LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN KELUARGA DAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA Sdr.E DI KELUARGA Tn.

W DENGAN PENYAKIT DENGUE HAEMORAGIC FEVER (DHF) DI KECAMATAN CIBEUREUM KABUPATEN TASIKMALAYA Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Tugas Kelompok Pada Mata Kuliah Keperawatan Komunitas I

Kelompok 2 : Aap Palahwi Ervan Pardiansyah Maya Nurlela Ratih Nuriza Gusman Riska Dwi Nur Arifin Yana Taryana

STIKes MUHAMMADIYAH TASIKMALAYA
Jl. Tamansari Gobras PO BOX 114 Tlp. (026523 50982)

2013
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA YANG MENGALAMI PENYAKIT DENGUE HAEMORAGIC FEVER (DHF)
A. Definisi

Beberapa pengertian DHF (Dengue Haemoragic Fever) menurut beberapa ahli : DHF (Dengue Haemoragic Fever) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi yang disertai leucopenia, dengan/tanpa ruam (rash) dan limfadenopati. Trombositopenia ringan dan bintik-bintik perdarahan (petekie) spontan. (Noer Sjaefullah, 2000 : 20) Demam berdarah dengue adalah penyakit demam akut dengan ciri-ciri demam manifestasi perdarahan dan bertendensi mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan kematian. (Arief Mansjoer, 2000 : 428) Demam berdarah dengue adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh empat serotype virus dengue dan ditandai dengan empat gejala klinis utama yaitu demam tinggi, manifestasi perdarahan, hepatomegali, dan tanda–tanda kegagalan sirkulasi sampai timbulnya renjatan (sindrom renjatan dengue) sebagai akibat dari kebocoran plasma yang dapat menyebabkan kematian. (Soegeng Soegijanto, 2002 : 45) Dari beberapa pengertian DHF (Dengue Haemoragic Fever) diatas penulis dapat menyimpulkan dengue haemoragic fever adalah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam disertai gejala perdarahan dan bila timbul renjatan dapat menyebabkan kematian.
B. Etiologi 1. Virus dengue

Virus dengue yang menjadi penyebab penyakit ini termasuk ke dalam Arbovirus (Arthropodborn virus) group B, tetapi dari empat tipe yaitu virus dengue tipe 1,2,3 dan 4 keempat tipe virus dengue tersebut terdapat di Indonesia dan dapat dibedakan satu dari yang lainnya secara serologis virus dengue yang termasuk dalam genus flavivirus ini berdiameter 40 meter dapat berkembang biak dengan baik pada berbagai macam kultur jaringan baik yang berasal dari sel – sel mamalia misalnya sel BHK (Babby Homster Kidney) maupun sel–sel Arthropoda misalnya sel aedes Albopictus. (Soedarto, 2001: 36)
2. Vektor

Virus dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 yang ditularkan melalui vektor yaitu nyamuk aedes aegypti, nyamuk aedes albopictus, aedes polynesiensis dan beberapa spesies lain

merupakan vektor yang kurang berperan berperan infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe jenis yang lainnya (Arief Mansjoer &Suprohaita, 2000: 420) Nyamuk Aedes Aegypti maupun Aedes Albopictus merupakan vektor penularan virus dengue dari penderita kepada orang lainnya melalui gigitannya nyamuk Aedes Aegyeti merupakan vektor penting di daerah perkotaan (Viban) sedangkan di daerah pedesaan (rural) kedua nyamuk tersebut berperan dalam penularan. Nyamuk Aedes berkembang biak pada genangan Air bersih yang terdapat bejana – bejana yang terdapat di dalam rumah (Aedes Aegypti) maupun yang terdapat di luar rumah di lubang – lubang pohon di dalam potongan bambu, dilipatan daun dan genangan air bersih alami lainnya (Aedes Albopictus). Nyamuk betina lebih menyukai menghisap darah korbannya pada siang hari terutama pada waktu pagi hari dan senja hari. (Soedarto, 2001 : 37)
3. Host

Jika seseorang mendapat infeksi dengue untuk pertama kalinya maka ia akan mendapatkan imunisasi yang spesifik tetapi tidak sempurna, sehingga ia masih mungkin untuk terinfeksi virus dengue yang sama tipenya maupun virus dengue tipe lainnya. Dengue Haemoragic Fever (DHF) akan terjadi jika seseorang yang pernah mendapatkan infeksi virus dengue tipe tertentu mendapatkan infeksi ulangan untuk kedua kalinya atau lebih dengan pula terjadi pada bayi yang mendapat infeksi virus dengue huntuk pertama kalinya jika ia telah mendapat imunitas terhadap dengue dari ibunya melalui plasenta. (Soedarto, 2001 : 38)
C. Patofisiologi

Virus Dengue masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk terjadi viremia, yang ditandai dengan demam mendadak tanpa penyebab yang jelas disertai gejala lain seperti sakit kepala, mual, muntah, nyeri otot, pegal di seluruh tubuh, nafsu makan berkurang dan sakit perut, bintik-bintik merah pada kulit. Selain itu kelainan dapat terjadi pada sistem retikulo endotel atau seperti pembesaran kelenjar-kelenjar getah bening, hati dan limpa. Pelepasan zat anafilaktoksin, histamin dan serotonin serta aktivitas dari sistem kalikrein menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding kapiler/vaskuler sehingga cairan dari intravaskuler keluar ke ekstravaskuler atau terjadinya perembesaran plasma akibatnya terjadi pengurangan volume plasma yang terjadi hipovolemia, penurunan tekanan darah, hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjatan. Selain itu sistem retikulo endotel bias terganggu sehingga menyebabkan reaksi antigen anti body yang akhirnya bias menyebabkan anaphylaxia. Akibat lain dari virus dengue dalam peredaran darah akan menyebabkan depresi sumsum tulang sehingga akan terjadi trombositopenia yang berlanjut akan menyebabkan perdarahan karena gangguan trombosit dan kelainan koagulasi dan akhirnya sampai pada perdarahan kelenjar adrenalin. Plasma merembas sejak permulaan demam dan mencapai

puncaknya saat renjatan. Pada pasien dengan renjatan berat, volume plasma dapat berkurang sampai 30% atau lebih. Bila renjatan hipovolemik yang terjadi akibat kehilangan plasma yang tidak dengan segera diatasi maka akan terjadi anoksia jaringan, asidosis metabolik dan kematian. Terjadinya renjatan ini biasanya pada hari ke-3 dan ke7. Reaksi lainnya yaitu terjadi perdarahan yang diakibatkan adanya gangguan pada hemostasis yang mencakup perubahan vaskuler, trombositopenia (trombosit < 100.000/mm3), menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protrombin, faktor V, IX, X dan fibrinogen). Pembekuan yang meluas pada intravaskuler (DIC) juga bias terjadi saat renjatan. Perdarahan yang terjadi seperti petekie, ekimosis, purpura, epistaksis, perdarahan gusi, sampai perdarahan hebat pada traktus gastrointestinal. (Salmiyatun, 2004 : 18 dan Soegeng Soegijanto, 2002 : 48)

D. Manifestasi Klinik 1. Masa Inkubasi

Sesudah nyamuk menggigit penderita dan memasukkan virus dengue ke dalam kulit , terdapat masa laten yang berlangsung 4 – 5 hari diikuti oleh demam , sakit kepala dan malaise.
2. Demam

Demam terjadi secara mendadak berlagsung selama 2 – 7 hari kemudian turun menuju suhu normal atau lebih rendah. Bersamaan dengan berlangsungnya demam , gejala- gejala klinik yang tidak spesifik misalnya , anoreksia , nyeri punggung , nyeri tulang dan persendian , nyeri kepala dan rasa lemah dapat menyertainya.
3. Perdarahan

Perdarahan biasanya terjadi pada hari kedua dari demam dan umumnya terjadi pada kulit, dan dapat berupa uji turniket yang positif , mudah terjadi perdarahan pada tempat fungsi vena , petekia dan purpura. Selain itu juga dapat dijumpai epstaksis dan perdarahan gusi , hematomesis dan melena.
4. Hepatomegali

Pada permulaan dari demam biasanya hati sudah teraba , meskipun pada anak yang kurang gizi hati juga sudah teraba. Bila terjadi peningkatan dari hepatomegali dan hati teraba kenyal , harus diperhatikan kemungkinan akan terjadinya renjatan pada penderita.
5. Renjatan ( syok )

Permulaan syok biasanya terjadi pada hari ketiga sejak sakitnya penderita, dimulai dengan tanda–tanda kegagalan sirkulasi yaitu kulit lembab , dingin pada ujung hidung, jari tangan dan jari kaki serta cyanosis di sekitar mulut. Bila syok terjadi pada masa demam maka biasanya menunjukkan prognosis yang buruk. Nadi menjadi lembut dan cepat , kecil bahkan sering tidak teraba. Tekanan darah sistolik akan menurun sampai di bawah angka 80 mmHg.
6. Gejala klinik lain

Nyeri epigastrum , muntah-muntah , diare maupun obstipasi dan kejang-kejang. Keluhan nyeri perut yang hebat seringkali menunjukkan akan terjadinya perdarahan gastrointestinal dan syok. ( Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. 2002 )
E. Penatalaksanaan

Pemberantasan Dengue Haemoragic Fever (DHF) seperti juga penyakit menular laibn didasarkan atas meutusan rantai penularan, terdiri dari virus, aedes dan manusia. Karena sampai saat ini belum terdapat vaksin yang efektif terdapat virus itu maka pemberantasan ditujukan pada manusia terutama pada vektornya. (Soemarmo, 2000 : 56) Prinsip tepat dalam pencegahan DHF (Soemarmo, 2000 : 57)
1. Manfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat pengaruh alamiah dengan melaksanakan

pemberantasan pada saat hsedikit terdapatnya DHF / DSS
2. Memutuskan lingkaran penularan dengan menahan kepadatan vektor pada tingkat sangat

rendah untuk memberikan kesempatan penderita veremia.
3. Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat daerah pengambaran yaitu sekolah dan

RS, termasuk pula daerah penyangga sekitarnya.
4. Mengusahakan pemberantasan vektor di semua daerah berpotensi penularan tinggi.

Menurut Rezeki S, 2002 : 22 , Pemberantasan penyakit Dengue Haemoragic Fever (DHF) ini yang paling penting adalah upaya membasmi jentik nyamuk penularan ditempat perindukannya dengan melakukan “3M” yaitu :
1) Menguras tempat–tempat penampungan air secara teratur sekurang– kurangnya

sxeminggu sekali atau menaburkan bubuk abate ke dalamnya.
2) Menutup rapat – rapat tempat penampung air. 3) Menguburkan / menyingkirkan barang kaleng bekas yang dapat menampung air hujan

seperti dilanjutkan di baliknya. Pada dasarnya pengobatan pasien Dengue Haemoragic Fever (DHF) bersifat simtomatis dan suportif (Ngastiyah, 2001 : 344) Dengue Haemoragic Fever (DHF) ringan tidak perlu dirawat, Dengue Haemoragic Fever (DHF) sedang kadang – kadang tidak memerlukan perawatan, apabila orang tua dapat

diikutsertakan dalam pengawasan penderita di rumah dengan kewaspadaan terjadinya syok yaitu perburukan gejala klinik pada hari 3-7 sakit ( Purnawan dkk, 2001 : 571) Indikasi rawat tinggal pada dugaan infeksi virus dengue (UPF IKA, 2004 : 203) yaitu: Panas 1-2 hari disertai dehidrasi (karena panas, muntah, masukan kurang) atau kejang–kejang. Panas 3-5 hari disertai nyeri perut, pembesaran hati uji torniquet positif/negatif, kesakitan, Hb dan Ht/PCV meningkat, Panas disertai perdarahan, Panas disertai renjatan. Sedangkan penatalaksanaan Dengue Haemoragic Fever (DHF) menurut UPF IKA, 2004 : 203 – 206 adalah. Belum atau tanpa renjatan:
1. Grade I dan II

Hiperpireksia (suhu 400C atau lebih) diatasi dengan antipiretika dan “surface cooling”. Antipiretik yang dapat diberikan ialah golongan asetaminofen,asetosal tidak boleh diberikan Umur 6 – 12 bulan : 60 mg / kaji, 4 kali sehari
 Umur 1 – 5 tahun : 50 – 100 mg, 4 sehari  Umur 5 – 10 tahun : 100 – 200 mg, 4 kali sehari  Umur 10 tahun keatas : 250 mg, 4 kali sehari

TERAPI CAIRAN
1) infus cairan ringer laktat dengan dosis 75 ml / kg BB / hari untuk anak dengan

BB< 10 kg atau 50 ml / kg BB / hari untuk anak dengan BB < 10 10 kg bersama-sama di berikan minuman oralit, air susu secukupnya
2) Untuk kasus yang menunjukan gejala dehidrasi disarankan minum sebanyak –

banyaknya dan sesering mungkin.
3) Apabila anak tidak suka minum sama sekali sebaiknya jumlah cairan infus

yang harus diberikan sesuai dengan kebutuhan cairan penderita dalam kurun waktu 24 jam yang diestimasikan sebagai berikut :
 100 ml/Kg BB/24 jam, untuk anak dengan BB < 25 Kg  75 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 26-30 kg  60 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 31-40 kg  50 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 41-50 kg  Obat-obatan lain : antibiotika apabila ada infeksi lain, antipiretik untuk

anti panas, darah 15 cc/kgBB/hari perdarahan hebat. Dengan Renjatan ;
2. Grade III a. Berikan infus Ringer Laktat 20 mL/KgBB/1 jam

Apabila menunjukkan perbaikan (tensi terukur lebih dari 80 mmHg dan nadi teraba dengan frekuensi kurang dari 120/mnt dan akral hangat) lanjutkan dengan Ringer Laktat 10 mL/KgBB/1jam. Jika nadi dan tensi stabil lanjutkan infus tersebut dengan jumlah cairan dihitung berdasarkan kebutuhan cairan dalam kurun waktu 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi dengan sisa waktu ( 24 jam dikurangi waktu yang dipakai untuk mengatasi renjatan ). Perhitungan kebutuhan cairan dalam 24 jam diperhitungkan sebagai berikut :
 100 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB < 25 Kg  75 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan berat badan 26-30 Kg.  60 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 31-40 Kg.  50 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 41-50 Kg. 1) Apabila satu jam setelah pemakaian cairan RL 20 mL/Kg BB/1 jam keadaan tensi

masih terukur kurang dari 80 mmHg dan andi cepat lemah, akral dingin maka penderita tersebut memperoleh plasma atau plasma ekspander (dextran L atau yang lainnya) sebanyak 10 mL/ Kg BB/ 1 jam dan dapat diulang maksimal 30 mL/Kg BB dalam kurun waktu 24 jam. Jika keadaan umum membai dilanjutkan cairan RL sebanyk kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi sisa waktu setelah dapat mengatasi renjatan.
2) Apabila satu jam setelah pemberian cairan Ringer Laktat 10 mL/Kg BB/ 1 jam

keadaan tensi menurun lagi, tetapi masih terukur kurang 80 mmHg dan nadi cepat lemah, akral dingin maka penderita tersebut harus memperoleh plasma atau plasma ekspander (dextran L atau lainnya) sebanyak 10 Ml/Kg BB/ 1 jam. Dan dapat diulang maksimal 30 mg/Kg BB dalam kurun waktu 24 jam.
F. Komplikasi

Adapun komplikasi dari Dengue Haemoragic Fever adalah
1. Perdarahan

Perdarahan pada Dengue Haemoragic Fever disebabkan adanya perubahan vaskuler, penurunan jumlah trombosit dan koagulopati, dan trombositopeni dihubungkan meningkatnya megakoriosit muda dalam sumsum tulang dan pendeknya masa hidup trombosit. Tendesi perdarahan saluran cerna, hematemesis, melena.
2. Kegagalan Sirkulasi

DSS (Dengue Syock Syndrome) biasanya terjadi sesudah hari 2-7 disebabkan oleh peningkatan permeabilitas vaskuler sehingga terjadi kebocoran plasma, efusi cairan serosa ke rongga pleura dan peritoneum, hipoproteinemia, hemokonsentrasi dan hipovolemi yang mengakibatkan berkurangnya aliran balik vena, preload, miokardium, penurunan volume sekuncup dan curah jantung sehingga terjadi disfungsi atau kegagalan

sirkulasi dan penurunan perfusi organ. Dengue Syock Syndrome juga disertai dengan kegagalan homeostatis mengakibatkan aktifitas dan integritas sistem kardiovaskuler, perfusi miokard dan curah jantung menurun, sirkulasi darah terganggu dan iskemi jaringan dan kerusakan fungsi sel secara progresif dan irreversible, terjadi kerusakan sel dan organ sehingga pasien akan meninggal dalam waktu 12-24 jam.
3. Hepatomegali

Hati umumnya membesar dengan perlemakan yang berhubungan dengan nekrosis karena perdarahan yang terjadi pada lobules hati dan sel-sel kapiler. Terkadang tampak sel metrofil dan limfosit yang lebih besar dan lebih banyak dikarenakan adanya reaksi atau komplek virus antibodi.
4. Efusi Pleura

Efusi pleura karena adanya kebocoran plasma yang mengakibatkan ekstravasi cairan intravaskuler sel, hal tersebut dapat dibuktikan adanya cairan dalam rongga pleura bila terjadi efusi pleura akan terjadi dispnea.
G. Pengkajian Fokus

Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Masalah Utama DHF (Dengue Haemorragic Fever) Pengkajian Asuhan Keperawatan Keluarga dengan DHF menurut Friedman.
1. Identitas Data

a. Nama Kepala Keluarga : b. Usia : c. Pendidikan : d. Pekerjaan : e. Alamat : f. Komposisi keluarga Jumlah keluarga yang banyak (extended family), status social ekonomi menurun dan tingkat pendidikan dan pengetahuan rendah menyebabkan keluarga tidak mampu menjalankan 5 fungsi keluarga di bidang kesehatan (5 tahap) terhadap penderita DHF di keluarga. g. Tipe keluarga Biasanya tipe keluarga besar yang ekonominya rendah, lebih berpengaruh terhadap status kesehatan terutama DHF. h. Suku bangsa

Asal suku, identifikasi budaya suku yang terkait dengan masalah kesehatan. i. Agama Agama yang dianut serta kepercayaan yang dapat berpengaruh pada persepsi keluarga dalam pengobatan atau perawatan pada penderita DHF. j. Status sosial ekonomi keluarga Pendidikan yang rendah, didukung pendapatan yang rendah pula kan berpengaruh pada keluarga dalam mengenal masalah DHF dalam pengambilan keputusan, dan keluarga tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan gizi pada penderita DHF serta biaya pengobatannya. k. Latar Belakang Budaya
1) Kebiasaan fasilitas Kesehatan

Keluarga mempunyai kebiasaan jika ada anggota keluarga yang sakit, sumber pelayanan kesehatan yang ada di masyarakat merupakan tempat pertama yang dituju dalam rangka pengobatan. Contohnya Puskesmas.
2) Pengobatan Tradisional

Keluarga biasanya hanya memberikan pengobatn tradisional, misalnya untuk mengurangi demam, keluarga menganjurkan penderita untuk istirahat dan jika masih demam hanya dibelikan obat di warung. l. Aktivitas di waktu senggang Kebiasaan aktivitas yang mempengaruhi penderita DHF yaitu aktivitas yang banyak apalagi di tempat yang kotor. Penderita DHF harus mengurangi aktivitas, istirahat dan harus bayak minum air putih secara teratur.
2. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga a. Tahap perkembangan keluarga saat ini

Anggota keluarga yang tertua akan berpengaruh pada keluarga, dalam pengambilan keputusan untuk mengatasi masalah.
b. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi

Dalam tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi misalnya dalam masalah kesehatan, keluarga belum bisa meningkatkan kesehatan anggota keluarga.
c. Riwayat keluarga inti

Jika dalam silsilah keluarga didapatkan anggota keluarga ada yang menderita DHF maka tidak dapat beresiko pada kerabat atau keturunan berikutnya untuk

menderita DHF, sebab DHF merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue.
3. Data Lingkungan a. Karakteristik Rumah

Karakteristik luas tipe, jumlah ruangan, jumlah jendela, pemanfaatan ruangan, peletakan perabot, jarak sumber air dengan septic tank, sumber air yang digunakan, status kepemilikan dan denah rumah. Keadaan rumah yang kecil, sempit, kotor, ventilasi yang kurang, perabotan rumah berserakan, penataan ruangan atau kamar yang banyak baju bergantungan. Hal tersebut merupakan factor predisposisi timbulnya penyakit DHF. Di samping itu, tempat-tempat di luar rumah penderita DHF, misal : lingkungan dengan kondisi atau keadaan kotor, pembuangan sampah terbuka, pembuangan air limbah tidak lancar. (Nelson, 2001)
b. Karakteristik tetangga dan komunitas

Karakteristik fisik tetangga dan masyarakat yang berpengaruh pada penyakit DHF, misal : sanitasi jalan terlihat kumuh, rumah, pekerjaan, kelas sosial dan karakteristik sosial budaya masyarakat, serta sulitnya masyarakat menggunakan transportasi.
c. Mobilitas geografis keluarga

Penderita DHF biasanya sering bertempat tinggal di daerah yang kumuh, kotor sehingga akan mempengaruhi pada penderita DHF.
d. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat

Keluarga menyadari pentingnya intoleransi dengan masyarakat dan menggunakan fasilitas pelayanan masyarakat misalnya pelayanan kesehatan.
e. Sistem pendukung keluarga

Biasanya yang membantu keluarga saat membutuhkan bantuan adalah tetangga dekat atau sanak keluarga dan petugas kesehatan dalam membantu kesehatan keluarga.
4. Struktur Keluarga a. Pola komunikasi keluarga

Kurang komunikasi diantara keluarga yang menderita DHF akan mempengaruhi pengambilan keputusaN dalam memutuskan suatu masalah.
b. Struktur kekuatan keluarga

Dalam keluarga yang membuat keputusan dalam menyelesaikan masalah biasanya dilakukan oleh kepala keluarga dengan cara demokrasi. Jika kepala keluarga tidak

mampu

mengambil

keputusan

tepat

dalam

mengatasinya

maka

dapat

memperberat penyakit DHF.
c. Struktur Peran

Peran kepala keluarga adalah memenuhi kebutuhan anggota keluarganya dan setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing dalam menaggulangi, mencegah serta merawat anggota keluarga yang sakit.
d. Nilai dan norma keluarga

Keluarga mempunyai persepsi bahwa suatu penyakit tidak dapat sembuh tanpa diobati seperti DHF tidak dapat sembuh tanpa pengobatan.
5. Fungsi Keluarga a. Fungsi Afektif

Perhatian yang kurang sehingga penderita DHF tidak mendapatkan perawatan kesehatan yang dibutuhkan.
b. Fungsi Sosialisasi

Tingkat kependidikan dan pengetahuan masyarakat rendah, sehingga dalam proses sosialisasi masyarakat, keluarga tidak mendapatkan informasi yang tepat tentang DHF dan penanganannya.
c. Fungsi Kesehatan

Keluarga mampu melakukan lima tugas kesehatan keluarga yaitu :
1) Mengenal masalah kesehatan tentang penyakit DHF (pengertian, faktor penyebab,

tanda dan gejala, akibat serta penatalaksanaan).
2) Mengambil keputusan jika ada anggota keluarga yang sakit. 3) Merawat anggota keluarga yang sakit dengan menjauhkan factor-faktor pencetus

terjadinya DHF (Dengue Haemorragic Fever) dan pemenuhan nutrisi yang cukup.
4) Memodifikasi lingkungan misal menjaga kebersihan agar terhindar dari penyakit. 5) Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan misalnya : membawa anggota

keluarga yang sakit ke pelayanan kesehatan terdekat seperti Puskesmas.
d. Fungsi Reproduksi

Berapa jumlah anak, bagaimana keluarga merencanakan jumlah anak, metode yang digunakan.
e. Fungsi Ekonomi

Keluarga mempunyai fungsi dalam memenuhi kebutuhan ekonominya dan termasuk pemanfaatan sumber yang ada di masyarakat dalam upaya peningkatan status kesehatan keluarga.
6. Stress dan Koping Keluarga a. Stressor jangka pendek

Apabila keluarga mempunyai masalah dalam kesehatan, anggota keluarga ada yang menderita DHF maka bagaimana cara keluarga merawat anggota keluarga yang menderita tersebut.
b. Stressor jangka panjang

Keluarga mampu bertindak tenang dan sabar dalam perawatan DHF dan pengobatannya.
c. Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi/stressor

Keluarga begitu peka terhadap situasi yang terjadi dalam anggota keluarga, sehingga akan lebih cepat dalam mengambil keputusan sehingga tidak berakibat buruk, misal akibat atau komplikasi dari DHF (Dengue Haemorragic Fever).
d. Strategi koping yang digunakan

Keluarga yang menggunakan mekanisme koping yang tidak adaptif terkait dengan masalah kesehatan yang muncul, misal tidak segera membawa anggota keluarga yang sakit ke pelayanan kesehatan cenderung akan mempengaruhi tingkat kesehatan keluarga.
7. Keluhan utama

Penderita mengeluh badannya panas (peningkatan suhu tubuh) sakit kepala, lemah, nyeri ulu hati, mual dan nafsu makan menurun.
8. Riwayat penyakit sekarang

Didapatkan adanya keluhan panas mendadak dengan disertai menggigil dan saat demam kesadaran kompos mentis. Turunya panas terjadi antara hari ke-3 dan ke-7, dan anak semakin lemah. Kadang-kadang disertai keluhan batuk pilek, nyeri telan, mual, muntah, anoreksia, diare atau konstipasi, sakit kepala, nyeri otot dan persendian, nyeri ulu hati dan pergerakan bola mata terasa pegal, serta adanya manifestasi perdarahan pada kulit, gusi (grade III, IV), melena atau hematemasis.
9. Riwayat penyakit yang pernah diderita

Penyakit apa saja yang pernah diderita. Pada DHF, anak biasanya mengalami serangan ulangan DHF dengan type virus yang lain.
10. Riwayat imunisasi

Apabila anak mempunyai kekebalan yang baik, maka kemumgkinan akan timbulnya komplikasi dapat dihindarkan.
11. Riwayat gizi

Status gizi anak yang menderita DHF dapat bervariasi. Semua anak dengan status gizi baik maupun buruk dapat berisiko, apabila ada factor predisposisinya. Anak yang menderita DHF sering mengalami keluhan mual, muntah,dan nafsu akan menurun. Apabila kondisi ini berlanjut dan tidak disertai pemenuhan nutrisi yang mencukupi, maka anak dapat mengalami penurunan berat badan sehingga status gizinya menjadi kurang.
12. Kondisi lingkungan

Sering terjadi pada daerah yang padat penduduknya dan lingkumgan yang kurang bersih (seperti yang mengenang dan gantungan baju yang di kamar).
13. Pola kebiasaan a) Nutrisi dan metabolism

Nutrisi dan metabolisme: frekuensi, jenis, pantangan, nafsu makan berkurang, dan nafsu makan menurun.
b) Eliminasi BAB

Eliminasi BAB: kadang-kadang anak mengalami diare atau konstipasi. Sementara DHF grade III-IV bisa terjadi melena.
c) Eliminasi BAK

Eliminasi BAK: perlu dikaji apakah sering kencing, sedikit atau banyak, sakit atau tidak. Pada DHF grade IV sering terjadi hematuria.
d) Tidur dan istirahat

Tidur dan istirahat: anak sering mengalami kurang tidur karena mengalami sakit atau nyeri otot dan persendian sehingga kualitas dan kuantitas tidur maupun istirahatnya kurang.
e) Kebersihan

Kebersihan: upaya keluarga untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan cenderung kurang terutama untuk membersihkan tempat sarang nyamuk aedes aegypti. Perilaku dan tanggapan bila ada keluarga yang sakit serta upaya untuk menjaga kesehatan.
14. Pemeriksaan fisik

Meliputi inspeksi, auskultasi, palpasi, perkusi dari ujung rambut sampai ujung kaki. Berdasarkan tingkatan grade DHF, keadaan fisik anak adalah :

a) Kesadaran : Apatis b) Vital sign : TD : 110/70 mmHg c) Kepala : Bentuk mesochepal d) Mata : simetris, konjungtiva anemis, sclera tidak ikterik, mata anemis e) Telinga : simetris, bersih tidak ada serumen, tidak ada gangguan pendengaran f) Hidung : ada perdarahan hidung / epsitaksis g) Mulut : mukosa mulut kering, bibir kering, dehidrasi, ada perdarahan pada rongga

mulut, terjadi perdarahan gusi.
h) Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, kekakuan leher tidak ada, nyeri

telan
i) Dada

Inspeksi : simetris, ada penggunaan otot bantu pernafasan Auskultasi : tidak ada bunyi tambahan Perkusi : Sonor Palpasi : taktil fremitus normal
j) Abdomen

Inspeksi : bentuk cembung, pembesaran hati (hepatomegali) Auskultasi : bising usus 8x/menit Perkusi : tympani Palpasi : turgor kulit elastis, nyeri tekan bagian ata
k) Ekstrimitas : sianosis, ptekie, echimosis, akral dingin, nyeri otot, sendi tulang l) Genetalia : bersih tidak ada kelainan di buktikan tidak terpasang kateter

15. Sistem integument

Adanya peteki pada kulit, turgor kulit menurun, dan muncul keringat dingin dan lembab. Kuku sianosis atau tidak.
a) Kepala dan leher

Kepala terasa nyeri, muka tamp0ak kemerahan karena demam (flusy), mata anemis, hidung kadang mengalami perdarahan (epistaksis) pada grade II,III, IV.

Pada mulut didapatkan bahwa mukosa mulut kering, terjadi perdarahan gusi, dan nyeri telan. Sementara tenggorokan mengalami hyperemia pharing dan terjadi perdarahan telingga (grade II, III, IV ).
b) Dada

Bentuk simetris dan kadang-kadang sesak. Pada fhoto thorax terdapat adanya cairan yang tertimbun pada paru sebelah kanan, (efusi pleura), rales, ronchi, yang biasanya terdapat pada grade III dan IV.
c) Abdomen

Mengalami nyeri tekan, pembesaran hati (hepatomegali) dan asites. Ekstremitas : akral dingin, serta terjadi nyeri otot, sendi, serta tulang.
16. Diagnosa Keperawatan Keluarga 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada An. L dikeluarga Tn. A

dengan ketidakmampuan keluarga dalam merawat An. L yang mengalami DHF (Dengue Haemorragic Fever).
2. Kurangnya volume cairan tubuh pada An. L dikeluarga Tn. A dengan

ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah An. L yang mengalami DHF (Dengue Haemorragic Fever).
3. Kurangnya pengetahuan pada An. L dikeluarga Tn. A dengan ketidakmampuan

keluarga dalam mengenal masalah An. L yang mengalami DHF ( Dengue Haemorragic Fever).
17. Fokus Intervensi 1. Diagnosa Keperawatan 1 a) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi. b) Rencana tindakan 1) Pencegahan primer -

Memberikan informasi tentang kebutuhan nutrisi. Meyakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah kontipasi.

-

Mengkaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan. Menurunkan kebutuhan metabolisme untuk mencegah penurunan kalori dan simpanan energy dengan melakukan tirah baring atau pembatasan aktivitas selama fase sakit.

-

Anjurkan pasien untuk meningkatkan masukan Fe, protein dan Vitamin C.

2) Pencegahan sekunder -

Anjurkan untuk sediakan makanan dalam ventilasi yang baik, lingkungan menyenangkan karena lingkungan yang menyenangkan akan menurunkan stress dan lebih kondusif untuk makan.

-

Berikan kebersihan oral karena mulut yang bersih dapat meningkatkan rasa makanan.

3) Pencegahan tersier -

Monitor mual dan muntah. Monitor adanya penurunan BB. Monitor interaksi anak atau orang tua selama makan. Kolaborasi nutrisi perenteral total, terapi IV sesuai indikasi.

2. Diagnosa Keperawatan II a) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan tidak adanya tanda-tanda dehidrasi,

membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan.
b) Rencana tindakan 1) Pencegahan primer -

Pantau status hidrasi (kelembaban membran, nadi akurat). Monitor masukan makanan/cairan.

2) Pencegahan sekunder -

Anjurkan banyak minum 1500-2000 ml/hari. Batasi aktivitas yang menguras tenaga.

3) Pencegahan tersier -

Kolaborasi dokter juga pemberian cairan IV sesuai dengan suhu ruangan. Memberikan deuritik sesuai intruksi.

3. Diagnosa Keperawatan III a) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan keluarga mengetahui sumber-

sumber informasi.
b) Rencana tindakan 1) Pencegahan primer -

Menentukan tingkat pengetahuan keluarga sebelumnya.

-

Mempunyai perencanaan pada kondisi kegawatan. Dorong untuk mengikuti informasi yang diberikan oleh tenaga kesehatan lain.

2) Pencegahan sekunder -

Diskusikan tentang proses penyakit (pengertian, tanda dan gejala, faktor penyebab dan komplikasi.

-

Jelaskan secara rasional tentang pengelolaan terapi atau perawatan yang dianjurkan.

-

Ajarkan tentang makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan.

3) Pencegahan tersier -

Kaji ulang pengetahuan keluarga tentang proses penyakit. Rujuk kepelayanan kesehatan bila kondisi pasien semakin memburuk.

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA SDR.E DI KELUARGA TN.W DENGAN PENYAKIT DENGUE HAEMORAGIC FEVER (DHF) DI KAMPUNG PANGADEGAN KEC. CIBEUREUM
A. DATA UMUM 1. Nama Kepala Keluarga 2. Alamat Kepala Keluarga

: Tn. W : Kp. Pangadegan Rt/Rw 06/01 kel. Kota Baru, Kec. Cibeurem

3. Pendidikan Kepala Keluarga 4. Komposisi Keluarga

: SMA

N o 1 2 3 4 5

Nama

Hubungan Dengan KK Istri Ank.kandu ng Ank. kandung menantu Cucu

Umur

Jenis Kelami n P L L P P

Status Perkawina n kawin kawin belum kawin belum

Pendidikan

Pekerjaan Keterangan Imunisasi

Ny.L Tn.H Sdr.E Ny.R Ank. M

52 th 30 th 20 th 29 th 2 th

SD SMK SMA SMA ____

Penjahit Buruh Pelajar IRT ___

lengkap lengkap lengkap lengkap lengkap

Genogram :

Keterangan : : Laki-laki

: Perempuan

: Sudah Meninggal

: Klien : Menikah : Garis Keturunan : Tinggal Serumah
5. Tipe Keluarga

Keluarga Tn W termasuk keluarga besar (estended family) yang terdiri dari Kepala Keluarga, istri, 2 anak, 1 orang menantu, 1 orang cucu.
6. Suku Bangsa

Seluruh anggota keluarga berasal dari suku sunda, Indonesia
7. Agama

Semua anggota keluarga menganut agama islam dan mereka selalu taat beribadah dan menjalankan perintah Tuhan YME.
8. Status Social Ekonomi Keluarga

Pekerjaan Anggota Keluarga Tn.W bekerja sebagai buruh jasa di sebuah perusahaan. Sedangkan Ny. L bekerja sebagai penjahit rumahan. Anak pertama yang sudah menikah bekerja sebagai supir di perusahaan. Sebagian besar anggota keluarga mempunyai penghasil perbulannya, yaitu :
 Kepala Keluarga  istri (Ibu l)

: 1.500.000/bulan : 500.000/bulan

 Anak 1

: 900.000/bulan

Pemenuhan Kebutuhan Sehari-Hari Dilihat dari penghasilan masing-masing anggota keluarga yang sudah bekerja, keluarga mempunyai status social ekonomi menengah. Dengan pengeluaran perbulan mencapai untuk Tn.W dengan Ny.L sebesar ± Rp. 1.500.000. sedangkan penghasilan anak pertama di gunakan untuk pemenuhan kebutuhan keluarganya sebesar Rp. ±700.000.

9. Kebutuhan Rekreasi 1) Rekreasi Yang Digunakan Dalam Rumah

Keluarga Tn. W tidak pernah pergi bersama untuk berekrasi, hanya saja bila ada kemauan dan waktu luangnya digunakan menonton TV dan membersihkan rumah bersama-sama anggota keluarga di saat hari libur.
2) Rekreasi Yang Dilakukan Di Luar Rumah

Keluarga Tn. W jarang berekreasi di luar di tempat rekreasi, hanya saja berkunjung ke rumah saudara terdekat.
B. TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA 1. Tahap Perkembangan Keluarga Saat Ini

Keluarga Tn. W mempunyai 2 orang anak, anak pertama laki-laki dengan umur 30 tahun dan sudah menikah mempunyai 1 orang isteri dan 1 orang anak, dan anak ke-2 laki-laki 20 tahun. Maka keluarga Tn. W berada pada tahap perkembanngan keluarga dengan anak dewasa.
2. Tahap Perkembangan Keluarga Yang Belum Terpenuhi

Tn. W sampai saat ini telah memenuhi tugas perkembangan yaitu :
1) Memperluas jaringan keluarga dari keluarga inti menjadi keluarga besar 2) Mempertahankan keintiman pasangan 3) Penataan kembali peran ortu dan kegiatan rumah

Namun, hanya sebagian tugas kepala keluarga untuk membantu anak untuk mandiri sebagai keluarga baru di masyarakat. Sebab anak pertama yang telah menikah belum tinggal sendiri atau terlepas dari KK yang dilatar belakangi materil.

3. Riwayat Keluarga Inti

Dalam keluarga, tidak ada riwayat penyakit menular, menahun, dan menurun. Riwayat masing-masing anggota keluarga adalah sebagai berikut :
1) Kepala Keluarga, Tn. W pernah mengalami riwayat penyakit Vertigo, sehingga harus

dirawat inap selama 10 hari di Rumah Sakit dan sekarang dinyatakan belum sembuh total sehingga menyebabkan mobilisasinya terganggu.
2) Isteri, Ny. L tidak mempunyai riwayat penyakit yang mengharuskan Ny. L berobat dan

rawat inap di Rumah Sakit.
3) Anak Pertama, Tn. H tidak mempunyai riwayat penyakit yang mengharuskan Ny. L

berobat dan rawat inap di Rumah Sakit.
4) Anak Kedua, Sdr. E pernah mengalami riwayat penyakit DHF, sehingga harus dirawat

inap selama 10 hari di Rumah Sakit dan sekarang dinyatakan sudah sembuh .
5) Menantu, Ny. R tidak mempunyai riwayat penyakit yang mengharuskan Ny. L berobat

dan rawat inap di Rumah Sakit.
6) Cucu , An. M tidak mempunyai riwayat penyakit yang mengharuskan Ny. L berobat

dan rawat inap di Rumah Sakit.

4. Riwayat Keluarga Sebelumnya

Dari keluarga Tn.W, Tn.W pernah mengidap penyakit vertigo. Akibat dari vertigo sendiri keseimbangan berjalan Tn.W tidak normal seperti semula. Sedangkan anggota keluarga yang lain hanya mengalami penyakit pusing biasa dan sembuh dengan membeli obat dari warung.

C. PENGKAJIAN LINGKUNGAN 1. Karakteristik Rumah a) Status

Luas tanah 12 m x 8 m luas rumah 6 m x 7 m . Tipe rumah : permanen dengan jumlah 3 kamar tidur, 1 ruang tamu, 1 ruang keluarga, 1 dapur, 1 kamar mandi, 1 ruang kerja. Jendela 16 buah, pintu 5 buah, setiap ruangan dimanfaatkan sebagaimana fungsinya. perlengkapan rumah tangga tertata dengan rapi, cahaya matahari dapat tersalurkan kesetiap ruangan, sumber air dari PDAM.
b) Perincian Denah

6 5

1 2 3 3 4 3 utama

Keterangan : 1. Dapur 2. Kamar mandi 3. Kamar tidur 4. Ruang tamu 5. Ruang kerja 6. Parkir 7. halaman

8

7

c) Keadaan rumah

Lantai menggunakan keramik, tidak licin, ruang tamu tampak tidak tertata rapi. Ruang tamu memiliki 1 jendela selalu terbuka. Tiap kamar tidak terdapat genting kaca sehingga rumah terlihat kurang terang. Kamar tidur utama mempunyai jendela,

kamar tidur ketiga tidak ada jendela namun memiliki ventilasinya. An. L lebih sering tidur di kamar ketiga. Dapur terletak seruangan dengan ruang makan terdapat ventilasi. Lingkungan sekitar rumah jalan sudah dikeraskan atau di semen, posisi rumah dekat dengan rel kereta api dan tidak ada pembuangan sampah (bak sampah).
d) Kebiasaan Keluarga dalam Perawatan Rumah

Kebersihan rumah adalah tanggung jawab semua anggota keluarga, dimana semua anggota keluarga mempunyai tugas dan tanggung jawab masing-masing dalam kebersihan rumah. Namun keluarga Tn. W dan Tn. H jarang untuk membersihkan atau merawat rumah karena kesibukan pekerjaan sehingga pekerjaan membersihkan rumah dilakukan oleh Ny.L dan Ny.R.

e) Sistem Pembuangan Sampah

Dalam keluarga Tn. W sampah keluarga di buang di belakang rumah di tampung dan di bakar. Karena tidak terjangkau mobil angkutan sampah sehingga sampah rumah di musnahkan dengan cara di bakar di belakang rumah sekitar 2 m dari rumah.
f) System drainase air

Sumber air yang digunakan Tn.W menggunakan air PDAM, disediakan tempat penampungan air dan memisahkan antara air buat memasak dan buat mencuci. Di samping rumah ada selokan dan dijadikan pembuangan air bekas.
g) Kondisi air

Kondisi air tidak berwarna, jernih dan tidak berasa. Air PDAM di gunakan untuk memasak dan keperluan sehari-hari. Untuk minum menggunakan air isi ulang.
h) Pengetahuan Keluarga Mengenal Masalah Kesehatan yang Berkaitan dengan

Lingkungan Keluarga menganggap kesehatan sangat penting harus tetap jaga kebersihan.
2. Karakteristik Tetangga Dan Komunitas Rw

Keluarga merasa nyaman hidup ditengah-tengah warga sekitar rumah karena keluarga merasa warga sekitar saling bantu-membantu dan tidak merugikan dalam berbagai hal.

3. Mobilitas Geografis Keluarga

Sejak Tn. W Menikah Dengan Ny. L keluarga Tn. W tinggal di kp pangadean dan tidak perrnah pindah. Alat transportasi yang ada di daerah keluarga Tn. W adalah angkutan umum dan angkutan motor (ojek). Alat Transportasi yang Biasa Digunakan Keluarga Alat transportasi yang digunakan keluarga sehari-hari adalah sepeda motor dan angkutan umum.

4. Perkunpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat a) Peran Serta Keluarga dalam Perkumpulan di Masyarakat

Hubungan keluarga dengan tetangga tampak baik dan harmonis. Walaupun Ny. L tidak bisa mengikuti kegiatan ibu-ibu setempat karena sibuk kerja dari pagi sampai malam namun tetap menjaga hubungan baik dengan warga sekitar. Tn.W mengkuti kegiatan perkumpulan tiap bulan sekali, sedangkan Tn.H suka pulang kerja tidak menentu tetapi bila ada kgiatan dalam masyarakat selalu mengikuti
b) Persepsi Keluarga Mengenai Perkumpulan di Masyarakat

Keluarga mengatakan perkumpulan di masyarakat sangat berguna memecahkan masalah-masalah yang ada lingkungan dan tempat berinteraksi antar tetangga (silaturahim).
c) Adat dan Kebiasaan Komunitas Sekitar

Selama ini tetangga-tetangganya mempunyai kebiasaan apabila ada salah satu tetangganya yang sakit mereka saling bantu-membantu. Bergotong royong membersihkan kampung tiap dua minggu sekali.

5. System pendukung keluarga

Keluarga memiliki fasilitas kesehatan yang memadai misalnya: tersedia MCK, kotak obat pribadi, motor sebagai sarana transportasi. Sedangkan fasilitas sosialnya berupa mengikuti penyuluhan kesehatan misalnya : penyuluhan DBD, diadakannya imunisasi seperti tetanus, campak, polio, dan lain-lain. Sedangkan dukungan psikologi dan spiritual keluarga terpenuhi dengan baik.

D. STRUKTUR KELUARGA 1. Pola komunikasi keluarga

Keluarga menerapkan kepada seluruh anggota keluarga untuk selalu terbuka jika ada sesuatu hal. Komunikasi yang diterapkan dalam keluarga adalah dua arah.
2. Struktur Kekuatan Keluarga

Dalam keluarga keputusan yang diambil adalah hasil musyawarah bersama, setiap anggota berperan sesuai dengan perannya, dan dapat menyampaikan idenya jika ada masalah yang dirasakan. Pengambil keputusan adalah Tn. W tetapi bila dalam keadaan tertentu Tn. W tidak ada di tempat, maka keputusan diambil oleh istrinya.
3. Struktur peran (formal dan informal)  Tn.W:

Peran formal : Tn.W tidak pernah menjadi pengurus dalam masyarakat, sekarang hanya menjadi anggota masyarakat Peran informal : menjadi kepala keluarga, suami, ayah kakek, mertua, dan menantu.
 Ny.L:

Peran formal : aktif sebagai anggota masyarakat, perkumpulan ibu-ibu pengajian, dan perkumpulan ibu-ibu di lingkungan tempat tinggal. Peran informal : sebagai ibu rumah tangga, sitri, nenek, dan mertua.
 Tn. H :

Peran formal : sebagai anggota masyarakat, anggota ketua karang taruna. Peran informal : aktif sebagai anggota keluarga, suami, anak, ayah.
 Ny.R :

Peran formal : sebagai anggota perkumpulan ibu-ibu di lingkungan tempat tinggal Peran informal : sebagai ibu rumah tangga, ibu, istri, menantu di keluarga. Sdr.E : Peran formal : sebagai anggota ikatan mahasiswa Peran informal : anak, adik. sepupu An.M : Peran formal : -------Peran informal : anak, cucu, keponakan.

4. Nilai dan norma keluarga

Keluarga hidup dalam nilai dan norma budaya Jawa dimana suami bertindak sebagai pencari nafkah dan istri di rumah mengurus anak, menurut pendapat keluarga bisa saja istri bertindak sebagai pencari nafkah tambahan asalkan tugas sebagai istri dan ibu tidak begitu terabaikan. Nilai yang dianut keluarga adalah saling menghormati antar anggota keluarga dan menyayangi serta memberi kebebasan pada An. E tetapi bertanggung jawab. Nilai yang ada di keluarga merupakan gambaran nilai dari agama yang dianut, tidak terlihat adanya konflik dalam nilai dan tidak ada yang mempengaruhi status kesehatan anggota keluarga dalam menggunakan nilai yang diyakini oleh masyarakat dan tidak bertentangan dengan masyrakat sekitar.

E. FUNGSI KELUARGA 1. Fungsi Afektif

Perhatian yang kurang sehingga penderita DHF (Dengue Haemorragic Fever) tidak mendapatkan perawatan kesehatan yang dibutuhkan.
2. Fungsi Sosial

Tingkat kependidikan dan pengetahuan masyarakat rendah, sehingga dalam proses sosialisasi masyarakat, keluarga tidak mendapatkan informasi yang tepat tentang DHF dan penanganannya.
3. Fungsi perawatan keluarga 1. Mengenal Masalah

Saat pengkajian semua anggota keluarga dalam keadaan sehat, akan tetapi An. E yang sudah 10 hari di rawat di Rumah Sakit sudah sembuh dari penyakit DHF, namun masih mengalami mual tiap kali makan, BB menurun, keengganan untuk makan, membran mukosa bibir kering, tampak masih lemah dan merasakan selalu haus. Keluarga tidak tahu tentang pengertian DHF, penyebab DHF, tanda dan gejala serta faktor penyebab yang mempengaruhi DHF.
2. Mengambil Keputusan

Keluarga Tn. W mengatakan saat Sdr. E demam tinggi dulu diberi obat dari warung. Namun selama 2 hari demam tinggi Sdr.E tidak mengalami penurunan suhu tubuh. Diduga Sdr. E mengalami penyakit tipes sehingga keluarga memberikan obat tradisional. Akan tetapi tidak sembuh-sembuh Sehingga keluarga Tn. W mendapat saran dari tetangga terdekat untuk mengambil keputusan membawa Sdr.E ke pelayanan kesehatan terdekat (Puskesmas).
4. Fungsi Reproduksi

Tn. W mempunyai 2 anak (Tn.H dan sdr. E), keluarga Tn. W merencanakan jumlah anak dengan melakukan KB terutama Ny. L sejak dulu. Tn. W dan Ny. L tidak mengalami gangguan dalam reproduksi.
5. Fungsi ekonomi

Keluarga mampu memenuhi kebutuhan sandnag, pangan, dan papan dari pendapatan yang diterima perbulan serta keluarga mampu menyisihkan pendapatannya untuk keperluan yang tidak terduga. Keluarga mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada, seperti puskesmas, posyandu balita, dan rumah sakit.

F. STRESS DAN KOPING KELUARGA 1. Stressor Jangka Pendek

Apabila keluarga mempunyai masalah dalam kesehatan, anggota keluarga ada yang menderita DHF maka bagaimana cara keluarga merawat anggota keluarga yang menderita tersebut.
2. Stressor jangka panjang  Kekambuhan penyakit vertigo pada Tn.W. 3. Kemampuan Keluarga Berespon terhadap Stressor

Keluarga Tn. A begitu peka terhadap situasi yang terjadi dalam anggota keluarga, sehingga akan lebih cepat dalam mengambil keputusan sehingga tidak berakibat buruk, misal akibat atau komplikasi dari DHF.
4. Stressor Koping yang Digunakan

Keluarga yang menggunakan mekanisme koping yang tidak adaptif terkait dengan masalah kesehatan yang muncul, misal tidak segera membawa anggota keluarga yang sakit ke pelayanan kesehatan cenderung akan mempengaruhi tingkat kesehatan keluarga.
5. Strategi adaftasi disfungsional

Keluarga tidak pernah menggunakan kekerasan, perlakuan kejam terhadap anak, mengkambing hitamkan anak, memberikan ancaman-ancaman dalam menyelesaikan masalah.
6. Harapan Keluarga pada Perawat

Keluarga Tn.W dan Ny.L menyambut baik mahasiswa kesehatan yang dating kerumahnya, sehingga semakin tahu bagaimana bahaya dan pelajaran cara mencegah penularan nyamuk yang menyebabkan DHF/DBD. Keluarga juga mengharapkan mahasiswa aktif dalam bersosialisasi kepada masyarakat sehingga ilmu yang didapat dapat diaplikasikan kepada masyarakat.

G. PEMERIKSAAN FISIK

Pe me rik saa

Nama anggota keluarga Tn.W Ny.L Tn.H Ny.R Sdr.E An.M

n fisi k TB BB TD RR N Ra mb ut ko nju ngt iva Scl era Hi du ng Tidak ikhterik Tidak ikhterik Tidak ikhterik Tidak ikhterik Tidak ikhterik Tidak ikhterik Simetris, tidak Simetris, tidak Simetris, tidak Simetris, tidak Simetris, tidak Simetris, ada sekret, tidak ada polip ada sekret, tidak ada polip ada sekret, tidak ada polip ada sekret, tidak polip ada sekret, ada tidak polip tidak ada sekret, tidak polip Mu Bersih, lut tidak Bersih, tidak Bersih, tidak Bersih, tidak Sedikit kotor, Bersih, tidak mukosa bibir kering Tel ing a Le her Tidak kelenjar tiroid Da da ada Tidak pembesaran kelenjar tiroid ada Tidak pembesaran kelenjar tiroid ada Tidak kelenjar tiroid ada Tidak kelenjar tiroid ada Tidak kelenjar tiroid ada Bersih, simetris Bersih, simetris Bersih, simetris Bersih, simetris Bersih, simetris ada stomatitis Bersih, simetris ada ada Tidak anemis Tidak anemis Tidak anemis Tidak anemis Masih pucat Tidak anemis 169 cm 65 kg 130/80 mmHg 25 x/menit 80 x/menit Bersih, beruban, lurus 160 cm 70 kg 130/80 mmHg 23 x/menit 84 x/menit 170 cm 65 kg 120/80 mmHg 25 x/menit 70 x/menit 165 cm 60 kg 167 cm 55 kg 75 cm 15 kg

110/80 mmHg 110/70 mmHg ------22 x/menit 75 x/menit 25 x/menit 20 x/menit 80 x/menit

Bersih, hitam, Bersih, hitam, Bersih, hitam, Bersih, hitam, Bersih, agak ikal lurus lurus lurus hitam, lurus

ada stomatitis

ada stomatitis

ada stomatitis

ada stomatitis

pembesaran

pembesaran

pembesaran

pembesaran

Simetris, tidak Simetris, tidak Simetris, tidak Simetris, tidak Simetris, tidak Simetris, ada tekan, tidak nyeri ada tekan, ada tidak nyeri ada tekan, ada tidak wheezing ada Tidak nyeri tekan, nyeri ada tekan, ada tidak nyeri ada tekan, ada tidak nyeri tidak ada tidak ada ada nyeri tekan,

Ab do me

wheezing wheezing Tidak ada Tidak nyeri tekan, nyeri tekan,

wheezing wheezing wheezing ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada nyeri tekan, nyeri tekan, nyeri tekan,

tympani, tidak tympani, tidak tympani, tidak tympani, tidak tympani, tidak tympani,

n Ek str em

teraba massa Atas :

teraba massa :

teraba massa :

teraba massa

teraba massa

tidak

teraba

baik, Atas

baik, Atas

massa baik, Atas : baik, Atas : baik, Atas : baik, ada tidak tekan, nyeri tangan baik. ada tidak nyeri kaki gerak baik. ada tidak tekan, nyeri tangan baik. : tidak ada baik, ada tekan,

tidak ada nyeri tidak ada nyeri tidak ada nyeri tidak tekan, rentang tekan, rentang tekan, rentang nyeri gerak tangan baik. tidak ada nyeri tidak gerak gerak tangan baik. tidak ada nyeri baik. baik, keseimbangan jalan nyeri tekan, rentang gerak baik. kaki tangan

itas gerak tangan

rentang gerak rentang gerak rentang gerak

Bawah : tidak Bawah : baik, Bawah : baik, baik. tekan, rentang tekan, rentang tidak kaki gerak baik. kaki nyeri gerak baik.

Bawah : baik, Bawah : baik, Bawah ada nyeri

baik. tidak ada baik.

tekan, rentang tekan, rentang tekan, kaki rentang gerak kaki baik.

1. Aktivitas Kehidupan Sehari-hari Anggota Keluarga a) Nutrisi

Komposisi makanan pada keluarga Tn. W terdiri dari makanan pokok yaitu nasi, sayur mayur selalu ada, lauk pauk nabati selalu ada dan lauk pauk hewani kadangkadang serta buah. Keluarga Tn. W makan bersama-sama anggota keluarga pada malam hari sekitar jam 19.00 WIB, tetapi Ny. L sering memasak lauk pauk atau sayur mayur untuk keluarga. Namun An. M tidak suka makan terutama sayur, makan dalam porsi kecil dan tidak teratur. Tn. W : makan sehari 3-4 kali, tidak ada pantangan makanan. Ny. L : makan sehari 3 kali, tidak ada pantangan makanan. Tn. H : makan sehari 3-4 kali, tidak ada pantangan. Ny.R : makan sehari 3 kali, tidak ada pantangan Sdr.E : makan sehari 2 kali, tidak ada pantangan. An. M : makan tidak teratur, tidak mau makan sayur, dalam porsi kecil terkadang tidak habis.
b) Intake cairan

Tn. W minum kurang lebih 7-8 gelas per hari air putih dan pagi hari the manis, Ny. L minum kurang lebih 7-8 gelas per hari air putih, pagi hari teh manis. Tn.H minum 23 botol minum dan sering minum air suplemen dalam tiap mau kerja,Ny.R minum 67 gelas per hari air putih. Sdr.E suka minum 3-4 gelas per hari dan 1 botol minum air putih. An. M minum kurang lebih 4-5 gelas per hari air putih,dan suka jajan minuman es.
c) Eliminasi

Tn.W : BAB 1 kali sehari lunak, bau khas. BAK 6-8 kali sehari warna kuning jernih. Ny.L : BAB 1 kali sehari lunak, bau khas. BAK 5-6 kali sehari warna kuning jernih. Tn.H : BAB 1 kali sehari lunak, bau khas. BAK 6-8 kali sehari warna kuning jernih. Ny.H : BAB 1 kali sehari lunak, bau khas. BAK 4-5 kali sehari warna kuning jernih. Sdr.E : BAB 1 kali sehari lunak, bau khas. BAK 5-7 kali sehari warna kuning jernih.
d) Mobilisasi

Tn. W beraktifitas dengan pekerjaannya sebagai buruh jasa di perusahaan, berangkat bila masuk pagi pukul 07.30 WIB dengan menggunakan sepeda motor dan pulang sore hari sekitar pukul 17.30 WIB tergantung selesainya pekerjaan. Tn.H berangkat kerja menjadi supir angkut tidak menentu kadang dalam 1 bulan 3 minggu kerja dan pulang tergantung pergantian kerja. Sdr.E suka berangkat sekolah memakai motor dari pagi jam 07.00 dan pulang jam 03.00. untuk Ny.L dan Ny.R bekerja di rumah , apabila ada keperluan ke pasar, suka naik angkutan umum.
e) Personal Hygiene

Tn. W : mandi 2 kali sehari menggunakan sabun, sikat gigi 2 kali sehari, cuci rambut setiap 3 kali sehari dengan shampo. Ny. L : mandi 2 kali sehari menggunakan sabun, sikat gigi 2 kali sehari, cuci rambut setiap 2 kali sehari dengan shampo. Ny. R : mandi 2 kali sehari menggunakan sabun, sikat gigi 2 kali sehari, cuci rambut setiap 2 kali sehari dengan shampo. Tn. H : mandi 2 kali sehari menggunakan sabun, sikat gigi 2 kali sehari, cuci rambut setiap 2 kali sehari dengan shampo. Sdr.E : mandi 2 kali sehari menggunakan sabun, sikat gigi 2 kali sehari, cuci rambut setiap 2 kali sehari dengan shampo. An.M : mandi 2 kali sehari menggunakan sabun, sikat gigi 2 kali sehari, cuci rambut setiap 2 kali sehari dengan shampo.
H. ANALISA DATA

N O 1

Simptom

Etiologi

Problem Meningkatnya penyakit suhu

DS : Sdr E mengeluh badannya Ketidakmampuan panas sampai merasa sakit. naik, keluarga DO : Bila suhu badan Sdr. E tanda-tanda hanya DHF. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada An. L dikeluarga Tn. A mengompres Sdr. E. DS : - Keluarga Tn. W mengatakan Sdr. E masih sering mual tiap kali makan. - Keluarga mengatakan Sdr. E nafsu makan berkurang, porsi makan tidak pernah habis. DO : - BB Sdr. E (57 kg) - TB 165 cm - Usia 20 tahun - Mual tiap kali makan - Porsi makan tidak pernah habis - Membran mukosa

keluarga untuk mengenal (hipertermi)

2

Ketidakmampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang mengalami DHF (Dengue Haemorragic Fever).

3

kering. DS : Jika gejala timbul Sdr. E Ketidakefektifan keluarga Koping keluarga yang hanya diam, tidak ada dalam berkomunikasi tidakefektif kesomunikasi dengan keluarga. dengan Sdr. E DO : Sdr. E mengatakan tidak tahu mengenai tanda dan gejala DHF

I.

DIAGNOSA MASALAH
1. Resiko terjadinya hipertermi pada Sdr.E berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga

dalam mengenali tanda-tanda DHF
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada An. L dikeluarga Tn. A dengan

ketidakmampuan keluarga dalam merawat An. L yang mengalami DHF (Dengue Haemorragic Fever).
3. Koping keluarga yang tidakefektif yang berhubungan dengan keperawatan dirumah J.

SKORING
1. Resiko terjadinya Hipertermi pada Sdr. E pada keluarga Tn. W berhubungan dengan

ketidakmampuan keluarga dalam mnda-tanda mengatasi tanda-tanda DHF.

NO

Kriteria Sifat Masalah
 Aktual

Skor

Bobot

Penghitungan

Justifikasi

3 2 1 2/3 x 1 = 2/3 Sdr. E merasa sakit karena panas

1

 Ancaman

Kesehatan
 Keadaan

1

Sejahtera Kemungkinan masalah dapat diubah 2
 Mudah

Keluarga hanya 2 2 ½x2=1 mampu menuntaskan sebagian

 Sebagian

1
 Tidak dapat

0 Potensi masalah untuk dicegah 3
 Tinggi  Sedang  Rendah

3 2 1

1

1/3 x 1 = 1/3

Masih belum bias mencegah

Menonjolnya masalah
 Masalah berat,

2

harus segera ditangani 4
 Ada masalah,

4 1

2/2 x 1 = 1

Ketidakmampuan dalam menangani

tetapi tidak perlu segera ditangani
 Masalah tidak

dirasakan 0

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada An. L dikeluarga Tn. A dengan

ketidakmampuan keluarga dalam merawat An. L yang mengalami DHF (Dengue Haemorragic Fever).

NO

Kriteria Sifat Masalah
 Aktual

Skor

Bobot

Penghitungan

Justifikasi

3 2 1 2/3 x 1 = 2/3 Sdr. E terasa mual muntah

1

 Ancaman

Kesehatan
 Keadaan

1

Sejahtera Kemungkinan masalah dapat diubah 2
 Mudah

Keluarga menyatakan 2 2 ½x2=1 pemenuhan nutrisi Sdr. E masih kurang

 Sebagian

1
 Tidak dapat

0 Potensi masalah untuk dicegah 3
 Tinggi  Sedang  Rendah

3 2 1

1

1/3 x 1 = 1/3

Masalah belum bias dicegah

Menonjolnya masalah
 Masalah berat,

2

harus segera ditangani 4
 Ada masalah,

1 1

2/2 x 1 = 1

Masalah akan berat jika dibiarkan

tetapi tidak perlu segera ditangani
 Masalah tidak

dirasakan 0

3. Koping keluarga yang tidakefektif yang berhubungan dengan keperawatan dirumah

NO 1

Kriteria Sifat Masalah

Skor 3

Bobot 1

Penghitungan 3/3 x 1 = 1

Justifikasi Sdr. E diam ketika

 Aktual  Ancaman

2 gejala timbul 1

Kesehatan
 Keadaan

Sejahtera Kemungkinan masalah dapat diubah 2
 Mudah

2
 Sebagian

2

2/2 x 1 = 1

Keluarga kurang komunikasi

1
 Tidak dapat

0 Potensi masalah untuk dicegah 3
 Tinggi  Sedang  Rendah

3 2 1

1

2/3 x 1 = 2/3

Keluarga belum bias mencegah itu

Menonjolnya masalah
 Masalah berat,

2 Keluarga merasa 1 1 0/2 x 1 = 0 kurang komunikasi bukan masalah

harus segera ditangani 4
 Ada masalah,

tetapi tidak perlu segera ditangani
 Masalah tidak

dirasakan 0

No 1

Diagnosa masalah

Tujuan Umum Khusus
1. Keluarga

Kriteria evaluasi Kriteria
1. Mengetahui

Standar
1. Lemah, panas

Resiko terjadinya Setelah Hipertermi Sdr. E pada dilakukan pada tindakan 3 hari diharapkan keluarga mengenali tanda- tanda-tanda DHF. dalam mampu

mampu mengenal tanda-tanda DHF

tanda gejala.

dan

atau sakit nyeri hati, pegal

demam kepala, hulu pegalpada

(hipertermi), anoreksia,

keluarga Tn. W selama berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mnda-tanda mengatasi tanda DHF.

seluruh tubuh dankosntipasi (sembelit).

2. Keluarga

1. Mengompres

mampu memutuskan tindakan yang untuk mengatasi hipertermi tepat

sesuai

suhu

tubuh Sdr.E

3. Keluarga

mampu melakukan tindakan keperawatan untuk DHF 2 Perubahan nutrisi Setelah kurang kebutuhan pada dengan ketidakmampuan keluarga merawat yang DHF Fever). An. An. dari dilakukan tubuh tindakan L selama 3 x 1 diharapkan keluarga L memenuhi dalam mampu
1. Keluarga 1. Keluarga 1. Memberikan

mampu mengenal akan kebutuhan nutrisi
2. Keluarga

harus

biasa

asupan vitamin yang cukup.

memberikan asupan nutrisi sesuai kebutuhan tubuh cukup
2. Kebutuhan

dikeluarga Tn. A hari

yang

mampu melakukan tindakan pemunuhan nutrisi tepat
3. Keluarga

mengalami kebutuhan (Dengue nutrisi Sdr.E

nutrisi Sdr.E terpenuhi yang

Haemorragic

mampu mempertahan kan kecukupan nutrisi keluarga

3

Koping yang dengan

keluarga Setelah tidakefektif dilakukan 3 hari diharapkan keluarga mampu membentuk mekanisme koping yang adekuat.

1. Keluarga

1. Keluarga

1. Terjalinya

mampu mengenal masalah dalam keluarga
2. Keluarga

harus mengungkap kan maslahnya (perasaan sakit)
2. Keluarga 2.

komunikasi yang baik

yang berhubungan selama keperawatan dirumah

mampu memutuskan tindakan yang tepat.
3. Keluarga

mampu mengidentifik asi kekuatan dirinya.
3. Keluarga

mampu melakukan tindakan keperawatan mencegah DHF
4. Keluarga

mampu mengidentifik asi koping yang baik
4. Keluarga

mampu mengidentifik asi n dan sumber memanfaatka eksternal.

mampu memelihara lingkungan fisik, dan untuk mempertahan kan drajat kesehatan. spikis, social

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful