Aswamedha Parwa Bagian Ke 30

-----------------------------------------------------------------------------------

Bagian Ketigapuluh

----------------------------------------------------------------------------------Seri Bhàratayuddha Page 1 of 11

Aswamedha Parwa Bagian Ke 30 -----------------------------------------------------------------------------------

Tetapi para Pitri itu menjawab: “O Ràma, pahlawan yang tak terkalahkan, jangan dilanjutkan membunuh kûatriya rendah itu! Tidak selayaknya ananda, seorang Bràhmaóa membunuh raja-raja seperti itu!” Dengarkan ceriteraku patut ini! Nanti, pendapat setelah ananda. ananda Nah, memperhatikannya, lakukanlah apa yang kiranya menurut dengarkan! Pada jaman dahulu, seorang maharaja

pandita bernama Alarka telah hidup dengan melakukan tapa brata yang sangat ketat. Sebelum menempuh jalan itu, dia pun sudah menaklukkan kerajaan-kerajaan di seluruh dunia. Selanjutnya, baginda mengundurkan diri ke dalam hutan guna menuju kebebasan sejati. Di sana, di bawah sebuah pohon yang rindang,

----------------------------------------------------------------------------------Seri Bhàratayuddha Page 2 of 11

Aswamedha Parwa Bagian Ke 30 -----------------------------------------------------------------------------------

baginda mengarahkan pikirannya ke dalam, serta bertanya jawab dengan Roh di dalam hati nuraninya. Alarka berpikir: “Ah, sekarang pikiranku sudah menjadi kuat. Setelah berhasil menaklukkan pikiran, maka kekallah kekuasaanku jadinya. Meskipun di kelilingi oleh musuh, mulai saat ini dan seterusnya, aku tidak akan membidikkan panah itu ke arah mereka. Biarlah panahku itu menuju ke arah lain. Karena pikirannya tidak tetap, orang-orang melakukan bermacam-macam perbuatan. Karena itu, mulai saat ini aku akan membidikkan panahku yang paling runcing ke arah pikiranku sendiri!” Pikirannya menjawab: “Panah itu O Alarka, tidak akan mampu menembus diriku. Panah itu hanya akan merusak bagian lemah dari tubuhmu, dan setelah bagian tubuh itu luka ditembus

----------------------------------------------------------------------------------Seri Bhàratayuddha Page 3 of 11

Aswamedha Parwa Bagian Ke 30 -----------------------------------------------------------------------------------

panah, maka anda akan tewas! Carilah panah yang lain untuk menundukkan diriku ini’” Mendengar suara dari pikirannya itu, Alarka termenung sejenak, kemudian berkata: “Setelah mengenai bermacam-macam bau yang enak dan harum, hidungku ini hanya memikirkan dan memburu bau-bau yang enak dan harum saja. Karena itu aku akan membidikkan panah tajam dan berbisa ke arah hidungku ini” Si hidung segera menjawab: “Panah itu tidak ada gunanya, ia tidak akan mampu menghancurkan diriku yang sebenarnya.

Memang panah tajam itu akan menembus bagian penting dari tubuh anda, dan anda sendiri akan tewas karenanya. Carilah panah bentuk lain untuk menghancurkan diriku ini!” Alarka memikirkan kata-kata si hidung itu, lalu berkata

----------------------------------------------------------------------------------Seri Bhàratayuddha Page 4 of 11

Aswamedha Parwa Bagian Ke 30 -----------------------------------------------------------------------------------

sebagai berikut: “Lidahku ini, setelah merasakan enaknya bumbu-bumbu, maka untuk selamanya ingin mengejar kenikmatan rasa makanan dan minuman. Baiklah akan kuhamtam dia dengan panahku yang paling berbisa untuk menghancurkannya!” Sang lidah terkejut dan berkata: “Panah itu O Alarka, tidak akan dapat mencapai apalagi menembus diriku yang sebenarnya. Anda hanya akan melukai bagian lemah dari tubuhmu. Setelah terluka, anda akan tewas percuma tanpa dapat menghancurkan diriku. Carilah panah yang lain untuk memusnahkan diriku ini!” Setelah berpikir sejenak, Alarka lalu berkata: “Kulit ini, setelah mengenai benda-benda halus yang menimbulkan perasaan nikmat dalam merabanya, selanjutnya selalu ingin menikmati

----------------------------------------------------------------------------------Seri Bhàratayuddha Page 5 of 11

Aswamedha Parwa Bagian Ke 30 -----------------------------------------------------------------------------------

perasaan-perasaan itu. Aku patut menembus kulit ini dengan panah-panah yang dilengkapi dengan bulu-bulu Kaòka!” Mendengar keluhan Alarka itu, kulit

memberikan jawabannya: “Panah-panah itu hanya akan menembus bagian lemah dari tubuhmu yang akan mengakibatkan kematian anda. Panah itu tidak akan menembus sampai kepada diriku! Carilah panah-panah bentuk lain untuk menghancurkan diriku ini!” Alarka memikirkan kata-kata sang kulit itu, dan sesaat kemudian Alarka mengucapkan katakata sebagai berikut: “Setelah mendengar bermacam-macam suara yang merdu dan manismanis, si kuping ini sampai tergila-gila kepada suara-suara yang merdu itu. ini Aku harus panah menghancurkan kuping dengan

----------------------------------------------------------------------------------Seri Bhàratayuddha Page 6 of 11

Aswamedha Parwa Bagian Ke 30 -----------------------------------------------------------------------------------

berbisaku!” Mendengar ucapan Alarka itu si telinga segera menjawab: “Bagaimana pun juga, panah itu tidak akan sampai menyentuh diriku O Alarka. Panah itu akan merusak, bagian lemah tubuhmu sendiri dan tewaslah anda dibuatnya. Carilah panah yang lain untuk memusnahkan diriku!” Alarka termenung sejenak, kemudian melanjutkan ucapannya: “Setelah melihat bermacam-macam warna, mata ini selalu tertarik untuk melihat warnawarna itu. Aku harus menghancurkannya dengan panahku yang paling tajam!” Mata terkejut dan menjawab sebagai berikut: “Panah itu O Alarka, tidak akan mampu menghancurkan diriku. Anda hanya akan merusak bagian lemah dari tubuhmu, dan setelah rusak, anda akan tewas. Carilah panah lain untuk

----------------------------------------------------------------------------------Seri Bhàratayuddha Page 7 of 11

Aswamedha Parwa Bagian Ke 30 -----------------------------------------------------------------------------------

memusnahkan diriku!” Alarka termenung dan kemudian berkata: “Pengertianku ini sungguh sangat bedamembedakan, apalagi setelah dibantu oleh akal. Aku harus membidikkan panahku ke arah pengertianku itu!” Pengertian itu segera menjawab: “Panah itu tidak akan pernah mampu menghancurkan diriku O Alarka. Anda hanya akan merusak bagian lemah dari tubuhmu sendiri dan setelah rusak andapun akan tewas. Carilah panah yang lain untuk menghancurkan diriku!” Semua pendapatnya sudah disangkal oleh hati nuraninya sendiri. Karena itu Alarka melanjutkan renungan-renungannya di bawah

----------------------------------------------------------------------------------Seri Bhàratayuddha Page 8 of 11

Aswamedha Parwa Bagian Ke 30 -----------------------------------------------------------------------------------

pohon besar di dalam hutan. Ia bertapa dengan keras. Berusaha dengan tekun mencari jenis panah yang mampu menghancurkan ketujuh alat-alat pengindraan yang disebutkan satupersatu di atas. Lama sekali ia memikirkan, panah yang bagaimanakah yang patut dijadikan sarana untuk menundukkan kemauan pengindraan itu. Namun akhirnya, dengan ketekunan serta kekuatan yang dimilikinya dan dengan pikiran terpusat, iapun mulai menyadari bahwa tidak ada jalan yang lebih baik dari pada Yoga. Ia lalu memusatkan pikirannya ke satu objek dan dipertahankan objek itu selamalamanya, diam secara sempurna dan terserap dalam Yoga. Dengan kekuatannya yang hebat, segera ia berhasil mematikan keinginan alat-alat pengindraannya dan hanya dengan satu jenis

----------------------------------------------------------------------------------Seri Bhàratayuddha Page 9 of 11

Aswamedha Parwa Bagian Ke 30 -----------------------------------------------------------------------------------

panah saja, yaitu masuk ke dalam keadaan Yoga, menyelusup ke dalam jiwa, dan dengan jalan demikian itu dapat dicapai kesadaran yang tertinggi. Sebagai tanda kegembiraannya, Raja pandita itu lalu menyanyikan syair sebagai berikut ini: “Sayang Mengapa membanting tulang untuk suatu kegiatan yang dangkal? Haus kekuasaan! Aduhai sayang! Mengapa menyadarinya? Sungguh tidak ada kebahagiaan yang lebih tinggi dari pada Yoga!”
----------------------------------------------------------------------------------Seri Bhàratayuddha Page 10 of 11

kesenangan,

kebesaran

dan

tidak

dulu-dulu

aku

Aswamedha Parwa Bagian Ke 30 -----------------------------------------------------------------------------------

“Renungkanlah

ceritera

ini

O

Ràma.

Hentikanlah segala pembunuhan itu! Lakukan Yoga, pasti kamu akan mencapai apa yang sesungguhnya dapat dikatakan kebaikan!’ Demikianlah, Bràhmaóa putera Jamadagni lalu melakukan latihan-latihan Yoga dan dilakukan dengan penuh semangat, hingga pada akhirnya dapat mencapai tingkat keberhasilan yang sungguh tidak mudah untuk mencapainya!

----------------------------------------------------------------------------------Seri Bhàratayuddha Page 11 of 11