DISPEPSIA

PEMERIKSAAN FISIK

INSPEKSI Inspeksi kulit abdomen untuk melihat adanya parut dan striae Inspeksi umbilikus dan kontur abdomen untuk melihat apakah simetris, adanya pembesaran organ, massa, gelombang, peristaltik, dan pulsasi Inspeksi untuk melihat adanya hernia Inspeksi vena-vena superfisialis

satu kuadran Auskultasi abdomen untuk mendengar friction rub dan bruit. kedua sisi .PEMERIKSAAN FISIK  AUSKULTASI Auskultasi abdomen untuk mendengar suara usus.

Palpasi lien untuk mengetahui ukurannya Palpasi ginjal untuk mengetahui pembesarannya Palpasi aorta Tes refleks abdominal superfisialis Periksa nyeri tekan hepatik Jika dicurigai ada inflamasi peritoneum. periksa nyeri tekan lepas.PEMERIKSAAN FISIK  PALPASI Palpasi abdomen mendalam untuk memeriksa massa seluruh keempat kuadran Palpasi abdomen secara ringan untuk mengetahui defans muscular (guarding) atau memeriksa nyeri tekan seluruh keempat kuadran Palpasi hepar untuk mengetahui ukurannya. .

periksa shifting dullnes atau gelombang cairan .PEMERIKSAAN FISIK  PERKUSI Perkusi abdomen untuk gambaran timpani dan pekak seluruh keempat kuadran Perkusi kuadran kanan atas untuk memeriksa rentang kepekakan hati Jika dicurigai ada asites.

PEMERIKSAAN PENUNJANG  Pemeriksaan radiologi (barium meal. USG) .

PEMERIKSAAN PENUNJANG  Endoskopi saluran cerna bagian atas .

regurgitasi dan rasa panas menjalar di badan. cepat kenyang. rasa penuh. . kembung. mual. muntah.WORKING DIAGNOSTIC Dispepsia merupakan kumpulan gejala yang terdiri dari nyeri/tidak nyaman di daerah epigatrium. sendawa.

WORKING DIAGNOSIS  Diagnosis dispepsia organik ditegakkan melalui beberapa tanda alarm di bawah ini. yaitu: Usia >45 tahun Hematemesis melena BB menurun >10 kg Anoreksia Riwayat tukak peptik Muntah persisten Anemia .

dispepsia fungsional didefinisikan sebagai:  Adanya satu atau lebih keluhan rasa penuh setelah makan.WORKING DIAGNOSIS Dalam konsensus Roma III (tahun 2006). cepat kenyang. nyeri ulu hati. . rasa terbakar di epigastrium   Tidak ada bukti kelainan struktural Keluhan terjadi selama 3 bulan dalam waktu 6 bulan terakhir sebelum diagnosis ditegakkan.

.

WORKING DIAGNOSIS .

dan pada pemeriksaan fisik tidak dijumpai kelainan .DIFFERENTIAL DIAGNOSTIC  Gastritis Persamaan: disebabkan oleh Helicobacter pylori Perbedaan: Kebanyakan gastritis terutama gastritis kronik  tanpa gejala. anoreksia. Hanya sebagian kecil yang mengeluh nyeri ulu hati. nausea.

.

rasa sakit bisa membangunkan pasien tengah malam.DIFFERENTIAL DIAGNOSTIC  Tukak peptik Tukak duodeni  rasa sakit timbul waktu lapar.rasa sakit hilang setelah makan/minum antasida. . nyeri pada sebelah kanan. Tukak gaster  rasa sakit timbul setelah makan dan nyeri pada sebelah kiri.

.

heartburn. tegurgitasi. disfagia. rasa pahit di lidah.DIFFERENTIAL DIAGNOSTIC  GERD  keadaan patologis akibat refluks kandungan lambung ke dalam esofagus  patogenesis: ketidakseimbangan antara faktor defensif dan otensif  gejala: nyeri di eigastrium. gejala ekstraesofageal .

.

aspirin.ETIOLOGI  Gangguan atau penyakit dalam lumen saluran cerna  OAINS. digitalis. teofilin    Penyakit pada hati. beberapa jenis antibiotik. yang tidak terbukti adanya kelainan/gangguan organik/struktural biokimia. pankreas. . sistem bilier Penyakit sistemik Bersifat fungsional.

PATOFISIOLOGI          Sekresi asam lambung Helicobacter pylori Dismotilitas gastrointestinal Ambang rangsang persepsi Disfungsi autonom Aktivitas mioelektrik lambung Hormonal Diet dan faktor lingkungan Psikologis .

FAKTOR RISIKO      Faktor psikososial Penggunaan obat-obatan Pola makan tidak teratur Kebiasaan tidak sehat Lingkungan .

dan wilayah . etnis. jenis kelamin.EPIDEMIOLOGI  Penelitian pada populasi umum  15-30% orang dewasa pernah mengalami  Negara barat angka prevalensinya 7-41%. tapi hanya 10-20% yang mencari pertolongan medis   Insiden dispepsia diperkirakan antara 1-8% Distribusi frekuensi: umur.

sitoproteksi.PENATALAKSANAAN  Medikamentosa: antasida. antikolinergik. anjuran tidak mengkonsumsi makanan yang menjadi pencetus serangan . penghambat pompa proton. prokinetik  Nonmedikamentosa: psikoterapi. penyekat H2 reseptor.

PROGNOSIS Prognosis baik  diagnosis ditegakkan setelah pemeriksaan klinis dan penunjang yang akurat .

PENCEGAHAN   Upaya penyuluhan tentang dispepsia Membatasi/menghilangkan kebiasaan-kebiasaan tidak sehat    Mengganti OAINS dengan obat golongan lain Rajin berolahraga Manajemen stress .

SEKIAN DAN TERIMA KASIH .