KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04

STANDAR PERENCANAAN IRIGASI

KRITERIA PERENCANAAN
BAGIAN

BANGUNAN

KP - 04

DESEMBER 1986
EDISI BAHASA INDONESIA

i

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04

© 1986

DIREKTORAT JENDERAL PENGAIRAN DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

Cetakan pertama : 1986 Dicetak oleh : CV. GALANG PERSADA, Bandung

Disusun oleh : Sub-Direktorat Perencanaan Teknis, Direktorat Irigasi I, Direktorat Jenderal Pengairan, Departemen Pekerjaan Umum Dibantu oleh DHV Consulting Engineers Bekerja sama dengan PT. Indah Karya

ii

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENGAIRAN
Nomor: 185/KPTS/A/1986

TENTANG STANDAR PERENCANAAN IRIGASI DIREKTUR JENDERAL PENGAIRAN
Menimbang : a. bahwa dalam rangka peningkatan dan pemantapan pelaksanaan/penyelenggaraan pembangunan irigasi di lingkungan Direktorat Jenderal Pengairan perlu adanya keseragaman dalam kegiatan perencanaan pembangunan irigasi; bahwa hasil pertemuan "Diskusi Pemantapan Standardisasi Perencanaan Irigasi", yang diadakan oleh Direktorat Jenderal pada bulan Agustus 1986, dipandang memadai untuk dikukuhkan sebagai Standar Perencanaan Irigasi di lingkungan Direktorat Jenderal Pengairan; bahwa untuk maksud tersebut perlu diatur dengan Surat Keputusan; Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 15/M Tahun 1982; Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 44 Tahun 1974; Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 15 Tabun 1984; Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 211/KPTS/1984; Keputusan Direktur Jenderal Pengairan No. 45/KPTS/A/1984; MEMUTUSKAN: Menetapkan PERTAMA : : Mengukuhkan hasil pertemuan "Diskusi Pemantapan Standardisasi Perencanaan Irigasi", sebagai Standar Perencanaan Irigasi terdiri dari : KRITERIA PERENCANAAN : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. KP - 01 Kriteria Perencanaan – Bagian Perencanaan Jaringan Irigasi KP - 02 Kriteria Perencanaan – Bagian Bangunan Utama KP - 03 Kriteria Perencanaan – Bagian Saluran KP - 04 Kriteria Perencanaan – Bagian Bangunan KP - 05 Kriteria Perencanaan – Bagian Petak Tersier KP - 06 Kriteria Perencanaan – Bagian Parameter Bangunan KP - 07 Kriteria Perencanaan – Bagian Standar Penggambaran

b.

c. Mengingat : 1. 2. 3. 4. 5.

iii

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04

BANGUNAN IRIGASI : 8. 9. BI - 01 Tipe Bangunan Irigasi BI - 02 Standar Bangunan Irigasi PERSYARATAN TEKNIS : 10. PT - 01 Persyaratan Teknis – Bagian Perencanaan Jaringan Irigasi 11. PT - 02 Persyaratan Teknis – Bagian Pengukuran 12. PT - 03 Persyaratan Teknis – Bagian Penyelidikan Geoteknik 13. PT - 04 Persyaratan Teknis – Bagian Penyelidikan Model Hidrolis KEDUA : Semua pihak yang melakukan kegiatan pembangunan Irigasi, wajib memperhatikan ketentuan-ketentuan yang tercantum pada Diktum PERTAMA. : Direktur Irigasi I bertugas memonitor pelaksanaan Surat Keputusan ini dan menampung umpan balik guna penyempurnaan Standar Perencanaan Irigasi sebagaimana tersebut pada Diktum PERTAMA, sesuai dengan perkembangan. : Keputusan ini mulai berlaku pada hari/tanggal ditetapkan dengan ketentuan akan diadakan perubahan dan perbaikan seperlunya apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapannya.

KETIGA

KEEMPAT

TEMBUSAN : Surat Keputusan ini disampaikan kepada Yth : 1. Bapak Menteri Pekerjaan Umum 2. Sekretaris Jenderal Departemen Pekerjaan Umum 3. Inspektur Jenderal Departemen Pekerjaan Umum 4. Kepala Balitbang Departemen Pekerjaan Umum 5. Sekretaris Direktorat Jenderal Pengairan 6. Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum Bidang Pengembangan Irigasi 7. Staf Ahli Menteri mum UUmum Bidang Pengembangan Persungaian 8. Para Kepala Kantor Wilayah/Kepala DPUP up. Kepala Bagian Pengairan di seluruh Indonesia 9. Para Kepala Biro Departemen Pekerjaan Umum 10. Para Direktur di lingkungan Direktorat Jenderal Pengairan 11. Kepala Puslitbang Pengairan 12 Para Kepala Bagian dan Kepala Sub Dit. di lingkungan Direktorat Jenderal Pengairan
iv

A r si p DITETAPKAN DI JAKARTA PADA TANGGAL : 1 Desember 1986 DIREKTUR JENDERAL PENGAIRAN v .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .04 13. Kepala Bidang Diktat Pengairan 14.KP . Para Pemimpin Proyek di lingkungan Direktorat Jenderal Pengairan 15.

kemudian dianalisis dan kesimpulannya dimasukkan dalam standar ini.. kriteria yang dipergunakan di proyek-proyek. baik yang bersifat teknik sipil maupun teknik hidrolik dan segi-segi lain seperti kebutuhan air irigasi. maka untuk tujuan efisiensi dan keseragaman perencanaan. Namun demikian. perencanaan maupun pada tahap pelaksanaan dan eksploatasi & pemeliharaan. untuk menunjang peningkatan produksi pertanian dan untuk kenaikan pendapatan dan kesejahteraan para petani. maka kita telah dapat mengumpulkan pengalaman-pengalaman mengumpulkan yang sangat bermanfaat bagi pengembangan irigasi selanjutnya.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . apa yang dimuat dalam standar ini sudah mencakup dan mencerminkan perkembangan konsepkonsep irigasi akhir-akhir ini. dirasa perlu untuk mengembangkan standar perencanaan irigasi. dicatat dan diteliti guns bahan penyempurnaan pembangunan irigasi di Indonesia. vi . pedoman dan standar di bidang lain yang berlaku di Indonesia serta referensi perencanaan irigasi dari luar Indonesia. menuju ke keseragaman irigasi di Indonesia.04 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PENGAIRAN SAMBUTAN Pembangunan irigasi di Indonesia sudah berjalan lebih dari satu abad. Setelah pembangunan irigasi ini berlangsung hampir selama 4 Pelita.KP . Standar Perencanaan Irigasi ini tidak bersifat statis. Melalui proses yang cukup panjang telah dilakukan pengumpulan. Direktorat Irigasi I yang mempunyai tugas pembinaan dan pengaturan di bidang keirigasian . Sejak pelita I Pemerintah Orde Baru melaksanakan pembangunan di segala bidang termasuk bidang pengairan dengan salah satu pembangunan irigasi. Dengan terbitnya Standar Perencanaan Irigasi ini diharapkan para perencana irigasi dapat mengambil manfaat sebesar-besarnya. dalam menyiapkan standar ini telah menghabiskan waktu tidak kurang dari 28 bulan. Banyak pendapat dan saran para ahli irigasi di Indonesia telah ditampung melalui acara diskusi. yang cocok dengan kondisi di Indonesia untuk dipakai oleh para perencana irigasi. terutama dalam kecepatan penyelesaian tugas-tugas perencanaan. dan di masa mendatang masih perlu dikembangkan dan disempurnakan sesuai dengan kemajuan teknologi keirigasian. laporan-laporan. telah diamati. pengkajian dan penelitian terhadap perencanaan yang sudah berjalan. Pengalaman-pengalaman tersebut didapatkan baik pada tahap studi. Kekuatan dan kelemahan sistem irigasi kita.

Y. Penyimpangan dari standar ini hanya dimungkinkan dengan izin Direktur Jenderal Pengairan. kami mengucapkan selamat atas terbitnya standar perencanaan irigasi ini. Badan-badan lain yang mempunyai kepentingan dalam pembangunan irigasi dianjurkan untuk memakai standar ini juga.04 Standar Perencanaan Irigasi ini merupakan keharusan untuk dipakai oleh badanbadan di lingkungan Direktorat Jenderal Pengairan dalam tugasnya di bidang pembangunan irigasi. dan patut kiranya kita semua memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak atas sumbangan yang sangat besar bagi pengembangan standar ini.KP .Sudaryoko vii . Jakarta.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . 1 Desember 1986 DIREKTUR JENDERAL PENGAIRAN Ir. Akhirnya.

Untuk yang pertama. standar dan prosedur bagi perencana dalam merencanakan irigasi teknis. Setiap masalah di luar batasan-batasan dan syarat berlakunya Standar ini. Kriteria Perencanaan 2. Direktorat Irigasi I 2. berisi instruksi. untuk perekayasa yang belum memiliki banyak pengalaman.KP . telah dibuat sedemikian sehingga siap pakai. dengan batasan-batasan dan syarat berlakunya seperti tertuang dalam tiap bagian buku.04 PENGANTAR Standar Perencanaan Irigasi ini telah disiapkan dan disusun dalam 3 kelompok : 1. Meskipun Standar Perencanaan Irigasi ini. yaitu: Tipe Bangunan Irigasi. Standar Bangunan Irigasi yang berisi kumpulan gambar-gambar bangunan yang telah distandardisasi dan langsung bisa dipakai. Kriteria Perencanaan terdiri atas 7 buku berisikan kriteria perencanaan teknis untuk Perencanaan Irigasi (System Punning). Gambar Bangunan Irigasi terdiri atas 2 bagian. perencana masih harus melakukan usaha khusus berupa analisis. Direktorat Irigasi II 3.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . yang meskipun terletak dalam batas-batas dap syarat berlakunya standar ini. Puslitbang Air Hal yang sama jugs berlaku bagi masalah-masalah. yaitu : 1. Gambar Bangunan Irigasi 3. viii . Perencanaan Bangunan Irigasi Jaringan Utama dan Jaringan Tersier. Dengan demikian siapa pun yang akan menggunakan Standar ini tidak akan lepas dari tanggung jawabnya sebagai perencana dalam merencanakan bangunan irigasi yang aman dan memadai. Persyaratan Teknis Kriteria Perencanaan terdiri atas 7 bagian. harus dipecahkan dengan keahlian khusus dan/atau lewat konsultasi khusus dengan badanbadan yang ditugaskan melakukan pembinaan keirigasian. yang berisi kumpulan gambar-gambar contoh sebagai informasi dan memberikan gambaran bentuk dan model bangunan. berisi syarat-syarat teknis yang minimal harus dipenuhi dalam merencanakan pembangunan Irigasi. perhitungan dan penyesuaian dalam perencanaan teknis. Tambahan persyaratan dimungkinkan tergantung keadaan setempat dan keperluannya. Persyaratan Teknis terdiri atas 4 bagian. mempunyai tingkat kesulitan dan kepentingan yang khusus. Parameter Bangunan dan Standar Penggambaran. tetapi dalam penerapannya masih memerlukan kajian teknik dari pemakainya.

Jakarta.04 Semoga Standar Perencanaan Irigasi ini bisa bermanfaat dan memberikan sumbangan dalam pengembangan irigasi di Indonesia.KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . 1 Desember 1986 ix . Kami sangat mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan ke arah kesempurnaan Standar ini.

................................................................4 Papan duga . ...3..... 2........................... ambang lebar ............. iii vi viii x xv ....... x ................................................................................................................. BANGUNAN PENGUKUR DEBIT 2.................................. 2........ ................1 Tipe .. 2..........................................3..............7 Tabel debit ...................2.............................................................. DAFTAR ISI ....2........ 2.............3................................2............................... 1 3 5 5 7 9 9 11 11 12 13 14 14 14 14 14 14 16 18 19 19 20 20 20 2.......2 Alat Ukur Ambang Lebar ..........................................KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi ...4 Batas moduler ...............................3............................................................3...........2......................... ..................6 Kelebihan-kelebihan yang dimiliki alat ukur Romijn......................................................................................3 Flum dasar rata ....2........................................ 2................................................... ........................................................... 2.................. ...................................................................... PENGANTAR ...............3......... 2....................... 2.....7 Kekurangan-kekurangan yang dimiliki oleh alat ukur Romijn ...... ......... 2.............................................................9 Kelebihan-kelebihan yang dimiliki alat ukur.. 2.......................1 Ruang Lingkup .............. 2........................................................2..................2...............8 Penggunaan alat ukur Romijn ....5 Karakteristik alat ukur Romijn.. 2........11 Penggunaan alat ukur ambang lebar .................................................2... 2........................................... .....6 Papan duga ........................ SAMBUTAN DIRJEN PENGAIRAN .... 2.2 Perencanaan hidrolis ..... 2............................... 2.................................................2................ .1 Tipe-tipe alat ukur Romijn ..3 Alat ukur Romijn .....04 DAFTAR ISI Hal KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENGAIRAN ................. 2...................KP .........................3...... .................... 2.........................8 Karakteritis alat ukur ambang lebar ......2............ 2....... DAFTAR TABEL 1..3 Dimensi dan tabel debit standar .........................................................3. 2....................................... xviii PENDAHULUAN 1.......2...........................................1 Umum ......................5 Besaran debit ........ ............................................................... DAFTAR GAMBAR....10 Kelemahan-kelemahan yang dimiliki alat ukur ambang lebar .... 2..............................2 Perencanaan hidrolis ........................

... 3...................4.3 Bangunan Sadap ..................................2 Kelebihan-kelebihan yang dimiliki pintu skot balok .................................... 2.... 3...................................4....... 21 21 23 24 24 24 24 24 26 26 27 28 28 29 29 29 30 30 31 31 31 31 32 33 33 35 35 35 35 36 36 42 42 43 3.................................... BANGUNAN BALI DAN SADAP 4................5......... 2........................ 3......3 Kelebihan-kelebihan yang dimiliki alat ukur Crump-de Gruyter ....................................................................... 3............................1 Perencanaan hidrolis ....3...........................................................3......................................... Pipa Sadap Sederhana ........4..... 2..........................de Gruyter..........................1 Umum . xi .1 Perencanaan hidrolis .........sadap sekunder............................ 3..........2 Bangunan sadap tersier ....4 Mercu tetap ......3 Kelemahan-kelemahan...3..................5 Celah Kontrol Trapesium............. 4..2.......5..........3 Kelemahan-kelemahannya ............................ yang dimiliki mercu tetap ..... 3.............2 Pintu skot balok...4 2........... 3.................1 Penggunaan pipa sadap sederhana ..KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi ....6 Kelemahan-kelemahan yang dimiliki pintu radial ........2 Kelebihan-kelebihan yang dimiliki pintu pembilas bawah......................................................4 Pintu radial .....KP .....4..................2......2 Kelebihan-kelebihan yang dimiliki mercu tetap ...................................... 3... 3..................................................... 3............ 2.....................3 Kelemahan-kelemahan yang dimiliki celah kontrol trapesium ............ 3...............................1 Bangunan Bagi ................. 3...................................5....................1 Bangunan........................................3.......... 3.....5 Kelebihan-kelebihan yang dimiliki pintu radial..1 Perencanaan hidrolis .2 Karakteristik alat ukur Crump-de Gruyter ...........2 Bangunan Pengatur ..................................................... 3.............................................5 Penggunaan alat ukur Crump-de Gruyter .............1 Perencanaan hidrolis ..................................................... 4...... BANGUNAN PENGATUR TINGGI MUKA AIR 3.........................1 Perencanaan hidrolis .................3 Kelemahan-kelemahan yang dimiliki pintu skot balok.....3...................................................... 3..4................5 Alat ukur Crump .....................................................................2.......3 Pintu Sorong...................................... 4........................... 3....4..4 Kelemahan-kelemahan yang dimiliki alat ukur Crump-de Gruyter .....4...3................................3.............................................................. 3...........2 Kelebihan-kelebihan yang dimiliki celah kontrol trapesium ...................... 4.......................... 4..04 2.......4........ 2................... 3...................6 Penggunaan Bangunan Pengatur Muka Air ............................ 3......... 3............................. 2.........................................................3....5.........

........................................................... 5...................... 5............... 5...............7....4 Penutup minimum ...................... 5................................5..............................................5..................................... 5........ 5................................................2 Kemiringan dan kecepatan ...................................1 Perencanaan Hidrolis ...2 Bangunan pembawa ......1 Umum ........................................6 Pelimpah ............................................................................. BANGUNAN PEMBAWA 5.............. 5........................5 Gorong-gorong segi empat ................................................... 5...................... 5...................KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi ......3 Peralihan ............4................5 Kisi-kisi penyaring .....................................................................................5 Bahan .......8...............2.............................6 Kehilangan tinggi energi untuk gorong-gorong yang mengalir penuh .........................................2 Kecepatan aliran .4.5...............................2....... 5............... 5...... 44 44 44 44 45 49 51 52 52 54 54 57 57 57 59 59 60 60 62 62 64 64 65 65 65 68 70 71 72 75 77 xii ...........................KP ....................................................................................... 5..................................04 5............................. 5..7..8....... 5.......3 Kehilangan energi pada peralihan .....................................3 Bangunan terjun tegak ...........4 Tinggi jagaan .........6...... 5............................................................. 5.........2 Kecepatan aliran ..................................... 5..............................................................................................................1 Potongan melintang .......... 5.............................. 5..........................7 Sipon Jembatan ......................2...........................5..6 Talang dan Flume ..........8...................6................4 Bangunan terjun miring .................... 5.............. 5..............................6.....3 Aliran tidak stabil ..............................................................1 Umum .........5.......6............. 5.......2 Kelompok Subkritis ..............................5.................................................................................................3 Standar Peralihan Saluran .............................. 5.........................4.........................................................................3 Ukuran-ukuran standar ..............................4 Kehilangan tinggi energi .......................................7 Bangunan Terjun .....................................................................................................4....... 5................................5.........4....................8 Got Miring ..........................6...................................... 5.................................4...................................................................4 Bagian siku dan tikungan .........5 Sipon ..... 5.1 Pendahuluan ....4 Gorong-gorong......... 5.... 5..................................... 5..................1 Umum . 5.... 5......................7... 5....................7.......................3 Perapat pada lubang masuk pipa . 5.................... 5... 5..................2 Bagian pengontrol .............. 5...........................................2 Kehilangan akibat gesekan ...........................1 Peralihan .....................................................2......

..5....................................... 8...............1 Umum .......2...........................................................................................2.............2 Kapasitas .................... 81 6.............................................4 Pintu Pelimpah Otomatis ........................... 7...........................2........................ 7...................................2 Pembebasan ................................KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .................... 85 6......5 ......................................................................................... 8..1 Tipe ........................................................................................ 7........................3...................................................................2..3 Bangunan atas ............................. 8......2 Saluran pelimpah ...............................................5.......2 Potongan melintang . 7......3 Tipe-tipe sipon pelimpah ...............3 Sipon pelimpah ........................................................................................04 6................... 83 6.1 Umum ............2 Jalan Inspeksi ......... 88 89 90 92 93 94 96 97 99 101 106 107 107 107 108 108 108 109 109 111 113 115 115 116 116 116 118 123 124 124 125 125 7.....1 Perencanaan filter ..............3........ 8...................3 Kolam olak untuk bilangan Froude antara 2............... 7..........2 Kolam loncat air ................................................ 7........6.........1 Penentuan dimensi ................................5 dan 4......... 84 6.................. 7........... KOLAM OLAK 6..................................................2... 7.. 7.........................2.............................................................................3 Trase ..................... 7.........................................6 Lindungan dari pasangan batu kosong ............................ 80 6.5 Kolam Vlugter ......................3....................... 7.. 8........................................... 86 BANGUNAN LINDUNG 7...................3................................. 7............................................... 7....1 Klasifikasi .....................2 Metode bilangan ..................... 8........................................................... 7......................................1 Pemerian (Deskripsi) ...2............1 Umum ............. 7.................3 Gorong-gorong ..................2... 8.................2..........................................4 Pelaksanaan ..........2 Sipon ................ 8..............................5 Bangunan Penguras .......................................................4 Kolam olak untuk bilangan Froude > 4... 7..............................................6.........................................................4 Overchute ..........................6.......... 79 6...... xiii ....................................3.......................... 7.. JALAN DAN JEMBATAN 8..............1 Umum ................6 Bangunan Pembuang Silang ........................................3...1 Perencanaan panjang saluran ..............5 Pembuang ...........5 Alur pembuang .. 7................................................................................KP ..............................5.............. 8.............................2 Kavitasi .............................................. 7.................... 7......... 8......5 ..............................3 Jembatan ...................................................................................................................................................6............3 Perencanaan pintu penguras ...................................................................................6................................3 Catatan .................................................................................................................... 8........4 Metode Grafik .6.....

...........................................................1 Tanggul ..........9 Lindungan . 9.. 9..............4.3 Patok hektometer ............ 9....................................................................... 9.........1..... 125 8. 9.....................................................................2............................. 9......................3........................................... 9..................4....................................................................................KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi ..................2............................4....................................................5 Lubang pembuang ..................7 Stabilitas tanggul .......................................................... 9................................................................................ ....4 Tinggi Jagaan ............ 9..................... 9.....................................................................................................2...........1 Umum ..............4...................4...1...2 Fasilitas Eksploitasi ............................2 Kantor dan perumahan staf ...................................3 Koperan .. 9...............................2 Dinding halang ............................2 Tempat cuci ............ 9..........................04 8..............................................1 Kegunaan .. 9............................................................................................... 9........................................ 9..............................................................1.......... 9.....3 Trase ..............................................2. 9..........................................................................4 Pencegahan Rembesan ........................ 9.5 Papan pasten .................................... xiv .KP ..........7 Pintu .5 Lebar atas .........3...............6 Papan duga muka air ................................................... 9.......3 Kolam mandi ternak ................................2..3...... 129 129 129 129 130 130 131 131 133 133 134 134 135 136 136 137 137 138 138 139 139 139 140 140 140 141 142 143 144 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN LAMPIRAN LAMPIRAN 1 2 3 ...................1......... 9.......................2.................................................................. 9.................................5 Ruang bebas ...2.................... 9...........................4 Filter ......................................1................................................ 9.................................................................. 9............ ..................1............................ 9.... BANGUNAN-BANGUNAN PELENGKAP 9....................................................... 9.......3............................................1............... 9............... 128 9.............................1 Peralatan pengaman ...................................................6 Alur pembuang ...4.................2 Bahan ........... 9...............................................................................1................................1 Komunikas ....1.........................4 Pondasi dan tiang pancang ......6 Kemiringan talut ..........3...................................4 Pelat nama ......................................................................................3 Bangunan-bangunan Lain ............8 Pembuang .......

........ hal 6 7 8 9 10 11 12 15 17 18 21 22 25 27 29 30 30 31 32 33 34 37 39 41 42 xv ...... Koefisien debit µ masuk permukaan pintu datar atau lengkung ....................................... Koefisien debit untuk aliran di atas skot balok potongan segi empat (Cv ≅ 1...........................................1 3....... Saluran sekunder dengan bangunan pengatur dan sadap ke berbagai arah .................6 2...................2 4.............. Bilangan-bilangan pengali untuk satuansatuan yang dipakai pada papan duga miring ........................7 3................................................4 2................................ Bangunan sadap pipa sederhana .................... Alat ukur mercu bulat......................... Koefisien K untuk debit tenggelam (dari Schmidt) ............................................. Aliran di bawah pintu sorong dan dasar horisontal ............. Perencanaan mercu alat ukur Romijn ................3 4......................1 4................................. Karakteristik alat ukur Crump-de Gruyter .................................................................... Penggabungan kurve muka air dan kurve debit Sketsa dimensi untuk celah sekunder ....................... Sketsa dimensi untuk celah kontrol....................... Cv sebagai fungsi perbandingan CdA*/A1 ................4 3...............KP ...............................................................13 3..........1 2..............6 3........ Dimensi alat ukur Romijn dengan pintu bawah ............ Ilustrasi peristilahan yang digunakan....5 3...... Perencanaan yang dianjurkan untuk alat ukurCrump-de Gruyter ........................................................04 DAFTAR GAMBAR Gambar 2...... Perubahan debit dengan variasi muka air untuk pintu aliran atas dan aliran bawah ...............................7 2.....................................8 4.. Saluran primer dengan bangunan pengatur dan sadap ke saluran sekunder ..............................2 2..11 2..........................9 2..........KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi ........ Alat ukur ambang lebar dengan pemasukanbermuka datar dan peralihan penyempitan ..0) .............................3 3..................................................................................5 2..8 2.................................. Peralihan-peralihan hilir ..............................3 2..............12 2.................. Bangunan pengatur : pintu aliran bawah dengan mercu tetap ................................ Sketsa isometric alat ukur Romijn .................................................2 3.......................4 Uraian Alat ukur ambang lebar dengan mulut pemasukanyang dibulatkan ........................................................... Dimensi flum dan alat ukur .......... Bentuk-bentuk mercu bangunan pengatur ambang tetap yang lazim dipakai ..................10 2....................................................................

...4 6...........8 Koefisien kehilangan tinggi energi untuk peralihanperalihan dari bentuk trapesium ke segi empat permukaan air bebas (dan sebaliknya) (dari Reinink.. o Harga-harga Kb tikungan 90 di saluran tekan (USBR...... Grafik tak berdimensi dari geometri bangunan terjun tegak (Bos.....................................................................4b 5.........9 5.......... 1964 dan Idel’cik..................... Diagram untuk memperkirakan tipe bangunan yang akan digunakan untuk perencanaan detail (disadur dari Bos.......... 1960) ........7 6.................... 1978) ....5 5...............2 5...................................11 5..............................................y1 and Q ............... y2/yu ...3 6................................... Illustrasi peristilahan yang berhubungan dengan bangunan peredam energi ..................... Standar peralihan saluran ....... Replogle and Clemmens.................................... Standar pipa beton ....... Koefisien kehilangan tinggi energi untuk peralihan peralihan dari saluran trapesium ke pipa.......6 6....................2...............................18a 5............h1 sebuah bangunan ...................... Perlintasan dengan jalan kecil (gorong-gorong) ..........6 5.............. 1978) .14 5................... Hubungan percobaan antara Fru ............. Tipe-tipe got miring segi empat (dari USBR........................... Faktor koreksi untuk koefisien kehilangan di tikungan Saluran tekan ............18b 6..... 1984) ......04 5.................................... Karakteristik kolam olak untuk dipakai dengan Froude diatas 45.....2 6............ Hubungan antara kecepatan rata-rata di atas ambang ujung bangunan dan ukuran butir yang stabil (Bos. Kolam olak menurut Vlugter ..... 47 48 49 51 65 53 55 56 57 61 63 66 67 68 70 71 74 78 78 60 81 82 83 84 85 86 86 xvi .......... 1950) .............. dan sebaliknya (menurut Simon...... Gorong-gorong segi empat ............12 5..................... Contoh Sipon .................8 5............................. Kriteria aliran getar (from USBR.......... USER Tipe III (Bradley dan Peterka....7 5...................17 5.................... L994) .................... Peralihan aliran pada bagian siku......................... Kriteria bentuk (from USBR...............6 (Lampiran 2) .......... Replogle dan Clemmens..16 5................ 1981...1 5.... Contoh talang ..................................... Contoh filter di antara batu kosong dan bahan asli (tanah dasar) ....... Kisi-kisi penyaring ............................ 1984) ...... dan n/yu untuk ambang pendek (menurut Foster and Skrinde.................................................1 6.................................... 1960) ............... Replogle dan Clemmens.........................13 5................................ Penggambungan kurve Q .................................4a 5.10 5..................................... 1978) ...............15 5.............. Contoh flum tumpu ..5 6.1957) ................3 5..............KP .. 1M) .... dan Idel’cik.......KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi ....................................................................... Dimensi kolam olak tipe IV (USBR........................... 1978) ............ Sketsa dimensi untuk Tabel A....... 1978) .......................................... Dimensi kolam olak tipe-blok-halang (Bos........

.................... Pintu Vlugter otomatis.. Dasar yang diperlebar pada lintasan saluran .........7 9.3 8..................................................................................... Konstruksi makadam yang disusun dengan tangan ...... Sketsa definisi untuk saluran dengan pelimpah samping ..................... Tekanan subatmosfir dalam sipon dengan beda tinggi energi Z lebih kecil (1) dan lebih besar (2) dari 10 m (pada ketinggian laut) .........................15 7....................3 9...........4 8....... Kedalaman pondasi untuk tumpuan jembatan ...................................................... Tipe-tipe konstruksi koperan ......1a 8. Tipe potongan melintang jembatan balok T dan jembatan pelat ............ Muka air di saluran di sepanjang pelimpah samping untuk aliran subkritis ............... Diagram rencana perkerasan untuk perkerasan fleksibel (Road Note 31............2 7................................................. Tipe denah dan potongan overchute ........................................... Tipe-tipe potongan melintang jalan inspeksi .04 7.......... Potongan melintang jalan dengan perkerasan . karakteristik debit model ...........2 8.................................................................................2 9..................................................1 9.....KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi ...................... Kedalaman pondasi Berta lindungan terhadap erosi untuk polar jembatan ......10 Pelimpah corong dan pembuang .... 89 91 92 94 95 97 99 101 102 103 104 105 107 110 112 114 117 118 122 123 124 126 127 127 130 131 132 133 136 141 142 143 143 144 xvii .........9 7.................................KP ........... Sipon dalam pasangan batu dikombinasikan dengan beton ..........................................................5 8.....10 7..... 1977)..........................8 7.......... Tipe-tipe lubang pembuang ...................................................... Beberapa tipe alur pembuang .......16 8........................................................................................................... Pembuang pads tanggul ..1b 8..........................................11 7......................14 7..........1 7..............................6 8......................................... Profit-profit aliran di sepanjang pelimpah samping ....6 7......................... Potongan dan denah alur pembuang pipa .......... Jaringan aliran pada mercu sipon ......................... Jari-jari mercu ....7 9...........................................13 7................ Potongan melalui tanggul . Potongan melintang tanggul ........................... Patok hektometer .... Konstruksi Filter ..... Tipe potongan Sipon (USBR....................3 7.............................. Tipe profil gorong-gorong .....................................4 7......................4 9.....................................................................7 7................. 1978) ...................... Tipe-tipe potongan melintang jalan inspeksi .......... Sipon pelimpah ...................5 7................5 9.......... Tipe-tipe pintu otomatis yang dipakai di Indonesia ...9 9..............12 7.............................................................. Contoh Binding halang . Dimensi pelimpah samping dengan metode grafik ........................8 9.............................................................6 9....

..... Alat ukur Crump-de Gruyter ..... 158 Contoh orifis dengan tinggi energi tetap (CHO) ......................................6 A...2......................................................10 A..................1 A..........1....................2...................................................1 A..............2 A.................................. Celah kontrol trapesium .....9 A.......2..........1 A..KP .......................................2.............................................. Celah kontrol trapesium ..........2 A....................2...12 Dimensi alat ukur Cilopetti ............................2.....l...............................................3 A..........2.................5 A......... Alat ukur Crump-de Gruyter................. Celah kontrol trapesium .........................8 A.........................................4 A............2..2............................... 150 Tata letak alat ukur Parshall ...........2..... xviii ........................2..... Alat ukur Crump-de Gruyter .............1.........................11 A....................................04 A.. Alat ukur Crump-de Gruyter ...KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi ...................................7 A...2............ Alat ukur Crump-de Gruyter ........... Celah kontrol trapesium ....................... Celah kontrol trapesium ................... Alat ukur Crump-de Gruyter ......... Celah kontrol trapesium ...............

............................................................. 1973) ........... Harga-harga Perbandingan yc/H1 sebagai fungsi m dan H1/b untuk Bagian Pengontrol Trapesium ...........2..... Harga-harga k ............2 A.....1 2.....4 A........................... Bangunan sadap pipa sederhana .......... Jumlah bahan pengikat dan perata untuk perkerasan permukaan (from ESCAP....1 8..... 131 Debit alat ukur Cipoletti standar dalam m /dt/m ................ Lebar standar jalan ...........................................1................4 4.......... Harga-harga µ dalam gorong-gorong pendek ... Persyaratan gradasi untuk bahan perkerasan dari kerikil alamiah ....04 DAFTAR TABEL Tabel 2........................1 5....................2 A..KP .......... Perkiraan harga-harga minimum CBR untuk perencanaan tanah dasar di bawah jalan perkerasan yang dipadatkan sampai 95% dari berat isi keying maksimum Proctor (Road Note 31............ Harga-harga minimum batas moduler(H.....................1 A.................... Besaran debit yang dianjurkan untuk alat ukur Romijn Standar ......... Perbandingan antara bangunan-bangunan pengatur muka air ............................................................ 159 Tabel Debit untuk Alat Ukur Segi Empat per Meter Lebar ...........................................................3 Uraian hal 4 10 13 19 38 45 50 58 76 116 120 Perbandingan antara bangunan-bangunan pengukur debit yang umum dipakai .......................... Tabel debit untuk alat ukur Crump-de .. Contoh hubungan antara jarak vertikal dan kemiringan samping pada papan duga untuk saluran dengan kemiringan talut 1: 5 ......................................................../Hl) .. Standar alat ukur gerak Romijn ..4 9..2 2........2...................1...2 8................3 2.........3 A.........................................................4 8...................... Harga-harga Kb untuk bagian siku sebagai fungsi sudut dan Potongannya ........................................................1 5.............................................2..............................1978) ....2..1 A................... 1977) . 1981) ......................................... 121 124 8....................................2............. Tinggi minimum untuk got miring (from USER........5 Harga-harga kemiringan samping yang dianjurkan untuk tanggul tanah homogen (menurut USBR... 161 167 169 170 171 3 xix .........3 5.2 5.................. 158 Karakteristik dan dimensi debit alat ukur Parshall ................1 A.............................KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi ..........

......................1984) .... 173 Data-data tanah ........... 176 xx .....04 A.......7 Perbandingan tak berdimensi untuk Loncat Air (dari Bos............6 A....... Replogle dan Clemmens...........................KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi ............2.........2.........KP .

01 Perencanaan Jaringan Irigasi KP .03 Saluran KP .04 Bangunan KP . eksploitasi dan pemeliharaan.05 Petak Tersier KP . Hal ini menuntut suatu pendekatan yang luwes. termasuk bangunan-bangunan yang diperlukan untuk keperluan komunikasi. Bilamana perlu. Kriteria Perencanaan ini ditunjang dengan : .04 1. Perencanaan bangunan bergantung pada keadaan setempat. Namun demikian latar belakang teoritis masing-masing bangunan akan disajikan selengkap mungkin. Bangunan-bangunan lain yang memiliki banyak persamaan dalam hal dasar-dasar hidrolikanya akan dibahas di dalam kelompok yang sama. Standar Kriteria Perencanaan terdiri dari buku-buku berikut : KP . Uraian itu mencakup Tatar belakang dan dasar-dasar hidrolika untuk perencanaan bangunan-bangunan tersebut. PENDAHULUAN 1.1 Ruang Lingkup Kriteria Perencanaan Bangunan ini merupakan bagian dari Standar Perencanaan Irigasi dari Direktorat Jenderal Pengairan. Akan tetapi.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .06 Parameter Bangunan KP .Buku Petunjuk Perencanaan. sejauh hal ini dianggap mungkin dan cocok. diberikan referensi mengenai metode dan bahan konstruksi alternatif.02 Bangunan Utama (Headworks) KP . 1 .KP . Perencanaan .Persyaratan Teknis untuk Pengukuran. yang umumnya berbeda-beda dari satu daerah ke daerah yang lain. Hal ini berarti bahwa beberapa jenis bangunan tertentu memerlukan uraian khusus tersendiri karena sifat-sifat hidrolisnya yang unik. angkutan.07 Standar Penggambaran. Kriteria perencanaan hidrolis disajikan dalam bentuk tabel dan grafik untuk menyederhanakan penggunaannya.Gambar-gambar Standar Perencanaan . disini diberikan beberapa aturan dan cara pemecahannya secara terinci. Penyelidikan dan Kriteria Perencanaan Bangunan ini meliputi seluruh bangunan yang melengkapi saluran-saluran irigasi dan pembuang. Di sini diberikan uraian mengenai bangunan-bangunan jaringan irigasi dan pembuang.

Rekomendasi ini didasarkan pada : (1) Kesesuaian dengan fungsi yang dibebankan kepada bangunan.04 Bab-bab dalam laporan ini dibagi-bagi sesuai dengan tingkat kemanfaatan bangunan. (5) Terbiasanya petugas eksploitasi dengan tipe bangunan tersebut 2 .KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . Disini diberikan rekomendasi pemakaian tipe-tipe bangunan yang lebih disukai. (2) Mudahnya perencanaan dan pelaksanaan. (4) Biaya konstruksi dan pemeliharaan. (3) Mudahnya eksploitasi dan pemeliharaan.

kecocokan bangunan untuk keperluan pengukuran debit .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . Rekomendasi penggunaan bangunan tertentu didasarkan pada faktor penting antara lain : . Bangunan-bangunan yang dianjurkan untuk dipakai diuraikan dalam pasal 2.1 memberikan ringkasan parameter-parameter perencanaan pokok untuk bangunan-bangunan pengukur yang dipakai. Berbagai macam bangunan dan peralatan telah dikembangkan untuk maksud ini.1 Umum Agar pengelolaan air irigasi menjadi efektif. untuk menyederhanakan pengelolaan jaringan irigasi hanya beberapa jenis bangunan saja yang boleh digunakan di daerah irigasi. pada cabang saluran dan pada bangunan sadap tersier. Tabel 2.ketelitian pengukuran di lapangan .bangunan yang kokoh. BANGUNAN PENGUKUR DEBIT 2. maka debit harus diukur (dan diatur) pada hulu saluran primer.cocok dengan kondisi setempat dan dapat diterima oleh para petani.eksploitasi dan pembacaan papan duga mudah . Namun demikian.pemeliharaan sederhana dan murah . Bangunan-bangunan pengukur debit lainnya yang dianjurkan pemakaiannya disebutkan dalam Lampiran 1. sederhana dan ekonomis .rumus debit sederhana dan teliti . 3 .KP .04 2. Tipe-tipe bangunan yang dianjurkan ditunjukkan dalam kotak-kotak garis tebal.2 dan seterusnya.

04 4 .KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

dipakai apabila konstruksi permukaan melengkung ini tidak menimbulkan masalah-masalah pelaksanaan. 2. Tata letak pada Gambar 2. Gambar 2. tanpa memerlukan tabel debit. maka bangunan ini bisa mempunyai bentuk yang berbeda-beda. kehilangan tinggi energi harus dibuat sekecil mungkin.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP .2 menunjukkan peralihan pelebaran miring 1 : 6. atau jika berakibat diperpendeknya panjang bangunan. Mulut pemasukan yang dibulatkan pada alat ukur Gambar 2. Ini merupakan tata letak paling ekonomis jika bangunan dibuat dari beton. 5 . bangunan ini mudah disesuaikan dengan tipe saluran apa saja.2 memberikan contoh alat ukur ambang lebar. Hubungan tunggal antara muka air hulu dan debit mempermudah pembacaan debit secara langsung dari papan duga.2. Yang pertama dipakai jika tersedia kehilangan tinggi energi yang cukup di atas alat ukur peralihan pelebaran hanya digunakan jika energi kinetik di atas mercu dialihkan ke dalam energi potensial di sebelah hilir saluran. Hal ini sering terjadi bila bangunan dibuat dari pasangan batu. sementara debitnya tetap serupa. Kalibrasi tinggi debit pada alat ukur ambang lebar tidak dipengaruhi oleh bentuk peralihan pelebaran hilir. Karena bisa mempunyai berbagai bentuk mercu.1 memperlihatkan muka hilir vertikal bendung.1 Tipe Alat ukur ambang lebar adalah bangunan aliran atas (overflow). Gambar 2. Gambar 2.1 dan 2.04 2.2 Alat Ukur Ambang Lebar Bangunan ukur ambang lebar dianjurkan karena bangunan itu kokoh dan mudah dibuat.1. Oleh karena itu. untuk ini tinggi energi hulu lebih kecil dari panjang mercu.2 hanya menggunakan permukaan datar saja. Karena pola aliran di atas alat ukur ambang lebar dapat ditangani dengan teori hidrolika yang sudah ada sekarang.

Permukaan-permukaan ini harus mengarahkan aliran ke atas mercu alat ukur tanpa kontraksi dan pemisahan aliran. 6 . Aliran diukur di atas mercu datar alat ukur horisontal.04 Gambar 2.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .1 Alat ukur ambang lebar dengan mulut pemasukan Yong dibulatkan Juga.KP . penggunaan peralihan masuk bermuka bulat atau datar dan peralihan penyempitan tidak mempunyai pengaruh apa-apa terhadap kalibrasi.

m Cv = koefisien kecepatan datang g = percepatan gravitasi.(2. m L adalah panjang mercu.. m/dt2 (≅ 9.93 + 0..3. m Harga koefisien kecepatan datang dapat dicari dari Gambar 2.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .8) bc = lebar mercu.10 H1/L.1 < H1/L < 1. m h1 = kedalaman air hulu terhadap ambang bangunan ukur. Cv untuk berbagai bentuk bagian pengontrol.KP .2 Perencanaan hidrolis Persamaan debit untuk alai ukur ambang lebar dengan bagian pengontrol segi empat adalah : Q = CdCv 2/3 2 / 3g bc h11.0 H1 adalah tinggi energi hulu.. 7 ..50 . yang memberikan harga-harga.04 Gambar 22 Alat ukur ambang lebar dengan pemasukan bermuka dater dan peralihan penyempitan 2. for 0..1) di mana : Q = debit m3/dt Cd = koefisien debit Cd adalah 0.2.

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .5 di mana: bc = lebar mercu pads bagian pengontrol.1 ……(22) 8 .04 Gambar 2. m yc = kedalaman air pada bagian pengontrol. m m = kemiringan samping pada bagian pengontrol (1:m) Arti simbol-simbol lain seperti pada persamaam 2.KP .3 Cv. sebagai fungsi perbandingan CdA*/A1 Persamaan debit untuk alat ukur ambang lebar bentuk trapesium adalah : Q = Cd {bcyc + mc2} {2g (H1 – yc)0.

4 Batas moduler Batas moduler untuk alat ukur ambang lebar bergantung kepada bentuk bagian pengontrol dan nilai banding ekspansi hilir (lihat Tabel 2.4 Ilustrasi peristilahan yang digunakan 2.2) 9 .04 Gambar 2. 2.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .4 memberikan ilustrasi arti simbol-simbol yang digunakan oleh kedua tipe alat ukur ambang lebar ini. Dalam hal ini panjang peralihan serta panjang ambang diwujudkan ke dalam dimensi kontraksi. Flum dan alat ukur pada Gambar 25 adalah bangunan-bangunan air serupa dengan kemampuan ukur yang sama.KP .2.2. Gambar 2.3 Flum dasar rata Rumus untuk alat ukur ambang lebar yang dipakai untuk merencana fluor leher panjang bangunan dengan tinggi ambang nol.

6 di bawah ini. yang hanya akan sedikit saja mengurangi efektivitas peralihan. 10 . Dalam Gambar itu ditunjukkan cars untuk memotong ekspansi.KP .04 Nilai banding ekspansi 1 : 6 diilustrasikan pada Gambar 2.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

2. 2. Dalam hal ini tidak diperlukan tabel debit.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . 11 .5 Besaran debit Besaran debit dapat diklasifikasi dengan perbandingan Qmaks ‫ = ך‬-------. Tabel tersebut menggunakan Gambar 2.6 Papan duga Adalah mungkin untuk menandai papan duga dengan satuan liter/detik atau meter kubik/detik.2.KP . Sebuah contoh jarak penandaan papan duga untuk pembacaan langsung papan duga yang dipasang pada dinding. …. diberikan pada Tabel 2:3. Pada saluran irigasi nilai banding ‫ = ך‬Qmaks/Qmin jarang melebihi 35.3) Qmin Untuk alat ukur segi empat ‫ = ך‬35. selain dengan Skala centimeter.04 2..7 sebagai bilangan pengali. (2. untuk alat ukur trapesium ‫= ך‬ 55 untuk alat ukur besar dan 210 untuk alat ukur kecil.

Untuk alat ukur trapesium dan saluran dengan lebar dasar yang tidak standar.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . (Lampiran 2) memberikan harga-harga yc/H1 sebagai fungsi m dan H1/b untuk bagian pengontrol trapesium yang akan digunakan dengan persamaan 2.2.debit Tabel A2.7 Bilangan-bilangan pengali untuk satuan-satuan yang dipakai pada papan duga miring. 2.2. harus digunakan rumus tinggi energi (head) .04 Gambar 2.2.7 Tabel debit Untuk alat ukur ambang lebar bentuk segi empat.KP . di sini diberikan Label debit (Tabel All) pada Lampiran 2. 12 .

492 0.586 Jarak kemiringan Samping hs (m) 0.561 0.211 0. - - - - 13 .40 2.311 0.00 1.517 0.016 1.80 3. untuk kombinasi alat ukur dan saluran apa saja.60 2. khususnya jika papan duga diberi satuan debit (misal m3/dt).739 0.40 1.80 1.492 0.3 Contoh hubungan antara jarak vertikal dan kemiringan samping pads papan duga untuk saluran dengan kemiringan talus 1:1.564 0.2.683 0. Sudah ada teori hidrolika untuk menghitung kehilangan tinggi energiyang diperlukan ini.541 0.8 Karakteristik alat ukur ambang lebar Asal saja kehilangan tinggi energi pada alat ukur cukup untuk menciptakan aliran kritis.626 0.20 0.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .379 0.80 2.00 2.04 Tabel 2.887 0.057 2.20 1. Pembacaan debit di lapangan mudah.439 0. Pengamatan lapangan dan laboratorium menunjukkan bahwa alat ukur ini mengangkut sedimen. alat ukur ini mempunyai masalah sedikit saja dengan bendabenda hanyut.932 0. tabel debit dapat dihitung dengan kesalahan kurang dari 2%.KP .410 0. Kehilangan tinggi energi untuk memperoleh aliran moduler (yaitu hubungan khusus antara tinggi energi hulu dengan mercu sebagai acuan dan debit) lebih rendah jika dibandingkan dengan kehilangan tinggi energi untuk semua jenis bangunan yang lain. bahkan di saluran dengan aliran subkritis.792 0.975 1.347 0.117 0.840 0.273 0.60 1.466 0.60 0.413 0.00 Tinggi Vertikal h1 (m) 0.20 2. Karena peralihan penyempitannya yang bertahap (gradual).5 Debit Q (m3/dt) 0.229 0.

bahkan jika terdapat kesalahan pads dimensi rencana selama pelaksanaan sekali pun.1 Tipe-tipe alat ukur Romijn Sejak pengenalannya pads tahun 1932.KP .2. sederhana dan tidak mahal Benda-benda hanyut bisa dilewatkan dengan mudah Eksploitasi mudah.8A) 14 . 2. aliran tidak boleh tenggelam.8). ekonomis dari semua jenis bangunan lain untuk pengukuran debit secara tepat. pada titik cabang saluran besar dan tepat di hilir pintu sorong pada titik masuk petak tersier. Bangunan ini biasanya ditempatkan di awal saluran primer. 2.2. Kalibrasi purnalaksana demikian juga memungkinkan alat ukur untuk diperbaiki kembali.3. 2. bila perlu.3 Alat Ukur Romijn Pintu Romijn adalah alat ukur ambang lebar yang bisa digerakkan untuk mengatur dan mengukur debit di dalam jaringan saluran irigasi. Bangunan kuat. tidak mudah rusak. Agar dapat bergerak.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .2.04 - - Asalkan mercu datar searah dengan aliran. 2. pintu Romijn telah dibuat dengan tiga bentuk mercu (Gambar 2.10 Kelemahan-kelemahan yang dimiliki alat ukur ambang lebar Bangunan ini hanya dapat dipakai sebagai bangunan pengukur saja Agar pengukuran teliti. mercunya dibuat dari pelat baja dan dipasang di atas pintu sorong Pintu ini dihubungkan dengan alat pengangkat.9 Kelebihan-kelebihan yang dimiliki alat ukur ambang lebar Bentuk hidrolis luwes dan sederhana Konstruksi kuat. yaitu : (i) bentuk mercu datar dan lingkaran gabungan untuk peralihan penyempitan hulu (Gambar 2. maka tabel debit pada dimensi purnalaksana (as-built dimensions) dapat dibuat.11 Penggunaan alat ukur ambang lebar Alat ukur ambang lebar dan flum leher panjang adalah bangunanbangunan pengukur debit yang dipakai di saluran di mana kehilangan tinggi energi merupakan hal pokok yang menjadi bahan pertimbangan. Di bawah kondisi hidrolis dan batas yang serupa. ini adalah yang paling. 2.

Karena garis-garis aliran ini. Hasil penyelidikan model hidrolis di laboratorium yang mendasari rekomendasinya itu tidak bisa direproduksi lagi (Bos 1976}. Kerusakan terhadap tepi ini menimbulkan perubahan pada debit alat ukur. Tetapi dalam program riset terakhir mengenai mercu berkemiringan 1:25. Tetapi pembuatan kedua lingkaran gabungan sulit. batas moduler menjadi 0.25: bukan 0.04 (ii) bentuk mercu miring ke atas 1-?5 dan lingkaran tunggal sebagai peralihan penyemplitan (Gambar 2.8B) (iii) bentuk mercu datar dan lingkaran tunggal sebagai peralihan penyempitan (Gambar 18C}. pengurangan dalam aliran berkisar dari 3% untuk aliran rendah sampai 10% untuk aliran tinggi (rencana).67. . melainkan di atas tepi tajam hilirnya.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .Bagian pengontrol tidak berada di atas mercu. padahal tanpa lingkaran-lingkaran itu pengarahan air di atas mercu pintu bisa raja dilakukan tanpa pemisahan aliran. Mercu horisontal & lingkaran gabungan: Dipandang dari segi hidrolis. ini merupakan perencanaan yang baik.KP . kekurangan-kekurangan mercu ini menjadi jelas : .67 seperti anggapan umumnya. Pada aliran tenggelam H2/H1 = 0. Mercu dengan kemiringan 1:25 & lingkaran tunggal : Vlugter (1941) menganjurkan penggunaan pintu Romijn dengan kemiringan mercu 1:25. 15 . di mana garis-garis aliran benar-benar melengkung.

m h1 = tinggi energi hula di atas meja. antara tinggi dan debitnya adalah: Q = CdCv 2/3 2 / 3g bc h11. persamaar.2.KP . pintu Romijn dcngan mercu horisontal dan peralihan penyempitan lingkaran tunggal adalah serupa dengan alai ukur ambang lebar yang telah dibicarakan dalam Pasal 2.2 Perencanaan hidrolis Dilihat dari segi hidrolis. 2. maka penggunaan mercu dengan kemiringan ini tidak dianjurkan.5 …… (2.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . Jika dilaksanakan pintu Romijn. m/dt2 (≅ 9. maka sangat dianjurkan untuk menggunakan bentuk mercu ini.93 + 0. Mercu horisontal & lingkaran tunggal: (lihat Gambar 2.4) di mana : 3 Q = debit.5) 16 .8) bc = lebar meja.10 H1/L …… (2.9) Ini adalah kombinasi yang bagus antara dimensi hidrolis yang benar dengan perencanaan konstruksi. m di mana koefisien debit sama dengan Cd = 0. m /dt Cd = koefisien debit Cv = koefisien kecepatan datang g = percepatan gravitasi.04 - Karena mercu berkemiringan 1:25 juga lebih rumit pembuatannya dibandingkan dengan mercu datar. Untuk kedua bangunan tersebut.3.

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .04 17 .KP .

kecuali satu tipe.3 Dimensi dan tabel debit standar Lebar standar untuk alat ukur Romijn adalah 0...KP .25 dan 1.6) Koefisien kecepatan datang Cv dipakai untuk mengoreksi penggunaan h1 dan bukan H1 di dalam persamaan tinggi energi debit (persamaan 2.50 m. Satu pintu lagi ditambahkan agar sesuai dengan bangunan sadap tersier yang debitnya kurang dari 160 1/dt.04 dengan H1 = h1 + v12/2g di mana : H1 = tinggi energi di atas meja.10 m untuk meja berujung bulat. 2.00.75.1.(2. mempunyai panjang standar mercu 0.. Untuk harga-harga lebar standar ini semua pintu.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . 0.50 untuk mercu horisontal dan jari-jari 0. 18 . m/dt .1..50. m v1 = kecepatan di hulu alai ukur.4).3.

3.50 0.04 Lebar pintu ini 0.2-5.KP .50 m. 2.080 .4 Hmaks.160 0.33 m dan jarijari 0. tapi mercu horisontalnya 0.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .4 Besaran debit yang dianjurkan untuk alai ukur Romijn Standar Lebar. titik no] pada skala liter memberikan bacaan pada skala sentimeter yang sesuai dengan bacaan muka air pada papan duga di saluran (lihat Gambar 29).50 0.skala liter yang ikut bergerak dengan meja pintu Romijn. seperti ditunjukkan pada contoh Gambar 19.skala sentimeter yang dipasang pada kerangka bangunan .50 H1maks’ m 0. Kehilangan tinggi energi AH yang diperlukan di atas alat ukur yang bisa digerakkan diberikan di bagian bawah Tabel A. maka kehilangan tinggi energi sebaiknya diambil 0.600 0.75 1.3.5 Narakteristik alat ukur Romijn Kalau alat ukur Romijn dibuat dengan mercu datar dan peralihan penyempitan sesuai dengan Gambar 2.50 Besar debit.040 . m 0.750 0.papan duga muka air di saluran .0.300 0.900 2.0. ada tiga papan duga yang harus dipasang.0.07 m untuk ujung meja. Harga-harga besaran debit yang dianjurkan untuk standar alat ukur Romijn diberikan pada Tabel 2. yaitu : .4 Papan duga Untuk pengukuran debit secara sederhana.50 0.0. Jika dipakai saluran hilir yang lebih lebar. Skala sentimeter dan liter dipasang pada posisi sedemikian rupa sehingga pada waktu bagian atas meja berada pada ketinggian yang sama dengan muka air di saluran (dan oleh sebab itu debit di atas meja nol).4. Tabel 2.450 0.8C.50 0.070 .50 0. Debit yang masuk dapat diukur dan diatur dengan satu bangunan.00 1.50 0. tabel debitnya sudah ada dengan kesalahan kurang dari 3%. m3/dt 0 .33 0.0. - 19 .050 .0. Lampiran I Hargaharga ini dapat dipakai bila alat ukur mempunyai saluran hilir segi empat dengan potongan pendek.15 1.030 .

2.8 Penggunaan alat ukur Romijn Alat ukur Romijn adalah bangunan pengukur dan pengatur serba bisa yang dipakai di Indonesia sebagai bangunan sadap tersier. 2. sebagai acuannya. Tetapi. yaitu melewatkan air lebih banyak dari yang diizinkan dengan cars mengangkat pintu bawah lebih tinggi lagi.biasa dengannya. 20 .3. 2.KP . alat ukur Romijn dapat jugs dipakai sebagai bangunan sadap sekunder. maka sudah ada teori hidrolika untuk merencanakan bangunan tersebut. Bangunan ini dilengkapi dengan pintu bawah yang dapat disalahgunakan jika pengawasan kurang. Eksploitasi bangunan itu sederhana dan kebanyakan juru pintu telah ter.3.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .50 m) adalah yang paling cocok.6 Kelebihan-kelebihan yang dimiliki alat ukur Romijn bangunan itu bisa mengukur dan mengatur sekaligus dapat membilas endapan sedimen halus kehilangan tinggi energi relatif kecil ketelitian baik eksploitasi mudah.04 - - - Kehilangan tinggi energi yang diperlukan untuk aliran moduler adalah di bawah 33% dari tinggi energi hulu dengan mercu. Karena alat ukur Romijn ini bisa disebut "berambang lebar".7 Kekurangan-kekurangan yang dimiliki alat ukur Romijn pembuatannya rumit dan mahal bangunan itu membutuhkan muka air yang tinggi di saluran biaya pemeliharaan bangunan itu relatif mahal bangunan itu dapat disalahgunakan dengan jalan membuka pintu bawah bangunan itu peka terhadap fluktuasi muka air di saluran pengarah.3. Alat ukur Romijn dengan pintu bawah bisa dieksploitasi oleh orang Yang tak berwenang. yang relatif kecil. Untuk ini tipe standar paling kecil (lebar 0.

Bangunan yang dihasilkan dapat dipakai baik untuk mengukur maupun mengatur debit (lihat Gambar 2.de Gruyter adalah : Q=Cd b w 2 g (h1 − w) …… (2.04 2. De Gruyter (1926) menyempurnakan trace flum tersebut dan mengganti "blok .1 Perencanaan hidrolis Rumus debit untuk alat ukur Crump .11).4.de Gruyter yang dapat disetel adalah saluran ukur leher panjang yang dipasangi pintu gerak vertikal yang searah aliran (streamline). yang diperkenalkan oleh Crump pada tahun 1922. Pintu ini merupakan modifikasi/penyempurnaan modul proporsi yang dapat disetel (adjustable proportional module).KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . 2.atap" (roof block) seperti yang direncana oleh Crump dengan pintu sorong yang dapat disetel.7) 21 .KP .4 Alat Ukur Crump .de Gruyter Alat ukur Crump .

6.8) tinggi air di atas ambang.63 h1 ) percepatan gravitasi.KP .2.2. m.1. Untuk harga-harga lebar standar alat ukur Crump-de Gruyter.1 sampai A. di sini dilampirkan beberapa grafik dalam Lampiran 2.2.dapat dicari dari Gambar 2.dan K = -------h1 h1 Qmaks Nilai banding ‫ך‬ = --------.2. Grafik tersebut memberikan kar'akt eristik hidrolis orifis yang didasarkan pads dua nilai banding Δh w α = --------. Gambar A.5.14. m bukaan pintu.94) lebar bukaan. Gambar A.04 di mana : Q = Cd = b = w = g = hi = debit.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . Tabel A. m (w ≤ 0. Qmin 22 . m/dt2 (≅ 9. Tabel debit diberikan dalam Lampiran 2. Grafik pada Gambar 214 dapat digunakan untuk perencanaan alat ukur Crump-de Gruyter. m3/dt koefisien debit (= 0.

04 2. Asalkan aliran kritis terjadi di bawah pintu. panjang leher L tidak boleh kurang dari h1. bukaan pintu harus kurang dari 0. Untuk menghindari lengkung garis aliran pada pancaran di bawah pintu. Sebagai contoh untuk peralihan pelebaran berkemiringan 1 : 6. Untuk pengukuran yang teliti.w} Kehilangan ini lebih kecil daripada kehilangan yang diperlukan untuk bukaan-bukaan yang lain.3 Kelebihan-kelebihan yang dimiliki alat ukur Crump-de Gruyter bangunan ini dapat mengukur dan mengatur sekaligus bangunan ini tidak mempunyai masalah dengan sedimen eksploitasi mudah dan pengukuran teliti bangunan kuat.h2 cukup untuk menciptakan aliran kritis di bawah pintu.63 h1. dan untuk menghindari pusaran air di depan pintu. Untuk menclapatkan aliran kritis di bawah pintu.5 (h1 .KP . Kehilangan ini bisa diperkecil lagi jika peralihan pelebaran bertahap dipakai di belakang (hilir) leher. tidak mudah rusak. Pada bangunan ini benda-benda hanyut cenderung tersangkut. Ini benar jika Δ h = h1 – w. tinggi energi yang diperlukan Δ h diperkecil hingga 0. Lampiran 2).26. tabel debitnya sudah ada dengan kesalahan kurang dari 3% (Tabel A. Bagian pintu-gerakiiya harus seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.4. maka rencana peralihan pelebaran yang sebenarnya tidak berpengaruh pada kalibrasi tinggi energi-bukaan-debit dari bangunan tersebut. bukaan pintu harus lebih bih dari 0.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . Bangunan ini kuat. Orifis/lubang yang dapat disetel dapat dikerjakan dengan teori hidrolika yang sudah ada. Aliran harus diarahkan ke bukaan pintu sedemikian sehingga tidak terjadi pemisahan aliran.13. Dasar dan samping peralihan penyempitan tidak perlu melengkung. Kehilangan tinggi energi yang diperlukan untuk aliran moduler kurang dari h1 . tetapi mungkin kurang bila peralihan pelebaran direncana sedemikian rupa sehingga sebagian dari tinggi kecepatan di dalam leher diperoleh kembali Apabila terjadi aliran kritis.w.4.02 m. 2.2 Karakteristik alas ukur Crump-de Gruyter - - - - - - Δ h = h1 . 23 .

4 Kelemahan-kelemahan yang dimiliki alat ukur Crump-de Gruyter pembuatannya rumit dan mahal biaya pemeliharaan mahal kehilangan tinggi energi besar bangunan ini mempunyai masalah dengan benda-benda hanyut.5 Pipa Sadap Sederhana Pipa sadap sederhana berupa scbuah pipa dengan diameter standar 0. yang bergantung kepada diameter pipa dan beda tinggi energi.4. 0.4. 0. Untuk bangunan-bangunan yang mengalirkan air ke saluran tanpa pasangan.1 Penggunaan pipa sadap sederhana Pipa sadap sederhana dipakai sebagai bangunan sadap tersier apabila petak tersier mengambil air dari saluran primer besar tanpa menimbulkan pengaruh apa-apa teihadap tinggi muka air di saluran itu.30. 0. Tabel A. 2. pemeliharaannya tidak sulit dan lebih mudah dibanding bangunan-bangunan serupa lainnya. 24 . 2. karena jika debit di saluran berubah maka muka air akan mengalami fluktuasi besar.5 Penggunaan alat ukur Crump-de Gruyter Alat ukur Crump-de Gruyter dapat dipakai dengan berhasil jika keadaan muka air di saluran selalu mengalami fluktuasi atau jika orifis harus bekerja pada keadaan muka air rendah di saluran.20. Bila tersedia kehilangan tinggi energi yang memadai.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .15.5.5 m/dt.25. alat ukur Crump-de Gruyter mudah dioperasikan. 0. 2.40.60 m yang bisa ditutup dengan pintu sorong (lihat Gambar 2. Pada Lampiran 2. Aliran melalui bangunan ini tidak dapat diukur tapi dibatasi sampai debit maksimum. Alat ukur Crump-de Gruyter mempunyai kehilangan tinggi energi yang lebih besar daripada alat ukur Romijn. 0.15 diberikan harga-harga debit untuk berbagai diameter pipa bagi keperluan-keperluan perencanaan. kecepatan maksimum di dalam pipa dibatasi sampai 1 m/dt Jika bangunan itu mengalirkan air ke saluran pasangan kecepatan maksimumnya mungkin sampai 1.50 atau 0.04 2.16).KP .

04 Mungkin terdapat beda tinggi energi yang besar.KP . 25 . air tetap bisa diambil. jadi diperlukan pengambilan dengan elevasi rendah. sehingga selama muka air di saluran primer rendah.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . Guna mengatur muka air di saluran primer. diperlukan jumlah air yang akan dialirkan melalui bangunan sadap.

Dengan keadaan eksploitasi demikian.mercu tetap dengan skot balok.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .2 Pintu Skot Balok Dilihat dari segi konstruksi. misalnya : . hal ini bergantung kepada variasi tinggi muka air yang diperkirakan (lihat Tabel 21).04 3.lam hubungannya dengan bangunan sadap (terrier) tetap konstan. yaitu : pintu skot balok. pintu skot balok merupakan peralatan yang sederhana.0 m atau lebih kecil lagi. Balok-balok tersebut disangga di dalam sponeng/alur yang lebih lebar 0.1 Umum Banyak jaringan saluran irigasi dieksploitasi sedemikian rupa sehingga muka air di saluran primer dan saluran cabang dapat diatur pada batasbatas tertentu oleh bangunan-bangunan pengatur yang dapat bergerak. 3. Apakah nantinya akan digunakan pintu sadap dengan permukaan air bebas (pintu Romijn) atau pintu bukaan bawah (alai ukur Crump-de Gruyter).skot balok dengan pintu bawah . BANGUNAN PENGATUR TINGGI MUKA AIR 3. dengan lebar bukaan pengontrol 2. Pada saluran yang lobar (lebih dari 2 m) mungkin akan menguntungkan untuk mengkombinasi beberapa tipe bangunan pengatur muka air. profil-profil balok seperti yang diperlihatkan pads Gambar 31 biasa dipakai. Dalam bangunan-bangunan saluran irigasi. mercu tetap dan kontrol celah trapesium.05 m dari tebal balokbalok itu sendiri. Sedangkan kedua bangunan yang terakhir banya mempengaruhi tinggi muka air. Balok-balok profil segi empat itu ditempatkan tegak lurus terhadap potongan segi empat saluran.03 m sampai 0. Bab ini akan membahas empat jenis bangunan pengatur muka air. pintu sorong. muka air da. Kedua bangunan pertama dapat dipakai sebagai bangunan peragontroll untuk mengendalikan tinggi muka air di saluran. 26 .mercu tetap dengan pintu bawah .KP .

8) b = lebar normal.KP . pancaran air yang melimpah bisa sama sekali terpisah dari mercu skot balok. m.1) di mana : Q = debit. maka pola alirannya akan menjadi tidak mantap dan sangat sensitif terhadap "ketajaman" tepi skot balok bagian hulu. 27 . sudah diketahui untuk nilai banding H1/L kurang dari 1. Bila H1/L menjadi lebih besar dari sekitar 1.5 (lihat Gambar 3. m3 /dt Cd = koefisien debit Cv = koefisien kecepatan datang g = percepatan gravitasi.2.5.1).1 Perencanaan hidrolis Aliran pada skot balok dapat diperkirakan dengan menggunakan persamaan tinggi debit berikut : Q = Cd Cv 2/3 2 / 3 g b h11.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . Untuk harga-harga H1/L yang lebih tinggi. m h1 = kedalaman air di atas skot balok.5 ……(3. m/dt2 (≈ 9.04 3. Koefisien debit Cd untuk potongan segi empat dengan tepi hulu yang tajamnya 90 derajat.

ketinggian yang cocok untuk balok dalam bangunan saluran irigasi adalah 0. Tinggi muka air bisa diatur selangkah demi selangkah saja. Seperti yang sudah disebutkan dalam Gambar 3. 3. bawah balok atas.2.2.04 Juga. kesalahan yang timbul akibat tidak memperhatikan harga tinggi kecepatan rendah berkenaan dengan kesalahan dalam Cd.20 m. Karakteristik tinggi-debit aliran pada balok belum diketahui secara pasti. besarnya airasi dalam kantong udara di bawah pancaran. Jelaslah bahwa tinggi muka air hulu dapat diatur dengan cara menempatkan/mengambil satu atau lebih skot balok. Ada kemungkinan dicuri orang. dan tenggelamnya pancaran sangat mempengaruhi debit pada skot balok. Dengan menggunakan persamaan 3.1.3 Kelemahan-kelemahan yang dimiliki pintu skot balok Pemasangan dan pemindahan balok memerlukan sedikitdikitnya dua orang dan banyak menghabiskan waktu.35.1 dikombinasi dengan Gambar 3. 28 . Biaya pelaksanaannya kecil. Skot balok bisa dioperasikan oleh orang yang tidak berwenang. Pengaturan langkah demi langkah ini dipengaruhi oleh tinggi sebuah skot balok.2 Kelebihan-kelebihan yang dimiliki pintu skot balok Konstruksi ini sederhana dan kuat.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP . 3. setiap langkah sama dengan tinggi sebuah balok. aliran pada skot balok dapat diperkirakan dengan baik. Karena kecepatan datang yang menuju ke pelimpah skot balok biasanya rendah. Seorang operator yang berpengalaman akan mengatur tinggi muka air di antara papan balok 0.20 m dengan tetap membiarkan aliran sebagian di.2. h1/(h1 + p1) < 0.

Lebar standar untuk pintu pembilas bawah (undersluice) adalah 0.4) a = bukaan pintu. Kedua ukuran yang terakhir memerlukan dua stang pengangkat.KP .2) di mana : Q = debit. m/dt2 (≈ 9.25 dan 1.50.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . 0.3 Pintu Sorong 3.04 3. 1. Sedimen yang diangkut oleh saluran hulu dapat melewati pintu bilas. 29 . 1. m g = percepatan gravitasi. m b = lobar pintu. m3/dt K = faktor aliran tenggelam (lihat Gambar 3.3. Pintu bilas kuat dan sederhana.3.00.50 m.1 Perencanaan hidrolis Rumus debit yang dapat dipakai untuk pintu sorong adalah : Q = K µ a b 2 g h1 …… (3.8) h1 = kedalaman air di depan pintu di atas ambang.75.3) µ = koefisien debit (lihat Gambar 3. 3. m.2 Kelebihan-kelebihan yang dimiliki pintu pembilas bawah Tinggi muka air hulu dapat dikontrol dengan tepat.

2 dan harga koefisiennya diberikan pada gambar 3.3.3. 30 . 3. Pintu ini dapat dihitung dengan persamaan 3. Kecepatan aliran dan muka air hulu dapat dikontrol dengan baik jika aliran moduler.KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .3 Kelemahan-kelemahannya Kebanyakan benda-benda hanyut bisa tersangkut di pintu.4b.4 Pintu radial Tipe khusus dari pintu sorong adalah pintu radial.04 3.

0.48 Bangunan pengatur Ambang lebar Nilai banding H1/L = 1.paksi (pivot) pintu memberi tekanan horisontal besar jauh di atas pondasi.1 Perencanaan hidrolis Ada perbedaan pokok dalam hubungan antara tinggi energi dan debit untuk bangunan pengatur mercu bulat dan bangunan pengatur ambang lebar.6 Kelemahan-kelemahan yang dimilf-ki pintu radial .5 sudah umum dipakai.3. Jika panjang mercu rencana seperti tampak pada gambar sebelah kanan adalah sedemikian rupa sehingga H1/L ≤ 1.0 Cd = 1. maka bangunan tersebut dinamakan bangunan pengatur ambang lebar.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .3.5 Kelebihan-kelebihan yang dimiliki pintu radial hampir tidak ada gesekan pada pintu alat pengangkatnya ringan dan mudah dieksploitasi bangunan dapat dipasang di saluran yang lebar.04 3.0 Cd = 1. Gambar 3-5 Bentuk-bentuk mercu bangunan pengatur ambang tetap yang lazim dipakai 3.bangunan tidak kedap air . 3.4.03 31 . 3. Hubungan antara tinggi energi dan debit bangunan semacam ini sudah diketahui dengan baik (lihat Pasal 2.4 Mercu Tetap Mercu tetap dengan dua bentuk seperti pads Gambar 3. Perbedaan itu dapat dijelaskan sebagai berikut : Bangunan pengatur Mercu bulat Nilai banding H1/r = 5.KP .2).biaya pembuatan bangunan mahal .

8) b = lebar mercu. m Dengan rumus ini.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .mercu bulat Cd = 1.02 Bangunan Utama.48 g = percepatan gravitas. bangunan pengatur ini tidak banyak mempunyai masalah dengan bends-bends terapung. m/dt2 (≅ 9.04 Untuk mercu yang dipakai di saluran irigasi.6 memperlihatkan potongan melintang mercu.22.KP .3) di mana : Q = debit. Bangunan ini kuat. diandaikan bahwa koefisien kecepatan datang adalah 1. 3.5 …… (3. pasal 4.6 Alai ukur mercu bulat Pembicaraan mendetail mengenai mercu bulat dapat dijumpai dalam buku KP .0. - 32 . Bangunan pengatui ini dapat direncana untuk melewatkan sedimen yang terangkut oleh saluran peralihan. m H1 = tinggi air di atas mercu. nilai-nilai itu dapat dipakai dalam rumus berikut : Q = Cd 2/3 2 / 3 g b H1 1.4. Gambar 3. m3/dt Cd = koefisien debit .alat ukur ambang lebar Cd = 1. tidak mudah rusak.2 Kelebihan-kelebihan yang dimiliki mercu tetap Karena peralihannya yang bertahap. Gambar 3.03 . bulat.

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP . Celah control Trapesium Seperti halnya mercu tetap. Jika dipakai tanpa ambang.7). 33 .33. Gambar 37 Penggabungan kurve muka air dan kurve debit Tinggi ambang bangunan pengatur dapat dibuat sedemikian rupa sehingga untuk 2 debit di saluran dan di pengontrol sama besar. Hal ini dicapai dengan jalan menghubung-hubungkan tinggi muka air dengan lengkung debit untuk saluran dan pengontrol atau bangunan pengatur (lihat Gambar 3. celah kontrol itu akan menimbulkan gangguan kecil pads aliran air dan pengangkutan sedimen.5 Aliran pada bendung menjadi nonmoduler jika nilai banding tenggelam H2/H1 melampaui 0.04 3. Pengaturan tinggi muka air dengan menggunakan kedua alat tersebut didasarkan pada pencegahan terjadinya fluktuasi yang besar yang mengakibatkan berubah-ubahnya debit.3 Kelemahan-kelemahan yang dimiliki mercu tetap 3. Dengan sebuah celah kontrol trapesium tinggi muka air di saluran dan di pengontrol dapat dijaga agar tetap sama untuk berbagai besaran debit. celah kontrol trapesium jugs dipakai untuk mengatur tinggi muka air di saluran.8. Aliran tidak dapat disesuaikan. Hanya kemiringan permukaan hilir 1 : 1 saja yang bisa dipakai.4. Untuk debit-debit antara jarak nilai ini. tinggi muka air akan berbeda-beda dan akan menyebabkan tinggi muka air di saluran meninggi atau menurun. Untuk ukuran-ukuran sebuah celah lihat Gambar 3.

5) 34 .5.2. Untuk membuat grafik-grafik ini Cd diambil 1.8} Persamaan ini dapat dipecahkan untuk b dan s yang ada. (3.4) Q20 (h20)1.12.1 Perencanaan hidrolis Perencanaan celah kontrol trapesium didasarkan pada rumus untuk flum trapesium : Q = Cd {bc yc + m yc2} {2g (H-yc)}0.8 Sketsa dimensi wank celah kontrol 3.2.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .8 Q = C h . m yc = kedalaman kritis pada pengontrol. 2.04 Gambar 3. dapat dipakai rumus perkiraan debit dalam saluran irigasi: 1.KP . (3. Lampiran 2.8 …..5 di mana : Cd = koefisien debit (≅ 1.05) b = lebar dasar. Kegunaan grafik-grafik tersebut dalam perencanaan celah kontrol trapesium adalah untuk : 1. -----.05. m g = percepatan gravitasi.6 sampai A. m m = kemiringan dinding samping celah.. Grafik celah kontrol untuk berbagai b dan s ditunjukkan pada gambar A. m/dt2 (≅ 9. m H = kedalaman energi di saluran. Menentukan besaran debit agar pengontrol dapat bekerja (misalnya 20-100% dari Q rencana). Memperhitungkan karakteristik saluran untuk kedua debit inL Untuk memperhitungkan h 20 (kedalaman air pada 2017o Q rencana).8 ….= ------Q100 (h100)1.

)1. setelah itu grafik berikutnya harus diperiksa. (3. Karena bentuknya yang demikian. celah kontrol cocok untuk besar debit yang berbeda-beda.04 dan h20 Q20 = ( -----. jika dipakai bersama-sama dengan bangunan pelimpah (alai ukur Romijn).2)0.56* h100 Q100 = 0. 35 .8* h100 = (0.KP . Masukkan salah satu dari grafik-grafik tersebut dengan H100 (kedalaman energi~alam saluran untuk 100% debit rencana) dan Q100 lalu carilah harga s-nya. dan Q20. bangunan ini memiliki kepekaan yang sama terhadap perubahan muka air. Lakukan hal yang sama untuk H20.5.2 Kelebihan-kelebihan yang dimiliki celah kontrol trapesium Bangunan ini tidak menaikkan atau menurunkan muka air di saluran untuk berbagai besaran debit.. Bangunan ini kuat dan memberikan panjang ekstra di sebelah hulu bangunan terjun dan dapat dengan mudah dilengkapi dengan pelimpah search saluran. Bangunan ini tidak memakai ambang dan oleh karena itu dapat melewatkan benda-benda terapung dan sedimen dengan baik. - 3. 3. mengontrol muka air dengan lebih baik dan dapat dikunci di tempat agar setelannya tidak diubah oleh orang-orang yang tidak berwenang.6) 3.6 Penggunaan Bangunan Pengatur Muka Air Pintu skot balok dan pintu sorong adalah bangunan-bangunan yang cocok untuk mengatur tinggi muka air di saluran.5. Pintu harganya mahal tetapi bisa lebih ekonomis karena ketelitian berfungsinya bangunan ini.3 Kelemahan-kelemahan yang dimiliki celah kontrol trapesium Bangunan ini hanya baik untuk aliran tidak tenggelam melalui celah kontrol. 3. maka ini adalah celah kontrol yang harus dipilih.14 h100 …. Kelebihan lain adalah bahwa pintu lebih mudah di eksploitasi. Kelemahan utama yang dimiliki oleh pintu sorong adalah bahwa pintu ini kurang peka terhadap pbrubahan-perubahan tinggi muka air dan. jika didapat s yang sama.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

Bangunan pengontrol diperlukan di tempat-tempat di mans tinggi muka air saluran dipengaruhi oleh bangunan terjun atau got miring.04 Jika dikombinasi demikian. bangunan pengatur harus direncana sedemikian rupa sehingga tidak banyak rintangan sewaktu terjadi debit rencana. kehilangan energi harus kecil pada pintu skot balok jika semua balok dipindahkan. Bangunan bagi terdiri dari pintu-pintu yang dengan teliti mengukur dan mengatur air yang mengalir ke berbagai saluran.1 memberikan perbandingan bangunan-bangunan. Bangunan pengontrol tidak memberikan kemungkinan untuk mengatur muka air lepas dari debit Penggunaan celah trapesium lebih disukai apabila pintu sadap tidak akan dikombinasi dengan pengontrol. tipe bangunan ini dianjurkan pemakaiannya karena tahan lama dan eksploitasinya mudah. maka bangunan pengatur tetap lebih disukai.KP . Khususnya di saluran-saluran yang kehilangan tinggi energinya harus kecil (misal di kebanyakan saluran garis tinggi}. Adalah biasa untuk memasang pintu pengatur di saluran terbesar dan membuat alai-alai pengukur dan pengatur di bangunan--bangunan sadap yang lebih kecil (lihat Gambar 43) Tabel 4. Jika bangunan sadap akan dikombinasi dengan pengontrol.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . 4.1 Bangunan Bagi Apabila air irigasi dibagi dari saluran primer sekunder. Misalnya pintu sorong harus dapat diangkat sepenuhnya dari dalam air selama terjadi debit rencana. make akan dibuat bangunan bagi. BANGUNAN BALI DAN SADAP 4. Sebagai bangunan pengatur. 4. karena dinding vertikal bangunan ini dapat dengan mudah di kombinasi dengan pintu sadap. akan mencegah naik-turunnya tinggi muka air di saluran untuk berbagai besaran debit.2 36 . Salah satu dari pintu-pintu bangunan bagi berfungsi sebagai pintu pengatur muka air. Bangunan pengontrol. pengaturmuka air. walaupun punya kelemahan-kelemahan seperti yang telah disebutkan tadi. bangunan ini sering memerlukan penyesuaian. misalnya mercu tetap atau celah trapesium. sedangkan pintu-pintu sadap lainnya mengukur debit (lihat Gambar 41). Bangunan Pengatur Bangunan pengatur akan mengatur muka air saluran di tempat-tempat di mana terletak bangunan sadap dan bagi.

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . 37 . bangunan pengatur dapat direncana tanpa menggunakan pertimbangan-pertimbangan di atas.KP .04 Di saluran-saluran sekunder di mana kehilangan tinggi energi tidak merupakan hambatan.

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP .04 38 .

Kadang-kadang akan menguntungkan untuk menggabung beberapa tipe bangunan utama : mercu tetap dengan pintu aliran bawah atau skot balok dengan pintu. Gambar 42 memberikan ilustrasi mengenai perubahan-perubahan debit dari variasi muka air untuk pintu-pintu tipe aliran atas dan aliran bawah. Oleh sebab itu. Lagi pula.KP . penggunaan bangunan dengan mercu tidak disarankan karena bangunan-bangunan ini akan menangkap sedimen. 39 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . Dengan demikian. misalnya sebuah pintu dapat dipasang di sebelah mercu tetap.04 Satu aspek penting dalam perencanaan bangunan bagi adalah kepekaannya terhadap variasi muka air. Kombinasi ini terutama antara bangunan yang mudah dieksploitasi dengan tipe yang tak dapat atau sulit dieksploitasi. sedimen bisa lewat tanpa hambatan dan kehilangan tinggi energi minimal. Tetapi di saluran yang angkutan sedimennya tinggi. Khususnya bangunan-bangunan yang dibuat di saluran yang tinggi energinya harus dijaga agar tetap kecil. mercu tetap kadang-kadang dikombinasi dengan salah satu dari bangunan-bangunan pengatur lainnya. mercu memerlukan lebih banyak kehilangan tinggi energi. Gambar tersebut memperlihatkan bahwa alat ukur aliran atas lebih peka terhadap fluktuasi muka air dibanding dengan pintu aliran bawah. sebaiknya direncana tanpa mercu.

KP . kehilangan tinggi energi lebih besar dan bangunan pengaturnya lebih sempit. Saluran sekunder biasanya tegak lurus terhadap garis-garis kontur dan. Akibatnya bangunan pengatur di saluran primer lebar. Dalam merencana bangunan pengatur. Untuk saluran primer garis tinggi. oleh sebab itu. tetapi bangunan yang lebar lebih mahal (diperlukan lebih banyak pintu). kits hendaknya selalu menyadari kemungkinan terjadinya keadaan darurat seperti debit penuh sementara pintu-pintu tertutup.5 m/dt. Bangunan sebaiknya dilindungi dari bahaya seperti itu dengan pelimpah samping di saluran hulu atau kapasitas yang memadai di atas pintu atau alat ukur tambahan dengan mercu setinggi debit rencana (lihat Gambar 4.A}. disarankan untuk membatasi kecepatan di bangunan pengatur sampai kurang lebih 1.3 dan 4. 40 . pengatur berkaitan dengan kehilangan tinggi energi yang diizinkan serta biaya pelaksanaan: bangunan yang lebar menyebabkan sedikit kehilangan tinggi energi dibanding bangunan yang sempit. Guna mengurangi kehilangan tinggi energi dan sekaligus mencegah penggerusan. kehilangan tinggi energi harus tetap kecil: 5 sampai 10 cm.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .04 Lebar bangunan.

KP .04 41 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

bangunan sadap ini lebih dari sekitar 0. Ada tiga tipe bangunan yang dapat dipakai untuk bangunan sadap sekunder. Bila tersedia. kehilangan tinggi energi yang memadai.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . Tipe mana yang akan dipilih bergantung pada ukuran saluran sekunder yang akan diberi air serta besarnya kehilangan tinggi energi yang diizinkan.3 Bangunan Sadap 4.1 Bangunan sadap sekunder Bangunan sadap sekunder akan memberi air ke saluran sekunder dan. Untuk kehilangan tinggi energi kecil. maka alat ukur Crump-de Gruyter merupakan bangunan yang bagus.. dalam hal ini dua atau tiga pintu Romijn dipasang bersebelaham Untuk debit-debit yang lebih besar. 42 . oleh sebab itu.alat ukur Romijn .lebar.9 ms/dt setiap pintu.4 Bangunan pengatur: pintu aliran bawah dengan mercu tetap 4. melayani lebih dari satu petak tersier. harus dipilih pintu sorong yang dilengkapi dengan alat ukur yang terpisah. alat ukur Romijn dipakai hingga debit sebesar 2 m3/dt. yakni : . Kapasitas bangunan.alat ukur Crump-de Gruyter .250 m3/dt.KP . yakni alat ukur ambang.04 Gambar 4. Bangunan ini dapat direncana dengan pintu tunggal atau banyak pintu dengan debit sampai sebesar 0.3.pintu aliran bawah dengan alat ukur ambang lebar.

2 Bangunan sadap tersier Bangunan sadap tersier akan memberi air kepada petak-petak tersier.KP . Hal ini berarti bahwa walaupun mungkin debit terbatas sekali. 43 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . Kapasitas bangunan sadap ini berkisar antara 50 l/dt sampai 250 l/dt. Bangunan sadap yang paling cocok adalah alat ukur Romijn. alat ukur Crump-de Gruyter lebih cocok karma elevasi pengambilannya lebih rendah daripada elevasi pengambilan pintu Romijn. Harga antara debit Qmaks/Qmin untuk alat ukur Crump-de Gruyter lebih kecil daripada harga antara debit untuk pintu Romijn. akan menguntungkan untuk memakai bangunan sadap pipa sederhana dengan pintu sorong sebagai bangunan penutup. Debit maksimum melalui pipa sebaiknya didasarkan pada muka air rencana di saluran primer dan petak tersier. Penggunaan satu tipe bangunan akan lebih mempermudah eksploitasi. Untuk bangunan sadap tersier yang mengambil air dari saluran primer yang besar.3. pemakaian beberapa tipe bangunan sadap tersier sekaligus di satu daerah irigasi tidak disarankan.04 4. jika muka air hulu diatur dengan bangunan pengatur dan jika kehilangan tinggi energi merupakan masalah. maka dapat dipilih alat ukur Crump-de Gruyter. Sebagai aturan umum. di mana pembuatan bangunan pengatur akan sangat mahal dan muka air yang diperlukan di petak tersier rendah dibanding elevasi air selama debit rendah di saluran. Bila kehilangan tinggi energi tidak begitu menjadi masalah dan muka air banyak mengalami fluktuasi. Di saluran irigasi yang harus tetap memberikan air selama debit sangat rendah. petak tersier tetap bisa diairi bila tersedia air di saluran primer pada elevasi yang cukup tinggi untuk mengairi petak tersebut.

2 sampai 5.≤ 0.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .. m/dt2 (≅ 9. m.5.04 5.2). Kecepatan di bangunan pembawa Untuk membatasi biaya pelaksanaan bangunan pembawa subkritis.2 Kelompok Subkritis 5.1) di mana : Fr = bilangan Froude va = kecepatan rata-rata dalam bangunan. (5. Dengan istilah lain. dan (ii) bangunan-bangunan dengan aliran superkritis. m2 B = lebar permukaan air terbuka. Contoh untuk kelompok bangunan pertama adalah gorong-gorong (lihat Gambar 5. Bangunan-bangunan ini bisa dibagi menjadi dua kelompok. bangunan terjun serta got miring.4).8.5 gA / B ….7 dan 5. ada berbagai bangunan yang digunakan untuk membawa air dari satu ruas hulu ke ruas hilir. 5.1 Pendahuluan Dalam saluran terbuka.KP . Kelompok subkritis bangunan pembawa akan dibicarakan dalam pasal 5.8) A = luas aliran. talang (lihat Gambar 5.1).5. yaitu: (i) bangunan-bangunan dengan aliran subkritis. va Fr = ---------.2. BANGUNAN PEMBAWA 5. Untuk menghindari terjadinya gelombang-gelombang tegak di permukaan air dan untuk mencegah agar aliran tidak menjadi kritis akibat berkurangnya kekasaran saluran atau gradien hidrolis yang lebih curam. bangunan terjun dan got miring dalam pasal 5. kecepatan aliran di bangunan tersebut dibuat lebih besar daripada kecepatan di ruas saluran hulu maupun hilir. 44 . flum (lihat Gambar 5.1 Perencanaan Hidrolis a. Contoh untuk kelompok kedua adalah bangunan-bangunan pengukur dan pengatur debit (Bab 2). m/dt g = percepatan gravitasi. maka bilangan Froude dari aliran yang dipercepat tidak boleh lebih dari 0.3) dan sipon (liliat Gambar 5.

m/dt2 (≅ 9. mutu konstruksi dan kehilangan tinggi energi yang ada. m2 P = keliling basah.5. kehilangan energi pada peralihan masuk dan peralihan keluar Δ Hmasuk atau Δ Hkeluar dinyatakan dengan memakai rumusan Borda : 45 .KP . basah. Untuk pipa sipon beraliran penuh.2. m v = kecepatan dalam bangunan.* ---…. m R = jari-jari hidrolis.1) 9 = percepatan gravitasi. Untuk sipon yang relatif pendek. m (A/P) A = luas.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . biasanya kecepatan alirannya kurang dari 2 m/dt.2) C2R 2g C2R di mana : Δ Hf = kehilangan akibat gesekan. m/dt L = panjang bangunan.2.04 Kecepatan aliran rata-rata di saluran pembawa terbuka dapat dihitung dengan persamaan Strickler/Manning. tidak selesai Baja Pasangan batu k (m1/3/dt) 76 70 80 60 5.1 Harga-harga k Bahan Baja Beton Beton..8).2 Kehilangan akibat gesekan Kehilangan energi akibat gesekan dapat dihitung dengan persamaan berikut : v2L 2gL v2 Δ Hf = -----. lebar permukaan air sama dengan nol. Tabel 5. Kecepatan yang diizinkan di dalam pipa diakibatkan oleh optimasi ekonomis bahan konstruksi. jadi bilangan Froude tidak bisa ditentukan. (5.3 Kehilangan energi pada peralihan Untuk peralihan dalam saluran terbuka di mana bilangan Froude aliran yang dipercepat tidak melebihi 0. m1/3/dt (lihat tabel 5. biaya. bentuk kayu. m C = koefisien Chezy (= k R1/6) k = koefisien kekasaran Strickler. 5.= ------.

Aliran penuh demikian Bering diperoleh karena pipa sipon condong ke bawah di belakang peralihan masuk dan condong ke alas lagi menjelang sampai di peralihan keluar.1. lain dengan kehilangan untuk peralihan 46 .4) faktor kehilangan energi yang bergantung kepada bentuk hidrolis peralihan dan apakah kehilangan itu pads peralihan masuk atau keluar kecepatan rata-rata yang dipercepat dalam bangunan pembawa. Di sini ditunjukkan tiga tipe peralihan yang dianjurkan.3) Δ Hkeluar = ∑keluar dimana : ∑masuk’ keluar = va v1. Anjuran ini didasarkan pada kekuatan peralihan.KP . m/dt kecepatan rata-rata di saluran hulu (v1) atau hilir (v2). Faktor-faktor yang diberikan untuk perencanaan-perencanaan ini tidak hanya berlaku untuk gorong-gorong. m/dt Harga-harga faktor kehilangan energi untuk peralihan yang biasa dipakai dengan permukaan air bebas diperlihatkan pads Gambar 5. Kehilangan peralihan masuk dan keluar untuk 'sipon' seperti ini. tetapi juga untuk peralihan talang dan saluran flum pembawa. Jika peralihan itu dibuat dari beton bertulang. dan pertimbanganpertimbangan hidrolik mungkin memainkan peranan penting. maka akan lebih leluasa dalam memilih tipe yang dikehendaki.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . jika bangunan dibuat dari pasangan batu. maka bangunan ini biasa disebut sipon. v2 = = …… (5.04 Δ Hmasuk = ∑masuk dan (va – v1)2 ----------2g (va – v1)2 ----------2g …… (5. atau saluran pipa pads umumnya. Bila permukaan air di sebelah hulu gorong-gorong sedemikian sehingga pipa gorong-gorong itu mengalirkan air secara penuh.

KP .04 47 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP .04 48 .

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04

aliran bebas. Harga-harga ∑masuk dan ∑keluar untuk peralihanperalihan yang biasa digunakan dari saluran trapesium ke pipa, dan sebaliknya, ditunjukkan pada Gambar 5.2. Alasan dianjurkannya penggunaan tipe-tipe tersebut adalah, karena dipandang dari segi konstruksi tipe-tipe itu mudah dibuat dan kuat. 5.2.4 Bagian siku dan tikungan Bagian siku dan tikungan dalam sipon atau pipa menyebabkan perubahan arah aliran dan, sebagai akibatnya, perubahan pembagian kecepatan pada umumnya. Akibat perubahan dalam pembagian kecepatan ini, ada peningkatan tekanan piesometris di luar bagian siku atau tikungan, dan ada penurunan tekanan di dalam. Penurunan ini bisa sedemikian sehingga aliran terpisah dari dinding padat (solid boundary), dan dengan demikian menyebabkan bertambahnya kehilangan tinggi energi akibat turbulensi/olakan (lihat Gambar 5.3}

Gambar 5.3 Peralihan aliran pada bagian siku

Kehilangan'energi pads bagian siku dan tikungan, Δ Hb, yang jumlahnya lebih besar dari kehilangan akibat gesekan (lihat Persamaan 5.2), bisa dinyatakan sebagai fungsi tinggi kecepatan di dalam pipa itu :

Δ Hb

va2 = Kb -----2g

…… (5.5)

di mana Kb adalah koefisien kehilangan energi, yang hargaharganya akan disajikan di bawah ini.

49

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04

Bagian siku Untuk perubahan arah aliran yang mendadak (pada bagian siku), koefisien kehilangan energi Kb ditunjukkan pads Tabel 5.2. Seperti tampak pada Tabel, harga-harga Kb untuk profil persegi ternyata lebih tinggi daripada untuk profil bulat. Hal ini disebabkan oleh pembagian kecepatan yang kurang baik dan turbulensi yang timbul di dalam potongan segi empat.
TabeI 5.2 Harga-harga Kb uniuk bagian siku sebagai fungsi sudut dan potongannya

POTONGAN 5o Bulat 10o 15o 0,02 0,03 0,04 0,05

SUDUT δ 22,5o 30o 45o 60o 75o 90o 0,11 0,24 0,47 0,80 1,1 O14 0,3 0,6 1,0 1,4

Segi empat 0,02 0,04 0,05 0,06

Tikungan Kehilangan energi pada tikungan di dalam saluran pipa tekan (conduit) yang mengalirkan air secara penuh, di samping kehilangan akibat gesekan dalam Persamaan 5.2, dapat dinyatakan sebagai fungsi nilai banding Rb/D, di mana Rb adalah jari-jari tikungan dan D adalah diameter pipa atau tinggi saluran segi empat pada tikungan tersebut. Gambar 5.4a menyajikan hargaharga Kb yang cocok untuk tikungan saluran berdiameter besar dengan tikungan 90°. Gambar tersebut menunjukkan bahwa jika nilai banding Rb/D melebihi 4, maka harga Kb menjadi hampir konstan pada 0,07, jadi, tikungan berjari-jari lebih besar tidak lebih menghemat energi. Untuk tikungan-tikungan yang tidak 90o , harga Kb pada Gambar 5.4a dikoreksi dengan sebuah faktor seperti yang disajikan pada Gambar 5.4b. Harga-harga faktor ini diberikan sebagai fungsi sudut α.

50

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04

5.3

Standar Peralihan Saluran Dinding bengkok sudah sering digunakan sebagai peralihan saluran dengan pertimbangan bahwa, kehilangan masuk dan keluarnya kecil. Akan tetapi, dianjurkan untuk memakai peralihan dinding tegak, karena jenis ini lebih kuat dan pemeliharaannya mudah. Peralihan standar untuk saluran tekan adalah peralihan berdinding vertikal yang berbentuk kuadran silinder atau peralihan dinding melebar bulat dengan sudut dinding kurang dari 45° terhadap as saluran. Gambar 5.5 memperlihatkan standar peralihan-peralihan ini. Geometri peralihan-peralihan tersebut sama, baik untuk bangunan masuk maupun keluar, kecuali bahwa lindungan salurannya diperpanjang sampai ke sisi bangunan keluar untuk melindungi tanggul terhadap erosi. Panjang lindungan ini dan jari-jari lengkung peralihan dihubungkan dengan kedalaman air. Untuk kolam olak diberikan tipe peralihan pada Gambar 5.5d. Kemungkinan-kemungkinan kombinasi adalah sebagai berikut: 55a dengan 55b 55a, dengan 55d untuk bangunan terjun 5.5c dengan 55b 5-5c dengan 55d untuk bangunan terjun

51

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04

Faktor-faktor kehilangan energi (lihat persamaan 5.3 dan 5.4) untuk standar peralihan-peralihan ini adalah : ∑masuk = 0,25 ∑keluar = 0,50, untuk 5.5d ∑keluar = 1,0 Umumnya dengan peralihan-peralihan tipe ini kehilangan tinggi energi menjadi begitu kecil hingga hampir boleh diabaikan. Akan tetapi, untuk menutup kehilangan-kehilangan kecil yang mungkin tcrjadi, seperti yang diakibatkan oleh gesekan pada bangunan, turbulensi akibat celah-celah pintu dan sebagainya, diambil kehilangan tinggi energi minimum 0,05 m di bangunan-bangunan saluran yang membutuhkan peraliham Untuk jembatan-jembatan tanpa pilar tengah, kehilangan minimum tinggi energi ini dapat dikurangi sampai 0,03 m.

5.4

Gorong-gorong 5.4.1 Umum Gorong-gorong adalah bangunan yang dipakai untuk membawa aliran air (saluran irigasi atau pembuang) melewati bawah jalan air lainnya (biasanya saluran bawah jalan, atau jalan kereta api. Gorong-gorong (lihat Gambar 5.6) mempunyai potongan melintang yang lebih kecil daripada luas basah saluran hulu maupun hilir. Sebagian dari potongan melintang mungkin berada di atas muka. air. Dalam hal ini gorong-gorong berfungsi sebagai saluran terbuka dengan aliran bebas. Pada gorong-gorong aliran bebas, benda-benda yang hanyut dapat lewat dengan mudah, tetapi biaya pembuatannya umumnya lebih mahal dibanding gorong-gorong tenggelam. Dalam hal goronggorong tenggelam, seluruh potongan melintang berada di bawah permukaan air. Biaya pelaksanaan lebih murah, tetapi bahaya tersumbat lebih besar.

52

KP .04 53 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

4. Diameter minimum pipa yang dipakai di saluran primer adalah 0.3 Ukuran-ukuran standar Hanya diameter dan panjang standar saja yang mempunyai harga praktis. 54 . 5. Gambar 5.5 m/dt untuk gorong-gorong di saluran irigasi dan 3 m/dt untuk gorong-gorong di saluran pembuang. Untuk ini diperlukan sarana-sarana khusus .7 menyajikan dimensi-dimensi dan detail khusus untuk pipa beton standar.60 m.KP .2 Kecepatan aliran Kecepatan yang dipakai di dalam perencanaan gorong-gorong bergantung pada jumlah kehilangan energi yang ada dan geometri lubang masuk dan keluar. 5. Untuk tujuan-tujuan perencanaan.04 Karena alasan-alasan pelaksanaan. kecepatan diambil : 1.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . harus dibedakan antara goronggorong pembuang silang dan gorong-gorong jalan : . semua bentuk kebocoran harus dicegah.gorong-gorong jalan harus mampu menahan berat beban kendaraan.pada gorong-gorong pembuang silang.4.

04 55 .KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

04 56 .KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

Gambar 5.6) 57 .60 m.4. Seandainya sekat penyambung ini tidak ada. maka semua gorong-gorong di bawah saluran harus disambung dengan beton tumbuk atau pasangan.KP .04 5.. 5.4..8 menyajikan contoh tipe gorong-gorong yang telah dijelaskan di atas.5 Gorong-gorong segi empat Gorong-gorong segi empat dibuat dari beton bertulang atau dari pasangan batu dengan pelat beton bertulang sebagai penutup.4 dapat dianggap sebagai mendekati benar untuk rumus: Q = µA 2 gz .6 Kehilangan tinggi energi untuk gorong-gorong yang mengalir penuh Untuk gorong-gorong pendek (L < 20 m) seperti yang biasa direncana dalam jaringan irigasi. Gambar 5. Gorong-gorong tipe pertama terutama digunakan untuk debit yang besar atau bila yang dipentingkan adalah gorong-gorong yang kedap air. yaitu dengan ring penyekat dari karet.. dengan minimum 0.4. Gorong-gorong dari pasangan batu dengan pelat beton bertulang sangat kuat dan pembuatannya mudah. gorong-gorong ini sangat ideal. Gorong-gorong pembuang yang dipasang di bawah saluran irigasi harus memakai penyambung yang kedap air.. harga-harga m seperti yang diberikan pada tabel 5.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .4 Penutup minimum Penutup di atas gorong-gorong pipa di bawah jalan atau tanggul yang menahan berat kendaraaan harus paling tidak sama dengan diameternya.8 Gorong-gorong segi empat 5.(5. Khususnya untuk tempat-tempat terpencil.

m v = kecepatan aliran dalam pipa.72 bulat segi empat 0.76 bulat bulat 0. m untuk pipa dengan diameter D: R = 1/4 D L = panjang pipa. m/dt (≅ 9.v)2 = ∑masuk ---------2g …. (5. m 2 percepatan gravitasi. (5.3) 2 luas pipa. m 3 Tabel 5. (5.80 bulat 0..8) kehilangan tinggi energi pada gorong-gorong.v)2 = ∑keluar --------2g ….8) di mana : C = kR1/6.04 dimana : Q = μ = A = g = z = debit.3 Harga-hargap dalam gorong-gorong pendek Tinggi dasar di bangunan sama dengan di saluran Sisi µ segi empat 0. m /dt koefisien debit (lihat Tabel 5.7) v2L v2 Δ Hf = Cf ----.90 Tinggi dasar di bangunan lebih tinggi daripada di saluran Ambang Sisi µ segi empat segi empat 0.9) Gambar 5.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP . m/dt kehilangan keluar : Δ Hkeluar (va . m/dt va = kecepatan aliran dalam saluran.2 memberikan harga-harga untuk ∑masuk dan ∑keluar untuk berbagai bentuk geometri peralihan. kehilangan tinggi energi berikut dapat diambil : Kehilangan masuk : Δ Hmasuk Kehilangan akibat gesekan : (va . k adalah koefisien kekasaran Strickler (k = 1/n = 70 untuk pipa beton) R = jari-jari hidrolis..85 Untuk gorong-gorong yang lebih panjang dari 20 m atau ditempattempat di mana diperlukan perhitungan yang lebih teliti. 58 .= ------2g C2R ….

Pemasangan sipon (yang panjangnya lebih dari 100 m) memerlukan seorang ahli mekanik dan hidrolik.60 m untuk memungkinkan pembersihan dan inspeksi. kehilangan pada bagian siku sipon serta kehilangan pada peralihan keluar. maka mulut pipa ditutup dengan kisi-kisi penyaring (trashrack).9) adalah bangunan yang membawa air melewati bawah saluran lain (biasanya pembuang) atau jalan. Walaupun debit tidak diatur. Agar pipa sipon tidak tersumbat dan tidak ada orang atau binatang yang masuk secara kebetulan. rangkap (double barrels) guna menghindari kehilangan yang lebih besar di dalam sipon jika bangunan itu tidak mengalirkan air pada debit reneana. Biasanya pipa sipon dikombinasi dengan pelimpah tepat di sebelah hulu agar air tidak meluap di atas tanggul saluran hulu.5.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . Sipon yang panjangnya lebih dari 100 m harus dipasang dengan lubang periksa (manhole) dan pintu pembuang.5. Di saluran-saluran yang lebih besar. bangunan ini tidak akan dipakai dalam pembuang. kehilangan akibat gesekan. Pipa rangkap juga menguntungkan dari segi pemeliharaan dan mengurangi biaya pelaksanaan bangunan. Diameter minimum sipon adalah 0. ada kemungkinan bahwa pembuang mengangkut lebih banyak benda-benda hanyut. kehilangan pada peralihan masuk.1 Umum Sipon (Gambar 5. 59 . Pada sipon air mengalir karena tekanan. Perencanaan hidrolis sipon harus mempertimbangkan kecepatan aliran.KP . sipon dibuat dengan pipa.5 Sipon 5. Karena sipon hanya memiliki sedikit fleksibilitas dalam mengangkut lebih banyak air daripada yang direncana.7). jika situasi memungkinkan. khususnya untuk jembatan sipon (lihat pasal 5.04 5.

1 Δ hv < air perapat < 1. Oleh sebab itu keseimbangan antara kecepatan yang tinggi dan kehilangan tinggi energi yang diizinkan harus tetap dijaga. 5. 5.5. saluran.45 m. pada umumnya : 1.kehilagan masuk .5.3 Perapat pada lubang masuk pipa Bagian atas lubang pipa berada sedikit di bawah permukaaan air normal. Ini akan mengurangi kemungkinan berkurangnya kapasitas sipon akibat masuknya udara ke dalam sipon. lebih disukai lagi kalau tidak kurang dari 1.15 m) di mana : Δ hv = beda.5.04 5.5 m/dt Kecepatan maksimum sebaiknya jidak melebihi 3 m.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP .2. 60 . Kedalaman tenggelamnya bagian atas lubang sipon disebut air perapat (water seal).kehilangan pada. siku .kehilangan keluar. Kehilangan-kehilangan ini dapat dihitung dengan kriteria yang diberikan dalam pasal 5.5 Δ hv (sekitar 0.2 Kecepatan aliran Untuk mencegah sedimentasi kecepatan aliran dalam sipon harus tinggi. tinggi kecepatan pada pemasukan. Tetapi.4 Kehilangan tinggi energi Kehilangan tinggi energi pada sipon terdiri dari : . Tinggi air perapat bergantung kepada kemiringan dan ukuran sipon. Kecepatan aliran dalam sipon harus dua kali lebih tinggi dari kecepatan normal aliran dalam. dan tidak boleh kurang dari 1 m/dt. minimum 0./dt.kehilangan akibat gesekan . kecepatan yang tinggi menyebabkan bertambahnya kehilangan tinggi energi.

KP .04 61 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

dan 2g c = β ⎢ − ⎥ 4/3 sin δ ⎢ ⎥ ⎢b ⎦ ⎥ ⎣ ⎡s ⎤ .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . dan 1... m/dt percepatan gravitasi.8) koefisien berdasarkan : β = faktor bentuk (2. m kecepatan melalui kisi-kisi.10) harus dipasang pada bukaan/lubang masuk bangunan di mana benda-benda yang menyumbat menimbulkan akibat-akibat yang serius. m δ = sudut kemiringan dari bidang horisontal.KP . m/dt2 (≅ 9. Jeruji tegak dipilih agar bisa dibersihkan dengan penggaruk (rake) Kehilangan tinggi energi pada kisi-kisi penyaring dihitung dengan: v2 Hf = c ----.5. misalnya pada sipon.11) dimana : hf v g c = = = = kehilangan tinggi energi. Kisi-kisi penyaring dibuat dari jeruji-jeruji baja dan mencakup seluruh bukaan.04 5.… (5.10) ….8 untuk jeruji bulat) s = tebal jeruji. 62 .4 untuk segi empat. m b = jarak bersih antarjeruji.dan gorong-gorong yang panjang.5 Kisi-kisi penyaring Kisi-kisi penyaring (lihat Gambar 5. (5.

04 63 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP .

Flum dibuat dari kayu. Oleh sebab itu harus dibuat sambungan ekspansi.6. Untuk debit kecil. harus dipakai hargaharga ruang bebas berikut : .KP . seperti kemiringan. agradasi atau degradasi.04 5. baja atau beton.3. bendabenda hanyut.03 Saluran. Ekspansi baja lebih besar dari bahan-bahan lainnya. kecepatan dan faktor-faktor lain. Flum baja atau beton dipakai sebagai talang.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . Flum merupakan saluran tertutup jika dipakai sebagai jembatan jalan. petani Bering menggunakan flum kayu.pembuang intern Q5 + 0.5 Bahan Pipa-pipa baja sering digunakan untuk talang kecil karena mudah dipasang dan sangat kuat. Untuk debit-debit yang besar. pipa-pipa ini lebih ekonomis daripada tipe-tipe bangunan atau bahan lainnya. 64 . Untuk talang yang melintas sungai atau pembuang.sungai: Q25 + ruang bebas bergantung kepada keputusan perencana.50 m . Tetapi baja memiliki satu ciri khas yang harus mendapat. Sambungan ekspansi hanya dapat dibuat di satu sisi saja atau di tengah pipa. lebih disukai flum beton.00 m . tapi tidak kurang dari 1.6.6 Saluran Pasangan. Kedua tipe bangunan tcrsebut dapat berfungsi ganda jika dipakai sebagai jembatan orang (baja) atau kendaraan (beton). bergantung kepada bentang dan jumlah titik dukung (bearing point). 5.pembuang ekstern Q25 + 1.50 m. Hargaharga tinggi jagaan dapat diambil dari KP . perhatian khusus : baja mengembang (eksponsi) jika kena panas. Perencana akan mendasarkan pilihannya pads karakteristik sungai yang akan dilintasi. Untuk menyeberangkan air lewat saluran pembuang atau irigasi yang lain. Pipa-pipa terpendam tidak begitu memerlukan sarana-sarana semacam ini karena variasi temperatur lebih kecil dibanding untuk pipa-pipa di udara terbuka.4 Tinggi jagaan Tinggi jagaan untuk air yang mengalir dalam talang atau flum didasarkan pada debit. pasal 4.

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . yaitu bagian di mana aliran menjadi superkritis. bagian tepat di sebelah hilir potongan U dalam Gambar 5. bagian peralihan saluran memerlukan lindungan untuk mencegah erosi. dan lebar bagian pengontrol. Hubungan tinggi energi yang memakai ambang sebagai acuan (h1) dengan debit (Q) pada pengontrol ini bergantung pada ketinggian ambang (p1 ). 5.7. Bangunan semacam ini mempunyai empat bagian fungsional. aliran di atas ambang dikontrol. ini.13).1 Umum Bangunan terjun atau got miring diperlukan jika kemiringan permukaan tanah lebih curam daripada kemiringan maksimum saluran yang diizinkan.2 Bagian pengontrol Pada bagian pertama dari bangunan ini. 65 .7 Bangunan Terjun 5. bagian di mana air dialirkan ke elevasi yang lebih rendah. potongari memanjang mercu bangunan. bagian hulu pengontrol.04 5.7. 3. 2. yaitu tempat di mans energi diredam.13. 4. masing-masing memiliki sifat-sifat perencanaan yang khan (lihat Gambar 5. kedalaman bagian pengontrol yang tegak lurus terhadap aliran.KP . 1.

KP .04 66 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . Pada grafik yang sama harus diberikan plot debit versus kedalaman air saluran hula. bangunan pengatur mercu bulat (Pasal 3. Keuntungan dari penggabungan semacam ini adalah bahwa bangunan pengontrol tidak menyebabkan kurve pengempangan (dan sedimentasi) atau menurunnya muka air (dan erosi) di saluran hulu.KP . kurve Q-hi dapat diplot pada grafik.4) dan bangunan celah pengontrol trapesium (Pasal 3. Pada waktu menentukan bagian pengontrol. kedua kurve dapat dibuat untuk bisa digabung dengan harga-antara umum aliran di saluran tersebut.5). seperti yang ditunjukkan pada Gambar 514. 67 .3). Dengan cars menganekaragamkan harga-harga pengontrol.04 Bangunan-bangtinan pengontrol yang mungkin adalah alas ukur ambang lebar atau flum leher panjang (Pasal 2.

04 5. Sisa tinggi energi jauh dari perbandingan Δ Z/H1. m Δ H = perubahan tinggi energi pada bangunan. Akibat luapan dan turbulensi (pusaran air) di dalam kolam di bawah tirai luapan. m Hd = tinggi energi hilir pada kolam olak. Perencanaan hidrolis bangunan dipengaruhi oleh besaran-besaran berikut : H1 = tinggi energi di muka ambang.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . m/dt2 (≈ 9. Energi selebihnya akan diredam di belakang potongan U. Bangunan terjun tegak sebaiknya tidak dipakai apabila perubahan tinggi energi di atas bangunan melebihi 1.KP . dan kurang lebih sama dengan 1. Dengan bangunan terjun tegak. Juga kemampuan hidrolisnya dapat berkurang akibat variasi di tempat jatuhnya pancaran di lantai kolam jika terjadi perubahan debit. m. luapan yang jatuh bebas akan mengenai lantai kolam dan bergerak ke hilir pads potongan U (lihat Gambar 5.13).67H1 (lihat Persamaan 5.50 m. m2/dt g = percepatan gravitas. sebagian dari energi diredam di depan potongan U.3 Bangunan terjun tegak Bangunan terjun tegak menjadi lebih besar apabila ketinggiannya ditambah.13). Harga Hd ini dapat dipakai untuk menentukan Δ Z untuk sebuah bangunan terjun tegak dan Persamaan 5.12. 68 . m q = debit per satuan lebar ambang.8) n = tinggi ambang pada ujung kolam olak.7.

15) Aliran pada potongan U kemudian dapat dibedakan sifatnya dengan bilangan Froude tak berdimensi: vu Fru = ------gy u …. bahwa : Hd ≅ 1.67 H1 ….12) Untuk perkiraan awal Hd.1 ditunjukkan yd dan Lp.04 Besaran-besaran ini dapat digabung untuk membuat perkiraan awal tinggi bangunan terjun : Δ Z = ( Δ H + Hd) – H1 ….. 69 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .14) dan selanjutnya : yu = q/vu …. (5.16) Geometri bangunan terjun tegak dengan perbandingan panjang yd/ Δ z dan Lp/ Δ z kini dapat dihitung dari Gambar 5. (5.. (5. (5.13) Kemudian kecepatan aliran pada potongan U dapat diperkirakan dengan : vu = 2 gΔ Z …. boleh diandaikan. (5.KP .15 Pada Gambar 5.

7. Jika peralihan ujung runcing dipakai di antara permukaan pengontrol dan permukaan belakang (hilir). disaranka untuk memakai kemiringan yang tidak lebih curam dari 1:2 (lihat Gambar 5.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . yang menghantar air ke dasar kolam olak.KP . 70 . khususnya jika tinggi jituh melebihi 1. adalah praktek perencanaan yang umum.16).4 Bangunan terjun miring Permukaan miring. Pada bangunan terjun.04 5. kemiringan permukaan I-elakang dibuat securam mungkin dan relatif pendek.5 m.

Lampiran 2.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . Tinggi energi Hu pada luapan yang masuk kolam pada potongan U mempunyai harga yang jauh lebih tinggi jika digunakan permukaan hilir yang miring.8 Got Miring Aliran dalam got miring (lihat Gambar 517) adalah superkritis dan bagian peralihannya harus licin dan berangsur agar tidak terjadi gelombang.KP . mungkin dapat ditentukan dengan menggunakan Tabel A. yang dapat digunakan untuk perencanaan kolam di belakang potongan U.16). dibandingkan apabila luapan jatuh bebas seperti pada bangunan terjun tegak.04 Alasannya adalah untuk mencegah pemisahan aliran pada sudut miring. Harga-harga yu dan Hd. sudut runcing harus diganti dengan kurve peralihan dengan jari-jari r ≈ 0. peredaman energi menjadi jauh berkurang akibat gesekan dan aliran turbulensi di atas permukaan yang miring.6. energi diredam karena terjadinya benturan luapan dengan lantai kolam dan karena pusaran turbulensi air di dalam kolam di bawah tirai luapan. Gelombang ini bisa menimbulkan masalah di dalam potongan got miring dan kolam olak karena gelombang sulit diredam. Dengan bangunan terjun miring.5 H1maks (lihat Gambar 5. Jika diperiukan kemiringan yang lebih curam. 71 .2. 5. Sebabnya ialah bahwa dengan bangunan terjun tegak.

Kotangen sudut lentur permukaan air (α) tidak boleh kurang dari 3.375 kali bilangan Froude aliran (Bila kriteria ini tidak berhasil mengontrol pelenturan. maka pelenturan maksimum sebaiknya 30o pada peralihan masuk dan 25° pada peralihan keluar) : Fr = d g K v θ = = = = = bilangan Froude di pangkal dan ujung peralihan luas potongan luas potongan dengan satuan m lebar-atas potongan percepatan gravitasi. untuk lantai peralihan pada satu bidang (tidak perlu horisontal) . 72 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . m/dt2 ( ≅ 9.8.1 Peralihan USBR (1978) menganjurkan agar aturan-aturan berikut diikuti dalam perencanaan geometric bagian Peralihan (masuk dan keluar) : 1.8) faktor percepatan kecepatan aliran pada titik yang bersangkutan. m/dt sudut kemiringan lantai pada titik yang bersangkutan. tergantung pada lengkung lantai : K = 0.04 5. U untuk lantai peralihan pada kurve parabola.KP . Faktor percepatan K dapat mempunyai harga-harga berikut.

8) Lt = papjang peralihan. m.04 Dalam rumus di atas : hv = tinggi kecepatan pada pangkal (permulaan) kurve.KP . m/dt θ = kemiringan sudut lantai θL = kemiringan sudut lantai di ujung (akhir) kurve θ0 = kemiringan sudut lantai pada pangkal kurve g = percepatan gravitasi.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . m/dt2 (≅ 9. 73 . m r = jari-jari lengkung lantai. m v = kecepatan pada titik yang bersangkutan.

04 74 .KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

maka potongan dengan dasar berbentuk segi tiga dan dinding vertikal dapat dipilih.04 USBR membatasi harga K sampai dengan maksimum 0. hf. (5. 5. boleh diabaikan untuk got miring yang panjangnya kurang dari 10 m. …. Kehilangan energi karena gesekan hf sama dengan sudut gesekan rata-rata Sa pada ruas kali panjangnya L. m. m d2 = kedalaman di ujung hilir kolam.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . Dengan rumus Manning/Strickler.. m.8. (5. Tetapi andai kata ada bahaya terjadinya aliran yang tidak stabil dan timbulnya gelombang.21) di mana : d1 = kedalaman di ujung hulu kolam. Kehilangan energi akibat gesekan. Potongan biasa untuk bagian miring bangunan ini adalah segi empat. m hf = kehilangan energi akibat gesekan pada ruas. Persamaan tersebut harus dicoba dulu : d1 + hv1 + Z1 = d2 + hv2 + hf + Z2. m/dt k = koefisien kekasaran. 2. m Z1 = jarak bidang referensi.22) 75 . sudut gesekan tersebut adalah: v2 if = ------k2R4/3 di mana : v = kecepatan. Peralihan masuk nonsimetris dan perubahan-perubahan pada trase tepat di depan bangunan harus dihindari karena hal-hal tersebut bisa mengakibatkan terjadinya gelombanggelombang silang di dalam got miring dan arus deras di dalam kolam olak. m hv2 = tinggi kecepatan di ujung hilir...2 Bangunan pembawa Persamaan Bernoulli's dipakai untuk menghitung perubahan aliran di dasar got miring. m Z2 = jarak bidang referensi.5 untuk menjamin agar tekanan positif pada lantai tetap ada.KP . m hv1 = tinggi kecepatan di ujung hulu. ml/3/dt R = jari-jari hidrolis. ….

Jika kemiringan got miring ini kurang dari 1:2.4 kali kedalaman kritis di dalam potongan got miring ditambah dengan tinggi jagaan. maka mungkin volume air tersebut bertambah akibat penghisapan udara oleh air. 76 .40 Q > 17. Diperlukan kurve vertikal di antara potongan got miring dan potongan berkemiringan curam tersebut.20). yang mans saja yang lebih besar.5 0. Peninggian dinding dalam situasi ini termasuk persyaratan yang harus dipenuhi.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .4 kali kedalaman kritis. USBR menganjurkan penggunaan kurve parabola untuk peralihan ini karena kurve ini akan menghasilkan harga K yang konstan.50 Bila kecepatan di dalam got miring lebih dari 9 m/dt. di samping persyaratan bahwa kedalaman air tidak boleh kurang dari 0. Tabel 5. Kemiringan potongan curam ini sebaiknya antara 1:1 dan 1:2. untuk mana K = 0.0 0.30 3.4 Tinggi minimum untuk got miring (dari USBR.04 Tinggi dinding got miring yang dianjurkan sama dengan kedalaman maksimum ditambah dengan tinggi jagaan (lihat Tabel 5.4) atau 0. 1973) Kapasitas (ms/dt) Tinggi jagaan (m) Q < 3.5 atau kurang.5 < Q < 17.KP .0 0. maka bagian potongan curam yang pendek harus dibuat untuk menghubungkannya dengan kolam olak. Persamaan berikut dapat menjelaskan kurve parabola yang dimaksud : Panjang Lt harus dipilih dengan bantuan persamaan (5.

ini harus dicek dengan cars menghitung bilangan ‘Vedernikov'(V} : Harga-harga yang dihitung diplot pada Gambar 5.18a. kemiringan atau lebarnya harus diubah.8. maka kalau mungkin panjang.04 5. 77 .18b. Gelombang akan timbul hanya apabila titik-titik itu terletak di dalam daerah getar di kedua gambar. Jika titiknya terletak di daerah aliran getar.3 Aliran tidak stabil Pada got miring yang panjang ada bahaya timbuinya ketidakstabilan dalam aliran yang disebut aliran getar (slug/pulsating flow).Apabila hal ini tidak mungkin.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . maka faktor bentuk d/P dihitung dan diplot pada Gambar 5. Jika memang demikian haluya. Bila got miring itu panjangnya lebih dari 30 m. maka harus disediakan longgaran khusus untuk aliran deras di dalam kolam olak dengan menggunakan tinggi jagaan tambahan dan mungkin alas peredam gelombang (wave suppressor).KP .

KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .04 78 .

7 tidak diperlukan kolam olak. Kolam loncat air yang sama dengan tangga di bagian ujungnya akan jauh lebih panjang dan mungkin harus digunakan dengan pasangan batu.5 < Fru < 4. (2) Bila 1. Tetapi pada prakteknya akan lebih baik untuk tidak merencanakan kolam olak jika 2. Pada umumnya kolam olak dengan ambang ujung mampu bekerja dengan baik.5 maka kolam olak diperlukan untuk meredam. Tipe ini termasuk kolam olak USBR tipe III yang dilengkapi dengan blok depan dan blok halang.04 6. enerki secara efektif. Untuk penurunan maka air Δ Z < 1.5 < Fru < 4. Blok ini harus berukuran besar (USBR tipe IV). Berdasarkan bilangan Froude.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .7 < Fru < 2.KP .5. (4) Kalau Fru ≥ 4. (3) Jika 2. yang dinyatakan dengan bilangan Froude.5 ini akan merupakan kolam yang paling ekonomis. pada saluran tanah. karena kolam ini pendek. dapat dibuat pengelompokan berikut dalam perencanaan kolam : pengelompokan- (1) Untuk Fru ≤ 1.5 m dapat dipakai bangunan terjun tegak. dan pada bahan konstruksi kolam olak. 79 .5 maka akan timbal situasi yang paling sulit dalam memilih kolam olak yang tepat. Loncatan air tidak terbentuk dengan baik dan menimbulkan gelombang sampai jarak yang jauh di saluran. Sebaiknya geometrinya diubah untuk memperbesar atau memperkecil bilangan Froude dan memakai kolam dari kategori lain. KOLAM OLAK 6. saluran pasangan batu atau beton tidak memerlukan lindungan khusus. Cara mengatasinya adalah mengusahakan agar kolam olak untuk bilangan Froude ini mampu menimbulkan olakan (turbulensi) yang tinggi dengan blok halangnya atau menambah intensitas pusaran dengan pemasangan blok depan kolam.1 Umum Tipe kolam olak yang akan direncana di sebelah hilir bangunan bergantung pada energi air yang masuk. bagian hilir harus dilindungi dari bahaya erosi.

2. kedalaman air masuk (yu).2 Kolam loncat air Panjang kolam loncat air di sebelah hilir potongan U (Gambar 5. dan fungsi kedalaman air hilir.1) di sebelah hilir potongan U. 80 .15) kurang dari panjang loncatan tersebut akibat pemakaian ambang ujung (end sill). Tinggi yang diperlukan untuk ambang ujung ini sebagai fungsi bilangan Froude (Fru).KP . 6.04 Gambar 6.14 dan 5. (6. Ambang pemantap aliran ini ditempatkan pada jarak : Lj = 5 (n + y2) …. dapat ditentukan dari Gambar 6.1 menyajikan diagram untuk pemilihan bangunan peredam energi di saluran.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

KP . maka ada dua tipe kolam olak yang dapat dipakai. 6. yaitu : 81 . Dari rumusnya. tetapi oleh karakteristik aliran saluran hilir. Apabila karakteristik ini sedemikian sehingga dihasilkan y2 yang diperlukan. maka akan terjadi loncatan di dalam kolam jika tidak langkah-langkah tambahan. bilangan Froude dapat ditambah dengan cara sebagai berikut : dengan menambah kecepatan v atau mengurangi kedalaman air.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . Bila pendekatan di atas tidak mungkin. Keduanya dihubungkan lewat debit per satuan lebar q.5 Pendekatan yang dianjurkan dalam merencanakan kolam olak untuk besaran bilangan Froude di atas adalah menambah atau mengurangi (tetapi lebih baik menambah) bilangan Froude hingga melebihi besarnya besaran tersebut.3 Kolam Olak untuk Bilangan Froude antara 2. y2. y.04 Pada waktu mengukur kolam. yang bisa ditambah dengan cara mengurangi lebar bangunan (q = Q/B).5 dan 4. adalah penting untuk menyadari bahwa kedalaman air hilir. disebabkan bukannya oleh bangunan terjun. seperti misalnya menurunkan lantai kolam dan meninggikan ambang ujung. harus diambil untuk menjamin peredaman energi secara memadai.

pembuatan blok halang memerlukan beton tulangan. Gambar 6.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .1 kali yd: y2 + n ≥ 1. 82 . 1954). Panjang kolam. L. 1973.04 (1) Kolam olak USBR tipe IV. yang ukurannya ditunjukkan pads Gambar 6. Juga.4. Kelemahan besar kolam ini adalah bahwa pads bangunan ini semua benda yang mengapung dan melayang dapat tersangkut.3. dapat diketemukan dari : Kedalaman minimum air hilir adalah 1.3 Dimensi Kolam Olak Tipe IV (USBR. Hal ini menyebabkan meluapnya kolam dan rusaknya blok-blok halang. 1973) (2) Kolam olak tipe-blok-halang (baffle-block-type basin (Donnelly and Blaisdell.1 yd menurut USBR. dilengkapi dengan blok muka yang besar yang membantu memperkuat pusaran. Tipe kolam ini bersama-sama dengan dimensinya ditunjukkan pads Gambar 6.KP .

Apabila penggunaan blok halang dan blok muka tidak layak (karena bangunan itu dibuat dari pasangan batu) kolam harus direncana sebagai kolam loncat air dengan ambang ujung (lihat pasal 62).04 Gambar 6.. Kolam ini akan menjadi panjang tetapi dangkal.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP . 83 . 1984) 6. Kolam olak USBR tipe III khusus dikembangkan untuk bilangan-bilangan itu.4 Dimensi kolam olak tipe-blok-halang (Bos.5 loncatan airnya bisa mantap dan peredaman energi dapat dicapai dengan baik.4 Kolam Olak untuk Bilangan Froude > 4. Pada Gambar 65 ditunjukkan dimensi-dimensi dasar kolam olak USBR tipe III.5 Untuk bilangan-bilangan Froude di atas 4. Replogle and Clemmens.

6 khusus dikembangkan untuk bangunan terjun di saluran irigasi.8 dan 12.04 6. 2.0.5.50 m. Batas-batas yang diberikan untuk z/hc 0.8. 2.0 dan 15. 84 .5 Kolam Vlugter Kolam olak pada Gambar 6.6 memberikan data-data perencanaan yang diperlukan untuk kolam Vlugter. Kolam Vlugter bisa dipakai sampai beda tinggi energi z tidak k-bih dari 4. Bilangan-bilangan Froude itu diambil pada kedalaman z di bawah tinggi energi hulu. Gambar 6.KP .0 dihubungkan dengan bilangan Froude 1. bukan pada lantai kolam seperti untuk kolam loncat air.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

6 Lindungan dari Pasangan Batu Kosong Untuk mencegah terjadinya penggerusan saluran di sebelah hilir bangunan peredam energi. Gambar ini dapat dimasukkan dengan kecepatan rata-rata di atas ambang kolam. atau lebih besar.KP . Ini berarti bahwa 60% dari pasangan batu tersebu harus terdiri campuran dari batu-batu yang berukuran sama. Jika kolam olak tidak diperlukan karena Fru ≤ 1.7 memberikan ukuran d40 campuran pasangan batu kosong.7 harus menggunakan kecepatan benturan (impact velocity) vu : Gambar 6. (3) tidak kurang dari 1.7. maka diameter batu yang akan dipakai untuk pasangan ini dapat ditentukan dengan menggunakan Gambar 6. Panjang lindungan harus dibuat sebagai berikut : (1) tidak kurang dari 4 kali kedalaman normal maksimum di saluran hilir.7. (2) tidak lebih pendek dari peralihan tanah yang terletak antara bangunan dan saluran.04 6. maka Gambar 6.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . saluran sebaiknya dilindungi dengan pasangan batu kosong atau lining. 85 . Jika dipakai pasangan batu kosong.50 m.

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .04 6.1 Perencanaan filter Semua pasangan batu kosong harus ditempatkan pada filter untuk mencegah hilangnya bahan dasar yang halus. Gambar 6. Filter terdiri dari lapisan-lapisan bahan khusus seperti ditunjukkan pada Gambar 6.8.6. atau dapat juga dibuat dari ijuk atau kain sintetis.8 Contoh filter di antara pasangan batu kosong dan bahan asli (tanah dasar) 86 .KP .

04 Lapisan-lapisan filter sebaiknya direncana menurut aturan-aturan berikut : (1) Permeabilitas (USBR.5 sampai 2 kali diameter batu yang terbesar. Kerikil 0.20 m 3.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .05 sampai 0. 87 . Batu 1. 1940) Kemantapan. 1973) : (1) Kemantapan/stabilitas. Pasir. nilai banding d15/d85 (Bertram.10 sampai 0. kerikil halus 0. nilai banding d50/d50 (US Army Corps of Engineers. 1955) : Ketebalan-ketebalan berikut harus dianggap minimum untuk sebuah konstruksi filter yang dibuat pada kondisi kering: 1.10 m 2.KP .

ditambah dengan debit maksimum yang dapat dilimpahkan. (2) Sipon pelimpah (siphon spillway) memiliki kapasitas yang besar untuk besaran muka air yang cukup konstan. Tinggi muka air yang merupakan dasar kerja bangunan pelimpah adalah faktor yang sudah tertentu di dalam percncanaan. 88 . (4) Bangunan pembuang silaric. Debit rencana harus sebesar 50% dari kapasitas maksimum bangunan di sebelah hilir pelimpah tersebut. Kapasitas bangunan saluran dibatas sampai sekitar 120% dari debit rencana. Bangunan pelimpah harus direncana untuk tinggi muka air maksimum tertentu di saluran yang akan dilindungi. di bawah atau ke dalam saluran. sedangkan bangunan pelimpah bekerja otomatis. Pada umumnya bangunan penguras berupa pintu yang dioperasikan dengan tangan. Bangunan penguras (wasteway) dipakai untuk mengosongkan seluruh ruas saluran. digerakkan oleh tinggi muka air. bangunan yang rclatif murah. Kapasitas bangunan pelimpah harus cukup untuk mengalirkan seluruh air lebih yang berasal dari banjir atau kesalahan eksploitasi tanpa mcnyebabkan naiknya tinggi muka air di saluran yang akan mernbahayakan tanggul (meluap).04 7. (3) Pintu otomatis mempertahankan tinggi muka air tetap untuk debit yang bervariasi. dibangun di tanggul saluran untuk membuang air lebih. (1) Saluran pelimpah (overflow spillway). untuk mengalirkan air buangan dengan aman lewat di atas. Kadang-kadang untuk menghemat biaya. Jika bangunan dapat sepenuhnya diblokir.KP . BANGUNAN LINDUNG 7.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . bilamana hal ini diperlukan. sebaiknya debit rencananya diambil 120% dari Q rencana. Keadaan-keadaan darurat yang mungkin timbul harus dianalisis dan akibat-akihat tidak berfungsinya bangunan dan peluapan harus pula ditinjau.1 Umum Kelompok bangunan ini dipakai untuk melindungi saluran dan bangunan terhadap kerusakan yang diakibatkan olch jumlah air yang berlebihan. Debit rencana untuk bangunan pelimpah harus diperhitungkan dengan hati-hati berdasarkan keadaan di lapangan. bangunan ini digabung dengan bangunan pelimpah. Lindungan ini bisa dicapai dengan beberapa tipe bangunan yang memerlukan persyaratan yang berbeda-beda.

04 7.2 Saluran pelimpah Bangunan ini dapat dengan relatif mudah dibuat di tepi saluran dan selanjutnya disebut pelimpah samping.KP . maka bangunan ini disebut pelimpah corong/morning glory spillway (Gambar 7. kemudian dikombinasi dengan bangunan pembuang silang. karena pertambahan tinggi energi yang kecil saja di alas mercu panjang saluran pelimpah akan sangat .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .nemperbesar kapasitas debit. Bila bangunan ini dibuat di tengah saluran.1} Saluran pelimpah akan menguntungkan sekali jika jumlah air yang akan dilimpahkan tidak diketahui dengan pasti. 89 .

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .04 7. 1954) seperti yang diperlihatkan pada Gambar 72 Ada dua metode perencanaan pelimpah samping yang umum digunakan. Jenis aliran demikian disebut "aliran tak tetap berubah berangsur" (gradually varied flow} Pada dasarnya aliran dengan debit yang menurun dapat dianggap sebagai cabang aliran di mans air yang dibelokkan tidak mempengaruhi tinggi energi. ada empat jenis aliran (Schmidt. yaitu : metode bilangan dan metode grafik.2. Bergantung kepada kondisi aliran di atau dekat lubang/pintu masuk pelimpah. persamaan kontinyuitas untuk aliran mantap yang kontinyu (terus menerus) tidak berlaku. Keduanya akan dijelaskan di bawah ini 90 .1 Perencanaan panjang saluran Debit di saluran pelimpah samping tidak seragam dan.KP . Hal ini telah dibuktikan kebenarannya baik dengan teori maupun eksperimen. oleh karena itu.

04 91 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP .

di mana Qx adalah debit Qo potongan hilir ditambah debit qx.Dengan H0 = h0 + v02/2g tinggi energi di ujung pelimpah dapat dihitung. Dengan mengandaikan bahwa aliran adalah subkritis. panjang bangunan pelimpah dapat dihitung sebagai berikut : 1.04 7. Pada jarak Δ x di ujung hulu dan hilir bangunan pelimpah tinggi energi juga H0.KP . yang mengalir pada potongan pelimpah dengan panjang Δ x. Di dekat ujung bangunan pelimpah.2. 92 . kedalaman aliran h0 dan debit Q0 sama dengan kedalaman dan debit potongan saluran di belakang pelimpah .3). karena sudah diandaikan bahwa tinggi energi di sepanjang pelimpah adalah konstan.3 Sketsa deftnisi untuk saluran dengan pelimpah samping 2.2 Metode Bilangan Metode ini didasarkan pada pemecahan masalah secara analitis yang diberikan oleh De Marchi (lihat gambar 7. Gambar 7.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

Kondisi aliran superkritis tidak diizinkan dalam saluran pembawa dan pembuang yang rawan erosi.(2). kedalaman air h2x dan debit Q2x akan dihitung untuk suatu potongan pada jarak 2 Δ x di depan ujung pelimpah dengan cara yang sama seperti yang dijelaskan pada no.2. Perhitungan yang diuraikan di atas hanya berlaku untuk kondisi aliran subkritis di sepanjang pelimpah samping. Kemiringan yang lebih besar daripada kemiringan kritis akan menimbulkan aliran yang lebih cepat dari superkritis. dalam langkah kedua ini Qx dan hx menjadi Q2x. Perhitungan-perhitungan ini harus diteruskan sampai Qnx sama dengan debit banjir rencana potongan saluran di bagian hula bangunan pelimpah samping. 4. Untuk kondisi aliran superkritis. 7. 2. Qo dan ho harus digantikan dengan Qx dan hx. menurun ke arah hilir. 3. Panjang pelimpah adalah n Δ x dan jumlah air lebih yang akan dilimpahkan adalah Qnx-Qo.3 Catatan 1.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . Kemiringan dasar saluran sebaiknya sedang-sedang saja dan lebih kecil dari kemiringan kritis. perhitungan harus dimulai dari ujung hulu pelimpah.04 Koefisien debit µ untuk mercu pelimpah harus diambil 5% lebih kecil daripada koefisien serupa untuk mercu yang tegak lurus terhadau aliran. q2x. 93 . dan h2x.KP . Setelah hx dan Qx ditentukan.

maka pengandaian tinggi energi konstan di sepanjang pelimpah tidak sahih/valid.2. Grafik Metode ini sudah diuraikan dalam 'De Ingenieur in Ned. atau apabila mercu pelimpahnya rendah (c ≤ 2/3 H). Metode di atas dapat diterapkan hanya apabila perbedaan antara tinggi energi pada pangkal dan ujung pelimpah tidak terlalu besar. 4. 12) untuk potongan-potongan melintang saluran segi empat dan prisma.4 Metode. 94 . Untuk aliran subkritis dan tinggi mercu pelimpah di atas 2/3 dari tinggi energi di saluran. Bahkan pada kemiringan yang lebih kecil dari kemiringan kritis. metode grafik ini jugs mulai dari ujung hilir bangunan pelimpah.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .4 dan 7. yaitu apabila air yang diambil dari saluran terlalu. banyak. 7. Indie' (1937.KP .5) dan didasarkan pada rumus de Marchi.04 3. Kalau tidak. aliran superkritis pun dapat terjadi di sepanjang pelimpah samping. Metode ini bisa dipakai baik untuk kondisi aliran subkritis maupun superkritis (lihat Gambar 7.

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .6) tinggi energi di ujung pelimpah (potongan melintang II. Titik potong/interseksi kedua grafik memberikan kedalaman air di ujung pelimpah samping (Bagian II – 11). tinggi energi diandaikan konstan di sepanjang pelimpah.8) 95 .7) yaitu lengkung debit saluran. (7.04 Ada dua grafik yang harus dibuat dan diplot (lihat Gambar 7. (7. luga potongan melintang basah saluran untuk kedalaman air h.c)3/2 2g …… (7. (1) Q = ψ(h) = A di mana : H3 = A = 2g (H 3 – h) …. Grafik ketiga yang harus diplot pads Gambar 7. m1/3/dt R = jari-jari hidrolis. dari di mana: C = koefisien Chezy = k R1/6 K = koefisien kekasaran Strickler. RI or k A R2/3I1/2 (2) Q = f(h) = AC ….KP .5 adalah persamaan debit untuk aliran pads pelimpah samping : q = µ (h .II).5). m I = kemiringan saluran.

Debit Q'.KP . Panjang pelimpah dapat ditemukan bila titik N pada grafik Q=ψ(h) bisa dicapai (lihat Gambar 7. Dalam grafik tersebut Q =ψ(h).KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . Kenyataan bahwa sipon bekerja di lingkungan subatmosfir berarti bahwa konstruksi pipa sipon harus kedap udara dan cukup kuat agar tidak retak. 3. Urutan grafiknya adalah sebagai berikut : 1. Di dalam saluran tersebut air akan mengalir berlawanan dengan gaga gravitasi ke suatu titik di mana tinggi tekan lebih rendah daripada tekanan atmosfir (lihat Gambar 7. dst. Pada grafik itu q" adalah aliran dua meter dari ujung hulu pelimpah. Q" dapat dicari .8). 4. Titik N berhubungan dengan Q1 dan merupakan debit banjir di saluran di hulu pelimpah (lihat Gambar 7. 7. m h = kedalaman air di saluran. air mengalir dari saluran atau kolam ke saluran atau kolam lain yang lebih rendah dan di antara kedua ketinggian ini titik yang lebih tinggi harus dilalui.m µ = koefisien debit (95% dari koefisien untuk pelimpah tegak) c = tinggi mercu di atas dasar saluran.3 Sipon pelimpah Sipon adalah saluran tertutup yang di dalamnya.c} Gambar ini menyajikan debit hingga meter terakhir pada pelimpah. Untuk kedalaman air h' ini. m/dt2 (≅ 9. Dengan q" ini. Untuk kedalaman air h2 di bagian ujung. debit q' dapat dibaca pada grafik untuk (h2 .6).4). m g = percepatan gravitasi. adalah Q'+q'. pada potongan 1 m di depan pelimpah. dengan (h' .c). maka metode ini dapat dipakai dengan memulainya dari ujung hulu pelimpah.04 di mana : q = debit per satuan panjang.5). 2. 96 . debit q" bisa dicari pada grafik untuk q. Bila air mengalir di bawah kondisi superkritis di sepanjang pelimpah samping. m3/dt. untuk Q' harga h' dapat dibaca.

m2 H = kehilangan energi pada sipon (H2 pada Gambar 7.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . (7. m/dt2 (≅9. Jika kehilangan-kehilangan akibat gesekan (α) dan tikungan ( β ) diberikan sebagai faktor v2. ukurannya dapat ditentukan dengan persamaan berikut : Q = µA 2g H …….6 Sipon pelimpah 7.KP . m3/dt µ = koefisien di mana semua kehilangan energi dimasukkan A = luas pipa.1 Penentuan dimensi (1) Metode pertama Pada waktu sipon mengalir penuh.3.04 Gambar 7.8). ini akan menghasilkan : 2g 97 .6).9) di mana : Q = debit. m g = percepatan gravitasi.

kekasaran Strickler/Manning. m Ro = jari-jari mercu.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . m.20 β = 0.10 Ini menghasilkan µ = 0. m Ra = jari-jari tudung.4 di mana: λ = 1 + L/Ro = Ra/Ro L = tinggi bukaan pipa. Untuk perkiraan pertama: α = 0.88. m. m1/3/dt R = jari-jari hidrolis. 98 .04 Kemiringan garis energi akibat gesekan adalah di mana : k = koefisien.KP . 1962) : λ =1. didasarkan pada pemakaian hubungan berikut (lihat Valembois. (2) Metode kedua Kemungkinan cara eksploitasi terbaik untuk debit yang berubah-ubah.

Keuntungan dari gradien tekanan semacam ini adalah bahwa gelembung udara akan dipaksa turun dan.4 atau 7. 99 .2 m3/dt.5 m eksploitasi terbaik untuk λ =1.04 Dalam hal ini perencanaan didasarkan pada gradien tekanan (pressure. tidak sampai terkumpul di bagian atas sipon. Ini akan memperlancar eksploitasi sipon. kavitasi bangunan harus dicek. gradient) pada lebar sipon yang semakin besar ke arah atas (dari mercu ke tudung).m Ho = 8. oleh sebab itu.3.3365 q = 7. Contoh (Iihat Gambar 7.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP .7) Debit rencana Pemecahan : Inλ=0.2 Kavitasi Karena tinggi energi di bagian atas sipon lebih rendah dari tekanan atmosfir.

8).04 Debit maksimum yang diizinkan melewati potongan mercu sipon adalah (menurut Valembois.KP . kecepatan pada mercu. mengurangi beda tinggi energi maksimum sampai sekitar 6 m. tekanan subatmosfir maksimum harus kurang dari -4 m tekanan air. pertambahan kecepatan ini dapat diperkirakan sebagai nilai banding antara. Apabila sipon harus direncana untuk beda tinggi energi yang lebih besar.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .9) : 100 . Pada mercu sipon terjadi penurunan tekanan sebagai akibat dari bertambahnya kecepatan. 1962) : Qmax = 0. Untuk mercu clan tudung (hood) konsentris. Untuk beton. maka aerasi harus dipasang 6 m dari muka air hulu. (7.15) di mana Ho adalah tekanan subatmosfir minimum dalam (m) tekanan air. vp dengan kecepatan rata-rata (untuk notasinya lihat Gambar 7. Untuk beda tinggi energi lebih dari 10 m (tekanan atmosfir pada ketinggian laut) akan dihasilkan hampa udara total di atas mercu (lihat Gambar 7.522 2 g Ho3/2 ….

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .04 101 .KP .

3 Tipe-tipe sipon pelimpah Tipe-tipe tata letak dan potongan melintang sipon ditunjukkan pada Gambar 7. Potongan aliran masuk harus direncana secara hatihati dengan lengkung yang harus pada denah untuk mengurangi kehilangan pada pemasukan. 102 . Gambar 711 adalah contoh sipon yang dipakai dengan pondasi yang terbuat dari pasangan batu dan pipanya sendiri dibuat dari beton. Pembuatan ambang awal adalah juga perencanaan lain lagi (lihat Gambar 7.10. karena tipe ini tidak memakai pipa pemisah sipon. Detail rencana aliran masuk pada Gambar 7.10 dan 7.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . 7.KP .04 Tinggi kecepatan v12/2g yang termasuk ke dalam v1 harus tidak lebih dari 8 m.3.11).11 menunjukkan metode yang dipakai untuk mencampur udara dengan air yang mengalir masuk di ujung sipon yang membuat eksploitasi dan pengaliran awal lebih mulus/ tenang. maka jari-jari mercu harus diperbesar untuk mencegah kavitavi mercu. Bentuk/konfigurasi aliran masuknya juga berbeda dari Gambar 7.11. Kalau tidak.

04 103 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP .

04 104 .KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

04 105 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP .

Dari tipe-tipe yang umum dipakai di Indonesia.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP . Untuk debitdebit yang lebih besar dari debit rencana. pintu tidak akan terbuka lebih besar lagi dan kehilangan tinggi energi akan bertambah akibat kondisi aliran yang berubah serta koefisien debit yang lebih besar.13 dapat dipakai untuk merencana tipe pintu yang sama dengan dimensidimensi yang lain. Tipe yang dengan berhasil digunakan di Semarang memiliki bentuk seperti yang ditunjukkan pads Gambar 7.04 7.12. 1940b).4 Pintu Pelimpah Otomatis Ada banyak tipe pintu otomatis yang dapat dipakai sebagai pelimpah darurat. Hasil-hasil penyelidikan dengan model seperti diberikan pada Gambar 7. Gambar itu menyajikan hasilhasil penyelidikan model hidrolis yang diadakan di Semarang untuk tipe pintu ini (Vlugter. beberapa di antaranya ditunjukkan pads Gambar 7.13. 106 . Untuk ini dapat digunakan rumus berikut : Debit rencana untuk pintu adalah debit di mana tinggi muka air hilir sama elevasinya dengan tinggi muka air rencana di sebelah hulu.

5. lihat Gambar 5. Bangunan penguras sering dikombinasi dengan pelimpah samping untuk mengurangi biaya pelaksanaan serta memberikan berbagai kondisi eksploitasi saluran.5.04 7. pemeliharaan. mengalirkan air yang tidak terpakai ke saluran pembuang. misalnya pada waktu terjadi keruntuhan tanggul saluran. Bangunan penguras akhir. pengeringan berkala atau darurat. yang terletak di ujung saluran.KP .2 Kapasitas Kapasitas pintu penguras sebaiknya sama atau melebihi kapasitas rencana saluran guna mengelakkan seluruh air saluran dalam keadaan darurat. Untuk cara-cara pemecahan yang mungkin.4 dan 7.5 Bangunan Penguras 7. 107 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .1. 7.1 Femerian (Deskripsi) Bangunan penguras (wasteway) dipakai untuk mengosongkan saluran untuk keperluan-keperluan inspeksi.

maka aliran buangan dapat diseberangkan melalui saluran dengan overchute atau aliran-aliran kecil dapat dibiar'kan masuk ke saluran melalui lubang-lubang pembuang. 108 . Air buangan silang kadang-kadang ditampung di saluran pembuang terbuka yang mengalir sejajar dengan saluran irigasi di sisi atas. atau ke saluran melalui lubang pembuang atau diseberangkan dengan sipon. maka kecepatan aliran melalui pintu itu diambil 3 m/dt. Saluran-saluran pembuang ini bisa membawa air ke suatu saluran alamiah. atau aliran saluran pembuang dapat dilewatkan di bawah saluran dengan menggunakan goronggorong. atau karena pertimbangan ekomomis.04 7. Untuk melindungi saluran dari bahaya aliran semacam ini. maka bagian tengah bukaan pintu sebaiknya tidak direncana di bawah elevasi dasar saluran.KP . Kalau trase saluran biasanya mengikuti garis-garis kontur tanah.6.3 Perencanaan pintu penguras Pintu penguras harus dapat mengalirkan debit rencana saluran sedemikian sehingga pintu pengatur atau pelimpah samping di sebelah hilir tidak tenggelam karenanya.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . 7. Ini akan memerlukan banyak kehilangan tinggi energi pada pintu. aliran saluran bisa dilewatkan di bawah saluran pembuang itu dengan sipon. untuk membatasi biaya pembuatan bangunan dan untuk menghindari masalah-masalah pembuangan sedimen.5. Bila memintas saluran pembuang alamiah. dibuatlah bangunan pembuang silang.1 Umum Bangunan pembuang silang dibutuhkan karena adanya aliran air buangan atau air -hujan dari saluran atas ke saluran bawah. Jika tak terdapat saluran alamiah. Tetapi. Karena debit rencana saluran jarang dialirkan melalui pintu penguras. maka atas dasar pertimbangan-pertimbangan ekonomis. atau ke suatu titik penampungan di mana air diseberangkan lewat saluran dengan overchute.6 Bangunan Pembuang Silang 7. melewati bawah saluran tersebut dengan goronggorong. sering perlu untuk membuat pintasan pada saluran pembuang alamiah atau melalui punggung medan.

terutama jika daerah pembuang ditumbuhi semak belukar.005 serta kemiringan maksimum yang sedikit lebih curam daripada kemiringan kritis.3 Gorong-gorong Apabila potongan saluran terutama dibangun di dalam timbunan karena potongan itu melintas saluran pembuang. Jadi. ternyata sudah memuaskan untuk mengambil kemiringan minimum 0. maka kemiringan saluran itu sebaiknya cukup curam guns mencegah sedimentasi di dalam saluran tekan tersebut. lihat pasal 6. Tetapi kisi-kisi semacam ini kadang-kadang lebih memperburuk penyumbatan. Jika kemiringan seragam jauh melampaui kemiringan kritis. Gorong-gorong kecil mudah tersumbat sampah.4. 7. daripada mengubah garis saluran masuk atau keluar. Dalam praktek. maka kadang-kadang lebih ekonomis untuk mengalirkan air saluran tersebut lewat di bawah saluran pembuang dengan menggunakan sipon.2 Sipon Apabila saluran irigasi kecil harus melintas saluran pembuang yang besar. maka biasanya akan lebih baik untuk menerhpatkan goronggorong pada bagian yang asimetris dengan saluran. Tetapi.04 7. tetapi tidak terlalu curam supaya tidak perlu dibuat . maka biayanya tinggi. dan 109 . bangunan peredam energi. bila saluran irigasi melintas pembuang alamiah pada bagian asimetris/tidak tegak lurus (skew).KP .6.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . sipon membutuhkan banyak kehilangan tinggi energi dan jika saluran pembuang itu lebar dan dalam. Apabila saluran tekan berada pada gradasi seragam. mungkin diperlukan tikungan horisontal dalam saluran tekan gorong-gorong. Aturan dasar dalam menentukan lokasi gorong-gorong adalah memanfaatkan saluran alamiah yang pola limpasan air (runoff) aslinya hanya sedikit terganggu. Jika saluran alamiah berubah arahnya antara lubang masuk dan lubang keluar goronggorong. maka goronggorong merupakan bangunan yang baik untuk mengalirkan air buangan lewat di bawah saluran itu.6. Sipon memberikan keamanan yang lebih besar kepada saluran karena sipon tidak begitu tergantung pada prakira yang akurat mengenai debit pembuang di dalam saluran pembuang yang melintas. Untuk perencanaan sipon. Untuk mengatasi masalah ini dapat digunakan kisi-kisi penyaring. daripada mengalirkan air buangan lewat di bawah saluran irigasi dengan gorong-gorong.

pipa beton tumbuk diberi alas beton . i.60 m di hilir tepi luar. 110 . Diameter minimum pipa adalah 0. kalau tidak pipa itu sebaiknya diberi koperan pada setiap bagian sambungan Rembesan dari saluran ke pipa gorong-gorong adalah salah satu sebab utama kegagalan. Pemberian perapat (collar) pipa untuk menghindari rembesan di sepanjang bagian luar pipa sangat dianjurkan. jika pada lubang masuk dipakai peralihan yang baik.30 m untuk saluran pasangan. sebesar 3 m/dt pada waktu mengalir penuh.14 Tipe profil gorong-gorong Gorong-gorong sebaiknya melewati bawah saluran dengan ruang bebas (clearance) 0. sebaiknya jauh lebih curam daripada kemiringan kritis. Berikut ini adalah beberapa tipe gorong-gorong : .15.60 m. maka kecepatan maksimum dibatasi sampai 1.5 m/dt. biasanya lebih disukai untuk memakai sebuah tikungan vertikal dan dua kemiringan.60 m urtuk saluran tanah atau 0. seperti diperlihatkan pada Gambar 7. Kemiringan hulu. Letak perapat ini ditunjukkan pada Gambar 7.04 dengan demikian memerlukan peredam energi.bentuk boks segi empat dari beton bertulang yang dicor di tempat. Gambar 7. Gorong-gorong hendaknya direncana untuk kecepatan maksimum.KP .pasangan batu dengan dek beton bertulang .14. Biasanya satu perapat ditempatkan di bawah as tanggul/saluran hulu dan dua perapat di bawah tanggul hilir : sebuah di bawah tepi dalam dan sebuah lagi 0. i1 dan i2. Jika lubang keluar tidak perlu dipertimbangkan. maka harus dipasang sambungan paking (gasket) karet untuk mencegah kebocoran.pipa beton bertulang . Bila dipakai tipe pipa beton.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

111 . seperti misalnya kolam olak. Fasilitas yang sama bisa dibuat di tanggul saluran sisi atas jika diperlukan.25). atau berupa saluran tertutup.4 Overchute Overchute dipakai untuk membawa air buangan lewat di atas saluran.04 7. atau untuk dipakai di daerah-daerah di mana penggunaan pipa terancam bahaya tersumbat oleh sampah yang hanyut. Bagian keluar (outlet) mungkin berupa peralihan standar.6.KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . Bangunan ini berupa potongan flum beton segi empat yang disangga dengan tiang-tiang pancang (lihat Gambar 7. Bagian keluar mungkin juga terdiri dari potongan boks beton melalui tanggul saluran sisi bawah (downhill) kendaraan yang lalu lalang di jalan inspeksi. tetapi kadangkadang berupa perendam energi. seperti pipa baja. Potongan flum beton terutama dipakai untuk aliran pembuang silang yang besar.

KP .04 112 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

yang juga harus mengamankan bagian atas pasangan beton pada potongan saluran yang diberi pasangan. Alur pembuang bisa dibuat di saluran pembuang alamiah. khususnya apabila aliran air diperkirakan mengangkut cukup banyak lanau. Overchute mungkin juga dibuat di ujung saluran pembuang yang sejajar dengan saluran irigasi sebagai sarana penyeberangan di atas saluran. biasanya lebih disukai untuk menyeberangkan air lewat di atas atau di bawah saluran dengan overchute atau gorong-gorong. tetapi kadang-kadang dibuat trase yang asimetris/tidak tegak lurus karena trase saluran alamiah tidak boleh banyak terganggu. Untuk aliran yang lebih besar. 113 . Karena ujung alur pembuang harus berada di atas permukaan air. Jika di tempat itu tidak ada saluran alamiah. Biasanya trase. kadang-kadang lebih ekonomis untuk membawa air bersih ke dalam saluran daripada membelokkannya ke luar saluran. maka harus dibuat saluran hilir. maka gorong-gorong harus dipakai di bawah saluran sebagai pengganti overchute. maka alur pembuang paling cocok digunakan jika saluran seluruhnya berada di bawah permukaan tanah asli. atau di ujung saluran pembuang yang sejajar dengan saluran irigasi.04 Biasanya trase overchute mengikuti saluran pembuang alamiah. kemiringan overchute paling cocok digunakan apabila saluran seluruhnya dibuat dalam galian. yang selanjutnya di buang jauh di luar saluran. 7.6. Bila suatu ruas saluran tidak diberi fasilitas pelimpah. atau apabila permukaan tanah di sisi atas berada di atas muka air saluran. Bila permukaan tanah di sisi atas saluran tidak cukup tinggi dari permukaan air saluran. Agar saluran masuk dan bangunannya dapat dikeringkan samasekali. maka jumlah kapasitas rencana alur pembuang pada ruas itu harus dibatasi sampai 10 persen dari kapasitas rencana normal saluran tersebut.5 kali tinggi normal jagaan harus tetap dijaga antara permukaan air saluran dan potongan overchute. Hal ini baik sekali.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP . saluran dibuat pendek dan ekonomis. pasir atau benda-benda hanyut. Akan tetapi.16) adalah bangunan yang dipakai untuk membawa air buangan dalam jumlah kecil ke saluran. Ruang bebas minimum sebesar 0.5 Alur pembuang Alur pembuang (lihat Gambar 7.

04 Jika tersedia fasilitas pelimpah untuk tiap ruas saluran. 114 . Jumlah aliran yang masuk dari alur pembuang pada ruas tersebut tidak boleh melebihi 20 persen dari kapasitas rencana normal saluran tersebut.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP . maka jumlah kapasitas rencana masing-masing alur pembuang tidak boleh melebihi 10 persen dari kapasitas rencana normal saluran.

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .2 Jalan Inspeksi Jalan inspeksi direncana. Jalan ini terutama digunakan untuk memeriksa. 8. Dalam kaitan ini jalan digunakan oleh penduduk. di kebanyakan daerah pedesaan. mengeksploitasi dan memelihara jaringan irigasi dan pembuang.2) dan kriteria perencanaan jembatan pelengkap yang dimaksud (pasal 8.KP .1 Umum Jaringan jalan di suatu daerah irigasi melayani kebutuhan yang berbedabeda dan dipakai oleh pengguna yang berbeda-beda pula: jalan adalah jaringan angkutan barang dan produksi. jalan digunakan oleh staf dinas irigasi.04 8. Akan tetapi. JALAN DAN JEMBATAN 8.3). Jalan juga dipakai untuk keperluan-keperluan eksploitasi dan pemeliharaan jaringan irigasi. dan dipelihara oleh dinas pengairan akan dibuat di sepanjang atau di atas tanggul saluran irigasi dan pembuang. Ia harus merencana prasarana-prasarana ini dan pemeliharaannya dilakukan oleh staf E&P proyek irigasi yang bersangkutan. Jembatan merupakan bagian yang penting dari jaringan tersebut Jembatan dan jalan inspeksi bagi kendaraan dan orang untuk menyeberang saluran irigasi dan pembuang merupakan tanggung jawab perencana irigasi. Berbagai fungsi jaringan jalan ini harus diperhitungkan selama perencanaan.. yakni saluran dan bangunanbangunan pelengkap. Sebagian besar dari jalan yang dibangun sebagai bagian dari jaringan irigasi. dibangun dan dipelihara oleh dinar pengairan. Dalam hubungan ini. 115 . Tujuan utama pembangunan jalan-jalan ini adalah untuk menyediakan jalan menuju jaringan irigasi dan pembuang. jalanjalan ini juga sekaligus berfungsi sebagai jalan utama dan oleh karena itu juga dipakai oleh kendaraankendaraan komersial dengan pembebanan as yang lebih berat dibandingkan dengan kendaraan-kendaraan inspeksi. Pasal-pasal berikut menyajikan kriteria perencanaan jalan inspeksi (pasal 8.

1970b) dan merupakan jalan satu jalur. Jika ini dianggap tidak ekonomis. Jalan Kelas III dengan perkerasan.2. 8.1 Klasifikasi Semua jalan inspeksi digolongkan sebagai jalan kelas III atau lebih rendah lagi menurut Standar Bina Marga No. IV dan V (yang punya arti penting dalam suatu proyek irigasi) disajikan pada Tabel 8. Untuk jalan-jalan yang berada di bawah wewenang Direktorat Irigasi.KP . 116 . Standar Bina Marga telah diperluas lagi menjadi : Kelas I Kelas II Kelas III Kelas IV Kelas V Jalan nasional (Standar Bina Marga) Jalan propinsi (Standar Bina Marga) Jalan kabupaten.04 8.2. untuk jalan-jalan kelas III.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . 13/1970 (BINA MARGA.3 Trase Jalan inspeksi biasanya dibangun di atas tanggul saluran atau pembuang. jarak maksimum antara jalan inspeksi dan saluran atau pembuang adalah 300 m. jalan kelas IV boleh dengan perkerasan (untuk yang lebih penting) atau tanpa perkerasan.2. Kelas V umumnya tanpa perkerasan.1b.l. Lebar jalan dan perkerasan.2 Potongan melintang Tipe-tipe potongan melintang jalan inspeksi disajikan Gambar 8. jalan inspeksi sekunder (Standar Bina Marga) Jalan setapak/jalan orang.1a dan 8. jalan desa. jalan inspeksi utama (Standar Bina Marga) Jalan penghubung. 8.

KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . 117 .04 Kecepatan maksimum rencana bagi kendaraan di jalan ini sebaiknya diambil 40 km/jam. Jari-jari dalam minimum suatu tikungan jalan inspeksi adalah 5 m. Untuk perencanaan geometri jalan inspeksi. Tempat lewat atau tempat berputar harus tersedia sekurangkurangnya tiap 600 m. 1970b) Tanjakan memanjang maksimum yang diizinkan adalah 7 %. (lihat Bina Marga. digunakan Standar Bina Marga.

permukaan kerikil yang dipadatkan setebal 15 cm.04 8.KP . 2.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .2. permukaan bitumen diletakkan pada base 15 cm dan subbase 15 . 118 .40 cm.4 Pelaksanaan Ada dua jenis perkerasan yang akan digunakan: 1.

Akan tetapi jika jalan itu tidak dibangun di atas tanggul yang dipadatkan.KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . maka daya dukung tanah dasarnya (tanah yang dipadatkan) biasanya cukup. pemadatan 95% Mod. Apabila jalan dibangun di atas tanggul yang dipadatkan.3 menyajikan perkiraan harga-harga CBR tanah di lapangan yang dihubungkan dengan muka air tanah. AASHO) harus mengikuti pedoman yang diberikan pads Tabel 8. Bahannya harus sesuai dengan kriteria berikut : (1) Harga CBR (California Bearing Ratio) tidak boleh kurang dari 20 jika ditentukan berdasarkan kepadatan di lapangan. (2) Perkerasan dengan bitumen Jalan inspeksi yang lebih penting yang dilewati oleh cukup banyak kendaraan komersial dapat dibuat dengan lapisan sub base 15 . 119 .2.40 cm. Gambar 8. lapisan base 15 cm dan lapisan permukaan dengan bitumen. maka harga CBR-nya paling tidak 6% pada 95% Mod. AASHO yang dipadatkan di tempat.04 (1) Jalan dengan perkerasan kerikil (jalan tahan cuaca) Penggunaan kerikil alamiah untuk perkerasan setebal 15 cm adalah suatu pemecahan yang paling murah. (2) Gradasi (menurut.

KP .04 120 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

04 Tabel 8. 121 .3 Perkiraan harga-harga minimum CBR untuk perencanaan tanah dasar di bawah jalan perkerasan yang dipadatkan sampai 95% dari berat isi kering maksimum Proctor (Road Note 31.0 m 1. Tabel 8.6 m 1. Tanah demikian biasanya dapat dikenali secara visual. Karena harga-harga yang diberikan pada tabel 8.0 m atau lebih 8 25 25 25 25 25 25 25 25 lanau 5 6 8 8 8 25 25 25 25 4 5 6 7 8 8 8 8 8 3 4 5 5 6 7 8 8 8 2 3 3 3 4 4 4 5 7 1 2 lihat catatan 3 CATATAN : 1. 1977) CBR minimum (persen) Lempung Lempung Lempung Lempung pasiran pasiran Lanauan berat PI = 10 PI = 20 PI = 30 PI > 40 (PI = Indeks Plastisitas) Kedalaman Pasir muka air non tanah dari plastis ketinggian formasi 0.5 m 3.0 m 3.0 m.0 m 7.KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .5 m 2.5 m 5. 2.0 m 2. pada kandungan air tanah yang sesuai. maka bilamana mungkin harga-harga CBR tersebut hendaknya dites di laboratorium. Uji CBR di laboratorium diperlukan untuk tanah dasar yang berupa lumpur murni dengan muka air tanah yang dalamnya lebih dari 1.3 merupakan perkiraan saja.3 tidak dapat dipakai untuk tanah-tanah yang mengandung mika atau zat-zat organik dalam jumlah yang cukup banyak. 3.

Tipe macadam ikat-air berupa lapisan-lapisan batu berukuran seragam yang besar nominalnya 37. Biasanya bahan subbase adalah kerikil atau campuran pasir-kerikillempung yang terjadi secara alamiah. 122 . IV dan V.04 Gambar 82 sebaiknya digunakan untuk jalan-jalan kelas III. bahan halus dituang dan disiram dengan air di permukaan agar bahan menjadi padat.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .lebih disukai yang bergradasi baik dan bahan ini harus nonplastis.KP .5 sampai 50 mm. . maka tidak diperlukan subbase. Apabila harga CBR subgrade 25% atau lebih. Base yang bagus dan biasa digunakan adalah tipe makadnan ikatair (water-bound macadam typed Ini dibuat terutama dari kricak (batu-batu pecahan). Segera setelah lapisan diletakkan. Tebal masing-masing lapisan yang dipadatkan tidak boleh kurang dari 6 mm ukuran maksimum.

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04

Bila konstruksi makadam akan dikerjakan dengan tangan, hendaknya dipakai ukuran-ukuran batu yang seragam 10 sampai 15 cm (lihat Gambar 8.3).

Gambar 83 Konstruksi makadam yang disusun dengan tangan

Batu-batu yang lebih besar akan ditempatkan di sepanjang tepi perkerasan. Rongga dan celah-celah antarbaiu yang ditempatkan pada pondasi diisi dengan batu-batu yang berukuran lebih kecil atau dengan bahan-bahan halus. Kemudian lapisan itu disiram air sampai semua bahan halus dan batu yang lebih kecil bisa masuk. Base batu tersebut dipadatkan dengan mesin gilas (flat wheel roller seberat 8 - 10 ton} Permukaan makadam ikat-air (WBM) tersebut lalu dilapisi dengan bahan bitumen. Pelapisan permukaan ini terdiri dari penyemprotan permukaan WBM dengan bahan bitumen yang dicampur dengan agregat mineral seperti pecahan batu, kricak halus atau kerikil dan pasir kasar. Tujuannya adalah untuk membuat alas yang keras dan kedap air dengan agregat, pasir kasar atau batu kricak halus setebal 20 - 10 mm. Jumlah bahan pengikat dan bahan-bahan aus yang diperlukan di sajikan pada Tabel 8.4. 8.2.5 Pembuang Pembuangan air di permukaan jalan dan lapisan subbase sangat penting dalam pembuatan jalan perkerasan. Pembuangan air di permukaan dilakukan dengan membuat kemiringan melintang permukaan jalan (1:20), umumnya kemiringan itu menjauh dari tengah jalan, tapi kalau jalan itu terletak di atas tanggul jauh dari air saluran irigasi atau pembuang.

123

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04

Pembuangan air di lapisan subbase dan base dapat dilakukan dengan memperpanjang lapisan ini sampai ke parit pembuang atau dengan membuat alur pembuang dari batu pecahan kasar setiap jarak 10 rn- Lebar alur ini harus 0,30 m dengan tinggi 0,15 m. Batu-batu atau pecahan-pecahan batu di dalam alur pembuang ini harus dilengkapi dengan bahan filter, yakni ijuk.

8.3

Jembatan 8.3.1 Tipe Tipe-tipe jembatan yang dibicarakan di sini adalah jembatan kendaraan yang dipakai di jalan inspeksi, penyebcrangan saluran, pembuang atau sungai, jembatan orang (footbridge), jembatan ternak dan jembatan eksploitasi.

124

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04

Jembatan-jembatan di jalan raya, yang berada di luar wewenang dinas pengairan, hendaknya direncana menurut Standar Bina Marga. Untuk keperluan ini Bina Marga telah menetapkan Standar Perencanaan Jembatam 8.3.2 Pembebasan Pembebanan jembatan diberikan dalam, Bagian KP-06 Parameter Bangunan. 8.3.3 Bangunan atas Untuk jembatan-jembatan pada jalan Kelas I dan II perencanaan dan gambar-gambar standarnya sudah ada dari Bina Marga (lihat Gambar 8.7). Jembatan-jembatan pada jalan kelas III, IV dan V adalah jembatan-jembatan pelat beton bila bentangnya kurang dari 5 m. Untuk bentang yang lebih besar dipakai balok T (lihat Gambar 8.5). Bahan-bahan lain bisa dipakai untuk membuat jalan inspeksi dan jembatan orang, jika bahan-bahan itu tidak mahal. Kayu dan baja atau bahan komposit (baja dikombinasi dengan beton) Bering dipakai untuk membuat jembatan. Khusus untuk jembatan orang yang ringan bebannya dan dapat mempunyai bentang yang lebih besar, jembatan kayu atau baja lebih ekonomis daripada jembatan beton. Biaya pemeliharaan yang tinggi dan umur bangunan yang labil pendek pada jembatan kayu dan jembatan baja, sebaiknya dipertimbangkan dalam evaluasi. 8.3.4 Pondasi dan tiang pancang Lantai jembatan terletak di atas tumpu (abutment) di kedua sisi saluran. Tumpu meneruskan berat beban ke pondasi. Untuk jembatan yang bentangnya besar, diperlukan satu atau lebih tiang pancang di saluran guns mendukung bangunan atas agar mengurangi beban tumpu.

125

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04

Biasanya pondasi berupa "telapak sebar" (spread footing). Bila beban lebih besar dan days dukung tanah bawah tidak cukup kuat, dipakai tiang pancang. Tiang pancang dapat dibuat dari beton, baja atau kayu. Kedalaman pondasi tumpu diberikan pads Gambar 8.6. Dari Gambar tersebut tampak ba'hwa pangkal jembatan harus berada di bawah garis dengan kemiringan 1 sampai 4 dari dasar saluran, atau di bawah garis, paralel dengan kemiringan camping pads jarak 1,50 m untuk saluran pasangan dan 2,50 m untuk saluran tanah. Untuk bagian yang diberi pasangan, sebaiknya kedalaman pondasi diambil sekurang-sekurangnya 0,60 m di bawah permukaan pasangan.

126

04 Gambar 8.7} 127 .6 Kedalaman pondasi untuk tumpuan jembcaan Tiang pancang jembatan di saluran harus ditempatkan sekurangkurangnya 1. Pada saluran tanpa pasangan.0 m di bawah elevasi dasar.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . di sekitar tiang pancang perlu diberi lindungan sepanjang tidak kurang dari kedalaman air di sekitar tiang pancang tersebut (lihat Gambar 8.KP .

3. menurut Standar Bina Marga.04 8. tinggi jagaan harus lebih besar dari 1. 128 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .30 m atau sama dengan setengah tinggi jagaan saluran.50 m. Untuk saluran pembuang jagaan tinggi minimum harus diambil seperti berikut : Untuk jembatan-jembatan sungai.KP .5 Ruang bebas Ruang bebas jembatan paling tidak harus 0.

129 . mungkin akan lebih ekonomis untuk memindahkan lokasi tanggul daripada menerapkan metode pelaksanaan yang mahal. mungkin perlu membuka daerah sumber bahan timbunan khusus di luar lapangan dan mengangkutnya ke lokasi. Karena fungsi lindungnya yang besar terhadap daerah irigasi dan penduduk yang tinggal di daerahdaerah ini. Jika kondisi tanah tidak stabil. Apabila galian dibuat sejajar dengan lokasi tanggul. maka harus dibuat lindungan terhadap erosi di sepanjang tanggul.06 Parameter Bangunan) memberikan sistem yang sangat bermanfaat untuk menentukan klasifikasi tanah yang perlu diketahui dalam pelaksanaan tanggul dan pondasi.1. Untuk tanggul-tanggul tertentu. maka penyelidikan untuk pondasi dan daerah galian dapat dilakukan sekaligus. Tabel A2. pembuang yang besar atau laut.3 Trase Tanggul di sepanjang sungai sebaiknya direncana pads trase pads jarak yang tepat dari dasar air rendah.2 Bahan Biasanya tanggul dibuat dari bahan timbunan yang digali di dekat atau sejajar dengan garis tanggul. Bila hal ini tidak mungkin. BANGUNAN-BANGUNAN PELENGKAP 9.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .1. Lampiran 2 memberikan rangkuman data-data penting tanah yang mempengaruhi pemilihan bahan.1 Kegunaan Tanggul dipakai untuk melindungi daerah irigasi dari banjir yang disebabkan oleh sungai. The Unified Soil Classification System (lihat KP .1. maka kekuatan dan keamanan tanggul harus benarbenar diselidiki dan direncana sebaikbaiknya.KP . Biaya pembuatan tanggul banjir bisa menjadi sangat besar jika tanggul itu panjang dan tinggi.04 9.7. 9.. 9.1 Tanggul 9.

4. Tata guna tanah dan peningkatan tanah pertanian guna menilai arti penting daerah yang akan dilindungi dari segi ekonomi. lebar atas minimum tanggul dapat diambil 1.1. 9. Lebar atas diambil sekurang-kurangnya 3.5 Lebar atas Untuk tanggul tanah yang direncana guns mengontrol kedalaman air < 1. Elevasi tanah yang akan dilindungi. ini erat hubungannya dengan kebutuhan pondasi dan galian timbunan. Gambar 9.KP . Tinggi muka air rencana yang sebenarnya didasarkan pads profil permukaan air.4 Tinggi jagaan Tinggi rencana tanggul (Hd) akan merupakan jumlah tinggi muka air rencana (H) dan tinggi jagaan (Hf) Ketinggian yang dibuat itu termasuk longgaran untuk kemungkinan penurunan (Hs).50 m. Jika kedala man air yang akan dikontrol lebih dari 1. 2.3 Potongan melalui tanggul 9. Masalah-masalah fisik yang sangat mungkin dijumpai. maka lebar atas minimum sebaiknya diambil 3.50 m. Perkiraan muka air banjir (tinggi dan lamanya).1.04 Adalah perlu untuk membuat penyelidikan pendahuluan mengenai lokasi tanggul. 130 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . yang akan bergantung kepada pondasi Berta bahan yang dipakai dalam pelaksanaan. Hak milik yang dilibatkan. terutama kondisi tanah karena. 3. Tinggi minimum jagaan tanggul sebaiknya diambil 0. Tinggi jagaan (Hf) merupakan longgaran yang ditambahkan untuk tinggi muka air yang diambiL termasuk atau tidak termasuk tinggi gelombang. 5.60 m.0 m.guna menentukan : 1.50 m.0 m jika tanggul dipakai untuk jalur pemeliharaan.

1.6 Kemiringan talut Pada Tabel 91 di bawah ini diberikan harga-harga kemiringan talut. Penggunaan harga-harga situ dianjurkan untuk tanggul tanah homogen pads pondasi stabil yang tingginya kurang dari 5 m. maka harus dibuat parit halang (cut-off trench) yang dalamnya sampai 1/3 dari kedalaman air.1.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .06 Parameter Bangunan. 131 . Lihat Gambar 9. Metode yang disarankan dijelaskan dalam Bagian KP .2 9.KP . Jika pondasi tanggul terdiri dari lapisan-lapisan lulus air atau lapisan yang rawan terhadap bahaya erosi bawah tanah (piping).04 9.7 Stabilitas tanggul Tanggul yang tingginya lebih dari 5 m harus dicek stabilitasnya dengan metode stabilitas tanggul yang dianggap sesuai.

Galian bahan yang ado di. Gambar 9. Kemiringan timbunan tambahan tidak boleh lebih curam dari kemiringan asli tanggul.50 m. Fasilitas ini harus disediakan di semua potongan jika bagian atas tanggul tidak dipakai sebagai jalur pemeliharaan.KP .sepanjang tepi air harus dibuat dengan interval tertentu guna memperlambat kecepatan air yang mengalir di sepanjang pangkal timbunan.1.30 m di atas elevasi asli tanah Berta kemiringannya harus cukup agar air dapat melimpas dari tanggul. Garis yang ditarik dari garis air rencana pada permukaan tanggul melalui pangkal asli tanggul (kalau diperlebar) sebaiknya lewat dari bawah potongan melintang galian bahan. Intervalnya tidak lebih dari 400 m dan lebar minimum 10 m.1) lebih dari 1. maka dasar . maka tempat galian bahan harus cukup jauh dari tanggul agar stabilitasnya dapat dijamin. Bagian atas dasar yang diperlebar sebaiknya tidak kurang dari 0. Jika tanggul mempunyai lebar atas yang kecil/sempit.04 Apabila tanggul melintas saluran lama. Lihat Gambar 9.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . maka bahu (berm) bagian tambahan harus cukup lebar guna mengakomodasi jalur pemeliharaan selama muka air mencapai ketinggian kritis. tanggul harus diperlebar di bagian samping luar. Lihat Gambar 93.3 Dasar yang diperlebar pada lintasan saluran Untuk tanggul dengan kedalaman air rencana (H pada Gambar 9. Lebar tambahan ini sekurangkurangnya sama dengan tinggi tanggul (Hd) di atas elevasi asli tanah. 132 . Galian semacam ini jugs berfungsi sebagai tempat menyeberangkan alai-alas pemeliharaan selama muka air rendah.

1.8 Pembuang Fasilitas pembuang harus disediakan untuk tanggul yang harus menahan air untuk jangka waktu yang lama (tanggul banjir biasanya tidak diberi pembuang). 9.61) Untuk tipe-tipe pembuang yang disebut terakhir ini lihat Gambar 9.rumput .KP . Pembuang terdiri dari : (i) parit di pangkal tanggul (ii) saringan pemberat (reverse filter).1. bisa berupa tipe-tipe berikut : .04 9. baik yang direncana sebagai pembuang pangkal tanggul maupun sebagai selimut (untuk perencanaan filter lihat pasal 6.pasangan batu kosong .4. baik yang berasal dari hujan maupun sungai.pasangan (lining) .9 Lindungan Lindungan lereng terhadap erosi oleh aliran air.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .bronjong Rumput petindung yang memadai hendaknya diberikan pada permukaanpermukaan tanggul untuk melindunginya dari bahaya erosi akibat limpasan air hujan pada tanggul. 133 .

Jaringan jalan tidak hanya diperlukan untuk inspeksi dan jalan masuk ke daerah irigasi.2 Fasilitas Eksploitasi 9. Di sini akan ditinjau dua metode komunikasi: (i) komunikasi fisik (dengan jaringan jalan) (ii) komunikasi nonfisik (dengan radio.04 Sedangkan jenis-jenis lindungan lainnya dipakai untuk lindungan terhadap aliran air di sungai atau saluran.1 Komunikasi Komunikasi merupakan hal pokok bagi jaringan irigasi yang dikelola dengan baik. Bangunan-bangunan penting harus mudah dicapai sewaktu turun hujan lebat. 134 . perencana akan menentukan kelas jalan dan parameter-parameter bangunannya. Jika kurang berfungsi maka bangunanbangunan itu akan membahayakan keselamatan proyek dan penduduk yang bermukim di daerah itu. Berdasarkan kategori sarana angkutan/transpor dan perkiraan volume lalu lintas. Konstruksi jalan-jalan tersebut harus dibangun memadai agar dapat memenuhi kebutuhan keluarmasuknya staf E&P di daerah proyek. perencana jaringan jalan perlu memikirkan sarana angkutan yang dipakai oleh Staf E&P dan pars pengguna lain jaringan ini. Karena ketiga jenis yang lain ini cukup mahal. Jalan juga harus dibangun di sepanjang saluran-saluran pembuang yang besar dan di atas tanggul-tanggul banjir. khususnya selama musim hujan. jaringan jalan harus dibangun di sepanjang urat nadi jaringan irigasi. Kriteria bangunan untuk jalan telah dibahas dalam Bab & Dalam hubungan ini. 9. tetapi juga untuk angkutan bahan ke lokasi dan angkutan hasil-hasil produksi ke luar daerah dan ke pasar. telepon~ Pentingnya jaringan jalan yang memadai sudah jelas. mereka hanya digunakan untuk bentang pendek. yaitu saluran primer dan sekunder.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . (i) Jaringan jalan Untuk keperluan-keperluan eksploitasi dan pemeliharaan (E&P).2.KP .

2. . harus diinstalasi dan Baling melengkapi satu sama lain.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . seperti misalnya Juru Pengairan. Saluran telepon mudah rusak. khususnya selama hujan badai. 9.Pemasangan jaringan telepon lebih mahal. . Biasanya rumah-rumah ini mempunyai lugs lantai 36 m2 (juru pengairan).KP . Jaringan telepon dan radio mempunyai kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahannya masing-masing.Jarak yang bisa diliput oleh pemancar radio terbatas akibat jangkauan gelombang radio yang terbatas (biasanya FM} Karena alasan-alasan di atas. Pengamat.Persediaan tenaga (kebanyakan digunakan batere) tidak bisa diandalkan jika sistem penyediaan tenaga umum tidak ada. Rumah-rumah ini digolong-golongkan menurut pangkat pegawai (dalam meter persegi). justru sewaktu sarana ini paling dibutuhkan.Sambungan radio murah pemasangannya. Para petugas lapangan bermukim di lapangan dekat dengan daerah kerja mereka atau dengan bangunan yang menjadi tanggung jawabnya. Beberapa di antaranya : . .Jaringan telepon dapat dihubungkan ke jaringan umum. Kedua jaringan. Pengamat memerlukan sebuah kantor kecil (≅36 m2) yang biasanya merupakan salah satu bagian dari rumahnya. ini memungkinkan untuk berhubungan dengan lebih banyak orang.04 (ii) Jaringan radio dan telepon Jaringan komunikasi telepon dan radio sama pentingnya dalam kegiatan eksploitasi jaringan irigasi. maka cara pemecahan yang dianjurkan adalah membuat suatu sistem komunikasi yang merupakan kombinasi antara sambungan telepon dan radio pemancar/penerima. 135 . . jalan dan telepon/radio. 50 m2 (pengamat pengairan) atau 70 m2 (kepala seksi pengairan). tetapi di daerah-daerah yang lebih berkembang.2 Kantor dan perumahan staf Perumahan harus disediakan untuk staf lapangan. Mantri Pengairan dan. perangkat kerasnya (mi& tiang telepon) sudah ada.

2. Pelat-pelat itu ditempatkan di awal saluran pads lereng dalam. Gambar 9.4 Pelat nama Pelat nama untuk saluran dan bangunan berfungsi untuk mempermudah identifikasi. 9. patok-patok hektometer harus ditempatkan di sepanjang saluran primer dan sekunder dan di sepanjang tanggul.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . 9. Luas lantai untuk kantor-kantor Kepala Seksi juga distandardisasi di tiaptiap propinsi.2. namanya harus ditunjukkan dengan baja atau pada skala liter (untuk alai ukur Romijn} 136 . Pelat-pelat tersebut harus menunjukkan nama saluran dan daerah yang diairi dalam ha.5 menyajikan contoh patok hektometer dan penempatannya. Pelat nama untuk setiap bangunan harus dipasang di tempest yang benar pada bangunan iersebut.KP .04 Standar untuk rumah-rumah ini diberikan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya bekerja sama dengan para pejabat setempat seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Direktorat Tata Bangunan. dan singkatan nama saluran. Untuk setiap pintu yang merupakan bagian dari bangunan bagi. Patok-patok ini akan menunjukkan (singkatan) nama saluran irigasi dan pembuang dari awal saluran atau tanggul dalam hektometer (100 m).3 Patok hektometer Untuk mempermudah identifikasi dan orientasi di lapangan.

Penggunaan baja berlapis enamel untuk papanpapan duga ini tidak dianjurkan karena mudah rusak dan tidak terbaca. Papan pasten juga menunjukkan berbagai daerah dengan tanamannya serta tahap pertumbuhan tanaman-tanaman tersebut.02). 137 . Penempatan papan duga bergantung pada pemanfaatan papan tersebut.04 Pelat nama memiliki ukuran Standar tersendiri. 9.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .2. Petani dapat membaca dan mencek apakah pembagian air ditangani sebagaimana mestinya. Papan duga yang dipasang pada bangunan dan dipakai untuk menyetel pintu (dan debit) dibuat dari aluminium dengan garisgaris dan hurufhuruf yang digoreskan.6 Papan duga muka air Papan duga untuk membaca tinggi muka air di saluran terbuat dari pelat baja yang dilapisi bahan logam enamel.KP . BI – 02. Untuk bangunan-bangunan utama atau sungai papan ini dipasang dengan ketinggian nol pada mercu bendung atau pada elevasi yang tepat sesuai dengan ketinggian titik nol yang dipakai. Papan duga mempunyai ukuran-ukuran yang diberikan pada Standar Bangunan Irigasi.5 Papan pasten Papan pasten dipasang di setiap bangunan sadap atau bagi. Papan duga untuk alat ukur Romijn hanya memberikan tinggi muka air relatif saia dan pembacaan yang sama di saluran dan pada skala cm pada kerangka bangunan. Untuk alat ukur Crump-de Gruyter tinggi titik nol papan duga harus sesuai dengan tinggi ambang pintu itu yang menunjukkan kedalaman air di atas ambang. 9. Juru pintu akan mengisi papan-papan ini secara teratur dengan data-data sebenarnya mengenai setelan pintu dan besar debit.2. BI – 02. lihat Standar Bangunan Irigasi. Warna.warna yang digunakan adalah putih untuk alas dan biru untuk huruf dan angka. Ukuran dan tulisan pada papan pasten distandardisasi (lihat Standar Bangunan Irigasi BI .

BI 01 Pintu-pintu sorong dengan bukaan lebar biasanya dibuat dari kayu yang lebih murah untuk ukuran ini.KP . pada waktu sungai banjir atau pada pembuang ke laut yang dipengaruhi oleh pasang-surutnya air laut Bab 7.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .Pada bangunanbangunan dari pasangan batu.3 Bangunan-bangunan Lain Bangunan-bangunan yang diuraikan di sini dibangun di dan di sepanjang saluran untuk (1) untuk pengamanan selama terjadi situasi yang berbahaya. Untuk pintu-pintu yang besar atau kompleks pintu biasanya dibuat rumah pintu untuk tenaga eksploitasi agar terlindung dari keadaan cuaca.02) diberikan detail-detail lengkap mengenai ukuran dan tipe standar pintu. Dalam Standar Bangunan Irigasi (BI . atau (3) untuk menciptakan alternatif agar air jugs bisa dipakai untuk ternak (kerbau dsb} 138 .4 memberikan beberapa contoh pintu otomatis yang bisa dipakai untuk keperluan-keperluan ini Tetapi. Ketiga tipe pintu standar adalah : Pintu gerak Romijn Pintu Crump-de Gruyter Pintu sorong.04 9. Pintu keluar (outlet) pembuang adalah tipe pintu khusus karena harus dapat menghalangi air yang telah dibuang agar tidak mengalir kembali ke daerah semula jika muka air di luar lebih tinggi dari muka air di dalam pembuang.7 Pintu Pintu bangunan di saluran biasanya dibuat dari baja. BI – 01). 9. biasanya dipakai tipe pintu katup yang lebih sederhana (lihat Tipe Bangunan Irigasi.2. atau (2) memperlancar aliran di saluran tanpa merusakkan lereng. gaya-gaya horisontal pada as menimbulkan masalah-masalah konstruksi. Pintu-pintu radial bisa mempunyai keuntungan-keuntungan ekonomis bila bangunan di mans pintu ini dipasang dibuat dari beton. Keadaan ini dapat terjadi pada pembuang ke sungai. Pintu-pintu lain diberikan seperti pada Tipe Bangunan Irigasi.

dibuatlah tempat mandi khusus untuk ternak. Agar ternak tidak masuk saluran.1 Peralatan pengaman Para perencana. Paling tidak lubang masuk sipon dan bangunan-bangunan dengan aliran air yang cepat harus diberi perlindungan. 9.04 9.KP . Peralatan pengaman yang dapat dipakai adalah pagar. 9.3 Kolam mandi ternak Memandikan ternak (kerbau) di saluran merupakan penyebab utama semakin rusaknya tanggul saluran di berbagai daerah.3. Standar Perencanaan tangga cuci diberikan dalam Standar Bangunan Irigasi.2 Tempat cuci Tempat cuci yang berupa tangga pada tanggul saluran akan memungkinkan penduduk yang tinggal di daerah dekat saluran untuk mencapai air saluran. BI – 02. tangga dan penghalang di depan lubang masuk pipa. kolam ini akan dibuat di luar saluran tetapi diberi air dari saluran dengan pipa.3. Jika tersedia tempat. pegangan/sandaran. 139 . tanda bahaya. Pagar atau instalasi kisi-kisi penyaring di muka lebih disukai untuk bangunan-bangunan ini. Karena peralatan pengaman mahal harganya. maka harus benar-benar diselidiki apakah alai-alai itu memang perlu dipasang. terutama anak-anak.harus menyadari bahaya yang ditimbulkan oleh bangunan yang direncana terhadap keamanan umum. Peralatan pengaman dimaksudkan untuk mencegah orang atau ternak masuk ke saluran.3. tetapi tali pengaman di depan lubang masuk clan tangga pada talut kadang-kadang lebih cocok. Dengan menyediakan tempat-tempat cuci berarti mencegah penduduk agar mereka tidak membuat fasilitas-fasilitas itu sendiri dengan cara merusak atau menghalangi saluran.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . kisi-kisi penyaring. atau membantu keluar orang-orang yang dengan sengaja atau tidak masuk ke dalam saluran.

Dalam teori angka rembesan.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . sedangkan bidang horisontal hanya diambil 1/3 dari panjangnya. 140 . Aliran air ini mempunyai pengaruh yang merusakkan stabilitas bangunan karma terangkutnya bahan-bahan halus dapat menyebabkan erosi bawah tanah. Satu kolam mandi ternak untuk satu desa akan cukup.2 Dinding halang. 9. Bangunan seperti pipa gorong-gorong dan pipa sipon sangat memerlukan dinding halang di sekitar pipa untuk mencegah terjadinya rembesan di sepanjang pipa bagian luar. hanya diperlukan jika tak tersedia kolam mandi di tempattempat lain.04 Kalau tidak cukup tersedia tempat di luar saluran. Dinding halang ditempatkan di bawah dan di kedua sisi bangunan yang mungkin harus menanggulangi beds tinggi energi yang besar. Dinding-dinding (cut-off wall) yang dibuat tegak lurus terhadap bangunan mcrupakan lindungan yang efektif terhadap rembesan.4.4.KP . kolam mandi ternak dapat dibuat sebagai bagian dari saluran yang diperlebar dan diberi lindungan. Terangkutnya bahan halus dan erosi bawah tanah yang diakibatkannya dapat dicegah dengan cara (1) memperpanjang jalur rembesan dan/atau (2) menggunakan filter. seperti: bangunan terjun. bangunan pengatur dan pintu. Lane.1 Umum Rembesan terjadi apabila bangunan harus mengatasi beds tinggi muka air dan jika aliran yang diakibatkannya meresap masuk ke dalam tanah di sekitar bangunan. dinding vertikal diambil/dihitung penuh. Ini biasanya mengakibatkan kerusakan akibat terkikisnya tanah pondasi. 9. Jika erosi bawah tanah sudah terjadi. maka terbentuklah jalur rembesan antara bagian hulu dan hilir bangunan. misal di saluran pembuang atau sungai.4 Pencegahan Rembesan 9. Kolamkolam ini yang dibangun di sepanjang atau di dalam saluran irigasi.

lindungan terhadap aliran rembesan yang terkonsentrasi.akan terjadi jalur rembesan yang terpusat di titik ini .lindungan terhadap erosi . Gambar 9. pads gilirannya hal ini akan menyebabkan retak-retak dan dinding tidak dapat lagi berfungsi. 141 .4.3 Koperan Koperan dibuat di ujung lapis (lining) keras saluran atau bangunan. Pada bangunan pengatur. Dinding halang bisa dibuat tipis karena dinding ini tidak terkena gaga apa pun kecuali menahan beratnya sendiri.04 Gambar 9. Koperan mempunya dua fungsi : .akan terjadi kedalaman pondasi yang berbeda-beda untuk dinding itu dan dengan demikian menyebabkan sebaran penurunan yang berbedabeda.6 menyajikan contoh dinding-dinding halang.6 Contoh dinding halang 9. tempat terbaik untuk dinding halang adalah di lokasi yang sama dengan lokasi pintu.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP . akan lebih baik untuk tidak membuat dinding yang lebih kecil dari yang diperlihatkan pads Gambar 94 karena dua alasan : . Pada umumnya.

60 m.4.4 Filter Filter diperlukan untuk mencegah kehilangan bahan akibat aliran air.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . Filter dapat dibuat dengan (1) campuran pasir clan kerikil yang bergraclasi balk.KP . Gambar 9. 9.7 menunjukkan beberapa contoh koperan dan metode pelaksanaannya. 142 .04 Koperan dibuat pada kedalaman minimum 0. (2) dengan kain sintetis atau filter alamiah (ijuk) atau (3) kombinasi keduanya.

143 . Gambar 9.04 9. karena kapasitasnya untuk membebaskan tekanan bergantung kepada banyak parameter yang belum diketahui dan sangat lokal sifatnya. Lubang pembuang sebaiknya dipertimbangkan dalam perhitungan perencanaan.4.9 menunjukkan sebuah tipe lubang pembuang.5 Lubang pembuang Lubang-lubang pembuang dapat dibuat untuk membebaskan tekanan air di belakang dinding (penahan) dan di bawah lantai.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP .

8).1.10 menyalikan beberapa contoh alur pembuang. maka alur pembuang lebih panjang lagi. 144 . Kadang-kadang dibuat alur-alur pembuang pangkal khusus pada sisi kering suatu tanggul (lihat pasal 9.10 Beberapa tipe alur pembuang 9. Kalau lubang pembuang ini berupa titik lubang pembebas tekanan.04 Gambar 9. Kebanyakan alur pembuang dibuat di ujung lantai kolam olak atau di pangkal dinding panahan.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .4.KP . Gambar 9.6 Alur pembuang Alur pembuang berfungsi seperti lubang pembuang.

04 145 .KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

141 pp. IR 1 pp 87 . MOH. & F. UK. John Wiley. . New York. 1977 Tinjauan terhadap buku pedoman penentuan tebal perkerasan. 43 pp. Wageningen. and FISHER CASSIE. American Society of Civil Engineers.P. 1984.M. 1970b. 1978. Publications of the Graduate School of Engineering. 464 pp.FNS. BRADLEYJ. No43/BDG/LPT/BM/1977. and PETERKA.N. Peraturan perentjanaan geometrik djalan raja (standard specifications for geometric design of rural highways).1405. International Institute for Land Reclamation and Improvement/ILRI.04 PUSTAKA ANAS ALY. Direktorat Bina Marga.Martinus Nij'hoff/Dr. Publication 20. 1981.A. BOS. France.A_J. 1976.M. Principles governing the design and construction of economic revetments for protecting the banks of rivers and canals for ocean and inland navigation. 1985.GJE 1940. BINA MARGA. The hydraulic design of stilling basins. SpOn Lid.Lvan.A. 1969. U. American Society of Civil Engineers. HY 5. No. London. and REININK. 2nd. REPLOGLE. Vol. et al. The mechanics of engineering soils. ed.J.G.A.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .J. Direktorat Jenderal Bina Marga NoIM970L BINA MARGA. and CLEMM. ed. BOS. Vol. 13/1970.M. Discharge measurement structures. BENDEGOM. pp 1401 . No : 04/PD/BM/1974. BOS.N. 146 .S. E.KP . BERTRAM.G.M.G. 1970a.. 83. Penentuan tebal perkerasan (flexible) (A guide for pavement design) (flexible) Direktorat Jenderal Bina Marga. No. Paris. 107. CAPPER. BINA MARGA. 267.G. Dordrecht.L. flexible jalan raya. The Netherlands. W. 6th ed. 321 pp. An experimental investigation of protective filters.102. Journal of the hydraulics division. Harvard University. Flow measuring flumes for open channel system. Journal of the Irrigation and Drainage Division. 1974. Peraturan muatan untuk jembatan jalan raya (loadingspecifications for highway bridges).W. 20th International Navigation Congress. Head loss over long-throated flumes. The Netherlands. BOS. Long-throated flumes and broad-crested weirs. 1957.-.Junk Publisher.Y. Direktorat Djenderal Bina Marga No.

ARS 41-93.W. pp.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . NoR ROMIJN. USA. Meetsluizen ten behoeve van irrigatie werken.E. 184 Kriteria Perencanaan . Transport and Road Research Laboratory. Elementary Soil Engineering.J. pp 892 . United Nations. Control of the Hydraulic Jump by sills. Fort Collins. 24 pp. Een nieuw type aftap tevens meet sluis. pp.902. USA. 58 pp. 1965. chapter 4. 1959.04 DE INGENIEUR IN NEDERLANDSCH . and BOS. Department of Agriculture. La Houille Blanche. - 147 . Grenoble. Bangkok. ESCANDE. D. 159 -163. 14. India. UKROMIJN. Economic and Social Commission for Asia and the Pacific. GRUYTER. IDEL'CIK. Thailand. U. ESCAP 1981. Batavia (Jakarta Indonesia.G. VoL 115. Handleiding door De Vereniging van Waterstaats Ingenieurs in Nederlandsch Indie. 43. Paris. Engineering Field Manual. De Waterstaatsingenieur. 1938. Soil Conservation Service. Washington.D.F. Over de dimensioneering van zijdelingsche overlaten. VoI2 Nod.B.KP . Series B. 1950. ICID bulletin.INDIE 1937. 1954 Straight drop spillway stilling basin Technical Paper NoJ5.A. The constant-head orifice farm turnout. Een regelbare meetoverlaat als tertiaire aftapsluis. University of Minnesota Saint Anthony Falls Hydraulic Laboratory. Collection du Centre de recherche et d'essais de Chatou.E. New Delhi. 1926 (No-12) and 1927 (No-1). Bandung.S. 1969 Memento des penes de charge.I.G. DONNELLY. 1980. France. 1932. FORSTER. 4C jaargang. 1965.P. SCS.Bangunan GARBRECHT. KRUSE. no12.F.A.D. Colorado. 973-987. Manual on rural road construction.L and SANANES. De Waterstaatsingenieur. and SKRINDE. No. Important water measurement in irrigation systems. U. 45 pp. Transactions of the American Society of Civil Engineers. Indonesia. Report Agricultural Research Service. ROAD NOTE 311977 A Guide to the structural design of bitumen-surfaced roads in tropical and sub-tropical countries. Batavia (Jakarta).A.. 1969. Her Majesty's Stationery Office. Eyrolles. pp.W.G. France.R.M.S. London.G. de.C.C. and BLAISDELL. Etude des seals deversants a fence aspirstrice.

J. Engineering Manual.M. no. Nob. Indonesia.L pp78MVLUGTER. Austria.04 SCHMIDT. 1973 2nd edition. pp126 -142. 148 . Die berechnung von Streichwehren. USA. VLUGTER. 1962 No. De Ingenieur in Ned-Indie. USA. Over zelfwerkende peilregelaars bij den waterstast in Ned – Indie. ARMY CORPS OF ENGINEERS. vol.45. 1940a. BUREAU OF RECLAMATION. Abaque pour le calcul des caracter istiques de P ecoulement dams la section de gorge d'um siphon. La Houille Blanche. 1955. Chapter 2. U.4. Part XIII. BUREAU OF RECLAMATION. Wien. Washington DC. No10. 1962. SCHQKLITSCH. 1960.H.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . Drainage and erosion controlsubsurface drainage facilities for air fields. L440. Stuttgart. Denver.A. 1978. 1940b. Bandung. Denver. USA.KP . 435 pp. 15 pp.96 -100. Military Construction. US. Design of Small Canal Structures. VALEMBOIS. 611 pp. pp. Die Wasserwirtschaft.H.S. De regelbare meetoverlaat De Water staatsingenieur. 1962 (dritte auflage) Handbuch des Wasserbaues (Erster band). US. 1954. Design of Small Dams.

04 149 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP .

1 Alat ukur Cipoletti Alat ukur Cipoletti merupakan penyempurnaan alat ukur ambang tajam yang dikontraksi sepenuhnya.1.1. mercunya horisontal dan sisi-sisinya miring ke samping dengan kemiringan 1 vertikal banding 1/4 horisontal (lihat Gambar A.KP .1.l).1 Perencanaan hidrolis Persamaan debit untuk alat ukur Cipoletti adalah: Q = Cd Cv 2/3 2 g b h11.. m /dt Cd = kodfisien debit (≅ 0.63) Cv = koefisien kecepatan datang (lihat Gambar 2. m (lihat Gambar A.. Alat ukur Cipoletti memiliki potongan pengontrol trapesium.5 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .04 LAMPIRAN 1 A.1.. (A. Gambar A.1.1. m/dt (≅ 9.1). m (lihat Gambar A.l. 150 .3) 2 g = percepatan gravitasi.l) h1 = tinggi energi hulu.8) b = lebar mercui.1 Dimensi alert ukur Cipoletti A.l.1) di mana : 3 Q = debit.

1. yang dapat mengganggu berfungsinya alat ukur. leher dengan lantai miring ke bawah. belum ada teori hidrolika untuk menerangkan aliran melalui alat ukur Parshall : Tabel debit hanya dapat diperoleh lewat pengujian di laboratorium. (4) Sedimentasi terjadi di hulu bangunan.2} Karena lereng-lereng lantai yang tidak konvensional ini. Karena jarak antara pintu dan bangunan ukur jauh. kecuali di lingkungan laboratorium. A. Bangunan itu terdiri dari sebuah peralihan penyempitan dengan lantai yang datar.3 151 . A.l.1. Oleh sebab itu. dan peralihan pelebaran dengan lantai miring keatas (lihat Gambar A.l.1 diberikan label debit untuk qm3/dt. para petani pemakai air dapat meneek 'persediaan air mereka. Tabel A.1. Dengan adanya lengkung garis aliran tiga-dimensi pada bagian pengontrol ini. Tabel ini hanya bisa digunakan oleh bangunan yang dieksploitasi di lapangan jika bangunan itu dibuat sesuai dengan dimensi talang yang telah diuji di laboratorium. eksploitasi pintu menjadi rumit.1. (3) Jika papan duga diberi skala liter. alat ukur tipe ini tidak dapat digunakan. di mana kehilangan tinggi energi yang tersedia kecil sekali.2). (5) Pengukuran debit tidak mungkin dilakukan jika muka air hilir naik di atas elevasi ambang bangunan ukur tersebut. datar. lebih dianjurkan untuk memakai bangunan kombinasi.KP . (2) Biaya pelaksanaannya tidak mahal. (6) Kehilangan tinggi energi besar sekali dan khususnya di daerahdaerah.04 Pada. benda-benda yang hanyut tidak bisa lewat dengan mudah. ini dapat menyebabkan kerusakan dan mcngganggu ketelitian pengukuran debit.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .m. A.2 Alat Ukur Parshall Alat ukur Parshall adalah alat ukur yang sudah diuji secara laboratoris untuk mengukur aliran dalam saluran terbuka. Penggunaan Alat ukur Cipoletti yang dikombinasi dengan pintu sorong sering dipakai sebagai bangunan sadap tersier.1. Pemakaian alat ukur ini tidak lagi dianjurkan.1.2 Karakteristik bangunan (1) Bangunan ini sederhana dan mudah dibuat. aliran tidak diukur dan diatur di dalam leher. melainkan di dekat ujung lantai datar peralihan penyempitan (mercu pada Gambar A.

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .05.2. Karena leher lantai yang miring ke bawah.KP . Kesalahan pada Label debit kurang dari 3%.04 Dimensi 22 alat ukur yang sudah diuji (dengan satuan milimeter) disajikan pada Tabel A. 152 . Juga kran piesometer yang dipakai untuk mengukur tekanan piesometris harus dipasang di lokasi yang tepat agar bisa mengukur debit. Harus diingat bahwa keenam bidang yang membentuk peralihan penyempitan dan potongan leher tersebut harus saling memotong pada garis yang benar-benar tajam.08. air diarahkan ke lantai peralihan pelebaran.1. sedangkan untuk yang berukuran besar (lebarnya lebih dari 3 m) batas moduler itu naik hingga 0. Pembulatan akan mengurangi lengkung garis aliran dan mengubah kalibrasi alat ukur. Peredaman energinya menghasilkan batas moduler yang lebih rendah dibandingkan dengan alat ukur ambang lebar (atau secara hidrolis berhubungan dengan panjang leher saluran} Untuk alat-alat ukur yang kecil batas moduler ini adalah 0.

1.04 A. mampu mengukur berbagai besaran debit aliran bebas. tak mudah diubah-ubah oleh petani untuk mendapatkan air di luar jatah. karena bentuk gcometrinya dan kecepatan air pada bagian leher.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . yang dikontrol 153 .KP .1 Karakteristik bangunan Alat ukur Parshall merupakan bangunan pengukur yang teliti dan andal serta memiliki kelebihan-kelebihan berikut : (1) (2) (3) (4) (5) mampu mengukur debit dengan kehilangan tinggi energi yang relatif kecil. pada dasarnya bangunan ini dapat bebas dengan sendirinya dari benda-benda yang hanyut. tidak terpengaruh oleh kecepatan datang.2. dengan air hiiir yang relatif dalam dengan satu alat ukur kedalaman air.

(3) agar dapat berfungsi dengan memuaskan. (2) tak dapat dikombinasi dengan baik dengan bangunan sadap karena aliran masuk harus seragam dan permukaan air relatif tenang.6 m3/dt dan Δ h = 0. Alat ukur Parshall : (1) biaya pelaksanaannya lebih mahal dibanding alat-alat ukur lainnya. A. dan pengukuran menjadi tidak teliti. Bureau of Reclamation. tersebar merata dan bebas turbulensi.Δh …. diperlukan kehilangan tinggi energi yang besar untuk pengukuran aliran moduler.12 m untuk 0.KP .2) 154 . tapi tidak dianjurkan untuk merencana alat ukur Parshall aliran nonmoduler karena diperlukan banyak waktu untuk menangani dua tinggi energi/head. (4) terutama untuk alat ukur kecil. alat ukur ini harus dibuat dengan teliti dan seksama.3. dan disebut demikian karena eksploitasinya didasarkan pada penyetelan dan mempertahankan beda tinggi energi (biasanya Δ h = 0.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .3 Alat Ukur Orifis dengan Tinggi Energi Tetap (CHO) Alat ukur orifis dengan tinggi energi tetap (CHO = Constant Head Orifice) (lihat Gambar A13) adalah kombinasi pintu pengukur dan pengatur dalam satu bangunan.06 m untuk Q < 0. A. Walaupun sudah ads kalibrasi tenggelam. Bile alat ukur/flum tidak dibuat dengan dimensi yang tepat menurut Tabel A2. (A.04 secara otomatis jika flum dibuat sesuai dengan dimensi standar serta hanya dipakai bila aliran masuk seragam.1.S.5 m3/dt) di seberang bukaan pintu orifis hulu dengan cara menyesuaikan pintu pengatur sebelah hilir.w yang diperlukan untuk mengalirkan air tersebut ditentukan dari rumus berikut : Q=CA 2 g .1.4.6 < Q < 1.1 Perencanaan hidrolis Untuk menyetel besar aliran tertentu bukaan pintu orifis A = b. Apendiks 2.1. make tabel debitnya tidak ada. CHO dikembangkan oleh U.

06 m atau 0.3) 155 .06 m dan g = 9. m/dt2 (≅ 9.66.04 di mana : Q = C = A = g = Δh = debit.716 bcw ….8) kehilangan tinggi energi di atas pintu.66) luas bukaan pintu. m (0. (A.l.KP .12 m). m bc = lebar pintu. Δ h = 0. m percepatan gravitasi.2 menghasilkan : Q = 0. Substitusi harga Cd = 0. m2 (= bcw) w = tinggi bukaan pintu. m3/dt koefisien debit (≅ 0.8 m/dt2 ke dalam persamaan A.1.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

sama dengan tinggi energi tetap (konstan) yang diperlukan.04 Pintu orifis itu sekarang disetel dengan lobar bukaan yang sudah diperhitungkan w. Faktor-faktor yang lain ialah : a.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . Terbentuknya olakan air di depan pintu orifis dengan kecepatan aliran dalam saluran. b. Beda tinggi energi yang agak kecil ( Δ h = 0. Pusaran air yang besar di belakang pintu orifis akibat 156 .66 m) merupakan salah satu faktor penyebab tidak tepatnya pengukuran debit yang dilakukan oleh CHO.KP . Kemudian besar debit kurang lebih sama dengan harga yang diperlukan. Selanjutnya pintu pengatur sebelah hilir disesuaikan sampai beds tinggi energi yang diukur di atas pintu orifis.

A. (2) Kehilangan tinggi energi yang diperlukan untuk menciptakan aliran moduler besar sekali. maka tipe. d. (3) Tepi bawah yang tajam dari pintu orifis bisa menjadi tumpul dan menyebabkan lebih banyak kesalahan dalam pengukuran debit.3.06 m di atas pintu orifis (ii) kehilangan tinggi energi yang diperlukan untuk aliran kritis di bawah (atau di atas) pintu pengatur (iii) kehilangan pada peralihan dari pintu pengatur ke saluran (tersier) hilir.716) dari persamaan A. bentuk dan dimensinya tidak relevan. 157 . Karena tepi pintu yang tajam dan pemakaian dua pintu sekaligus. Bagian hilir pintu ini mungkin saluran terbuka atau gorong-gorong. Karena pintu pengatur hanya berfungsi untuk menyetel beda tinggi energi pada Δ h = 0. Tetapi dalam hal yang terakhir ini. yang mengakibatkan berubahnya beda tinggi energi yang sudah disetel Δ h = 0.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . Di lapangan pernah dijumpai kesalahan besar. benda-benda terapung hampir-hampir tidak mungkin bisa lewat.04 terjadinya pemisahan aliran di sepanjang pintu orifis dan kerangkanya. Lebih disukai lagi jika permukaan air di dalam gorong-gorong tetap bebas. Mudah tenggelamnya pintu pengatur ini. (4) CHO menangkap benda-benda terapung.13.25 m.1. kantong udara di sebelah hilir pintu harus diaerasi (diisi udara) untuk menghindari kenaikan tekanan yang mendadak.KP . Kehilangan total tinggi energi di sebuah CHO yang dibutuhkan untuk mendapatkan aliran moduler terdiri dari tiga bagian : (i) beda tinggi energi konstan Δ h = 0. Kesalahan yang dibuat bisa mencapai 100%. Jumlah kehilangan tinggi energi ini biasanya lebih dari 0. selalu lebih dari 0. Kesalahan sekitar 7% pada koefisien (0.06 m.06 m.25 m. c.2 Karakteristik bangunan (1) Pengukuran aliran tidak tepat.

3.3 Penggunaan CHO adalah bangunan sadap tersier. yang diberi tera sentimeter. A.KP .1. Eksploitasi dan fungsi hidrolis bangunan ini rumit dan penggunaannya di Indonesia tidak dianjurkan.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . Prosedur eksploitasi ini rumit. 158 .04 (5) Bukaan pintu diukur dengan Stang putar bersekrup (screw rod dan operation wrench).

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .04 159 .KP .

04 160 .KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .04 LAMPIRAN 2 161 .

04 162 .KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

KP .04 163 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

04 164 .KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

KP .04 165 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP .04 166 .

04 167 .KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

KP .04 168 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

04 169 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP .

04 170 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP .

KP .04 171 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .04 172 .

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP .04 173 .

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .04 174 .KP .

KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .04 175 .

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP .04 176 .

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP .04 177 .

04 178 .KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

KP .04 179 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP .04 180 .

04 181 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP .

04 182 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP .

04 183 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .KP .

04 184 .KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .04 185 .

KP .04 186 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

04 187 .KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .04 188 .

04 189 .KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

KP .04 190 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

PENDAHULUAN Lampiran ini memberikan petunjuk perencanaan can perhitungan pekerjaan transmisi yang dikerjakan dengan tangan untuk pintu sorong. Pekerjaan transmisi itu bisa berupa satu atau dua stang.berat pintu (beban matil .gaya geser di dalam alur pengarah (beban statis). b.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . 2.gaya air yang mengalir dan air tegak pada pintu. c. Gaya angkat adalah jumlah : . di bawah kondisi luar biasa : a. dengan menarik ke luar bagian persegi dari pintu. Harus disediakan longgaran agar supaya gaya-gaya yang ada pads stang tidak melebihi harga-harga kekuatan nominal. 191 .3.KP . gaya-gaya geser di dalam alur pengarah bisa ditambah sampai ketinggian tertentu sehingga pintu akan terblokir. Hal ini bisa terjadi : 1. Dasar perhitungannya adalah bahwa gaya dorong sama dengan gaya angkat ditambah dengan gaya geser di dalam komponen pekerjaan transmisi. di bawah kondisi normal. adahya batu-batu. kayu atau benda-benda hanyut lainnya yang tersangkut di bawah pintu. korosi. pada waktu pintu tertutup sama sekali. Untuk mendapatkan perhitungan kekuatan yang maksimal. pemblokiran gerak pintu selama terjadi gaya dorong penuh akan dianggap sebagai kondisi yang paling ekstrem.1. tumbuhan atau pelumpuran yang berldbihan.04 LAMPIRAN 3 PERENCANAAN ALAT-ALAT PENGANGKAT A. dan .

persyaratan mengenai kekuatan berkenaan dengan pelenturan dan sudut geser oleh puntiran persatuan panjang harus dipenuhi.3. Nilai banding antara beban maksimum yang mungkin dan lebar nominal adalah 800 : 100 = 8.2. kondisikondisi berikut harus dipertimbangkan : 1) Kondisi normal (tidak terblokir) : .2 Beban maksimum Untuk pintu yang dioperasikan dengan tenaga manusia. 2) Kondisi luar biasa . Beban yang dapat ditahan oleh seseorang dalam waktu yang lama.tegangan luluh (yield stress) bisa dipakai. Ini berarti bahwa beban maksimum untuk perhitungan ini adalah 2 X 400 N = 800 N. maka masing-masing stang harus dihitung sedemikian sehingga bisa mengambil 2/3 dari beban maksimum yang mungkin. maka harga-harga beban yang telah disebutkan di atas menjadi 1. Diandaikan bahwa sebuah roda tangan dengan jari-jari 0.30 m dapat berputar sebanyak 15 .1 Tegangan yang diizinkan Dalam penghitungan pekerjaan transmisi dan stang. 30 menit.KP . A. Seandainya ada dua orang atau lebih yang akan mengoperasikan pekerjaan transmisi itu. termasuk faktor keamanan yang telah disebutkan di atas. atau lebih adalah 100 N. Apabila satu pintu mempunyai dua stang. Satu orang dapat menggerakkan gaya/tenaga 400 N selama waktu yang singkat. .2.6 kali harga-harga untuk satu orang.04 A.3. harus dipakai faktor keamanan 2 pada beban maksimum yang mungkin oleh satu orang.3.harus dipakai tegangan yang diizinkan. 192 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .20 kali putaran per menit.2 PERHITUNGAN PEKERJAAN STANG DAN TRANSMISI A. Jumlah putaran untuk roda tangan dengan as tegak atau datar sama saja.

193 . maka diperlukan dua stang.3 untuk baja pada perunggu. Apabila perbandingan h/b lebih kecil daripada f.04 A. maka dianjurkan untuk menambah koefisien gesekan untuk berbagai komponen pekerjaan transmisi dengan 40 .KP . Alur pengarah f = 0.2. koefisien gesekan yang dianjurkan untuk gerakan baja pada perunggu adalah 0.15 bukannya 0.3. untuk menghindari kemacetan pintu akibat ditarikkeluarnya bagian segi empat (square). korosi dan sebagainya. kotoran. Maksudnya.13 (tak bergerak).3 Koefisien Gesekan Perbandingan antara tinggi dan lebar pintu harus lebih kecil dari koefisien gesekan f antara sisi samping pintu dan alur pengarah (h/b<f).11 untuk perhitungan Stang dan gir. Dengan mempertimbangkan pemeliharaan yang jelek. bukannya 0.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .50% dan untuk pengarah dengan 100%.

gaya tarik nominal T adalah T = (G + W) b. gaya tekan nominal P adalah : P = (W . perbandingan antara beban maksimum dan nominal). untuk kondisi tidak normal gaya tekan maksimum Pmaks adalah : 194 . 2.2. gaya maksimum Tmaks adalah: Tmaks = n * T = n (G + W) di mana : G = berat total pintu termasuk stangnya (berat mati) W = beban gesekan vertikal di dalam alur W = fH f = koefisien gesekan.G) b.3.04 A.KP . Menemukan beban tarik T pada stang : a. untuk kondisi tidak normal. H = beban horisontal maksimum pada pintu n = faktor beban (= 8. Untuk dua stang.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . untuk kondisi normal.4 Perhitungan untuk Stang Perhitungan pekerjaan transmisi mulai dengan : 1. Gaya tekan as pada stang : a. untuk kondisi normal. gaya tarik maksimum pada masing-masing stang adalah 2/3 dari nominal maupun dari beban vertikal maksimum.

tegangan maksimum dan sudut maksimum karena perubahan bentuk diperiksa dengan menggunakan diameter teras yang sudah dihitung. 195 . Penentuan puntiran maksimum pads stang untuk kondisi tidak normal : Mw maks = n * (G + W) * tan (ψmaks + α) * rg Diameter minimum teras stang yang diperlukan ditentukan dengan memperhitungkan tekukan stang untuk gaya tekan maksimum dan puntiran maksimum. Puntiran pada stang : Mw = (G + W) * tan (ψmax + α) * rg 4. Tegangan nominal untuk tegangan dan tekanan. 5.04 3.KP .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .

ada tiga kondisi yang harus dipertimbangkan : untuk Pk* ≥ Pmaks dan Mk*≥ Mw maks di mana : Pmaks = Mw maks = = lk E = I = dk = A. sebagaimana umumnya dipraktekkan untuk pintu-pintu yang lebih kecil dari 1. Nm panjang tekukan. m4 diameter teras stang. N puntiran maksimum pads stang. make pekerjaan transmisi dapat direncana sebagai berikut : Gerak putar mur menyebabkan pintu bergerak vertikal.3 gaya desak maksimum pada stang. momen-momen berikut harus dipecahkan : 196 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . Untuk mengangkat pintu.2.20 m.00 sampai 1. m modulus elastisitas. N/m2 1/64 π d4 (momen lembam).04 Untuk tekukan.KP . m Perencanaan Pekerjaan Transmisi a Satu stang Apabila digunakan satu stang.3.

Momen gesekan antara mur dan dudukan setiap stang adalah : M2 = ½ (W + G) * f * rn Jumlah momen untuk gerak ulir adalah Ms = M1 + M2.jarak dari beban gesek ke as stang.momen nominal untuk mengangkat pintu : M1 = (W + G) * tan (ψmaks + α) * rg . Momen-momen ini harus dipecahkan dengan momen yang digunakan oleh operator pintu : M=PxR di mana : R = jari-jari roda tangan.momen gesekan antara mur dan dudukan : M2 = (W + G) * tan ψ2 * rn di mana : tan ψ2 = rn = koefisien gesekan antara mur dan dudukan jarak antara as stang dan bagian tengah dudukan. 197 . m P = gaya yang digunakan oleh operator pintu. N. Dua stang Momen nominal masing-masing stang untuk mengangkat pintu adalah : M1 = ½ (W + G) tan (ψmaks + α) * rg Momen gesekan bergantung pada : . . Karena M = M1 + M2.. .04 .KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . b.gaya tarik nominal.koefisien gesekan. maka gaya P dapat dihitung jika ukuran-ukuran pekerjaan transmisi sudah diketahui.KP .

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04

Momen dorong adalah : M = 2 x 0,9 x 0,9 (x 0,8) x R x P di mana : P = gaya maksimum 1 orang N R = jari-jari roda tangan dari roda kapstan m 0,9 = efisiensi akibat kehilangan pada setiap transmisi 0,8 = pengurangan jika roda dioperasikan oleh 2 orang.

Momen untuk gerak ulir sama dengan momen dorong kali nilai banding gir. Nilai banding, i, adalah perbandingan antar r.pm. atau antara diameter roda gigi. Untuk pintu-pintu yang dioperasikan dengan tangan, nilai banding gir harus lebih kecil dari 6 atau 7.

Jika digunakan lebih banyak lagi roda transmisi jumlah nilai banding gir menjadi : i = i1 + i 2 Nilai banding gir itu didapat dari :

198

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04

c.

Waktu pengangkatan Setelah pekerjaan transmisi selesai direncana, waktu pengangkatan pintu bisa dihitung. Pada waktu pintu diangkat h dan puncak stang s, ulir membuat putaran h/s. Jumlah putaran roda tangan tergantung pada nilai banding gir i dan jumlahnya i x h/s. Sebuah roda tangan dengan jari-jari 0,30 m dapat membuat 15 - 20 kali putaran per menit yang memberikan kecepatan putaran 0,63 m/dt. Satu putaran roda tangan memerlukan

dan jumlah putaran per menit mencapai sekitar 20 Waktu angkat maksimum :

A.3.3

CONTOH PERRITUNGAN Berikut diberikan contoh perhitungan dimensi pekerjaan transmisi pintu sorong dengan lebar 1,80 dan tinggi 1,50 m. Tinggi maksimum muka air yang mungkin di atas dasar saluran peralihan adalah 1,80 m. A.3.3.1 Perhitungan berat coati dan beban statis Beban yang harus diperhitungkan adalah : G = berat coati pintu H = beban horisontal maksimum pads pintu W = gaya gesek antara pintu dan alur-alur pengarah T = gaya tarik pada stang P = gaya tekan pada stang.

199

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04

Gaya-gaya maksimum di bawah kondisi tidak normal adalah 8 kali harga gaya-gaya di bawah kondisi normal. Andaikan ada dua stang Bj 50 (kualitas baja berdasarkan PPBBI 1984) dan mur perunggu, koefisien gesekan maksimum pada bagian pekerjaan transmisi ini ialah : fmaks = tan ψmaks = 0,14 (ψmaks = 8o) dan koefisien gesekan minimum : fmin = tan ψmin = 0,09 (ψmin = 5o) Andaikan diameter stang 52 mm dan ulir 8 mm,

200

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04

Andaikan bahwa koefisien gesekan f antara pintu dan alur pengarah adalah 0,4. Berat total pintu, termasuk stangnya adalah :

Beban horisontal maksimum akibat tekanan air pads pintu :

Gaya gesekan antara pintu dan alur-alur pengarah, dengan mengandaikan koefisien gesekan untuk alur-alur tersebut, adalah : f = W = 0,40 (baja pada baja) f x H = 0,40 x 28.400 = 11360 N.

Gaya-gaya angkat dan tekan diperoleh dari :

Gaya angkat total : T = W + G = 15.800 N Gaya tekan total : P = W - G = 6.920 N Beban untuk masing-masing stang adalah 2/3 dari jumlah nominal dan beban maksimum : gaya tarik nominal : T = 2/3 * 15.800 = 10.530 N gaya tarik maksimum : T = 2/3 * 8 * 15.800 = 84.270 N

201

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04

Gaya tekan nominal adalah : P = 2/3 * 6.920 = 4.610 N Gaya tekan maksimum didapat dari : P = 2/3 * 8 (G + W) {tan (ψmaks + α)/tan (ψmin + α)} P = 84.270 tan (8 + 3,0)/tan (5 + 3,0) = 116.553 N Puntiran di bawah kondisi abnormal adalah juga 8 kali puntiran selama pengangkatan di bawah kondisi normal. Momen nominal adalah : Mw = 2/3 (W + G) tan (ψmaks + α) rg = 2/3 * 15.800 * tan (8 + 3,0) * 24 * 10-3 = 49,1 Nm Momen maksimum adalah: Mw = 8 x 49,1 = 393,1 Nm Pada waktu menghitung tekukan, pintu harus dalam keadaan tertutup. Dalam keadaan demikian, tekukan atau panjang efektif menjadi maksimum : lk = 1,70 m. Modulus elastisitas untuk baja adalah E = 210 * 109 N/m2. Diameter stang diandaikan 52 mm dan ulir s 8 mm, yang berarti bahwa diameter teras dk = 44 mm. Momen polar kelembaman didapat dari : I = πdk4 / 64 = π * (44 * 10-3)4 / 64 = 184 * 10-9 (m4) Untuk mencek diameter teras kedua stang beban-beban puntiran dan desakan berikut harus diperhitungkan :

202

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04

Persyaratan untuik tekukan puntiran adalah : Pk * ≥ Pmaks Mk * ≥ Mmaks : : 132 * 103 > 116,5 * 103 49,0 * 103 > 393,1

Apabila persyaratan-persyaratan di bawah a, b dan c semuanya terpenuhi, maka diameter yang diandaikan untuk stang 52 mm adalah memadai untuk beban-beban tarik, tekanan dan puntiran. Tegangan-tegangan yang hares dicek :

203

KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi - KP - 04

tegangan tarik nominal :

tegangan tarik maksimum :

Tegangan tarik maksimum adalah lebih kecil daripada tegangan luluh untuk Bj 50, yaitu 290 N/mm2 atau 290 * 106 N/m2. Tegangan tarik nominal yang diizinkan adalah 193 * 106 N/m2.. Perhitungan ulir dan diameter stang Jari-jari rata-rata adalah rg = 1/4 (d + dk), di mana d adalah diameter bagian luar dan dk adalah diameter teras stang. Perbedaan antara kedua diameter tersebut adalah t = d – dk, jadi rg = 1/4 (d + dk) = ½ (dk + t). Andaikan t = n * d dan s = 2 * t. Persyaratan sudut ulir adalah a < wmin, di mane w adalah sudut gesekan. Sudut puncak stang diperoleh dari :

204

9 * 0. jadi f = 0. diperlukan momen nominal : M1 = ½ (W + G) * tan (ψmaks + α) * rg = ½ * 15.800 * tan 11.π f) Sudut minimum gesekan ψmin = 5°.09 dan t < 0. maka momen yang digunakan oleh satu orang (T=100 N) adalah : M = 1 * 0.30 Nm 205 . Diameter teras dk adalah 44 mm dan t < Q16 * 44 = 7 mm. Pekerjaan transmisi Untuk gerakan u1ir. ambil t = 4 mm dan s = 2 x t = 8 mm.16 d10.9 Nm per stang.83 Nm Jumlah kopel yang diperlukan untuk menggerakkan ulir adalah : Ms = = M1 + M2 = 36. momen puntiran menjadi : M2 = r ½ (W + G) * f = = 0.9 * 0.04 Karena tg ψmin adalah koefisien gesekan f.83 37.7 Nm per stang.π f) atau t ≥ dk * π * f/(2 .60 m untuk transmisi itu.KP . hubungan antara diameter teras dan t bisa dinyatakan sebagai : Ini berarti bahwa t/dk ≥ π * f/(2 .30 * 100 = 24.002 = = 0.9 + 0.002.0525 * ½ * 15.0525 m.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi .5o * (24 * 10-3) = 36. maka koefisien gesekan bantalan peluru adalah f = 0.800 * 0. Apabila jarak antara pusat peluru dan as stang r = 0. Jika dipakai bantalan peluru antara mur dan dukungan. Andaikan pada setiap transmisi 10% hilang dan dipakai roda tangan dengan diameter 0.

04 Nilai banding gir i harus paling tidak : Waktu angkat didapatkan dari : Apabila tinggi angkat h = 1. 206 . maka jumlah putarannya adalah 20 per menit dan ulir 8 mm.50 m. dan jumlah putaran bertambah dan apabila besarnya nilai banding gir i berkurang.KRITERIA PERENCANAAN BAGIAN BANGUNAN Standar Perencanaan Irigasi . Waktu angkat akan berkurang apabila harga ulir s.KP .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful