P. 1
preskas TB

preskas TB

|Views: 35|Likes:
Published by dida_ryani
laporan kasus
laporan kasus

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: dida_ryani on May 21, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/05/2013

pdf

text

original

PENDAHULUAN

A. Definisi Tuberculosis Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis, yang sering dijumpai pada paru, dan juga dapat dijumpai pada organ di seluruh tubuh antara lain: usus, kelenjar getah bening (kelenjar limfe), tulang, kulit, otak, ginjal dll. B. Etiologi TB Sebagaimana diketahui, tuberkulosis (TB) disebabkan oleh basil TB ( Mycobacterium turberculosis humanis) • M. Tuberculosis termasuk familie mycobacteriaceae spesiesnya adalah M. tuberculosis • M. tuberculosis yang paling berbahaya bagi manusia adalah type humanis (kemungkinan infeksi type bovinus saat ini dapat diabaikan , setelah hygiene peternakan makin ditingkatkan) • Basil TB mempunyai dinding sel lipoid sehingga tahan asam, sifat ini di manfaatkan oleh Robert koch untuk mewarnainya secara khusus, oleh karena itu, kuman ini disebut pula Basil Tahan Asam (BTA) • Karena sebetulnya mycobacterium pada umumnya tahan asam, secara teoritis BTA belum tentu identik dengan basil TB, tapi karena dalam keadaan normal penyakit paru yang disebabkan mycobacterium lain (y.i. M. atipk) jarang sekali ditemukan, dalam praktik BTA dianggap identik dengan basil TB • Kalau untuk bakteri-bakteri lain diperlukan waktu beberapa menit sampai 20 menit untuk mitosis, basil TB memerlukan waktu 12 sampai 24 jam. Hal ini memungkinkan pemberian obat secara intermiten (2-3 hari) • Basil TB sangat rentan terhadap sinar matahari, sehingga dalam beberapa menit saja akan mati, Ternyata kerentanan itu terutama terhadap gelombang cahaya ultraviolet. Basil TB juga rentan terhadap panas-basah, sehingga dalam 2 menit saja basil TB mati bila terkena air bersuhu 100 o C. Basil TB juga akan terbunuh dalam beberapa menit bila terkena alkohol 70%, atau litosol 5%. yang mempunyai berbagai genus, satu diantaranya adalah mycobacterium, yang salah satu

1

fibrotik. Pada penderita dengan daya tahan tubuh yang buruk. setelah melalui barier mukosilier saluran nafas. disebut focus ghon. basil TB akan mencapai alveoli. meningitis. Patofisiologi TB 1. hal ini di sebut dengan epitelberkulosis. • Penyebaran bronkogen ke paru bersangkutan atau paru sebelahnya. Menyebar dengan cepat • Perkontinuitatum ke jaringan sekitarnya Sebagai contoh adalah perbesaran kelenjer limfe di hilus. Sehingga kompleks primer akan mengalami salah satu hal sebagai berikut: 1. ginjal. bronkus yang tersumbat peradangan menuju pada lobus lobus yang yang menimbulkan atelektasis. Banyak basil TB serta kemampuan daya tahan tubuh host akan menentukan perjalanan penyakit selanjutnya. respon imun dapat menghentikan multipikasi kuman.C. perkapuran ) 3. Penderita akan sembuh dengan tidak meninggalkan cacat (restirution ad integrum) 2. Pada kebanyakan kasus. 2 . seperti tuberkulosis milier. penyebaran ke pleura menyebabkan efusi pleura. dan dapat menjadi abses disebut scrofuloderma. • Penyebaran secara hematogen dan limfogen ke organ lain. Melalui kompleks primer basil dapat menyebar melalui pembuluh darah ke seluruh tubuh. respon imun tidak dapat menghentikan multipikasi kuman sehingga akan menjadi sakit pada beberapa bulan kemudian. sebagian kecil menjadi kuman dormant. Respon imun seluler/hipersensitivititipe lambat terjadi 4-6 minggu setelah infeksi primer. Kuman akan menagalami multiplikasi di paru. perbesaran kelenjer limfe di leher. sehingga menyebabkan atelektasis. focus ghon dan limfadenopati membentuk kompleks primer. kuman akan menjalar sepanjang atelektasis. genitalia. atau tertelan bersama dahak sehingga terjadi penyebaran di usus. ke tulang. Sembuh dengan meninggalkan bekas (seperti sarang ghon. TB Primer Infeksi primer terjadi setelah seseorang menginhalasi mikobakterium tuberkulosis. Melalui aliran limfe basil mencapai kelenjer limfe hilus. sehingga menyebabkan penekanan di bronkus lobus medius.

akhirnya mengecil. Sarang dapat aktif kembali membentuk jarinagn keju dan biar di batukkan menimbulkan caviti. Diresorbsi dan sembuh tidak meninggalkan cacat 2. umumnya pada usia dewasa. Dapat terjadi karena reaktifasi dan reinfeksi. Reinfeksi artinya adanya infeksi ulang pada seseorang yang sebelumya mengalami infeksi primer. caviti awalnya berdinding tipis kemudian menjadi tebal (caviti sklerotik).2. c. Tuberkulosis Sekunder (Tuberkulosis post primer) Terjadi setelah periode laten (beberapa bulan /tahun) setelah infeksi primer. Sarang ini dapat mengalami salah satu keadaan sbb : 1. tetapi segera mengalami penyembuhan berupa jaringan fibrosis dan perkapuran. hal ini dapat terjadi karena daya tahan tubuh lemah. Tuberkuloma dapat mengapur dan sembuh. hapusan dahak BTA positif pada lobus atas. Meluas dan menimbulkan sarang pneumonik baru b. menglami multiplikasi. atau menyembuh dengan membungkus diri. tapi dapat pula terjadi di tempat lain di seluruh tubuh. awalnya berbentuk sarang pneomonik kecil. Sarang meluas. 3. bila dibatukkan akan menimbulkan caviti. Cavity dapat menciut dan tampak sebagai bintang (stellate shape) 3 . Caviti akan mengalami: a. membentuk jaringan keju. tapi dapat aktif kembali dan mencair menimbulkan caviti kembali. umumnya tidak terdapat limfadenopati intratorak. TB post primer umumnya menyerang paru. Menyembuh disebut open healed cavity. Memadat dan membungkus diri disebut tuberkuloma. Sarang pneumonik meluas. Tuberkulosis post primer dimulai dari sarang dini yang umumnya pada segment apical lobus superior atau lobus inferior. Karakteristik TB post primer adalah adanya kerusakan paru yang luas dengan cavitas. reaktifasi terjadi akibat kuman dorman yang berada pada jaringan selama beberapa bulan /tahun setelah infeksi primer.

Tetapi kadang-kadang panas badan dapat mencapai 40-41 oC. meriang. nyeri otot. E. Malaise. Kebanyakan batuk darah pada tuberkulosis terjadi pada cavitas. Management TB ( Non Farmakologi . Dapat ditemukan juga rasa sakit kepala. Serangan demam pertama dapat sembuh sebentar. Karena terlibatnya bronkus pada setiap penyakit tidak sama. gejala malaise sering ditemukan berupa anoreksia tidak nafsu makan sehingga badan menjadi kurus. Demam. Biasanya surfebril menyerupai demam influenza. Terjadi gesekan kedua pleura sewaktu pasien menarik/melepaskan napasnya. Nyeri Dada. Batuk ini diperlukan untuk membuang produk-produk radang keluar. Sesak Nafas. dll. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh pasien dan berat ringannya infeksi kuman tuberkulosis yang masuk. Gejala ini agak jarang ditemukan. Sesak akan akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut. Gejala ini banyak ditemukan. Farmakologi dan Program DOT) Tujuan pengobatan : Menyembuhkan penderita Mencegah kematian Mencegah kekambuhan Menurunkan tingkat penularan Mencegah resistensi 4 . tetapi kemudian dapat timbul kembali. Gejala malaise ini makin lama makin berat dan terjadi hilang timbul secara tidak teratur. Sifat batuk dimulai dari batuk kering (non-produktif) kemudian setelah timbul peradangan menjadi produktif (menghasilkan sputum) keadaan lanjut dapat berupa batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah. Nyeri dada muncul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritas. Batuk/Batuk Darah. tetapi dapat juga terjadi pada ulkus dinding bronkus. Begitulah seterusnya hilang timbulnya demam influenza ini. yang infiltrasinya sudah meliputi setengah bagian paru-paru. Penyakit TB bersifat radang yang menahun. Manifestasi TB pada tubuh manusia. keringat malam.D. sehingga pasien merasa tidak pernah terbebas dari serangan demam influenza. Pada penyakit yang ringan atau baru tumbuh belum dirasakan sesak nafas. Batuk terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. mungkin saja batuk baru ada setelah penyakit berkembang dalam jaringan paru yakni setelah berminggu-minggu atau berbulan-bulan peradangan bermula.

Maka Pengobatan TB dilakukan melalui 2 fase yaitu : a. dan streptomisin (S) yang bersifat bakterisid dan ethambutol (E) yang bersifat bakteriostatik. tetapi itu harus berbarengan dengan terapi farmakologi yang adekuat. melalui kegiatan sterilisasi kuman pada pengobatan jangka pendek atau kegiatan bakteriostatik pada pengobatan konvensional. Penilaian keberhasilan pengobatan didasarkan pada hasil pemeriksaan bakteriologi . pirazinamid (Z). Non Farmakologi Segala Bentuk Penanggulangan TB di luar pemberian obat disebut management non farmakologi . dengan kegiatan bakterisid ntuk memusnahkan populasi kuman yang membelah cepat b. Fase lanjutan . OAT yang biasadigunakan antara lain isoniazid (INH).Berhanti Merokok . Fase awal intensif . Non Farmakologi yaitu seperti : . rifampisin (R).Menjaga Sanitasi  Farmakologi Obat Anti TB (OAT ) OAT harus diberikan dalam kombinasi sedikitnya dua obat yang bersifat bakterisid dengan atau tanpa obat ketiga. dengan kegiatan sterilisasi daya tahan imunologis. radiologi 5 .Istirahat . Tujuan pemberian OAT . antara lain: Membuat konversi sputum BTA positif menjadi negative secepat Mencegah kekambuhan dalam tahun pertama setelah pengobatan Menghilangkan atau mengurangi gejala dan lesi melalui perbaikan mungkin melalui kegiatan bakterisid.

Kesembuhan TB paru yang baik akan memperlihatkan sputum BTA (-) adanya perbaikan radiologi . Dukungan politik para pimpinan wilayah di setiap jenjang sehingga program ini menjadi salah satu prioritas dan pendanaan pun akan tersedia 2.. Panduan OAT di Indonesia menurut WHO dan IUATLD (International Union Against Tuberculosis and Lung Disease) PASIEN TB DEWASA KATEGORI I III Pasien baru BTA (+) BTA (-) Rö (+) yg sakit berat TB ekstra paru berat Pasien kambuh (relaps) Pasien gagal (failure) Pasien dg pengobatan stlh lalai (after default) Pasien baru BTA (-) & Rö (+) yg sakit ringan TB ekstra paru ringan (TB limfe. Pengawas Minum Obat (PMO) yaitu orang yang dikenal dan dipercaya baik oleh pasien maupun petugas kesehatan yang akan ikut mengawasi pasien minum seluruh obatnya sehingga dapat dipastikan bahwa pasien 6 . sendi) 2HRZE / 4HR 2HRZE / 4H3R3 2HRZE / 6HE 2HRZES / HRZE / 5HRE 2HRZES / HRZE / 5H3R3E3 2HRZ / 4HR 2HRZ / 4H3R3 2HRZ / 6HE REGIMEN II  Program DOTS Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) adalah nama untuk suatu stratei yang dilaksanakan di pelayanan kesehatan dasar di dunia untuk mendeteksi dan menyembuhkan pasien TB.dan klinis. TB kulit. dan menghilangnya gejala. Strategi ini ada 5 komponen . yaitu : 1. Mikroskop sebagai komponen utama untuk mendiagnosa TB melalui pemeriksaan sputum langsung pasien tersangka dengan penemuan secara pasif 3.

tidak mengherankan bila ada basil yang tersangkut di laring dan menimbulkan proses TB di tempat tersebut. F. sangat penting untuk keberhasilan pengobatan. Paduan yang berlaku di Indonesia sesuai dengan anjuran WHO terdapt dalam table. Pencatatan dan pelaporan dengan baik dan benar sebagai bagian dari system surveilans penyakit ini sehingga pemantauan pasien dapat berjalan. Hal ini akan tampak jelas pada foto paru berupa infiltrat-infiltrat yang baru mengikuti jalannya bronkus(penyebaran bronkogen) Penyebaran hematogen terjadi bilamana proses nekrosisi mengenai pembuluh darah. 4. Penyembuhannya tidak bebeda dengan TB paru 4. 5. kalau diantara jaringan yang mengalami nekrosis terdapat pembuluh darah. Penyebaran perkontinuitatum/bronkogen/hematogen Proses nekrosis dapat meluas secara kontinuitatum ke sekitarnya secara langsung bahkan dapat menembus pleura interlobaris dan menyerang lobus yang berdampingan. Termasuk terjaminnya kelangsungan persediaan paduan obat ini. Komplikasi TB paru 1. Batuk darah Karena pada dasarnya proses Tb adalah proses nekrosis. Dapat pula proses ini menembus dinding bronkus. 3. besar kemungkinan penderita mengalami batuk darah yang dapat bervarisi dari jarang sekali sampai sering atau hampir setiap hari 2. Paduan obat anti TB jangka pendek yang benar . sehingga bahan nekrosis yang penuh basil TB akan tersebar melalui bronkus tersebut. Pleuritis eksudatif 7 . TB Laring Karena tiap kali dahak yang mengandung basil TB dikeluarkan melalui laring. termasuk dosis dan jangka waktu yang tepat .betul minum obatnya dan diharapkan sembuh pada akhir masa pengobatannya.

7. 5. Sehingga pleura pun ikut robek. sehingga akan terjadi hipertropi. Kalau infeksi sekunder mengalami cairan eksudat pada pleuritis eksudatif terjadilah empiema atau disebut pula 8 . maka terjadilah pleuritis eksudatif. resisten perifer dalam paru akan makin meningkat. jika hal ini berlanjut akan terjadi dilatasi ventrikel kanan. Sebab lain pneumotorak ialah pecahnya dinding kavitas yang kebetulan berdekatan dengan pleura. 6. Kelainan jantung karena kelainan paru ini disebul cor pulmonale. sehingga pleura ikut mengalami nekrosis dan bocor. empiema/piothoraks. Pneumothoraks Terjadi jika proses nekrosis itu dekat sekali dengan pleura.Bila terdapat proses TB di bagian paru yang dekat sekali dengan pleura. Hidropneumothoraks. Abses paru Infeksi sekunder dapat juga mengenai jaringan nekrosis itu langsung sehingga akan terjadi abses paru 8. dan berakhir denagn payah jantung kanan. Ini akan menjadi beban pada paru kanan. pleura akan meradang dan menghasilkan cairan eksudat. dan pioneumothoraks Kalau pleuritis eksudatif dan pneumotorak terjadi bersama-sama maka di sebut hidropneumotorak dan bila cairannya mengalami infeksi sekunder terjadilah pioneumotorak. Cor pulmonale Makin parah destruksi paru dan makin luas fibrotic di paru. piotorak.

Setelah tsunami pasien tidak mengkonsumsi obat lagi. Setelah itu pasien datang ke rumah sakit. hasilnya pasien BTA positif.pasien ke RS tanggal 7 nya dan diberikan obat dari rumah sakit. Bulan agustus 2008. Pada gejala awal pasien juga mengalami haemaptosis sebanyak dua kali. Umur pasien yang telah melebihi 40 tahun dimana secara klinis imunitas tubuh pasien tidak optimal lagi. Hal 9 . serta nyeri sendi. mempunyai efek samping terhadap pasien yaitu muntah. Obat yang diberikan rumah sakit dapat mengurangi gejala pasien. setelah di periksa sputum. beliau mengkonsumsi Isoniazid dan Rifampisin secara terpisah dan teratur sampai tsunami. pasien berhenti berobat.Laporan Hasil Kunjungan dan Kesesuaian dengan Teori Riwayat Penyakit : Pasien mengalami batuk 4 tahun yang lalu sebelum tsunami. Faktor-Faktor Resiko Penyakit TB yang Ada pada Pasien : 1. Pasien biasa mengendarai sepeda motor ke tempat kerja yang jaraknya kira-kira sejauh perjalanan selama 30 menit. gatal-gatal. 3. mencret. 4. Asap rokok di lingkungan kerja dan lingkungan masyarakat. Namun saat tsunami obat tersebut tidak ada. Riwayat Pengobatan : Pasien setelah didiagnosis penyakit TB. Respon terhadap obat : 1. 2. Hal ini dilihat dari perbandingan berat badan dan tinggi badan. Pekerjaan penyuluh lapangan Dinas Perikanan. pasien kambuh lagi. Status gizi dnyatakan kurang dari angka normalnya. Pada saat itu pasien hanya mengkonsumsi obat yang dibeli di apotek tanpa resep dokter.obatnya yaitu Rifampicin 150 mg / isoniazid 75mg / pyrazinamide 400 mg / ethambutol hydrochloride 275 mg tablet USP (1 x1 pagi sebelum makan). Rifampicin dan INH ( tablet terpisah ) membuat keluhan menjadi berkurang Obat satu tablet yang kandungan didalamnya terdiri dari rifampicin. pyrazinamide. dan Ethambutol hydrochloride. 5. Dua bulan yang lalu pasien berobat ke RSUZA. Adanya paparan polusi. keadaan pasien semakin buruk disertai dengan keringat dingin pada malam hari dan seminggu kemudian pasien mengalami demam. Batuknya tidak kunjung sembuh. isoniazid. 2.

Cahaya matahari dapat masuk ke dalam rumah.  Konstruksi Rumah  Ventilasi kurang efisien jika dibandingkan dengan luas jendela dan luas rumah. Seharusnya untuk rumah tipe 36 ukuran untuk satu jendelanya 60x80cm dan ventilasi 60x40 dengan jumlah jendela di ruang tamu 2 di depan dan 2 di samping serta jumlah jendela di kamar 2 buah untuk satu kamar.Seharusnya sampah dikumpul dan dibuang di tempat sampah.  Asap Asap dapur tidak ada karena pasien dan keluarga memasak dengan menggunakan kompor gas.  Jumlah dan luas jendala memadai. pasien tidak bertemu langsung dengan dokter Dokter tidak memberikan penjelasan efek samping obat tetapi hanya dengan perawat.  Anggota Keluarga yang Merokok Tidak ada anggota keluarga yang merokok pasien 10 .  Kelembaban normal. tanggal 13 oktober 2008.  Pencahayaan cukup.tersebut membuat pasien menghentikan minum obat tersebut sejak hari senin. Hal ini terlihat pada lantai yang terbuat dari semen dan plafon dari triplek. Saat kunjungan ke RSUZA. rumah sempit Lingkungan Sekitar  Pengelolahan sampah Sampah yang ada di dalam rumah di kumpulkan di suatu tempat. selanjutnya dibakar bersamaan dengan sampah kering yang ada di luar rumah. Kepadatan Isi Rumah  Dibandingkan jumlah penghuni yang terdiri dari 5 orang. Masalah-Masalah Lain yang Ada pada Pasien :   Pelayanan di rumah sakit RSUZA kurang memuaskan.

Personal Hygine  Kebiasaan mandi dan sikat gigi  Pasien selalu menggunakan sabun dan gosok gigi pada saat mandi  Kebiasaan cuci tangan dengan sabun  Pasien selalu cuci tangan dengan sabun  Sebelum makan. 11 . Tetapi selama wawancara. air sumurnya jernih). pasien mengeluarkan dahak. menyuci pakaian menggunakan air sumur ( setelah di observasi. pasien selalu cuci tangan  Kebiasaan batuk  Pada saat batuk.  Memasak menggunakan kompor gas. pasien tidak ada batuk  Kebiasaan masak dan mencuci tangan  Setiap memasak. Tetapi. keluarga pasien selalu mencuci bahan makanan.

Evaluasi I. 4. 2. 12 . kami bisa mengambil hikmah dalam peristiwa itu. Kami dapat berkomunikasi langsung dengan pasien yang sedang memiliki keluhan. agar bisa memudahkan ketika bertemu dengan pasien. Diharapkan agar puskesmas dan rumah sakit bisa menanyakan alamat pasien dengan lengkap ketika pasien pertama kali datang ke pusat pelayanan untuk memeriksakan diri (pada saat anamnesis). bahwa semua yang kami alami untuk kebaikan kami juga. Kedisiplinan dokter puskesmas dan perawat rumah sakit yang kurang membuat kami lama menunggu. 3. Kekompakan tim dalam mengumpulkan data sangat membantu terciptanya laporan ini. Hal-hal positif dan menyenangkan yang didapat selama kunjungan : 1. InsyaAllah tidak ada satu peristiwapun yang terlewatkan dari laporan ini. Hal-hal negatif selama kunjungan : 1. II. 3. dan bukan tidak mungkin hal yang sama juga terjadi ketika kami telah terjun ke masyarakat saat menjadi dokter. 5. Akhir kata. Alamat pasien yang tidak lengkap membuat kami susah menemukan rumah pasien. Walaupun alamat pasien sangat susah dicari karena alamat pasien yang tidak lengkap. 2. kami harus menemui tiga kepala desa untuk menanyakan alamat pasien. Sikap ramah dari pasien dan keluarga membawa kami dalam suasana pemeriksaan yang sesungguhnya. kami mohon maaf kepada pembaca atas kesalahan ataupun kekhilafan yang terdapat dalam laporan ini.

Ilmu Penyakit Dalam jilid II. Jakarta: Hippokrates 13 .M. Halim. Wilson.A. (1995).2007. Danusantoso. L.REFERENSI 1.. S. Dr. Perhimpunan Dokter Spesialis Ilmu Penyakit Dalam Indonesia. Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya 4. 2004.Ilmu Penyakit Paru. Jakarta 2. Price. Bagian Ilmu Penyakit Paru FK UNAIR-RSU Dr SOETOMO SURABAYA. Konsep-Konsep Klinis Penyakit. Jakarta: EGC 3. 2000. Patofisiologi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->