You are on page 1of 28

Askep ICU dan KGD

    

Home Askep KMB Askep Anak Askep Jiwa Askep Maternitas

Sabtu, 23 Juli 2011
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN POST SECTIO CAESAREA
KONSEP DASAR A. PENGERTIAN Nifas atau purperium adalah periode waktu atau masa dimana organ-organ reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil (Forner, 1999 : 225). Masa nifas/masa purperium adalah masa setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu (Arif, 1999 : 344). Sectio caesarea adalah melahirkan janin melalui insisi pada dinding abdomen (laparatomi) dan dinding uterus (histeretomi) (Cunningham, Mac Donnald, Gant, 1995. 511). Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding rahim (Arif, 1999 : 344). Dengan demikian perawatan pada ibu nifas dengan post operasi sectio caesarea adalah perawatan pada ibu pada masa setelah melahirkan janin dengan cara insisi/pembedahan dengan membuka dinding perut dan dinding rahim sampai organ-organ reproduksi ibu kembali pulih yang berakhir kira-kira 6 minggu. B. FASE-FASE NIFAS Fase-fase nifas terbagi menjadi 3 (tiga), yaitu : 1. Immediate post partum : 24 jam post partum 2. Early post partum : minggu I post partum 3. Late post partum : Minggu II – VI post partum C. INDIKASI SECTIO CAESAREA Menurut Arif Mansjoer (1994 : 344 - 345) yaitu indikasi dilakukannya sectio caesarea adalah : 1. Disporsi sefalo peluik

2. Gawat janin 3. Placenta previa 4. Pernah sectio caesarea sebelumnya 5. Kelainan letak 6. Eklamsia 7. Hipertensi D. FISIOLOGI 1. Fisiologi nifas adalah hal-hal yang bersifat karakteristik dalam masa nifas a. Uterus Pada akhir kala tiga persalinan, fundus uteri berada setinggi umbilicus dan berat uterus 1.000 gram. Uterus kemudian mengalami involusi dengan cepat selama 7 – 10 hari pertama dan selanjutnya proses involusi ini berlangsung lebih berangsur-angsur. b. Lokhea Adalah istilah yang diberikan pada pengeluaran darah dan jaringan desidua yang nekrotik dari dalam uterus selama masa nifas. Lokhea terbagi dalam : 1) Lokhea rubra (hari 1 – 4) jumlah sedang, warna merah dan terutama darah 2) Lokhea seresa (hari 4 – 8) jumlah berkurang, warna merah muda 3) Lokhea alba (hari 8 – 14) jumlah sedikit, warna putih dan bahkan hampir tidak berwarna c. Serviks Serviks mengalami involusi bersama-sama uterus, setelah persalinan, ostium eksterna dapat dimasuki oleh 2 – 3 jari tangan, setelah 6 minggu post natal serviks menutup. Karena robekan kecil-kecil yang terjadi selama dilatasi, serviks tidak pernah kembali seperti keadaan sebelum hamil (nulipara) yang berupa lubang kecil seperti mata jarum, serviks hanya dapat kembali sembuh. Dengan demikian OS serviks wanita muda yang sudah pernah melahirkan merupakan salah satu tanda yang menunjukkan riwayat kelahiran bayi lewat vagina. d. Vulva dan vagina Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama proses melahirkan bayi, setelah beberapa hari keduanya menjadi kendor. Setelah 3 minggu akan kembali dan rugae dalam vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali, sementara labia lebih menonjol. e. Perineum Setelah melahirkan perineum menjadi kendor, pada hari kelima perineum akan mendapatkan kembali sebagian besar tonus sekalipun lebih kendor daripada keadaan sebelum melahirkan. f. Payudara Payudara mencapai maturnitas yang penuh selama masa nifas kecuali jika laktasi disupresi. Payudara lebih besar, kencang dan mula-mula lebih nyeri tekan sebagai reaksi terhadap perubahan status hormonal serta dimulainya laktasi. g. Traktus urinarius BAK sering sulit pada 24 jam pertama, kemungkinan terdapat spasme sfingter edema leher bulibuli sesudah bagian ini mengalami kompresi antara kepala janin dan tulang pubis selama persalinan. h. Sistem gastrointestinal

Rasa sakit di premium dapat menghalangi keinginan ke belakang. Terpasang kateter urinarius pada sistem eliminasi BAK 8.Memerlukan waktu 3 – 4 hari sebelum faal usus kembali normal. Fundus uterus kontraksi kuat dan terletak di umbilicus 4. Jadi jahitan diangkat pada waktu ini. MANIFESTASI KLINIS Manifestasi klinis sectio caesarea menurut Doenges (2001 : 414). Walaupun kolagen terus menimbun pada waktu ini luka menciut dan menjadi tegang. Karena kelahiran secara SC mungkin tidak direncanakan maka biasanya kurang pahami prosedur Pemeriksaan Diagnostik 1. Pasien akan mengeluh gatal di seputar luka. Bila jaringan itu aseluler. Hb dan Ht 3. tergantung pada tempat dan luasnya bedah. leukosit mulai menghilang dan ceruk mulai berisi kolagen serabut protein putih. Pada fase III kolagen terus bertumpuk. Kultur urine. Dengan auskultasi bising usus tidak terdengar atau mungkin samar 9. Bunyi paru jelas dan vesikuler dengan RR 20x/menit 11. Lapisan tipis dari sel epitel bermigrasi lewat luka dan menutupi luka. Pada fase IV. i. Luka insisi pada bagian abdomen 3. Pasien harus menjaga agar tidak menggunakan otot yang terkena. Fisiologi proses penyembuhan luka Pada fase satu (I) penyembuhan luka leukosit mencerna bakteri dan jaringan rusak. Aliran lokhea sedang dan bebas bekuan berlebihan atau banyak 5. darah. 2001 : 414) . Nyeri akibat luka pembedahan 2. Sistem kardiovaskuler Jumlah sel darah dan Hb kembali normal pada hari kelima. Pada fase II berlangsung 3 sampai 14 hari setelah bedah. Karena penciutan luka terjadi ceruk yang berwarna/berlapis putih. 2. Urinalisis 4. Emosi klien labil dengan mengekspresikan ketidakmampuan menghadapi situasi baru 7. Fibrin bertumpuk pada gumpalan yang mengisi luka dan pembuluh darah tumbuh pada luka dari benang fibrin sebagai kerangka. fase terakhir berlangsung beberapa bulan setelah bedah. avaskuler. Fase ini berlangsung minggu kedua sampai minggu keenam. Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600 – 800 ml 6. Jaringan baru memiliki banyak pembuluh darah. pasien akan terlihat merasa sakit pada fase I selama 3 hari setelah bedah besar. Sel epitel beregenerasi dalam 1 minggu. Perubahan psikologis Perubahan yang mendadak dan dramatis pada status hormonal menyebabkan ibu yang berada dalam masa nifas menjadi sensitif terhadap faktor yang dalam keadaan normal mampu diatasinya. E. antara lain : 1. Pemeriksaan darah lengkap 2. 1996 : 69). Luka terlihat seperti merah jambu yang luas. Immobilisasi karena adanya pengaruh anastesi 10. Long. j. Tumpukan kolagen akan menunjang luka dengan baik dalam 6 – 7 hari. jaringan kolagen tidak akan menjadi coklat karena sinar matahari dan tidak akan keluar keringat dan tumbuh rambut (Barbara C. Ini menekan pembuluh darah baru dan arus darah menurun. vaginal dan lokhea (Doenges.

garam fisiologis dan RL secara bergantian. d. b.F. Jumlah cairan masuk dan keluar (urine) Dilakukan pemeriksaan dan pengukuran setiap 4 jam sekali KONSEP KEPERAWATAN A. selanjutnya secara bertahap bubur dan akhirnya makanan biasa. Minuman yang diberikan air putih atau air teh. 20 tts/mnt c. PENATALAKSANAAN 1. PENGKAJIAN DASAR DATA KLIEN (Marilyn E. Doenges. Pembalutan luka (wound dressing) dengan baik Dibersihkan dengan alkohol dan larutan suci hama (larutan betadine) lalu ditutup dengan kain penutup luka. Perawatan I setelah post operasi a. suhu b. Kateteriasasi e. kemoterapi dan anti inflamasi 2) Obat-obat pencegah perut kembung : plasil. yang diukur adalah : a. minuman air buah dan susu. 2001 : 414) 1. Obat-obatan 1) Antibiotik. Diit Makanan dan minuman diberikan setelah pasien flatus. Pemberian cairan D 5 – 10%. frekuensi pernafasan. Tekanan darah. Perawatan rutin Pemeriksaan dan pengukuran. Sirkulasi Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600 – 800 ml. Makanan yang diberikan dari bubur saring. . perimpuran 3) Obat anti nyeri : pethidin 100 – 150 mg atau morfin 10 – 15 mg 4) Transfusi darah apabila penderita anemia 2. nadi.

Bising usus tidak ada. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan secara oral ditandai dengan mulut dan membran mukosa kering. Keamanan Balutan abdomen tampak sedikit noda atau kering dan utuh. samar atau jelas. Pernafasan Bunyi paru jelas dan vesikuler. bila digunakan. Nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan. Doenges. Urinalisis : kultur urine. vaginal dan lokhea : pemeriksaan tambahan didasarkan pada kebutuhan individual. Klien/pasangan dapat memiliki pertanyaan atau salah terima peran dalam pengalaman kelahiran. penurunan kekuatan dan tahanan 6. Makanan/cairan Abdomen lunak dengan tidak ada distensi pada awal. darah.2. nyeri penyerta. mulut mungkin kering. PERENCANAAN KEPERAWATAN . bengkak dan nyeri tekan. perdarahan 4. penurunan hemoglobin 3. Eliminasi Kateter urinarius indwelling mungkin terpasang : urine jernih pucat. misal : trauma bedah/insisi. Nyeri/ketidaknyamanan Mungkin mengeluh ketidaknyamanan dari berbagai sumber. Integritas ego Dapat menunjukkan labilitas emosional. Pemeriksaan diagnostik Jumlah darah lengkap. Kurang perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik. 9. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan atau kulit rusak. dari kegembiraan sampai ketakutan. kesalahan interprestasi C. 3. 7. mammae terasa lembek 7. efek anastesi. efek hormonal. efek progesteron 5. 10. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul (Marilyn E. distensi kandung kemih atau abdomen ditandai dengan mengeluh nyeri insisi. Hb/Ht : mengkaji perubahan dari kadar pra operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan. Resiko terjadi konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot. immobilisasi post operasi dan nyeri 8. kram. 2001 : 417) : 1. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang mengingat. distensi kandung kemih/abdomen. Resiko terhadap perubahan fungsi pernafasan berhubungan dengan status post anastesi. marah atau menarik diri. 6. abdomen kembung. 8. B. sakit kepala. Seksualitas Fundus kontraksi kuat dan terletak di umbilicus. perilaku melindungi atau distraksi wajah menahan nyeri 2. paten dan sisi bebas eritema. 5. Neurosensori Kerusakan gerakan dan sensasi di bawah tingkat anastesi spinal apidural. 4. efek-efek anastesi. Ketidakefektifan menyusui berhubungan dengan kurangnya tingkat pengetahuan ibu ditandai dengan ASI belum keluar. nyeri tekan payudara. Aliran lokhea sedang dan bebas bekuan berlebihan/banyak. Jalur parental.

Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan trauma pembedahan a. Kriteria hasil 1) Klien bisa mengidentifikasi dan menggunakan intervensi untuk mengatasi nyeri 2) Klien mengungkapkan berkurangnya nyeri 3) Klien tampak rileks dan mampu istirahat dengan tepat c.1. Nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan a. Rasionalisasi 1) Pada banyak klien nyeri dapat menyebabkan gelisah dan TD meningkat 2) Merelaksasikan otot 3) Nafas dalam meningkatkan upaya pernafasan. Rasionalisasi 1) Membantu mencegah/membatasi penyebaran infeksi 2) Anemia. dan persalinan lama sebelum kelahiran caesarea meningkatkan resiko infeksi dan menghambat penyembuhan 3) Balutan steril menutup luka pada 24 jam pertama kelahiran caesarea membantu melindungi luka dari cidera atau kontaminasi 3. Kriteria hasil 1) ÿÿÿÿÿÿÿÿÿÿaspalphaMendemonstrasikan teknik-teknik untuk menurunkan resiko 2) Menunjukkan luka bebas dari drainase purulent dengan tanda awal penyembuhan 3) Tidak demam c. pembebatan menurunkan regangan dan ketegangan areal insisi 2. b. Intervensi 1) Evaluasi TD. Intervensi 1) Anjurkan dan gunakan teknik mencuci tangan dengan cermat dan pembuangan kotoran 2) Tinjau ulang Hb/Ht 3) Inspeksi balutan abdominal d. Kriteria hasil Klien tetap dalam normotensif dengan masukan cairan dan haluaran urine seimbang dan Hb/Ht dalam kadar normal . perubahan perilaku 2) Ubah posisi klien 3) Lakukan latihan nafas dalam d. Tujuan Infeksi tidak terjadi setelah dilakukan tindakan berupa perawatan luka operasi selama 30 menit dalam 9 – 14 hari sampai luka sembuh b. Tujuan Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan berupa manajemen pengurangan nyeri selama 30 detik dalam 2 x 24 jam diharapkan klien dapat beradaptasi nyeri. nadi. DM. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan masukan cairan secara oral a. Tujuan Eliminasi urine kembali normal setelah dilaksanakan tindakan keperawatan pada pasien berupa penggunaan metode-metode untuk pengeluaran urine dalam dower kateter dalam 24 jam pertama post partum b.

Kriteria hasil 1) Mendemonstrasikan kembalinya motilitas usus dibuktikan oleh bising usus dan keluarnya flatus 2) Mendapatkan pola eliminasi kembali biasanya c. Ketidakefektifan menyusui berhubungan dengan kurangnya tingkat pengetahuan ibu a. Rasionalisasi 1) Menentukan kesiapan terhadap pemberian makanan per oral 2) Menandakan pembentukan gas akumulasi/kemungkinan ileus paralitis 3) Mencegah konstipasi defekasi 5. Intervensi 1) Perhatikan dan catat jumlah. ketidaknyamanan 3) Anjurkan cairan oral yang adekuat d. Rasionalisasi 1) Pengalaman nyeri fisik mungkin disertai nyeri mental yang mempengaruhi keinginan klien untuk mendapatkan otonomi 2) Memperbaiki harga diri meningkatkan sejahtera 3) Menurunkan ketidaknyamanan 6. Kriteria hasil . Tujuan Menyusui efektif setelah dilaksanakan tindakan keperawatan berupa penyuluhan dan teknik menyusui 1 jam dalam 24 jam b. kelebihan analgesik.c. Intervensi 1) Kaji status psikologis pasien 2) Berikan bantuan sesuai kebutuhan dengan hygiene 3) Kolaborasi pemberian analgetik d. Kriteria hasil 1) Mendemonstrasikan teknik-teknik untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri 2) Mengidentifikasi atau menggunakan sumber-sumber yang tersedia c. Rasionalisasi 1) Oliguri mungkin disebabkan oleh kehilangan cairan 2) Rasa haus merupakan cara homestatis dari penggantian cairan melalui peningkatan rasa haus 3) Peningkatan suhu dapat memperberat dehidrasi 4. Tujuan Konstipasi tidak terjadi setelah dilaksanakan tindakan keperawatan berupa anjuran untuk mobilisasi selama 15 menit dalam 24 jam b. warna dan konsentrasi drainase urine 2) Perhatikan adanya rasa haus 3) Pantau suhu dan nadi d. penurunan peristaltik usus a. perhatikan distensi. Resiko konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik a. Intervensi 1) Auskultasi terhadap adanya bising usus 2) Palpasi abdomen. Tujuan Personal hygiene pasien terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan berupa membantu memandikan pasien selama 30 menit dalam 24 jam b.

Intervensi 1) Kaji pengetahuan klien tentang menyusui sebelumnya 2) Berikan informasi verbal dan tertulis mengenai fisiologi dan keuntungan menyusui d. Intervensi 1) Anjurkan batuk efektif setiap 2 jam sekali setelah operasi 2) Kaji respirasi dan nadi setiap 2 jam setelah post operasi 3) Mobilisasikan pasien setiap 2 jam post operasi miring kanan/kiri sebelum ambulasi d. Tujuan Fungsi pernafasan tidak berubah setelah dilakukan tindakan keperawatan berupa batuk efektif selama 1 x 15 menit dalam 24 jam b. immobilisasi pasca operasi dan nyeri a. memberi kenyamanan 7. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang mengingat. Intervensi 1) Kaji kesiapan dan motivasi klien untuk belajar 2) Berikan rencana penyuluhan tertulis dengan menggunakan format yang distandarisasi 3) Kaji keadaan fisik klien 4) Perhatikan status psikologis dan respon terhadap kelahiran caesarea serta peran menjadi ibu d.1) Menyatakan pemahaman tentang proses/situasi menyusui 2) Mendemonstrasikan teknik efektif menyusui c. Rasionalisasi 1) Membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan saat ini dan mengembangkan rencana keperawatan 2) Membantu suplay susu adekuat. kesalahan interprestasi a. Rasional 1) Untuk mengeluarkan sputum dari tenggorokan 2) Respiratori dapat berubah jika terjadi perubahan fungsi pernafasan 3) Membantu mengeluarkan sekret dari jalan nafas dan mencegah kongesti dan mencegah organisme status di jalan nafas 8. Kriteria hasil 1) Mengungkapkan pemahaman tentang perubahan fisiologis keutuhan-kebutuhan individu. mencegah puting luka. hasil yang diharapkan 2) Melakukan aktivitas-aktivitas yang perlu dengan benar c. Resiko terhadap perubahan fungsi pernafasan berhubungan dengan status pasca anastesi. Rasionalisasi 1) Periode post partum dapat menjadi pengalaman positif bila kesempatan penyuluhan diberikan untuk membantu mengembangkan pengetahuan ibu. Kriteria hasil Tidak terjadi penumpukan sputum di tenggorokan c. Tujuan Pengetahuan tentang proses fisiologis post partum terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan berupa pemberian informasi post partum selama 30 menit dalam 24 jam b. motivasi dan kompetisi 2) Membantu menjamin kelengkapan informasi yang diterima orang tua dari anggota staf dan menurunkan konfusi klien yang disebabkan oleh desiminasi nasehat atau informasi yang menimbulkan konflik .

blogspot.Indikasi Ibu : * Panggul sempit * Tumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi .html (06. Pengertian Sectio Saesaria adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding rahim. -Bedah Caesar transperitoneal profunda -Bedah Caesar ekstraperitoneal -Histerektomi Caersarian ( Caesarian hysterectomy) 3. kekecewaan pada pengalaman kelahiran dapat mempunyai dampak negatif pada kemampuan belajar dan kesiapan klien http://asuhan-keperawatan-icu. 2. memungkinkan klien berkonsentrasi lebih penuh dan lebih menerima penyuluhan 4) Ansietas yang berhubungan dengan kemampuan untuk merawat diri sendiri dan anaknya. biasanya berkurang pada hari ketiga pasca operasi. Jenis -Bedah Caesar klasik /corporal. Indikasi a.com/2011/07/asuhan-keperawatan-pada-pasiendengan_23.38 pm) //////////////////////////////////////////////// LAPORAN PENDAHULUAN POST SECTIO CAESAREA DAN NIFAS Diposkan oleh Rizki Kurniadi 1.3) Ketidaknyamanan berkenaan dengan insisi atau nyeri penyerta.

Kelainan letak pada gemelli anak pertama 2.Letak lintang . Tehnik Pelaksanaan a.Janin Mati .Indikasi Janin 1.Bedah Caesar klasik /corporal.Gawat Janin c.Letak sungsang ( janin besar.Kelainan kongenital berat 4.Infeksi intrauterine . Kelainan Letak : .* Stenosis serviks uteri atau vagina * Plassenta praevia * Disproporsi janin panggul * Rupture uteri membakat * Partus tak maju * Incordinate uterine action b. .Presentasi ganda .Latak dahi dan letak muka dengan dagu dibelakang .Syok/anemia berat yang belum diatasi . Indikasi Kontra(relative) .kepala defleksi) .

Setelah janin lahir sepenuhnya tali pusat diklem ( dua tempat) dan dipotong diantara kedua klem tersebut. b.Plasenta dilahirkan secara manual kemudian segera disuntikkan uterotonika kedalam miometrium dan intravena. Perlebar insisi dengan gunting sampai sepanjang kurang lebih 12 cm saat menggunting lindungi janin dengan dua jari operator. Bedah Caesar transperitoneal profunda  Plika vesikouterina diatas segmen bawah rahim dilepaskan secara melintang. . .Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis. .  Buat insisi secara tajam dengan pisau pada segmen bawah rahim kurang lebih 1 cm dibawah irisan plika vesikouterina. .1 dan 2 * Lapisan II : lapisan miometrium diatasnya dijahit secara kasur horizontal ( lambert) dengan benang yang sama.Buatlah insisi membujur secara tajam dengan pisau pada garis tengah korpus uteri diatas segmen bawah rahim..Luka insisi dinding uterus dijahit kembali dengan cara : * Lapisan I : Miometrium tepat diatas endometrium dijahit secara silang dengan menggunakan benang chromic catgut no.Eksplorasi kedua adneksa dan bersihkan rongga perut dari sisa-sisa darah dan air ketuban . kemudian secar tumpul disisihkan kearah bawah dan samping. * Lapisan III : Dilakukan reperitonealisasi dengan cara peritoneum dijahit secara jelujur menggunakan benang plain catgut no.1 dan 2 . Irisan kemudian diperlebar dengan gunting sampai kurang lebih sepanjang 12 cm saat menggunting lindungi janin dengan dua jari operator.Setelah cavum uteri terbuka kulit ketuban dipecah. . Janin dilahirkan dengan meluncurkan kepala janin keluar melalui irisan tersebut.

Histerektomi Caersarian ( Caesarian hysterectomy) .  Plasenta dilahirkan secara manual kemudian segera disuntikkan uterotonika kedalam miometrium dan intravena.  Segmen bawah rahim diris melintang seperti pada bedah Caesar transperitoneal profunda demikian juga cara menutupnya d.1 dan 2  Eksplorasi kedua adneksa dan bersihkan rongga perut dari sisa-sisa darah dan air ketuban  Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis.  Badan janin dilahirkan dengan mengaitkan kedua ketiaknya. Stetlah cavum uteri terbuka kulit ketuban dipecah dan janin dilahirkan dengan cara meluncurkan kepala janin melalui irisan tersebut.1 dan 2  Lapisan II : lapisan miometrium diatasnya dijahit secara kasur horizontal ( lambert) dengan benang yang sama.  Lapisan III : Peritoneum plika vesikouterina dijahit secara jelujur menggunakan benang plain catgut no.  Luka insisi dinding uterus dijahit kembali dengan cara :  Lapisan I : Miometrium tepat diatas endometrium dijahit secara silang dengan menggunakan benang chromic catgut no. Peritoneum kemudia digeser kekranial agar terbebas dari dinding cranial vesika urinaria.  Setelah janin dilahirkan seluruhnya tali pusat diklem ( dua tempat) dan dipotong diantara kedua klem tersebut.  Bedah Caesar ekstraperitoneal Dinding perut diiris hanya sampai pada peritoneum. c.

Rupture uteri Bayi : Kematian perinatal . Tunggul serviks uteri ditutup dengan jahitan ( menggunakan chromic catgut ( no. Perdarahan pada tunggul serviks uteri diatasi.    Kedua adneksa dan ligamentum rotundum dijahitkan pada tunggul serviks uteri.   Jahit cabang arteria uterine yang diklem dengan menggunakan benang sutera no.Perdarahan .Embolisme paru-paru . Dilakukan reperitonealisasi sertya eksplorasi daerah panggul dan visera abdominis. 2. Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis 5. Kedua adneksa dan ligamentum rotunda dilepaskan dari uterus. Kedua cabang arteria uterina yang menuju ke korpus uteri di klem (2) pada tepi segmen bawah rahim.Luka pada kandung kencing .1 atau 2 ) dengan sebelumnya diberi cairan antiseptic. Satu klem juga ditempatkan diatas kedua klem tersebut.  Uterus kemudian diangkat diatas kedua klem yang pertama. Irisan uterus dilakukan seperti pada bedah Caesar klasik/corporal demikian juga cara melahirkan janinnya.    Perdarahan yang terdapat pada irisan uterus dihentikan dengan menggunakan klem secukupnya. Komplikasi Ibu : Infeksi puerperal .

3. . Tujuan Perawatan Masa Nifas Menjaga kesehatan ibu dan bayi baik fisik maupun psikologis Melaksanakan skrinning yang komprehensif. 3. Pengertian Periode post partum (puerperium) atau juga sering disebut masa nifas adalah masa sejak ibu melahirkan bayi (bayi lahir) sampai 6 minggu (42 hari) kemudian. 2001).MASA NIFAS A. keluarga berencana. 1998). 2002). Nifas atau puerperium adalah periode waktu atau masa dimana organ-organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil. nutrisi. Kadang juga disebut masa trimester IV (Piliteri. mendeteksi masalah. 1. menyusui. pemberian imunisasi kepada bayinya. B. 1. Masa nifas dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali pada keadaan sebelum hamil. Masa ini membutuhkan wktu sekitar 6 minggu (Farrer. dan perawatan bayi sehat. 2. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri. mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. 2. berlangsung kira-kira 6 minggu (Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.

Involusi disebabkan oleh: 1) Kontraksi dan retraksi serabut otot uterus yang terus-menerus sehingga terjadi kompresi pembuluh darah yang menyebabkan anemia setempat dan akhirnya menjadi iskemia. Retrogresif Yaitu perubahan sistem reproduksi (involusi/pulihnya kembali alat kandungan ke keadaan sebelum hamil) dan sistemik. berwarna putih atau hampir tidak berwarna. b. Post natal 12 hari sudah tidak dapat diraba melalui abdomen. setelah 6 mingu serviks menutup. Serosa (hari 4-8) jumlah berkurang dan berwarna merah muda. terdiri dari cairan bercampur darah. Alba (8-14) jumlahnya sedikit. berwarna merah. Otolisis Sitoplasma sel yang berlebihan akan tercerna sendiri sehingga tinggal jaringan fibro-elastik.4. Selama 7-10 hari pertama mengalami involusi dengan cepat. terutama lendir dan darah. Perubahan Fisiologis Selama masa nifas ibu akan mengalami beberapa perubahan dalam tubuhnya. a. yaitu: 1. Jenisnya: 1) 2) 3) 4) c. Memberikan pelayanan KB. Serviks Setelah persalinan ostium eksterna dapat dimasuki 2-3 jari tangan. setelah 6 minggu ukuran seperti sebelum hamil setinggi 8 cm dengan berat 50 gram. Lokia Yaitu pengeluaran darah dan jaringan desidua yang nekrotik dari dalam uterus. Rubra (hari 1-4) jumlahnya sedang. 3) Atrofi Jaringan yang berproliferasi dengan adanya estrogen kemudian mengalami atrofi akibat penghentian produksi estrogen. Uterus Pada kala tiga TFU setinggi umbilikus dan beratnya 1000 gram. Vulva dan vagina 2) . Sanguinolenta berwarna coklat. C. d.

Traktus urinarius Buang air kecil sulit selama 24 jam pertama. Himen mengalami ruptur dan yang tersisa hanya kulit (karunkulae mirtiformis). Hormonal 1) Prolaktin: diproduksi hipofise anterior untuk memproduksi ASI. f. Payudara Menjadi lebih besar. g. mula-mula nyeri tekan sebagai reaksi terhadap perubahan status hormonal serta dimulainya laktasi. Setelah 3 minggu kembali dalam keadaan tidak hamil. menyebabkan kontraksi uterus yang membantu involusi dan mencegah perdarahan post partum. Ureter akan kembali normal dalam waktu 6 minggu. Komplikasi . Oksitosin: merangsang kontraksi myoepitel sehingga terjadi ejeksi dan ASI keluar. usus bagian bawah sering kosong. gerak tubuh berkurang. Dimulai pada hari 3-4 post partum dengan hormon oksitosin yang berperan dalam ejakulasinya. rugae berangasur-angsur muncul kembali dan labia lebih menonjol. Progresif Berupa laktasi (pembentukan air susu ibu) dan kembalinya menstruasi.Dalam beberapa hari setelah persalian dalam keadaan kendur. Urin dalam jumlah besar dihasilkan dalam waktu 12-36 jam post partum. e. Pembentukan ASI dipacu oleh hormon prolaktin (dihambat oleh estrogen yang dihasilkan plasenta). meningkat saat putting dirangsang oleh penghisapan bayi. menyebabkan amenorea. Sistem Kardiovaskuler Jumlah sel darah merah dan Hb kembali normal setelah hari ke-5. lebih kencang. D. Asupan makanan berkurang. Terdapat spasme spingter dan edema leher buli-buli. 2) 2. Sistem Gastrointestinal Diperlukannya waktu 3-4 hari sebelum faal usus kembali normal. Perineum Pada post natal hari ke-5 sudah mendapatkan kembali sebagian besar tonusnya.

 Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya 2 kali dalam sehari.1. memperlambat proses memperbanyak perdarahan.  Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi.  Sarankan untuk kembali kegiatan-kegiatan rumah tangga secara perlahan-lahan.  Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah me kelaminnya. serta tidur sia saat bayinya tidur  Apabila kurang istirahat dapat mempengaruhi: Jumlah produksi ASI. 4. Gangguan psikologis: depresi. E. 2. Manajemen pada Pasien Masa Nifas Normal Tindakan Kebersihan diri Deskripsi dan Keterangan  Anjurkan kebersihan seluruh tubuh. 3. Infeksi. sarankan kepada ibu menghindari menyent Istirahat  Anjurkan ibu untuk istirahat cukup untuk mencegah kelelahan berlebihan. Perdarahan. menyebabkan depresi dan ketidakmampuan merawat bayi dan Latihan  Diskusikan tentang pentingnya latihan beberapa menit setiap hari akan sangat memb . Gangguan involusi uterus. Menganjurkan ibu tentang bagaimana membersihk dengan sabun dan air.

tahan napas ke dala ke dada tahan satu hitungan sampai 5. Perawatan payudara  Menjaga payudara tetap bersih dan kering  Memakai BH yang benar-benar menyokong buah dada. kencangkan otot-otot pantat dan pinggul tahan s kendurkan dan ulangi latihan sebanyak 5 kali.terlentang lengan di samping.  Minum sedikitnya 3 liter/hari.  Apabila putting susu lecet oleskan colostrom atau ASI yang keluar pada sekitar putting susu se  Apabila lecet lebih parah dapat diistirahatkan selama 24 jam. rileks dan ulangi sampai 10 kali.  Untuk menghilangkan nyeri minum Paracetamol 1 tablet setiap 4 – 6 jam.  Berdiri dengan tungkai dirapatkan. mineral dan vit yang cukup. ASI dikeluarkan dan diminumk sendok. menarik otot perut selagi menarik napas.000 Ui) agar bisa memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI.  Apabila payudara bengkak lakukan:  Kompres payudara dengan kain basah dan hangat kira-kira 5 menit  Urut payudara (seperti Breast Care). tidak boleh terlalu ketat atau kendor.  Diit berimbang untuk mendapatkan protein. .  Tablet zat besi setidaknya selama 40 hari post partum. Gizi  Ibu menyusui harus:  Mengkonsumsi tambahan kalori tiap hari.  Untuk memperkuat tonus otot vagina dengan latihan Kegel.  Kapsul vitamin A (200.

Rujuk bila perdarahan berlanju  Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga. Hubungan perkawinan rumah tangga  Secara fisik aman untuk melakukan hubungan seksual begitu darah merah berhenti dan ibu da atau memasukkan 1-2 jarinya ke dalam vagina tanpa rasa nyeri.  Susukan bayi setiap 2 – 3 jam sekali. Keluarkan ASI sebagian di bagian depan payudara. Penjelasan tentang KB adalah sebagai  Bagaimana metode KB dapat mencegah kehamilan dan efektifitasnya.  Payudara dikeringkan.  Tetapi ada tradisi dan aturan agama tertentu baru boleh melakukan hubungan seksual setelah Keluarga Berencana  KB dilakukan sebelum haid pertama setelah persalinan. F. Frekuensi Kunjungan pada Masa Nifas Kjgn 1 Waktu 6-8 jam Tujuan post Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri. partum  Mendetaksi dan merawat penyebab lain perdarahan. bagaimana me .  Kelebihan dan keuntungan KB  Efek samping  Bagaimana memakai metode yang benar  Kapan metode itu dapat dimulai dipakai untuk wanita post partum.  Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui.

fundus di baw perdarahan abnormal. G. partum  Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda peny  Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan bayi.  Membina hubungan antara ibu dan bayinya. tak ada bau. menjaga bay merawat bayi sehari-hari. Tindakan Pada Bayi Persalinan Normal . tali pusat. 3 2 minggu post Sama seperti di atas ( 6 hari post partum) partum 4 6 minggu post Menanyakan kepada ibu tentang penyulit-penyulit yang dialami pada ibu maupun pa partum  Menberikan konseling untuk KB.  Menilai adanya tanda-tanda demam.  Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia.karena atonia uteri. 2 6 hari post Memastikan involusi uteri berjalan normal: uterus berkontraksi.  Memastikan ibu mendapatkan makanan.  Pemberian ASI awal. cairan dan cukup istirahat. infeksi atau perdarahan abnormal.

 Setiap kali bayi BAB atau BAK bersihkan bagian perianal dengan air dan sabun serta kering de Menyusui  Menyusui dilakukan dalam 2 jam pertama.  Bayi disusui ASI selama 4 bulan.  ASI merupakan makanan yang terbaik bagi bayi. H. vaksin Polio oral dan Hepatitis B. Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian .  Bila telah pulang di rumah. anjurkan agar ibu melaporkan ke petugas kesehatan bila tal kemerahan di sekitarnya atau mengeluarkan cairan.  Mencuci sekitar tali pusat setiap hari  Mengompres alkohol 70% 1-2 kali sehari.  Ujung talu pusat dijaga bersih dan kering.  Bayi yang baru lahir tidak boleh dimandikan sepenuhnya sampai tali pusatnya kering da sembuh. Imunisasi  Dalam waktu 1 minggu pertama berikan imunisasi BCG. Tidur Ujung tali pusat  Baringkan bayi ke samping atau terlentang ( jangan pakai bantal).Tindakan Kebersihan Deskripsi dan Keterangan  Basuh bayi dengan kain/ busa setiap hari.

d. trauma jalan lahir. a. Spesifik: depresi postpartum.gambaran diri dan tingkat kepercayaan. tanda-tanda REEDA. 1) 2) 3) 4) 5) Diagnosa Keperawatan Pada Ibu Nyeri b. Kelemahan. Kelelahan postpartum. kondisi putting. striae.d Kurangnya pegetahuan tentang kebutuhan nutrisi postpartum. pengeluaran ASI. . Perineum: lochea. Aktivitas sehari-hari. Seksualitas: siklus menstruasi. 2. toileting b.a.d. makan. kontraksi uterus. kemerahan. episiotomi).d. Pengkajian Psikologis Umum: status emosi. Gangguan pola tidur b. Ekstremitas: varices. tinggi fundus uteri. Risiko infeksi b. Faktor risiko: Episiotomi. 1) 2) 3) Pengkajian Fisik Riwayat kesehatan sebelumnya Tanda-tanda Vital Mamae: gumpalan. Rektum: hemoroid. management engorgement. 1) 2) 3) Abdomen: palpasi RDA. Defisit perawatan diri: Mandi/Kebersihan diri.d. nyeri. perawatan payudara.pengeluaran ASI dan penurunan libido. dll. 4) 5) 6) 7) 8) b. laserasi jalan lahir. Risiko ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan b. Agen injuri fisik (. tanda-tanda Homan. bantuan pertolongan persalinan.pembedahan.

Flour Albus adalah cairan yang keluar dari vagina yang berlebihan dan bukan merupakan darah. Basil Colli.6) 7) Menyusui tidak efektif b. Faktor risiko: Imaturitas imun. Kurang pengetahuan: Perawatan post partum b. 2011. Flour Albus merupakan gejala yang paling sering dijumpai dalam ginekologi.d. Lemahnya refleks menghisap bayi. Protozoa : Tricomonas Vaginalis. 8) PK: Perdarahan.d. nefritis kronis dan pada bendungan umum (decompensatio Cordi. by admin.Kelainan Endokrin seperti functional bleeding (kadar estrogen tinggi) pada kehamilan karena hidraemia dan pengaruh endokrin) .d. Imaturitas hipotalamus. 12:47 am. Obstruksi jalan nafas. terhentinya proses menyusui. Kurang pengetahuan ibu. Penyebab Sebab-sebab Flour albus : .blogspot. lender serviks dan kelenjar bartholini dan skene. Pengertian. 1) 2) 3) 4) 5) Pada Bayi Menyusui tidak efektif b.43 pm) Asuhan Kebidanan dengan Fluor Albus Posted on July 14. b.Infeksi a. Monilia atau Cacing Oxyuris (pd anak). Hipotermi b.com/2012/03/laporan-pendahuluan-post-sectio. Cirrhosis Hepatis) . Haemophilus Vaginalis. PK: Distress pernapasan http://asuhankeperawatanonline. Risiko infeksi b. Vulvitis – Vulvovaginitis disebabkan oleh streptococcus.Konstitusional pada keadaan Astheni. anemia.d. Staphylococcus. Kurangnya informasi tentang penanganan postpartum. .d. Basil TBC.d. Bersihan jalan napas tidak efektif b. Secara normal seseorang wanita mengeluarkan cairan dari vagina yang berasal dari transudat dinding vagina. under Penyakit Kebidanan.html (06.

Sekret merah muda. Salpingitis.8 juta iu didahului probenazid 1 gr (oral) ½ jam sebelumnya atau Ampicillin 3.Anamnesa : Apakah ada partner dengan Gonorhoe . secret serviks yang normal bersifat jernih. Cervicitis oleh Gonococcus. . . kadang-kadang terjadi pada hydrosalpinx profluens. panas. liat. Secret ini bertambah pada endometritis akut. sangat banayk gatal. dihasilkan oleh kelenjar bartholini dan skene.Mikonazole .000 iu/hari pervaginam (14 hari) . Therapi : .Gentian violet 5% . sakit saat miksi.b.000 iu/hari Oral (7-10 hari) atau 2 x 100. Therapi : Metronidazole 3 x 250 mg (oral) dan pemakaian kondom saaat berhubungan . bau apek disertai penyakit sistemik : BAK Panas. dibasahi oleh cairan transudat dan oleh lender dari serviks.Cerviks. Endometritis terutama terjadi kalau ada sisa placenta. priritis Vulva.Kotrimokxazol .Sekret kuning kehijauan. secret ini bertambah pada perangsangan misalnya saat Coitus. mungkin disebabkan oleh infeksi bakteri nonspesifik dan hipo estrogen. polyp. Secret bertambah juga pada infeksi. encer berbintik.Vulva. c. . Asal Fluor . Eczema dan Candyloma Acuminata sekitar Vulva.Pemeriksaan dalam : Pemeriksaan speculum untuk vagina dan serviks. Komplikasi Komplikasi Flour Albus adalah Pluritis. gatal. Vaginitis. .Sekret putih. eritema vagina dengan petekie disebabkan oleh trikomonas vaginalis. serosa banyak dan tidak berbau.Sekret kuning kental sangat banyak.5% . kalau ada sisa plasenta. Staphylococcus dan Streptococcus.Pemeriksaan mikrobiologis dan bakteriologis : serologis sifilis dan tes pap.Vagina. d. banyak. alkalis. Therapi : diberikan estrogen oral/ suppositoria / dianestrol . Therapi : Penisilin Prokain IM 4. hanya menghasilkan secret pada fase ovulatoar.Corpus Uteri.Krim Hydrokortison 0. mioma sub mukosa dan carcinoma. Secret ini dipengaruhi oleh hormone-hormon ovarium baik kuantitas atau kualitas. .5 gr oral atau tetrasiklin / eritromisin 4 x 500 mg (10 hari) . Diagnosa Diagnosa sebab Flour Albus dapat dicari dengan : . berbau busuk. didapat abses atau menjalar ke endometrium salpink. sering terjadi pada anak dan wanita pada menopause. Penatalaksanaan . nyeri tekan. nyeri tekan divulva dan disekitarnya. Disebabkan oleh Neisseriae Gonorrhoe. walaupun jarang mengeluarkan Flour albus. berbusa.Medika mentosa nistatin 3 x 500.Tuba. merah. Dalam kehamilan cairan vagina bertambah secara fisiologis.Keadaan Umum . pseudotifa disebabkan oleh candida albicans. e.

1999. Riwayat KB Tidak ada g. RMK : 176082 S Data Subjektif a. kemluan terasa gatal-gatal. 1998. Sarwono dkk. Keluhan Utama Pasien dating ke poli kandungan dengan keluhan keluar lender berwarna putih kekuningan dan berbau amis sejak 1 bulan yang lalu. Riwayat kesehatan yang lalu 1. 19 Martapura. hepatitis. Jakarta Prawirohardjo. jantung dan Asma 2. Media Aesculapius. Pasien Pasien tidak pernah menderita penyakit TBC. Bandung Mansjoer. Masjid Pasayangan RT. Gynekologi.Kapita Selekta Kedokteran edisi ketiga. 1999. h. PT. b. Arif dkk. Riwayat kehamilan. Hepatitis. • HPHT : 20-11-09 d. persalinan dan nifas yang lalu Tidak ada f. Keluarga Keluarga tidak ada yang pernah menderita penyakit TBC. c. Identitas Nama : Nn. Jakarta. 04 No. Status perkawinan Pasien belum menikah e. Ilmu Kandungan.Elstar Offset.00 wita No. Noraida Umur : 17 tahun Suku/Bangsa : Banjar/ Indonesia Agama : Islam Pendidikan : SMU Pekerjaan : Pelajar Alamat : Jl.Sumber FK UPB. ASUHAN KEBIDANAN PADA GANGGUAN REPRODUKSI DENGAN FLOUR ALBUS DI POLI KIA/KB RSUD RATU ZALECHA MARTAPURA Pengkajian Hari : Senin Tanggal : 14-12-2009 Jam : 10. Riwayat Obstetri / haid • Menarche : 12 Tahun • Siklus : 28-30 hari • Lamanya : ± 6 hari • Banyaknya : 2x ganti pembalut • Dismenorhoe : Kadang – kadang. YBP-SP. Riwayat kesehehatan sekarang . jantung dan Asma.

Data Biologis 1.00) Tidur malam : ± 8 jam ( 21. i. semangkok sayur.00 – 16. l. berbau amis dan terasa gatal-gatal pada kemaluannya. sesuai dengan ajaran agama. Pola nutrisi Jenis makanan : Nasi. Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum Kesadaran : Compos Mentis BB : 45 kg TB : 151 cm . dan pasien berharap keluahannya ini bias hilang setelah diberi terapi. sayur. Pola Istirahat/tidur Tidur siang : ± 1 jam (13.00 – 05. 1-2 potong lauk Frekuensi : 3 x sehari Pantangan : tidak ada 2.Sejak satu bulan yang lalu pasien mulai mengeluh keluar lender berwarna putih kekuningan. ganti celana dalam 2 x sehari 3. O Data Objektif a. 4. Personal Hygiene Frekuensi mandi : 2 x sehari Frekuensi gosok gigi : 2 x sehari Frekuensi ganti pakaian : 2 – 3 x sehari Kebersihan vulva : setiap selesai BAB/BAK dibersihkan dengan air bersih. Pola Eliminasi BAK Frekuensi : ± 3 – 4 x sehari Warna : Kuning jernih Masalah : tidak ada BAB Frekuensi : 1 x sehari Warna : Kuning Konsistensi : Lembek Masalah : Tidak ada 5. Pola seksual Tidak ada j. Data Psikososial Pasien berencana akan menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter. lauk pauk. Data Spiritual Pasien melaksanakan ibadah sholat dengan teratur. Pola aktivitas Pasien tetap melakukan pekerjaan sehari-hari seperti biasa. Data Psikologis Pasien merasa cemas dengan keluhan yang dialaminya. air putih Porsi : 1 piring nasi. k.00) 6.

Tanda – tanda vital Suhu : 36. tidak ada peradangan Leher : Tidak ada pembengkakan kelenjar gondok dan kelenjar limfe serta tidak ada pelebaran vena jugularis. Yaitu : .5oC Nadi : 88 x/mnt Tekanan Darah : 110/70 mmHg Pernafasan : 24 x/mnt b. sclera tidak kuning.Membangun hubungan saling percaya antara pasien dan bidan . Pemeriksaan Penunjang Tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium A Analisa Masalah/Diagnosa Flour Albus P Planning . lidah bersih. yaitu : a. Setiap selesai BAB/BAK cuci dengan air bersih dari arah depan kebelakang dan jika memakai sabun khusus vagina jangan terlalu sering karena akan membunuh bakteri baik yang ada disekitar vagina b. 2. Periksa dalam : Tidak dilakukan karena pasien masih Virgin c.Memberikan dukungan emosional untuk mengurangi kecemasan pasien dengan cara memberikan informasi tentang gangguan yang dialaminya. tidak ada serumen. konjungtiva tidak pucat Mulut : Tidak ada stomatitis. gusi kemerahan. 5. ini dinamakan keputihan dan masih dapat diobati dengan pemberian terapi secara teratur. .Memberikan penjelasan tentang cara menjaga kebersihan di daerah Vulva. Auskultasi Dada : Denyut jantung normal 4. Mengganti celana dalam minimal 3 x sehari dan sebaiknya memakai celana dalam dari bahan katun agar tidak lembab. bersih dan tidak rontok Muka : tidak ada Odema Mata : Simetris kanan/kiri.Kolaborasi dengan dokter Obsgyn untuk memberikan terapi. Pemeriksaan Khusus 1. gigi tidak ada caries Dentis Telinga : Lengkap kanan/kiri. Anjurkan pasien melakukan cebok dengan air sirih setiap kali selesai BAB/BAK . Perkusi Patella : Kanan/kiri positif Nyeri ginjal : Kanan/kiri negative. tidak teraba benjolan abnormal Dada : tidak teraba benjolan abnormal 3. Dada/ mammae : tidak ada benjolam abnormal. hitam. Inspeksi Kepala/ muka Rambut : Keriting. c. Palpasi Perut : tidak ada nyeri tekan. bentuk simetris kanan/kiri Perut : tidak ada luka bekas operasi Ekstrimitas : tidak ada oedema dan varises.

Formyco salf 3 x sehari dioleskan didaerah vagina sebagai obat jamur Dexymox 3 x 500 mg sebagai antibiotic Alloris 3 x 10 mg perhari sebagai obat antihistamin. .