Dispepsia Fungsional

Basirah Anati Basaruddin (10-2009-317), D7 Mahasiswa
FK Universitas Kristen Krida Wacana
Email: basirah_anati@yahoo.com Alamat korespondensi: Fakultas Kedokteran Ukrida, Jl.Arjuna Utara No.6, Jakarta 11510.

PENDAHULUAN: Penyakit pencernaan adalah semua penyakit yang terjadi pada saluran pencernaan. Penyakit ini merupakan golongan besar dari penyakit pada organ esofagus, lambung, duodenum bagian pertama, kedua dan ketiga, jejunum, ileum, kolon, kolon sigmoid, dan rektum. Timbulnya gangguan pada saluran cerna cukup sering dikeluhkan dan menjadi masalah kesehatan dalam masyarakat. Penyakit-penyakit yang timbul pada saluran cerna, selain disebabkan oleh adanya faktor organik (kelainan struktur saluran cerna, infeksi) ternyata 40-60 % merupakan sindrom fungsional. Penderita dapat mengalami gangguan pencernaan walaupun penyebab dan mekanisme terjadinya gangguan tersebut secara pasti belum diketahui secara pasti, namun gangguan tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor psikologis. Saluran pencernaan dimulai dari mulut sampai dubur yang panjangnya mencapai kurang lebih 10 meter. Saluran pencernaan mulai dari mulut, gigi, lidah, lambung, usus dampai ke dubur.

1

ANAMNESIS: Anamnesis yang baik merupakan tiang utama diagnosis. Anamnesis dimulai dengan memperoleh keterangan mengenai identitas penderita. Pertanyaan lanjutan yang sebaiknya diajukan adalah: 1 1) Mengenai keluhan pokok: - Di mana lokasi awal keluhan? Menjalar/menetap? Hilang timbul? Berapa lama? 2) penyakit dahulu dan riwayat penyakit keluarga: - Apa penyakit yang pernah diderita? Obat yang pernah digunakan? Riwayat alergi sebelumnya? Pengaruh makanan terhadap keparahan? Apakah pekerjaan mempengaruhi keparahan?

Seterusnya, buat gangguan saluran pencernaan, ditanyakan juga : 1) Riwayat minum obat termasuk minuman yang mengandung alkohol dan jamu yang dijual bebas di masyarakat perlu ditanyakan dan kalau mungkin harus dihentikan. Hubungan dengan jenis makanan tertentu perlu diperhatikan. 2) Tanda dan gejala "alarm"(peringatan) seperti disfagia, berat badan turun, nyeri menetap dan hebat, nyeri yang menjalar ke punggung, muntah yang sangat sering, hematemesis, melena atau jaudice kemungkinan besar adalah merupakan penyakit serius yang memerlukan pemeriksaan seperti endoskopi dan / atau "USG" atau "CT Scan" untuk mendeteksi struktur peptik, adenokarsinoma gaster atau esophagus, penyakit ulkus, pankreatitis kronis atau keganasan pankreas empedu. 3) Perlu ditanyakan hal-hal yang berhubungan dengan stresor psikososial misalnya: masalah anak (meninggal, nakal, sakit, tidak punya), hubungan antar manusia (orang tua, mertua, tetangga, adik ipar, kakak), hubungan suami-istri (istri sibuk, istri muda, dimadu, bertengkar,

2

PEMERIKSAAN: 1) FISIK  Inspeksi: Inspeksi dengan posisi berdiri (kulit tidak tampak vena melebar (melebar sindroma Cushing/ Cirhosiss hepatis). atau kista (ditekan mudah berpindah seperti balon berisi air.cerai). lunak (seperti pangkal pertemuan jempol dan telunjuk). dinding abdomen simetri. penggusuran. PHK. Pasien diminta bernafas lalu inspeksi tidak tampak adanya pembesaran organ atau masa.Palpasi superficial: melihat ada ketegangan otot. masa dengan ujung jari bersamaan dengan lembut semua kuadran. Perut kembung menandakan adanya gangguan intraluminal. tidak bisa ditunjuk dengan jelas).Palpasi adanya masa.  Palpasi: . Ukuran massa 3 . Inspeksi juga dilakukan terhadap peristaltik dengan membungkuk atau duduk. umbilikus tidak hernia. . dilihat konsistensinya apakah padat keras (seperti tulang). padat kenyal (seperti meraba hidung). pekerjaan dan pendidikan (kegiatan rutin. contour abdomen datar (membelendung kantung kencing penuh/hamil/ ascites). Hal ini berakibat eksaserbasi gejala pada beberapa orang. berisi cairan). Adanya tumor pada abdomen diperkirakan dari 9 regio anatominya. nyeri tekan lepas atau tidak (prinsipnya dilakukan pada area yang diduga tidak nyeri/normal dulu). tidak naik pangkat). pindah jabatan. Nyeri pada abdomen ada yang sifatnya visceral (hilang timbul. Kelainan pada dinding ditandai dengan hilangnya nyeri apabila ada ketegangan perut jika masih nyeri berarti ada kelainan dari dalam dinding perut. ada yang somatik (bisa ditunjuk dengan jelas).

dilakukan juga pemeriksaan ascites (penumpukan cairan dalam rongga perut. Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada pasien dalam posisi miring (symposisi). .ditentukan dengan pasti yakni dengan meteran/jangka sorong mengenai panjang. Cairan itu terjadi karena berbagai penyakit kronik yang mendasarinya. juga di epigastrium mendengar suara aorta (gangguan pada aneurisma aorta). . Bising usus bisa disertai bising tambahan yakni borborygmi/suara panjang atau metalic sound (klinkend. sedangkan organ retroperitoneal sifatnya fixed (seperti ginjal yang kalau ternyata mobile pada wandering kidney). Penyakit kronik yang paling sering adalah penurunan fungsi liver yang kronik).  Perkusi: Perkusi dilakukan sebagai orientasi pada keempat kuadran abdomen dominan suara timpani (ada feses/ cairan redup). di kandung kemih (timpani/redup). lithotomi. oleh adanya resonansi akibat obstruksi).Palpasi organ intraperitoneal sifatnya mobile. Pemeriksaan 4 . Perkusi dilakukan pada dada bagian bawah antara paru dan arkus costa (suara redup dikanan karena ada hepar. suara timpani di kiri karena adanya fleksura splenikus kolon) jika keduanya redup asites (ditandai). maupun knee-chest. tebal (kalau tidak ada peralatan.Sekiranya perlu. pada arteri inguinal tidak ada bising. lebar. . Normalnya suara hepar adalah pekak karena adanya tekanan intrabdominal yang hampir negatif yang mengakibatkan organ menempel pada perioteneum. sehingga bila ada udara pekaknya menghilang.  Auskultasi: Auskultasi dilanjutkan dengan diafragma stetoskop adanya bising usus (normalnya 512 kali/menit). bisa dengan ukuran jari penderita).Pemeriksaan abdomen dapat diakhiri dengan colok dubur (sifatnya kurang menyenangkan sehingga ditaruh paling akhir).

jam 6 ke arah sacrum dan jam 12 ke arah pubis. Perunut radioaktif. Tetapi gejala dari kelainan 5 .2 Ini bisa membantu dalam menegakkan diagnosis. Langkah pertama dalam mendiagnosis kelainan sistem pencernaan adalah riwayat medis dan pemeriksaan fisik. Rontgen. Pada posisi lithotomi diagnosis letak kelainan menggunakan posisi jam yakni jam 3 sebelah kanan. Sebaiknya penderita kencing terlebih dahulu. Ultrasonografi (USG). Gambar 1: Saluran gastrointestinal manusia. menentukan lokasi kelainan dan kadang mengobati penyakit pada sistem pencernaan. satu tangannya di atas pelvis). Colok dubur perlu hati-hati karena sifat anus yang sensitif. mudah kontraksi. 2) PENUNJANG Pemeriksaan yang dilakukan untuk sistem pencernaan terdiri dari: Endoskopi.dapat dilakukan dengan satu tangan maupun dua tangan (bimanual. Pada beberapa pemeriksaan. jam 9 sebelah kiri. sistem pencernaan harus dikosongkan terlebih dahulu. Oleh karena itu colok dubur dilakukan serileks mungkin menggunakan lubrikasi. Pemeriksaan kimiawi.

bisa juga digunakan makanan yang dilapisi oleh barium. Pemeriksaan ini digunakan untuk menentukan apakah terjadi refluks asam atau tidak. Kelainan psikis (misalnya kecemasan dan depresi) juga bisa mempengaruhi sistem pencernaan dan menimbulkan gejala-gejalanya. erosi dan ulkus kerongkongan. Dengan manometer dokter bisa menentukan apakah kontraksi kerongkongan dapat mendorong makanan secara normal atau tidak.Uji Bernstein (Tes Perfusi Asam Kerongkongan): sejumlah kecil asam dimasukkan ke dalam kerongkongan melalui sebuah selang nasogastrik. 6 . . Gambaran ini seringkali direkam. . Kontraksi dan kelainan anatomi kerongkongan (misalnya penyumbatan atau ulkus) dapat dilihat.Manometri: suatu pemeriksaan dimana sebuah tabung dengan alat pengukur tekanan (manometer) dimasukkan ke dalam kerongkongan. Cairan barium yang ditelan bersamaan dengan makanan yang dilapisi oleh barium bisa menunjukkan kelainan seperti: selaput kerongkongan (dimana sebagian kerongkongan tersumbat oleh jaringan fibrosa). varises kerongkongan. tumor.  Pemeriksaan Kerongkongan . sehingga bisa ditentukan lokasi penyumbatan atau bagian kerongkongan yang tidak berkontraksi secara normal.Pengukuran pH kerongkongan: bisa dilakukan pada saat manometri.Pemeriksaan barium: Penderita menelan barium dan perjalanannya melewati kerongkongan dipantau melalui. .pencernaan seringkali bersifat samar sehingga dokter mengalami kesulitan dalam menentukan kelainan secara pasti. divertikulum Zenker (kantong kerongkongan). Selain cairan barium. Menentukan apakah nyeri dada disebabkan karena iritasi kerongkongan oleh asam dan merupakan cara yang baik untuk menentukan adanya esofagitis.

enzim dan karakteristik lainnya. Sebuah selang yang dihubungkan dengan suatu alat kecil di ujungnya bisa digunakan untuk biopsi (mengambil contoh jaringan usus halus untuk diperiksa secara 7 . Intubasi bisa menyebabkan muntah dan mual.Intubasi Nasogastrik: Pada intubasi nasogastrik. karena harus melewati lambung untuk menuju ke usus halus. sebuah selang dimasukkan melalui hidung menuju ke lambung.Pemberian makanan cair pada penderita yang mengalami kesulitan menelan. Pada korban keracunan.Untuk menghentikan perdarahan dimasukkan air dingin . . untuk menentukan apakah lambung mengandung darah atau untuk menganalisa keasaman. tetapi tidak menimbulkan nyeri.Untuk memompa atau menetralkan racun diberikan karbon aktif . Kadang intubasi nasogastrik digunakan secara berkesinambungan untuk mengeluarkan isi lambung. tergantung kepada tujuan dilakukannya prosedur ini (apakah untuk diagnosik atau pengobatan). Prosedur ini bisa digunakan untuk: mendapatkan contoh isi usus. . mengeluarkan cairan. Kadang selang terpasang agak lama sehingga lebih banyak contoh cairan yang bisa didapat. Intubasi Intubasi adalah memasukkan sebuah selang plastik kecil yang lentur melalui hidung atau mulut ke dalam lambung atau usus halus. untuk mendapatkan contoh cairan lambung. Cara ini membantu mengurangi tekanan yang terjadi jika sistem pencernaan tersumbat atau tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. memberikan makanan. Prosedur ini bisa digunakan untuk keperluan diagnostik maupun pengobatan. selang yang dimasukkan melalui hidung lebih panjang.Intubasi Nasoenterik: Pada intubasi nasoenterik. Ukuran selang yang digunakan bervariasi. Ujung selang biasanya dihubungkan dengan alat penghisap. contoh cairan lambung ini dianalisa untuk mengetahui racunnya. yang akan mengisap gas dan cairan dari lambung. Intubasi nasogastrik juga bisa digunakan untuk memperbaiki keadaan tertentu: .

dibuat sayatan kecil. Lambung dan usus halus tidak dapat merasakan nyeri. mengamati organ-organ di dalam rongga perut.Gastroscopy : untuk melihat saluran cerna atas . Laparoskopi biasanya dilakukan dalam keadaan penderita terbius total. perdarahan saluran cerna bawah (kolonoscopy). Dengan laparoskopi dokter dapat: mencari tumor atau kelainan lainnya. perdarahan saluran cerna atas (gastroscopy). memperoleh contoh jaringan.Kolonoscopy : untuk melihat saluran cerna bawah. Kemudian endoskop dimasukkan melalui sayatan tersebut ke dalam rongga perut. ulkus atau tumor dalam saluran cerna. biasanya di dekat pusar. Kelainan-kelainan saluran cerna dapat dideteksi secara akurat bahkan lebih akurat dibanding pemeriksaan sinar X dalam mendeteksi peradangan . Endoscopy terbagi 2 yaitu : . Dapat mendeteksi kanker dini atau membedakan antara lesi kanker dengan bukan kanker melalui biopsy pada tempat yang dicurigai. Indikasi: Keluhan saluran cerna yang berulang (kronos ) atau berat (gastroscopy). diare kronis atau menahun (kolonoscopy). (gastroscopy)  Laparoskopi Laparoskopi adalah pemeriksaan rongga perut dengan menggunakan endoskop.  Endoskopi Pemeriksaan endoscopy saluran cerna merupakan salah satu pemeriksaan penunjang canggih yang digunakan untuk menegakkan diagnosis dan mengobati kelainan atau penyakit saluran cerna atas maupun saluran cerna bawah. Setelah kulit dibersihkan dengan antiseptik. sehingga kedua prosedur diatas tidak menimbulkan nyeri.mikroskopik atau untuk analisa aktivitas enzim). 8 . pengobatan varises (pelebaran ) pembuluh darah pada tenggorokan. melakukan pembedahan perbaikan.

tumor dan varises kerongkongan. tumor atau kelainan struktur lainnya. Barium juga dapat diberikan dalam bentuk enema untuk melapisi usus besar bagian bawah.Foto polos perut: merupakan foto rontgen standar untuk perut. ginjal. Prosedur ini bisa menyebabkan nyeri kram serta menimbulkan rasa tidak nyaman. Atau digunakan sebuah fluoroskop untuk mengamati pergerakan barium di dalam saluran pencernaan. Cairan bisa terkumpul dalam keadaan-keadaan tertentu. Dokter dapat menilai: fungsi kerongkongan dan lambung. Obat pencahar bisa diberikan untuk mempercepat pembuangan barium. barium harus segera dibuang karena bisa menyebabkan sembelit yang berarti. Setelah pemeriksaan. Sinar X biasanya digunakan untuk menunjukkan: suatu penyumbatan. Rontgen . maka barium akan tampak putih pada foto rontgen dan membatasi saluran pencernaan. Barium yang diminum atau diberikan sebagai enema pada akhirnya akan dibuang ke dalam tinja. Barium yang terkumpul di daerah abnormal menunjukkan adanya ulkus. Kemudian dilakukan foto rontgen untuk menunjukkan adanya polip. sehingga tinja tampak putih seperti kapur.Pemeriksaan barium: Setelah penderita menelan barium. penyumbatan dalam saluran pencernaan. lambung dan usus halus. rongga perut diluar saluran pencernaan hanya mengandung sejumlah kecil cairan. pembesaran organ (misalnya hati. erosi. menunjukkan kontur dan lapisan dari kerongkongan. pola udara abnormal di dalam rongga perut. kontraksi kerongkongan dan lambung. Dalam keadaan normal. . 9 . yang tidak memerlukan persiapan khusus dari penderita. Foto rontgen bisa dilakukan pada waktu-waktu tertentu untuk menunjukkan keberadaan barium.  Parasentesis Parasentesis adalah memasukkan jarum ke dalam rongga perut dan mengambil cairannya. limpa). kelumpuhan saluran pencernaan.

dokter mengambil sejumlah kecil tinja. kanker atau pecahnya limpa. Bila perdarahannya banyak. bisa diketahui secara kimia. Melalui kulit dan otot dinding perut. Parasentesis digunakan untuk memperoleh contoh cairan untuk keperluan pemeriksaan atau untuk membuang cairan yang berlebihan. sehingga tidak digunakan untuk melihat tumor dan penyebab perdarahan di lambung. Pemeriksaan fisik (kadang disertai dengan USG) dilakukan sebelum parasentesis untuk memperkuat dugaan bahwa rongga perut mengandung cairan yang berlebihan. dalam tinja terdapat darah segar atau mengeluarkan tinja berwarna kehitaman (melena).96 liter cairan diambil untuk mengurangi pembengkakan perut. Selanjutnya daerah kulit (biasanya tepat dibawah pusar) dibersihkan dengan larutan antiseptik dan dibius lokal. Pada pemeriksaan colok dubur. Jumlah darah yang terlalu sedikit sehingga tidak tampak atau tidak merubah penampilan tinja. kanker dan kelainan lainnya. usus halus atau usus besar. USG bisa menunjukkan ukuran dan bentuk berbagai organ (misalnya hati dan pankreas) dan juga bisa menunjukkan daerah abnormal di dalamnya. USG juga dapat menunjukkan adanya cairan. bisa terjadi muntah darah. penyakit hati. Tetapi USG bukan alat yang baik untuk menentukan permukaan saluran pencernaan.  USG Perut USG menggunakan gelombang udara untuk menghasilkan gambaran dari organ-organ dalam. Tidak menimbulkan nyeri dan tidak memiliki resiko. Sejumlah kecil cairan diambil untuk pemeriksaan laboratorium atau sampai 0. 10 . dan hal ini bisa merupakan petunjuk awal dari adanya ulkus.  Pemeriksaan Darah Samar Perdarahan di dalam saluran pencernaan dapat disebabkan baik oleh iritasi ringan maupun kanker yang serius.seperti perforasi lambung atau usus. dimasukkan jarum yang dihubungkan dengan tabung suntik ke dalam rongga perut dimana cairan terkumpul.

Walau bagaimanapun. kembung. warna tinja akan berubah bila terdapat darah. mual atau muntah. Dispepsia secara umum merupakan kumpulan gejala yang terdiri dari nyeri/ tidak nyaman di epigastrium. mulainya paling tidak sudah 6 bulan. 2006). rasa penuh setelah makan. muntah. rasa penuh.3 Terdapat 2 kategori diagnostic terbaru yang disarankan 11 . dan tidak ditemukan kelainan structural (termasuk EGD).(c) Dispepsia non-spesifik yaitu dispepsia yang tidak bisa digolongkan dalam satu kategori di atas. penelitian yang dibuat oleh Talley et al menunjukkan pertindihan antara symptom. rasa panas yang menjalar di dada. DIAGNOSIS: DIAGNOSIS KERJA (WORKING DIAGNOSIS):  Dispepsia fungsional. cepat kenyang . Dispepsia fungsional menurut Roma II dibagi atas 3 subgrup yaitu: (a) Dispepsia tipe dismotilitas yaitu nyeri epigastrium yang bertambah sakit setelah makan. criteria diagnostic dyspepsia fungsional adalah setidaknya selama 3 bulan. bersendawa dan banyak flatus. Setelah ditambahkan bahan kimia lainnya. dengan 1/ lebih keluhan ini: begah/ cepat kenyang/ nyeri epigastrium/ rasa panas di epigastrium.Contoh ini diletakkan pada secarik kertas saring yang mengandung zat kimia. Simptom seperti nyeri ulu hati dan regurgitasi asam turut dikeluarkan dari definisi dyspepsia menurut Roma III. mual. Dispepsia fungsional: (Konsensus Roma III. disertai kembung. sendawa. (b) Dispepsia tipe ulkus yaitu nyeri epigastrium yang mereda bila makan atau minum antasid dan nyeri biasanya terjadi sebelum makan dan tengah malam.symptom yang terdapat pada subgroupsubgroup ini. cepat rasa kenyang. regurgitasi.

4 Dispepsia organic: Penyakit.pankreato. mual. disebabkan pasien tidak dinyatakan mempunyai tandatanda alarm. kembung. anemia defisiensi besi. DIAGNOSIS BANDING  Dispepsia organic Dispepsia organik jarang ditemukan pada usia muda.bilier. Diagnosis dispepsia fungsional adalah diagnosis yang telah ditetapkan.penyakit organic seperti penyakit esofago. dimana pertama sekali penyebab kelainan organik atau struktural harus disingkirkan melalui pemeriksaan. sendawa. 12 . keluhan tidak nyaman pada abdomen atas. antibiotic. intoleransi makanan yang mungkin didasari penyakit lain. Pasien dispepsia dengan alarm symptoms kemungkinan besar didasari kelainan organik. atau (4) tanda obstruksi saluran cerna atas (muntah. muntah. muntah. cepat pcnuh). kelainan structural GIT. . Termasuk keluhan alarm adalah: (1) disfagia. tukak peptic: mual. penyakit tiroid. (2) weight loss > 10kg (3) bukti perdarahan saluran cema (hematemesis. penyakit hepato. Dispepsia dapat disebut dispepsia organik apabila penyebabnya telah diketahui secara jelas. atau fecal occult blood). tetapi banyak ditemukan pada usia lebih dari 40 tahun. nyeri ulu hati. dll). teofilin. maka secara teori pasien diberikan terapi empiris selama 2 minggu. (6) anoreksia (7) riwayat tukak peptic. Berdasarkan kasus. gangguan metabolisme/ sistemik (TBS. gagal ginjal. sering pada perokok dan peminum alcohol) dan sindrom nyeri epigastrium. (5) usia > 45 tahun. hematochezia. dll).Gastritis: disebabkan infeksi Helicobacter pylori atau OAINS. jantung. infark jantung. efek samping obat (OAINS. diabetes.oleh Roma III yaitu: Dispepsia yang diinduksi oleh pemakanan (postprandial distress syndrome. melena.gastroduodenal.

perasaan penuh dengan cepat ketika makan. rokok stress dan factor defensive seperti mucus dan bikarbonat.Motor atau saraf masalah: Proses pencernaan makanan melibatkan serangkaian acara yang melibatkan saraf dan otot-otot saluran pencernaan. atau kembung. 13 . menyebabkan mual dan muntah. Yang menonjol adalah nyeri ulu hati dan muntah. Penyakit ini sering kali difikirkan apabila mengevaluasi pasien dengan dyspepsia. Namun. Namun. para peneliti berfokus pada beberapa faktor yang mungkin terlibat.5 . Tidak jelas mengapa hal ini terjadi. nyeri hilang setelah makan (hunger pain food relief). GERd dan dyspepsia sering bertindihan.Sensitivitas Sakit: perut biasanya membentang seperti yang kita makan untuk menahan lebih banyak makanan. Tukak gaster nyeri sebelah kiri.Uji refluks formal dengan penelitian pH 24 jam bias membuktikan sama ada refluks ada atau tidak. mikrosirkulasi dan prostaglandin.Tukak peptic: Tukak peptic terbagi kepada tukak duodeni dan tukak gaster. Namun. Tukak duodeni akan berasa nyeri sebelah kanan. Masalah dalam sistem ini dapat menyebabkan perut kosong lebih lambat dari biasanya. nyeri timbul setelah makan. ETIOLOGI Hal ini biasanya tidak jelas apa yang menyebabkan dispepsia fungsional. Terdapat factor agresif seperti HP. rasa cepat kenyang. . rasa penuh. OAINS. . Kurang lebih 15% pasien dengan symptom dyspepsia mempunyai ulkus gaster atau duodenal.GERD (gastroesofageal reflux disease): akibat refluks kandungan lambung ke dalam esofagus. beberapa orang yang sensitif terhadap peregangan dan merasa sakit. wujud bersamaan pada pasien dyspepsia. .rasa terbakar. tidak semua orang yang mengosongkan perut perlahan telah dispepsia fungsional.

Regurgitasi (keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba). nyeri perut (abdominal discomfort) b. penggunaan obat. Rasa lekas kenyang f.6 FAKTOR RISIKO Alcohol. pylori telah ada dispepsia fungsional. pylori dengan dispepsia dan fungsional. makan terlalu banyak. makan terlalu cepat atau pada selang waktu yang irregular. status pekerjaan. merokok. . tidak semua orang dengan H. Namun. Mengobati depresi yang mendasarinya atau kecemasan dapat memperbaiki gejala sakit perut. riwayat penyakit kronis. Perut kembung g. Pylori.8 14 . taraf pendidikan.obatan NSAID/ ASA. Mual. Mungkin ada hubungan antara infeksi H.. H. Rasa panas di dada dan perut h. stress psikologis. penggunaan analgesic yang sering. obesitas.7 GEJALA KLINIS a. kadang-kadang sampai muntah d. Nafsu makan berkurang e. seperti kecemasan atau depresi. Rasa perih di ulu hati c.Psikologis dan sosial factor: Orang dengan dispepsia fungsional sering mengalami masalah suasana hati. makanan pedas.Infeksi: Helicobacter pylori (H. pylori) adalah infeksi bakteri di perut yang dapat menyebabkan peradangan (gastritis) atau borok.

Pylori merangsang pelepasan gastrin. kondisi demikian dapat mengakibatkan peningkatan produksi HCL yang akan merangsang terjadinya kondisi asam pada lambung. c. Perubahan pola makan yang tidak teratur. Asam lambung : dapat dijumpai kadarnya meninggi. sehingga rangsangan di medulla oblongata membawa impuls muntah sehingga intake tidak adekuat baik makanan maupun cairan. seperti kebolehannya untuk mengubah motilitas bagian atas GIT. zat-zat seperti nikotin dan alkohol serta adanya kondisi kejiwaan stres. kekosongan lambung dapat mengakibatkan erosi pada lambung akibat gesekan antara dinding-dinding lambung. Helicobacter ini diyakini merusak mekanisme pertahanan pejamu dan merusak jaringan.10 b. Sifatnya menetap seumur hidup. abnormalitas mioelektrik lambung. Terdapat hipotesis yang membahas tentang efek sekunder asam. pemasukan makanan menjadi kurang sehingga lambung akan kosong. Beberapa hal yang dianggap menyebabkan antara lain:9 a. Dismotilitas lambung: perlambatan dari masa pengosongan lambung dan gangguan motilitas lain. H. Helikobakter pylori: peran helikobakter pylori dalam menimbulkan berbagai patologis saluran cerna bagian atas sudah banyak diteliti. dan masih controversial. seperti abnormalitas kontraksi. normal atau hyposekresi.PATOFISIOLOGI Dasar patofisiologi dispepsia fungsional adalah sangat kompleks dan belum dapat dipastikan. selalu aktif dan dapat menular bila tidak dieradikasi. Pasien dengan dyspepsia fungsional memiliki clearance asam pada usus proksimal yang defektif yang akhirnya memperpanjangkan waktu asam di lokasinya yang berkontribusi kepada symptom dyspepsia. refluks gastroduodenal. 15 . yang bisa menyebabkan nyeri pada pasien dyspepsia. menyebabkan peningkatan massa sel parietal dan output asam. obat-obatan yang tidak jelas.

coklat. dan vaskularisasi saluran pencernaan. Psikis: gangguan psikis. makanan tertentu. stress. dan faktor lingkungan dapat menimbulkan dispepsia fungsional. Stress mengubah sekresi asam lambung. Penggunaan obat -obatan secara menetap seperti : aspirin. lada dan ikan. alcohol. f. IgE dan IgGspesifik makanan telah ditemukan. kopi dan merokok dikatakan berhubungan dengan dispepsia fungsional. e. makanan pedas. buah sitrus. steroid. Diet: intoleransi makanan serta alergi banyak dikaitkan dengan dyspepsia.11 16 . sebagai mediator dalam sensitivitas terhadap makanan bagi pasien dengan IBS. d. motilitas. Gambar 2: perkaitan antara emosi dan respon pada gastrointestinal.Helicobacter pylori dapat merangsang kelenjar mukosa lambung untuk lebih aktif menghasilkan gastrin sehingga terjadi hipergastrinemia. obat anti inflamasi. Pada beberapa penelitian menunjukkan bahwa pasien-pasien dispepsia fungsional lebih cemas atau depresi dibandingkan dengan control. Makanan: kopi.

berkaitan dengan pasien yang memenuhi criteria Roma II. Hiperalgesia adalah peningkatan sensitivitas visceral.Hubungan antara symptom dan mekanisme patofisiologi:12 1) 23% Pengosongan lambung yang terlambat – dyspepsia fungsional dengan mual. merasa nyeri atau tidak nyaman sewaktu distensi lambung proksimal. dalam biopsy duodenal. mungkin terdapat alterasi CNS yang memproses stimuli ini. menunjukkan gangguan pada akomodasi bagian proksimal). Eosinofilia duodenal merupakan hipotesis yang ditemukan. Dapat dikenalpasti dengan USG (terlihat penumpukan pada lambung distal. kimia. Hipersensitivitas boleh berlaku sebagai respon kepada rangsang mekanis. 4) hipersensitivitas duodenum – mual. muntah dan rasa penuh postprandial. hormone seperti kolesistokinin atau peptide seperti glucagon. 2) 35% hipersensitivitas terhadap distensi lambung – dyspepsia fungsional dengan nyeri. Pasien mungkin mempunyai ambang nyeri yang rendah. Kelainan motorik seperti refluks gastroesofageal. Vagus. atau stimulus nutien. Ambang rangsang persepsi lebih rendah. sekresi asam. Ditemukan pada dyspepsia fungsional. membolehkan volume lambung meningkat tanpa meningkatkan tekanan lambung. 5) 25. dismotilitas usus kecil dan diskinesia bilier boleh menimbulkan symptom. sendawa. Akomodasi lambung meliputi relaksasi lambung bagian proksimal. 3) 40% Akomodasi yang terganggu – dyspepsia fungsional dengan rasa cepat kenyang dan kehilangan berat badan. Sebagai respon. tidak organic. dan mungkin juga berkaitan dengan defek n.66% disritmia gaster – mual. gastroparesis. yang dibuktikan dengan percobaan peregangan balon pada saluran pencernaan (hyperalgesia visceral). 17 . Pasien berbanding control memiliki bilangan eosinofil yang lebih tinggi. kehilangan berat badan. Lebih banyak pada wanita.

kehilangan berat badan harus menunjukkan adanya penyakit nonfungsional. Karena gejala yang paling sering diprovokasi oleh makan.13 18 . Nonulkus dispepsia tidak menyebabkan kanker atau penyakit serius lainnya. susu. Pasien juga gejala umumnya mengasosiasikan dengan makanan tertentu (misalnya. kehilangan berat badan adalah tidak biasa pada penyakit fungsional. Bahkan. Apakah asosiasi adalah nyata. Orang yang mengalami mual atau sakit setelah makan dapat mengabaikan sarapan atau makan siang. dan waktu di mana mereka merepotkan. Namun. pasien yang mengubah diet mereka dan mengurangi asupan kalori dapat menurunkan berat badan. Komplikasi penyakit fungsional saluran pencernaan relatif terbatas. Susu adalah makanan yang paling umum yang dihilangkan. Kebanyakan pasien dengan penyakit fungsional hidup dengan gejala mereka dan jarang mengunjungi dokter untuk diagnosis dan pengobatan. dan ini dapat menyebabkan asupan kalsium tidak memadai dan osteoporosis. Anda mungkin memiliki saat-saat gejala pergi benar-benar. lemak. terutama dengan pasangan. sering tidak perlu. pasien ini akan membatasi diet mereka sesuai. Umumnya.KOMPLIKASI Gejala dispepsia non-ulkus cenderung untuk datang dan pergi. Gejala bahwa pasien terbangun dari tidur juga lebih cenderung terjadi karena non-fungsional dari penyakit fungsional. sayuran). penyakit fungsional mengganggu kenyamanan pasien dan kegiatan seharihari. Gangguan dengan kegiatan sehari-hari juga dapat menyebabkan masalah dengan hubungan interpersonal.

tanda alarm ataupun tidak. Begitu pula wanita lebih sering dari pada laki-laki. Dengan itu.15%. Biaya pengobatan cukup besar. subklasifikasi ke arah penyakit. Dispepsia dijumpai pada sekitar 25% (8%-54%) populasi setiap tahun. tetapi kebanyakan tidak mencari pertolongan dokter. Di negara berkembang diperkirakan 10% anak berusia 2-8 tahun terdeteksi setiap tahunnya sedangkan di negara maju kurang dari 1%. Prevalensi dispepsia fungsional sekitar 12 . Penyebaran dispepsia pada umumnya pada lingkungan yang padat penduduknya.penyakit yang khusus.Medikamentosa 1) Terapi empiris apabila belum dilakukan diagnosis definitive terhadap penyakit. sedangkan dyspepsia fungsional diatas 20 tahun. GERD serta dyspepsia fungsional adalah serupa. Strategi ini adalah menarik. hingga 98% pasien yang konsultasi ke dokter akan mendapat preskribsi untuk dyspepsia. umur penderita dijadikan pertimbangan. Standard praktis terkini adalah percobaan dengan menggunakan terapi supresif asam lambung. Prevalensi perkiraan dispepsia adalah 25%. dengan kisaran menjadi 3 15% jika gejala GERD dikecualikan.penyakit yang khusus tidak diperlukan dan dalam perawatan primer adalah kurang mustahil. sosioekonomi yang rendah dan banyak terjadi pada negara yangsedang berkembang dibandingkan pada negara maju. 14 PENATALAKSANAAN . prevalensi dispepsia uninvestigated bisa berkisar setinggi 40%. oleh karena 45 tahun ke atas sering ditemukan kasus keganasan. Tindakan untuk merujuk pasien ke pemeriksaan yang lebih lanjut tergantung kepada adanya tanda. Namun. Di Sweden. karena perawatan untuk ulkus duodenal dan gaster.EPIDEMIOLOGI Pada dispepsia fungsional.15 2) Obat-obatan yang sering dipakai antara lain: 19 .

Beberapa orang merasa lebih baik setelah minum obat yang mengurangi asam lambung. . mengobati H. namun banyak efek samping kardiovaskular). pemakaian obat ini cendrung ke arah simptomatik. lansoprazole (Prevacid ®).inhibitor pompa proton (PPI) lebih mungkin daripada jenis lain reducer asam untuk memperbaiki rasa sakit. Contohnya termasuk ranitidin (Zantac ®).Helicobacter pylori: Terapi eradikasi diberikan pada pasien yang benar. Asam-mengurangi obat-obatan . Golongan ini banyak jenisnya dan mudah didapat. simetidin (Tagamet ®).16 b. dan rabeprazole (AcipHex ®).benar terinfeksi karena sebetulnya. Sebaiknya diberikan pada organik dan ulkus. Jika Anda didiagnosis dengan H. Maalox ®. Contoh antasida termasuk Tums ®. Contoh termasuk: . pylori tetapi Anda tidak memiliki tukak lambung. dompreridon. c. pantoprazole (Protonix ®). dan Mylanta ®. Terapi anti.factor lain. esomeprazole (Nexium ®). Mereka membantu untuk mempercepat perjalanan makanan melalui lambung dan dapat membantu dengan gejala kembung dan merasa sakit. Prokinetik : Golongan obat ini sangat baik dalam mengobati pasien dyspepsia yang disertai disebabkan gangguan motilitas.Antasida biasanya tidak membantu bagi orang dengan dispepsia fungsional.Histamin blocker tidak bekerja sebaik PPI tapi mungkin membantu beberapa orang. dan nizatidine (Axid ®). Pemakaiannya lebih banyak ke arah kausal disamping bersifat simtomatik. famotidin (Pepcid ®). Pemakaian obat ini jangan terus menerus dan harus diperhatikan efek sampingnya serta penyakit lain yang diderita oleh pasien.a. pengaruh HP terhadap symptom dyspepsia hanyalah kecil berbanding factor. . pylori dapat membantu mengurangi gejala dispepsia fungsional. dan cisapride (meningkatkan akomodasi makanan. Contoh PPI termasuk omeprazole (Prilosec ®). Jenis obat ini antara lain metoklopamid. 20 . pylori dan Anda memiliki tukak lambung. dexlansoprazole (Kapidex ®). Jika Anda tes positif untuk H.

rempah. Efek samping: mengantuk. Rekomendasi diet umum adalah mengurangi makanan berlemak atau terlalu berempah serta porsi makanan yang besar. Pada kasus ini terapi dengan anti depresan atau anti anxietas dapat membantu mengurangi gejala klinis. Tidak jelas bagaimana TCA bekerja. pylori biasanya tidak membantu mengurangi gejala gangguan pencernaan. tetapi mereka terlihat memperbaiki rasa sakit saat diambil pada dosis rendah. 21 . memberi hasil yang cukup memuaskan terutama untuk mengurangi atau menghilangkan gejala / keluhan. TCA biasa digunakan untuk nyeri termasuk amitriptyline dan desipramine. memperlakukan H.berbicara dengan dokter Anda atau perawat untuk melihat apakah Anda harus dirawat. walaupun jika tidak depresi. Olahraga yang teratur serta tidur yang cukup adalah penting dan membantu mengurangi stress.17 d. Obat nyeri: dosis rendah merupakan obat antidepresan dapat membantu untuk mengurangi gejala.buahan sitrus. Dosis TCA digunakan untuk mengobati nyeri biasanya jauh lebih rendah daripada yang digunakan untuk mengobati depresi. lada.Non medikamentosa: 1) Modifikasi gaya hidup: Mengurangkan makanan yang boleh menimbulkan gejala seperti bawang. Dalam hal ini. Salah satu antidepresan yang paling umum digunakan adalah disebut antidepresan trisiklik (TCA). . Alergi makanan perlu turut diambil peduli. minuman berkarbonat. g. buah. kopi. Porsi yang lebih kecil tetapi lebih sering didapati berhasil. Jurnal pemakanan dapat membantu mengidentifikasi makanan yang menimbulkan masalah. Intake kafein dan alcohol harus dikurangi. Psikofarmakoterapi: Terapi ini khususnya pada pasien dengan sindrom dispepsia fungsional.

g. Susu yang diberikan juga diperhatikan porsi pemberiannya. keju. perlu diperhatikan pemberian makanan.kopi serta merokok. terapi kognitif-behavioral. melon.misalnya yang mengandung ibuprofen. kubis. kentang. c. Makanan yang diberikan harus diperhatikan porsinya sesuai dengan umur bayi. Penelitian mendapati kondisi pasien bertambah baik setelah 1 tahun. dan lain-lain). Khusus untuk bayi. f. d. Hindari makanan yang menimbulkan gas di lambung (kol. Modifikasi pola hidup dimana perlu diberi penjelasan bagaimana mengenali dan menghindari keadaan yang potensial mencetuskan serangan dispepsia. Acetaminophen adalah pilihan yang tepat untuk mengobati nyeri karena tidak mengakibatkan iritasi pada dinding 22 . seperti obatanti. semangka. dll) dan sebagainya. PENCEGAHAN Tujuan pencegahan primer adalah mencegah timbulnya faktor resiko dispepsia bagi individu yang belum ataupun mempunyai faktor resiko dengan melaksanakan pola hidup sehat. aspirin. Menjaga sanitasi lingkungan agar tetap bersih. naproxen.inflammatory. berbicara dengan orang lain. danketoprofen. dan lain-lain). Mengurangi makan makanan yang pedas. asam dan minuman yang beralkohol. terapi relaksasi (meditasi.2) Terapi psikologis: hipnoterapi. promosi kesehatan (Health Promotion) kepada masyarakat mengenai: 18 a. mencari hobi kesukaan. Hindari makanan berlemak tinggi yang menghambat pengosongan isi lambung (coklat. perbaikan sosioekonomi dan gizi dan penyediaan air bersih. Hindari obat yang mengiritasi dinding lambung. b. e.

Pasien dengan riwayat rawatan GERD. j. 23 . Pertahankan berat badan sehat l. Jika anda memiliki gangguan acid reflux. terutama makanan berat dan berminyak. Pasien dengan HP adalah kurang mungkin untuk menjadi bebas symptom setelah 2 tahun. riwayat penyakit yang lama (> 2 tahun). berbanding pasien tanpa infeksi HP. penggunaan aspirin. hindari makan sebelum waktu tidur. yang akan mengurangi dispepsia. i. makan terlalu cepat. seperti makan terlalu banyak.lambung. Hindari faktor-faktor yang membuat pencernaan terganggu. Kelola stress psikologi seefisien mungkin. Olahraga teratur (kurang lebih 30 menit dalam beberapa hari seminggu) untuk mengurangi stress dan mengontrol berat badan. PROGNOSIS Sejumlah signifikan pasien dyspepsia dilaporkan menjadi asimptomatik setelah satu tahun atau lebih. atau makan sesaat sebelum olahraga. h. edukasi yang rendah dan kerentanan psikologis memberikan prognosis yang lebih buruk. k. ulkus peptic.

Pemeriksaan lanjut perlu dilakukan sekiranya keluhan berpanjangan. maka edukasi kepada pasien adalah penting untuk mengurangkan kebimbangan serta meningkatkan kualitas gaya hidup yang sehat. Dispepsia merupakan kumpulan gejala klinis terutama pada bagian abdomen dan saluran cerna. merubah kebiasaan hidup. 24 .KESIMPULAN Dispepsia merupakan perasaan tidak enak diperut bagian atas yang bersifat menetap atau berulang. dapat berhubungan atau tanpa berhubungan dengan makanan. farmakoterapi maupun psikofarmakoterapi. Penatalaksanaan pasienpasien depresi pada dispepsia fungsional dan dispepsia organik meliputi penatalaksanaan secara umum dengan memperhatikan hubungan pasien dan dokter. Dispepsia fungsional biasanya tidak menimbulkan komplikasi yang buruk.

2005. Camilleri M. John WDM. Makiko. Jonathan G. Preuschoff U. et al. History and examination at a glance. Gastroenterology 2006.123. 10. Tack J. UK: Blackwell Science Ltd. Influence of paroxetine on gastric tone and on the perception of gastric distention. 2002. Broeckaert D. Yasuhiro. 2006.57-64. Risk factors associated with dyspepsia in a rural Asian population and its impact on quality of life. Kubo. Hirokazu.12. Rampal S. Functional disorders of the gastrointestinal tract.p. [PMID: 179699] 8. Drossman DA. 6. 5. 9. UK: Blackwell Publishing Ltd. Kohata. Talley NJ. Mahadeva S. Piessevaux H.p. Wilmer A. 130: 1377. Coulie B et al. Impaired gastric accommodation and its role in dyspepsia. 7. et al. Functional gastroduodenal disorders. 11. Gastroenterology. 2006.managing the conundrum. 130:1466. Krause G. Tack J. 2010. Yadav H.DAFTAR PUSTAKA 1. 2003. Longstreth GF. 55: 1685-1691. 4. Evidence-based gastroenterology & hepatology. The functional gastrointestinal disorders and the Rome III process. Journal of Clinical Gastroenterology 2011: 10: 1097. Yukie. Perception of changes in wall tension of the proximal stomach in man. 3.1390. Functional dyspepsia. Gut 2001:49: 203-8. Mlagelada JR. Fujiwara.p. [PMID: 16854999]. Brian MF. Tack J. 2. Goh KL. 354:791. Tack J. 190-200. Amsterdam: IOS Press. Risk factors associated with dyspepsia in Japanese adults. et al. 25 . Andrew KB. Am J Gastroenterol 2010: 105(4): 904. Brian GF. Kind S. Gut. [PMID: 16678553]. N Engl J Med 2006.

CD001960. 130 (5): 1538. Cochrane Database Syst. 26 . GERD/ dyspepsia. Deeks J. and pathophysiological mechanisms in severe functional dyspepsia. Heterogenity of symptom pattern. 14. Tack J. 16. psychososcial factors. 2009.p. J. 2004. Moayyedi P. Norton JG. Whitehead WE. hepatology and endoscopy. Rev. Richard SB. Symptom-based outcome measures for dyspepsia and GERD trials: a systematic review. 189-199. Ronnie F. Chey WD et al. 15. Am J Gastroenterol 2005. Deeks.353. Moayyedi P. Inc. Pharmacological interventions for non-ulcer dyspepsia. USA: Hanley & Belfus. Moayyedi P. Gastroenterology 2003. 124(4): 903-910. Current diagnosis and treatment: gastroenterology.1551. 100(2): 442. 18. et al. Soo S. Gastroenterology 2006. Fraser A. Soo S. Irvine EJ. Robert B. 317.452. USA: Mc Graw Hill Companies. 13.p. Delaney B. Design of treatment trials for functional gastrointestinal disorders. Fischler B.ulcer dyspepsia. 17. De GV.12. Eradication of Helicobacter pylori for non. 1 (2003) CD002096. Cochrane Database Syst Rev 2000.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful