You are on page 1of 30

1.1.Pretreatment Biomassa Lignoselulosa Isroi, SSi., MSi. http://isroi.wordpress.

com
Tulisan ini disarikan dari:

Isroi, Millati R, Syamsiah S, Niklasson C, Cahyanto MN, Lundquist K, Taherzadeh MJ. 2011. Biological pretreatment of lignocelluloses with white-rot fungi and its applications: A review. BioResources 6: 5224-5259.

Pretreatment (perlakuan pendahuluan) biomassa lignoselulosa harus dilakukan untuk mendapatkan hasil yang tinggi di mana penting untuk pengembangan teknologi biokonversi lignoselulosa dalam skala komersial (Mosier et al. 2005). Perlakuan pendahuluan merupakan tahapan yang banyak memakan biaya dan berpengaruh besar terhadap biaya keseluruhan proses. Sebagai contoh perlakuan pendahuluan yang baik dapat mengurangi jumlah enzim yang digunakan dalam proses hidrolisis (Wyman et al. 2005). Perlakuan pendahuluan juga dapat meningkatkan hasil gula yang diperoleh. Gula yang diperoleh tanpa perlakuan pendahuluan kurang dari 20%, sedangkan dengan perlakuan pendahuluan dapat meningkat menjadi 90% dari hasil teoritis (Hamelinck et al. 2005). Tujuan dari perlakuan pendahuluan adalah untuk membuka struktur lignoselulosa agar selulosa menjadi lebih mudah diakses oleh enzim yang memecah polymer polisakarida menjadi monomer gula. Tabel 4. Perlakuan pendahuluan Perlakuan pendahuluan mekanik atau fisik Milling: ball milling two-rol milling hammer milling Perlakuan pendahuluan biomassa lignoselulosa untuk produksi bioetanol Proses Perubahan pada biomassa mengurangi ukuran partikel meningkatkan luas permukaan yang kontak (Taherzadeh & Karimi, 2008) (Sun & Cheng, 2002) (Zhu, et al.,, 2005) Isroi http://isroi.wordpress.com | 1 Referensi

Perlakuan pendahuluan

Proses

Perubahan pada biomassa

Referensi

colloid milling vibrotory ball milling -

dengan enzim mengurangi kristalisasi selulosa

(Thomsen et al., 2008) (Ahring et al.,, 1996) (Hendriks & Zeeman, 2009) (Eggeman & Elander, 2005) (Ohgren et al.,, 2006) (Kabel et al.,, 2007)

Irradiation: gamma-ray electron beam microwave

Lainnya: hydrothermal uap bertekanan tinggi Perlakuan pendahuluan kimia dan fisiko-kimia expansi extrusi pirolisis air panas meningkatkan area pemukaan yang mudah diakses delignifikasi sebagian atau hampir keseluruhan menurunkan

Explosion: eksplosi uap panas ammonia fiber explotion (AFEX)


-

(Sun & Cheng, 2002) (Taherzadeh & Karimi, 2008) (Eggeman & Elander, 2005) (Eklund et al., 1995)

eksplosi CO2 eksplosi SO2

Isroi http://isroi.wordpress.com | 2

Perlakuan pendahuluan

Proses

Perubahan pada biomassa

Referensi

Alkali: sodium hidroksida ammonia ammonium sulfat ammonia recycle percolation (ARP) kapur (lime) -

kristalisasi selulosa menurunkan derajat polimerisasi hidrolisis hemiselulosa sebagian atau keseluruhan

(Negro et al., 2003) (Bower et al., 2008) (Cara et al., 2008) (Kim & Hong, 2001) (Mosier, et al., 2005) (Saha & Cotta, 2008)

Asam: asam sulfat

(Shimizu et al., asam fosfat asam hidroklorat asam parasetat 1998) (Sun & Chen, 2008) (Sun & Chen, 2008b) (Sun & Cheng, 2005) (Zhang et al., 2008) (Kim & Lee, 2002) (Zhao et al., 2008) (Lloyd &

Gas: Clorin dioksida Nitrogen dioksida Sulfur dioksida

Agen Oksidasi: Hidrogen peroksida oksidasi basah

Isroi http://isroi.wordpress.com | 3

Perlakuan pendahuluan

Proses

Perubahan pada biomassa

Referensi

Ozone

Wayman, 2005) (Ahring et al., 1996) (Silverstein et al., 2007)

Pelarut untuk ekstraksi lignin: ekstrasi etanolair ekstrasi benzeneair ekstraksi etilen glikol ekstraksi butanol-air agen pemekar (swelling) Biologi Jamur Pelapuk Putih Aktinomicetes

(Taniguchi et al., 2005) (Shi et al., 2008) (Keller et al., 2003) (Kirk & Chang, 1981)

Selama beberapa tahun terakhir berbagai teknik perlakuan pendahuluan telah dipelajari melalui pendekatan biologi, fisika, kimia. Perlakuan pendahuluan sebaiknya bisa memenuhi kebutuhan berikut ini: 1) meningkatkan pembentukan gula atau kemampuan menghasilkan gula Isroi http://isroi.wordpress.com | 4

pada proses berikutnya melalui hidrolisis enzimatik; 2) menghindari degradasi atau kehilangan karbohidrat; 3) menghindari pembentukan produk samping yang dapat menghambat proses hidrolisis dan fermentasi, 4) biaya yang dibutuhkan ekonomis (Sun and Cheng 2002). Ringkasan berbagai teknik perlakuan pendahuluan yang dikembangkan ditampilkan pada Tabel 4 di bawah ini. Teknik perlakuan pendahuluan yang telah dikembangkan lebih banyak dilakukan secara mekanik atau fisiko-kimia. Perbandingan berbagai metode perlakuan pendahuluan telah diulas secara mendalam oleh beberapa peneliti (Alvira et al. 2010, Hendriks and Zeeman 2009, Mosier et al. 2005, Taherzadeh and Karimi 2008). 1.2.Pretreatment (Perlakuan pendahuluan) Biologi Biomassa Lignoselulosa Pemanfaatan JPP untuk pretreament biomassa lignocellulosa sudah dimulai sejak akhir tahun 1970-an. Perlakuan pendahuluan biologi telah dimanfaatkan untuk hidrolisis enzimatik lignosellulosa sejak awal tahun 1980-an, namun tidak banyak laporan setelah itu. Selanjutnya perlakuan pendahuluan biologi diteliti secara intensif dan banyak dimanfaatkan untuk pakan ternak dan pembuatan pulp (biopulping). Beberapa tahun terakhir pemanfaatan JPP untuk perlakuan pendahuluan kembali diteliti dan dilaporkan, seiring dengan maraknya penelitian biomassa lignosellulosa sebagai bahan baku bioetanol. Pretreament biologi biomassa lignoselulosa memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan perlakuan pendahuluan fisik/mekanik, kimia, atau fisiko-kimia, yaitu: a) lebih spesifik terhadap substrat maupun reaksinya, 2) membutuhkan energi yang lebih rendah, 3) hasil yang lebih tinggi terhadap produk yang diinginkan, 4) peluang transformasi yang tidak bisa dilakukan oleh reagen kimia (Kirk T.Kent and Chang 1981). Salah satu kelemahan perlakuan pendahuluan biologi adalah waktu yang dibutuhkan lebih lama, hingga beberapa minggu (Taniguchi et al. 2005), sedangkan perlakuan pendahuluan fisik/kimia hanya beberapa menit atau jam saja (Taherzadeh and Karimi 2008). Pengaruh perlakuan pendahuluan biologi pada perubahan biomassa lignoselulosa antara lain adalah: penurunan kandungan lignin, penurunan derjat polimerisasi selulosa, dan penurunan derajat kristalisasi selulosa. Perlakuan pendahuluan biomassa lignoselulosa secara biologi kurang mendapatkan perhatian, khususnya untuk produksi bioetanol dibandingkan dengan perlakuan pendahuluan secara fisika/mekanik, kimia atau fisikokimia (Hendriks and Zeeman 2009). Jamur Pelapuk Putih (JPP) merupakan kelompok mikroba yang paling banyak Isroi http://isroi.wordpress.com | 5

dimanfaatkan untuk perlakuan pendahuluan biomassa lignoselulosa (Sun and Cheng 2002). JPP adalah satu-satunya mikroba yang dapat mendegradasi lignin secara sempurnya menjadi CO2. JPP menghasilkan enzim lignin peroksidase (LiP), mangan peroksidase (MnP), versatile peroksidase (VP) dan lakase (Lac) yang berperan di dalam degradasi lignin (Hammel and Cullen 2008). Hatakka (1983) mempelajari perlakuan pendahuluan jerami gandung (wheat straw) oleh 19 JPP dan menemukan bahwa 35% jerami diubah menjadi gula pereduksi oleh Pleurotus ostreatus dalam lima minggu. Hasil yang sama diperoleh pada perlakuan pendahuluan dengan Phanerochaete sordid 37 dan Pycnoporus cinnaboarinus 115 dalam waktu empat minggu. Taniguchi et al. (2005) mengevaluasi perlakuan pendahuluan biologi jerami padi dengan empat spesies JPP (Phanerochaeta chrysosporium, Tremetes versicolor, Ceriporiopsis subvermispro, dan Pleorotus ostreatus) untuk hidrolisis enzimatik. Perlakuan pendahuluan dengan Pleorotus ostreatus lebih banyak mendegradasi lignin daripada komponen holoselulosa, dan meningkatkan hasil hidrolisis enzimatik. Di Korea Lee et al. (2007) melakukan perlakuan pendahuluan biologi terhadap kayu dengan tiga jenis JPP, yaitu: Ceriporia lacerata, Stereum hirsutum, dan Polyporus brumalis, selama delapan minggu. Perlakuan kayu dengan S. hirsutum dapat meningkatkan hasil gula hingga 21,01% daripada kayu yang tidak di-perlakuan pendahuluan. Shi et al. (2008) memperlakukan sisa batang kapas (cotton stalk) dengan P. chysosporium. Fermentasi kultur padat batang kapas dengan kandungan air 75% tanpa penambahan garam mineral selama 14 hari dapat menurunkan kandungan lignin hingga 27,6%, sisa padatan yang diperoleh sebanyak 71,1%, 41,6% karbohidrat tersedia. Ceriporiopsis subvermispora banyak dimanfaatkan untuk pembuatan pulp. Akhtar et al. (1992) memanfaatkan C subvermispora untuk membuat biomekanikal pulping. Perlakuan chip kayu dengan C. subvermispora selama 4 minggu dapat menurunkan sebesar 47% energi yang diperlukan untuk pembuatan pulp dan menurunkan 30% ekstrak resin dibandingkan dengan kontrol. (Blanchette & Burnes, 1988) menganalisa enam JPP (Coriolus versicolor, Dichomitus squalens, Phellinus pini, Phlebia tremellosus, Poria medulla-panis, dan Scytinostroma galactinum) untuk pembuatan biopulp. Jenis JPP dan tipe kayu sangat berpengaruh terhadap degradasi lignin dan selektivitas penghilangan lignin. Ditemukan pula variasi aktivitas enzim Isroi http://isroi.wordpress.com | 6

lignolitik dari strain JPP dari spesies yang sama. Mosai et al. (1999) memanfaatkan C. subvermispora untuk pembuatan biosulfite pulp. Inkubasi chip kayu selama 5 hari mengahasilkan: 5% penurunan kappa number, 11% peningkatan kecerahan (brightness) tanpa penurunan rendemen pulp. Chen et al. (2002) memanfaatkan P. chrysosporium untuk pembuatan biopulp dari jerami yang telah diperlakukan dengan uap panas (steam-exploded). Kandungan lignin berkurang hingga 60% pada hari ke-5 inkubasi dengan P. chrysosporium dan jerami langsung dapat dimanfaatkan untuk pembuatan pulp. Yaghoubi et al. (2008) menemukan bahwa perlakuan pendahuluan jerami dengan C. subvermispora dalam pembuatan biochemical pulp memberikan kualitas pulp yang sangat baik, terutama pada daya tarik (tensile strength) dan burst factor. Perlakuan pendahuluan biologi biomassa dengan JPP juga dimanfaatkan untuk produksi biogas maupun pembuatan pakan ternak. Muller & Trosch (1986) menyeleksi 32 spesies JPP untuk perlakuan pendahuluan jerami gandum dalam produksi biogas. Perlakuan jerami dengan Pleurotus ostreatus memberikan penurunan lignin tercepat. Produksi biogas dari jerami yang telah diperlakukan dengan JPP lebih besar dua kali dibandingkan dengan jerami yang tidak diperlakukan. Karunanandaa & Varga (1996). memperlakukan jerami dengan 4 JPP (Cyuthus stercoreus (Cd), Phanerochaete chrysosporium (PC) and Pleurotus sajorcaju) yang dimanfaatkan untuk pakan ternak. Perlakuan jerami denga JPP secara signifikan meningkatkan uji pencernaan in vitro melalui peningkatan ketersediaan selulosa untuk pencernaan mikroba rumen. 1.3.Jamur Pelapuk Putih (JPP) Jamur yang terlibat dalam biodegradasi biomassa lignoselulosa dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu: jamur pelapuk putih (white-rot fungi), jamur pelapuk coklat (brown-rot fungi), dan jamur pelapuk lunak (soft-rot fungi), tergantung dengan tipe pelapukan yang disebabkan oleh jamur tersebut. Jamur pelapuk putih (JPP) dan jamur pelapuk coklat (JPC) termasuk di dalam kelompok basidiomycetes, sedangkan jamur pelapuk lunak (JPL) termasuk di dalam kelompok ascomycetes, dan aktivitasnya seringkali terkait dengan tinggi rendahnya kelembaban kayu (Blanchette R.A 1995). JPC lebih mendegradasi poliskarida di dalam biomassa lignoselulosa dan hanya sedikit melarutkan lignin. JPP adalah mikroba yang paling efisien dalam mendegradasi lignin menjadi CO2 (Hammel and Cullen 2008). Ligninolitik berhubungan dengan Isroi http://isroi.wordpress.com | 7

produksi enzim ekstraseluler pendegradasi lignin yang dihasilkan oleh JPP. 1.3.1. Degradasi Biomassa Lignoselulosa oleh Jamur Pelapuk Putih (JPP) 1.3.1.1. Enzim Ligninolitik dan Degradasi Lignin JPP menghadapi tiga tantangan utama dalam kemampuannya mendegradasi lignin. Pertama, polimer lignin berukuran besar oleh karena itu sistem ligninolitik harus ekstraseluler. Kedua, struktur lignin tidak memiliki ikatan yang dapat dihidrolisis, oleh karena itu mekanisme degradasi harus oksidatif bukan hidrolisis. Ketiga, karena struktur polimer yang stereoirreguler, enzim ligninolitik harus kurang sepesifik daripada enzim-enzim lainnya (Kirk T. Kent and Cullen 1998). Perombakan lignin oleh JPP melibatkan aktivitas ligninolitik enzim yang diringkaskan pada Tabel 6. Enzim ekstraseluler utama yang terlibat dalam perombakan lignin adalah lignin peroksidase yang mengandung heme (Ligninase, LiP, E.C 1.11.1.14), mangan peroksidase (MnP, EC 1.11.1.13) dan lakase yang mengandung tembaga (Cu; benzenediol:oxygen oxidoreductase, EC 1.10.3.2)(Hatakka Annele 2001). Kelopok baru dari lignin peroksidase, mengkombinasikan sifat struktural dan fungsional dari LiP dan MnP, adalah versatile peroxidase (VP) (Hammel and Cullen 2008). VP dapat mengoksidasi Mn2+ dan senyawa phenolik, seperti halnya dapat mengoksidasi senyawa aromatic nonphenolik seperti veratryl alcohol. Beberapa enzim aksesori tambahan juga terlibat dalam produksi hydrogen peroksidase. Glyoxal oxidase (GLOX) dan aryl alcohol oxidase (AAO; EC 1.1.3.7) termasuk dalam kelompok ini. Tabel 5. Enzim dan reaksinya yang terlibat di dalam degradasi lignin (Hatakka Annele 2001) Kofaktor atau substrat, Mediator H2O2, veratryl alkohol Mangan peroksidase, MnP H2O2, Mn, asam organik sebagai agen pengkelat, thiol, lemak tak larut Oksidasi cincin aromatic menjadi radikal kation Okisasi Mn(II) menjadi Mn(III), mengkelat senyawa phenolik Mn(III) teroksidasi menjadi radikal phenolik; Pengaruh utama atau reaksi

Aktivitas enzim, singkatan Lignin peroksidase, LiP

Isroi http://isroi.wordpress.com | 8

Aktivitas enzim, singkatan

Kofaktor atau substrat, Mediator

Pengaruh utama atau reaksi

reaksi lain di dalam kehadiran senyawa lain Lakase, Lacc O2, mediator, misalnya: hydroxybenzotiazole atau ABTS Glyoxal oxidase, GLOX Glyoxal, methyl glyoxal Aryl alcohol oksidase, AAO Aromatic alcohol (anisyl, veratyl alcohol) Enzym lain yang memproduksi H2O2 Beberapa senyawa organik Glyoxal dioksidasi menjadi asam glyoxylic; produksi H2O2 Alcohol aromatic diokisasi menjadi aldehida; produksi H2O2 O2 direduksi menjadi H2O2 Phenol dioksidasi menjadi radikal phenolik; reaksi lain di dalam kehadiran mediator

Gambar 12. lignin dan reaksi pemecahan C C

-O-4 dari

Isroi http://isroi.wordpress.com | 9

oleh LiP dari veratryl alcohol (Hammel and Cullen 2008).

Lignin Peroksidase (LiP). Lignin Peroksidase (LiP) pertama kali ditemukan di media Phanerochaete chrysosporium dalam kondisi pertumbuhan kurang nitrogen. LiP adalah homoprotein monomerik dengan bobot molekul antara 40 kDa. Seperti enzim peroksidase lainnya, LiP memiliki siklus katalitik yang dinamakan reaksi ping-pong. Reaksi yang terjadi adalah H2O2 mengoksidasi enzim pada keadaan awal (resting enzyme) dengan dua elektron membentuk senyawa intermediat I, senyawa tersebut kemudian mengoksidasi substrat aromatik dengan menggunakan satu elektron membentuk senyawa intermediat II dan produk radikal bebas. Senyawa intermediat II yang dihasilkan dapat kembali mengoksidasi substrat lainnya sehingga terbentuk enzim awal dan produk radikal bebas. Terbentuknya radikal bebas secara spontan atau bertahap inilah yang mengakibatkan lepasnya ikatan antar molekul dan beberapa inti pada cincin aromatik (Hammel and Cullen 2008). Mangan Peroksidase (MnP). Beberapa JPP yang tidak menghasilkan LiP diketahui dapat mendegradasi lignin, penelitian berikutnya mengungkapkan bahwa eznim yang berperan adalah mangan peroksidase (MnP) (Hammel and Cullen 2008). Beberapa kelompok JPP menghasilkan mangan peroksidase (MnP) dan kemudian diketahui bahwa MnP terdistribusi secara luas (Higuchi 2004). MnP juga merupakan oksidator kuat dan dapat mengoksidasi struktur phenolik tetapi tidak dapat mengoksidasi struktur nonphenolik lignin secara langsung, karena ketiadaan residu invariant tryptophan yang diperlukan untuk transfer elektron ke subtrat aromatik. Prinsip fungsi MnP adalah bahwa enzim tersebut mengoksidasi Mn2+ membentuk Mn3+ dengan adanya H2O2 sebagai oksidan. Aktivitasnya dirangsang oleh adanya asam organik yang berfungsi sebagai pengkelat atau penstabilkan Mn3+. Mekanisme reaksi yakni MnP pada keadaan awal dioksidasi oleh H2O2 membentuk senyawa MnP-senyawa I yang dapat direduksi oleh Mn2+ dan senyawa fenol membentuk senyawa MnP-senyawa II. Senyawa tersebut kemudian direduksi kembali oleh Mn2+ tetapi tidak oleh fenol membentuk enzim keadaan awal dan produk. Adanya Mn2+ bebas sangat penting untuk menghasilkan siklus katalitik yang sempurna.

Isroi http://isroi.wordpress.com | 10

MnP + H2O2

-senyawa I + H2O -senyawa II + Mn3+ -senyawa II + A+ + H+


3+

MnP-senyawa I + Mn2+ MnPMnP-senyawa II + Mn2+

Lakase (Lac). Lakase (E.C.1.103.2; benzendiol: oksigen oksidoreduktase) sebagian besar merupakan glikoprotein ekstraseluler yang mengandung atom tembaga dengan bobot molekul antara 60-80 kDa dan juga merupakan salah satu grup terkecil enzim yang dinamakan oksidase tembaga biru (Thurston 1994). Sebagian besar molekul monomerik lakase mengandung empat molekul tembaga (Cu) di dalam strukturnya yang dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok menggunakan UV/visible dan spektrometer electron paramagnetic resonance (EPR). Tembaga tipe I (T1) bertanggung jawab untuk intensitas warna biru dari enzime pada 600 nm dan dapat dideteksi dengan EPR, tembaga tipe II (T2) tidak berwarna, tetapi tetap dapat dideteksi dengan EPR, dan tembaga tipe III (T3) mengandung pasangan atom tembaga yang memberikan sedikit absorbansi dekat spectrum UV tetapi tidak terdeteksi dengan EPR. Sisi tembaga T2 dan T3 saling berdekatan dan membentuk pusat tiga inti (trinuclear) yang terlibat dalam mekanisme katalitik dari enzim. Lakase hanya menyerang sub unit phenolik dari lignin, diawali dengan oksidasi C, pemecahan Cjuga dapat mengurangi satu molekul dioxygen menjadi dua molekul air bersamaan dengan pembentukan satu-elektron oksidasi dari sebagian besar senyawa aromatic, di mana melibatkan polyphenol (Bourbonnais and Paice 1996), methoxyl-subsituted monophenol dan amina aromatic (Archibald F. and Roy 1992). Oksidasi ini terjadi di dalam radikal bebas terpusat-oksigen (oxygen-centred free radical), di mana kemudian dapat diubah oleh reaksi yang dikatalis oleh enzim kedua menjadi quinone. Quinone dan radikal bebas kemudian dapat melanjutkan polymerasi (Thurston 1994).

Isroi http://isroi.wordpress.com | 11

Gambar 13. Oksidasi unit phenolik oleh lakase (Archibald F. and Roy 1992).

Lakase mirip dengan enzim pengoksidasi-phenol yang lain, dimana lebih mempolimerasi lignin dengan meng-couple radikal phenoxy yang diproduksi dari oksidasi gugus phenolik lignin (Bourbonnais et al. 1995). Oleh karena spesifitas lakase untuk subunit phenolik dari lignin dan keterbatasan akses pada lignin di dalam dinding serat, lakase hanya memberikan sedikit efek pada pemutihan pulp (Bourbonnais and Paice 1996). Jangkauan subtrat lakase dapat diperluas ke subunit non-phenolik dengan penambahan mediator seperti 2.2-azinobis-(3-ethylbenzthiazoline6-sulfonate; ABTS) (Gambar 14).

Isroi http://isroi.wordpress.com | 12

Gambar 14. Oksidasi subunit non-phenolik oleh lakase dan ABTS (Archibald F.S. et al. 1997).

Versatil Peroksidase (VP). Versatil Peroksidase (VP). merupakan salah satu tipe enzim baru dari kelompok ligninolitik peroksidase (Hammel and Cullen 2008, Higuchi 2004, Wong 2009). VP ditemukan pada berbagai spesies Pleurotus dan Bjerkandera, namun P chrysosporium sepertinya tidak menghasilkan VP. VP dapat mengoksidasi Mn2+ sama baiknya pada senyawa aromatik phenolik maupun non-phenolik. VP mengoksidasi Mn2+ menjadi Mn3+, memecahkan model lignin non-phenolik vertatryl-glycerol- -guaiacyl ether menghasilkan veratryl aldehida, serta mengoksidasi I dan p-dimethoxybenxene menjadi versatryl aldehida dan p-benzoquinone seperti halnya reaksi yang dikatalis oleh LiP.

1.3.1.2. Degradasi Selulosa dan Hemiselulosa Degradasi Selulosa. Degradasi selulosa kristal oleh JPP P. chrysospoerium mirip pada selulase-selulase jamur lainnya, yaitu dilakukan oleh komplek enzim multikomponen di mana tiap-tiap komponen berinteraksi secara sinergi untuk mendegradasi selulosa menjadi glukosa. Endoglukanase (EGs) berkerja secara acak pada permukaan luar mikrofibril selulosa, yaitu membuka ujung non-reduksi yang kemudian oleh cellobiohidrolase (CBHs) dihirolisis dan -glukosidase menghasilkan Isroi http://isroi.wordpress.com | 13

glukosa (Eriksson 1981). Degradasi hemiselulosa. Hemiselulosa secara struktur lebih komplek dibandingkan selulosa, yang mengandung hanya ikatan 1,4- -glikosidik. Hemiselulosa adalah sebuah grup homopolimer dan heteropolimer yang mengandung sebagian besar ikatan-ikatan utama anhidro-xylopyranosa, mannopiranosa, glukopiranosa dan galaktopiranosa. Enzim-enzim yang mendegradasi hemiselulosa juga komplek yang umum disebut hemiselulase. Hemiselulase menunjukkan sebagai agen bleaching yang menjanjikan dalam produksi pulp dan kertas. Degradasi hemiselulosa oleh JPP kemudian dianalogikan secara kasar dengan selulosa, tetapi mekanisme serangannya telah dipelajari secara lebih detail oleh Kirk dan Cowling (1984). Ikatan hemiselulosa diserang pertamakali oleh endoenzim-endoenzim (mannanase dan xilanase) yang menghasilkan secara intensif ikatan-ikatan pendek yang dihirdolisis menjadi gula sederhana oleh glukosidase (mannosidase, xilosidase, dan glukosidase). Seperti halnya dengan selulase, gulagula sederhana membatasi produksi sebagian besar enzim-enzim pendegradasi selulosa oleh JPP. Selulosa diduga menjadi sumber karbon penting untuk mendorong terbentuknya enzim-enzim pendegradasi hemiselulosa oleh jamur. 1.4. Pretreatment Biologi oleh Jampur Pelapuk Putih (JPP) dengan Fermentasi Kulur Padat (FKP) Perlakuan pendahuluan biologi biomassa lignoselulosa dengan JPP umumnya dilakukan dengan fermentasi kultur padat (Taniguchi et al., 2005; Zhang et al., 2007; Shi et al., 2008; Wan & Li, 2010). Fermentasi kultur padat merupakan salah satu metode fermentasi paling kuno dan didefinisikan sebagai kultivasi mikroba pada media padat yang basah, baik substrat yang inert maupun tidak larut, dan dapat pula sebagai sumber karbon atau energi (Hlke et al., 2004; Rahardjo et al., 2006). Fujian et al., (2001) menyatakan bahwa produksi enzim ligninolitik oleh P. chrysosporium lebih tinggi dilakukan dengan FKP daripada dengan fermentasi kultur terendam (submerged fermentation). Penelitian yang dilakukan oleh Elisashvili et al., (2008) pernyataan di atas bahwa produksi enzim MnP oleh isolat Lentinus endones dan Pleurotus sp lebih baik menggunakan FKP daripada fermentasi terendam. Fermentasi kultur padat (FKP) memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan metode fermentasi yang lain, antara lain: sedikit membutuhkan air, konsentrasi tinggi dari hasil yang diinginkan, represi katabolit tidak terjadi, sedikit atau tidak memerlukan sterilisasi, solidIsroi http://isroi.wordpress.com | 14

support untuk pertumbuhan mikroba, dapat dilakukan dalam skala yang besar, energi yang dibutuhkan relatif sedikit, tidak memerlukan bahan kimia anti-foaming. Beberapa tantangan yang dihadapi dalam up-scale fermentasi kultur padat antara lain adalah pengendalian temperatur, pH, kelembaban, oksigen; penanganan substrat, dan pemenuhan kebutuhan inokulum (Hlker & Lenz, 2005). Beberapa kekurangan perlakuan pendahuluan dengan FKP terutama kesulitan untuk mengatur gradien parameter (seperti: suhu, pH, kelembaban, konsentrasi substrat atau okigen) yang sulit dikontrol pada kondisi sedikit air (Hlke et al., 2004). 1.4.1. Faktor-faktor yang Berpengaruh pada Pretreatment Biologi Menggunakan Jamur Pelapuk Putih Produksi dan aktivitas enzim ligninolitik JPP dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti: strain jamur, konsentrasi dan sumber nitrogen (N), penambahan Mn2+ dan Cu2+, temperatur, pH awal, dan aerasi. Faktor nutrisi kemungkinan berperan pada tipe serangan, dan dengan demikian jamur dapat secara selektif mendegradasi lignoselluosa (Eaton 1985) (Rayner & Boddy 1988; Eaton & Hele 1993). Beberapa parameter kultur yang mempengaruhi degradasi lignin oleh P. chrysospoerium telah dipelajari sejak lama (Kirk T. Kent et al. 1976, Kirk T. K. et al. 1978). Mereka menemukan bahwa degradasi lignin dipengaruhi oleh konsentrasi nitrogen, konsentrasi O2, pH, dan vitamin. Sangat penting untuk mengoptimalisasi kondisi FKP oleh JPP untuk mendapatkan produksi dan akitivitas enzime ligninolitik yang tinggi, dan degradasi lignin yang tinggi.

1.4.1.1. Strain Jamur Pelapuk Putih (JPP) Terdapat variasi yang luas dari strain JPP dan memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam mendegradasi lignin maupun menghasilkan enzim ligninolitik. Beberapa JPP menghasilkan ketiga-tiga enzim ligninilitik, sebagian hanya dua, atau satu dari enzim ligninolitik (Elisashvili et al. 2008, Kirk T. Kent and Cullen 1998). Perbedaan ini menyebabkan JPP memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam mendegradasi biomassa lignoselulosa. Sebagai contoh, Pleurotus sajor-caju, strain P1-27, dan Lentinus endodes, strain LS54, menghasilkan MnP dan Lac, tetapi tidak LiP ketika ditumbuhkan pada media tertentu yang hanya mengadung glukosa sebagai sumber karbon (Buswell et al. 1995, Fu et al. 1997), P chrysospoerium menghasilkan LiP, MnP, dan Lac (Rivela et al. 2000) (Rodrguez et al., 1997; Rivela et al., Isroi http://isroi.wordpress.com | 15

2000). Pemilihan JPP yang tepat untuk perlakuan pendahuluan biologi merupakan tahapan awal yang penting (Blanchette Robert A. et al. 1988, Hatakka A.I. 1983, Muller and Trosch 1986). Beberapa parameter yang digunakan untuk memilih JPP antara lain adalah: kemampuan tumbuh dengan substrat biomassa lignoselulusa, kemampuan tinggi dalam menurunkan kandungan lignin tetapi sedikit mendegradasi holoselulosa, rendemen (yield) gula yang dihasilkan pada hidrolisis enzimatik, dan kemudahan untuk dikultur dalam skala besar. 1.4.1.2. Aerasi Aerasi merupakan salah satu parameter penting yang sulit dikontrol pada FKP. Aerasi memiliki beberapa fungsi, antara lain: oksigenasi, menghilangkan CO2, pengaturan panas, distribusi uap air, distribusi senyawa volatil yang dihasilkan selama fermentasi. Aerasi dipengaruhi oleh porositas subatrat; pO2 dan pCO2 sebaiknya dioptimasi untuk setiap tipe medium, mikroorganisme, dan proses yang diterapkan (Graminha et al. 2008). Produksi, aktivitas enzim, dan degradasi lignin dipengaruhi oleh aerasi. Sebuah penelitian klasik menemukan bahwa aerasi diperlukan untuk pertumbuhan dan delignifikasi biomassa lignoselulosa oleh JPP (Duncan 1961). Aerasi ditambahkan pada pembuatan biomechanical pulp skala laboratorium maupun skala 50 ton (Akhtar et al. 1998). Penambahan aerasi sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroba dan kualitas biomechanical pulp yang dihasilkan. Beberapa Hasil penelitian mendukung pernyataan bahwa aerasi merupakan faktor yang paling berpengaruh nyata pada perlakuan pendahuluan dengan P. chrysospoerium (Chen et al. 2002). Perlakuan pendahuluan yang dilakukan tanpa aerasi umumnya dilakukan dalam skala kecil, seperti dengan menggunakan cawan petri atau Erlenmeyer. Dalam skala kecil penambahan aerasi relatif kurang diperlukan dan JPP dapat tumbuh dengan baik. 1.4.1.3. Sumber dan Konsentrasi Nitrogen Konsentrasi nitrogen di dalam media kultur memainkan peranan penting di dalam produksi dan aktivitas enzim ligninolitik, baik pada FKP maupun fermentasi cair, tetapi pengaruh nitrogen bervariasi di antara spesies dan strain JPP. Penelitian pengaruh nitrogen juga dilakukan pada degradasi senyawa xenobiotik dan dekolorisasi pewarna oleh JPP (Hatvani and Mcs 2002, Kotterman et al. 1996, Leung and Pointing 2002). Konsentrasi nitrogen sangat penting untuk degradasi lignin oleh P. chrysospoerium Burds, tetapi sumber nitrogen hanya berpengaruh kecil Isroi http://isroi.wordpress.com | 16

(Kirk T. K. et al. 1978). Aktivitas enzim ligninilitik oleh Pleurotus ostreatus menurun dengan penambahan nitrogen anorganik pada medium. Konsentrasi nitrogen yang rendah dari nitrogen organik (peptone dan casein) memberikan efek positif pada aktivitas enzim (Mikiashivili et al. 2006). 1.4.1.4. Penambahan Mn2+ dan Cu2+ Beberapa sumber kation, seperti Mn2+, Ca2+, dan Cu2+, dilaporkan memberikan pengaruh terhadap degradasi lignin oleh JPP (Jeffries et al. 1981, Tychanowicz et al. 2006). Media yang rendah-nitrogen dan konsentrasi Mn2+ di dalam kultur media memainkan perandan dalam mengatur aktivitas MnP dan LiP pada beberapa JPP (Bonnarme and Jeffries 1990). Dalam kondisi ketiadaan Mn2+, produksi enzim LiP mendominasi; sedangkan dalam kondisi ada Mn2+, produksi enzim MnP mendominasi. Efek pengaturan Mn2+ ini juga ditemukan pada lima strain P chrysosporium, dua spesies lain Phanerochaete sp, tiga spesies Phlebia, Lentinus endodes, dan Phellinus pini. Aktivitas LiP ditemukan dalam kondisi konsentrasi Mn2+ yang rendah. Ditemukan bahwa mineralisasi lignin sintetik meningkat dengan penambahan Mn2+ pada Pleurotus ostreatus (Kerem and Hadar 1995). Hasil penelitian lain memperkuat pernyataan tersebut, bahwa penambahan Mn2+ di dalam media kultur meningkatkan hingga 125% mineralisasi lignin oleh Pleurotus pulmonarius (Camarero et al. 1996).

Selain Mn2+, penambahan Cu2+ juga dilaporkan dapat meningkatkan aktivitas enzim ligninolitik. Penambahan Cu2+ di dalam medium berpengaruh kuat pada produksi enzim ligninolitik dan mempercepat dekolorisasi pewarna Poly R-478 oleh Tremetes trogii (Levin et al. 2002). Hasil ini juga diperkuat oleh hasil penelitian lain yang menyatakan bahwa penambahan Cu2+ juga meningkatkan aktivitas Lac oleh Pleurotus pulmonarius dan Rhizoctonia praticola (Janusz et al. 2006, Tychanowicz et al. 2006). 1.4.1.5. Kadar Air Kadar air awal lignoselulosa mempengaruhi pertumbuhan JPP. Umumnya JPP

menghendaki kadar air awal yang cukup tinggi sekitar 60-85%. Kandungan air juga berpengaruh terhadap distribusi okigen (aerasi). Dalam kondisi kandungan air tinggi pori-pori lignoselulosa akan terisi oleh air dan menghalangi areasi. Kandungan air secara signifikan mempengaruhi Isroi http://isroi.wordpress.com | 17

degradasi lignin oleh P. chrysosporium dan kandungan air terbaik adalah 75% (Shi et al. 2008). Namun, hasil yang berbeda dilaporkan lain bahwa rasio solid/liquid yang rendah lebih menguntungkan untuk produksi MnP dan LiP (Fujian et al. 2001). FKP jerami dengan JPP optimum pada kandungan air 75ml/25g substrat (Zadrail F. and Brunnert 1981). Dalam kondisi basah (kadar air tinggi) pertumbuhan miselia terlihat lebih dominan. 1.4.1.6. Keasaman (pH) dan Temperatur Produksi enzim ligninolitik dipengaruhi oleh kondisi keasaman (pH) pada FKP. Dilaporkan bahwa pH awal media yang baik untuk produksi enzim LiP dan MnP oleh P. chrysospoerium adalah antara 4.0 5.5 (Fujian et al. 2001), sedangkan pH substrat menurun selama FKP (Agosin et al. 1985). Berbagai temperatur yang optimal pada FKP untuk produksi enzim ligninolitik telah dilaporkan. Dilaporkan bahwa temperatur yang optimal untuk produksi enzim oleh P. chrysospoerium adalah pada suhu 39oC (Fujian et al. 2001). Laporan lain menyebutkan bahwa suhu 37oC adalah optimal pertumbuhan miselia, sedangkan suhu 30oC untuk produksi enzim (Asther et al. 1988). Degradasi lignin oleh Ganoderma applanatum, Pleurotus ostreatus, dan Pleurotus serotinus lebih rendah pada 30oC daripada pada 22oC (Zadrail F. and Brunnert 1981). Hanya Tremetes hirsuta yang meningkat dengan peningkatan suhu hingga 30oC. Perbedaan temperatur yang goptimal pada JPP kemungkinan disebabkan karena perbedaan fisologis, strain, dan tipe subatrat. 1.4.2. Pengaruh Pretreatment Biologi terhadap Karakteristik Biomassa Lignoselulosa

Pretreatment biologi biomassa lignoselulosa menggunakan JPP merubah karakteristik biokimia dan fisika dari biomassa (Gambar 2). Degradasi lignin oleh JPP menjadi perhatian utama dalam beberapa penelitian pretreatment biologi. Sebagai contoh, degradasi lignin dari jerami jagung naik menjadi 54,6% setelah 30 hari diperlakukan dengan T. versicolor (Yu et al. 2010b), batang bambu menjadi < 20% setelah diperlakukan selama 4 minggu dengan Echinodontium taxodii 2538 dan T. versicolor G20 (Zhang Xiaoyu et al. 2007b), dan jerami gandum menurun menjadi 39,7% setelah diperlakukan dengan P. ostreatus (Puniya et al. 1994). Degradasi lignin oleh JPP adalah proses non-spesifik oksidatif yang akhirnya Isroi http://isroi.wordpress.com | 18

menghasilkan degradasi lengkap lignin.

Gambar. 15. Skema diagram pretreatment biologis lignoselulosa. Jamur Pelapuk Putih menurunkan kadar lignin dan mengubah struktur kimia dan fisika lignoselulosa yang membuat biokonversi lignoselulosa menjadi lebih efisien (Isroi et al. 2011). JPP memiliki kemampuan unik untuk memutuskan polimer (depolymerise), memecah ikatan karbon-karbon, dan ikatan mineral dengan lignin oleh enzim ligninolitik. Studi dengan lignin berlabel
14

C menunjukkan bahwa lignin terdegradasi menjadi 14 CO 2 (Agosin et

al. 1985, Hofrichter et al. 1999, Lundquist et al. 1977, Prez and Jeffries 1990). Pleurotus ostreatus dan B. adusta adalah memecah lignin yang sangat spesifik berdasarkan penelitian menggunakan lignin berlabel 14 C (Agosin et al. 1985). Perubahan rasio antara phidroksifenil (H), guaiacyl (G), dan (S) syringyl lignin unit dianalisis menggunakan kromatografi gas pirolisis--spektrometri massa. Penelitian ini menunjukkan bahwa 10 U peroksidase per mg jerami dapat menurunkan proporsi unit H fenolik dari 31% pada kontrol menjadi 3% pada jerami yang diperlakukan, unit G 40-4%, dan sejumlah kecil fenolik unit S yang ada di dalam jerami gandum terdegradasi penuh (Camarero et al. 2001). Beberapa penelitian mengusulkan bahwa urutan kerentanan unit lignin adalah sebagai berikut: S> G> H. Secara umum, biomassa dengan S-kaya lignin lebih rentan terhadap degradasi JPP dibandingkan unit lignin lainnya (Valmaseda et al. 1991). Hemiselulosa lebih mudah untuk terdegradasi oleh JPP dibandingkan komponen lain dalam biomassa lignoselulosa. JPP seperti P. chrysosporium (Kirk T. Kent and Cullen 1998), Phlebia floridensis (Sharma and Arora 2010), C. subvermispora (Mendona et al. 2008), Pleurotus ostreatus (Baldrian et al. 2005), dan Pleurotus dryinus (Kachlishvili et al. 2005) Isroi http://isroi.wordpress.com | 19

menghasilkan endoxylanases yang dapat menghidrolisis hemiselulase. Analisis terhadap komposisi kandungan tongkol jagung menunjukkan bahwa selama perlakuan selama hari 30 dengan JPP hemiselulosa terdegradasi sebesar 24,4-34,9% (Yang Xuewei et al. 2010). Tonglol jagung yang diperlakukan menggunakanC. subvermispora selama 18 hari mengalami penurunan kandungan hemiselulosa hingga 22,5%, dan Kayu Willow Cina yang diperlakukan menggunakan Echinodontium taxodii 2.538 selama 120 hari kandungan hemiselulosa berkurang sebesar 54,8% (Yu et al. 2009). Degradasi hemiselulosa dan degradasi lignin dapat menurunkan recalcitration dari lignoselulosa terhadap hidrolisis enzimatik, tapi degradasi xilan meningkatkan risiko menurunkan kandungan gula yang dapat dikonversi dari biomassa lignoselulosa (Yu et al. 2010a). JPP menghasilkan enzim selulase dengan kekhususan dan karakteristik yang berbeda. Selulase menghidrolisis -1,4-glikosidik selulosa. JPP dikelompokkan menjadi dua kelompok berdasarkan selektifitasnya mendegradasi komponen lignoselulosa, yaitu: non-selektif dan selektif. JPP non-selektif dapat mendegradasi semua komponen lignoselulosa dalam jumlah yang sama, termasuk selulosa. Sedangkan JPP selektif mendegradasi selulosa dalam jumlah lebih sedikit (Blanchette R.A 1995), dan sesuai untuk pretreatment biologi. Pretreatment biologi menyebabkan perubahan mikrostruktur selulosa. Analisis XRD menunjukkan penurunan kristalinitas selulosa setelah pretreatment biologi. Indeks kristalinitas jerami padi menurun dari 44% pada jerami yang tidak diperlakukan menjadi 15% pada jerami yang diperlakukan menggunakan P. chrysosprorium (Zeng et al. 2011). Sebaliknya, indeks kristalinitas jerami padi sedikit berkurang setelah diperlakukan menggunakan D. squelens (Bak et al. 2010). Pretreatment Biologi pinus merah Jepang (Pinus densiflora) telah terbukti mengurangi kristalinitas selulosa dan meningkatkan jumlah pori-pori yang memiliki ukuran lebih dari 120 nm (Lee et al. 2007). Morfologi permukaan biomassa lignoselulosa telah diperiksa oleh analisis mikroskop elektron (SEM). Hasil analisa SEM menunjukkan beberapa perubahan fisik di permukaan biomassa setelah pretreatments biologis. Pretreatment biologi biomassa mengakibatkan lubang tidak teratur pada permukaan jerami jagung (Yu et al. 2010b). Hasil ini menunjukkan bahwa pretreatment biologi meningkatkan luas dan porositas permukaan substrat. Pretreatment Biologi tongkol jagung dengan Irpex lacteus signifikan meningkatkan volume pori dan ukuran pori (Xu et al. 2010). Jerami gandum yang diperlakukan menggunakan P. chrysosporium memiliki luas permukaan yang lebih luas, hal ini menunjukkan degradasi agresif atau modifikasi lignin dan Isroi http://isroi.wordpress.com | 20

membuat permukaan hemiselulosa dan selulosa menjadi lebih terbuka (Zeng et al. 2011). Permukaan jerami padi menunjukkan permukaan yang kasar dan secara parsial rusak setelah pretreatment biologi menggunakan D. squalens (Bak et al. 2010). 1.4.3. Aplikasi Pretreatment Biologi Menggunakan Jamur Pelapuk Putih

Gambar 16. Beberapa alternatif pretreatment biologi biomassa lignoselulosa dengan jamur pelapuk putih (JPP) dan alur pengolahannya (Isroi et al. 2011). Kombinasi teknologi fermentasi kultur padat (FKP) dengan kemampuan JPP untuk menurunkan lignin secara selektif membuat kemungkinan aplikasi skala industry pretreatment biologi. Beberapa alternative aplikasi pretreatment biologi biomassa lignoselulosa diperlihatkan pada Gambar 16. Sebuah ulasan mendalam yang meliputi kelebihan dan kelemahan dari FPK (Holker et al. 2004), menunjukkan bahwa FPK sebagai teknologi yang kuat yang melebihi teknologi fermentasi konvensional karena memenuhi persyaratan kesederhanaan, efektivitas biaya, dan pemeliharaan. Keunggulan ini membuat FPK menjadi teknologi yang menarik untuk mengatasi masalah lingkungan, di mana uang dan orang berpendidikan tinggi terbatas (Bhatnagar et al. 2008, Rivela et al. 2000). Potensi aplikasi bioteknologi pretreatment biologi menggunakan JPP Isroi http://isroi.wordpress.com | 21

akan dijelaskan di dalam sub bab ini. Beberapa spesies JPP yang telah dimanfaatkan untuk perlakuan pendahuluan biomassa lignoselulosa disarikan di dalam Tabel 6. Tabel 6. Pemanfaatan Jamur Pelapuk Putih (JPP) untuk perlakuan pendahuluan biologi biomassa lignoselulosa Jamur Pelapuk Putih Biomassa Lignoselulosa Kegunaan perlakuan pendahuluan Bjerkandera adusta Jerami gandum Pakan Ternak (Rodrigues et al. 2008) Ceriporia lacerata Ceriporiopsis subvermisproa, kayu Jerami padi Kayu Limbah pertanian Bioetanol bioetanol Biomekanikal pulping Biopulping (Lee et al. 2007) (Taniguchi et al. 2005) (Akhtar et al. 1998) (Yaghoubi et al. 2008) (Mosai et al. 1999) Cyanthus stercoreus Cyanthus stercoreus Fomes fomentarius Jerami Daun-daunan Jerami gandum Pakan Ternak Pakan ternak (Karunanandaa and Varga 1996) (Rodrigues et al. 2008) Panus conchatus Phanerochaete chrysosporium Jerami padi Batang kapas, Corn stover, Jerami padi, biopulping bioetanol Biopulp Biobleaching (Yu et al. 1994) (Shi et al. 2008) (Keller et al. 2003) (Taniguchi et al. Isroi http://isroi.wordpress.com | 22 Corn stover bioetanol (Keller et al. 2003) Referensi

Jamur Pelapuk Putih

Biomassa Lignoselulosa

Kegunaan perlakuan pendahuluan

Referensi

Pulp Daun-daunan

Pakan ternak

2005) (Chen et al. 2002) (Yang Qifeng et al. 2007) (de Jong et al. 1997) (Karunanandaa and Varga 1996)

Phellinus pini

Kayu

Pulp

(Blanchette R.A. and Burnes 1988)

Phlebia tremellosus

Bagase Kayu

bioetanol Biopulping

(Mes-Hartree et al., 1987) (Blanchette R.A. and Burnes 1988)

Phlebiopsis gigantea Plebia tremellosus

Kayu

Pulp

(Behrendt and Blanchette 1997)

Kayu

Pulp

(Blanchette R.A. and Burnes 1988)

Pleorotus ostreatus

Jerami padi Jerami gandum

bioetanol Biogas

(Taniguchi et al. 2005) (Muller and Trosch 1986)

Pleurotus sajorcaju

Jerami

Pakan ternak

(Karunanandaa and

Isroi http://isroi.wordpress.com | 23

Jamur Pelapuk Putih

Biomassa Lignoselulosa

Kegunaan perlakuan pendahuluan

Referensi

Daun-daunan Polyporus brumalis Poria medullpanis kayu Kayu bioetanol Pulp

Varga 1996) (Lee et al. 2007) (Blanchette R.A. and Burnes 1988)

Scytinostroma galactinum Stereum hirsutum Trametes hirsute

Kayu

Pulp

(Blanchette R.A. and Burnes 1988)

kayu pulp

bioetanol Biopulp

(Lee et al. 2007) (Yang Qifeng et al. 2007)

Tremetes versicolor

Jerami padi Jerami gandum

bioetanol Pakan Ternak

(Taniguchi et al. 2005) (Rodrigues et al. 2008)

1.4.3.1. Hidrolisis Enzimatis Polisakarida dalam biomassa lignoselulosa, termasuk selulosa dan hemicellu-kalah, dapat dihidrolisis menjadi monomer gula seperti glukosa dan xylose, yang selanjutnya dapat digunakan untuk produksi etanol, xylitol, asam organik, dan bahan kimia lainnya. Polimer selulosa dalam dinding sel secara langsung berhubungan dengan gugus lignin dan hemiselulosa membentuk struktur fisik dan morfologi yang lebih kompleks dan menghambat hidrolisis enzimatik. Faktorfaktor pembatas yang mempengaruhi hidrolisis enzimatik biomassa secara tradisional dibagi menjadi dua kelompok: (a) struktur biomassa dan (b) mekanisme enzimatik. Secara konvensional, hambatan struktur telah dibagi menjadi dua kelompok dan diklasifikasikan sebagai fisika atau kimia. Stuktur kimia adalah komposisi selulosa, hemiselulosa, lignin, dan kelompok Isroi http://isroi.wordpress.com | 24

asetil terikat hemiselulosa. Struktur fisika terdiri dari luas permukaan yang dapat diakses, kristalinitas, distribusi fisik lignin dalam matriks biomassa, tingkat polimerisasi, volume pori, dan ukuran partikel biomassa. Proses pretreatment adalah mutlak untuk meningkatkan laju hidrolisis enzimatik dan untuk meningkatkan hasil gula yang dapat difermentasi,. Pretreatment diperlukan untuk mengubah struktur dan komposisi kimia dari biomassa lignoselulosa untuk memfasilitasi hidrolisis yang cepat dan efisien dari karbohidrat menjadi gula difermentasi (Chang and Holtzapple 2000). Fokus utama dari kebanyakan studi berurusan dengan konversi biomassa lignoselulosa telah untuk memaksimalkan ketersediaan selulosa untuk selulase. Pretreatment lignoselulosa dengan JPP untuk hidrolisis enzimatik telah lama dipelajari (Hatakka A.I. 1983). Spesies yang berbeda dari JPP telah digunakan dengan biomassa lignoselulosa berbagai hidrolisis enzimatik (lihat Tabel 6). Pretreatment biologi lignoselulosa dapat meningkatkan aksesibilitas biomassa terhadap enzim dan meningkatkan gula hasil. Sebuah studi pretreatment biologis jerami gandum menggunakan sembilan belas JPP dan dilanjutkan dengan hidrolisis enzimatik (Hatakka 1983), menunjukkan bahwa setelah pretreatment dengan Pycnoporus cinnabarinus selama lima minggu, sebanyak 54,6% dari residu biomassa dapat dikonversi menjadi gula pereduksi dengan hidrolisis enzimatik. Sebuah jurnal baru (Dias et al. 2010) mengungkapkan bahwa jerami gandum dipretreatment biologi dengan dua JPP (EUC-1 dan I. Lacteus) dapat meningkatkan hasil hidrolisis kurang lebih empat dan tiga kali dibandingkan dengan jerami yang tidak diperlakukan. Selain itu, pretreatment biologi tongkol jagung menggunakan P. chrysosporium meningkatkan hidrolisis enzimatik tiga sampai lima kali lipat dibandingkan dengan yang tidak diperlakukan tongkol jagung dan mengurangi kebutuhan energi untuk penggilingan nya (Keller et al. 2003). Hasil yang sama ditunjukkan oleh pretreatment biologis pada jerami padi menggunakan empat JPP P. chrysosporium, T. versicolor, C. subvermispora, dan Pleurotus ostreatus (Taniguchi et al. 2005). Peningkatan hasil hidrolisis enzimatik jerami diamati sebagai akibat dari penurunan kandungan Klason lignin. Pretreatment biologi bambu menggunakan JPP Coriolus versicolor B1 bawah kondisi yang berbeda dan dilanjutkan dengan sakarifikasi juga telah dilaporkan (Zhang Xiaoyu et al. 2007a). Studi mereka menunjukkan bahwa sakarifikasi meningkat secara signifikan dan tingkat sakarifikasi maksimum sebesar 37,0% dicapai setelah pretreatment. 1.4.3.2. Biofuel: Bioetanol, Biogas dan Pirolisis

Isroi http://isroi.wordpress.com | 25

Bioetanol dapat diproduksi dari biomassa lignoselulosa setelah komponen hidrolisis polisakarida (hemiselulosa dan selulosa) menjadi monosakarida. Peningkatan gula hasil hidrolisis enzimatik setelah pretreatment biologi menunjukkan produksi bioethanol yang lebih tinggi. Pretreatment Biologi tongkol jagung menggunakan C. subvermispora selama 35 hari mampu meningkatkan hasil etanol keseluruhan hingga 57,8% (Wan and Li 2010). Hasil serupa diperoleh pada jerami padi yang dipretreatment biologi menggunakan D. squalens. Produksi dan produktivitas etanol masing-masing adalah 54,2% dari maksimum teoritis dan 0,39 g / L / jam setelah fermentasi 24 jam (Bak et al. 2010). Hasil etanol mencapai 0,192 g / g bahan kering dari eceng gondok saat pra-perawatan dengan kombinasi pretreatment asam biologi dan ringan (Ma et al. 2010). Pretreatment biologi telah digunakan untuk produksi biogas. Produksi biogas dari jerami gandum dipretreatment biologi meningkat dari 0,293 L/g (tidak dipretreatment) menjadi 0,343 L/g (dipretreatemen) menggunakan Pleurotus ostreatus (Muller and Trosch 1986). Namun, pretreatment biologi dari jerami jagung menggunakan Pleurotus florida menghasilkan biogas 16,58% kurang dari sampel yang dipretreatment kimia (Zhong et al. 2011). Pretreatment biologi telah digunakan sebelum pirolisis biomassa untuk memproduksi bahan bakar. Pretreatment biologi tongkol jagung dapat mengoptimalkan dekomposisi termal, menurunkan temperatur reaksi dan mengurangi kontaminasi gas (SOx), membuat pirolisis biomassa lebih efisien dan ramah lingkungan (Yang Xuewei et al. 2010). Pretreatment biologis dapat menurunkan energi aktivasi dan suhu reaksi dari pirolisis hemiselulosa dan selulosa (hingga 36 o C), memperpendek rentang suhu pirolisis aktif (sampai 14 o C), dan meningkatkan laju dekomposisi termal. 1.4.3.3. Biopulping dan Biobleaching Biopulping adalah proses SSF di mana serpihan kayu diperlakukan dengan warna JPPuntuk meningkatkan proses delignifikasi. Pulping biologis memiliki potensi untuk mengurangi biaya energi dan dampak lingkungan relatif terhadap operasi pengupas tradisional (Scott et al. 2002). Manfaat biopulping ditunjukkan (Scott et al. 2002) dengan menggunakan 50ton percobaan skala. The tarik, air mata, dan meledak indeks dari makalah yang dihasilkan meningkat, menunjukkan tingkat yang lebih tinggi konservasi selulosa selama proses pulping. Selain itu, kecerahan pulp juga meningkat, mengindikasikan penghapusan lignin ditingkatkan. Isroi http://isroi.wordpress.com | 26

Selain itu, penghematan energi meningkat dari 33% untuk pulping termomekanis (TMP) dilaporkan. Pretreatment biologi dari jerami gandum menggunakan P. chrysosporium ME466 bisa mengubah degradasi ekstraktif lipofilik dan hidrofilik. Jelas, pretreatment biologis jerami gandum adalah menguntungkan untuk pitch kontrol dalam proses pembuatan kertas dan pengupas, mengingat degradasi zat yang lebih lipofilik (van Beek et al. 2007). Optimasi variabel biopulping residu pertanian menggunakan C. subvermispora juga diselidiki (Yaghoubi et al. 2008). Pretreatment Biologi dapat meningkatkan sifat fisik (kappa nomor, kekuatan tarik, dan faktor meledak) dan kualitas pulp dari jerami barley. Produksi biopulp dengan P. chrysosporium menggunakan uap-meledak jerami gandum sebagai substrat dianggap (Chen et al. 2002). Hemiselulosa nya adalah sebagian rusak dan menjadi sebagian larut dalam air gula selama proses ledakan uap. Gula ini dapat digunakan sebagai sumber karbon untuk pertumbuhan jamur. Dibandingkan dengan non-diperlakukan jerami gandum, degradasi selulosa menurun dan degradasi lignin meningkat untuk jerami uap meledak gandum dibudidayakan dengan P. chrysosporium. Jerami fermentasi dapat digunakan secara langsung sebagai bahan untuk pembuatan pulp. Beberapa peneliti telah meneliti penggunaan white-membusuk jamur untuk pemutihan pulp. Bubur pretreated dengan JPPbisa meningkatkan kecerahan dan sifat kekuatan pulp (de Jong et al, 1997;. Bajpai 2004). Selain penggunaan langsung dari jamur di pretreatment biologis untuk pemutihan pulp, aplikasi enzim ligninolitik juga telah diteliti secara intensif. Enzim ligninolitik, terutama Mangan peroxi-Dase (MNP) adalah enzim kunci untuk pemutihan pulp. Berbagai percobaan skrining telah menunjukkan bahwa kegiatan MNP dan produksi berkorelasi dengan pemutihan pulp. Semi-dimurnikan MNP juga dapat delignify pulp dan meningkatkan kecerahan pulp (Kondo et al. 1994). Selain itu, penerapan Lac di benar-benar-bebas klor (TCF) proses urutan menggunakan sistem lakase-mediator dapat meningkatkan kecerahan hingga kecerahan ISO 82% (dibandingkan dengan 37% di awal dan bubur 60% dalam kontrol peroksidadikelantang ) dan menghasilkan bilangan kappa sangat rendah (Camarero et al. 2004). Lac telah digunakan secara komersial sebagai agen pemutihan untuk pulp dan telah baik ditinjau (Call dan Mucke 1997). 1.4.3.4. Pakan Ruminansia Penggunaan langsung residu lignoselulosa sebagai pakan ternak ruminansia, atau sebagai Isroi http://isroi.wordpress.com | 27

komponen feed tersebut, merupakan salah satu aplikasi tertua dan paling luas dari biomassa. Ide untuk menggunakan JPPuntuk meningkatkan kecernaan limbah lignoselulosa untuk ternak ruminansia pertama kali dikembangkan pada tahun 1902 oleh Falck (Cohen 2002), yang menyarankan penggunaan jamur untuk peningkatan limbah lignoselulosa. Sejak saat itu, cukup banyak pekerjaan telah dilakukan pada peningkatan materi lignoselulosa untuk memberi makan menggunakan putih-membusuk jamur. Konsep delignifikasi preferensial limbah lignoselulosa dengan warna JPPtelah diterapkan untuk meningkatkan nilai gizi hijauan (Agosin dan Odier 1985, Zadrail dan Puniya 1995;. Okano et al 2009). Berbagai macam biomassa lignoselulosa telah pra-perawatan dengan JPPdan digunakan sebagai pakan ternak ruminansia (Lihat Tabel 1). Pretreatment Biologi lignoselulosa dapat meningkatkan nilai gizi (Okano et al. 2009) dan kecernaan in vitro (Zadrail dan Puniya 1995), ketersediaan biologi peningkatan nutrisi, dan mengurangi anti-nutrisi faktor (Mandebvu et al. 1999). 1.4.3.5. Produksi Enzim Kemampuan enzim ligninolitik untuk mengoksidasi baik senyawa fenolik dan lignin nonfenolik pada senyawa-senyawa polutan membuat enzim ini sangat berguna untuk aplikasi proses bioteknologi lingkungan (Mayer dan Staples 2002, Minussi et al 2002;. Regalado et al 2004,. Couto dan Herrera 2006). Produksi dan aplikasi Lac telah diteliti secara lebih intensif dibandingkan enzim ligninolitik lainnya selama beberapa dekade terakhir, dan beberapa ulasan yang membahasnya secara lenglap (Call dan Mcke 1997,. Leonowicz et al 2001). Lac dapat diimplementasikan dalam industri pulp, kertas, makanan, dan tekstil (Couto dan Herrera 2006, Call dan Mcke 1997, Riva 2006, Caas dan Camarero 2010). FKP untuk produksi enzim memiliki keuntungan lebih dari fermentasi kultur terendam. Beberapa penelitian menunjukkan hasil produk yang tinggi dan pengolahan hilir yang lebih sederhana dibandingkan dengan fermentasi kultur terendam (Holker dan Lenz 2005; Couto dan Sanroman 2006). Limbah lignoselulosa umumnya digunakan sebagai substrat untuk produksi enzim (lihat Tabel 6). 1.4.3.6. Aplikasi Lainnya Jamur pelapuk putih (JPP) P. chrysosporium dikombinasikan dengan mikroorganisme lainnya dapat digunakan sebagai inokulan kompos untuk bahan kompos limbah lignoselulosa (Zeng et al 2010;.. Taccari et al 2009). JPP yang diinokulasi selama tahap fermentasi kedua, P. chrysosporium menginduksi perubahan signifikan pada semua parameter kematangan kompos Isroi http://isroi.wordpress.com | 28

kecuali C/N ratio. Metode pengomposan menggunakan JPP juga telah digunakan untuk degradasi polutan (Zeng et al. 2007). Inokulasi P. chrysosporium pada tanah terkontaminasi benzo [a] pyrene dengan system kompos meningkatkan laju pembentukan residu terikat karbon. Pembentukan ikatan residu ini ditemukan menjadi mekanisme transformasi utama untuk benzo [a] pyrene dalam sistem kompos mikroba aktif, berdasarkan perhitungan hampir 100% dari benzo [a] pyrene terdegradasi (McFarland dan Qiu 1995). 1.4.4. Kombinasi Pretreatment Biologi dengan Metode Pretreatment Lain Kelemahan utama dari pretreatment biologi adalah potensi hilangnya polisakarida (hemiselulosa dan selulosa) dan durasi pretreatment yang lebih lama dari pretreatment kimia/fisika. Pretreatment biologi dapat dikombinasikan dengan pretreatment kimia/fisika untuk mengurangi waktu pretreatment, kehilangan polisakarida, dan untuk meningkatkan hasil gula yang dapat difermentasi. Kombinasi metode pretreatment antara biologi dengan pretreatment kimia/fisika dapat meningkatkan kinerja pretreatment dibandingkan dengan metode pretreatment tunggal. Pretreatment kimia/fisik sebelum pretreatment biologis memungkinkan substrat akan mudah untuk diakses jamur dalam menurunkan kandungan lignin (Reid 1989). Optimalisasi kombinasi pretreatment diarahkan ke hasil gula yang maksimum dan untuk mengurangi biaya keseluruhan pretreatment, yaitu waktu inkubasi, konsentrasi asam, dan/atau energi yang digunakan. Metode-metode kombinasi secara signifikan bisa mengurangi waktu pretreatment biologis dan meningkatkan hasil gula setelah hidrolisa enzimatik. Jerami padi yang diperlakukan dengan ledakan uap (steam explotion) sebelum pretreatment biologi menggunakan Pleurotus ostreatus dapat mengurangi waktu berkurang dari 60 hari menjadi 36 hari dan mendapatkan glukosa 33% (Taniguchi et al. 2010). Jerami padi yang dipretreatment dengan H2O2 (2%, 48 jam), waktu pretrettment berkurang dari 60 hari menjadi 18 hari dengan hasil gula yang sebanding (Yu et al. 2010b). Pengurangan waktu pretreatment dimungkin karena degradasi parsial lignin dan polisakarida, serta kerusakan parsial dari struktur lignoselulosa selama pretreatment biologis. Kombinasi pretreatment eceng gondok (Eichhornia crassipes) dengan JPP E. taxodii (10 hari) dan 0,25% H2SO4 terbukti lebih efektif daripada metode pretreatment asam saja. Hasil gula pereduksi dari hidrolisis enzimatik meningkat dengan faktor 1,13-2,11 dibandingkan dengan pengobatan asam di bawah kondisi yang sama (Ma et al. 2010). Pretreatment Biologi serpihan Isroi http://isroi.wordpress.com | 29

kayu beech sebelum pretreatment organosolv bisa meningkatkan hasil etanol sebesar 1,6 kali lebih banyak daripada tanpa pretreatment biologi (Itoh et al. 2003). JPC dikombinasikan dengan pretreatment organosolv juga telah digunakan (Monrroy et al. 2010). Pretreatment biologis serpihan kayu Pinus radiata sebelum pretreatment organosolv meningkatkan asesibilitas enzyme. Pretreatment biologi jerami jagung selama 15 hari menggunakan E. taxodii diikuti oleh pretreatment alkali/oksidatif dapat menyebabkan peningkatan 50,7% dalam mengurangi gula dibandingkan dengan pretreatment alkali/oksidatif saja (Yu et al. 2010b). Pretreatment Biologi batang jagung diikuti oleh pretreatment alkali ringan dengan I. lacteus dapat meningkatkan kecernaan selulosa. Degradasi lignin pada pretreatment biologi meningkat dan hidrolisis glukosa meningkat signifikan ketika dikombinasikan dengan pretreatment alkali (Yu et al. 2010a).

Isroi http://isroi.wordpress.com | 30