akhirnya dibawa ke rumah sakit oleh ma­ syarakat kulit hitam setempat. LIBERTY. Tidak lama kemudian. mem­ bakar bus tersebut. Tanpa “campur tangan” 170 . supremasi hukumnya ma­ sih ketinggalan. Sehingga warga Utara dan Selatan pun ha­ rus berkolaborasi kembali. kemudian menutup pintu bus rapat-rapat.

Seorang pria tua Yahudi menceritakan ke­ padaku tentang pertemuannya dengan Rustin. mengumandangkan mimpi-mimpinya. Jr. juga menjelaskan kenapa para Yahudi sering bisa diandalkan untuk menyumbang lebih banyak dari siapa pun. dan dikenal sebagai Perjalanan Perdamaian (Journey of Reconciliation). Freedom Rides bermula dari suatu perjalanan bus di tahun 1947 yang dipimpin oleh dedengkot hak sipil Bayard Rustin. walaupun di saat mereka tidak punya banyak yang bisa diberi. bagi banyak orang. tetap menjadi alasan bagi mereka berempati dan turut ambil bagian dalam aksi. Se­ sungguh­ nya.IRSHAD MANJi ini—gerakan orang-orang di tempat yang tidak meng­ ingin­ kan mereka—tak akan ada rekonsiliasi. yang ke­ mu­ dian menjadi ketua penyelenggara March on Washington (De­ monstrasi di Washington—penj. Sekarang ini. Perbudakan Yahudi di zaman dahulu. Sepanjang perjalanan yang sulit untuk mencapai re­ kon­ silia­ si ini. Rustin telah mendatangi pria tersebut untuk dukungan dana. Se­ orang aktivis Iran mempertanyakan “bagaimana mo­ ral suatu masyarakat yang memperlakukan satu jenis kelamin seperti majikan dan satunya lagi sebagai kumpulan hamba sahaya yang hanya sedikit atau tanpa hak?” Pertanyaannya itu merujuk ke halaman sebuah buku tentang Iranian Women’s One Million Signatures Campaign for Equality (Kampanye Sejuta 171 . para wanita di Iran memperjuangkan ke­ setaraan mereka dengan menggunakan pelajaran-pelajaran yang di­ petik dari gerakan antiperbudakan di Amerika dan Inggris.) pada tahun 1963 ketika Martin Luther King. kaum kulit putih telah memberikan dukungan fi­ nansial yang serius.

Polisi. tanda tangan menjadi hal yang penting yang tidak bisa ditawar oleh para politisi degil.” ungkap Kwame Antony Appiah dalam The Honor Code: How Moral Revolutions Happen (Kode Kehormatan: Bagaimana Re­ volusi Moral Terjadi). Di Amerika. “Apa yang sesungguhnya berhasil” mengakhiri peran Inggris dalam perdagangan-budak lintas atlantik “adalah kampanye petisi nasional ke Parlemen. Dari Amerika sampai dunia Arab. semoga Tuhan mencurahkan rahmatnya ke­ pada mereka. LIBERTY. Bahkan di Barat. Seiring waktu. dari Iran sampai India. menanggung beban yang aneh di zaman multi­ kultural ini.ALLaH. perbudakan semakin dilihat seba­ gai musuh kebebasan semua orang. Jika petisi kedengarannya seperti pendekatan yang kurang garang menuju perubahan undang-undang. Mereka harus menegakkan ketertiban. maka ingatlah se­­ jarah pembebasan perbudakan. Rana Husseini secara tersurat men­ du­ kung “hak-hak individu” sebagai pendorong. & LOVE Tanda Tangan Wanita Iran Untuk Kesetaraan). Polisi Inggris mulai membuka kembali kasus-kasus pembunuhan yang se­ lama ini telah dipahami sebagai pembunuhan atas nama “ke­ hormatan”. re­ formasi budaya atas nama “kehormatan” membutuhkan pe­ ran serta semua pihak. yang justru mendorong lebih banyak petisi selama ber­ ­ tahun-tahun. tetapi di sekeliling mereka seperti di masjid. Kampanye Sejuta Tanda Tangan Wanita Iran memiliki latar belakang yang universal. Ada satu masa ketika Kongres melarang petisi antiperbudakan. hak individu harus diperlakukan lebih serius. penegakan ketertiban bisa menjadi suara massal untuk memantapkan kekuatan para 172 . yang mendidik para wanita sambil mengumpulkan tandan tangan mereka. Tindakan itu menginjak-injak kebebasan berbicara bagi kulit putih.

Saya ke sini hanya untuk melaksanakan tugas saya. yang dihubungi oleh pegawai masjid. “Pikirkan pendudukan demonstran. Gereja atau kuil. Dalam “satu kejadian yang hampir mirip dengan penolakan Rosa Parks untuk memberikan tempat duduknya. Konflik ter­ sebut 173 .C. Nomani mencoba membantu Petugas Goodwin. Pada bulan Februari 2010. Nomani me­ nulis tentang pemberontakan melawan segregasi gender di Islamic Center. Petugas itu berja­ lan keluar untuk meminta bantuan. kalian harus pergi.” empat wanita Muslim menunaikan shalat di bagian untuk pria di masjid. Kalian harus mematuhi peraturannya… Jika mereka me­ minta kalian pergi. “Ibu-ibu. 1960-an. D. yang me­­ ­ rupakan keturunan Afrika-Amerika. menemui para demonstran tersebut: Petugas polisi Barry Goodwin akhirnya tiba dan dengan canggung berjalan ke arah barisan wanita itu…”Saya bukan Muslim.” jelasnya dengan sopan. Polisi D. memang begini­lah peraturannya. dia tidak mengakuinya. Mereka seharusnya mendengarkan para Muslim kontrabudaya seperti Asra Nomani. Apapun se­ butannya. Keamanan masyarakat akan terancam ketika polisi tetap netral. Seandainya pun ia menghargai pelajaran sejarah dari saya ini.C. petugas itu menjelaskan. supaya memahami situa­ sinya.IRSHAD MANJi Islamo-tribalis. ini akan menjadi alasan pe­ nangkapan karena masuk tanpa izin. Washington.” saya bi­ lang. Anda sekalian harus mengikuti aturan Gereja ini… Maaf.” Bila tidak mau pergi.

seorang ulama garis ke­ ras dari Saudi mengeluarkan fatwa berbahasa Arab di situs webnya. Nomani menanamkan jejaknya dengan jelas—tidak diragukan lagi. kenyataan ini tidak berarti menggambarkan warga Amerika non-Muslim bersih tanpa cela.. Satu pilihan saja menjadi pertanda. Bukan kebetulan. yang ber­ pakaian minim. Tak lama setelah laporan Nomani. Sewaktu diperkosa. LIBERTY.. aku membaca di koran tentang pamflet bermuatan Injil yang tersebar di sekitar Bristol. “Minggu ini. diri [dan] kekerasan” secara umum. Vir­ ginia. Nomani menambahkan. dapatkah wanita itu “sungguh-sungguh mengatakan kalau mereka adalah korban yang tidak bersalah?” 174 .” Tapi.” Pertanda praktik yang membolehkan “pembunuhan kehormatan. pe­ nge­ boman bunuh.ALLaH.S. & LOVE meningkat ketika petugas polisi R.” Ter­ nyata pria Kristen pun tidak bisa mengendalikan berahi mereka. Apakah masjid yang me­ misahkan wanita dari pria “merupakan satu indikasi tafsiran Islam yang dipraktikkan berunsurkan fanatisme dan dogmatis. yang menyerukan pembunuhan para Muslim yang tidak melaksanakan pemisahan jenis kelamin secara ketat. karena selalu membayangkan pu­ tra kecilnya. Bayangan kehormatan patriarkal juga menerpa kehidupan umat Kristen di AS. atau terbuka dan inklu­ sif. “membuat kaum pria ingin berbuat dosa. Agar jangan sampai ada orang yang mengabaikan hu­ bungan antara aksi pendudukan di masjid dan keamanan anak-anak mereka di masa depan. demikian pertanyaan di pamflet ini. Pamflet ini berargumen bahwa kaum wanita. Lowery meng­ ancam akan menangkap para wanita ini jika mereka menolak pergi.

” Aku hidup un­ tuk tercapainya masa ketika lebih banyak Muslim bersedia men­ deklarasikan—dengan keyakinan teguh—bahwa “umat yang sejati adalah yang mencintai Tuhannya dengan mengkritik dan tidak memaafkan dosa-dosa adat.IRSHAD MANJi Aku merenungkan mengapa semua fitnah yang sudah basi tentang keberahian wanita dan kekanak-kanakan pria bisa di­ anggap sebuah berita. menurutku. Secara akurat.” Sebelum masa itu terjadi. warga India seperti Akbar Ladak. seorang budak pelarian se­ kaligus tuan bagi dirinya sendiri semasa abad ke-19. Sebagai agen keberanian moral. Warga Arab seperti Rana Husseini. Kita akan memiliki para mahasiswa Muslim di Harvard dan 175 . individu-individu ini dapat menarik pelajaran dari Frederick Douglass. artikel itu menggambarkan isi pamflet sebagai contoh salah satu rumor Kristen yang “luar biasa ekstrem”. “Seorang patriot adalah yang mencintai negaranya dengan mengkritik dan tidak memaafkan dosa-dosa (negaranya). Bahkan kotak surelku dibanjiri oleh pesanpesan dari pria (dan beberapa wanita) Muslim moderat yang me­ yakini pandangan di pamflet itu. dan warga Eropa seperti Sara Mohammad menawarkan harapan agar kehormatan hendaklah didasari oleh nurani pribadi se­ seorang daripada konsensus kelompok yang tirani. Artikel itu. kehormatan pasti akan dikaji ulang. warga Amerika se­ perti Asra Nomani. Ketika pembelaan wanitayang-menyebabkan-pria-melakukannya menjadi “luar biasa eks­ trem” di kalangan Muslim. kita akan tetap memiliki anakanak muda Muslim di Detroit yang ciut dengan gagasan untuk meng­ ekspresikan patriotisme spiritual mereka ala Douglass. telah menjawab per­ tanyaanku.

& LOVE MIT yang menghapus nama mereka saat menentang seorang imam yang senang melihat pembunuhan pada orang-orang yang beralih dari Islam. Tindakan subversif—membeli buku secara diam-diam—adalah pernyataan bahwa ke­ hor­ matan­ nya adalah jelas: miliknya. dan pen­ deritaan mereka bertambah oleh tindakan para pekerja ke­ sejahteraan sosial yang dianggap mulia. Siapa yang siap bertindak dan tahu bagaimana. Itu pula yang terjadi pada umat non-Muslim yang akan bertanya terang-terangan seandainya tidak takut dianggap “an­ ti-Islam. sesuatu yang mendorong kita semua me­ lakukan apa yang benar meskipun dihakimi oleh mereka yang keliru mengartikan perasaan dengan pemikiran. Umat Muslim ini mungkin kelihatannya hidup dalam kebebasan.” Sungguh simbiosis yang mematikan. yang telah mencekokinya dengan tuduhan-tuduhan. Haroun yang sadar diri memerlukan dukungan komunitas yang lebih luas. Kita akan mengalami peningkatan jumlah wanita Muslim di Barat yang kabur dari rumah. Karena tinggal di Inggris. Haroun men­ dam­ bakan kemandirian. ia dengan mu­ dah menunjuk hantu rasisme sebagai penyebab ia di­ perma­ lukan. ia “sangat marah” pada keluarganya.ALLaH. Ini­ lah waktunya memberikan teladan yang konkret tentang ba­ gaimana kita bisa membantu para pemuda Muslim dalam pen­ carian untuk mendamaikan iman dan kebebasan. Sebaliknya. Individualitas merupakan esensi dari kehormatan yang di­ definisikan kembali. 176 . LIBERTY. Haroun. tetapi kehor­ matan tribal sangat sering menindas diri mereka yang sesung­ guhnya. adalah penting. Aku teringat sepupuku. Untuk terus maju.

Pasti rasanya me­ nyakit­ kan bagi Khan lantaran direndahkan di masjid milik ke­ luarganya. dia dapat mempelajari teologi dan membalikkan imam-imam arus utama yang tradisi feodalnya mengandung pe­ ringatan: laksanakan sesuai yang diperintahkan. para Islamis ini berkata benar. aku sudah bicara dengan sejumlah pria Muslim yang mengenal Mohammad Sidique Khan. yaitu figur otoritas ke­ agamaan tradisional.IRSHAD MANJi Sejak pengeboman di London tahun 2005. Para Mullah ini membenci ulama-ulama “tak tersentuh” yang menjadi acuan orangtua mereka. sang pemimpin jaringan berusia 29 tahun. tetapi di­ larang oleh orangtua dan pir mereka. Mereka meyakinkan Khan bahwa keluarganya sudah merusak Islam dengan menghalangi pernikahannya ha­ nya karena calon pengantin perempuan tidak diterima secara budaya. Khan yang diperlakukan seperti anak kecil tidak sesuai dengan fakta bahwa ia dan teman-temannya telah mengambil inisiatif untuk memberantas kecanduan narkoba dan kejahatan di dalam ling­ kungan mereka. Kaum Islamis—Muslim yang menafsirkan Islam sebagai suatu ideologi politis—berhasil merangkul ke­ sedihan Khan. Untuk yang satu ini. Mereka pun menarik Khan yang dimabuk cinta ke masjid 177 . Di situ. mereka menceritakan kepadaku bahwa Khan me­ ninggalkan masjid moderat keluarganya demi suatu orga­ nisasi yang didanai oleh Saudi di kemudian hari. Para ulama ini memiliki ke­ cenderungan tribal yang menyepelekan pemikiran Khan dan nyaris menghancurkan hatinya. Mereka men­ juluki diri mereka sebagai Pemuda Mullah (Mullah Boys). Se­ cara terpisah. yang diminta orangtuanya untuk mem­ bujuk putra mereka. Ia pun sangat berhasrat menikahi seorang Muslim India yang berasal dari luar komunitas kesukuan Pakistan.

Palestina. “Abdul Siapa?” Abdul. Apa yang dilaku­ kan Ghaffar Khan adalah membentuk laskar Tuhan (army of God) yang melakukan pelayanan masyarakat dan memerangi imperialisme tanpa kekerasan. Mereka yang putus asa karena 178 . seperti juga yang dirasakan oleh pelaku kampanye antiperang. seorang jurnalis investigasi. Ghaffar. Inilah konflik antara tradisi dan individualitas. Kashmir. Dia juga dikenal sebagai Badshah—“Sang Raja”—ha­ nya saja dia tidak mengenakan atribut kerajaan. tribalisme dan universalisme. tetapi bukan itu alasan ia me­ mimpin sekelompok kecil pemuda untuk membunuh diri mereka sendiri dan 52 orang pemakai kereta di London. Inti dari kejadian ini adalah konflik yang ber­ langsung antara generasi Pakistan Inggris yang pertama dan generasi berikutnya—dengan banyak pemuda yang meng­ gunakan Islamisme sebagai teologi pembebasan demi menegaskan hak mereka dalam memilih cara hidup. budaya dan agama. Shiv Malik. Khan mungkin akan bertanya. Khan. lalu menghujaninya dengan lebih banyak alasan ka­ rena merasa terhina: Iraq. membedah radi­ kalisasi Khan. & LOVE mereka.ALLaH. Seandainya Mohammad Sidique Khan bertemu dengan Abdul Ghaffar Khan sebelum bergabung bersama para Islamis. Chechnya. ke­ pasifan dan aksi. Afganistan. Malik menyimpulkan: Khan mungkin merasa gusar dengan kebijakan luar negeri Barat. LIBERTY.

Dan selama beberapa lama. maka kalian akan menyemai kehormatan yang memuliakan setiap individu. Ghaffar Khan “mendorong mereka untuk keluar dari balik ke­ rudung mereka. mungkin sudah mengalami ba­ nyak perbedaan. me­ naf­ sir ulang kehormatan dan Islam.IRSHAD MANJi tidak bisa mendefinisikan kehormatan untuk diri sendiri. dia adalah bagian pertanyaan yang sudah lama muncul. begitulah keyakinan Pathan. “Salah satu ke­ khawatiran­ nya adalah peran wanita. Daerah ini. yang disebut Pathan. termasuk wanita. seperti yang dilakukan oleh para wanita dalam keluar­ ganya. memang demi­ kian. suatu daerah yang sekarang ini dihuni banyak Taliban. bukan me­ nak­ lukkan Orang Lain. “Di mana Ghandi dalam Islam?” Abdul Ghaffar Khan adalah seorang reformis Muslim abad ke-20. Ia merupakan putra seorang tuan tanah golongan me­ nengah dan tinggal di wilayah yang saat ini dikenali sebagai North West Frontier Province of Pakistan (Provinsi Perbatasan Barat Laut Pakistan). Di tahun-tahun mendekati kemerdekaan India di tahun 1947. Mereka menunjukkan bah­ wa kebebasan datang dari mendisiplinkan diri. berbicara pada kerumunan orang sekaligus men­ 179 .” demikian dipaparkan oleh penulis biografi dan pendidik perdamaian Eknath Easwaran. tetapi untuk tujuan kita. Gerakan Ghaffar Khan melangkah menuju ke tradisi pe­ mi­ sahan golongan yang siap meledak. ribuan warga daerah Khan. Hapuskan ketakutan di dalam diri kita dan komunitas kita.” Saudara perempuan Khan sering ikut tur di Frontier bersamanya. maka harus mendengarkan kisah seorang pria Muslim beriman yang bertubuh tinggi dan tegap ini. Pria ini pantas dipuji atas usahanya sendiri.

Saat ini kita menjadi pengikut adat dan kita me­­ nin­ das kalian semua. Jika kalian mempelajari se­ jarah.. “Saudari-saudariku.” dia menegaskan. LIBERTY. O Pathan.” Ghaffar Khan berkata dalam sebuah pertemuan besar: Tuhan tidak membedakan antara pria dan wanita. sesungguhnya adalah sama. ketika kalian menuntut kebebasan. Da­ lam sebuah edisi. Khan menguasai Al-Quran dan memilih untuk me­mublikasikan ayatayat yang jarang dikutip.. itu hanyalah me­ lalui perbuatan baik dan moral. Ia pun mendirikan sebuah sekolah untuk perempuan dan menerbitkan sebuah jurnal. Namun syukurlah..ALLaH. Frontier me­ ru­ 180 . & LOVE dengarkan orasi yang berapi-api dari adik laki-lakinya itu. kita telah menya­ dari bahwa untung dan ruginya kita. Jika se­ seorang mengungguli yang lainnya. “wanita tidak memiliki musuh. “Jika bukan karena pria Pathan. seorang kontributor bernama Nagiria men­ ­ ceritakan berdasarkan pengamatannya. Kita me­ lakukan kesalahan buruk apabila merendahkan wa­ nita. Pria Pathan memang pandai tetapi senang menekan wanita. Ayat-ayat yang menetapkan tanggung jawab yang sama pada pria dan wanita. Menjadi bagian dari India Utara. Ghaffar Khan tidak membatasi usaha pemberdayaannya sampai pada ucapannya saja. kalian akan menemukan banyak sekali para ilmuwan dan penyair di kalangan wanita. mengapa kalian mengabaikannya untuk wanita?” Pria dan wanita sama-sama menuntut kebebasan dari pi­ hak Inggris.. Pushtun. yang mempersoalkan praktik-praktik berbalut kehormatan. maju dan mun­ durnya kita.

000 orang menjadi “Khudai Khidmatgars” atau Pelayan Tuhan. meminjam istilah Bondurant. Pelayan Tuhan ini mengusung persatuan Muslim-Hindu me­ lalui keberanian moral. seorang pakar tentang Gandhi.IRSHAD MANJi pa­ kan daerah kolonial seperti juga anak benua lainnya. Gandhi memandang mereka sebagai contoh dari visi tanpa-kekerasan sampai-sampai ia berdoa supaya “Pathan Frontier tidak hanya membebaskan India. persekutuan antara Ghaffar Khan dan Gandhi yang pas dengan Islam kontra-budaya me­ mastikan wanita Muslim dapat menjadi pemain utama. Ghaffar Khan memiliki ekspektasi 181 . walaupun Pathan mendapat fitnahan dari sesama Muslim yang menuntut negara terpisah—Pakistan—dan menerima perlakuan brutal dari Inggris. yang menganggap Pathan tidak mampu mengatasi pertikaian internal mereka. “Para wanita Pathan yang berpartisipasi dalam kampanye aksi tanpa kekerasan kerap menunjukkan pendirian mereka dengan meng­ hadapi langsung polisi atau berbaring dalam satu barisan sambil memegang Al-Quran.” Apa yang dilakukan para pria Pathan yang bangga itu? Sekitar 100. Ketika perjuangan ke­ bebasan India semakin memuncak. imbalan­ nya adalah bersama Tuhan. tetapi juga dapat mengajarkan dunia…” Inilah yang diharapkan. Joan V. dan mungkin lebih dari itu: Inggris memanfaatkan Provinsi Pathan sebagai benteng untuk mencegah masuk pengaruh imperialis Rusia yang berada tidak jauh dari sana.” demikian yang dipelajari para pejuang ini. Bondurant. Walaupun “Islamnya kental”. mengungkapkan. “Dia yang memaafkan dan berdamai. Ghaffar Khan merekrut mereka sebagai tentara tanpa seragam yang akan menggantikan pertempuran berdarah dengan cara-cara damai untuk mencapai kemerdekaan India.

membe­ rikan pencerahan. mengangkat. membesarkan anaknya. Setelah melakukan introspeksi— berpuasa selama beberapa hari di masjid-masjid.” Kesadaran-diri­ 182 . Ia mencontohkan kode kehormatan yang mengadu domba antarkeluarga. yang menurut orang lain adalah halusinasi. menggiling jagung di dalam penjara kolonial—ia menghabiskan banyak waktu untuk belajar mene­ rima sebuah misi yang tidak bisa ia jelaskan dari mana asalnya. sifat ini bisa menuntun mereka ke jalan menuju cinta Allah dan kebebasan mereka sendiri. Khan mendeteksi adanya keteguhan di dalam diri orang-orang Pa­ than. Bahkan sebelum beliau mengenal Gandhi. me­ manen ladang di Swat Valley. tetapi bu­ daya Pathan menunjukkan “kelemahan” yang lebih buruk. yang membantunya melihat segala kemungkinan. LIBERTY. Ghaffar Khan menyelami langsung ke dalam pengalaman itu dengan berusaha mengenali dirinya sendiri. “Bisakah kita menyebut diri kita ciptaan ter­ unggul apabila kita hanya berbuat yang itu-itu saja dan tidak lebih?” Walaupun Inggris boleh jadi berorientasi pada uang semata. demikian Ghaffar Khan menyerang. dengan perseteruan ini. menemukan pa­ sangan. Namun demikian. Jika diarahkan ulang. Pastinya. & LOVE lebih tinggi dan keyakinan lebih dalam. ini sudah menaburkan ketakutan di setiap generasi karena penghinaan di masa lalu yang masih harus dibalas. “eksperimen” Khan akan penuh dengan luapan amarah dan hampir mendekati pemberontakan terbuka.ALLaH.” ia menyulut warga lokal di suatu pertemuan. antarklan. pemuda Pathan ini sudah menyadari misi pribadinya: “Untuk mendidik. mengilhami. “He­ wan mana pun bisa mencari tempat tinggal. dan serta-merta Tuhan yang menciptakannya.

ia merasakan sudah waktunya muncul introspek­ si secara kolektif di wilayah Frontier. tanpa mundur.IRSHAD MANJi nya juga mencegah semangatnya berbelok ketika ia menghadapi perlawanan dari semua pihak. Dengan gagasan-gagasan Mahatma yang menginspirasi India dan membenarkan per­ juangannya. apalagi reformasi diri. pemenjaraan dan peng­ gantungan. gagal menjadi 183 . yaitu persatuan Muslim-Hindu. ia berkata. Tidak satu pihak yang berkepentingan menginginkan rakyat Pathan jelata melakukan reformasi sosial.” Dan itu semua menciptakan perasaan yang sangat indah sampai Ghaffar Khan dan Mahatma Gandhi menyaksikan im­ pian mereka. sehingga mem­ benarkan lebih banyak pemukulan. Hanya saja kemudian embusan Gandhi menjadi angin di balik punggung Ghaffar Khan. Para Mullah marah tak terkendali terhadap serangan asing—selalu bagus untuk sedekah—dan kemudian berkolusi dengan British Raj (Penguasa Inggris untuk wilayah India—penj. “Apa lagi yang memerlukan keberanian lebih selain menghadapi musuh demi kebenaran tanpa menggunakan senjata. Nah. kaum Pathan sudah memiliki daya itu! Yang mereka butuh­ kan hanyalah pemahaman”—tepatnya. Inggris dapat me­ manfaatkan setiap sumber daya kerajaan untuk menghasut bangsa Pathan yang memang sudah bergejolak.) Para tuan tanah yang kaya menghalau gagasan kebangkitan petani. pemahaman me­ ngenai kapasitas in­ di­ vidu untuk mengimajinasikan kembali ke­ hormatan mereka. “Suatu bangsa yang tidak berdaya untuk berjuang”. tidak bisa mem­ buktikan kebajikan dari tidak berperang. atau serangan balasan? Itulah kehormatan paling luhur. Easwaran mengajak ki­ ta menyelami pemikiran Ghaffar Khan.

Pemisahan wilayah di bulan Agustus 1947 menjadi pertanda akan terjadinya lebih banyak pembantaian warga— dan kabar yang paling buruk dari semuanya: Bulan Januari 1948. negara bagian bagi warga Muslim. & LOVE kenyataan.ALLaH. hi­ dup Khan dipenuhi serangkaian vonis pidana. menghancurkan markas mereka. “Saya telah menganggap diri saya bagian dari kalian dan kalian bagian dari saya. Ghaffar Khan wa­ fat pada bulan Januari 1988 di Peshawar. Pakistan. negara dengan mayoritas umat Hindu. Ghaffar Khan kehilangan saudara seper­ juangan yang tewas di tangan seorang nasionalis Hindu yang menuduh Mahatma terlalu pro-Muslim. Gandhi dibunuh. India. “Saya telah datang untuk melihat sendiri. Selama empat dekade berikut­ nya. Sebaliknya. memenjarakan seribu anggo­ tanya. LIBERTY. 184 . tapi sempat mengumum­ kan puasanya yang terakhir demi menghentikan ke­ kerasan Muslim-Hindu. Ketika ber­ usia sembilan puluh lima tahun. apakah saya bisa bermanfaat. Pakistan kemudian melarang kelompok Pelayan Tuhan. Ketaatannya yang seteguh karang ke­ pada Allah menegaskan bahwa Islam. dapat merangkul kebebasan sekaligus HAM.” jelas beliau di hadapan warga tempat kelahirannya.” Kuharap Ghaffar Khan menyadari betapa bermanfaatnya dia satu hari nanti bagi umat Muslim dan non-Muslim yang men­ cintai kebebasan. ia memprotes hukum darurat perang di Pakistan dan ditangkap kembali. Ghaffar Khan menimbulkan kemurkaan dari Muslim karena bersikap terlalu pro-Hindu. akan memisahkan diri dari India. tanpa menyertakan ke­ hormatan tribal. menangkap Ghaffar Khan atas tuduhan peng­ hasutan dan memenjarakannya.

Mereka tidak akan 185 . Annie Besant. Ada saudara-saudara kandung­­­ nya. kepala sekolah dari Ghaffar Khan. termasuk kakak laki-lakinya.IRSHAD MANJi Bagiku. yang secara terbuka men­ dukung kampanyenya untuk reformasi budaya. warisan Ghaffar Khan yang berhenti di tengah jalan menawarkan tantangan. Selain mereka semua. yang mem­­ buat Khan muda terkesan karena pendeta ini lebih banyak men­­ curahkan dirinya demi keunggulan anak-anak Pathan di­ ban­ ding­ kan orangtua mereka sendiri. yang paling utama adalah sang ayah. keberanian moral Ghaffar Khan tumbuh su­ bur melalui dukungan dari orang lain. me­ nerjemahkan kitab suci masingmasing demi menciptakan sebuah bangsa yang berevolusi dan pluralistik. dan Muslim yang. tanpa memedulikan ocehan Mullah bahwa “mereka yang belajar di sekolah hanya akan menjadi mesin uang. berdiri tegak menentang kebiadaban pemerintahnya dan bersuara demi peri-kemanusiaan kaum Pathan. juga dipenjara bersama Ghaffar Khan. seorang wanita Inggris yang menetap di India. Kita semua harus melanjutkannya— dan kita bisa melakukannya dengan menjadi bagian dari ko­ munitasnya yang terkenal. Ada pula Pendeta Wigram. Kristiani. yang mengirimkan anaknya untuk me­ ngenyam pendidikan yang dikelola Inggris di Peshawar. Hidupnya menjadi bukti bahwa di balik setiap pengusung keberanian moral terdapat seseorang yang belum kita kenal sebelumnya. Kemampuan Gandhi mem­ pertahankan keharmonisan Muslim-Hindu tentunya didukung oleh keakrabannya dengan Ghaffar Khan. Begitu juga. yang membantu me­ nyokong keberanian moral Mahatma. Ada be­ berapa pe­ mimpin kemerdekaan India yang berasal dari ka­ langan Hindu. Behram Khan.

apakah ayah akan menyarankan agar saya me­ ngikuti mereka?” “Demi Tuhan. Agar seseorang dapat me­ ninggalkan warisan yang bisa dilanjutkan oleh generasi baru.” Sir John Maffey. jangan!” orangtua itu kaget. ia “memilih untuk memaafkan daripada mem­ balas dendam—suatu keputusan yang pastinya sangat mem­ pengaruhi karakter dan karir putra bungsunya. hubungan ini menunjukkan bahwa ke­ beranian moral tidak harus berupa tindakan seseorang yang be­ kerja berat sendirian. Easwaran menuliskan. “jika orang lain berhenti melakukan lemundz (doa harian).” Bukan berarti Behram Khan mengundang mereka ke neraka. LIBERTY. suatu penghormatan halus atas keberanian ayah­ nya menghantar anak-anaknya ke sekolah non-tradisional.. “Lemundz adalah tugas suci.ALLaH. Bersediakah Anda memohon kepada anak Anda untuk menghentikan kegiatan ini semua? Bilang padanya agar diam saja di rumah seperti yang lainnya. sekarang. “Saya perhatikan. seorang pejabat Inggris. Malah.” Secara terus-menerus. “Ayah.” katanya dengan nada menyelidik. dan sesudahnya. 186 . “bahwa anak Anda mengelilingi desa-desa dan membuka sekolah-sekolah. perlu dibangun jejaring manusia—sebelum.” Behram Khan pun menemui anaknya. indi­ vidualitas melibatkan banyak pihak. pernah memanggil Behram Khan ke kantornya. demikian Ghaffar Khan bersikeras. Akrab atau jauh. ia “terkenal di seluruh wilayah karena sifat­ nya yang bukan tipikal seorang Pathan: pemaaf. & LOVE pernah masuk surga.” Ghaffar Khan menjawab.. mereka pasti akan ke neraka.” Begitu pula mendidik rakyat. Kendati terdengar tidak masuk akal.

Ghaffar Khan menjawab.” kata Husain. Ketika Gandhi bertanya apakah saudari iparnya beralih memeluk Islam.” Apakah kisah ini dapat membujuk Mohammad Sidique Khan mendidik orangtuanya yang imigran dan menjauhkan diri­nya dari Islamis? Kita hanya bisa tahu kalau ini layak dicoba.IRSHAD MANJi Kita kembali lagi pada kisah pemimpin jaringan pe­ nge­ boman London. menjelaskan. sebagian. kau adalah bagian kami. Ketika orang seperti kami [di sekolah] mengadakan acara- 187 . “Tidak seorang pun mengatakan bahwa kau setara dengan kami. atasan. tetapi melakukannya dengan mengerahkan potensi terbaik dalam diri teman-teman Muslimnya? Bahwa dia mem­ bantu ayahnya membangun lebih banyak kekuatan guna me­ lenyapkan dongeng feodal yang mengatakan kalau kaum muda tidak punya apa-apa untuk mengajarkan orang yang lebih tua? Bahwa dia mungkin akan menyambut pernikahan antar­ budaya bagi Mohammad Sidique Khan? Kakak laki-laki Ghaffar Khan bahkan menikahi seorang wanita Inggris. “Tidak ada orang yang berani membela demokrasi liberal tanpa merasa ragu. seorang mantan pejihad yang saat ini mengetuai se­ buah pusat antiterorisme di London. karena pandangan rendah ma­ syarakat Inggris terhadap dirinya sebagai pemuda Muslim. Ed Husain. dan kami menerimamu dengan standar yang sama. atau te­ man perkumpulan keagamaannya memberitahukan tentang Abdul Ghaffar Khan kepada Mohammad Sidique Khan yang di­ landa kegelisahan itu? Bahwa Ghaffar Khan menentang ke­ bijakan Inggris. menyampaikan bahwa beliau menjadi radikal. Bagaimana seandainya guru. “Mengapa per­ nikahan harus mengubah keimanan seseorang?” Tak heran Mahatma me­ nyanjungnya sebagai seorang “universalis.

& LOVE acara yang menentang kaum wanita dan kaum gay. Sebagai mentor bagi para pemuda Muslim. dapat mengambil tantangan 188 . me­ lawan imperialisme lalu menjadi terkenal karena dipenjara. audiens kita adalah mereka yang “suaranya mengambang” yang menjadi sasaran untuk dipengaruhi para pejihad ini. guru. dan siswa. maka teladan Ghaffar Khan akan menjangkau lebih banyak telinga dan hati. acara kampus. jika mereka membiarkan orang lain mendengarkan kisah itu. misalnya. yang menantang kami?” Paham kan alasan mengapa butuh banyak pihak? Pe­ mim­ pin dan pengajar tidak harus menunjukkan “sekuler-ada­ lah-yangutama” kepada siswa. untuk menjadi bagian dari kurikulum sekolah di Inggris. mem­ baca Al-Quran. dia tetap menyerukan anti­ kekerasan dalam mengalahkan para penjajah dan mendorong kaum wanita agar meninggalkan hijab mereka. selain itu juga memberikan alasan pada kumpulan orang mengalihkan ke­ marahan mereka ke arah yang berbeda. Bersamaan itu pula. artinya mereka mem­ buka kemunafikan mereka. jangan semata-mata berharap untuk mem­­­ balikkan pejihad-yang-sudah-jadi. Apabila golongan pejihad meredam upaya itu. Walaupun demikian. Mereka cukup memberi tan­­ tangan pada pejihad muda untuk mendengarkan kisah se­ orang pemuda Islam gagah berani yang rajin shalat. di mana pe­ mimpin perguruan tinggi dan pengajar. Muslim dan nonMuslim. Ada satu gagasan untuk kita semua. Karena itulah pentingnya berupaya membicarakan Ghaffar di. LIBERTY. Mohammad Sidique Khan sudah menemukan tujuan transenden dalam perjuangan penuh damai dari Gandhi versi Islam.ALLaH. orangtua. Dan.

secara emosional terintimidasi untuk me­ nerima pandangan yang picik bahwa keragaman hanyalah 189 . bukan umat yang di­ re­ mehkan atau meniru Barat. Seorang pustaka­ wan. Semua ini memperkuat sebuah poin besar yaitu apa yang bisa kita lakukan. Muslim kontra-budaya adalah pewarisnya. Kita se­ dang mengobarkan tingkat perjuangan yang baru untuk me­ nafsirkan Islam melalui cara-cara yang pasti akan mem­ buat tersinggung para tribalis di mana saja—persis seperti Ghaffar Khan yang memperoleh perlawanan dari golongan Mullah. Kita harus mengesahkan Muslim kontrabudaya sebagai Muslim yang kredibel. Aku telah memasukkan kisah beliau dalam mata kuliahku tentang Keberanian Moral di Universitas New York. Umat Muslim pun dapat meng­ identifikasikan diri mereka dengan nilai-nilai ini secara ke­ seluruhan. Menimbulkan ketersinggungan adalah hal yang pasti terjadi dalam memperjuangkan keragaman. Di saat bersamaan. ting­ gal­ kan keluhan-keluhan tentang kau yang tidak tahu apa yang harus dilakukan.IRSHAD MANJi ini dengan menjadikan Abdul Ghaffar Khan sebagai materi pe­ lajaran di sekolah-sekolah lokal. Seorang penasihat kota. kalian semua bisa melangkah lebih jauh dengan membicarakannya ke seorang pendidik. Abdul Ghaffar Khan tidak pernah menjejakkan kakinya di Eropa atau Amerika. Seorang anggota de­ wan sekolah. Banyak di antara kita yang berada di alam demokrasi justru meyakini sebaliknya. Seorang pimpinan sekolah. para penindas-wanita. tetapi ia identik dengan nilai-nilai universal. dan para pembenci-Hindu.

” ia menjelaskan. “Mereka yang menyatakan lebih menyukai kebebasan tetapi mengecilkan arti kegelisahan adalah mereka yang menginginkan hasil panen tanpa mau membajak tanah terlebih dahulu. secara tajam memaparkan bahwa “Fred Douglass telah me­ nikahi seorang wanita kulit putih berambut merah… Dia tidak lagi berguna buat kita. yang kisahnya menginspirasi Martin Luther King. milik orang kulit hitam. Itulah hakikat dari non-kemapanan. Kita pun masih me­ngalaminya. perasaan tersinggung bukanlah masalah yang harus dihindari dengan berbagai cara.. Individualitas akan sering mengguncang asumsi dan menyentak perasaan. menambah perspektif kita. Naskah yang dipermak tapi tak mengubah makna. Kostum yang penuh hiasan. Ia adalah harga untuk mencapai keragaman yang penuh makna. Mereka men­ damba­ kan laut tanpa deru ombak.ALLaH. Dua tahun setelah istrinya meninggal. Selama empat puluh tahun. Fotonya (dulu terpajang) di ruang duduk. kita akan (sekarang) memasangnya di kandang kuda. 190 . Pertunjukkan yang sudah bisa diprediksikan.” Muslim kontra-budaya pernah mengalaminya. Peranperan klise. De­ ngan demikian.” Kearifan Douglass di­ terap­ kan tidak hanya terhadap penindasan dari luar. ia menikah lagi—hanya meng­ hadapi orang-orang rasis di kalangan masyarakat AfrikaAmerika sendiri. LIBERTY. Sebuah kolom di satu koran. Jr. Istilah lain untuk penampilan ini? Berlakon. “Mereka ingin hujan tanpa guntur dan petir. Keragaman yang sejati menjangkau sampai ke kelompok minoritas dalam suatu komunitas—individu-individu yang tak memiliki pandangan ortodoks. Frederick Douglass. & LOVE berkisar tentang tampilan luar. Douglas memiliki istri berkulit hitam.

IRSHAD MANJi Martin Luther King. King menerima ketegangan—gemuruh laut yang mun­cul akibat membuat tersinggung para pengusung pemisah­ an kulit putih dan kulit hitam. Di abad ke-21 ini. tanggap­ an buruk semacam itu adalah harga dari menghuni dunia yang penuh keragaman. 191 . Jr. memberitahukan rakyat Amerika tentang dua bentuk kedamaian: “kedamaian negatif” yaitu hi­ lang­ nya ketegangan dan “kedamaian positif” yaitu hadir­ nya keadilan. Sebagai harga untuk mewujudkan bangsa yang beragam.

.

Muslim moderat secara terang-terang­ an me­ manggilku “fasis. Tidak juga mengancam akan menuntut mereka. New York. 193 . Prinsip ini harus kucamkan baik-baik saat perjalanan ke Madison. seperti yang terjadi di tempat lain. Alih-alih membatalkan undangan buatku.” Kupikir penggunaan kebebasan me­ reka ber­ bicara itu kekanak-kanakan dan membuatku ter­ sing­ gung.5 Tersinggung adalah Harga dari Keragaman Dari waktu ke waktu. Kedua solusi ini dapat tetap menjaga eksistensi ke­ bebasan berekspresi. pelaksana acara mengizinkan pihak yang marah ini menyebarkan brosur saat berlangsung acara. tapi aku tidak menyuruh mereka tutup mulut. pada bulan Desember 2004. Beberapa umat Muslim lokal keberatan dengan rencana penampilanku di Universitas Drew. Hakku untuk bicara dapat bertahan selama hak mereka pun begitu. Para pengecam itu juga mendapat tempat istimewa selama sesi tanya-jawab.

Walaupun demikian. rasional. salah seorang Mus­ lim yang protes menyorongkan secarik catatan kepadaku dari 194 . dengan Muslim lain yang sangat bertentangan dengan mereka. Indahnya adalah.. Peredaman di­ kalahkan oleh pencapaian. anggota masyarakat kita menyaksikan suatu realitas bahwa Muslim mampu dengan sempurna ter­ libat dalam debat yang beradab. Saya menolak pe­mi­kiran itu.. di dalam kelompok yang beragam. Yahudi. dan Nasrani untuk memberi ucapan selamat atas keberhasilan mereka menjaga sikap tetap tenang selama acara berlangsung. seorang profesor studi agama yang mem­­ ­ fasilitasi acara ini mengirim surel kepada beberapa umat Mus­ lim. Profesor itu menulis: Sulit bagi saya untuk memikirkan pembicara yang lebih kontroversial bagi Muslim selain Irshad Manji. Apa yang berada di balik keraguan mereka. Di dalam ruangan. LIBERTY. akhir bak kisah Cinderella tidak be­ nar-benar terwujud. Ada kekuatan-kekuatan di kampus Drew yang menentang penampilan Nona Manji sampai menit-menit terakhir. sopan.. & LOVE Setelah kuliahku. Profesor itu telah menaikkan standar. membantu mentransformasikan per­ seteruan menjadi dialog publik yang konstruktif. menurut keyakinan saya. profesor tidak “meredam” siapa pun. serta jujur. Ekspektasi yang lebih tinggi memutus tali kebencian. Namun demikian.ALLaH. utamanya adalah asumsi-asumsi im­ plisit bahwa Muslim “tak bisa menghadapi” per­ bin­ cang­ an serius tentang agama mereka..

Yahudi. kelancanganmu membuatku berang. aku tak berkomentar lebih jauh dan belakangan aku mengomeli diriku karena diam saja... 4 Oh. dan Kristiani Modern... “Oh. Fasislah yang me­ larang. pikirku. Penganut fasismelah yang me­ lakukan sensor. Itukah yang Anda larang untuk kulakukan supaya tidak dianggap “seperti fasis”? Mendadak terpana tak bisa berkatakata.. Fasislah yang menekan. aku mengerdip ke catatan tersebut dan hanya berhasil me­ mahami bagian kop di setiap halaman: “Suara Islam. ubah judul untuk..IRSHAD MANJi seberang meja tempat kami duduk. Juga. Secara sejarah tidak benar dan mengandung provokasi yang tidak perlu. Kop suratnya berasal dari suatu kelompok dialog antaragama.” tegas laki-laki di acara dialog itu... terutama didasarkan pada dialek Jerman dengan kata-kata diambil dari bahasa Ibrani dan bahasa lainnya. menyakitkan. Seisi halaman itu tidak benar dan berlebih-lebihan. dimulai dari satu bagian di halaman 2: “Seluruh paragraf menyinggung pe­ ra­ saan..” Tapi tunggu dulu.” Oh Yesus. Gelisah ingin meninggalkan ruangan yang penuh dengan keanehan.. Seluruh paragraf itu salah.. iya.4 Dan mungkin Nabi Muhammad akan berkata. beberapa kata menarik per­ hatianku: “Batalkan paragraf terakhir.. (bahasa Yiddi.” “Anda ingin penerbit saya menyunting semua pemikiran ini?” “Oh. yaitu bahasa internasional dari Yahudi Ashkenazic. Oy Vey. dan ditulis dalam Alphabet Ibrani) 195 . Seisi halaman itu tidak relevan dengan teks utama. demi buah Tin!” Aku menatapi daftar kalimat untuk menyensor edisi bukuku berikutnya.” Modern! Pikirku selanjutnya: Saudara Tukang Sensor. Anda seperti fasis. “Kalau tidak.

Semoga Allah selalu mem­ berkati Anda dengan yang terbaik. suatu hari nanti ia akan me­ nentang pihak-pihak berwenang yang menegakkan standar perilaku budaya dan agama. Keberanian moral teman saya ini memprovokasi saya untuk menemukan keberanian moral di dalam diri saya sendiri. “Saya seorang profesional muda dari Pakistan. Saya lalu mengirim terjemahannya versi daring kepada beberapa teman [karena] saya yakin buku ini 196 . “Saya su­ dah berusaha. & LOVE Sejak itu.. Setiap kali aku menerima ucapan terima kasih dari Muslim yang tinggal di tempat di mana mereka sulit untuk berbeda pendapat seperti di Amerika.” Muhammad mengulurkan harapan.ALLaH. LIBERTY.” tulis Muhammad dari Pakistan.. aku menjadi yakin kembali kalau Saudara Tukang Sensor itu tidak berbicara atas nama semua umat. Beberapa bulan yang lalu. Beberapa umat telah berhasil mengendalikan perasaan ter­ singgung mereka demi mencapai pertumbuhan pribadi. terutama karena saya sudah membaca buku ini dan tak pernah mem­ bicara­ kannya pada orang lain. “Orang seperti Anda bertindak sebagai sumber energi bagi orang-orang seperti saya. kehormatan pribadiku terpulihkan. Kapasitasnya untuk menjadi in­ dividu akan terwujud. dan menganugerahi saya keberanian untuk tetap berdiri tegak seperti diri Anda. Sungguh suatu kejutan yang menyenangkan. tetapi kemudian sadar bahwa saya akan me­ nying­ gung banyak orang dan nyaris tidak menghasilkan apaapa. yang hidup di negara Muslim. bahkan ujung-ujungnya dilecehkan.” demikian Awais me­ mulai. salah seorang teman mengirimkan surel terjemahan The Trouble with Islam Today dalam bahasa Urdu. tapi tidak mampu berbicara lantang.

saat segelintir jurnalis. dan mullah di 197 . Perspektif si Islamis yang “keterlaluan” itu justru me­ motivasi Awais untuk melakukan aksi antikekerasan dengan me­ ng ­­ ajukan argumen-bantahan melalui blog. beginilah cara gerakan akar rumput bekerja. lebih daripada Taliban—membantu Awais mempromosikan peng­gunaan nalar dalam Islam secara terbuka. Pelajaran Kelima: Tersinggung adalah harga dari keragaman. seorang Islamis di tempat kerjaku mengirim surel ke seisi kantor tentang khotbah dari seorang perwakilan Taliban. Pada saat itu. Barangkali. saya dan beberapa teman meluangkan waktu untuk melakukan diskusi yang bermanfaat bersama dengan teman-teman lainnya. diplomat. Sejak hari itu. Di saat ber­ sama­ an. Seorang Pakistan dengan sedikit kebebasan dibandingkan warga Amerika mampu menciptakan cara untuk memperluas pilihannya ketimbang membatasi pi­ lih­ an dari orang lain. Begitu keterlaluannya sampai-sampai saya terpaksa kembali ber­ pikir untuk mengambil strategi diam saja. Calon tukang-sensorku dari New Jersey mung­ kin bisa belajar sesuatu dari situ. saya menulis blog untuk mempromosikan pemikiran bebas dan rasio­ nalisme.IRSHAD MANJi akan menciptakan perubahan positif dalam kehidupan mereka. membaca bukuku dengan beberapa teman—sebuah buku yang menjengkelkan beberapa umat Muslim. politikus. Banyak di antara kita hanya mengingat kericuhan yang memanas di awal tahun 2006. yang akan mendorong mereka untuk me­ ngajukan pertanyaan dan berpikir bebas. Selain itu. Persoalan kartun Denmark memicu keragaman.

Tetapi keadaan ini juga memicu gelombang surel pada laman­ ku. kebanyakan dari kaum muda Muslim. dan urusan Tuhan. kontroversi meluas. Massa Muslim mem­ bakar misi-misi Skandinavia di Syria. Muak dengan pergolakan yang terus-menerus. bukan kita kaum Muslim. Mereka mendapatkannya. & LOVE Denmark memanipulasi audiens mereka untuk mem­ perbesar kesalahpahaman dalam polemik komik. pertanyaan itu meluncur ke kotak masuk surelku. seorang mahasiswa yang reaksinya mewakili yang lain. Berbulan-bulan setelah memublikasikan gambar yang dipandang meng­ olok-olok Muhammad. Ia lalu bertanya. aku menulis bahwa Al-Quran sendiri menerangkan. Chechnya mengusir pekerja ke­ manusiaan dari Denmark. Kopenhagen mengevakuasi warga Denmark dari Jalur Gaza. “Dapatkah Islam dan kebebasan ber­ ekspresi hidup berdampingan?” Di saat chaos akibat kartun me­ ninggi. akan selalu ada orangorang yang tidak percaya (non-believers). Dalam balasanku. Tetap saja. LIBERTY.ALLaH. yang mungkin merupakan simbol paling suci umat Kristiani. untuk menghadapi mereka. surat kabar Denmark Jyllands-Posten memohon maaf. Ribuan orang Palestina berseru. Lebanon. “Kematian untuk Denmark!” Sejumlah Muslim di India dan Indonesia merusak bendera Denmark— bergambar salib. “Saya lebih sakit hati karena kerusuhan itu daripada gara-gara kartun!” seru Mahmood. Ancaman bom datang ke lebih dari satu kantor surat kabar Eropa. kalangan Muslim yang mengontakku ini mengubah rasa kesal mereka terhadap ke­ ke­ rasan menjadi hasrat terhadap keragaman tafsiran. dan Iran. Muslim-muslim dari kalangan biasa terinjak-injak dalam kerusuhan dan kematian yang sia-sia menandai ledakan bom yang dilempar. Selain 198 .

menunjukkan dengan suka cita: 199 . tapi tidak duduk saja. keragaman tafsiran memiliki ke­ sem­ patan yang bagus sebagai akibat dari rasa sakit hati ini. Al-Quran secara gamblang menentang pemaksaan dalam beragama. salah seorang pembacaku. Mehdi. aku pernah me­ lakukan hal ini pada seorang Muslim di New Jersey yang se­ mangat menyensornya berlawanan dengan semangat kemurahhatian Al-Quran. Semasa krisis kartun. Selesaikan dengan damai. Ini memang bukan pendekatan dialog ala Socrates—dengan pemeriksaan silang yang tanpa belas kasih. kemudian mulailah percakapan ketika sudah tenang. begitu saran Al-Quran. Inilah alasan mengapa kerendahan hati mensyaratkan agar kita se­ sekali mengkritisi diri sendiri—dan satu sama lain. ter­ masuk tradisi-tradisi yang menghasilkan kekacauan dalam praktik keislaman yang menyamakan nabi Manusia dengan idola yang tidak bisa diganggu gugat. Terima. Monoteis menyembah Tuhan yang satu. ketika sebuah karikatur menyindir rasul Islam yang ter­cinta memakai serban yang bisa berubah menjadi bom waktu. Sedemikian murah hatinya sampai Al-Quran me­ nasihatkan kita untuk tetap bersikap terbuka terhadap me­ reka yang membuat kita sakit hati. harus­ kah kita duduk saja dan menerimanya? Tidak persis begitu. Al-Quran menyarankan agar kita bangkit dan secara baik-baik meninggalkan mereka yang menyimpangkan iman kita. tanpa penyesalan—atau juga bukan bermulut manis penuh basa-basi yang sering kali berlangsung dalam dialog antar­ agama. Sebagai rujukan. Jadi. bukan menyembah salah satu dari utusan Tuhan. Tak seorang pun harus dipaksa untuk mem­ per­ lakukan tradisi sebagai sesuatu yang tidak tersentuh.IRSHAD MANJi itu.

—∅sten Dia pasti memiliki rasa humor yang tinggi untuk bertahan dengan kebodohan dan ancaman dari orang-orang Arab. tapi jangan berhenti bicara. Ber­ bicara tentang kebodohan dan ancaman.. menurut saya gambar itu sangat lucu. Sebenarnya. aku me­ masang (dan menanggapi) surel-surel dari Muslim yang me­ nyaksikan wawancaraku di TV tentang kartun: Sebagai orang yang beralih memeluk Islam sekaligus penduduk asli Denmark. mengapa tidak. semoga damai besertanya. kenapa ada protes besar-besaran di dunia Islam. serta diskusi-diskusi ber­ basis nilai yang terjadi di dunia Islam dan berbagai komunitas Barat.. saya tak bisa melihat mengapa non-Muslim harus tunduk kepada tabu dalam Islam. saya sangat sedih dan syok melihat saudara sesama Muslim saya berperilaku dengan cara yang paling tidak mulia. & LOVE Mempertimbangkan banyaknya orang dari segala perspektif ber­ diri tegak dan memberikan opini mereka. saya merasa kartun itu berhasil mencapai apa yang memang diniatkan: mendobrak kebuntuan dalam percakapan dan membuat orang berbicara kembali. Bicaralah sesuatu. memiliki rasa humor. Saya tahu mereka sadis... Hidup orang Denmark! Sebagai penghargaan atas kebebasan berbicara. Jawabanku. Muhammad. Aku mendengar wawancaramu. tapi begitulah selera humor orang-orang Denmark. Cetak saja kartun bergambar Yesus dan lihatlah apa yang umat 200 . apa saja.ALLaH. Tak bisakah mereka melihat kalau mereka sendirilah yang meng­ gambarkan Islam sebagai agama yang tidak mengampuni dan mengandung kekerasan? Secara pribadi. Kau mengatakan. LIBERTY. Dan menurut saya.

tapi satu hal yang saya tahu. Anda tidak akan melihat saya membuat kartun tentang Kristiani dalam bentuk simbol Nazi. Dan kau akan mati sebentar lagi. Saya seorang gadis yang tumbuh besar di Denmark. membuat tersinggung. Saya setuju. Saya tidak menganggap diri saya “religius”. Insya Allah. 201 ..IRSHAD MANJi Nasrani akan lakukan? Camkan kata-kataku. Dan jiwa kamu akan membusuk di neraka. Merepresentasikan Nabi sebagai teroris sama saja me­ ngatakan semua umat Muslim adalah teroris. —Fatima Islam sangat berarti bagiku juga. Anda mengatakan kalau dunia Muslim seharusnya lebih toleran dalam hal kebebasan berbicara. tetapi aku juga paham bahwa tak seorang pun bisa mempermalukanku tanpa seizinku. tapi aslinya dari Bahrain. atau meng­ hina orang. Baca ini dan camkan setiap hari! —handsome_guy Aku menantang Anda untuk membaca surat berikut setiap hari dan pelajari perbedaan antara kejahatan dan perbedaan pen­ dapat. Saya tahu saya tidak begitu. saya hanya meminta untuk dihormati. tapi kematian tidak akan datang dengan gampang. Per­ timbangkan koresponden berikut. Hanya saja. Insya Allah. karena sesuai janji Tuhan. kau dan temanmu si brengsek Rushdie akan mati dengan sangat kesakitan sampai kalian berdoa memohon untuk mati saja. Islam sangat berarti bagi saya.. Itu salah! Sebagai seorang Muslim. kebebasan berbicara tidak berarti Anda harus meng­ gunakannya untuk menyakiti.

meskipun aku masih meyakini Allah dan Muhammad sebagai utusan-Nya. aku bergabung dengan Muslim lain­ nya untuk mengutuk bukumu. seseorang menggambar kartun atau seseorang mengebom pesta pernikahan di Amman?” Umat Muslim perlu bangun. sobat. me­ nyakitiku sampai ke ulu hati yang paling dalam. menulis syair. menerima kecenderungan homoerotika. meskipun aku mencintai Allah. Sebagian besar mereka. Tidak sama sekali. Kurasa. se­ betulnya! Aku sangat suka kutipan dari salah seorang editor surat kabar Yordania yang mencetak kembali kartun itu: “Mana yang lebih menghina bagi Islam. seks penetrasi. jenis kesenangan yang kau butuhkan.. LIBERTY. Aku ini pemuda kulit putih yang masuk Islam saat berusia 17 tahun karena mencari makna hidup dan juga berontak melawan masyarakat.ALLaH. firasatku mengatakan Tuhan memberikan kita banyak ruang untuk menjadi manusia. Aku juga membaca bukumu ketika di­ terbitkan. Dari mana kau dapat ide begitu? Aku tahu. kau suka penis putih di dalam vaginamu yang lebar dan bau itu. sundal sialan! —Anonim Aku tidak tahu dari mana Kau mendapatkan ide itu karena aku tidak pernah mengalami. Aku melihat kamu membahas histeria tentang kartun Muhammad di Denmark. dan menerima kondisi ini kurang lebih setahun yang lalu. Dan se­ karang. Kadang-kadang aku merasa umat Muslim itu layak dibuat tersinggung oleh halhal sepele seperti kartun Denmark. Aku juga gay. Dan waktu itu. tapi jangan kelewat batas. se­ tidak­ nya menurut Muslim berikut. Mereka juga perlu mulai minum anggur. Tapi itulah. uh. & LOVE Menyaksikan wawancaramu di CNN. aku tidak menyukai Muslim. 202 .. Kupikir kartun itu lucu. jika tidak seluruhnya.

alamiah mereka. semakin mereka memperlihatkan ketergantungan pada ke­ bebasan sampai-sampai mereka pun bersedia merampasnya dari orang lain. Dunia Muslim hanya akan bebas saat bar-bar me­­ menuhi jalan-jalan dan para wanita memamerkan keindahan feminin. Umat Muslim perlu dewasa dan ber­ henti mengharapkan semua orang jadi domba dungu sebelum tradisi oral 1400 tahun. Ketelanjangan akan membebaskan Darul Islam. Semakin keji komentar me­ reka. Di bagian akhir. termasuk gambar nabi sebagai pedofilia dan babi— karikatur yang sengaja diada-adakan oleh imam-imam radikal di Denmark dan secara keliru diatribusikan pada JyllandsPosten. Dengan memublikasikan perdebatan ini. Kontradiksi ini muncul di hadapanku lima bulan ke­ mudian. aku ingin mu­ suh-musuh Islam melihat bahwa mereka pun juga terlalu ber­ ­ sandar pada kebebasan ekspresi.” Di depan kru pem­ buat 203 . aku mencantumkan tautan ke semua kar­ tun itu. Seorang wanita Muslim berkeliaran di sekitar Per­ pustaka­ an Umum Vancouver sambil berdemonstrasi menentang kuliah yang kusampaikan hari itu. Tapi kalau revolusimu terjadi sebelum aku berhasil. ajak aku untuk mencukur kakiku. Jiwaku bisa haus akan kebermaknaan.IRSHAD MANJi dan yang paling penting. —Jamal Mabuk dan dansa-dansi sebagai model kebebasan ideal? Terlalu hedonis buatku. Jamal. Ia membawa setumpuk pamflet yang mendesak kepada “kaum muda Muslim yang pandai” untuk “menjauhi penipu gila ini. membebaskan diri mereka dari rantai fun­ da­ mentalis yang mereka ciptakan [untuk diri mereka sendiri dan orang lain!].

aku mengatakan dia­ lah yang menjelek-jelekkan aku. aku pun mengundang demonstran itu masuk ke dalam per­ pustakaan untuk menyebarkan pamfletnya. Tak ingin memboroskan waktu kami yang singkat hanya untuk mem­ bantah kesan dia terhadap kerjaku.” “Oke. ketika kedua pihak bisa sepakat bahwa meskipun di dalam hati mereka berbeda. dan boleh mengajukan pertanyaan yang tidak me­ nyenangkan. yang pada giliran­ nya merasa jengkel dengan apa yang ia persepsikan sebagai pemutarbalikan fakta yang disengaja dari argumennya. LIBERTY. Maka.” ia menyerah. “Anjing ber­ bulu Domba. tapi setuju membiarkan video per­ temuan kami ini muncul dalam dokumenterku dengan tujuan agar pesan dia lebih berkumandang keras. saudariku.” ia menyangkal dengan cepat. Inilah momen de­ mo­ kratis yang mendecakkan lidah. “Tidak.” katanya. Alih-alih sebagai ancaman pemecah belah. “Irshad Manji. kebebasan ber­ ekspresi merupakan benang pemersatu—bagian krusial dari 204 . mendengarkan kuliah­ ku. Ia menolak. & LOVE film dokumenterku dan kamera yang masih menyala. wanita itu menudingku telah “menjelek-jelekkan” umat Muslim.” Berteriaklah sesuka hatimu.” aku membacakan pamflet itu. argumen yang lebih baik dari orang yang dibuat jengkel dan respons dari orang yang membuat jengkel. Seperti dalam. Aku menunjuk ke kata-kata yang terpampang di pamflet­ nya.” “Bukan Anda.ALLaH. jawab­ an untuk menghadapi pembicaraan yang dipersepsikan me­ ngandung kebencian adalah lebih banyak lagi bicara. “Lalu kenapa? Kebebasan berbicara. “Anjing berbulu Domba.

Bernard-Henri Lévy dan tujuh orang lainnya dalam penandatanganan apa yang kemudian menjadi Manifesto 12. Isinya: 205 . ber­ kaitan dengan bagaimana Muslim dan non-Muslim dapat me­ negakkan keragaman berpikir—bersama-sama. kejelasan dibutuhkan un­ tuk meng­ gantikan kerapuhan situasi. ia memintaku bergabung dengan Salman Rushdie. dalam hal ini. Sebagai seorang ateis. Ayaan Hirsi Ali. Jika keragaman bermakna lebih dari sekadar melingkari hari libur di kalender. Caroline Fourest. Kejelasan. seorang sarjana Prancis. maka kita harus menerima adanya hubungan antara tersinggung (being offended) dan terdidik (being educated). Kejadian itu menunjukkan bahwa di dalam wilayah keragaman yang penuh kekisruhan.IRSHAD MANJi kontrak sosial—bagi wilayah yang memiliki keragaman. Aku ingin kembali ke perjalananku melalui bencana kartun di Denmark. selain kontrak sosial semacam itu. Apa. Pada saat cartoon free-for-all (bebas kartun-untuk-semua). mengikuti dialog di lamanku dan memperhatikan bahwa aku berargumen me­ ngenai kebebasan berekspresi dengan berdasar pada Al-Quran. yang akan memperbolehkan si demonstran mengungkapkan ketidaksenangannya? Apa la­ gi yang akan membuatku dan orang lain mendengarnya? Apa lagi yang bisa meragukan kepastian dan menyenggol kita un­ tuk berpikir? Apa lagi yang akan menantang wanita tadi ber­ buat demikian? Hak demonstran untuk berargumen tidak bisa dipisahkan dari hakku.

tapi pergumulan global antara demokrat dan teokrat. Kami menyerukan dukungan un­ tuk kebebasan. Pertikaian ini tak bisa di­ menangkan oleh senjata. tidak ada yang dapat menjustifikasi pilihan atas obskurantisme (ke­ masabodohan intelektual—penj. dan ke­ bencian. jurnalis. dan Stalinisme. dan nilai-nilai sekuler di seluruh dunia. Tetapi kami secara jelas dan tegas menyatakan: Tidak ada. du­ nia kini menghadapi ancaman totalitarian global yang baru: Islamisme. Sebagaimana semua totalitarianisme. LIBERTY. Islamisme adalah ideologi reaksioner yang membunuh ke­ setaraan. dan cen­ de­ kiawan publik—menyerukan penolakan terhadap to­ ta­ li­ tarianisme agama. dan sekularisme di mana pun ia berada. Kesuksesan Islamisme hanya membawa dunia pada ketidakseimbangan kekuasaan yang lebih besar: 206 . Kami—penulis. kebebasan. Nazisme. totalitarisme. tetapi dalam arena ga­ gasan. Yang kita saksikan ini bukanlah benturan per­ adaban atau pertentangan antara Timur versus Barat. bahkan dalam kondisi putus asa pun. & LOVE Setelah melewati fasisme.). Para peng­ khotbah kebencian mempertaruhkan kedua perasaan ini demi membentuk batalion yang diarahkan untuk memaksakan sebuah dunia yang tidak setara. Kebutuhan akan nilai-nilai universal ini telah di­perlihat­ kan oleh serangkaian kejadian sejak publikasi gambar Muhammad di koran-koran Eropa. Islamisme di­ tum­ buh­­ kan oleh rasa ketakutan dan frustrasi.ALLaH. kesempatan yang setara.

” serta menolak “perang antara peradaban” sebagai garis pertempuran yang masuk akal: garis antara para demokrat dan teokrat. Aku suka sekali bahwa manifesto ini memohon kepada “para penganut semangat kebebasan dari semua negara. Untuk menolak ini. bukan abad obskurantisme. kami menolak “relativisme budaya. Apakah aku ini simbol yang mewakili umat beragama? Kata “simbol” membuat emosiku terusik—selama lima menit yang mengesalkan.” yang menerima bahwa laki-laki dan perempuan Muslim harus dilucuti hak kesetaraan dan kebebasan mereka atas nama tradisi budaya mereka.IRSHAD MANJi dominasi laki-laki atas perempuan. Karena alasan ini. Yang aku tidak suka adalah sebagian besar penanda tangan adalah ateis sejati. Kami menolak meninggalkan semangat kritis kami lan­ taran ketakutan dituduh “Islamofobia. kita harus menjamin universalitas HAM untuk menekan orang-orang. Kami meminta kepada para demokrat dan penganut semangat kebebasan dari semua negara agar abad kita ini harus menjadi abad pencerahan.” sebuah konsep yang disesalkan merancukan kritisisme terhadap prak­ tik keislaman dengan stigmatisasi Muslim itu sendiri. dominasi Islamis atas semua yang lainnya. supaya semangat bersikap kritis bisa di­ terap­ kan di setiap benua. Lalu aku tertawa sendiri. melawan setiap penyiksaan dan dogma. Anu­ 207 . Kami memohon adanya universalitas dalam kebebasan ber­­ ekspresi.

atau tidak. Sebagai Muslim yang beriman. me­ mercik­ kan perlombaan nurani. Aku bisa menggunakan manifesto itu untuk mendidik orang-orang skeptis. & LOVE gerah baru saja datang ke pangkuanku. se­ perti kecenderungan para Islamo-tribalis. Teokrasi—termasuk pemerintahan yang seharusnya rasionalis seperti Jerman Nazi dan Korea Utara—memarjinalkan nurani pribadi. Sekularisme pun menguji ketulusanku. sekularisme itu bagus buat iman dan buruk bagi dogma. LIBERTY. tentang mengapa sekularisme dan iman bisa dipertahankan secara bersamaan. Sisi terbaiknya.ALLaH. dengan demikian. Sebab. Nilai-nilai sekuler membuka ruang bagi kita semua untuk beribadah. aku bisa menunjukkan bahwa “semangat ber­ sikap kritis. Pada jalan Islam yang lapang. sesuai hati nurani kita.” “kesempatan yang setara”. nilai-nilai sekuler dimaksudkan untuk men­ jamin bahwa tidak ada agama yang bisa mengambil alih ruang publik dan membungkam kebebasan bagi mereka yang me­milih untuk tidak beragama. atau yang memilih tafsiran yang ingin disensor oleh pemimpin komunitas agama. sebagai orang beriman. dan “nilai-nilai sekuler” tidak harus menjadi domain eksklusif para ateis. keragaman agama dapat berkembang. Hanya di masyarakat sekuler. Di 208 . untuk menyerahkan keputusan akhir kepada Tuhan. tak ada pertarungan antara iman dan nilainilai sekuler karena nilai-nilai ini bernaung di bawah ajaran Al-Quran yang secara transparan menentang pemaksaan. mewujudkan kemunafikan. dari kaum Muslim sampai jurnalis. sekularis memiliki alasan untuk mengambil tindakan dengan membuat batasanbatasan hukum. Tetapi ketika praktisi “keimanan” menjadi dogmatis. Sekularisme men­ cipta­ kan kesempatan untuk menjelajahi berbagai perspektif.

Perjuangan kami sekarang membutuhkan per­ tunjuk­ kan solidaritas dari orang-orang di seluruh dunia yang mau secara terbuka menyatakan bahwa ancaman kematian tidak menyurutkan nurani mereka. semangat sekularisme menjadi ciri kontrak sosial yang harus ada. Ummah. tidak diperlukan di sini. Fourent dan aku harus ber­ gabung kembali. Manisfesto 12 jadi tersebar ke mana-mana. atau negara mereka. Kami pun merancang sebuah petisi yang berisi: “Saya ingin meng­ekspresikan dukungan tegas saya kepada penanda tangan dan kemarahan saya pada serangan gerakan Islamis terhadap mereka. dan nilai-nilai sekuler untuk semua. karena upaya ini dimaksudkan untuk menaikkan ekspektasi orang yang ingin mengambil sikap. kesempatan yang merata. Saya berdiri teguh bersama ke-12 orang ini melawan gerakan reaksioner. tapi pastikan mereka segera lenyap—oh tak usah mengeluarkan fatwa. kota.. sebuah situs web Islam yang dikelola di Inggris.IRSHAD MANJi mana pun keragaman hidup. Sekarang mereka tahu bagaimana.com. Pertukaran yang adil. HAM. Saya bergabung dengan seruan mereka untuk menolak totalitarianisme agama dan mempromosikan ke­ bebasan.” Kami meminta publik untuk tidak ha­ nya membubuhkan nama mereka tapi juga mencantumkan daerah. kemudian me­ masang ancaman kematian langsung terhadap para penanda tangan: “Luar biasa—membuat pembunuhan terhadap kafir lebih mudah. kini kami keluarkan daftar tokoh untuk di­ bunuh. tetapi 209 . Tidak perlu tergesa-gesa.” Karena pengumuman ini berasal dari sumber yang me­ narik banyak pihak radikal.. Fourest dan aku paham kalau permintaan tambahan ini mungkin akan membatasi jum­ lah penanda tangan.

Amerika Serikat. kita tak boleh larut dalam kelicikan dan teriakan para wakil komunitas. Turki.ALLaH. Untuk menuju jalan ke­ arifan. Belanda. Australia. De­ mokrat di mana pun tak bisa membiarkan dirinya ditakuttakuti oleh teokrat. West Bank (Tepi Barat). kebebasan menganugerahkan mereka pilihan itu—ironi. selalu dan harus terus menjadi upaya bersama. 210 . Afrika Selatan. Malaysia. Algeria. Yang tidak-resmi. New Zealand. Kanada. bisa menjadi cerminan bagi mereka yang ragu. Manifesto 12 benar: se­ mangat kebebasan memang berkeliaran di dalam Islam. Marilah berikan pilihan. Nigeria. Cina. Guna memastikan umat Muslim mendengar permohonan kami untuk nilai-nilai sekuler. kami memuat petisi itu di si­ tus webku. se­ perti yang dilakukan oleh petisi ini. Afghanistan. kepada tersangka yang tidak biasa (unusual suspect). LIBERTY. Prancis. & LOVE juga memikirkan bahwa mengambil sikap maju berarti mem­ per­ taruhkan lebih dari sekadar menggores pena. Aku belajar bahwa kearifan bisa dihasilkan dari episode panas seperti drama kartun Denmark. Mereka yang tidak-didukung. Iran. Yang tidak-mapan. ribuan penanda tangan mencakup Muslim dari Saudi Arabia. dan Pakistan. Peradaban. Serius dengan keragaman menuntut kita untuk berhenti memberikan banyak pengaruh kepada ter­sangka biasa (usual suspect). yang kami harap. Sejauh ini. Merekalah yang akan membawa Muslim dan multikulturalis melampaui keragaman wujud yang palsu dan menuju keragaman pemikiran yang lebih niscaya dan tidak terbatas. Jika beberapa orang tak bisa bergerak sejauh itu. India. Syria.

Yuksel dan rekan penulisnya menggarap ter­ jemahan yang mereka gambarkan sebagai “Pesan Tuhan ke­ pada mereka yang lebih memilih nalar daripada keyakinan buta.” Sebagai Penerbit akademik. seorang Muslim keturunan Amerika-Turki. Qur’an: A Reformis Translation (Qur’an: Sebuah Terjemahan Re­ formis). Palgrave Macmillan. Edip Yuksel. Dia (kemungkinan besar) salah menuduh saya sebagai anggota sekte pemujaan. Penerbitnya. me­ lontarkan surel itu pada bulan Desember 2006. Palgrave Macmillan harus mem­ bawa naskah melalui proses review yang melibatkan para akademisi.” “kontroversial. Mereka yang tahu pribadiku dan karyaku.” tanpa mem­ beri­ kan argumen apa pun pada substansi. Dewan Penerbitan terintimidasi dan dibodohi oleh “profesor yang sangat mapan”. Orang yang disebut akademisi ini mengutuk dan menghina karyaku sebagai “tidak akademis. berdasarkan satu review negatif—ha­ nya satu yang disebutkan oleh seorang editor senior dalam ko­ respondensi pribadi dengan Yuksel—buku ini mati karena tidak didukung oleh perusahaan. menyebut karya itu “tafsiran berani dan indah yang ber­ peran sebagai pengingat umat di saat yang tepat bahwa Al-Quran bukanlah kitab yang statis. keprihatinan saya terbukti benar. Reza Aslan. Penerbit tidak punya nyali. tahu pasti kalau aku se­ seorang yang berjiwa bebas. penulis buku No god but God (Tiada tuhan selain Tuhan). baru saja memberhentikan proyeknya. melainkan teks yang hidup. Akhirnya. Sejak menandatangani kontrak kerja dengan penerbit di tahun 2004.IRSHAD MANJi Dear Irshad.” dan “penuh kebencian. ber­ 211 . Tampaknya.” “pinggiran... Pakar-pakar lain mengapresiasi pengalaman Yuksel.

Berbicara mengenai perolehan uang. dan jika cara itu mustahil secara politik. 212 .ALLaH. pemeluk agama minoritas tetap harus mem­ ba­ yar pajak khusus. pertanyaan tentang pe­ menggalan kepala bukanlah pertanyaan sama sekali. namun ini merupakan perbaikan yang ber­ arti daripada pembantaian yang terjadi di kebanyakan zona peperangan saat ini. atau jizyah. bagi pelaku jihad kekerasan. ada dua cara mem­ perlakukan tawanan: bebaskan mereka. Ke­ dengarannya memang seperti pemerasan. Aku pun mendukung upaya tersebut tanpa mengklaim tafsiran itu “benar. me­ lainkan hak yang sudah ditentukan oleh sang Ilahi. menurut Qur­ ’an: The Reformist Translation.. “Rasanya seperti penerbit abad per­ tengahan yang menolak buku Marthin Luther King setelah mereka berkonsultasi dengan uskup Katolik. Se­ seorang pasti berpikir apakah Palgrave Macmillan berlari ketakutan setelah kehebohan kartun Muhammad. LIBERTY. Keputusan penerbit tersebut menghalangi publik pembaca buku terekspos dengan tafsiran Al-Quran yang liberal. pada Pemimpin Muslim mereka.” Tapi satu akademisi saja yang berpengaruh telah membuat dukunganku tidak berguna bagi proyek ini. Tetapi tidak. Misal­ nya. Terlepas dari itu..” Sejumlah profesor feminis mem­ beri­ kan penyemangat yang bermutu. & LOVE napas dan selalu berevolusi. haruskah pe­ merin­ tah­ an Muslim membebankan pajak pada non-Muslim? Bahkan pada saat toleransi mengalami puncak kejayaan di dalam per­ adaban Islam. maka lepaskan mereka setelah mem­ peroleh jaminan uang atas agresi mereka terhadapmu.” Yuksel dongkol. pihak penerbit sudah memperlihatkan bahwa non-Muslim memainkan peran sangat penting dalam reformasi islami— atau sebaliknya.

Islam adalah per­ janjian antara Tuhan dan 213 . “Perilaku agresif apa pun terhadap me­ reka dianggap bertentangan dengan hukum Tuhan yang meng­ akui kebebasan memilih. gratis.” begitulah komentar yang sering diulang dalam terjemahan itu. apakah saya sungguh-sungguh Muslim? Sekarang saya punya bahan untuk dibaca dan mem­ bantu sa­ ya menafsirkan Al-Quran. beropini. “Tapi saya segera menyadari kalau pan­ dangan saya TIDAK diterima oleh Muslim arus utama. “Aku masuk Islam 7 tahun lalu dan prin­ sip keislaman yang mendasar memang menarik. Yuksel dan rekan-rekannya memublikasikan sendiri di Amerika Serikat. Terjemahan mereka juga bisa diunduh. Saya jadi bertanya-tanya. Julie.IRSHAD MANJi Namun terjemahan dari Yuksel dan rekan-rekannya meng­ ar­ti­kan jizyah sebagai “reparasi”—bahwa ada hal-hal yang wajib untuk diperbaiki seperti kondisi sebelum perang.” tulisnya da­ lam surelnya kepadaku. “Kita tidak diizinkan untuk membunuh atau meng­ hukum orang-orang karena mereka mengolok-olok wahyu atau tanda-tanda Tuhan.” Kegembiraan Julie karena dapat berpikir sendiri—dengan panduan yang bisa di­ pahaminya— adalah bagian dari demokratisasi ijtihad. seorang Muslim Amerika. Ia me­ nunjukkan kepa­ da para pemimpin Muslim bahwa Islam bukan­ lah pakta antara mereka dan umat. Dan itu pun ha­ nya jika pihak Muslim yang mengalami serangan lebih dulu. su­ dah melakukannya. dan berekspresi. bukan mengeksploitasi untuk pajak terus-menerus. Bertekad mengeluarkan karya mereka di masa tidak ada­ nya ke­percayaan antara Muslim dan non-Muslim yang semakin dalam.” Suatu tinjauan yang membuat ulama tradisional tersentak. dari homepage-ku. Apakah perasaan tersinggung sama halnya dengan di­ serang? Tidak.

Dan kita akan memberikan pihak non-Muslim insentif untuk memiliki ekspektasi yang lebih baik terhadap mereka yang mengira berbicara atas nama semua Islam. di mana sekelompok pemimpin Muslim bergabung.” Ternyata. Manusia yang bicara untuk agama. polisi Kanada menangkap beberapa pemuda Muslim karena berencana meledakkan Parlemen dan memenggal ke­ pala Perdana Menteri. & LOVE umat-Nya.” Di konferensi pers kedua. pihak ke­ po­ lisian membanggakan diri karena menghindari kata “Islam” dan “Muslim.ALLaH. polisi tidak me­ nyebutkan “Islam” atau “Muslim. Manusia yang bicara untuk budaya. Pada bulan Juni 2006. pada konferensi pers pertama tentang penangkapan tersebut. peng­ hor­ matan atas Perang Badar. Bersediakah diingatkan tentang sebuah kebenaran yang seharus­ nya muncul terus-menerus? Agama dan budaya tidak bisa bicara atas namanya sendiri. sehingga mereka harus me­ nun­ jukkan ketidak-penyebutan itu sebagai sensitivitas—tepatnya sensitivitas pada Islam “yang diwakili” oleh sebagian kecil pria dan wanita yang akan tersinggung dan kemungkinan memerkarakannya jika kebenaran tersebut muncul. kemenangan militer pertama yang menentukan bagi Nabi Muhammad. Ketika Muslim benar-benar menghayati hubungan itu. Toronto 17 (tak lama kemudian men­ jadi nomor 18) menyebut gerakan mereka Operasi Badar. LIBERTY. Namun demikian. pengacara kepolisian tidak mem­ ­ perbolehkan para penegak hukum ini mengungkapkan katakata tersebut di depan publik. Polisi tahu kalau simbo­ lisme keagamaan itu membantu memotivasi niat Toronto 17 untuk melakukan teror. kita tidak akan peduli dengan otoritas masyarakat yang terlukai. Dan manusia tak 214 .

kepala Dewan Muslim Inggris. Pat Robertson. Seorang kartunis menyindir salah satu pendeta Kristen paling berpengaruh di Amerika. manusia harus di­ perta­ nyakan mengenai apa yang terjadi dalam pengawasan awan mereka—bahkan terlebih lagi saat kita membahas ke­ amanan publik. Di bagian audiens. Iqbal Sacranie. maka me­ reka menyerahkan analisis akhir pada Allah. tapi itu tidak perlu berarti penindasan. apalagi Islamofobia. bukan sanitasi. Yang ku­ tegas­ kan adalah merasa tersinggung berbeda dengan meng­ alami dis­ kri­ minasi. Pemahaman bisa dicapai melalui analisa. Seseorang bisa tersinggung karena harus menerima standar yang sama dengan orang lain. ketika Muslim dapat menolerir perasaan ter­ singgung­ nya.IRSHAD MANJi luput dari kesalahan. seperti yang di­ syaratkan Al-Quran. Dari sudut pandang ini. Membawa Islam ke wilayah analisis merupakan hal yang sepenuhnya sah bagi umat beragama karena bukan Sang Ilahi yang diselidiki. Perlakuan yang sama mungkin me­ nyebabkan perasaan tersinggung. Oleh karena itu. Tapi seringainya berganti cem­ berut saat melihat untuk pertama kalinya kartun yang meng­ olok-olok ulama Muslim. Pada World Economic Forum Januari 2006—tak lama sebelum masalah kar­ tun Denmark—aku menghadiri sesi tentang hak beragama di Amerika Serikat. Aku tidak sedang berargumen bahwa perlawanan terhadap dis­ kriminasi sebaiknya diserahkan kepada Tuhan. 215 . melainkan tafsiran moral dan penilaian manusia yang dipertanyakan. ikut tertawa bersama kami.

tapi juga nilai pendidikan. universitas. Ke­ tika Anda bertanya mengapa ini terjadi. kapan pun setiap mereka harus melihat 216 . Islamo­ fobia hanyalah menjadi label yang gampang. Islamofobia dengan cara tertentu digunakan sebagai dalih untuk memeras ma­ sya­ rakat. pengkritis keras perang Irak.. mayoritas adalah Muslim. dan pimpinan British Muslim for Secular Democracy (Muslim Inggris untuk Demokrasi Sekuler). Ow ow. dan lain-lain. baik di sekolah. & LOVE Yasmin Alibhai-Brown. hanya satu alasan. yaitu Islamofobia. LIBERTY. Bukan Islamofobia yang membuat orangtua me­ ngeluarkan putri-putrinya yang berusia 14 tahun dan cerdas untuk dinikahkan dengan laki-laki buta huruf.. sua­ tu kamuflase. dan gadis-gadis itu harus lagi membesarkan generasi berikutnya yang lagi-lagi akan diabaikan ti­ dak hanya pendidikannya. satu alasan yang sangat nyaman ba­ gi Muslim. Ia berkata pada program dokumenter Are Muslims Hated? (Apa­ kah Umat Muslim Dibenci?) di Inggris.” Tapi saya pikir saya tidak akan jujur jika tidak me­ nga­ takan bahwa terlalu sering. “Saya tidak akan pernah menyangkal kalau umat Muslim pernah mengalami masa sulit dan masih mengalami masa sulit itu sekarang. satu alasan yang mereka bisa berikan. Komunitas yang memiliki pencapaian paling rendah di negara ini. berbicara lebih keras dariku me­ ngenai penggunaan dan penyalahgunaan kata Islamofobia. pe­ kerjaan.ALLaH. seorang pembela hak-hak warga Palestina yang sempurna.

Seperti yang kau lihat dari surat-surat yang telah kuperlihatkan. Kita perlu banyak reaksi dari umat Islam—di antaranya tepuk tangan. misionaris. Apakah kejujuran Alibhai-Brown menyinggung sejumlah Muslim arus utama? Pasti membuat berang. MTV. Itulah salahnya kita. “Saya sangat senang karena Kanada tidak memublikasikan kartun-kartun itu. Jika kita ingin meng­ hapus stereotip Islam yang menyakitkan kita. dengan bahasa berbeda. Muslim memiliki berbagai sikap. maka Mus­ limlah yang harus mengizinkan berkembangnya opini yang berbeda. dan musuh lama “Yahudi. penolakan.” Muslim kontra-budaya menggusur asumsi yang dibuat oleh Lise.” Setuju. Hanya saja tidak secara terbuka. jijik. KFC. Suara-suara kontra-budaya menyingkap wajah-wajah ke­ bera­ nian moral di dalam Islam: kalangan Muslim yang mengakui disfungsi dalam komunitas mereka ketimbang secara refleks menyalahkan Amerika Serikat. Atau. protes tanpa kekerasan. materialisme. Kita tidak memerlukan suatu reaksi dari umat Islam. Muslimlah yang harus menghilangkan aib karena dicap 217 . yang sering menyinggung di dalam komunitas ki­ ta. dan gemuruh tawa. satu reaksi umat Islam. Apakah menindas mereka? Jelas tidak. malu. Israel. Muslim yang kontra-budaya seperti Ali­ bhai-Brown membantu mengalahkan Islamofobia dengan me­ run­ tuhkan mitos bahwa Islam itu memiliki kekuatan tung­ gal. seorang wanita da­ ri Quebec City yang menghubungiku saat sedang heboh-heboh­ nya kasus kartun untuk menyampaikan. Kita tidak memerlukan suatu reaksi dari umat Islam.IRSHAD MANJi alasan mengapa mereka tidak berada di tempat yang seharusnya mereka berada.

Tapi ge­ nerasi kedua-atau-ketiga dari Italia-Amerika-InggrisChina yang manakah yang ingin diwakili oleh Mafia atau Triad China? Apakah Muslim arus utama sama seperti gangster? Tidak di semua tempat. Muslimlah yang harus berhenti mem­­ bawa diri sebagai pendukung para parasit. Kritikus budaya. yang diorganisir me­ ngikuti garis etnis. menyindir tentang perwakilan komunitas yang cenderung beroperasi. Buruma mengamati bahwa: pemimpin-pemimpin kaum minoritas agak mirip bos di geng kriminal. karena dengan begitu kita menyerahkan umpan kepada para fanatik tulen untuk menyudutkan semua Muslim sebagai teroris. Da­ lam esainya The Freedom to Offend (Kebebasan Untuk Me­ nying­ gung Perasaan). Ian Buruma. sering kali mengklaim dirinya me­ wakili kepentingan imigran baru yang tidak punya tempat untuk berpaling di negeri yang asing. & LOVE “pembenci-diri” (self-hater).ALLaH.” dan siapa yang tidak. Sindikat kejahatan. 218 . Ini menjadi sinyal bagi nonMuslim—dari politikus. Kalau kita tidak me­ numbuhkan keberanian orang Andalusia ke tingkat individual. penerbit sampai ke petugas polisi— bahwa untuk “menerapkan” keragaman adalah dengan me­ redakan kartel juru bicara arus utama. tetapi terlalu banyak Muslim berpikiran reformis yang menjilat ke mereka. Satu langkah penting untuk memublikasikan keragaman kita: lenyapkan kefanatikan tentang siapa yang “mewakili. Ketakutan yang dirasakan Muslim berpikiran-re­ for­ mis berkontribusi kepada kondisi ini. Tapi begitulah parodi keragaman. LIBERTY.

Saya berharap Anda bisa menawarkan beberapa strategi agar saya bisa bertanya tanpa khawatir me­ nimbulkan kegaduhan (yang nam­ paknya terjadi hampir di setiap kelas) dan/atau tanpa menimbulkan penghinaan.. perdamaian dan konflik. Aku menulis “menghormati” dengan tanda kutip karena saat kalian menulis kepadaku. kata itulah yang umumnya kalian pilih.IRSHAD MANJi maka jadilah kita ini aksesoris bagi Islamo-tribalis—dan Islamo­ fobia mereka. Tapi mayoritas dari Muslim itu hadir di sini sepertinya hanya untuk memastikan kalau mereka terwakili seca­ ra pantas dan agar Islam diperlakukan dengan rasa hormat yang se­ patutnya. David.. Sekarang catatan bagi kaum non-Muslim. terutama warga glo­ bal yang memiliki aspirasi. Karena ketakutan dianggap orang kampung yang dungu.. Kata itu juga yang membuat kalian terheran-heran. Ma­ yoritas mahasiswa di kelas ini adalah Muslim.. menulis surel. Saya menulis kepada Anda saat istirahat di sela-sela mata kuliah “Islam Sepanjang Zaman” dan saya meminta saran Anda mengenai bagaimana menghidupkan debat. 219 . banyak di antara kalian merasa bertanggung jawab secara khusus untuk “menghormati” Islam... Saya lulusan kajian politik yang berfokus pada politik Timur Tengah. seorang mahasiswa yang belajar di Universitas York di Toronto.

Anda memintanya berusaha. bukan bagaimana Tuhan mendefinisikan. dan pertanyaan Anda kepada saya. saya menghargai pikiran. Agama dan budaya tidak berbicara. & LOVE Anggaplah kalau aku ini mahasiswa Muslim yang men­ untut penghormatan. David. se­ sungguhnya ini menunjukkan bahwa Anda seorang robot yang mudah digoyahkan karena pertanyaan-pertanyaan. yang se­ 220 .” mungkin begitu bentakku kepada David. Kitab Anda tanpa ragu-ragu menyatakan: hanya Tuhan yang tahu makna akhir dari semua yang dianut Muslim. Irshad. Irshad. mungkin. Jadi. kita bisa bergerak maju dengan pertanyaan saya kepada Anda. Manusilah yang berbicara atas nama agama dan budaya. memahami maksudku: “Cara Anda menghormati se­ seorang adalah. saya tidak akan membuang-buang energi. bagaimana Anda menghormati diri sendiri? Pilihan David untuk mendapatkan kejelasan dibandingkan ke­ sulitan. Saya bukan Tuhan dan Anda juga bukan. saya sedang mempertanyakan bagaimana Anda men­ definisikan gagasan. “Hormati saya. mempertanyakan keyakinan Anda. Tetapi kalau Anda masih berlindung dalam sikap bertahan. akan menimbulkan keributan. jiwa dan substansi Anda. LIBERTY. Lantas.” bertindak sebagai kode tersirat untuk “jangan tantang saya. dan jangan cuma agama saya. aku akhirnya sekarang menilai bahwa kata “hormati saya. Jika saya ragu Anda me­ miliki ini semua. David berhak berkata kepadaku. Dengan bergaul bersama Anda. maka David bisa membalas. Per­caya­lah. Dengan nurani yang bersih. saya menghormati Anda. George Steiner. Ketika saya. sarjana dan penulis.ALLaH. Setelah mendengar sendiri ucapan ini sekian kali.” Penghormatan seperti itu menaruh kepercayaan pada kapasitas individual.” Namun penghormatan semacam ini bisa dilawan dengan bersikap cuek.

Tidak sedikit mahasiswa Muslim yang akan berna­ pas lega mana kala mendengar seseorang mengatakan apa yang mereka pikir mereka tak bisa. Meskipun demikian. Layla me­ nulis. Saya terusik karena selalu ada pertanyaan di benak saya: “Apakah ini benar-benar suatu pilihan?”. Hal itu membuat kami tumbuh. “Saya menangis karena saya pi­ kir saya sendirian dengan per­ tanyaan-pertanyaan saya dan frustrasi terhadap para mullah yang menafsirkan Al-Quran demi mengendalikan populasi. Inilah momen edukasi yang patut diingat dan membuat biaya pendidikan bernilai (hampir) se­ tiap sennya. Tapi ketika saya mendengarkan Anda di TV. Setelah menyaksikan Faith Without Fear.” ia bercerita kepadaku tentang liburannya di pantai di Kanada.. sebaliknya. YANG PADA GILIRANNYA AKAN MENJADI MANUSIA YANG LEBIH BAIK. Cinta kemanusiaan tanpa omong kosong selalu menjadi alasan yang benar untuk meng­­ guncang sikap ketidakpedulian. David seharusnya tidak ter­ jebak dalam imajinasi bahwa akan ada serangan ter­ hadapnya.. saya pun melakukannya. Saya melihat banyak sekali perempuan mengenakan hijab. Tidak apa. ter­ masuk seorang gadis kecil seusia putriku 9 tahun. seorang Aca­ dia berbahasa Prancis yang dibanjiri pertanyaan dan khawatir pada mereka yang ingin menyingkirkan pertanyaan dari rea­ litas. Layla harusnya makan malam dengan Josée. Hal ini mengusik saya. Bukan karena tidak setuju dengan ekspresi ke­ imanan. SAYA AKAN MENJADI MUS­ LIM YANG LEBIH BAIK. saya 221 . “Musim panas kemarin..IRSHAD MANJi benar­ nya berusaha ia hindari. Saya suka ketika Anda me­ minta dunia Barat untuk memberikan tan­ tangan kepada kami..

LIBERTY. sebab lawan bicaranya yang sedang berusaha memahami tiba-tiba tidak bisa meng­ ekspresikan pertanyaan. Ketika seseorang me­ ngatakan hal tersebut ke lawan bicaranya. Sejarah menunjukkan bahwa MEREKA adalah penyebab segala masalah. Yang juga membuat saya takut adalah ketika mendengar Muslim (atau pemeluk agama apa pun) mengatakan kalau saya tidak punya wewenang untuk membahas agama. Kita perlu orang yang berani untuk mengajukan pertanyaan yang sesungguhnya. umat Muslim menjadi MEREKA (THEM) dan kami menjadi kelompok yang disebut KAMI (US). ini menciptakan ke­ senjangan yang lebih besar di antara budaya. Kita tidak perlu jawaban langsung. dan harus dihilangkan oleh KAMI. Aku mengajukan supaya kita bereksperimen dengan apa yang menjadi lawan dari relativisme. di manakah letak keragaman yang penuh damai itu berada? Di dalam lubang kelinci relativisme yang tak ber­ dasar. 222 . Lambat laun. Kalau begitu. Keadaan ini juga memberikan kewenangan terhadap kelompok tertentu yang punya kekuasaan untuk menjelaskan dan menafsirkan buku-buku agama sesuai ke­ inginan mereka. tapi pertanyaan adalah suatu keharusan! Josée dan Layla baru saja melakukan pekerjaan dari sarjana yang berpikiran luas. tetapi juga dapat membangkitkan kecurigaan terhadap pihak lain (other) yang dapat berkembang menjadi jauh lebih buruk. saya tidak merasa cukup bebas untuk BERTANYA soal itu. & LOVE me­ nyadari yang paling mengusik saya sebetulnya adalah. Mereka memperingatkan kita bahwa takut bertanya tidak hanya mencegah pertumbuhan individual.ALLaH.

dan selebihnya ia menyerahkan keputusan akhirnya kepada Tuhan. seorang pluralis menilai tanpa perlu merasa bersalah. sebab kesimpulannya bersifat sementara dan tergantung pada mendengar argumen baru. Tapi aku akan mengekspre­ sikan penilaianku bahwa memilih berhijab mem­ buatnya men­ jadi iklan bagi aspek budaya kesukuan Arab yang paling chau­ vinistik. namun se­ penuhnya sadar kalau penilaiannya bersifat sementara.” bergema jawaban para pemakai hijab. “Kamu salah jika berpikir wanita yang mengenakan hijab. “Bukan itu maksudnya. ia memuja seluruh tubuhnya sebagai kemaluan. aku tidak akan menghentikannya. benar. dan jika wanita lain memilih untuk mema­­ kainya. Dengan dipandu pluralisme. inilah caraku untuk me­ nang­ gapi keprihatinan Josée: tentang hijab. Bukannya melindungi diri dari penyakit “Barat” yang menjadikan dada dan bagian tubuh lainnya sebagai obyek sek­ sual. aku senang hidup dengan banyak perspektif dan kebenaran. niqab dan/atau burqa tidak pernah dinilai berdasarkan penam­ pilan­ nya. Tapi se­ perti yang dikemukakan oleh mahasiswa jurusan kajian per­ damaian saat mendebat seorang Muslim di halaman Facebookku. tapi aku tidak mau turun menjadi relativis—seseorang yang tertarik dengan apa saja karena tidak memiliki pendirian tetap. Pluralis membuat penilaian. pluralis me­ lontarkan pertanyaan. Tidak seperti relativis. yang lebih persuasif.” Mahasiswa itu melakukan survei terhadap beberapa teman Muslim laki-lakinya: 223 . Tapi dengan atau tanpa Tuhan. “Ini mengenai kesopanan!” Secara teori.IRSHAD MANJi Pluralisme. Sebagai pluralis. Aku memilih untuk tidak memakainya.

Pendapat tentatifku tentang hijab: hijab adalah lambang kesopanan yang palsu. “ya. Mereka semua men­ jawab. Apakah Anda bergaul dengan perempuan dari Timur Tengah? Mereka terkenal bersaing satu sama lain kalau menyangkut penampilan di balik jubah. aku bersedia mengubah pikiran. Beberapa wanita berkata kepadaku bahwa dengan memi­ lih ber­ hijab. Muslim itu tidak menanggapi. Buktikan bila pria tidak menganga melihat wanita yang tertutup.” Saya kemudian bertanya tentang perempuan yang diselubungi burqa. LIBERTY. jawabannya adalah perempuan dengan siluet terbaik. “ya. pe­ nampilannya masih dinilai. Sebagai model politik “progresif”. Mereka semua menjawab. Tetapi. “Jika masyarakat Barat yang liberal mengasihaniku. “maka biarkan Barat melihat bahwa aku me­ milih penindasan!” Namun dengan mengenakan hijab demi per­ tunjukkan politik di mata publik daripada perwujud­ an iman seseorang. Tak peduli seberapa besar perempuan menutupi dirinya. wa­ nita-wa­ nita ini melakukan ketidakadilan yang buruk untuk kemaju­ an. & LOVE Saya menanyakan mereka ketika seorang perempuan me­ ngenakan hijab. bukan spi­ ritual. wanita itu tergolong eksibisionis.” Saya me­ nanyakan mereka ketika seorang perempuan mengenakan niqab.” lanjut argumen tersebut. apakah mereka merasa kalau perempuan yang memiliki mata paling indah adalah orang yang paling cantik. 224 . apakah mereka tertarik dengan perempuan yang wajah­ nya paling cantik. Di sini aku me­ nyerang. Aku tersing­ gung oleh kedangkalan untuk memerangi prasangka Barat tentang wanita Muslim dengan menggunakan prasangka Arab tentang wanita. tetapi juga sekaligus tersinggung. mereka menunjukkan maksud politis. se­ bagai pluralis. Siapa yang paling menarik bagi laki-laki? Tentu saja.ALLaH.

pembaca yang marah saat membaca kolom yang kutulis setelah seorang Islamo-tribalis menembak mati Theo Van Gogh. aku tidak menaruh eks­ pektasi pada kalian sebagaimana aku pun tak menaruh eks­ pektasi pada diriku sendiri dan orang lain. sang pembuat film dan komentator ber­ kebangsaan Belanda. Mengapa kau mengabaikan bahwa “kritikan”—nya memang sangat menyinggung. Pemakai hijab-karena-pilihan ini mendesak untuk di­ hor­ mati atas pemikiran mereka. yang merasa film kotornya itu benar-benar menghina perasaan umat Muslim? Ataukah pembunuhan Van Gogh adalah kesempatan yang bagus bagimu untuk me­ manfaat­ 225 . bahkan untuk be­ berapa non-Muslim. Bagaimana tujuan politis Anda ber­ beda dengan feminis muda di Barat yang mengenakan liontin kelinci Playboy untuk memperoleh kembali kemandirian perempuan? Atau keturunan Afrika-Amerika yang membuat tato “nigger” di kulit me­ reka untuk menunjukkan ke orang kulit putih bahwa mereka bangga dengan apa yang dianggap belenggu oleh mereka? Bukankah kalian semua menerima ketentuan orang lain begitu saja daripada mem­ bangkitkan imajinasi kalian untuk menciptakan kondisi kalian sen­ diri? Terakhir. un­ tuk memilih? Saudari-saudariku yang berhijab. Saudara Anonim ini mengkritik pedas: Kau membuatnya seakan-akan [Van Gogh] dibunuh HANYA garagara ia mengkritik Islam.IRSHAD MANJi Kemajuan yang nyata tidak menyelimuti dirinya dengan de­ finisi kehormatan yang problematis. bagaimana Anda membela perempuan-perempuan Mus­ lim yang belum menikmati hak seperti Anda—hak. Pertimbangkan jawaban­ ku kepada Anonim. maka pluralis harus meng­ hormati mereka dengan pertanyaan. minimal. kemajuanlah yang mem­ bongkar definisi-definisi tersebut.

Adalah suatu ke­ bohongan kalau tak ada nurani liberal—yang seharusnya atau perlu—ditolerir. LIBERTY. Ketika Tuhan memperlihatkan rencananya untuk memusnahkan ko­ 226 . kepasifan seperti itu justru dianggap sebagai aktivisme. Lebih bu­ ruk lagi ketika kejahatan yang keji. filsuf liberal Susan Neiman memuji teladan Nabi Ibrahim. Relativisme yang diasumsikan aman adalah salah satu dalih yang tragis di zaman kita karena ia mengedepankan kepasifan sebagai respons atas penyalahgunaan kekuasaan. Maukah kau berargumen supaya mereka pun harus membunuhnya? Kalau begitu. meneriakkan kejelasan moral. mengapa berlaku standar-ganda? Tak ada jawaban. Lebih buruknya. yang bisa jadi penilaian tersebut merupakan penilaian yang buruk. Dalam Moral Clarity: A Guide for Grown-Up Idealists (Ke­ jernihan Moral: Sebuah Panduan bagi Kaum Idealis Dewasa). & LOVE kan­ nya demi kepentinganmu sendiri. kalian mungkin menilai gagasan untuk melakukan penilaian sebagai tidak liberal. Teman-temanku yang liberal. termasuk pembunuhan karena kehormatan.ALLaH. Tapi Van Gogh juga mengatakan hal-hal yang sama buruknya tentang Yahudi dan Nasrani—dan mereka menahan diri untuk tidak menggorok lehernya. tak peduli berapa banyak fakta yang kau hapus? Serangan dari Van Gogh membuat banyak Muslim merasa malu. apakah wanita Muslim yang secara rutin dipermalukan oleh pria Muslim lainnya berhak membunuh para pria tersebut? Jika tidak.

Ingatlah ini ketika menanyakan Muslim dan non-Muslim yang bertindak bak mesiah bagi multikulturalisme. Ibrahim dengan tegar bertanya dengan lantang. “Anda tidak bisa berkomentar karena Anda tidak mewakili.IRSHAD MANJi ta Sodom dan Gomora sebagai hukuman-Nya atas dosa se­ gelintir orang. Menentukan diri orang lain berdasarkan ras tidak boleh dilakukan terhadap Muslim? Mengapa kemudian boleh dilakukan pada non-Muslim? Jika menerima jawaban berbelit-belit yang berusaha me­ ngelak. dan sela kata-kata itu dengan pertanyaan: Mengapa kau yang menentukan siapa aku? Kau mengatakan itu ke aku karena latar belakang­ ku yang non-Muslim sehingga aku tidak bisa bergabung dalam perbincangan publik? Sesungguhnya. dan sekaligus membuktikan universalitas HAM. “Masak Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” protes Ibrahim (Kejadian 18: 25). Mereka adalah orang-orang yang melontarkan peluru kata-kata. susul dengan beberapa pertanyaan lagi: Apakah kau sadar perkataanmu yang memaksa bahwa aku tidak boleh berkomentar lantaran aku tidak “mewakili”? Artinya kau mengatakan bahwa warga sipil tidak boleh menginterogasi pelanggaran HAM di Abu Ghraib atau Teluk Guantánamo karena kami tidak hidup dalam budaya 227 . sang nabi meyakinkan yang Ma­ ha­ kuasa untuk lebih meringankan dari yang diniatkanNya.” Pinjam saja jawaban dari nabi bagi kaum Yahudi. Ibra­ him lebih dari sekadar menyelamatkan banyak nyawa. kau sudah mereduksiku ber­ dasarkan demografiku dan bukan mengangkat kita berdua dengan nilai-nilai bersama. ia menghindarkan orang-orang yang bukan “kaumnya” dari ba­ haya. Dengan memohon kapasitas Tuhan yang Welas-asih. dan Islam ini. Melalui suatu percakapan yang diliputi keberanian moral. Nasrani.

“Saya mengajar kritisisme. Suse Linfield. begitu ia menyadari.” Lubang kelinci relativisme melahap bahkan mereka yang memiliki ambisi profesional untuk membedakan baik dan buruk. & LOVE militer. melihat individu-individu sebagai satu orang yang bertahan melawan kebodohan massal. memang itulah yang kita punya. menurut saya. David dan Awais. sudah “tertanam dari para tetua mereka” bahwa “tidak membuat penilaian entah bagaimana terkait dengan menjadi orang yang ‘adil’ atau orang yang ‘baik’. Bahwa Muslim di Timur Tengah tak berhak menilai kebijakan luar negeri Amerika Serikat karena mereka bukan “bagian dari” budaya Amerika. Bahwa rekan pekerja tidak boleh menuntut transparansi dari Wall Street karena kami bukan bagian dari budaya perbankan. “dan saya mengajarkannya ke mahasiswa yang sering kali tidak suka membuat penilaian. mengapa aku harus mempercayai omong kosong yang berasal dari tumpukan berbeda—tumpukanmu? Setajam-tajamnya bahasaku. Linfield me­ nyebut­ kan. “akan jadi menggila dalam ke­ 228 . Sejarawan di bidang penipuan (scams). Apakah kau percaya omong kosong ini? Aku juga tidak. aku tidak cukup naif untuk mem­ percayai para pluralis akan berhasil mengalahkan para relativis dalam waktu dekat. Bila terdengar seperti pekerjaan yang sulit. Layla dan Josee. Mohammad dan Lise—interaksi harian mereka akan membawa kesadaran menuju keragaman. LIBERTY.” tulis profesor dalam bidang jurnalisme di Universitas New York.ALLaH. Ini adalah peringatan bagi orang-orang biasa. Orang.” Mahasiswa seperti itu. membuat penilaian terkait dengan menjadi seseorang yang melepaskan otonominya dan itu tidak mungkin adil atau baik. melalui per­ tanyaan demi pertanyaan. Charles Mackay. Jadi. walaupun mereka ingin menjadi kritikus.

di sebagian besar konteks kita harus mengarah ke keberanian—terlepas apa yang mungkin terasa seperti mengundang bahaya. Dengan menentang penyensoran.” Pertanyaan demi pertanyaan. Lantas satu pesan yang mengganggu pun masuk ke kotak suratnya dari “Muslim Syiah Progresif”: Hentikan brengsek.. memilih untuk diketahui publik. Semburan demi semburan keberanian moral. Penerjemahku ke bahasa Urdu. satu demi satu. aku telah menyensor nama mahasiswa jurusan hukum syariah di Universitas AlAzhar yang menyelaraskan dirinya dengan pesan Ijtihad. sementara mereka hanya akan waras secara per­ lahan-lahan.. Ia geram dengan perburuan Yahudi dan penjilbaban wanita di sekitar­ nya. Di buku ini. Tahir Aslam Gora.IRSHAD MANJi rumunan orang. Kami bukan orang Taliban tapi kau dan Irshad berada dalam daftar kematian kami. Walaupun demikian. Mengingat lingkungan tempatnya menempuh pendidikan masih menganut tradisi lama. INGAT kami sedang 229 . Ia terang-terangan mengecam larangan bertanya di kampusnya. aku menandatangani kontrak dengan penerje­ mah bukuku untuk bahasa Arab dan Persia yang menyata­ kan bahwa aku tidak akan pernah menyebutkan identitas mereka secara detil. Ia bahkan memproklamirkan dukungannya pada gay dan lesbian. Kare­ na alasan ini juga. aku tidak mutlak bermaksud se­ gala sesuatu yang ada di bawah matahari harus terekspos cahaya—atau panas matahari. mengungkapkan nama­ nya bisa menimbulkan bahaya langsung baginya.

Kami meng­ hubungi ulama dan pemerintah untuk menghentikan Qabli Qatal Masanfa [penulis perempuan yang seharusnya dihukum mati] Toko-toko buku di Pakistan menarik bukuku dalam ter­ jemahan Urdu dari rak mereka. Zahra menulis: Di situs web Anda. kami akan terus mengawasi dan suatu hari kelak kami akan mendapatkan kalian.” Saya sendiri adalah Syiah dan saya rasa jika se­ seorang membaca surel itu dan melihat “Syiah. saya melihat ancaman kematian dari “Muslim Syiah Progresif” Saya mohon tolong hapus tanda-tangan yang ber­ tuliskan “Muslim. Namun tidak satu pun dari kami yang mengantisipasi per­ ­ mintaan berikutnya untuk penghapusan. minta penerbit Pakistan untuk menarik kembali buku dari peredaran. dalam pandanganmu. tidak ada kejahatan. Sebaliknya. Lebih baik lagi.” mereka akan melihat umat Syiah yang lain seperti itu.. seorang “Muslim 230 . “Aku justru merasa hal itu menarik. Gora masih bernapas dan pantang mundur. Tidak ada bahaya. jadilah terjemahan itu muncul di dalam situs webku. Dalam lingkup yang lebih besar. mereka akan melihat seluruh umat Islam seperti itu. LIBERTY.” balasku kepada Zahra. Ia setuju kalau aku sebaiknya memuat ancaman tersebut di situsku sebagai kesaksian atas apa yang bisa diatasi jika kita menerima bahwa ada sesuatu yang memang lebih penting dari­ pada rasa takut. kau mau menambah energi untuk memohon aku menyunting ancaman mati itu. & LOVE me­ ngawasi. TERAKHIR. kau sebenarnya bisa menulis surel melaluiku kepada orang yang mengeluarkan ancaman— men­ jelaskan mengapa..ALLaH.

Syiah. atau Muslim selama ia mengancam pembunuhan. David Frost me­ wawan­ caraiku tentang rekonsiliasi Islam dengan kebebasan bereks­ presi.. Aku mungkin akan mengizinkan penyunting YouTube untuk menampilkan kembali ancaman tersebut dan me­ lepas­ kan tanggung jawab mereka atas konsekuensi yang akan me­ nimpa­ ku. aku akhirnya mendapat konfirmasi bahwa Muslim berpotensi untuk menentang ancaman mati. tempat di mana ancaman mati muncul dan kemudian mendadak me­ nguap.” mengunggah pada awal-awal. pro dan kontra keselamatan untuk Irshad—mengandung jejakjejak berharga yang menunjukkan posisi kaum muda Muslim sekarang. “Senadin. setiap komentar—pro dan kontra kebebasan dalam Islam. Di stasiun TV Al Jazeera Internasional. kita sengaja membodohi diri tentang lawan kita dalam 231 . pro dan kontra kebangkitan ijtihad. “Bunuh pelacur ini sekarang. Dengan menghapus sisi-sisi perdebatan yang paling kasar. Pernyataanku memicu perdebatan panas di YouTube.IRSHAD MANJi Syiah Progresif” tidak bisa progresif.” Tidak butuh lama untuk “WarGuardian8” mem­ ba­ las dengan kecaman: “Berani-beraninya saudara-saudari Islam menyerukan kematian untuk seseorang!.. Bagaimana pun. Memalukan!” Namun. Apakah tidak terlintas di benak­ mu bahwa respons ini lebih baik ketimbang memohon padaku untuk menghapusnya? Apakah nuranimu lebih gelisah karena apa yang kulakukan daripada apa yang calon pembunuhku per­ buat jika dia punya kesempatan? Mengapa kau lebih tertarik melestarikan citra negatif Islam daripada membantu mem­ perbaiki latar belakang terbentuknya citra tersebut? Di bulan Februari 2008. kejutan justru datang dari YouTube sendiri.

Jika demikian.” Ia pasti tidak akan menggambarkan pengebom bunuh diri sebagai “barbar da­ lam berpikir dan bertindak. dan kau tidak bisa ber­diskusi tanpa kebebasan berbicara. harus menyandang sebaskom prinsip. memakai ke­ matian sebagai baju dan membalutnya dengan sabuk. marah dan buta. Pemikirannya tentang mendahulukan kesopanan memberikan gagasan ke orang-orang untuk menentang prasangka yang tidak ter­ ucap­ kan. tapi sekaligus juga menutup kesempatan untuk mencegah prasangka yang terucapkan. Hissa Hilal dari Sau­ di Arabia tidak akan mendeklamasikan sebuah puisi di pro­ gram TV pan-Arab Poet of Millions.” Dengan semua gelar akademisnya yang tinggi. Akbar Ladak.ALLaH. pe­ muda Muslim dari India. Jika mengikuti saran profesor itu. dengan gamblang mengatakan: “Kau tak bisa bereformasi tanpa diskusi. “Jika Anda bisa memprediksikan sesuatu akan mengganggu sensitivitas. & LOVE usaha untuk mereformasi pola pikir Muslim. yang menantang ulama Muslim karena “meneror orang-orang dan memangsa setiap orang yang mengupayakan kedamaian.” Caci maki terhadapnya yang ke­ 232 . “maka ja­ ngan lakukan. ini ha­ nyalah indikasi lain bahwa individu. pria ini memiliki wilayah moral yang sempit.” geramnya. LIBERTY. Seorang profesor dari Universitas London memperingatkanku bahwa tak ada kebaikan yang datang apabila meletakkan halhal prinsip di atas kesopanan.” Pengacara YouTube mungkin me­ nyambut argumen ini dengan tertawa. bukan institusi.” Jelas ia menyadari tuduhannya yang tidak tanggung-tanggung akan “mengganggu sensitivitas.

Jika mereka menerima nasihat dangkal profesor itu. Elie Wiesel tidak akan berhasil mengintervensi genosida Bosnia. sang sutradara Slumdog. Tapi karena gang­ gu­ an ini. Saat ini. Ia menjadi wanita yang men­ capai babak final. Lantas aku men­ dengar keberanian Wiesel di depan Presiden Bill Clinton. jutaan Muslim menyaksikan ke­ beranian moral se­ orang ibu rumah tangga beraksi. Apakah Danny Boyle.” Hindu People’s Awakening Committee (Komite Kebangkitan Orang Hin­ du) sem­ pat berusaha melarang Slumdog. sebagian karena ade­ gan di mana gadis Hindu jatuh cinta dengan anak muda Muslim. Tapi ia mengatakan kepada mereka yang mengumpatnya 233 . seorang yang selamat dari Holocoust dan penerima Nobel perdamaian. mesti me­ ng­ ajarkan profesor kita itu bahwa menyinggung kaum fundamen­ talis Hindu melalui adegan-adegan pluralisme yang meng­ hibur namun satir bisa jadi adalah hal yang sopan untuk dilakukan? Jika menerima instruksi profesor itu. bergabung dengan Clinton di atas panggung. aku ingat saat terluka oleh kebebalan global pada penderitaan Muslim di wilayah bekas Yugoslavia. Sesuatu—apa pun itu—harus dilakukan terkait usaha pembantaian Muslim di Bosnia. Sebagai jurnalis muda di tahun 1993. hampir seminggu berlalu di India tanpa tuntutan hukum atau serangan dari kelompok-kelom­ pok yang meratapi “penggambaran yang salah. Wiesel memohon kepada presiden. membuat marah beberapa rekan Yahudinya karena memanfaatkan panggung yang penuh kehormatan ini. Museum Peringatan Holocoust di Amerika Serikat baru saja dibuka.IRSHAD MANJi mudian muncul di internet menjadi bukti. kru Slumdog Millionaire akan berhenti mengambil film—atau tak pernah memulai. dan Wiesel.

kaum Yahudi tidak berhak untuk diam. Bila kau berpikir (atau merasa) bahwa aku sedang mem­ bicarakan bagaimana Muslim bereaksi terhadap kartun Den­ mark. pembuat film. tapi multikulturalis pun 234 . kau baru sebagian benar. Setelah profesor tadi mengatakan kepadaku untuk meng­ hindari sensitivitas yang mudah berkobar untuk alasan apa pun. semakin tertanamlah budaya ter­ singgung. ketika kota-kota berubah menjadi kuburan massal. Pernyataan itu me­ mukulku seperti batubata karena ini membuktikan fakta yang tidak diakui oleh siapa pun: bahkan ketika kita berpikir kita sedang berpikir. Aktivis antimasjid secara konstan lebih banyak meng­ gu­ na­ kan slogan daripada pemikiran. ia lalu menyelipkan agenda yang penuh emosional.” Dua tahun kemudian. Perdebatan kisruh tentang pem­ bangunan masjid di seluruh Amerika mungkin akan menjadi perang kartun berikutnya. ketika orang-orang yang tidak bersalah menjadi korban per­ kosaan dan penyiksaan. Gu­ brak. dan Ghaffar Khan masa kini. atau penggagas perdamaian.ALLaH. “Aku merasa tersinggung” mengambil peran utama sebagai substansi dan membuat substansi aktualnya justru tidak re­ le­ van. kita mungkin se­ benarnya sedang merasa. entah mereka itu berasal dari kalangan ibu rumah tangga. Semakin kita salah mengira pe­ rasaan sebagai pemikiran. “Sa­ ya bersimpati pada kemarahan umat Muslim. Gandhi. Mengutamakan perasaan yang tidak menyenangkan arti­ nya meng­­ utamakan kemunculan Galileo. & LOVE bahwa “ketika manusia sekarat. Amerika Serikat terlibat dalam misi PBB untuk membantu Muslim Bosnia dari pem­ bantaian lebih lanjut—suatu kebijakan yang dimulai dari kesediaan Wiesel untuk membuat orang tersinggung. LIBERTY.” ujarnya.

sebagai tanda toleransi dan Amerikanisme.IRSHAD MANJi tak kalah emosinya. Bagaimana dengan “biang” dari semua proyek masjid di Amerika Serikat—Park51. apakah antipati Bob terhadap perilaku intoleran akan berujung dengan menolerir perilaku yang tidak toleran. jangan langsung bereaksi: libatkan perasaan tersinggungmu untuk me­ meriksa isu-isu lebih lanjut. dan dengan de­ mikian. Maksudku ialah. Ia harus ber­ pikir untuk dirinya sendiri. Pada saat itulah. Saya menemukan bahwa warga lokal tidak bersikap toleran dan tidak bersifat Amerika. kesempatan yang tak terduga sebelumnya akan memunculkan keragaman ber­ makna—yaitu. di manakah rencananya pintu masuk bagi pria? Itulah cara bijak untuk melihat apakah masjid baru ini akan mereplikasi pemisahan.” Sebelum menjanjikan uang. seperti ia mengasihi kaum Muslim. Jadi. sampai-sampai pe­ rasa­ annya mendorong mereka untuk mendukung lebih banyak masjid—tanpa pemikiran sebelumnya tentang apa. kami menghadapi respons yang agak buruk untuk proyek ekspansi komunitas Muslim. jika kau tersinggung. Dengan kata lain. Beberapa multikulturalis merasa sangat ter­ singgung oleh pasukan antimasjid itu. aku mem­ beri donasi untuk dana pembangunan masjid. ia tidak seharus­ nya memberikan kuasa pada para pengunjuk rasa itu untuk membajak hatinya dan menyita otaknya. yang mereka dukung. “Di Tennessee ini. sebuah tempat shalat dan pusat komunitas Islam terdiri dari beberapa lantai yang akan di­ 235 . Bob mengirim surel kepadaku. persisnya. Aku tidak mengatakan bahwa Bob sebaiknya bergabung dengan pengunjuk rasa antimasjid. keragaman pemikiran. Bob seharusnya menarik na­ pas dulu dan bertanya kepada imam.

ia mengklaim ke­ prihatinan warga Amerika sebagai Islamofobia. LIBERTY.” Minggu-minggu berikut­nya. & LOVE bangun di atas Ground Zero di New York? Aku ingin blakblakan dengan perasaanku. Aku tersinggung karena dekatnya pem­ bangunan itu dengan makam 9/11. sebagian besar rakyat Amerika yakin dia salah atas tuduhannya tentang provokasi yang disengaja. meskipun ia pernah membuat tuduhan yang sama terhadap kartun Nabi Muhammad di Denmark. tetapi kelompok pendukungnya tidak mau berempati. Aku juga tersinggung karena Imam Feisal Rauf. Alih-alih. kita malah tidak ke mana-mana selain ke dalam ku­ bangan kegelisahan yang lebih dalam? Apakah jalan buntu ini hanya menahbiskan budaya yang memberi dan menerima pe­ rasaan tersinggung? Selagi bertanya pada diriku sendiri. Pada bulan Februari 2006. aku pun mundur sejenak dan menenangkan diri. sang imam mengumumkan diri­ ­ nya “kaget” dengan gambar-gambar itu dan menyebut pe­ ner­ bitannya di seluruh Eropa adalah “provokasi yang di­ sengaja” dan “tidak bisa dibenarkan. Berbagai per­ ta­ nyaan muncul. aku menemukan satu peluang untuk sesuatu yang lebih konstruktif 236 . Tiga tahun kemudian. Apakah dengan membuang-buang waktu dan tenaga. Ia menolak tuduhan diri­ nya tidak sensitif. ham­ pir tidak ada surat kabar Amerika Serikat yang memuat karikatur itu. Hal itu jelas sangat menggangguku. me­ mainkan politik yang tidak sensitif dengan tidak menjadi orang yang mau berdialog. Karena semua perasaan tersinggung yang meresahkan ini. Tidak sekali pun mereka mengakui kalau perasaan warga Amerika yang “kaget” ini sama seperti bagaimana perasaan Muslim seperti Imam Rauf pada saat per­ soalan kartun berlangsung.ALLaH. ulama yang dulu memimpin proyek Park51.

Apakah kolam renang akan dipisah antara wanita dan pria sepanjang siang dan malam? Bolehkah wanita memimpin shalat jamaah setiap hari? Mungkinkah umat Yahudi dan Nasrani. perlu diajukan pertanyaan-pertanyaan yang ber­ dasar­ kan nilai-nilai kemanusiaan. 237 . Aku terus di­ hantui dengan 300 Muslim yang mengumandangkan “Kematian untuk Rushdie” pada 10 September 2010. Seorang Muslim berkata ke reporter. “Fatwanya valid bahkan jika pemerintah Iran tak lagi menyokongnya.” Muslim lain­ nya mendengus. Ini pusat pendidikan atau indoktrinasi? Pertanyaan ini patut mendapatkan jawaban jujur. sesama ahli Kitab. Berkat lokasi Park51 yang pro­ vokatif. Melalui keterlibatan yang me­ nekankan pada pertanyaan-pertanyaan seperti ini.” Pria itu mengafiliasikan dirinya dengan Houston’s Islamic Education Centre (Pusat Pendidikan Islam Houston). di mana orang bisa memesan tiket lebih awal untuk kuliah Salman Rushdie di Park51? Pertanyaan-pertanyaan bukan tanpa sebab. warga akan mencermati apa yang terjadi di dalam. Mereka berkumpul di luar sebuah teater di Houston untuk memprotes kedatangan penulis itu. Muslim dan non-Muslim kemungkinan besar membuat Ground Zero sebagai rumah Islam yang paling modern.IRSHAD MANJi ketimbang amarah: akuntabilitas. paling demokratik. menggunakan tempat shalat untuk ibadah mereka sebagaimana Muslim berbagi ruangan dengan Yahudi dan Nasrani di Pentagon? Apa yang akan diajarkan me­ ngenai homoseksual? Mengenai agnostik? Mengenai politeis? Mengenai ateis? Mengenai kemurtadan? Dan. Artinya. Masyarakat Amerika memiliki kesempatan secara jelas me­ ngenai bentuk diharapkan akan diterapkan di situs yang diper­ sengketakan itu. “Kita belum lupa dengannya dan per­ buatan buruk­ nya.

menuju cahaya nurani manusia. Ketika umat Nasrani moderat terganggu dengan kericuhan yang diduga digagasi oleh King. Marthin Luther King. mungkin akan menjadi orang per­ tama yang mengajukan pertanyaan menyelidik ke Muslim moderat seperti Imam Rauf.. ia pun ber­ teriak membalas: Kami hanya membawa ke permukaan ketegangan ter­ sem­ bunyi yang memang sudah ada. Kami memuncul­ kan­ nya. melalui balik tirai. 238 . tidak mau menolerir aktivis antisegregasi.. Jr. ini akan menjadi kenangan yang paling pantas bagi korban 9/11. supaya bisa dilihat dan dihadapi. Kupikir (dan tidak hanya merasa). LIBERTY. King yakin: di masa-masa krisis moral. kurasa.. begitu pula ke­ tidakadilan harus disingkapkan. & LOVE dan paling terbuka yang pernah ada. Hal ini pun akan meng­gulingkan budaya al-Qaeda yang mengkritik keras kebebasan dan akan menumbangkan budaya tersinggung tanpa berpikir. Seperti bisul yang lama tidak sembuh karena ditutup sehingga harus dibuka dengan segala keburukannya demi men­ dapat­ kan obat alamiah yaitu air dan udara. dengan semua ke­ te­ gangan yang di­ timbulkan akibat penyingkapan terse­ but. Pada Islam masa kini. kaum mo­ derat di­ ibaratkan seperti umat Kristen diplomatis di tahun 1960-an yang.ALLaH. hindarkan sikap moderat.

kita akan mem­ bangun keberanian moral bagi diri kita sendiri. bukan bertahap. walaupun bisa membantu secara emosional dalam membangun dialog. Tuntutlah keberanian moral dari para Muslim moderat. 239 . Ia membantu King dengan meng­ adopsi “cara ekstrem” sebagai “cara yang benar. tindakannya harus penuh kasih yang diimbangi komitmen sungguh-sungguh. Tetapi bersikap baik. Di mana ada banyak penyalahgunaan ke­ kuasaan.” Memang banyak di antara mereka yang se­ betul­ nya ramah.IRSHAD MANJi Pasca 9/11. maka pemberantasan korupsi tak pernah boleh menjadi tin­ dakan yang setengah-setengah. aku akan memperkenalkan seorang wanita kulit putih dari Georgia yang mendorong kaum mo­ derat di Selatan untuk melihat bahwa segregasi rasial perlu di­ akhiri secara cepat. tidak ada arti­ nya untuk mewujudkan tonggak sejarah yang nyata dalam me­ lapangkan jalan Islam. Pada bab berikutnya.” Wanita ini mewakili kaum kulit putih dan kulit hitam. umat Muslim moderat memainkan peran “pro­ tagonis. Mari kita contoh jejaknya. dan bila kita melakukannya. warga Utara dan warga Selatan. dengan nilai-nilai kemanusiaan yang transenden.

.

” Dengan kata lain. organisasi pelindung HAM. Kami berdebat tentang urgensi untuk menghentikan hukuman rajam sampai mati—penyiksaan terhadap wanita dan pria dengan melempari batu sebesar kepalan tangan.6 Atas Nama Krisis Moral. Amnesti Internasional. 241 . Mereka mengarungi badai salju terburuk untuk sam­ pai ke sini. aku me­ nyebalkan. setara dengan pembakaran pada pancang di abad ke-21. menggambarkan pe­ rajaman sebagai “hukuman mengerikan” karena melanggar kehormatan masyarakat. Tinggalkan Sikap Moderat Di manakah cinta? Waktu itu Hari Kasih Sayang. Karena itu. Chicago. aku bersyukur. Aku dikelilingi oleh para wanita Muslim moderat dan salah seorang teman feminis mereka yang non-Muslim berasal dari Universitas Illinois. Hukuman ini “didesain khusus untuk menambah penderitaan para korbannya. Bagi mereka.

dan mereka juga rentan mendapatkan persidangan yang tidak adil karena tingkat buta huruf mereka yang lebih tinggi membuat mereka berkemungkinan besar menanda­ ta­ ngani berkas pengakuan atas kejahatan yang tidak per­ nah mereka lakukan.. Usaha-usaha berani telah dilakukan me­ lalui kampanye Stop Stoning Forever (Hentikan Pe­ rajaman Selamanya). sejak kampanye itu dimulai pada Oktober 2006. LIBERTY. seruan ini tidak didukung oleh para sarjana Muslim moderat yang ada di sekelilingku. misalnya. Amnesti Internasional menyerukan Iran untuk “segera menghapuskan” perajaman. Di tengah masyarakat ter­ buka seperti di Amerika Serikat. Khususnya jika kau seorang wanita. perajaman akan diikuti de­ ngan prasangka yang terlalu dibesar-besarkan. Tetapi. Bahkan tidak juga oleh rekan feminis mereka. mereka tidak akan pernah 242 . Kaum wanita tidak diperlakukan secara setara dengan pria di hadapan hukum dan pengadilan. Meskipun muncul protes kemarahan Iran terkait makna budaya kehormatan. Sangat umum di Iran.. & LOVE penderitaanmu tidak dimulai begitu kau diletakkan di lubang tanah yang baru digali.ALLaH. demikian laporan Amnesti. di mana usaha ini telah berhasil me­ nye­ lamatkan lima nyawa… dan membuat satu vonis di­tangguhkan. Terlepas dari realita suram ini. Sebaliknya. para pembela HAM di Iran percaya bahwa publikasi inter­ nasional bisa berperan dalam menghentikan pe­rajaman. Semua bersikeras bahwa moratorium—peng­ hentian sementara—sudah cukup.

seorang tentara Amerika Serikat yang mengekspos penyiksaan di Abu Ghraib. Darby bisa saja menjadi teman sekelas para wanita ini. “Bayangkan kalau saudara perempuan kalian yang divonis hukuman rajam. Dia bilang dia senantiasa memikirkan. seorang mahasiswa lain—rupanya nuraninya bergejolak—ber­ tanya. putranya “tidak tahan dengan kekejaman yang ditemuinya. “Tidak. “Menjadikannya terlalu personal? Menjadikannya terlalu per­ sonal?” Aku tergagap.” erang salah seorang mahasiswa. atau istri­ku. Sungguh hak istimewa yang sia-sia.” jawabku. jadi mereka bisa bersikap tidak peduli. saudara lelakiku. Seandainya waktu itu aku mengingat kisah Joseph Darby. 243 . namun dia tidak mem­ butuhkan kearifan bertahun-tahun untuk mengetahui hal apa yang paling penting.IRSHAD MANJi me­ nemukan gerombolan massa melakukan perajaman.” Aku ragu para pengkritikku akan menuduh anggota tentara ini “menjadikan terlalu personal” isu penyiksaan Tentara Amerika Serikat secara tidak adil. nenekku. Aku membuatnya lebih ma­ nusiawi. “Apa yang Anda mau dari kami?” “Memberikan contoh yang benar. Apakah itu cukup baik jika korbannya adalah sau­ dara pe­ rempuan kalian sendiri?” “Nah. Anda mulai lagi menjadikan isu ini terlalu personal. Seperti yang disampaikan ibunya ke­ pada para jurnalis.” Ketika kami siap untuk menempuh jalan yang berbeda. yang dalam komentarnya me­ negas­ kan bahwa dia tidak hidup di alam teori. ba­ gaimana jika itu ibuku. penghentian sementara dapat dicabut ka­ pan saja. Aku coba taktik yang berbeda. Di usianya yang dua puluh empat. Tidak seperti pelarangan.

ALLaH. Presiden George W. yang merasa berada di ambang batas kehidupannya. Tariq Ramadan. LIBERTY. Tinggalkan Sikap Moderat. sang presiden meminta maaf atas ke­ kerasan “mengerikan” yang diderita sejumlah tahanan Irak. Pelajaran Keenam: Atas Nama Krisis Moral. Seorang personil tentara cadangan memahami—dan membuat pejabat Amerika mengerti—apa yang masih harus dihadapi oleh Mus­ lim moderat dan para pendukung “progresif” mereka. Pada bulan Mei 2004. berada di dalam situasi penyiksaan yang kelam—entah itu merajam orang yang dituduh pezina atau me­ nyetrum tahanan—bukanlah hal yang langka. Dan pada Oktober di tahun yang sama. Bush me­ mini­ malisirnya sebagai menyimpang dari kebiasaan. bertahan dari ancaman pembunuhan. Dalam menanggapi berita pelecehan Abu Ghraib. mendukung moratorium ter­ 244 . “Perlunya ber­ tindak sesuai dengan nurani dengan mempertaruhkan karir dan bahkan penghargaan dari para koleganya demi mewujudkan apa yang benar merupakan hal yang sangat penting pada zaman sekarang. Tetapi Darby.” demikian tulis resolusi mereka. Tindakan para Muslim moderat tidak ada bedanya dengan kebanyakan tentara Amerika dan presiden mereka. Ia menjadi saksi sebuah krisis moral. yang bisa dibilang ulama Muslim yang paling men­ dapat perhatian di Eropa. Kongres AS memuji Joseph Darby karena mencontohkan keberanian moral. & LOVE Bagaimanapun. Dia memberikan contoh yang benar. me­ ngembang­ kan rasa empati. dan terus melaporkan pelanggaran dengan lebih lantang.

Ketika larangan dalam kitab suci dinilai ulang sebagai hal yang 245 . kuprediksikan.” Menurutnya. dan “keniscayaan itu membuat hal-hal yang di­ larang menjadi diperbolehkan. Tetapi bagaimana kita tahu mereka akan men­­ capai keputusan yang rasional mengenai perajaman? Bu­ kan­ kah para ulama senior itu mungkin saja. inilah alasan teolog asal Qatar Yusuf al-Qara­ dawi mendukung bom bunuh diri terhadap warga sipil Israel. Dan tidak hanya pada al-Qaradawi. Oleh karena itu. Tetapi al-Qaradawi berpendapat “Masyarakat Israel sifatnya memang suka berperang. demi Tuhan. membiarkan geopolitik memperburuk emosi mereka—dan mencemari analisa mereka mengenai ajaran Islam? Setidaknya.” Hiruk-pikuk dunia politik mengesampingkan nurani AlQuran. solusi alternatifnya adalah menuntut pelarangan secara permanen: musyawarah di kalangan ahli fikih.” meng­ anggap setiap warganya sebagai tentara. Tetapi karena Al-Quran tidak pernah me­ nyebutkan tentang perajaman terhadap wanita.IRSHAD MANJi hadap perajaman karena “dengan mengutuk kalian tidak akan mengubah apa pun. Pandangan-pan­ dangan­ nya telah mendapat dukungan dari sejumlah teolog Muslim dengan menjadikannya sebagai bahan pertimbangan. seperti pialang kekuasaan di dalam sistem mana pun. yang perlu dipertimbangkan? Responsnya bisa jadi. adalah musyawarah terdiri dari sebagian besar senior pria yang akan memberikan kesimpulan sesuai kre­ dibilitas mereka. Al-Quran secara tersirat menentang bunuh diri apa pun dalih­ nya dan memohon pejuang Muslim untuk memiliki belas ka­ sih terhadap warga sipil. me­ ledakkan warga sipil menjadi “keniscayaan” yang di­sayangkan. apa lagi.

ketika aku mendengar baru-baru ini Ramadan diundang untuk tidak mem­ benarkan simpati kakeknya terhadap totalitarianisme. ia mengelak. se­­ jumlah komentator mengutuknya sebagai seorang cryptoIslamist (Islamis secara sembunyi-sembunyi). keduanya menggunakan kekerasan untuk menghapus noda tersebut.ALLaH. dan kaum kulit hitam men­ jadi noda bagi Afrikaner Broederbond. Ia juga meminta “pengutipan yang 246 . yaitu meme­ rangi kekotoran di antara mereka. Ketika dewasa. pendiri Ikhwanul Muslimin. seorang anak dari ke­ luarga yang mendirikan Broederbond. ia tanpa sengaja menyingkap adanya kri­ sis moral di kalangan Muslim moderat saat ini. Keduanya beroperasi sebagai kelompok sesat. & LOVE “di­ perbolehkan” demi alasan yang jelas-jelas oportunistik. Sebaliknya. Keduanya juga menganut visi Manichaean. Beyers Naudé. me­ ngapa aku harus percaya bahwa pembahasan di antara ahli fikih ini akan mengakhiri perajaman terhadap pria dan wanita? Bagaimana moratorium Ramadan akan menjamin integritas Islam? Siapa yang idealis sekarang? Aku tidak akan berkomentar banyak tentang Tariq Rama­ dan kecuali satu hal. aku sudah menulis mengenai teman Uskup Agung Desmond Tutu. Di masa kejayaan mereka. Sebelumnya. yaitu sebuah kelompok persaudaraan Protestan rahasia yang me­ ngesahkan apartheid Afrika Selatan melalui penafsiran Injil yang berbau rasisme. Ramadan merupakan cucu Hassan al-Banna. LIBERTY. kaum Yahudi men­ jadi noda bagi Ikhwanul Muslimin. Pastinya. Kelompok ini mirip Afrikaner Broederbond di Mesir. bukan moderat. Naudé me­ nolak pandangan-pandangan ayahnya. Ia justru menceritakan tentang konteks yang me­ yakinkan al-Banna untuk bersimpati pada kelompok Nazi yang menentang Zionis Eropa.

pemerintahan Bush melarang Ramadan datang ke Ame­ rika. Tetapi. Menteri Luar Negeri Hillary Clinton akhirnya mengeluarkan visa masuk yang diidam-idamkan Ramadan. Di bangunan yang sama. Itu­ lah kepingan puzzle yang paling utama untuk mengetahui mengapa kaum Islam moderat begitu sering menghalangi nilai-nilai demokrasi liberal: jika sebagian besar Muslim adalah 247 . Perbedaan antara Muslim moderat dan ortodoks masa kini menjadi sangat tipis. per­ ­ nyataan semacam itu tidak bisa disisihkan begitu saja. ia berpartisipasi dalam sebuah perbincangan di Cooper Union New York. ia secara spontan ber­ komentar kepada seorang panelis bahwa Muslim “arus utama” adalah “apa yang kalian sebut ortodoks. dengan alasan—tanpa pembuktian—bahwa ia me­ miliki hubungan dengan para teroris. bagiku.” Mengenai satu ini. dia termasuk moderat. Selama bertahuntahun. Ramadan berupaya mem­ bangun jem­ batan sekaligus mempromosikan masa depan bersama antara Timur dan Barat. Mendekati penghujung hari itu. Tetapi menurut standar Mus­ lim kontemporer. Di sinilah letak per­soalannya. Banyak petunjuk me­ngarahkan Ramadan sebagai seorang Islamis. tanpa menyinggung apa yang cukup benar atau tepat untuk dapat mengilhami keberanian moral se­ macam Beyers Naudé di dalam dirinya. Beberapa hari ke­ mudian.IRSHAD MANJi benar”—terjemahan yang tepat—tentang pernyataan kakeknya dalam Bahasa Arab. tempat calon presiden Abraham Lin­ coln menyulut kemarahan orang-orang berpengaruh di Selatan melalui seruannya yang lantang dalam menentang per­ budakan. Ramadan tepat sekali. Di awal tahun 2010. Izinkan aku memaparkan sedikit lagi.

dogma. LIBERTY.ALLaH. 248 . dogma. Di Islam saat ini. yang terjadi kebalikannya. Di setiap agama. Namun dalam Kristiani dan Yahudi saat ini. Literalis Yahudi melahirkan pendatang ilegal dan kelompok rabi yang mem­ perdayai para wanita yang meminta cerai dari suami mereka. Mawdudi.. dan ketakutan mencemari perilaku kaum moderat itu sendiri. Seperti satu contoh berikut ini saja: “Islamic Foundation. mem­ berikan sesuatu yang bisa direnungkan. & LOVE moderat. kepicikan. se­ buah organisasi para pemikir yang berbasis di Leicester terus memublikasikan karya-karya ideologi Islamis. golongan moderat memiliki segudang kegelisahan tentang kepicikan. Beyers Naudé mengingatkan kita tentang literalis Kristiani yang menggugat ketidakadilan.. kepicikan. dan ketakutan me­ nanda­ kan ortodoksi. maka sikap moderat menjadi arus utama dan jika arus utama adalah ortodoks. maka seorang Muslim moderat berarti seorang ortodoks. termasuk jur­ nalis Pakistan. dogma. Quilliam Foundation (Yayasan Quilliam). Quilliam mengungkapkan betapa pe­ mim­ pin Muslim arus utama sangat menyangkal dogma mereka. sebuah kelompok antiteror Inggris yang didirikan oleh para mantan pejihad.“ Tidak ada salahnya mengkaji apa yang diperjuangkannya dan bagaimana ia mempengaruhi dunia­ mu dan aku. dan ketakutan yang menghantui sesama mereka yang literalis. Dalam publikasinya ber­judul Pulling Together to End Terror (Bekerja Sama untuk Mengakhiri Teror)..

“wabah permanen yang menyebar di tengah-tengah umat dan menjadi sumber ketakutan yang sewaktu-waktu akan menulari seluruh anggota masyarakat yang sehat dengan racunnya. kelompok Taliban Pakistan membantai hampir seratus pengikut Ahmadiyah di dalam dua mesjid. Di suatu Jumat yang suci pada bulan Mei 2010. si pembagi selebaran membenarkan dengan na­ da riang. ke­ lompok Ahmadiyah menghadapi cemoohan dari masyarakat Muslim moderat di Barat dan serangan amukan di Pakistan. Aku tekankan “puritan. menurut Mawdudi.” Ke­ miripan yang mengerikan dengan motif pembunuhan terhadap wanita berdasarkan kehormatan. para Muslim arus utama harus meng­ ajukan pertanyaan. yaitu kelompok Ahmadiyah. tetapi aku juga mendapatkan propagandanya dari pembagi selebaran di sudut-sudut jalan kota Toronto. Karena. Mawdudi membentuk kelompok dari Pakistan yang mirip dengan Ikhwanul Muslimin—sebuah partai agama puritan bernama Jamaat-e-Islami. bukan? Di satu wilayah di Inggris mungkin dibanjiri dengan katakata Mawdudi. Sampai hari ini. buku tipis yang kudapat di 249 . Saat kita membahas persoalan kafir.” Dogmanya menganggap sebuah sekte minoritas di Islam. yaitu siapa pun yang memilih untuk meninggalkan Islam adalah. Kalau begitu. sebagai golongan yang me­ nyimpang dari Islam dan karenanya kafir. Aku per­ nah berpura-pura menjadi pejalan kaki yang penasaran di ke­ dua tempat itu dan bertanya. “Apakah ini Islam arus utama?” Di keduanya.IRSHAD MANJi Para sarjana sering membandingkan Syed Abul A’la Maw­ dudi dengan Hassan al-Banna. Propa­ gandanya bahkan beredar di daerah sibuk yang ber­ toleransi tinggi di New York dan Greenwich Village.

Para penjaja agama di Greenwich Village—warga yang idiot. kata ini digunakan khusus untuk perang yang dilancar­ kan semata-mata atas nama Tuhan terhadap mereka yang melakukan penindasan sebagai musuh-musuh Islam. Bukan. LIBERTY. demikian berita yang muncul kemudian. Saudara-saudari sekalian.ALLaH. yang mengalami suka duka dalam menjalani Impian Amerika. ketaatan yang hampa dan tidak berarti apaapa. & LOVE Greenwich Village—berjudul Towards Understanding Islam (Me­ nuju Pemahaman Islam)—menyampaikan “Jihad” sebagai be­ rikut: “dalam bahasa Hukum Ilahiah. Setiap klaimnya sebagai Mus­ lim patut untuk diragukan. melakukan hal itu? Balas dendam atas serangan udara Amerika Serikat terhadap Taliban di Pakistan. Dia jelas-jelas orang munafik yang gagal dalam ujian keikhlasan dan semua ibadah­ nya palsu. Pengorbanan agung ini adalah tanggung jawab seluruh Muslim.. perkenalkan Tuhan.. Siapa pun yang mengelak darinya akan me­ nanggung dosa. Mengapa seseorang yang tampaknya cocok sebagai teladan integrasi imigran. tetapi Faisal Shahzad mengetahuinya. sungguh—mungkin tidak menyadari hal di-luar-batas yang terkandung di dalam Islam arus utama versi Mawdudi.” yang akan ditegakkan oleh para pengikut Mawdudi di muka Bumi ini. Ia adalah pemuda Mus­ lim dan warga Amerika naturalisasi yang mencoba meng­ aktif­k an sebuah bom mobil di Times Square New York pada bulan Mei 2010. Tetapi 250 .

tidak membuat pendirian yang lebih kuat dan menentang semua kegilaan yang meng­ atasnamakan “Islam” itu? Saira mulai menjawab melalui pandangannya berikut ini: Ya. Saira telah menghantam hambatan nyata bagi pertumbuhan itu. Muslim moderat begitu terhisap 251 . Di antaranya: Mawdudi. Mengapa begitu banyak Muslim menggunakan potensi mereka untuk menghancurkan banyak hal yang telah diberikan Tuhan yang Mahabaik. ketidakadilan telah terjadi. tanpa mencoba untuk men­ ciptakan eksistensi yang nyaman bagi generasi yang akan datang? Jarang sekali aku menemukan seruan lantang untuk meng­­ ­ ganti­­ kan kegelisahan yang mendera dengan kapasitas untuk tumbuh. seorang pembaca­ ku di Toronto. “Apa yang terjadi pada diri kita?” tanya Saira. negara melawan negara. Tapi apakah kita akan terus memegang dendam dan kebencian seumur hidup kita. dan Pengampun kepada kita semua? Apakah seseorang akan benar-benar terbantu ketika pe­ ngebom bunuh diri tewas dan meninggalkan keluarganya? Mengapa begitu banyak energi yang dibuang untuk menciptakan ke­ kacauan dan kematian daripada kehidupan yang lebih layak? Mengapa kita.IRSHAD MANJi setelah itu. sebagai Muslim moderat. yaitu identitas kelompok. Shahzad mengakui banyak hal yang mengilhaminya. Pengasih. tidak di­ ragukan lagi.

akan kuceritakan sesuatu tentang se­ orang Muslim New Jersey yang menyensorku.” kata seorang pakar di Universitas Kolombia Akeel Bilgrami. Apakah seorang pembela dialog antaragama pantas men­ jadi moderat? Jika ya. 252 . Tidak hanya mem­ berikan daftar sejumlah kalimat ofensif untuk dihapus dalam The Trouble With Islam Today.ALLaH. demikian aku me­ nyimpulkan di dalam bukuku. Hasil suntingnya: “Pen­ dudukan militer Amerika di tanah Muslim adalah penyebab se­ benarnya. Muslim sen­ dirilah yang menyakiti Muslim lain. “fun­ da­ mentalisme Yahudi-Kristen yang membunuh dunia. Inilah resep sempurna untuk pertahanan yang tinggi dari kelompok lain dan ekspektasi yang rendah pada diri sendiri. pertahanan diri yang tinggi terhadap kelompok lain dan ekspektasi rendah terhadap diri sendiri.” orang ini mengubahnya dengan.” Sekali lagi. Kaum Muslim moderat selalu terjebak dalam perangkap ini.” Di halaman yang memuat argumenku mengenai ke­ patuhan umat Muslim pada kehidupan Islam di abad ke-7 “yang membunuh kita. Karena “teralihkankan oleh sikap mempertahankan diri. Bukan Amerika ataupun Israel. LIBERTY. Mereka tidak mampu me­ ngutuk terang-terangan pembunuhan dengan perajaman— tidak setelah dua jam di ruangan penuh mahasiswa yang marah terhadap prasangka dan kebijakan Barat—karena impotensi identitas kelompok muncul dan semakin memperkuat per­ ta­ hanan diri mereka. & LOVE oleh kolonialisme Barat sehingga mereka berpaling dari penjajah di dunia Islam. Mari mundur kembali ke beberapa wanita muda Muslim yang mengeroyokku di Chicago. dia juga menuntutku agar menyertakan analisis berbeda mengenai apa yang menyakiti kaum Muslim. Sebagian besar.

Penyangkalan dan pembelokan dapat melucuti ke­ mampuan Muslim untuk menjadi introspektif dan bebas. hal sebaliknya (tidak melepaskan kehormatan) tetap benar: kemenangan akhir bagi para penjajah adalah berkembangnya kebiasaan Muslim yang menyangkal dan membelokkan disfungsi di dalam tubuh Islam sendiri. Atau bahkan Idi Amin. Da­ lam proses itu. seluruh desa Muslim di Albania menampung umat Yahudi.. Tetapi. Adnan mem­ biarkan dirinya terkungkung oleh kebenciannya yang mem­ butakan dan menghancurkan terhadap satu versi keke­ ja­ man penjajahan saja—“Anglo Saxon. Seorang pembaca bernama Adnan mengirimiku surel.” Mengapa Adnan men­ ­ dukung Idi Amin. Sayang sekali Idi Amin tidak membunuhmu dan keluargamu. menginstruksikan perintah rahasia kepada para pe­­ngikut­nya. Saat pendudukan rezim Nazi. Muslim moderat mencekik sifat moderat yang mereka klaim telah menganutnya.. Bilgrami dengan cerdik menjelaskan. Akeel Bilgrami berpendapat bahwa Muslim moderat me­­ ­ la­ ku­ kan pembelaan diri karena adanya ketakutan kalau meng­ ­ kritik sesama Muslim “sama saja dengan mengalah. “Semua anak-anak Yahudi akan tidur dengan 253 . Atau Khomeini. Bayangkan Mawdudi. Mehdi Frashëri.” Pembantai dengan kulit warna berbeda pun dibiarkan lolos.IRSHAD MANJi Muslim moderat menjadi pion yang mudah bagi penganut Islam absolut. yang terkenal membantai puluhan ribu Muslim? Karena Idi Amin membenci pria kulit putih. “Lanjutkan menjadi kacung untuk arogansi dan kejahatan Anglo-Saxon. diktator militer dari Uganda.” me­ lepas­ kan kehormatan kelompok demi Barat yang arogan. Umat Muslim di Eropa Timur mendukung argumen Bil­ grami. Perdana Menteri Albania.

ALLaH, LIBERTY, & LOVE

anak kalian, semua akan menyantap makanan yang sama, semua akan hidup sebagai satu keluarga.” Frashëri berasal dari Bektashi, sebuah sekte Islam di mana para anggotanya telah dianiaya oleh Mustafa Kamal Atatürk, pendiri Republik Turki. Di awal 1920-an, Atatürk mengusir Bektashi, yang telah mendirikan markas baru mereka di Tiranë, Albania. Dua pu­ luh tahun kemudian, Bektashi membentuk gerakan bawah tanah di Albania untuk menyembunyikan para Yahudi—ti­ dak hanya dari kekejaman Nazi Hitler tetapi juga dari fasis Mussolini. Muslim Bektashi bisa saja membiarkan trauma di Turki membentuk mereka menjadi orang yang lemah. Mereka memilih sebaliknya. Bahkan kini, beberapa dekade setelah pe­ nindasan Komunis, seorang pemimpin Bektashi di Albania me­ nolak membiarkan ketidakadilan terhadap rakyatnya mele­ mahkan kapasitas ke­ manusia­ annya. “Tuhan ada di setiap pori dan setiap sel, karena itu semuanya adalah anak-anak Tuhan,” beliau mengemukakan. “Tidak mungkin ada orang kafir.” Tidak semua penduduk desa Muslim menerima warga dan pengungsi Yahudi. Elida Bicaku mengenang kembali be­ berapa orang di kampung halamannya memilih takut pada pihak Jerman dan Italia, menuntut orang-orang Yahudi un­ tuk pergi. Sehingga kakek dan ayahnya yang “Muslim Taat” meninggalkan desa untuk hidup bersama orang-orang Yahudi di pegunungan. Keberanian moral mereka memang di­ bu­ tuh­ kan kendatipun kode kehormatan Albania telah menekan­ kan adanya tanggung jawab terhadap kelompok lain. Ini me­ nunjukkan bahwa, sekali lagi, budaya tidak membuat pilihan. Individulah yang memilih.

254

IRSHAD MANJi

Safwan, pembacaku di Maroko, dengan penuh semangat mem­ perjelas satu poin pada Muslim arus utama. “Kita hanya akan menjadi korban jika memilih untuk begitu,” unggahnya ke moderator di chat room.

Ya, Amerika dan Barat telah [melakukan] dan sedang melakukan tindakan-tindakan hipokrit dan tidak adil, tetapi bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan tanggapan kita tentang Islam, tentang masyarakat “Muslim”, tentang nilai-nilai “Muslim” kita? Apa­ kah kita memiliki kunci untuk menuju pengetahuan dan kebenaran hanya karena kita adalah Muslim? Dan apakah itu Islam? Adakah kita mengamalkannya dengan cara yang benar? Apakah kita perlu menceramahi orang lain? Tanyakan dulu pertanyaan-pertanyaan ini pada diri Anda. Itulah yang diusung dalam ijtihad, yaitu mempertanyakan nilai-nilai dan amalanamalan kita sebagai individu-individu rasional.
Seolah melengkapi pemikiran Safwan, Bilgrami mendesak para moderat tulen mengakui sesuatu yang jelas: agenda re­ ak­ sioner, yang dijalankan atas nama Islam, “adalah sesuatu yang kita anut tanpa mengkritik dan tanpa berpikir akibat demoralisasi dan kekalahan, dan kita sering kali membiarkan agenda ini mendominasi tindakan politis kita, dan membuat kita tetap berjalan di tempat.” Kaum moderat harus belajar me­ ngatakan “kami yang menentukan untuk bekerja menuju reformasi [kami]...”

Jika kau menginginkan moderasi dalam Islam, maka ambillah pelajaran dari negara dengan mayoritas Muslim terbesar di

255

ALLaH, LIBERTY, & LOVE

dunia, Indonesia. (Nabi Muhammad menyarankan supaya umat Muslim merantau sampai ke Cina untuk mencari ilmu. Upaya ijtihadku menafsirkan kembali “Cina” sebagai “Indonesia”. Zona waktu yang sama.) Bulan April 2008, aku terbang ke Jakarta untuk meluncurkan buku dan filmku di Perpustakaan Nasional. Ratusan mahasiswa berdatangan, di antara mereka adalah Islamis dan transeksual. Mereka mengungkapkan pe­ mikiran mereka. Mereka saling tidak sependapat. Di antara perdebatan kata-kata, gitaris memetik gitar, penyair ber­ de­ klamasi, dan penari menikmati tarian Jawa mereka. Tidak ada yang menyepelekan ketegangan; mereka menganggap ke­ te­ gangan merupakan keniscayaan dalam demokrasi—ciri khas dari demokrasi sejati. Sepanjang pengetahuanku, semua orang meninggalkan acara itu dengan aman, termasuk seorang transeksual yang paling vokal. Ia dengan bangga mengumumkan di depan para Islamis bahwa, setelah menjalani operasi, dia memperjuangkan hak untuk memakai hijab (dikenal di Indonesia sebagai jilbab). Ia memenangkan pertarungan itu. Dengan saling menghormati, kami memperdebatkan penafsiran masing-masing tentang jil­ bab, dan itulah yang seharusnya terjadi di dalam masyarakat pluralistik. Aku merasa luar bisa bersyukur untuk tiga hal: bahwa kami secara terbuka dapat mengajukan argumen rasio­ nal satu sama lain, bahwa kami melakukannya secara beradab, dan bahwa seseorang yang dulunya pria bisa menjadi seorang wanita dengan keadaan relatif aman dan memiliki integritas yang tak tergoyahkan di sebuah bangsa mayoritas Muslim yang diatur oleh konstitusi sekuler. Kepalaku yang tak berhijab me­ layang-layang melihat berlapis-lapisnya keragaman ini.

256

IRSHAD MANJi

Masyarakat Indonesia bisa saja menenggelamkan diri me­ reka ke dalam pengalaman pahitnya dijajah. Sejak tahun 1800 hingga 1942, sebagian besar dari bangsa Indonesia hidup di bawah beberapa ketentuan aturan Belanda, kemudian disusul sekitar lima puluh tahun kediktatoran pemimpin mereka sen­ diri. Tahun 1998 merupakan titik awal periode demokrasi eks­ perimental—atau reformasi. Para Islamo-tribalis menempel pa­ da kebebasan baru ini dan mulai sibuk, begitu juga donatur me­ reka dari Saudi. Kini, kepulauan Indonesia yang terdiri dari tujuh belas ribu pulau dan ratusan suku bergulat dengan im­ perialisme budaya Saudi. Spanduk para kaum Islamis ber­ gantungan di tiang-tiang yang sulit ditumbangkan. Aliran ma­ suk uang dibayar untuk usaha ekstra itu—tetap berkuasa adalah pesannya. Di sini pun, Islamis mencoba melarang ke­ lom­ pok minoritas Ahmadiyah. Dan pembatasan pada pakaian wanita semakin meningkat, terutama di kota-kota besar dan kecil di mana para pendatang dari semenanjung Arab ber­ kumpul bersama. Di Aceh, sebuah provinsi yang tidak pernah berintegrasi sepenuhnya ke dalam negeri Indonesia sekuler, para politisi meluluskan sebuah undang-undang tahun 2009 yang mengizinkan perajaman. Tahun 2010, dua wanita yang “tertangkap” menjual nasi di warung di jam-jam puasa Rama­ dhan mendapati diri mereka dicambuk di depan ratusan warga. Akan tetapi, banyak masyarakat Indonesia juga melihat bahwa jeratan Saudi yang semakin mengencang harus di­ to­ lak, dan masyarakat sipil yang penuh semangat terus me­ la­ wan bentuk penjajahan baru ini. Selama kunjunganku di sana, Hindun Annisa mengajarkan para mahasiswa di sebuah auditorium yang besar bahwa “ketika para teolog ber­ bicara

257

ALLaH, LIBERTY, & LOVE

tentang sejarah Islam, mereka membicarakan sejarah Arab.” Para mahasiswa itu segera mengerti. Annisa ke­ mudian meng­ antarkanku ke sebuah pesantren, atau sekolah asrama Islam, di mana tampak keriangan, sebuah lapangan basket sementara (dihiasi dengan papan Chicago Bulls) dan per­ cakapan­ ku de­ ngan siswa-siswa wanita menggambarkanku lukisan menge­ nai keimanan Islam. Ibunya Annisa mengelola pesantren itu. Saat kami ber­ bincang-bincang, aku tak bisa berpikir lain kecuali bahwasanya ia dan putrinya telah mewujudkan nilai-nilai R.A. Kartini, se­ orang pelopor emansipasi wanita Indonesia di awal abad ke-20. Kartini meminjam konsep-konsep dari feminis Eropa dan mengadaptasinya sesuai kondisi masyarakatnya. Setiap April, Indonesia secara resmi memperingati Hari Kartini. Aku mengatur kunjunganku sesuai peringatan tersebut, me­ nyak­ sikan di TV nasional dan media cetak kecintaan pada Kartini yang mirip dengan penghormatan setiap tahunnya di Amerika terhadap Martin Luther King, Jr. Di kedua hal itu, kekuatan transformatif yang membebaskan disambut dengan antusias dari­ pada kebiasaan ala korban yang melemahkan. Apabila Muslim moderat di tempat lain mengabdikan diri mereka pada transformasi semacam itu—dari kelompok korban sampai ke agen individual—mereka akan secara serius ber­ kontribusi untuk melenyapkan korupsi dari praktik-praktik ke­ islaman. Namun tanpa perubahan di dalam Islam sendiri, sikap moderat mereka hanyalah teori semata. Realitanya, mo­ derat yang defensif justru akan melegitimasi para militan. Ka­ rena itu, untuk sekarang ini, moderasi Islam yang ideal ha­ rus diwujudkan dengan mereformasi orang-orang moderat sen­

258

IRSHAD MANJi

diri. Satu kalimat peringatan: dengan perkataan yang miring ten­ tang Muslim moderat zaman sekarang, bersiaplah untuk dilabeli sebagai ekstremis seperti Osama bin Laden. Satu kali­ mat penyemangat: ketika dilabeli sebagai ekstremis, kau akan mendapati dirimu lebih dikagumi daripada Osama bin Laden. “Harus aku akui bahwa awalnya aku kecewa karena di­ golong-golongkan.” Martin Luther King, Jr. berkata kepada kaum “moderat kulit putih” yang menilai aksi tanpa-kekerasan King sebagai ekstremis. Kaum moderat ini ingin memperlambat kereta segregasi—dengan mengejar moratorium, kalau mau— di­­ bandingkan menghentikan kereta tersebut di jalurnya. “Pe­ mahaman dangkal dari orang yang berniat baik sebenarnya le­ bih membuat frustrasi dibandingkan kesalahpahaman absolut dari orang yang berniat jahat,” demikian refleksi King. Tetapi, pe­­ renungan lebih jauh, ia memperoleh kepuasan dengan dianggap sebagai eks­ tremis. Bukankah Yesus adalah ekstremis dalam hal cinta—“Cintailah musuhmu, berkatilah mereka yang me­­ngutukmu, berbuat baiklah pada mereka yang mem­ benci­­ mu, doakanlah mereka yang memanfaatkanmu dengan jahat dan menganiayamu.” Bukankah Amos adalah ekstremis untuk keadilan—“Biarkan keadilan me­ ngalir seperti air dan kebenaran bagai arus yang se­ lalu mengalir.” Bukankah Paul adalah ekstremis un­ tuk Injil Kristen—“Aku menanggung dalam tubuhku tanda-tanda Tuhan Yesus.” Bukankah Martin Luther juga ekstremis—“Di sini aku berdiri; aku tidak mampu me­ lakukan sebaliknya, maka tolonglah aku Tuhan.”

259

ALLaH, LIBERTY, & LOVE

Dan John Bunyan—“Aku akan tetap di penjara hingga akhir hayatku sebelum aku membunuh nuraniku.” Dan Abraham Lincoln—“Bangsa ini tidak bisa ber­ ta­ han dengan separuh budak dan separuh merdeka.” Lalu Thomas Jefferson—“Kita memegang kebenaran ini se­ bagai swabukti, bahwa semua manusia diciptakan setara.” Jadi pertanyaannya bukanlah kita menjadi eks­ tre­ mis atau tidak, tetapi kita akan menjadi ekstremis jenis apa. Apakah kita menjadi ekstremis untuk ke­ bencian atau cinta? King boleh jadi berbicara kepada Muslim hari ini, saat ia menekankan bahwa “bangsa dan dunia ini sangat mem­ butuh­ kan ekstremis yang kreatif.” Ekstremis destruktif tidak berlaku.

Aku ingin kau bertemu salah seorang ekstremis kreatif yang telah membuat dampak permanen pada King. Lillian Smith, se­ orang warga Georgia kulit putih, yang telah menulis novel laris Strange Fruit di tahun 1944. (Judul ini, yang dibuat oleh se­ orang guru kelas menengah Yahudi dan dipopulerkan dalam bentuk lagu oleh Billie Holiday, merujuk kepada pembunuhan orang-orang kulit hitam dengan digantung di atas pohon). Aku pertama kali mengetahui sosok Smith dari tulisan King “Letter from Birmingham Jail.” King menyebutkan beberapa nama warga Selatan kulit putih yang “berhasil memahami makna revolusi sosial ini dan berkomitmen pada revolusi itu.” Terselip di antara penyebutan nama pria dan wanita ini, aku mendengar

260

Smith menulis satu surat terbuka. ia menyatakan segregasi adalah: sebuah ancaman terhadap kesehatan budaya dan jiwa individu kita.” jelasnya. Tetapi rekanrekan liberalnya tetap tidak antusias untuk menentukan mak­ na budaya kehormatan Selatan—dan menghadapi para peng­ usung segregasi yang didukung oleh budaya tersebut. dan di masa-masa sulit. ini adalah satu-satunya cara. beberapa tahun sebelum King mendorong kaum kulit putih moderat menjadi “ekstremis kreatif.IRSHAD MANJi King menaruh hormat kepada seseorang yang belum pernah ku­ dengar: Lillian Smith. 261 . Smith tidak sedang melakukan kebaikan yang menjadi tanggung jawab orang yang beruntung atau menaruh belas kasihan. tetapi ia menerapkan kemerdekaan yang timbal balik. cara yang kreatif. maka kau membantu warga Selatan kulit putih mencari cara mereka juga. Aku pun mencari tahu tentangnya. ia berhasil mengedepankan gagasan bahwa hak-hak sipil kaum kulit hitam akan membebaskan para penindas ku­ lit putih dari kecemasan yang menyengsarakan. Di setiap napas tulisannya. Karena segregasi sebagai jalan hidup— atau bisakah kita sebut jalan kematian [ia menulisnya dengan huruf miring]—adalah skizofrenia budaya. Isinya. satu generasi sebelum demonstrasi hak asasi sipil. Judulnya: Addressed to White Liberals (Dialamatkan kepada Kaum Liberal Ku­ lit Putih).” Smith sudah membawa gagasan itu kepada para aktivis hak asasi sipil kulit hitam di Montgomery. Pada tahun 1956. Pada tahun 1944. di setiap platform yang me­ nampil­ kan­ nya. Dengan “mendramatisir bahwa cara ekstrem dapat menjadi cara yang baik. Alabama.

ALLaH. Karena. Kita ha­ rus mengatakan alasan mengapa segregasi tidak bisa ditoleransi bagi ruh manusia. pesakit mental. ketersinggungan mereka terhadap kritik­ an. segala se­ suatu yang dibutuhkan agar kepribadian mereka tumbuh lebih lanjut… Kita yang tidak percaya pada segregasi sebagai jalan hidup harus mengungkapkan seperti di atas. pem­­ belaan diri mereka yang stereotip. & LOVE yang herannya memiliki kemiripan dengan skizofrenia pa­ da kepribadian seseorang. menemukan keberanian untuk berkata lantang. ketidak­ mampuan mereka untuk mengidentifikasikan peng­ har­­ gaan atas diri mereka yang berlebihan dengan kebu­ tuhan emo­ sional orang lain. Penolakan yang meluas terhadap keyakinan akan segregasi dan segala implikasi­ nya akan mengguncang jalan hidup ini sampai ke akar-akarnya. LIBERTY. “K­ ata” memi­ liki kekuatan. bagaimanapun kita me­rasionalisasikan kebisuan kita. Masing-ma­ sing kita mengetahui ini di dalam hati. hasrat mereka yang besar untuk menghindari hal-hal yang sulit. keengganan mereka untuk men­ jangkau dan menerima ide-ide baru. Kita harus. Dimulai de­ ngan “Kata” dan di zaman sekarang. Tetap membisu. 262 . Kita ha­ rus menghentikan konspirasi bisu yang men­ cengke­ ram kita begitu kuat sehingga menjadi tabu. rasis. ketakutan telah me­ ngunci lidah kita saat ini. Sungguh mengerikan sa­ at memperhatikan gejala paranoid orang-orang di an­ tara kita yang memegang teguh segregasi: kekejam­ an mereka. pembenci Negro. entah bagai­ mana caranya. di saat-saat para peng­ hasut rakyat.

IRSHAD MANJi menegaskan dengan lantang keyakinan mereka terha­ dap segregasi dan pembunuhan spiritual yang ditim­ bulkan dari cara hidup mereka. “Dan ini sangat menyedihkan: melihat orang-orang kita. “Majalah-majalah dengan peredaran massal malu ‘menyerang kaum kulit putih pendukung segregasi. kreatif. Ia membandingkan pencuri karena kebiasaan dan jujur karena kebiasaan. “Apakah yang mereka mak­ sud­ kan dengan ‘moderasi’.” Kau memosisikan dirimu sebagai korban ke­ celakaan. “Apa yang membuat kata itu sangat menghipnotis?” Ia mencela kaum liberal karena “bekerja lebih keras menjadi moderat daripada bekerja mengatasi krisis. Mereka menyetir di tengah jalan dengan mata tertutup dan kau tahu apa yang akan terjadi pada lalu lintas kalau kau me­ lakukan itu. dan waras dalam nilai-nilai manusia. Smith secara terbuka mengecam rela­tivis­ me. lalu bertanya. orang-orang yang bangga dan bebas merasa takut bersuara dan bertindak sesuai nurani mereka. suatu budaya di mana para elitenya melestarikan segregasi melalui pemujaan budaya. ketika menggunakan kata yang tak jelas itu?” renung Smith. Atau kau menyebabkan orang lain menjadi korban.’” tulis Smith. “Apakah mereka sama ber­ bahayanya? Atau sama baiknya? Mereka yang berpikir de­ mi­ 263 . Terdengar akrabkah? Smith mengecam sandiwara konyol kaum moderat yang tidak bisa menjawab krisis moral.” Terdengar akrabkah? Selain itu semua. berarti berkhianat pada semua yang baik. Keberanian moral Smith membantu memecahkan tembok budaya Selatan yang sudah dibuat kasar oleh kehormatan kelompok.

seorang pemuda bilang kepadaku.” Karena itulah. & LOVE kian telah mengabaikan konsep moralitas serta konsep kualitas dan kewarasan dalam hubungan manusia. Smith menimbulkan optimisme pada ba­ nyak aktivis kulit hitam.ALLaH. dan berani. “Aku bersedia mempertaruhkan apa pun demi sesuatu yang kuyakini. martabat. kreatif. karena ia melihat betapa kecil nyali dan betapa lemah orang-orang yang lebih tua darinya. Tapi kupikir. cara-cara tersebut haruslah penuh kebenaran. aku tidak memiliki keyakinan dalam ba­ nyak hal. LIBERTY.” ia meyakinkan mereka. tetapi karena kalian tahu kalau cara yang kita gunakan itulah yang penting: cara-cara tersebut haruslah benar. tidak lagi. Ketika kaum moderat tetap diam. Baru-baru ini. maka ia pun kehilangan keyakinan terhadap cara hidup yang baik. “Kalian memberikan harapan kepa­ da pemuda kulit putih di Selatan. Kalian mempengaruhi mereka bahwa ada sesuatu yang pantas dipercaya dan dipertaruhkan. cinta. para ekstremis ja­ hat berteriak sekencang-kencangnya. dan kebijaksanaan. Dan karena itu pemu­ da Selatan kulit putih yang sulit mendengar per­ kataan baik dan kreatif apa pun. 264 . Kalian meng­ ge­ rak­­ kan imajinasi dan hati mereka—bukan hanya kare­ na kalian berani dan menjalani risiko.” Ia kemudian mem­ peringatkan efek riak relativisme.

“Masalah besar kita bukan­ lah hak-hak sipil. keagamaan.. Era itu adalah era kita. kebutuhan mereka untuk membenci orang lain.” Dengan begitu. kebutuhan mereka untuk merasa dianiaya [ia menggunakan huruf miring]. ia meramalkan gerakan hakhak sipil modern sebagai sebuah misi kemanusiaan.IRSHAD MANJi Ringkasnya.“ Menyatukan mitos dan rasional: menu­ rutku adalah tujuan terpenting di dalam sebuah era yang di­ penuhi dogma kebudayaan. dan ideologi. Pada tahun 1960. bagaimana menjembatani antara mitos dan rasional.. “tetapi bagaimana kita menghubungkan kepingan-kepingan pe­ nga­ laman manusia yang terpisah. Harapan Smith terha­ dap mahasiswa itu bukanlah idealisme kekanak-kanakan. Inspirasi mereka yang terkenal? Sosiolog Gunnar Myrdal. te­ tapi tanggung jawab pribadi. North Caro­ lina. Smith sekian lama bersikeras bahwa untuk memimpin dengan teladan.” tuturnya pada tahun 1963. orang-orang kulit hitam harus “membuang ke­ curigaan mereka terhadap kaum kulit putih. para maha­ sis­ wa perguruan tinggi Afrika-Amerika melancarkan demons­ tra­ si mereka yang pertama di Greensboro. Ma­ hatma Gandhi—dan Lillian Smith. yang telah mem­­ per­ tanyatakan para moderat Amerika dari Selatan.” Sejauh ini. Smith melompat lagi ke masa depan. Smith dapat benar-benar dipercayai. kaum Muslim dan non-Muslim harus menaikkan ekspektasi ter­ ha­ 265 . Bahkan ketika mendekati masa senja dalam hidupnya. “Beginilah proses kreatif bekerja: proses ini selalu membantu orang lain selain dirimu. Jr. Seperti Lillian Smith dan Martin Luther King.

Bahkan. Setelah kejadian tersebut. penyidik negara ba­ gian di Monroe mengeluh bahwa “orang-orang ter­ baik di kota itu tidak mau mem­ bicarakan tentang ini.ALLaH.. mereka hampir menyerupai gerombolan pembantai bermodal pisaudan-tali yang sudah meneror Jim Crow Amerika (Sebutan hi­ naan untuk kaum kulit hitam).. apakah kalian juga menolak para pendukung segregasi di dalam tubuh Islam sendiri—yaitu mereka yang membedakan kemanusiaan antara kaum kafir dan yang lainnya? Jika kalian mengutuk Ku Klux Klan. & LOVE dap mereka yang menyebut dirinya moderat Islam. ke­ mudian menembak bertubi-tubi hingga meninggalkan 180 lubang peluru di salah satu dari empat mayat tersebut. istrinya.. dan sepasang Ne­ gro lainnya dari sebuah mobil di dekat Monroe.. mem­ bariskan mereka ber­ empat di depan sebuah parit. Ini berarti membangkitkan keberanian moral dengan mengajukan per­ tanyaan-pertanyaan kepada mereka: Ketika kalian menegur Barat. Seorang sejarawan Taylor Branch menggambarkan satu kejadian pada musim panas yang men­ cekam di Georgia di tahun 1946: Massa telah membunuh tidak kurang dari enam ve­ teran perang Negro dalam waktu tiga minggu. maka kalian seharus­ ­ nya tidak memiliki keraguan—tidak sedikit pun—dalam me­ lihat Taliban melalui perspektif yang sama. LIBERTY.” 266 . Satu dari enam veteran itu tewas ketika sekelompok pria bertudung menarik dirinya.

mereka meledakkan dua orang yang diduga mata-mata dengan memasang bahan peledak pada me­ reka dan memicunya—di tempat umum. seminggu yang lalu. Benar. Wilayah itu “di bawah kendali de-facto Taliban. ini me­ nimbul­ kan dampak ketakutan dan kengerian yang amat sangat di kalangan penduduk lokal. maka Perang Dingin belum berakhir. Dalam banyak kejadian di masa lalu. Washington me­ mang membantu mendirikan Taliban. mereka bahkan lebih semangat untuk meributkan tentang Taliban: Washington tidak me­ nguasai wilayah tribal yang dikendalikan oleh ketakutan seperti yang dituliskan oleh Farhat Taj. mencambuk warga. Tetapi apakah kenyataan yang mengenaskan ini bisa membebaskan Muslim moderat untuk tidak mendiskreditkan dogma yang diusung Taliban? Tidak sama sekali. Karena kaum moderat tergerak untuk berpaling dari penjajah Muslim.” tegasnya.IRSHAD MANJi Bandingkan teror tersebut dengan apa yang di­ doku­ men­ tasi­kan oleh Farhat Taj tentang Taliban Pakistan pada bulan Mei 2010: Ini bukanlah yang pertama kali pihak Taliban memotong tangan. Dan kini. Tentu saja. dan meng­ gantung mayat di pohon.” demi­ kian Muslim moderat selalu mengatakan kepadaku seolah mereka ingin menyudahi percakapan. mereka telah mengamputasi para pria. yang jelas tidak punya pilihan selain menyaksikan semua kejadian ini dalam diam. “Washington telah membantu mendirikan Taliban. “bersama al-Qaeda sebagai 267 . dan karena kekacauan besar itulah.

Kita tidak bisa membiarkan kaum moderat mengabaikan pem­­ bantaian massal oleh milisi di Darfur. LIBERTY. & LOVE pihak asing. namun Mona Eltahawy.” ia me­ nyim­ pulkan. “adalah lebih banyak Muslim saat ini yang mati di tangan penguasa Muslim daripada tindakan Israel. pertempuran antara warga Palestina.” Pihak asing. Sudan. “Muslim membunuh sesama Muslim di Darfur.” Sebagai jurnalis yang menggunakan paspornya lebih banyak dariku..ALLaH. Eltahawy telah mengumpulkan banyak cerita dari seluruh dunia dan menyusunnya menjadi sebuah mosaik yang bisa diandalkan.” demikian ia mencatat. yang ke­ ah­ li­ an­ nya dalam hal pembantaian dan perbudakan etnis mengalahkan pemuda Georgia di masa sebelum Perang Sipil Amerika. berhasil membongkar kebohongan bin Laden. Amerika.. Ekstremis destruktif seperti bin Laden menyalahkan “penyerang Perang Salib” untuk membentengi pertahanan para moderat. ataupun pihak-pihak yang dianggap musuh—entah melalui pengeboman bunuh diri yang hampir tiap minggu terjadi di Pakistan. Kelompok Taliban hanyalah puncak dari serangkaian doa yang dipanjatkan oleh para pendukung segregasi dalam Islam. atau keganasan antarkelompok di Irak. “Fakta yang menyedihkan. seorang reformis Muslim berp­ andangan jernih yang kuperkenalkan di bab dua.” 268 . demi mencapai perdamaian yang lebih langgeng. Yang benar saja. Akankah kaum mo­ derat mengecam pengacau asing dari pihak mana pun—atau hanya pe­ ngacau asing dari pihak Barat? Satu pertanyaan lagi bagi kita. “Ini bukan pendudukan Israel atau penyerangan yang dipimpin Amerika Serikat.

Ia mengunggah sebuah pesan di forum Facebookku: 269 . mereka menemukan bahwa dari tahun 2004 hingga 2008. al-Qaeda tidak membutuhkan ke­ biadaban Amerika Serikat untuk melakukan kebiadaban me­ reka sendiri terhadap Muslim. para peneliti ini juga menyanggah asumsi umum yang menyatakan bahwa Muslim dibunuh hanya di wilayah yang diserang Amerika. Demi menjembatani antara mitos dan rasionalitas. “99 persen korban al-Qaeda adalah warga non-Barat pada tahun 2007. Seorang mahasiswi Eropa baru-baru ini menguji hal ini. dan angka itu mencapai 98 persen dari tahun 2006 hingga 2008. mem­ beritahukan kaum moderat mengenai al-Qaeda sebagai pihak asing (atau penyerangan terhadap umat Muslim) tidak serta-merta akan menghasilkan diskusi yang jujur.IRSHAD MANJi Tiga peneliti mendukung kesimpulan Eltahawy pada bu­ lan Desember 2009. Saat meninjau kembali sumber-sumber berita berbahasa Arab.” para analis itu menunjukkan.” Dengan kata lain. “Di luar zona peperangan Afghanistan dan Irak. kita perlu membuka hati selain pikiran. Mengapa kita tidak boleh mengharapkan kaum moderat untuk ber­ sungguh-sungguh membela warga sipil yang menjadi korban ke­ kerasan penguasa Muslim seperti mereka membela korban akibat kekerasan Barat? Bukankah nyawa Muslim juga penting saat mereka dibunuh oleh sesama Muslim? Apakah kita mengukur nilai seorang manusia berdasarkan siapa yang membunuh mereka? Tetap saja. 85 persen korban al-Qaeda adalah Muslim. dan 96 persen warga non-Barat di tahun 2008. Dalam sebuah laporan untuk Combating Terrorism Center (Pusat Pem­ berantasan Terorisme) di West Point. Pengetahuan tidak menjamin rasionalitas.

yang para pemimpinnya berbicara tentang perlunya membunuh se­ mua Yahudi. karena semua orang Eropa yang saya ajak bicara tidak paham! Saya tahu referendum itu akan lolos—kami tidak punya kesempatan—tapi saya ingin berjuang semampu saya untuk menentang hal ini. Oleh karena itu. Kau 270 . Hamas menolerir perbudakan oleh kalangan Muslim sambil meneriakkan kebebasan dari non-Muslim. yang sering diasumsikan sebagai korban dan bukan pelaku penjajahan. & LOVE Saran Anda sangat dihargai. Dan dari sejumlah alasan untuk menolak Hamas. Ini yang kutahu: jika ini Gaza. Hamas akan mencuri ke­ sem­­ patan ini. saranku untuk te­ man­ ku di Facebook ini. Kelompok ini mengatakan ke budakbudak Muslim bahwa mereka boleh memerangi Zionis tanpa izin tuan mereka. Jadi. dan bahkan Muslim moderat… Saya tidak tahu harus bagaimana. sebab universitas di Gaza menerima dana dan dukungan moral dari organisasi-organisasi teroris. Nasrani. Sisi-sisi romantis segelintir mahasiswa Eropa bisa jadi mengkhayalkan adanya kesempatan untuk menunjukkan solidaritas terhadap Muslim. LIBERTY. Tanyakan ke para pendukung referendum itu bagaimana “antiimperialis” berpasangan dengan sebuah universitas yang me­ nerima dana dari pihak-pihak yang bersedia membunuh Muslim moderat.ALLaH. satu yang pasti yaitu peraturannya mengizinkan perbudakan di bawah naungan Islam. Persatuan Mahasiswa di universitas kami akan bekerja sama dengan Universitas Islam di Gaza. Gunakan bahasa anti-kolonialisme untuk menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh para pembela referendum ini jelas bertentangan dengan retorika mereka tentang HAM. Saya sangat menentang ide ini.

Ahmed Nasser.. aku sempat mewawancarai mantan pengawal Osama bin Laden. seorang warga Yaman. Tetapi me­ ­ lapangkan jalan Islam mensyaratkan kita untuk mengajukan pertanyaan tentang agama itu sendiri—bukan saja tentang bu­ daya tribal yang telah menjajah psikis Muslim kontemporer. banyak orang meng­ identifikasikan dirinya dengan kami. Saya belajar banyak. cara satu ini tergolong unik. mahasiswi ini mengunggah sekali lagi: “Setelah satu minggu yang sangat berat (sampai saya bahkan dijuluki Nazi). Saya sangat tercengang. sudah menjalani upaya penanganan efek indoktrinasi yang dibangga- 271 . Seorang gadis Pakistan mendatangi saya dan mengatakan kalau dia memilih TIDAK. mahasiswi ini mengirimkan argumen tandingan dari para skeptis: “Mereka mengatakan bahwa ka­ mi melakukan ini untuk mahasiswa di Universitas Gaza dan bukan untuk Hamas. saat memfilmkan Faith Without Fear.” Tiga minggu berikutnya. dan sebagian lagi mungkin akan terdorong untuk bersuara karena kau menjelaskan keprihatinanmu dengan sebuah bahasa—bahasa anti-imperialisme—yang mereka pahami. KAMI MENANG! Dan seperti yang Anda katakan. Tiga hari kemudian. sekaligus mengabaikan bagaimana ke­ dua­ nya (dalam banyak hal) saling terkait erat.. Seperti yang telah kukatakan sebelumnya.” Sampailah kita pada cara kedua bagaimana menaruh eks­ pek­ tasi yang lebih baik dari kaum moderat. Menurut ukuran ke­ canggungan emosional.IRSHAD MANJi akan mendapati kalau banyak dari mereka yang akan sependapat dengan­ mu.

” Khan membuat pernyataan ini sebelum mengatakan se­ dikit kata tentang kebijakan luar negeri pihak Barat. Jadi Rasul dan para sahabat adalah teladan bagi kami. Muslim kelahiran Belanda yang me­­ ­ nembak mati Theo van Gogh. Bahkan pesan yang ditoreh Bouyeri ke tubuh van Gogh. tetapi secara refleks mengatakan bahwa “Islam tidak ada hubung­ annya dengan itu. Peng­ gunaan pisau memberlakukan kembali perang tribal di abad ke-7. Tetapi dengan senyum lebar dan niat besar untuk melatih anaknya dalam hal kesyahidan. “Jihad diterapkan sendiri oleh Rasul dan para sahabat Beliau. LIBERTY. dipastikan memiliki ritme syair Arab. Allah. dan mengikuti langkah Rasul sekaligus utusan terakhir. Mohammad Sidique Khan menyatakan “agama kita adalah Islam—menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Muslim moderat ketakutan menghadapi pemikiran yang meng­­ eksplorasi peran agama dalam konflik teroris. Mereka menye­ salkan kekerasan yang dilakukan atas nama Islam. mengajarkan. dalam tulisan bahasa Belanda.” Dalam penyangkalan mereka.ALLaH.” kata Nasser. dengan tenang mengakui bah­ wa dia bertindak berdasarkan keyakinan agama. Mohammed Bouyeri. “Beberapa di antara mereka gugur seba­ gai syahid. Muslim 272 .” Dalam sebuah video yang difilmkan sebelum kejadian pengeboman transit London 2005. Nasser mengatakan dengan senang kepadaku bahwa ia tetap yakin mengenai perlunya kekerasan. tapi ia masih menge­ luarkan pisau untuk memenggal kepala mayat. Muhammad… Inilah cara mendikte sikap etis kita. Ia tahu peluru saja cukup untuk membunuh korbannya. & LOVE bangga­ kan pemerintahnya dan pihak berwenang mengatakan ia sebagai kisah sukses penanganan terorisme.

tetapi aro­ gansi mereka ini melanggar peringatan Al-Quran yang jelas tersurat bahwa hanya Tuhan yang memiliki kebenaran sejati. Tariq Ramadan duduk bersama para Muslim untuk membahas satu ayat dalam Al-Quran yang sering dikutip oleh mereka yang menganggap Islam sebagai agama penuh ke­ 273 . Kaum Islamo-tribalis boleh jadi me­ netapkan tafisran mereka sebagai satu-satunya yang benar. Kami tidak akan kembali ke kalian dengan reinterpretasi yang berani dan menentang. kami sama saja menerima agama sebagai sesuatu yang berkaitan dengan kekerasan. seka­ ligus secara efektif mengatakan pada calon-calon teroris: “Kalian dapat memenangkan pertunjukkan ini. Karena kalau kami melakukannya. Kenyataannya sekarang. penafsiran ulang menjadi upaya yang mulia—ter­ lebih lagi ketika ayat-ayat tertentu dimanfaatkan untuk mela­ yani kepuasan membunuh.IRSHAD MANJi mo­ derat melepaskan tanggung jawab untuk me­ nafsir­ kan. dan arogansi ini memperdayai begitu banyak dari kita hingga percaya bahwa hanya satu penafsiran yang benar. Ini bukan berarti menulis ulang Al-Quran. Dalam sebuah tayangan doku­ menter TV Inggris.” Islam adalah apa yang dibentuk oleh Muslim. Untuk kedua alasan ini. Muslim harus melakukan hal yang sama. kami tak bisa me­ nyen­ tuh hal tersebut. Karena Islam sudah sempurna. memperbaharui penafsiran kata-kata yang sudah ada. yang paling bisa dilakukan kaum moderat ialah meletakkan ayat-ayat Al-Quran yang janggal “dalam konteks yang sama. Seperti umat Kristiani dan Yahudi yang telah menafsirkan kembali bagian yang bermasalah di dalam kitab suci untuk zaman baru.” mengubur penafsiran dalam dis­ torsi waktu tribal abad ke-7.

Ahmed Nasser menegas­ kan kepadaku bahwa perang imperialisme Barat telah me­ ngorban­ kan ummah di abad ke-21. & LOVE bencian: “Perangi dan bunuhlah para penyembah berhala itu di mana saja kamu jumpai mereka.” Seorang di antara mereka berkata. yang mengancam kelangsungan hidup komunitas Muslim awal di masa itu. Fokus Ramadan terhadap warga sipil pun tidak juga meng­ gerakkan Nasser. karena itulah “Saya berkomitmen pada diri sendiri untuk melindungi umat Muslim di mana pun berada. Ia meng­ informasikan kepada kita bahwa “ayat-ayat ini berbicara tentang situasi sebelum perang.ALLaH. ungkap Ramadan. Jawaban Ramadan terhadap posisi Nasser? “Pesan Al-Quran cukup jelas: bahwa membunuh warga sipil itu salah.” Tetapi bagaimana analisa ini menyimpang dari apa yang diklaim para teroris? Di Yaman. ‘Perangilah mereka yang memerangimu di jalan Allah.” Ramadan berpendapat sama. kita bisa langsung melihat bahwa posisi itu bersifat defensif. Ia memutarbalikkan keadaan dengan 274 . LIBERTY. “langsung melihat kalau kata-kata ini seharusnya tidak ditangkap di luar konteks. ini tidak begitu mem­­ pengaruhi Yusuf al-Qaradawi. “Jika kita membaca ayat sebelumnya. seorang teolog yang me­ mutuskan—dengan dukungan orang-orang yang sejalan de­ ngan­ nya—bahwa Muslim bisa dibenarkan membidik warga sipil Israel. Umat Muslim yang mengkaji ayat ini.” Kita sudah melihat cerita ini sebelumnya. Toh. Ayat-ayat ini tidak boleh dipandang gamblang sebagai restu untuk membunuh semua non-Muslim.’ Jadi perlu diserang dan men­ jadi korban lebih dahulu.” Kita juga per­­ nah melihat cerita ini sebelumnya. dan tangkaplah mereka dan kepunglah mereka” (9: 5). Ayat tersebut memberitahukan kita.

jurnalis Yordania yang telah menyingkap kejahatan berbasis kehormatan di dalam ma­ syarakatnya. Ke­ kerasan Muslim-kepada-sesama-Muslim menjadi kekuatan narasi untuk dapat me­ ngurangi ketertarikan para pejihad. Faisal Shahzad. seperti yang dilakukan komunitas Muslim di abad ke-7. Sampaikan kisah Abdul Ghaffar Khan. Kita tahu bahwa saat ini lebih banyak Muslim yang dibuat buntung. Muslim moderat perlu me­ nyebarkan narasi-tandingan ini kepada para pemuda di komunitas mereka. dan pejihad anti-imperialis lain­ nya terkait “solidaritas” kepada ummah. Kaum moderat bisa mengatur-kembali kompas moral me­ reka setidaknya ke satu arah lain. Jangan hanya mengarah ke non-Muslim.” umat Muslim perlu menolak skema penjajahan terhadap sesama Muslim. dan dibunuh oleh kaum Muslim sendiri daripada kaum lain.” Ayat tersebut bisa ditafsirkan kembali. Berbanggalah untuk terlibat dalam inisiatif 275 . Didiklah anakanak kalian tentang Rana Husseini. “Perangilah mereka yang memerangimu di jalan Allah. Kita sendiri pun perlu menaruh ekspektasi kepada mereka untuk menyebarkannya. Oleh karena itu.IRSHAD MANJi me­ngatakan bahwa kaum wanita dan anak-anak Muslim adalah orang-orang sipil yang perlu dibela melawan kekuatan kafir. Ini pun bisa menjadi narasi-tandingan (counter-narrative) yang se­ suai dengan kenyataan sekaligus menunjukkan penghargaan kepada Tuhan yang Maha Pengasih. Inilah yang seharusnya didengar oleh Mohammad Sidique Khan. di­ siksa. Untuk “memerangi mereka yang memerangimu di jalan Allah. dipenjara. sorotilah Muslim yang memperlihatkan bah­ wa reformasi internal itu sendiri termasuk tindakan anti-im­ perialis.

yang me­ ninggal di jalanan di Tehran selagi memprotes kecurangan pemilu di negaranya pada tahun 2009.” ingat saudara perempuannya. yang dirancang oleh pemerintah Iran. Tuhan yang kusembah adalah Tuhan yang Pengasih dan Penyayang. LIBERTY. & LOVE “Hentikan Perajaman untuk Selamanya”. Pem­ bu­ nuhan Neda segera menjadi simbol ketidakadilan yang diha­ dapi oleh para patriot Iran.” lapor The New York Times. “Seorang putra pejabat ter­ kenal memberitahu temannya bahwa ia tidak lagi menerima uang dari ayahnya karena sang ayah bekerja untuk pemerintah. aku membaca lebih banyak contoh penentang setiap harinya di Iran. “Seorang profesor mengajarkan mereka tentang Tuhan yang pendendam.’” Setahun setelah protes itu.ALLaH. Sebarkanlah kabar me­ ngenai “Kampanye Sejuta Tanda Tangan Wanita Iran untuk Kesetaraan”. Setelah dua semester. Pembunuhan wanita muda ini. tetapi Neda menjawab. 276 . Dan perhatikan bahwa semua pejuang kebebasan memilih non-kekerasan. memotivasi Neda untuk mempelajari filsafat Islam di Universitas Azad. Iman dan kecerdasannya. Tapi keputusannya di-balik-tin­ dak­ annya itu menyingkap luasnya cakupan pilihan yang dibuatnya. lebih sering dipanggil Neda. Neda “pernah berkata bahwa Tuhan yang mereka ajarkan pada kita di universitas-uni­ versitas ini berbeda dari Tuhan yang saya sembah. Para reformis Iran ini mengingatkan kita pada pilihanpilihan yang dimiliki anti-imperialis—di mana pun mereka berada. yang dianggap korup oleh putranya. ia mengundurkan diri. ‘Ini bukan Tuhanku. Mungkin kau pernah mendengar tentang Neda AghaSoltan berusia 27 tahun. meroket ke seluruh dunia lewat rekaman video telepon genggam.

Mereka bertanggung jawab sendiri untuk membentuk kembali Islam. Mereka tidak bersikap menunggu se­ men­ tara para ahli fikih Islam. Ini adalah sesuatu yang terjadi pada semua orang. “Mereka mulai memutuskan sendiri bahwa mereka akan keluar untuk memprotes. orang-orang mengatakan tahun penuh kesengsaraan dan pengorbanan telah terbayar. meng­ ikuti berita. cerita itu mengakhir. aku tidak yakin kalau semua ayat Al-Quran yang mengandung kekerasan dapat ditafsirkan ulang untuk zaman kita. yang rentan dengan politik kotor sebagaimana pembuat kebijakan di Amerika dan Israel. kemerdekaan individu dalam de­ rajat tertentu. mereka sudah hilang kesabaran dan tidak mung­ kin lagi berkata kalau mereka mau menolerir semua hal. Terus terang. “Masyarakat pastinya memperoleh sesuatu. Penentangan mereka tidak pasif. Tetapi mungkin setiap ayat itu tidak perlu dikaji kembali jika ayat-ayat Al-Quran pluralistik dapat dipublikasikan ke 277 . Di area-area yang berbeda dalam kehidupan me­ reka.” Para pemain ini tengah memerangi penyalahgunaan ke­ kuasaan dalam Islam dengan mengambil tanggung jawab me­ reka untuk bangkit.IRSHAD MANJi “Sementara banyak orang kecewa” karena rezim itu bertahan.” jawab seorang mahasiswa kedokteran ber­ usia 20 tahun. mem­ buat fatwa atas nama semua orang.

” Apa. “Barang siapa membunuh seorang manusia.’” Bagi pejihad London. aku memberikan komentar di radio yang memuji Muslim arus utama atas bela­ sungkawa mereka kepada para korban dan pengutukan mereka ter­ hadap para pelaku. “kerusakan di muka bumi” menggambarkan jejak tentara Amerika di tanah Irak. dengan sikap defensif mereka. yang harus kita lakukan de­ 278 .” aku ke­­ mudian menganalisa pernyataan pers yang ia keluarkan se­ telah kekisruhan di London itu. akan dianggap sama seperti membunuh seluruh umat manusia [aku menyatakan dengan huruf mi­ ring]. & LOVE sejumlah Muslim. kecuali sebagai hukuman atas pembunuhan atau kerusakan lain di muka bumi. Setelah pengeboman London tahun 2005.” Aku memberikan contoh Imam Feisal Abdul Rauf. aku melanjutkan. “terlalu banyak imam yang lebih memilih menyangkal peran Al-Quran dalam ke­­ kacauan ini. ia sama saja membunuh seluruh umat manusia” (5: 32). LIBERTY. aku melanjutkan. Dalam ko­ mentar­ ku itu.” kataku dengan penuh penyesalan. seorang ulama yang terkemuka di Kota New York. Dengan menyebutkan imam itu sebagai orang “lemah-lembut” dan “santun. “Tidak juga. Tapi ini tak bisa diketahui sampai banyak dari kita mencobanya.ALLaH. aku kini bertanya. “Barang siapa membunuh seorang manusia. Pernyataan itu mengatakan bahwa menurut Al-Quran. Penggalan Al-Quran yang sebenarnya manusiawi ini mem­­ berikan semua pejihad pintu kabur yang berawal dengan “ke­ cuali. takut kalau maksud dari pernyataanku ini bisa dilemahkan oleh tudingan bahwa aku menyerang secara pribadi. beralih menjadi pengkhianat. “Ayat leng­ kap­­ nya menyatakan. aku membuatnya tetap anonim. Tapi. Aku yakin iman kaum Muslim yang haus akan kebebasan tidak akan terpelihara ketika kaum moderat.

Setelah bergurau dengan be­ berapa anggota MSA. Sebagai Muslim yang sudah merasa pasti dengan ke­ ya­ kin­ an­ ku.. aku bisa mengatasi politisi-politisi identitas yang lihai.. aku meng­ artikulasikan ini sebagai “langkah berikutnya”: Muslim moderat seharusnya bergabung dengan Yahudi dan Kristiani moderat “untuk mengakui sisisisi buruk kitab kita. pendapatku sama pentingnya dengan pendapatmu. tetapi bagaimana Muslim yang memiliki keyakinan yang di ujung tanduk? Apakah tuduhan-tuduhan yang melelahkan adalah yang terbaik yang bisa ia nantikan padahal ia berani berterusterang? Aku berpikir tentang Saba. seorang mahasiswi yang me­ miliki nurani dan sebuah pertanyaan: Sebagai staf Humas di Muslim Students’ Association (MSA)..” Minggu berikutnya. saya dulu memiliki kesempatan untuk mempengaruhi banyak orang tentang Islam. Dalam komentarku. Sayangnya.” 279 . “Ya. bahkan saat kita ber­ juang untuk adil terhadap satu sama lain. seorang kenalan Muslim mengirimiku surel.” lalu salah seorang teman priaku membalas dengan pelan. Mari kita saling jujur. saya berteriak keras.IRSHAD MANJi ngan pintu itu? Pada waktu itu aku tidak terpikirkan narasitan­ dingan yang kuat—bahwa “kerusakan di muka bumi” bisa juga menggambarkan tindakan yang dilakukan al-Qaeda dan Taliban. khususnya terkait kesalahpahaman yang mungkin dimiliki kalangan non-Muslim.” Aku mengisahkan pengalaman ini karena satu alasan.” ia de­ ngan ketus menyarankanku untuk “menangani urusan sen­ diri saja.. keprihatinan saya yang lebih saat ini justru berkaitan dengan kesalahpahaman yang dimiliki umat Muslim sendiri. “tidak berdasarkan Sunnah. Gusar lantaran aku “mengincar Muslim moderat.

Nidal Malik Hasan me­­ nembak rekan-rekan tentara Amerikanya di Fort Hood.ALLaH. setiap kali seorang Muslim militan melakukan tindakan mengerikan sambil mengumandangkan ayat-ayat aga­ ma. kita semua harus sadar—dan waspada—terhadap tiga kecenderungan yang terlihat di dalam setiap perbincangan tentang Islam. Terlepas dari apa pun maksud penggalan ayat itu pada konteks Mekkah di abad ke-7.. Maj. kaum moderat mengumandangkan bahwa “ini bukan Islam. tetapi begitu pula kurangnya keberanian moral pada kaum moderat. Kurangnya per­ timbangan moral pada kaum militan menodai Tuhan yang Maha Peng­ ampun. Pertama. jelas bahwa masih banyak pria yang meng­ anggap bahwa suara wanita sebetulnya berada di bawah suara pria. Asra Nomani. Untuk menantang politik picik yang berada di balik haluan moderat. Bagaimana sepatutnya saya menetralkan citra negatif wanita ketika doktrin kami sendiri sepertinya mendukung gagasan perempuan yang tunduk dan serba kurang. Kita tidak harus membatasi diri kita pada pilih­ an-pilihan yang lemah itu. Dugaan mengenai pengkhianatan yang tanpa bukti akan menghambat gagasan-gagasan segar Saba yang bisa di­ masuk­ kan ke dalam Islam dan dihidupkan. LIBERTY.” Pada bulan November 2009.. Ia berteriak Allahu Akbar—“Allah Mahabesar”—sambil me­ ­ nem­­ bak. Iman mampu memberikan keber­ limpahan. 2: 282). & LOVE Dia tentu saja mengacu pada kebutuhan dua orang saksi wanita untuk menggantikan seorang saksi pria (QS. Texas. tampil 280 . seorang Muslim kontra-budaya.

ini tidak se­ ­ suai dengan kenyataannya bahwa. Sepasang suami istri menyampaikan presentasi. atau mungkin didorong pada kondisi kematangan 281 .IRSHAD MANJi di depan publik sehubungan dengan kejadian yang meng­ gun­ cang itu.” jawab si pemakalah. “Saya pikir. “Ini bukan utopia.” mahasiswa itu melanjutkan. Hasan mengikuti satu penafsiran Islam yang berlaku di komu­ nitasnya. Hasan tidak merepresentasikan Islam.” “Kalau begitu.” mahasiswa itu menanggapi. Maj. Ini nyata.” Barangkali malu dengan pernyataan ayahnya yang tidak pada tempatnya.” Ketika kaum moderat lari dari ke­ nya­ taan ini.” “Doa itu baik. pengingat ini berhasil. didampingi ayah sang istri. aku menghadiri sebuah acara di Islamic Awareness Week (Pekan Kesadaran Islam) di Simmons College dekat Boston.’ Well. “salah satu hal ter­ penting yang dapat kita lakukan adalah doa. mereka membangkitkan kecurigaan tentang Islam. “namun ja­ waban Anda itu mengelak dari tanggung jawab. Setelah itu. adalah hal utopia untuk mempercayai bahwa Muslim mampu ber­ suara. sebetulnya memang. “Beginilah mantra dari organisasi-organisasi Muslim: ‘Maj.” Ayah dari si pemakalah itu pun mengeluhkan “kita sebagai orang moderat tidak pernah mendapatkan perhatian media. yang me­ menuhi nubuat menguntungkan-diri-sendiri (self-ser­ving pro­phecy) bahwa semua persoalan untuk kaum mo­ derat harus lahir dari kefanatikan. seorang mahasiswa Muslim sebagai audiens bertanya kepada si pemakalah wanita mengapa begitu banyak kebungkaman yang melingkupi kejahatan rajam. Terkadang. “Ini tang­ gung jawab kita. Pada bulan April 2007.” si pemakalah menyerah.

Selama mempraktikkan Islam. LIBERTY.” ia menjelaskan kepadaku lewat surel. seorang pembacaku. menjalani rutinitas keseharian.” Falak. Sebagai dampak pasca pe­ nembakan di Fort Hood. yang meng­ gaungkan pesan Al-Quran tentang tanggung jawab pribadi. & LOVE moral. Tapi kenyataannya ada hal lain yang harus dilakukan. Titik. dan mendengarkan omong kosong seperti biasanya tentang Barat yang “jahat”. Mereka menemukan dalih yang membebaskan mereka dari tindakan pembunuhan. Kecenderungan kedua yang perlu diwaspadai: kita secara rutin menerima bahwa puncak pertanggungjawaban Muslim adalah dengan mengecam kekerasan. “Aku tumbuh sebagai seorang wanita Muslim di Timur Tengah dan pindah ke Kanada. Falak berjanji akan “menanamkan keimanan yang lebih se­ imbang” kepada putri-putrinya.ALLaH. menambahkan bahwa “kita perlu mengubah diri kita sendiri.” Suaminya. membuktikan keyakinanku un­ tuk menaruh ekspektasi yang lebih tinggi pada kaum moderat. “Kami mengutuk tindakan pengecut ini sekeraskerasnya dan meminta agar para pelakunya dihukum se­ be­ rat-beratnya sesuai undang-undang. saya mendapati diri saya merapalkan kalimat yang sama seperti yang diucapkan banyak Muslim di era pasca 9/11: Ini adalah para fanatik (bukan Muslim yang BENAR) yang telah tersesat dari jalur yang benar… Tahukah apa yang saya sadari sejak itu? Bahwa Muslim intelektual dan religius dengan latar belakang kelompok yang istimewalah yang melakukannya. ia mengakui “kita harus berhenti menyalahkan orang lain sebelum melihat ke diri sendiri. Tidak ada agama atau 282 . menikahi seorang warga Kanada nonMuslim. Council on American-Islamic Relations (CAIR) arus utama mengeluarkan pernyataan pers yang me­ nyatakan.

tetapi ia menahan dirinya untuk mem­ per­ timbangkan adanya peran itu. maka Muslim harus terlibat dalam upaya penafsiran ulang.IRSHAD MANJi ideologi politik apa pun yang bisa membenarkan atau menjadi dalih atas kekejaman dan kekerasan tanpa pandang bulu. dan ia pun menjadi perhatian. Holder menjawab dengan tangkas pertanya­ an yang berulang-ulang tentang peran Islamisme da­ lam me­ micu penembakan. seorang warga Yaman-Amerika yang me­ nyebar­­ luas­ kan kebencian.” Sebagai pengutukan. Ia—dan kita—telah melakukan kesalahan-kesalahan baru. CAIR harus mengenali bahwa ada tafsiran tertentu di dalam Islam yang mungkin berpengaruh penting pada Maj. tetapi “sekeras-kerasnya”? Tidak. sikap CAIR itu lebih baik daripada se­ kadar menarik perhatian. Ia terkenal karena menggambarkan karakter sesama warga Amerika sebagai “bangsa pengecut” karena menghindari dia­ log keras tentang persoalan rasisme. Aku meng­ ha­ rap­ kan lebih. Holder melakukan kesalahan lama yang sama. Ia. Karena Holder sendiri mengaku mengha­ rapkan lebih—setidaknya pada perbincangan Amerika tentang ras. Tetapi ketika terkait dengan perbincangan mengenai Islam. “Apa yang kau harap­ kan?” sebagian pembaca mungkin akan menyindir. Hasan me­ nelusuri situs web Islamis dan berkomunikasi dengan imam ra­ dikal. se­ perti juga publik. Beberapa bulan menuju investigasi. dan jika demikian. belakangan mengetahui kalau Maj. Apakah aku sudah gila? Bukankah taruhannya terlalu berbahaya jika mengambil risiko salah langkah lagi? Tidak jika taruhannya melibatkan perdamaian yang sudah sepantasnya 283 . Hasan. Jaksa Agung AS Eric Holder duduk di hadapan para anggota Kongres.

dapat digolongkan sebagai memulai perang dengan Islam? Pejihad kekerasan bisa mengatakan ya. Pada bulan Oktober 2006. sampai kemudian kau memikirkannya. tetapi me­ ne­ tapkan satu syarat penting supaya umat Kristen dapat mem­ peroleh cinta kaum Muslim: jangan mulai perang dengan Islam. hampir tidak menyerukan sedikit pun mengenai premis yang mudah dipatahkan di balik konsep perdamaian dalam surat Muslim itu. termasuk yang humanitarian. Respons umat Kristen yang kubaca terhadap surat “A Common Word” terasa berusaha keras antusias terhadap keharmonisan. dapat ditafsirkan sebagai permusuhan bagi Islam. & LOVE terjadi. Kemudian mereka akan mengemukakan alasan perangdengan-Islam sebagai dalih untuk terorisme. dan 284 . tergantung agenda politik dari mereka yang menafsirkan. Dan dengan tidak teliti menanyakan ke para pemikir itu tentang hal tersebut. LIBERTY. Apakah intervensi NATO untuk mengakhiri pembantaian massal di Sudan. Cukup beralasan. ne­ gara mayoritas Muslim. Dengan mengemukakan adanya ketidakjelasan dalam dia­ log ini. Tindakan apa pun. pemikir-pemikir Kristen mem­ berikan balasan yang serupa. aku mengacu kepada kejujuran dan kejelasan. dan membiarkan Muslim moderat menyalahkan kebijakan luar negeri Barat karena mencetak teroris. Sungguh mengagetkan—dan memang bisa diprediksi mengagetkan.ALLaH. “pihak otoritas dan ulama” Muslim moderat merancang sebuah surat terbuka kepada mi­ tra Kristen mereka. pemikir Islam moderat mengesahkan jaringan militan. Berjudul “A Common Word Between Us and You” (Persamaan Antara Kami dan Kalian) surat ini menyuarakan dengan indah tentang rekonsiliasi. Dengan mengeksploitasi kondisikondisi semacam ini.

Jika tidak. yang perlu diadaptasi untuk abad ke-21. me­ ngarah pada penderitaan—dan mengapa? Ini adalah pertanyaan yang dirancang untuk mencegah kecenderungan ketiga: kaum moderat yang membicarakan Islam secara abstrak. kalian perlu mengakui bahwa aku diberkati dengan petunjuk Tuhan.IRSHAD MANJi itulah yang akan kita dapatkan dalam pertanyaan akhir yang kurekomendasikan mana kala kita berdiskusi tentang Islam dengan kaum moderat. mereka sering kali menganggapnya sebagai tanda kebohongan Muslim. meskipun demikian. tetapi aku mempertanyakan tentang penerapannya. kalian harus mengakui adanya aspek-aspek Islam. Apa yang mereka katakan adalah. “Hanya karena satu kata memiliki suatu arti. kecuali alis mata. Tetapi kalian jelas yakin bahwa de­ ngan mengupas masalah-masalah dalam Islam saat ini.” Ekspresi marah tidak mengangkat apa-apa. Islam artinya damai. Namun apakah kita punya bukti bahwa sering kali kenyataannya tidak demikian. yang kuyakini sudah indah. aku meng­ ­ ingatkan para Muslim moderat yang menjadi audiensku bahwa “Irshad berarti petunjuk. Yang mana.” Sambil mengedipkan mata dan tersenyum lebar. banyak Muslim mo­ derat yang secara tulus meyakini bahwa Islam itu damai.” Mereka tidak mengatakan adalah. Pertanyaannya seperti ini: Aku tidak mempertanyakan teori Islam.” Ketika orang-orang yang skeptis mendengar kalimat klise ini. Dan mulailah dialog 285 . secara praktik. Elemen Islam apa. Begitu pula. kalau begitu? Apakah makna sebuah kata berarti segala-galanya? Jika begitu. Faktanya. Kecende­ rungan ini melahirkan kedangkalan seperti “Islam itu damai. “Islam artinya damai. yang ketika dijalankan di dunia nyata dan tidak sempurna ini. aku ini sudah tersesat. tidak menjamin bahwa kenyataannya akan sama.

Manusia. sebagai permulaan yang berguna dalam membangun percakapan antara dan antarorang.. dan juga mengorbankan para refor­ mis sejati untuk maksud tertentu. Netralitas memapankan kebrutalan.?” Untuk menjadi pro-kemanusiaan. Rasa takut bisa menjebak kita berpikir bahwa pertanyaan hanya menambah buruk persoalan. bagaimanapun juga. LIBERTY. 286 .. Pertanyaanpertanyaanku membayangkan adanya suatu diskusi publik sehingga umat Muslim dan non-Muslim dapat menemukan tujuan bersama dalam nilai-nilai kemanusiaan. terutama di dalam suatu lingkungan yang sudah terpolarisasi. adalah haram untuk mengambil jarak. “pemikiran Muslim terkotak-kotak ke dalam pro-Barat dan anti-Barat. Aku baru saja memaparkan tiga kecenderungan untuk di­ per­ hatikan.ALLaH. kemudian disingkirkan. mudah terperdaya ketika berhubungan dengan emosi. kita harus keluar dari ilusi netralitas. da­ ri­ pada berfokus pada satu pertanyaan yang jauh lebih pen­ ting: Apakah pemikiran Muslim di dunia yang modern ini cenderung pro-kemanusiaan atau anti-kemanusiaan. Lillian Smith mengajarkan bahwa dalam kon­ teks praktik keagamaan yang keji seperti hukum gantung dan perajaman. & LOVE batin. Itulah mengapa pertanyaan-pertanyaan yang ku­ ajukan—dan kuminta kau pun mengajukan—menolak pem­ bedaan yang artifisial antara Islam dan dunia Barat. dan camkan dalam pi­ kiran bahwa menyayangi dan menghormati orang lain ber­ arti memiliki keyakinan terhadap kapasitas mereka untuk tum­ buh berkembang. Seperti yang ditulis oleh ulama reformis Khaled Abou El Fadl.

IRSHAD MANJi

Nona Lillian harus menyelinap masuk ke wilayah suatu uni­ ver­ sitas di Amerika Serikat bagian Selatan karena tidak disu­ ­ kai kalangan berkulit putih. Namun demikian, melalui per­ ju­ angannya melawan teriakan-teriakan mencekam dari pem­ bantai rasial, “suara mendayu-dayu” dari politisi pendu­ kung segregasi dan “serigala berbulu domba” kaum moderat, ia mendeklarasikan dirinya “pro-Selatan.” Ia mengulurkan ha­ rapan bahwa di balik segala macam persoalan kita, kebutaan kita, masih ada pihak Selatan yang baik—orang-orang kreatif dan telah berkembang yang mulai mengangkat diri mereka dengan keluar dari sikap defensif yang kuno dan mulai me­ nerima dunia yang sekarang... Ya, saya pro-Selatan.” Demikian pula, aku pun pro-Islam. Dalam Al-Fatiha, su­ rah pembuka di Al-Quran dan surah yang utama bagi semua Muslim, mereka yang “tersesat” ditandai dengan kata yang persis digunakan di bagian lain yang mengacu kepada mereka yang meninggalkan harapan. Kalau begitu, berharap berarti mempercayai rahmat Allah—izin-Nya, perlindungan-Nya dan cinta-Nya, sehingga aku bisa berjuang untuk berusaha lebih baik, dan untuk kebaikan yang lebih dari diriku. Ini artinya, saat aku berjalan di jalan Islam yang lapang, bahkan ancaman kematian menjadi umpan untuk meraih kebebasan kreatif. Se­ orang tanpa nama mengirimkanku surel:

Mawar merah warnanya, Lebih merah warna darahnya. Tuhan menginginkan KEMATIAN-nya, Dan kami berjanji kepada-Nya untuk membinasakannya.
Balasanku:

287

ALLaH, LIBERTY, & LOVE

Aku baru mengobrol dengan Tuhan; Dia lupa kalau pernah memintamu untuk membunuhnya. Mungkin kau salah mendengarkan-Nya; Saat Dia berfirman: “Hmmm... menyakitinya? “Bukan, bodoh,” klarifikasi Tuhan, Bukan begitu caranya; Berpikir dan berbuatlah, Atau tidak usah berdoa saja. “Karena, Aku berikan anugerah kepada hamba-hambaku; Apa yang disebut kehendak bebas. Kau mungkin benci dengan cara penggunaannya, Tapi bukan hakmu untuk membunuh.”
Si Tanpa Nama menjawab:

Ketika saudara-saudaraku meledak. Mereka menggunakan kehendak bebas. Kau boleh saja bersuara menentangnya, Tapi hei, bukan kehendak bebasmu yang membunuh. Kau salah, SUNDAL.
Tanggapanku:

Salah? Tidak, Kau lupa satu fakta: Ketika “saudara-saudaramu” mengebom, Mereka membunuh orang lain dengan itu. Jika mereka merusak hanya diri mereka sendiri, Aku tidak akan bersuara lantang. Tapi mereka mencuri kehendak bebas dari banyak orang,

288

IRSHAD MANJi

Itu adalah permainan yang sangat berbeda. Jelas sudah kalau mereka adalah pencuri. Aku harus bertanya: Apakah kau ini? Seorang kaki tangan? Seorang Muslim? Apakah tak ada batasan antara keduanya?
Si Tanpa Nama lagi:

Puisi yang indah, jalang. Tapi aku takkan menyelamatkanmu. Hanya Allah yang bisa, Dan tebaklah? Dia MEMBENCI-mu.
Giliranku:

Apakah Tuhan yang membenciku? Atau justru kau? Hanya karena mawar itu merah Tidak berarti violet juga... Kau salah, preman jalanan.
Si Tanpa Nama tidak membalas. Dan aku merasa sangat hidup.

289

7
Kehilangan Makna Adalah Ancaman Kematian yang Sesungguhnya
Pendukung al-Qaeda berperang melawan tukang pelintir
di sekeliling George Bush. Lantas, mana yang akan keluar dengan penuh integritas? Jawaban yang ngawur, “Tidak ada!” Tapi itu mungkin tidak benar. Akan kujelaskan alasannya me­ lalui tantangan yang kuterima dari seorang pria Muslim bernama Amin. Dia membaca tulisan seorang wanita Muslim, Malika, yang menulis blog tentang “kewajiban” Islam untuk menghancurkan Barat. Sampai saat ini, Malika bertindak hatihati sesuai dengan undang-undang di negaranya, Belgia, dan dengan bangga menerima cacian publik karena keyakinannya. Menurut dugaan Amin, Malika telah memenuhi tiga syarat kondisi keberanian moral: berbicara kebenaran pada pihak yang berkuasa, menyuarakannya di dalam komunitasnya sen­ diri, dan mengekspresikan dirinya demi kebaikan yang lebih besar. Karena itulah, Amin bertanya, apakah blogger pejihad ini termasuk agen untuk nilai-nilai yang kuusung?

291

ALLaH, LIBERTY, & LOVE

Dalam balasanku, aku mengajukan beberapa pertanyaan kepada Amin. “Kebenaran” apa yang disuarakan wanita ini? Dia menggembor-gemborkan gangguan dari Barat, tapi cuma sedikit bicara mengenai fakta bahwa di Pakistan, militan Suni menggunakan Syiah sebagai sasaran latihan. Bahwa di Afghanistan, para panglima perang yang suka mengutip AlQuran beramai-ramai memerkosa gadis-gadis Muslim. Bahwa di Lebanon, bangsa Palestina hidup susah dengan pekerjaan yang langka karena mereka dilarang membeli properti, apa­ lagi untuk menjadi profesional. Bahwa di Israel, roketroket Katyusha yang diluncurkan oleh Hisbullah memorakporandakan rumah-rumah Muslim Arab. Tambahkan kebe­ naran ini; baru kita bicara. Berikutnya, aku mengingatkan Amin, keberanian moral men­­ syaratkan kita tak hanya berbicara kebenaran, tapi juga mem­ bicarakannya kepada mereka yang menuntut kesetiaan tanpa cela. Dalam masyarakat terbuka, tidak dibutuhkan ke­ ku­ atan raksasa untuk mengampanyekan Barat yang jahat. Untuk memiliki keberanian moral, Malika harus mengatakan kebenaran ke saudara-saudari pejihadnya bahwa Muslim sa­ ling melukai. Terakhir, “kebaikan lebih besar” apa yang Malika perjuang­ kan? Jelas bukan perlindungan terhadap Muslim seluruh dunia. Maka kutawarkan rekonsiliasi ke Amin. Menulis blog tentang kejahatan Muslim-terhadap-sesama-Muslim bukanlah satusa­­ tu­ nya cara bagi Malika berbakti demi kebaikan yang lebih be­ sar. Cek kesejahteraan $1.100 per bulan yang diterimanya berkala dari pe­ merintah Belgia mengisyaratkan adanya pilih­ an lain: ia bisa menyumbangkan sebagian tunjangannya ke­

292

IRSHAD MANJi

pada janda-janda perang Irak, yang memperoleh maksimum $40 per bulan. Jelas mereka bisa menggunakan bantuan dari seorang saudari sesama Muslim. Kemudian, aku juga berpen­ dapat bahwa tanggung jawab Malika bertambah saat kita mem­ pertimbangkan satu realitas lagi: banyak wanita Irak yang ditinggalkan oleh suami karena pasukan Barat, itu benar, tetapi ada juga peran pemberontak Muslim yang diimpor dari wilayah-wilayah asing—orang-orang non-Irak yang dihasut dalam blognya. Barangkali, aku boleh usul, ia sebaiknya belajar dari Scott McClellan, mantan sekretaris pers untuk Presiden George W. Bush. Setelah berhenti dari posisinya, McClellan menulis sebuah buku laris mengenai kebohongan yang menyelimuti Washington, D.C. Pada bulan Januari 2008, ia berkomitmen membagi royaltinya dengan keluarga-keluarga dari korban perang Irak, yang menurut McClellan telah ia lukai karena kesalahan informasi yang ia dapatkan—dan sampaikan—sela­ ma di Gedung Putih. Hari itu, Scott McClellan melampaui kelompok golongannya demi me­ mancar­ kan keberanian moral. Melalui contoh ini, McClellan meneguhkan bahwa apa pun masa lalu Malika yang terkait dengan keraguan atau kebungkaman, dia kini bisa membuat pilihan baru. Kita se­ mua bisa. Memiliki kebermaknaan berarti mengetahui kalau pilihan-pilihan kita mengandung konsekuensi. Dan apabila pilihanku ternyata membawa dampak, maka tidak pernah ada kata “terlambat” untuk membuat pilihan baru. Begitu aku me­ nerima bahwa pilihanku memiliki konsekuensi, aku hidup da­ lam kebermaknaanku—dan kapasitasku untuk membantu orang lain demi mewujudkan kebermaknaan mereka.

293

kita sesungguhnya ber­ un­ tung. tapi tidak men­ dasar. tetapi juga karena hasilnya sendiri pun tak bisa diramalkan. memangkas. & LOVE Umat Muslim boleh jadi membutuhkan pelajaran terakhir ini dalam rangka memilih keberanian moral. Berjalan cepat tapi tanpa kesadaran diri dan mengajukan per­ tanyaan. Tetapi. keberuntungan hanyalah sebatas itu saja: mujur.ALLaH. Mengapa hidupku bertujuan untuk melapangkan jalan Islam? Lebih lugasnya. Pikirkan tentang semua informasi yang kita belum miliki. Sebagai warga yang diperbolehkan menjadi individual. Pelajaran Ketujuh: Kehilangan Makna adalah Ancaman Kema­ tian yang Sesungguhnya. bergantian antara atau harmonis dengan indi­ vidualitas yang berlaku di budaya demokrasiku. LIBERTY. apakah kecenderungan budayanya yang komunal akan menghapus. tetapi semua war­ ga demokrasi juga membutuhkannya. Kita tahu apa yang menimpa masya­ rakat yang men­ jalankan keyakinan buta. semakin meningkat jumlah wanita Cina yang me­ lakukan bedah rekonstruksi selaput dara agar mereka dianggap perawan ketika menikah. tanpa menerapkan individualitas dan integri­ tas kita. Ketika Cina mem­­­ peroleh status adikuasa. apakah per­ ju­ angan wanita Muslim terhadap keperawanan akan mele­ 294 . mengapa aku rela mati demi Islam? Perja­ lananku yang menantang bahaya ini mungkin kelihatannya bodoh—tidak hanya karena aku sendiri tidak tahu apakah ini akan berhasil. Seiring pertumbuhan Cina dan nilai-nilai yang menyebar dengan segala cara. Kode kehormatan Arab menemukan teman­ nya dalam fenomena ini. Kini.

” Tujuan-tujuan ini mencerminkan “realitas dari keyakinan manusia.IRSHAD MANJi mah? Ataukah akan menguat? Pada catatan yang berbeda.” Coretta Scott King mengenang. bunga hutang Amerika akan melampaui seluruh anggaran pertahanan negara.. Congressional Budget Office (Kantor Anggaran Kongres) menya­ takan bahwa di masa hidupku. Ketika dunia yang kukenal terasa seakan-akan bergolak. Pilihanku mengilhami misi­ ku di­ sertai komitmen pribadi yang tidak bisa ditembus oleh manuver politik—baik yang kotor maupun yang curang. Kabar baik atau kabar buruk untuk menyesuaikan ulang kebijakan luar negeri Amerika Serikat? Kabar baik atau kabar buruk untuk menemukan alternatif bagi minyak Saudi? Kabar baik atau kabar buruk untuk memulihkan jurang antara pendukung politik dan menghormati prioritas manusia? Menurutku. se­ muanya. janda King me­ ngeluarkan pernyataan mengejutkan tentang bagaimana sua­ minya menilai eksistensi dirinya. hasrat dan kepercayaan. Jr.” King dapat menuntut begitu banyak dari dirinya sendiri. Aku telah memilihnya. Dan karena misi ini merupakan balas budi pada masyarakat yang telah memberiku kebebasan. jika seorang pria tidak mempunyai apaapa yang layak diperjuangkan sampai mati. daya dorong lebih kuat dari semua kalkulasi para ekonom atau para jenderal kita. “Suamiku sering berkata kepada anak-anak. ada ketenangan dalam beberapa kepastian ini: Aku memiliki sebuah misi. sebagian. karena 295 . Robert F. aku bahagia menjadi orang yang memiliki tujuan dibalik pilihan-pilihanku. Kennedy mungkin akan menyebutnya “tujuan-tujuan moral yang mutlak.” Setelah pembunuhan Martin Luther King. “maka dia tidak pantas hidup.

Bayangkan pemungutan suara atas resolusi ini: “Te­ lah tiba waktunya bagi perempuan untuk bergerak sesuai dengan yang Tuhan tugaskan kepadanya. Itulah resolusi yang perlu dibuat oleh para reformis Muslim saat ini. tapi para wanita ini bertahan. Ketegangan dengan lawan mereka berpotensi menjadi tawuran.” salah seorang di antara me­ reka mengumumkan di New York. ribuan pria membanjiri tempat pertemuan mereka. dan tidak lagi pu­ as dengan keterbatasan-keterbatasan yang ditimbulkan oleh adat yang korup dan penyelewengan pengamalan Al-Kitab yang melingkupi kaum perempuan. Lupakan era 1960-an. & LOVE pengabdian Kristiani pada kehidupan berlaku kekal. mereka telah menemukan suara bagi diri mereka sendiri. Tolong camkan.” Adat yang korup. ketika sekelompok kecil wanita Kristen berkumpul untuk me­ nyusun strategi melawan perbudakan. Hidup dengan tujuan moral yang utama—dan bersedia mati untuk alasan yang sama—mereka tidak sekadar menjalani kampanye penghapusan perbudakan. di Philadelphia. Namun dalam kesediaannya untuk mati demi keadilan. King juga menyerap dari sumber feminisme Amerika. LIBERTY. Tak lagi puas.ALLaH. 296 . para wanita ini berkumpul tidak untuk menuntut kesetaraan mereka tapi untuk mendesak perikemanusiaan yang mutlak dan penuh bagi kaum kulit hitam. “Inilah tujuan yang layak diperjuangkan sampai mati. Penye­ lewengan pengamalan Al-Kitab. tuan rumah bagi AntiSlavery Convention of American Women (Pertemuan Perempuan Amerika Anti-Perbudakan) yang pertama. aku merujuk pada tahun 1830-an. Dan mereka melakukan itu dengan melapangkan jalan Kristiani. menghancurkan jen­ dela lalu membakar bangunan. Tahun berikutnya.

Douglass tidak takut dikatakan untuk berhenti mencampuri urusan wanita. mantan budak yang kesetiaannya pada kebebasan individual jauh melampaui masyarakat “dia”. tapi begitulah cara kerja ekstre­ mis­ me kreatif. 297 . Atau dari bu­ dayamu. “merupakan seruan pu­ blik pertama atas hak perempuan di Amerika.” Hal ini tidak diren­ cana­ kan sebelumnya.” ungkap Helen LaKelly Hunt dalam Faith and Feminism (Iman dan Feminisme). dan pada kewajiban hidup sebagai satu kesatuan.IRSHAD MANJi “Pernyataan ini. Bagiku. mereka melambangkan harapan untuk transen­ densi—kebebasan untuk memilih tujuanmu dibandingkan po­ litik orang lain. Maka dia pun bermimpi. tidak. “Kita selalu terhu­ bung dengan inspirasi. Keberanian moral yang dicontohkan oleh para ”pembangkang” ini memberikan makna pada demokrasi. yang menelurkan makna yang lebih besar bagi kemanusiaan. Nuranimu menganugerahimu kebebasan ini. tapi kita tidak menyadarinya karena benak kita dipenuhi dengan segala macam pemikiran yang seram­ pangan. Hanya satu dekade setelah pertemuan anti-per­ bu­ dakan. Elizabeth Cody Stanton.“ tulis Sultan Abdulhameed. Atau bahkan dari kepalamu. Jangan mencari pembenaran dari keluargamu. maka dia pun bisa. lima dari penggagas wanita ini mengajukan penye­ lenggaraan konferensi hak-hak perempuan. Jika para wanita bisa melihat keluarga mereka sebagai umat manusia. Bahkan rekanrekan sejawatnya menertawakannya: Mimpi sajalah. Salah satu dari mereka. Stanton mengajak Frederick Douglass. setelah pa­ ra wanita kulit putih ini mencampuri urusan pemusnahan perbudakan kaum kulit hitam. bergerak lebih jauh dengan mengangkat hak perempuan untuk memilih.

apakah mereka per­ nah memperoleh makna dari situ. Jika tidak ada tujuan. bukankah itu menggambarkan Osama bin Laden? Tidak juga. yang luar biasa adalah menjadi ekstremis kreatif yang berjuang demi kelanggengan nilai-nilai yang bisa bertahan lama. Pilihan mereka memiliki konsekuensi dan. tapi sebagai seorang Islamotribalis ia mengandalkan hidup dari pemikiran kelompok 298 . mensya­ ratkan penyusunan waktu dan sumber untuk mencapai tujuan Anda. hei.. & LOVE Jika kau memiliki tujuan dominan dalam hidup. pikiranmu me­ nyerap berbagai macam informasi dan citra acak dari lingkungan di sekitarmu.” Tetapi adalah hal biasa mengadopsi paham ekstremisme destruktif di mana hari akhir seakan-akan adalah yang terpenting. “Untuk menciptakan ‘ke­ langgengan nilai-nilai yang bisa bertahan lama’. bahkan ketika pilihan-pilihan itu ber­ kembang biak. dia tak akan bisa me­­ nangkap pesan yang datang dari kesadaran yang lebih dalam. kita harus berbeda dari kebanyakan orang.” Abdulhameed menjelaskan. mendengarkan nuranimu akan menyederhana­ kan pilihan-pilihan. Bin Laden boleh jadi mencurahkan hari-hari dan dolarnya untuk jihad kekerasan.. pikir­ anmu akan mencari dan mengumpulkan informasi ter­ kait dengan pen­ capaian tujuanmu.ALLaH. Perhatikan. “Hal ini mensyaratkan memiliki pemikiran sendiri. LIBERTY.” Wah. “Aksi teroris pun berdasarkan nurani mereka. Ketika pikiran seseorang di­ penuhi dengan lapisan tebal sampah. Aku bisa mendengar beberapa di antara kalian me­ nang­ gapi.

Seba­ liknya. Ia menciptakan ke­ langgengan nilai-nilai yang bisa bertahan lama dengan mele­ takkan transendensi yang tetap bisa berlaku sampai ke generasi yang akan datang. Kebebasan pun akhirnya terkikis menjadi apa yang disebut Lillian Smith sebagai “kehampaan. mematahkan pemikiran kelompok ini. Khan hidup untuk mengembangkan itu semua. Ia membela kebebasan berkeyakinan— memiliki pemikiranmu sendiri—dan memperjuangkan prinsip itu tanpa menggunakan kekerasan. Sementara bin Laden hidup untuk membinasakan pilihan-pilihan individual. tanpa substansi? Mengapa kita menekan kecemasan. itu saja sudah menjadi pembuktian akan pemikirannya sendiri. reformis Muslim. menyangkal ba­ haya? Mengapa bersikap apatis padahal kita sangat mem­­butuhkan energi moral? Mengapa lemah semangat padahal kita membutuhkan kekuatan baja? 299 . Mereka sering kali menge­ cilkan diri mereka. Abdul Ghaffar Khan. ________ Jika banyak Muslim kesulitan dalam mengekspresikan indi­ vidualitas mereka.IRSHAD MANJi (group­think)—berlawanan dengan “berbeda dari kebanyakan”. maka banyak non-Muslim juga sulit un­ tuk cukup peduli mengekspresikannya. yang begitu dangkal.” Mengapa kita begitu buta pada setiap bencana yang di­ mulai perlahan-lahan dan kemudian menyergap kita! Apakah ini bentuk ketakaburan? Tapi apa penyebab ke­ takaburan ini.

300 . Nilai. Ingat bagaimana dia menjadi ekstremis yang destruktif? Di antara faktor-fak­ tor yang biasa dan tidak diperhatikan: “Tak seorang pun memi­ liki ke­ beranian untuk membela demokrasi liberal tanpa kera­ guan. berkontribusi pada kebajikan. Yang mana di antara mereka yang bisa menggunakan kata “kebajikan” tanpa tersedak? Yang manakah di antara mereka yang bisa menjadi panutan bagi kaum muda yang “idealis”?. Ia tak dapat menunjukkan se­ suatu yang menginspirasi atau menguatkan apa yang kita perjuangkan. Tahun 1964. di mana pimpinan dan dosen-dosen kampus.” cerita Husein kepada kami tentang para pengelola kam­ pusnya di Inggris. Abraham Maslow memublikasikan Re­ ligions. menginspirasi.. sebuah pengembaraan yang menyelami kebutuhan manusia akan transendensi. and Peak Experience (Agama. LIBERTY.. dan Pengalam­ an Puncak). Seperti Smith. menentang kami?” Di dalam lubang kelinci relativisme. Ketika ia dan gerombolan berjanggut “menyeleng­ garakan acara yang menentang perempuan dan kaum gay. Smith mengajukan pertanyaan ini di tahun 1963. & LOVE Dengan demokrasi liberal yang kehilangan pengaruh global karena hasutan komunis. Values. Maslow mengguncang dengan pertanyaan-pertanyaan yang penting bagi kemaslahatan masyarakat yang bebas: Seniman atau penulis masa kini yang berusaha untuk mengajar.ALLaH. eks-pejihad yang kukutip di bab empat. apalagi rela mati untuk itu [dengan huruf miring] Maslow dan Smith bisa jadi berbicara mewakili Ed Husain.

kita tak boleh malu mem­­ ­ bicara­ kan secara terbuka mengenai transendensi dan pilih­ anpilihan yang menyertainya. Tak ada hasratku 301 . yang sering dicemooh masyarakat Eropa! Ironi tidak selalu menyenangkan. lebih baik mem­ per­ malukan diri kita dengan berember-ember makna ketim­ bang mengecilkan diri kita dengan “Kehampaan”. aku mengalami percakapan yang penuh optimisme dengan seorang jurnalis Belanda.” Sudah cukup banyak dari kita yang berpaling.IRSHAD MANJi Untuk menggali kenyataan ini. me­ lainkan suatu undangan untuk meng­ olok-olok toleransi. Susan Neiman mengemukakan taruhannya: “Jika kebu­ tuhan kita akan transendensi tidak dipenuhi oleh nilai-nilai ideal yang benar. karena permasalahan itu. cinta akan kemajuan. imajinasi. Karena Ke­ ham­ paan tidaklah mulia. ia goyah dalam pesimisme yang me­ lemah­kan.” tu­tur­ nya mengenai orang Eropa. tekad. Ketika melakukan tur bukuku. dua jam yang penuh inspirasi melemah menjadi peng­ agungan terhadap sikap menyerah. Akan tetapi dalam surelnya.” Aku jadi gelagapan. kami setidaknya aman secara intelektual. aksi. namun konsekuensi buruk dari pilihan tersebut bisa dibalik—dengan ekspektasi yang lebih tinggi terhadap diri ki­ ta. maka kemungkinan kita akan berpaling ke nilai-nilai ideal yang salah. kerja sama. “Kepasifan merupakan musuh terbesar kami. Bagaimana­ pun. Aku yakin. kekosongan nilai-nilai akan langsung disu­ supi oleh ideologi-ideologi yang lebih cerdik. selama orang-orang seperti Anda tidak kehilangan kebebasan ber­ bicara. Dalam Kejernihan Moral. “Kami kekurangan hal-hal yang kami perlukan untuk memecahkan masalah kami: kebe­ranian. Tetapi aku tak boleh hanya mengandalkan dia—atau orang-orang Eropa. dan dengan pilihan-pilihan yang baru.

bahkan yang dianugerahi kebebasan. Setelah menyelesaikan makan siang di kedai makan yang sepi di New York. Di samping itu semua.” tutur Chip dan Dan Heath. yang kita gunakan untuk merumuskan mimpi dan hasrat kita. “Se­ an­ dainya aku mengatakan apa yang kau katakan. Atau.” Dia sudah tahu pilihannya akan menimbulkan konsekuensi. (Apakah bahasa Inggris kurang positif dibandingkan bahasa lain?) ”Da­ lam segalanya. 62 persen cenderung negatif. teman-te­ man­ ku praktis akan merajamku. tapi dia meremehkan pilihanpilihannya dengan mengharapkan hanya yang terburuk.ALLaH. penulis Switch: How To Change Things When Change Is Hard (Beralihlah: Bagaimana Mengubah Keadaan ketika Berubah Terasa Susah). “Sekelompok psikolog mengkaji dua ratus lebih artikel dan menyimpulkan 302 . & LOVE untuk menghitung berapa banyak aku mendapat semangat agar “terus maju.” sampai kemudian para penyemangat itu memutuskan kalau tindakan mereka itu tidak ada artinya. seorang rekan mencondongkan tubuhnya dan berbisik kepadaku. kita sepertinya terhubung untuk berfokus pada hal negatif. Sebuah kajian psikologi menemukan bahwa dari 558 kata berbahasa Inggris untuk emosi kita. Mereka meng­ asumsikan bahwa akibat yang tak terkendali adalah satu-sa­ tunya hal yang akan mereka hadapi. LIBERTY. Katakata negatif inilah menyeret kita ke dalam keraguan. dia juga memelankan suaranya seakanakan seluruh dunia menguping tentang ketakutannya—di da­ lam sebuah kedai makan yang sepi pengunjung. Mengapa kebanyakan dari kita. meremehkan kapasitas kita? Jawabannya mungkin bisa ditemukan melalui kata-kata di dalam kamus. mereka merasa kon­ sekuensinya akan lebih menyakitkan dari kemampuan yang bisa mereka tanggung.

IRSHAD MANJi bahwa. solusi. seseorang akhirnya punya keberanian untuk menan­ tang mereka yang disebut alim ulama dan imam masa kini. maka ia lebih lama memandang foto peristiwa yang buruk. dan bagaimana kita melakukannya lebih dari itu? Pertanyaan ini butuh lebih sedikit perasaan yang dicurahkan terhadap gunung di hadapan kita (masalah) dan lebih banyak belajar dari individu-individu yang tidak sempurna namun tabah men­ dakinya (solusi). Kecenderungan bukan berarti takdir. pada berbagai macam perilaku dan persepsi manusia. Ketika aku memberitahukan para pemuda Muslim bah­ wa tidak ada penerbit Arab yang mau menerjemahkan bukuku.” Kedengarannya seperti tidak banyak pi­ lihan.” Sebagai contoh. kan. “Saya sangat senang. jika kita “terhubung” pada hal-hal yang suram? Tapi itulah pilihan. seorang pembaca Trouble with Islam Today. “Jika seseorang ditunjukkan foto peristiwa yang buruk dan menyenangkan. Kita bisa membuat pilihan sadar untuk menyibukkan diri kita dengan sesuatu selain masalah—yaitu. Reyana. satu prinsip umum berlaku: “Buruk lebih kuat daripada baik. Setelah kemudian mengunggah dalam kapasitas yang be­ sar. Maka “Beralihlah”.” Ia mencurahkan melalui surelnya: 303 . aku sangat menghargai satu pertanyaan yang disarankan oleh buku Switch untuk selalu kita ajukan: “Apa yang bekerja. bisa menjadi contoh bagi prinsip ini. sejumlah orang melontarkan satu solusi: terjemahkan sendiri dan unggah secara online.

dan inilah Islam yang ingin saya turunkan pada anak-anak saya. tapi juga merasa senang akan adanya “seseorang” mendemonstrasikan padanya bahwa hal itu mungkin. bahwa di dalam neraka. saya memperoleh kembali cinta dan keyakinan pada Islam.” Reyana tidak aneh karena mem­ buktikan pandangan Fromm. Apa pun yang terjadi nantinya. Sejak kecil.. Dampak suatu gagasan meningkat ketika “dihadapi secara langsung.ALLaH.. tapi setelah membaca buku Anda. saya merasa bebas. telah berdentum-dentum di kepala saya bahwa menjadi orang yang baik tidaklah cukup. Please. aku mendapat kilasan bukti bahwa pilihan priba­ diku untuk menerapkan keberanian moral menerangi pilihanpilihan orang lain” 304 . “Gagasan tidak mempengaruhi [orang] secara mendalam apabila hanya diajarkan sebagai gagasan dan pemikiran semata. Hampir setiap hari selama bebe­ rapa tahun. Erich Fromm. deh! Menjadi perempuan Muslim yang mandiri di abad ke-21. Kini.” begitu pengamatan psikolog sekaligus fil­ suf. & LOVE Saya berada di titik di mana saya merasa benar-benar tersesat. akan lebih banyak wanita dibandingkan pria. Reyana bergairah tidak hanya untuk belajar mencintai Islam dengan mengupas habis budaya tribal. LIBERTY. saya dalam proses menyingkirkan budaya. Seperti kita tidak cukup menderita saja di dunia—coba biarkan pria melahirkan sekali saja! Atau bahwa kau akan masuk neraka kalau tidak mematuhi suamimu. Saya tak pernah bisa memahami agama yang terorganisir. Saya pun mengalami efek yang sangat besar pada cara suami saya memandang Islam. Saya pun tak lagi merasa sesak napas. saya selalu merasa sesak napas dengan aturan dan regulasi dari Islam institusional.

Masuk dengan penuh kehausan. Saya berpaling dari Islam ketika tinggal di Saudi Arabia ketika masa kanak-kanak. —Lorena Harus saya akui kalau saya belum selesai membaca buku Anda. sehingga saya pun masuk Islam dan mengambil Al-Quran.. —Alamin Saya seorang antropolog yang sedang melakukan penelitian dengan para wanita Muslim yang tinggal di daerah perkampungan kumuh Kalkuta. karena pada 100 halaman pertama. mengelola sebuah LSM kecil yang menggerakkan sekolah gratis bagi anak-anak. —Davi Saya seorang Muslim kelahiran Norwegia. dan dia langsung memasukkan karya Anda ke pelajaran Islam di kelasnya.IRSHAD MANJi Keluarga saya dan saya adalah Muslim. Amina.. Saya memutuskan tidak akan pernah kembali ke 305 . Ketika dewasa. terlihat jelas bahwa ada tempat bagi saya dalam Islam. Komentarnya saat membaca gagasan Anda: “Inilah persisnya yang selama ini aku bicarakan!” Mereka kini membaca dan membahas karya Anda bersama-sama. Anda membuatnya mudah bagi saya. Ijtihad merupakan kepingan hilang yang membawa saya kembali pulang. saya pindah ke London untuk mengambil gelar di jurusan marketing (pemasaran). Sikap Anda membuat hidup saya lebih mudah untuk dijalankan karena sejak 9/11. Saat kunjungan terakhir saya ke sana. saya merasakan kesulitan lantaran agama yang saya anut ini. India. saya menunjukkan situs web Anda kepada beberapa wanita ini dan mereka mulai membaca The Trouble with Islam Today dalam bahasa Urdu. Seorang wanita. Pergi dalam kedamaian. untuk mengetahui apa yang saya katakan pada anak-anak saya. Saya sendiri profesor di bidang sastra. Istri saya dokter.

tak peduli di mana pun saya berada. Perbincangan berpusat pada politik dunia. terima kasih Tuhan. LIBERTY. mengetahui kalau Anda di luar sana melakukan perjuangan yang baik. pendidikan. berkat buku Anda. saya berada di Pakistan dan dikelilingi oleh orang-orang yang lebih tua. & LOVE kehidupan keluarga saya yang bak neraka. —Shamin 306 . “Kalian tahu siapakah musuh terbesar Islam? Muslim. yang terdiri dari para anggota pria di keluarga besarku.. Buku Anda sangat menginspirasikan saya untuk mulai serius mengimplementasikan proyek tersebut. —Khalid Saya selalu berpikir untuk mendirikan sekolah buat wanita dan anak-anak di Bangladesh. Irshad.” Keheningan yang mencekam pun muncul. dan lain-lain. Akhirnya. —Fatima Ketika berusia 18 tahun. Itulah perkumpulan terbesar yang kualami. Saya kembali ke Norwegia dua tahun kemudian ketika pacar saya melamar dan saya menerimanya. Saya sudah melakukannya.. dan saya sangat bahagia. Aku membuka mulut dan berkata. Tentu saja. penderitaan umat Islam. saya merasa Islam adalah jalan saya dan saya mencoba untuk menafsirkannya dengan cara saya sendiri. Sekarang. salah satu paman dari ayahku menanyakan pemikiranku. keluarga meninggalkan saya. saya merusak sesuatu yang hampir tak mungkin diperbaiki lagi. Al-Quran mendorong kita untuk mencari jalan kita sendiri. Saya mendapat cap “harus diawasi” dan khotbah pun dimulai dan berlanjut sampai hari ini. Hari itu. Tapi Anda tahu? Saya tak peduli. termasuk ayah saya yang kejam dan komunitas yang membenci saya karena saya setiap hari menemui pacar saya yang berasal dari Norwegia. Orangtua saya berharap dapat mengendalikan saya. membuat saya merasa jauh lebih hidup.ALLaH.

Seruan Anda untuk ijtihad dan reformasi memotivasi orang-orang seperti saya. Anda telah membaca kecaman terhadapku di buku ini.. semakin saya menyadari kalau orangtua saya ujung-ujungnya ingin melihat saya bersama gadis Muslim. bukan karena [Muslim] lebih cerdas. tapi karena mereka menganut mandat agama yang sama. Suami sayalah yang pertama kali memberitahu saya 307 . Namun fakta bahwa orang berelasi pada orang (people relate to people) merupakan fakta yang juga membukakan hati. atau hangat. baik. yang sebelum ini tak berani [dulunya] untuk lantang dalam berpendapat.IRSHAD MANJi Pacar saya seorang Kristiani yang SANGAT taat. Saya ingin berterima kasih pada Anda karena mengekspresikan dengan sangat elok apa yang banyak kaum muda Muslim takut katakan.. saya juga merasa praktik Islam perlu direformasi.. Seorang pembaca bernama Nas menulis: Saya tinggal di Inggris selama 30 tahun. Semakin saya dekat dengannya. Mungkin jalan menuju surga lebih pasti bila kita memperbaiki diri kita dalam hubungannya dengan Tuhan dan dengan sesama manusia.. sewaktu pertama kali saya memulai pekerjaan. —Mohammad Saya tinggal di Malaysia dan baru saja selesai membaca buku Anda. Pada masa itu.. —Azam Aku juga dikutuk karena berada langsung [menggunakan istilah Erich Fromm] dibalik berbagai gagasan. saya sangat gigih mempertahankan keyakinan dan budaya saya sebagai Pembenci-Orang-Pakistan yang tersebar di masyarakat Inggris. Saya merasa lega karena tahu saya tidak salah untuk berpikir tentang Islam dengan pemikiran liberal. Dalam kehidupan saya dulu.

Lalu saya mengunjungi situs web Anda untuk mencari tahu lebih banyak. Meng­ hidup­ kan kemungkinan untuk perubahan adalah cara paling pasti dalam menyampaikan kemungkinan-kemungkinan ini. saya hanya membahayakan keimanan saya dan melihat kemungkinan kalau agama saya bisa berjalan harmonis dengan agama-agama besar lain di dunia ini. Saya dipinjamkan buku Anda sebulan lalu supaya bisa mengetahui apa yang menjadi musuh bagi Muslim saleh. Lebih penting lagi. & LOVE tentang Anda—pengkhianat di antara kita. Reyana.. dan yang lainnya. Saya masih merasa sulit untuk tidak secara insting menjustifikasi keyakinan dan perilaku Muslim (yang sering kali tidak beradab) terhadap kafir kulit putih atau mencoba mengelak tanggung jawab. Meneliti. saya mendorong mereka untuk tidak hanya membaca Al-Quran tetapi juga semua buku yang bisa mereka dapatkan. yang menunggu Allah me­ 308 . Keindahan visi Islam yang Anda paparkan membuat saya menangis. baik kepada anak-anakmu. Lalu membaca. Judulnya membuatku berang dan foto Anda membuat saya muak: orang yang sok bergaya pemandu acara MTV seksi dengan ajaran liberal yang paling mutakhir. alam semesta. Khalid.ALLaH. LIBERTY. dan segala sesuatunya. berpikir.. Anda tidak berposisi sebagai nabi. Gagasan-gagasan Anda membuat saya terpana. Tapi sekarang saya tahu bahwa dengan melakukan itu. Kemudian saya duduk untuk membaca. dan menantang semua ide yang diletakkan di depan mereka. Dan terutama. Belajarlah dari Nas. belajar sendiri. seiring putra-putri saya yang tumbuh dewasa dan bertanya kepadaku tentang kehidupan. kepada orangtua atau pasanganmu.

Saya ingin menjalani kehidupan yang baik. semakin 309 . judul surah pertama di Al-Quran?) Jumlah kesempatan terbuka jauh melebihi jumlah individu yang mau menggunakannya. di mana kita bisa menyentuh dan mengajari orang lain. Anda diizinkan. majulah. Wujudkan nilai-nilai ideal. Apa yang kau lakukan supaya Tuhan dapat yakin terhadapmu? Dituntun oleh rasa syukur karena keyakinan Tuhan kepada kita. Abdullah An-Naim dari Universitas Emory berbicara de­ ngan berapi-api mengenai kewajiban ini. Tuhan sudah mem­­ percayakan iman dalam diri kita masing-masing dengan mengirimkan manusia ke dunia material. produktif. Semuanya adalah orang yang terpilih.IRSHAD MANJi milihmu dengan drama penuh keagungan. “Saya bukan seorang martir. Untuk itu.” ia menyatakan di dalam diskusi kami di bulan Maret 2008. kita bisa membalasnya dengan memiliki keyakinan ke­ pada diri kita sendiri sebesar keyakinan Dia terhadap kita. saya butuh semua orang yang ada di sekeliling saya bersedia mem­ buat keberanian moral menjadi sesuatu yang biasa. Islam ini menggantikan ketakutan dengan kebebasan melalui berta­ nya. dan bahkan mungkin diwa­ jibkan. Semakin banyak dari kita melakukan sedikit saja yang kita bisa. segelintir dari kita menyadari pilihannya dan ber­ tindak berdasarkan hal itu. Melangkahlah menuju kesem­ patan yang memanggil-manggil namamu. Maka. Islam yang seperti ini tidak meng­ interogasimu tentang keimananmu terhadap Allah. dan kreatif. (Mungkinkah ini makna alegoris dari Pembukaan (The Openings). “Keberanian moral se­ harusnya tidak selangka seperti yang diungkapkan Bob Kennedy. Keyakinan kepada diri sendiri membuat kita bisa memilih begitu banyak kesempatan terbuka (openings) demi melayani kemanusiaan.

Leider dalam The power of Purpose (Kekuatan Tujuan) menegaskan.” Penyelamat Holocoust. “sikap orang-orang terhadap kekuasaan dan orien­ tasi mereka terhadap orang lain menjadi kebiasaan dan pengu­ at-diri. atau hindari untuk ta­ nya­ kan.” misalnya. LIBERTY. para peneliti menunjukkan bahwa manusia biasa memiliki kapasitas ini.ALLaH. “Tidak ada yang membentuk kehidupan kita selain pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan—atau tolak ditanyakan—sepanjang hidup ki­ ta. akhirnya akan menjadi suatu kebiasaan—dengan se­ gala dampaknya.” Apa yang berulang kali kita tanyakan. Richard J. “adalah orang-orang biasa yang terbiasa peduli tentang dan untuk orang lain. Dia sedang membicarakan pilihan-pilihan sehari-hari yang pada akhirnya membentuk keberanian moral sebagai rutini­ tas—begitu rutinnya sehingga tidak perlu merasa seperti sua­ tu kenekatan.” Kata kunci: terbiasa. “Dari waktu ke waktu. & LOVE sedikit yang perlu kita lakukan untuk menjaga agar semua orang bahagia dan aman. 310 . Dalam Courageous Resistance (Penolakan yang Berani). Pembangkangan terhadap otoritas yang tak sah dan menolong orang lain menjadi bagian dari perbuatan yang rutin.” “Semakin banyak dari kita yang melakukan.”: dia tidak sedang berbicara tentang pengorbanan besar-besaran di sini. Akan kutunjukkan bagaimana kebiasaanku bertanya lantang menjadi berguna untuk alasan praktis seka­ ligus alasan spiritual. Setiap tindakan mengarahkan orang untuk maju menuju bentuk pembangkangan yang lebih besar dan untuk meningkatkan jumlah pertolongan yang mereka berikan kepada orang lain.” tulis para pe­ neliti ini.

tapi aku tidak percaya pada sistem. saat kekacauan finansial di seluruh dunia mulai terlihat. 311 . kubilang kepada para penasihatku bahwa walaupun aku mempercayai mereka.” Aku memusatkan perhatian pada manajer me­ reka.” seseorang me­ yakin­ kanku. begitu juga dogma finansial. aku mencium aroma adanya korupsi sis­ temik yang akan segera menjatuhkan ekonomi global. Kecurigaanku. mereka tak lagi tahu apa yang mereka jual. Mereka tertawa meremehkan. Aroma ini berembus karena para penasihat investasiku mulai mem­ bicarakan dalih-dalih teknis. Dalam pertemuan langsung.IRSHAD MANJi Di akhir 2007. “Kami mendapatkan informasi yang terbaik. Apakah aku sudah jadi paranoid? Aku lalu mem­ berikan tes akhir ke para penasihatku: tolong jelaskan apa yang kalian pasarkan padaku dengan ba­ hasa yang bisa dipahami siswa kelas menengah. Aku tidak menganggap ini sebagai masalah “keberanian” untuk bertanya. Rekannya mengangguk. aku menelepon para penasihatku. menjelaskan bahwa setelah berbulan-bulan bertanya dan dibalas dengan tawa kecil dan tebar pesona. Di musim semi 2008. Kebiasaan bertanya telah memperjelas aku bahwa dogma agama tak boleh dipisahkan dari pertanyaan.” aku memperingatkan mereka. Ini adalah masalah integritas. “Ini akan menjadi pembahasan yang berat. aku memutus­ kan untuk meng­ alihkan bisnisku ke tempat lain. Tidak ada yang bisa menjawab. yang lebih ber­ usaha membuat aku menyukai dirinya ketimbang menanggapi pertanyaanku. “Sistemnya sudah bagus.

. tapi aku tak bisa mengendalikan. terhadap diri kita.ALLaH. Tapi kemenangan kecil? Jauh berada di dalam kendali priba­ dimu. kehilangan hitungan sebanyak 999. kemenangan-kemenangan kecil itu memberikan kita ”balok-balok bangunan” kepercayaan diri. Penakut? Sudah pasti. paling buruknya.“ Tapi kemenangan-kemenangan kecil “ibarat tumpukan-tum­ pukan yang kecil. cuma membuat jengkel para penasihatku itu sebentar dan memberikan kemenangan kecil kepadaku.” Yang paling penting. Nouriel Roubini. ekonom dari Universitas New York. & LOVE Pertanyaan-pertanyaanku tidak akan memutarbalikkan ke­ jatuh­ an finansial dunia. mereka tak bisa terlepas [dan] tiap-tiap kemenangan membu­ tuhkan koordinasi yang lebih sedikit untuk dilakukan.. Setiap interupsi menyebabkan kalian kehilangan jejak penghi­ tungan dan ter­ paksa harus mengulangi dari awal. LIBERTY. maka interupsi bisa me­ nyebabkan kalian.” psikolog Universitas Cornell Karl Weick menggunakan analogi yang bisa dipahami anak sekolah menengah mana pun: “Tugas kalian adalah meng­ hi­ tung seribu lembar kertas tetapi diinterupsi secara berkala. apakah politikus-politikus itu mengimplementasikan reformasi yang komprehensif. Di luar kendali pribadimu? Idem. Namun “kemenangan kecil” ini bisa memiliki signifikansi yang sangat besar. atau keyakinan. Aku bisa berkontribusi. Apakah penasihat investasimu akan menyebutmu 312 . Jika kalian menghitung seribu secara berurutan. Mereka mempertahankan per­ olehan. yang per­ nah dicemooh karena memprediksikan krisis. Menggambarkan pertanyaan itu sebagai “balokbalok bangunan yang stabil. menduga bah­ wa politikus di Amerika Serikat tidak akan menyentuh refor­ masi yang sesungguhnya karena mereka takut dibilang sosialis.

kepada kita. mahasiswa MBA harus belajar bertanya. saya mengambil keputusan ini?” Apakah pertanyaan itu mengingatkanmu pada sesuatu? Hal ini merupakan pengulangan dari apa yang diajarkan Unni Wikan. tapi apa yang dia bisa langsung laku­ kan adalah ber­ tanya kepada diri sendiri: Agenda siapa yang sedang aku laksanakan dengan mengembalikan gadis Muslim ini ke keluarganya padahal dia kabur dari kekerasan yang disetujui oleh budaya? Dengan melarikan diri dari rumah. tidakkah aku salah menanggapi tempatnya berada (belonging) sebagai tempat yang memilikinya (ownership)? Bukankah aku kemudian memperkuat orang-orang yang berpikir merekalah pemilik ruh gadis ini? Apakah identitas mereka sama seperti integritas gadis itu? Melalui pertanyaan-pertanyaan ini. 313 . Menurut Garth Saloner.IRSHAD MANJi sosialis karena menanyakan tentang uangmu sendiri? Bahkan seandainya pun dia bertanya. apa akibatnya pada anggota yang lebih lemah di kelompokku? Seorang pekerja sosial memang tidak bisa mengon­ trol kebijakan (dan politik) integrasi dari pemerintahan di ne­ garanya. Jika multi­ kultu­ ralisme mem­ bujukmu untuk diam terhadap pembunuhan demi kehormatan. Wikan ingin kau bertanya: Ketika aku meng­ hor­ mati adat. kehidupan manusia bisa diselamatkan dari perbudakan—dan dari kematian dini. “Atas kepentingan siapa. antropolog Norwegia. bukankah dia sedang memberitahukanku kalau dia memilih seperangkat nilai yang berbeda dari orangtuanya? Jika aku mengirimkan dia kembali ke tempat yang kuasumsikan seharusnya “dia berada”. siapa yang mau memberikan shuriken? Para pendidik pun sekarang semakin banyak yang setuju. dekan Stanford University Gra­ duate School of Business.

Bagiku. Sulit membayangkan aspek kehidupan yang lebih funda­ mental dan berlaku umum di bumi selain gravitasi. gravitasi tidak ada. sang psikolog. “Kita sudah lama me­ ngetahui [bahwa] gravitasi tidak ada.ALLaH.” demikian senandung Albert Einstein. kalau tidak mati maka setidaknya menjadi buta. kedengarannya seperti spiritualitas.” Daya tarik pernyataan tersebut tidak luput dari reporter. “Bagi saya. & LOVE Karl Weick. dari ketika Anda pertama kali melangkah dan jatuh di atas pantat berpopokmu sampai tinggal tubuh renta penuh mimpi yang perlahan mati.” Kau tidak bisa me­ rancang hasilnya tapi. Saatnyalah untuk me­ neriakkannya. “Itulah prin­ sip yang mendasar pada agama dan semua upaya serius dalam seni dan sains. dan keyakinan yang kuat tetapi penuh pertanyaan terhadap masa depan untuk dunia. “Pengalaman paling indah dan terdalam yang bisa dimiliki manusia adalah perasaan misterius. ia yang tak pernah memiliki pengalaman ini.” Bagiku. melihat kemenangan-ke­ me­ nang­an kecil sebagai “eksperimen miniatur. kau bisa men­ cip­ takan kesempatan untuk menemukan hasil-hasil yang baru. sesuatu yang semacam hiasan kosmik.” Baru-baru ini. kekuatan harapan. 314 . Tapi bagaimana jika semua ini adalah ilusi. LIBERTY. budaya ilmiah mempertahankan tiga hal: “rasa penasaran in­ dividu. Konon. The New York Times mengangkat profil seorang profesor fisika yang menyatakan dirinya “euforia” dalam me­ nantang suatu kebenaran ilmiah yang hampir disejajarkan dengan kebenaran Al-Kitab. seperti ilmuwan.” Erik Verlinde menyatakan tanpa keraguan.

“Sungguh menarik bagaimana perubahan rencana bisa meng­ giring ke pemikiran yang berbeda. hal yang tak mudah dila­ kukannya di Tibet yang lama. Kondisi yang kebanyakan dari kita akan melihatnya sebagai kehilangan. serta membalas budi kepada mereka.” katanya. pende­ 315 . Dalam era politik identitas. Beliau bisa menciptakan Tibet baru. yang lebih baik—global dan kontemporer—di luar Tibet.IRSHAD MANJi atau efek samping dari sesuatu yang terjadi di tingkat realitas yang lebih dalam? Verlinde menetaskan kesempatan untuk mengajukan per­ tanyaan itu—dan ia menetaskannya dari sebuah keadaan yang berada di luar kendalinya. Dalai Lama bergembira. Verlinde membiarkan waktu luangnya untuk mengerami pe­ mi­ kiran-pemikiran baru. Diusir dari Tibet oleh otoritas Cina.” Begitu pula Dalai Lama. “Apa yang diminumnya?” gurau saudaranya. “Sekarang kita bebas. men­ jelaskan: Beliau bisa membawa reformasi demokratis dan mo­ dern bagi masyarakat Tibet.” Penulis biografinya.” Apakah Verlinde kha­ watir akan menghina fisikawan-fisikawan yang lebih dahulu? “Saya tidak langsung melihat bahwa saya salah. Pico lyer. “Cukuplah itu untuk terus maju. sang nurani Budisme ini memamerkan sisi pembangkangannya de­ ngan menjadikan pengasingannya sebagai petualangan. Tetap tinggal untuk penggantian paspor. Ia dirampok di akhir liburannya di daerah selatan Prancis. Momen eureka-nya muncul di Hari Ketiga. Beliau dan warga sene­ garanya bisa belajar dari sains Barat dan agama-agama lain. Herman.

ALLaH.” Tetapi. Hargey mene­ mu­ kan kesempatan untuk melapangkan jalan Islam. Hargey mem­­ peringatkan. Di antara kejahatan-kejahatan lain yang melawan kemapanan. teman-teman Muslim. LIBERTY. Hargey memublikasikan editorial yang sangat menarik di The Times terbitan London. kita memilih untuk 316 . dan khususnya wanita yang berpikir untuk menyuarakan pendapatnya le­ bih lantang. kalian tidak harus menjadi Mu-Bu (Muslim-Buddha) atau Bu-Mu (kau tahu kan maksudnya) untuk bergerak sedikit demi sedikit menuju makna pribadi. “karena reformasi ini masih bayi. kita tidak meninggalkan masyarakat. Ternoda oleh para juru bicara dari Islam arus utama di Inggris Raya. Hargey menjadi penghulu untuk pernikahan an­ ta­ r­ agama bagi wanita Muslim. sosok yang kita temui di bab dua. Tirulah kekuatan dari Taj Hargey. Ia mem­ ban­ tu­ ku menghargai bahwa dengan berpikir untuk diri sendiri. Kau tinggal bilang talaq—“Aku ceraikan Engkau”—ke para pengawal otensitas Muslim.” tulisnya. & LOVE ritaan. beliau melihatnya seba­ gai kemungkinan. pembangkang. Setelah itu. ia memenangkan kasus pencemaran nama baik pada April 2009. Benar. dan keterkungkungan.” Sementara Muslim reformis lain­ nya menangkapnya sebagai mimpi buruk. ulama reak­ sioner dan pendukungnya [sedang] melakukan segala­ nya untuk mencegahnya. Kita perlu reformasi yang menyelamatkan Islam dari kaum fanatik yang terinspirasi-asing. Tapi. “Pembersihan nama saya secara publik di persidangan akan memicu keberanian lebih banyak kaum progresif. “Saya harap. Dalai Lama lebih tercerahkan dibandingkan ke­ banyakan orang.

IRSHAD MANJi mengekspresikan diri kita secara lebih jujur di tengah masyara­ kat. sebenarnya—untuk bereks­ perimen. Ijtihad adalah keimanan yang paling utuh. Itu­ lah mengapa kau harus menyadari cinta Tuhan untuk dapat memilih harapan. bagi ulama-ulama di masa Islam awal. Merangkul ijtihad bukan berarti meninggalkan Islam. Al-Quran ditaburi oleh himbauan untuk berpikir. Keimanan membolehkan kita—meminta kita. 317 .” (Sekali lagi: Kau bebas untuk mengunduh seluruh makalah Abd-Allah. dengan jaring pengaman yaitu kebenaran akhir men­ jadi milik Tuhan. “setiap orang yang melakukan ijtihad menerima pahala saat me­ la­ kukan kesalahan. Dengan niat yang tulus. te­ tapi ini mengenai tetap bertahan pada integritas. Penelitian Umar Faruq Abd-Allah menge­ mukakan bahwa. Dan ketakutan itulah. Aku tahu. memeriksa. usahamu menjadi bukti kepada Tuhan bahwa Dia tidak menyia-siakan nafas-Nya padamu.) Selama kesalahanmu itu tidak dipaksakan ke orang lain. bukan karena kesalahan itu sendiri me­ lainkan karena kepatuhannya kepada Tuhan dalam memenuhi perintah-Nya untuk melaksanakan ijtihad. kebanyakan di antara kita takut berbuat ke­ salahan. merefleksi. Aku akan menekankan kembali satu ga­ gasan dari bab satu. menganalisa. kewajiban dan kerendahan hati berada di balik pertanyaan-pertanyaan kita. menjadi emosi negatif. yang memiliki kekuatan yang lebih besar daripada harapan. Inno­ vation and Creativity in Islam. dari situs webku. bernalar. kita semua bisa bereksperimen. dan berpikir kembali. Karenanya kemerdekaan.

mengirim surel kepadaku: “Jadi Anda menyebut diri Anda muslim. praktik yang kupilih ini jelas memperbaiki keintimanku dengan Allah. Tapi lebih banyak? Ibu kandungku menganut mitos bahwa shalat yang serius tidak boleh jadi bahan eksperimen. Menilai dari nada surelnya. Abdullah.ALLaH. Al-Quran menekankan agar orang harus bersembahyang tapi secara konsisten menghindari penetapan metode untuk melakukannya. tidak setiap orang sebasi itu. kadangkadang 15. Dalam The Trouble With Islam Today. 12. & LOVE Aku akan membuat kita berpikir: Apa itu “sembahyang”? Seperti yang ditulis Sultan Abdulhameed. lima-kali-sehari. Begitu keluar kabar aku tidak mengikuti rutinitas shalatdi-atas-sajadah. Kami mendekati sebuah tanda berhenti. “fakta yang luar biasa adalah bahwa Al-Quran tidak merekomendasikan ben­ tuk sembahyang. berapa kali Anda shalat dalam sehari?” Aku menjawab. Anda?” Tidak mendapat balasan. “10. bukan Arab. “gagasan bahwa sembahyang bisa spontan atau menyenangkan” bisa dikatakan “hampir sesat. Satu adegan dalam Faith Without Fear menayangkan Mama sedang menyetir saat kami membahas isu tersebut. Mungkin Abdullah tidak tahu harus berbuat apa. 318 . aku menjelaskan pilihanku untuk berkomunikasi dengan Tuhan dalam bahasa Inggris. bukan ritual hafalan. ia tak tahan men­ dengar per­ kataanku kalau aku bersembahyang lebih sedikit dari lima waktu sehari—totalnya. dan melalui dialog harian yang tidak terstruktur. Karena aku lebih tahu tentang diriku ketimbang orang lain. kan? Penasaran saja. LIBERTY. maka muncullah julukan lain: kafir. Untuk adilnya.” Sayangnya.” Tidak mengherankan. aku mengirim ulang jawabanku. seorang anggota masyarakat.

Tanda ini mengatakan berhenti—Anda harus berhenti.IRSHAD MANJi Mama : Kamu tidak sembahyang sama sekali. Pada tayangan perdana dokumenterku. Tapi menurut Al-Quran.” Jadi.” Mama mengoreksiku. aku akan menyetir dengan caraku. Aku : Itu tidak benar. Lalu. baiklah. maka polisi akan menangkapmu. kamu bilang. dan jika kau tidak ber­ henti. Kita bisa bilang. Ada tanda berhenti. “Saya tak peduli apakah ada mobil atau tidak. aku menyaksikan beberapa Muslim menyukai perumpamaan ibuku yang meng­ guna­ kan regulasi lalu lintas.. “selain shalat. “Oh ya. Mama : Yah. Ibuku pun segera menemukan ruang di tempat parkir yang berantakan.” Tapi ada aturan dalam hidup. Aku sembahyang dengan caraku sendiri. Sedangkan tentang mengekspresikan rasa syukur. Aku sembahyang— Mama : Kamu sembahyang dengan caramu sendiri? Aku : Tepat.” Dan polisi itu akan bilang. 319 .. kau tahu? Lihat lampu lalu lintas ini. dan ia tahu mengapa: Allah memberikan pahala untuk shalat yang sesungguhnya. mereka tidak harus menerima satu gaya sembahyang saja. Tuhan juga memiliki aturan. “Kan mobilnya tidak ada. Muslim hanyalah manusia yang dapat terhanyut oleh gaya komunikasi ini. Metaforanya datang dari buku Ronald Reagan tentang retorika yang ampuh: gunakan yang di sekitar Anda untuk meningkatkan pesan Anda.

Ia mempelajari “aturan-aturan” dari ayahnya.ALLaH. Saya mengidentifikasi diri saya dengan dokumentasi Anda dalam banyak-banyak hal. terutama diskusi Anda dengan ibu Anda mengenai sembahyang secara batiniah.L. Anda harus me­ reformasi pandangan Anda mengenai seperti apa Tuhan itu. dan ia selalu bertanya mengapa saya tidak “sembahyang. Setelah 8 tahun merapalkan kata-kata dalam bahasa asing. mengatakan bahwa selama delapan tahun. Saya mengalami diskusi yang sama beberapa kali dengan putri saya. Seorang pecinta Al-Quran dapat mengembangkan pe­ ma­ haman R. & LOVE Dalam sebuah surel untukku. Saya akhirnya menemukan hubungan yang sejati. Dan saya merasa yakin dengan pandangan saya. ia mencoba me­ ngikuti tradisi ini.. memungkinkanku [dari dulu] untuk melihat mana imanku dan mana yang bukan. “Jika kata ‘Tuhan’ menimbulkan keta­ 320 . bahwasanya kedamaian di dalam generasi kita dimulai dengan kedamaian di dalam diri sendiri.” Saya mengatakan hal yang sama seperti yang Anda kemukakan ke Ibu Anda. sebagaimana ia meng­gambarkannya. yang tidak tergoyahkan dengan Penciptaku.. ini. seorang mualaf bernama R. membungkuk dan bersujud dalam urutan gerakan ritual.L. saya bisa bilang ke Anda bahwa satu-satunya kedekatan saya kepada Tuhan berasal dari pengetahuan bahwa saya berusaha melakukan apa yang benar. “Saat belajar untuk bersembahyang dengan baik.” Sultan Abdulhameed beralasan. Saat saya mengizinkan diri saya untuk melakukan apa yang saya rasa benar tanpa tuntutan yang tidak masuk akal dari ritual orang lain. LIBERTY. “Eksperimen” tersebut. Sudah tiba waktunya untuk kedamaian dalam generasi kita dan anak-anak kita.

Ketika aku mengikuti perintah itu. keimananku sebagai Muslim memiliki fondasi yang pasti. Pada menit-menit awal hariku. tapi aku mengingat kembali sajadah shalatku dan mengorientasikannya dengan rak bukuku. aku membaca dua atau tiga halaman di bagian awal buku. juga sebagai perintah un­ tuk membaca semua agama. namun individu bisa menciptakan kesempatan untuk menda­ patkan kebenaran. dan meraih satu judul buku secara acak. dalam momen kesendirian dan keheningan. Takut karena dengan me­ nanyakan hal-hal ini. Jadi. mendambakan dapat bereksperimen dengan itikad yang baik. Maka sembahyang Anda men­ ciptakan ketakutan yang lebih besar dalam diri Anda. Acungan jempol karena pertanyaan-per­ tanyaan Anda berkobar dalam pikiranku. kemudian beberapa halaman lagi di bagian tengah. “Tapi mengapa pilihannya cuma kehilangan atau mem­ pertahankan agama? Mengapa tidak pilihan ketiga: men­ 321 . Banyak dari kita. dan untuk. aku menghampiri rak buku terbuka di apartemenku. Aku tidak tahu bagaimana perasaan ibuku tentang ini. kita mungkin akan meninggalkan agama kita. aku menerima acungan “jempol takut-takut”.IRSHAD MANJi kutan dalam diri Anda. pagi hari selalu membawa dua karunia: sebuah lensa baru dan pengingat yang teguh bahwa meskipun hanya Tuhan yang memiliki kebenaran. secangkir kopi di tangan. gagasan. aku di­ bangunkan oleh. Aku menerima pe­ rintah awal Allah terhadap Nabi Muhammad—“Bacalah!”— sebagai perintah bagi semua umat.” Bentuk sembahyangku yang terakhir: setiap pagi saat tidak bepergian. Dari “seorang Muslim yang depresi dan cemas” di Inggris Raya. yang kemudian menjadi prisma yang bisa kurefleksikan sepanjang sisa hari itu. di mana pun berada. Biasanya.

Jika identitas tidak cocok.ALLaH. pembaca yang lahir dan dibesarkan di Uni Emirat Arab. Senjata emo­ sional yang tersedia adalah granat ”Memangnya-KamuSiapa?” “Aku menganggap diriku [sebagai] Muslim Moderat. warga Emirat seperti Sarah yang muncul di bab dua. “Aku seorang warga 322 . imajinasikan ulang. Bagi saya.” Perasaan tidak aman membutuhkan teman. Tidak perlu. & LOVE transformasi pemahaman agama kita melalui reformasi diri? Aku tidak bisa bilang ini cukup: Tidak ada agama yang bicara untuk dirinya sendiri. bukan apa yang menyebabkan saya harus berhenti sama sekali dan merasakan kehadiran Ilahi. Tidak hanya dengan pilihan yang dibuat. tetapi juga melalui tanpa aksi. tetapi juga melalui per­ buatan. tetapi juga dengan pilihan yang diserahkan. Itulah yang Fatema lalukan. jadi jika kau ber­ jalan di jalan Islam yang lapang—atau hampir di semua aga­ ma—kau akan menjadi sasaran serangan verbal. baik Muslim mau­ pun non-Muslim. banyak hal tentang menjadi Muslim diketahui melalui apa yang ‘benar’ me­ lalui praktik budaya.” Sarah merupakan satu dari sekian banyak orang. “Apakah saya benar-benar menganggap diri saya Mus­ lim?” tanya Sarah. Tidak hanya lewat kata-kata. yang berjuang dengan dirinya sendiri demi menyatukan identitas buatan dengan integritas pribadi.” Imran mengirimkan surel kepadaku. Tidak cuma lewat aksi. LIBERTY. “Saya tidak tahu. Praktisi agamalah yang berbicara atas nama agama. Dan keimanan Fatema tampaknya jauh lebih tangguh (lebih tertanam kuat juga) dibandingkan kaum ortodoks yang merasa tidak aman dan mengecapnya “kafir.

dan hal pertama yang terlintas dalam pikiranku “Memangnya kamu siapa?” Senang sekali rasanya untuk membalas ocehannya: ke­ majuan sejarah penuh dengan penjahit wanita yang kemudian menjadi Rosa Parks. Dia bilang wanita tak bisa memiliki hak seperti pria. budak Amerika yang kabur dari majikannya di perkebunan dan me­ ng­­ ubah namanya menjadi Sojourner Truth.IRSHAD MANJi Amerika yang bekerja untuk pemerintahan. karena Kristus bukan perempuan! Dari mana Kristus Anda berasal?” 323 .” Di lain waktu. Aku dengar apa yang menjadi pesan kamu kepada kaum Muslim. aku akan tetap membuat kalian terganggu. Sojourner pun membalas. tapi toh ia bekerja selama bertahun-tahun sebagai penggiling kaca. tapi menghasilkan murid bernama Plato. Einstein bekerja sebagai petugas hak paten.. yang tidak pernah mengklaim dirinya punya jawaban. Ko­ non. tapi ia tak pernah berhenti menghindar dari granat Memangnya-Kamu-Siapa. ia menunjuk ke seorang pendeta Kristen yang mencela hak-hak perempuan: “Pria kecil dengan baju hitam di sana. Ia terkenal sebagai aktivis pembebasan budak sekaligus feminis. “Jika Tuhan berkehendak. Tidak buruk buat seseorang pencari kebijaksanaan yang belajar sendiri. agama ini terbaik di dunia. Socrates. tapi yang kutahu. Baruch Spinoza memberikan pengaruh yang kekal terhadap gagasan radikal mengenai kebebasan individual dan toleransi agama.. sengatan pidatonya pernah menimbulkan ketidak­ nya­ manan. “Memangnya mereka siapa?” Sekarang berefleksi kepada Isabella Hardenbergh. Aku tidak tahu banyak tentang agamaku.

Individualitas Husseini bertindak sebagai kompasnya. Aku tak bisa memikirkan contoh yang lebih baik dari Rana Husseini.ALLaH. kau membuat ko­ mu­ nitasmu tumbuh dari dalam. “Laki-laki tak ada hubungannya dengannya. LIBERTY. didefinisikan oleh diriku. Hussein menyatakan “Saya adalah perempuan Muslim Arab berniat hidup dalam suatu masyarakat yang sehat di mana semua ang­ gotanya menerima manfaat dari keadilan. Dengan menunjukkan bahwa ada lebih dari satu cara untuk mengambil bagian di kelompokmu. atau gender. 324 .” Granat Memangnya-Kamu-Siapa berhenti aktif begitu kau mencintai individualitasmu. dan ditegaskan oleh diriku. terlepas dari strata. sejarah. Ketika kau adalah individu yang dimiliki oleh dirimu sendiri. Di halaman pembuka memoarnya Murder in the Name of Honor (Pembunuhan atas Nama Kehormatan). “Dari Tuhan dan seorang pe­ rempuan. karena kau memperkaya nuansa pada bagaimana mereka dipersep­ sikan. ras.” Ia kemudian melemparkan pandangan me­ nusuk ke pendeta itu dan berkata keras. maka kau bisa menjadi banyak hal sekaligus. agama.” Pernyataannya tentang niat ini me­ nyuratkan kepada para pengkritiknya bahwa ia tak perlu untuk menjadi “pakar” agama.” mengafirmasi feminis Kristen Helen LaKelly Hunt. & LOVE Ke­ rumunan mulai ribut. Pada gilirannya. kau akan menguntungkan komu­ nitas yang di mana kau mengidentifikasikan dirimu. “Keberanian Sojourner untuk meng­ klaim tempatnya yang sah diberikan Tuhan mulai ketika ia men­ deklarasikan ’aku’—yang dimiliki oleh diriku. atau apa pun selain dari nuraninya sendiri.

salah seorang pembacaku. individualitas seorang mullah. Sahan akan senang mendengar kita memiliki teman-teman di kalangan tradisional.IRSHAD MANJi Di atas itu semua. seorang ulama Irak mendekatiku setelah aku sele­ sai berbicara. sepertinya saya akan me­ nentang arus sepanjang hidup saya. Kemudian dia ter­ senyum: “Yang Mahakuasa tahu yang terbaik. mereka datang menghujani. individualitas membantumu melampaui dogmamu sendiri karena rasa kedirianmu (sense of self) tidak bergantung pada satu label atau kebenaran yang dianggap statis. ‘kekitaan’ sendiri. aku menentang pemaksaan tradisi kepada mereka yang ingin memilih kelompok. Ia sudah membaca terjemahan bukuku ke da­ lam bahasa Arab versi daring.” Satu lagi bukti kerendahan hati dapat berdampingan dengan individualitas— dalam kasus ini. Dan sekarang. Arab dan Muslim. menghayati: “Sebagai homoseksual. obrolan semacam itu masih sedikit dan jarang selama ”granat-granat” masih melayang dan ganas. Selagi aku menguatkan diri untuk menerima serangan verbal. Mungkin beberapa di antara kita bisa melihat ke depan dan memancarkan cara yang lebih baik dibandingkan seseorang yang mengakar pada tradisi. komunitas. Namun demikian. tapi juga dari 325 . Sebagai pendukung ijtihad. ia justru berkata bahwa Tuhan Yang Maha Pengampun akan memaafkannya karena mendukung seorang lesbian dan Tuhan Yang Mahakuasa pas­ ti menciptakanku untuk sebuah alasan. aku tidak melawan tradisi. Sahan.” Mengenai hal ini. Mungkin kitalah orang yang dipaksa melihat normanorma itu dari luar. Aku merasa serangan gencar itu tidak hanya dari Muslim konservatif. Pada konferensi tahun 2007.

ALLaH. bahkan pada saat aku menulis. Aku meminta seseorang yang mengakui dirinya “Yahudi Sekuler” di forum Facebook untuk berbagi pandangannya mengenai reformasi Islam. & LOVE non-Muslim konservatif. baik yang religius maupun sekuler. “Islam menyebalkan. Kamu masih penyembah tuhan-bulan. Hirsi Ali..” Kukatakan kepada­ nya kalau dia adalah bagian dari persoalan yang dikiranya 326 . Yang tak bisa kumaafkan adalah kerancuan umum yang kian meningkat: beberapa orang yang ingin me­ nyingkirkan Islam mengasumsikan bahwa agenda mereka sebenarnya men­ dukung para reformis Muslim. maka beralasan kalau pembela “Keluarga Amerika” ini juga bisa. Di menit-menit terakhir. TIDAK ADA APA-APANYA dibandingkan mereka. satu cacian lagi masuk ke kotak masuk di surelku.. Aku memaafkan pelempar granat ini. Oleh karenanya perlu dimaafkan. Ya.” Ceramahnya berbunyi: “allah” (non-eksistensi) menyebalkan. dan Bat Ye’or. Mo panglima perang sekaligus nabi palsu yang menyebalkan. pernah membuat generalisasi pedas tentang Yahu­ di. tapi untuk diriku sendiri dulu sebelum orang lain.” ungkap seseorang bertanda-tangan “Keluarga Amerika Kita. Brigitte Gabriel. Nonie Darwish. Ia menanggapi.” Jika seorang pah­ lawan rasionalitas Eropa bisa menjadi sangat tidak rasional. terlahir dengan fanatisme yang membara di hati mereka. Ia meluapkan bahwa mereka “semuanya. AS. satu-satu­ ­ nya orang. Kau paham? Hidup Wafa Sultan. LIBERTY. Voltaire. Kamu. “Omong kosong semuanya. Al-Quran—Deklarasi perang terbuka melawan kafir—menyebalkan. Manji. aku memang punya ekspektasi tinggi.

Wanita ini mendefinisikan semua tentang Islam dengan istilah dogmatik yang juga digunakan oleh ekstremis Muslim destruktif. Atau kalimat dari Muslim yang tak bisa berargumen dengan ulama yang Anda kutip: “Mereka bukanlah ulama yang sebenarnya. Sementara beberapa lainnya asyik dalam permainan semisadar. Tapi apa alat pembungkam yang paling halus dari semua­ nya? Granat Memangnya-Kamu-Siapa yang dilemparkan oleh kalangan Muslim dalam bentuk kalimat singkat: “Kamu bu­ kan ulama.” Menurut pengalamanku. 327 . Granat Memang-Kamu-Siapa akan mem­ buatku seperti “Muslim-Lite5. yang ber­ sifat seperti steroid. Dengan diselipi mo­ tif-motif tersembunyi. Hanya tuhan-bulanku yang bisa menguraikan hal satu itu untukku. kutegaskan: para pembenci-Islam bukanlah se­ kutu bagi Muslim reformis yang beriman. ia tidak memiliki pilihan sendiri dalam beragama. dan dikondisikan untuk menerima cara dan norma yang diajarkan. Muslim yang berpikiran-reformis membiarkan pepesan kosong ini menghancurkan kepercayaan diri kita.” Dengan menyepelekan jalan Islam yang lapang. tetapi mereka juga mengutuk Muslim yang tidak mau bereformasi. menjadi lebih kredibel. Logika mereka: kau adalah Muslim palsu jika memulihkan hubungan antara Allah.” Ka-boom. Lebih dari sekali. ia membuat para Islamo-tribalis. kebebasan dan cinta. diberi nama Islam. Sementara itu. tapi kau adalah Muslim yang jahat jika tidak melakukannya. Singkatnya. granat mereka meledakkan Muslim reformis sampai mundur. 5 Muslim-lite adalah satu istilah yang merujuk kepada orang Islam yang terlahir sebagai Islam. beberapa orang Kristen meyakinkanku bahwa aku bukanlah Muslim sejati karena dukunganku terha­ dap reformasi. Ini pun bisa diubah.IRSHAD MANJi sedang dilawan.

Muslim seharusnya memiliki hak untuk menuntut ulama ketika keputusan mereka merugikan orang. Irshad Manji sedang melakukan ini dengan mengungkapkan kerusakan mereka di panggung pengadilan opini pu­ blik internasional. ia akan pergi ke dokter bedah. yang baru kutahu kemudian—me­ 328 .ALLaH. demikian ia beralasan. Jika ia butuh memperbaiki giginya. maka ia akan pergi ke dokter gigi. kali ini di India. Pria ini berhasil membuat audies tertawa sekaligus geger. Jadi jika Anda ingin membandingkan ulama dengan tenaga profesional medis. “Kedokteran. & LOVE Di sebuah acara pada saat tur bukuku di Indonesia. Seorang sutradara film—dan ateis evangelis. Jika ia butuh transplantasi hati. aku merasakan kebe­ basan dalam menyingkirkan sikap defensif. seorang wanita dari partai politik keislaman bertahan menentang ga­ gas­ an demokratisasi ijtihad. Seorang Indonesia lainnya memberikan respons kontrabudaya terbaik yang pernah kudengar. Muslim tidak memenuhi syarat untuk berpikir buat dirinya sendiri. aku menyadari satu dosa baru: malpraktik mullah. bagusnya. Setahun kemudian. Dan. LIBERTY.” Ketika dokter gigi dan dokter lain membahayakan orang dengan diagnosanya.” ia men­ jelaskan kepada Islamis ini: memiliki sebuah ungkapan—“Pertama. Pada kenyataannya. karena itu ulamalah yang harus mempunyai pisau bedah spi­ ritual untuk kita. mereka bisa dituntut atas malpraktik. jangan merugi­ kan.

Holi. Pada seluruh halaman buku ini. apalagi bila kita berekspektasi lebih tinggi pada orang lain. Kami saling memberikan pelukan per­ pisahan yang hangat. dengan kondisi sangat capek. Tariq Ramadan dan aku mengalami perdebatan yang tidak menyenangkan mengenai kebebasan berbicara dan HAM di Oslo. “keimanan saya adalah integritas saya. Keesokan harinya aku merayakan Fes­ tival Warna Hindu. istrinya yang Muslim.” “Saya sangat senang Anda bisa tidur di malam hari. Pada bulan Juni 2009. dengan sutradara ateis itu. dan keletihanku hilang seketika karena hi­ ­ buran mendadak ini. aku mengedepankan kebajikan dalam meninggikan ekspektasi—terhadap diri kita sendiri. “Sesuatu 329 . “Pertanyaanku: kapan Anda akan bangun?” Aku tertawa terbahak-bahak. Namun aku tidak melewatkan ancaman bahaya dari tindakan ini: ekspektasi yang tinggi bisa tergelincir menjadi kekecewaan yang menyakitkan. aku asal-asalan membalas.IRSHAD MANJi nyelenggarakan pemutaran perdana pribadi Faith Without Fear. ia mulai berbicara padaku tentang keimanan merupakan pekerjaan orang bodoh. Di ujung malam yang riuh itu. per­ tama dan yang paling utama. Penting bagi saya untuk bisa tidur di malam hari.” godanya. Belum sampai dua menit aku melangkah ke pesta. Humornya yang tajam mem­­ ­ buatku terkesan. dan beberapa pasangan antaragama yang tak lagi menjadi isu penting. Suasana berubah sangat tidak menyenangkan sampai aku pun tak bisa mengabaikan hal itu sebagai isu juga.

dan kami mengakhiri dialog dingin ini dengan kesepakatan “kau bisa mencintai manusia.” kataku ke Ramadan di tengah perdebatan. LIBERTY. “Masalah pada ketakutan adalah tidak mudahnya terpengaruh oleh alasan. kata Rushdie. kau tidak perlu mencintai pikirannya. tapi saya masih takut. Tak dapat me­ngen­dalikan emosi. aku menggugatnya. di obrolan yang sama. ’Yeah. Salman Rushdie mengatakan kepadaku. ia meng­ amati 330 .’” Meskipun demikian. yang me­ nurut dia. Di saat fatwa itu sedang puncak-puncaknya. & LOVE telah mengganggumu pagi ini. “dan saya tidak tahu apakah itu. ia memberikan bukti bahwa bahkan di tengah-tengah bahaya yang jelas-jelas ada. Ia menghargai uluran tanganku. Anda boleh bilang ke orang-orang. Aku menduga Ramadan me­ rasa aku menyerangnya dengan mengangkat persoalan dukungan­ nya terhadap moratorium perajaman—suatu sikap.” Prinsip yang sangat beralasan—yang bisa menjadi moto untuk reformasi di berbagai komunitas.ALLaH. Kami pun diam-diam meninggalkan panggung dengan ekspresi jengkel. Beberapa waktu kemudian saat melihat Ramadan me­ nyantap makan siangnya sendirian.” “Perempuan.” jawabnya. ‘Ini tujuh puluh dua alasan agar tidak takut’ dan mereka akan berkata. individu bisa—dan terkadang akan—bangkit menghadapinya. Mempertanyakan masing-masing gagasan bukan berarti mengabaikan sisi kemanusiaan masing-masing. diskusi kami merosot menjadi silat lidah. Apakah ada yang lebih mudah? Namun apakah bisa lebih ambisius? Pada perayaan dua puluh tahun fatwa Khomeini terhadapnya. aku menarik kursi dan berkata kepadanya bahwa aku menyesali jalannya perdebatan kami.

Sebetulnya. atau melobi sekolah (dan madrasah) setempat untuk mengajarkan cerita Abdul Ghaffar Khan. tapi juga pembuktian akan manusia yang berperilaku dari sisi terbaik mereka. Ada telepon-telepon anonim yang menghubungi perusahaan penerbit. dan sumber-sumber untuk melampaui ancaman. Di setiap bab. “Kami tahu di mana sekolah anak Anda. ancaman terhadap kehidupan dapat termanifestasi di dalam ketakutan kita untuk mengumpulkan kemenangan-kemenangan kecil. 331 . sekretaris perusahaan diancam. Apa yang kita pelajari. kita sungguh-sungguh bisa mengalahkan ancaman. taktik. yang pada akhirnya akan membentuk kebiasaan dalam mene­ rapkan keberanian moral. Dan orang-orang itu menghadapinya dengan tekad untuk tidak takut. Ada bom tabung. Kau bisa menyampaikan restu pernikahan antaragama dari Imam Khaleel Mohammed ke orangtuamu. “Ancaman” tidak berhenti pada terorisme saja. secara seder­ ha­ nanya adalah: Jika kita melakukan seperti ini.IRSHAD MANJi keberanian yang luar biasa datang dari orang-orang biasa.. saat ini saya ingat hal itu dengan kekuatan yang lebih besar dari yang lainnya.. Jadi saya menemukan diri saya tidak hanya dalam badai kebencian. atau menulis ke anggota DPR untuk mendanai kampanye melawan “kejahatan atas nama kehormatan. kau berarti sedang me­ nerapkan kebebasan dan memperluasnya kepada orang lain. Dengan begitu. aku menawarkan strategi. atau mengajukan pertanyaan yang spesifik tentang Islam di saat obrolan makan malam.” Seranganserangan dilancarkan ke orang-orang yang bekerja di toko buku.

. yang tidak dalam sorotan publik dan me­ nerima risiko buruknya. Berikut adalah lima pertanyaan gam­ blang yang bisa membuatmu berpikir.com dan tanda tangan pe­ tisi untuk nilai-nilai sekuler.” Berikutnya.. hanya segelintir pendukung yang ciut nyalinya dan meminta untuk dihapus.. agar kau meneruskan jalan ini sekarang juga.. hal terburuk yang bisa terjadi adalah. kunjungi irshadmanji.. hal terbaik yang bisa terjadi adalah.. & LOVE Aku memiliki tiga tips lagi. mereka juga membolehkan aku meng­ guna­ kan jawaban-jawaban mereka untuk mengajarkan ke 332 . apakah kau meyakini sesuatu dengan penuh hasrat sehingga mau berisiko menerima reaksi yang tidak menyenangkan karenanya: • Yang kucintai tentang komunitas ini adalah.ALLaH. sungguh menunjukkan realita yang pahit.. • Jika aku mengatakan apa yang kupikirkan. Pendukung lain­ nya mengekspresikan nilai konkret dengan memilih untuk menandatangani: “Ini membuat perjuangan lebih nyata bagi orang seperti saya. • Jika aku mengatakan apa yang kupikirkan. Ta­ pi sejak petisi ini muncul. para pembaca tidak hanya menjawab semua pertanyaan ini. Melalui situs webku... • Haruskah aku mengutarakan apa yang kupikirkan? Aku putuskan bahwa. LIBERTY. pastikan sertakan kota dan negara Anda..” demikian isi surel seorang pendukung kepadaku. putuskan apakah kau bersedia menerima risi­ ko buruk jika diharuskan. “Kenyataan bahwa tindakan ini harus dianggap sebagai suatu keberanian. • Aku tidak sependapat dengan komunitasku karena. Pertama.

” Sesuai dengan ucapannya tentang cintanya terhadap belajar.” yang membolehkan kaum muda “selama beberapa waktu mengalami kehidupan di luar Islam dan kemudian memilih apa yang terbaik bagi mereka. Sampai hari ini. Seorang pria Tunisia.” 333 . Seorang anggota militer AS men­ cintai kemerdekaannya “dengan kegairahan yang tak bisa di­ gam­ barkan”—sampai ke titik memperjuangkan kesetaraan kaum gay dan lesbian di barak dan bukan cuma di depan hukum. kembali berada di sekolah. Komitmennya lebih mendesak dari apa pun juga. Seorang ibu di Kalifornia ber­ bicara dengan penuh semangat “ketika saya belajar. seorang Muslim Amerika membayangkan komunitasnya mengadaptasi “konsep Amish Rumspringa. Menanggapi lima pertanyaan keberanian moral. ia bermimpi dapat memberikan bayaran bagi wanita yang mendahulukan “penemuan-diri” daripada “aib. saya merasa hidup. tak mau tahu [dan] tidak etis” di kalangan teman-teman homoseksualnya.IRSHAD MANJi mahasiswaku tentang bagaimana orang-orang dari berbagai belahan dunia melakukan perjalanan menuju keberanian moral. ia menghadiri salah satu kuliahku tentang Islam dan tinggal lebih lama seusai kuliah untuk bertanya. ingin memperbaiki “kepekaan terhadap masalah kewarganegaraan” (civic mindedness) di ne­ garanya. Seorang pemuda Inggris berharap mengubah orang yang “ber­ pikiran tertutup. karena saat ini warga Tunisia memberontak demi demokrasi dan menginspirasi warga Arab lainnya untuk mengikuti lang­ kah mereka. misalnya.” Se­ orang Yahudi Israel “berbeda sekali” dari keluarganya yang bermukim di wilayah religius dan berupaya untuk tidak diam saja di depan mereka. Itulah momen yang menentukan.

ALLaH. Seperti yang ditegaskan Sultan Abdulhameed. pelihara energi kontra-budayamu dengan meng­ undang teman-temanmu untuk menikmati teh chai buatan sendiri. Perjamuan teh mereka. dan tidak ditemani oleh mereka yang mengkritik usaha kita dan iri sa­ at mereka melihat kita tumbuh. sekarang anggota kongres AS. berkembang menjadi sebuah “ruang bebas”—ruang di mana para reformis bisa bicara tanpa takut dicuri-dengar oleh musuh mereka. & LOVE Penerapan ini akan menjernihkan sumber-sumber ke­ ber­ makna­ anmu. Semakin kau mengetahui dirimu. mengatakan ruang- 334 . ketika lima aktivis penghapusan perbudakan berkumpul minum teh. dan banyak lagi pertemuan lanjutan. di mana mereka sering kali bersosialisasi. “Menjadi penting jika kita di­ dampingi oleh teman-teman yang sabar dan menyemangati ketika kita ragu dan bergembira ketika kita sukses. curah pendapat. dan merencanakan aksi. semakin kau paham apa yang mendefinisikan kehormatanmu dan semakin sadar pula pilihanmu untuk mengabdi melampaui dirimu sen­ diri? Ingatkah kau dengan mahasiswa hukum Syariah di Mesir yang berniat menjadi imam reformis? Ia menyuarakan niatnya itu dengan menjawab lima pertanyaan keberanian moral. Untuk mempertahankan perjalananmu menuju kebe­ ranian moral. Mereka memutuskan untuk melandaskan kesuksesan mereka dengan berkampanye demi kesetaraan perempuan.” Ini artinya berkembang me­ lampaui kesukuanmu menuju ke pengumpulan kelompok se­ suai pilihanmu. LIBERTY. Itulah yang kira-kira terjadi di pertengahan 1800-an. Terakhir. pembela hak-hak sipil mereplikasi ruang bebas ini di ruang bawah tanah gereja. kau akan membutuhkan dukungan. Di pertengahan 1900-an. John Lewis.

Kunjungi irshadmanji. Karena jadwalku tidak mengizinkanku menjawab setiap pertanyaan yang datang di situs webku. com untuk bicara dengan timku mengenai kemungkinan ini. Aku berkata ini berdasarkan pengalaman: saat menulis buku ini. aku memperkenalkan kepada komunitas face­ bookku gagasan “chai chats” (obrolan chai)—bincang-bincang reguler. yaitu mentransformasi klub-klub bu­ ku­ mu menjadi ruang-ruang bebas.IRSHAD MANJi ruang semacam itu menanamkan “kebiasaan berpikir bebas” yang mengalahkan “rasa diliputi ketakutan. Kau tidak harus menjadikan dirimu pemimpin yang ber­ ijazah. Ingin menciptakan kesempatan-kesempatan itu secara daring. Aroma harum kapulaga dan kayu manis membuat segala tantangan terasa lebih manis. temanteman dan rekan-rekanku membantu mengatasi dilemaku me­ lalui chai. satu pemikiran lagi muncul: Aku akan memublikasikan resep teh chai di bagian belakang buku ini supaya para pembaca bisa mengadakan chai chats dengan teman-teman mereka. aku menawarkan insentif menyenangkan. Jika kau dan teman-teman­ mu sesama pembaca muncul dengan gagasan untuk melan­ jutkan perjalanan kalian menuju ke keberanian moral. Atau setidaknya lebih mudah dicerna. supaya aku bisa belajar darimu juga. cukup sadari bahwa kau mengizinkan dan membekali 335 . Dan waktu merencanakan obrolan itu. aku mungkin bisa muncul di ruang bebas Anda melalui Skype.” Muslim dan non-Muslim dapat menciptakan ruang bebas untuk saling memelihara keberanian moral—dan melakukannya lewat teh India berempah yang disebut chai. yang mereka bisa bertanya kepadaku tentang apa saja untuk meningkatkan keberanian moral mereka. secara langsung (real time).

Aku paham. “Mungkin aku sering terlewat shalat subuh. yang menjadikan tiga putrinya pusat kehidupannya. Mama tidak mengantisipasi apa yang Fatima kabarkan kepada kami. tetapi aku mulai melihatnya sebagai fatalisme Suni. Mama dan aku bila disatukan. LIBERTY. aku mengetahui kalau adikku. Ucapan ini berasal dari seorang wanita yang juga memiliki penyakit sehingga membuatnya susah melakukan apa pun yang dulu bisa ia kerjakan. ada ketakutan yang terus-menerus akan kehilangan salah satu dari kami. Hanya empat puluh delapan jam sebelum diagnosa. tapi Mama mengeluh apakah ia sudah membuat Tuhan kesal dan mengakibatkan puterinya merana. Mari aku ilustrasikan satu contoh ter­ akhir yang mengena buatku. 336 . dan dua anak mereka yang tak ternilai. ia sedang mengandung anak ketiganya. Aku sudah mencemasi Fatima. ukur­ an. Tak seorang pun memprediksikan kan­ ker akan menjalar dan menghadang kegembiraannya. Kecemasanku mencapai titik ketinggian baru. lengan dan kakinya. Ishrat. Di balik senyumnya yang penuh semangat. tes ultrasound menunjukkan bayinya—bentuk. suaminya. & LOVE dirimu untuk tumbuh. Waktu itu.” ungkap Mama dengan sedih. Saat memberikan sentuhan ter­ akhir pada buku ini. menderita kanker payudara. Tetap saja.ALLaH. Ketakutan Mama pada Tuhan menimbulkan keputusasaan—dan keputuasaannya tidak akan membantu meningkatkan peluang hidup adikku. Ia adalah seorang ibu. Fatima. Aku khawatir pada ibuku. Aku mengkhawatirkan kakakku. aku ngeri ketika ia mengatakan Tuhan mungkin menghukum dirinya melalui kanker yang dialami Fatima. yang memi­ liki kesabaran sebesar kesabaran Fatima. Kepribadian Mama mencermin­ kan optimisme.

keyakinanmu kepada-Nya dan keyakinanNya kepadamu? Manfaatkan musibah kanker ini.” Ini adalah isyarat timbal-balik—sebuah hubungan dengan makna sebenarnya. kau akan tahu bahwa diam hanya akan bertahan sebentar. kita mengerti mengapa Sang Pencipta memiliki keyakinan terhadap hamba-Nya untuk saling mengangkat—dalam kasus ibuku. Tuhan mencintai hamba-Nya begitu besar sehingga Dia tidak membuat kita hanya sekadar subjek. atau hal lain yang pada akhirnya akan dijelaskan oleh sains. Apa pun penyebab kanker Fatima. (Jika kau kenal ibuku. ini merupakan kesempatan untuk menghidupkan keyakinan Tuhan terhadap kita. dari makhluk ke Sang Pencipta. Mama mengasumsikan bahwa “hu­ bungan” dengan Sang Ilahi haruslah ditandai dengan aliran keyakinan satu-arah.) Seperti keba­ nyakan orang religius. cinta Tuhan meyakinkan kita pada satu hal: setiap masalah mengandung kesempatan untuk memahami diri kita sendiri.IRSHAD MANJi Aku perlu Mama menyadari bahwa pemahaman yang berbeda tentang Tuhan itu memungkinkan. lingkungan. Lebih dari sekadar tanggung jawab. Ketika aku mengemukakan kepada ibuku bahwa Tuhan menaruh keyakinan kepadanya. dua arah. bukankah hubungan dengan Tuhan mengimplikasikan keya­ kinan yang matang. kataku pada ibuku. mungkin Dia ingin kita menjadi agen juga. Apel tidak jatuh jauh dari pohonnya. desakku. Dalam hal ini. Dengan memahami diri sendiri. 337 . Tapi aku mengingatkan ibuku tentang satu ayat yang sangat kuagung­ kan: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. entah itu kehamilan. ia membisu sejenak. anak bungsunya. Mungkin.

LIBERTY. Mengingat pada kemenangan-ke­ me­ nangan kecil ini.ALLaH. kita belum bisa mengukur maknanya di awal. 338 . Aku akan menerima jawabannya yang penuh pemikiran sebagai kemenangan kecil. dan aku mencintai dan menghormati ibuku hingga yakin bahwa ia mampu mencapai lebih banyak kemenangan. & LOVE untuk menunjukkan bahwa engkau menerima undangan-Nya untuk tumbuh. begitu berpengaruhnya sampai kami membicarakannya hampir dalam setiap perca­ kapan di telepon. Tanyakan ke dalam dirimu setiap hari: “Apa yang sedang kulakukan sehingga Penciptaku dapat terus yakin kepadaku?” Pertanyaan itu menggugah ibuku.

Karena itu. terlepas berapa banyak Anda memakainya.Resep Teh Chai Ala Irshad Resep ini untuk membuat lima cangkir chai. silakan coba takaran yang ber­ beda untuk kayu manis dan kapulaga. aku tak akan mem­ berikan ukuran yang persis. dibutuhkan: • Sebuah panci ukuran sedang • 3 kantong teh (jenis orange pekoe atau teh hitam. hasil akhirnya akan lezat berkat bahan-bahannya. Tak perlu waktu terlalu lama untuk bisa merasakan langsung manisnya. Untuk membuatnya. Saat menyeduh. suguhan sempurna untuk dua orang yang suka bicara karena Anda harus merun­ dingkan siapa yang akan mendapat cangkir kelima. Tapi kujamin. Chai ada­ lah minuman yang begitu menyenangkan dan kaya rasa hing­ ga bisa meredakan ketegangan. begitu juga untuk takar­ an sendok gula dan susu saat menyajikan. teh tanpa kafein juga boleh) • 1 sampai 2 batang kayu manis • Sejumput biji kapulaga tanpa kulit 339 .

Anda bisa menggunakan krim sebagai pengganti susu. Begitu mendidih. Saranku. LIBERTY. lalu masukkan ke dalam air. Setelah itu. patahkan satu atau dua batang kayu manis menjadi potongan-potongan yang lebih kecil. jangan tambah susu. Dan kalau Anda seperti aku. & LOVE • Susu atau krim • Gula Tuang air hingga tiga perempat panci dan tabur biji kapu­ laga. Seduh selama beberapa menit. Anda boleh mencari resep lain di situs web kalau ingin bahanbahan tambahan. “Teh Chai Ala Irshad” hanyalah permulaan. tergantung berapa kuat cita rasa teh yang Anda inginkan. Kalau Anda memiliki intoleransi laktosa. kecilkan api dan taruh tiga kantung teh. Aku suka kantung teh yang berpori besar supaya cita rasanya langsung keluar. Rebus sampai mendidih. Sementara itu.ALLaH. Ingat: awalnya Anda akan bereksperimen beberapa kali. tapi kantung teh biasa pun tak masalah. 340 . jadi tidak perlu mengkhawatirkan hasil yang tepat. teh siap dihidangkan dengan susu dan gula.

Branch. 1500 to the Present. New York: W. Barzun. The Quran and the Life of Excellence. 2010. CO: Outskirts Press. de Botton. 1988. Status Anxiety.com. CA: University of California Press. 2010. From Dawn to Decadence: 500 Years of Western Cultural Life. Bondurant. Conquest of Violence: The Gandhian Philo­ sophy of Conflict. Sultan. Appiah. 2004. Joan V. Parting the Waters: America in the King Years. Kwame Anthony. Anda bisa men­cari lebih banyak lagi referensi—baik akademik mau­ pun jurnalistik— dalam catatan kaki yang aku unggah di irshadmanji. Berkeley. 2000. New York: Pantheon Books. New York: Simon & Schuster. Jacques.W. Alain. 341 . Norton. The Honor Code: How Moral Revolutions Happen. Taylor. Denver. Abdulhameed. 1954-63. 1965. New York: HarperCollins.Rekomendasi Bacaan Inilah buku-buku yang langsung aku kutip.

2010. 1997. New York: Simon & Schuster. Gershman. Slavenka. 1999. Chip and Dan Heath. Princeton. Greenberg. Switch: How to Change Things When Change is Hard. The Place of Tolerance in Islam. Robert K. 2006. Faulker. Fromm. Elie Wiesel and the Politics of Moral Leadership. Tomales. 342 . The Case for Greatness: Honorable Ambition and its Critics. Easwaran. Café Europa: Life After Communism. NJ: Princeton University Press. El Fadl. At Canaan’s Edge: America in the King Years. Khaled Abou. New York: HarperSanFrancisco. Drakulic ́. KY: University of Kentucky. The Great Theft: Wrestling Islam from the Extremists. 196568. a Man to Match His Mountains. New York: Broadway Books. El Fadl.ALLaH. Harris. 2005. 2008. New Haven. Kenneth S. 2001. Mark. 2002. eds. 1996. Eknath. On Disobedience: Why Freedom Means Saying ‘No’ to Power. & LOVE Branch. 2007. Philadelphia: Temple University Press. Chmiel. Boston: Beacon Press. Taylor. 2010. Khaled Abou et al. NY: Syracuse University Press. CA: Nilgiri Press. New York: Harper Perennial Modern Thought. Honor & Slavery. Norman H.W. Lexington. Nonviolent Soldier of Islam: Badshah Khan. LIBERTY. The Oprah Pheno­ menon. Erich. Norton. Syracuse. CT: Yale University Press. 2007 Heath. Jennifer and Elwood Watson. New York: W. Besa: Muslims Who Saved Jews in World War II.

Richard. Subhash C. Husseini. Gandhi & Churchill: The Epic Rivalry that Destroyed an Empire and Forged Our Age. Knopf. Madison. Exodus of a City. 2008. Randall. Khorasani. 2004. Bethesda. Holmes. Iranian Women’s One Million Signatures: Campaign for Equality—The Inside Story. CT: Psychosocial Press.. King. Hunt. MA: Harvard University Press. New York: Bantam Books. Faith and Feminism: A Holy Alliance.IRSHAD MANJi Herman. John. MD: Women’s Learning Partnership. 2004. Kay Redfield. 2008. 2009. New York: Atria. 1964. Jamison. 2009. Exuberance: The Passion for Life. New York: Harper & Row. Karahasan. Why We Can’t Wait. Cambridge. Kennedy. Arthur. Helen LaKelly. Martin Luther. London: Harper Press. New York: Kodansha International. Sellout: The Politics of Racial Betrayal. 1994. terj. New York: Pantheon Books. Murder in the Name of Honor: The True Story of One Woman’s Heroic Fight against an Unbelievable Crime. Arguing the Just War in Islam. 2007. Dževad (Slobodan Drakulic ́. Kelsay. Noushin Ahmadi. Sarajevo.). 2000. Jr. 343 . The Age of Wonder: How the Romantic Generation Discovered the Beauty and Terror of Science. Rana. Muhammad and the Rise of Islam: The Creation of Group Identity. 2008. New York: Oneworld Publications. New York: Alfred A. Inabdar.

2008. Richard J. Memoirs of Extraordinary Popular Delusions and the Madness of Crowds. 1776 to the Present. Neiman. Sharon R. Fatema (Mary Jo Lakeland. New York: Farrar. Mernissi. FL: Harcourt. Values. 1986. Maslow. Anne C. The Power of Purpose: Creating Meaning in Your Life and Work.). Religions. 344 . Cambridge. Power. 1964. Michael B. Leider. New York: W. Mackay. Moral Clarity: A Guide for Grown-Up Idealists. penj.W. Mawdudi. Susan. LIBERTY. Columbus. 2002. 1974 (reprint of 1852 edition). Faith and Fantasy: America in the Middle East. & LOVE Klausen. Towards Understanding Islam. 2009. MA: Harvard University Press. Loveland. CT: Yale University Press. Islamic Circle of North America. 1992 and updated 2002. Baton Rouge. LA: Louisiana State University Press. and Peak-Experiences. Dominique. New Haven. Humiliation and Hope are Re-Shaping the World. Jytte. 1986. Charles. Abraham H. The Geopolitics of Emotion: How Cultures of Fear. 1997. San Francisco: Berrett-Koehler. Norton. Cambridge. Orlando. Lillian Smith: A Southerner Confronting the South. MA: Perseus. Straus and Giroux. OH: Ohio State University Press. Sayyed Abul A’la. New York: Doubleday.ALLaH. Islam and Demo­ cracy: Fear of the Modern World. 2007. Krause. Liberalism with Honor. The Cartoons that Shook the World. Moïsi. Oren. 2009.

New York: Russell Sage Foundation. Salil. Saeed. Lillian (Michelle Cliff. Abdullah and Hassan Saeed.). NJ: Doubleday. Boston: Beacon Press. Norton. 1963. The Disuniting of America: Reflections on a Multicultural Society. ed. Life in the Woods. New York: HarperCollins. UK and Burlington. Garden City. Smith. 1988. et al. Norton. Smith. 1998. 1997 (reprint of 1854 edition). Made for Goodness: And Why This Makes All the Difference. Engaging Cultural Differences: The Multicultural Challenge in Liberal Societies. Tutu. Arthur M.W. New York: Picador. ed. or. Salman. Richard et al. 2009. Walden. The Satanic Verses. Shweder. ed. New York: HarperOne. New York: W. Hants. Apostasy and Islam. Thoreau. Schlesinger. George.). Lillian.IRSHAD MANJi Packer.. Abrams. New York: W. Tripathi. Offence: The Hindu Case. 2002. 2003. Killers of the Dream. New York: Palgrave MacMillan. 345 . The Fight Is for Democracy: Winning the War of Ideas in America and the World. Courageous Resistance: The Power of Ordinary People. 2004. Kristina E. London: Seagull Books. and Mpho Tutu (Douglas C. 1978. Henry David. eds. 2007.W. Rushdie. Freedom of Religion. 2010. VT: Ashgate Publishing. The Winner Names the Age: A Collection of Writings. Desmond M. Thalhammer.

Amherst. Edip et al. Generous Betrayal: Politics of Culture in the New Europe. What’s Really Wrong with the Middle East. Mourad and Mona Abousenna. Selfpublished/Brainbrow Press. 1996. London: Saqi Books. 2002. Whitaker. 346 . NY: Prometheus Books. Quran: A Reformist Translation. Brian. & LOVE Wahba. Averroës and the Enlightenment.ALLaH. Unni. 2009. Yuksel. terj. eds. 2007. Chicago: University of Chicago Press. Wikan. LIBERTY.

Presiden Auburn Theological Seminary. izinkan aku mengapresiasi mereka sekali lagi.” katanya kepadaku. “Aku memahaminya. Kepala Bagian Administrasi Tyra Liebmann. Me­ reka telah menjadikan “nurani” sebagai “inspirasi bagi sesama”. “Ini merupakan panggilan. aku mengucapkan terima kasih kepada guru-guruku: khalayak publik yang telah menghubungiku dengan berbagai cara yang memungkinkan bagi mereka. Kini. Katharine Rhodes Henderson. Terima kasih yang mendalam untuk rekan-rekanku di Robert F.” Tapi lebih hebatnya. Aku pun tak kalah bangganya dengan 347 . Komentar dan kisah mereka menjadikan buku ini lebih membumi karena berdasarkan pada kenyataan yang ada—beberapa kisah hampir tak pernah terungkap. ia terus mendukungku. yang juga mengikuti perjalanan ini. di bagian akhir. khususnya Dekan Ellen Schall. New York University. Selain para korespondenku. Wagner Graduate School of Public Service. ada beberapa orang yang layak dikhususkan karena telah berani mengarungi perjalanan ini bersamaku—dan semakin meningkatkan pemahamanku.Ucapan Terima Kasih Dalam catatan penulis di awal buku ini. dan Kepala Bagian Akademik Rogan Kersh.

yang se­ makin menguatkan keyakinanku akan kapasitas kita untuk me­ ngembangkan keberanian moral dan menyebarkannya kepada yang lain. dan Ivan Rodriguez. bantuan penelitian datang dari berbagai pihak.ALLaH. Dengan berterima ka­ sih atas cinta mereka. terutama Direktur Eksekutif. Raquel Evita Saraswati. Juga pada pemimpin editorku. Ini mengingatkanku pada keluargaku sendiri. Ishrat. Boi Ben-Yehuda. Reed. Ijtihad Project. Karys Rhea. Mama. Sonal Gor. Mahasiswa-mahasiswaku di New York University. Arnold Yasin Mol. termasuk pada keluarga kita. serta Leslie Meredith yang membimbingku hingga selesai. dan Fatima yang mem­ perlihatkanku akan wajah kasih Tuhan. Aku berhutang pada editorku. terutama dari Ismail Butera. Diederik van Hoogstraten. para donatur di Moral Courage Project dan kampanye pendampingnya. khususnya Anne Collin yang berani dan mumpuni. Roberta Bonazzi. & LOVE teman-temanku di European Foundation of Democracy. Se­ panjang penulisan. yang segera turun tangan sewaktu aku ragu. LIBERTY. 348 . Susan K. yang juga meluangkan waktu dan air mata. berarti aku berterima kasih kepada Allah atas cinta-Nya. Kemudian.

“The Trouble with Islam Today: A Muslim’s Call Reform in Her Faith”.net. Urdu. HAM. Mengakui misi Irshad untuk memajukan reformasi Muslim dan keberanian moral. dan penulis buku laris versi The New York Times. Sosok Irshad di media telah mendunia: pembuat film do­ ku­ menter dengan nominasi Emmy. European Foundation for Democracy telah mengangkatnya sebagai rekan senior. The Times (London). dan Persia yang tersedia di situs-webnya telah diunduh dua juta kali. sementara surat kabar The New York Times menyebutnya “Mimpi Terburuk bagi Osama bin Laden.Tentang Penulis IRSHAD MANJI adalah Direktur untuk Gerakan Keberanian Moral (Moral Courage Project) di Universitas New York. 349 . Der Tagesspiegel. Edisi bahasa Arab. Beberapa tulisannya muncul di The Wall Street Journal. Newsweek. Faith Without Fear. yang telah dipublikasikan di lebih dari 30 negara. yang mengi­ sahkan perjalanannya untuk mendamaikan antara Islam. dan kebebasan. dan Al-Arabiya.” Dan dia menerima ini sebagai pujian. Ia juga menjadi moderator di salah satu forum paling “aktif” di facebook.

Maclean’s memberinya peng­ hargaan Honor Roll di tahun 2004 sebagai “Orang Kanada yang Sangat Berpengaruh”. akademisi. Liberty and Love ini merupakan sebuah refleksi yang menggugah sekaligus jalan menuju aksi. budaya.ALLaH. menjadi buku laris inter­ nasional. pada Hari Perempuan Internasional tahun 2005. Manji merefleksikan perjalanan yang telah dialaminya sejak buku sebelumnya. mahasiswa. LIBERTY. menabalkan Irshad sebagai “Feminis Abad 21”. tentang bagaimana mendamaikan antara agama dan kebebasan. Majalah Ms. & LOVE Melihat kepemimpinan dan prestasi Irshad. dan menjadikannya pusat perhatian publik. selalu membuka wawasan—tentang zaman kita yang sarat akan kebingungan moral. negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. menunjuk Irshad Manji sebagai “Satu dari tiga Muslimah yang menciptakan perubahan positif dalam Islam kontemporer”. 350 . Mereka berjuang. se­perti juga Irshad. Ia menuturkan kisah—yang sering kali lucu. Perjalanannya itu memperkenalkan Irshad pada dunia yang penuh dengan para pencari kebenaran. Tidak seperti ilmuwan yang bersemayam di alam teori. The Jakarta Post di Indonesia. keluarga. dan tradisi. Buku Allah. Sebagai salah satu reformis Muslim yang paling terkemuka saat ini. tekad. The Trouble With Islam Today. Oprah Winfrey menghargainya dengan Chutzpah Award atas “keberanian. Irshad memanfaatkan pertemuan-pertemuannya di kehidupan nyata dengan para politisi. aktivis. ketegasan. serta per­ debatan tentang agama dan kebebasan. dan keyakinannya”. dan orang-orang biasa dari berbagai agama. Sementara itu.

Untuk informasi selengkapnya.com.irshadmanji. Paling utama. dan penafsiran ulang—Allah. Amin.” Dengan tulisan yang dijiwai oleh komitmen penulis ter­ hadap ijtihad—tradisi Islam terkait perbedaan pendapat. Keyakinan Manji tidak hanya kepada Allah. Ia mempersiapkan jalan bagi kaum Muslim dan non-Muslim untuk membela nilainilai demokrasi liberal—dan konsekuensinya menemukan Allah yang penuh kebebasan dan cinta. pena­ laran. dicerahkan.IRSHAD MANJi Tapi Irshad tidak hanya menganalisis. Liberty and Love adalah buku yang bercerita bagaimana untuk menjadi warga dunia yang gagah berani. individu-individu dapat memulai perjalanan mereka sendiri menuju “keberanian moral. ia me­ nunjukkan bahwa dengan berpartisipasi dalam peristiwa yang menandakan abad ke-21 ini. Kita dapat mewujudkan perdamaian du­ nia dan perdamaian personal secara bersamaan. dan terinspirasi. tapi untuk sampai ke sana. tetapi juga kepada sesama manusia. kita harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berani. 351 . Bersiaplah untuk di­ tantang. kunjungi situs web Irshad Manji: www.