Laporan Tutorial Skenario 1 Blok Traumatologi

PENANGANAN YANG TEPAT UNTUK TRAUMA ABDOMEN

Oleh : Kelompok Tutorial 14

Arum Alfiyah Fahmi Candra Aji S, Coraega Gena E. Erma Malindha Gunung Mahameru Namira Qisthina Paksi Suryo B. Puji Rahmawati Satria Adi P. Yunita Asri P.

(G0010028) (G0010040) (G0010046) (G0010074) (G0010088) (G0010134) (G0010148) (G0010154) (G0010172) (G0010202)

Tutor Pembimbing : Muthmainah, dr.

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2013

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Seorang laki-laki, berusia 34 tahun, diantar polisi ke IGD RSUD Dr. Muwardi. 1 jam MRS pasien mengalami kecelakaan lalu lintas saat mengendarai mobil tanpa mengenakan sabuk pengaman dengan kecepatan tinggi. Pasien menabrak pohon saat menghindari becak. Pasien terbentur setir mobil pada perut bagian bawah. Pasien dalam keadaan sadar (compos mentis) mengeluh nyeri pada perut bagian bawah dan disertai tidak bisa kencing setelah kejadian tabrakan. Dari hasil pemeriksaan dokter IGD didapatkan kesadaran pasien compos mentis (GCS E4V5M6= 15), pupil isokhor, refleks cahaya (+/+), lateralisasi (). Jalan nafas bebas. Didapatkan vital sign: nadi 120x/menit, tekanan darah 90/60 mmHg, t: 36oC, akral dingin dan lembab RR 24x/menit. Terdapat jejas pada regio hipokondriaka kanan. Nampak darah keluar dari anus, orificium urethra externum dan hematom pada regio perineum sehingga dokter tidak melakukan pemsangan kateter (ada kontra indikasi). Dari pemeriksaan rectal toucher didapatkan prostat melayang, teraba pecahan tulang di daerah rectum bagian depan. Dalam pemeriksaan stabilitas pelvis (tes kompresi +, tes distraksi +). Dokter IGD melengkapi pemeriksaan primary survey, adjunct primary survey dan secondary survey untuk menegakkan diagnosis dan terapi selanjutnya. Dokter jaga IGD melakukan konsul pada dokter bedah (orthopaedi, digestif, dan urologi). B. Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah anatomi pelvis dan abdomen? 2. Bagaimanakah patofisiologi gejala yang muncul pada skenario ini? tidak bisa kencing hematom regio perineum tensi rendah-nadi tinggi

2. serta komplikasi dari ruptur recum? 5. 4. Mengetahui patofisiologi. 6. . serta komplikasi dari trauma pelvis. etiologi. pemeriksaan penunjang. adjunct survey dan secondary survey yang harus dilakukan dari skenario ini. manifestasi klinis. Mengetahui patofisiologi. etiologi. serta komplikasi dari trauma pelvis? 6. pemeriksaan penunjang. serta komplikasi dari syok e. etiologi. Mengetahui patofisiologi. Bagaimanakah patofisiologi. Mengetahui patofisiologi. etiologi. serta komplikasi dari trauma uretra? 4. etiologi. etiologi. Bagaimanakah patofisiologi. manifestasi klinis. pemeriksaan penunjang. serta komplikasi dari syok e. manifestasi klinis. serta komplikasi dari trauma uretra. Mengetahui anatomi pelvis dan abdomen. Bagaimanakah patofisiologi. manifestasi klinis. pemeriksaan penunjang. Bagaimanakan primary survey. Mengetahui primary survey.c dehidrasi? 7. adjunct survey dan secondary survey dari skenario ini? C. 5. serta komplikasi dari ruptur recum. pemeriksaan penunjang. manifestasi klinis. pemeriksaan penunjang. pemeriksaan penunjang. Manfaat Penulisan 1. pemeriksaan penunjang. manifestasi klinis. Bagaimanakah patofisiologi.c dehidrasi? 7. etiologi.- prostat melayang 3. manifestasi klinis. manifestasi klinis. Mengetahui patofisiologi gejala yang muncul pada skenario ini: tidak bisa kencing hematom regio perineum tensi rendah-nadi tinggi prostat melayang 3. etiologi.

Iliaca dekster h. Hypochondrium dekster b. pancreaticoduodenalis inferior. Coeliaca ( truncus coeliacus)  A. hemorrhoidalis superior 4. Anatomi Abdomen dan Pelvis 1. Lien : pada latero-posterior costae 9 – 10 b. Lienalis b. a. Vascularisasi Gastrointestinal a. A. A. Hypochondrium sinister d. a. Pelvis bersendi dengan vertebra . Hypogastrium i. Hepar : pada anterior dinding abdomen dekstra. sigmoidea. ileocolica. colica media. Mesenterica Inferior  a. A. Iliaca sinister 2. colica sinistra. Anatomi Pelvis Pelvis adalah daerah batang tubuh yang berada di sebelah dorsokaudal terhadap abdomen dan merupakan daerah peralihan dari batang tubuh ke extremitas inferior. Jejunales dan ilei c. Proyeksi Pada Organ Intra Abdominal a. Gaster (Stomach) : mulai dari regio epigastrium sampai ke regio umbilikalis 3. Mesenterica Superior  a. gastrica sinistra. a. Lumbalis sinister g. colica dextra. A. Regio Pada Dinding Anterior Abdomen a. Hepatica. a. aa. mulai dari costae 6 kanan sampai ke arcus costae terakhir c. A. a. Lumbalis dekster e.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Umbilikalis f. Epigastrium c.

Ramus iskium menonjol kedepan dari tuberositas ini dan bertemu serta menyatu dengan ramus pubis inferior. dan otot. Kerangka pelvis terdiri dari: a. − Ilium :batas atas tulang ini adalah Krista iliaka. b. Tuberositas iskia adalah penebalan bagian bawah korpus iskium yang menyangga berat badan saat duduk. Cavitas pelvis yang berbentuk seperti corong. dan saraf. memberi tempat kepada vesicaurinaria. alat kelamin pelvic. Krista iliaka berjalan ke belakang dari spina iliaka anterior superior menuju spina iliaka posterior superior. yaitu: ilium. rectum. Foramen obturatorium merupakan lubang besar yang dibatasi oleh rami pubis dan iskium. − Iskium : terdiri dari spina di bagian posterior yang membatasi insisura iskiadika mayor (atas) dan minor (bawah. dan pubis. Os sacrum . Os inominatum (tulang panggul) Tulang ini terdiri dari tiga bagian komponen. Tulang iniberartikulasi dengan tulang pubis di tiap sisi simfisis pubis. Pelvis dibatasi oleh dinding yang dibentuk oleh ulang. Saat dewasa tulang-tulang ini telah menyatu selurunya pada asetabulum.lumbalis ke-5 di bagian atas dan dengan caput femoris kanan dan kiri pada acetabulum yang sesuai. pembuluh darah dan limfe. Permukaan superior dari korpus memiliki krista pubikum dan tuberkulum pubikum. iskium. − Pubis :terdiri dari korpus serta rami pubis superior dan inferior. ligamentum.

Foramina vertebralia bersama-sama membentuk canalis sacralis. Pinggir anterior dan atas vertebra sacralis pertama menonjol ke depan sebagai batas posterior apertura pelvis superior. Tulang ini terdiri dari empat vertebra rudimenter yang bersatu membentuk tulang segitiga kecil yang basisnya bersendi dengan ujung bawah sacrum. Pelvis major (panggul besar. Pinggir atas atau basis ossis sacribersendi dengan vertebra lumbalis V. Di lateral.Os sacrum terdiri dari lima vertebrae rudimenter yang bersatu membentuk tulang berbentuk baji yang cekung kea rah anterior. d. disebut promontorium os sacrum. linea innominata (terminalis) dan pinggir atas simfisis. pelvis spurium) • • Terletak cranial terhadap aperture pelvis superior (aditus pelvis) Terbuka dan melebar pada ujung atasnya dan harus dipikirkan sebagai bagian cavitas abdominalis. os sacrum bersendi dengan kedua os coxae membentuk articulation sacroiliaca. Pintu atas panggul merupakan suatu bidang yang dibentuk oleh promontorium corpus vertebrae sacral 1. sacrales.Canalis sacralis berisi radix anterior dan posterior nervi lumbales. dan coccygeus filum terminale dan lemak fibrosa. Os coccygis Os coccygis berartikulasi dengan sacrum di superior.Vertebra coccygea hanya terdiri atas corpus. c. . yang merupakan bagian penting bagi ahli kandungan untuk menentukan ukuran pelvis. Cornu adalah sisa pediculusdan processus articularis superior yang menonjol ke atas untuk bersendi dengan cornu sacrale. Pinggir inferior yang sempit bersendi dengan os coceygis. namun vertebra pertama mempunyai processus transverses rudimenter dan cornu coccygeum.

tetapi tersusun atas dasar dua bidang datar yang masing-masing berbentuk segitiga yaitu bidang yang dibentuk oleh garis antara kedua buah tubera ossis ischii dengan ujung os sacrum dan segitiga lainnya yang alasnya juga garis antara kedua buah tubera ossis ischii dengan bagian bawah simfisis. Primary Survey a. Di panggul tengah terdapat penyempitan setinggi kedua spina ischiadika.5 cm.Panjang jarak dari pinggir atas simfisis pubis ke promontorium lebih kurang 11 cm. Primary Survey. auskultasi. Konjugata vera sama dengan konjugata diagonalis dikurangi 1. disebut konjugata vera. Jarak antara kedua tubera ossis ischii adalah 10. Airway dengan kontrol servikal 1) Penilaian a) Mengenal patensi airway ( inspeksi. B. Adjunct Primary Survey. Bila kurang sekali dari 90o maka kepala janin akan lebih sulit dilahirkan karena memerlukan tempat lebih banyak ke dorsal. Jarak terjauh garis melintang pada pintu atas panggul lebih kurang 11. dan Secondary Survey 1. konjugata obstretika jarak dari bagian tengah simfisis ke promontorium. Pinggir bawah simfisis berbentuk lengkung kebawah dan membentuk sudut (arcus pubis). Pintu bawah panggul bukan merupakan bidang datar. palpasi) b) Penilaian secara cepat dan tepat akan adanya obstruksi 2) Pengelolaan airway . Bila ditarik garis dari articulatio sakroiliaka ke titik persekutuan antara diameter transversa dan konjugata vera dan diteruskan ke linea innominata disebut diameter oblique.5 – 13 cm disebut diameter trasversal. besarnya sudut ini 90o atau lebih sedikit. Jarak antara kedua spina ini (distansia interspinarum) normalnya 10. Ruang panggul diatas pintu atas panggul mempunyai ukuran yang paling luas.5 cm. kurang lebih 13 cm.5 cm. Dalam keadaan normal.

dengan tetap memperhatikan kontrol servikal in-line immobilisasi b) Tentukan laju dan dalamnya pernapasan c) Inspeksi dan palpasi leher dan thoraks untuk mengenali kemungkinan terdapat deviasi trakhea. Circulation dengan kontrol perdarahan . Breathing dan Ventilasi-Oksigenasi 1) Penilaian a) Buka leher dan dada penderita. terlebih bila ada gangguan kesadaran atau perlukaan diatas klavikula. 5) Evaluasi b.a) Lakukan chin lift dan atau jaw thrust dengan kontrol servikal in-line immobilisasi b) Bersihkan airway dari benda asing bila perlu suctioning dengan alat yang rigid c) Pasang pipa nasofaringeal atau orofaringeal dan pasang airway definitif sesuai indikasi 3) Fiksasi leher 4) Anggaplah bahwa terdapat kemungkinan fraktur servikal pada setiap penderita multi trauma. pemakaian otot-otot tambahan dan tandatanda cedera lainnya. d) Perkusi thoraks untuk menentukan redup atau hipersonor e) Auskultasi thoraks bilateral 2) Pengelolaan a) Pemberian oksigen konsentrasi tinggi (nonrebreather mask 1112 liter/menit) b) Ventilasi dengan Bag Valve Mask c) Menghilangkan tension pneumothorax d) Menutup open pneumothorax e) Memasang pulse oxymeter 3) Evaluasi c. ekspansi thoraks simetris atau tidak.

ventilasi dan circulation. pulsus paradoksus. e) Periksa tekanan darah 2) Pengelolaan a) Penekanan langsung pada sumber perdarahan eksternal b) Kenali perdarahan internal. Disability 1) Tentukan tingkat kesadaran memakai skor GCS/PTS 2) Nilai pupil : besarnya. oksigenasi. reflek cahaya dan awasi tanda-tanda lateralisasi 3) Evaluasi dan Re-evaluasi aiway. Tidak diketemukannya pulsasi dari arteri besar merupakan pertanda diperlukannya resusitasi masif segera. kenali tanda-tanda sianosis. keteraturan. e. tes kehamilan (pada wanita usia subur). c) Pasang kateter IV 2 jalur ukuran besar sekaligus mengambil sampel darah untuk pemeriksaan rutin. d) Beri cairan kristaloid yang sudah dihangatkan dengan tetesan cepat. e) Pasang PSAG/bidai pneumatik untuk kontrol perdarahan pada pasien-pasien fraktur pelvis yang mengancam nyawa. golongan darah dan crossmatch serta Analisis Gas Darah (BGA). kimia darah. Exposure/Environment 1) 2) Buka pakaian penderita Cegah hipotermia : beri selimut hangat dan tempatkan . kualitas. f) Cegah hipotermia 3) Evaluasi d. d) Periksa warna kulit.1) Penilaian a) Mengetahui sumber perdarahan eksternal yang fatal b) Mengetahui sumber perdarahan internal c) Periksa nadi : kecepatan. isokor atau tidak. kebutuhan untuk intervensi bedah serta konsultasi pada ahli bedah.

Dosis awal pemberian cairan kristaloid adalah 1000-2000 ml pada dewasa dan 20 mL/kg pada anak dengan tetesan cepat. 3) Tanpa respon Konsultasikan pada ahli bedah Perlu tindakan operatif sangat segera Waspadai kemungkinan syok non hemoragik seperti tamponade jantung atau kontusio miokard Pemasangan CVP dapat membedakan keduanya 2. 2) Nilai perfusi organ ( nadi. Periksa vital sign: nadi.pada ruangan yang cukup hangat. frekuensi napas . ditambah dengan pemberian darah Respon terhadap pemberian darah menentukan tindakan operatif Konsultasikan pada ahli bedah. kesadaran dan produksi urin ) serta awasi tanda-tanda syok d. warna kulit. RESUSITASI a. c. Adjunct Primary Survey a. 1) Respon cepat Pemberian cairan diperlambat sampai kecepatan maintenance Tidak ada indikasi bolus cairan tambahan yang lain atau pemberian darah Pemeriksaan darah dan cross-match tetap dikerjakan Konsultasikan pada ahli bedah karena intervensi operatif mungkin masih diperlukan 2) Respon Sementara Pemberian cairan tetap dilanjutkan. Re-evaluasi ABCDE b. Evaluasi resusitasi cairan 1) Nilailah respon penderita terhadap pemberian cairan awal. Pemberian cairan selanjutnya berdasarkan respon terhadap pemberian cairan awal. tekanan darah. suhu tubuh.

laju nafas. segera konsultasikan pada bagian bedah 3) Ambil sampel urine untuk pemeriksaan urine rutine 4) Produksi urine merupakan indikator yang peka untuk menilai perfusi ginjal dan hemodinamik penderita 5) Output urine normal sekitar 0. Pasang EKG 1) Bila ditemukan bradikardi. pelvis dan servikal lateral. nadi. gunakan orogastric tube. 1 ml/kgBB/jam pada anak-anak dan 2 ml/kgBB/jam pada bayi d. karena bahaya aspirasi bila pasien muntah.b. e. Monitoring hasil resusitasi dan laboratorium Monitoring didasarkan atas penemuan klinis. Pasang kateter uretra 1) Kecurigaan adanya ruptur uretra merupakan kontra indikasi pemasangan kateter urine 2) Bila terdapat kesulitan pemasangan kateter karena striktur uretra atau BPH. konduksi aberan atau ekstrasistole harus dicurigai adanya hipoksia dan hipoperfusi 2) Hipotermia dapat menampakkan gambaran disritmia c. 2) Selalu tersedia alat suction selama pemasangan kateter lambung. Pasang kateter lambung 1) Bila terdapat kecurigaan fraktur basis kranii atau trauma maksilofacial yang merupakan kontraindikasi pemasangan nasogastric tube. Analisis Gas Darah (BGA).5 ml/kgBB/jam pada orang dewasa. suhu tubuh dan output urine dan pemeriksaan laboratorium darah. Pemeriksaan foto rotgen dan atau FAST 1) Segera lakukan foto thoraks. menggunakan mesin x-ray portabel dan atau FAST bila terdapat kecurigaan trauma abdomen. jangan dilakukan manipulasi atau instrumentasi. f. tekanan darah. 2) Pemeriksaan foto rotgen harus selektif dan jangan sampai .

menghambat proses resusitasi. medula spinalis. pupil. Masing-masing aspek dilakukan identifikasi trauma terlebih dahulu. Bila belum memungkinkan. abdomen/pinggang. ekstremitas. Secondary Survey a. dapat dilakukan pada saat secondary survey. 3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik pada secondary survey meliputi pemeriksaan tingkat kesadaran. tetap harus dilakukan. kemudian penilaian dengan pemeriksaan fisik. foto rotgen yang mutlak diperlukan. maksilofasial. kepala. pelvis. kolumna vertebralis. leher. toraks. Anamnesis Anamnesis yang harus diingat : A : Alergi M : Mekanisme dan sebab trauma M : Medikasi ( obat yang sedang diminum saat ini) P : Past illness L : Last meal (makan minum terakhir) E : Event/Environtment yang berhubungan dengan kejadian perlukaan. kemudian temuan klinis dari pemeriksaan fisik dikonfirmasi dengan pemeriksaan lanjutan sesuai dengan aspek. 3) Pada wanita hamil. b. .

Abdomen • Cedera intraperitoneal • Cedera retroperit oneal • Cedera Genitourinarius • Fraktur pelvis • Ukuran • Bentuk • Reaksi Abdomen/ pinggang • • • • Inspeksi Palpasi Auskultasi Tentukan arah penetrasi Pelvis • Palpasi simfisis pubis untuk pelebaran • Nyeri tekan tulang elvis • Tentukan instabilitas pelvis (hanya satu kali) • Inspeksi perineum • Pem. Pemeriksaan Fisik pada Secondary Survey . cedera kepala berat • 9 -12. cedera kepala sedang • 13-15.Hal yang dinilai Tingkat Kesadaran Identifikasi/ tentukan • Beratnya trauma kapitis Penilaian • Skor GCS Pupil • Jenis cedera kepala • Luka pada mata • Perlukaan dd. rektum. cedera kepala ringan • "mass effect" • Diffuse axional injury • Perlukaan mata • Nyeri. • Iritasi peritoneal • Cedera organ viseral • Cedera retroperitone al • Cedera Genitorinarius (hematuria) • Fraktur pelvis • Perlukaan perineum. nyeri tekan abd. Rektum/vagi na Penemuan Klinis •  8. vagina Konfirmasi dengan • CT Scan • Ulangi tanpa relaksasi Otot • CT Scan • • • • • DPL FAST CT Scan Laparotomi Foto dengan kontras • Angiografi • • • • • • Foto pelvis Urogram Uretrogram Sistogram IVP CT Scan dengan kontras Tabel 1.

Kecurigaan adanya cedera ureter pada trauma dari luar adlah adanya hematuria pasca trauma. luka tusuk atau luka tembak.C. Cedera ini akibat trauma dari luar yaitu trauma tumpul maupun trauma tajam atau trauma iatrogenic. 2013). 2013). 2013). sedangkan kecurigaan adanya cedera ureter iatrogenic bisa diketemukan pada saat operasi atau setelah pembedahan (Sharma. Pada trauma mayor pasien datang dengan syok berat dan terdapat hematoma yang makin lama makin membesar. 2.Untuk itu harus segera dilakukan eksplorasi laparatomi untuk menghentikan perdarahan (Salmaslioglu et al. putus (robek) atau devaskularisasi karena banyak jaringan vaskuler yang dibersihkan. 1.. crushing Karena terjepit oleh klem. . Cedera pada ureter akibat tindakan operasi terbuka berupa ureter terikat. Trauma Ginjal Ginjal terletak di rongga retroperitoneum dan terlindungi oleh otototot punggung di sebelah posterior dan oleh organ-organ intraperitoneal di sebelah anteriornya karena itu cedera pada ginjal jarang diikuti oleh cedera pada organ-organ yang mengitarinya. Trauma Urogenitalia Sebagian besar cidera organ genetourinaria buakan cidera yang mengancam jiwa kecuali cedera berat pada ginjal yang menyebabkan kerusakan parenkim ginjal yang cukup luas dan kerusakan pembuluh darah ginjal (Focseneanu and Merritt. Jenis cedera yang mengenai ginjal dapat berupa cedera tumpul. Pada trauma ringan mungkin pasien nyeri di daerah pinggang terlihat jejas berupa ekimosis dan terdapat hematuria makroskopik ataupun mikroskopik. Trauma Ureter Cedera ureter sangat jarang dijumpai dan merupakan 1% dari seluruh cedera traktus urogenetalia. Cedera ginjal dapat terjadi secara langsung akibat benturan yang mengenai daerah pinggang atau tidak langsung akibat deselerasi pergerakan ginjal secara tiba-tiba di dalam rongga retroperitoneum.

dan nyeri tekan.. Ruptura uretra posterior sering kali memberikan gambaran yang khas berupa : (1). hematom. Perdarahan per-uretram.. Pada daerah suprapubik dan abdomen bagian bawah. Demikian tindakan operasi trans uretra dapat menyebabkna cedera uretra iatrogenic. Kateter sistotomi dipasang sampai 2 minggu dan dileaps setelah diyakinkan dengan pemeriksaaan uretrografi bahwa sudah tidak ada ekstravasasi kontras atau tidak timbul stricture uretra. dan (3) pada pemeriksaan colok dubur didapatkan adanya Floating prostate (prostat melayang) di dalam suatu hematom karena tidak terfiksasi lagi . Pasien yang menderita cedera uretra posterior sering kali datang dalam keadaan syok karena terdapat fraktur pelvis/cedera organ lain yang menimbulkan banyak perdarahan. Namun jika timbul stricture uretra dilakukan reparasi uretra atau sachse (Karam and Templemen. Pemasangan kateter atau businasi pada uretra yang kurang hati-hati dapat menimbulkan robekan uretra karena false route atau salah jalan. Terapi dengan melakukan sistotomi untuk mengalihkan aliran urine. 2013). Trauma tumpul yang menimbulkan fraktur tulang pelvis menyebabkan rupture uretra pars membranasea sedangkan trauma tumpul pada selangkangan atau straddle injury dapat menyebabkan rupture uretra pars bulbosa. kecurigaan adanya tarauma uretra adalah jika didapatkan perdarahan per-uretram yaitu terdapat darah yang keluar dari meatus uretra eksternum setelah mengalami trauma. 2013). dijumpai jejas. (2) retensi urine. Trauma Uretra Trauma uretra terjadi akibat cedera yang berasal dari luar dan cedera iatrogenic akibat instrumentasi pada uretra.3. Pada keadan ini tidak boleh melakukan tindakan pemasangan kateter karena dapat enyebabkan kerusakan uretra lebih parah (Song et al. Pada trauma uretra yang berat pasien mengalami retensi urine dan pada pemeriksaaan colok dubur didapatkan floating prostate. Bila disertai ruptur kandung kemih. bisa ditemukan tanda rangsangan peritoneum.

Kerusakan intra abdominal sekunder untuk kekuatan tumpul pada abdomen secara umum dapat dijelaskan dengan 3 mekanisme. 2013. pankreas. D. atau kompresi. Kejadian ruptur rektum akibat trauma tumpul sebenarnya jarang ditemukan karena rektum terletak dalam perlindungan cincin pelvis. khususnya pada ujung organ yang terkena. Ruptur Rectum Ruptur rectum merupakan kondisi cedera pada rectum. deselarasi (perlambatan). limpa. Cedera pada rectum dapat diakibatkan oleh luka peneterasi maupun luka tumpul misalnya benturan. organ padat. organ viseral dan pembuluh darah.Kedua. Situasi yang sama dapat terjadi pada pembuluh darah ginjal dan pada cervicothoracic junction. yaitu : Pertama. Pada pemeriksaan uretrografi retrogad mungkin terdapat elongasi uretra atau ekstravasasi kontras pada pars prostato-membranasea (Salmaslioglu et al. Kadang sama sekali tidak teraba prostat lagi karena pindah ke kranial. Ruptur rectum ditemukan pada beberapa kasus fraktur pelvis (de Jong.. Mekanisme terjadinya trauma pada trauma tumpul disebabkan adanya deselerasi cepat dan adanya organ-organ yang tidak mempunyai kelenturan (noncomplient organ) seperti hati. Trauma pada rectum lebih banyak ditemui diakibatkan oleh luka tajam. dan ginjal. Akibatnya.pada diafragma urogenital. Pemeriksaan colok dubur harus dilakukan dengan hati-hati karena fragmen tulang dapat mencederai organ lain seperti rektum. ledakan. Akibatnya. Contoh pada aorta distal yang mengenai tulang torakal dan mengurangi yang lebih cepat dari pada pergerakan arkus aorta. Focseneanu and Merrit. 2005. saat pengurangan kecepatan menyebabkan perbedaan gerak di antara struktur. 2013). isi intra-abdominal hancur di antara dinding abdomen anterior dan columna vertebra atau tulang . Snell. terjadi tenaga potong dan menyebabkan robeknya organ berongga. gaya potong pada aorta dapat menyebabkan ruptur. 2006).

Peradangan peritoneum merupakan komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi dari organ-organ abdomen (misalnya apendisitis. apendiks. perlu diperhatikan kondisi umum. palpasi. sedangkan stafilokokus dan stretokokus sering masuk dari luar. Hal ini dapat menyebabkan remuk. benda asing. Peritonitis merupakan komplikasi tersering dari trauma tumpul abdomen karena adanya ruptur pada organ. Nestor.toraks posterior. pankreatitis. salpingitis). Gejala dan tanda dehidrasi. dan infeksi atau sepsis juga diperhatikan. suhu badan. ruptur saluran cerna. lambung. 2005. Odle. pernapasan. atau dari luka tembus abdomen. 2007. biasanya organ padat (spleen. dan perkusi (de Jong. Penyebab yang paling serius dari peritonitis adalah terjadinya suatu hubungan (viskus) ke dalam rongga peritoneal dari organ-organ intra-abdominal (esofagus. obstruksi dari usus yang mengalami strangulasi. rektum. Ketiga. auskultasi. 2007. . 2007). denyut nadi. 2005. 2007). Salomone. 2007). dan sikap baring pasien. colon. perdarahan. PID (Pelvic Inflammatory Disease) dan bencana vaskular. kandung empedu. Pemeriksaan fisik pada pasien trauma tumpul abdomen harus dilakukan secara sistematik meliputi inspeksi. dan saluran kemih). Nestor. Pada pemeriksaan fisik. sebelum melakukan pemeriksaan abdomen. Odle. intestinal. Namun pada trauma tumpul seringkali diperlukan observasi dan pemeriksaan berulang karena tanda rangsangan peritoneum bisa timbul perlahan-lahan (de Jong. 2007. Organisme yang sering menginfeksi adalah organisme yang hidup dalam kolon pada kasus ruptur apendiks. darah yang menginfeksi peritoneal. 2005. 2007. yang dapat disebabkan oleh trauma. duodenum. wajah. Nestor. hati. syok. adalah gaya kompresi eksternal yang menyebabkan peningkatan tekanan intra-abdomen yang tiba-tiba dan mencapai puncaknya pada ruptur organ berongga (de Jong. ginjal) terancam. Pada luka tembak atau luka tusuk tidak perlu lagi dicari tanda-tanda peritonitis karena ini merupakan indikasi untuk segera dilakukan laparotomi eksplorasi. Salomone.

Syok hipovolemik yang dapat disebabkan oleh hilangnya cairan intravaskuler. krisis penyakit addison − Luka bakar (kompustio) dan anafilaksis 3. dapat menampung kehilangan darah yang besar. dan kehamilan ektopik terganggu. Patofisiologi . ruptur limpa. kehilangan cairan intravaskuler lain yang dapat terjadi karena kehilangan protein plasma atau cairan ekstraseluler.E. Syok Hipovolemik 1. Paling sering. c. Etiologi Menurut Ashadi (2006). Kehilangan darah dari luar yang akut akibat trauma tembus dan perdarahan gastrointestinal yang berat merupakan dua penyebab yang paling sering pada syok hemoragik. dan gastroenteritis − Renal: terapi diuretik. pankreatitis. b. trauma yang berakibat fraktur tulang besar. Syok hemoragik juga dapat merupakan akibat dari kehilangan darah yang akut secara signifikan dalam rongga dada dan rongga abdomen (Kolecki. misalnya terjadi pada: a. 2008). Definisi Syok hipovolemik merupakan kondisi medis atau bedah dimana terjadi kehilangan cairan dengan cepat yang berakhir pada kegagalan beberapa organ. 2. syok hipovolemik merupakan akibat kehilangan darah yang cepat (syok hemoragik). Misalnya: fraktur humerus menghasilkan 500-1000 ml perdarahan atau fraktur femur menampung 1000-1500 ml perdarahan. kehilangan darah atau syok hemorargik karena perdarahan yang mengalir keluar tubuh seperti hematotoraks. misalnya pada: − Gastrointestinal: peritonitis. disebabkan oleh volume sirkulasi yang tidak adekuat dan berakibat pada perfusi yang tidak adekuat.

Respon ini terjadi akibat peningkatan pelepasan norepinefrin dan penurunan ambang dasar tonus nervus vagus (diatur oleh baroreseptor di arcus caroticus. Aldosteron bertanggungjawab pada reabsorbsi aktif natrium dan akhirnya akan menyebabkan retensi air. Renin akan mengubah angiotensinogen menjadi angiotensin I. Pembuluh darah yang rusak menghasilkan kolagen. Selain itu. dan sistem neuroendokrin. yang selanjutnya akan dikonversi menjadi angiotensin II di paru-paru dah hati. yang keduanya membantu perbaikan keadaan pada syok hemoragik.Tubuh manusia berespon terhadap perdarahan akut dengan mengaktivasi sistem fisiologi utama sebagai berikut: sistem hematologi. otot. dan ginjal dengan mengurangi perfusi kulit. Dibutuhkan waktu sekitar 24 jam untuk menyempurnakan fibrinasi dari bekuan darah dan menjadi bentuk yang sempurna. Sistem renalis berespon terhadap syok hemoragik dengan peningkatan sekresi renin dari apparatus juxtaglomeruler. Pada syok hipovolemik akibat kehilangan darah. jantung. yaitu vasokonstriksi arteriol otot polos. dan traktus gastrointestinal. yang selanjutnya menyebabkan penumpukan fibrin dan menstabilkan bekuan darah. Sistem kardiovaskuler pada awalnya berespon terhadap syok hipovolemik dengan meningkatkan denyut jantung. Sistem kardiovaskuler juga berespon dengan mengalirkan darah ke otak. . ginjal. arcus aorta. meningkatkan kontraktilitas miokard. dan vasokonstriksi pembuluh darah perifer. sistem hematologi berespon dengan mengaktivasi kaskade koagulasi dan vasokonstriksi pembuluh darah (melalui pelelepasan tromboksan A2 lokal). dan penbuluh darah pulmonal). atrium kiri. dan menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. platelet diaktivasi (juga melalui pelepasan tromboksan A2 lokal) dan membentuk bekuan darah immatur pada sumber perdarahan. kardiovaskuler. Angotensin II mempunyai 2 efek utama.

4. dan vena kulit kolaps akibat penurunan pengisian kapiler selalu berkaitan dengan berkurangnya perfusi jaringan. 3. ADH dilepaskan dari glandula pituitari posterior sebagai respon terhadap penurunan tekanan darah (dideteksi oleh baroreseptor) dan terhadap penurunan konsentrasi natrium (yang dideteksi oleh osmoreseptor). dan lengkung Henle (Kolecki. Hipotensi: karena tekanan darah adalah produk resistensi pembuluh darah sistemik dan curah jantung. duktus kolektivus. . Oliguria pada orang dewasa terjadi jika jumlah urin kurang dari 30ml/jam. pucat. Manifestasi klinis Tanda-tanda syok adalah menurut Ashadi (2006) adalah: 1. Penatalaksanaan Penanganan Sebelum di Rumah Sakit menurut Kolecki (2008): • • Pencegahan cedera lebih lanjut. 5. Transportasi segera pasien ke rumah sakit. Kulit dingin. 2008). Takhikardi: peningkatan laju jantung dan kontraktilitas adalah respon homeostasis penting untuk hipovolemia. Peningkatan kecepatan aliran darah ke homeostasis penting untuk hopovolemia. 4. Oliguria: produksi urin umumnya akan berkurang pada syok hipovolemik. Secara tidak langsung ADH menyebabkan peningkatan reabsorbsi air dan garam (NaCl) pada tubulus distalis. Autoregulasi aliran darah otak dapat dipertahankan selama tekanan arteri turun tidak dibawah 70 mmHg.Sistem neuroendokrin berespon terhadap syok hemoragik dengan meningkatan Antidiuretik Hormon (ADH) dalam sirkulasi. 2.peningkatan kecepatan aliran darah ke mikrosirkulasi berfungsi mengurangi asidosis jaringan. vasokontriksi perifer adalah faktor yang esensial dalam mempertahankan tekanan darah.

infus intravena dan resusitasi cairan harus dimulai dan dilanjutkan dalam perjalanan ke tempat pelayanan kesehatan. ventilasi tekanan positif dapat mengurangi aliran balik vena. menjamin ventilasi. Beberapa prosedur. Namun. mengurangi cardiac output. kelebihan ventilasi tekanan positif dapat merusak pada pasien dengan syok hipovolemik. seperti memulai pemberian infus atau fiksasi ekstremitas. Penanganan di Rumah Sakit menurut Kolecki (2008): • • • Memaksimalkan penghantaran oksigen Kontol perdarahan lanjut Resusitasi Cairan . Namun. Keuntungan pemberian cairan intravena segera pada tempat kejadian tidak jelas.• • Immobilisasi (pada pasien trauma). dan memperburuk status/keadaan syok. dan memaksimalkan sirkulasi. tindakan yang memperlambat pemindahan pasien sebaiknya ditunda. Dalam penanganan syok hipovolemik. • Penanganan yang sesuai biasanya dapat dimulai tanpa keterlambatan transportasi. dapat dilakukan ketika pasien sudah dibebaskan. Walaupun oksigenasi dan ventilasi penting. menjamin jalan napas yang adekuat.

Tidak bisa kencing setelah kejadian tabrakan dapat mengarah pada kerusakan sistem uropoetika. Tekanan darah rendah 90/60 mmHg. pengemudi atau penumpang bergerak terus ke depan dengan initial velocity yang sama sampai sesuatu menghentikan gerakan ke depan. temperatur hipotermi 36. . Bagian yang dicurigai mengalami kerusakan adalah tulang pelvis. Pasien terbentur stir mobil pada perut bagian bawah. pasien mengalami benturan dikarenakan tidak mengenakan sabuk pengaman. verbal dan motorik. seperti setir. dashboard. Nilai 15 pada GCS menunjukkan bahwa pasien sadar penuh. Pasien yang sadar mempermudah pengelolaan anamnesis. atau tanah kalau penumpang terlempar keluar. Dari pemeriksaan lateralisasi tersebut pasien tidak didapatkan lateralisasi baik ke kanan maupun ke kiri. Pasien dalam keadaan sadar (compos mentis). nadi 120x/menit. Tanda lateralisasi ini dapat dilihat dengan menilai pupil isokhor serta menilai alat gerak pasien. kaca depan. Hasil (+/+) menunjukkan refleks cahaya normal pada mata kanan dan kiri. Jenis kecelakaan ini adalah tabrakan frontal di mana pengemudi menabrak benda mati di depannya. Pemeriksaan GCS dilakukan dengan menilai eyes. akaral dingin dan lembab.Muwardi. Pupil ishokor menunjukkan tidak ada fraktur basis cranii. Pasien menabrak pohon saat menghindari becak.BAB III PEMBAHASAN Seorang laki-laki usia 34 tahun diantar ke IGD RSUD dr. Pemeriksaan lateralisasi digunakan untuk melihat ada tidaknya ketidaksamaan dari komponen neurologis kanan dan kiri pasien. Satu jam sebelum masuk rumah sakit pasien mengalami kecelakaan lalu lintas saat mengendarai mobil tanpa mengenakan sabuk pengaman dengan kecepatan tinggi. Refleks cahaya diperiksa untuk melihat fungsi nervus opticus. Ketika tabrakan menyebabkan kendaraan berhenti tiba-tiba.0oC. Penilaian GCS dapat digunakan untuk menentukan berat tidaknya suatu cidera kepala apabila dicurigai adanya trauma kepala selain digunakan mengetahui penurunan kesadaran. Pasien dapat melokalisasi nyeri pada perut bagian bawah. Dari pemerikasaan dokter IGD didapatkan GCS E4V5M6=15.

basah serta CRT > 2 detik. remaja >120x/menit. Asidosis metabolic Perfusi jaringan yang buruk ditandai dengankulit dingin.5cc/kgBB/jam. Adapun kriteria umum syok : a. Penanganan syok hipovolemik derajat ini adalah dengan resusitasi menggunakan Ringer Laktat dan mempersiapkan transfusi darah. Abnormalitas dari pernapasan ini dapat diakibatkan oleh berbagai macam penyebab. keringat dingin. prasekolah >140x/menit. sistolik 90-100 mmHg 2 Ringan (compensated) 20-25% 1000-1200 ml Gelisah. pasien sudah mengalami syok. c. kondisi pasien dapat digolongkan syok hipovolemik derajat 3. antara lain adalah gangguan pada ventilasi dan gangguan dari jalan nafas pasien. bayi >160x/menit. takikardi ringan. takikardi . dapat dibedakan empat stadium syok: No 1 Stadium Presyok (compensated) Plasma yang hilang 10-15% ±750 ml Gejala Pusing. dewasa) d. Frekuensi pernapasan normal pada dewasa adalah 12-20 kali per menit. Menurut beratnya gejala. haus. Oliguria (<0. RR meninggi 24x/menit menujukkan pasien mengalami hiperpneu. Peningkatan denyut nadi tersebut merupakan kompensasi untuk mempertahankan perfusi jaringan agar tetap adekuat. gangguan ventilasi maupun akibat kehilangan darah akibat perdarahan aktif pada pasien.Pada pemeriksaan status sirkulasi dapat dikategorikan mengalami takikardi karena sudah melebihi 100 kali per menit. diuresis berkurang. pucat. e. Tekanan darah sistolik rendah (<80mmHg) b. Sesuai dengan interpretasi di atas. Keadaan ini disebabkan karena perfusi oksigen yang menurun di jaringan akibat terjadinya sumbatan jalan napas. Denyut nadi meningkat : dewasa > 100x/menit. Apabila dilihat dari tekanan darah dan laju pernapasan per menit.

takikardi >100/menit. kolaps pembuluh takikardi/tak lagi. Pemeriksaan sekaligus terapi untuk trauma abdomen adalah dengan laparotomi. dingin. dingin. Untuk kondisi trauma tumpul. organ yang paling sering terkena adalah hepar. dobutamin. diuretic dan vasodilator. membersihkan darah dalam rongga abdomen sekaligus melakukan perbaikan pada organ yang mengalami trauma. sistolik 8090 mmHg 3 Sedang (reversible) 30-35% 1500-1750 ml Gelisah. oliguri.>100/menit. dan flexura coli dextra. sistolik 7080 mmHg 4 Berat (ireversibel) 35-50% 1750-2250 ml Pucat. Terdapat jejas pada regio hipokondriaka kanan. mmHg Pada pasien dalam skenario merupakan syok hipovolemik. Kemudian peningkatan preload dengan infus. Dokter dapat memeriksa bagian mana saja yang mengalami kerusakan. noradrenalin. Rasa nyeri dan darah yang keluar merupakan tanda terjadinya striktur urethra. sianotik. . Kehilangan volume darah pada syok hipovolemik dapat diatasi dengan pemberian kristaloid ( ringer laktat. anuri. ringer astat dan NaCl). Nampak darah keluar dari anus yang menandakan adanya perdarahan pada saluran pencernaan. Darah keluar dari orificium urethra externum memunculkan dugaan adanya perdarahan pada saluran kemih. Organ yang terdapat pada regio ini antara lain hepar. koloid serta tranfusi darah. Pemberian infus tidak secara langsung menormalkan tekanan darah dan denyut nadi melainkan melalui peningkatan preload. vesica felea. takipnea. pucat. teraba 0-40 Penatalaksanaan pada pasien syok hipovolemik adalah dengan peningkatan perfusi jaringan dengan oksigenasi. sistolik darah. Sedangkan kehilangan fungsi pompa pada syok cardiogenik dapat diatasi dengan pemberian dopamine.

Dokter jaga IGD melakukan konsul pada dokter bedah (orthopaedi. . dan environment. Bagian striktur akan ditandai dengan gambar yang menyempit atau terhambatnya aliran kontras. Hematom pada region perineum sehingga menunjukkan adanya trauma pada bagian rectum pasien. Selain itu darah yang berkumpul pada cavum pelvis mengakibatkan prostat meninggi. dan secodary survey untuk menegakkan diagnosis dan terapi selanjutnya. pemeriksaan fisik untuk mengidentifikasi organ yang mengalami kerusakan. Pasien juga mengalami fraktur pada bagian pelvis yang dibuktikan dari pemeriksaan stabilitas pelvis. circulation. di samping dilakukan pula pemeriksaan penunjang berupa CT-Scan dan FAST. Adjunct primary survey melalui pemberian resusitasi untuk menanganni syok. Primary survey untuk pasien trauma terdiri dari airway. digestif. Kemudian setelah itu baru dilakukan secondary survey berupa anamnesis mengenai lokasi nyeri dan kronologis kecelakaan. adjunct primary survey. Dokter IGD melengkapi pemeriksaan primary survey. Dokter melakukan pemeriksaan rectal toucher dan teraba pecahan tulang di daerah rectum bagian depan yang menunjukan adanya potongan fraktur pelvis yang merobek organ dibelakangnya (uretra) dan menembus anus. dan urologi). Tes distraksi dilakukan dengan menekan pelvis pada bagian depan dalam posisi pasien terlentang. Hal tersebut dibuktikan adanya darah keluar dari OUE dan anus. disability. Kateterisasi tidak dapat dilakukan karena adanya kontraindikasi berupa striktur urethra. breathing. Disamping itu akibat fraktur os pubis. Tes kompresi dilakukan dengan menekan bagian lateral pelvis pasien saat pasien tidur dalam posisi miring.Penegakan diagnosis striktur urethra melalui pemeriksaan urethrografi retrogard. ligamentum puboprostatikum mengendur sehingga kelenjar prostat tidak terfiksir lagi.

Saran 1. Pelaksanaan tutorial berjalan cukup baik.BAB IV PENUTUP A. dan secondary survey. adjunct primary survey. Kesimpulan 1. B. 2. Pada scenario ini pasien mengalami trauma pada abdomen karena benda tumpul serta fraktur pelvis yang mengakibatkan syok hipovolemik. Namun diharapkan peran serta mahasiswa lebih aktif lagi sehingga semua Learning Objective dapat diselesaikan dengan baik. Tindakan yang harus dilakukan pada pertolongan kasus trauma berprinsip pada rangkaian primary survey. .

72-75. (2013). Wim de Jong. Salomone.. (2013)..DAFTAR PUSTAKA Ashadi T (2006). EGC. A. Teresa. Truman Medical Center. Philadelphia Poison Control Center.. Thomas Jefferson University Hospital. Jefferson Medical College. In Genitourinary Radiology: Kidney. Imaging techniques for the diagnosis of male traumatic urethral strictures. A. phd?id . M.. Salmaslioglu. 21(1). Journal of X-ray science and technology. i57-i59. Pelvic Ring Injury II. D. University of Missouri at Kansas City School of Medicine. 111-123. The management of genitourinary war injuries: a multidisciplinary consensus. Journal of the Royal Army Medical Corps. (2013).. Bladder Trauma.medicastore. Jakarta . 195-206). M. Song. Blunt Abdominal Trauma. 2007. Accidental Trauma. Blunt Abdominal Trauma. http://www.2007. Y. Y. Buku Ajar Ilmu Bedah. & Karcaaltincaba. 2007. (2013). In Orthopedic Traumatology (pp. http://www. Blunt Abdominal Trauma. Practical Pediatric and Adolescent Gynecology. D. Focseneanu. com/med/. F. Zhang. Joseph. Springer London. Odle. 2005. C. 159(suppl 1).emedicine.com Sharma. Turkbey. Syok Hipovolemik. M. Artikel Nestor..detailpyk. Department of Emergency Medicine. D. D. L. http:// www. & Templemen.. (2013).emedicine.Diakses Desember 2006. Xie. M. Springer New York Kolecki P (2008). M. Bladder and Urethra (pp. & Merritt. B. Syok hipovolemik. & Xu.comDiakses Mei 2013. 329-334). Karam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful