LOW BACK PAIN BAB I PENDAHULUAN Delapan puluh persen manusia dimuka bumi pernah merasakan nyeri punggung

bawah (low back pain). Nyeri tersebut dapat mengganggu aktifitas dan produktifitas kerja sehari-hari dan meningkatkan pengeluaran biaya untuk kesehatan. Menurut klasifikasi Macnab penyebab dari low back pain ada lima yaitu viserogenik, vaskulogenik, neurogenik, spondilogenik, psikogenik.1 Mekanisme nyeri punggung bawah akibat viscerogenik adalah adanya lesi pada traktus genitourinarius dan organ-organ pelvis intra peritoneal maupun retro peritoneal yang mengiritasi peritoneum posterior. Nyeri ini tidak dipengaruhi oleh aktifitas dan tidak berkurang dengan istirahat. Abnormalitas dari aorta descendens dan arteri iliaka seperti sumbatan vaskuler maupun aneurisma merupakan penyebab nyeri punggung bawah akibat vaskulogenik. Infeksi maupun neoplasma pada medula spinalis atau kauda equina dapat menyebabkan herniasi discus sehingga terjadi nyeri punggung bawah. Sebagian besar nyeri punggung bawah disebabkan kelainan pada komponen tulang belakang (lesi osseus) maupun struktur sekitarnya (lesi jaringan lunak). Lesi osseus dapat berupa trauma, infeksi, inflamasi non spesifik, neoplasma, kelainan tulang bawaan, kelainan metabolisme tulang, deformitas tulang. Lesi jaringan lunak dapat berupa lesi miofasial, lesi diskus intravertebral, penyakit degenerasi sendi. Nyeri punggung bawah dapat juga merupakan manifestasi penyakit-penyakit psikosomatik. Terdapat beberapa macam tes yang dilakukan dalam mendiagnosis nyeri punggung bawah sekaligus menentukan terapi yang tepat, seperti pemeriksaan radiologis, EMG, dan CAT Scan.2

1

1 A. yang satu melibatkan sendi discus intervertebralis (penyakit discus degeneratif). kecelakaan sepeda motor. Sudah diperkirakan bahwa 80% orang dewasa. nyeri punggung merupakan penyebab nomor satu ketidakmampuan yang berlangsung lebih dari 2 (dua) minggu dan pada dewasa tua merupakan penyebab nomor dua setelah arthritis dan disertai rheumatism nonarticular. Etiologi Ada banyak penyebab nyeri punggung bawah akut dan kronis. Faktor mekanik : kelemahan otot-otot trunk akibat latihan fisik yang tidak adekuat. Kondisi terakhir dapat dibandingkan dengan penyakit sinovial sendi degeneratif pada kaki yang akan dijelaskan pada bagian ini. Trauma spesifik : jatuh. Adanya nyeri punggung bawah adalah yang terbanyak dari semua gejala muskuloskeletal.BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. dan penyakit yang sudah ada pada tulang belakang. 3. PENYAKIT SENDI DEGENERATIF PADA VERTEBRA LUMBALIS Penyakit degeneratif pada vertebra lumbalis meliputi 2 (dua) kondisi yang saling terkait. sedikitnya sekali dalam hidupnya. pada para pekerja dewasa muda. dan kebiasan kerja yang jelek. dan yang lain. mengangkat objek berat dari lantai tanpa menekuk lutut. 2. obesitas. osteoarthritis). Spondilolisthesis 2 . mengalami satu atau lebih episode nyeri punggung berat yang dapat menghentikan mereka dari pekerjaan sementara. diantaranya : 1. deformitas. Tentu saja. sendi facet posterior (penyakit sendi degeneratif. postur tubuh yang jelek. Faktor kimiawi : penyelidikan epidemiologis memperlihatkan bahwa insiden nyeri punggung bawah akut dan kronis lebih besar 3 kali pada perokok daripada nonperokok. 4. trauma saat olahraga. Kedua penyakit discus degeneratif dan penyakit sendi degeneratif menggambarkan sebuah proses penuaan yang melebihi normal dan dapat diperparah oleh trauma.

hal ini patut dipertimbangkan abnormal jika berkembang menjadi sebuah tingkat yang lebih lanjut dan muncul lebih dini pada orang yang masih muda. hiperekstensi segmental. Karena itulah.5. annulus fibrosus kehilangan elastisitasnya secara bertahap. primer atau sekunder. 1. Kelemahan yang lain adalah tipisnya lempeng kartilago dimana material nuclear menonjol ke tulang kanselus di bawahnya pada corpus vertebra dan karena itu disebut Schmorl’s node. bahkan robek. dan herniasi discus intervertebralis. Schmorl’s node sering ditemukan secara 3 . Degenerasi Discus Degenerasi awal pada columna vertebralis manusia tampak pada nucleus pulposus. Dengan makin bertambahnya usia. Serabut-serabut posterior menjadi lebih mudah terpisah. Seperti pada nucleus pulposus yang kehilangan cairan. 6. dan ini merupakan salah satu kelemahan annulus selama nucleus pulposus mengalami protusi atau herniasi. yang mengakibatkan penurunan turgor dan gaya pegas seperti penurunan ketinggian. penyempitan segmental. yang paling baik adalah mempertimbangkan hal-hal seperti degenerasi discus. khususnya bagian belakang dimana cenderung tipis. Bermula pada masa dewasa awal dan makin progresif secara lambat. instabilitas segmental. lalu menjadi seperti gumpalan karena substansi dasar gelatinosa kehilangan tekstur homogenitasnya. spondiloarthritis. Neoplasma : jinak maupun ganas. Infeksi : hematogenous osteomyelitis pada tulang belakang. degenerasi ini ditandai dengan pengurangan kondroitin sulfat dan air yang terkandung di dalamnya secara bertahap. Walaupun semua perubahan degeneratif ini dapat dipertimbangkan dalam batas normal pada individu berusia lebih dari 60 tahun. 1 B. Patologi dan Patogenesis Hubungan antara proses degeneratif pada penyakit discus intervertebralis dan penyakit sendi facet posterior di vertebra lumbalis. atau penebalan discus intervertebralis.

tetapi juga berlebihan. Instabilitas segmental menjadi lebih mudah mengalami trauma dimana nantinya dapat mengakibatkan sprain atau bahkan subluksasi sendi facet posterior. sendi facet posterior teregang terus-menerus dan dapat menyebabkan subluksasi pada bagian posterior. eburnasi tulang subkondral. Penyempitan Segmental Penyempitan facet posterior.radiografis tetapi memiliki signifikansi klinis kecil. memicu terjadinya hiperekstensi persisten vertebra lumbalis melalui sendi intervertebralis. Pada tingkat instabilitas segmental ini. pengenduran otot-otot abdominal dan obesitas. Akibatnya. Seperti malalignment menyebabkan penyakit degeneratif sendi (osteoarthritis) pada sinovial sendi. dengan dimana peningkatan usia mengacu tidak hanya pada perubahan degeneratif sendi penonjolan annulus menyebabkan osteofit-osteofit ukuran besar yang berkembang dari margin tulang yang bergandengan pada corpus vertebra (spondilosis. osteofitosis 4 . gerakan lambat pada setiap bagian melibatkan bagian vertebra yang hilang dan digantikan oleh gerakan yang tidak hanya tidak seimbang. Bagaimanapun juga. dan nyeri. Instabilitas Segmental Sebagai akibat dari perubahan degeneratif pada sendi discus intervertebralis. Hal tersebut muncul lebih awal pada individu muda dimana nucleus pulposus masih memperlihatkan turgor yang perlu dipertimbangkan. dengan kontras. sangat signifikan secara klinis. 4. Hiperekstensi Segmental Normal ekstensi pada vertebra lumbalis dibatasi oleh serabu-serabut anterior annulus fibrosus seperti halnya pada otot-otot abdominal. progresif tetapi juga pada discus intervertebralis fibrosus. batas sendi berefek dengan membentuk penonjolan-penonjolan traksi kecil (traction spurs) dari osteofit. 2. Protrusi annulus dan nucleus pulposus ke dalam canalis spinalis. Perpaduan perubahan degeneratif annulus fibrosus. 3. ini jarang pada orang berusia lebih dari 50 tahun. pembentukan osteofit. dengan pengurangan kartilago artikular.

ketika sedikit perubahan radiografis. agaknya. Pada kondisi ini. khususnya pria. karena itu. tidak memiliki saraf. Hal ini menjelaskan tingginya insidensi nyeri punggung belakang pada masa dewasa muda dan dewasa pertengahan lebih dini. Sebuah herniasi luas di daerah tengah vertebra lumbal mendesak cauda equina. ketika perubahan radiografis yang maksimal. Nucleus pulposus.spinal). lumbal 4-5. Manifestasi klinis iritasi serabut saraf tersebut dinamakan sciatica. nucleus meregangkan annulus fibrosus yang sensitif dan menyebabkan nyeri. herniasi cenderung menjadi posterolateral. demikianlah sebuah herniasi discus lumbal 4-5 mempengaruhi serabut saraf lumbal ke-5. dan rendahnya insidensi nyeri punggung belakang pada masa tua. dimana herniasi discus lumbal 5 – sakral 1 mempengaruhi serabut saraf sakral pertama. 5. sebelah distal discus. Kemudian. ruptur) discus intervertebralis tidak sinonim dengan degenerasi discus. penyempitan sendi intervertebralis kehilangan gerakannya. tetapi dari sinilah permulaan terjadinya herniasi posterior. Karena ligamentum longitudinalis posterior melindungi annulus di bagian tengah. Herniasi Discus Intervertebralis Herniasi (prolaps. dan paling banyak mengenai daerah lumbal 3-4. sendi menjadi relatif kaku. 5 . Herniasi posterolateral dapat mendesak maupun meregangkan serabut saraf yang meninggalkan foramen intervertebralis. tidak sensitif. Herniasi discus paling sering terjadi pada individu relatif muda. protusi. Orang awam menyebutnya sebagai lempeng yang masuk ke dalam (slipped disc). hal ini menimbulkan sedikit rasa nyeri. peregangan dan serabut annulus yang mengalami degenerasi. terpisah dan menjadi herniasi nucleus. ekstrusi. Beberapa osteofit dapat diketahui secara radiografis pada 90% individu tua berusia lebih dari 60 tahun. nyeri yang menyebar ke bawah di extremitas bawah dalam distribusi saraf sciatic. lumbal 5sakral 1. merupakan kejadian spesifik yang muncul sebagai komplikasi degenerasi discus.

penyempitan segmental. bahkan. setiap pasien yang mengeluhkan nyeri punggung bawah. Tanpa makna. pemeriksaan fisik. Pada kasus ini juga. dimana reaksi tersebut dapat merupakan respon autoimun alamiah. sedangkan ketika terjadi stenosis lateral. dan melalui cara tersebut mengurangi tekanan pada serabut saraf. beberapa minggu setelah kejadian. Ketika terjadi stenosis yang sentral. Kadang-kadang.Bagian nucleus pulposus yang mengalami herniasi menjadi dehidrasi dan kuat. bagian nucleus yang mengalami herniasi mengalami fibrosis. Sebelumnya avaskuler. bahwa semua nyeri punggung bawah disebabkan oleh penyakit degenerasi sendi atau oleh penyakit degenerasi discus . menyusut. bagian yang mengalami herniasi menjadi terpisah. ini berbahaya bagi serabut saraf dan suplai pembuluh darahnya yang ikut terkompresi. 6. pemeriksaan dengan alat diagnostic imaging dan pemeriksaan laboratorium. Bahkan. 1 II. DIFFERENTIAL DIAGNOSIS LBP (Low Back Pain) Nyeri pada bagian bawah punggung dialami beberapa waktu oleh setiap orang dewasa dan bahkan merupakan gejala tersering terkait dengan sistem muskuloskeletal. itu bahkan menjadi tervaskularisasi. dan dapat berpindah tempat ke proximal atau distal. Karena itulah. subluksasi sendi facet posterior atau bahkan sekunder terhadap fusi spinal). Stenosis Spinal Penyempitan tulang dari canalis spinalis baik sentral ataupun ke bagian lateral (termasuk foramina intervertebralis) mengacu pada stenosis spinal. dengan mengesampingkan herniasi discus. atau sekuester. kumpulan sinonimnya bony nerve root entrapment syndromes sering digunakan. dengan atau tanpa sciatica. cauda equina terkompresi. bagaimanapun juga. mempertimbangkan assessment yang baik dan hati-hati atas dasar riwayat penyakit. Stenosis spinal dapat kongenital (seperti yang terlihat pada achondroplastic dwarfism) atau bisa juga bawaan (seperti yang terlihat pada degenerasi discus sekunder atau lebih lanjut. 6 .

punggung dan kaki. cekukan. Fisioterapi.A. Spinal Causes 1. Bila terjadi pada L5-S akan terganggu saraf S. baru ditujukan terapi pembedahan. Traksi lumbal Blok saraf Korset Operasi : laminectomy 2. satu adalah nonoperatif yang lain operatif. Kemudian rasa nyeri yang hebat mengalir ke dada belakang. Bila terjadi pada L4-L5 akan terganggu saraf L5 pada telapak dan ibu jari kaki. massage menambah rasa nyerinya. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Istirahat ditempat tidur selama satu minggu dibaringkan dulu untuk observasi. bila batuk. Terapi Terapi ada dua cara. terjadi kelainan sensorik. memerlukan pemakaian narkotika dan pentazocaine. Biasanya Hernia Nucleus Pulposus banyak terjadi pada daerah L4-L5 atau L5-S1. atau posisi badan membungkuk ke depan. rasa nyeri bertambah. Gejala Pada terjadinya Hernia Nucleus Pulposus. Biasanya pada tahap pertama adalah secara nonoperatif. nyeri hebat. Ischiadicus 7 . yang sering dipakai adalah antipiretik analgesik. rasa nyeri terus menerus. Ischias adalah semacam neuralgia. sipenderita mengeluh seperti ada sesuatu yang patah dibagian belakang. Ischias (Sciatica) a. reflek Achilles melemah atau menghilang. Kecuali bila gangguan motorik atau sensorik dan rasa nyeri yang luar biasa. tiga macam kausanya : 1) Trauma atau tekanan terhadap N. b. Analgesik. menguap. Hernia Nucleus Pulposus (Disc Hernia) a. berdiri lama. bila berbaring rasa nyeri berkurang. lateral kaki merasakan kelainan sensorik.

cekukan atau mengedan menyebabkan rasa nyeri bertambah. M. L5. Ischiadicus adalah saraf yang terpanjang ditubuh. Gluteus maximus. Pada kaki sering disertai kesemutan dan reflek (Knee jerk/L2-L4. menguasai kulit. spondylitis. vitamin B1 defisiensi radang karena virus atau lues yang merangsang N. spondylolisthesis. tumor sacrum. otot dan sendi-sendi sekitarnya.N. Ischiadicus. metabolik. fascia lata). gangguan metabolik seperti penyakit diabetes mellitus. S3 berjalan diantara trochanter mayor femur dan tuber Ischiadicus. piriformis. b. dan lain-lain yang langsung menekan atau merangsang N. Achilles jerk/L5) biasanya menurun. menguap. Gluteus maximus dan kaki. sedang pada paha dan kaki tajam. S1. M. fibrositis. 2) Neuritis (keracunan. sebagai reffered pain. Gejala Lain penyebab berlainan sifat rasa nyerinya. Biasanya rasa nyerinya pada punggung lemah. ada yang rasa nyeri tajam. psoas mayor. kejang otot (M. berisi serabut spinalis dari L4. laseque positif. Penyakit disekitar anus sering menimbulkan ischias. Batuk. ada juga karena gangguan sirkulasi. c. dicurigai neuritis. Ischiadicus. Kemudian menuju ke M. Biasanya 90% dari ischias adalah akibat tekanan. lumbosacral spondilitis pun menimbulkan ischias. seperti Hernia Nucleus Pulposus (HNP). tumor yang metastasis ke sumsum tulang. keracunan timah. ada yang rasa nyeri tumpul. Sebaliknya bila berbaring rasa nyeri berkurang. 3) Reffered pain dari penyakit lain. coxitis. Terapi Yang utama adalah mencari penyebabnya dan obatilah penyebab tersebut : 1) Bed rest Berbaring ditempat tidur 2) Korset Memakai korset supaya gerakan terbatas 3) Pemakaian analgesik Cara : 8 . S2. radang) alcoholism.

Myofascial LBP (Low Back Sprain.3 Penyebab dari otot-otot. Kausa lumbago bermacam-macam. sendi-sendi. lumbo sacral stravia. Ischiadicus 4. fascia seperti kejang otot. Pasien seringkali mengalami kesulitan untuk berdiri tegak dan berulang kali 9 . Gejala yang sering terjadi akibat menarik atau mengangkat benda berat. Lumbago Penyebab : Rasa nyeri secara spontan. Robekan pada annulus fibrosis dari discus intervertebralis menimbulkan nyeri episodik.ischias. hernia nucleus pulposus. Lumbal epidural blok Infiltrasi anestesi local Blok N. radang fascia. dianggap semacam sindroma. Definisi : Nyeri pada punggung bawah yang bersifat episodik dan kerusakan fungsi akan terjadi dalam beberapa hari. b. Neurogenik. Terdapat struktur multipel tulang belakang yang diperkirakan sebagai penyebab nyeri. neuritis. Gejala Klinis : Pasien merasakan nyeri punggung bawah yang menjalar ke bokong. Irgapyrin) b) Antipiretik analgesik + Codein c) Pentazocine 4) Fisioterapi 5) Blok saraf : a) b) c) 3.a) Antipiretik analgesik (Aspirin. gerakan atau tekanan pada punggung yang menjalar sampai kedua kaki. dinamakan “lumbago”. Lumbar Sprain) a. Penyebab dari tulang. myositis. spondylitis. potties disease (caries). spondylolithesis. biasanya kausa seperti tersebut dibawah : a. tumor ganas yang bermetastasis kedalam tulang belakang. c. b. spondylosis.

Apabila rasa nyeri telah hilang. Pemeriksaan ROM (Range of Movement) dapat menimbulkan nyeri. Tetapi refleks dan kekuatan motorik tidak ada kelainan.5 B. Komplikasi Penyakit : Kerusakan yang pertama terjadi adalah hilangnya fungsi normal. Pengobatan : Terapi difokuskan pada penyembuhan gejala klinis. hipersensitif di seluruh terhadap sentuhan. seperti kelainan kelamin. diberikan obat AINS (AntiInflamasi NonSteroid) atau analgetik nonnarkotik. dan juga duduk dalam waktu yang lama. disarankan untuk melakukan latihan aerobik dan peregangan. Delapan puluh lima persen (85%) pasien akan mengalami perbaikan dalam waktu sebulan. Hindari pemberian obat analgetik narkotik dan sedatif. Reffered Pain Penyakit alat dalam sacrum. Dalam periode singkat (12 hari) disarankan untuk istirahat. mengoperasikan peralatan-peralatan yang bergetar.melakukan perubahan posisi untuk mencapai kenyamanan. Non-Spinal Causes 1. Selain itu obat pelemas otot dapat diberikan dalam waktu 1-2 minggu pertama. Pemeriksaan Fisik : Pemeriksaan pada daerah punggung bawah dan sacroiliaca menunjukkan adanya pengenduran pada perabaan. Hal ini akan sangat berpengaruh pada dewasa muda dalam masa produktif. saluran kencing atau penyakit alat dalam perut. c. Apabila terdapat penonjolan discus intervertebralis ke arah garis tengah maka pasien akan merasakan ketidaknyamanan bilateral ringan apabila tungkai diluruskan kemudian diangkat dan pasien juga mengalami kesulitan untuk berdiri tegak. Faktor risikonya ntara lain mengangkat dan menarik benda berat. e. Karena kondisi ini paling sering menyerang dewasa muda dan juga episode nyeri kebanyakan terjadi pada dewasa muda maka pada pasien tersebut menimbulkan gejala organik seperti respon yang berlebihan. sistem pencernaan sering menimbulkan lumbago juga. 10 . d.

dan menjadi tidak terpengaruh oleh postur dan aktivitas. dan sangat memerlukan pemeriksaan ginjal seluruhnya. menetap ketika dibiarkan. wandering kidney cystitis. dan terkait dengan penurunan berat badan. radang tuba. hingga mencapai puncak. enteritis. Ginjal biasanya menghasilkan nyeri pinggang. prolapsus uteri. urethrolithiasis. Frekuensi dan adanya disuria mendukung diagnosis. tumor ovarii. Pada beberapa kausa yang tidak berhasil untuk menghilangkan rasa nyeri secara nonoperatif. jika terdapat riwayat peningkatan rasa tidak enak. Renal Pain Biasanya tidak susah untuk membedakan antara nyeri ginjal dan penyakit vertebra lumbal.4 3. Pemeriksaan abdominal. Yang perlu dicurigai pertama kali. dan lama-kelamaan menetap selama beberapa jam. walau tidak seberapa 11 . pada kausa yang jelas perlu diobati dahulu. banyak tertolong dengan blok epidural atau blok setempat. tumor uteri. Nyeri ureterik dapat menimbulkan penyebaran nyeri ke dalam fossa iliaca dan daerah paha dengan distribusi yang sama seperti pada lesi serabut saraf di bawah vertebra thorakal dan di atas vertebra lumbal. seharusnya tidak pernah ditinggalkan ketika memeriksa punggung. pada segala kasus sebaiknya sebelum dilakukan pengobatan secara operatif. bagian yang jarang untuk nyeri tulang belakang. Kelainan Retroperitoneal Lesi di pankreas dapat menimbulkan nyeri punggung dimana perlu dipikirkan pertama kali adanya kelainan tulang belakang. lebih baik diobservasi dan blok saraf untuk melihat hasilnya. visceroptosis.Pada wanita misalnya pada waktu dismenorrhea. Manajemen terapi pada rasa nyeri punggung dan tungkai bawah : Setelah mengetahui penyebabnya dahulu atau tanpa mengetahui penyebabnya pada saat sementara paling penting adalah mengurangi rasa nyeri si penderita . hamil. nephroptosis. Pada laki-laki seperti hipertrofi prostat.3 2. dan cenderung konstan. baru dapat menghilangkan reffered pain. tetapi hal tersebut cenderung menetap untuk beberapa jam pada suatu saat.

USG atau bahkan laparatomi. Sebuah aneurisma aorta dapat tertinggalkan jika abdomen tidak diperiksa.membantu. Laparatomi dapat dilakukan untuk menentukan fibrosis retroperitoneal yang menyebabkan nyeri punggung. Tingginya jumlah sedimen eritrosit dapat menambah kecurigaan tetapi diagnosisnya lebih memerlukan pemeriksaan radiografi kontras. dan hanya pemeriksaan abdomen dan palpasi serta auskultasi arteri femoralis dapat menghindari misdiagnosis. letakkan pasien di tempat tidur. kolesistitis.4 12 . Batu ginjal. Diseksi lambat dari aneurisma dapat menimbulkan nyeri punggung akut. tau appendicitis retrocaecal. dapat muncul bersamaan dengan nyeri punggung.

.. 1999. Snider. 4. pp : 273-80. Satyanegara. Singapore : Davis Company. 1986. pp: 161-70. Illinois : The American Academy of Orthopaedic Surgeons. Wilkins. Textbook of Disorders And Injuries of the Musculoskeletal System. Baltimore : Lippincott Williams & 13 . pp : 3-20. The Theory And Therapy of Pain.BAB III DAFTAR PUSTAKA 1. Richard W. Essentials of Musculoskeletal Care. Understand Your Backache. Edisi 3. Management of Back Pain. Cailliet. Robert B. 1999. Poerter. 1978. Jakarta : Penerbit FKUI.. 5. Rene. Salter. 3. Robert K. 2. 1992. pp : 528-30. pp : 6-7. Edinburgh : Churchill Livingstone.