P. 1
Theses 5 : LHE

Theses 5 : LHE

|Views: 1,817|Likes:
Published by MAT JIBRUD
Pemanfaatan Teknik Modulasi Lebar Pulsa (PWM) Untuk Kompensasi Seri Terkendali.
Pemanfaatan Teknik Modulasi Lebar Pulsa (PWM) Untuk Kompensasi Seri Terkendali.

More info:

Published by: MAT JIBRUD on Apr 17, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/01/2013

pdf

text

original

PEMANFAATAN TEKNIK MODULASI LEBAR PULSA (PWM

)
UNTUK KOMPENSASI SERI TERKENDALI



TESIS
Karya tulis sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Magister dari
Institut Teknologi Bandung




Oleh :
LUQMANUL HAKIM EFFENDI
NIM : 232.03.013




Program Studi Teknik Elektro
Bidang Khusus Teknik Energi Elektrik
















PROGRAM PASCASARJANA
SEKOLAH TEKNIK ELEKTRO DAN INFORMATIKA
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2006

ii
ABSTRAK :
PEMANFAATAN TEKNIK MODULASI LEBAR PULSA (PWM)
UNTUK KOMPENSASI SERI TERKENDALI


Oleh :
Luqmanul Hakim Effendi
NIM : 232.03.013

Departemen Teknik Elektro
Institut Teknologi Bandung


Tesis ini memaparkan analisa kompensasi seri pada saluran transmisi tenaga listrik
yang memanfaatkan teknik PWM untuk mengendalikannya (disebut PWMCSC).
Reaktansi kapasitif dari kapasitor bank yang terlihat secara seri oleh saluran dapat
diubah-ubah secara halus dan kontinu dengan cara mengatur duty cycle sinyal PWM
yang diumpankan ke saklar-saklar daya melalui rangkaian driver. Akibatnya
reaktansi induktif saluran bisa dikurangi, sehingga memperbaiki jatuh tegangan dan
meningkatkan hantaran daya saluran dalam batas termalnya. Dengan kata lain,
derajat kompensasi seri bisa diatur sesuai kondisi beban di sisi terima. Rangkaian
kompensator yang ditampilkan lebih sederhana daripada metode kompensasi seri
terkendali sebelumnya. Hanya membutuhkan empat buah saklar daya dua-arah,
sebuah penyearah dioda tiga-fasa, tiga transformator, dan kapasitor bank sebagai
komponen utama. Keuntungan lain adalah perbaikan masalah harmonik, tak ada
zona resonansi, dan tidak butuh rangkaian sinkronisasi dengan frekuensi saluran
transmisi.

Studi kasus tesis ini dilakukan melalui simulasi komputer maupun pengujian
dilaboratorium. Hasil simulasi dan pengujian menunjukkan bahwa saat daya beban
kecil, duty cycle cukup ditala sebesar 0,6 untuk memperbaiki jatuh tegangan saluran.
Saat daya beban menengah, duty cycle harus dinaikkan minimal sampai 0,8.
Sedangkan saat daya beban besar, duty cycle harus mencapai 1, artinya kompensasi
penuh (seperti pada fixed compensation) terjadi dimana saklar daya utama akan ON
terus selama satu perioda sinusoidal (20 mdetik). Pada daya beban besar inilah
dibutuhkan kemampuan maksimal PWMCSC agar jatuh tegangan saluran tidak
merosot melampaui batas toleransi (10 %). Analisa harmonik juga dilakukan pada
penelitian ini.



Kata kunci : kompensasi seri, PWM, FACTS (Flexible AC Transmission Systems).





iii
ABSTRACT :
THE USE OF PULSE WIDTH MODULATION (PWM) TECHNIQUE
FOR CONTROLLED SERIES COMPENSATION


By :
Luqmanul Hakim Effendi
Student Number : 232.03.013

Department of Electrical Engineering
Bandung Institute of Technology


This thesis presents analysis of series compensation in electrical power transmission
line controlled by PWM technique (it’s named PWMCSC). Capasitive reactances of
capasitor bank always seen in series by transmission line can be varied smoothly and
continously through controlling duty cycle of PWM signals that feed to power
switches beyond driver circuits. As result, inductive reactances of transmission line
can be reduce, hence reducing voltage drop and increasing power transfer capability
of transmission line in its thermal limit. It means, the degree of series compensation
is controlled according to load condition in receiving end. Topology of compensator
presented is simpler than controlled series compensation methodes before. It
employs four bidirectional power switches, a three-phase diode rectifier, three
coupling transformer, and capacitor bank as main component. Other advantages are
reducing harmonics content, no resonance zone, and no synchronization with
transmission line frequency.

Software simulation and laboratory experimental are embedded in this thesis. Both
of them show that, at light load power the duty cycle of main power switches should
be set on 0.6 to reduce line voltage drop. At middle load power, the duty cycle of
main power switches should be increased minimum until 0.8. Meanwhile at heavy
load power, it must be set on 1, it means full compensation (as in fixed
compensation) is achieved that main power switches will be ON during one periode
sinusoidal (20 ms). In last condition, the maximum capability of PWMCSC is
needed to keep line voltage drop in tolerance value. Harmonics analysis are
presented also in this research.



Keywords : series compensation, PWM, FACTS (Flexible AC Transmission
Systems).






iv

PEMANFAATAN TEKNIK MODULASI LEBAR PULSA (PWM)
UNTUK KOMPENSASI SERI TERKENDALI








Oleh :
Luqmanul Hakim Effendi
NIM : 232.03.013







Program Studi Teknik Elektro
Bidang Khusus Teknik Energi Elektrik
Institut Teknologi Bandung






Menyetujui
Pembimbing,
Tanggal : Januari 2006







Ir. Syafri Martinius, MSc
NIP : 130528352




v

PEDOMAN PENGGUNAAN TESIS

Tesis S2 yang tidak dipublikasikan terdaftar dan tersedia di Perpustakaan Institut
Teknologi Bandung, dan terbuka untuk umum dengan ketentuan bahwa hak cipta
ada pada pengarang dengan mengikuti aturan HaKI yang berlaku di Institut
Teknologi Bandung. Referensi kepustakaan diperkenankan dicatat, tetapi pengutipan
atau peringkasan hanya dapat dilakukan seizin pengarang dan harus disertai dengan
kebiasaan ilmiah untuk menyebutkan sumbernya.

Memperbanyak atau menerbitkan sebagian atau seluruh tesis haruslah seizin
Direktur Program Pascasarjana, Institut Teknologi Bandung.




















vi



Maka sesungguhnya Aku (Alloh SWT) bersumpah dengan cahaya merah diwaktu
senja, dan dengan malam serta apa yang diselubunginya, dan dengan bulan apabila
telah purnama, sesungguhnya kamu (manusia) melalui tingkat demi tingkat (dalam
kehidupan). Mengapa mereka tidak mau beriman ? Dan apabila Al-Qur’an
dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud (tunduk), bahkan orang-orang
kafir itu mengingkari (kebenarannya). Padahal Alloh mengetahui apa yang mereka
sembunyikan (dalam hati mereka). Maka beri kabar gembiralah kepada mereka
dengan azab yang pedih, tetapi orang-orang beriman dan yang beramal sholeh,
bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.
(QS. Al-Insyiqooq/Terbelah : 16-25)




Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat
(zat plasma) untuk (menimbulkan) ketakutan dan juga harapan, dan Dia
menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah
matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan
Alloh SWT) bagi kaum yang mempergunakan akal (dan teknologi).
(QS. Ar-Ruum/Bangsa Romawi : 24)




Dia-lah Tuhan yang memperlihatkan kilat/petir/guruh (zat plasma) kepadamu
untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung.
Dan guntur itu bertasbih dengan memuji Alloh, (demikian pula) para malaikat
karena takut kepada-Nya, dan Alloh melepaskan halilintar (zat plasma), lalu
menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, tapi mereka (orang-orang kafir)
berbantah-bantahan tentang (keberadaan) Alloh, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha
Keras siksa-Nya. Hanya bagi Alloh-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan
berhala-berhala (tuhan lain) yang mereka sembah selain Alloh itu tidak dapat
mengabulkan satu pun untuk mereka (penyembahnya), bagaikan orang yang
membuka kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air itu ke
mulutnya, padahal air itu tidak mungkin sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadah)
orang-orang kafir itu hanyalah kesia-siaan belaka.
(QS. Ar-Ro’du/Petir : 12-14)








vii
KATA PENGANTAR

Alhamdulillaahi robbil ’aalamiin. Segala puji penulis ucapkan kepada Alloh SWT,
satu-satunya Tuhan penguasa seluruh alam semesta. Tanpa ridho dan ijin-Nya tak
mungkin tesis ini ada. Tesis dengan judul Pemanfaatan Teknik Modulasi Lebar
Pulsa (PWM) Untuk Kompensasi Seri Terkendali ini merupakan salah satu syarat
wajib untuk menyelesaikan pendidikan program pascasarjana bidang khusus Teknik
Energi Elektrik di Departemen Teknik Elektro, Institut Teknologi Bandung.

Selama menempuh pendidikan penulis banyak mendapatkan saran-saran dan bantuan
dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan
terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :
1. Kedua orang-tua dan keluarga yang telah memberikan dukungan doa dan biaya
secara tulus-ikhlas selama puluhan tahun.
2. Para dosen di Departemen Teknik Elektro ITB & Usakti atas transfer ilmunya.
3. Ir. Syafri Martinius, MSc selaku pembimbing tesis.
4. Prof. Dr. Yanuarsyah Haroen, Dr. Ir. Muhammad Nurdin, dan Ir. Tunggal
Mardiono, MSc sebagai dosen penguji sidang Tesis I pada hari Kamis, 16 Juni
2005 pukul 13.30-15.00 WIB di LPKEE-ITB.
5. Prof. Dr. Yanuarsyah Haroen, Dr. Ir. Muhammad Nurdin, Dr. Ir. Redy Mardiana,
dan Slamet Riyadi, MT sebagai dosen penguji sidang Tesis II pada hari Kamis,
19 Januari 2006 pukul 08.15-10.15 WIB di LPKEE-ITB.
6. Segenap karyawan LPKEE-ITB, terutama Nana Heryana atas petunjuk praktis
dalam pembuatan alat dan pinjaman kamera digitalnya.
7. Ir. Pribadi Kadarisman & Syamsir Abduh, PhD atas restu dan doa-doanya.
8. Prof. T.M. Soelaiman, guru besar ITB yang juga seorang kyai, atas keteladanan
dan kerendah-hatiannya (teknologi tak boleh kehilangan sisi kemanusiaan).
9. Yayasan Van Deventer Maas atas bantuan beasiswa selama 1 tahun.
10. Luiz AC Lopes (McGill University), Amit Jain (University of Minnesota), Tri
Desmana Rachmilda (ITB), Palman (ITB), Leonardus Heru Pratomo (Unika
Soegijapranata), Ayong Hiendro (Univ Tanjungpura), Hafidh Hasan (Univ Syiah
Kuala), dan Burhanuddin Halimi (ITB) atas semua bantuan yang diberikan.
viii
11. Teman-teman seperjuangan, se-stres-an, sekegelisahan atas kebersamaannya di
LPKEE-ITB : Toman (ITB), Fahrisol (ITB), Husnan (ITB), Amrullah Isma
(PTDI), Yandri (Univ Tanjungpura), dan Slamet Riyadi (Unika Soegijapranata).
12. Teman-teman S2 “aroes koeat ITB” atas kekompakannya dalam mengerjakan
tugas-tugas kuliah dan ujian-ujian : Arif Musthofa (ITS), Al Imran (UNM),
Zainal Abidin (Poltek Padang), Asep Andang (UNSIL), Ryan Mefiardhi
(ITENAS), Siti Saodah (ITENAS), Eddi Firdaus (ITB), Agus Riyadi (ITB),
Fielman Lisi (UNSRAT), Melda Latif (UNAND), dan Arief Wibowo (ITB).
13. Keluarga besar H. M. Djodjo Kuswara, SH di jalan Kebon Bibit Barat No. 41,
tempat penulis indekos, atas kebaikannya selama bertahun-tahun. (Terima kasih
atas sate kambingnya, juga atas tumpangan kulkasnya).
14. Anak-anak kos KBB 41 atas persahabatan & humor-humor segarnya : Mates
(Betawi kagak ade matinye), Rustanto, Dani Usadi, Usep, Agus Siregar, Irwan,
Rony Seto Wibowo, Roni Mardianto, Imam Arifin, Ian, Candra, Rudi, Eko.
(Semoga kita semua selalu jauh dari kemusyrikan).
15. Warung ibu gendut, Warung ibu murah, RM Salero Kito, Dona Café, Warung
Mang Udin, Warung Ibu Legi, Libanon, Warteg Brayan Urip, Rapidnet internet
& café, Kantin Salman, Kantin Kebiba 41, Warung ibu cerewet, RM Cahaya
Minang, Kantin Balubur atas gizi yang telah diberikan selama penulis merantau
di Bandung.
16. RS Advent atas pelayanannya yang ramah saat penulis rawat inap selama 3 hari.
17. Yayasan Aquatreat Therapy Indonesia atas pengobatan TORCH-nya.

Semoga Alloh SWT membalas budi baik mereka semua. Menyadari keterbatasan
dan kemampuan penulis, maka dengan segala kerendahan hati penulis
mengharapkan kritik & saran demi kesempurnaan dimasa yang akan datang. Semoga
tesis ini ada manfaatnya. Amin.

Bandung, Januari 2006


Luqmanul Hakim Effendi
(Lhakime@yahoo.com)

ix
DAFTAR ISI


BAB Halaman

HALAMAN JUDUL i
ABSTRAK ii
ABSTRACT iii
LEMBAR PENGESAHAN iv
PEDOMAN PENGGUNAAN TESIS v
LEMBAR PERUNTUKAN/AYAT vi
KATA PENGANTAR vii
DAFTAR ISI ix

I PENDAHULUAN 1
I.1 Latar Belakang Penelitian 1
I.1.1 Thyristor Controlled Series Capacitor (TCSC) 1
I.1.2 Gate Turn-Off thyristor Controlled Series Capacitor (GTOCSC) 2
I.1.3 PWMCSC Oleh Chu dan Pollock 3
I.1.4 PWMCSC Oleh Lopes et al 4
I.2 Tujuan Penelitian 5
I.3 Permasalahan 5
I.4 Batasan Peneltian 5
I.5 Kontribusi Penelitian 5
I.6 Metodologi Penelitian 5
I.7 Sistematika Penulisan 6
II LANDASAN TEORI 7
II.1 Teori Singkat Saluran Transmisi Tenaga Listrik (STTL) 7
II.2 Teori Singkat Hantaran Daya Listrik 10
II.3 Teori Singkat Kompensasi Seri 12
II.3.1 Perbandingan Dengan Kompensasi Shunt 15
II.3.2 Letak Kapasitor Seri Pada Saluran 16
II.3.3 Alasan Tertundanya Penggunaan Kompensasi Seri 17
II.4 Teori Singkat PWM 18
III PEMANFAATAN TEKNIK PWM
UNTUK KOMPENSASI SERI TERKENDALI 22
III.1 Pendahuluan 22
III.2 Rangkaian PWMCSC 24
III.3 Komponen PWMCSC 25
III.4 Pemilihan Saklar Daya Dua-Arah 26
III.5 Prinsip Kerja 26
III.6 Persamaan Matematika Kondisi Mantap [9] 28
III.6.1 Harmonik Arus Di STTL [9] 29
III.6.2 Peningkatan Hantaran Daya Aktif [9] 31
IV SIMULASI, PERCOBAAN, DAN ANALISA 32
IV.1 Pendahuluan 32
IV.2 Simulasi 1-Fasa Menggunakan PSIM 32
IV.3 Percobaan 1-Fasa Di Laboratorium 37
IV.3.1 Rangkaian Pembangkit Sinyal Segitiga (V
carr
) 37
IV.3.2 Rangkaian Pembangkit Sinyal DC Variabel (V
ref
) 38
IV.3.3 Rangkaian Komparator 39
IV.3.4 Rangkaian Driver 39
x
IV.4 Hasil Percobaan 1-Fasa Saat Beban Berat 41
IV.5 Diskusi Hasil Simulasi & Percobaan 1-Fasa 51
IV.6 Simulasi 3-Fasa Menggunakan PSIM 51
IV.7 Diskusi Hasil Simulasi 3-Fasa 57
V ANALISA HARMONIK PWMCSC 58
V.1 Pendahuluan 58
V.2 Prinsip Dasar Harmonik 58
V.3 Parameter Kandungan Harmonik 59
V.4 Spektrum Harmonik V
comp
Dan I 59
V.5 Diskusi Hasil Kurva Harmonik 63
VI KESIMPULAN DAN SARAN 64
VI.1 Kesimpulan 64
VI.2 Saran 65

DAFTAR PUSTAKA 66

LAMPIRAN A : CONTOH-CONTOH PERHITUNGAN KOMPENSASI 68
A.1 Perhitungan Kompensasi Seri Di SUTET Jarak Menengah [7] 68
A.2 Perhitungan Resonansi Sub-Sinkron [7] 72
A.3 Perhitungan Resonansi Seri 73
A.4 Perhitungan Kompensasi Reaktor Shunt (SUTET A.1) [7] 73
A.5 Perhitungan Kompensasi Kapasitor Shunt 78
LAMPIRAN B : KESIMPULAN YANG DIAMBIL DARI LAMPIRAN A 80
LAMPIRAN C : KLASIFIKASI KOMPENSATOR MENURUT
FUNGSI DAN JENISNYA 81
LAMPIRAN D : SISTEM PROTEKSI KAPASITOR SERI [15] 82
LAMPIRAN E : RESONANSI SERI DAN RESONANSI SUB-SINKRON 85
LAMPIRAN F : PROSEDUR MENCARI PARAMETER TRAFO GANDENG 88
LAMPIRAN G : TABEL HARMONIK V
comp
DAN I 91






















Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 1 -
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Penelitian
Kapasitor seri sudah sejak lama digunakan untuk tujuan kompensasi daya reaktif. Pertama kali
mulai diperhatikan oleh para ahli saat ia digunakan pada jaringan yang mensuplai beban berupa
tungku peleburan listrik. Pemasangannya bertujuan untuk mengatasi gejala kedip tegangan.
Kemudian aplikasinya berlanjut pada saluran transmisi tenaga listrik (STTL) yang menghubungkan
PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) dan pusat-pusat beban. Dimasa sekarang ini kapasitor seri
selain merambah saluran transmisi yang bertegangan tinggi, juga terdapat pada hampir semua
jaringan. Jaringan-jaringan tenaga listrik yang terus berkembang, dimana bebannya tidak berhenti
mencapai puncak tapi bertambah secara kontinu, akan mempunyai keuntungan-keuntungan tertentu
bila dipasang kapasitor seri [15]. Pemasangan kapasitor secara seri pada STTL ini selanjutnya akan
disebut kompensasi seri.

Dengan kompensasi seri, hantaran daya STTL dapat ditingkatkan dalam batas termal, dielektrik,
dan kestabilannya [6]. Di samping itu, kompensasi seri dapat memperbaiki regulasi tegangan,
mengatur besarnya aliran daya, dan mengurangi rugi-rugi STTL sehingga, pada kasus tertentu, bisa
menunda pembangunan STTL yang baru [7].

Perkembangan kompensasi seri terus berlanjut (seiring dengan berkembangnya teknologi
perangkat semikonduktor daya dan keilmuan dibidang elektronika daya) ke arah kompensasi seri
yang terkendali. Maksudnya, harga reaktansi kapasitifnya bisa diubah-ubah sehingga derajat
kompensasi seri yang diinginkan bisa diatur sesuai kebutuhan (kondisi beban). Berikut
disampaikan sekilas mengenai perkembangan metode kompensasi seri yang terkendali, baik yang
telah diaplikasikan maupun yang baru sebatas penelitian (usulan).

I.1.1 Thyristor Controlled Series Capacitor (TCSC)
Sampai saat ini, teknologi terakhir kompensasi seri yang telah dipakai pada saluran transmisi
tenaga listrik adalah TCSC (Thyristor Controlled Series Capacitor) [5,6,10]. TCSC sering juga
disebut TCR (Thyristor Controlled Reactor). Metode kompensasi ini menggunakan salah satu jenis
saklar daya yaitu thyristor yang dipasang saling anti-paralel, yang berfungsi mengatur besarnya
arus yang lewat di induktor (dengan kendali sudut fasa) sehingga reaktansi kapasitif kapasitor seri
yang masuk ke dalam STTL menjadi variabel disesuaikan dengan kebutuhan. Dengan demikian
jatuh tegangan pada reaktansi induktif STTL dapat dikurangi, memperbaiki regulasi tegangan, dan
meningkatkan hantaran daya listrik dari sisi sumber ke sisi terima. Sistem TCSC dipasang pertama
kali tahun 1992 pada gardu Kayenta (di Northeast Arizona) milik WAPA (Western Area Power
Administration) dengan tegangan nominal 230 kV [6]. Di Kayenta TCSC disebut juga ASC
Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 2 -
(Advanced Series Capacitor) yang merupakan merek dagang dari Siemens. Kemudian tahun 1993
TCSC dipasang pada gardu Slatt (di Oregon) milik BPA (Bonneville Power Administration)
dengan sistem 500 kV [6]. Proyek ini disponsori oleh EPRI (Electric Power Research Institute)
serta dirancang dan dipasang oleh General Electric (GE). Namun aplikasi ini memiliki kelemahan,
diantaranya adalah membutuhkan rangkaian komutasi paksa jika ingin memadamkan thyristor
sebelum tegangan nol, muncul harmonik orde rendah, butuh rangkaian sinkronisasi dengan STTL,
dan terdapat zona resonansi antara reaktansi induktif dan kapasitifnya. Lihat Gambar I.1.


Gambar I.1. Rangkaian Dasar TCSC 1-Fasa

I.1.2 Gate Turn-Off thyristor Controlled Series Capacitor (GTOCSC)
Dengan berkembangnya teknologi saklar daya para peneliti mulai berusaha mencari solusi dari
kelemahan TCSC. Maka muncullah pemikiran dibidang kompensator-kompensator lanjutan seperti
GTOCSC (Gate Turn-Off thyristor Controlled Series Capacitor) [6,8,11]. Fungsi GTO thyristor di
sini hampir sama dengan thyristor konvensional pada TCSC, yaitu untuk memasukkan dan melepas
kapasitor dari STTL sekaligus mengatur harga reaktansi kapasitif yang masuk ke STTL.
Rangkaiannya pun hampir sama dengan TCSC. Tapi sebagai thyristor generasi baru, GTO thyristor
mempunyai keunggulan daripada thyristor konvensional. Antara lain kecepatan pensaklaran yang
lebih tinggi (sehingga lebih responsif) dan mampu dipadamkan tanpa rangkaian komutasi paksa.
Sedangkan kelemahannya, butuh arus negatif yang besar untuk memadamkan GTO (± 1/3 dari arus
anoda) sehingga rangkaian driver-nya lebih rumit. Selain itu masih perlu rangkaian sinkronisasi
dengan frekuensi STTL, dan masih dibangkitkannya harmonik orde rendah. Rangkaian dasar
GTOCSC ditunjukkan oleh Gambar I.2.






Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 3 -

Gambar I.2. Rangkaian Dasar GTOCSC 1-Fasa Dengan Snubbernya

I.1.3 PWMCSC Oleh Chu dan Pollock
Penelitian dalam bidang kompensasi seri yang terkendali terus berlanjut. Terutama pencarian solusi
untuk masalah harmonik dan rangkaian sinkronisasi. Teknik PWM (Pulse Width Modulation)
mampu mengatasi hal itu dimana saklar daya dioperasikan pada frekuensi yang lebih tinggi
daripada frekuensi STTL, namun dengan topologi yang berbeda dari TCSC dan GTOCSC. Syarat
utama teknik PWM ini adalah saklar daya yang digunakan harus berkecepatan tinggi dan mampu
dipadamkan tanpa rangkaian komutasi paksa. Berarti pilihan saklarnya antara lain GTO, MOSFET,
IGBT, IGCT, atau MCT. Adalah Chu dan Pollock [2] yang mengusulkan metode PWMCSC (Pulse
Width Modulation Controlled Series Compensation) pertama kali. Namun rangkaian yang
diusulkannya masih rumit karena butuh 12 saklar daya untuk sistem STTL 3-fasa (lihat Gambar
I.3).

Gambar I.3. Rangkaian PWMCSC 1-Fasa Oleh Chu dan Pollock


Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 4 -
I.1.4 PWMCSC Oleh Lopes et al
Lopes, Fernandes, Neto, dan Jos [9] mengusulkan susunan rangkaian PWMCSC yang lebih
sederhana daripada [2]. Hanya menggunakan 4 saklar daya untuk sistem STTL 3-fasa ditambah
penyearah dioda. Rangkaian tersebut, yang sebagian diadopsi dari [16], mampu menyediakan
derajat kompensasi seri yang terkendali secara kontinu dan halus melalui pengaturan duty cycle
pulsa PWM berfrekuensi tetap. Sinkronisasi dengan STTL tidak perlu dilakukan karena frekuensi
pensaklaran yang tinggi (biasanya 600 Hz). Oleh karenanya hanya harmonik orde tinggi yang
muncul, dimana hal ini bisa diatasi dengan mudah melalui tapis. Rangkaian dasarnya ada pada
Gambar I.4.

Namun Lopes et al [9] hanya menampilkan analisanya melalui simulasi pada model STTL 1-fasa,
tanpa menampilkan rangkaian pembangkit sinyal PWM, tidak menampilkan rangkaian kendali
untuk saklar daya, dan tanpa analisa harmonik.




Gambar I.4. Rangkaian PWMCSC 3-Fasa Oleh Lopes et al




Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 5 -

I.2 Tujuan Penelitian
a) Melakukan studi/analisa atas usulan PWMCSC yang telah disampaikan oleh Lopes et al.
b) Mensimulasikan dan melakukan pengujian di laboratorium.
c) Menganalisa harmonik yang dibangkitkan oleh PWMCSC.

I.3 Permasalahan
Bagaimana memodelkan PWMCSC, mensimulasikannya dengan bantuan perangkat lunak
komputer, dan mempraktikkannya di laboratorium.

I.4 Batasan Penelitian
a) Analisa dilakukan pada kondisi mantap dengan sumber sinusoidal, STTL 3-fasa 3-kawat, dan
beban linier.
b) Masing-masing fasa STTL dalam kondisi setimbang, baik impedansi beban maupun impedansi
salurannya.
c) Pengujian laboratorium hanya dilakukan untuk sistem 1-fasa (kendali open-loop).
d) Masalah desain fisik kapasitor yang tepat, sistem proteksi kapasitor saat terjadi gangguan, dan
masalah resonansi sub-sinkron sudah di luar cakupan penelitian ini.

I.5 Kontribusi Penelitian
a) Menampilkan rangkaian elektronik pembangkit sinyal PWM.
b) Menampilkan rangkaian elektronik kendali open-loop dan driver.
c) Mensimulasikan hasil rancangan menggunakan perangkat lunak PSIM.
d) Menguji hasil rancangan di laboratorium untuk sistem 1-fasa kendali open-loop.
e) Menampilkan analisa harmonik PWMCSC menggunakan perangkat lunak Origin.

I.6 Metodologi Penelitian
1. Melakukan studi literatur tentang setiap perkembangan teknik kompensasi seri terkendali yang
telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya.
2. Analisa teori PWMCSC dan landasan teorinya.
3. Merancang parameter-parameter STTL, kapasitansi kapasitor bank, dan besarnya jenis beban.
4. Merancang rangkaian pembangkit sinyal PWM, rangkaian kendali open-loop, dan driver.
5. Simulasi hasil rancangan menggunakan perangkat lunak PSIM.
6. Menguji hasil rancangan di laboratorium.
7. Perhitungan harmonik menggunakan perangkat lunak Origin.
8. Analisa hasil, mengambil kesimpulan, dan penulisan laporan (tesis).


Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 6 -
I.7 Sistematika Penulisan
Bab I : Pendahuluan
Bab II : Landasan Teori
Bab III : Pemanfaatan Teknik PWM Untuk Kompensasi Seri Terkendali
Bab IV : Simulasi, Pengujian, Dan Analisa
Bab V : Analisa Harmonik PWMCSC
Bab VI : Kesimpulan Dan Saran
Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 7 -
BAB II
LANDASAN TEORI

II.1 Teori Singkat Saluran Transmisi Tenaga Listrik (STTL)
STTL merupakan jaringan arus bolak-balik (AC) yang memiliki dua jenis elemen dasar, yaitu
elemen aktif dan elemen pasif. Perbandingan keduanya ditampilkan dalam Tabel II.1 berikut.

Tabel II.1. Elemen Dasar STTL
Elemen Aktif Elemen Pasif
1. Contohnya : generator, motor, furnaces,
drives.
1. Contohnya : kawat penghantar, trafo, reaktor,
kapasitor.
2. Diwakili oleh sumber yang diseri dengan
impedansi.
2. Diwakili oleh besaran R, L, C.


Karakteristik elemen aktif dapat dijelaskan oleh empat buah besaran sebagai berikut (lihat Tabel
II.2) :

Tabel II.2. Besaran Elemen Aktif
Besaran Simbol Satuan Persamaan Umum
Daya Kompleks S VA jQ P S + =
Daya Aktif P W
2 2
Q S P − =
Daya Reaktif Q VAR
2 2
P S Q − =
Faktor Daya PF (cos ø) -
S
P
PF =


Sedangkan elemen pasif dapat diwakili oleh konstanta R, L, C (lihat Tabel II.3) :

Tabel II.3. Konstanta Elemen Pasif
Konstanta Simbol Satuan
Tahanan R Ohm ()
Induktansi L Henry (H)
Kapasitansi C Farad (F)


Persamaan tegangan jepit dan arus yang melalui elemen pasif diberikan oleh Tabel II.4 : (i dan v
adalah harga sesaat)



Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 8 -
Tabel II.4. Harga Sesaat Tegangan Jepit Dan Arus Pada Elemen Pasif
Konstanta Tegangan Jepit Arus
Tahanan (R) i R v × =
R
v
i =
Induktansi (L)
dt
di
L v =
í
= vdt
L
i
1

Kapasitansi (C)
í
= idt
C
v
1

dt
dv
C i =


Saat kondisi mantap, Tabel II.4 menjadi (lihat Tabel II.5 dimana I dan V adalah harga efektif) :

Tabel II.5. Harga Efektif Tegangan Jepit Dan Arus Pada Elemen Pasif
Konstanta Tegangan Jepit Arus
Tahanan (R) I R V × =
R
V
I =
Induktansi (L)
I jX V
L
=
L
jX
V
I =
Kapasitansi (C)
I jX V
C
=
C
jX
V
I =


Pada jaringan STTL yang sebenarnya, kawat penghantar tiap fasa dibentuk dari besaran seri (R, X,
Z) dan besaran shunt (G, B, Y). Lihat Tabel II.6.

Tabel II.6. Besaran Seri Dan Shunt Pada STTL
Besaran Jenis Simbol & Satuan Persamaan
Seri (pada saluran) Impedansi : Z (Ohm, ) jX R Z + =
( )
C L
X X j R Z − + =
Shunt (line to neutral) Admitansi :
- Konduktansi :
- Suseptansi Induktif :
- Suseptansi Kapasitif :
Y (Mho, S)
G (Mho, S)
B
L
(Mho, S)
B
C
(Mho, S)
Y = G + jB
= G 1/R
=
L
B 1/X
L

=
C
B 1/X
C




Tabel II.7 dan Gambar II.1 menampilkan klasifikasi STTL (1-fasa) menurut jaraknya.

Tabel II.7. Klasifikasi STTL Menurut Jarak
Jarak Model Ciri
Pendek (< 80 km) Z = R + jX Mengabaikan besaran shunt
Menengah (80 – 250 km) Nominal T atau Parameter terpusat
Jauh (>250 km) Ekivalen T atau Parameter terdistribusi


Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 9 -
V
k
V
t
Z
Beban
R
jX
Z
saluran
I
k
I
t
V
k
V
t
I
k
I
t
Y
Z
2
Z
2
Z
Y Y
2 2
k
k
I I
t
V t
V
V V
t
I
k
I
t
Y
2
Z
2
Z
∆ ∆∆ ∆X
∆ ∆∆ ∆X
∆ ∆∆ ∆X
X +∆ ∆∆ ∆X
V
k
∆ ∆∆ ∆X X
Vx
I x + ∆ ∆∆ ∆X Ix
∆ ∆∆ ∆X = bagian kecil dari kawat transmisi yang jaraknya x dari ujung
terima







a. Representasi STTL Jarak Pendek








b. Representasi STTL Jarak Menengah (Nominal T dan Nominal )











c. Representasi STTL Jarak Jauh
Gambar II.1. Representasi STTL 1-Fasa Menurut Jaraknya

Sebenarnya klasifikasi tersebut sangat kabur dan sangat relatif. Klasifikasi STTL harus didasarkan
pula atas besar-kecilnya kapasitansi antar fasa atau kapasitansi fasa ke tanah. Bila kapasitansinya
kecil, maka arus bocor ke tanah kecil terhadap arus beban sehingga kapasitansi ke tanah dapat
diabaikan. Itulah yang disebut saluran pendek (Gambar II.1a). Bila kapasitansi sudah mulai besar,
sehingga tidak dapat diabaikan, tetapi belum begitu besar sekali sehingga masih dapat dianggap
Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 10 -
sebagai kapasitansi terpusat (lumped capacitance), maka dinamakan saluran menengah (Gambar
II.1b) yang bisa direpresentasikan dalam nominal T atau π. Bila kapasitansi tersebut besar sekali
sehingga tidak mungkin lagi dianggap sebagai kapasitansi terpusat, maka harus dianggap terbagi
rata sepanjang saluran. Inilah yang disebut saluran jauh/panjang (Gambar II.1c).

Ada juga klasifikasi berdasarkan tegangan kerja. Makin tinggi tegangan kerja, kemungkinan
timbulnya korona juga makin besar. Korona ini akan memperbesar kapasitansi sehingga akan
memperbesar arus bocornya pula. Jadi walaupun panjang saluran hanya 60 km misalnya, tapi
memiliki tegangan kerja sangat tinggi maka kapasitansinya relatif besar dan tidak mungkin
diabaikan.

Induktansi saluran dibentuk dari medan magnet karena adanya arus yang mengalir pada frekuensi
nominal di penghantar. Konduktansi antar penghantar atau antara penghantar dan tanah mewakili
rugi-rugi bocor yang muncul di isolator atau arus bocor di sepanjang isolator dan rugi-rugi korona
di permukaan penghantar. Konduktansi ini biasanya diabaikan, karena arus bocor melalui isolator
saluran udara biasanya sangat kecil. Disamping itu kebocoran pada isolator yang merupakan
sumber utama konduktansi, berubah-ubah menurut keadaan atmosfir dan sifat-sifat penghantaran
dari kotoran-kotoran yang melekat di isolator itu, sehingga tidak ada cara yang baik untuk
memperhitungkan konduktansi ini [10].

Kapasitansi terjadi akibat adanya beda potensial antar penghantar atau antara penghantar dan tanah.
Ia mewakili medan listrik yang timbul saat saluran dikenakan tegangan dengan frekuensi nominal.
Karena adanya bahan isolator antara dua penghantar yang bertegangan, maka terdapat kemampuan
untuk menyimpan muatan. Kapasitansi antar penghantar adalah muatan per satuan beda potensial.
Kapasitansi antara dua penghantar yang sejajar tergantung pula dari jarak pemisah antar
penghantar. Konduktansi dan reaktansi kapasitif saluran membentuk admitansi shunt. Tetapi
sumbangan konduktansi terhadap admitansi shunt sangat kecil dan selalu berubah menurut
atmosfer dan sifat hantar kotoran yang melekat di isolator, maka istilah admitansi dapat diganti
dengan kapasitansi [14].

II.2 Teori Singkat Hantaran Daya Listrik
Gambar II.2 menunjukkan diagram fasa tunggal STTL yang panjang. Ujung kirim dan ujung
terima dihubungkan satu sama lain oleh reaktansi ekivalen saluran (X
sal
). Saluran jauh/panjang
mempunyai tahanan yang sangat kecil dibandingkan reaktansinya sehingga tahanan tersebut dapat
diabaikan tanpa mengakibatkan kesalahan yang berarti. Hantaran daya aktif dan reaktif tergantung
dari besar sudut tegangan di ujung kirim dan ujung terima.


Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 11 -





Gambar II.2. Diagram Fasa Tunggal STTL Jauh/Panjang

Hantaran daya dapat dihitung :

t
S
*
t t t t
I V jQ P = + =
*
*


=
sal
t k
t
jX
V V
I

*
sin cos

− +
=
sal
t k k
t
jX
V jV V
V
δ δ


+ =
sal
t t k
sal
t k
X
V V V
j
X
V V
2
cos
sin
δ
δ (II.1)


t
P δ δ sin sin
maks
sal
k t
P
X
V V
= = (II.2)

t
Q
sal
t t k
X
V V V
2
cos −
=
δ
(II.3)

Dengan cara yang sama, pada ujung kirim didapat :

t maks
sal
t k
k
P P
X
V V
P = = = δ δ sin sin (II.4)

sal
t k k
k
X
V V V
Q
δ cos
2

= jika V
k
= V
t
, maka Q
k
= - Q
t
(II.5)

P
k
dan P
t
sama besar karena STTL yang sederhana ini mempunyai tahanan R
sal
= 0, sehingga
sistem tidak memiliki rugi-rugi tahanan (resistantly lossless transmission line). Jika V
k
dan V
t
dibuat konstan, dan diubah-ubah besarnya, maka dapat dibuat kurva hantaran daya aktif sebagai
fungsi sudut daya seperti Gambar II.3. Jika sudut daya terus diperbesar mulai dari nol, maka daya
aktif yang disalurkan melalui saluran juga naik sampai =90° dan hantaran daya maksimum
tercapai. Setelah titik ini, pertambahan sudut daya akan menyebabkan kemampuan hantar saluran
turun. Harga P dan Q juga tergantung pada besarnya X
sal
.

Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 12 -
Dari Persamaan (II.3) dan (II.5), jika V
k
= V
t
, maka dapat dibuat pula kurva daya reaktif (Gambar
II.3). Pada kurva daya reaktif terlihat bahwa kebutuhan daya reaktif menjadi besar untuk sudut
daya yang besar. Jika diasumsikan V
k
= V
t
, pada sudut daya 90° besarnya daya reaktif yang harus
disediakan adalah sebesar P
maks
.








Gambar II.3. Kurva Daya Aktif dan Reaktif Sebagai Fungsi Sudut

Berikut adalah tabel yang menampilkan perjanjian tanda P dan Q di sisi sumber (kirim).

Tabel II.8. Arti Tanda P dan Q di Sisi Sumber

P Q Arti
+ + Sumber tegangan memberi P & memberi Q
+ - Sumber tegangan memberi P & menerima Q
- + Sumber tegangan menerima P & memberi Q
- - Sumber tegangan menerima P & menerima Q


Sedangkan di sisi beban (terima), +Q berarti daya reaktif induktif (beban menyerap daya reaktif),
–Q berarti daya reaktif kapasitif (beban memberi daya reaktif), sedangkan P selalu + (beban
menerima daya aktif).

II.3 Teori Singkat Kompensasi Seri
Aliran daya aktif dan daya reaktif pada jaringan transmisi tenaga listrik tidak berkaitan secara
langsung satu dengan yang lain karena masing-masing dipengaruhi dan diatur oleh besaran yang
berbeda. Walaupun pengaruh kompensasi seri akan meningkatkan keduanya. Pengaturan daya aktif
amat erat hubungannya dengan pengaturan frekuensi, dan daya reaktif dapat diatur melalui
pengaturan tegangan. Frekuensi dan tegangan adalah besaran yang penting dalam penentuan
kualitas catu daya dalam sistem tenaga, sehingga pengaturan daya aktif dan daya reaktif menjadi
penting untuk menunjukkan penampilan sistem tenaga listrik. Tegangan dan frekuensi pada setiap
titik beban diharapkan konstan dan bebas dari harmonik serta besar faktor daya satu. Kemampuan
sistem tenaga untuk mendekati kondisi ideal di atas merupakan ukuran kualitas suatu pengiriman
daya [1].

Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 13 -
Agar efisiensi dan kemampuan operasi sistem tenaga meningkat, pengaturan tegangan dan daya
reaktif harus memenuhi sasaran sebagai berikut :
− Tegangan yang dipakai pada terminal-terminal peralatan dalam sistem tersebut harus dalam batas
yang diijinkan. Jika menggunakan tegangan di luar batas kemampuan, akan mengakibatkan efek
yang buruk bagi suatu peralatan.
− Meningkatkan stabilitas sistem sampai mendekati nilai maksimalnya agar dicapai suatu keadaan
yang mendekati ideal.
− Mengurangi susut energi I
2
X
sal
untuk memaksimalkan penyaluran energi pada STTL.

Karena daya reaktif tidak dapat ditransmisikan dalam jarak yang jauh, maka diperlukan peralatan
tambahan untuk mengatasinya. Berkaitan dengan hal tersebut, selanjutnya akan dibicarakan
mengenai teori kompensasi secara singkat dibawah ini.

Kompensasi artinya proses penggantian kerugian atau cara untuk mengganti kerugian. Secara
sederhana bisa juga diartikan sebagai proses pengimbangan. Kompensasi pada saluran transmisi
tenaga listrik (STTL) pada dasarnya adalah memasukkan atau menyisipkan dengan sengaja
peralatan penghasil/penyerap daya reaktif pada sistem tenaga listrik.

STTL aliran atas atau aliran udara memerlukan peralatan kompensasi. Hal ini dimaksudkan untuk
meningkatkan penampilan saluran, antara lain menstabilkan tegangan kerja antara sisi kirim dan
sisi terima, memperkecil panjang elektrik saluran sehingga menaikkan hantaran dayanya.

Peralatan-peralatan kompensasi pada saluran transmisi antara lain reaktor shunt, kapasitor shunt,
kapasitor seri, atau penggabungan diantaranya. Kompensasi reaktor shunt biasanya digunakan pada
saluran transmisi jarak menengah (80 – 250 km), kompensasi dengan kapasitor seri atau kombinasi
reaktor shunt dengan kapasitor seri digunakan pada saluran transmisi jarak jauh (> 250 km).

Selain hal tersebut di atas, pada teori kompensasi, ada yang disebut derajat kompensasi (S) :
Derajat kompensasi (S) pada kompensasi reaktor shunt adalah B
L
/B
C
, dimana B
L
adalah
suseptansi induktif dari reaktor shunt dan B
C
adalah suseptansi kapasitif dari STTL per fasa.
Derajat kompensasi (S) pada kompensasi seri adalah X
C
/X
sal
, dimana X
C
adalah reaktansi
kapasitif dari kapasitor seri dan X
sal
adalah reaktansi induktif dari STTL per fasa.

Derajat kompensasi seri umumnya pada kisaran 25 % - 70 % [1], sedangkan menurut [7] antara 40
% - 60 %. S yang terlalu besar apalagi mendekati 100 % harus dihindari karena akan menyebabkan
resonansi seri.


Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 14 -

Kompensasi seri dilakukan dengan memasang kapasitor secara seri disalah satu atau kedua ujung
STTL, atau di tengah STTL. Pemasangan di tengah saluran akan memakan biaya lebih mahal
karena membangun gardu khusus baru. Prinsip utamanya adalah mengurangi reaktansi ekivalen
saluran (X
sal
) dengan memasukkan reaktansi kapasitif kapasitor secara seri ke STTL. Dengan
begitu, berdasarkan persamaan (II.2) sampai (II.5), harga P dan Q bisa ditingkatkan. Pengurangan
X
sal
juga akan memperbaiki jatuh tegangan saluran sehingga regulasi tegangan menjadi lebih baik.
Lihat persamaan-persamaan berikut.

Dari Persamaan (II.2) sampai (II.5), setelah dipasang kompensasi seri, didapat :

'
k
P
'
'
sin
t
C sal
t k
P
X X
V V
=

= δ (II.6)

C sal
t t k
t
X X
V V V
Q


=
2 ' '
'
) ( cosδ
;
C sal
t k k
k
X X
V V V
Q


=
δ cos
' 2
'
(II.7)

Gambar II.4, sebagai bukti persamaan (II.6), menampilkan kurva P sebagai fungsi sudut daya jika
X
sal
diubah-ubah.








Gambar II.4. Pengaruh Kompensasi Seri Terhadap P

Perbaikan regulasi tegangan terlihat dari persamaan berikut, yaitu dengan berkurangnya jatuh
tegangan di STTL (V) :
) )( (
sal t k
X I V V V = − = ∆ sebelum dikompensasi seri (II.8)
( )( )
C sal t k
X X I V V V − = − = ∆
'
' setelah dikompensasi seri (II.9)

Berarti, V’ < V. Dimana V = V
k
–V
t
= IX
sal
, sehingga V’
t
> V
t
. Perbaikan regulasi tegangan juga
ditunjukkan oleh Gambar II.5 dan II.6.


Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 15 -






Gambar II.5. STTL Dikompensasi Seri








Gambar II.6. Diagram Fasor Untuk Gambar II.5

dimana, V
t
= tegangan sisi terima sebelum dikompensasi seri
V
k
= tegangan sisi kirim = konstan
V’
t
= tegangan sisi terima setelah dikompensasi seri V’
t
> V
t

Ø
t
= sudut fasa antara I dan V
t
= sudut fasa beban = konstan
Ø
k
= sudut fasa antara I dan V
k
= sudut fasa sistem (yang dilihat dari sumber)
I = arus STTL
IX
sal
= V = jatuh tegangan saluran sebelum dikompensasi seri
IX
C
= jatuh tegangan dikapasitor seri
I(X
sal
-X
C
) = V ’ = jatuh tegangan saluran setelah dikompensasi seri
= sudut daya antara V
k
dan V
t
sebelum dikompensasi seri
’ = sudut daya antara V
k
dan V’
t
setelah dikompensasi seri


Maka, bisa diperoleh persamaan tegangan (berdasarkan Gambar II.5 dan II.6) yaitu :
) )( (
sal t k
X I j V V + = sebelum dikompensasi seri (II.10)
( )
C sal t k
X X I j V V − + = ) (
'
setelah dikompensasi seri (II.11)

II.3.1 Perbandingan Dengan Kompensasi Shunt
Metode kompensasi lain disamping kompensasi seri adalah kompensasi shunt. Ada dua jenis
kompensasi shunt, yaitu dengan kapasitor shunt dan reaktor shunt. Tujuan kompensasi reaktor
shunt jelas berbeda dengan kompensasi seri, yaitu menurunkan tegangan terima saat beban ringan
dengan cara memasukkannya ke STTL dan menaikkan tegangan terima saat beban penuh dengan
cara melepasnya dari STTL. Artinya, reaktor shunt akan menyerap daya reaktif saluran. Sedangkan
kompensasi kapasitor shunt memiliki tujuan yang sama dengan kompensasi seri dalam hal
tegangan, tapi efeknya sedikit berbeda dalam hal peningkatan hantaran daya saluran.

Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 16 -
Penjelasan tersebut dikuatkan oleh persamaan-persamaan berikut. Persamaan (II.2) dan (II.4)
adalah sama dengan Persamaan (II.12) :
δ
θ
sin
sin
C
t k
Z
V V
P = sebelum dikompensasi seri (II.12)

Umumnya harga <<, sehingga sin . Maka penyebut di Persamaan II.12 menjadi :
( )
sal C C
X Ll LC l
C
L
Z Z = =
|
|
.
|

\
|
= = ω ω θ θ ) )( ( sin (II.13)
dimana,
Z
C
= impedansi karakteristik STTL sebelum kompensasi ()
= panjang elektrik STTL sebelum kompensasi (° atau radian)
l = panjang STTL (km)
L = induktansi STTL (H)
C = kapasitansi STTL (F)
= 2f

Setelah STTL dikompensasi seri, Persamaan (II.12) menjadi :

'
'
'
sin
' sin
' δ
θ
C
t k
Z
V V
P = setelah dikompensasi seri (II.14)

Kompensasi reaktor shunt akan menyebabkan ’< dan Z
C
’>Z
C
. Sehingga kompensasi reaktor
shunt belum tentu menaikkan hantaran daya STTL.
Kompensasi kapasitor shunt akan menyebabkan ’> dan Z
C
’<Z
C
. Sehingga kompensasi kapasitor
shunt juga belum tentu menaikkan hantaran daya STTL.
Hanya kompensasi seri yang mampu menurunkan Z
C
dan , sehingga hantaran daya STTL akan
naik dengan pasti.

II.3.2 Letak Kapasitor Seri Pada Saluran
Berdasarkan kajian literatur yang dilakukan, ada beberapa pendapat yang sedikit berbeda mengenai
lokasi yang tepat bagi kapasitor seri

agar ia bisa bekerja secara optimal terutama untuk fungsinya
sebagai kompensator daya reaktif.
Menurut Tagare [15], kapasitor seri tidak cocok ditempatkan dekat dengan sumber (sisi kirim).
Karena hal itu akan menyebabkan tegangan STTL naik melebihi batas yang diijinkan. Pada STTL
nominal T dengan cabang T yang banyak (berarti STTL bertegangan tinggi), ia akan optimal jika
diletakkan sejauh 1/3 atau 2/3 dari sisi kirim (sumber). Tetapi hal ini juga bergantung pada kondisi
bebannya.

Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 17 -


Menurut Gönen [3], secara umum lokasi terbaik kapasitor seri di jaringan dapat ditentukan
melalui pengoptimalan rugi-rugi daya dan pengaturan tegangan. Penelitian tentang profil tegangan
STTL sangat penting untuk menjamin letak kapasitor yang paling efektif. Menurut Gönen,
setidaknya ada 9 langkah perhitungan yang harus dilakukan untuk menentukan letak kapasitor seri
di suatu jaringan. Gönen tidak menyebutkan pola-pola tertentu seperti yang disebutkan oleh
Tagare.
Menurut Rahman [12], dalam tugas akhirnya yang membahas tentang analisa kinerja jaringan
500 kV (saluran panjang) tanpa kompensasi dan dengan kompensasi kapasitor seri. Kedua sistem
itu dibandingkan saat bekerja pada frekuensi normal (50 Hz) dan saat frekuensi dibawah normal
(48,5 Hz). 48,5 Hz bisa terjadi saat ada gangguan atau pembangkitan berkurang. Analisa kinerja
meliputi tegangan terima, daya aktif, dan daya reaktif dengan letak kapasitor seri yang dipindah-
pindah (di sisi kirim, sisi terima, di kedua sisi, dan di tengah saluran). Ternyata, menurut Rahman,
penempatan kapasitor seri di tengah saluran lebih baik dibandingkan ditempat lain di sepanjang
saluran. Hal itu dilihat dari segi kenaikan kebutuhan daya reaktif saluran yang minimum. Namun
hal itu lebih mahal karena harus membangun gardu induk baru.
Menurut Adhianto [1], dalam tugas akhirnya yang mengambil data dari salah satu jaringan EHV
500 kV interkoneksi Jawa-Bali yaitu saluran transmisi dari Bandung Selatan ke Ungaran (saluran
panjang). Adhianto meneliti tujuh macam rangkaian yang akan dipilih mana yang paling optimal.
Parameter yang diambil sebagai bahan penelitian adalah panjang jaringan dan faktor rugi-rugi
jaringan. Kedua parameter tersebut diujikan kepada tujuh rangkaian di atas untuk diteliti mana
yang paling baik dalam hantaran daya maksimumnya. Ternyata, menurut Adhianto, rangkaian
dengan kapasitor seri yang diletakkan di ujung terima adalah yang paling baik.
Menurut Rao [13], biasanya kapasitor seri diletakkan di sisi terima dari saluran panjang. Dia juga
menuliskan bahwa perbedaan utama antara kapasitor seri dan kapasitor shunt adalah pada
kemampuan penyaluran dayanya.
Menurut Schultz, Prof. [14] dari perusahaan Leybold Didactic di Jerman, pada model saluran
transmisi 380 kV (ultra-high voltage) yang dirancangnya, Schultz meletakkan kapasitor seri
sebagai kompensator di sisi terima (sisi beban).

II.3.3 Alasan Tertundanya Penggunaan Kompensasi Seri
Meskipun keuntungan-keuntungan kompensasi seri telah diketahui sejak lama, namun
perkembangannya kalah cepat dibandingkan kapasitor shunt karena memerlukan metode-metode
khusus untuk mengatasi kerugiannya [15] :


Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 18 -
a. Pada dasarnya bila gangguan terjadi pada STTL berkompensasi seri , sehingga menyebabkan
pemadaman, arus gangguan yang timbul akan mengalir melalui kapasitor seri. Tegangan di
kapasitor seri yang muncul akibat arus gangguan tersebut akan besar sekali melebihi
kemampuan desainnya. Pada aplikasi-aplikasi terdahulu, kapasitor serinya akan meledak.
Ada dua cara untuk mengatasinya :
Meningkatkan ketahanan kapasitor, yaitu dengan cara melakukan pengujian dan
perancangan kapasitor dengan rating tegangan yang lebih tinggi. Cara ini tentu saja tidak
ekonomis (mahal).
Memasang peralatan proteksi tegangan-lebih yang bisa melepas kapasitor seri secepat
mungkin saat ada gangguan dan memasukkannya kembali jika gangguan telah berlalu
sehingga sistem tetap stabil. Cara ini lebih banyak dipakai. Contohnya adalah dengan
menggunakan celah percikan (spark gap) dan metode flip-flop [15].
b. Kapasitor seri mengubah frekuensi resonansi natural dari STTL turun sampai sedikit di
bawah frekuensi nominalnya. Jika ada gangguan pada frekuensi resonansi natural tersebut
maka akan timbul sub-synchronous resonance (SSR) yang mewakili selisih antara dua
frekuensi. SSR akan menimbulkan masalah serius pada poros generator.
c. Karena permasalahan di item a dan b, maka diperlukan lebih banyak circuit breaker (CB)
untuk melindungi kapasitor seri sehingga biaya lebih mahal. Biaya yang mahal ini menjadi
salah satu hambatan untuk mengembangkannya.

II.4 Teori Singkat PWM
Teknik kendali PWM (Pulse Width Modulation) banyak dipakai di industri-industri terutama
sebagai penggerak mesin-mesin listrik atau inverter. Namun dipenelitian ini PWM akan diterapkan
pada jaringan sistem tenaga listrik. Prinsip dasar PWM adalah membandingkan gelombang
pembawa (carrier) dengan gelombang acuan (reference). Jenis-jenis kendali PWM di bawah ini
mengacu pada aplikasinya di inverter 1-fasa (1/2 jembatan) yang juga bisa dianalogikan untuk
aplikasi di jaringan sistem tenaga.

Single-PWM
Dalam kendali single-PWM, hanya ada satu pulsa per ½ perioda dan lebar pulsa bisa divariasikan
(diubah-ubah). Gambar II.7 menunjukkan pembangkitan sinyal penyulutan untuk dua buah saklar
daya. Sinyal penyulutan dibangkitkan dengan cara membandingkan sinyal referensi (dengan
amplitudo A
ref
) dengan gelombang segitiga (dengan amplitudo A
carr
). Frekuensi gelombang segitiga
menentukan frekuensi fundamental tegangan keluaran inverter. Dengan mengubah-ubah A
ref
dari 0
sampai A
carr
, maka lebar pulsa () dapat diubah dari 0° sampai 180°. Perbandingan A
ref
terhadap
A
carr
merupakan variabel kendali dan disebut sebagai duty cycle (indeks modulasi),

carr
ref
A
A
D = (II.15)
Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 19 -











Gambar II.7. Single-PWM

Di pengendalian dengan single-PWM, harmonik yang dominan muncul adalah harmonik ketiga,
dan distortion factor akan meningkat tajam pada tegangan keluaran yang rendah (di inverter).

Multiple-PWM (MPWM) atau Uniform-PWM (UPWM)
Kandungan harmonik dapat dikurangi dengan menggunakan beberapa pulsa per ½ perioda
tegangan keluaran. Pembangkitan sinyal penyulutan (untuk meng-ON-kan dan meng-OFF-kan
saklar daya) sama prinsipnya dengan single-PWM seperti ditunjukkan Gambar II.8. Frekuensi
sinyal referensi akan menentukan frekuensi keluaran inverter (f
o
), dan frekuensi sinyal segitiga
(f
carr
) akan menentukan jumlah pulsa per ½ perioda (p). Hal ini sedikit berbeda dengan single-
PWM. Indeks modulasi (duty cycle) akan mengatur tegangan keluaran inverter.










Gambar II.8. MPWM atau UPWM

Jumlah pulsa per ½ perioda adalah :

o
carr
f
f
p
2
= f
carr
= f
pwm
(II.16)
Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 20 -
Variasi duty cycle (D) dari 0 sampai 1 akan mengubah-ubah lebar pulsa dari 0 sampai /p dan
mengatur tegangan keluaran inverter dari 0 sampai V
s
(tegangan sumber). Urutan harmonik pada
MPWM (UPWM) sama dengan single-PWM. Distortion factor akan berkurang sekali
dibandingkan dengan single-PWM. Tetapi, karena proses pensaklaran yang lebih banyak, rugi-rugi
pensaklaran akan meningkat. Dengan jumlah p yang lebih besar, amplitudo lower-order harmonics
akan lebih kecil, tapi amplitudo beberapa higher-order harmonics akan naik. Hal ini bisa diatasi
dengan mudah melalui filterisasi.

Sinusoidal-PWM (SPWM)
Pada metode ini sinyal referensi yang digunakan adalah gelombang sinus. Berarti lebar tiap pulsa
akan berbeda-beda tergantung pada magnitud gelombang sinusnya. Distortion factor dan lower-
order harmonics akan berkurang jauh dibandingkan dengan metode single-PWM maupun MPWM
(UPWM). Sinyal penyulutan dibangkitkan dengan cara membandingkan sinyal referensi sinusoidal
dengan gelombang pembawa (segitiga) berfrekuensi f
carr
(lihat Gambar II.9). Frekuensi sinyal
referensi (f
ref
) akan menentukan frekuensi keluaran inverter (f
o
). Hal ini serupa dengan metode
MPWM (UPWM), tapi berbeda dengan metode single-PWM. Sedangkan amplitudo puncak
referensi (A
ref
) mengatur duty cycle (D) dan tegangan keluaran efektif inverter (V
o
). Jumlah pulsa
per ½ perioda bergantung pada f
carr
(f
carr
= f
pwm
). Sinyal penyulutan juga bisa dibangkitkan dengan
bentuk gelombang segitiga yang unidirectional seperti di Gambar II.9 bagian terbawah.

















Gambar II.9. Sinusoidal-PWM (SPWM)

Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 21 -

Harga efektif tegangan keluaran inverter dapat diubah-ubah dari 0 sampai V
s
(tegangan sumber
inverter) dengan cara mengubah duty cycle (D) dari 0 sampai 1. Pada metode SPWM ini, distortion
factor berkurang jauh dibandingkan metode MPWM (UPWM). Metode ini juga menghilangkan
semua harmonik yang berharga 2p-1. Untuk p = 5, lower-order harmonics – nya adalah yang
kesembilan.






























Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 22 -
BAB III
PEMANFAATAN TEKNIK PWM UNTUK KOMPENSASI SERI TERKENDALI

III.1 Pendahuluan
Kompensasi seri yang terkendali telah lama dikenal dan diaplikasikan. Tahun 1992, TCSC pertama
kali dipasang di gardu Kayenta (seperti sudah disinggung pada Bab I). Di Bab I pun telah
diterangkan silsilah perkembangan kompensasi seri terkendali. Ada tiga alasan utama mengapa
kompensasi seri perlu dikendalikan :
Masalah kebutuhan kapasitor bank yang kapasitansinya belum tentu sesuai dengan yang
tersedia di pasaran. Bila harga arus/tegangan yang dikenakan pada kapasitor bank bisa diatur,
maka kendala ini bisa diatasi.
Masalah kondisi beban listrik yang selalu berfluktuasi sehingga kebutuhan daya reaktif yang
tidak selalu sama. Saat daya beban kecil, jatuh tegangan STTL (IX
sal
) tidak terlalu besar. Pada
kondisi inilah dibutuhkan reaktansi kapasitif (X
C
) yang kecil untuk mengompensasi STTL, atau
bisa jadi tidak perlu dikompensasi. Saat daya beban besar, jatuh tegangan STTL akan naik. Di
saat itulah dibutuhkan reaktansi kapasitif yang lebih besar untuk mengurangi jatuh tegangan
STTL. Bila harga arus/tegangan yang dikenakan pada kapasitor bank bisa diatur, maka
fluktuasi beban listrik dapat dilayani dengan lebih baik tanpa menyebabkan melonjaknya
tegangan sisi terima saat daya beban ringan (disebut efek ferranti). Pada kompensasi seri
konvensional (fixed series compensation) biasanya juga dikombinasi dengan kompensasi
reaktor shunt untuk mengatasi efek ferranti ini [1]. Jika kompensasi seri bisa dikendalikan,
kebutuhan akan reaktor shunt yang mahal bisa dikurangi atau ditiadakan sama sekali.
Masalah peletakan kapasitor seri yang paling optimal di STTL, seperti telah dijelaskan di sub
II.3.2. Jika kompensasi seri bisa dikendalikan, maka letak kapasitor seri cukup ditengah STTL
untuk menghindari akibat sampingan seperti yang diungkapkan Tagare [15] dan Gönen [3].

Prinsip umum kompensasi seri terkendali bisa dijelaskan melalui persamaan dasar kapasitor, bahwa
tegangan kapasitor bisa diubah-ubah dengan mengatur harga & lama arus yang melaluinya :

=
t
c c
dt t i
C
t v
0
) (
1
) ( (harga sesaat) (III.1)
( ) { }

= =
T
c c c c
dt t v
T
I jX V
0
2
1
(harga efektif / kondisi mantap)
T = ½ perioda sinusoidal

Berikut akan dijelaskan beberapa cara yang bisa digunakan untuk mengatasi tiga masalah tersebut
(yaitu ketidaksesuaian antara kapasitansi kapasitor yang dibutuhkan dengan kapasitansi kapasitor
yang tersedia di pasaran, masalah fluktuasi beban, dan letak kapasitor seri yang paling optimal).
Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 23 -

Cara I : dengan merangkai beberapa kapasitor, bisa secara seri maupun paralel atau kombinasi
keduanya, sehingga dapat memenuhi kapasitansi kapasitor yang dibutuhkan walaupun kapasitansi
yang dimaksud tidak ada di pasaran. Misalkan kapasitor yang dibutuhkan adalah C
1
= 120 µF,
memiliki kemampuan kerja (nominal) pada 90 A / 400 V, dan mampu mensuplai daya reaktif 120
KVAR. Sedangkan yang tersedia di pasaran adalah C
2
= 40 µF / 15 A / 400 V / 40 KVAR. Maka
rangkaian kapasitor bank –nya menjadi seperti yang ditampilkan Gambar III.1.

Gambar III.1. Ilustrasi Cara I

Namun cara I ini tidak mampu mengatasi kendala fluktuasi beban karena termasuk fixed
compensation, artinya pada kondisi beban yang berat dan ringan STTL akan selalu terkompensasi
oleh reaktansi kapasitif yang sama besar. Hal itu bisa menimbulkan melonjaknya tegangan sisi
terima saat kondisi beban ringan (disebut efek ferranti). Walaupun bisa diatasi dengan pemasangan
saklar mekanis dan reaktor shunt, tapi metode itu kurang responsif dan mahal.

Cara II : menggunakan salah satu jenis saklar daya, yaitu thyristor. Cara ini disebut TCSC [5,6,10]
dimana penjelasan dan gambarnya telah ditampilkan di Bab I.

Cara III : menggunakan jenis thyristor generasi yang lebih baru, yaitu GTO (Gate Turn-Off
thyristor). Cara ini disebut GTOCSC [6,8,11] dimana penjelasan dan gambarnya telah ditampilkan
di Bab I.

Cara IV : menggunakan teknik pensaklaran PWM. Cara ini disebut PWMCSC [2,9] yang gambar
rangkaiannya telah ditampilkan di Bab I. Semua kekurangan yang ada pada cara I, II, dan III
berhasil diatasi oleh metode ini. Metode PWMCSC pertama kali diajukan oleh Chu dan Pollock
[2], namun rangkaiannya masih tergolong rumit karena membutuhkan 12 saklar daya untuk sistem
3-fasa. PWMCSC oleh Chu dan Pollock memiliki prinsip yang sama dengan TCSC, yaitu
mengatur besarnya arus yang lewat di induktor sehingga reaktansi kapasitif kapasitor seri yang
masuk ke dalam STTL menjadi variabel disesuaikan dengan kebutuhan (kondisi beban listrik).
Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 24 -
Lopes, Fernandes, Neto, dan Joós [9] kemudian membuat topologi rangkaian PWMCSC dengan
keunggulan yang sama dengan Chu dan Pollock tetapi lebih sederhana, yaitu terdiri dari 4 saklar
daya, 3 trafo gandeng, dan penyearah dioda (untuk STTL 3-fasa). Sinyal PWM digunakan untuk
menyulut saklar-saklar daya sehingga arus yang melalui kapasitor bank bisa diatur besarnya.
Artinya, tegangan di kapasitor bank pun bisa divariabelkan dimana tegangan tersebut berbanding
lurus dengan harga reaktansi kapasitif kapasitor bank yang dibutuhkan untuk kompensasi seri
(Persamaan III.1). Cara untuk mengatur arus di kapasitor bank adalah dengan mengubah-ubah
lebar pulsa atau duty cycle (D = t
on
/ T) sinyal PWM (lihat Gambar III.2, III.3, dan I.4).














Gambar III.2. Ilustrasi Cara IV

III.2 Rangkaian PWMCSC
Gambar I.4 & III.3 menampilkan rangkaian daya PWMCSC (Pulse Width Modulation Controlled
Series Compensation) yang terpasang di STTL [9,16].

Gambar III.3. Rangkaian Ekivalen PWMCSC 1-Fasa
Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 25 -
Rangkaian PWMCSC terpasang secara seri di STTL (Gambar I.4). Dalam perspektif 1-fasa
(Gambar III.3), PWMCSC dapat diwakili oleh saklar daya dua-arah S
4
yang dirangkai paralel
dengan kapasitor yang terhubung seri dengan saklar daya dua-arah S
1
(saklar utama). S
1
dan S
4

bekerja saling berlawanan. Jika S
1
ON, berarti S
4
OFF, kapasitor terhubung ke STTL. Sebaliknya,
kapasitor terlepas dari STTL dan S
4
serta penyearah dioda menjadi tempat untuk mengalirkan arus
sekunder trafo. Semua saklar daya dikendalikan oleh sinyal PWM berfrekuensi tetap. Dengan
demikian terlihat bahwa untuk sistem 3-fasa, PWMCSC hanya membutuhkan empat buah saklar
daya [9]. Hal ini berbeda dengan rangkaian yang diusulkan oleh Chu dan Pollock [2] yang butuh
12 saklar daya untuk sistem 3-fasa. Dengan mengatur D (duty cyle) sinyal PWM, maka derajat
kompensasi seri (reaktansi kapasitif kapasitor bank) bisa diatur sesuai kebutuhan (kondisi beban).
Harga reaktansi kapasitif kapasitor bank berbanding lurus dengan tegangannya. Tegangan inilah
yang akan muncul disisi primer trafo gandeng (V
comp
) dan mengompensir X
sal
. Saat S
123
ON,
tegangan sesaat yang muncul disisi primer trafo gandeng (v
comp
) adalah tegangan jepit di X
LT

ditambah tegangan kapasitor yang dilihat oleh sisi primer trafo gandeng (v
inj
).

III.3 Komponen PWMCSC
Seperti tampak digambar III.3 dan I.4, PWMCSC memiliki empat komponen utama : trafo
gandeng, saklar daya dua-arah, penyearah dioda, dan kapasitor bank. Berikut penjelasan tentang
peran dan fungsi masing-masing komponen tersebut.

Trafo gandeng : diwakili oleh reaktansi bocor (X
LT
) yang diseri dengan trafo 1:1. Fungsinya untuk
menggandengkan perangkat PWMCSC dengan STTL secara seri, sehingga dalam kondisi kapasitor
masuk ke STTL ataupun terlepas dari STTL operasi pengiriman dayanya tidak terputus (terganggu)
dan frekuensi dari arus STTL (I) tidak terganggu. Trafo gandeng juga berfungsi untuk memisahkan
PWMCSC dan STTL sehingga arus yang lewat dikapasitor & saklar utama (I
C
= I
sek
I) bukanlah I
seperti pada TCSC dan GTOCSC, maka rangkaian sinkronisasi tidak lagi dibutuhkan. Trafo step-
up juga bisa digunakan jika komponen PWMCSC memiliki rating arus yang kecil. Sedangkan trafo
step-down digunakan bila komponen PWMCSC memiliki rating tegangan yang kecil.
Perbandingan belitan 1:1 biasa digunakan untuk memudahkan perhitungan parameter-
parameternya (lihat lampiran). Menentukan perbandingan belitan trafo gandeng berarti menentukan
tegangan maksimum dan arus maksimum yang akan dikenakan ke kapasitor (disesuaikan dengan
kebutuhan besarnya V
C
yang diinginkan). Sisi sekunder trafo gandeng dirangkai bintang (wye)
untuk menghilangkan harmonik tegangan kelipatan tiga (h = 3,6,9,...).

Saklar daya dua-arah : S
123
(saklar utama) berfungsi untuk mengatur besar dan lamanya arus
yang akan melalui kapasitor (I
C
). Dengan demikian harga V
C
bisa divariasikan sesuai kebutuhan
(lihat Persamaan III.1). Yang bertugas mengaktifkan S
123
dan S
4
adalah pulsa PWM (lihat Gambar
III.2). Mengubah-ubah harga V
C
dapat diperoleh dengan mengatur D, yaitu dengan cara menaik-
Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 26 -
turunkan amplitudo gelombang referensi (V
ref
) sinyal PWM. D didefinisikan sebagai perbandingan
antara t
on
dan T atau V
ref
dan V
carr
sinyal PWM (lihat Bab 2). Saat S
123
di-ON-kan, S
4
di-OFF-kan
sehingga arus sekunder trafo gandeng (I
sek
= I
C
) mengalir di kapasitor. Saat S
123
di-OFF-kan, S
4
di-
ON-kan arus sekunder trafo gandeng akan beralih ke penyearah dioda dan S
4
.

Penyearah dioda 3-fasa : akan menjalankan fungsinya saat S
4
di-ON-kan. Berarti ia berperan
sebagai tempat pelaluan arus sekunder trafo gandeng saat S
123
di-OFF-kan dan sebagai alat proteksi
bagi trafo gandeng. Bila arus sekunder trafo gandeng tidak dialihkan saat S
123
OFF, maka trafo
gandeng bisa rusak. Selama S
4
ON, sisi sekunder trafo gandeng dihubung-singkat sehingga V
comp

adalah jatuh tegangan di X
LT
. Konstruksi 3-fasa digunakan karena STTL-nya juga 3-fasa sehingga
akan menghemat jumlah saklar daya yang digunakan untuk mengalihkan I
sek
(cukup satu saklar
daya S
4
saja).

Kapasitor bank : merupakan komponen utama dari PWMCSC. Fungsinya untuk mengompensasi
rugi-rugi reaktansi induktif saluran (IX
sal
).

III.4 Pemilihan Saklar Daya Dua-Arah
Karena pulsa yang digunakan untuk menyulut saklar daya berbasis sinyal PWM dan aplikasinya
pada STTL yang berdaya tinggi maka syarat pokok dalam memilih saklar daya adalah
berkecepatan tinggi, fully controllable, dan berdaya tinggi. Berarti jelas, thyristor tidak memenuhi
syarat kecepatan tinggi dan fully controllable. GTO memang fully controllable dan kecepatannya
juga lebih tinggi daripada thyristor, tapi butuh arus negatif yang besar untuk memadamkannya
sehingga rangkaian penyulutannya lebih rumit. MOSFET dan IGBT lebih cocok untuk aplikasi ini.
Selain memenuhi ketiga syarat di atas, untuk MOSFET & IGBT jenis baru tidak membutuhkan
rangkaian snubber dan membawa sifat parasitik dioda anti-paralel sehingga merupakan saklar daya
dua-arah. Tapi karena MOSFET memiliki harga yang jauh lebih murah daripada IGBT, maka
disini akan digunakan MOSFET.

IGCT dan MCT juga cocok dipilih, tapi keduanya masih dalam tahap pengembangan sehingga tak
ada di software PSIM. IGCT merupakan pengembangan lanjut dari GTO. Sedangkan MCT
menggabungkan sifat MOSFET dan thyristor.

III.5 Prinsip Kerja
S
123
disulut bersamaan oleh deretan pulsa PWM berfrekuensi tetap (f
sw
) dengan duty cycle (D) yang
bisa diubah-ubah. D didefinisikan sebagai perbandingan antara t
on
dan T atau antara V
ref
dan V
carr

sinyal PWM. Perubahan D dilakukan dengan mengatur amplitudo gelombang referensi. Bila saklar
utama (S
123
) di-ON-kan, tegangan sesaat yang muncul di sisi primer trafo gandeng (v
comp
) adalah
tegangan di reaktansi bocor trafo gandeng (X
LT
) ditambah tegangan kapasitor yang dilihat oleh sisi
Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 27 -
primer trafo (v
inj
). S
4
dikendalikan berlawanan dengan saklar utama. Bila saklar utama OFF,
melalui penyearah dioda, S
4
berperan sebagai tempat pelaluan i
sek
. Selama kondisi ini, sisi sekunder
trafo gandeng dihubung-singkat dan tegangan yang muncul di sisi primer (v
comp
) sama dengan
tegangan jepit di reaktansi bocor trafo (X
LT
).

Gambar III.4 dan III.3 bisa digunakan untuk membantu memahami prinsip kerja PWMCSC.
Tegangan di sisi primer trafo gandeng (V
comp
) memiliki dua komponen. Pertama, tegangan yang
terpotong-potong yang tertinggal 90° dari arus STTL (I). Tegangan tersebut merupakan hasil dari
tegangan yang muncul di kapasitor (V
C
) akibat pensaklaran PWM. Magnitudo V
C
merupakan
fungsi dari I dan D (lihat Persamaan III.5). Dengan kata lain, akibat dari proses ON-OFF disaklar
utama oleh sinyal PWM, V
C
akan dilihat sebagai V
inj
oleh STTL. Kedua, tegangan sinusoidal yang
disebabkan oleh jatuh tegangan di X
LT
. Tegangan ini mendahului arus STTL (I) sebesar 90°.
Sehingga komponen fundamental dari V
comp
adalah gabungan kedua komponen tersebut yang
tampak digambar III.4 (atas warna merah). Sedangkan I (atas warna biru), V
C
(bawah warna
merah), dan I
C
(bawah warna biru). V
comp
sepuncak dengan V
C
(lihat juga Gambar III.2). I sefasa &
sepuncak dengan I
C
.


Gambar III.4. I & V
comp
(atas) ; I
C
& V
C
(bawah)






Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 28 -
III.6 Persamaan Matematika Kondisi Mantap [9]
Anggap STTL 3-fasa setimbang. Analisa persamaan matematika kondisi mantap akan mengacu
pada rangkaian 1-fasa di Gambar III.3. Trafo gandeng diwakili oleh reaktansi bocor (X
LT
) yang
diseri dengan trafo 1:1. Di sisi sekunder trafo gandeng, terangkai dua saklar daya ideal yang
mampu bekerja dua-arah (S
1
dan S
4
), dan kapasitor bank dengan reaktansi X
C
. Sedangkan STTL
diwakili oleh impendansi seri (Z
sal
), tegangan kirim (V
k
), dan tegangan terima (V
t
).

Arus STTL dianggap sinusoidal dengan magnitud konstan :
( ) ( ) t I t i ω sin = (III.2)

Pengaruh kendali PWM dinyatakan oleh fungsi pensaklaran f(t) yang didapat dari deret Fourier
sinyal penyulutan di S
1
. Sinyal penyulutan tersebut merupakan deretan pulsa berfrekuensi tetap
(f
sw
) dengan duty cycle (D) yang variabel.
( ) ( )


=
+ =
1
cos
n
f n
t nk D D t f ω (III.3)
dimana,
D
n
= | (2/n) sin (nD) |
k
f
= perbandingan antara frekuensi pensaklaran PWM (f
sw
) dengan frekuensi nominal
arus/tegangan STTL (f
mains
)
= 2 f
mains


Arus yang melalui kapasitor (I
C
) dapat dirumuskan sebagai hasil kali dari I dan fungsi pensaklaran
PWM f(t) :
( ) t i
c
( ) ( ) t i t f =
( ) ( ) [ ] ( ) [ ] { }


=
− + + + =
1
1 sin 1 sin
2
sin
n
f f n
t nk t nk D
I
t DI ω ω ω (III.4)

Persamaan (III.4) menunjukkan bahwa harmonik arus dikapasitor merupakan kelipatan f
sw
(nk
f
± 1),
dimana n = 1,2,3,… . Sehingga harmonik tegangan dikapasitor, yang menimbulkan impedansi
rendah pada frekuensi tinggi, dapat diabaikan jika f
sw
bernilai tinggi. Maka,
( ) ( ) t DI X t v
c c
ω cos − ≈ (III.5)

Secara analogi, tegangan yang diinjeksikan ke STTL (V
inj
) dapat dihasilkan dari V
C
dan f(t) :
( ) ( ) ( ) [ ] ( ) [ ] { }


=
− + + − − ≈
1
2
1 cos 1 cos
2
cos
n
f f n
c
c inj
t nk t nk DD
I X
t I D X t v ω ω ω (III.6)

Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 29 -
Harga reaktansi yang dilihat oleh STTL saat frekuensi nominal (yang muncul di sisi primer trafo) :

LT Ceq comp
X X X + − = (III.7)

dimana X
Ceq
adalah reaktansi ekivalen kapasitor yang muncul karena proses pensaklaran. Harganya
bisa dihitung oleh :

c Ceq
X D X
2
= (III.8)

sehingga Persamaan (III.7) menjadi :

LT c comp
X X D X + − =
2
(III.9)

Gambar III.5 [9] menampilkan variasi harga X
comp
sebagai fungsi dari perubahan D. Kurva tersebut
didapat dari PWMCSC yang memiliki derajat kompensasi maksimum (S
max
) 30 % atau 0,3 pu dan
X
LT
= 0,0033 pu. S
max
diperoleh saat D = 1 atau saat kapasitor masuk ke STTL secara penuh seperti
pada fixed compensation, artinya saklar utama ON terus selama 1 perioda. Bila D > (X
LT
/X
C
)
(1/2)

maka harga reaktansi PWMCSC adalah kapasitif, sebaliknya induktif.







Gambar III.5. Variasi Harga X
comp
Sebagai Fungsi dari D

III.6.1 Harmonik Arus Di STTL [9]
Harmonik tegangan yang dibangkitkan oleh pensaklaran PWMCSC dan kemudian diinjeksikan ke
STTL dapat dihitung dari Persamaan (III.6) suku kedua. Harmonik tegangan tersebut merupakan
kelipatan dari f
sw
(nk
f
± 1), dimana n = 1,2,3,… .

Magnitud harmonik tegangan (V
inj

n
) yang muncul akan menyebabkan harmonik arus STTL,
dengan magnitud :

( )( )
LT sal f
n
inj
nk
X X nk
V
I
f
+ ±
=
±
1
1
(III.10)

dimana V
inj

n
adalah :

2
1 n c
n
inj
DD I X
V = (III.11)
Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 30 -

Maka, rasio antara magnitud harmonik arus STTL terhadap komponen fundamental didapat dari
substitusi Persamaan (III.11) ke Persamaan (III.10) :

( )( )
LT sal f
n c
nk
X X nk
DD X
I
I
f
+ ±
=
±
1 2
1
1
(III.12)

Reaktansi kapasitor bank dan reaktansi bocor trafo yang dinyatakan sebagai fungsi dari S
max
adalah:

sal
lt
c
X
X
S
X

=
1
max

sal
lt
lt
LT
X
X
S X
X

=
1
max
(III.13)

dimana X
lt
adalah reaktansi bocor trafo dalam pu atau %.

Substitusi Persamaan (III.13) ke (III.12) didapat :

( ) ( )
lt f
n
nk
X S
S
nk
DD
I
I
f
max
max
1
1
1 1 1 2 − − ±
=
±
(III.14)

Gambar III.6a [9] menunjukkan variasi magnitud maksimum dari harmonik yang dominan (k
f
-1)
sebagai fungsi dari k
f
untuk S
max
yang berbeda, pada D = 0,65. Sedangkan Gambar III.6b [9]
menunjukkan variasi magnitud maksimum dari harmonik yang dominan sebagai fungsi dari S
max

untuk k
f
yang berbeda. Kurva-kurva tersebut diambil pada X
lt
= 0,1 pu (10 %).













Gambar III.6.(a) Variasi Magnitud Maksimum Dari Harmonik Yang Dominan Sebagai Fungsi Dari k
f

(b) Variasi Magnitud Maksimum Dari Harmonik Yang Dominan Sebagai Fungsi Dari S
max



Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 31 -
Dari Gambar III.6 terlihat bahwa untuk menekan harmonik arus STTL sampai 1% dari komponen
fundamentalnya, f
sw
minimal harus 960 Hz (k
f
= 16), sistem f
mains
= 60 Hz [9]. Hal ini akan menjadi
pertimbangan saat kita memilih jenis saklar daya. Atau dengan cara lain, yaitu menggunakan multi-
module seperti pada [9].

III.6.2 Peningkatan Hantaran Daya Aktif [9]
Dengan mengecilnya harga X
sal
setelah dikompensasi oleh PWMCSC, berarti hantaran daya aktif
STTL akan membesar (lihat juga Bab II) :

( )
2
(%) max (%)
(%)
1
1
D X S X
X
P
lt lt
lt
− + −

= (III.15)

Gambar III.7 [9] menampilkan kurva P sebagai fungsi dari D.










Gambar III.7. Hantaran Daya Aktif Sebagai Fungsi Dari D


Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 32 -

BAB IV
SIMULASI, PENGUJIAN, DAN ANALISA

IV.1 Pendahuluan
Untuk menguji teori-teori yang telah disampaikan pada bab-bab sebelumnya, maka dalam
penelitian ini akan dilakukan studi kasus melalui simulasi dan pengujian di laboratorium. Studi
kasus yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :
a) Simulasi menggunakan perangkat lunak PSIM :
Sistem 1-fasa.
Sistem 3-fasa.
b) Pengujian di laboratorium :
Sistem 1-fasa.


IV.2 Simulasi 1-Fasa Menggunakan PSIM


Gambar IV.1. Rangkaian Simulasi 1-Fasa






Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 33 -
Tabel IV.1 menampilkan data-data STTL dan PWMCSC, sedangkan Tabel IV.2 merupakan jenis
beban linier yang digunakan dalam simulasi (dan juga pengujian nantinya).

Tabel IV.1. Data STTL & PWMCSC
Tegangan kirim V
k
= (100 ∠0°) V ; f
mains
= 50 Hz
Induktansi total
STTL per fasa
L = 29 mH/fasa
X
sal
= 9,1106 /fasa
Kapasitor bank per fasa C = 500 µF/fasa
X
C
= 6,3694 /fasa ; S
max
= 70%
Frekuensi PWM f
sw
= 1250 Hz k
f
= 1250/50 = 25.
Saklar daya S
utama
& S
4


Saklar daya dua-arah tanpa dioda internal.
Trafo gandeng
per fasa
(50V ; 5A)

Rasio belitan = 1: 1
Tahanan primer R
p
= 0,402
Tahanan sekunder R
s
=0,402
Induktansi primer L
p
=0,2722 mH
Induktansi sekunder L
s
=0,2722 mH
Induktansi pemagnetan L
m
= 0,3938 H
Tahanan rugi inti R
C
= 198,011


Tabel IV.2. Data Beban Linier
Beban impedansi ringan
(selanjutnya disebut beban ringan)
Z
1
= R
murni
= 19,5 = (19,5 ∠0°) Berarti daya beban besar
(I besar)
Beban impedansi sedang
(selanjutnya disebut beban sedang)
Z
2
= (19,5 + j5 mH) = (19,6 ∠4,6°) Berarti daya beban menengah
(I menengah)
Beban impedansi berat
(selanjutnya disebut beban berat)
Z
3
= (19,5 + j22 mH) = (21 ∠19,5°) Berarti daya beban kecil
(I kecil)

Bentuk-bentuk gelombang yang dihasilkan dari proses simulasi saat STTL berbeban berat (daya
beban kecil) diperlihatkan oleh Gambar IV.2 sampai Gambar IV.6 berikut, dengan harga D yang
diubah-ubah. Bandingkan dengan hasil pengujian di sub bab IV.4.

Gambar IV.2. Hasil Simulasi 1-Fasa Berbeban Berat Saat D = 0


Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 34 -



Gambar IV.3. Hasil Simulasi 1-Fasa Berbeban Berat Saat D = 0,2




Gambar IV.4. Hasil Simulasi 1-Fasa Berbeban Berat Saat D = 0,6




Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 35 -



Gambar IV.5. Hasil Simulasi 1-Fasa Berbeban Berat Saat D = 0,8




Gambar IV.6. Hasil Simulasi 1-Fasa Berbeban Berat Saat D = 1



Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 36 -
Tabel IV.3. Hasil Simulasi 1-Fasa Saat Beban Ringan (Daya Beban Besar)
D
(saklar utama)
V
t

(V)
I
(A)
V
C
(V)
I
C
(A)
V
comp
(V)
X
C
= (V
C
/I
C
)
()
S=(X
C
/X
sal
)x100
(%)
V ={(V
k
- V
t
)/V
k
}x100
(%)
P
k

(W)
P
t


(W)

Cos ø
k

Sisi
Kirim
Cos ø
t

Sisi
Terima
0 79,7511 4,48042 0,0453376 0,14156 3,68179 0,32027 3,515 20,25 390,251 374,233 0,906 0,987
0,2 80,2322 4,50072 6,92103 2,0165 4,61498 3,432 37,67 19,77 393,845 377,625 0,91 0,986
0,4 81,6954 4,55988 12,4856 2,90715 8,24173 4,294 47,132 18,30 404,487 387,683 0,922 0,986
0,6 84,1797 4,65235 18,6299 3,67097 14,2476 5,075 55,7 15,82 421,43 403,659 0,939 0,985
0,8 87,6601 4,76306 25,4638 4,40447 22,3288 5,781 63,45 12,34 442,319 423,262 0,96 0,985
1 91,8991 4,85911 32,8741 5,11859 32,2972 6,4225 70,5 8,1 461,296 440,769 0,98 0,985

Tabel IV.4. Hasil Simulasi 1-Fasa Saat Beban Sedang (Daya Beban Menengah)
D
(saklar utama)
V
t

(V)
I
(A)
V
C
(V)
I
C
(A)
V
comp
(V)
X
C
= (V
C
/I
C
)
()
S=(X
C
/X
sal
)x100
(%)
V ={(V
k
- V
t
)/V
k
}x100
(%)
P
k

(W)
P
t


(W)

Cos ø
k

Sisi
Kirim
Cos ø
t

Sisi
Terima
0 85,0135 4,34522 4,4797e-2 0,137283 3,57085 0,326 3,578 14,98 367,062 352 0,880 0,984
0,2 85,4401 4,36703 6,78246 1,95659 4,50165 3,466 38,043 14,56 370,8 355,536 0,884 0,984
0,4 86,7022 4,43143 12,1781 2,82530 8,04671 4,31 47,30 13,29 382,014 366,153 0,897 0,984
0,6 88,7338 4,53509 18,187 3,57854 13,9231 5,082 55,781 11,27 400,429 383,552 0,917 0,983
0,8 91,3144 4,66697 24,9638 4,31576 21,9021 5,78 63,442 8,68 424,598 406,311 0,943 0,983
1 93,8947 4,79952 32,4732 5,05602 31,9036 6,422 70,48 6,105 450,004 429,942 0,969 0,983

Tabel IV.5. Hasil Simulasi 1-Fasa Saat Beban Berat (Daya Beban Kecil)
D
(saklar utama)
V
t

(V)
I
(A)
V
C
(V)
I
C
(A)
V
comp
(V)
X
C
= (V
C
/I
C
)
()
S=(X
C
/X
sal
)x100
(%)
V ={(V
k
- V
t
)/V
k
}x100
(%)
P
k

(W)
P
t


(W)

Cos ø
k

Sisi
Kirim
Cos ø
t

Sisi
Terima
0 87,3681 3,85425 4,2917e-2 0,121754 3,167 0,3525 3,87 12,63 288,93 277,084 0,785 0,935
0,2 87,764 3,87725 6,28236 1,73720 4,08204 3,616 39,7 12,23 292,42 280,398 0,79 0,935
0,4 88,9176 3,94692 11,0295 2,51664 7,29460 4,383 48,11 11,08 308,938 290,590 0,804 0,935
0,6 90,7208 4,06537 16,4262 3,20831 12,6001 5,12 56,2 9,28 321,851 308,305 0,827 0,934
0,8 92,8797 4,23305 22,7237 3,91513 19,9579 5,804 63,71 7,12 349,319 334,291 0,861 0,933
1 94,7526 4,44232 30,0997 4,68057 29,5719 6,43 70,6 5,25 385,5 368,231 0,902 0,934




Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 37 -

IV.3 Pengujian 1-Fasa Di Laboratorium
Data-data yang digunakan dalam pengujian ini sama dengan data-data simulasi (Tabel IV.1 dan
Tabel IV.2), ditambah dengan data saklar daya S
1
dan S
4
di Tabel IV.6.

Tabel IV.6. Data Saklar Daya (MOSFET)
Tipe saklar daya :
IXBF 9N140 G, produksi
IXYS Semiconductor.
disebut BiMOSFET :
MOSFET dua arah
(reverse conduction
capability).
Tanpa dioda internal.
Tegangan maksimum
1400 V.
Arus maksimum 7 A.
Tegangan gate
minimum 10 V.


Sedangkan blok rangkaian dasar pengujiannya bisa dilihat digambar IV.7.


Gambar IV.7. Blok Rangkaian Pengujian 1-Fasa

IV.3.1 Rangkaian Pembangkit Sinyal Segitiga (V
carr
)
Gambar IV.8 menampilkan rangkaian pembangkit sinyal segitiga menggunakan IC tipe XR 2206
yang mampu menghasilkan frekuensi dari 0,01 Hz – 1 MHz. Resistor variabel R
1
berfungsi untuk
mendapatkan frekuensi segitiga yang diinginkan, dimana frekuensi segitiga sama dengan frekuensi
sinyal PWM (f
sw
). Sedangkan resistor variabel R
3
digunakan untuk mengubah-ubah amplitudo
sinyal segitiga. Keluaran kaki 2 bisa dilihat pada Gambar IV.10. XR 2206 membutuhkan catu daya
DC sebesar +15 Volt yang diperoleh dari rangkaian catu daya (pertama).






Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 38 -
XR 2206
4
Vcc = +15 Vdc
1 uF
11
2
13
14
15
16
Keluaran berupa sinyal segitiga
(dihubungkan ke komparator LM311)
12 3
+
10 uF
R3 = 50k
5,1 k
5,1 k
Vcc
10
+
1 uF
1
4 uF
5
6
9
8
1k R1 = 1M
7
(1)

Gambar IV.8. Pembangkit Sinyal Segitiga

IV.3.2 Rangkaian Pembangkit Sinyal DC Variabel (V
ref
)
Sinyal DC variabel dibutuhkan sebagai sinyal referensi/kontrol yang akan diumpankan ke
komparator (LM311). Amplitudo sinyal DC inilah yang akan menentukan duty cycle (D) sinyal
PWM. Untuk mendapatkan sinyal DC yang variabel digunakan catu daya (pertama) sebesar +12
V
dc
yang dihubungkan ke pembagi tegangan resistif. Lihat Gambar IV.9.


Gambar IV.9. Pembangkit Sinyal DC Variabel (V
ref
)

Kurva segitiga keluaran XR 2206 (V
carr
) dan kurva V
ref
tampak pada Gambar IV.10 dengan
frekuensi segitiga (f
carr
) 1250 Hz.



Gambar IV.10. Sinyal Segitiga & Sinyal DC (Skala 5 V/div ; 1 ms/div ; Probe x1)
V
carr
V
ref



Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 39 -

IV.3.3 Rangkaian Komparator
Gelombang PWM dapat dibangkitkan dengan cara membandingkan sinyal DC (V
ref
) terhadap
sinyal segitiga (V
carr
) menggunakan IC komparator tipe LM311. Pulsa PWM akan berharga 1 (high
atau ON) bila harga sesaat sinyal DC lebih besar daripada harga sesaat sinyal segitiga, sebaliknya
akan menghasilkan pulsa 0 (low atau OFF). LM311 membutuhkan catu daya (pertama) sebesar ±12
- ±15 Vdc. Rangkaian komparator terlihat di Gambar IV.11.



Gambar IV.11. Rangkaian Komparator LM311

IV.3.4 Rangkaian Driver
Keluaran LM311 (di kaki 7) adalah pulsa PWM sebagai hasil perbandingan sinyal DC terhadap
sinyal segitiga. Sinyal PWM dengan logika ON-OFF inilah yang akan digunakan untuk mengON-
OFFkan MOSFET S
1
dan S
4
. Namun sinyal tersebut masih kurang kuat untuk menyulut MOSFET
sehingga diperlukan rangkaian driver. Fungsi rangkaian driver antara lain adalah :
Sebagai antar-muka (interface) antara rangkaian kendali dan rangkaian daya.
Sebagai pemisah (electrical isolation) antara saklar daya dan sinyal logika/kendali PWM.
Sebagai penguatan (amplification) bagi sinyal kendali (PWM) agar mencapai tingkat tegangan
yang dibutuhkan untuk mengaktifkan saklar daya (MOSFET).

Karena ada dua MOSFET dirangkaian daya, maka dibutuhkan dua set rangkaian driver. Kedua
rangkaian driver tersebut harus dirancang agar menghasilkan pulsa-pulsa PWM yang bekerja
saling berlawanan. Gambar IV.12 menampilkan dua set rangkaian driver yang dimaksud. IC
optokopler (tipe 4N28) selain berfungsi sebagai penguat juga sebagai pemisah antara rangkaian
komparator LM311 dan driver serta pemisah antara driver S
1
dan driver S
4
.
Untuk driver S
4
: saat keluaran LM311 high (ON), maka dua buah dioda LED dan transistor
internal di optokopler akan ON pula. V
GS
akan ditarik ke ground (kaki 4 lebih positif daripada kaki
5) sehingga S
4
akan OFF. Sebaliknya, saat keluaran LM311 low (OFF), dua buah dioda LED dan
transistor internal di optokopler akan OFF pula. V
GS
akan ditarik ke +12 Vdc
(2)
(kaki 5 lebih
positif daripada kaki 4) sehingga S
4
akan ON.
Untuk driver S
1
: saat keluaran LM311 high (ON), maka dua buah dioda LED dan transistor
internal di optokopler akan ON pula. Kaki 4 akan ON jika dibandingkan dengan ground milik


Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 40 -
sumber +12 Vdc
(3)
yang dihubungkan melalui resistor 1k, sehingga S
1
akan ON. Sebaliknya, saat
keluaran LM311 low (OFF), dua buah dioda LED dan transistor internal di optokopler akan OFF
pula. Kaki 5 akan ON dan kaki 4 akan OFF, sehingga S
1
akan padam.


Gambar IV.12. Rangkaian Driver Untuk MOSFET

Sedangkan Gambar IV.13 merupakan kurva keluaran rangkaian driver (V
GS
) yang memiliki
amplitudo 10 Volt, f
pwm
= f
carr
= 1250 Hz, saat duty cycle (D) = 0,5.




Gambar IV.13. Kurva Keluaran Rangkaian Driver (V
GS
) Saat D=0,5
(Skala 5 V/div ; 0,5 ms/div ; Probe x1)

ON
ON
OFF
OFF


Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 41 -


IV.4 Hasil Pengujian 1-Fasa Saat Beban Berat
Berikut akan ditampilkan kurva-kurva V
C
dan V
comp
hasil pengujian 1-fasa saat beban berat (daya
beban kecil) pada berbagai harga D. Bandingkan dengan hasil simulasi di sub bab IV.2.




Gambar IV.14. Tegangan Kapasitor (V
C
) Saat Pengujian Beban Berat & D = 0
(Skala 5 mV/div ; 5 ms/div ; Probe x1)





Gambar IV.15. Tegangan Sisi Primer Trafo Gandeng (V
comp
) Saat Pengujian Beban Berat & D = 0
(Skala 1 V/div ; 10 ms/div ; Probe x10)








Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 42 -




Gambar IV.16. Tegangan Kapasitor (V
C
) Saat Pengujian Beban Berat & D = 0,2
(Skala 1 V/div ; 5 ms/div ; Probe x10)



Gambar IV.17. Tegangan Sisi Primer Trafo Gandeng (V
comp
) Saat Pengujian Beban Berat & D = 0,2
(Skala 0,2 V/div ; 2 ms/div ; Probe x10)





Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 43 -





Gambar IV.18. Tegangan Kapasitor (V
C
) Saat Pengujian Beban Berat & D = 0,6
(Skala 1 V/div ; 5 ms/div ; Probe x10)















Gambar IV.19. Tegangan Sisi Primer Trafo Gandeng (V
comp
) Saat Pengujian Beban Berat & D = 0,6
(Skala 0,5 V/div ; 5 ms/div ; Probe x10)










Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 44 -


Gambar IV.20. Tegangan Kapasitor (V
C
) Saat Pengujian Beban Berat & D = 0,8
(Skala 2 V/div ; 5 ms/div ; Probe x10)




















Gambar IV.21. Tegangan Sisi Primer Trafo Gandeng (V
comp
) Saat Pengujian Beban Berat & D = 0,8
(Skala 1 V/div ; 2 ms/div ; Probe x10)


Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 45 -



Gambar IV.22. Tegangan Kapasitor (V
C
) Saat Pengujian Beban Berat & D = 1
(Skala 5 V/div ; 5 ms/div ; Probe x10)


Gambar IV.23. Tegangan Sisi Primer Trafo Gandeng (V
comp
) Saat Pengujian Beban Berat & D = 1
(Skala 5 V/div ; 5 ms/div ; Probe x10)


Selanjutnya Gambar IV.24 menampilkan rangkaian lengkap kendali open-loop untuk pengujian di
laboratorium. Tabel IV.7 sampai IV.9 merupakan hasil pengujian 1-fasa (bandingkan dengan Tabel
IV.3 sampai IV.5). Sedangkan Gambar IV.25 sampai IV.27 adalah profil PWMCSC yang didapat
dari hasil simulasi dan pengujian/percobaan.






Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 46 -
4
N
2
8
4
N
2
8


Gambar IV.24. Rangkaian Elektronik Kendali Open-Loop Untuk Percobaan/Pengujian


Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 47 -

Tabel IV.7. Hasil Pengujian 1-Fasa Saat Beban Ringan (Daya Beban Besar)
D
(saklar utama)
V
t

(V)
I
(A)
V
C
(V)
I
C
(A)
V
comp
(V)
X
C
= (V
C
/I
C
)
()
S=(X
C
/X
sal
)x100
(%)
V ={(V
k
- V
t
)/V
k
}x100
(%)
P
k


(W)

Cos ø
k

Sisi
Kirim
Cos ø
t

Sisi
Terima
0 79,71 4,48 0,05 0,25 3,24 0,2 2,195 20,29 375,13 0,91 0,98
0,2 80,32 4,56 7,12 2,53 4,52 2,814 30,887 19,68 377,86 0,91 0,98
0,4 81,52 4,61 12,52 2,95 7,98 4,244 46,583 18,48 389,54 0,93 0,98
0,6 85,11 4,70 18,67 4,10 14,51 4,553 49,974 14,89 415,72 0,94 0,98
0,8 88,09 4,82 25,86 4,90 20,88 5,277 57,921 11,91 425,16 0,95 0,98
1 92,01 4,93 33,13 5,50 32,59 6,023 66,109 7,99 448,25 0,98 0,98

Tabel IV.8. Hasil Pengujian 1-Fasa Saat Beban Sedang (Daya Beban Menengah)
D
(saklar utama)
V
t

(V)
I
(A)
V
C
(V)
I
C
(A)
V
comp
(V)
X
C
= (V
C
/I
C
)
()
S=(X
C
/X
sal
)x100
(%)
V ={(V
k
- V
t
)/V
k
}x100
(%)
P
k


(W)

Cos ø
k

Sisi
Kirim
Cos ø
t

Sisi
Terima
0 86,00 4,45 0,05 0,20 3,57 0,25 2,744 14 355 0,88 0,97
0,2 86,21 4,49 7,08 2,42 4,42 2,925 32,105 13,79 355,61 0,88 0,97
0,4 87,85 4,54 12,61 2,89 8,2 4,363 47,889 12,15 360,82 0,89 0,97
0,6 88,72 4,59 18,88 3,66 15,23 5,158 56,615 11,28 380,42 0,90 0,97
0,8 91,67 4,67 25,03 4,84 21,89 5,171 56,758 8,33 406,27 0,95 0,97
1 94,33 4,82 32,50 6,01 32,55 5,407 59,348 5,67 430,18 0,97 0,97

Tabel IV.9. Hasil Pengujian 1-Fasa Saat Beban Berat (Daya Beban Kecil)
D
(saklar utama)
V
t

(V)
I
(A)
V
C
(V)
I
C
(A)
V
comp
(V)
X
C
= (V
C
/I
C
)
()
S=(X
C
/X
sal
)x100
(%)
V ={(V
k
- V
t
)/V
k
}x100
(%)
P
k


(W)

Cos ø
k

Sisi
Kirim
Cos ø
t

Sisi
Terima
0 87,52 3,89 1,43e-3 0,18 2,86 7,944e-3 0,087 12,48 276,81 0,78 0,93
0,2 87,81 3,91 10 2,25 4,86 4,444 48,778 12,19 282,43 0,79 0,93
0,4 89,35 3,99 13,42 2,53 7,36 5,304 58,218 10,65 290,77 0,81 0,93
0,6 91,42 4,26 15,71 3,36 10,71 4,675 51,313 8,58 309,15 0,82 0,93
0,8 93,61 4,54 23,86 3,88 24,28 6,15 67,503 6,39 334,52 0,88 0,93
1 94,94 4,78 31,07 5,03 29,97 6,177 67,800 5,06 370,16 0,90 0,93



Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 48 -
Profil Teg Sisi Primer Trafo (Vcomp) -
Duty Cycle (D)
0
10
20
30
40
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
V
c
o
m
p

(
V
o
l
t
)
Simulasi
Percobaan
Profil Reaktansi Kapasitif (Xc) - Duty Cycle (D)
0
1
2
3
4
5
6
7
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
X
c

(
o
h
m
)
Simulasi
Percobaan
Profil Hantaran Daya Aktif (P)-Duty Cycle (D)
320
340
360
380
400
420
440
460
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
P

(
W
a
t
t
)
Simulasi
Percobaan
Profil Tegangan Terima (Vt) - Duty Cycle (D)
70
75
80
85
90
95
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
V
t

(
V
o
l
t
)
Simulasi
Percobaan
Profil Jatuh Tegangan (V)-Duty Cycle (D)
0
5
10
15
20
25
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D

V

(
%
)
Simulasi
Percobaan
Profil Faktor Daya Kirim (Cos øk) - Duty Cycle (D)
0,86
0,88
0,9
0,92
0,94
0,96
0,98
1
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
C
o
s

ø
k
Simulasi
Percobaan




















Gambar IV.25. Profil PWMCSC 1-Fasa Saat Beban Ringan (Daya Beban Besar)




Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 49 -
Profil Tegangan Terima (Vt) - Duty Cycle (D)
80
85
90
95
100
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
V
t

(
V
o
l
t
)
Simulasi
Percobaan
Profil Teg Sisi Primer Trafo (Vcomp)-Duty Cycle (D)
0
10
20
30
40
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
V
c
o
m
p

(
V
o
l
t
)
Simulasi
Percobaan
Profil Reaktansi Kapasitif (Xc) - Duty Cycle (D)
0
2
4
6
8
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
X
c

(
O
h
m
)
Simulasi
Percobaan
Profil Jatuh Tegangan (V)-Duty Cycle (D)
0
5
10
15
20
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D

V

(
%
)
Simulasi
Percobaan
Profil Hantaran Daya Aktif (P)-Duty Cycle (D)
0
100
200
300
400
500
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
P

(
W
a
t
t
)
Simulasi
Percobaan
Profil Faktor Daya Kirim (Cos øk)-Duty Cycle (D)
0,8
0,85
0,9
0,95
1
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
C
o
s

ø
k Simulasi
Percobaan




















Gambar IV.26. Profil PWMCSC 1-Fasa Saat Beban Sedang (Daya Beban Menengah)





Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 50 -
Profil Teg Sisi Primer Trafo (Vcomp)-Duty Cycle (D)
0
5
10
15
20
25
30
35
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
V
c
o
m
p

(
V
o
l
t
)
Simulasi
Percobaan
Profil Reaktansi Kapasitif (Xc) - Duty Cycle (D)
0
2
4
6
8
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
X
c

(
O
h
m
)
Simulasi
Percobaan
Profil Hantaran Daya Aktif (P) - Duty Cycle (D)
0
100
200
300
400
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
P

(
W
a
t
t
)
Simulasi
Percobaan
Profil Faktor Daya Kirim (Cos øk) - Duty Cycle (D)
0,7
0,75
0,8
0,85
0,9
0,95
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
C
o
s

ø
k Simulasi
Percobaan
Profil Tegangan Terima (Vt) - Duty Cycle (D)
80
85
90
95
100
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
V
t

(
V
o
l
t
)
Simulasi
Percobaan
Profil Jatuh Tegangan (V) - Duty Cycle (D)
0
5
10
15
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D

V

(
%
)
Simulasi
Percobaan



















Gambar IV.27. Profil PWMCSC 1-Fasa Saat Beban Berat (Daya Beban Kecil)





Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 51 -

IV.5 Diskusi Hasil Simulasi & Pengujian 1-Fasa
Lihat kembali Gambar IV.2 sampai IV.6 dan Gambar IV.14 sampai IV.23. Kedua kelompok
gambar tersebut sebenarnya adalah gambar yang sama, hanya cara mendapatkannya saja yang
berbeda. Satu kelompok didapat dari hasil simulasi komputer sedangkan yang lain dari hasil
pengujian dilaboratorium. Keduanya diambil saat beban berat (daya beban kecil) pada berbagai
harga D. Saat D=0, STTL tidak dikompensasi karena S
1
OFF dan S
4
ON. Berarti kapasitor terlepas
dari STTL selama 1 perioda penuh (20 ms). Berarti V
comp
merupakan jatuh tegangan di X
LT
saja
yang mendahului I (V
comp
masih bersifat induktif). V
C
dan X
C
berharga sangat kecil karena I
C
juga
kecil (lihat Tabel IV.5 dan IV.9). Seiring dengan diperbesarnya harga D, maka V
comp
mulai
tertinggal dari I (V
comp
mulai bersifat kapasitif). Artinya STTL mulai dikompensasi sehingga harga
V
t
dan P
k
mulai membesar. Begitu juga dengan faktor daya sistem (Cos ø
k
) yang makin membaik.
Saat D=1, STTL dikompensasi penuh sama seperti pada fixed compensation, yaitu kapasitor masuk
ke STTL selama 1 perioda penuh (20 ms). Saat itulah derajat kompensasi maksimum (S
max
)
tercapai.

Dari Tabel IV.3 sampai IV.5 & Tabel IV.7 sampai IV.9 dapat dilihat bahwa saat beban ringan
(daya beban besar) harga D harus ditala pada harga 1. Saat beban sedang (daya beban menengah),
D harus ditala minimum pada 0,8. Sedangkan saat beban berat (daya beban kecil), D harus ditala
minimum pada 0,6. Berarti, saat beban ringan (daya beban besar), PWMCSC harus berada pada
tingkat kemampuan maksimalnya untuk menjaga agar V tidak merosot melampaui batas toleransi
(10 %).

Gambar IV.25 sampai IV.27 menampilkan perbandingan antara hasil simulasi dan
pengujian/percobaan 1-fasa pada berbagai tingkat pembebanan STTL.

IV.6 Simulasi 3-Fasa Menggunakan PSIM
Di sub bab ini akan dibahas simulasi PWMCSC 3-fasa menggunakan PSIM, masih dengan kendali
open-loop. Simulasi dilakukan untuk tiga tingkat pembebanan, namun kurva-kurva yang
ditampilkan disini adalah saat STTL berbeban berat (daya beban kecil). Hal tersebut dilakukan
karena beban berat dianggap telah mewakili beban ringan (daya beban besar) dan beban sedang
(daya beban menengah). Data-data STTL dan PWMCSC sama dengan yang ada di Tabel IV.1.

Gambar IV.28 adalah rangkaian simulasinya. Keempat saklar MOSFET memiliki dioda internal
yang anti-paralel sehingga MOSFET merupakan saklar daya dua-arah. Dioda pada S
4
tidak
berfungsi sama sekali. Khusus untuk PWMCSC 1-fasa (disub bab IV.2 & IV.3) MOSFET yang
digunakan juga merupakan saklar daya dua-arah tapi tidak boleh memiliki dioda agar sisi sekunder
trafo gandeng tidak langsung terhubung singkat pada ½ perioda sinusoidal.



Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 52 -

Gambar IV.28. Rangkaian Simulasi 3-Fasa













Gambar IV.29. Pembangkitan Sinyal PWM Untuk Simulasi



Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 53 -

Kurva-kurva hasil simulasi berikut diambil saat beban berat (daya beban kecil) untuk berbagai
harga D. Bandingkan dengan hasil simulasi dan pengujian 1-fasa (sub bab IV.2 dan IV.4).

Gambar IV.30. Hasil Simulasi 3-Fasa Berbeban Berat Saat D = 0


Gambar IV.31. Hasil Simulasi 3-Fasa Berbeban Berat Saat D = 0,2





Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 54 -



Gambar IV.32. Hasil Simulasi 3-Fasa Berbeban Berat Saat D = 0,4


Gambar IV.33. Hasil Simulasi 3-Fasa Berbeban Berat Saat D = 0,6






Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 55 -

Gambar IV.34. Hasil Simulasi 3-Fasa Berbeban Berat Saat D = 0,8


Gambar IV.35. Hasil Simulasi 3-Fasa Berbeban Berat Saat D = 1

Tabel IV.10 sampai IV.12 merupakan hasil simulasi 3-fasa untuk tiga tingkat pembebanan.
Bandingkan dengan tabel hasil simulasi dan pengujian 1-fasa.




Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 56 -
Tabel IV.10. Hasil Simulasi 3-Fasa Saat Beban Ringan (Daya Beban Besar)

I
(A)

V
C
(V)

I
C
(A)

V
comp
(V)

X
C
= (V
C
/I
C
)
()

S=(X
C
/X
sal
)x100
(%)
V ={(V
k
- V
t
)/V
k
}x100
(%)

D
(saklar
utama)

V
t
RS
(V
L-L
)
R S T R S T R S T R S T R S T R S T RS
0 79,66 2,586 2,586 2,586 0,0252 0,0183 0,0199 0,0812 0,0817 0,0813 2,125 2,125 2,125 0,310 0,223 0,244 3,402 2,447 2,678 20,34
0,2 80,129 2,597 2,597 2,598 3,644 3,416 3,391 1,164 1,163 1,163 2,568 2,503 2,494 3,130 2,937 2,915 34,355 32,127 31,995 19,871
0,4 81,622 2,632 2,633 2,633 6,757 6,767 6,756 1,677 1,677 1,677 4,487 4,491 4,483 4,029 4,035 4,028 44,223 44,289 44,212 18,378
0,6 84,166 2,688 2,688 2,688 10,459 10,459 10,459 2,120 2,120 2,120 7,987 7,987 7,987 4,933 4,933 4,933 54,145 54,145 54,145 15,834
0,8 87,733 2,755 2,755 2,755 14,499 14,499 14,499 2,546 2,546 2,546 12,695 12,695 12,695 5,694 5,694 5,694 62,498 62,498 62,498 12,267
1 92,115 2,814 2,814 2,814 18,855 18,855 18,855 2,963 2,963 2,963 18,501 18,501 18,501 6,363 6,363 6,363 69,841 69,841 69,841 7,885

Tabel IV.11. Hasil Simulasi 3-Fasa Saat Beban Sedang (Daya Beban Menengah)

I
(A)

V
C
(V)

I
C
(A)

V
comp
(V)

X
C
= (V
C
/I
C
)
()

S=(X
C
/X
sal
)x100
(%)
V ={(V
k
- V
t
)/V
k
}x100
(%)

D
(saklar
utama)

V
t
RS
(V
L-L
)
R S T R S T R S T R S T R S T R S T RS
0 84,974 2,507 2,507 2,507 0,0228 0,0183 0,0175 0,0792 0,0792 0,0792 2,060 2,060 2,060 0,287 0,231 0,22 3,15 2,535 2,414 15,026
0,2 85,389 2,52 2,52 2,52 3,514 3,307 3,298 1,129 1,129 1,128 2,488 2,429 2,423 3,112 2,929 2,923 34,158 32,149 32,083 14,611
0,4 86,692 2,558 2,558 2,558 6,565 6,576 6,562 1,63 1,63 1,63 4,366 4,37 4,362 4,027 4,034 4,025 44,201 44,278 44,179 13,308
0,6 88,79 2,62 2,62 2,62 10,194 10,194 10,194 2,066 2,066 2,066 7,792 7,792 7,792 4,934 4,934 4,934 54,156 54,156 54,156 11,21
0,8 91,465 2,699 2,699 2,699 14,205 14,205 14,205 2,494 2,494 2,494 12,444 12,444 12,444 5,695 5,695 5,695 62,509 62,509 62,509 8,535
1 94,187 2,779 2,779 2,779 18,621 18,621 18,621 2,926 2,926 2,926 18,272 18,272 18,272 6,363 6,363 6,363 69,841 69,841 69,841 5,813

Tabel IV.12. Hasil Simulasi 3-Fasa Saat Beban Berat (Daya Beban Kecil)

I
(A)

V
C
(V)

I
C
(A)

V
comp
(V)

X
C
= (V
C
/I
C
)
()

S=(X
C
/X
sal
)x100
(%)
V ={(V
k
- V
t
)/V
k
}x100
(%)

D
(saklar
utama)

V
t
RS
(V
L-L
)
R S T R S T R S T R S T R S T R S T RS
0 87,346 2,223 2,223 2,223 0,021 0,0161 0,0163 0,0702 0,0702 0,0702 1,826 1,826 1,826 0,299 0,229 0,232 3,281 2,513 2,546 12,654
0,2 87,732 2,236 2,236 2,236 3,192 2,955 2,932 1,001 1,001 1,001 2,232 2,164 2,154 3,188 2,952 2,929 34,992 32,401 32,149 12,268
0,4 88,925 2,277 2,277 2,277 5,84 5,851 5,842 1,451 1,45 1,451 3,895 3,899 3,892 4,024 4,035 4,026 44,168 44,289 44,190 11,075
0,6 90,798 2,347 2,347 2,347 9,131 9,131 9,131 1,851 1,851 1,851 6,994 6,994 6,994 4,933 4,933 4,933 54,145 54,145 54,145 9,202
0,8 93,051 2,446 2,446 2,446 12,874 12,874 12,874 2,26 2,26 2,26 11,29 11,29 11,29 5,696 5,696 5,696 62,520 62,520 62,520 6,949
1 95,060 2,57 2,57 2,57 17,221 17,221 17,221 2,706 2,706 2,706 16,898 16,898 16,898 6,364 6,364 6,364 69,852 69,852 69,852 4,94


Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 57 -


IV.7 Diskusi Hasil Simulasi 3-Fasa
Lihat kembali Gambar IV.30 sampai IV.35 yang diambil saat beban berat (daya beban kecil) pada
berbagai harga D. Saat D = 0, STTL tidak dikompensasi karena S
1
OFF dan S
4
ON. Berarti
kapasitor terlepas dari STTL selama 1 perioda penuh (20 ms). Berarti V
comp
merupakan jatuh
tegangan di X
LT
saja yang mendahului I (V
comp
masih bersifat induktif). V
C
dan X
C
berharga sangat
kecil karena I
C
juga kecil (lihat Tabel IV.10 sampai IV.12). Seiring dengan diperbesarnya harga D,
maka V
comp
mulai tertinggal dari I (V
comp
mulai bersifat kapasitif). Artinya STTL mulai
dikompensasi sehingga harga V
t
mulai membesar & V mengecil. Begitu juga dengan faktor daya
sistem (Cos ø
k
) yang makin membaik. Saat D =1, STTL dikompensasi penuh sama seperti pada
fixed compensation, yaitu kapasitor masuk ke STTL selama 1 perioda penuh (20 ms). Saat itulah
derajat kompensasi maksimum (S
max
) tercapai.

Dari Tabel IV.10 sampai IV.12 dapat dilihat bahwa saat beban ringan (daya beban besar) harga D
harus ditala pada 1. Saat beban sedang (daya beban menengah), D harus ditala minimum pada 0,8.
Sedangkan saat beban berat (daya beban kecil), D harus ditala minimum pada 0,6. Berarti, saat
beban ringan (daya beban besar), PWMCSC harus berada pada tingkat kemampuan maksimalnya
untuk menjaga agar V tidak merosot melampaui batas toleransi (10 %).

Perhatikan pula bahwa V
comp
selalu sepuncak dengan V
C
, sementara I selalu sefasa dan sepuncak
dengan I
C
. Hal ini menjadi bukti bahwa PWMCSC tidak memerlukan rangkaian sinkronisasi
dengan STTL.









Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 58 -

BAB V
ANALISA HARMONIK PWMCSC

V.1 Pendahuluan
Bab ini membahas analisa harmonik yang dibangkitkan oleh PWMCSC. Analisa akan mengacu
pada kurva hasil simulasi PSIM sistem 1-fasa yang kemudian diolah menggunakan perangkat
lunak Origin untuk mendapatkan spektrum harmonik V
comp
dan I.

V.2 Prinsip Dasar Harmonik
Harmonik adalah gangguan yang terjadi pada suatu sistem tenaga listrik yang disebabkan oleh
distorsi gelombang arus dan/atau tegangan. Pada dasarnya harmonik merupakan gejala
pembentukan gelombang dengan frekuensi berbeda pada kelipatan perkalian bilangan bulat dari
frekuensi fundamental. Frekuensi kelipatan itu disebut frekuensi harmonik yang muncul pada
bentuk gelombang aslinya, sedangkan angka bilangan bulat pengali frekuensi fundamental
disebut angka urutan harmonik. Sebagai contoh, frekuensi fundamental suatu sistem tenaga
listrik adalah 50 Hz, maka harmonik keduanya adalah gelombang dengan frekuensi 100 Hz,
harmonik ketiga adalah gelombang dengan frekuensi 150 Hz, dan seterusnya. Gelombang-
gelombang ini kemudian menumpang pada gelombang aslinya (yaitu 50 Hz sinusoidal murni)
sehingga terbentuk gelombang resultan yang cacat yang merupakan penjumlahan semuanya.
Gelombang cacat tersebut tentu saja tidak lagi berbentuk sinusoidal murni, lihat Gambar V.1.

Gambar V.1. Pengaruh Frekuensi Harmonik Pada Suatu Gelombang




Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 59 -
Akibat dari harmonik antara lain : menaikkan rugi-rugi mesin listrik sekaligus menurunkan
efisiensinya, kesalahan pengukuran, mengurangi umur kapasitor, mengganggu sistem
telekomunikasi, mengganggu kerja pemutus beban dan fuse, dsb.

V.3 Parameter Kandungan Harmonik
Untuk menyatakan kadar harmonik pada suatu gelombang tegangan dan/atau arus, digunakan
dua parameter berikut :
i. Harmonic Factor (HF), merupakan parameter yang menyatakan persentase kontribusi individual
harmonik tertentu (harmonik ke-h) terhadap komponen fundamentalnya.
% 100
1
) (
× =
V
V
HFv
h
h
dan
( )
% 100
1
× =
I
I
HFi
h
h
(V.1)

dimana V
h
= harga efektif tegangan komponen harmonik ke-h, V
1
= harga efektif tegangan
komponen fundamental, I
h
= harga efektif arus komponen harmonik ke-h, I
1
= harga efektif arus
komponen fundamental, dan h = harmonik ke-2,3,4,... .
ii. Total Harmonic Distortion (THD), merupakan parameter yang menginformasikan kecacatan
total atau seberapa besar ketidakmiripan suatu gelombang dibandingkan dengan gelombang
aslinya. THD dirumuskan sebagai berikut :
% 100
1
,... 3 , 2
2
× =


=
V
V
THDv
h
h
dan % 100
1
,... 3 , 2
2
× =


=
I
I
THDi
h
h
(V.2)

Karena,


=
=
1
2
h
h rms
V V dan


=
=
1
2
h
h rms
I I (V.3)

maka Persamaan (V.2) bisa ditulis menjadi Persamaan (V.4) :
% 100
1
2
1
2
×

=
V
V V
THDv
rms
dan % 100
1
2
1
2
×

=
I
I I
THDi
rms
(V.4)

V.4 Spektrum Harmonik V
comp
Dan I
Untuk menganalisa harmonik yang dibangkitkan PWMCSC akan dilakukan pengolahan kurva
V
comp
dan I hasil simulasi PSIM menggunakan perangkat lunak Origin. Origin merupakan
perangkat lunak yang khusus digunakan untuk menganalisa grafik. Sedangkan harga THD dan
HF dihitung dengan Microsoft Excel. Lihat Gambar V.2 sampai V.5, juga Lampiran G.



Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 60 -



































Gambar V.2. Spektrum HFv Dari V
comp

HFv Saat D = 0
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Harmonik Ke-
H
F
v

(
%
)
Beban Ringan Beban Sedang Beban Berat
HFv Saat D = 0,2
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Harmonik Ke-
H
F
v

(
%
)
Beban Ringan Beban Sedang Beban Berat
HFv Saat D = 0,4
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Harmonik Ke-
H
F
v

(
%
)
Beban Ringan Beban Sedang Beban Berat
HFv Saat D = 0,6
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Harmonik Ke-
H
F
v

(
%
)
Beban Ringan Beban Sedang Beban Berat
HFv Saat D = 0,8
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Harmonik Ke-
H
F
v

(
%
)
Beban Ringan Beban Sedang Beban Berat
HFv Saat D = 1
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Harmonik Ke-
H
F
v

(
%
)
Beban Ringan Beban Sedang Beban Berat



Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 61 -



































Gambar V.3. Spektrum HFi Dari I
HFi Saat D = 0
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Harmonik Ke-
H
F
i

(
%
)
Beban Ringan Beban Sedang Beban Berat
HFi Saat D = 0,2
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Harmonik Ke-
H
F
i

(
%
)
Beban Ringan Beban Sedang Beban Berat
HFi Saat D = 0,4
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Harmonik Ke-
H
F
i

(
%
)
Beban Ringan Beban Sedang Beban Berat
HFi Saat D = 0,6
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Harmonik Ke-
H
F
i

(
%
)
Beban Ringan Beban Sedang Beban Berat
HFi Saat D = 0,8
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Harmonik Ke-
H
F
i

(
%
)
Beban Ringan Beban Sedang Beban Berat
HFi Saat D = 1
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Harmonik Ke-
H
F
i

(
%
)
Beban Ringan Beban Sedang Beban Berat



Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 62 -

THDv Terhadap D
0
20
40
60
80
100
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1
D
T
H
D
v

(
%
)
Beban Ringan
Beban Sedang
Beban Berat

Gambar V.4. Kurva THDv Dari V
comp




THDi Terhadap D
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1
D
T
H
D
i

(
%
)
Beban Ringan
Beban Sedang
Beban Berat


Gambar V.5. Kurva THDi Dari I


Harga-harga pada kurva di Gambar V.2 sampai V.5 bisa dilihat pada halaman lampiran.









Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 63 -

V.5 Diskusi Hasil Simulasi Harmonik
Dari Gambar V.2 terlihat bahwa harmonik tegangan yang dibangkitkan oleh PWMCSC (V
comp
)
didominasi oleh harmonik ke-24 sampai ke-27. Persentase dominasi tersebut mulai tampak saat
saklar utama mulai di-ON-kan (yaitu D = 0,2), meningkat terus seiring dengan naiknya harga D.
Saat D = 1 dominasi tersebut hilang karena proses pensaklaran tidak ada lagi (saklar utama ON
terus selama 20 mdetik), begitu pula saat D = 0 (saklar utama OFF selama 20 mdetik). Hal ini
sesuai dengan teori di sub bab III.6.1 dimana harmonik V
comp
merupakan kelipatan (nk
f
± 1)
dengan k
f
= 1250/50 = 25. Untuk n = 1, harmonik V
comp
yang muncul adalah harmonik ke-24
sampai ke-26. Harmonik ini akan berulang pada harmonik ke-49 sampai ke-51 jika n = 2, dan
terus berulang untuk n = 3, 4,... .

Injeksi tegangan V
comp
ke STTL menyebabkan arus STTL (I) terganggu karena mengandung
harmonik. Kandungan harmonik pada I diperlihatkan oleh Gambar V.3 dimana harmonik arus
orde rendah memiliki persentase yang sangat kecil. Hal ini sesuai dengan teori PWMCSC yang
telah disampaikan di Bab I dan Bab III. Pada TCSC dan GTOCSC harmonik orde rendah masih
tinggi.

Sedangkan tingkat kecacatan gelombang V
comp
dan I ditunjukkan melalui kurva THD di Gambar
V.4 dan V.5. Persentase THDv menanjak naik dari D = 0 dan mencapai puncak saat D = 0,4.
Artinya pada rentang itu kurva V
comp
memiliki bentuk gelombang yang sangat menyimpang
dibandingkan gelombang aslinya (sinusoidal), karena dalam satu perioda (20 mdetik) saklar
utama lebih singkat di-ON-kan. Saat D > 0,4 THDv mulai mengecil, karena saklar utama lebih
lama menyala sehingga gelombang V
comp
lebih mendekati bentuk sinusoidal.

Berubah-ubahnya harga D (dan berarti diikuti pula oleh perubahan THDv) tidak banyak
berpengaruh dalam mendistorsi bentuk gelombang I. Hal ini terbukti pada Gambar V.5 dimana
kenaikan persentase THDi cenderung kecil, sekalipun saat D = 0,4. Artinya bentuk gelombang I
masih memiliki kemiripan yang tinggi terhadap gelombang aslinya (sinusoidal).










Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 64 -
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

VI.1 Kesimpulan Utama
Berikut disampaikan kesimpulan utama yang relevan dengan tujuan penelitian berdasarkan
simulasi dan pengujian/percobaan yang telah dilakukan :
(1) Hasil simulasi dan pengujian menunjukkan bahwa saat beban berat (daya beban kecil),
duty cycle (D) harus ditala minimum 0,6 untuk memperbaiki jatuh tegangan STTL (V).
Saat beban sedang (daya beban menengah), D harus dinaikkan minimal sampai 0,8.
Sedangkan saat beban ringan (daya beban besar), D harus mencapai 1, artinya kompensasi
penuh (seperti pada fixed compensation) terjadi dimana saklar daya utama akan ON terus
selama satu perioda sinusoidal (20 mdetik). Pada beban ringan (daya beban besar) inilah
dibutuhkan kemampuan maksimal PWMCSC agar V tidak merosot melampaui batas
toleransi (10 %).
(2) D = 0,6 setara dengan X
C
= 5,12 (menurut simulasi 1-fasa beban berat/daya beban kecil)
atau X
C
= 4,675 (menurut pengujian 1-fasa beban berat/daya beban kecil). D = 0,8 setara
dengan X
C
= 5,78 (menurut simulasi 1-fasa beban sedang/daya beban menengah) atau X
C
=
5,171 (menurut pengujian 1-fasa beban sedang/daya beban menengah). Sedangkan D = 1
setara dengan X
C
= 6,4225 (menurut simulasi 1-fasa beban ringan/daya beban besar) atau
X
C
= 6,023 (menurut pengujian 1-fasa beban ringan/daya beban besar). Harga X
C
itulah
yang mengurangi harga induktansi STTL (X
sal
) sehingga V dapat diperbaiki dan menaikkan
P
k
.
(3) Menurut simulasi 3-fasa : Pada beban berat (daya beban kecil) D = 0,6 setara dengan X
C
=
4,933 . Pada beban sedang (daya beban menengah) D = 0,8 setara dengan X
C
= 5,695 .
Sedangkan pada beban ringan (daya beban besar) D = 1 setara dengan X
C
= 6,363 .
Perhatikan pula bahwa V
comp
selalu sepuncak dengan V
C
, sementara I selalu sefasa dan
sepuncak dengan I
C
. Hal ini menjadi bukti bahwa PWMCSC tidak memerlukan rangkaian
sinkronisasi dengan STTL.
(4) Harmonik tegangan yang dibangkitkan oleh PWMCSC (V
comp
) didominasi oleh harmonik ke-
24 sampai ke-27. Persentase dominasi tersebut mulai tampak saat saklar utama mulai di-ON-
kan (yaitu D = 0,2), meningkat terus seiring dengan naiknya harga D. Saat D = 1 dominasi
tersebut hilang karena proses pensaklaran tidak ada lagi (saklar utama ON terus selama 20
mdetik), begitu pula saat D = 0 (saklar utama OFF selama 20 mdetik). Hal ini sesuai dengan
teori di sub bab III.6.1 dimana harmonik V
comp
merupakan kelipatan (nk
f
± 1) dengan k
f
=
1250/50 = 25. Untuk n = 1, harmonik V
comp
yang muncul adalah harmonik ke-24 sampai ke-
26 (h = 24-26). Harmonik ini akan berulang pada harmonik ke-49 sampai ke-51 (h = 49-51)
jika n = 2, dan terus berulang untuk n = 3, 4,... .

Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 65 -
(5) Injeksi tegangan V
comp
ke STTL menyebabkan arus STTL (I) terganggu karena mengandung
harmonik. Kandungan harmonik arus orde rendah memiliki persentase yang sangat kecil. Hal
ini sesuai dengan teori PWMCSC yang telah disampaikan di Bab I dan Bab III. Pada TCSC
dan GTOCSC harmonik orde rendah masih tinggi. Sedangkan tingkat kecacatan gelombang
V
comp
ditunjukkan melalui kurva THDv. Persentase THDv menanjak naik dari D = 0 dan
mencapai puncak saat D = 0,4. Artinya pada rentang itu kurva V
comp
memiliki bentuk
gelombang yang sangat menyimpang dari gelombang aslinya (sinusoidal), karena dalam satu
perioda (20 mdetik) saklar utama lebih singkat di-ON-kan. Saat D > 0,4 THDv mulai
mengecil, karena saklar utama lebih lama menyala sehingga gelombang V
comp
lebih
mendekati bentuk sinusoidal. Berubah-ubahnya harga D (dan berarti diikuti pula oleh
perubahan THDv) tidak banyak berpengaruh dalam mendistorsi bentuk gelombang I. Hal ini
terbukti pada Gambar V.5 dimana kenaikan persentase THDi cenderung kecil, sekalipun saat
D = 0,4. Artinya bentuk gelombang I masih memiliki kemiripan yang tinggi terhadap
gelombang aslinya (sinusoidal).

VI.2 Kesimpulan Pendukung
Rangkaian pembangkit sinyal PWM, rangkaian kendali elektronik (open-loop), dan rangkaian
driver yang ditampilkan telah berfungsi dengan baik. Rangkaian-rangkaian tersebut merupakan
salah satu metoda dari sekian banyak jenis rangkaian yang memiliki fungsi yang sama.

VI.3 Saran
Berikut disampaikan beberapa ide/saran untuk pengembangan penelitian selanjutnya :
(1) Melalui simulasi, terapkan PWMCSC pada jaringan sistem tenaga listrik yang
terinterkoneksi, dibebani beban non-linier baik terhubung delta maupun wye. Analisa
harmonik dapat diteliti lebih jauh untuk STTL 3-fasa 4-kawat.
(2) Gunakan sistem kendali closed-loop sehingga pengaturan duty cycle PWM dapat dilakukan
secara otomatis agar V selalu dalam batas toleransi pada berbagai kondisi beban listrik.
(3) Lakukan analisa (terutama analisa harmonik) jika sisi sekunder trafo gandeng dan/atau
kapasitor bank dirangkai delta (segitiga). Susunan kapasitor bank 3-fasa yang dirangkai
segitiga memiliki keuntungan dibandingkan jika dirangkai wye, antara lain : tiap kapasitor
akan dilalui arus yang lebih kecil dan dikenai tegangan jepit yang lebih besar, berarti harga
X
C
per fasa yang didapat akan lebih besar. Sehingga harga C per fasa akan 3 kali lebih kecil
dibandingkan jika dirangkai wye.

Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013
- 66 -

DAFTAR PUSTAKA

1. Adhianto, D.I. (1991), Transfer Daya Maksimum Sistem Transmisi Daya Arus Bolak-Balik Yang
Dikompensasi Seri-Shunt Dalam Batas Kestabilan Tegangan, Tugas Akhir, Institut Teknologi
Bandung.
2. Chu, K.-H., Pollock, C. (1997), PWM-Controlled Series Compensation With Low Harmonic
Distortion, Proc. Inst. Electr. Eng., Gener. Transm. Distrib., Vol. 144, No. 6, Nov.
3. Gönen, T. (1986), Electric Power Distribution System Engineering, McGraw-Hill Book Company.
4. Gyugyi, L., Schauder, C.D., Sen, K.K. (1997), Static Synchronous Series Compensator : A Solid-
State Approach to the Series Compensation of Transmission Lines, IEEE Trans. Power Delivery,
Vol. 12, Jan.
5. Helbing, S.G., Karady, G.G. (1994), Investigations of an Advanced Form of Series Compensation,
IEEE Trans. On Power Delivery, Vol. 9, No. 2, April.
6. Hingorani, N.G., Gyugyi, L. (2000), Understanding FACTS -Concepts and Technology of Flexible
AC Transmission Systems-, El-Hawary M.E., Consulting Editor, IEEE Press.
7. Hutauruk, T.S.(1993), Transmisi Daya Listrik, Penerbit Erlangga.
8. Karady, G.G, Ortmeyer, T.H., Pilvelait, B.R., Maratukulam, D. (1993), Continously Regulated Series
Capacitor, IEEE Trans. On Power Delivery, Vol. 8, No. 3, July.
9. Lopes, L.A.C., Fernandes, V.R., Neto, J.A., Jos, G. (1997), A PWM Controlled Series Capacitor,
Proc. Brazilian Power Electronics Conf. Rec., Brazil, Dec. 1-5.
10. Mamira, M.B. (1995), Kompensasi Seri Yang Dikendalikan Thyristor, Tugas Akhir, Universitas
Trisakti, Jakarta.
11. Nejad, M.M, Ortmeyer, T.H. (1998), GTO Thyristor Controlled Series Capacitor Switch
Performance, IEEE Trans. On Power Delivery, Vol. 13, No. 2, April.
12. Rahman, A.N. (2000), Kinerja Saluran Transmisi 500 kV Pada Kondisi Frekuensi Di Bawah Normal
Dengan Kompensasi Kapasitor Seri Dan Tanpa Kompensasi, Tugas Akhir, Universitas Trisakti,
Jakarta.
13. Rao, S. (1999), EHV-AC, HVDC Transmission & Distribution Engineering (Theory, Practice and
Solved Problems), Khanna Publishers.
14. Schultz, G. Prof. (October 1990), TPS 11.2.2 Power Transmission 380 kV Transmission Line Model I
& II, Leybold Didactic GMBH.
15. Tagare, D.M. (2002), Electrical Power Capacitors -Design & Manufacture-, Tata McGraw-Hill
Publishing Company Limited.
16. Vincenti, D., Jin, H., Ziogas, P. (1994), Design and Implementation of a 25-kVA Three-Phase PWM
AC Line Conditioner, IEEE Trans. On Power Electronics, Vol. 9, No. 4, July.




LAMPIRAN










Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 68 -

LAMPIRAN A
CONTOH-CONTOH PERHITUNGAN KOMPENSASI

A.1 Perhitungan Kompensasi Seri Di SUTET Jarak Menengah [7]
Suatu saluran transmisi tenaga listrik (STTL) tiga fasa, 50 Hz, 250 km (jarak menengah), Z = j0,65
/km, Y = j5,1 x 10
-6
mho/km, dan tahanan diabaikan (saluran tanpa rugi-rugi). Untuk mengurangi
panjang elektrik saluran sampai 20° dipasang kapasitor seri sebagai kompensator. Diasumsikan, |V
k
| = |V
t
|
= 500 kV. Tentukanlah :
- Besarnya kapasitansi dari kapasitor seri per fasa dan derajat kompensasinya.
- Daya maksimum yang mampu dihantarkan sebelum dan sesudah dikompensasi.


Penyelesaian A.1 :

Tentang panjang elektrik saluran () :
Definisi panjang elektrik saluran () adalah sama dengan sudut daya () antara V
k
dan V
t
. Ia menyatakan
perubahan atau pergeseran fasa antara V
k
dan V
t
. Itu artinya ia mewakili sifat impedansi STTL. Semakin
besar rasio antara X
sal
dan R
sal
, maka harga juga makin besar, berarti beda sudut daya () antara V
k
dan
V
t
makin besar pula.

Panjang elektrik dirumuskan oleh persamaan :
l × = Θ β (rad atau °) (L1)

dimana,
= konstanta pergeseran fasa atau konstanta panjang gelombang atau panjang elektrik per satuan panjang
atau radian per satuan panjang
l = panjang STTL

( ) LC
v
f
ω
λ
π
π
β =

= =
1
2
2
(rad/km)
LC
f v
1
= = λ (km/detik) (L2)

dimana,
f = frekuensi gelombang (Hz) = 2f
v = cepat rambat gelombang pada kawat udara = kecepatan cahaya dalam vakum = 300.000 km/detik
= panjang gelombang = 2/
L = induktansi STTL
C = kapasitansi STTL
Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 69 -

Dari Persamaan (L2) bisa didapat :
LC ω β = (rad/km)

ZY
ZB
B
Z
X
X
X
X
C L
C
C
C
sal
C
L
=
= = =
= =
1
)
1
)( )( ( ) )( )( (
2 2
ω ω
ω ω
(L3)
Asumsi STTL tanpa rugi-rugi : R = G = 0 Z = R
sal
+ jX
sal
; Y = G + jB
C

Dalam kondisi mantap (steady) dan setimbang, secara teoritis, harga maksimum = 90° (lihat Gambar
L.1). Tetapi dalam praktiknya harga dibatasi sampai 30° saja.









Gambar L.1. Kurva Daya Aktif Sebagai Fungsi Dari Panjang Elektrik Saluran


Bila = x l = x (LC)
(1/2)
x l = 90° = 1,57 rad , maka
1500
50 2
300000 57 , 1
2
=
×
×
=
× Θ
=
×
Θ
=
π π
ω
f
v
LC
l km f = 50 Hz

Untuk f = 25 Hz l = 3000 km
Untuk f = 0 (DC) l = km

Bila = 30° = 0,523 rad, maka
Untuk f = 50 Hz l = 500 km
Untuk f = 25 Hz l = 1000 km
Untuk f = 0 (DC) l = km

Jadi, jelas bahwa dalam sistem AC harga harus dibatasi agar panjang STTL-nya juga dapat
diminimalkan sehingga rugi-rugi tidak terlalu besar dan meminimalkan biaya pembangunan. Bila >30°
perlu dilakukan kompensasi. Dalam sistem DC panjang STTL tak terhingga berapa pun harga f dan .
1 rad = 180°
1° = (/180°) rad = 0,0174 rad

1 rad = (180/)° = 57,3°
Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 70 -
Artinya STTL DC tidak memiliki rugi-rugi daya reaktif. Sebagai catatan, pada sistem transmisi AC Jawa-
Bali STTL terpanjang hanya berjarak 410 km (dari Paiton ke Pedan).

Berdasarkan penjelasan di atas, penyelesaian soalnya menjadi sbb :

Z = impedansi STTL sebelum kompensasi = panjang elektrik sebelum kompensasi
Z’ = impedansi STTL setelah kompensasi ’= panjang elektrik setelah kompensasi
= konst pergeseran fasa sebelum kompensasi
’ = konst pergeseran fasa setelah kompensasi

Dari Persamaan (L3) :

3 6
10 8207 , 1 10 1 , 5 65 , 0
− −
× = × × = × = Y Z β rad/km (sebelum kompensasi)

Dari Persamaan (L1) :
( )( ) 4552 , 0 250 10 8207 , 1
3
= × = × = Θ

l β rad x 57,3° = 26,1° (sebelum kompensasi)

20 ' ' ' = × × = × = Θ l Y Z l β (setelah kompensasi)

Untuk mencari harga X
C
, kita harus menghitung harga Z’ lebih dulu, yaitu dengan jalan mencari rasio
antara Z’ dan Z.
5872 , 0
1 , 26
20 '
'
'
2
2
2
2
2
2
= =
Θ
Θ
=
Θ
Θ
=
Y
Y
Z
Z


Didapatlah harga Z’ :
( ) 42 , 95 250 65 , 0 5872 , 0 5872 , 0 ' = × × = × = Z Z setelah kompensasi

dimana Z’ = Z - X
C
, sehingga :
( ) 08 , 67 42 , 95 250 65 , 0 ' = − × = − = Z Z X
C

C ω
1
=

Jadi, kapasitansi dari kapasitor seri per fasa adalah :
=
× × ×
=
08 , 67 2
1
f
C
π
4,75 x 10
-5
F/fasa = 47,5 µF/fasa.

Dan derajat kompensasi seri-nya :
= ×
×
= = = % 100
250 65 , 0
08 , 67
Z
X
X
X
S
C
sal
C
41,3 %
Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 71 -
Tentang penyaluran daya STTL :
Ada 3 istilah yang berkaitan dengan penyaluran daya STTL, yaitu :
Daya karakteristik adalah daya maksimum yang dapat dihantarkan bila V
k
= V
t
dan saluran dibebani
oleh beban karakteristik (yaitu beban yang besarnya sama dengan impedansi karakteristik atau
impedansi surja suatu STTL).
Impedansi surja/impedansi karakteristik adalah impedansi bawaan dari tiap STTL dimana daya
reaktif kapasitif yang dihasilkan STTL (Q
C
) sama dengan daya reaktif induktif yang diserap oleh
STTL (Q
L
). Istilah impedansi surja dan impedansi karakteristik dalam praktik sering disamakan,
walaupun sebenarnya berbeda. Impedansi surja dipakai untuk STTL tanpa rugi-rugi, sedangkan
impedansi karakteristik untuk STTL dengan rugi-rugi.
C
L
Z
s
= impedansi surja (STTL tanpa rugi-rugi) (L4)
Y
Z
Z
k
= impedansi karakteristik (STTL dengan rugi-rugi) (L5)
dimana Z
s
Z
k
.
Untuk STTL udara Z
s
400 ohm, untuk kabel Z
s
50-60 ohm.
Daya natural atau SIL (surge impedance loading) adalah daya karakteristik bila rugi-rugi (tahanan)
STTL diabaikan.
s
t k
n
Z
V V
SIL P

= = (L6)
Bila STTL dibebani sebesar SIL, maka tegangan di sepanjang STTL tersebut adalah sama besar. Bila
STTL dibebani lebih dari SIL, maka tegangan di titik tengah STTL akan lebih tinggi.

Berdasarkan definisi-definisi di atas, penyelesaian soalnya menjadi sbb :

357
250 10 1 , 5
250 65 , 0
6
=
× ×
×
= =

Y
Z
Z
s
impedansi surja sebelum kompensasi
357
500
2
=

=
s
t k
n
Z
V V
P = 700 MW daya maksimum yang dihantarkan sebelum kompensasi
6 , 273
250 10 1 , 5
42 , 95
6
'
'
=
× ×
= =

Y
Z
Z
s
impedansi surja setelah kompensasi
= =

=
6 , 273
500
2
'
'
s
t k
n
Z
V V
P 914 MW daya maksimum yang dihantarkan setelah kompensasi



Jadi terlihat bahwa dengan kompensasi seri, daya maksimum yang dihantarkan STTL menjadi
bertambah besar. Dalam contoh di atas persentase kenaikannya adalah 23,41%. Artinya dengan
kompensasi seri, rugi daya sebesar 914-700 = 214 MW berhasil diselamatkan (tidak terbuang).
Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 72 -


A.2 Perhitungan Resonansi Sub-Sinkron [7]
Salah satu yang perlu diperhatikan dalam kompensasi seri adalah derajat kompensasi seri (S). S tidak
boleh terlalu besar. S sampai 100 % jelas tidak diperbolehkan karena akan menimbulkan resonansi seri. S
yang dekat dengan 100 % juga berbahaya karena bila frekuensi turun, misalnya bila pembangkitan
berkurang, maka S akan semakin dekat 100 %. Hal ini disebut resonansi sub-sinkron. Contoh :

Diketahui, X
sal
= ωL = reaktansi seri total saluran
C = kapasitansi dari kapasitor seri
Misalkan derajat kompensasi seri 90%, maka

Xc

 = 0,9
X
sal



1
 = 0,9 ωL
ωC
atau

1
 = 0,9
ωC . ωL

Seandainya frekuensi turun dari 50 Hz menjadi 47,5 Hz, berarti terjadi penurunan 5%, maka derajat
kompensasinya menjadi :
1 90%
 =  = 99,72%.
0,95ωC . 0,95ωL (0,95)
2

dan berarti hampir mencapai resonansi (100 %). Besarnya derajat kompensasi seri, dalam praktik,
berkisar antara 40 – 60 %.




Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 73 -

A.3 Perhitungan Resonansi Seri
Sebuah rangkaian listrik terdiri dari resistor 10 Ω, reaktansi induktif 30 Ω, dan reaktansi kapasitif juga 30
Ω yang semuanya terhubung secara seri dengan sumber tegangan 120 V-60 Hz. Karena X
C
= X
L
,
reaktansi rangkaian menjadi nol dan nilai impedansi sama dengan nilai resistansinya, yaitu 10 Ω. Faktor
daya rangkaian adalah R/Z = 1. Arus yang melalui rangkaian adalah V/Z = 12 A. Jatuh tegangan pada
resistor adalah IR = 120 V dan pada reaktansi adalah IX = 360 V. Karena tegangan yang melalui
reaktansi induktif berbeda fasa 180° terhadap tegangan yang melalui reaktansi kapasitif, maka jika
dijumlahkan secara phasor hasilnya akan nol. Jika frekuensi sumber diubah menjadi kurang dari 60 Hz,
X
L
akan menurun di bawah 30 Ω sedangkan X
C
akan naik di atas 30 Ω. Berarti S akan naik melampaui
100 %.

A.4 Perhitungan Kompensasi Reaktor Shunt (SUTET A.1) [7]
Suatu saluran transmisi tunggal, fasa tiga, 50 Hz, 500 KV, 250 km dengan konstanta sbb : Z=j0,65 Ω/km
; Y=j5,1 x 10
-6
mho/km ; dan tahanan diabaikan. Untuk mengurangi panjang elektrik dan memperbaiki
pengaturan tegangan saluran maka dipasang reaktor shunt yang sama besarnya pada kedua ujung saluran.
Misalkanlah, V
k
= V
t
 = 500 KV.
(a). Tentukanlah panjang elektrik saluran sebelum pemasangan reaktor shunt.
(b). Tentukanlah induktansi dari reaktor shunt dalam Henry agar panjang elektrik saluran berkurang
menjadi 20 °.
(c). Tentukanlah daya natural sebelum dan setelah pemasangan reaktor shunt.
(d). Bila V
t
= 500 KV, dan beban P
t
= 200 MW pada faktor daya 0,9 terbelakang tentukanlah pengaturan
tegangan sebelum dan sesudah pemasangan kompensasi reaktor shunt tersebut.

Penyelesaian A.4 :
(a). Panjang elektrik saluran Θ = β x
dimana, β = konst.pergeseran fasa atau konstanta panjang gelombang atau panjang elektrik per
satuan panjang atau radian per satuan panjang.
= panjang saluran.

6
10 1 , 5 65 , 0

× × = = ZY β radian per km
= 1,8207 x 10
-3
radian per km.
Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 74 -
Θ = 1,8207 x 10
-3
x 250 = 0,4552 radian.
= 0,4552 x 57,3°
= 26,1° °° °
(b). Misalkan saluran transmisi tersebut direpresentasikan dalam nominal PI ( lihat Gambar L.2 ).

Gambar L.2. Sirkit Pada A.4 Dalam Nominal π

Setelah pemasangan reaktor shunt, maka konstanta umum ekivalen A, B, C , dan D dari ketiga sirkit
terhubung seri adalah :

D Z
Lsh
j Y
A =

− + = .
. 2
1
ω
; Z B = ;
4
2
Z Y
Y C + =

Misalkanlah bahwa kombinasi saluran dan reaktor shunt itu merupakan saluran baru dengan admitansi
shunt yang baru :

Lsh j
Y Y
.
1
2 2 ω
+ =




Xsh
j Y
− =
2


dan B tidak mengalami perubahan. Diketahui dari sebelumnya,
Θ = panjang elektrik sebelum pemasangan reaktor shunt = 26,1°
Θ’ = panjang elektrik setelah pemasangan reaktor shunt = 20°
maka,
B = Z
Lsh Lsh
Y
2
Y
2
Y'
2
Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 75 -
7663 , 0
1 , 26
20
0
0
= =
×
′ ×
=
×
× ′
=
Θ
Θ′
Y Z
Y Z

β
β


Jadi ( ) Y Y × = ′ 7663 , 0
3 6
10 275 , 1 250 10 1 , 5
− −
× = × × = j j Y mho.
= 000749 , 0 j mho, (pemasangan reaktor shunt menurunkan nilai admitansi)
dan 0003745 , 0
2
j
Y
=

mho.

Maka,
3
10 3745 , 0
2 2

× = − =

j
Xsh
j Y Y


( ) ( )
3 3
10 3745 , 0 10 6375 , 0
1
− −
× − × =
Xsh

= 0,263 x 10
-3
mho


3
10 802 , 3 × = Xsh Ω.

Jadi,
11 , 12
314
3802
= = Lsh Henry / fasa.

(c). Daya Karakteristik adalah daya maksimal yang dapat ditransmisikan bila V
k
=V
t
dan dibebani dengan
beban karakteristik. Bila rugi-rugi diabaikan, daya ini disebut daya natural atau SIL (Surge
Impedance Loading).
Dimisalkan :
P
n
; Z
s
= daya natural dan impedansi surja sebelum pemasangan reaktor shunt.
P’
n
; Z’
s
= daya natural dan impedansi surja setelah pemasangan reaktor shunt.
Panjang saluran transmisi 250 km, maka :
Z = j162,5 Ω ; Y = j1,275 x 10
-3
mho
357
10 275 , 1
5 , 162
3
=
×
= =

Y
Z
Zs Ω.


466
10 749 , 0
5 , 162
3
=
×
=

= ′

Y
Z
s Z Ω.

(pemasangan reaktor shunt memperbesar harga impendasi surja)


Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 76 -
Jadi,
(KV)
2
500 x 500

P
n
=  P
n
=  = 700 MW.
Z
s
357

500 x 500
P’
n
=  = 536 MW.
466

Dari hasil di atas terlihat bahwa dengan pemasangan reaktor shunt, daya natural berkurang
dari 700 MW menjadi 536 MW. Ini berarti bahwa kemampuan untuk menyalurkan daya
setelah kompensasi dengan reaktor shunt menjadi berkurang.

(d). V
t
= 500 KV
L-L
atau 288,68 KV
L-N
= tegangan di sisi terima.
P
t
= 200 MW ; faktor daya = cos φ = 0,90 terbelakang
Maka,
P
t
200 x 1000
I
t
= − L -cos
-1
0,9 = − L –25,84° A
3 x V
t

L-L
x cos φ 3 x 500 x 0,9

= 256,6 L -25,84° A (arus sisi terima).


Sebelum kompensasi :

Z x Y
A = 1 +  = D Z = j162,5 Ω ; Y = j1,275 x 10
-3
mho
2

j162,5 x j1,275 x 10
-3
= 1 +  = 0,8964
4
2
Z Y
Y C + =
2

B = Z = j162,5 Ω

V
k
= (0,8964 x 288,68) + 162,5 L 90° x 256,6 L –25,84° x 10
-3

= (277 + j37,5) KV
L-N
tegangan sisi kirim.

V
k
 = 279,5 KV
L-N
= 484,1 KV
L-L

V
k
 484,1
− = − = 540 KV
L-L
= V
t

NL
 = tegangan terima beban nol
A 0,8964


Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 77 -
Jadi,
V
t

NL
 - V
t

FL

VR (%) =  x 100 %
V
t

FL


540 – 500
=  x 100% = 8 %.
500


Setelah kompensasi :

Z = j162,5 Ω ; Y’ = j0,749 x 10
-3
mho

Z x Y’
A = 1 + − = 0,9391
2

V
k
= A.V
t
+ B.I
t
= 0,9391 x 288,68 + 41,7 L 64,16°

= 271,1 + 18,2 + j37,5 = ( 289,3 + j37,5 ) KV
L-N

V
k
 = 291,7 KV
L-N
atau 505 KV
L-L

V
k
 505
− = − = 538 KV
L-L
= V
t

NL

A 0,9391


538 - 500
VR (%) =  x 100% = 7,6 %.
500

Jadi, dari hasil-hasil tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa dengan kompensasi reaktor
shunt, pengaturan tegangan diperbaiki dari 8 % menjadi 7,6 %.
Bila reaktor shunt dipasang hanya selama keadaan tanpa beban (berarti dilepas saat kondisi
beban penuh), maka :
484,1
 - 500
0,9391
VR ( % ) =  x 100 %
500
= 3,1 %.


3,1 % ini menunjukkan pengaturan tegangan yang makin membaik daripada sebelumnya
yang hanya mencapai 7,6 %. Selain itu dengan melepas reaktor shunt saat kondisi beban
penuh akan mencegah turunnya kapasitas penyaluran.
Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 78 -

A.5 Perhitungan Kompensasi Kapasitor Shunt
Tentukanlah kapasitas dari kapasitor shunt yang diperlukan untuk memperbaiki faktor daya dari 0,7
menjadi 0,9 pada suatu jala-jala 15 KV dengan beban 1,3 MW !

Penyelesaian A.5 :
( i ). Cara pertama :

Gambar L.3. Diagram Segitiga Daya Untuk A.5

Sebelum kompensasi P
t
= 1,3 MW ( 3 fasa )
Cos Ø
t
= 0,7 ; Ø
t
= 45,6°
1300 = V
t
x I
t
x 0,7
S
t
= V
t
x I
t
= 1857,14 KVA
Q
1
= 1857,14 x Sin 45,6°
= 1326,9 KVAR = 1,3269 MVAR.
(Kebutuhan daya reaktif sebelum dikompensasi)

Setelah kompensasi P
t
= 1,3 MW ( 3 fasa )
Cos Ø’
t
= 0,9 ; Ø’
t
= 25,84°
1300 = V
t
x I
t
x 0,9
S’
t
= V
t
x I’
t
= 1444,44 KVA
Q
2
= 1444,44 x Sin 25,84°
= 629,6 KVAR = 0,6296 MVAR.
(Kebutuhan daya reaktif setelah dikompensasi)

Q
c

( 3∅ )
= Q
1
– Q
2
= 0,6973 MVAR ≈ 0,7 MVAR.
= daya reaktif yang disediakan / diberikan oleh kapasitor shunt.

P
t
Q
2
Q
1
S
t
t
t
Ø
Ø’
Q
c
Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 79 -


Jadi, kapasitansi dari kapasitor shunt adalah :
Q
c

( 3∅ )
0,6973
C =  =  = 9,869 µF ≈ 10 µF (per fasa).
ωV
t

L-L

2
314 x 15
2


Dari harga C di atas, berarti kapasitor shunt yang dipasang memberikan daya reaktif pada sistem
sebesar Q
c
sehingga faktor daya dapat diperbaiki dari 0,7 menjadi 0,9. Selain itu, kebutuhan akan
daya reaktif kapasitif juga dapat dikurangi dari 1,3269 MVAR menjadi 0,6296 MVAR, artinya
kapasitor mengambil alih tugas PLN / genset dalam penyediaan daya reaktif kapasitif. Dengan
demikian, otomatis biaya langganan listrik ke PLN juga berkurang.

( ii ). Cara Kedua :
Q
3∅
= P
t
( tan Ø
t
– tan Ø’
t
) = Q
c
= Q
1
– Q
2

P
t
= 1,3 MW (3 fasa)
Tan Ø
t
= 1,02 Ø
t
= 45,6°
Tan Ø’
t
= 0,48 Ø’
t
= 25,84°

Q
3∅
= 1,3 x (1,02 – 0,48)
= 0,702 MVAR
= daya reaktif yang disediakan/diberikan oleh kapasitor shunt

Harga kapasitansi dari kapasitor shunt adalah :

Q
3∅
0,702
C =  = 
ω V
t

L-L

2
314 x 15
2


= 10 µF per fasa.







Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 80 -

LAMPIRAN B
KESIMPULAN YANG DIAMBIL BERDASARKAN LAMPIRAN A

1. Kompensasi dengan reaktor shunt :
• Biasanya dipakai pada saluran jarak menengah dan jauh.
• Memperkecil panjang elektrik saluran () dan menurunkan daya natural.
• Memperbesar nilai impedansi surja / impedansi karakteristik saluran.
• Menaikkan kapasitas penyaluran daya dan mempertahankan tegangan jika dilepas saat beban
penuh, atau dipasang saat beban ringan. Sebaliknya, akan menurunkan tegangan dan menurunkan
kapasitas penyaluran daya.
• Mengurangi tegangan lebih karena switching dan lightning surge.
2. Kompensasi dengan reaktor shunt, kapasitor shunt atau gabungan keduanya (SVC) :
• Dengan kapasitor shunt, akan menurunkan impedansi surja/impedansi karakteristik saluran tetapi
menaikkan panjang elektrik saluran ().
• SVC akan menyerap daya reaktif saat beban ringan jika melepas kapasitor shunt dan
memasukkan reaktor shunt atau memberi daya reaktif saat beban penuh jika memasukkan
kapasitor shunt dan melepas reaktor shunt.
• Tetapi SVC membutuhkan peralatan yang lebih banyak.
3. Perbaikan faktor daya sistem di sisi beban :
• Umumnya menggunakan kapasitor shunt (paralel terhadap beban).
• Menaikkan nilai cos phi lokal dan pengaturan tegangan.
• Meringankan biaya langganan ke PLN.
4. Kompensasi dengan kapasitor seri :
• Mengurangi dan impedansi surja / impedansi karakteristik saluran.
• Prinsipnya mengurangi X
sal
sehingga mengurangi jatuh tegangan dan menaikkan kapasitas
penyaluran daya.
• Menunda pembangunan saluran baru.
• Tetapi lebih mahal jika dipasang di tengah saluran karena butuh gardu tambahan.








Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 81 -


LAMPIRAN C
TABEL KLASIFIKASI KOMPENSATOR MENURUT FUNGSI DAN JENISNYA
1)


F u n g s i P a s i f A k t i f
Kompensasi Impedansi Surja
(Virtual – Z
s
compensation)
kontrol tegangan, manajemen
daya reaktif
Reaktor shunt
Kapasitor shunt
Mesin sinkron
Synchronous condenser
Thyristor-switched capacitor
Thyristor-controlled reactor
Kompensasi Panjang Elektrik
Saluran
(Virtual - Θ compensation)
kontrol tegangan, manajemen
daya reaktif, peningkatan
stabilitas
Kapasitor seri -
Kompensasi dengan pembagian
daerah
Dynamic shunt compensation,
peningkatan stabilitas pada
saluran
- Synchronous condenser
Thyristor-switched capacitor
Thyristor-controlled reactor




1)
: Miller, T.J.E. (1982), Reactive Power Control In Electric Systems, A Wiley-Interscience, New York.

















Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 82 -
LAMPIRAN D
SISTEM PROTEKSI KAPASITOR SERI [15]

Tegangan pada kapasitor seri adalah fungsi dari arus yang melaluinya. Tegangan ini dapat meningkat
sampai nilai yang berbahaya jika arus yang melaluinya besar (misalkan saat terjadi gangguan hubung
singkat). Karena itu, maka pemakaian kapasitor untuk kompensasi seri pasti disertai dengan rangkaian
proteksi.

Salah satu konfigurasi rangkaian proteksi pada kapasitor seri di STTL ditunjukkan oleh Gambar L.4. Bila
hubung singkat terjadi di sisi beban (terima), tegangan di terminal kapasitor akan besar sekali karena arus
gangguan akan mengalir melalui kapasitor. Busur listrik akan muncul di celah percikan SPG sebelum
tegangan itu mencapai puncaknya dan kapasitor bank 1-2-3-4 akan terlepas dari STTL. Magnitudo arus
hubung singkat di kapasitor bank akan dibatasi oleh L dan diredam sampai harga tertentu oleh R dalam
waktu ½ siklus.

Trafo arus CT
2
mengukur arus di SPG. Jika gangguan telah berlalu dengan sendirinya (misalkan dengan
putusnya fuse), maka busur listrik di SPG akan padam dan kapasitor bank kembali terhubung ke STTL.
Tapi jika gangguan tidak bisa berlalu dengan sendirinya, maka CT
2
mengirim sinyal ke CB untuk
menutup setelah periode tertentu. CB menggantikan peran SPG karena SPG dirancang untuk bekerja
hanya selama waktu tertentu.

















Gambar L.4. Contoh Rangkaian Proteksi Untuk Kapasitor Seri
Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 83 -

CT
3
mengukur arus STTL kondisi normal (nominal). Jika arusnya melebihi desain kapasitor, CT
3
akan
mengirim sinyal overload ke panel kendali. CT
3
juga memonitor keseimbangan arus fasa.

CT
4
dibutuhkan untuk mencatu panel kendali dan baterai cadangan. CT
5
mengawasi tingkat isolasi (arus
yang lewat di isolator). Jika arus bocornya melebihi harga tertentu, CT
5
memerintahkan CB untuk trip.
Isolator IS
1
dan IS
2
adalah normally closed, IS
3
normally opened. Jika ada pengerjaan yang perlu
dilakukan, IS
3
ditutup, IS
1
dan IS
2
dibuka.

Gambar L.5 menunjukkan salah satu metoda (susunan flip-flop) yang digunakan untuk menghubungkan
kembali kapasitor seri ke dalam STTL secara otomatis.



















Gambar L.5. Konfigurasi Flip-Flop Untuk Menghubungkan Kembali Kapasitor Seri

Gangguan transien dapat dihilangkan secara dini oleh fuse, arrester petir, atau memadamkan lewat-
denyar (flashover) yang muncul di isolator. Tapi, gangguan tersebut akan menyebabkan gelombang
transien yang mampu men-trip-kan alat-alat proteksi sehingga saluran keluar dari sistem. Untuk
menghubungkannya kembali ke sistem akan membutuhkan waktu lama dan tenaga yang banyak sehingga
bisa terjadi kerugian materil. Oleh karena itu menghubungkan kembali saluran secara otomatis ke dalam
Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 84 -
sistem amat dibutuhkan, dan begitu pula dengan kapasitor yang terangkai secara seri dengan saluran yang
terganggu tadi.

Pengoperasian Gambar L.5 adalah sebagai berikut :
1. Operasi normal SG
1
dan SG
2
terbuka. IS
1
, IS
2
tertutup. IS
3
terbuka. CB
1
terbuka, CB
2
tertutup.
Arus beban (arus STTL) melalui kapasitor.
2. Gangguan di sisi beban (terima) SG
1
menutup, diikuti CB
1
. Kapasitor seri terlepas dari STTL.
Arus gangguan melalui SG
1
dan CB
2
.
3. Gangguan temporer menghilang arus kembali ke harga nominal, CB
2
membuka. Kapasitor seri
terhubung kembali ke STTL.
4. Gangguan berlanjut (tidak hilang) CB
2
menutup dan terkunci. IS
3
ditutup, IS
1
dan IS
2
dibuka.
STTL terlepas dari sistem.
5. Kembali ke posisi normal gangguan bisa diatasi. Semua IS dikembalikan ke posisi normal. STTL
terhubung kembali ke sistem.
























Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 85 -

LAMPIRAN E
RESONANSI SERI DAN RESONANSI SUB-SINKRON

Penggunaan kapasitor untuk kompensasi seri dibatasi oleh kemungkinan terjadinya resonansi. Resonansi
adalah dua besaran atau lebih yang memiliki nilai yang sama besar. Resonansi bisa juga diartikan
sebagai fenomena, efek, atau gejala dari ikutnya suatu besaran listrik terhadap besaran lain sehingga nilai
keduanya menjadi sama. Dalam hal ini kedua besaran tersebut adalah reaktansi induktif saluran (X
sal
) dan
reaktansi kapasitif (X
C
) dari suatu STTL. Jika gejala tersebut timbul pada rangkaian seri R, L, C maka
disebut resonansi seri. Jika terjadi pada rangkaian paralel disebut resonansi paralel.

Resonansi dapat terjadi karena induktor dan kapasitor adalah komponen yang mampu menyimpan dan
melepaskan energi sehingga dapat menimbulkan ayunan. Sebuah STTL dikatakan beresonansi seri jika
harga X
sal
= X
C
dan cos ø = 1 atau STTL dalam keadaan resistif, karena nilai impedansi Z sama dengan
nilai resistansinya (R). Frekuensi yang timbul pada gejala ini disebut frekuensi resonansi ( f
r
).

Impedansi dari rangkaian seri R, L, C :

− + =
C
L j R Z
ω
ω
1
(L.7)
Saat resonansi seri : 0
1
= −
C
L
ω
ω

LC
C
L
1
1
2
=
=
ω
ω
ω


r
f
LC
. . 2
1
π ω = =

LC
f
r
1
. 2
1
π
= (L.8)

Saat resonansi seri terjadi, efek yang ditimbulkan pada rangkaian adalah sama dengan jika dalam
rangkaian tersebut tidak terdapat induktor maupun kapasitor. Artinya tegangan dan arus yang mengalir
semata-mata hanya akan dipengaruhi oleh resistor. Efek dari resonansi yang terjadi adalah sebagai
berikut :
Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 86 -
f
I
r
f
R kecil
R besar
r
Z
f
r
f
induktif kapasitif
i. Impedansi rangkaian akan mencapai nilai minimumnya dan sama dengan nilai resistansi R.
ii. Arus rangkaian akan mencapai nilai maksimumnya karena hanya dibatasi oleh resistansi saja.

Gambar L.6 memperlihatkan kurva resonansi seri dengan nilai I dan |Z| dinyatakan sebagai fungsi dari
frekuensi. Arus mencapai nilai maksimumnya pada saat f
r
. Jika frekuensi f di bawah f
r
, yang berarti X
C
>
X
sal
, maka impedansinya kapasitif. Jika f lebih besar dari f
r
atau X
C
< X
sal
, maka impedansinya bersifat
induktif.








Gambar L.6. Kurva Resonansi Seri

Pada STTL, terjadinya resonansi seri harus dihindari. Dengan kata lain nilai reaktansi kapasitif yang
disisipkan ke STTL, untuk tujuan kompensasi seri, tidak boleh sama dengan nilai reaktansi induktif
saluran atau derajat kompensasinya tidak boleh terlalu besar apalagi mencapai 100 %. Derajat
kompensasi 100 % berarti X
sal
= X
C
.

Derajat kompensasi yang mendekati 100% juga akan berbahaya bila frekuensi turun saat terjadi
gangguan atau pembangkitan berkurang misalnya, karena bisa menyebabkan resonansi sub-sinkron
(RSS). Saat terjadi RSS arus STTL sangat tinggi, belum lagi karena X
sal
yang mengecil karena kehadiran
kapasitor seri.

Fenomena RSS pertama kali muncul pada 1970 yang mengakibatkan kerusakan poros turbin-generator di
pembangkit Mohave, bagian selatan California. Tahun 1971 fenomena ini timbul kembali tetapi tidak
sampai menimbulkan kerusakan karena para ahli telah belajar dari peristiwa di tahun 1970. Sejak itulah,
RSS menjadi sesuatu yang cukup diperhitungkan dalam dunia kelistrikan.

Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 87 -
RSS mengakibatkan ayunan energi yang dipertukarkan antara sistem transmisi listrik dan sistem mekanis
turbin-generator. Ayunan mekanis yang terjadi akibat RSS ini dapat terus meningkat sampai akhirnya
merusak sistem mekanis. Oleh karena itu, dalam pemasangan kapasitor seri selalu diperhatikan dan
dipelajari kemungkinan timbulnya RSS dan strategi untuk menghindari atau memperkecil akibatnya.

Akibat RSS antara lain sebagai berikut :
a. Torka generator akan membesar selama kondisi RSS. Bahkan lebih besar daripada torka saat
gangguan hubung singkat terjadi di sistem. Poros generator akan terpuntir dan bisa patah.
b. Berbahaya untuk beban motor berdaya besar saat starting, apalagi saat start motor sudah langsung
dibebani (berarti motor akan lebih lama mencapai kecepatan nominalnya). Arus yang besar bisa
membakar belitan motor dan merusak kapasitor seri.
c. Berbahaya untuk beban berupa trafo dengan MVA tinggi karena selama RSS menginduksikan
tegangan tak normal yang sangat tinggi ke sistem. Di sini RSS biasa disebut Ferro-Resonance.
d. Generator atau pembangkit yang berdekatan akan saling “kejar” untuk menyamakan frekuensi.

Solusi umum untuk mengatasi RSS :
Memasang resistor peredam seperti pada [10].
Memasang tapis dengan bandwidth antara 0,2 – 10 Hz untuk mendeteksi RSS.
Melepas kapasitor seri dari STTL secepat mungkin bila terdeteksi RSS.



















Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 88 -

LAMPIRAN F
PROSEDUR MENCARI PARAMETER TRAFO GANDENG

Trafo gandeng yang digunakan dirancang untuk bekerja pada tegangan nominal 50 V ; 5 A. Berarti
kapasitasnya 250 VA. Perbandingan belitan primer dan sekunder dibuat 1:1. Kedua belitan menggunakan
jenis dan diameter kawat yang sama. Indeks ’o’ menandakan beban nol, ’hs’ untuk hubung singkat.

F.1 Percobaan Beban Nol (Tanpa Beban)
Gambar L.7 menampilkan rangkaian percobaan beban nol beserta alat ukur yang digunakan. Sisi
sekunder trafo dibiarkan terbuka.


Gambar L.7. Percobaan Beban Nol

Lakukan prosedur percobaan beban nol berikut :
a) Pasang rangkaian seperti Gambar L.7.
b) Naikkan tegangan V
o
menggunakan auto trafo sampai ke harga nominal (50 V).
c) Catat harga I
o
dan P
o
. Dari percobaan yang dilakukan di LPKEE-ITB didapat I
o
= 0,476 A dan P
o
=
12,6 W.

Gunakan Persamaan (L.9) untuk mendapatkan jumlah total tahanan rugi inti R
C
dan tahanan belitan
primer R
P
:

( )
o
o
P C
P
V
R R
2
= + (L.9)
413 , 198
6 , 12
50
2
= = +
P C
R R

Daya reaktif yang diserap oleh reaktansi pemagnetan X
m
adalah :
( ) ( ) 191 , 20 6 , 12 476 , 0 50
2 2 2 2
= − × = − =
o o o
P S Q VAR (L.10)


Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 89 -
Persamaan (L.10) sama dengan Persamaan (L.11) :

( )
P m
o
m m o
X X
V
X I Q
+
= =
2
2
(L.11)

( )
P m
X X +
=
2
50
191 , 20
( ) 817 , 123 2 = + = +
P m P m
L L f X X π (L.12)

dimana,
I
m
= arus pemagnetan
X
p
= reaktansi belitan primer
L
m
= induktansi pemagnetan
L
P
= induktansi belitan primer

F.2 Percobaan Hubung Singkat
Gambar L.8 menampilkan rangkaian percobaan hubung singkat beserta alat ukurnya. Rangkaian tersebut
mengacu ke sisi primer.


Gambar L.8. Percobaan Hubung Singkat (Mengacu Ke Sisi Primer)

Lakukan prosedur percobaan hubung singkat berikut :
a) Pasang rangkaian seperti Gambar L.8.
b) Naikkan tegangan V
hs
menggunakan auto trafo sampai I
hs
mencapai harga nominal ( 5 A). Catat
harga V
hs
saat I
hs
= 5,11 A. Dari percobaan di LPKEE-ITB didapat V
hs
= 4,2 V.
c) Saat I
hs
= 5,11 A ukur pula harga P
hs
. Dari percobaan di LPKEE-ITB didapat P
hs
= 21 W.


Hitung harga tahanan ekivalen R
ek
menggunakan Persamaan (L.13) :


( ) ( )
804 , 0
11 , 5
21
2 2
2
= = = + = + =
hs
hs
s P s P ek
I
P
R R R a R R (L.13)

Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 90 -
dimana,
1 = =
s
P
N
N
a N
P
= jumlah belitan sisi primer = N
S
= jumlah belitan sisi sekunder

Hitung harga impedansi ekivalen Z
ek
menggunakan Persamaan (L.14) :
822 , 0
11 , 5
2 , 4
= = =
hs
hs
ek
I
V
Z (L.14)

Sehingga X
ek
adalah :
( ) ( ) 171 , 0 804 , 0 822 , 0
2 2 2 2 2
= − = − = + = + =
ek ek s P s P ek
R Z X X X a X X (L.15)

Karena trafo ini memiliki a = 1, N
P
= N
S
, dan menggunakan jenis serta diameter kawat yang sama pada
sisi primer dan sekundernya, maka :
402 , 0
2
804 , 0
2
= = ≈ ≈
ek
S P
R
R R
0855 , 0
2
171 , 0
2
= = ≈ ≈
ek
S P
X
X X
2722 , 0
2
0855 , 0
= = ≈
f
L L
S P
π
mH pada f = 50 Hz.

Kembali ke Persamaan (L.9), didapat R
C
:
011 , 198 402 , 0 413 , 198 = − =
C
R
Dari Persamaan (L.12) didapat :
732 , 123 0855 , 0 817 , 123 = − =
m
X
3938 , 0
2
732 , 123
= =
f
L
m
π
H pada f = 50 Hz.

Jadi rangkaian ekivalen trafo gandeng yang digunakan pada tesis ini adalah :











Gambar L.9. Rangkaian Ekivalen Trafo Gandeng

Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 91 -
LAMPIRAN G
TABEL HARMONIK V
comp
DAN I

Tabel L.1. Harmonik V
comp
Saat Beban Ringan Pada D = 0
h f h x 50
(Hz)
V
comp-h
(V)
HFv
(%)
THDv
(%)
1 48.82813 5.13349 100
2 97.65625 0.17912 3.489244159
3 146.48438 0.10835 2.11064987
4 195.3125 0.08449 1.64585886
5 244.14063 0.07271 1.416385344
6 292.96875 0.06576 1.280999866
7 341.79688 0.06114 1.191002612
8 390.625 0.05779 1.125744864
9 439.45313 0.05517 1.07470746
10 488.28125 0.05299 1.032241224
11 537.10938 0.05108 0.995034567
12 585.9375 0.04933 0.960944698
13 634.76563 0.04768 0.928802822
14 683.59375 0.04609 0.897829742
15 732.42188 0.04453 0.867441059
16 781.25 0.04298 0.837247175
17 830.07813 0.04142 0.806858492
18 878.90625 0.03986 0.776469809
19 927.73438 0.03829 0.745886327
20 976.5625 0.0367 0.714913246
21 1025.39063 0.03509 0.683550567
22 1074.21875 0.03347 0.651993089
23 1123.04688 0.03183 0.620046012
24 1171.875 0.03018 0.587904135
25 1220.70313 0.02851 0.555372661
26 1269.53125 0.02684 0.522841186
27 1318.35938 0.02516 0.490114912
28 1367.1875 0.02349 0.457583437
29 1416.01563 0.02181 0.424857163
30 1464.84375 0.02014 0.392325689
31 1513.67188 0.01848 0.359989013















6.400906


Tabel L.2. Harmonik I Saat Beban Ringan Pada D = 0
h f h x 50
(Hz)
I
h
(A)
HFi
(%)
THDi
(%)
1 48.82813 6.22986 100
2 97.65625 0.24862 3.990779889
3 146.48438 0.17097 2.744363437
4 195.3125 0.14709 2.361048242
5 244.14063 0.13584 2.180466335
6 292.96875 0.12918 2.073561846
7 341.79688 0.12454 1.999081841
8 390.625 0.12087 1.94017201
9 439.45313 0.11769 1.889127525
10 488.28125 0.11474 1.841774936
11 537.10938 0.1119 1.796188036
12 585.9375 0.10906 1.750601137
13 634.76563 0.1062 1.704693203
14 683.59375 0.10327 1.657661649
15 732.42188 0.10026 1.609345956
16 781.25 0.09717 1.559746126
17 830.07813 0.09398 1.508541123
18 878.90625 0.09071 1.456051982
19 927.73438 0.08734 1.401957668
20 976.5625 0.0839 1.346739734
21 1025.39063 0.08037 1.290077145
22 1074.21875 0.07678 1.232451452
23 1123.04688 0.07312 1.173702138
24 1171.875 0.06941 1.114150238
25 1220.70313 0.06566 1.053956269
26 1269.53125 0.06187 0.993120231
27 1318.35938 0.05805 0.931802641
28 1367.1875 0.05423 0.870485051
29 1416.01563 0.05039 0.808846427
30 1464.84375 0.04656 0.74736832
31 1513.67188 0.04275 0.686211247















9.936481717






Tabel L.3. Harmonik V
comp
Saat Beban Ringan Pada D=0,2
h f h x 50
(Hz)
V
comp-h
(V)
HFv
(%)
THDv
(%)
1 51.29005 5.10529 100
2 102.58009 0.1677 3.28482809
3 153.87014 0.09939 1.946804197
4 205.16019 0.07634 1.495311726
5 256.45024 0.06564 1.285725199
6 307.74028 0.05978 1.170942297
7 359.03033 0.05616 1.100035453
8 410.32038 0.05461 1.069674788
9 461.61043 0.05378 1.053417142
10 512.90047 0.05392 1.056159395
11 564.19052 0.05457 1.068891287
12 615.48057 0.05581 1.093179819
13 666.77061 0.05753 1.126870364
14 718.06066 0.0605 1.185045316
15 769.35071 0.06335 1.240869764
16 820.64076 0.06803 1.332539386
17 871.9308 0.07311 1.432044017
18 923.22085 0.08103 1.587177222
19 974.5109 0.09087 1.779918477
20 1025.80095 0.10572 2.070793236
21 1077.09099 0.12813 2.509749691
22 1128.38104 0.16822 3.295013604
23 1179.67109 0.26113 5.114890633
24 1230.96113 0.70802 13.86836007
25 1282.25118 1.38764 27.18043441
26 1333.54123 1.29813 25.42715497
27 1384.83128 1.07062 20.97079696
28 1436.12132 0.26519 5.194415988
29 1487.41137 0.14859 2.910510471
30 1538.70142 0.10108 1.979907116
31 1589.99147 0.07585 1.485713838















69.90638848
















Tabel L.4. Harmonik I Saat Beban Ringan Pada D = 0,2
h f h x 50
(Hz)
I
h
(A)
HFi
(%)
THDi
(%)
1 51.29005 6.31817 100
2 102.58009 0.188 2.975545134
3 153.87014 0.10246 1.621672098
4 205.16019 0.07221 1.142894224
5 256.45024 0.05625 0.890289435
6 307.74028 0.04604 0.728692011
7 359.03033 0.03909 0.618691805
8 410.32038 0.03415 0.540504608
9 461.61043 0.03011 0.476562042
10 512.90047 0.02712 0.429238213
11 564.19052 0.02452 0.388087057
12 615.48057 0.02249 0.3559575
13 666.77061 0.02083 0.32968407
14 718.06066 0.01942 0.307367481
15 769.35071 0.0179 0.283309882
16 820.64076 0.01691 0.267640788
17 871.9308 0.01605 0.254029252
18 923.22085 0.01506 0.238360158
19 974.5109 0.01429 0.226173085
20 1025.80095 0.01385 0.219209043
21 1077.09099 0.01314 0.207971612
22 1128.38104 0.01262 0.199741381
23 1179.67109 0.01229 0.194518349
24 1230.96113 0.01321 0.209079528
25 1282.25118 0.0087 0.137698099
26 1333.54123 0.01584 0.250705505
27 1384.83128 0.00524 0.082935407
28 1436.12132 0.00832 0.1316837
29 1487.41137 0.00852 0.134849173
30 1538.70142 0.00826 0.130734057
31 1589.99147 0.0081 0.128201679















4.11514509






Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 92 -
Tabel L.5. Harmonik V
comp
Saat Beban Ringan Pada D=0,4

h f h x 50
(Hz)
V
comp-h
(V)
HFv
(%)
THDv
(%)
1 51.29005 7.45382 100
2 102.58009 0.34312 4.603277246
3 153.87014 0.26184 3.512829663
4 205.16019 0.24156 3.240754405
5 256.45024 0.23401 3.13946406
6 307.74028 0.2335 3.132621931
7 359.03033 0.23556 3.160258767
8 410.32038 0.23931 3.210568541
9 461.61043 0.24572 3.296564714
10 512.90047 0.25261 3.389000539
11 564.19052 0.26239 3.52020843
12 615.48057 0.27335 3.66724713
13 666.77061 0.28708 3.851447982
14 718.06066 0.30367 4.074018423
15 769.35071 0.32389 4.345288724
16 820.64076 0.34939 4.687395188
17 871.9308 0.38166 5.120327564
18 923.22085 0.42282 5.672527644
19 974.5109 0.47795 6.412148402
20 1025.80095 0.55507 7.446785675
21 1077.09099 0.66954 8.982508298
22 1128.38104 0.86484 11.60264133
23 1179.67109 1.27697 17.13175258
24 1230.96113 2.96469 39.77410241
25 1282.25118 2.99424 40.17054343
26 1333.54123 2.07123 27.78749688
27 1384.83128 4.28876 57.53774575
28 1436.12132 1.31135 17.59299259
29 1487.41137 0.79593 10.67814892
30 1538.70142 0.56997 7.646683177
31 1589.99147 0.44017 5.905294198















107.1965653


















Tabel L.6. Harmonik I Saat Beban Ringan Pada D = 0,4

h f h x 50
(Hz)
I
h
(A)
HFi
(%)
THDi
(%)
1 51.29005 6.40027 100
2 102.58009 0.19253 3.008154343
3 153.87014 0.1052 1.643680657
4 205.16019 0.07423 1.159794821
5 256.45024 0.05782 0.903399388
6 307.74028 0.0476 0.743718624
7 359.03033 0.04043 0.6316921
8 410.32038 0.03534 0.552164206
9 461.61043 0.03148 0.49185425
10 512.90047 0.02823 0.441075142
11 564.19052 0.02562 0.400295613
12 615.48057 0.02363 0.369203174
13 666.77061 0.02184 0.341235604
14 718.06066 0.02041 0.318892797
15 769.35071 0.01926 0.300924805
16 820.64076 0.01828 0.285612951
17 871.9308 0.01729 0.270144853
18 923.22085 0.01661 0.259520301
19 974.5109 0.01604 0.250614427
20 1025.80095 0.01579 0.246708342
21 1077.09099 0.01556 0.243114744
22 1128.38104 0.01571 0.245458395
23 1179.67109 0.01711 0.267332472
24 1230.96113 0.02433 0.380140213
25 1282.25118 0.0074 0.115620122
26 1333.54123 0.01621 0.253270565
27 1384.83128 0.01091 0.170461559
28 1436.12132 0.00464 0.072496942
29 1487.41137 0.00577 0.090152447
30 1538.70142 0.00639 0.099839538
31 1589.99147 0.00664 0.103745623















4.184219892







Tabel L.7. Harmonik V
comp
Saat Beban Ringan Pada D=0,6

h f h x 50
(Hz)
V
comp-h
(V)
HFv
(%)
THDv
(%)
1 51.29005 15.17016 100
2 102.58009 0.45688 3.01170192
3 153.87014 0.30141 1.986861048
4 205.16019 0.26107 1.720944275
5 256.45024 0.24745 1.631162756
6 307.74028 0.24406 1.608816255
7 359.03033 0.24647 1.624702706
8 410.32038 0.25261 1.6651769
9 461.61043 0.26075 1.718834871
10 512.90047 0.27325 1.801233474
11 564.19052 0.28813 1.899320772
12 615.48057 0.30698 2.023577866
13 666.77061 0.3296 2.172686379
14 718.06066 0.35731 2.355347603
15 769.35071 0.38898 2.564112705
16 820.64076 0.43036 2.836885043
17 871.9308 0.48143 3.173532778
18 923.22085 0.5482 3.613673158
19 974.5109 0.63731 4.201076324
20 1025.80095 0.7609 5.015767797
21 1077.09099 0.94694 6.242122693
22 1128.38104 1.25805 8.292925058
23 1179.67109 1.91555 12.62709161
24 1230.96113 4.55714 30.04015778
25 1282.25118 4.41191 29.08281785
26 1333.54123 2.8072 18.5047488
27 1384.83128 6.93484 45.71369056
28 1436.12132 2.24918 14.82634329
29 1487.41137 1.427 9.406624584
30 1538.70142 1.0662 7.02827129
31 1589.99147 0.85936 5.664805117















82.13927993


















Tabel L.8. Harmonik I Saat Beban Ringan Pada D = 0,6

h f h x 50
(Hz)
I
h
(A)
HFi
(%)
THDi
(%)
1 51.29005 6.52568 100
2 102.58009 0.20112 3.081977664
3 153.87014 0.11052 1.693616604
4 205.16019 0.07807 1.196350419
5 256.45024 0.06086 0.932623114
6 307.74028 0.0501 0.767736083
7 359.03033 0.0428 0.655870346
8 410.32038 0.03721 0.570208775
9 461.61043 0.0329 0.504162018
10 512.90047 0.02987 0.457730076
11 564.19052 0.02732 0.418653688
12 615.48057 0.02499 0.382948597
13 666.77061 0.02315 0.354752302
14 718.06066 0.02162 0.331306469
15 769.35071 0.02034 0.311691655
16 820.64076 0.0194 0.297287026
17 871.9308 0.01865 0.285793971
18 923.22085 0.01777 0.272308786
19 974.5109 0.01723 0.264033787
20 1025.80095 0.01706 0.261428694
21 1077.09099 0.0172 0.263574064
22 1128.38104 0.01774 0.271849064
23 1179.67109 0.02018 0.309239803
24 1230.96113 0.03128 0.479337019
25 1282.25118 0.00952 0.14588518
26 1333.54123 0.01572 0.240894436
27 1384.83128 0.02593 0.397353226
28 1436.12132 0.00902 0.138223143
29 1487.41137 0.0078 0.119527773
30 1538.70142 0.00734 0.1124787
31 1589.99147 0.00721 0.11048657















4.335445







Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 93 -
Tabel L.9. Harmonik V
comp
Saat Beban Ringan Pada D=0,8

h f h x 50
(Hz)
V
comp-h
(V)
HFv
(%)
THDv
(%)
1 51.29005 28.01109 100
2 102.58009 0.55705 1.988676628
3 153.87014 0.27017 0.964510842
4 205.16019 0.19568 0.698580455
5 256.45024 0.16893 0.603082565
6 307.74028 0.15998 0.571130934
7 359.03033 0.15938 0.568988925
8 410.32038 0.16529 0.590087712
9 461.61043 0.17482 0.624109951
10 512.90047 0.18572 0.66302311
11 564.19052 0.20045 0.715609425
12 615.48057 0.21838 0.779619786
13 666.77061 0.23932 0.854375892
14 718.06066 0.2667 0.952122891
15 769.35071 0.29863 1.066113457
16 820.64076 0.33693 1.202845016
17 871.9308 0.38458 1.372956211
18 923.22085 0.44457 1.587121387
19 974.5109 0.52531 1.875364365
20 1025.80095 0.63553 2.268851373
21 1077.09099 0.80204 2.863294502
22 1128.38104 1.07896 3.851902943
23 1179.67109 1.65468 5.907231743
24 1230.96113 3.94586 14.08677777
25 1282.25118 3.62763 12.95069203
26 1333.54123 2.17676 7.77106496
27 1384.83128 6.05637 21.62132927
28 1436.12132 2.00114 7.144098998
29 1487.41137 1.28063 4.571867785
30 1538.70142 0.96403 3.441601166
31 1589.99147 0.7799 2.784254379















50.5005562


















Tabel L.10. Harmonik I Saat Beban Ringan Pada D = 0,8

h f h x 50
(Hz)
I
h
(A)
HFi
(%)
THDi
(%)
1 51.29005 6.67838 100
2 102.58009 0.21098 3.159149375
3 153.87014 0.1165 1.744435028
4 205.16019 0.0824 1.233832157
5 256.45024 0.06437 0.963856504
6 307.74028 0.05286 0.791509318
7 359.03033 0.04488 0.672019262
8 410.32038 0.03912 0.585770801
9 461.61043 0.0347 0.519587085
10 512.90047 0.03125 0.467927851
11 564.19052 0.0282 0.422258093
12 615.48057 0.02601 0.389465709
13 666.77061 0.02415 0.361614643
14 718.06066 0.02237 0.334961473
15 769.35071 0.02091 0.313099884
16 820.64076 0.01967 0.294532506
17 871.9308 0.01856 0.277911709
18 923.22085 0.01787 0.267579862
19 974.5109 0.0171 0.25605012
20 1025.80095 0.01636 0.244969588
21 1077.09099 0.01592 0.238381164
22 1128.38104 0.01623 0.243023009
23 1179.67109 0.01728 0.258745384
24 1230.96113 0.0256 0.383326495
25 1282.25118 0.01313 0.196604566
26 1333.54123 0.01057 0.158271916
27 1384.83128 0.0286 0.428247569
28 1436.12132 0.01362 0.203941674
29 1487.41137 0.0115 0.172197449
30 1538.70142 0.01069 0.160068759
31 1589.99147 0.01011 0.151384018















4.458044







Tabel L.11. Harmonik V
comp
Saat Beban Ringan Pada D=1

h f h x 50
(Hz)
V
comp-h
(V)
HFv
(%)
THDv
(%)
1 51.29005 45.88732 100
2 102.58009 0.76204 1.660676631
3 153.87014 0.2868 0.625009262
4 205.16019 0.15578 0.339483762
5 256.45024 0.10079 0.219646735
6 307.74028 0.06988 0.152286078
7 359.03033 0.0523 0.113974841
8 410.32038 0.0414 0.090221002
9 461.61043 0.03315 0.072242179
10 512.90047 0.02848 0.062065076
11 564.19052 0.02426 0.052868636
12 615.48057 0.02097 0.045698899
13 666.77061 0.01804 0.039313693
14 718.06066 0.01654 0.036044816
15 769.35071 0.01342 0.029245552
16 820.64076 0.01464 0.031904238
17 871.9308 0.01196 0.026063845
18 923.22085 0.01305 0.028439229
19 974.5109 0.01146 0.024974219
20 1025.80095 0.0108 0.023535914
21 1077.09099 0.00993 0.021639965
22 1128.38104 0.00942 0.020528547
23 1179.67109 0.00857 0.018676183
24 1230.96113 0.00889 0.019373544
25 1282.25118 0.0079 0.017216085
26 1333.54123 0.00858 0.018697976
27 1384.83128 0.00806 0.017564765
28 1436.12132 0.00636 0.013860038
29 1487.41137 0.00681 0.014840701
30 1538.70142 0.00587 0.012792205
31 1589.99147 0.00602 0.013119093















1.84182832


















Tabel L.12. Harmonik I Saat Beban Ringan Pada D = 1

h f h x 50
(Hz)
I
h
(A)
HFi
(%)
THDi
(%)
1 51.29005 6.81356 100
2 102.58009 0.22044 3.235313111
3 153.87014 0.12235 1.795683901
4 205.16019 0.08664 1.271581963
5 256.45024 0.06753 0.991111842
6 307.74028 0.05555 0.815285989
7 359.03033 0.04718 0.692442717
8 410.32038 0.04112 0.603502428
9 461.61043 0.03638 0.53393527
10 512.90047 0.03273 0.480365624
11 564.19052 0.0298 0.437363141
12 615.48057 0.02709 0.397589513
13 666.77061 0.02491 0.365594491
14 718.06066 0.0233 0.34196514
15 769.35071 0.02182 0.320243749
16 820.64076 0.02018 0.2961741
17 871.9308 0.01894 0.277975097
18 923.22085 0.01808 0.265353207
19 974.5109 0.01707 0.250529826
20 1025.80095 0.0162 0.23776117
21 1077.09099 0.01535 0.225286047
22 1128.38104 0.01483 0.217654207
23 1179.67109 0.01412 0.20723381
24 1230.96113 0.01356 0.199014906
25 1282.25118 0.01304 0.191383066
26 1333.54123 0.01234 0.181109435
27 1384.83128 0.01191 0.17479849
28 1436.12132 0.0117 0.171716401
29 1487.41137 0.0112 0.164378093
30 1538.70142 0.0108 0.158507447
31 1589.99147 0.01043 0.153077099















4.525290616







Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 94 -
Tabel L.13. Harmonik V
comp
Saat Beban Sedang Pada D=0

h f h x 50
(Hz)
V
comp-h
(V)
HFv
(%)
THDv
(%)
1 51.29005 4.99792 100
2 102.58009 0.15617 3.124699875
3 153.87014 0.08614 1.723516983
4 205.16019 0.06086 1.217706566
5 256.45024 0.04735 0.947394116
6 307.74028 0.03895 0.779324199
7 359.03033 0.0331 0.662275507
8 410.32038 0.02882 0.576639882
9 461.61043 0.0253 0.506210584
10 512.90047 0.02297 0.45959119
11 564.19052 0.02083 0.416773378
12 615.48057 0.01901 0.380358229
13 666.77061 0.01748 0.349745494
14 718.06066 0.0163 0.326135672
15 769.35071 0.01511 0.302325768
16 820.64076 0.0141 0.282117361
17 871.9308 0.0135 0.270112367
18 923.22085 0.01253 0.250704293
19 974.5109 0.01181 0.2362983
20 1025.80095 0.0116 0.232096552
21 1077.09099 0.01087 0.217490476
22 1128.38104 0.01031 0.206285815
23 1179.67109 0.00972 0.194480904
24 1230.96113 0.00944 0.188878573
25 1282.25118 0.00901 0.180274994
26 1333.54123 0.00882 0.176473413
27 1384.83128 0.00855 0.171071166
28 1436.12132 0.00798 0.159666421
29 1487.41137 0.00764 0.152863591
30 1538.70142 0.00762 0.152463425
31 1589.99147 0.00738 0.147661427















4.350496753


















Tabel L.14. Harmonik I Saat Beban Sedang Pada D = 0

h f h x 50
(Hz)
I
h
(A)
HFi
(%)
THDi
(%)
1 51.29005 6.10731 100
2 102.58009 0.17653 2.8904706
3 153.87014 0.09544 1.562717465
4 205.16019 0.0671 1.098683381
5 256.45024 0.0522 0.85471345
6 307.74028 0.04268 0.698834675
7 359.03033 0.03626 0.593714745
8 410.32038 0.03162 0.517740216
9 461.61043 0.02809 0.459940629
10 512.90047 0.02499 0.409181784
11 564.19052 0.02269 0.371521996
12 615.48057 0.02082 0.340902951
13 666.77061 0.01925 0.315196052
14 718.06066 0.0177 0.28981663
15 769.35071 0.01657 0.271314212
16 820.64076 0.01545 0.252975533
17 871.9308 0.01459 0.238894047
18 923.22085 0.01378 0.225631252
19 974.5109 0.01298 0.212532195
20 1025.80095 0.01249 0.204509023
21 1077.09099 0.0119 0.194848468
22 1128.38104 0.01125 0.184205485
23 1179.67109 0.01077 0.176346051
24 1230.96113 0.01037 0.169796523
25 1282.25118 0.00991 0.162264565
26 1333.54123 0.00946 0.154896346
27 1384.83128 0.00914 0.149656723
28 1436.12132 0.00887 0.145235791
29 1487.41137 0.00861 0.140978598
30 1538.70142 0.00825 0.135084022
31 1589.99147 0.00786 0.128698232















3.974870214








Tabel L.15. Harmonik V
comp
Berbeban Sedang Pada D=0,2

h f h x 50
(Hz)
V
comp-h
(V)
HFv
(%)
THDv
(%)
1 51.29005 4.96055 100
2 102.58009 0.15869 3.199040429
3 153.87014 0.0924 1.862696677
4 205.16019 0.07123 1.435929484
5 256.45024 0.06011 1.211760793
6 307.74028 0.05467 1.102095534
7 359.03033 0.05147 1.037586558
8 410.32038 0.04937 0.995252543
9 461.61043 0.04912 0.990212779
10 512.90047 0.0483 0.973682354
11 564.19052 0.04931 0.994042999
12 615.48057 0.05031 1.014202054
13 666.77061 0.05168 1.041819959
14 718.06066 0.05442 1.09705577
15 769.35071 0.05683 1.145639092
16 820.64076 0.06095 1.228694399
17 871.9308 0.06586 1.327675359
18 923.22085 0.07251 1.461733074
19 974.5109 0.08171 1.647196379
20 1025.80095 0.09479 1.910876818
21 1077.09099 0.11553 2.328975618
22 1128.38104 0.15253 3.074860651
23 1179.67109 0.23999 4.837971596
24 1230.96113 0.66936 13.49366502
25 1282.25118 1.38071 27.83380875
26 1333.54123 1.29776 26.16161514
27 1384.83128 1.02378 20.63843727
28 1436.12132 0.24629 4.964973642
29 1487.41137 0.13538 2.729132858
30 1538.70142 0.09191 1.85281874
31 1589.99147 0.06813 1.373436413















70.5067257


















Tabel L.16. Harmonik I Saat Beban Sedang Pada D = 0,2

h f h x 50
(Hz)
I
h
(A)
HFi
(%)
THDi
(%)
1 51.29005 6.13782 100
2 102.58009 0.17801 2.900215386
3 153.87014 0.0964 1.57059021
4 205.16019 0.06757 1.100879465
5 256.45024 0.05249 0.855189628
6 307.74028 0.04306 0.701552017
7 359.03033 0.03685 0.600376029
8 410.32038 0.03193 0.520217276
9 461.61043 0.02826 0.460424059
10 512.90047 0.02527 0.411709695
11 564.19052 0.02307 0.37586635
12 615.48057 0.02099 0.341978096
13 666.77061 0.01948 0.317376528
14 718.06066 0.01802 0.293589581
15 769.35071 0.01675 0.272898195
16 820.64076 0.01562 0.25448775
17 871.9308 0.0147 0.239498715
18 923.22085 0.01409 0.229560332
19 974.5109 0.01333 0.217178086
20 1025.80095 0.01276 0.207891401
21 1077.09099 0.0122 0.198767641
22 1128.38104 0.01179 0.192087745
23 1179.67109 0.01148 0.187037091
24 1230.96113 0.01206 0.1964867
25 1282.25118 0.00848 0.138159803
26 1333.54123 0.01421 0.231515424
27 1384.83128 0.00554 0.09026006
28 1436.12132 0.00797 0.129850664
29 1487.41137 0.00808 0.131642831
30 1538.70142 0.00802 0.130665285
31 1589.99147 0.00786 0.128058496















3.990874329








Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 95 -
Tabel L.17. Harmonik V
comp
Berbeban Sedang Pada D=0,4

h f h x 50
(Hz)
V
comp-h
(V)
HFv
(%)
THDv
(%)
1 51.29005 7.25314 100
2 102.58009 0.32457 4.474889496
3 153.87014 0.24773 3.415486258
4 205.16019 0.22768 3.139054258
5 256.45024 0.22156 3.054677009
6 307.74028 0.22007 3.034134182
7 359.03033 0.22205 3.061432704
8 410.32038 0.22497 3.10169113
9 461.61043 0.23087 3.18303521
10 512.90047 0.23703 3.267963944
11 564.19052 0.24647 3.398114472
12 615.48057 0.25676 3.539984062
13 666.77061 0.26974 3.718941038
14 718.06066 0.28533 3.933882429
15 769.35071 0.30484 4.202869378
16 820.64076 0.32818 4.524661043
17 871.9308 0.35869 4.945306447
18 923.22085 0.39706 5.474318709
19 974.5109 0.44878 6.187389186
20 1025.80095 0.52156 7.190816667
21 1077.09099 0.63092 8.698577444
22 1128.38104 0.81555 11.24409566
23 1179.67109 1.209 16.66864282
24 1230.96113 2.83214 39.04708857
25 1282.25118 3.03306 41.81719917
26 1333.54123 2.14096 29.51769854
27 1384.83128 4.12371 56.8541349
28 1436.12132 1.24449 17.15794814
29 1487.41137 0.75254 10.37536846
30 1538.70142 0.5382 7.420234547
31 1589.99147 0.41433 5.712422482















107.2712506


















Tabel L.18. Harmonik I Saat Beban Sedang Pada D = 0,4

h f h x 50
(Hz)
I
h
(A)
HFi
(%)
THDi
(%)
1 51.29005 6.22708 100
2 102.58009 0.18255 2.931550582
3 153.87014 0.09913 1.591917881
4 205.16019 0.06987 1.122034726
5 256.45024 0.05416 0.869749546
6 307.74028 0.04462 0.716547724
7 359.03033 0.03794 0.609274331
8 410.32038 0.03302 0.530264586
9 461.61043 0.02926 0.469883156
10 512.90047 0.02625 0.421545893
11 564.19052 0.02405 0.386216333
12 615.48057 0.02206 0.354259139
13 666.77061 0.02045 0.328404324
14 718.06066 0.01897 0.304637165
15 769.35071 0.01795 0.288257096
16 820.64076 0.01687 0.270913494
17 871.9308 0.01596 0.256299903
18 923.22085 0.01546 0.248270457
19 974.5109 0.01479 0.237511
20 1025.80095 0.01441 0.231408622
21 1077.09099 0.01419 0.227875666
22 1128.38104 0.01427 0.229160377
23 1179.67109 0.01544 0.24794928
24 1230.96113 0.02125 0.341251437
25 1282.25118 0.00693 0.111288116
26 1333.54123 0.01454 0.233496278
27 1384.83128 0.00889 0.142763542
28 1436.12132 0.00491 0.078849156
29 1487.41137 0.006 0.096353347
30 1538.70142 0.0065 0.104382793
31 1589.99147 0.00671 0.10775516















4.054356861








Tabel L.19. Harmonik V
comp
Berbeban Sedang Pada D=0,6

h f h x 50
(Hz)
V
comp-h
(V)
HFv
(%)
THDv
(%)
1 51.29005 14.78663 100
2 102.58009 0.44326 2.997708065
3 153.87014 0.28951 1.957917389
4 205.16019 0.25181 1.702957334
5 256.45024 0.23853 1.613146471
6 307.74028 0.23433 1.584742433
7 359.03033 0.23637 1.59853868
8 410.32038 0.24243 1.639521649
9 461.61043 0.251 1.697479412
10 512.90047 0.26087 1.764228901
11 564.19052 0.27755 1.877033509
12 615.48057 0.29377 1.986727199
13 666.77061 0.31444 2.126515643
14 718.06066 0.34143 2.309045401
15 769.35071 0.37245 2.51882951
16 820.64076 0.40907 2.76648567
17 871.9308 0.46014 3.111865246
18 923.22085 0.52231 3.532312636
19 974.5109 0.6052 4.092886614
20 1025.80095 0.72353 4.89313657
21 1077.09099 0.90046 6.089690484
22 1128.38104 1.19841 8.104686463
23 1179.67109 1.82671 12.35379529
24 1230.96113 4.382 29.63487962
25 1282.25118 4.47567 30.26835729
26 1333.54123 2.94627 19.92522975
27 1384.83128 6.69034 45.24587414
28 1436.12132 2.14518 14.50756528
29 1487.41137 1.35764 9.181537646
30 1538.70142 1.01221 6.84544078
31 1589.99147 0.81483 5.510586253















82.2418922


















Tabel L.20. Harmonik I Saat Beban Sedang Pada D = 0,6

h f h x 50
(Hz)
I
h
(A)
HFi
(%)
THDi
(%)
1 51.29005 6.36843 100
2 102.58009 0.1917 3.01016106
3 153.87014 0.10478 1.645303474
4 205.16019 0.07386 1.159783495
5 256.45024 0.05756 0.903833441
6 307.74028 0.04735 0.743511352
7 359.03033 0.04007 0.629197463
8 410.32038 0.03512 0.5514703
9 461.61043 0.03115 0.489131544
10 512.90047 0.02817 0.442338222
11 564.19052 0.0257 0.403553152
12 615.48057 0.02347 0.368536672
13 666.77061 0.02171 0.340900347
14 718.06066 0.02025 0.31797476
15 769.35071 0.01914 0.300545032
16 820.64076 0.01809 0.284057452
17 871.9308 0.01725 0.270867388
18 923.22085 0.01662 0.26097484
19 974.5109 0.01603 0.25171039
20 1025.80095 0.01585 0.248883948
21 1077.09099 0.01567 0.246057506
22 1128.38104 0.01611 0.252966587
23 1179.67109 0.01803 0.283115305
24 1230.96113 0.02731 0.428834108
25 1282.25118 0.00717 0.112586619
26 1333.54123 0.01376 0.216065812
27 1384.83128 0.02189 0.34372679
28 1436.12132 0.00856 0.134413034
29 1487.41137 0.00752 0.118082479
30 1538.70142 0.00725 0.113842815
31 1589.99147 0.00727 0.114156864















4.206103418








Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 96 -
Tabel L.21. Harmonik V
comp
Berbeban Sedang Pada D=0,8

h f h x 50
(Hz)
V
comp-h
(V)
HFv
(%)
THDv
(%)
1 51.29005 27.42966 100
2 102.58009 0.55832 2.035460884
3 153.87014 0.27736 1.011168203
4 205.16019 0.20263 0.73872589
5 256.45024 0.17502 0.638068427
6 307.74028 0.16414 0.598403334
7 359.03033 0.16305 0.594429534
8 410.32038 0.16774 0.611527813
9 461.61043 0.17475 0.637084091
10 512.90047 0.18665 0.680467786
11 564.19052 0.19939 0.726913859
12 615.48057 0.2169 0.790749867
13 666.77061 0.23795 0.867491613
14 718.06066 0.263 0.958816114
15 769.35071 0.2936 1.070374186
16 820.64076 0.32911 1.19983259
17 871.9308 0.37457 1.365565596
18 923.22085 0.4312 1.572020944
19 974.5109 0.50978 1.858499157
20 1025.80095 0.61624 2.246619171
21 1077.09099 0.77599 2.829017932
22 1128.38104 1.0406 3.793703604
23 1179.67109 1.59752 5.824060524
24 1230.96113 3.82665 13.95077445
25 1282.25118 3.68762 13.44391436
26 1333.54123 2.30898 8.417822168
27 1384.83128 5.88408 21.45152364
28 1436.12132 1.9244 7.015763229
29 1487.41137 1.22927 4.481535681
30 1538.70142 0.92112 3.358116725
31 1589.99147 0.74476 2.715163075















50.6057954


















Tabel L.22. Harmonik I Saat Beban Sedang Pada D = 0,8

h f h x 50
(Hz)
I
h
(A)
HFi
(%)
THDi
(%)
1 51.29005 6.55017 100
2 102.58009 0.20289 3.097476859
3 153.87014 0.11161 1.703925242
4 205.16019 0.0787 1.201495534
5 256.45024 0.06118 0.93402156
6 307.74028 0.05037 0.768987675
7 359.03033 0.04281 0.653570823
8 410.32038 0.03737 0.570519544
9 461.61043 0.0331 0.505330396
10 512.90047 0.02979 0.454797356
11 564.19052 0.02701 0.41235571
12 615.48057 0.0247 0.37708945
13 666.77061 0.02269 0.346403223
14 718.06066 0.02124 0.324266393
15 769.35071 0.02005 0.306098926
16 820.64076 0.01864 0.284572767
17 871.9308 0.01772 0.27052733
18 923.22085 0.01677 0.256023889
19 974.5109 0.01605 0.245031808
20 1025.80095 0.01551 0.236787747
21 1077.09099 0.01503 0.229459693
22 1128.38104 0.01514 0.231139039
23 1179.67109 0.01595 0.24350513
24 1230.96113 0.02273 0.347013894
25 1282.25118 0.01064 0.162438532
26 1333.54123 0.00891 0.136027004
27 1384.83128 0.025 0.381669483
28 1436.12132 0.01271 0.194040765
29 1487.41137 0.01087 0.165949891
30 1538.70142 0.01017 0.155263146
31 1589.99147 0.00964 0.147171753















4.344075944








Tabel L.23. Harmonik V
comp
Berbeban Sedang Pada D = 1

h f h x 50
(Hz)
V
comp-h
(V)
HFv
(%)
THDv
(%)
1 51.29005 45.30115 100
2 102.58009 0.7708 1.701502059
3 153.87014 0.30333 0.669585651
4 205.16019 0.17041 0.376171466
5 256.45024 0.11578 0.255578501
6 307.74028 0.08405 0.185536129
7 359.03033 0.06604 0.145779964
8 410.32038 0.05449 0.120283922
9 461.61043 0.04643 0.102491879
10 512.90047 0.04008 0.088474575
11 564.19052 0.03615 0.079799299
12 615.48057 0.03133 0.069159392
13 666.77061 0.02897 0.063949811
14 718.06066 0.02564 0.056599005
15 769.35071 0.02341 0.051676392
16 820.64076 0.02233 0.049292347
17 871.9308 0.02033 0.044877448
18 923.22085 0.0198 0.0437075
19 974.5109 0.01826 0.040308028
20 1025.80095 0.01757 0.038784887
21 1077.09099 0.01611 0.035562011
22 1128.38104 0.0164 0.036202171
23 1179.67109 0.01539 0.033972647
24 1230.96113 0.01421 0.031367857
25 1282.25118 0.01402 0.030948442
26 1333.54123 0.01203 0.026555617
27 1384.83128 0.01182 0.026092053
28 1436.12132 0.01227 0.027085405
29 1487.41137 0.01103 0.024348168
30 1538.70142 0.01227 0.027085405
31 1589.99147 0.01062 0.023443113















1.92449069


















Tabel L.24. Harmonik I Saat Beban Sedang Pada D = 1

h f h x 50
(Hz)
I
h
(A)
HFi
(%)
THDi
(%)
1 51.29005 6.7358 100
2 102.58009 0.21476 3.188336946
3 153.87014 0.11884 1.764304166
4 205.16019 0.08408 1.24825559
5 256.45024 0.06551 0.972564506
6 307.74028 0.05386 0.799608064
7 359.03033 0.0458 0.67994893
8 410.32038 0.03982 0.591169572
9 461.61043 0.03519 0.522432376
10 512.90047 0.03165 0.469877372
11 564.19052 0.02852 0.423409246
12 615.48057 0.0264 0.391935628
13 666.77061 0.02432 0.361055851
14 718.06066 0.02247 0.333590665
15 769.35071 0.02086 0.30968853
16 820.64076 0.01973 0.292912497
17 871.9308 0.01848 0.274354939
18 923.22085 0.0175 0.259805814
19 974.5109 0.0165 0.244959767
20 1025.80095 0.01577 0.234122153
21 1077.09099 0.01494 0.221799935
22 1128.38104 0.01434 0.212892307
23 1179.67109 0.01365 0.202648535
24 1230.96113 0.01311 0.19463167
25 1282.25118 0.0125 0.185575581
26 1333.54123 0.01223 0.181567149
27 1384.83128 0.01166 0.173104902
28 1436.12132 0.01131 0.167908786
29 1487.41137 0.01086 0.161228065
30 1538.70142 0.01051 0.156031949
31 1589.99147 0.01015 0.150687372















4.45048601








Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 97 -
Tabel L.25. Harmonik V
comp
Berbeban Berat Pada D = 0

h f h x 50
(Hz)
V
comp-h
(V)
HFv
(%)
THDv
(%)
1 51.29005 4.44614 100
2 102.58009 0.13021 2.928607736
3 153.87014 0.07068 1.589693532
4 205.16019 0.0498 1.120072692
5 256.45024 0.03855 0.867044223
6 307.74028 0.03166 0.712078342
7 359.03033 0.02677 0.602095301
8 410.32038 0.0235 0.528548359
9 461.61043 0.0207 0.465572384
10 512.90047 0.0185 0.416091261
11 564.19052 0.01681 0.378080762
12 615.48057 0.01554 0.349516659
13 666.77061 0.01424 0.320277814
14 718.06066 0.01322 0.297336566
15 769.35071 0.01221 0.274620232
16 820.64076 0.01157 0.260225724
17 871.9308 0.01097 0.246730872
18 923.22085 0.01016 0.228512822
19 974.5109 0.00971 0.218391684
20 1025.801 0.00915 0.205796489
21 1077.091 0.00876 0.197024835
22 1128.381 0.00836 0.188028267
23 1179.6711 0.00816 0.183529983
24 1230.9611 0.00748 0.168235818
25 1282.2512 0.00738 0.165986676
26 1333.5412 0.00717 0.161263478
27 1384.8313 0.00678 0.152491824
28 1436.1213 0.00653 0.146868969
29 1487.4114 0.00626 0.140796286
30 1538.7014 0.00609 0.136972745
31 1589.9915 0.00596 0.13404886















4.03616373


















Tabel L.26. Harmonik I Saat Beban Berat Pada D = 0

h f h x 50
(Hz)
I
h
(A)
HFi
(%)
THDi
(%)
1 51.29005 5.43694 100
2 102.58009 0.14297 2.629604152
3 153.87014 0.0752 1.383130952
4 205.16019 0.05228 0.961570295
5 256.45024 0.04032 0.741593617
6 307.74028 0.03297 0.606407281
7 359.03033 0.02786 0.51242059
8 410.32038 0.02429 0.446758655
9 461.61043 0.02149 0.395259098
10 512.90047 0.01937 0.356266576
11 564.19052 0.01746 0.321136522
12 615.48057 0.01591 0.292627838
13 666.77061 0.01464 0.269269111
14 718.06066 0.01363 0.250692485
15 769.35071 0.01285 0.23634618
16 820.64076 0.01203 0.221264167
17 871.9308 0.01128 0.207469643
18 923.22085 0.01068 0.196434024
19 974.5109 0.0101 0.185766258
20 1025.80095 0.00948 0.174362785
21 1077.09099 0.00909 0.167189632
22 1128.38104 0.00872 0.160384334
23 1179.67109 0.00834 0.153395108
24 1230.96113 0.00788 0.144934467
25 1282.25118 0.00773 0.142175562
26 1333.54123 0.00727 0.133714921
27 1384.83128 0.00699 0.128564965
28 1436.12132 0.00665 0.122311447
29 1487.41137 0.00654 0.12028825
30 1538.70142 0.00635 0.116793638
31 1589.99147 0.00621 0.11421866















3.548620139








Tabel L.27. Harmonik V
comp
Berbeban Berat Pada D = 0,2

h f h x 50
(Hz)
V
comp-h
(V)
HFv
(%)
THDv
(%)
1 51.29005 4.42512 100
2 102.5801 0.12579 2.842634776
3 153.8701 0.07022 1.586849622
4 205.1602 0.05159 1.16584409
5 256.4502 0.04305 0.972854973
6 307.7403 0.03785 0.855344036
7 359.0303 0.03503 0.791616951
8 410.3204 0.03285 0.74235275
9 461.6104 0.03212 0.725856022
10 512.9005 0.03134 0.708229381
11 564.1905 0.0316 0.714104928
12 615.4806 0.03181 0.718850562
13 666.7706 0.03277 0.740544889
14 718.0607 0.03365 0.760431356
15 769.3507 0.03569 0.8065318
16 820.6408 0.03776 0.853310193
17 871.9308 0.04091 0.924494703
18 923.2209 0.04492 1.015113714
19 974.5109 0.05101 1.152737101
20 1025.801 0.05983 1.35205373
21 1077.091 0.07427 1.678372564
22 1128.381 0.10175 2.299372672
23 1179.671 0.1712 3.868821636
24 1230.961 0.54154 12.23786022
25 1282.251 1.32238 29.88348339
26 1333.541 1.26776 28.64916658
27 1384.831 0.8643 19.53167372
28 1436.121 0.18468 4.173446144
29 1487.411 0.09451 2.13576129
30 1538.701 0.06117 1.382335394
31 1589.991 0.04426 1.000198865















72.71852794


















Tabel L.28. Harmonik I Saat Beban Berat Pada D = 0,2

h f h x 50
(Hz)
I
h
(A)
HFi
(%)
THDi
(%)
1 51.29005 5.46906 100
2 102.58009 0.14413 2.635370612
3 153.87014 0.07604 1.3903669
4 205.16019 0.05284 0.966162375
5 256.45024 0.04084 0.746746242
6 307.74028 0.03337 0.610159698
7 359.03033 0.02837 0.518736309
8 410.32038 0.02474 0.452362929
9 461.61043 0.02172 0.397143202
10 512.90047 0.01947 0.356002677
11 564.19052 0.01772 0.324004491
12 615.48057 0.0163 0.298040248
13 666.77061 0.01488 0.272076006
14 718.06066 0.01367 0.249951546
15 769.35071 0.01298 0.237335118
16 820.64076 0.01212 0.221610295
17 871.9308 0.01143 0.208993867
18 923.22085 0.01068 0.195280359
19 974.5109 0.01027 0.187783641
20 1025.80095 0.00967 0.176812834
21 1077.09099 0.00924 0.168950423
22 1128.38104 0.00877 0.160356624
23 1179.67109 0.00865 0.158162463
24 1230.96113 0.00869 0.15889385
25 1282.25118 0.00668 0.122141648
26 1333.54123 0.01046 0.19125773
27 1384.83128 0.00519 0.094897478
28 1436.12132 0.00654 0.119581793
29 1487.41137 0.00654 0.119581793
30 1538.70142 0.00636 0.116290551
31 1589.99147 0.00601 0.109890914















3.56265937








Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 98 -
Tabel L.29. Harmonik V
comp
Berbeban Berat Pada D = 0,4

h f h x 50
(Hz)
V
comp-h
(V)
HFv
(%)
THDv
(%)
1 51.29005 6.48549 100
2 102.58009 0.26367 4.065537068
3 153.87014 0.1965 3.029840459
4 205.16019 0.1789 2.758465436
5 256.45024 0.17289 2.665797033
6 307.74028 0.17207 2.653153424
7 359.03033 0.17256 2.660708751
8 410.32038 0.176 2.713750233
9 461.61043 0.17996 2.774809613
10 512.90047 0.18524 2.85622212
11 564.19052 0.19221 2.963692797
12 615.48057 0.19932 3.073322139
13 666.77061 0.2095 3.23028792
14 718.06066 0.22124 3.411307395
15 769.35071 0.23652 3.646910257
16 820.64076 0.25522 3.935246219
17 871.9308 0.27882 4.299135455
18 923.22085 0.30918 4.76725737
19 974.5109 0.34949 5.388798688
20 1025.80095 0.40679 6.272309417
21 1077.09099 0.49319 7.604514077
22 1128.38104 0.64106 9.884526844
23 1179.67109 0.96321 14.8517691
24 1230.96113 2.35604 36.3278642
25 1282.25118 3.03628 46.81650885
26 1333.54123 2.24327 34.58905958
27 1384.83128 3.51838 54.25002583
28 1436.12132 1.00699 15.52681447
29 1487.41137 0.59749 9.212719471
30 1538.70142 0.42328 6.526569311
31 1589.99147 0.32496 5.010569749















107.10017


















Tabel L.30. Harmonik I Saat Beban Berat Pada D = 0,4

h f h x 50
(Hz)
I
h
(A)
HFi
(%)
THDi
(%)
1 51.2451 5.56639 100
2 102.4902 0.14843 2.666539714
3 153.7353 0.0784 1.408453235
4 204.9804 0.05472 0.98304287
5 256.2255 0.04224 0.75884011
6 307.4706 0.03477 0.624641824
7 358.7157 0.02911 0.522960123
8 409.9608 0.0255 0.458106601
9 461.2059 0.02274 0.408523298
10 512.451 0.02043 0.367024229
11 563.6961 0.01845 0.331453599
12 614.9412 0.01696 0.304685802
13 666.1863 0.01576 0.283127844
14 717.4314 0.01483 0.266420427
15 768.6765 0.01384 0.248635112
16 819.9216 0.01282 0.230310848
17 871.1667 0.01234 0.221687665
18 922.4118 0.01172 0.210549387
19 973.6569 0.01125 0.202105853
20 1024.902 0.01078 0.19366232
21 1076.1471 0.01042 0.187194932
22 1127.3922 0.01059 0.190248976
23 1178.6373 0.0109 0.195818116
24 1229.8824 0.01387 0.249174061
25 1281.1275 0.00591 0.106172942
26 1332.3726 0.01038 0.186476334
27 1383.6177 0.00605 0.108688037
28 1434.8628 0.00511 0.09180097
29 1486.1079 0.00536 0.096292211
30 1537.353 0.00547 0.098268357
31 1588.5981 0.00547 0.098268357















3.616780095








Tabel L.31. Harmonik V
comp
Berbeban Berat Pada D = 0,6

h f h x 50
(Hz)
V
comp-h
(V)
HFv
(%)
THDv
(%)
1 51.2451 13.24212 100
2 102.4902 0.39123 2.954436299
3 153.7353 0.25067 1.892974841
4 204.9804 0.21436 1.618774033
5 256.2255 0.1997 1.508066684
6 307.4706 0.19642 1.483297236
7 358.7157 0.19667 1.485185152
8 409.9608 0.19944 1.506103252
9 461.2059 0.2072 1.564704141
10 512.451 0.214 1.616055435
11 563.6961 0.22707 1.714755643
12 614.9412 0.23874 1.802883526
13 666.1863 0.25645 1.936623441
14 717.4314 0.27661 2.088864925
15 768.6765 0.30105 2.273427518
16 819.9216 0.33271 2.512513102
17 871.1667 0.36991 2.793434888
18 922.4118 0.42115 3.180381993
19 973.6569 0.48756 3.681887794
20 1024.902 0.58129 4.389704972
21 1076.1471 0.72518 5.47631346
22 1127.3922 0.96696 7.302154036
23 1178.6373 1.48965 11.24933168
24 1229.8824 3.69869 27.9312527
25 1281.1275 4.52299 34.15608679
26 1332.3726 3.22135 24.32654288
27 1383.6177 5.74286 43.36813139
28 1434.8628 1.75207 13.23103853
29 1486.1079 1.09229 8.248603698
30 1537.353 0.80836 6.104460615
31 1588.5981 0.64887 4.900046216















82.30453547


















Tabel L.32. Harmonik I Saat Beban Berat Pada D = 0,6

h f h x 50
(Hz)
I
h
(A)
HFi
(%)
THDi
(%)
1 51.2451 5.72984 100
2 102.4902 0.15729 2.74510283
3 153.7353 0.08364 1.459726624
4 204.9804 0.05851 1.021145442
5 256.2255 0.0455 0.794088491
6 307.4706 0.03724 0.649930888
7 358.7157 0.03151 0.549928096
8 409.9608 0.02753 0.480467168
9 461.2059 0.02445 0.426713486
10 512.451 0.02195 0.38308225
11 563.6961 0.02003 0.349573461
12 614.9412 0.01834 0.320078746
13 666.1863 0.01709 0.298263128
14 717.4314 0.01586 0.27679656
15 768.6765 0.01461 0.254980942
16 819.9216 0.01402 0.24468397
17 871.1667 0.01332 0.232467224
18 922.4118 0.01272 0.221995728
19 973.6569 0.01216 0.212222331
20 1024.902 0.01188 0.207335632
21 1076.1471 0.0118 0.205939433
22 1127.3922 0.01176 0.205241333
23 1178.6373 0.01265 0.220774053
24 1229.8824 0.01813 0.316413722
25 1281.1275 0.00346 0.06038563
26 1332.3726 0.00887 0.154803625
27 1383.6177 0.01421 0.247999944
28 1434.8628 0.00704 0.12286556
29 1486.1079 0.00633 0.110474289
30 1537.353 0.0061 0.106460215
31 1588.5981 0.00603 0.105238541















3.75546129








Tesis Magister-Luqmanul Hakim Effendi-23203013

- 99 -
Tabel L.33. Harmonik V
comp
Berbeban Berat Pada D = 0,8

h f h x 50
(Hz)
V
comp-h
(V)
HFv
(%)
THDv
(%)
1 51.2451 24.79376 100
2 102.4902 0.55739 2.248105975
3 153.7353 0.29268 1.180458309
4 204.9804 0.21666 0.873848904
5 256.2255 0.18463 0.744663173
6 307.4706 0.17127 0.690778648
7 358.7157 0.16542 0.667184001
8 409.9608 0.1658 0.668716645
9 461.2059 0.16781 0.676823523
10 512.451 0.17659 0.712235659
11 563.6961 0.18563 0.748696446
12 614.9412 0.19903 0.802742303
13 666.1863 0.21458 0.865459696
14 717.4314 0.23268 0.938461936
15 768.6765 0.25783 1.039898749
16 819.9216 0.28533 1.150813753
17 871.1667 0.32197 1.298592872
18 922.4118 0.36685 1.479606159
19 973.6569 0.42927 1.731363053
20 1024.902 0.51763 2.087743045
21 1076.1471 0.64709 2.609890553
22 1127.3922 0.86861 3.503341163
23 1178.6373 1.33913 5.401076723
24 1229.8824 3.29557 13.29193313
25 1281.1275 3.78416 15.26254993
26 1332.3726 2.6289 10.6030711
27 1383.6177 5.11718 20.63898336
28 1434.8628 1.59759 6.443516433
29 1486.1079 1.00479 4.052592265
30 1537.353 0.74914 3.021486051
31 1588.5981 0.60292 2.43174089















50.7784057



















Tabel L.34. Harmonik I Saat Beban Berat Pada D = 0,8

h f h x 50
(Hz)
I
h
(A)
HFi
(%)
THDi
(%)
1 51.2451 5.96245 100
2 102.4902 0.16929 2.839269092
3 153.7353 0.09116 1.52890171
4 204.9804 0.06413 1.075564575
5 256.2255 0.04952 0.830531074
6 307.4706 0.04058 0.680592709
7 358.7157 0.03456 0.579627502
8 409.9608 0.03009 0.50465832
9 461.2059 0.02651 0.444615888
10 512.451 0.02379 0.398997057
11 563.6961 0.0216 0.362267189
12 614.9412 0.0198 0.332078256
13 666.1863 0.0183 0.306920813
14 717.4314 0.017 0.285117695
15 768.6765 0.01596 0.267675201
16 819.9216 0.015 0.251574437
17 871.1667 0.01407 0.235976822
18 922.4118 0.01337 0.224236681
19 973.6569 0.01276 0.214005987
20 1024.902 0.01239 0.207800485
21 1076.1471 0.01178 0.197569791
22 1127.3922 0.01158 0.194215465
23 1178.6373 0.01221 0.204781591
24 1229.8824 0.01607 0.26952008
25 1281.1275 0.00542 0.09090223
26 1332.3726 0.00533 0.089392783
27 1383.6177 0.01731 0.2903169
28 1434.8628 0.00976 0.1636911
29 1486.1079 0.00869 0.145745457
30 1537.353 0.00813 0.136353345
31 1588.5981 0.0077 0.129141544















3.912346475








Tabel L.35. Harmonik V
comp
Berbeban Berat Pada D = 1

h f h x
50 (Hz)
V
comp-h
(V)
HFv
(%)
THDv
(%)
1 51.2451 41.78304 100
2 102.4902 0.81861 1.959192055
3 153.7353 0.36906 0.883277043
4 204.9804 0.23876 0.571428024
5 256.2255 0.17686 0.423281791
6 307.4706 0.14093 0.337289963
7 358.7157 0.11828 0.283081365
8 409.9608 0.10086 0.241389808
9 461.2059 0.08951 0.214225676
10 512.451 0.07871 0.188377868
11 563.6961 0.0718 0.171840058
12 614.9412 0.06477 0.155015049
13 666.1863 0.06056 0.144939191
14 717.4314 0.0545 0.130435698
15 768.6765 0.05106 0.122202693
16 819.9216 0.0476 0.113921821
17 871.1667 0.04443 0.106335011
18 922.4118 0.04255 0.101835577
19 973.6569 0.03946 0.094440232
20 1024.902 0.03902 0.093387173
21 1076.1471 0.03652 0.087403884
22 1127.3922 0.03539 0.084699438
23 1178.6373 0.03388 0.081085531
24 1229.8824 0.03174 0.075963836
25 1281.1275 0.03108 0.074384248
26 1332.3726 0.02878 0.068879622
27 1383.6177 0.0286 0.068448825
28 1434.8628 0.02604 0.062321937
29 1486.1079 0.02608 0.06241767
30 1537.353 0.02454 0.058731964
31 1588.5981 0.02427 0.058085769















2.405286127



















Tabel L.36. Harmonik I Saat Beban Berat Pada D = 1

h f h x 50
(Hz)
I
h
(A)
HFi
(%)
THDi
(%)
1 51.29005 6.25506 100
2 102.58009 0.18512 2.959523969
3 153.87014 0.10084 1.612134816
4 205.16019 0.07089 1.133322462
5 256.45024 0.05521 0.88264541
6 307.74028 0.04521 0.722774841
7 359.03033 0.03843 0.614382596
8 410.32038 0.03342 0.534287441
9 461.61043 0.02971 0.47497546
10 512.90047 0.02649 0.423497137
11 564.19052 0.02408 0.38496833
12 615.48057 0.02198 0.35139551
13 666.77061 0.02023 0.323418161
14 718.06066 0.01884 0.301196152
15 769.35071 0.01753 0.280253107
16 820.64076 0.01647 0.263306827
17 871.9308 0.01552 0.248119123
18 923.22085 0.01454 0.232451807
19 974.5109 0.0137 0.219022679
20 1025.80095 0.01323 0.211508763
21 1077.09099 0.01252 0.200157952
22 1128.38104 0.01199 0.191684812
23 1179.67109 0.01145 0.183051801
24 1230.96113 0.01092 0.174578661
25 1282.25118 0.01045 0.167064744
26 1333.54123 0.01017 0.162588368
27 1384.83128 0.00972 0.155394193
28 1436.12132 0.00949 0.15171717
29 1487.41137 0.00912 0.145801959
30 1538.70142 0.00867 0.138607783
31 1589.99147 0.00843 0.134770889















4.086089317









1
{lzpzGthnpz{ly {lzpzGthnpz{ly {lzpzGthnpz{ly {lzpzGthnpz{ly
{lzpzGthnpz{ly {lzpzGthnpz{ly {lzpzGthnpz{ly {lzpzGthnpz{ly
Oleh :
Luqmanul Hakim Effendi
(NIM : 232.03.013)
Pembimbing :
Ir. Syafri Martinius, MSc
(NIP : 130528352)
PEMANFAATAN TEKNÌK PWM UNTUK PEMANFAATAN TEKNÌK PWM UNTUK PEMANFAATAN TEKNÌK PWM UNTUK PEMANFAATAN TEKNÌK PWM UNTUK
PEMANFAATAN TEKNÌK PWM UNTUK PEMANFAATAN TEKNÌK PWM UNTUK PEMANFAATAN TEKNÌK PWM UNTUK PEMANFAATAN TEKNÌK PWM UNTUK
KOMPENSASÌ SERÌ TERKENDALÌ KOMPENSASÌ SERÌ TERKENDALÌ KOMPENSASÌ SERÌ TERKENDALÌ KOMPENSASÌ SERÌ TERKENDALÌ
KOMPENSASÌ SERÌ TERKENDALÌ KOMPENSASÌ SERÌ TERKENDALÌ KOMPENSASÌ SERÌ TERKENDALÌ KOMPENSASÌ SERÌ TERKENDALÌ

LaboratorIum LaboratorIum LaboratorIum LaboratorIum LaboratorIum LaboratorIum LaboratorIum LaboratorIum PeneIItIan PeneIItIan PeneIItIan PeneIItIan PeneIItIan PeneIItIan PeneIItIan PeneIItIan KonversI KonversI KonversI KonversI KonversI KonversI KonversI KonversI EnergI EnergI EnergI EnergI EnergI EnergI EnergI EnergI EIektrIk EIektrIk EIektrIk EIektrIk EIektrIk EIektrIk EIektrIk EIektrIk
SekoIah SekoIah SekoIah SekoIah SekoIah SekoIah SekoIah SekoIah TeknIk TeknIk TeknIk TeknIk TeknIk TeknIk TeknIk TeknIk EIektro EIektro EIektro EIektro EIektro EIektro EIektro EIektro Dan Dan Dan Dan Dan Dan Dan Dan ÌnIormatIka ÌnIormatIka ÌnIormatIka ÌnIormatIka ÌnIormatIka ÌnIormatIka ÌnIormatIka ÌnIormatIka
ÌNSTÌTUT TEKNOLOCÌ 8ANDUNC ÌNSTÌTUT TEKNOLOCÌ 8ANDUNC ÌNSTÌTUT TEKNOLOCÌ 8ANDUNC ÌNSTÌTUT TEKNOLOCÌ 8ANDUNC ÌNSTÌTUT TEKNOLOCÌ 8ANDUNC ÌNSTÌTUT TEKNOLOCÌ 8ANDUNC ÌNSTÌTUT TEKNOLOCÌ 8ANDUNC ÌNSTÌTUT TEKNOLOCÌ 8ANDUNC
19 19 19 19 19 19 19 19 IanuarI IanuarI IanuarI IanuarI IanuarI IanuarI IanuarI IanuarI 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006 2006
2
Pendahuluan
Pendahuluan
3
Mengapa
Mengapa
Kompensasi
Kompensasi
Terkendali
Terkendali
?
?
Kebutuhan kapasitor bank yang kapasitansinya belum tentu sesuai
dengan yang tersedia di pasaran.
Kondisi beban listrik yang selalu berfluktuasi sehingga kebutuhan derajat
kompensasi yang tidak selalu sama. Saat daya beban kecil, jatuh tegangan
saluran (IX
sal
) tidak terlalu besar. Pada kondisi inilah dibutuhkan reaktansi
kapasitif (X
C
) yang kecil untuk mengompensasi saluran, atau bisa jadi tidak
perlu dikompensasi. Saat daya beban besar, jatuh tegangan saluran akan
naik. Di saat itulah dibutuhkan reaktansi kapasitif yang lebih besar untuk
mengurangi jatuh tegangan saluran.
Masalah peletakan kapasitor seri yang paling optimal di saluran. Jika
kompensasi seri bisa dikendalikan, maka letak kapasitor seri cukup ditengah
saluran untuk menghindari akibat sampingan seperti yang diungkapkan
Tagare [15] dan Gönen [3].
4
Solusi
Solusi
Konvensional
Konvensional
Dengan merangkai beberapa kapasitor, bisa secara seri maupun paralel
atau kombinasi keduanya, sehingga dapat memenuhi spesifikasi kapasitor
yang dibutuhkan walaupun spesifikasi yang dimaksud tidak ada di pasaran.
Misalkan kapasitor yang dibutuhkan adalah C1 = 120 µF, memiliki
kemampuan kerja (nominal) pada 90 A / 400 V, dan mampu mensuplai daya
reaktif 120 KVAR. Sedangkan yang tersedia di pasaran adalah C2 = 40 µF /
15 A / 400 V / 40 KVAR. Maka rangkaian kapasitor bank –nya menjadi
seperti yang ditampilkan gambar berikut :
- Kendala fluktuasi beban tidak
teratasi (fixed compensation).
- Bisa dikombinasikan dengan
reaktor shunt & saklar mekanis,
tapi kurang responsif.
- Cara ini tidak mengatur
arus/tegangan kapasitor.
5
Prinsip
Prinsip
Umum
Umum
Kompensasi
Kompensasi
Terkendali
Terkendali
Yaitu dengan persamaan dasar kapasitor :
harga sesaat :
harga efektif/kondisi mantap :

=
t
c c
dt t i
C
t v
0
) (
1
) (
( ) { }

= =
T
c c c c
dt t v
T
I jX V
0
2
1
6
1. Kelebihan kompensasi seri dibandingkan kompensasi shunt : meningkatkan kemampuan
penyaluran daya aktif saluran.
2. Kebutuhan akan metode kompensasi seri terkendali yang lebih sederhana dan unggul
daripada metode sebelumnya.
TCSC
[5,6,10]
(di Arizona
& Oregon)
GTOCSC
[6,8,11]
(usulan)
- X
C
bisa variabel
- butuh rangk komutasi paksa
- ada harmonik arus orde rendah
- butuh rangk sinkronisasi
- respon lebih lambat
- kendali sudut fasa (sudut tunda)
- ada zona resonansi
- X
C
bisa variabel
- respon lebih cepat drpd TCSC
- tanpa komutasi paksa
- ada harmonik arus orde rendah
- butuh rangk sinkronisasi
- drivernya rumit krn butuh arus
negatif yang besar
- kendali sudut fasa (sudut tunda)
7
PWMCSC
oleh Chu &
Pollock [2]
(usulan)
PWMCSC
Lopes et al
[9]
- X
C
bisa variabel
- respon lebih cepat krn frek
pensaklaran tinggi
- tanpa rangk sinkronisasi
- tanpa komutasi paksa
- rangk rumit krn butuh 12
saklar daya untuk
sistem 3-fasa
- harmonik arus orde rendah
hilang
- prinsipnya sama dgn
PWMCSC-nya Chu
& Pollock
- Rangk jauh lebih
sederhana (hanya bu-
tuh 4 saklar daya utk
sistem 3-fasa)
8
Tujuan
Tujuan
Penelitian
Penelitian
a) Melakukan studi/analisa terhadap PWMCSC yang
diusulkan Lopes et al [9].
b) Mensimulasikannya dan melakukan percobaan
dilaboratorium.
c) Menganalisa harmonik yang dibangkitkan.
9
Batasan
Batasan
Penelitian
Penelitian
1) Analisa dilakukan pada kondisi mantap, sumber sinusoidal,
STTL 3-fasa 3-kawat, dan beban linier.
2) Masing-masing fasa dalam kondisi setimbang, baik impedansi
beban maupun impedansi STTL.
3) Praktik laboratorium hanya dilakukan untuk sistem 1-fasa
dengan kendali open-loop.
4) Masalah desain kapasitor yang tepat, sistem proteksi kapasitor
saat terjadi gangguan, dan masalah resonansi sub-sinkron
sudah di luar cakupan penelitian ini.
10
Kontribusi
Kontribusi
Penelitian
Penelitian
1. Mensimulasikan hasil rancangan menggunakan PSIM.
2. Mempraktikkan hasil rancangan di laboratorium untuk
sistem 1-fasa dengan kendali open-loop.
3. Menganalisa harmonik PWMCSC menggunakan Origin.
4. Menampilkan rangkaian pembangkit sinyal PWM.
5. Menampilkan rangkaian kendali open-loop dan driver.
11
1. Melakukan studi literatur tentang setiap perkembangan metode kom-
pensasi seri terkendali.
2. Studi PWMCSC dan landasan teorinya.
3. Menentukan parameter STTL, kapasitansi kapasitor bank, dan nilai
impedansi beban linier.
4. Simulasi PWMCSC 1-fasa & 3-fasa menggunakan PSIM.
5. Merancang rangkaian pembangkit PWM, kendali open-loop, & driver.
6. Percobaan PWMCSC 1-fasa dilaboratorium.
7. Analisa harmonik PWMCSC 1-fasa menggunakan Origin.
8. Analisa hasil, mengambil kesimpulan, penulisan laporan (tesis).
Metodologi
Metodologi
Penelitian
Penelitian
12
Landasan
Landasan
Teori
Teori
Teori Singkat Saluran Transmisi Tenaga Listrik
Teori Singkat Hantaran Daya Listrik
Teori Singkat Kompensasi Seri & Perbandingan
dengan Kompensasi Shunt
Teori Singkat PWM
13
Teori
Teori
Singkat
Singkat
STTL
STTL
∆ ∆∆ ∆X
∆ ∆∆ ∆X
∆ ∆∆ ∆X
∆ ∆∆ ∆X
∆ ∆∆ ∆X
∆ ∆∆ ∆X
Saluran pendek :
- < 80 km
- besaran shunt diabaikan
Saluran menengah :
- 80-250 km
- nominal T atau phi
- parameter terpusat
Saluran panjang :
- > 250 km
- ekivalen T atau phi
- parameter terdistribusi
14
Teori
Teori
Singkat
Singkat
Hantaran
Hantaran
Daya
Daya
Listrik
Listrik
(Diagram Satu Garis STTL)
δ δ sin sin
maks
sal
t k
P
X
V V
P = =
sal
t t k
t
X
V V V
Q
2
cos −
=
δ

90° 180°
ô
P
maks
2P
maks
P
Q
t
= -Q
k
15
Teori
Teori
Singkat
Singkat
Kompensasi
Kompensasi
Seri
Seri
(STTL Dikompensasi Seri)
(Diagram Fasornya)
Sebelum Kompensasi :
) )( (
sal t k
X I V V V = − = ∆
) )( (
sal t k
X I j V V + =
δ sin
sal
t k
X
V V
P =
Setelah Kompensasi :
( )
C sal t k
X X I V V V − = − = ∆
'
'
( )
C sal t k
X X I j V V − + = ) (
'
'
'
'
sinδ
C sal
t k
X X
V V
P

=
16
Perbandingan
Perbandingan
Dengan
Dengan
Kompensasi
Kompensasi
Shunt
Shunt
Kompensasi Kompensasi Shunt : Shunt :
Reaktor Reaktor Shunt : Shunt :
δ
θ
sin
sin
C
t k
Z
V V
P =
turun
naik
Kapasitor Kapasitor Shunt : Shunt :
δ
θ
sin
sin
C
t k
Z
V V
P =
turun
naik
Kompensasi Kompensasi Seri : Seri : menurunkan Z
C
dan , sehingga P pasti naik.
( )
sal C C
X Ll LC l
C
L
Z Z = =

= ≈ ω ω θ θ ) )( ( sin
17
Teori
Teori
Singkat
Singkat
PWM
PWM
Single PWM :
MPWM (UPWM) :
Sinusoidal PWM :
18
PWMCSC
PWMCSC
(Pulse Width Modulation Controlled Series Compensation)
19
PWMCSC 3 PWMCSC 3- -Fasa Fasa
PWMCSC 1 PWMCSC 1- -Fasa Fasa
20
Profil
Profil
PWMCSC
PWMCSC
0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7
S
max
0
0,01
0,02
0,03
Ì
h
Ì
(b)
(a)
0,03
0,02
0,01
0
5 8 11 14 17 20
k
f
0,04
Ì
h
Ì
k
f
=6
k
f
=12
S
max=0,7
S
max
=0,5
S
max
=0,3
1
1
21
Persamaan
Persamaan
Matematika
Matematika
Kondisi
Kondisi
Mantap
Mantap
Arus STTL dianggap sinusoidal :
( ) ( ) t I t i ω sin = (III.2)
Pengaruh kendali PWM dinyatakan oleh fungsi pensaklaran f(t).
Sinyal penyulutan tersebut merupakan deretan pulsa berfrekuensi tetap (f
sw
) dengan duty cycle (D) yang variabel.
( ) ( )


=
+ =
1
cos
n
f n
t nk D D t f ω (III.3)
Arus yang melalui kapasitor (i
C
) dapat dirumuskan sebagai hasil kali dari arus STTL dan fungsi pensaklaran PWM f(t) :
( ) = t i
c
( ) ( ) ( ) ( ) [ ] ( ) [ ] { }


=
− + + + =
1
1 sin 1 sin
2
sin
n
f f n
t nk t nk D
I
t DI t i t f ω ω ω (III.4)
Tegangan di kapasitor :
( ) ( ) t DI X t v
c c
ω cos − ≈ (III.5)
Harga reaktansi yang dilihat oleh STTL saat frekuensi nominal (yang muncul di sisi primer trafo) :
LT Ceq comp
X X X + − =
(III.7)
Secara analogi, tegangan yang diinjeksikan ke STTL (v
inj
) dapat dihasilkan dari v
C
dan f(t) :
( ) ( ) ( ) [ ] ( ) [ ] { }


=
− + + − − ≈
1
2
1 cos 1 cos
2
cos
n
f f n
c
c inj
t nk t nk DD
I X
t I D X t v ω ω ω (III.6)
c Ceq
X D X
2
=
(III.8)
LT c comp
X X D X + − =
2
(III.9)
22
Simulasi
Simulasi
1
1
-
-
Fasa
Fasa
(dengan bantuan software PSIM)
Asumsi : sumber sinusoidal, kondisi mantap, beban linier, dan setimbang.
23
Rangkaian
Rangkaian
Simulasi
Simulasi
1
1
-
-
Fasa
Fasa
24
Rasio belitan = 1: 1
Tahanan primer R
p
= 0,402
Tahanan sekunder R
s
=0,402
Induktansi primer L
p
=0,2722 mH
Induktansi sekunder L
s
=0,2722 mH
Induktansi pemagnetan L
m
= 0,3938 H
Tahanan rugi inti R
C
= 198,011
Trafo gandeng
per fasa
(50V ; 5A)
MOSFET Saklar daya 2-arah
(S
utama
& S
4
)
f
sw
= 1250 Hz k
f
= 1250/50 = 25. Frekuensi PWM
C = 500 µF/fasa
X
C
= 6,3694 /fasa ; S
max
= 70%
Kapasitor bank
per fasa
L = 29 mH/fasa
X
sal
= 9,1106 /fasa
Induktansi total
STTL per fasa
V
k
= (100 ∠0°) V ; f
mains
= 50 Hz Tegangan kirim
Data STTL & PWMCSC
Data STTL & PWMCSC
25
Data
Data
Beban
Beban
Linier
Linier
Berarti daya beban kecil
(I
3
kecil)
Berarti daya beban menengah
( I
2
menengah)
Berarti daya beban besar
( I
1
besar)
Z
3
= (19,5 + j22 mH) = (21 ∠ 19,5°)
Beban impedansi berat
(selanjutnya disebut
beban berat)
Z
2
= (19,5 + j5 mH) = (19,6 ∠ 4,6°)
Beban impedansi sedang
(selanjutnya disebut
beban sedang)
Z
1
= R
murni
= 19,5 = (19,5 ∠ 0°)
Beban impedansi ringan
(selanjutnya disebut
beban ringan)
Z
Z
1 1
<
<
Z
Z
2 2
<
<
Z
Z
3 3
P
P
1 1
>
>
P
P
2 2
>
>
P
P
3 3
I
I
1 1
> I
> I
2 2
> I
> I
3 3
26
Kurva
Kurva
Hasil
Hasil
Simulasi
Simulasi
1
1
-
-
Fasa
Fasa
( (saat saat beban beban berat/daya berat/daya beban beban kecil kecil) )
D = 0
D = 0,2 D = 0,6
D = 0,8 D = 1
27
Tabel Hasil Simulasi 1-Fasa Saat Beban Ringan (Daya Beban Besar)
440,769
423,262
403,659
387,683
377,625
374,233
P
t
(W)
0,985 0,98 461,296 8,1 70,5 6,4225 32,2972 5,11859 32,8741 4,85911 91,8991 1
0,985 0,96 442,319 12,34 63,45 5,781 22,3288 4,40447 25,4638 4,76306 87,6601 0,8
0,985 0,939 421,43 15,82 55,7 5,075 14,2476 3,67097 18,6299 4,65235 84,1797 0,6
0,986 0,922 404,487 18,3 47,132 4,294 8,24173 2,90715 12,4856 4,55988 81,6954 0,4
0,986 0,91 393,845 19,77 37,67 3,432 4,61498 2,0165 6,92103 4,50072 80,2322 0,2
0,987 0,906 390,251 20,25 3,515 0,32027 3,68179 0,14156 0,0453376 4,48042 79,7511 0
Cos ø
t
Sisi
Terima
Cos ø
k
Sisi
Kirim
P
k
(W)
V ={(V
k
-
V
t
)/V
k
}x100
(%)
S=(X
C
/X
sal
)
x100
(%)
X
C
= (V
C
/I
C
)
()
V
comp
(V)
I
C
(A)
V
C
(V)
I
(A)
V
t
(V)
D
(saklar
utama)
Tabel Hasil Simulasi 1-Fasa Saat Beban Sedang (Daya Beban Menengah)
450,004
424,598
400,429
382,014
370,8
367,062
P
k
(W)
0,983 0,969 429,942 6,105 70,48 6,422 31,9036 5,05602 32,4732 4,79952 93,8947 1
0,983 0,943 406,311 8,68 63,442 5,78 21,9021 4,31576 24,9638 4,66697 91,3144 0,8
0,983 0,917 383,552 11,27 55,781 5,082 13,9231 3,57854 18,187 4,53509 88,7338 0,6
0,984 0,897 366,153 13,29 47,30 4,31 8,04671 2,82530 12,1781 4,43143 86,7022 0,4
0,984 0,884 355,536 14,56 38,043 3,466 4,50165 1,95659 6,78246 4,36703 85,4401 0,2
0,984 0,880 352 14,98 3,578 0,326 3,57085 0,13728 4,4797e-2 4,34522 85,0135 0
Cos ø
t
Sisi
Terima
Cos ø
k
Sisi
Kirim
P
t
(W)
V ={(V
k
-
V
t
)/V
k
}x100
(%)
S=(X
C
/X
sal
)
x100
(%)
X
C
= (V
C
/I
C
)
()
V
comp
(V)
I
C
(A)
V
C
(V)
I
(A)
V
t
(V)
D
(saklar
utama)
Tabel Hasil Simulasi 1-Fasa Saat Beban Berat (Daya Beban Kecil)
385,5
349,319
321,851
308,938
292,42
288,93
P
k
(W)
0,934 0,902 368,231 5,25 70,6 6,43 29,5719 4,68057 30,0997 4,44232 94,7526 1
0,933 0,861 334,291 7,12 63,71 5,804 19,9579 3,91513 22,7237 4,23305 92,8797 0,8
0,934 0,827 308,305 9,28 56,2 5,12 12,6001 3,20831 16,4262 4,06537 90,7208 0,6
0,935 0,804 290,590 11,08 48,11 4,383 7,29460 2,51664 11,0295 3,94692 88,9176 0,4
0,935 0,79 280,398 12,23 39,7 3,616 4,08204 1,73720 6,28236 3,87725 87,764 0,2
0,935 0,785 277,084 12,63 3,87 0,3525 3,167 0,12175 4,2917e-2 3,85425 87,3681 0
Cos ø
t
Sisi
Terima
Cos ø
k
Sisi
Kirim
P
t
(W)
V ={(V
k
-
V
t
)/V
k
}x100
(%)
S=(X
C
/X
sal
)
x100
(%)
X
C
= (V
C
/I
C
)
()
V
comp
(V)
I
C
(A)
V
C
(V)
I
(A)
V
t
(V)
D
(saklar
utama)
28
Percobaan
Percobaan
1
1
-
-
Fasa
Fasa
29
Rangkaian
Rangkaian
Percobaan
Percobaan
1
1
-
-
Fasa
Fasa
30
Data
Data
Saklar
Saklar
Daya
Daya
• Teqonqon moksimum : I400 V.
· Arus moksimum : 7 A.
· Teqonqon qofe minimum : I0 V.
· disebuf 8iMOSFET :
MOSFET duo oroh
(reverse conducfion
copobiIify).
· Tonpo diodo infernoI.
Tipe SokIor Doyo :
IX8F 9MI40 0
Produksi :
IXYS Semiconducfor
31
Rangkaian
Rangkaian
Kendali
Kendali
Open
Open
-
-
Loop
Loop
4
N
2
8
4
N
2
8
32
Kurva
Kurva
Pembangkitan
Pembangkitan
Sinyal
Sinyal
PWM
PWM
V
carr
V
ref
V
carr
keluaran XR2206
V
ref
keluaran pembagi tegangan DC
(Skala : 5 V/div ; 1 ms/div ; Probe x1)
ON
OFF
OFF
ON
Sinyal PWM keluaran driver (D = 0,5)
Diukur di MOSFET pada kaki G-S
(Skala : 5 V/div ; 0,5 ms/div ; Probe x1)
33
Kurva
Kurva
Hasil
Hasil
Percobaan
Percobaan
Saat
Saat
Beban
Beban
Berat
Berat
(
(
Daya
Daya
Beban
Beban
Ringan
Ringan
)
)
0
Tegangan Kapasitor (V
C
) D
Skala : 5 mV/div ; 5 ms/div ; Probe x1
Tegangan Sisi Primer Trafo Gandeng (V
comp
)
Skala : 1 V/div ; 10 ms/div ; Probe x10
0,2
Skala : 1 V/div ; 5 ms/div ; Probe x10
Skala : 0,2 V/div ; 2 ms/div ; Probe x10
34
0,6
Skala : 1 V/div ; 5 ms/div ; Probe x10 Skala : 0,5 V/div ; 5 ms/div ; Probe x10
0,8
Skala : 2 V/div ; 5 ms/div ; Probe x10 Skala : 1 V/div ; 2 ms/div ; Probe x10
1
Skala : 5 V/div ; 5 ms/div ; Probe x10
Skala : 5 V/div ; 5 ms/div ; Probe x10
35
Tabel Hasil Percobaan 1-Fasa Saat Beban Ringan (Daya Beban Besar)
0,98 0,98 448,25 7,99 70,5 6,023 32,59 5,5 33,13 4,93 92,01 1
0,98 0,95 425,16 11,91 63,45 5,277 20,88 4,90 25,86 4,82 88,09 0,8
0,98 0,94 415,72 14,89 55,7 4,553 14,51 4,10 18,67 4,70 85,11 0,6
0,98 0,93 389,54 18,48 47,132 4,244 7,98 2,95 12,52 4,61 81,52 0,4
0,98 0,91 377,86 19,68 37,67 2,814 4,52 2,53 7,12 4,56 80,32 0,2
0,98 0,91 375,13 20,29 3,515 0,2 3,24 0,25 0,05 4,48 79,71 0
Cos ø
t
Sisi
Terima
Cos ø
k
Sisi
Kirim
P
k
(W)
V ={(V
k
-
V
t
)/V
k
}x100
(%)
S=(X
C
/X
sal
)
x100
(%)
X
C
= (V
C
/I
C
)
()
V
comp
(V)
I
C
(A)
V
C
(V)
I
(A)
V
t
(V)
D
(saklar
utama)
Tabel Hasil Percobaan 1-Fasa Saat Beban Sedang (Daya Beban Menengah)
430,18
406,27
380,42
360,82
355,61
355
P
k
(W)
0,97 0,97 5,67 59,348 5,407 32,55 6,01 32,5 4,82 94,33 1
0,97 0,95 8,33 56,758 5,171 21,89 4,84 25,03 4,67 91,67 0,8
0,97 0,90 11,28 56,615 5,158 15,23 3,66 18,88 4,59 88,72 0,6
0,97 0,89 12,15 47,889 4,363 8,2 2,89 12,61 4,54 87,85 0,4
0,97 0,88 13,79 32,105 2,925 4,42 2,42 7,08 4,49 86,21 0,2
0,97 0,88 14 2,744 0,25 3,57 0,2 0,05 4,45 86 0
Cos ø
t
Sisi
Terima
Cos ø
k
Sisi
Kirim
V ={(V
k
-
V
t
)/V
k
}x100
(%)
S=(X
C
/X
sal
)
x100
(%)
X
C
= (V
C
/I
C
)
()
V
comp
(V)
I
C
(A)
V
C
(V)
I
(A)
V
t
(V)
D
(saklar
utama)
Tabel Hasil Percobaan 1-Fasa Saat Beban Berat (Daya Beban Kecil)
370,16
334,52
309,15
290,77
282,43
276,81
P
k
(W)
0,93 0,90 5,06 67,8 6,177 29,97 5,03 31,07 4,78 94,94 1
0,93 0,88 6,39 67,503 6,15 24,28 3,88 23,86 4,54 93,61 0,8
0,93 0,82 8,58 51,313 4,675 10,71 3,36 15,71 4,26 91,42 0,6
0,93 0,81 10,65 58,218 5,304 7,36 2,53 13,42 3,99 89,35 0,4
0,93 0,79 12,19 48,778 4,444 4,86 2,25 10 3,91 87,81 0,2
0,93 0,78 12,48 0,087 7,944e-3 2,86 0,18 1,43e-3 3,89 87,52 0
Cos ø
t
Sisi
Terima
Cos ø
k
Sisi
Kirim
V ={(V
k
-
V
t
)/V
k
}x100
(%)
S=(X
C
/X
sal
)
x100
(%)
X
C
= (V
C
/I
C
)
()
V
comp
(V)
I
C
(A)
V
C
(V)
I
(A)
V
t
(V)
D
(saklar
utama)
36
Profil Tegangan Terima (Vt) - Duty Cycle (D)
70
75
80
85
90
95
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
V
t

(
V
o
l
t
)
Simulasi
Percobaan
Profil Teg Sisi Primer Trafo (Vcomp) -
Duty Cycle (D)
0
10
20
30
40
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
V
c
o
m
p

(
V
o
l
t
)
Simulasi
Percobaan
Profil Reaktansi Kapasitif (Xc) - Duty Cycle (D)
0
1
2
3
4
5
6
7
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
X
c

(
o
h
m
)
Simulasi
Percobaan
Profil
Profil
PWMCSC 1
PWMCSC 1
-
-
Fasa
Fasa
Saat
Saat
Beban
Beban
Ringan
Ringan
(
(
Daya
Daya
Beban
Beban
Besar
Besar
)
)
Profil Jatuh Tegangan (V)-Duty Cycle (D)
0
5
10
15
20
25
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D

V

(
%
)
Simulasi
Percobaan
Profil Hantaran Daya Aktif (P)-Duty Cycle (D)
320
340
360
380
400
420
440
460
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
P

(
W
a
t
t
)
Simulasi
Percobaan
Profil Faktor Daya Kirim (Cos øk) - Duty Cycle (D)
0,86
0,88
0,9
0,92
0,94
0,96
0,98
1
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
C
o
s

ø
k
Simulasi
Percobaan
37
Profil Tegangan Terima (Vt) - Duty Cycle (D)
80
85
90
95
100
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
V
t

(
V
o
l
t
)
Simulasi
Percobaan
Profil Teg Sisi Primer Trafo (Vcomp)-Duty Cycle (D)
0
10
20
30
40
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
V
c
o
m
p

(
V
o
l
t
)
Simulasi
Percobaan
Profil Reaktansi Kapasitif (Xc) - Duty Cycle (D)
0
2
4
6
8
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
X
c

(
O
h
m
)
Simulasi
Percobaan
Profil
Profil
PWMCSC 1
PWMCSC 1
-
-
Fasa
Fasa
Saat
Saat
Beban
Beban
Sedang
Sedang
(
(
Daya
Daya
Beban
Beban
Menengah
Menengah
)
)
Profil Jatuh Tegangan (V)-Duty Cycle (D)
0
5
10
15
20
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D

V

(
%
)
Simulasi
Percobaan
Profil Hantaran Daya Aktif (P)-Duty Cycle (D)
0
100
200
300
400
500
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
P

(
W
a
t
t
)
Simulasi
Percobaan
Profil Faktor Daya Kirim (Cos øk)-Duty Cycle (D)
0,8
0,85
0,9
0,95
1
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
C
o
s

ø
k Simulasi
Percobaan
38
Profil Tegangan Terima (Vt) - Duty Cycle (D)
80
85
90
95
100
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
V
t

(
V
o
l
t
)
Simulasi
Percobaan
Profil Teg Sisi Primer Trafo (Vcomp)-Duty Cycle (D)
0
5
10
15
20
25
30
35
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
V
c
o
m
p

(
V
o
l
t
)
Simulasi
Percobaan
Profil Reaktansi Kapasitif (Xc) - Duty Cycle (D)
0
2
4
6
8
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
X
c

(
O
h
m
)
Simulasi
Percobaan
Profil
Profil
PWMCSC 1
PWMCSC 1
-
-
Fasa
Fasa
Saat
Saat
Beban
Beban
Berat
Berat
(
(
Daya
Daya
Beban
Beban
Kecil
Kecil
)
)
Profil Jatuh Tegangan (V) - Duty Cycle (D)
0
5
10
15
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D

V

(
%
)
Simulasi
Percobaan
Profil Hantaran Daya Aktif (P) - Duty Cycle (D)
0
100
200
300
400
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
P

(
W
a
t
t
)
Simulasi
Percobaan
Profil Faktor Daya Kirim (Cos øk) - Duty Cycle (D)
0,7
0,75
0,8
0,85
0,9
0,95
0 0,2 0,4 0,6 0,8 1
D
C
o
s

ø
k Simulasi
Percobaan
39
Simulasi
Simulasi
3
3
-
-
Fasa
Fasa
(dengan bantuan software PSIM)
Asumsi : sumber sinusoidal, kondisi mantap, beban linier, dan setimbang.
40
Rangkaian
Rangkaian
Simulasi
Simulasi
3
3
-
-
Fasa
Fasa
Berdasarkan Persamaan (II.16) jumlah pulsa per
½ perioda (10 ms) :
(1250) / (2 x 50) = 12,5 pulsa.
41
Kurva Hasil Simulasi 3- Fasa
(saat beban berat/daya beban ringan)
D = 0
D = 0,2 D = 0,4
D = 0,6
D = 0,8
D = 1
42
Hasil Simulasi 3-Fasa Saat Beban Ringan (Daya Beban Besar)
7,88 69,8 69,8 69,8 6,36 6,36 6,36 18,5 18,5 18,5 2,96 2,96 2,96 18,855 18,855 18,855 2,81 2,81 2,81 92,12 1
12,26 62,5 62,5 62,5 5,7 5,7 5,7 12,7 12,7 12,7 2,55 2,55 2,55 14,499 14,499 14,499 2,76 2,76 2,76 87,73 0,8
15,83 54,2 54,15 54,15 4,93 4,93 4,93 7,99 7,99 7,99 2,12 2,12 2,12 10,459 10,459 10,459 2,7 2,7 2,7 84,16 0,6
18,38 44,2 44,3 44,22 4,03 4,04 4,01 4,48 4,5 4,48 1,68 1,68 1,68 6,756 6,767 6,757 2,63 2,63 2,63 81,62 0,4
19,87 32 32,13 34,4 2,92 2,94 3,13 2,5 2,50 2,57 1,16 1,16 1,16 3,391 3,416 3,644 2,6 2,6 2,6 80,13 0,2
20,34 2,68 2,45 3,40 0,24 0,22 0,31 2,13 2,13 2,13 0,081 0,082 0,081 0,0199 0,0183 0,0252 2,59 2,59 2,59 79,66 0
RS T S R T S R T S R T S R T S R T S R
V
(%)
S=(X
C
/ X
sal
)x100
(%)
X
C
= (V
C
/ I
C
)
()
V
comp
(V)
I
C
(A)
V
C
(V)
I
(A)
V
t
RS
(V
L-L
)
D
(sakl
ar
uta
ma)
Hasil Simulasi 3-Fasa Saat Beban Sedang (Daya Beban Menengah)
5,813 69,9 69,84 69,84 6,36 6,36 6,36 18,3 18,3 18,3 2,93 2,93 2,93 18,621 18,621 18,621 2,78 2,78 2,78 94,19 1
8,535 62,5 62,51 62,51 5,7 5,7 5,7 12,4 12,4 12,4 2,5 2,5 2,5 14,205 14,205 14,205 2,7 2,7 2,7 91,47 0,8
11,21 54,2 54,16 54,16 4,93 4,93 4,93 7,8 7,8 7,8 2,07 2,07 2,07 10,194 10,194 10,194 2,62 2,62 2,62 88,79 0,6
13,31 44,2 44,28 44,20 4,03 4,03 4,03 4,36 4,37 4,37 1,63 1,63 1,63 6,562 6,576 6,565 2,56 2,56 2,56 86,69 0,4
14,61 32,1 32,15 34,16 2,92 2,93 3,11 2,42 2,43 2,49 1,13 1,13 1,13 3,298 3,307 3,514 2,52 2,52 2,52 85,39 0,2
15,03 2,41 2,535 3,15 0,22 0,23 0,29 2,06 2,06 2,06 0,08 0,08 0,08 0,0175 0,0183 0,0228 2,51 2,51 2,51 84,97 0
RS T S R T S R T S R T S R T S R T S R
V
(%)
S=(X
C
/ X
sal
)x100
(%)
X
C
= (V
C
/ I
C
)
()
V
comp
(V)
I
C
(A)
V
C
(V)
I
(A)
V
t
RS
(V
L-L
)
D
(sak
lar
uta
ma)
Hasil Simulasi 3-Fasa Saat Beban Berat (Daya Beban Kecil)
4,94 69,9 69,85 69,85 6,364 6,36 6,36 16,9 16,9 16,9 2,706 2,706 2,706 17,221 17,221 17,221 2,57 2,57 2,57 95,06 1
6,95 62,5
2
62,52 62,52 5,7 5,7 5,7 11,3 11,3 11,3 2,26 2,26 2,26 12,874 12,874 12,874 2,45 2,45 2,45 93,05 0,8
9,20 54,1 54,14 54,14 4,93 4,93 4,93 6,99 6,99 6,99 1,851 1,851 1,851 9,131 9,131 9,131 2,35 2,35 2,35 90,79 0,6
11,07 44,2 44,29 44,17 4,03 4,03 4,02 3,89 3,89 3,89 1,451 1,45 1,451 5,842 5,851 5,84 2,28 2,28 2,28 88,93 0,4
12,27 32,1 32,40 34,99 2,93 2,95 3,19 2,15 2,16 2,23 1,001 1,001 1,001 2,932 2,955 3,192 2,24 2,24 2,24 87,73 0,2
12,65 2,54 2,513 3,281 0,23 0,23 0,3 1,83 1,83 1,83 0,070 0,070 0,070 0,016 0,0161 0,021 2,22 2,22 2,22 87,35 0
RS T S R T S R T S R T S R T S R T S R
V
(%)
S=(X
C
/ X
sal
)x100
(%)
X
C
= (V
C
/ I
C
)
()
V
comp
(V)
I
C
(A)
V
C
(V)
I
(A)
V
t
RS
(V
L-L
)
D
(sak
lar
uta
ma)
43
Analisa
Analisa
Harmonik
Harmonik
PWMCSC
PWMCSC
(dengan bantuan software Origin)
44
HFv Saat D = 0
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Harmonik Ke-
H
F
v

(
%
)
Beban Ringan Beban Sedang Beban Berat
HFv Saat D = 0,2
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Harmonik Ke-
H
F
v

(
%
)
Beban Ringan Beban Sedang Beban Berat
HFv Saat D = 0,4
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Harmonik Ke-
H
F
v

(
%
)
Beban Ringan Beban Sedang Beban Berat
HFv Saat D = 0,6
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Harmonik Ke-
H
F
v

(
%
)
Beban Ringan Beban Sedang Beban Berat
HFv Saat D = 0,8
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Harmonik Ke-
H
F
v

(
%
)
Beban Ringan Beban Sedang Beban Berat
HFv Saat D = 1
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Harmonik Ke-
H
F
v

(
%
)
Beban Ringan Beban Sedang Beban Berat
Spektrum Spektrum Harmonik Harmonik V V
comp comp
45
HFi Saat D = 0
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Harmonik Ke-
H
F
i

(
%
)
Beban Ringan Beban Sedang Beban Berat
HFi Saat D = 0,2
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Harmonik Ke-
H
F
i

(
%
)
Beban Ringan Beban Sedang Beban Berat
HFi Saat D = 0,4
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Harmonik Ke-
H
F
i

(
%
)
Beban Ringan Beban Sedang Beban Berat
HFi Saat D = 0,6
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Harmonik Ke-
H
F
i

(
%
)
Beban Ringan Beban Sedang Beban Berat
HFi Saat D = 0,8
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Harmonik Ke-
H
F
i

(
%
)
Beban Ringan Beban Sedang Beban Berat
HFi Saat D = 1
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31
Harmonik Ke-
H
F
i

(
%
)
Beban Ringan Beban Sedang Beban Berat
Spektrum Spektrum Harmonik Harmonik I I
46
THDv Terhadap D
0
20
40
60
80
100
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1
D
T
H
D
v

(
%
)
Beban Ringan
Beban Sedang
Beban Berat
THDi Terhadap D
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1
D
T
H
D
i

(
%
)
Beban Ringan
Beban Sedang
Beban Berat
KURVA THD
KURVA THD
47
Kesimpulan
Kesimpulan
& Saran
& Saran
48
KESIMPULAN : KESIMPULAN :
Dalam tesis ini telah dibahas pemanfaatan teknik PWM pada
kompensasi seri terkendali. Topologi yang ditampilkan memiliki
kelebihan dibandingkan metode kompensasi seri terkendali
sebelumnya. Pembahasan secara teoritis, analisa kurva, dan
beberapa hasil simulasi & percobaan telah ditampilkan. Saat daya
beban kecil, saklar utama cukup disulut oleh deretan pulsa PWM
dengan D = 0,6 artinya X
C
= 4-5 C akan masuk ke STTL. Saat
daya beban menengah, D minimal ditala sebesar 0,8 yang
sebanding dengan X
C
= 5-6 C. Sedangkan saat daya beban besar,
D harus ditala pada harga 1 (X
C
> 6 C). Berarti, PWMCSC harus
berada pada tingkat kemampuan maksimalnya untuk menjaga
agar V tidak merosot melampaui batas toleransi (10 %).
Harmonik yang dibangkitkan PWMCSC adalah harmonik orde
tinggi yang tidak berpengaruh besar terhadap kualitas sistem
tenaga listrik.
49
SARAN : SARAN :
a. Simulasikan pada jaringan sistem tenaga listrik yang terinterkoneksi.
b. Gunakan sistem kendali closed-loop.
c. Kapasitansi kapasitor bank 3-fasa yang terangkai delta akan 3x kali
lebih kecil daripada terangkai wye.
50
……… ……….. ..Terima Terima Kasih Kasih……….. ………..
Luqmanul Hakim Effendi
NIM : 232.03.013
51
KEDIP TEGANGAN KEDIP TEGANGAN
Solusi :
DSTATCOM (Distribution Static Compensator) : kompensasi paralel
DVR (Dynamic Voltage Restorer) : kompensasi seri
UPQC (Unified Power Quality Compensator) : kompensasi seri-paralel
- Jatuh teg sesaat (0,1-0,9 nominal)
- Maks selama 1 menit
- Krn gangguan / starting beban besar.
52
RANGKAIAN AC RANGKAIAN AC
53
RANGKAIAN DC RANGKAIAN DC
54
55
ZONA RESONANSI TCSC ZONA RESONANSI TCSC
56
TCSC 230 kV DI KAYENTA, ARIZONA TCSC 230 kV DI KAYENTA, ARIZONA
57
TCSC 500 kV DI SLATT, OREGON TCSC 500 kV DI SLATT, OREGON
58
DATA SAKLAR DAYA (2003 AKHIR) DATA SAKLAR DAYA (2003 AKHIR)
59
TAPIS HARMONIK TAPIS HARMONIK
60
SIN GENERATOR SIN GENERATOR
61
62
63

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->