You are on page 1of 9

Selasa, 27 Maret 2012

Askep Ikterus (Hiperbilirubin) Pada Anak

ASKEP IKTERUS (HIPERBILIRUBIN) PADA ANAK
I. PENDAHULUAN Ikterus terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah. Pada sebagian neonatus, ikterus akan ditemukan dalam minggu pertama kehidupannya. Dikemukakan bahwa angka kejadian ikterus terdapat pada 60% bayi cukup bulan dan pada 80% bayi kurang bulan. Di Jakarta dilaporkan 32,19% menderita ikterus. Ikterus ini pada sebagian lagi mungkin bersifat patologik yang dapat menimbulkan gangguan yang menetap atau menyebabkan kematian, karenanya setiap bayi dengan ikterus harus mendapat perhatian terutama apabila ikterus ditemukan dalam 24 jam pertama kehidupan bayi atau kadar bilirubin meningkat lebih dari 5 mg/dl dalam 24 jam. Proses hemolisis darah, infeksi berat, ikterus yang berlangsung lebih dari 1 minggu serta bilirubin direk lebih dari 1 mg/dl juga merupakan keadaan yang menunjukkan kemungkinan adanya ikterus patologik. Dalam keadaan tersebut penatalaksanaan ikterus harus dilakukan sebaik-baiknya agar akibat buruk ikterus dapat dihindarkan. II. KONSEP DASAR A. Pengertian Ikterus fisiologik adalah ikterus yang timbul pada hari kedua dan ketiga yang tidak mempunyai dasar patologis, kadarnya tidak melewati kadar yang membahayakan atau mempunyai potensi menjadi “kernicterus” dan tidak menyebabkan suatu morbiditas pada bayi. Ikterus patologik adalah ikterus yang mempunyai dasar patologis atau kadar bilirubinnya mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubin. B. Metabolisme Bilirubin

Sebagian besar neonatus mengalami peninggian kadar bilirubin indirek pada hari-hari pertama kehidupan. perlu diketahui sedikit tentang metabolisme bilirubin pada neonatus. Hal ini terjadi karena terdapatnya proses fisiologik tertentu pada neonatus. Bilirubin merupakan produk yang bersifat toksik dan harus dikeluarkan oleh tubuh. Bilirubin bebas tersebut kemudian bersenyawa dengan albumin dan dibawa ke hepar. Dalam usus sebagian diabsorbsi kembali oleh mukosa usus dan terbentuklah proses absorbsi enterohepatik. Jenis bilirubin ini dapat larut dalam air dan pada kadar tertentu dapat diekskresikan melalui ginjal. Peninggian kadar bilirubin ini terjadi pada hari ke 2-3 dan . Biliverdin inilah yang mengalami reduksi dan menjadi bilirubin bebas atau bilirubin IX alfa. Segera setelah ada dalam sel hati. tempat terjadinya proses konjugasi. karenanya mempunyai sifat lipofilik yang sulit diekskresi dan mudah melalui membran biologik seperti plasenta dan sawar darah otak. Sebagian besar bilirubin yang terkonjugasi ini dikeskresi melalui duktus hepatikus ke dalam saluran pencernaan dan selanjutnya menjadi urobilinogen dan keluar dengan tinja sebagai sterkobilin. Zat ini sulit larut dalam air tetapi larut dalam lemak.Untuk mendapat pengertian yang cukup mengenai masalah ikterus pada neonatus. Sebagian besar bilirubin tersebut berasal dari degredasi hemoglobin darah dan sebagian lagi dari hem bebas atau eritropoesis yang tidak efektif. terjadi persnyawaan dengan ligandin (protein-Y) protein Z dan glutation hati lain yang membawanya ke retikulum endoplasma hati. sehingga bilirubin terikat oleh reseptor membran sel hati dan masuk ke dalam sel hati. Pembentukan bilirubin tadi dimulai dengan proses oksidasi yang menghasilkan biliverdin serta beberapa zat lain. masa hidup eritrosit yang lebih pendek (80-90 hari) dan belum matangnya fungsi hepar. Proses tersebut antara lain karena tingginya kadar eritrosit neonatus. Prosedur ini timbul berkat adanya enzim glukotonil transferase yang kemudian menghasilkan bentuk bilirubin indirek. Di dalam hepar terjadi mekanisme ambilan.

dan sulfaforazole.mencapai puncaknya pada hari ke 5-7. perdarahan tertutup dan sepsis. gangguan fungsi hepar. defisiensi enzim G-6-PADA. Gangguan transportasi Bilirubin dalam darah terikat pada albumin kemudian diangkat ke hepar. Pada keadaan ini peninggian bilirubin masih dianggap normal dan karenanya disebut ikterus fisiologik. ABO. akibat asidosis. 2. golongan darah lain. Defisiensi albumin . misal pada hemolisis yang meningkat pada inkompabilitas darah Rh. Masalah akan timbul apabila produksi bilirubin ini terlalu berlebihan atau konjugasi hati menurun sehingga kumulasi di dalam darah. misal kerusakan sel otak yang akan mengakibatkan gejala sisa dihari kemudian. Ikatan bilirubin dengan albumin dapat dipengaruhi oleh obat misalnya salisilat. kemudian akan menurun kembali pada hari ke 10-14 kadar bilirubin pun biasanya tidak melebihi 10 mg/dl pada bayi cukup bulan dan kurang dari 12 mg/dl pada bayi kurang bulan. Produksi yang berlebihan Hal ini melebihi kemampuannya bayi untuk mengeluarkannya. 3. C. Gangguan proses “uptake” dan konjugasi hepar Gangguan ini dapat disebabkan oleh immturitas hepar. kurangnya substrat untuk konjugasi bilirubin. piruvat kinase. Etiologi Penyebab ikterus pada bayi baru lahir dapat berdiri sendiri ataupun dapat disebabkan oleh beberapa faktor: 1. Peningkatan kadar bilirubin yang berlebihan dapat menimbulkan kerusakan sel tubuh t3. hipoksia dan infeksi atau tidak terdapatnya enzim glukoronil transferase (sindrom Criggler-Najjar) penyebab lain atau defisiensi protein Y dalam hepar yang berperan penting dalam “uptake” bilirubin ke sel hepar.

Patofisiologi Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan bebab bilirubin pada streptucocus hepar yang terlalu berlebihan. Kelainan di luar hepar biasanya disebabkan oleh kelainan bawaan. Pada derajat tertentu. D. Toksisitas ini terutama ditemukan pada bilirubin indirek. Obstruksi dalam hepar biasanya akibat infeksi/kerusakan hepar oleh penyebab lain. Gangguan dalam ekskresi Gangguan ini dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau di luar hepar. Mudah tidaknya bilirubin melalui sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung dari tingginya kadar bilirubin tetapi tergantung pula pada keadaan neonatus sendiri. misalnya pada bayi dengan asidosis atau dengan anoksia/hipoksia. Sifat indirek ini yang memungkinkan efek patologik pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. meningkatnya bilirubin dari sumber lain. 4. Bilirubin indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila pada bayi terdapat keadaan imaturitas. bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusakan jaringan otak. hiperkarbia. memendeknya umur eritrosit janin/bayi. Kelainan yang terjadi pada otak ini disebut kernikterus atau ensefalopati biliaris. Berat lahir rendah. polisitemia. misalnya penderita hepatitis neonatal atau sumbatan saluran empedu intra/ekstra hepatika. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit. Gangguan ambilan bilirubin plasma terjadi apabila kadar protein-Z dan protein-Y terikat oleh anion lain. atau terdapatnya peningkatan sirkulasi enterohepatik. ditentukan gangguan konjugasi hepar (defisiensi enzim glukuronii transferase) atau bayi menderita gangguan ekskresi. .menyebabkan lebih banyak terdapat bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang mudah melekat ke sel otak. hipoglikemia dan kelainan susunan saraf pusat yang karena trauma atau infeksi. hipoksia.

gejala ensefalopati pada neonatus mungkin . gangguan minum. ♦ Anemia ♦ Petekie ♦ Perbesaran lien dan hepar ♦ Perdarahan tertutup ♦ Gangguan nafas ♦ Gangguan sirkulasi ♦ Gangguan saraf F. G.E. antara lain: enteritis. kelainan kulit (ruam gigitan kutu). Pemberian substrat yang dapat menghambat metabolisme bilirubin (plasma atau albumin). serta mengobati penyebab langsung ikterus. Tanda dan Gejala ♦ Kulit tampak berwarna kuning terang sampai jingga (pada bayi dengan bilirubin indirek). hipertermia. Efek samping bersifat sementara dan kadang-kadang penyinaran dapat diteruskan sementara keadaan yang menyertainya diperbaiki. dehidrasi. merupakan tindakan yang juga dapat mengendalikan kenaikan kadar bilirubin. Penatalaksanaan Tujuan utama adalah untuk mengendalikan agar kadar bilirubin serum tidak mencapai nilai yang dapat menimbulkan kernikterus/ensefalopati biliaris. penderita mungkin menderita kernikterus atau ensefalopati biliaris. mengurangi sirkulasi enterohepatik (pemberian kolesteramin). Prognosis Hiperbilirubin baru akan berpengaruh bentuk apabila bilirubin indirek telah melalui sawar otak. Konjugasi bilirubin dapat lebih cepat berlangsung ini dapat dilakukan dengan merangsang terbentuknya glukuronil transferase dengan pemberian obat seperti luminal atau agar. letargi dan iritabilitas. terapi sinar atau transfusi hikan. Penghentian atau peninjauan kembali penyinaran juga dilakukan apabila ditemukan efek samping terapi sinar.

Pengkajian pengetahuan keluarga dan pasien Penyebab dan perawatan. gelisah. tingkat pendidikan. ASUHAN KEPERAWATAN A. obstruksi menetap.Pucat .Gatal . d. Pemeriksaan psikologis Efek dari sakit bayi. letargi dan hipotonia. liver atau gangguan metabolik.Penurunan kekuatan otot (hipotonia) .Penurunan refleks menghisap . infeksi. tidak kooperatif/ sulit kooperatif. policitemia. selanjutnya bayi mungkin kejang. ibu dengan diabetes.Kuning . membina kekeluargaan dengan bayi yang lain yang menderita ikterus. .Urine pekat .Letargi . Riwayat penyakit Kekacauan/ gangguan hemolitik (Rh atau ABO incompabilitas). kurang membaca dan kurangnya kemauan untuk belajar. Pada stadium mungkin didapatkan adanya atitosis .Convulsio (kejang perut) . III. tindak lanjut pengobatan. Pemeriksaan fisik .sangat ringan dan hanya memperlihatkan gangguan minum. gangguan pendengaran atau retardasi mental di hari kemudian. memar. merasa asing. hematom. b. Pengkajian a.Tremor .Menangis dengan nada tinggi c. spastik dan ditemukan opistotonis.

Monitor bila ada muntah. Diagnosa Dan Intervensi keperawatan 1.Monitor bilirubin serum c.Monitor tanda-tanda vital tiap 4jam b.Monitor tanda-tanda vital b.Berikan minum melalui sonde(ASI yang diperah atau PASI) b.Monitor berat badan tiap hari e.B.Observasi turgor dan membran mukosa 3.Lakukan oral hygiene dan olesi mulut dengan kapas basah c. Resiko perubahan suhu Tubuh berhubungan dengan efek samping fototerapi Tujuan/Kriteria: Suhu tubuh tetap normal Rencana Tindakan: a.Berikan minum ekstra f. kaku otot atau tremor d.Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian fototerapi 2.Kolaborasi terapi dengan tim medis e.Berikan minum tambahan .Monitor intake dan output d. Resiko peningkatan kadar bilirubin dalam darah berhubungan dengan kondisi fisiologis/patologis Tujuan/Kriteria Tidak ada peningkatan hiperbilirubinemia Rencana Tindakan a.Perhatikan suhu lingkungan dan gunakan isolasi c. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan malas menghisap Tujuan/Kriteria Kebutuhan nutrisi terpenuhi Rencana Tindakan a.

Observasi keadaan keutuhan kulit dan warnanya b. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang tujuan.Letakkan bayi 45 cm dari sumber cahaya/lampu 3.Observasi dan catat penggunaan lampu 5.4. prosedur dan efek .Bersihkan segera bila bayi buang air besar atau buang air kecil c.Kaji efek samping fototerapi 2.Buka tutup mata bila diberi minum atau saat tidak dibawah sinar 6.Selama dilakukan fototerapi tutup mata dan genital dengan bahan yang tidak tembus cahaya 4.Monitor reflek mata dengan senter pada saat bayi diistirahatkan dan kontrol keadaan mata setiap 8 jam 5. prosedur dan efek samping fototerapi Rencana Tindakan: 1.Lakukan alih baring dan pemijatan 6. Resiko terjadi trauma persepsi sensori penglihatan berhubungan dengan efek samping fototerapi Tujuan/Kriteria: Tidak terjadi gangguan pada retina pada masa perkembangan Rencana Tindakan: 1.Beri penyuluhan pada orang tua tentang tujuan.Jaga alat tenun dalam keadaan bersih dan kering e. Resiko terjadi gangguan integritas kulit berhubungan dengan efek samping fototerapi Tujuan/Kriteria: Selama dalam perawatan kulit bayi tidak mengalami gangguan integritas kulit Rencana Tindakan: a. prosedur pemasangan dan efek samping fototerapi Tujuan/Kriteria: Orang tua mengerti tujuans.Gunakan lotion pada daerah bokong d.

(2007).Berikan support mental 3. Media Aesculapius. Jilid II. Arif. Salemba Medika. Jakarta. Diagnose Nanda: Nic dan Noc. (2007). Anatomi dan Fisiologi Manusia. Ilmu Penyakit Anak. Yogyakarta. (2001). Salemba Medika. Mansjoer. Media Aesculapius Nanda. Graha Ilmu. Kapita Selekta Kedokteran. Salemba Medika. DAFTAR PUSTAKA Mansjoer. Jakarta. Nursalam. Jakarta. Soegijanto. Asuhan Keperawatan Pada Bayi dan Anak (untuk perawat dan bidan). (2002). Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta. Proses dan Dokumentasi Keperawatan: Konsep dan Penyakit . Mansjoer. Nursalam. Diagnosa dan Pelaksanaan. Setiadi. .Libatkan orang tua dalam prosedur fototerapi. Media Aesculapius. Arif. (2000). (2005). (2001). Jakarta. Jakarta.samping fototerapi 2. Kapita Selekta Kedokteran.Soegeng. Jilid I. (2002).