LAPORAN TUGAS PJBL I

Konsep dan Asuhan Keperawatan pada Bayi Baru Lahir Beserta Kelainannya
Untuk Memenuhi Tugas pada Blok Sistem reproduksi dibimbing oleh Ns. Fransiska Imavike F, S.Kep. M.Nurs

DISUSUN OLEH : Lina Mafula (0910720050)

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2011

1. Karakteristik normal dan tanda-tanda vital pada bayi baru lahir Karakteristik bayi baru lahir menurut Dasar dasar keperawatan Maternitas: a) Terminologi : janin 6 minggu sampai lahir, neonatus, lahir sampai usia 1 bulan, bayi 1 bulan samapi usia berjalan b) Karakteristik umum 1. Bentuk tubuh dan pengukuran : besar kepala dan abdomen 2. Tingkat kesadaran : enam keadaan : menangis, tidur tenang, REM, terjaga aktif, tenang tidur dan transisional 3. Kekenyalan fisiologis : tahanan pasif terhadap stresor 4. Imunitas : antibodi mengalir dari ibu melalui plasenta, tidak terdapat antibodi untuk pertusis dan cacar 5. Tanda-tanda vital bayi baru lahir:  Suhu  Nadi : 97,80F (36,50C) : rata-rata 140x/menit dengan variasi berkisar 120-160x/menit,

frekuensi saat bayi tidur berbeda dari frekuensi saat bayi bangun. Pada usia satu minggu frekuensi 128x/menit saat tidur dan 163x/menit saat bangun. Pada usia 1 bulan, frekuensi 138x/menit saat tidur dan 167x/menit saat bangun.  Pernapasan  Tekanan darah : 30-60x/menit dangkal dan ireguler, tidak ada retraksi atau bunyi

mendengkur, disertai apnea singkat (kurang dari15 detik) : 78/42 mmHg, tekanan darah sistolik bayi sering menurun (sekitar

15mmHg) selama satu jam pertama setelah lahir, menangis dan bergerakbiasanya menyebabkan peningkatan tekanan darah sistolik 6. Kebutuhan dasar : bertahan, aman dan nyaman,memiliki dan dimiliki,penghargaan diri dan aktualisasi diri c) 1. Karakteristik khusus Kepala: pada presentasi vertex kepala biasanya mendatar pada dahi dengan puncak meninggi dan membentuk titik pada ujung tulang parietal dan oksiput menurun tajam. tulang saling tindih saat lahir dikarenakan tulang-tulang kranium tidak menyatu kemudian kembali ke posisi semula (Wong, 2009) 2. Mata: cenderung menutup mata dengan kuat, air mata mungkin keluar saat lahir namun cairan purulen yang keluar dari mata segera setelah lahir adalah abnormal (Wong, 2009)

3.

Telinga: puncak pina biasanya terletak pada bidang horizontal segaris dengan kantus mata, pina sering kali menempel pada sisi kepala akibat tekanan dalam uterus

4. 5.

Hidung : hidung biasanya datar baru lahir dan memar sering terjadi Mulut dan tenggorokan: defek eksterna mulut seperti celah bibir mudah dilihat, langit-langit normalnya melengkung tinggi dan agak sempit, temuan yang sering adalah mutiara epstein yang merupakan suatu kista epitel kecil putihsepanjang kedua sisi garis tengah palatum durum (menghilang beberapa minggu)

6. 7.

Leher: leher bayi baru lahir pendek dan ditutpi oleh lipatan jaringan Dada: bentuk dada BBL hampir selalu bulat karena diameter antero poterior dan lateralnya sama, tulang rusuk sangat lentur dan sedikit retraksi intercostalis. Prosesus xifoideus biasanya terlihat sebagai tonjolan kecil ujung sternum, sternum biasanya meninggi dan sedikit melengkung

8.

Abdomen : Kontur abdomen normal adalah silindris dan biasanya menonjol dengan beberapa vena yang tampak. Bising usus terdengar dalam 15-20 menit setelah kelahiran.

9.        

Kulit: Verniks kaseosa : pasta seperti keju Milia : bintik-bintik pada wajah Lanugo : rambut halus diseluruh tubuh Deskuaminasi : pengelupasan kulit Eritema toksikum : alergi kemerahan Bercak mongolian : area berpigmen Tanda lahir: (nevi) Ikterik : kekuningan disebabkan oleh hiperhiperbilirubinemia

10. Rambut dan kuku : bervariasi 11. Payudara : mungkin mengalami perbesaran karena pengaruh hormon dari ibu 12. Genetalia:  Wanita : normalnya labia mayora, minora dan klitoris tampak edema. Hampir seluruh bayi baru lahir perempuan memiliki himen. Cairan vagina mungkin ditemukan selama minggu pertama kehidupan  Laki-laki :prepusium ketat, smegma merupakan suatu zat seperti keju sering ditemukan disekitar gland penis. Lesi kecil,putih,keras yang dinamakan mutiara epitel dapat ditemukan diujung preposium. Ereksi sering terjdi pada BBL. Skrotum besar, bengkak, dan menggantung 13. Sistem urinarius: berkemih pertama biasanya dalam 24jam

dingin.memenuhi tugas perkembangan memperoleh dan mempertahankan eksistensi fisik. penuh cairan tanpa gravitasi dan kedap suara serta tidak adanya berubah setelah lahir. Perbedaan kondisi ini membuat bayi baru lahir berupaya menyesuaikan dengan lingkungan yang sangat berbeda. GI.  Pengalaman intrapartum ibu dan bayi baru lahir (misalnya. Transisi ke kehidupan ekstrauterin  Konsep-konsep esensial 1. dan system neurologis bayi baru lahir harus berfungsi secara memadai untuk maju kea rah. terpajan zat toksik dan sikap orang tua terhadap kehamilan dan pengasuhan anak). Sistem sirkulasi : struktur jalan pintas janin menutup segera setelah lahir 16. sejumlah kecil cairan keluar dari trakea dan paru-paru bayi. gelap. Faktor-faktor yang mempengaruhi adaptasi bayi baru lahir  Pengalaman antepartum ibu dan bayi baru lahir (misalnya. Paru-paru bayi cukup bulan mengandung sekitar 20ml cairan /kg. kemudian menurun Vitamin K: penting untuk pembekuan. diberikan pada beberapa bayi 2. Dalam 24 jam setelah lahir.14. udara harus diganti oleh cairan yang mengisi traktus respiratorius sampai alveoli. Dalam 1 jam . system ginjal. bergravitasi. dan mempertahankan kehidupan ekstrauterin  Adaptasi pernapasan Penyesuaian paling kritis yang harus dialami bayi baru lahir ialah penyesuaian system pernapasan. metabolic. dan ruang terbuka. Adaptasi fisiologis pada semua system tubuh bayi baru lahir Risiko bayi baru lahir disebabkan oleh lingkungan yang sangat kecil. hematologi. Sistem pernapasan: atelektasis sampai bernafas berapa kali 15. lama persalinan. Darah:   Hemoglobin : tinggi saat lahir. mungkin disertai nyeri. Memulai segera pernapasan dan perubahan dalam pola sirkulasi merupakan hal yang esensial dalam kehidupan ektrauterin 2. tipe analgesic atau anesthesia intrapartum)  Kapasitas fisiologi bayi baru lahir untuk melakukan transisi kehidupan ekstrauterin  Kemampuan petugas kesehatan untuk mengkaji dan merespon masalah dengan tepat pada saat terjadi B. berisik. A. hangat. Pada kehamilan pravaginam normal. linkungan dengan raung yang terang.

2005). suara.Faktor-faktor sensorik meliputi suhu. durasi dan frekuensi apnea menurun siring dengan pertambahan usia. sensorik. 2005). cahaya. Pengeluaran cairan ini juga diakibatkan perbedaan tekanan dari alveoli sampai jaringan interstisial dan sampai kapiler pembuluh darah (Bobak. dan kemudian menuju arteri pulmoner desenden dan duktus . Apnea > 15 detik harus dievaluasi 7. Auskultasi dada bayi baru lahir akan menghasilkan bunyi nafas yang bersih dank eras dan bunyi terdengat sangat dekat karena jaringan pada dinding dada masih tipis. Lingkaran dada berukuran < 30-33 cm saat bayi lahir.  Adaptasi Kardiovaskularisasi janin sebelum janin lahir. Frekuensi pernapasan bayi baru lahir berkisar antara 30-60x/menit 4. Pernapasan awal dipicu oleh factor-faktor fisik. Sekresi lender mulut dapat menyebabkan bayi batuk dan muntah terutama selama 12-18 jam pertama 5. . 1. 8. Alveoli paru janin dilapisi surfaktan (Bobak. dan penurunan pH) sebagai akibat asfiksia sementara selama kelahiran 2. tidak lama kemudian. darah muncul di aorta dan arteri di daerah kepala. Bayi baru lahir lazimnya bernapas melalui hidung. dan kimia.Factor-faktor fisik meliputi usaha yang diperlukan untuk mengembangkan paru-paru dan mengisi alveolus yang kolaps . Sebagian darah mengalir melalui jalan pintas di hati dan menuju ke duktus venosus. dan penurunan suhu . membuka mulut untuk mempertahankan jalan napas. ventrikel kanan. system limfatik paru secara kontinu mengeluarkan cairan dalam jumlah besar. peningkatan kadar karbondioksida.pertama kehidupan bayi. bunyi. tidak ada pada sebagian besar bayi sampai 3 minggu setelah kelahiran 6. Pola pernapasan tertentu menjadi karakteristik bayi baru lahir normal yang aterm. Respon refleks terhadap obstruksi nasal. Sebagian besar darah vena dari tungkai bawah dan kepala masuk ke atrium kanan. Disertai apnea singkat paling sering terjadi selama siklus tidur aktif (REM). Darah mengalir melalui foramen ovale dan masuk ke atrium kiri. Dangkal dan tidak teratur 3. darah arteri dari plasenta mengalir ke janin melalui vena umbilicus dan dengan cepat mengalir ke hati kemudian masuk ke vena kava inferior.Factor-faktor kimia meliputi perubahan dalam darah (misalnya penurunan kadar oksigen.

arteriosus. foramen ovale menutup dan menjadi sebuah ligamen. Kemudian duktus arteriosus menutup dan menjadi ligamentum. yang memungkinkan sejumlah besar darah campuran yang dikeluarkan jantung kembali ke plasenta tanpa melalui paru-paru. yang keluar dari ventrikel. Setelah lahir. dan ductus venosus segera menutup dan berubah menjadi ligamentum (Bobak. sehingga tekanan dalam atrium kiri meningkat. Aliran darah pulmoner kembali meningkat ke jantung dan masuk ke jantung bagian kiri. tangisan dapat mengembalikan aliran darah melalui foramen ovale untuk sementara dan mengakibatka sianosis ringan (Bobak. Berbagai perubahan anatomi berlangsung stelah lahir. mengalir menuju plasenta. Bila tekanan PO2 dalam darah arteri mencapai sekitar 50 mmHg. selama beberapa hari pertama kehidupan. dan sebagian lagi terjadi seiring dengan waktu. sehingga darah paru mengalir. Napas pertama yang dilakukan bayi baru lahir membuat paru-paru berkembang dan menurunkan resistensi vaskuler pulmoner. Tidakan mengklem dan memotong tali pusat membuat arteri umbilikalis. adaptasi kardiovaskuler pada bayi baru lahir. Kira-kira 55% darah campuran. Dengan demikian foramen ovale dan duktus arteriosus berfungsi sebagai saluran bypass. Rangkaian peristiwa ini merupakan mekanisme besar yang menyebabkan tekanan atrium kanan menurun. duktus arteriosus akan konstriksi (PO2 janin  27 mmHg). 2005). 2005).tabel . arteri dan vena umbilikalis menutup dan menjadi ligament (Bobak. 2005). beberapa perunahan terjadi dengan cepat. Tekanan arteri pulmoner menurun. 35% darah mengalir ke jaringan tubuh dan 10% sisa mengalir ke paru-paru. 1. Menurut Stright (2004). vena umbilikalis. Perubahan tekanan ini menyebabkan foramen ovale menutup.

2. Rata-rata tekanan darah adalah 80/46 mmHg dan bervariasi sesuai dengan ukuran dan tingkat aktivitas bayi 5. Table berikut memberikan daftar nilai hematologi normal bayi baru lahir Parameter Hemoglobin Kisaran normal 15-20 g/dL . Denyut nadi adalah 120-160x/menit saat bangun dan 100x/menit saat tidur 4. Sirkulasi perifer lambat. yang menyebabkan akrosianosis (sianosis pada tangan dan kaki dan sekitar mulut) 3.

Pertumbuhan otak setelah lahir mengikuti pola pertumbuhan cepat. pertumbuhan serebelum yang dimulai pada sekitar 30 minggu.000/mm3 40%-80% 2%-3% 3%-10% 6%-10% 3%-10% 100.3 mL/kg Hari ketiga setelah pengkleman tali pusat lambat 92.5 juta/mm3 43%-61% 10. dalam hubungannya dengan asidosis metabolic. Pada khir tahun pertama.6 mL/kg  Perubahan termoregulasi dan metabolic 1.6 mL/kg Hari ketiga setelah pengkleman tali pusat dini : 82. yang dapat diprediksi selama periode bayi sampai awal masa kanak-kanak. Kehilangan panas yang cepat dalam lingkungan yang dingin terjadi melalui konduksi. Suhu bayi baru lahir dapat turun beberapa derajat setelah kelahiran karena lingkunga eksternal lebih dingin daripada lingkungan di dalam uterus 2. Trauma dingin/ cold stress (hipotermia) pada bayi baru lahir. Suplai subkutan yang terbatas dan area permukaan kulit yang besar dibanding dengan BB menyebabkan bayi mudah menghantarkan panas pada lingkungan 3.000-280. dapat bersifat mematikan bahkan pada bayi cukup bulan yang sehat.0-7.000/mm3 3%-6% Pengkleman tali pusat dini : 78 mL/kg Pengkleman tali pusat lambat : 98. 2005). berakhir (Bobak.  Adaptasi Neurologis Bayi baru lahir iduga belum matang dan belum terorganisai dan baru dapat menjalankan fungsi pada tingkat batang otak. konveksi.000-30. radiasi. dan evaporasi 4. .Sel-sel darah merah Hematokrit Sel-sel darah putih Netrofil Eosinofil Limfosit Monosit Sel-sel darah putih yang imatur Trombosit Retikulosit Volume darah 5. Pengkajian perilaku saraf neonates terutama merupakan evaluasi refleks primitive dan tonus otot.

Adaptasi fisiologis BBL pada system neurologis 1. Flora normal usus membantu sintesis vit. asam folat. refleks mengisap. 2005). Kapasitas lambung bervariasi dari 30-90 ml. mencerna. memetabolisme. Saat lahir. Bayi baru lahir menunjukkan gerakan-gerakan tidak terkoordinasi (muncul dalam bentuk tremor sementara di mulut dan di dagu) tremor ini normal (perlu dibedakan antara tremor normal dengan tremor akibat hipoglikemia dan gangguan SSP). dan mengabsorbsi protein dan karbohidrat sederhana. Segera setelah lahir. tidak terdapat bakteri dalam saluran cerna. System neurologis bayi secara anatomic atau fisiologis belum berkembang sempurna 2. terdapat pada bayi baru lahir normal yaitu mengoordinasi refleks pernapasan.pipi terisi penuh dengan organ bakal pengisap yang telah berkembang (Bobak. 2005). Mekonium yang dibentuk selama janin dalam kandungan berasal dari cairan amnion dan unsure-unsurnya. Saat bayi baru lahir. palatum durum dan palatum mole utuh. Adaptasi fisiologis pada system pencernaan menurut Stright (2004). tersenyum. serta mengemulsi lemak. orifisium oral dan anal memungkinkan bakteri dan udara masuk. Umumnya. pengaturan suhu yang labil. Refleks bayi baru lahir merupakan indikator penting perkembangan normal (table pada sasaran belajar nomor 4)  Adaptasi Gastrointestinal Bayi baru lahir cukup bulan mampu menelan. dapat ditemukan pada tepi gusi dan pada pertemuan antara palatum durum dan palatum mole. Pengeluaran air liur sering terlihat selama beberapa jam pertama setelh lahir. Kista retensi yaitu daerah kecil berwarna putih (mutiara Epstein). dari sekresi usus dari sel-sel mukosa (Bobak. mudah terkejut. yaitu .K. membrane mukosa tidak pucat atau sianosis. Apabila bayi baru lahir diletakkan di atas permukaan yang keras dengan wajah menghadap ke bawah. tergantung ukuran bayi. kecuali amylase pancreas. dan biotin. Bising usus bayi dapat didengar 1 jam setelah lahir. dan tremor pada ekstremitas 3. control otot yang buruk. perilaku yang lebih kompleks (misalnya control kepala. bayi akan memutar kepalanya ke samping untuk mempertahankan jalan napas. Suatu mekanisme khusus. usus bayi bagian bawah penuh dengan mekonium. Bayi baru lahir melakukan 3-4 isapan kecil setiap kali mengisap. 5. dan meraih dengan tujuan) akan berkembang 4. Pada bayi baru lahir dengan hidrasi yang adekuat membrane mukosa mulutnya lembab dan berwarna merah muda. Aktivitas peristaltic esophagus belum dikoordinasi selama beberapa hari pertama kehidupan. dan refleks menelan yang diperlukan pada pemberian makanan. Perkembangan neonates terjadi cepat sewaktu bayi tumbuh.

Gerakan acak tangan ke mulut dan mengisap jar telah diamati di dalam uterus. tetapi menghambat kapasitas bayi untuk berespon terhadap stressor 3. 5. pencernaan dan absorbsi lemak kurang baik karena tidak adekuatnya enzim-enzim pancreas dan lipase 4. Fungsi ginjal belum terbentuk pada tahun kedua kehidupan (Bobak. lengket. hampir semua massa yang teraba di abdomen berasal dari ginjal. Beberapa bayi baru lahir menyusu segera bila diletakkan pada payudara. dan mengandung darah samar. Urine dapat keruh karena lender dan garam asam urat. setelah itu mereka berkemih 5-20 x dalam 24 jam. Pengeluaran mekonium.  Adaptasi Ginjal Pada bayi baru lahir. dan jumlah makanan yang ditelan pada setiap kali pemberian makan 7. Perkembangan otot dan refleks yang penting untuk menghantarkan makanan sudah terbentuk waktu lahir 3. sedikit saliva diolah sampai bayi berusia 3 bulan 5. Variasi besar terjadi di antara bayi baru lahir tentang minat terhadap makanan. Kelenjar saliva imatur waktu lahir. Laju filtrasi glomerulus secara relative rendah pada waktu lahir disebabkan oleh tidak adekuatnya area permukaan kapiler glomerulus 2. diekskresikan dalam 24 jam pada 90% bayi baru lahir yang normal 6. Sebagian besar bayi baru lahir berkemih dalam 24 jam pertama setelah lahir dan 2-6 x/hari pada 1-2 hari pertama. Penurunan kemampuan untuk mengekskresikan obat-obatan dan kehilangan cairan yang berlebihan mengakibatkan asidosis dan ketidakseimbangan cairan. 2005). yang merupakan tinja berwarna hitam kehijauan. Meskipun keterbatasan ini tidak mengancam bayi baru lahir yang normal. noda kemerahan (debu batu bata) dapat diamati pada popok karena Kristal asam urat  Adaptasi Hati Adaptasi fisiologis pada system hepatica menurut Stright (2004) yaitu : .1. gejalagejala lapar. Enzim-enzim digestif aktif pada waktu lahir dan dapat menyokong kehidupan ekstrauterin pada kehamilan 36-38 minggu 2. 4. Pencernaan protein dan karbohidrat telah tercapai. sebagian lainnya memerlukan waktu 48 jam untuk menyusu secara efektif 8. tindakantindakan ini berkembang baik pada waktu lahir dan diperkuat dengan rasa lapar. Adaptasi Ginjal BBL 1.

glikolisis anaerob terjadi. pigmen berasal dari Hb dan dilepaskan bersamaan dengan pemecahan sel-sel darah merah 5. bayi dilindungi oleh kekebalan pasif yang diterima ibu. hati memproduksi zat yang essensial untuk pembekuan darah 3. IgA juga tidak terdapat dalam saluran GI . Bilirubin tak terkonjugasi dapat meninggalkan system vaskuler dan menembus jaringan ekstravaskuler lainnya (missal kulit.Keasaman lambung dan produksi pepsin dan tripsin belum berkembang sempurna sampai usia 3-4 minggu . Selama kehidupan janin dan sampai tingkat tertentu setelah lahir. Asam lemak yang berlebihan menggeses bilirubin dari tempat-tempat pengikatan albumin. kecuali jika bayi tersebut menyusu ASI. Barier alami seperti keasaman lambung atau produksi pepsin dan tripsin yang tetap mempertahankan kesterilan usus halus.  Adaptasi system imun Sel-sel yang menyuplai imunitas bayi berkembang pada awal kehidupan janin.Fagositosis lambat . dan membrane mukosa oral) mengakibatkan warna kuning yang istilahnya adalah jaundice atau ikterus 6. hati terus membantu pembentukan darah 2. 2004. Pada stress dingin yang lama. Peningkatan kadar bilirubin tidak berikatan yang bersirkulasi mengakibatkan peningkatan risiko kernikterus bahkan pada kadar bilirubin serum 10 mg/dL atau kurang. Selama 3 bulan pertama kehidupan.Respon inflamasi berkurang. asidosis respiratorik dapat terjadi. Penyimpanan zat besi ibu cukup memadai bagi bayi sampai 5 bulan kehidupan ektrauterin.1. 2005) 1. sclera. Bayi baru lahir tidak dapat membatasi organism penyerang di pintu masuk 2. Imaturitas sejumlah system pelindung secara signifikan meningkatkan risiko infeksi pada periode bayi baru lahir . belum berkembang dengan baik sampai 3 atau 4 minggu. Bobak. sel-sel ini tidak aktif selama beberapa bulan. yang mengakibatkan peningkatan produksi asam. Asidosis metabolic terjadi dan jika terdapat defek fungsi pernapasan.IgA hilang dari saluran pernapasan dan perkemihan. Selama periode neonates. baik secara kualitatif maupun kuantitatif . pada saat ini bayi baru lahir menjadi rentan terhadap defisiensi zat besi 4. Hati juga mengontrol jumlah bilirubin tak terkonjugasi yang bersirkulasi. Adaptasi fisiologis system imun (Stright. Namun.

Jumlah ovum berkurang sekitar 90% sejak bayi lahir sampai dewasa. Genitalia eksterna biasanya edematosa disetai pigmentasi lebih banyak (Bobak.  System skelet . Sel-sel ini mengandung komplemen lengkap ova yang matur karena tidak berbentuk oogonia lagi setelah bayi cukup bulan lahir. Bayi yang menyusu mendapat kekebalan pasif dari kolostrum dan ASI. Infeksi merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas selama periode neonates  Sistem Integumen Semua struktur kulit bayi sudah terbentuk saat lahir. setelah itu warna kulit memucat menjadi warna normal. ukuran genitalia eksterna BBL cukup bulan dapat meningkat begitupun dengan pigmentasinya (Bobak. bersifat sementara dan bertahan selama 7-10 hari. pada usia 1 tahun insiden testis tidak turun pada semua anak laki-laki berjumlah < 1%. Bayi mulai mensintesis IgG dan mencapai sekitar mencapai sekitar 40% kadar IgG orang dewasa pada usia 1 tahun. Tangan dan kaki terlihat sedikit sianotik. statis kapiler. 2005). Sebagai respon terhadap estrogen ibu.  Sistem reproduksi . 2005). Epidermis dan dermis tidak terikat dengan baik dan sangat tipis. Warna kebiruan ini disebabkan oleh ketidakstabilan vasomotor. terutama di sekitar ekstremitas. Preposium yang ketat seringkali dijumpai pada BBL. Korteks ovarium (terdiri dari folikel primordial) membentuk bagian ovarium yang lebih tebal daripada orang dewasa. Keadaan ini normal. dan kadar Hb yang tinggi.Peningkatan kadar estrogen selama hamil mengakibatkan pengeluaran suatu cairan mukoid atau bercak darah melalui vagina (pseudomenstruasi). Walaupun presentasi ini menurun pada kelahiran premature.Pria Testis turun ke dalam skrotum pada 90% bayi baru lahir laki-laki. 4. tetapi masih belum matang. Kulit bayi sangat sensitive dan dapat rusak dengan mudah. 5. Verniks kaseosa juga berfusi dengan epidermis dan berfungsi sebagai lapisan pelindung.Wanita Saat lahir ovarium bayi berisi beribu-ribu sel germinal primitive. . Kulit sering terlihat berbercak.3. Bayi cukup bulan memiliki kulit kemerahan (merah daging) beberapa jam setelah lahir. Spermatogenesis tidak terjadi sampai pubertas. 2005). terutama bila terpajan dingin (Bobak. sedangkan kadar orang dewasa dicapai pada usia 9 bulan.

terutama pada bayi yang mengalami gangguan (Bobak. 2005). dan penyerapan energi (kalori) mungkin berlebihan. Lengan sedikit lebih panjang daripada tungkai. jika dibandingkan insulasi pada orang dewasa.Arah pertumbuhan sefalokaudal terbukti pada pertumbuhan tubuh secara keseluruhan. Mekanisme kehilangan panas tubuh pada bayi baru lahir Pengaturan Suhu: Mekanisme pengaturan suhu tubuh pada bayi baru lahir masih belum efisien dan lemah. Perubahan temperatur lingkungan akan mengubah termperatur darah. Bayi baru lahir memproduksi panas terutama melalui upaya termogenesis tanpa menggigil e. radiasi dan konduksi. Pembuluh darah lebih dekat ke permukaan kulit. Kontrol vosomotor bayi baru lahir belum berkembang dengan baik. b. Simpanan lemak yang tersedia dapat digunakan sebagai produksi panas. Insulasi suhu pada bayi baru lahir kurang. sehingga mempengaruhi pusat pengaturan suhu di hipotalamus. Kelenjar keringat bayi baru lahir hampir tidak berfungsi sampai minggu ke empat setelah bayi lahir (Bobak. Bayi prematur atau berat badan sangat rendah rentan terhadap terjadinya hipotermia (Bobak. 2005). Pada BBL. . Perbedaan antomi dan fisiologis antara bayi baru lahir dan orang dewasa ialah: a. kemampuan untuk mengonstriksi pembuluh darah subkutan dan kulit sama baik pada bayi prematur dan pada orang dewasa d. 2005). dikeringkan dan dibungkusdengan hangat. sehingga tungkai bawah terlihat agak melengkung. Bayi normal mungkin mencoba untuk meningkatkan suhu tubuh dengan menangis atau meningkatkan aktivitas motorik dalam berespon terhadap ketidaknyamanan karena suhu lingkungan lebih rendah. evaporasi. Kepala bayi sukup blan berukuran ¼ panjang tubuh. sehingga penting untuk mempertahankan suhu tubuh agar tidak terjadi hipotermi. Saat baru lahir tidak terlihat lengkungan pada telapak kaki (Bobak. lutut saling berjauhan saat kaki diluruskan dan tumit disatukan. Hal ini dapat dihindari bila bayi dilahirkan dalam lingkungan dengan suhu sekitar 25-280C. 3. Posisi fleksii bayu baru lahir diduga berfungsi sebagai sistem pengaman untuk mencegah pelepasan panas karena sikap ini mengurangi pemajanan permukaan tubuh pada suhu lingkungan c. 2005). Rasio permukaan tubuh bayi baru lahir lebih besar terhadap berat badan. Menangis meningkatkan beban kerja. Wajah relative kecil terhadap ukuran tengkorak. Proses kehilangan panas pada bayi dapat melalui proses konveksi.

Kecepatan pernapasan meningkat sebagai respons terhadap kebutuhan oksigen ketika konsumsi oksigen meningkat secara bermakna pada stress dingin. Kelebihan asam lemak menggeser bilirubin dari tempat ikatan albumin. apabila stress dingin ini memanjang. Hal ini menyebabkan kadar bilirubin tidak terikat meningkat dalam darah. dapat terjadi juga asidosis respiratorik. tanpa memandang usia kehamilan dan kondisi lain. Hal ini juga dikenal dengan penyakit membran hialin. Selain itu. penurunan perfusi paru dan tegangan oksigen dapat mempertahankan atau membuka kembali pirau kanan ke kiri pada duktus arteriosus yang paten (Bobak. 2005).keadaan ini meningkatkan risiko terjadinya kernik-terus. terjadi vasokonstriksi yang mengganggu perfusi paru. terjadi glikolisis anaerobik yang menyebabkan peningkatan produksi asam. stress dingin ini dapat menyebabkan asidosis metabolik dan hipoglikemia (Bobak. Tabel Mekanisme kehilangan panas pada bayi baru lahir Definisi Implikasi Keperawatan Konveksi : Aliran panas dari permukaan tubuh ke Pertahankan suhu udara di ruang rawat sekitar 240 udara yang lebih dingin C bungkus bayi untuk melindunginya dari dingin . menyebabkan peningkatan pada aktivitas metabolik dan peningkatan penggunaan oksigen. 2005). Kecepatan metabolisme basal meningkat pada stress dingin . perubahan metabolisme aerob kepada anaerob terjadi. 2005). Stress dingin (cold stress) menimbulkan masalah fisiologis dan metabolisme pada semua bayi baru lahir. menyebabkan efek samping hipoksia pada jaringan dan asidosis metabolik dari penumpukan asam laktat. kebutuhan energi yang meningkat menyebabkan penggunaan glukosa bertambah. Apabila bayi baru lahir tidak dapat mempertahankan tegangan oksigen yang adekuat. Konsumsi oksigen dan energii pada bayi baru lahir yang mengalami stress dingin dialihkan dari fungsi untuk mempertahankan pertumbuhan. Pada keadaan kekurangan suplai oksigen.Stress Dingin adalah keadaan apabila suhu tubuh lebih rendah dari batas normal. dan fungsi jantung normal menjadi fungsi termogenesis agar bayi tetap dapat hidup (Bobak. Terjadilah metabolik asidosis dan jika terdapat gangguan fungsi pernapasan. Selain itu. Perubahan ini dapat menyebabkan distress pernapasan atau sindrom distress pernapasan (respiratory distress syndrome) yang sudah ada menjadi semakin berat. walaupun kadar bilirubin serum sama atau kurang dari 10 mg/dl (Bobak. Akibatnya kadar gas PO2 dalam darah arteri menurundan pH darah merosot. Oleh itu. 2005). fungsi sel otak.

Jensen. evaporasi dengan cepat dalam lingkungan udara yang hangat dari kulit tubuh ). Penguapan yang tidak terlihat disebut juga kehilangan air yang tidak dirasakan (insesible water loss [ IWL]) Konduksi : kehilangan panas dari permukaan tubuh Begitu lahir. bungkus bayi dengan selimut hangat.Radiasi : kehilangan panas dari permukaan tubuh ke Letakkan tempat tidur bayi dan meja periksa jauh permukaan padat lain yang lebih dingin tanpa dari jendela kontak langsung satu sama lain. Lowdermilk. Table 1. sebagian besar menunjukkan tahap perkembangan susunan somatomotorik sehingga banyak sekali informasi yang dapat diperoleh dengan melakukan pemeriksaan tersebut.Usia mulai dan menghilangnya refleks pada bayi dan anak normal Jenis refleks Refleks MORO Refleks memegang (GRASP)  PALMAR  PLANTAR Refleks SNOUT Refleks TONIC NECK Refleks berjalan (STEPPING) Reaksi penempatan Sejak lahir Sejak lahir Sejak lahir Sejak lahir Sejak lahir taktil 5 bulan 6 bulan 9-10 bulan 3 bulan 5-6 bulan 12 bulan Usia mulai Sejak lahir Usia menghilang 6 bulan (PLACING RESPONSE) Refleks Terjun (PARACHUTE) Refleks LANDAU 8-9 bulan 3 bulan Seterusnya ada 21 bulan a. Macam-macam refleks fisiologis pada bayi baru lahir Refleks-refleks yang ditimbulkan pada bayi dan anak. ke permukaan yang lebih dingin melalui kontak tempatkan di tempat tidur yang hangat langsung satu sama lain (Bobak. tetapi dalam kontak yang relatif dekat Evaporasi : kehilangan panas yang terjadi ketika Keringkan bayi setelah lahir. Refleks MORO . mandi dan keringkan cairan berubah menjadi gas (misalnya. 2005) 4.

Refleks palmar grasp asimetris menunjukkan adanya kelemahan otot-otot fleksor jari tangan yang dapat disebabkan akibat adanya palsi pleksus brakhialis inferior atau yang disebut klumke’s paralyse. juga pada bayi hipotoni. perdarahan intracranial dan laserasi jaringan otak akibat trauma persalinan. Caranya : Bayi dibaringkan terlentang. Apabila asimetri terjadi pada tangan dan kaki kita harus mencurigai adanya hemiparesis. Refleks PALMAR GRASP Caranya: Bayi atau anak ditidurkan dalam posisi supinasi. Sedangkan refleks MORO menurun dapat ditemukan pada bayi dengan fungsi SSP yang tertekan misalnya pada bayi yang mengalami hipoksia. secara tiba-tiba tapi hati-hati kepala bayi dijatuhkan 30-450 (merubah posisi badan anak secara mendadak). Refleks Palmar Grasp ini dijumpai sejak lahir dan menghilang setelah usia 6 bulan. Refleks moro juga dapat ditimbulkan dengan menimbulkan suara keras secara mendadak ataupun dengan menepuk tempat tidur bayi secara mendadak ataupun dengan menepuk tempat tidur bayi secara mendadak. c. hipertoni dan premature. Refleks palmar Grasp dikatakan positif apabila didapatkan fleksi seluruh jari (memegang tangan pemeriksa). Refleks moro asimetri menunjukkan adanya gangguan system neuromuscular antara lain pleksus brakhialis. Refleks refleks plantar grasp negative dijumpai pada bayi atau anak dengan kelainan pada medulla spinalis bagian bawah. Gerakan itu segera diikuti oleh adduksi-fleksi keempat ekstremitas. Refleks moro menghilang setelah bayi berusia > 6 bulan b. Dengan memakai jari telunjuk pemeriksa menyentuh sisi luar tangan menuju bagian tengah telapak tangan secara cepat dan hati-hati sambil menekan permukaan telapak tangan. kecuali pada falangs distal jari telunjuk dan ibu jari yang dalam keadaan fleksi. Refleks PLANTAR GRASP Caranya : bayi atau anak ditidurkan dalam posisi supinasi kemudian ibu jari tangan pemeriksa menekan pangkal ibu jari bayi atau anak di daerah plantar. Refleks moro dikatakan positif bila terjadi abduksi-ekstensi keempat ekstremitas dan pengembangan jari-jari. Refleks plantar grasp dikatakan positif apabila didapatkan fleksi plantar seluruh jari kaki. kepala menghadap ke depan dan tangan dalam keadaan setengah fleksi. kemudian diposisikan setengah duduk dan disanggah oleh kedua telapak tangan pemeriksa. Nyeri yang hebat akibat fraktur klavikula atau humerus juga dapat memberikan hasil refleks MORO asimetri.Releks moro timbul akibat dari rangsangan yang mendadak. Refleks ini . Refleks palmar grasp yang menetap setelah usia 6 bulan khas dijumpai pada penderita cerebral palsy.

kemudian kepalanya diarahkan menoleh ke salah satu sis. kemudian bagian dorsal kaki bayi disentuhkan pada tepi meja periksa. e. g. d. Gangguan yang terjadi biasanya pada ganglion basalis. Respon dikatakan positif bila bayi meletakkan kakinya pada meja periksa. Refleks ini dikatakan positif apabila lengan dan tungkai yang dihadapi/ sesisi menjadi hipertoni dan ekstensi. hipertoni. Refleks TONIC NECK Caranya : bayi atau anak ditidurkan dalam posisi supinasi. hipotoni. Refleks tonic neck yang masih mantap pada bayi berusia 4 bulan harus dicurigai abnormal. bayi dipegang pada daerah torax dengan kedua tangan pemeriksa. Refleks Terjun (PARACHUTE) Caranya: Bayi dipegang pada daerah thorax dengan kedua tangan pemeriksa dan kemudian diposisikan seolah-olah akan terjun menuju meja periksa dengan posisi kepala lebih rendah dari kaki. h. Refleks berjalan tidak dijumpai atau negative pada penderita cerebral palsy. dan keadaan dimana fungsi SSP tertekan. Kemudian pemeriksa mendaratkan bayi dalam posisi berdiri di atas tempat periksa. Refleks Berjalan (STEPPING) Caranya. mental retardasi. Refleks ini menghilang setelah usia 5-6 bulan. f. Pada bayi berusia < 3 bulan. Reaksi Penempatan Taktil (PLACING RESPONSE) Caranya : seperti pada refleks berjalan. Dan apabila masih bisa dibangkitkan setelah berusia 6 bulan atau lebih harus sudah dianggap patologik. Refleks SNOUT Caranya : dilakukan perkusi pada daerah bibir atas. Respon negative dijumpai pada bayi dengan paralise ekstremitas bawah. Refleks SNOUT dikatakan positif apabila didapatkan respon berupa bibir atas dan bawah menyengir atau kontraksi otot-otot di sekitar bibir dan di bawah hidung. Kemudian diikuti oleh kaki lainnya dan kaki yang sudah menyentuh alas periksa akan berekstensi seolah-olah melangkah untuk melakukan gerakan berjalan otomatis. Refleks terjun dikatakan positif apabila kedua lengan bayi diluruskan dan jari-jari kedua tangan dikembangkan seolah-olah hendak mendarat di atas meja periksa dengan kedua . Refleks SNOUT ini dijumpai sejak lahir dan menghilang setelah usia 3 bulan. Refleks SNOUT yang menetap pada anak besar menunjukkan adanya regresi SSP. sedangkan lengan dan tungkai sisi lainnya/dibelakangi menjadi hipertoni dan fleksi. salah satu kaki yang menyentuh alas tempat periksa akan berjingkat sedangkan pada yang berusia >3 bulan akan menapakkan kakinya. mulai menghilang usia 9 bulan dan pada usia 10 bulan sudah menghilang sama sekali.dijumpai sejak lahir.

nenek moyang atau orang tua. 2005). preeklamsia. pemeriksaan Tuberculosis (TB). Hasil tes laboratorium ibu Golongan darah dan faktor Rh. obat-obatan yang dikonsumsi). Identifikasi data : Nama. atau dokter untuk menilai status kesehatan yang dilakukan pada saat bayi baru lahir. diabetes gestasional. jenis pemberian makanan. Refleks negative dijumpai pada bayi tetraplegi atau SSP yang tertekan (Suharso. karena pada bayi buta denga fungsi motorik normal akan memberikan hasil yang positif. perawat. 5. latar belakang etnik dan ras. Riwayat ibu Graviditas. sehingga bayi tidak mudah kehilangan panas.tangannya. Pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir DEFINISI Merupakan pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh bidan. RIWAYAT BAYI BARU LAHIR 1. tanggal lahir. kesehatan ayah. hari pertama haid hari terakhir haid (HPHT). pengkajian kesejahteraan janin. penyakit infeksi.Dalam melakukan pemeriksaan fisik ini. Refleks ini tidak dipengaruhi oleh kemampuan visual. riwayat antepartum (khususnya penyalahgunaan zat. pekerjaan. panel hepatitis. Data demografik orang tua : Usia. perdarahan selama kehamilan. penapisan antibody. lama dan lokasi perawatan prenatal. 6. Persalinan dan pelahiran . riwayat ginekologi dan riwayatmedis/bedah. komplikasi kehamilan sebelumnya. 2. infeksi atau penyakit lain. kelainan kongenital. dkk. paritas. nilai Hb dan Ht. jenis kelamin. 4. saudara kandung dan anggota keluarga lain : kondisi medis atau sifat yang “diturunkan dari generasi ke generasi dalam keluarga”. TUJUAN Secara umum. taksiran partus (TP). tujuan dilakukannya pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir adalah untuk menilai status adaptasi atau penyesuaian kehidupan intrauteri ke dalam kehidupan ekstrauteri serta mencari kelainan pada bayi. 24 jam setelah lahir. dan pada waktu pulang dari Rumah Sakit. 5. kelaianan kardiopulmonal. titer rubella. Riwayat keluarga : Diabetes. Refleks terjun mulai tampak pada usia 8-9 bulan dan menetap. polihidramnion atau oligohidramnion. nomor pasien sakit. pendidikan. sebaiknya bayi dalam keadaan telanjang dibawah lampu terang. serologi. 3.

3. golongan darah. 8. Hitung frekuensi nafas Pemeriksaan frekuensi nafas ini dilakukan dengan menghitung rata-rata pernapasan dalam 1 menit. Hasil tes laboratorium Kadar glukosa. cara melahirkan . 2. mengeluarkan tangisan yang tidak lazim. . inersi tali pusat . analgesia dan waktu . lama ketuban pecah . gawat janin atau asidosis . perdarahan. lama kala satu dan dua persalinan .5 – . menyusu . penggunaan alat bantu .Bayi dalam keadaan aterm umumnya lebih pucat dibandingkan bayi dalam keadaan praterm. 4. kemampuan mengisap. ukuran plasenta. maka masih dikatakan dalam batas normal. suhu bayi antara 36. tanda-tanda vital. dan penampilan tali pusat termasuk jumlah pembuluh darah dan ukurannya (Kotor? Berbau?Kelainan?) 7. ikterus. ada meconium . tes Coomb. Lakukan inspeksi pada warna bayi Pemeriksaan ini berfungsi untuk mengetahui apakah ada warna pucat. warna dan bau . suhu. Jika pernapasan berhenti beberapa detik secara periodik. apakah bayi melonjak-lonjak . tetapi apabila bayi dalam keadaan lahir kurang dari 2500 gram atau usia kehamilan  37 minggu. sianosis sentral atau tanda lainnya. Pemeriksaan ini dikatakan normal pada bayi baru lahir apabila frekuensinya antara 30-60 x/menit. resusitasi. factor Rh. anastesi dan komplikasinya . Dalam kondisi normal. mengingat kondisi kulitnya lebih tebal. keterjagaan . seperti suhu tubuh yang tidak normal. . usia gestasi saat melahirkan dengan menggunakan penanggalan dan pemeriksaan USG. komplikasi . Hitung denyut jantung bayi dengan menggunakan stetoskop Pemeriksaan denyut jantung untuk menilai apakah bayi mengalami gangguan yang menyebabkan jantung dalam keadaan tidak normal. tanpa adanya retraksi dada dan suara merintih saat ekspirasi. demam pada ibu . status vitamin K . atau gangguan nafas. Hct PEMERIKSAAN FISIK BAYI BARU LAHIR 1. Periode segera setelah lahir Nilai Apgar.Tanggal dan waktu melahirkan . kemungkinan terdapat adanya retraksi dada ringan. presentasi . Pemeriksaan denyut jantung ini dikatakan normal apabila frekuensinya antara 100-160x/menit. apakah sudah mengeluarkan air kemih atau mekonium . Ukur suhu aksila Lakukan pemeriksaan suhu melalui aksila untuk menentukan apakah bayi dalam keadaan hipo atau hipertermi.

yaitu penurunan kesadaran dimana bayi dapat bangun lagi dengan sedikit kesulitan. Periksa tonus atau kesadaran bayi Pemeriksaan ini berfungsi untuk melihat adanya letargi. di dalam kandungan bayi akan mengalami fleksi penuh pada sendi panggul atau lutut/sendi lutut ekstensi penuh. Akrosianosis (sianosis pada ekstremitas) adalah kondisi yang normal selama satu hari. rapuh. tubuh melengkung kedepan.5. serta ada tidaknya ruam popok  Pemeriksaan ini normal apabila tanda seperti eritema toksikum ( titik merah dan pusat putih kecil pada muka. luka atau trauma. aktivitas berkurang. Sianosis. lebih tebal. kulit tubuh yang terkelupas pada hari pertama.  Kondisi kulit dapat mengindikasikan beberapa kondisi. Bayi postmatur memiliki kulit yang lebih pusat. Selanjutnya pada bayi dengan berat  2500 gram atau usia kehamilan  37 minggu ekstremitasnya dalam keadaan sedikit ekstensi.  Pemeriksaan postur dalam keadaan normal apabila dalam keadaan istirahat kepalan tangan longgar dengan lengan panggul dan lutut semifleksi. mengantuk. mudah terangsang. serta tremor. sehingga kaki bisa mencapai mulut. dan punggung) pada hari kedua atau selanjutnya. Bintik-bintik seperti lobster dapat merupakan kondisi normal. yang tebal. 6. Kaji postur dan gerakan  Pemeriksaan ini untuk menilai ada atau tidaknya epistotonus/ hiperekstensi tubuh yang berlebihan dengan kepala dan tumit belakang. Pemeriksaan kulit  berfungsi untuk melihat ada atau tidaknya kemerahan pada kulit atau pembengkakan. dan sadar. postula (kulit melepuh). adanya kejang / spasme. . ada tidaknya tonus otot yang lemah. Selanjutnya gerakan ekstremitas bayi harusnya terjadi secara spontan dan simetris disertai dengan gerakan sendi penuh dan pada bayi normal dapat sedikit gemetar. Bayi prematur memiliki kulit tipis. Apabila bayi tidak sungsang. tubuh. 7. bercak atau tanda abnormal pada kulit. Kadang-kadang sulit dievaluasi karena polistemia pada bayi baru lahir. elastisitas kulit. yang cenderung berwarna merah gelap yang mudah berdarah serta mudah memar. dapat dimunculkan dengan menekan-nekan kulit bayi seperti saat memeriksa adanya ikterik. terjadi akibat system organ yang tidak matur. yang dapat mengelupas.

dapat menunjukkan polisitemia. . Area merah terlihat pada membran mukosa. lengan kanan. tetapi bisa juga karena penyakit yang serius dan bayi yang memiliki kulit berbintik-bintik harus diobservasi dengan cermat. Garis demarkasi menghilang jika duktus membuka dan tahanan pembuluh darah perifer menurun. Verniks yang terkena meconium terjadi dalam 15 jam setelah terpajan meconium kuku-kuku jari terkena dalam 6 jam. - Pletora. - Palor. - Terkstur dan edema. dan dada kanan berwarna merah muda. Diakibatkan perubahan suhu kulit sementara. asfiksia. Edema dapat dibedakan dari status nutrisi cukup dengan keberadaan keriput halus dipergelangan tangan dan pergelangan kaki. - Terkena meconium. atau shock.catat kadarnya. pigmentasi. jika duktus belum menutup. - Bintik-bintik. Kepala bayi. kelembapan. lanugo merupakan bukti trauma lahir. - Lesi. Dikaji dengan cara menekan-nekan kulit sesaat.- Ikterik. memudar pada telapak kaki dan telapak tangan. Dapat mengindikasikan edema. bagian tubuh lainnya pucat atau sianosis. Dimulai dari kepala kemudian kebawah -.

.

8. Pemeriksaan kepala dan leher Pemeriksaan bagian kepala yang dapat diperiksa antara lain :  Kepala Selama pemeriksaan kepala, periksa hal-hal berikut: 1) Bentuk dan kesimetrisan 2) Proporsi terhadap tubuh dan wajah 3) Lingkar kepala (diukur di titik di atas telinga). Lingkar ini akan berubah jika molase hilang. Lingkar kepala normal adalah 32-38 cm pada rata-rata bayi cukup bulan.

Lingkar kepala melebihi lingkar abdomen sampai usia kehamilan 32-36 minggu, kemudian akan menjadi lebih kecil. Kepala yang berukuran sangat besar dapat mengindikasikan hidrosefalus. 4) Sutura sagitalis, lambdoidalis, dan koronalis. Penutupan garis sutura prematur disebut sinostosis kranial: sutura tidak menyatu jika sisi lain tertekan. Area-area lunak pada tulang parietal di sepanjang sutura sagitalis disebut kraniotabes dan terlihat pada bayi premature dan mereka yang mengalami kompresi uterus. Kraniotabes biasanya tidak bermakna, tetapi harus diselidiki jika menetap. Area-area lunak pada oksiput signifikan dan, jika ada, osteogenesis imperfekta, sindrom Down, kretinisme, dan kondisi-kondisi lain harus disingkirkan. 5) Fontanel anterior berbentuk wajik memiliki ukuran 20 ±10 mm, tetapi ada banyak variasi dan ukuran fontanel tidak signifikan. Fontanel menutup pada usia 9-16 bulan. Fontanel posterior, yang berbentuk segi tiga, dapat menutup pada saat bayi lahir atau pada sekitar usia 4 bulan. Ukuran rata-ratanya adalah 1x1 cm. Fontanel harus datar: penonjolan mengindikasikan peningkatan tekanan intrakranial dan depresi mengindikasikan dehidrasi. 6) Terdapat molase (tumpang tindih tulang oksipital dan pelahiran, perdarahan subperiosteum ini terbatas pada satu tulang, biasanya tulang parietal, dan tidak menindih sutura. Sefalohematoma ini berlangsung sekitar 8 minggu. 7) Kaput suksedaneum adalah pembengkakan kulit kepala, yang terlihat melalui serviks. Memar dapat terlihat. Kaput dapat menindih garis sutura.  Rambut 1) Tekstur, arah pertumbuhan. 2) Distribusi. Rambut di bawah lipatan leher mengesankan sindrom-sindrom yang berhubungan dengan leher pendek dan/atau webbed neck. 3) Lesi kulit kepala. Aplasia kutis kongenita merupakan suatu kelainan kulit kepala. 4) Warna. Perhatikan keserasian dengan ras. Rambut merah pada bayi kulit hitam, misalnya dapat menunjukkan albinisme. Perhatikan keseragaman. Sejumput rambut putih tepat di atas kening, misalnya, dapat dihubungkan dengan ketulian dan retardasi mental.  Wajah

1) Bentuk dan ekspresi 2) Bulu mata dan alis mata 3) Simetris pada saat istirahat dan selama menangis dan mengisap. Ketidaksimetrisan dapat terjadi akibat hypoplasia atau palsi pada saraf ketujuh.  Mata Pemeriksaan mata untuk menilai adanya strabismus atau tidak, yaitu koordinasi gerakan mata yang belum sempurna.Mata paling mudah diperiksa dengan mengangkat bayi dan perlahan menggerakkannya ke depan dan ke belakang. Pada saat ini, bayi akan secara spontas dan reflex membuka matanya. 1) Letak dan kesimetrisan. Mata yang terpisah jauh dapat dihubungkan dengan sindrom kongenital. 2) Ukuran. Ukuran yang normal adalah 2,5 cm. mata berukuran besar disebut hipertelorisme; sedangkan mata berukuran kecil disebut hipotelorisme. Keduanya dihubungkan dengan sindrom kengenital. 3) Posisi. Lipatan ke atas atau ke bawah mengindikasikan sindrom kengenital. 4) Ukuran dan kejernihan kornea. 5) Warna iris. Pigmentasi penuh terjadi pada usia 10-12 bulan. 6) Sklera. Pada kondisi normal jernih, tetapi bisa berwarna kuning disertai ikterik, hemoragik akibat trauma lahir, atau berwarna biru diserta osteogenesis imperfekta. 7) Konjungtiva. Perdarahan kecil sering terjadi. Peradangan bisa muncul akibat profilaksis eritromisin. 8) Pupil. Sama dan reaktif setelah usia 2-3 minggu. Pupil berukuran 1,8-5,4 mm. 9) Refleks mengedipoptikal yang simetris. Cahaya terang menyebabkan kedua mata mengedip dan kepala dorsifleksi. Tes refleks ini lebih sering dilakukan disbanding tes ketajaman penglihatan. Penglihatan bayi baru lahir diperkirakan sekitar 20/600. 10) Mata boneka. Ketika kepala berpaling, mata bergerak dari garis tengah lalu melihat ke atas; dinyatakan normal selama 10 hari. 11) Refleks merah. Tidak ada pada katarak. 12) Korneamenunjukkan reaksi terhadap cahaya dan mengikuti jejak cahaya. 13) Strabismus sementara (mata juling). 14) Ada lipatan epikantus. Dapat dihubungkan dengan defek kongenital. 15) Retina. Harus jernih pada pemeriksaan oftalmoskopik.

Lipatan kulit pedunkulat dapat diikat kuat pada bagian dasar dengan jahitan.  Hidung 1) Posisi dan bentuk. Verniks kaseosa terlihat di dalam saluran luar atau cairan amnion terlihat di belakang membrane timpani berwarna abu-abu kusam. 1) Simetris dan sejajar 2) Lipatan kulit atau lubang berlebih. dan kepatenan. 2) Lubang hidung. apakah bayi bernapas melalui mulut. 5) Otoskopi dilakukan dengan menarik daun telinga ke bawah.yang menyebabkan gawat napas berat pada bayi. Posisi menyimpang dari garis tengah atau tulang hidung yang mendatar atau bengkok dapat mengindikasikan sindrom kongenital. dan sindrom lain yang terkait dengan tuli. atau mata terlihat lebar. Dilakukan dengan membunyikan bel atau suara jika terjadi refleks terkejut. kesimetrisan. maka kemungkinan bayi mengalami obstruksi jalan napas karena adanya atresia koana bilateral atau fraktur tulang hidung atau ensefalokel yang menonjol ke nasofaring. apabila tidak terjadi refleks. menonjol. Khususnya pada kasus kelainan kepala dan leher. Lubang hidung yang besar. maka kemungkinan akan terjadi gangguan pendengaran. Satu lubang hidung tersumbat pada satu waktu dan pernapasan terlihat melalui lubang hidung yang terbuka sehingga menyingkirkan kemungkinan atresia koanal --. 4) Pendengaran. Perhatikan edema atau ptosis (jatuh). atau ketiadaan lubang hidung dapat terjadi pada kelainan kongenital. terlihat terkejut sebagai respons terhadap suara keras. kornea buram. riwayat tuli pada keluarga. 17) Kelopak mata. Pemeriksaan hidung dapat dilakukan dengan cara melihat pola pernapasan. Pembentukan kartilago mengindikasikan maturitas. asfiksia berat.16) Duktus lakrimalis. infeksi janin. Bayi menengok kea rah bisikan. Dikaji untuk melihat bentuk.  Telinga Pemeriksaan telinga dapat dilakukan untuk menilai adanya gangguan pendengaran. Dibuktikan oleh fotofobia. air mata berlebihan. berat lahir sangat rendah. Harus paten. 18) Glaucoma kongenital. 3) Bentuk.penyumbatan nares posterior --. Sedangkan pernapasan cuping hidung akan menunjukkan .

Apabila secret makropurulen dan berdarah.  Mulut 1) Ukuran dan bentuk. 6) Bibir. Gusi yang tumbuh sebelum waktunya jarang ditemui pada mulut bayi baru lahir normal dan akan tanggal sebelum gigi susu muncul. palatum.Apabila ditemukan lidah yang menjulur keluar. gigi juga dapat muncul pada beberapa sindrom kengenital. Filtrum yang memanjang (alur dari hidung hingga bibir atas) dapat mengindikasikan sindrom kongenital. 9) Membrane mukosa. mikrostomia. apakah terjadi penumpukan pigmenyang tidak sempurna. terlihat pada gangguan metabolik. dan pipi biasanya disebut sebagai monilia albicans. 4) Ukuran dan fungsi uvula. Mulut seperti burung terlihat pada sindrom alcohol. Proporsinya harus tepat. 5) Refleks. dan mulut yang lebar. terlihat pada sindrom down.Pemeriksaan lidah dapat dinilai melalui warna dan kemampuan refleks mengisap. 10) Dagu. 7) Ukuran lidah. perlu dipikirkan adanya penyakit sifilis kongenital dan kemungkinan lain. 8) Gusi. Gusi juga perlu diperiksa untuk menilai adanya pigmen pada gigi. Refleks rooting terlihat sejak usia kehamilan 34 minggu hingga 3-4 bulan. uvula akan naik ketika bayi menangis. Harus terbentuk penuh. 3) Palatum melengkung utuh. Perhatikan kelembapan. makrostomia. Makroglosia dihubungkan dengan hipotiroidisme. Sariawan diidentifikasi dengan adanya bercak putih dan abu-abu. mulut kecil. lubang hidung kadang-kadang banyak mukosa. Refleks gag harus ada.  Lidah .gangguan pada paru. Refleks mengisap terlihat sejak usia kehamilan 32 minggu hingga 3-4 bulan. Uvula yang bifid (terbelah dua) dapat dihubungkan dengan sumbing palatum submukosa. Pada fungsi neurologis yang normal. 2) Menyeringai simetris. Mikrognatia mengesankan sindrom Pierre-Robin. Pemeriksaan mulut dapat dilakukan dengan melihat adanya kista yang ada pada mukosa mulut. Pengeluaran saliva yang berlebihan mengindikasikan fistula trakeoesofagus atau atresia esophagus.Adanya bercak pada mukosa mulut. dapat dilihat adanya kemumgkinan kecacatan kongenital.

Letak putting yang berjauhan terlihat pada sindrom Turner. 10.1) Perhatikan ukuran. walaupun banyak fraktur tidak terdeteksi sampai kalus terbentuk di atas fraktur pada usia 2-3 minggu. 4) Tiroid. yaitu jumlahnya berlebih atau saling melekat. Pemeriksaan dada  Bentuk dan kesimetrisan  Lingkar dada pada putting susu. Pemeriksaan ekstremitas Pemeriksaan ini berfungsi untuk menilai ada tidaknya gerakan ekstremitas abnormal. proporsi warna. Penyelaputan terjadi pada sindrom turner dan sindrom kongenital lain. panjang frenulum. 3) Lipatan atau penyelaputan kulit. Letak putting susu. 9.  Leher 1) Bentuk. Fraktur klavikula terjadi pada 1. . pembengkakan. Pada bayi keturunan Kaukasia biasanya berhubungan dengan kelainan ginjal.9% bayi cukup bulan. lapisan pelindung. simpanan lemak. asimetris. Rentang pergerakan harus memungkinkan bayi memutar dagu ke tiap-tiap bahu. keberadaan massa 2) Gerakan. Pemeriksaan leher dapat dilakukan dengan melihat pergerakan. maka kemungkinan terjadi kelainan pada tulang leher. hemangioma.  Keberadaan jaringan payudara. Penurunan gerakan pada tangan yang terkena atau menolak disusui ketika bayi berbaring di sisi yang terkena dapat mengindikasikan ketidaknyamanan. nodus limfoideus. Fraktur biasanya terjadi pada 2/3 bagian luar tulang dan dapat dipalpasi dengan bunyi krepitasi. nyeri tekan di sepanjang badan tulang. dll. Dipengaruhi oleh status nutrisi. apabila terjadi keterbatasan dalam pergerakannya. posisi dan gerakan yang abnormal (menghadap ke dalam atau ke luar garis tangan). serta menilai kondisi jari kaki. dan maturitas. Produksi susu (“witches milk”) yang disebabkan oleh estrogen ibu berhenti setelah 1-2 minggu.7 – 2. tonus. Biasanya ditemukan di garis tengah tanpa nodul 5) Klavikula. misalnya kelainan tiroid. Tortikolis kongenital (kepala menekuk ke salah satu bahu sementara dagu mengarah ke bahu lain) ditemukan jika ada hematoma pada otot sternokleidomastoideus akibat cedera lahir. gerakan.

Pemeriksaan abdomen dan punggung .  Tekanan darah. dihitung selama 1 menit penuh. atau lainnya pada tali pusat. Getaran yang terpalpasi pada lengkung suprasternal menunjukkan stenosis aorta. pneumotoraks.  Murmur.  Perkusi. Nadi sempit dan halus mengindikasikan gagal jantung kongenital atau stenosis aorta berat . Bagi bayi baru lahir sampai usia 7 hari. Pada bayi premature. Sinus aritmia (varian teratur yang menyertai pernapasan) adalah temuan normal.Pemeriksaan ini normal apabila warna tali pusat putih kebiruan pada hari pertama dan mulai mongering atau mengecil dan lepas pada hari ke-7 hingga ke-10. Biasaya pernapasan abdomen pada bayi baru lahir . TD sistolik  96 mmHg merupakan hipertensi signifikan dan TD  106 mmHg merupakan hipertensi berat. Untuk bayi usia 8-30 hari. berbau. atau kerusakan nervus frenikus. 11. denyut yang melonjak dapat mengindikasikan PDA. TD sistolik  104 mmHg merupakan hipertensi signifikan dan TD  110 mmHg merupakan hipertensi berat. Sebagian besar murmur yang terdengar pada hari-hari pertama kehidupan mencerminkan perubahan neonatal. PDA.  Nadi. bernanah. 12.  Pernapasan. Pemeriksaan tali pusat Pemeriksaan ini untuk melihat apakah ada kemerahan. Dada yang tidak mengembang simetris.  Bunyi jantung. denyut jantung rata-rata 140-150 x/menit pada saat istirahat. Denyut jantung rata-rata adalah 110-160 x/menit pada bayi cukup bulan yang sehat. atau koarktasio aorta. paru bayi baru lahir pada kondisi normal hiperresonan di seluruh bidang paru suara redup dapat mengindikasikan ada efusi atau konsolidasi. Murmur yang terdengar pada saat lahir memiliki resiko 1 : 12 karena penyakit jantung kongenital. Dalam kondisi normal terdapat di garis midklavikula kiri pada ruang interkosta keempat. Frekuensi napas  60 x/menit mengindikasikan adanya penyakit. Kesimetrisan pengembangan. Nada terdengar lebih tinggi daripada yang terdengar pada orang dewasa. Dikaji dengan menggunakan 1 jari. stenosis paru valvular. variasi dapat mengesankan kelainan jantung. frekuensi normalnya adalah 30-60 x/menit. 60 % bayi baru lahir mengalami murmur. bengkak. menandakan hernia diafragmatik.  Titik impuls maksimum (PMI).

maka bayi tersebut mengalami mikrosefalus. maka bayi dimasukkan dalam kelompok makrosomia. apabila ditemukan berat badan  2500 gram. cara pemeriksaannya adalah dengan meletakkan bayi dalam posisi tengkurap. maka dapat dikatakan bayi memiliki berat badan lahir rendah (BBLR). dapat diduga kemungkinan disebabkan karena hepatosplenomegali atau cairan dalam rongga perut. dimana berat badan yang normal adalah sekitar 2500-3500 gram. Bagian-bagian ginjal dapat diraba sekitar 2-3 cm. batas bawah ginjal dapat diraba setinggi umbilicus diantara garis tengah dan tepi perut. lubang uretra dan lubang vagina seharusnya terpisah.  Pengukuran antropometri lainnya adalah pengukuran panjang badan secara normal :  panjang badan bayi baru lahir adalah 45-50 cm pengukuran lingkar kepala normalnya adalah 33-35 cm pengukuran lingkar dada normalnya adalah 30-33 cm. apabila didapatkan abdomen membuncit. namun apabila . Pemeriksaan pada abdomen ini meliputi pemeriksaan secara inspeksi untuk melihat bentuk dari abdomen. atau thrombosis vena renalis. maka bayi mengalami hidrosefalus dan apabila diameter kepala lebih kecil 3 cm dari lingkar dada. Apabila ditemukan diameter kepala lebih besar 3 cm dari lingkar dada. apabila ditemukan bayi dengan berat badan lahir  3500 gram. sehingga medulla spinalis dan selaput otak menonjol). hati biasanya teraba 2-3 cm di bawah arkus kosta kanan. Raba sepanjang tulang belakang untuk mencari ada atau tidaknya kelainan seperti spina bifida atau mielomeningeal (defek tulang punggung. Pemeriksaan genitalia  Pemeriksaan genitalia ini berfungsi untuk mengetahui keadaan labium minor yang tertutup oleh labia mayor. Akan tetapi. limfa teraba 1 cm dibawah arkus kosta kiri. Pada palpasi ginjal dapat dilakukan dengan pengaturan posisi telentang dan tungkai bayi dilipat agar otot-otot dinding perut dalam keadaan relaksasi. 13. 14.  Untuk menilai daerah punggung atau tulang belakang.   Pada perabaan. adanya pembesaran pada ginjal dapat disebabkan oleh neoplasma. Pengukuran antopometri  Pada bayi baru lahir perlu dilakukan pengukuran antopometri seperti berat badan. kelainan bawaan.

kelainan yang terdapat pada bayi adalah adanya hipospadiayang merupakan defek di bagian ventral ujung penis atau defek sepanjang penisnya. Epispadia merupakan kelainan defek pada dorsum penis. (sumber : Wong Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. yang diterapkan pada 1 menit dan pada 5 menit setelah lahir yang terdiri dari 5 komponen yaitu pernafasan. DILAKUKAN PADA • 1 menit kelahiran Skor Apgar 1 menit yaitu digunakan untuk mengidentifikasi perlu tidaknya resusitasi segera. tonus otot & iritabilitas reflek. seorang ahli anak bernama Dr Joseph Butterfield membuat akronim dari APGAR yaitu Appearance (Warna kulit). secara normal panjang penis pada bayi adalah 3-4 cm dan 1-1.Pemeriksaan ini normal apabila bayi mengeluarkan feses cair antara 6-8 kali per menit. frek. jantung. 15. Cara menilai APGAR Score Pertumbuhan dan perkembangan bayi di luar kandungan dapat dinilai dengan apgar. hal tersebut karena pengaruh hormon. Perangkat yang digunakan untuk menilai dinamakan skor apgar. Vol. Grimace (Respon Refleks).Adanya perdarahan pervaginam pada bayi baru lahir dapat terjadi selama beberapa hari pada minggu pertama kehidupan (MNH-JHPEGO. A. DEFINISI  Suatu alat bantu yang berguna untuk mengevaluasi perlu tidaknya bayi mendapat resusitasi. penolong persalinan biasanya langsung melakukan penilaian terhadap bayi tresebut.1) 6. Pada tahun 1962. • Menit ke-5 .3 cm untuk lebarnya.  Pada masing-masing komponen diberi skor 0. Pemeriksaan urine dan tinja Pemeriksaan urine dan tinja bermanfaat untuk menilai ada atua tidaknya diare serta kelainan pada daerah anus. 1 atau 2 B. Virginia Apgar. Pulse (denyut jantung). skor ini dipublikasikan pada tahun 1952. warna. dapat dicurigai apabila frekuensi meningkat serta adanya lendir atau darah. 2002).ditemukan satu lubang maka didapatkan terjadinya kelainan dan apabila ada sekret pada lubang vagina.  Pada bayi laki-laki sering didapatkan fimosis. Kata apgar diambil dari nama belakang penemunya yaitu Dr. Activity (tonus otot) and Respiration (Pernapasan). Sesaat setelah bayi lahir.Sebagian besar bayi saat lahir berada dalam kondisi sempurna.

dan warna pucat hingga biru. Namun denyut jantung dan iritabilitas refles baik. PENILAIAN Setiap variabel dinilai : 0. System Penentuan Skor Apgar yang Diterapkan pada 1 menit dan 5 menit Setelah Lahir Sumber : Williams Manual of Obstetrics. Jumlahkan hasilnya Lakukan tindakan dengan cepat & tepat sesuai dengan hasilnya Ulangi pada menit kelima Ulangi pada menit kesepuluh Dokumentasikan hasil & lakukan tindakan yang sesuai D. 1 dan 2 Nilai tertinggi adalah 10   Nilai 7 –10 Nilai 4 –6 menunjukkan bahwa bayi dalam keadaan baik pada 1 menit memperlhatkan depresi pernapasan. edisi 23 C. nilai APGAR pada 1 menit pertama dengan cepat & simultan. dan terutama perubahan pada skor 1 dan 5 menit merupakan indeks yang bermanfaat untuk menilai efektifitas upaya resusitasi. fleksiditas.Skor Apgar 5 menit.Usia gestasi merupakan faktor penting yang mempengaruhi skor Apgar. . PROSEDUR PENILAIAN APGAR       Pastikan pencahayaan baik Catat waktu kelahiran.

patofisiologi. Perhatian : SKOR APGAR TIDAK DAPAT DIGUNAKAN UNTUK MEMPERKIRAKAN PROGNOSIS NEUROLOGIS JANGKA PANJANG. (Sumber :Williams Manual of Obstetrics. epidemiologi. dalam kasus ini mukosanya utuh dengan belahan mengenai tulang dan jaringan otot palatum. Kadang-kadang terlihat suatu belahan submukosa. bibir atas bagian kanan dan bagian kiri tidak tumbuh bersatu. pemeriksaan dignostik. factor risiko. 2. Suatu klasifikasi berguna membagi struktur-struktur yang terkena menjadi : 1. dan penatalaksanaan medis) 1. DEFINISI Merupakan deformitas daerah mulut berupa celah atau sumbing atau pembentukan yang kurang sempurna semasa embrional berkembang. LABIOSKIZIS & LABIOPALATOSKIZI a. Kelainan-kelainan pada bayi baru lahir (meliputi definisi. edisi 21) 7. alveolus dan palatum durum serta molle. Palatum sekunder meliputi palatum durum dan molle posterior terhadap foramen. Palatum primer meliputi bibir. termasuk ventilasi buatan. alveolus dan palatum durum dibelahan foramen incisivum. Beratnya belahan dapat sangat bervariasi. Bayi ini sering mudah diidentifikasi dan resusitasi. . bibir. dasar hidung. Nilai 0 – 3 biasanya memperlihatkan denyut jantung yang lambat dan lemah serta depresi atau tidak adanya respon refleks. mengenai salah satu bagian atau semua bagian dari dasar cuping hidung. Suatu belahan dapat mengenai salah satu atau keduanya. manifestasi klinis. harus segera dimulai. palatum primer dan palatum sekunder dan dapat unilateral atau bilateral.

Kemungkinan seorang bayi dilahirkan dengan labioskizis meningkat bila keturunan garis pertama (ibu. Kelainan-kelainan yang dapat menimbulkan hipoksia. Vitamin C pada waktu hamil. Radiasi 5. Namun kelianan ini sangat jarang terjadi dengan frekuensi 1 dari 8000-10000 bayi yang lahir. Ibu yang mengkonsumsi alcohol dan narkotika. termasuk jamu dan kontrasepsi hormonal. Infeksi pada ibu yang dapat mempengaruhi janin contohnya seperti infeksi Rubella dan sifilis. 4. akibat toksisitas selama kehamilan. 2. jantung. kekurangan asam folat. kekurangan vitamin (terutama asam folat) selama trimester pertama kehamilan. Pada penderita bibir sumbing terjadi trisomi 13 atau Sindroma Patau dimana ada 3 untai kromosom 13 pada setiap sel penderita. 6. saudara kandung) mempunyai riwayat labioskizis. misalnya kecanduan alkohol.b. Faktor genetik / keturunan Dimana material genetik dalam kromosom yang mempengaruhi. dan ginjal. ETIOLOGI Di Amerika Serikat dan bagian barat Eropa. Jika terjadi hal seperti ini selain menyebabkan bibir sumbing akan menyebabkan gangguan berat pada perkembangan otak. Terjadi trauma pada kehamilan trimester pertama. toxoplasmosis dan klamidia. para peneliti melaporkan bahwa 40% orang yang mempunyai riwayat keluarga labioskizis akan mengalami labioskizis. Pengaruh obat teratogenik. 8. 3. sehingga jumlah total kromosom pada setiap selnya adalah 47. terapi penitonin. Kurang nutrisi Contohnya defisiensi Zn dan B6. 2008) c. (David Hull&Derek. ayah. atau menderita diabetes akan lebih cenderung melahirkan bayi/ anak dengan labioskizis. Pada setiap sel yang normal mempunyai 46 kromosom yang terdiri dari 22 pasang kromosom non-sex (kromsom 1 s/d 22) dan 1 pasang kromosom sex (kromosom X dan Y) yang menentukan jenis kelamin. 7. Multifaktoral dan mutasi genetik 9. Dimana dapat terjadi karena mutasi gen ataupun kelainan kromosom. Sebagian besar merupakan kelianan sendiri tetapi kelainan ini merupakan bagian kelainan kromosom/ sindrom malformasi yang lain. 1. Diplasia ektodermal . EPIDEMIOLOGI Labioskizis & labiopalatoskizis sering dijumpai dengan insiden 1 dalam 700 kelahiran.

d. Berdasarkan lengkap/tidaknya celah terbentuk  Unilateral Incomplete. Angka kejadian kelainan congenital sekitar 1/700 kelahiran dan merupakan salah satu kelainan congenital yang serimg di temukan. labioskizis saja 25%. Palastokizis terjadi akibat kegagalan fusi dengan septum nasi. FAKTOR RESIKO Faktor risiko adalah sesuatu yang meningkatkan kesempatan untuk mendapatkan penyakit. MANIFESTASI KLINIS Tanda gejala dari bibir sumbing yaitu:  Terjadi pemisahan langit – langit  Infeksi telinga berulang . e.  Bilateral Complete. Gangguan palatum durum dan palatum molle terjadi sekitar kehamilan minggu ke 7 sampai minggu ke 12. PATOFISIOLOGI Labioskizis terjadi akibat kegagalan fusi atau penyatuan frominem maksilaris dengan frominem medial yang diikuti disrupsi kedua bibir rahang dan palatum anterior. Jika celah sumbing yang terjadi hanya disalah satu sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung. Masa krisis fusi tersebut terjadi sekitar minggu keenam pasca konsepsi. Kejadian ini mungkin di sebabkan adanya factor toksik dan lingkungan yang mempengaruhi gen. f. Jika celah sumbing terjadi di kedua sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung. kelainan ini berwujud sebagai labioskizis di sertai palatokizis 50%. KLASIFIKASI 1. Jika celah sumbing terjadi hanya disalah satu sisi bibir dan tidak memanjang hingga ke hidung. g.  Unilateral Complete. Pada 25% dari kelompok ini di temukan adanya riwayat kelainan sumbing dalam keturunan. Berdasarkan organ yang terlibat   Celah di bibir (labioskizis) Celah di gusi (gnatoskizis)   Celah di langit (palatoskizis) Celah dapat terjadi lebih dari satu organ misal : terjadi di bibir dan langit-langit (labiopalatoskizis) 2.

. maka susu dapat didorong jatuh di bagian belakang mulut hingga dapat dihisap bayi. ujung halus dengan lubang besar). dengan berat badan yang meningkat. Menggunakan alat khusus 1) Dot domba Karena udara bocor disekitar sumbing dan makanan dimuntahkan melalui hidung. Berat badan bayi minimal 10 pon. dan bebas dari infeksi oral pada saluran napas dan sistemik. Ibu dapat mencoba sedikit menekan payudara untuk mengeluarkan susu.000/ui. PERAWATAN a. karena bayi tidak menyusu sampai 6 minggu. b. misalnya suara sengau. Faringitis dan Kekurangan gizi i. 2) Karena palastokizis dapat mengganggu pertumbuhan anatomi nasofarig dan sering mengakibatkan pula terjadinya otitis media. PENATALAKSANAAN Penanganan untuk bibir sumbing adalah dengan cara operasi. Operasi ini dilakukan setelah bayi berusia 2 bulan. serta gangguan pendengaran maka kerjasama dengan pihak THT sangat di perlukan. Dalam beberapa buku dikatakan juga untuk melakukan operasi bibir sumbing dilakukan hukum Sepuluh (rules of Ten) yaitu. dan usianya minimal 10 minggu dan kadar leukosit minimal 10. 1. Kadar Hb 10 g%. Dapat juga mnggunakan pompa payudara untuk mengeluarkan susu dan memberikannya kepada bayi dengan menggunakan botol setelah dioperasi. 3) Komplikasi yang sering terjadi pada penderiata labiopalatoskizis adalah Ototis media. suatu dot domba (dot yang besar.  Terjadi pemisahan bibir Terjadi pemisahan bibir dan langit – langit   Berat badan tidak bertambah Pada bayi terjadi regurgitasi nasal ketika menyusui yaitu keluarnya air susu dari hidung h. atau hanya dot biasa dengan lubang besar. 2) Botol peras Dengan memeras botol. Menyusu ibu Menyusu adalah metode pemberian makan terbaik untuk seorang bayi dengan bibir sumbing tidak menghambat pengahisapan susu ibu. bayi tersebut lebih baik diberi makan dengan dot yang diberi pegangan yang menutupi sumbing. Komplikasi 1) Di perkirakan sekitar 10% penderita labiopalastokizis akan menderita masalah bicara.

2. Jika hal ini terjadi arahkan dot ke bagian sisi mulut untuk memberikan kesempatan pada kulit yang lembut tersebut untuk sembuh g. 2. d. Tindakan pertama dikerjakan untuk menutup celah bibir berdasarkan kriteria rule often yaitu umur > 10 mgg.3) Ortodonsi Pemberian plat/ dibuat okulator untuk menutup sementara celah palatum agar memudahkan pemberian minum dan sekaligus mengurangi deformitas palatum sebelum dapat dilakukan tindakan bedah definitive. e. DEFINISI . PENGOBATAN a.000/ui c. ATRESIA ESOFAGUS a. d. suatu kontur seperti balon bicara ditempl pada bagian belakang gigi geligi menutupi nasofaring dan membantu anak bicara yang lebih baik. kadang-kadang luka terbentuk pada bagian pemisah lobang hidung f. perubahan struktur. karena langit-langit sangat penting untuk pembentukan bicara. b. Operasi mungkin tidak dapat dilakukan jika anak memiliki “kerusakan horseshoe” yang lebar. Periksalah bagian bawah hidung dengan teratur. Pada umur 8-9 tahun dilaksanakan tindakan operasi penambahan tulang pada celah alveolus/maxilla untuk memungkinkan ahli ortodensi mengatur pertumbuhan gigi dikanan dan kiri celah supaya normal. juga pada sumbing yang telah diperbaiki. Anak tersebut juga membutuhkan terapi bicara. perlahan-lahan bersihkan daerah sumbing dengan alat berujung kapas yang dicelupkan dala hydrogen peroksida setengah kuat atau air. dapat mempengaruhi pola bicara secara permanen. Tindakan operasi selanjutnya adalah menutup langitan/palatoplasti dikerjakan sedini mungkin (15-24 bulan) sebelum anak mampu bicara lengkap sehingga pusat bicara otak belum membentuk cara bicara. Dilakukan bedah elektif yang melibatkan beberapa disiplin ilmu untuk penanganan selanjutnya. Posisi mendekati duduk dengan aliran yang langsung menuju bagian sisi atau belakang lidah bayi. tetapi waktu yang tepat untuk operasi tersebut bervariasi. Operasi terakhir pada usia 15-17 tahun dikerjakan setelah pertumbuhan tulang-tulang muka mendeteksi selesai. Bayi akan memperoleh operasi untuk memperbaiki kelainan. BB > 10 pon/ 5 Kg. f. Tepuk-tepuk punggung bayi berkali-kali karena cenderung untuk menelan banyak udara e. c. Dalam hal ini. leukosit > 10. Setelah siap menyusu. Suatu kondisi yang sangat sakit dapat membuat bayi menolak menyusu. Hb > 10 gr/dl.

angka ini makin lama makin menurun dengan sebab yang belum diketahui. Tipe A – Atresia esofagus tanpa fistula. EPIDEMIOLOGI Insidensi atresia esofagus terjadi pada sekitar 1 dari 2500-3000 kelahiran. Pada kasus polihidramnion ibu. pada esofagus (+). . 2010). 2. Atresia esofagus murni (10%). Secara Internasional angka kejadian paling tinggi terdapat di Finlandia yaitu 1:2500 kelahiran hidup. KLASIFIKASI Atresia esofagus disertai dengan fistula trakeoesofageal distal adalah tipe yang paling sering terjadi. Sistem ini berisi antara lain: 1. (Dr. Kelainan pasase akibat gangguan pemisahan septum antara trachea dan esophagus pada perkembangan intra uterin d. biasanya ujungnya terletak di posterior . sektar 1/3 anak yang terkena lahir premature. 4. Bayi dalam keadaan premature sindroma trisomi 21. Kelainan ini tidak diturunkan. kelainan tulang (hemivertebrata). seperti kelainan jantung. Rovels Agber Maywell Iroth. Pada lebih 85 % kasus. b. Variasi anatomi dari atresia esofagus menggunakan sistem klasifikasi Gross of Boston yang sudah populer digunakan. Pada sebagian besar kasus atresia esofagus ujung esofagus buntu. Di Amerika Utara insiden dari Atresia Esofagus berkisar 1:3000-4500 dari kelahiran hidup. sedangkan pada ¼ -1/3 kasus lainnya esophagus bagian bawah berhubungan dengan trakea setinggi karina (disebut sebagai atresia esophagus dengan fistula).2010). Lebih jarang. . Tidak lebih dari 1% kasus dimana terdapat riwayat orang tua dengan kelainan yang sama. 3. Segmen proximal esofagus dilatasi dan dindingnya menebal. atresia esofagus adalah suatu keadaan tidak adanya lubang atau muara (buntu). kelainan gastrointestinal (atresia duodeni atresiasani).13 dan 18 dengan dugaan penyebab genetik. ETIOLOGI Pemicu kelahiraan bawaan seperti atresia esophagus dapat di curigai : 1. Kelainan lumen esophagus ini biasanya disertai dengan fistula trakeoesofagus. c. Rovels Agber Maywell Iroth. Atresia berarti buntu. Didapati proximal dan distal esofagus berakhir tanpa adanya hubungan dengan trakea.Atresia esofagus adalah sekelompok kelainan kongenital yang mencakup gangguan kontinuitas esofagus disertai atau tanpa adanya hubungan dengan trakea (Dr. atresia esophagus atau fistula trakeoesophagus menjadi sendiri-sendiri dengan kombinasi yang aneh. walaupun terdapat kaitan dengan abnormalitas kromosomal. fistula antar trakea antara trakea dan esophagus distal menyertai atresia. Atresia esofagus sering disertai kelainan bawaan lain. Atresia Esofagus 2-3 kali lebih sering pada janin yang kembar.

Fistula biasanya sangat sempit sekitar 3-5 mm lebarnya dan biasanya terletak setinggi daerah servikal bawah. Tipe F – Stenosis esofagus kongenital tanpa atresia (<1%) Kelainan-kelainan dalam atresia esophagus 1. 2. Fistula tipe H (4%) disebut juga fistel H atau N sesuai dengan gambarannya. 2. tetapi kirakira 1-2 cm diatas dinding anterior esofagus 3. Tipe C – Atresia esofagus dengan TEF distal (85%) Merupakan tipe yang paling umum dan sering ditemukan. Biarkan ia dalam sikap duduk agak lama. 5. Kalasia Adalah kelainan yang terjadi dibagian bawah esophagus (pada persambungan dengan lambung) yang tidak dapat menutup rapat sehingga bayi sering regurgitasi bila di baringkan. Esofagus bagian distal yang lebih tipis dan sempit masuk ke dinding posterior dari trakea pada carina atau lebih sering 1 cm atau 2 cm lebih proximal. Tipe D – Atresia esofagus dengan TEF proximal dan distal (<1%) didapati adanya fistel pada kedua ujung proximal dan distal esofagus.mediastinum setinggi vertebra thorakal 2. dan jangan di baringkan segera setelah minum. Akalasia . Esofagus distal pendek dan berakhir pada jarak yang berbedabeda diatas diafragma. Tipe E – TEF tanpa atresia esofagus. Tipe B – Atresia esofagus dengan TEF proximal (<1%) Didapati adanya fistel trakeoesofagus. tetapi dua atau lebih fistula bisa dijumpai. Penatalaksanaan : Bayi harus dalam posisi duduk pada waktu di beri minum. 4. Biasanya hanya ada satu fistula. baru kemudian dibaringkan miring ke kanan dengan kepala lebih tinggi. bukan pada ujung kantong esofagus yang dilatasi. didapati adanya fistula antara esofagus dengan trakea. ujungnya terletak di superior mediastinum kira-kira setinggi vertebra thorakal 3 atau 4. dimana proximal dari esophagus berdilatasi dan dinding muskularnya menebal. 6.

Janin dengan atresia tidak dapat dengan efektif menelan cairan amnion. cairan amnion masuk melalui trakea ke dalam usus. f. Neonatus dengan atresia tidak dapat menelan dan akan mengeluarkan banyak sekali air liur atau saliva. terdiri dari berkurangnya tulang rawan trakea dan bertambahnya ukuran otot transversal pada posterior trakea. Sedangkan pada atresia esofagus dengan fistula trakeoesofageal distal. terjadi gangguan pemisahan antara trakhea dan esopagus pada minggu ke 4 sampai minggu ke 6 kehidupan embryonal. Aspirasi dari saliva atau air susu dapat menyebabkan aspirasi pneumonia. sekresi dari gaster dapat masuk ke paru-paru dan sebaliknya. Polihidramnion bisa terjadi akibat perubahan dari sirkulasi amnion pada janin. Pada atresia dengan distal TEF. hipoksia atau bahkan bisa menjadi apnea. PATOFISIOLOGI Pada perkembangan jaringan. Resiko tinggi dapat terjadi pada ibu hamil dengan hidramnion yaitu amniosentesis harus dicurigai. Trakea abnormal. bagian mesodermal lateral pada esofagus proksimal berkembang.Merupakan kebalikan dari kalasia. e. Penyebaba akalasia adalah adanya kartilago traken yang tumbuh ektopik pada esophagus bagian bawah. Dinding trakea lemah sehingga mengganggu kemampuan bayi untuk batuk yang akan mengarah pada munculnya pneumonia yang bisa berulang-ulang. pada akalasia bagian distal esophagus tidak dapat membuka dengan baik sehingga terjadi keadaan seperti stenosis atau atresia. Diketahui bahwa bagian esofagus distal tidak menghasilkan peristaltik dan ini menyebabkan disfagia setelah perbaikan esofagus dan dapat menimbukan reflux gastroesofageal. Selama minggu keempat kehamilan. Pembelahan galur ini pada bagian tengah memisahkan esofagus dari trakea pada hari ke26 masa gestasi Motilitas dari esofagus selalu dipengaruhi pada atresia esofagus. GAMBARAN KLINIK . Trakea dan esofagus berasal dari embrio yang sama. Keadaankeadaan ini bisa menyebabkan perforasi akut gaster yang fatal. udara juga dapat bebas masuk ke dalam saluran pencernaan saat bayi menangis ataupun mendapat ventilasi bantuan. Pada pemeriksaan mikroskopis di temukan jaringan tulang rawan dalam lapisan otot esophagus. Trakea juga dapat kolaps bila diberikan makanan ataupun air susu dan ini akan menyebabkan pernapasan yang tidak efektif. Di sebut pula sebagai spasme kardioesophagus. Beberapa teori menjelaskan bahwa masalah pada kelainan ini terletak pada proses perkembangan esofagus. Gangguan peristaltik esofagus biasanya paling sering dialami pada bagian esofagus distal.

Liur yang menetes terus menerus 2. Biasanya juga disertai dengan kelainan bawaan yang lain. Liur berbuih 3. atresia rectum atau anus g. Penanganan dengan cara dilakukan thoracostomy sambil suction terusmenerus dan menunggu penyembuhan dan penutupan anastomosis secara spontan. mencakup : 1. Gejala pneumonia akibat regurgitasi air ludah dari esofagus yang buntu dan regurgitasi cairan lambung melalui fistel ke jalan napas 8. karena tidak ada cairan yang masuk 10. Trakeomalasia Terjadi pada 10% kasus. karena udara melalui fistel masuk kedalam lambung dan usus 9. seperti kelainan jantung. Striktur anastomosis Terjadi pada 30-40% kasus. mencakup : 1. Penanganan mencakup medikamentosa dan fundoplication. 3. yaitu tindakan bedah dimana bagian atas lambung dibungkus ke sekitar bagian bawah esofagus. Adanya aspirasi ketika bayi diberi minum 4. . Komplikasi Komplikasi dini. 2. Penanganannya ialah dengan melebarkan striktur yang ada secara endoskopi. TANDA DAN GEJALA : 1. Bayi tampak sianosis akibat aspirasi yang dialami 5. atau dengan melakukan tindakan bedah darurat untuk menutup kebocoran.Kelainan ini bisanya baru di ketahui setelah bayi berumur 2-3 minggu dengan gejala muntah yang beberapa saat setelah minum. Oliguria. Fistula rekuren Komplikasi lanjut. Muntah yang proyektil 7. Reflux Gastroesofageal Terjadi pada 40% kasus. Saat bayi diberi minum bayi akan mengalami batuk seperti tercekik 6. 2. Kebocoran anastomosis Terjadi 15-20% dari kasus. Perut kembung atau membuncit. Penanganannya ialah dengan melakukan manipulasi terhadap aorta untuk memberikan ruangan bagi trakea agar dapat mengembang.

terjadi akibat kontraksi esofagus yang terganggu. Pemeriksaan lainnya  USG : Prenatal. Udara pernapasan yang keluar melalui distal fistula akan menimbulkan distensi lambung yang akan mengganggu fungsi pernapasan. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Pemeriksaan Laboratorium 1.3. . supine dengan posisi fowler. extremitas  Echocardiography Tindakan Sebelum Operasi Atresia esofagus ditangani dengan tindakan bedah. Cairan intravena mengandung glukosa untuk kebutuhan nutrisi bayi. Pasien disarankan untuk makan diselingin dengan minum. Rovels Agber Maywell Iroth. kepala diangkat sekitar 45°. 3. 5. Tindakan Selama Operasi Pada umumnya. 4. 4. BUM dan Serum Creatinin : Untuk mengetahui keadaan abnormal bawaan lain yang menyertai. 2010) h. (Dr.Darah Rutin : Terutama untuk mengetahui apabila terjadi suatu infeksi pada saluran pernapasan akibat aspirasi makanan ataupun cairan. 2. Elektrolit : Untuk mengetahui keadaan abnormal bawaan lain yang menyertai. Analisa Gas Darah Arteri : Untuk mengetahui apabila ada gangguan respiratorik terutama pada bayi. operasi perbaikan atresia esofagus tidak dianggap sebagai hal yang darurat. Distensi lambung yang terus menerus kemudian bisa menyebabkan ruptur dari lambung sehingga mengakibatkan tension pneumoperitoneum yang akan lebih lagi memperberat fungsi pernapasan. Pemberian antibiotik broad-spectrum secara intravena. PENATALAKSANAAN  X-Ray : Thorax. Persiapan operasi untuk bayi baru lahir mulai umur satu hari antara lain: 1. 5. Tetapi satu pengecualian ialah bila bayi prematur dengan gangguan respiratorik yang memerlukan dukungan ventilatorik. Monitor vital signs. NGT dimasukkan secara oral dan dilakukan suction rutin. 3. Kadar Gula Darah : Untuk mengetahui keadaan abnormal bawaan lain yang menyertai. Dismotility Esofagus. 2. Suhu bayi dijaga agar selalu hangat dengan menggunakan inkubator. ginjal I.

Pada atresia esofagus dengan fistula trakeoesofageal. sambil dilakukan suction rutin dan pemberian makanan melalui gastrostomy.   Bronkoskopi pre-operatif berguna untuk mengidentifikasi dan mengetahui lokasi fistula. Setelah hari ke-3 bisa dimasukkan NGT untuk pemberian makanan. Cairan lambung harus sering diisap untuk mencegah aspirasi. bayi diletakkan setengah duduk untuk mencegah terjadinya regurgitasi cairan lambung kedalam paru. Posisinya sering di ubah-ubah. maka dicoba dilakukan tindakan diatas. Ini disebut dengan primary repair. dilakukan delayed primary repair. . Tindakan operasi dari atresia esofagus mencakup:  Operasi dilaksanakan dalam general endotracheal anesthesia dengan akses vaskular yang baik dan menggunakan ventilator dengan tekanan yang cukup sehingga tidak menyebabkan distensi lambung. Apabila jarak kedua ujung esofagus lebih dari 6 ruas vertebra.   Operasi dilaksanakan thoracotomy. Selang kateter untuk suction harus ditandai agar tidak masuk terlalu dalam dan mengenai bekas operasi tempat anastomosis agar tidak menimbulkan kerusakan. maka jarak kedua ujung esofagus akan menyempit kemudian dilakukan primary repair. dimana fistula ditutup dengan cara diikat dan dijahit kemudian dibuat anastomosis esofageal antara kedua ujung proximal dan distal dari esofagus. Posisi bayi ditidurkan pada sisi kiri dengan tangan kanan diangkat di depan dada untuk dilaksanakan right posterolateral thoracotomy. Tindakan Setelah Operasi Pasca operasi pasien diventilasi selama 5 hari. Targetnya ialah operasi dilakukan 8-10 hari kemudian untuk memisahkan fistula dan memperbaiki esofagus. maka tindakan pilihan yang dianjurkan ialah dengan melakukan ligasi terhadap fistula trakeoesofageal dan menunda tindakan thoracotomy sampai masalah gangguan respiratorik pada bayi benar-benar teratasi.Pada keadaaan diatas. hampir selalu jarak antara esofagus proximal dan distal dapat disambung langsung. yaitu apabila jarak kedua ujung esofagus dibawah 2 ruas vertebra. Pada prinsipnya tindakan operasi dilakukan untuk memperbaiki abnormalitas anatomi. bayi hendaknya dirawat dalam incubator agar mendapatkan lingkungan yang cukup hangat. Pada H-Fistula. Penatalaksanaan Keperawatan Sebelum dilakukan operasi. Bayi hendaknya dirangsang untuk menangis agar paru berkembang. operasi dilakukan melalui leher karena hanya memisahkan fistula tanpa memperbaiki esofagus. pengisapan lender harus sering dilakukan. apabila tidak bisa juga maka esofagus disambung dengan menggunakan sebagian kolon. Suction harus dilakukan secara rutin. Operasi ditunda selama paling lama 12 minggu. Untuk mencegah terjadinya hipotermia. Bila jaraknya 3-6 ruas vertebra.

dimana fistula ini sering dengan bantuan dilatasi. Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah usus. Limb). ATRESIA REKTI & ANUS A. antara lain: 1. C. . Malformasi anorektal (anus imperforata) adalah malformasikongenital di mana rectum tidak mempunyai lubang keluar. pasien atresia rekti dan anus dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar yaitu : 1. 2001 RSCM). KLASIFIKASI Secara fungsional. Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu/3 bulan 3. Esofageal.3. Malformasi Anus Gangguan pertumbuhan dan fusi serta pembentukan anus dari tonjolan embrionik. Kelompok ini terutama melibatkan bayi perempuan dengan fistula rectovagina atau rectofourchette yang relatif besar. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur sehingga bayi lahir tanpa lubang dubur 2. 2000) Atresia dapat disebabkan oleh beberapa faktor. abnormal atau ektopik. muskulus levator ani. Malformasi Rektum Gangguan pemisahan kloaka menjadi rektum dan sinus urogenital serta gangguan perkembangan septum anorektal yang memisahkannya (terjadi fistel). 2003) B. Anus tidak ada. D. Kelainan anorektal umum pada laki-laki dan perempuan memperlihatkan hubungan kelainan anorektal rendah dan tinggi diantara usus. DEFINISI Atresia ani atau anus imperforate adalah tidak terjadinya perforasi membran yang memisahkan bagian entoderm mengakibatkan pembentukan lubang anus yang tidak sempurna. uretra dan vagina. Renal. (Wong. maka bisa didapatkan dekompresi usus yang adequate sementara waktu. Anus tampak rata atau sedikit cekung ke dalam atau kadang berbentuk anus namun tidak berhubungan langsung dengan rectum. yang terjadi antara minggu keempat sampai keenam usia kehamilan. kulit. Cardial. (Mansjoer. Anal. rektum bagian distal serta traktus urogenitalis. ETIOLOGI Penyebab dari penyakit ini adalah: 1. 2. Yang tanpa anus tetapi dengan dekompresi adequate traktus gastrointestinalis dicapai melalui saluran fistula eksterna. (sumber Purwanto. EPIDEMIOLOGI Insiden 1:5000 kelahiran yang dapat muncul sebagai sindroma VACTRERL (Vertebra.

Yang tanpa anus dan tanpa fistula traktus yang tidak adequate untuk jalam keluar tinja. rektum berhubungan dengan saluran kencing pada setinggi leher vesika urinaria. sfingter eksterna didekat skrotum pada pria / vulva pada perempuan. rektum berhubungan dengan bagian bawah uretra (uretra bulbar) atau bagian atas uretra (uretra prostat). Fistula pirenium (kutaneus) : cacat paling sederhana pada kedua jenis kelamin. lesung anal dan sfingter eksternal berada pada posisi yang normal. Kloaka persisten . antara lain: a. Pasien bisa diklasifikasikan lebih lanjut menjadi 3 sub kelompok anatomi yaitu : a) Anomali rendah Rectum mempunyai jalur desenden normal melalui otot puborectalis. sebelah anterior dari titik pusat. Anus imperforate tanpa vistula : mempunyai karakteristik sama pada kedua jenis kelamin Rectum tertutup sama sekali dan biasanya ditemukan kira-kira 2 cm di atas kulit perineum 5. Fistula rektrovesika : pada penderita dengan fistula rektrovesika. Yang sering pada permpuan 1. Tanda yang unik pada cacat ini adalah bahwa penderita mempunyai kanal anul & anus yang normal. terdapat sfingter internal dan eksternal yang berkembang baik dengan fungsi normal dan tidak terdapat hubungan dengan saluran genitourinarius b) Anomali intermediet Rectum berada pada atau di bawah tingkat otot puborectalis. 3. hanya 1% dari anomaly anorektum. Klasifikasi pada anorektal menurut insidennya. Atresium rektum : jarang terjadi.2. Cacat ini mempunyai kesamaan karakteristik padakedua jenis kelamin. memerlukan beberapa bentuk intervensi bedah segera. Hal ini biasanya berhungan dengan fistuls genitourinarius – retrouretral (pria) atau rectovagina (perempuan). 4. Fistula rektrouretra : pada kasus fistula rektrouretra. b. 2. c) Anomali tinggi Ujung rectum di atas otot puborectalis dan sfingter internal tidak ada. Penderita mempunyai lubang kecil terletak di perineum.Yang sering pada laki-laki 1. Pada kelompok ini tidak ada mekanisme apapun untuk menghasilkan dekompresi spontan kolon. Ada obstruksi sekitar 2 cm di atas batas kulit. Jarak antara ujung buntu rectum sampai kulit perineum lebih dari1 cm.

dan posisi spinter eksterna normal. Pada kasus kloaka persisten ini . 6. Tidak ada pembukaan usus besar yang keluar anus menyebabkan fecal tidak dapat dikeluarkan sehungga intestinal mengalami obstruksi. Ujung ekor dari bagian belakang berkembang menjadi kloaka yang merupakan bakal genitoury dan struktur anorektal. Keluar mekonium baik dari vagina atau bersama urine (tergantung letak fistel). G. Kelainan letak sedang (intermedieat anomalies) Rektum terletak dibawah otot puborektal. tidak ada hubungan dengan traktus genitourinaria.spinter interna dan eksterna fungsi berkembang normal.2002) Anus dan rectum berkembang dari embrionik bagian belakang. vagina dan saluran kencing bertemu dalam satu saluran bersama. Kelainan letak rendah (low anomalies) Pada letak ini rektum menyambung pada otot puborektal. sedang muntah timbul kemudian. Terjadi stenosis anal karena adanya penyempitan pada kanal anorektal. 2. Kelainan letak tinggi (high anomalies) Akhir rektum terletak diatas otot puborektal.TANDA & GEJALA Malformasi anorektal mempunyai manifestasi klinis sebagai berikut: 1. Adalah cacat yang sering ditemukan pada perempuan. Rectum bermuara ke dalam vestibula kelamin perempuan sedikit diluar salaput dara. Klasifikasi malformasi anorektal berdasarkan atas hubungan rektum dengan otot puborektal : a. Bising usus meningkat. Fistula vestibular 4. 4. terdapat cekungan anus. 5. Kegagalan migrasi dapat juga karena kegagalan dalam agenesis sacral dan abnormalitas pada uretra dan vagina. b. 3. Terjadi atresia anal karena tidak ada kelengkapan migrasi dan perkembangan struktur kolon antara 7 dan 10 mingggu dalam perkembangan fetal. 3. pada perempuan rektovaginal. rectum. c. Distensi abdomen. E.PATOFISIOLOGI Patofisiologi Menurut (Betz. tidak terdapat spinter interna dan terdapat hubungan dengan genitourinaria pada laki-laki fistula rektouretra.2. Cairan muntah mula-mula hijau kemudian bercampur tinja. . Perineum mempunyai satu lubang yang terletak sedikit di belakang klitoris. Perut kembung. Kejang usus.

adanya membran anal dan fistula eksternal pada perineum (Suriadi. kemudian anoplasti perineal yaitu dibuat anus permanen (prosedur penarikan perineum abnormal) dilakukan pada bayi berusia 12 bulan. pembesaran abdomen. Bantu dalam mempertahankan kondisi untuk klien sebelum operasi : .       CT Scan :Digunakan untuk menentukan lesi. PENATALAKSANAAN Pembedahan a. PEMERIKSAAN PENUNJANG    Pemeriksaan radiologis : Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya obstruksi intestinal. Aksisi membran anal (membuat anus buatan) Fiktusi yaitu dengan melakukan kolostomi sementara dan setelah 3 bulan dilakukan korksi sekaligus (pembuat anus permanen) Manajemen keperawatan 1. Sinar X terhadap abdomen : Dilakukan untuk menentukan kejelasan keseluruhan bowel dan untuk mengetahui jarak pemanjangan kantung rectum dari sfingternya. Tindakan perawatan sebelum operasi a. Pemeriksaan urin. I. pembuluh darah di kulir abdomen akan terlihat menonjol (Adele.1996) H. Mekonium keluar pada anus seperti pasta gigi. b.7. Untuk kelainan dilakukan kolostomi. Pyelografi intra vena : Digunakan untuk menilai pelviokalises dan ureter.2001). 2002) Manifestasi klinis yang terjadi pada atresia rekti dan anus adalah kegagalan lewatnya mekonium setelah bayi lahir. (Betz. perlu dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat mekonium. Gejala lain yang nampak diketahui adalah jika bayi tidak dapat buang air besar sampai 24 jam setelah lahir. Pewarnaan radiopak dimasukkan kedalam traktus urinarius. Ultrasound terhadap abdomen :Digunakan untuk melihat fungsi organ internal terutama dalam system pencernaan dan mencari adanya faktor reversible seperti obstruksi oleh karena massa tumor. Rontgenogram abdomen dan pelvis juga bisa digunakan untuk mengkonfirmasi adanya fistula yang berhubungan dengan traktus urinarius. gangguan intestinal. tidak ada atau stenosis kanal rectal. misalnya suatu sistouretrogram mikturasi akan memperlihatkan hubungan rektourinarius dan kelainan urinarius. Pemeriksaan fisik rectum : Kepatenan rectal dapat dilakukan colok dubur dengan menggunakan selang atau jari.

frekwensi. Hal ini menyebabkan adanya obstruksi intestin mekanis akibat dari motilitas segmen yang tidak adekuat. DEFINISI Hirschprung adalah merupakan suatu anomali kongenital dengan karakteristik tidak adanya syarafsyaraf pada satu bagian intestin. observasi kemungkinan adanya komplikasi b. Mempertahankan nutrisi yang adekuat untuk mencegah dehidrasi ketidakseimbangan elektrolit  Oral fediny biasanya diberikan beberapa jam post anoplasti  diberikan setelah peristaltik usus  NGT pada awal post operasi digunakan  Monitor cairan parenteral e. Melakukan perawatan colostomy dengan baik  Cegah exoriasi dan iritasi  observasi dan catat ukuran. warna jumlah   NGT dipasangkan. Tindakan perawatan post operasi a. Health Education  Orang tua diberi penjelasan bagaimana melakukan perawatan colostomy  Bantu orang tua klien untuk dapat mengerti situasi anaknya bila tambah usia / besar f. mencegah infeksi dari suture linu. Ketidakmampuan mengontrol feces g. B. EPIDEMIOLOGI Penyakit hirschprung terjadi 1 diantara 5000 kelahiran hidup. Insidens meningkat pada saudara kandung dan . Beri perawatan post operasi dengan baik. Memberikan perawatan anoplasty perineal yang baik. HIRSCHPRUNG A. Makan biasanya diberikan. yang tercepat penyembuhan:  Jangan meletakkan apapun pada rectum  Biarkan perineum terbuka  Rubah posisi kiri kanan  Posisi panggul ditegalkan jika akan melakukan pembersihan atau perawatan c. catatan setiap ada muntah. karekteristik feces d. (Panduan Belajar Keperawatan Pediatrik. Insidens penyakit ini tiga atau empat kali lebih sering pada laki-laki daripada perempuan. Perlu toilet training 4. Mary E Muscarl). ukuran dedistensi abdomen Monitor cairan parenteral 2.

Sehingga tidak terjadi diferensiasi menjadi sel Schwann’s dan sel saraf lainnya. Sel saraf imatur tidak memiliki sitoplasma yang dapat menghasilkan dehidrogenase. Kerusakan iskemik pada sel ganglion karena aliran darah yang inadekuat. Hirschprung paling sering terjadi pada anak dengan sindrom down. Duhamel. 3. 2009) B. hipoganglionosis atau disganglionosis pada usus besar. Yang termasuk penyebab nonvascular adalah infeksi Trypanosoma cruzi (penyakit Chagas). 2. Pleksus Henle : terletak disepanjang batas dalam otot sirkuler 3. tidak dijumpai ganglion pada ketiga pleksus tersebut C. defisiensi vitamin B1. Pleksus Auerbach : terletak diantara lapisan otot sirkuler dan longitudinal 2. ETIOLOGI  Faktor genetik Penyakit Hirschsprung disebabkan karena kegagalan migrasi sel-sel saraf parasimpatis myentericus dari cephalo ke caudal. Kerusakan sel ganglion Aganglionosis dan hipoganglionosis yang didapatkan dapat berasal dari vaskular atau nonvascular. Imaturitas dari sel ganglion Sel ganglion yang imatur dengan dendrite yang kecil dikenali dengan pemeriksaan LDH (laktat dehidrogenase). Penyakit ini menyebabkan 15% sampai 20% obtruksi pada neonates (cecily lynn betz dan Linda A. infeksi kronis seperti Tuberculosis. atau Soave. Pleksus Meissner : terletak di sub-mukosa Pada penderita penyakit Hirschsprung. PATOFISIOLOGI Dasar patofisiologi dari Hirschprung adalah tidak adanya gelombang propulsive dan abnormalitas atau hilangnya relaksasi dari sphincter anus internus yang disebabkan aganglionosis. Area tersebut dapat terisolasi. Hipoganglionosis adalah keadaan dimana jumlah sel ganglion kurang dari 10 kali dari jumlah normal dan kerapatan sel berkurang 5 kali dari jumlah normal. aliran darah pada segmen tersebut.  Anatomi dan fisiologi kolon Sistem saraf otonomik intrinsik pada usus terdiri dari 3 pleksus : 1.turunan dari anak yang terkena. . Hipoganglionosis Pada proximal segmen dari bagian aganglion terdapat area hipoganglionosis. Sehingga sel ganglion selalu tidak ditemukan dimulai dari anus dan panjangnya bervariasi keproksimal. akibat tindakan pull through secara Swenson. 1.

Gejala konstipasi yang sering ditemukan adalah terlambatnya mekonium untuk dikeluarkan dalam waktu 48 jam setelah lahir. Demam. gangguan pasase usus. poor feeding. Muntah berisi empedu. Long segment: Ganglion tidak ada pada rectum dan sebagian besar colon. Apabila penyakit ini terjdi pada neonatus yang berusia lebih tua maka akan didapatkan kegagalan pertumbuhan. Gejala lain yang biasanya terdapat adalah: distensi abdomen. E. PEMERIKSAAN PENUNJANG Diagnostik utama pada penyakit hirschprung adalah dengan pemeriksaan : 1. Short segment: Ganglion tidak ada pada rectum dan sebagian kecil dari colon. Tipe Hirschsprun disease meliputi:     Ultra short segment: Ganglion tidak ada pada bagian yang sangat kecil dari rectum. Distensi abdomen. karena makanan tertahan di sigmoid colon. 6. Dengan gejala yang timbul: distensi abdomen dan bilious emesis. Barium edema . Faktor genetik adalah faktor yang harus diperhatikan pada semua kasus. Bila telah timbul enterokolitis nikrotiskans. Very long segment: Ganglion tidak ada pada seluruh colon dan rectum dan kadang sebagian usus kecil. KLASIFIKASI Hirschsprung dikategorikan berdasarkan seberapa banyak colon yang terkena. G. Pada bayi yang baru lahir. 2. terjadi distensi abdomen hebat dan diare berbau busuk yang dapat berdarah. Hal lain yang harus diperhatikan adalah jika didapatkan periode konstipasi pada neonatus yang diikuti periode diare yang massif kita harus mencurigai adanya enterokolitis. karena makanan terlalu banyak dicolon sehingga makanan naik 3. kebanyakan gejala muncul 24 jam pertama kehidupan.D. Adanya feses yang menyemprot pas pada colok dubur merupakan tanda yang khas. vomiting. 4. Pada bayi yang lebih tua penyakit hirschsprung akan sulit dibedakan dengan kronik konstipasi dan enkoperesis. Enggan menyusu 5. Tidak keluarnya mekonium pada 24 jam pertama kehidupan. MANIFESTASI KLINIS 1. F. DIAGNOSA Diagnosis penyakit ini dapat dibuat berdasarkan adanya konstipasi pada neonatus.

H. yang paling penting adalah zona transisi. 3. 2. Pada bayi baru lahir metode ini dapat dilakukan dengan morbiditas minimal karena menggunakan suction khusus untuk biopsy rectum. Keputusan untuk melakukan Pulltrough ketika diagnosis ditegakkan tergantung dari kondisi anak dan respon dari terapi awal. kolostomi dilakukan dengan hati-hati sehingga usus dapat dekompresi sebelum . Untuk pengambilan sample biasanya diambil 2 cm diatas linea dentate dan juga mengambil sample yang normal jadi dari yang normal ganglion hingga yang aganglionik. Cara ini terutama banyak pada periode neonatus yang dapat menyediakan visualisasi pelvis yang baik. Pendekatan ini mengikuti prinsip terapi yang sama seperti pada prosedur bertingkat melindungi pasien dari prosedur pembedahan tambahan. Retensi dari barium pada 24 jam dan disertai distensi dari kolon ada tanda yang penting tapi tidak spesifik. Pada anak dengan keadaan yang buruk. Pada anak-anak dengan distensi usus yang signifikan adalah penting untuk dilakukannya periode dekompresi menggunakan rectal tube jika akan dilakukan single stage pull-through. Posisi pemeriksaan dari lateral sangat penting untuk melihat dilatasi dari rektum secara lebih optimal. Pada anak-anak yang lebih tua dengan kolon hipertrofi. gejala yang ditemukan adalah kegagalan relaksasi sphincter ani interna ketika rectum dilebarkan dengan balon. diikuti dengan washout serial. Biopsi rectal Merupakan “gold standard” untuk mendiagnosis penyakit hirschprung. dan meninggalkan kateter pada rektum harus dilakukan. Banyak dokter bedah melakukan diseksi intra abdominal menggunakan laparoskop. dan mengkoreksi hemodinamik dengan cairan intravena. distensi ekstrim. PENATALAKSANAAN Terapi terbaik pada bayi dan anak dengan Hirschsprung tergantung dari diagnosis yang tepat dan penanganan yang cepat. Metode ini biasanya harus menggunakan anestesi umum karena contoh yang diambil pada mukosa rectal lebih tebal. Dewasa ini ditunjukkan bahwa prosedur pull-through primer dapat dilakukan secara aman bahkan pada periode neonatus. Decompresi kolon dengan pipa besar. Antibiotik spektrum luas diberikan. Anorectal manometry untuk mendiagnosis penyakit hirschsprung. Keuntungan metode ini adalah dapat segera dilakukan dan pasien bisa langsung pulang karena tidak dilakukan anestesi umum. Metode ini lebih sering dilakukan pada pasien yang lebih besar dibandingkan pada neonatus.Ada beberapa tanda dari penyakit Hirschsprung yang dapat ditemukan pada pemeriksaan barium enema. perlu dilakukan colostomy.

maka hal ini disebut sebagai obstruksi biliaris (Sarjadi. Batu empedu dan cacing askariasis sering dijumpai sebagai penyebab sumbatan didalam lumen saluran. Penyebab obstruksi biliaris adalah tersumbatnya saluran empedu sehingga empedu tidak dapat mengalir kedalam usus untuk dikeluarkan ( sebagai strekobilin ) didalam feses. abses amuba pada lokasi tertentu. (Ngastiyah. tidak ada batas umur pada prosedur pullthrough. Namun. Kurangnya bilirubin dalam saluran usus bertanggung jawab atas tinja pucat biasanya dikaitkan dengan obstruksi empedu. 2005). tumor caput pankreas. tumor kandung empedu atau anak sebar tumor ganas di daerah ligamentum hepato duodenale dapat menekan saluran empedu dari luar menimbulkan gangguan aliran empedu. Penyebab obstruksi biliaris adalah tersumbatnya saluran empedu sehingga empedu tidak dapat mengalir kedalam usus untuk dikeluarkan ( sebagai strekobilin ) didalam feses (Ngastiyah. Penyebab gatal (pruritus) yang berhubungan dengan obstruksi empedu tidak jelas. (Reskoprojo.1995). DESKRIPSI Antara hati dan usus halus terdapat saluran yang berfungsi sebagai tempat mengalirnya empedu yang di produksi hati menuju usus. di ventrikel duodenum dan striktur sfingter papila vater. 2005) Kemungkinan penyebab saluran empedu tersumbat meliputi: 1. 1995) Beberapa keadaan yang jarang dijumpai sebagai penyebab sumbatan antara lain kista koledokus. Lain menyarankan mungkin berkaitan dengan pelepasan opioid endogen (Judarwanto. C. ETIOLOGI  Batu empedu  Karsinoma duktus biliaris  Karsinoma kaput panksreas (Sarijadi. Kista dari saluran empedu  Radang duktus biliaris komunis yang menyebabkan striktura  Ligasi yang tidak sengaja pada duktus biliaris komunis . Pankreatitis. 2000). Jika saluran ini tersumbat. (Reskoprodjo.dilakukan prosedur pull-through. OBSTRUKSIBILIARIS A. harus ditekankan. PATOFISIOLOGI Sumbatan saluran empedu dapat terjadi karena kelainan pada dinding misalnya ada tumor. Sebagian percaya mungkin berhubungan dengan akumulasi asam empedu di kulit. atau penyempitan karena trauma(iatrogenik). 5.2000). B.2009).

Banyaknya radioaktivitas dalam pernafasan penderita menunjukkan banyaknya obat yang dimetabolisir oleh hati. Kemudian feses bayi berwarna putih agak keabu-abuan dan liat seperti dempul 3. alkali fosfatase. .2009) E. Perut sakit di sisi kanan atas 5. Gambaran klinis gejala mulai terlihat pada akhir minggu pertama yakni bayi ikterus 2. pada mata dan di bawah lidah. tumor yang telah menyebar ke sistem empedu (Zieve David. Disamping itu dilakukan pemeriksaan albumin. Batu empedu 4. 4. Dan faktor pembekuan darah. GGT. Urine menjadi lebih tua karena mengandung urobilinogen 4. hati teraba membesar kadang juga disertai limfa yang membesar. Kolangiogram atau kolangiografi intraoperatif Yaitu dengan memasukkan cairan tertentu ke jaringan empedu untuk mengetahui kondisi saluran empedu. Demam 6. Rontgen perut (tampak hati membesar) 3. Pemeriksaan kolangiogram intraoperatif dilakukan dengan visualisasi langsung untuk mengetahui patensi saluran bilier sebelum dilakukan operasi Kasai. SGPT. Trauma cedera termasuk dari operasi kandung empedu 6. Pada pemeriksaan perut. adanya tanda ikterus atau kuning pada kulit. Mual dan muntah (Zieve David. Breath test Dilakukan untuk mengukur kemampuan hati dalam memetabolisir sejumlah obat. Obat-obat tersebut ditandai dengan perunut radioaktif. SGOT. diberikan per-oral (ditelan) maupun intravena (melalui pembuluh darah). Peradangan dari saluran-saluran empedu 5. MANIFESTASI KLINIS 1. DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.2. 2. Tumor dari saluran-saluran empedu atau pankreas 7.2009) D. Lymp node Diperbesar dalam porta hepatis 3. Pemeriksaan Laboratorium dan Imaging 1. Pemeriksaan darah (terdapat peningkatan kadar bilirubin) Pemeriksaan darah dilakukan pemeriksaan fungsi hati khususnya terdapat peningkatan kadar bilirubin direk.

Koleskintigrafi Menggunakan zat radioaktif yang akan dibuang oleh hati ke dalam saluran empedu. Suatu zat radiopak kemudian disuntikkan ke dalam saluran empedu dan diambil foto rontgen dari saluran empedu. CT scan 10. Kolangiografi transhepatik perkutaneus Menggunakan jarum panjang yang dimasukkan melalui kulit ke dalam hati.5. Scanning hati 8. 12. seperti tumor. USG merupakan pemeriksaan paling murah. terutama penyumbatan di dalam hati. Pemeriksaan ini bagus untuk mengetahui kelainan struktural. yang disuntikkan ke dalam tubuh dan diikat oleh organ tertentu. Foto rontgen sederhana sering bisa menunjukkan suatu batu empedu yang berkapur. Bisa digunakan USG untuk menuntun masuknya jarum. 7. Selama suatu pembedahan. . USG Menggunakan gelombang suara untuk menggambarkan hati. 9. kemudian disuntikkan zat radiopak ke dalam salah satu dari saluran empedu. Pemeriksaan ini digunakan untuk mengetahui peradangan akut dari kandung empedu (kolesistitis). Kolangiografi operatif Menggunakan zat radiopak yang bisa dilihat pada rontgen. MRI 11. menuju ke saluran empedu. kandung empedu dan saluran empedu. Rontgen secara jelas menunjukkan saluran empedu. melewati lambung dan usus dua belas jari. 13. paling aman dan paling peka untuk memberikan gambaran dari kandung empedu dan saluran empedu. Pemeriksaan ini menyebabkan peradangan pada pankreas (pankreatitis) pada 35% penderita. 6. Foto rontgen akan menunjukkan gambaran yang jelas dari saluran empedu. Kolangiopankreatografi endoskopik retrograd Merupakan suatu pemeriksaan dimana suatu endoskopi dimasukkan ke dalam mulut. Imaging radionuklida (radioisotop) Menggunakan bahan yang mengandung perunut radioaktif. zat tersebut disuntikkan secara langsung kedalam saluran empedu. 14.

15. Tindakan tersebut dapat berupa tindakan pembedahan misalnya pengangkatan batu atau reseksi tumor. (Indonesia. atau kolesistostomi. (Attasaranya S. (Sarjadi. 1995) Bila tindakan pembedahan tidak mungkin dilakukan untuk menghilangkan penyebab sumbatan. Laparotomi (biasanya dilakukan sebelum bayi berumur 2 bulan). (Reksoprodjo. pipa T pada duktus koledokus. Drenase interna ini dapat berupa kelesisto-jejunostomi. Drenase interna dapat dilakukan dengan membuat pintasan bilio digestif. PENATALAKSANAAN Pada dasarnya penatalaksanaan pasien dengan obstruksi biliaris bertujuan untuk menghilangkan penyebab sumbatan atau mengalihkan aliran empedu. serta menghindarkan kontak infeksi). 1995) Penatalaksanaan Keperawatan Pertahankan kesehatan bayi (pemberian makan yang cukup gizi sesuai dengan kebutuhan. 6. Penyumbatan itu sendiri tidak dapat dicegah. koledoko-jejunustomi atau hepatiko-jejunustomi. koledoko-duodenostomi. 2005). Laparotomi biasanya dilakukan sebelum bayi berumur 2 bulan. (Reksoprodjo. feses pucat dan urine berwarna gelap (pekat). Penatalaksanaan Medisnya ialah dengan operasi ( Ngastiyah. Drenase dapat dilakukan keluar tubuh misalnya dengan pemasangan pipa naso bilier. sehingga bisa mendapatkan prompt diagnosis dan pengobatan jika saluran empedu tersumbat.2000) G. Fogel EL. USA & internasional berkumpul. 2000) F. dengan keadaan fisik yang menunjukan anak tampak ikterik. Pemeriksaan Biopsi hati Untuk melihat struktu organ hati apakah terdapat sirosis hati atau kompilkasi lainnya. Pada bayi ini perlu tindakan bedah karena terdapatnya penyumbatan ( Ngastiyah. Omphalokel . 16. Berikan penjelasan kepada orang tua bahwa keadaan kuning pada bayinya berbeda dengan bayi lain yang kuning karena hiperbilirubinemia biasa yang dapat hanya dengan terapi sinar atau terapi lain. 2005). dilakukan tindakan drenase yang bertujuan agar empedu yang terhambat dapat dialirkan.2008). PENCEGAHAN Dapat mengetahui setiap faktor risiko yang dimiliki. Dapat pula upaya untuk menghilangkan sumbatan dengan tindakan endoskopi baik melalui papila vater atau dengan laparoskopi. Dalam hal ini bidan dapat memberikan pendidikan kesehatan pada orang tua untuk mengantisipasi setiap faktor resiko terjadinya obstruksi biliaris (penyumbatan saluran empedu).

Diantara lapisan tersebut kadang-kadang terdapat lapisan wharton's jelly.wmyelocele dan sindrom-sindrom vang lain seperti Beckwith-Wiedemann syndrome. Prune-belly syndrome dan sindrom-sindrome kelainan kromosom seperti yang telah disebutkan. hipoksia. B. Bila usus keluar dari titik terlemah di kanan umbilikus.A. Syndrome of upper midline development atau thorako abdominal syndrome (pentalogy of Cantrell) berupa upper midline omphalocele. ETIOLOGI Penyebab pasti terjadinya omphalokel belum jelas sampai sekarang. usus akan berada di luar rongga perut tanpa dibungkus peritoneum dan amnion.tau cloacal extrophv. PATOFISIOLOGI Pada janin usia 5 – 6 minggu isi abdomen terletak di luar embrio di rongga selom. keadaan ini disebut gastroschisis D. keadaan ini disebut omfalokel. Selaput terdiri atas lapisan amnion dan peritoneum. penggunaan obat dan rokok pada ibu hamil. colonie atresia. defisiensi asam folat. namun sekitar 50-70 % penderita berhubungan dengan sindrom kelainan kongenital yang lain Sindrom kelainan kongenital yang sering berhubungan dengan omphalokel diantaranya: 1. 2. Omphalokel diartikan sebagai suatu defek sentral dinding abdomen pada daerah cincin umbilikus (umbilical ring) atau cincin tali pusar sehingga terdapat herniasi organ¬organ abdomen dari cavum abdomen namun masih dilapiasi oleh suatu kantong atau selaput. cardiac anomaly berupa ektopic cordis dan vsd. Reiger syndrome. lambung kadang hati. C. anterior diaphragmatic hernia. kelainan genetik serta polihidramnion. pengunaan salisilat. Syndrome of lower midline development benzpa bladder (hipogastric omphalocele) a. Bila proses ini terhambat maka akan terjadi kantong di pangkal umbilikus yang berisi usus. DIAGNOSIS . Walaupun omphalokel pernah dilaporkan terjadi secara herediter. sternal cleft. Beberapa faktor resiko atau faktor-faktor yang berperan menimbulkan terjadinya omphalokel diantaranya adalah infeksi. Dindingnya tipis terdiri dari lapisan peritoneum dan lapisan amnion yang keduanya bening sehingga isi kantong tengah tampak dari luar. DEFINISI Omphalokel secara bahasa berasal dari bahasa yunani omphalos yang berarti umbilicus tali pusat dan cele yang berarti bentuk hernia. Pada usia 10 minggu terjadi pengembangan lumen abdomen sehingga usus dari extra peritoneum akanmasuk ke rongga perut. sacrovenebral anomaly dan menin. inferforate anus. vesicointestinal fistula.

Diagnosis prenatal Diagnosis prenatal terhadap omphalokel sering ditegakkan dengan bantuan USG. Tipe 2 : diameter defek 2. namun perlu waktu khusus sebelum operasi dikerjakan. berisi hampir semua organ intraabdomen dan berhubungan dengan tidak berkembangnya r ongga peritoneum serta hipoplasi pulrnoner. Tipe 3) : diameter defek > 5 cm Suatu defek yang sempit dengan kantong yang kecil mungkin tak terdiagnosis saat lahir. abdomen. Warton's jelly adalah jaringan mukosa yang merupakan hasil deferensiasi dari jaringan mesenkimal (mesodermal). kantong mungkin ruptur dalam rahim atau sekitar 4° o saat proses kelahiran. mengandung herniasi organ¬-organ abdomen baik solid maupaun berongga dan masih dilapisi oleh selaput atau kantong serta tampak tali pusat berinsersi pada puncak kantong. Omphalokel raksasa (gnant omphalocele) mempunyai suatu kantong vani). Kantong atau .o sampai 18°. Defek bervarasi ukurannya. Diantara lapisan tersebut kadang-kadang terdapat lapisan Warton's jelly.5 cm 2. dengan diameter mulai 4 cm sampai dengan 12 cm. dimana pada saat tersebut secara normal seharusnya usus telah masuk seluruhnya kedalam kavum abdomen janin. Bila omphalokel dibiarkarn tampa penanganan. Tipe 1 : diameter defek < 2. ornphalokel diketahui sebagai defek dinding abdomen pada dasar cincin urnbilikus.5 . E. . Diagnosis postnatal (setelah kelahiran) Gambaran klinis bayi baru lahir dengan omphalokel ialah terdapatnya defek sentral dinding abdomen pada daerah tali pusat. Dalam kasus ini timbul bahaya tersendiri bila kantong terpit klem dan sebagian isinya berupa usus. b.yaitu: 1.elaput tersusun atas 2 lapisan yaitu lapisan luar berupa selaput amnion dan lapisan dalam berupa peritoneum.10. Pada 10°. Defek tersebut lebih dari 4 cm (bila defek kurang dari 4 cm secara umum dikenal sebagai hernia umbilikalis ) dan dibungkus oleh suatu kantong membran atau amnion.Diagnosis omphalokel adalah sederhana. Defek dinding abdomen janin biasanya dapat dideteksi pada saat minggu ke 13 kehamilan. pemeriksaan fisik secara iengkap dan perlu suatu rontgen dada serta ekokardiogram pada saat lahir. bagiannya teriris saat ligasi tali pusat. Diagnosis omphalokel ditegakkan berdasarkan gambaran klinis dan dapat ditegakkan pada waktu prenatal dan pada waktu postnatal a. menempati harnpir seluruh dinding.5 cm 3. KLASIFIKASI Klasifikasi Omphalokel menurut Moore ada 3.

KOMPLIKASI Komplikasi dini merupakan infeksi pada kantong yang mudah terjadi pada permukaan yang telanjang. hipotermi dan infeksi. resiko tehadap ibu. Bayi-bayi dengan omphalokel biasanya mengalami lebih sedikit kehilangan panas tubuh sehingga lebih sedikit kehilangan panas tubuh sehingga lebih membutuhkan resusitasi awal cariran dibanding bayi dengan gastrokisis. Kadang dijumpai lapisan tersebut akan terpecah dan usus akan prolap. PENATALAKSANAAN 1. F. Tempatkan bayi pada ruangan vang asaeptik dan hangat untuk mencegah kehilangan cairan. Bila melanjutkan kehamilan sebaiknya dilakukan abservasi melaui pemeriksaan USG berkala juga ditentukan tempat dan cara melahirkan. Posisi kepala sebaiknya lebih tinggi untuk memperlancar drainase. Keputusan akhir dibutuhkan guna perencanaan dan penatalaksanaan berikutnya bempa melanjutkan kehamilan atau mengakhiri kehamilan. 2. kelanjutan penatalakasanaan awal apakah berupa operasi atau nonoperasi (konservatif) dan penatalaksanaan postoperasi. dan prognosis.bungkusnya akan mengering dalam beberapa hari dan akan tampak retak-retak. G. keadaa. Bayi sebaiknya dilahirkan atau segera dirujuk ke suatu pusat yang memiliki fasilitas perawatan intensif neonatus dan bedah anak. Selama kehamilan omphalokel mungkin berkurang ukurannya atau bahkan nzptur sehingga mempengaruhi prognosis. Beberapa macam alat bantu ventilasi seperti mask . Secara umum penatalaksanaan bayi dengan omphalokele dan gastroskisis adalah hampir sama. Penatalaksanaan segera bayi dengan omphalokel adalah sbb: 1.Penatalaksanan postnatal (setelah kelahiran) Penatalaksannan postnatal meliputi penatalaksanaan segera setelah lahir (immediate postnatal). Pada saat tersebut akan menjalar infeksi dibawah lapisan yang mengering dan berkrusta. Lakukan penilaian ada/tidaknva distress respirasi yang mungkin membutuhkan alai bantu verltilasi seperti intubasi endotrakeal. ahli anak dan ahli bedah anak. Kelainan kongenital dinding perut ini mungkin disertai kelainan bawaan lain yang memperburuk prognosis. 2. Posisikan bayi senyaman mungkin dan lembut untuk menghindari bayi menagis dan air swallowing. 3. Informed consent sebaiknya melibatkan All kandungan. Penatalaksanaan prenatal Apabila terdiagnosa omphalokel pada masa prenatal maka sebaiknya dilakukan informed consent pada orang tua tentan.n janin.

Pasang kateter uretra untuk mengurangi distensi kandung kencing dan mengurangi tekanan intra abdomen. dan untuk pemberian antibitika broad spektrum. cairan dan elektrolit. 6. 8. walaupun demikian. 7. Pasang pipa nasogastrik atau pipa orogastrik untuk mengeluarkan udara dan cairan dari sistem usus sellinop dapat mencegah muntah. Bila bayi akan dirujuk sebaiknya bayi ditempatkan dalam suatu inkubator hangat dan ditambah oksigen 3. sehingga sulit dilakukan penutupan (operasi/repair) secara primer dan dapat mernbahayakan bayi. Pasang jalur intra vena (sebaiknva pada ektremitas atas) untuk pemberian cairan dan nutrisi parenteral sehingga dapat menjaga tekanan intravaskuler dan menjaga kehilangan protein vang mun(jkin terjadi karena ganggLlan sistem usus. mencegah aspirasi. status asam basa. Lakukan monitoring dan stabilisiasi suhu. Pada giant ornphalocele bisa terjadi hernias] dari seluruh organ-organ intraabdomen dan dinding abdomen berkernbang sangat buruk. 5. Evaluasi adanya kelainan kongenital lain yang ditunjang oleh pemeriksaan rongent thoraks dan ekhokardiogram. Penatalaksanaan nonnoperasi (konservatif) Penatalaksanaan omphalokel secara konservatif dilakukan pada kasus omphalokel besar atau terdapat perbedaan yang besar antara volume organ-organ intraabdomen yang mengalami herniasi atau eviserasi dengan rongga abdomen seperti pada giant omphalocele atau terdapat status klinis bayi yang buruk sehingga ada kontra indikasi terhadap operasi atau pembiusan seperti pada bayi¬bayi prematur yang memiliki hyaline membran disease atau bayi yang memiliki kelainan kongenital berat yang lain seperti gagal jantung. glukosa dan hematokrit perlu dilakukan guna persiapan operasi bila diperlukan 9. mengurangi distensi dan tekanan (dekompresi) dalam sistem usus sekaligus mengurangi tekanan intra abdomen. demikian pula perlu dipasang rectal tube untuk irigasi dan untuk dekompresi sistem usus. perllah mencoba rnelakukan operasi pada giant otnphalocele secara primer dengan moditikasi dan berhasil. Beberapa All.tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan masuknya udara kedalam traktus gastrointestinal 4. Suatu saat setelah -ranulasi terbentuk maka dapat dilakukan skin graft yang .atau selaput. Pemeriksaan darah lain seperti fungsi ginal. 10. Tindakan nonaperatif secara sederhana dilakukan dengan dasar merangsang epitelisasi dari kanton.

.. 3. Operasi dapat bersifat darurat bila terdapat ruptur kantong dan obstruksi usus..kg/ . Glasser (2003) menyatakan bahwa tinakan nonoperatif pada omphalokel memerlukan waktu yang lama. Beberapa obat yang biasa digunakan untuk merangsang epitelisasi adalah 0. Bayi dengan ompalokel raksasa (giant ornphalocele) dan kelainan penyerta yang mengancam jiwa dimana penanganannva harus didahulukan daripada umphalokelnya. silver sulvadiazine dan povidone iodine (betadine)... sehingga seluruh pemeriksaan fisik dan pelacakan kelainan lain yang mungkin ada dapat dikerjakan. Rumah Sakit: Tanggal Pengkajian: Jam Pengkajian: . Dengan adanya kantong yang intak.. Neonatus dengan kelainan yang menimbulkan komplikasi bila dilakukan pembedahan.. 8. tak diperlukan operasi emergensi.... Asuhan keperawatan pada bayi baru lahir FORMAT PENGKAJIAN BAYI BARU LAHIR Nama Mahasiswa: Nama Ayah-Ibu: Alamat: Riwayat Persalinan  BB/TB Ibu:.. Penatalaksanaan dengan operasi Tujuan mengembalikan organ visera abdomen ke dalam rongga abdomen dan menutup defek..nantinya akan terbentuk hernia ventralis yang akan dinepair pada waktu kemudian dan setelah status kardiorespirasi membaik. Operasi dilakukan setelah tercapai resusitasi dan status hemodinamik stabil..... in poliamid mesh yang dilekatkan pada kulit. 2... membutuhkan nutrisi yang banyak dan angka metabolik yang tinggi serta omphalokel dapat ruptur sehingga dapat menimbulkan infeksi organ-organ abdomen.25% merbromin (mercurochrome).... Indikasi terapi non bedah adalah: 1.... 4. 0.. Tindakan nonoperatif lain dapat berupa penekanan secara eksternal pada kanong. Obat tersebut berupa krim dan dioleskan pada permukaan selaput atau kantumg dengan elastik dressing yang sekaligus secara perlahan dapat menekan dari mengurangi isi kantong. Bayi dengan kelainan lain vang berat yang sangat mempengaruhi daya tahan hidup. Obat-obat tersebut merupakan agen antiseptik yang pada awalnya memacu pembentukan eskar bakteriostatik dan perlahan-lahan akan 'terangsang epitelisasi... Velcro binder.25% silver nitrat... Beberapa material yang biasa digunakan ialah Ace wraps.. Persalinan di:.cm..

.........Keadaan Bayi Saat Lahir Lahir tanggal:.cm Suhu:..... Jam:.................................... Jumlah pembuluh darah. Kelainan........ Jenis kelamin:.... Pengkajian Fisik  Umur............gr Panjang Badan:.............°C Lingkar kepala:..........................jam Berat Badan:............cm Hidung Mulut □ Simetris □ Palatum mole □ Palatum curum □ Gigi □ Lubang hidung ............ Ukuran...... Kelahiran: tunggal/ gemelli Nilai APGAR TANDA NILAI 0 Denyut jantung Usaha napas ○□ Tidak ada ○□ Lambat ○□ Menangis kuat Tonus otot ○□ Lumpuh ○□ Ekstremitas fleksi sedikit Iritabilitas refleks Warna ○□Tidak bereaksi ○□ pucat ○□ Gerakan ○□ Reaksi ○□ aktif Gerakan ○□ Tidak ada 1 ○□ <100 2 ○□ >100 JUMLAH sedikit Biru/ ○□ melawan Tubuh ○□ Kemerahan kemerahan tangan kaki biru dan Keterangan: ○ penilaian menit ke-3............................................................ □ penilaian menit ke-5 Tindakan resusitasi...hari.......... Talipusat: Panjang. Plasenta: Berat...........cm Lingkar dada:.

................. BAK pertama: tgl.............Lingkar perut:... Vernix.................................................................cm KEPALA Bentuk kepala □ Bulat □ Lain-lain □ Molding □ Kaput □ Cephalhematom Ubun-ubun Besar Kecil Sutura Mata Posisi............x/menit Lanugo..... Mekonium....x/menit Perut □ Lembek □ Kembung □ Benjolan Bising usus..x/menit Dada Pergerakan Leher TUBUH Warna □ Keluaran □ Pernapasan cuping radung □ Pergerakan leher □ Pink □ Pucat □ Sianosis □ Kuning □ Aktif □ Kurang □ Simetris □ Asimetris □ Retraksi □ Seesaw STATUS NEUROLOGI Refleks □ Tendon (dinilai semua) □ Moro □ Rooting □ Menghisap □ Babinski □ Menggenggam □ Menangis □ Berjalan □ Tonus leher NUTRISI Jenis makanan □ ASI □ PASI □ Lian-lain ELIMINASI BAB Pertama: tgl............................................ jam. jam... PUNGGUNG Keadaan punggung □ Simetris □ Asimetris . DATA LAIN YANG MENUNJANG Denyut jantung .. Bentuk............ □ Kotoran □ Perdarahan Teinga Posisi............................ □ Lubang telinga □ Keluaran Jantung & paru-paru □ Normal Bunyi napas □ Ngorok □ Lain-lain Bunyi napas ..........

..................................... Perempuan Labia minora □ Menonjol □ mayor Keluaran......... Resiko infeksi berhubungan dengan imun yang diperoleh tidak adekuat 1....□ Pilonidal dimple Fleksibilitas tulang punggung □ Kelainan..... Anus EKSTREMITAS Jari tangan □ Kelainan....... □ Kelainan................ Tangan.. Tertutup labia (Lab................. dll) KESIMPULAN 1............ DIAGNOSA KEPERAWATAN Kelainan.. psikososial.... Posisi Kaki....... Femoral.... GENITALIA Laki-laki □ Normal □ Hypospadius □ Epispadius Testis...... Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan mukus yang berlebih 2.............. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan mukus yang berlebih Dibuktikan dengan: ................ Hipotermia berhubungan dengan evaporasi kulit pada lingkungan dingin 3.. Pergerakan □ Tidak efektif □ Asimetris □ Tremor □ Rotasi paha Nadi Brachial....

terutama setelah Pediatrics menyusu American Academy of (1996b) merekomendasikan posisi telentang selama tidur untuk bayi baru lahir sehat. suara napas abnormal. drainase sekresi. lubang hidung megar. stridor. laporkan Tanda distres pernapasan meliputi setiap tanda distres pernapasan takipnea. retraksi interkostal. diperlukan jika sewaktu-waktu Spuit pengisapan. RR bayi 30-60 kali/menit INTERVENSI RASIONAL Pantau TTV secara ketat.    Adanya suara tambahan Perubahan pada kecepatan pernapasan Perubahan pada irama pernapasan Sianosis Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan bersihan jalan napas kembali efektif dan pasien dapat mempertahankan patensi jalan napas Kriteria hasil:   Pasien dapat mempertahankan kepatenan jalan napas. grunting. pengisap yang telah dipakai harus diganti setiap 24 jam di RS dan dididihkan selama 10 menit sebelum digunakan lagi dirumah untuk . sianosis atau palor Perhatikan pada pemberian posisi Untuk mempertahankan patensi jalan bayi yang benar untuk memudahkan napas. Rekomendasi ini didasarkan pada kemungkinan tidur tengkurap dan kejadian sindrom kematian bayi mendadak Sediakan selalu spuit penghisap di Digunakan dekat bayi.

Pengisapan yang lembut diperlukan untuk menghindari bradikardia dan reflektoris. Pengisapan orofaringeal dilakukan selama 5 detik. darah dan mukus. laringospasmus. Untuk menghindari aspirasi cairan amnion atau mukus. dengan waktu yang cukup di antara pengisapan untuk memungkinkan kembali. aritmia jantung akibat rangsang vagal. Memasukkan kateter ke dalam lambung juga akan menyingkirkan atresia esofagus. bersihkan dahulu faring. Hipotermia berhubungan dengan evaporasi kulit pada lingkungan dingin .menghilangkan kontaminasi bakteri. dengan selang makan lambung secara rutin dikosongkan dengan selang makan untuk bayi teroksigensi membuang cairan amnion. Kosongkan lambung secara rutin Pada beberapa ruang perawatan bayi. yang dapat menyebabkan distensi abdomen dan mengganggu pernapasan. kemudian salurang hidung untuk mencegah terdorongnya sekresi ke dalam bronki Sediakan penghisap mekanis jika Apabila dibutuhkan sekresi diperlukan yang lebih pengambilan kuat dapat digunakan pengisap mekanis Perhatikan alat dan penggunaannya Penggunaan kateter berukuran tepat secara benar dan tepat dan teknik pengisapan yang benar sangat penting untuk menghindari kerusakan dan edema mukosa. 2.

Letakkan bayi sangat dekat dengan Bermanfaat secara fisik baik untuk ibu. seprti dalam dekapannya atau di mempertahankan atas perutnya segera panas maupun setelah menumbuhkan keterikatan maternal. berikan penutup selimuti bayi. kelahiran. evaporasi dan radiasi. infeksi/gagal napas. Penempatan .Dibuktikan dengan:        Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan hipotermia bisa teratasi Kriteria hasil:  Pasien dapat mempertahankan kestabilan suhu tubuh. gagal jantung. handuk hangat dan tempatkan bayi Penyebab utama kehilangan panas di ruangan yang dihangatkan..5°-37°C (97. dan konveksi. Jika bayi ditempatkan di dalam Untuk menghindarkan kehilangan inkubator. pada bayi baru lahir adalah konduksi. fenomena tromboembolik. dengan ruangan persalinan yang dingin.  Suhu tubuh dalam rentang normal antara Aksilar-36. tempatkan inkubator jauh panas melalui radiasi. Cairan amnion yang membasahi kulit akan terutama memudahkan jika disertai evaporasi.  Terbebas dari komplikasi mis.9°-98° F) pada pengukuran aksilar INTERVENSI RASIONAL Suhu tubuh di bawah rentang normal Kulit dingin Sianosis pada bantalan kuku Pallor/pucat Menggigil Capillary refill lambat Takikardia Keringkan kulit dan rambut dengan Menjaga panas tubuh bayi baru lahir. kepala.

jendela. dan unit inkubator dekat dengan jendela yang ventilasi. tetes mata eritromisin (0. atau tabung dosis tunggal).dari dinding. lorong yang kering. salep konjungtivitas infeksiosa. perak nitrat dan larutan providone-iodine 2. Antibiotika topikal seperti tetrasiklin dan eritomisin. Chlamydia atau tetes mata tetrasiklin (1%) trachomatis merupakan penyebab (lebih disukai dalam bentuk ampul utama oftalmia neonatorum di AS. 3. dingin. salep atau terhadap profilaksis oftalmia mata neonatorum. Konduksi adalah memberikan isolasi dengan kain dan kehilangan panas dari tubuh akibat selimut bukan meletakkan bayi kontak langsung kulit dengan benda padat yang lebih dingin langsung ke meja keras. Risiko infeksi berhubungan dengan imunitas yang diperoleh tidak adekuat Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan risiko infeksi tidak muncul Kriteria hasil:   Pasien terlindungi dari infeksi dan cedera Pasien terbebas dari tanda-tanda infeksi INTERVENSI RASIONAL Cuci tangan secara seksama oleh Untuk mencegah infeksi silang semua individu yang terlibat dalam asuhan bayi Lakukan perawatan mata dengan Penanganan larutan perak nitrat (1%).5%). Perak nitrat efektif terhadap konjungtivitis gonokokus. atau unit dengan pendingin udara akan mendinginkan dinding inkubator yang akhirnya merembet ke tubuh bayi.5% tidak . Tempatkan bayi pada permukaan Untuk mencegah kehilangan panas tertutup dan terlapisi yang mampu secara konduksi.

Berikan vitamin K dalam dosis Untuk mencegah penyakit intramuskular tunggal 0. Kir oral eritomisin 14 hari atau sulfonamida oral dapat diberikan untuk konjungtivitis chlamydia (American Academy of Pediatrics and American College of Obstetrician and Gynecologists.  Buka kelopak mata dan berikan 2 tetes atau 1 sampai 2 cm ( ½ inci) salep pada setiap kantong konjungtiva. PEDOMAN PROFILAKSIS OFTALMIA NEONATORUM  Bersihkan kelopak mata dengan kapas steril dan air steril jika perlu.5 sampai 1 perdarahan BBL. Akan . Usap kelebihan obat dari mata dengan kapas steril 1 menit setelah pemberian. Dianjurkan juga bahwa profilaksis mata diberikan pada BBL melalui sesar jika terjadi infeksi intrauterin asending. K disintesis oleh flora usus. Normalnya vitamin mg segera setelah lahir.  Lakukan kelopak  pemijatan mata pada untuk meyakinkan obat telah rata.terbukti efektif untuk mengatasi konjungtivitis chlamydia. 1997).  Jangan membilas mata dengan salin normal steril.

maka jelas ketersediaannya tidak mencukupi selama 3 sampai 4 hari pertama. Pemberian sukrosa oral pada bayi dapat mengurangi nyeri injeksi (Allen. karena usus bayi masih steril pada saat lahir dan kandungan vitamin K dalam ASI rendah. 1994) Berikan vaksin Hepatitis B (HBV) Untuk mengurangi insidensi HBV pada anak-anak dan konsekuensi seriusnya. Bayi prematur yang lahir dari wanita . Otot ini digunakan karena berhubungan dengan respons imun yang lebih baik dibandingkan otot di daerah dorsogluteal (American Academy of Pediatrics. Otot vastus lateralis direkomendasikan sebagai tempat penyuntikan. 1996). White. amak pemberian dosis pertama dari tiga dosis vaksin HBV dianjurkan sejak kelahiran dan usia 2 hari pada semua BBL.tetapi. sintesis yang protrombin diperlukan untuk pembekuan darah dan koagulasi. sirosis dan kanker hati di usia dewasa. tetapi dapat juga digunakan otot ventrogluteal (bukan dorsogluteal) Kongelbeck. Injeksi (Beecroft & diberikan di otot vastus lateralis. dan Walburn. Fungsi vitamin K adalah sebagai katalis dalam pada hati. 2000).

Diperkirakan bahwa penapisan terhadap faktor risiko tinggi saja gagal mengidentfikasi hampir 50% dari semua bayi baru lahir dengan ketulian bawaan. tanpa mempertimbangkan usia gestasional atau BB lahir (American Academy of Pediatrics. pendengaran American Aacademy of Pediatrics (1999b) merekomendasikan bahwa semua RS bersalin menetapkan bayi baru lahir universal progrma untuk menapis semua bayi bayu lahir sebelum pemulangan untuk mendeteksi adanya ketulian dengan memeriksa respons batang otak auditori atau evoked otoacoustic ernissions. . vaksinasi harus ditunda sampai usia 2 bulan jika Bblahir kurang dari 2000 gr. 2000) Lakukan penapisan/skrining penyakit Sejumlah kelainan genetik dapat pada bayi baru lahir Lakukan penapisan terdeteksi dalam peride setelah lahir. Bayi baru lahir yang gagal pada penapisan awal harus didokumentasikan dan dirujuk untuk uji lanjutan sebelum usia 3 bulan. diberikan jika BB 2000 gr atau lebih. Bayi yang lahir dari ibu HbsAG-positif harus diiumunisasi dalam 12 jam setelah kelahiran dengan vaksin HBV dan imunoglobulin hepatitis B (HBIG) pada tempat yang berbeda.HbsAG-negatif harus divaksinasi tepat sebelum dipulangkan.

terutama suhu. Saat dapat memandikan bayi. keadaan bangun. kesiagaan. perawat dari menyelesaikan lebih sekedar higiene umum. Ketika itu. .Mandikan bayi. Memandikan biasanya dilakukan setelah TTV stabil. dan aktivitas muskularnya. sangat tepat bagi kita untuk mengobservasi tingkah laku bayi.

Buku Ajar Keperawatan Maternitas E/4. Barbara R Alih bahasa Maria A. Edisi 21. Jakarta : EGC Hamilton. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong alih bahasa Agus Suratna dkk. May. A. Darto. Obstetri William : Panduan Ringkas. Lowdermilk. 2005.2000. Jakarta:EGC Suharso. Achmad Y Herjana. et al. 2009. 2008. persis mary. 1994. Stright. Leveno. Norman F. Constance. Kenneth J. Aziz Alimul. K.Kp & dr. Pemeriksaan Neurologis Pada Bayi dan Anak. Dona L et al.Peter I. 2009.. Jakarta : EGC Hidayat. Wong.Anugerah. Jensen. Jakarta : EGC.Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. 2008.R. Cunningham. F Garry. Lippincott Saifudin. Wijayarini. Maternal and Neonatal Nursing : Family-centered Care (3rd ed).A dan Mahlmeister L. 2004.Alih bahasa: Maria A. Alih bahasa :Ni Luh Gede Yasmin Asih. Wijayarini. Jakarta : Salemba Medika.B.DAFTAR PUSTAKA Bobak.S. Keperawatan Ibu-Bayi Baru Lahir Edisi 3. Abdul Bahri. SKp. Jakarta : EGC . Philadelphia : J. 2004. 1995. Buku Saku Kebidanan. Dasar Dasar Keperawatan Maternitas Ed 6. Jakarta : EGC. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta:Yayasan Bina Pustaka Sarwono Sinclair..Erny. Disampaikan pada lokakarya Tumbuh Kembang Anak Divisi Neuropediatri FK Unair. Gant.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful