P. 1
METODE ELEMEN HINGGA(2)

METODE ELEMEN HINGGA(2)

|Views: 437|Likes:

More info:

Published by: Ragerishcire Kanaalaq on May 18, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/09/2015

pdf

text

original

TUGAS KEKHUSUSAN 1

PRINSIP-PRINSIP DASAR
METODE ELEMEN HINGGA
Oleh :
AGUS.R.UTOMO
0906506486
PROGRAM DOKTORAL (S3)
DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA
DAFTAR ISI
ABSTRAK
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar BElakang
1.2. Tujuan
1.3. Metodologi
2. METODE ELEMEN HINGGA
2.1. Model Matematika MEH
2.2. Diskretisasi
2.3. Nilai Eigen
2.4. Kondisi Batas
2.5. Konvergensi.
3. PENERAPAN MEH PADA ELEKTROMAGNET
3.1. Problem Magnetik
3.2. Problem Magnetik Harmonik-Waktu
3.3. Problem Elektrostatik
3.4. Problem Aliran Arus
4. ANALISIS
5. KESIMPULAN
A B S T R A K
Secara umum Metode Elemen Hingga (MEH) adalah linierisasi polynomial orde tinggi, baik
dua dimensi (2D) maupun (3D). Pada prinsipnya komputasi dengan MEH adalah metode
komputasi numerikal yang memecah sistem besar yang tak hingga menjadi elemen-elemen
kecil yang terukur (hingga). Elemen-elemen yang dibuat kebanyakan berbetuk segitiga.
Permodelan matematiknya sendiri dapat dibuat untuk satu dimensi (1D), dua dimensi (2D)
atau tiga dimensi (3D). Karena komputasinya berbasis komputer maka Persamaan Diferensial
Parsial (PDP) harus dilinierkan terlebih dahulu. Salah satu masalah yang muncul setelah
linierisasi adalah masalah nilai Eigen.
1. PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Dalam era komputer seperti dewasa ini semua pekerjaan terutama yang berkaitan
dengan desain dilakukan dengan menggunakan program komputer. Untuk membuat program
komputer tersebut diperlukan permodelan matematis sesuai dengan kebutuhan. Salah satu
program komputasi yang banyak digunakan untuk disain saat ini adalah Metode Elemen
Hingga (Finite Element Method). Perangkat lunak MEH yang banyak digunakan sekarang
ialah ANSYS dan FLOTRAN.
Pada prinsipnya komputasi dengan MEH adalah metode komputasi numerikal yang
memecah sistem besar yang tak hingga menjadi elemen-elemen kecil yang terukur (hingga).
Elemen-elemen yang dibuat kebanyakan berbetuk segitiga. Permodelan matematiknya sendiri
dapat dibuat untuk satu dimensi (1D), dua dimensi (2D) atau tiga dimensi (3D). Namun
model yang banyak diterapkan adalah model 2D atau 3D. Persoalan utama yang muncul di
sini ialah permodelan matematikanya yang menggunakan Persamaan Diferensial Parsial
(PDP). Karena komputasinya berbasis komputer maka PDP harus dilinierkan terlebih dahulu.
Salah satu masalah yang muncul setelah linierisasi adalah masalah nilai Eigen. Jadi secara
umum MEH adalah linierisasi polynomial orde tinggi, baik 2D maupun 3D.
Namun demikian permodelan matemetik untuk MEH ini masih terus dikembangkan
sampai saat ini. Tidak hanya model matematikanya saja, melainkan penerapan MEH itu
sendiri sampai kini masih terus dikembangkan meskipun MEH sudah dikenal lebih dari satu
dekade. Sedangkan penulisan ini hanya bersifat penelaahan mengenai MEH untuk
dikembangkan lebih lanjut, baik permodelan matematiknya, prosedurnya maupun
penerapannya, sehingga dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi di dunia.
1.2. TUJUAN
Tujuan dari penulisan ini adalah :
1. Mempelajari prinsip-prinsip dasar dan permodelan oleh MEH.
2. Menerapkan dan mengkaji MEH yang tersedia saat ini, sebagai langkah awal penelitian.
3. Mengembangkan MEH baik dalam permodelan matematik, prosedur maupun dalam
penerapannya khususnya untuk diterapkan dalam teknik elektro.
1.3.METODOLOGI
Sebagai langkah awal penelitian, metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah
studi literatur dari literatur-literatur berupa Journal atau lainnya yang merupakan hasil karya
pengembangan para peneliti maupun para praktisi terdahulu.
Sesuai dengan tujuan di atas, dari studi literatur ini akan didapatkan pengetahuan dasar
tentang MEH yang akan akan diperdalam untuk diterapkan dan dikaji lebih lanjut. Sehingga
pengetahuan yang berasal dari studi literature tersebut dapat dikembangkan agar dapat
memberikan kontribusi pperkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia.
2. METODE ELEMEN HINGGA
2.1. MODEL MATEMATIK MEH
Pandang suatu Persamaan Diferensial 1D dengan kondisi batas (boundary condition)
terterntu, yakni antara x = 0 dan x = π ( 0 < x < π )

f(x) u q(x) )
dx
du
(p(x)
dx
d
· + −
( 2-1
)
Dalam sistem tiga dimensi (3D) persamaan di atas biasanya untuk memudahkan penyelesaian
ditransformasikan menjadi berbentuk, eliptik, parabolik atau hiperbolik. Sebenarnya bentuk-
bentuk tersebut ditentukan oleh nilai-nilai Eigen (Eigen Value), ε yang terbentuk. Namun
dalam kebanyakan kasus persamaannya berbentuk eliptik.
Bila persamaan (2-1) tersebut dibuat dalam 3D dan diselesaikan dengan MEH, maka
persamaan tersebut menjadi :

z) y, f(x, z)u y, q(x, )u z) y, .(D(x, · + ∇ ∇ −
( 2-2 )
Selanjutnya linierisasikan PD di atas menjadi
( 2-3 )
L adalah operator linier
Persamaan (2-3) merupakan dot product dari dua buah vector, sehingga dapat didefinisikan :
( 2-4 )
Nilai I(v) minimum ketika , sehingga Lu= f memberikan nilai minimum
I(v).

Bila I minimum pada u, maka untuk seluruh v dan ξ,
Lu = f
v) 2(f, v (Lu, I(v) − ·
f) 2(Lu
dv
dI
v u
− ·
·
( 2-5 )
Ketika ξ, sebagai koefisien, bernilai kecil sekali, menyebabkan (Lu,v)-(f,v)
menghilang dari persamaan. Oleh sebab itu :
( 2-6 )
Berlaku untuk semua harga v.
Persamaan ( 2-6 ) merupakan dasar (basis) untuk analisis MEH. Persmaan ini dikenal sebagai
bentuk “GALERKIN” atau bentuk lemah (weak form). Dengan cara Galerkin ini tidak
diperlukan waktu lama untuk L menjadi positif bahkan simetri, karena model Galerkin hanya
berkaitan dengan titik stasioner. Namun perlu diingat agar tidak terjadi kerancuan bahwa
dalam analisis MEH yang diselesaikan adalah (Lu,v) = (f,v) bukan Lu = f.
Hal yeng perlu diperhatikan ialah fungsi kuadrat terkecil (Least Square Function) :
( 2-7 )
Persamaan (2-7) mempunyai nilai minimum (nol) pada titik yang sama yang memenuhi
Lu = f. Namun demikian pada kenyataannya , bukannya Lu = f.
Akan tetapi bila L inversibel, maka kedua persamaan tersebut ekivalen.
Kini Tinjau kembali sebuah persamaan satu dimensi dengan elemen-elemen yang
sangat baik, mudah dihitung. Dan tinjau Perkalian dot (dot atau inner product) dua buah
vector yang hasilnya analog dengan integrasi dengan tetap pada interval yang sama seperti di
atas yaitu 0 < x < π.
( 2-8 )
Hitung persamaan (2-8) ini dengan (Lu, v) menggunakan integral parsial.
( 2-9 )
[ ] v) (Lu, ξ v) (f, v) (Lu, ξ 2 I(u) ξv) I(u I(u)
2
+ − + · + ≤
(Lu, v) = (f,v)
f) Lv f, (Lv Q(v) − − ·
f) Lv f, (Lv f L Lu L
T T
− − · ·
dx v(x) f(x) v) (f,
π
0

·
π
0
π
0
π
0
v pu' dx quv] v' [(pu' vdx q(u)] )' u' (p(x) [ v) (Lu, − + · + − ·
∫ ∫
dan ( 2-10 )
Demikian pula dengan perhitungan untuk ruang 3D
( 2-11 )
( 2-12 )
dan
( 2-13 )
2.2. DISKRETISASI
Pendekatan diskretisasi pada elemen hingga pada umumnya menggunakan persamaan
Poison
( 2-14 )
Langkah selanjutnya proyeksikan persamaan (2-14) di atas ke dalam koordinat Cartesian,
maka persamaan tersebut menjadi :
( 2-15 )
Dengan demikian persamaan (2-15) kini menjadi :
S u) .(D · ∇ ∇ −
S )
z
u
(D
z
)
y
u
(D
y
)
x
u
(D
x
·
1
]
1

¸





+




+





π
0
2
π
0
2
v pu' v(x)] f(x) 2 q(x)(v(x)) (x)) v' (p(x) [ I(v) − − + − ·

dV z) y, v(x, z) y, , f(x v) (f,
V

·



+ ∇
− + ∇ ∇ − ·
V
A
V
dV z) y, v(x, z)] y, u(x, z) y, q(x,
NdA z). y, u(x, z)] y, p(x, z) y, v(x, .
dV z) y, u(x, z)] y, q(x, ) z) y, .(p(x, [ v) (Lu,
∫ ∫



+ ∇
− ∇ ∇ ·
V V
2
A
V
dV z) y, v(x, z) y, q(x, dV z)) y, z)(v(x, y, q(x,
NdA z). y, u(x, z) y, p(x, z) y, v(x,
. dV z) y, v(x, z). y, vq(x, ) z) y, (p(x, I(v)
( 2-16 )
Bila diintegralkan secara parsial akan didapatkan :
( 2-17 )
Pada persamaan ini terjadi 2 macam integral, yaitu integral volume dengan kondisi batas
yang tidak diketahui dan integral permukaan dengan kondisi batas yang diketahui. Oleh
sebab itu, Agar persamaan dapat diselesaikan, maka integral permukaan A, dipindahkan ke
ruas kanan,
Galerkin memilih, suatu set fungsi v = T
1
(x, y, z)……….T
n
(x, y, z) dan didekati oleh u
dengan U(x, y, z) = U
1
T
1
+ …………+U
n
T
n
, U
1
,….U
n
adalah nilai-nilai pada simpul 1,
……..n. Bila u dan v disubstitusikan ke dalam persamaan (2-17), maka akan diperoleh :
( 2-18 )
Bila persamaan (2-18) didefinisikan sebagai :
( 2-19 )
Maka secara umum diperoleh
( 2-20 )
atau ( 2-21 )
Dengan demikian terlihat bahwa persamaan menjadi lebih sederhana, karena pendekatan
Galerkin akan mengurangi salah satu variabel persamaan U(x, y, z) = U
1
T
1
+…….+U
n
T
n
,
SudV udV )]
z
u
(D
z
)
y
u
(D
y
)
x
u
(D
x
[
V V
∫ ∫
·




+




+





C . B dz dy dx ST dz dy dx ]
z
T
)
z
T
(U ....
z
T
(U

y
T
)
y
T
(U ...
y
T
(U
x
T
)
x
T
(U ...
x
T
D[(U
V
i
i n
n
1
1
V
i n
n
1
1
i n
n
1
1


+ ·




+ +


+




+ +


+




+ +







+




+




·
V
j
i
j
i
j
i
ij
dxdydz )
z
T
z
T
y
T
y
T
x
T
x
T
D( K
K
ij
U
j
= F
i

∑ ∑
· · ·
·
n
1 i
i
n
1 j 1, i
j ij
F U K
∫ ∫ ∫

·













+




+




V A
z
A
y
A
x
Svdxdydz vdxdy n
z
u
D vdzdx n
y
u
D
vdydz n
x
u
D dxdydz )
z
v
z
u
y
v
y
u
x
v
x
u
D(
yaitu U = U
i
pada simpul i, dengan syarat T
i
= 1 pada simpul i dan T
i
= 0 pada simpul-simpul
lainnya.
Sebagai langkah penyederhaan, perkirakan elemen linier 1D, yaitu :
( 2-22 )
Dalam hal ini Ti disebut sebagai Fungsi Topi (Hat Function)
( 2-23 )
Demikian pula dengan elemen rektangular bilinier
( 2-24 )
( 2-25 )
Terlihat bahwa sepanjang i dan j yang berlainan elemen, K
ij
= 0. Sebenarnya perakitan sistem
persamaan pada suatu elemen dilakukan secara bersamaan atau pada waktu yang sama.
Integrasi masing-masing elemen didekati dengan nilai tunggal dalam sistem elemen linier
atau dengan nilai rata-rata dari titik-titik Gauss dalam sistem kuadratik.
2.3. NILAI EIGEN (EIGEN VALUE)
Solusi nilai Eigen λ
i
adalah solusi untuk menemukan relasi (hubungan) antara nilai Eigen dan
Vektor Eigen (Pola Eigen). Hubungan tersebut dilukiskan dengan :
[ ] { } [ ] { }
i i i
U M λ U K · ( 2-26 )
λ
i
= nilai Eigen
,
bernilai riil.

{U
i
}= Vektor Eigen dan vektor-vektor [K] dan [M] dianggap
simetri, dengan
[ ] { } { } [ ]
n i
U ........ U P · ( 2-27 )
dan [I] [M][P] [P]
T
·
( 2-28 )
l l
x
U )
x
(1 U bc a U
2 1
+ − · + ·
)
x
(1 T
1
l
− ·
dxy cy bx a U + + + ·
)
y x y x
1 T
i
y x y x
l l l l
+ − − ·
] λ [ [K][P] [P]
T
·
( 2-29 )
[ I ] = Matriks satuan yang berupa matriks diagonal yang mengandung λ
i
, i = 1……n.
Berkaitan dengan nilai Eigen, persamaan (2-26) akan menjelaskan berbagai fenomena fisik
Beberapa Sifat
1. Bila [K] dan [M] definit positif
[ ]{ } [ ]{ } { } ( ) 0 U 0 U M U ; 0 U K U ≠ ∀ > >

( 2-30 )
Semua λ
i
>0 , 0 < λ
1
= λ
min
< λ
2
………< λ
n
= λ
max
( 2-31 )
2. Menurut Rayleigh
max
M
K
min
λ R(x) λ ≤


· ≤ ( 2-32 )
Dengan
[ ]{ } x K x
2
1
K
· ∏
dan
[ ]{ } x x
2
1
M
M
· ∏

{ } { }

·
i i
U a x
= Vektor sembarang, Π
K
=Energi potensial (internal), Π
M
= Energi
kinetik
Dalam Elemen Hingga

≥ ∏ · ∏
e
e
K K
0
dan

≥ ∏ · ∏
e
e
M M
0
3. Dalam suatu elemen
e
e
e
e
min
max
M
K
λ λ ≤



dengan
e
e
e
e
e e
min
e
M max M K
λ λ ∏ ≥ ∏ ≥ ∏
∑ ∑

M
K
e
e
e
e
elm
min
M
K
λ


·





( 2-33
)
Karena
M
K


selalu superior terhadap
min
λ
dan
min
elm
min
λ λ ≤
Maka
e
M
K
max
λ ≤


dengan
elm
m max
λ λ
ax

( 2-34 )
Cara lain untuk menentukan sifat nilai Eigen adalah melalui karakteristik diskrimanan (D)
suatu Persamaan Diferensial Parsial (PDP) orde 2. Dengan cara ini sekaligus dapat diketahui
karakteristik PDP itu sendiri.
Seperti diketahui bahwa karakteristik PDP orde 2 dapat berupa parabolik, hiperbolik atau
eliptik, tergantung dari nilai diskrimannya. Demikian pula dengan nilai Eigen yang akan
terbentuk.
Diasumsikan Uxy = Uyx
Bentuk umum PDP Orde 2 :

0 .......... Cu Bu 2 Au
yy xy xx
· + + +
( 2-35 )
Koefisien A, B dan C tergantung dari x dan y.
Persamaan di atas analog dengan :

0 Cy Bxy 2 Ax
2 2
· + +
( 2-36 )
Diskriminannya adalah
( 2-37 )
Hubungan nilai diskriminan dengan sifat PDP dan nilai Eigen (λ) :
1. D < 0
∇ Solusi PDP : Eliptik
∇ Nilai eigen : Semua λ > 0 atau λ < 0.
2. D = 0
∇ Solusi PDP : Parabolik.
∇ Nilai egien : Semua λ > 0 atau λ < 0, salah satu ε = 0
3. D > 0
∇ Solusi PDP : Hiperbolik.
∇ Nilai eigen : Semua λ > 0 ada salah satu λ < 0
Semua λ < 0 ada salah satu λ > 0
4. D > 0
∇ Solusi PDP : Ultra Hiperbolik.
∇ Nilai eigen : Semua λ > 0 ada lebih dari satu λ < 0
Semua λ < 0 ada lebih dari satu λ > 0
Karakteristik 4 di atas, merupakan karakteristik khusus, karena meskipun D > 0, namun
terdapat lebih dari satu λ yang positif atau neatif. Namun kondisi khusus ini jarang terjadi
atau dengan kata lain terbatas. Oleh karena itu solusinya hanya bisa didapatkan dengan
mnggunakan Persamaan Ultrahiperbolik (Courant & Hilbert, 1962) pula.
2.4. KONDISI BATAS
Kondisi batas yang ideal adalah kondisi batas yang memenuhi keseimbangan dan
kompatibilitas pada simpul struktur pada setiap elemen dan pada perletakan.
Terdapat 2 macam kondisi batas yang teridentifikasi, yaitu :
1. Kondisi batas Kinematik yaitu kondisi batas yang berhubungan dengan kondisi
kompatibilitas dan kondisi peralihaan yang telah ditentukan. Kondisi batas jenis ini
dikenal sebagai kondisi batas peralihan.
2. Kondisi batas mekanik, kondisi batas untuk memenuhi kondisi keseimbangan dan kondisi
gatya termasuk momen yang telah ditentukan sehingga memenuhi kondisi batas struktur
secara keseluruhan. Kondisi batas ini dikenal pula sebagai kondisi batas natural atau fisik
atau kondisi batas gaya.
Kondisi kesetimbangan
Kondisi keseimbangan yaitu kondisi keseimbangan antara gaya-gaya dalam dan gaya-gaya
luar baik pada simpul elemen maupun pada simpul struktur.
Kondisi keseimbangan untuk kasus 2 dimensi harus memenuhi persamaan-persamaan
kesetimbangan sebagai berikut :

·0 F
x ; ∑
·0 F
y ; ∑
·0 F
z

·0 F
MX ; ∑
·0 F
My ; ∑
·0 F
Mz
Kondisi Kompatibilitas
Kondisi kompatibel ialah kondisi peralihan yang kontinyu dan mempunyai satu titik nilai
untuk semua titik pada struktur. Sehingga struktur tetap stabil akibat pembebanan.
Kompatibilitas pada suatu struktur yang dibagi-bagi menjadi elemen-elemen, harus memnuhi
bebrapa persayaratan :
1. Peralihan yang terjadi harus kontinyu dan pergerakannya halus.
2. Seluruh elemen struktur yang terangkai pada satu simpul harus tetap terangkai pada
simpul yang sama.
2.5. KONVERGENSI
Suatu vector tak hingga (infinite) dikatakan konvergen apabila memenuhi :
0 a a Lim
(n)
n
· −
∞ →
; n = 1, 2,…….. ( 2-38 )
a a Lim
(n)
n
·
∞ →
Mengingat MEH pada prinsipnya adalah metode komputasi numerikal yang bersifat
pendekatan, maka hasil akhir komputasinya akan mengalami perbedaan numerikal dengan
sistem yang sebenarnya. Oleh karena itu secara umum persamaan di atas menyatakan bahwa
konvergensi akan terjadi bila kesalahan atau penyimpangan (error) yang terjadi mendekati
nol.
3. PENERAPAN MEH PADA ELEKTROMAGNETIK
Secara umum problem magnetik diselesaikan dengan Persamaan Maxwell. Untuk
frekuensi rendah yaitu frekuensi dibawah frekuensi radio, perpindahan arus (current
displacement) diabaikan. Karena perpindahan arus hanya relevanm untuk frekuensi radio.
Arus dalam hal; ini dimaksudkan sebagai arus magnet yang mengalir pada lembar atau
lempeng magnet (magnet sheet)
3.1. PROBLEM MAGNETIK
Untuk problem ini, medan magnet tidak bervariasi terhadap waktu (time invariant), sehingga
bisa digunakan :
Persamaan Ampere
t
D
J H x


+ · ∇
( 3-1 )
Untuk frekuensi rendah, yaitu frekuensi yang lebih rendah dari frekuensi radio ( f < fr ), maka
perubahan densitas (kerapatan ) arus magnet terhadap waktu,
t
D


dianggap mendekati
nol, sehingga diabaikan.
Persamaan Gauss 0 B . · ∇ ( 3-2 )
Hubungan antara B dan H diberikan oleh :


H μ B . · ∇
( 3-3 )
Bila material nonlinier (seperti : Magnet Alnico, atau Baja Jenuh), maka medan magnet pada
suatu material dinyatakan oleh :

H(B)
B
μ ·
( 3-4 )
Lebih lanjut kerapatan medan dinyatakan dengan persamaan :
Hukum Faraday A x B ∇ · ( 3-5 )
Substuitusikan persaman (3-4) dan (3-5) ke dalam persamaan (1a), maka kini kerapatan
medan dapat dinyatakan dengan :

J A x
(B) μ
1
x ·

,
_

¸
¸
∇ ∇
( 3-6 )
Bila materialnya isotropik dan diasumsikan bahwa besran Coulombnya, ∇. A= 0, maka :

J A
μ
1

2
· ∇ −
( 3-7 )
Dengan :
H = Intesitas Medan Magnet, B = Kerapatan Medan,
μ
= permeabilitas bahan.
A = Vektor potensial medan, J = Kerapatan arus, E = Medan LIstrik
3.2. PROBLEM MAGNETIK HARMONIK-WAKTU (Time-Harmonic Magnetic)
Bila magnet magnet merupakan bervariasi terhadap waktu, maka arus Eddy (Eddy
Current) akan terinduksi ke dalam material sehingga konduktivitas terjadi, arus mengalir
(tidak nol). Untuk itu perlu diperhatikan persamaan Maxwell. Hubungan antara medan listrik
dan kepadatan arus ditunjukkan oleh persamaan :
σE J ·
( 3-8 )
Medan listrik yang diinduksi mengikuti persamaan :

t
B
E x


− · ∇

( 3-9 )
Substtitusikan bentuk vector potensial ke dalam persamaan (3-9)

A x E x −∇ · ∇ ( 3-10 )
Hubungan kepadatan arus dan medan listrik, persamaan (3-8 ) dengan vektor potensial,
adalah :
σV σA J − − · ( 3-11 )
Bila kemudian persmaan (3-11) ini disubstitusikan ke dalam persamaan (3-6), maka diperoleh
(persamaan differensial parsial) :

σV Jsrc σA A x
(B) μ
1
x − + − ·

,
_

¸
¸
∇ ∇

( 3-12 )
Untuk medan magnet dengan frekuensi yang tetap (fixed), maka transformasi fasor akan
menghasilkan persamaan tunak (steady state) yang diselesaikan untuk amplitudo dan fasa A.
Transformasi tersebut adalah :
] Re[ae ωt)] jsin ωt Re[a(cos A
t jω
· + · ( 3-13 )
A adalah bilangan kompleks. Bila persamaan (3-13) disubstitusikan ke dalam persamaan
(3-11), maka didapatkan :

σV Jsrc a σ jω a x
(B) μ
1
x − + − ·

,
_

¸
¸
∇ ∇
( 3-14 )
Dalam hal ini Jsrc adalah transformasi fasor arus yang diterapkan.
3.3. PROBLEM ELEKTROSTATIK
Hal yang dioperhatikan dalam problem elektrostatik ialah perubahan intensitas medan
listrik E terhadap dan kerapatan fluks listrik D. Untuk itu terdapat 2 kondisi yang harus
diikuti, yaitu :
1.Bentuk diferensial Hukum Gauss yang menyatakan bahwa fluks yang memasuki suatu
volume tertutup sama dengan muatan pada volume tersebut.

ρ D . · ∇
( 3-
15 )
ρ = kerapatan muatan.
2. Bentuk differensial Hukum Ampere, yaitu :
0 E x · ∇ ( 3-16 )
Sedangkan hubungan perpindahan (displacement) dan intensitas medan ditunjukkan oleh
persamaan :
E ε D · ( 3-17 )
ε = permitivitas elektrik
Untuk menyederhanakan komputasi, maka medan harus memenuhi persamaan di atas.
Oleh karena itu untuk komputasi digunakan potensial scalar listrik V yang hubungannya
dengan medan listrik E direpresentasikan sebagai :
V E −∇ · ( 3-18 )
Karena vector identitas
0 ψ x · ∇ ∇
untuk setiap ψ maka dengan senirinya akan memenuhi
hukum Ampere (loop). Bila persamaan ini disubstitusikan ke dalam persamaan Gauss, maka
akan diperoleh persamaan diferensial parsial orde dua, yaitu :

ρ V E
2
· ∇
( 3-
19 )
3.4. PROBLEM ALIRAN ARUS
Pada problem ini medan-medan listrik dan magnet mengikuti mengikuti hukum
Maxwell, yaitu :
D J H x + · ∇ ( 3-20 )
0 B . · ∇ ( 3-21 )
B E x − · ∇ ( 3-
22 )

ρ D . · ∇
( 3-
23 )
Bila persamaan (3-20) diturunkan, maka akan didapatkan :

D . J . H x .( ∇ + ∇ · ∇ ∇
( 3-
24 )
Dengan menerapkan vector identitas standar, ruas kiri persamaan (3-22) di atas menjadi sama
dengan nol, sehingga persamaan tersebut menjadi :
0 D . J . · ∇ + ∇ ( 3-25 )
Bila diasumsikan potensial listrik V, dan intensitas medan listrik E, maka :
V E −∇ · ( 3-26 )
Denagan mensubstitusikan transformasi fasor, maka diferensiasi persamaan terhadap waktu
dapat diganti dengan perkalian terhadap jω, sehingga definisi ini dapat disubstitusikan ke
dalam persamaan ( 3-25 ), sehingga menghasilkan :

0 V) ε) j .((σ · ∇ + ∇ − ω
( 3-27 )
Bila material dianggap sebagai potongan-potongan kecil yangkontinyu, maka
persamaan di atas dapat sedikit disederhanakan, menjadi :
0 V) ε) j ((σ
2
· ∇ + − ω ( 3-28 )
Persamaan (14 i) ini dapat juga digunakan untuk mencari solusi arus searah (dc). Karena pada
arus searah frkuensinya adalah nol, maka persamaan (3-28 ) tersebut menjadi :
0 V σ
2
· ∇ − ( 3-29 )_
Solusi yang didapatkan akan tetap konsisten seperti solusi pada arus sinusoidal, bahkan lebih
mudah pemecahan solusinya.
4. ANALISIS
Pada prinsipnya MEH adalah salah satu metode pendekatan komputasi numerikal yang
membagi suatu sistem besar yang tak diketahui menjadi elemen-elemen kecil yang terukur
atau hingga.
Proses pelaksanaannya adalah : Diskretisasi, Permodelan Matematis, Penentuan batas-
batas elemen, Komputasi dan Perakitan Kembali elemen-elemen menjadi sistem yang utuh.
Secara matematis setiap elemen harus kontinyu, Permodelan bisa dilakukan dengan bentuk
1D, 2D atau 3D. Pada umumnya digunakan pendekatan 2D, terutama pada aplikasi teknik
sipil atau mekanik. Demikian pula dengan diskretisasi yang dibuat kebanyakan dibuat dalam
bentuk segitiga. Sedangkan teknik elektro lebih banyak digunakan metode pendekatan 3D.
Karena kebanyakan digunakan model 2D atau 3D, maka model matematik yang dibuat
berbentuk PDP untuk 2D atau 3D. Namun semua model matematik yang berasal dari PDP
tersebut dilinierkan atau dijadikan matriks agar komputasinya dapat lakukan dengan
menggunakan komputer.
Dengan demikian persoalan utama MEH adalah proses linierisasi polynomial orde
tinggi dalam bentuk PDP baik untuk 2D maupun 3D. Proses yang harus dilakukan dengan
cermat adalah diskretisasi, permodelan matematis, pemmbatasan (boundary), dan linierisasi.
Sedangkan nilai dan vektor Eigen merupakan factor koreksi untuk memperhalus (smoothing)
dan meratakan distribusi.
Komputasi dengan MEH menjadi mudahsetelah semua model matematik dilinierkan
seperti terlihat pada bab 3, Penerapan MEH pada elektromagnetik.
5. KESIMPULAN
1. MEH adalah metode pendekatan komputasi numeric yang membagi sistem besar tak
hingga menjadi elemen-elemen kecil yang terukur (hingga).
2. Elemen-elemen kebanyakan dibuat dalam bentuk segitiga. Model bisa dibuat 1D, 2D,
atau 3D. Proses permodelan matematik, diskretisasi, pembatasan (boundary) dan
linierisasi harus dilakukan secermat mungkin. Model matematik pada elemen harus
dibuat kontinyu.
3. Untuk menghaluskan (smoothing) sambungan antar elemen dan meratakan distribusi
biasanya digunakan factor koreksi yang berasal dari Nilai dan Vektor Eigen.
4. Secara umum problem utama MEH adalah problem linierisasi polynomial orde tinggi
dalam bentuk PDP, baik untuk 1D, 2D maupun 3D.
5. Perangkat Lunak MEH yang digunakan sekarang adalah ANSYS dan FLOTRAN..
Referensi :
[1] Tang,Hai., “Mathematics of The Finite Elemen Method”, http://www.math.nist.gov/
mcsd/ savg/tutorial/ansys/FEM , Last Updated December 12, 1995.
[2] “Differential Equation”, Wikipedia, http://en.www.wikipedia.org/wiki/ Differential
equation, Last modified on 21 January 2005.
[3] Katili, I.,“Metode Elemen Hingga Untuk Pelat Lentur”, Fakul-tas Teknik-Departemen
Teknik Sipil, Universitas Indonesia, UI Press (Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta
2009.
[4] Katili, I., “Metode Elemen Hingga untuk Skeletal”, Fakultas Teknik-Departemen
Teknik Sipil, Universitas Indonesia, UI Press (Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta
2009.
[5] Meeker, David., “Finite Element Method Magnetics, Version 3.3”, User Manual, March
17, 2003. [a3]
[6] Meeker, David., “Finite Element Method Magnetics, Version 4.2”, User Manual,
February 5, 2009. [a9]
[7] Brebia, CA.et al,, “The Boundary Element Method For Electromagnetic Problems”,
IEEE Preceding,_______________,
[8] Mc. Phee, AJ., et al, “”Use of The Boundary Method For Pulsed Power
Electro,agmetioc Field Designs”, Integrated Engineering Software – Website Links,
[9] Yildir, Y Bulent. Et al,” “Three Dimensional Analysis of Magnetic Fields Using The
Boundary Element Method”, EEIC/ICWA Preceding, October 7 – 10, 1991, Boston,
[10] Buret, F.,et al.,”About the Implementation of Finite Element Method for Computer
Aided Education in Electrical Engineering”, IEEE Transaction On Magnetics, Vol 34,
No.5 September 1998.
[11] Marignetti, Fabrizio., at al., ”Electromagnetic Modelling of Permanent Magnet Axial
Flux Motors and Generators”, Emerald Ful Text Article, http://www.emeraldinsight.
com/Insight/View…..”
[12] Price, Garrison F., at al., “Design and Testing of Permanent Magnet Axial Flux Wind
Power Generator”., Proceeding of the 2008 IAJC-IJME International Conference, 2008.
[13] Sadeghierad, M., et al., ”Air Gap Optimizationos High Speed Axial-Flux PM
Generator”., Journal of Applied Sciences 9 (10), 2009
[14] Sadeghierad, M., et al., ”Design Analysis of High-Speed Axial-Flux Generator”.,
American Journal of Engineering and Applied Sciences 1 (4), 2008.
[15] Kennedy, Benjamin R.,”Finite Element Analysis of Electromagnetic Interference
Suppression Compo-nents”, Master Thesis, Mechanical Engineering, The University of
Tennessee at Chattanooga.
[16] Dorell, David G., “Design Requirements For Brushless Permanent Magnet Generators
For Use In Small Renewable Energy Systems”., IEEE Journal of Energy Conversion,
Vol.___, No.____
[17] “Finite Element Method”, Wikipedia, http://en.www.wikipedia.org/wiki/Finite_
element_ method”, Last modified on 29 October 2009.
[18] “Electromagnetism”, Wikipedia, http://en.www.wikipedia.org/wiki/Electromag-netism,
Last modified on 5 Sept. 2009.
[19] “Maxwell Equation”, Wikipedia, http://en.www.wikipedia.org/wiki/ Maxwel%27s_
Vequation, Last modified on 21 January 2005.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->