You are on page 1of 4

BUDAYA HAJAT LAUT DAN KONTROVERSINYA DALAM PANDANGAN AJARAN ISLAM

Pantai Indah Pangandaran adalah suatu pantai yang terletak di pantai selatan serta menurut AsiaRooms merupakan pantai terbaik di Pulau Jawa merupakan objek wisata pantai di Jawa Barat. Pantai ini terletak di Desa Pananjung, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran. Beberapa keistimewaan dari Pantai ini diantaranya: Dapat melihat terbit dan tenggelamnya matahari dari satu tempat yang sama Pantainya landai dengan air yang jernih serta jarak antara pasang dan surut relatif lama sehingga memungkinkan kita untuk berenang dengan aman Terdapat pantai dengan hamparan pasir putih Tersedia tim penyelamat wisata pantai Jalan lingkungan yang beraspal mulus dengan penerangan jalan yang memadai Terdapat taman laut dengan ikan-ikan dan kehidupan laut yang mempesona.

Di pangandaran juga merupakan tempat pendaratan tentara Jepang semasa perang dunia II oleh karenanya di sana masih terdapat beberapa gua pertahanan bala tentara Jepang yang dulu dijadikan tempat-tempat persembunyian tentara Jepang yang berniat menyerang tentara Belanda. (wikipediaG:khusus blogPantai_Pangandaran.htm) Pantai Pangandaran sangat istimewa karena berbentuk semenanjung atau lebih sederhananya adalah sebuah daratan yang menjorok ke lautan, sehingga sewaktu pagi dari sisi sebelah timur dapat melihat terbitnya matahari (sunrise) dan sore harinya dari sisi sebelah barat dengan jarak tempuh yang tidak begitu jauh dapat melihat terbenamnya matahari (sunset). Disamping itu, pantainya yang landai dengan airnya yang jernih serta pasang-surut air lautnya yang relatif lama, memungkinkan para pengunjung untuk berenang, meskipun sebenarnya ada larangan untuk berenang karena Pangandaran merupakan bagian dari pantai selatan Pulau Jawa yang terkenal mempunyai ombak besar dan sering memakan korban. Warga Pananjung-Pangandaran punya cara unik untuk merayakan pesta. Mereka mengadakan pesta di laut! Acara unik itu sudah menjadi tradisi yang diadakan setiap awal Bulan Syura. Hajat Laut, itulah namanya. Tradisi dilakukan sebagai ucapan syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkah kepada nelayan. Ada juga yang percaya kalau pesta laut sebagai acara untuk meminta permohonan keselamatan dari nelayan untuk Dewi Roro Kidul. Warga percaya dewi itu adalah penunggu Pantai Selatan. Sebagaimana yang dikisahkan oleh sesepuh di daerah Pananjung pangandaran , ritual hajat laut itu tidak di ketahui pasti tahun berapa mulai di laksanakannya tetapi yang jelas hajat laut itu adalah tradisi yang sudah turun temurun mulai dari nenek moyang hingga sekarang yang sudah seperti menjadi salah satu kewajiban bagi masyarakat Pananjung-Pangandaran untuk melaksanakannya . Menurut cerita mereka ritual hajat laut itu, dari sebelum daerah ini di datangi penjajah , ritual hajat laut sudah rutin dilaksanakan setiap tahunnya, hanya saja perbedaannya ritual hajat laut pada jaman

dahulu dengan ritual hajat laut sekarang jelas sekali banyak perbedaannya. Karena kurangnya pendidikan masyarakat setempat di jaman dahulu di bidang keagamaan maupun di bidang ilmu pengetahuan, ritual hajat laut pada jaman dahulu dilaksanakan benar-benar hanya memberikan sesajen saja, beda dengan sekarang ritual hajat laut dilaksanakan di lengkapi dengan doa-doa khusus dan tujuan-tujuan tertentu. Ritual hajat laut ini pantang sekali untuk dilanggar atau di lewatkan, walaupun kondisi masyarakat setempat sedang tidak memungkinkan tetapi yang namanya tradisi atau kebudayaan tetap harus dilaksanakan. Karena menurut sesepuh di Pangandaran di samping untuk mempererat kekerabatan masyarakat Pantai Pangandaran dan sekitarnya, juga melestarikan kebudayaan. Pada awalnya Desa Pananjung Pangandaran ini dibuka dan ditempati oleh para nelayan dari suku sunda. Penyebab pendatang lebih memilih daerah Pangandaran untuk menjadi tempat tinggal karena gelombang laut yang kecil yang membuat mudah untuk mencari ikan. Karena di Pantai Pangandaran inilah terdapat sebuah daratan yang menjorok ke laut yang sekarang menjadi cagar alam atau hutan lindung, tanjung inilah yang menghambat atau menghalangi gelombang besar untuk sampai ke pantai. Di sinilah para nelayan menjadikan tempat tersebut untuk menyimpan perahu yang dalam bahasa sundanya disebut andar setelah beberapa lama banyak berdatangan ke tempat ini dan menetap sehingga menjadi sebuah perkampungan yang disebut Pangandaran. Pangandaran berasal dari dua buah kata pangan dan daran . yang artinya pangan adalah makanan dan daran adalah pendatang. Jadi Pangandaran artinya sumber makanan para pendatang. Saat hajat laut, warga membawa sesaji yang ditaruh di tiga jampana. Lalu, sesaji itu dibawa ke tengah laut dan ditenggelamkan di tengah lautan. Lokasi pesta laut dekat perairan Batu Layar, atau sekitar lima mil laut dari Pantai Timur Pangandaran. Ratusan perahu dengan berbagai warna dan hiasan, umbulumbul jelas terlihat. Perahu-perahu tersebut ikut mengiringi perahu pengangkut joli atau dongdang yang berisi bermacam sesaji dalam kegiatan syukuran atau hajat laut ini. Iring-iringan warga ikut mengantar sampai ke tepi laut. Kontroversi hajat laut Masyarakat Pangandaran berpendapat bahwa hajat laut sama sekali bukanlah hal yang bidah karena menurut mereka sepantasnya kita menjaga, dan menghormati serta memelihara warisan nenek moyang yang sudah menjadi satu kewajiban bagi kita semua untuk melaksanakannya. Lalu hubungan dengan sesaji pun itu tujuannya bukan dipersembahkan untuk Ratu Pantai Selatan atau Nyi Roro Kidul itu sekedar simbol saja. Memang hal seperti ini bukan yang pertama kalinya dipertanyakan, tentang ritual hajat laut ada yang berpendapat musrik ada yang berpendapat tidak. Tapi menurut pandangan masyarakat Pangandaran perbedaan itu wajar saja yang terpenting bagi masyarakat Pangandaran jangan sampai terpecah belah karena perbedaan pendapat. Buktinya masyarakat Pangandaran di sini masih bisa bersama, aman dan tentram, sikap ramah tamah dan gotong royong pun terlihat jelas antar satu individu dengan individu lain. Melaksanakan ritual yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi atau suatu praktek yang tidak pernah terdapat dalam ajaran islam adalah bidah. Tetapi perlu kita kaji kembali apakah melaksanakan ritual hajat laut itu lebih banyak membawa kebaikan atau keburukan? Jika melaksanakan ritual hajat laut lebih

banyak membawa kebaikan maka bidah itu dibolehkan oleh Allah atau menjadi bidah Hasanah atau bidah yang membawa kebajikan. Pada dasarnya ritual hajat laut merupakan suatu ibadah, namun dalam kenyataannya masyarakat Pangandaran mengatakan hal tersebut adalah praktek yang bukan bidah, jika dilihat dari tata cara mer eka melakukan persembahan seperti sesaji di sini terlihat bidah, tapi ketahui dulu makna kami menganggap sesaji itu hanyalah sebuah simbol, tidak lebih. Alasan diadakannya acara Syukuran Nelayan tersebut amat sederhana tetapi sangat kontroversi, yakni untuk memberikan persembahan berupa sesajian kepada penguasa Pantai Selatan yang telah memberikan kemakmuran kepada para nelayan selama ini. Mereka bersyukur dan berterima kasih atas semua kekayaan yang dilimpahkan di perairan laut di selatan pulau Jawa itu. Secara umum, acara yang diadakan pada setiap bulan Suro (penanggalan Jawa) itu amat meriah, dihadiri oleh puluhan bahkan ratusan ribu orang. Tujuan hajat laut Para tokoh agama di Pangandaran menganggap hajat laut itu hanya sekedar syukuran saja, jadi dalam melaksanakannya hajat laut tidak ada unsur kemusrikan. Karena tujuan dilaksanakannya hajat laut adalah sebagai rasa syukur atas karunia nikmat yang diberikan oleh Allah. Karena dengan tradisi dan budaya inilah masyarakat Pangandaran mempunyai tujuan untuk mempererat tali persaudaraan antara satu individu dengan individu yang lain (G:khusus blogMakna Tradisi Ritual Hajat Laut bagi Masyarakat Pangandaran _ PangandaranInfo-Media Informasi dan Promosi.htm). Alasan diadakannya hajat laut Segala sesuatu yang telah kita raih, wajib untuk kita berucap syukur kepada sang pemberi. Hal inilah yang dilakukan oleh para nelayan di kawasan Pantai Pangandaran. Sebagai ucapan terima kasih, mereka (nelayan) menggelar acara Sukuran Nelayan, yang oleh masyarakat setempat lebih populer dengan istilah Hajat Laut. Pantai Pangandaran adalah salah satu obyek wisata yang cukup populer di masyarakat Indonesia maupun manca negara. Lokasinya di bagian selatan Jawa, masuk dalam wilayah Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Untuk mencapai tempat ini, hanya diperlukan waktu tidak lebih dari 5 jam dari Bandung atau sekitar 6 jam dari Jogjakarta. Prosesi hajat laut Sebelum para nelayan membawa sesaji ke tengah laut, diadakan doa terlebih dahulu seperti pembacaan Ayat Suci Al Quran dan pembacaan Yasin. Karena hanya kepada-Nyalah kita berserah atas semua yang telah diberikan. Acara yang dilaksanakan rutin setiap tahunnya ini juga mempunyai makna agar semua penduduk pantai mendapat keselamatan bilamana mereka mengambil sumber daya alam yang ada dipantai selatan tanpa harus merusaknya. Setelah seluruh rangkaian acara doa selesai, saat yang ditunggu-tunggu oleh para nelayan inipun tiba. Sekitar 12 Jempana (sesaji) mulai diturunkan ke pinggir laut. Beberapa sesaji yang berisikan kepala kerbau dan kambing untuk dihanyutkan ke tengah laut. Satu persatu jempana mulai dinaikan ke atas perahu besar (bermotor) dan selanjutnya dibawa ketengah laut. Secara serentak para nelayan mulai mengikuti perahu besar yang berisi sesaji tersebut. Layaknya seperti di lintasan balap, para perahu

nelayan mencoba untuk melaju cepat, merapat ketat ke perahu besar, mengawal jempana utama hingga ke lokasi yang sudah ditentukan di kejauhan laut. Sesampainya di lokasi tujuan di tengah laut, jempana tersebut satu persatu mulai diturunkan dari perahu untuk kemudian ditenggelamkan. Keriangan para nelayan terlihat, terpancar dari mimik syukur, mata yang berbinar, dan suara riuh di antara mereka. Seketika, mereka dengan membawa sebuah ember berloncatan ke tengah laut untuk lebih mendekat dengan jempana utama. Setelah jempana dilepas dan perlahan tenggelam, para nelayan berebut air laut di sekitar jempana itu tenggelam untuk seterusnya diguyurkan ke perahu mereka masing-masing. Konon, dengan cara seperti ini diharapkan selama satu tahun ke depan para nelayan bisa mendapat keberkahan dengan hasil tangkapan lebih baik dari tahuntahun sebelumnya. Setelah semua proses selesai, merekapun kembali pulang dan berharap apa yang telah mereka lakukan hari ini bisa menjadi pertanda syukur mereka kepada pencipta dan pemberi berkah. Serangkaian dengan acara utama menghayutkan sesaji di lautan, kegiatan Syukuran Nelayan ini juga dimeriahkan dengan perlombaan serta acara budaya lainnya. Ada acara panjat pinang dan tangkap bebek di laut. Selain itu, ditampilkan berbagai kesenian tradisional, seperti tari-tarian, musik tradisional, dan marching band. Para nelayan berharap acara ini bisa terus berlangsung hingga anak-cucu mereka nanti. Oleh karena itu, diharapkan khususnya Pemda setempat untuk terus mendukung pelaksanaan acara tahunan ini. Event ini merupakan sebagai tujuan wisata budaya yang sangat menarik untuk dikunjungi, baik bagi para wisatawan lokal maupun asing. (Yosef Ferdyana & Naswardi) (G:khusus blog261-hajatlaut-di-pangandaran-balas-budi-atas-karunia-alam-ala-nelayan.html). Entos mengatakan, sebelum acara puncak, hajat nelayan ini juga sebelumnya dimeriahkan dengan kesenian tradisional, pancing pasiran, perahu dayung, perahu hias, tangkap bebek di laut, helaran dan kirab dongdang. Sebagai kegiatan puncak digelar kegiatan melarung dan tabur bunga, dan di akhir akan ditutup dengan pentas seni wayang golek, pungkas Entos. Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Ciamis Jeje Wiradinata menyampaikan, hajat laut yang digelar serempak di 10 titik pangkalan nelayan dan kegiatan puncak digelar di Panagndaran merupakan kegiatan tahunan sebagi bentuk rasa syukur, momentum introsfeksi diri bagi warga nelayan dan masyarakat umumnya. Kegiatan ini, juga berdampak positif ter hadap kegiatan pariwisata di Pangandaran, tambahnya.