Mitos Keliru Seputar Imunisasi

Pemberian vaksin merupakan upaya preventif terhadap penyakit infeksi yang dapat menyebabkan kecacatan dan kematian. Namun, cakupan imunisasi nasional saat ini masih rendah yakni mencapai 80 persen. Salah satu kendala dalam imunisasi adalah keengganan orangtua mengimunisasi anak karena percaya pada mitos-mitos yang menyesatkan. "Di berbagai milis banyak beredar isu-isu tentang vaksin yang keliru" kata dr.Soedjatmiko. Sp.A, Sekretaris Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam acara media edukasi kesehatan anak yang diadakan Pfizer di Jakarta. Selain itu, program imunisasi saat ini tidak lagi dilakukan pemerintah pusat, namun diserahkan pada pemerintah daerah. Soedjatmiko menjelaskan, vaksin yang dipakai di Indonesia merupakan buatan lokal yakni Bio Farma. "Salah kalau ada yang bilang vaksin kita dari buangan negara maju, justru kita mengekspor vaksin ke lebih dari 120 negara," katanya. Isu mengenai kandungan merkuri dalam vaksin yang menyebabkan autis juga dianggap salah. "Memang ada merkurinya sebagai adjuvant, tapi jumlahnya sangat sedikit, bahkan kebih banyak merkuri dalam ikan laut," urainya. Pada beberapa kasus memang terjadi kejadian ikutan pasca imunisasi seperti kulit kemerahan dan bengkak atau demam. "Pada umumnya kejadian ikutan pascaimunisasi ringan dan tidak berbahaya. Lagipula manfaat yang didapat dari imunisasi lebih besar dari efek sampingnya," paparnya. Namun untuk menghindari efek samping yang tak diinginkan, disarankan untuk memberitahu dokter bila imunisasi yang lalu mengalami demam tinggi atau kejang. Sebelumnya, kabar burung seputar imunisasi banyak berseliweran, tapi rata-rata masyarakat mempercayai begitu saja kabar tersebut tanpa mencari tahu kebenarannya. Apa saja mitos-mitos seputar imunisasi tersebut? Imunisasi sangat penting sebagai pencegahan terhadap penyakit yang belum ada obatnya, penyakit mematikan atau dapat menimbulkan kecacatan serta melibatkan

Mitos ini tidak benar. Selain itu imunisasi juga berguna untuk melindungi anak. Jika anak hanya sakit flu yang ringan maka boleh saja dilakukan imunisasi. 2. dan dengan melakukan vaksinasi dapat memberikan perlindungan tanpa efek samping yang berat. Jeffry Senduk. dimana hampir bersamaan dengan diberikannya vaksin MMR. SpA dalam acara seminar mengenai imunisasi pada anak di Siloam Hospital Kebon Jeruk. Dr. karena takut anaknya terkena autis atau sakit setelah melakukan suatu imunisasi. ini sudah dibuktikan melalui penelitian ilmiah.orang banyak. Tidak boleh memberikan ASI sesudah vaksin polio. jadi jangan takut untuk memberikan vaksin MMR pada anak. Vaksin MMR (measles." ujar dokter yang berpraktik di Siloam Hospital Kebun Jeruk ini. menurunkan kejadian penyakit menular di masyarakat serta menjaga keluarga dan anak-anak tetap sehat." ujar Dr. Jeffry menambahkan biasanya gejala autis pertama kali terlihat saat bayi berusia 12 sampai 18 bulan. Jika bayi sangat rewel maka tunda melakukan imunisasi 1 hingga 2 minggu." ujar Dr. Sesudah imunisasi tidak akan tertular penyakit tersebut. karena meskipun jumlah suntikan vaksin meningkat tapi jumlah antigen telah menurun. Mitos ini tidak benar. maka imunisasi bisa diberikan kembali setelah 10 menit dengan dosis yang sama. Jakarta. . "Tidak ada hubungan antara vaksin MMR dengan perkembangan autis. Jeffry mengatakan anak yang diberikan vaksin polio boleh langsung diberikan ASI. 5. 3. Berikut beberapa mitos seputar imunisasi: 1. Selain itu sistem imun manusia memberikan respons terhadap ratusan antigen dalam kehidupan setiap hari. Jika anak muntah sesudah imunisasi polio. Lebih baik memberi natural infeksi dibanding dengan vaksinasi. Anak sakit flu tidak boleh diimunisasi. Kadang-kadang akibat mitos yang beredar di masyarakat banyak orangtua yang tidak memberikan anaknya imunisasi. Jeffry. 6. Dr. Kebanyakan autis disebabkan oleh factor genetic. "Berbagai penelitian tidak memperlihatkan meningkatnya penyakit infeksi setelah adanya imunisasi. Terlalu banyak vaksin akan membebani sistem imun. 4. mumps dan rubella) bisa menyebabkan anak autis. asalkan anak tidak demam dan tidak rewel. "Suatu penyakit bisa mengakibatkan kematian serta kecacatan yang permanen.

Karena banyak anak yang sudah divaksin waktu bayi ternyata pada umur 5 sampai 7 tahun 28.com . Jika saat balita sudah diimunisasi lengkap. Anda jangan langsung percaya terhadap semua kabar burung yang beredar mengenai imunisasi. pada umur lebih dari 10 tahun terkena difteria. (fn/km/dt) www. 3 dan 6. 7.suaramedia. serta untuk pemberantasan tetanus dibutuhkan 5 kali suntikan TT sejak bayi hingga dewasa sehingga kekebalan pada umur dewasa bisa berlangsung hingga 20 tahun lagi.3 persen terkena campak. Ada beberapa imunisasi yang harus diulang saat sekolah dasar yaitu imunisasi campak dan DT saat kelas 1 dan imunisasi TT saat kelas 2. namun akan jauh lebih ringan dibandingkan dengan anak yang tidak diimunisasi. sebaiknya cari tahu penjelasannya melalui situs-situs ilmiah di internet atau berkonsultasi dengan dokter anak Anda. Sehingga kemungkinan untuk bisa disembuhkan jauh lebih besar. di sekolah tidak perlu imunisasi lagi. Bayi atau anak yang telah melakukan imunisasi masih ada kemungkinan yang sangat kecil untuk bisa tertular penyakit tersebut.Tidak ada vaksinasi yang memberikan perlindungan terhadap suatu penyakit secara 100 persen.