Di sebuah desa, Akira melihat banyak kincir air pada dua sungai (satu beralir deras dan satunya

perlahan). Banyak anak kecil yang sedang memetik bungan dibibir sungai yang ditumbuhi tumbuhan liar seperti rumput dan aneka bunga. Mereka meletakkan tangkai-tangkai bunga penuh warni pada sebuah batu. Dia masih berjalan di jembatan kayu yang dibuat seadanya. Dia memandang beberapa buah rumah kincir air. Kemudian dia melihat seorang bapak tua di depan salah satu rumah kayu di tepi sungai yang sedang memperbaiki sebuah kincir air (terbuat dari batang-batang bambu) yang sedang rusak. Lalu dia mendekati orang tua itu dan bertanya. “Konniciwa.”Orang tua itu memandangnya dan membalas “KOnniciwa.” “Apa nama desa ini?” kata Akira. “Tidak ada, kami hanya menyebutnya desa saja.” Beberapa orang (di luar) menyebut desa ini sebagai desa kincir air. “Apakah semuanya tinggal di rumahrumah kincir air ini?” Tidak, mereka tinggal di tempat lain di sana. Akira duduk di hadapan orang tua itu. Dia mengenakan topi dari anyaman rotan. “Disini tidak ada listrik ya?” Akira bertanya lagi. “Kami tidak butuh”. Singkat jawabannya. “Orang terbiasa kemudahan, mereka pikir kemudahan itu lebih baik” kata orang tua itu kemudian. “Mereka membuang apa yang seharusnya baik.” “Tapi bagaimana dengan penerangan?” bertanya lagi. “Kami punya lilin dan minyak”. “Tapi malam sangat gelap?” Kata Akira. “Yah, memang seharusnya demikian.” “Mengapa malam harus seterang siang?” Aku tidak suka malam terang, kamu tidak dapat melihat bintang.” Akira menggaruk-garuk kepalanya. Lalu memandang ke arah ladang. Suara deru sungai begitu damainya. “Kamu punya padi, tetapi tidak punya traktor untuk menggarapnya?” “Kami tidak butuh traktor, kami punya sapi dan kuda”. “Apa yang kamu gunakan untuk bahan bakar?” “Kayu bakar.” Singkat lagi jawabnya. Lalu, “Kami merasa tidak baik memotong pohon, tetapi mereka sudah jatuh dengan sendirinya.” “Kami memotongnya dan menggunakannya sebagai kayu bakar.” “Dan jika kamu membuat arang dari kayu, hanya butuh beberapa batang kamu sudah bisa membuat panas seluruh hutan.” Ya, dan kotoran sapi berguna untuk bahan bakar yang bagus juga.” Akira tersenyum dan memandang dua sungai yang mengalir beriringan dan memandang kincir air yang bergerak perlahan mengikuti alur air. Lalu memandang ke atas, kepada pucuk pohon-pohon yang dihembus angin. Masih tersenyum. Orang tua itu berkata, “kami mencoba hidup seperti jaman dulu. Itulah cara alami untuk hidup.” “Orang zaman sekarang telah melupakan bahwa mereka bagian dari alam.” Orang tua itu berkata sambil tetap memperbaiki kincir air yang rusak itu. “Dan mereka menghancurkan alam, dimana kehidupan kita bergantung kepadanya.” “Mereka selalu berpikir dapat membuat sesuatu yang lebih baik, terutama peneliti.” “Mereka mungkin pintar tapi kebanyakan tidak mengerti, INTI dari alam.” “Mereka hanya menciptakan alat yang pada akhrinya membuat orang tidak bahagia.” “Tapi mereka sangat bangga atas penemuan mereka.” “Yang terburuk kebanyakan orang juga, mereka melihatnya seperti keajaiban, mereka memujanya.” Akira tertunduk, lalu orang tua itu berkata lagi, “Mereka tidak sadar mereka menghilangkan alam.” “Mereka tidak lihat bahwa mereka akan hilang.” “Yang paling penting bagi manusia adalah udara yang bersih dan air yang bersih, dan pohon dan rumput yang membuatnya.””Semuanya dikotori

“Ngomong-ngomong Berapa umurmu?” “Aku? 103. orang-orang desa di sini menjalankan hidup secara alami. juga kincir air yang paling besar.” “Menyenangkan. Akira berdiri saja. Dibalik sungai terdapat parade seperti yang diceritakan orang tua tadi. Akira mendengar sesuatu.” “Para penduduk merasa kasihan dan menguburkannya disana. dia mendekati juga barisan itu.” “Kenyataannya senang sekali bisa hidup.” “Wanita yang akan dikubur hari ini. Dia memandang orang tua itu lagi dan berkata.” “Sulit sekali merayakan kekosongan. Senyumny aterus mengembang. hidup sampai di umur ke-99.” “Kami tidak punya kuil atau pendeta di sini. Orang-orang menari dan bernyanyi. Ketika keranda itu melewatinya.” “Itu baik bagi pekerja keras dan hidup panjang dan diterimakasihkan.” “Aku harus permisi. Air sungai masih mengalir. Semua mengenakan pakaian desa. Lalu dia sudah berada dalam barisan itu juga dengan raut bahagia sambil bernyanyi. “Tidak.” Akira makin terlihat bingung. Lalu berjalan. Dibelakangnya ada beberapa orang meniup terompet. meskipun banyak tidak mengetahuinya. ini pemakaman.” “Kami tidak suka ketika pemuda dan anak-anak meninggal.” “Tapi Untungnya. Ramai sekali.” Dia berdiri dan berkata. semuanya dicemari. orang tua itu juga melambai-lambaikan setangkai bunga penuh warni dan gemerincingnya.” Dia memetik beberapa tangkai bunga.” Orang tua itu masih memperbaiki kincir air yang terbuat dari bambu. kenapa?” “Oh… itu. hati yang busuk. Ada keranda yang diusung oleh 6 laki-laki.” Dia tertawa. Dia mendengar sesuatu. perempuan-perempuan seperti cheerleader. seperti merayakan kebahagiaan. ke pemakaman di bukit sana. Dia lagi-lagi memandang kincir-kincir air. Dari balik sungai. dia melepas topinya. Mendekati barisan terdepan anak-anak yang menebar bunga.” “Mereka mennempatkan batu besar di atas makamnya dan menaruh bunga dan kemudian menjadi kebiasaan menaruh bunga disana.” “Umur yang baik untuk meninggal. Dia lalu mengenakan topinya dan menyeberangi jembatan kayu. dia lalu berdiri dan memandang sungai. Di depan barisan itu anak-anak kecil menebar bunga.” Udara kotor.” “Itu hanya omongan. Tak lama orang tua itu keluar sambil membawa gemerincing. namun semua penduduk meletakkan bunga ketika melewatinya. terkekeh sambil melangkah.” “Apakah kamu menganggap ini aneh?” “Pemakaman yang bahagia.” “Bukan hanya anak kecil datang dan menaruh bunga. tapi dia melukaiku dan meninggalkanku untuk yang lain. Di baris belakangnya lagi. semuanya penduduk membawa yang mati.” “Beberapa mengatakan bahwa hidup itu sulit. tapi aku tidak akan bergabung dengan prosesnya. Tak lama. Dia mendengar suara gemerincing dari dalam rumah itu. jadi mereka melewati umur matangnya.” “Dahulu kala seorang petualang meninggal di jembatan. “sejujurnya dia cinta pertamaku.dan dicemari untuk selamanya. yang bergerak . air kotor. Yang khas adalah pakaian seperti celemek berwarna orange. Ayahku memberitahukan sekali. bahagia sekali. bunga-bunga dan rerumputan liar di tepi sungai. “Apakah ada perayaan hari ini?” Orang tua itu tampak bingung. Akira lalu melangkah dan memandang sungai itu sekali lagi. “Ketika dalam perjalanku kemari aku kebetulan melihat anak-anak kecil menaruh bunga di sebuah batu disamping jembatan.

Senang sekali hatinya.perlahan mengkikuti alur air. Lalu memetik beberapa helai bunga-bunga. Tiba-tiba dia berbalik. Berjalan ke arah batu dimana petualang itu dikuburkan. Itulah desa kincir air. . Lalu dia pergi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful