You are on page 1of 52

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2015 adalah meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan kesehatan masyarakat yang setinggitinggi dapat terwujud, melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, secara adil dan merata, serta memliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya di seluruh wilayah Republik Indonesia. (Depkes 2009, p.33) Untuk mewujudkan pembangunan kesehatan yang salah satunya adalah pokok program upaya kesehatan yang antara lain mencakup program penyakit menular seperti penyakit ISPA. Pelaksanaan program pemberantasan penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah bagian dari pembangunan kesehatan dan merupakan bagian dari upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular. (Depkes 2009, p.33) Penyakit infeksi dan kurang gizi merupakan penyebab kematian balita di negara maju maupun di negara berkembang. Penyakit infeksi yang sering terjadi pada balita adalah Diare, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), Infeksi telinga, Radang tenggorokan, dan Tetanus. Dari antara penyakit ini, kasus ISPA adalah kasus yang paling tinggi. Kasus ISPA merupakan 50% dari

1

seluruh penyakit pada anak berusia dibawah 5 tahun, dan 30% pada anak 5-12 tahun. Kasus ISPA di negara berkembang 2-10 kali lebih banyak dari pada di negara maju. Perbedaan ini berhubungan dengan etiologi dan faktor resiko. Dinegara maju, ISPA di dominasi oleh virus, sedangkan dinegara berkembang ISPA sering disebabkan oleh bakteri seperti S. Pneumonia dan H. Influenza. Di negara berkembang, ISPA dapat menyebabkan 10%-25% kematian dan bertanggung jawab terhadap 1/3-1/2 kematian pada balita (Raharjoe, 2008; WHO, 2003). Jaringan internasional WHO untuk surveilans ISPA meliputi 110 Nasional influenza center di 83 negara, memonitor aktivitas influenza di dunia. Selama tahun 1976 – 2001, di Amerika Serikat aktivitas puncak timbul paling sering pada bulan Januari yaitu 24 % dan Februari 40 % dan rata-rata terjadi 20.000 kematian pertahun. Pada daerah tropis ISPA dapat timbul setiap saat selama tahun. Pada anak usia 0-4 tahun, angka penderita penyakit ISPA yang dirawat adalah 500 per 100.000 orang yang beresiko tinggi dan 100 per 100.000 orang yang tidak beresiko tinggi. (Ranuh.IGN 2008, p.225) Di Indonesia, ISPA sering disebut sebagai ”Pembunuh utama”. ISPA merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien ke fasilitas kesehatan yaitu 40%-60% dari seluruh kunjungan ke Puskesmas dan 15%-30% dari seluruh kunjungan rawat jalan dan rawat inap Rumah Sakit. Diperkirakan kematian akibat ISPA khususnya Pneumonia mencapai 5 kasus diantara 1000 balita. Ini berarti ISPA mengakibatkan 150.000 balita meninggal tiap tahunnya, atau 12.500 korban perbulan, atau 416 kasus perhari, atau 17 anak perjam atau seorang bayi tiap 5 menit (Depkes, 2004).

2

Berdasaran hasil survei kesehatan nasional tahun 2007 menunjukan bahwa proporsi kematian bayi akibat ISPA masih 18 %. Artinya, bahwa dari 100 bayi yang meninggal 18 disebabkan oleh penyakit ISPA. (Depkes RI 2009, p.8) Sedangkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumbar tahun 2010 penyakit ISPA merupakan penyakit terbanyak pada urutan pertama dari 10 penyakit terbanyak. Dan menurut data yang didapat dari Dinas Kesehatan Kota Solok dari 10 penyakit terbanyak di Kota Solok adalah penyakit ISPA juga berada pada urutan pertama. Dengan jumlah penderita ISPA pada balita tahun 2011 berjumlah 16.255 orang balita. Dilihat pada 4 Puskesmas yaitu Tanah Garam, Tanjung Paku, KTK dan Nan Balimo pada bulan April 2012 sampai Juni 2012 diperoleh jumlah balita yang menderita ISPA adalah 1822 orang balita dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 1.1 Perbandingan jumlah penderita ISPA di empat Puskesmas di Kota Solok Bulan April sampai Juni tahun 2012 Jumlah penderita ISPA pada balita 1 Tanjung Paku 2.078 635 2 Tanah Garam 1.734 449 3 KTK 1.303 291 4 Nan Balimo 706 447 Jumlah 5.525 1822 Sumber: Dinas Kesehatan Kota Solok tahun 2012 No Puskesmas Jumlah balita % 30,6 25,9 22,3 63,3 32,9

Dari tabel diatas dapat dilihat dari empat Puskesmas yang ada di Kota Solok penderita ISPA pada balita terbanyak terdapat pada Puskesmas Nan Balimo dengan jumlah 447 (63,3 %).

3

Adapun distribusi penderita ISPA pada balita di Puskesmas Nan balimo dari bulan Juni 2012 sampai Agustus 2012 dapat dilihat pada tabel 1.2 di bawah ini: Tabel 1.2 Jumlah Balita Penderita ISPA di masing – masing Kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo Kecamatan Tanjung Harapan Kota Solok bulan Juni sampai Agustus 2012 No 1 2 Kelurahan Nan Balimo Laing Jumlah Jumlah Ibu 503 167 670 Jumlah balita 522 184 706 Jumlah balita penderita ISPA 325 89 414 % 62 48,4 58,6

Sumber: Laporan Puskesmas Nan Balimo Kota Solok tahun 2012

Dari data diatas dapat dilihat jumlah penderita ISPA terbanyak berada pada Kelurahan Nan Balimo yaitu 325 orang balita (62 %) dari jumlah balita 522 orang balita. Angka kejadian ISPA yang masih tinggi pada balita disebabkan oleh tingginya frekuensi kejadian ISPA pada balita. Dalam satu tahun rata-rata seorang anak di pedesaan dapat terserang ISPA 3-5 kali, sedangkan di daerah perkotaan sampai 6-8 kali. Penyebab tingginya kekambuhan ISPA pada balita terkait dengan banyaknya faktor yang berhubungan dengan ISPA. Beberapa faktor yang berkaitan dengan ISPA pada balita antara lain, keadaan gizi yang buruk, status imunisasi yang tidak lengkap serta kondisi lingkungan yang buruk seperti ventilasi rumah yang tidak memenuhi syarat, kepadatan hunian rumah yang terlalu padat, pencemaran udara (asap dan debu) di dalam rumah maupun di luar rumah (Raharjoe, 2008; Yuwono, 2007; Warouw, 2002). Pencemaran udara di dalam rumah berasal dari dari asap rokok, asap dapur dan asap dari obat nyamuk yang digunakan di dalam rumah, sementara polusi udara

4

di luar rumah berasal dari gas buangan trasportasi, asap dari pembakaran sampah dan asap dari pabrik (Astuti 2006, p. 14). Kematian pada penderita ISPA terjadi jika penyakit telah mencapai derajat ISPA yang berat. Paling sering kematian terjadi karena infeksi telah mencapai paru-paru. Keadaan ini disebut sebagai radang paru mendadak atau pneumonia. Sebagian besar keadaan ini terjadi karena penyakit ringan (ISPA ringan) yang diabaikan. Sering kali penyakit dimulai dengan batuk pilek biasa, tetapi karena daya tahan tubuh anak lemah maka penyakit dengan cepat menjalar ke paru-paru. Jika penyakitnya telah menjalar ke paru-paru dan anak tidak mendapat pengobatan serta perawatan yang tepat, anak dapat meninggal. Perawatan yang dimaksud adalah perawatan dalam pengaturan pola makan balita, menciptakan lingkungan yang nyaman sehingga tidak mengganggu kesehatan, menghindari faktor pencetus seperti asap dan debu serta menjaga kebersihan diri balita. (Depkes 2002, p.43). Thamrin (2001, p.3) mengatakan bahwa ISPA pada balita

berhubungan dengan status gizi balita yang buruk. Balita yang memiliki status gizi yang buruk sekitar 71,50 % mengalami ISPA, hal ini berhubungan dengan daya tahan tubuh yang berkurang. Penelitian ini juga diperkuat oleh penelitian Arsyad (2003, p.6) yang menyatakan bahwa status gizi merupakan faktor resiko yang paling dominan mempengaruhi ISPA pada balita. Keadaan lingkungan balita juga behubungan dengan ISPA pada balita. Peluang balita yang tinggal dalam rumah dengan pencemaran dalam ruangan akan terkena ISPA sebesar 6,09 kali dibandingkan dengan balita tanpa pencemaran ruangan. Balita yang tinggal dilingkungan rumah dengan penggunaan bahan bakar

5

mengatur pola makan dengan tujuan memenuhi nutrisi balita. keadaan sanitasi fisik rumah (suhu. Oleh sebab itu untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang baik harus dimulai dari keluarga.23 kali dibandingkan dengan balita yang tinggal dilingkungan rumah dengan sanitasi fisik rumah yang baik. disamping itu.biomassa mempunyai resiko 10.1 kali lebih besar untuk terkena ISPA. Balita yang tinggal di dalam lingkungan rumah dengan keadaaan sanitasi fisik rumah yang buruk mempunyai resiko terkena ISPA 1.1) Untuk menghilangkan atau mengurangi kemungkinan yang dapat meningkatkan potensi anak terkena ISPA. (Depkes RI 2009. 2000 dalam Agustama. p. kelembaban penerangan.9 kali menderita ISPA dibandingkan dengan anak yang tinggal di lingkungan rumah tanpa menggunakan bahan bakar biomassa (Chin. menciptakan lingkungan yang nyaman serta menghindari faktor pencetus. Dewa (2001) mengatakan balita yang terpapar asap rokok mempunyai resiko 7. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah meningkatkan pengetahuan mengenai penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). 2005). Disamping itu paparan asap rokok juga sangat mempengaruhi timbulnya ISPA pada balita. Orang tua yang memiliki peran yang buruk dalam menjaga kesehatan keluarga akan mempengaruhi angka kesehatan 6 . maka diperlukan upaya pencegahan. Keluarga atau rumah tangga adalah unit masyarakat terkecil. Orang tua (ayah dan ibu) merupakan sasaran utama dalam pencegahan suatu penyakit. ventilasi dan kepadatan hunian) berhubungan dengan ISPA pada balita.

anggota keluarga terutama anggota keluarga yang masih balita (Notoadmojo 2003. 132). karena itu keterlibatan orang tua diperlukan sebagai mekanisme untuk menurunkan dampak masalah kesehatan pada anak dan keluarganya (Nelson. artinya membutuhkan lingkungan yang dapat memfasilitasi dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan untuk belajar mandiri. Sedangkan secara psikologis usia balita merupakan usia perkembangan mental. 1991. Upaya pembangunan dan pembinaan kesehatan pada usia balita merupakan periode transisi tumbuh kembang. p. 23). 2003). p. 46) Faktor perilaku dalam pencegahan dan penanggulangan ISPA pada bayi dan balita dalam hal ini keluarga baik dilakukan ibu ataupun anggota keluarga yang lain. emosional dan intelektual yang pesat juga. Salah satu periode pertumbuhan dan perkembangan yang cukup mendapat perhatian bidang kesehatan adalah usia balita. Secara sosiologis anak balita sangat tergantung pada lingkungan. (Whaley & Wong. Anak adalah individu yang masih bergantung pada orang dewasa dan lingkungannya. lingkungan yang dimaksud adalah orang tua (Supartini 2004. Anak adalah aset bagi orang tua dan ditangan orang tua anak dapat tumbuh dan berkembang secara sehat baik fisik maupun mental. Secara fisik usia balita merupakan usia pertumbuhan dimana usia ini semua sel termasuk sel-sel yang sangat penting seperti sel otak mengalami pertumbuhan yang sangat pesat.1420) Keluarga merupakan unit 7 . p. Pertumbuhan dan perkembangan pada usia balita ini akan berjalan secara optimal dan serasi jika kondisi kesehatan balita dalam keadaan optimal pula (Depkes 2005.

3 orang mengatakan kurang memahami tentang bagaimana cara mencegah ISPA yang seharusnya supaya tidak terjadi pada anak. Bila salah satu anggota keluarga mempunyai masalah kesehatan. sikap. yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat). 3 orang lagi mengatakan penyakit ISPA penyakit yang sudah biasa diderita anaknya dan akan dapat sembuh dengan sendirinya. faktor-faktor pemungkin/ enabling factor (lingkungan fisik tersedia atau tidaknya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan). faktor-faktor penguat/ reforcing factor (sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas yang lain. Teori Green (1980) dalam Notoadmodjo (2007) menyatakan bahwa perilaku kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu faktor-faktor predisposisi / predisposing factor (pengetahuan. kepercayaan. Dari fenomena di atas peneliti tertarik untuk meneliti hubungan pengetahuan. nilai-nilai dan sebagainya).terkecil dari masyarakat yang berkumpul dan tinggal dalam suatu rumah tangga. maka akan berpengaruh terhadap anggota keluarga yang lain. sikap dan tindakan pencegahan ISPA dengan kejadian ISPA pada 8 . satu dengan yang lainnya saling tergantung dan berintegrasi. keyakinan. p. 2 orang lain mengatakan anaknya mengalami ISPA jika sudah bermain diluar rumah. 1420) Dari studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 3 Oktober 2013 melalui wawancara terhadap 8 orang ibu balita. tingkat sosial ekonomi. (Whaley & Wong 1991. Peran aktif keluarga dalam pencegahan dan penanganan ISPA sangat penting karena ISPA merupakan penyakit yang ada sehari-hari di dalam keluarga yang sering menyerang balita.

9 . C. sikap dan tindakan pencegahan ISPA dengan kejadian ISPA pada balita di Kelurahan Nan Balimo wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok tahun 2013.balita di Kelurahan Nan Balimo wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok tahun 2013. Diketahui distribusi frekuensi sikap ibu dalam pencegahan ISPA pada balita di Kelurahan Nan Balimo wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok tahun 2013. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah belum diketahuinya apakah ada hubungan pengetahuan. Tujuan Umum Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan. B. 2. sikap dan tindakan pencegahan ISPA dengan kejadian ISPA pada balita di Kelurahan Nan Balimo wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok tahun 2013. b. Tujuan Khusus a. Tujuan 1. Diketahui distribusi frekuensi pengetahuan ibu dalam pencegahan ISPA pada balita di Kelurahan Nan Balimo wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok tahun 2013.

Diketahui distribusi frekuensi tindakan pencegahan ISPA pada balita di Kelurahan Nan Balimo wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok tahun 2013.c. 10 . f. Bagi peneliti Untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan bagi penulis dalam melakukan suatu penelitian khusus tentang pencegahan ISPA pada balita 2. Bagi Peneliti lain Sebagai bahan masukan dan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya dan menambah bahan informasi yang dapat digunakan sebagai referensi bagi mahasiswa dan peneliti selanjutnya. D. Diketahui hubungan tindakan pencegahan dengan kejadian ISPA pada balita di Kelurahan Nan Balimo wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok tahun 2013. Diketahui hubungan pengetahuan dengan kejadian ISPA pada balita di Kelurahan Nan Balimo wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok tahun 2013. Manfaat penelitian 1. e. Diketahui hubungan sikap dengan kejadian ISPA pada balita di Kelurahan Nan Balimo wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok tahun 2013. Diketahui distribusi frekuensi kejadian ISPA pada balita di Kelurahan Nan Balimo wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok tahun 2013. d. g.

E. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan kuesioner sebagai instrumennya. data diolah dengan teknik komputerisasi. dengan analisa data yang digunakan adalah analisis univariat dan analisis bivariat. Ruang Lingkup penelitian Penelitian ini tentang adalah hubungan pengetahuan. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional study. 11 .3. Populasi dalam penelitian ini yaitu semua ibu yang mempunyai balita yang berada di Kelurahan Nan Balimo wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo yaitu 487 orang. sikap dan tindakan pencegahan ISPA dengan kejadian ISPA pada balita di Kelurahan Nan Balimo wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok tahun 2013. Bagi Puskesmas Nan Balimo Sebagai bahan masukan dan infomasi bagi tenaga kesehatan setempat tentang sejauh mana masyarakat yang berada di wilayah kerja Puskesmas memahami perilaku pencegahan ISPA pada balita oleh ibu balita. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik sampel random sampling yang telah dilakukan pada tanggal 18 sampai 28 Februari 2013.

dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan. 12 . p. pendengaran. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. rasa dan raba. Pengetahuan didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yakni tahu. Awarenes (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek). Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia. dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu” (p. dan evaluasi “(p. Menurut Notoatmodjo (2007. memahami.140) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru). Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tertentu. Pengetahuan 1. aplikasi. sintesis. Pengertian Menurut Notoatmodjo (2007) “pengetahuan merupakan hasil dari tahu. analisis.139). b. penciuman. yakni indera penglihatan. yakni : a. c. Notoatmodjo (2007) juga menyatakan bahwa “pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang.139). Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.

kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus. dan menyatakan. Trial. tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Tingkat Pengetahuan a. c. menyebutkan contoh. Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan ya untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan. menyimpulkan dan meramalkan terhadap objek yang dipelajari. dimana objek mulai mencoba melakukan sesuatu dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus e. mengarahkan. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja. Adoption. b. 2. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen. 13 . Tahu (Know) Tahu (know) ialah mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya termasuk mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima.d. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang itu tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan. mendefenisikan. dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan. Oleh karena tahu itu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.

(Notoatmodjo 2007. Indikator-indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan atau kesadaran terhadap kesehatan dapat dikelompokkan menjadi (Notoatmodjo. p. 2007) : a. membedakan. Aplikasi (Aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk mengeluarkan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi nyata (sebenarnya). Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. f. Sintesis (Syntesis) Sintesis menunjuk kepada. Penilaian-penilaian itu bedasarkan suatu kriteria yang ditemukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang ada. e. Pengetahuan tentang sakit dan penyakit yang meliputi : 1) Penyebab penyakit 2) Gejala atau tanda-tanda penyakit 3) Bagaimana cara pengobatan. memisahkan dan mengelompokkan.141-142) 3. d. atau kemana mencari pengobatan 4) Bagaimana cara penularannya 5) Bagaimana cara pencegahannya 14 . dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan formulasi baru dari formulasi yang ada. suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian ke dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.seperti dapat meggambarkan (membuat bagan).

b. dan tanah) bagi kesehatan B. termasuk cara pembuangan kotoran yang sehat. dan diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh khusus pada respon seseorang terhadap orang. Sikap 1. narkoba c. minum. meliputi : 1) Jenis-jenis makanan bergizi 2) Manfaat makanan yang bergizi 3) Pentingnya olah raga bagi kesehatan 4) Pentingnya istirahat cukup 5) Tahu bahaya-bahaya merokok. Pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan dan cara hidup sehat. dan keadaan (Notoatmodjo. dapat juga diartikan sebagai suatu bentuk respons 15 . Pengertian Sikap adalah perasaan positif atau negatif atau keadaan mental yang selalu disiapkan. dipelajari. 2007). Sikap dapat diartikan sebagai suatu bentuk kecendrungan untuk bertingkah laku. objek-objek. udara.minuman keras. Pengetahuan tentang kesehatan lingkungan : 1) Manfaat air bersih 2) Cara-cara pembuangan limbah yang sehat. dan sampah 3) Manfaat penerangan dan pencahayaan rumah yang sehat 4) Akibat polusi (air.

Kepercayaan (keyakinan).evaluatif yaitu suatu respons yang sudah dalam pertimbangan oleh individu bersangkutan (Notoatmodjo. ide dan konsep terhadap suatu objek 2). pengetahuan. Menurut Notoatmodjo (2007) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai tiga komponen pokok. Sikap menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Misalnya sikap orang terhadap gizi dapat dilihat dari kesediaan dan perhatian orang itu terhadap tentang gizi 2) Merespon (responding) Memberikan jawaban apabila diatanya. keyakinan. dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu (Notoatmodjo. mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. yakni : 1). 2007). 2. 2007). Tingkat Sikap 1) Menerima (receiving) Menerima diartikan bahwa orang mau dan memperhatikan stimulus yang berkaitan. karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan yang 16 . Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek 3). Kecendrungan untuk bertindak Ketiga komponen ini bersama-sama membentuk sikap yang utuh. Dalam penentuan sikap ini. Sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak. berfikir. dan emosi memegang peranan penting.

Misalnya seorang ibu mau menjadi akseptor KB. p. meskipun mendapat tantangan dari mertua atau orang tua sendiri. (Notoatmodjo 2007. Selektivitas dalam pengamatan senantiasa berlangsung karena tidak terdapat individu 17 . melalui kontak sosial terus-menerus antara individu dengan individu lain disekitarnya dan berkenaan dengan obyek tertentu. p. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan dan perubahan sikap (Gerungen. 4) Bertanggung jawab (responsible) Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dipilihnya dengan segala resiko. Pembentukan Sikap Pembentukan sikap tidak terjadi demikian saja melainkan melalui suatu proses tertentu. 1986) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2007.152) 3. Faktor Interen Faktor interen berhubungan erat dengan motif-motif dan sikap yang bekerja dalam diri kita pada waktu itu dan yang mengarahkan minat perhatian terhadap objek-objek tertentu.diberikan terlepas dari pekerjaan itu benar / salah adalah berarti menerima ide itu 3) Menghargai (valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan mendiskusian suatu masalah adalah sautu sikap tingkat tiga misalnya : seorang ibu mengajak ibu lain untuk melakukan gotong royong sekitar lingkungan adalah suatu bukti bahwa si ibu punya sikap positif. merupakan sikap paling tinggi.152) adalah: a.

69. isi pandangan baru yang disampaikan. selain faktor-faktor interen. 4. Hal ini merupakan tahapan perubahan sikap dan perilaku yang tinggi. Tahap Kepatuhan Mula-mula individu mematuhi suatu hal dengan tanpa kerelaan. siapa yang mengemukakannya dan siapa yang menyokong pandangan baru tersebut. p. Proses Perubahan Sikap Menurut Kelman perubahan sikap dan perilaku indvidu dimulai dari tahap kepatuhan. b. Faktor Eksteren Dalam pembentukan dan perubahan sikap. a. Tahap Identifikasi Suatu tahap yang dilalui seseorang karena ia mengidolakan seseorang atau disebut juga mengidentifikasi c. b. identifikasi dan internalisasi (Sarwono 1998. terdapat faktor eksteren atau faktor yang berada di luar diri individu yang turut menentukan pembentukan sikap. diantaranya sifat. Tahap Internalisasi Individu merasa tindakan yang dilakukan merupakan hal positif bagi dirinya dan mengintegrasikan nilai-nilai lain pada dirinya. Kelman 1993).manusia memperhatikan semua ransangan yang datang dari lingkungannya dengan taraf perhatian yang sama. dengan cara apa pandangan itu diterangkan dan dalam situasi bagaimana sikap baru itu diperbincangkan. biasanya tahap ini bersifat sementara. 18 .

merupakan suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. diartikan apabila seseorang telah dapat melaksanakan sesuatu dengan benar secara otomatis. (Notoatmodjo 2007. p. maka ia telah mencapai praktik tingkat III d. juga diperlukan faktor dukungan dari pihak lain. diartikan dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktik tingkat II c. diartikan dapat mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktik tingkat I b. Menurut Notoatmodjo (2007) praktik mempunyai beberapa tingkatan yaitu: a. Respon terpimpin. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasikan tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.145) 1. atau sesuatu itu sudah menjadi kebiasaan. (p. untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan antara lain fasilitas. Mekanisme. Tindakan Pencegahan ISPA Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah ISPA adalah: a. Adopsi. Mengusahakan agar anak mempunyai gizi yang baik 1) Bayi harus disusui sampai usia dua tahun kerena ASI adalah makanan yang paling baik untuk bayi 19 . Selain faktor fasilitas. Tindakan / Praktik (Domain Psikomotor) Suatu sikap yang belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan. Persepsi.145) 2.C.

p.14) b. lemak. Protein misalnya dapat diperoleh dari tempe dan tahu 5) Bayi dan balita hendaknya secara teratur ditimbang untuk mengetahui apakah berat badannya sesuai dengan umurnya dan perlu diperiksa apakah ada penyakit yang menghambat pertumbuhan (Depkes RI 2005.74 ) b. ISPA adalah suatu tanda dan gejala akut akibat infeksi yang terjadi pada setiap bagian saluran pernafasan baik atas maupun bawah yang disebabkan oleh jasad remik atau bakteri. p. Konsep ISPA 1.124 ) 20 . p.2) Beri bayi makanan padat sesuai dengan umurnya 3) Pada bayi dan anak. Mengusahakan kekebalan anak dengan imunisasi c. Pengertian ISPA a. ( Whaley dan Wong 2000. ISPA adalah Radang akut saluran pernafasan atas maupun bawah yang disebabkan infeksi jasad remik atau bakteri. makanan harus mengandung gizi yang cukup yaitu mengandung cukup protein (zat putih telur) karbohidrat. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan D. virus maupun riketsin tanpa atau disetai radang dari parenkim. (Vietha 2009. vitamin dan mineral 4) Makanan yang bergizi tidak berarti makanan harus mengandung gizi makanan yang mahal. virus maupun rikitsia tanpa atau disertai radang parenkim paru.

adnovirus. Etiologi Lebih dari 200 jenis bakteri. hokinebacterium.adenovirus (virus utama). Bakteri utama :Steptococus. yang disebabkan oleh berbagai etiologi. ISPA bawah : Parainfluenza. Pada neonotus dan bayi muda : Chalmedia tachomatis. bordetella. dan buruknya senetasi lingkungan. d. c. dan virus yang paling sering menjadi penyebab ISPA di influensa yang di udara bebas akan masuk dan menempel pada saluran pernafasan bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung. ISPA atas : Rinovirus. adenovirus. Biasanya bakteri dan virus tersebut menyerang anak – anak di bawah usia 2 tahun yang kecepatan tubuhnya lemah atau belum sempurna. pneumonia. Beberapa faktor lain yang diperkirakan berkontrubusi terhadap kejadian ISPA pada anak adalah rendahnya asupan antioksidan. Peralihan musim kemarau ke musim hujan juga menumbulkan resiko serangan ISPA. coronavirus. hemapholus. staphylococus aureus. Infeksi saluran perafasan akut merupakan kelompok penyakit yang komplek dan heterogen. Pada anak usia sekolah: Mycoplasma pneumonia. enterovirus. (virus utama).2. virus dan jamur. e. Stafilococus. influenza. Kebanyakan infeksi saluran pernafasan akut disebabkan oleh virus dan 21 . status gizi kurang. Virus penyebabnya antara lain golongan mikrovirus. b. hemafilus. a. 123 coronavirus. Bakteri penyebabnya antara lain genus streptococus.

Pada bayi dan anak. virus – virus merupakan terjadinya lebih banyak penyakit saluran nafas bagian atas dari pada saluran nafas bagian bawah. Tanda dan gejala ISPA a. Kadang bersi – bersin. Ahmad 2008. Sakit kepala g. Neusea j. e.28 ) 3.mikroplasma. (Fuad. Demam i. Sekret menjadi kental. d. Sakit tenggorokan. f. dan penyakit demam saluran nafas bagian atas. Infeksi saluran nafas bagian bawah memberikan beberapa tanda lainnya seperti nafas yang cepat dan retratesi dada. Muntah k. untuk virus influenza bukan penyebab terbesar terjadinya sindroma saluran pernafasan kecuali hanya epidemi – epidemi saja. untuk golongan virus penyebab ISPA antara lain golongan miksovirus (termasuk di dalamnya virus para influenza) merupakan penyebab terbesar dari sindroma batuk rejan. c. Batuk. bronkiokitis. Selain batuk gejala ISPA pada anak juga dapat dikenali 22 . Keluar sekret cair dan jernih dari hidung. Anoreksia Sebagian besar anak dengan infeksi saluran pernafasan bagian atas memberikan gejala yang sangat penting yaitu batuk. p. Pilek biasa b. h.

cepat dan stridor. dehidrasi berat / tidur terus. (Yasir 2009. hidung tersumbat / berair. ISPA sedang (pneumonia) dan ISPA berat ( pneumonia berat ). ISPA dapat dibagi menjadi 3 golongan yaitu : ISPA ringan (bukan pneumonia ). Batasan ISPA berat untuk bayi kurang dari 2 bulan adalah frekuensi nafasnya cepat ( 60 kali / menit ) atau adanya tarikan dinding dada yang kuat. telingan berair. Klasifikasi ISPA Menurut Depkes ( 2002 ). Ringan ( bukan pneumonia ) Batuk tanpa pernafasan cepat / kurang dari 40 kali / menit. kejang. Kusus untuk bayi di bawah 2 bulan. apnea. Gejala ISPA ringan dapat dengan mudah diketahui orang awam sedangkan ISPA sedang dan berat memerlukan beberapa pengamatan sederhana. p. dan suhu tubuh anak meningkat lebih dari 38. 23 . Sedang ( pneumonia ) Batuk dan nafas cepat tanpa stridor. Berat ( pneumonia ) Batuk dengan nafas berat. Pada dasarnya ISPA ringan dapat berkembang menjadi ISPA sedang / ISPA berat jika keadaan memungkinkan misalnya pasien kurang mendapat perawatan / daya tahan tubuh pasien sangat kurang. b. Faringitis purulen dengan pembesaran kelenjar limfe yang nyeri tekan ( adentis servikal ). Menurut derajat keparahannya. c. dari telinga keluar cairan kurang dari 2 minggu. gendang telinga merah.15 ) 4.yaitu flu. demam. klasifikasi dari ISPA adalah : a. membran keabuan di taring. tenggorokan merah.5 ○C dan disetai sesak nafas. tidak ada sianosis. hanya dikenal ISPA berat dan ISPA ringan ( tidak ada ISPA sedang).

Tahap dini penyakit : Mulai dari munculnya gejala penyakit dibagi menjadi 4 yaitu dapat tumbuh sempurna. Sangat Berat Batuk dengan nafas berat. 5. menjadi teronis dengan meninggal akibat pneumonia.d. p. Respon batuk akan muncul seiring dengan terangsangnya villi – villi saluran pernafasan akibat adanya mukus ( Khaidirmuhaj 2008.apa. c. Reaksi tersebut disebut dengan comoon cold.34). Tahap inkubasi : virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa tubuh menjadi lemah apabila kedaan gizi dan daya tahan sebelumnya rendah. tetapi belum menunjukan reaksi apa. Patofisiologi ISPA Masuknya kuman atau virus ke dalam tubuh melalui sistem pernafasan mengakibatkan terjadinya reaksi antigen dan antibody pada salah satu tempat tertentu di saluran nafas bagian atas.76) 24 . sembuh dengan atelektatis. dan sianosis serta tidak minum. cepat. p. sehingga banyak sekali dihasilkannya mukus seteret. Perjalanan alamiah penyakit ISPA dibagi menjadi 3 tahap yaitu : a. Tahap prepatogenisis : penyebab ada. b. (Vietha 2009. hal tersebut akan menggeser sel point pada hipotalamus posterior yang mengakibatkan tubuh menggigil dan demam. dari reaksi radang tersebut akan merangsang interleukin 1 yang berupa pengeluaran mediator kima berupa prostaglandin. stridor. Reaksi tersebut berupa reaksi radang.

dan brhonco pneumonia dan berlanjut pada kematian karena danya sepsis yang meluas. Komplikasi ISPA ISPA ( saluran pernafasan akut sebenarnya merupakan self limited disease yang sembuh sendiri dalam 5 – 6 hari jika tidak terjadi invasi kuman lain. bronchtis. tetapi penyakit ISPA yang tidak mendapatkan pengobatan dan perawatan yang baik dapat menimbulkan penyakit seperti: semusitis paranosal. 1) Penyuluhan pada pasien tentang cara memutus infeksi. b. 2) Meningkatkan masukan cairan. penutuban tuba eustachii. 3) Antistetik topikal sepertilidokain. Perawatan ISPA di Rumah Beberapa hal yang perlu dikerjakan seorang ibu untuk mengatasi anaknya yang menderita ISPA: 25 . 1) Diet cair dan lunak selama tahap akut.125) 7.6. misal amoxilin. 3) Menginstruksikan pada pasien untuk meningkatkan drainase seperti antalasi uap. tracheitis. ampixilin. 2) Untuk mengontrol infeksi. Medis. c. Keperawatan. (Whaleyand Wong 2000. orabase atau diklorin memberikan tindakan peredaan nyeri oral. memulihkan kondisi mukos yang antiboitik. p. Menurut Semltzer ( 2001 ). lanyingitis. penatalaksanaan dari ISPA a.

3) Pemberian Makanan Berikan makanan yang cukup gizi. p. air buah dan sebagainya) lebih banyak dari biasanya. sedikit-sedikit tapi sering. Ini akan membantu mengencerkan dahak. yang berguna untuk mempercepat kesembuhan dan mengindari komplikasi yang lebih parah.13) 26 .1) Mengatasi panas Untuk anak usia 2 bulan sampai 5 tahun diatasi dengan memberikan parasetamol atau dengan kompres. (Depkes RI 2005. tetap berikan ASI 4) Pemberian Minuman Usahakan pemberian cairan (air putih. Usahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat yaitu yang berventilasi cukup dan tidak berasap. 5) Lain-lainnya Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan rapat. kekurangan cairan akan menambah parah sakit yang diderita. jika pilek bersihkan hidung. 2) Mengatasi batuk Dianjurkan member obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk nipis dicampur dengan kecap atau madu.

Kerangka Konsep Perilaku kesehatan adalah suatu aktivitas dilakukan oleh individu yang menyakini dirinya sehat untuk tujuan mencegah penyakit. ranah atau kawasan yakni: kognitif.BAB III KERANGKA KONSEP A. ((Kasl dan Cobb (1966). p.184)) dan menurut Benyamin Bloom (1908) di dalam Notoatmodjo (2007) seorang ahli psikologi pendidikan membagi perilaku manuasia itu ke dalam 3 domain. Niel Niven (2002. afektif dan psikomotor Variabel Independen Variabel Dependen Pengetahuan Kejadian ISPA Sikap Tindakan 27 .

batuk.B. sakit kepala dan sakit tenggorokan Kuesioner Wawancara Ordinal Tidak terjadi bila tidak pernah mengalami demam disertai pilek. Definisi Operasional Tabel 3. Dependen Kejadian ISPA Keadaan dimana balita pernah mengalami demam disertai pilek. Variabel Independen Pengetahuan Definisi Operasional Merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu salah satunya tentang penyakit ISPA Suatu pandangan responden yang masih tertutup dari responden tentang penyakit ISPA Tindakan yang dilakukan responden dalam rangka mencegah penyakit ISPA Alat ukur Kuesioner Cara ukur Wawancara Skala ukur Ordinal Hasil ukur Rendah bila < mean Tinggi bila ≥ mean 2. sakit kepala dan sakit tenggorokan 28 . batuk. Sikap Kuesioner Wawancara Ordinal Negatif bila nilai < mean Positif bila nilai > mean Tidak dilakukan bila nilai < mean Dilakukan bila nilai > mean 3.1 Defenisi Operasional No 1. Tindakan Kuesioner Wawancara Ordinal 4.

sakit kepala dan sakit tenggorokan dalam 3 bulan terakhir C. Hipotesa penelitian 1. Ada hubungan antara pengetahuan responden dengan kejadian ISPA di Kelurahan Nan Balimo wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok tahun 2013.dalam 3 bulan terakhir Terjadi bila pernah mengalami penyakit demam disertai pilek. batuk. 29 . Ada hubungan antara tindakan pencegahan responden dengan kejadian ISPA di Kelurahan Nan Balimo wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok tahun 2013. Ada hubungan antara sikap responden dengan kejadian ISPA di Kelurahan Nan Balimo wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok tahun 2013. 3. 2.

BAB IV METODE PENELITIAN A. B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah deskriptif analitik tentang hubungan pengetahuan. Populasi Populasi adalah keseluruhan objek yang diteliti. Dimana variabel Indenpenden dan dependen diteliti secara bersamaan. Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah semua ibu yang 30 . Waktu Penelitian telah dilakukan pada tanggal 18 sampai 28 Februari tahun 2013 C. sikap dan tindakan pencegahan ISPA dengan kejadian ISPA pada balita di Kelurahan Nan Balimo wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok dengan menggunakan desain penelitian cross sectional. Populasi dan Sampel 1. (Notoatmodjo 2005.79). Lokasi penelitian Penelitian ini telah dilakukan di Kelurahan Nan balimo Wilayah Kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok 2. p.

87 Dengan cadangan 10 % yaitu 10 % x 83 = 8. Sampel Sampel adalah bagian dari populasi yang diambil sebagai objek yang akan diteliti yang dianggap mewakili dari seluruh populasi (Notoadmodjo 2002.p. untuk menentukan jumlah sampel dalam penelitian ini digunakan rumus sampel seperti dibawah ini : N 1 N d 2 n    : n N d = Besar sampel = Besar populasi = Tingkat kepercayaan ( 0. 31 .mempunyai balita yang berada di Kelurahan Nan Balimo wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo yaitu 487 orang.12   487  1  4.1) Ket (Soekidjo Notoatmodjo 2002. teknik pengambilan sampel dengan cara proposional random sampling dengan cara lotre.3 Dalam penelitian ini jumlah sampel adalah sebanyak 91 orang ibu balita.87 n  487  83 5. p.79) Pengambilan sampel dengan teknik random sampling. 2.92) n  n  487  1  487 0.

Pengambilan sampel berikutnya dengan menambahkan nilai interval 5. RW I = 111 x91  21 487 RW II = 124 x91  23 487 97 x91  18 487 RW III = RW IV = 155 x91  29 487 Pengambilan sampel untuk RW I dilakukan dengan membagi 111 dengan 21. Pengambilan sampel berikutnya dengan menambahkan nilai interval 5. sehingga nomor urutan pengambilan sampel dimulai dari nomor 2. diperoleh interval 5. Pengambilan sampel untuk RW III dilakukan dengan membagi 97 dengan 18.8. sampel pertama dilakukan dengan dibuat nomor undian 1 s/d 5. sehingga nomor urutan pengambilan sampel dimulai dari nomor 3.13 sampai diperoleh besar sampel 21 dari 111.11 sampai diperoleh besar sampel 23 dari 124. kemudian terpilih 4. dengan membagi jumlah ibu balita per RW dengan jumlah semua ibu dan dikalikan dengan jumlah sampel yang dibutuhkan. sehingga nomor urutan pengambilan sampel dimulai dari nomor 4.9. Pengambilan sampel untuk RW II dilakukan dengan membagi 124 dengan 23. diperoleh interval 5. kemudian terpilih 3.7.12 sampai diperoleh besar sampel 18 dari 97.Tentukan sampel yang akan dimbil dari tiap RW. 32 . kemudian terpilih 2. sampel pertama dilakukan dengan dibuat nomor undian 1 s/d 5. diperoleh interval 5. sampel pertama dilakukan dengan dibuat nomor undian 1 s/d 5. Pengambilan sampel berikutnya dengan menambahkan nilai interval 5.

Setiap jawaban yang diberikan responden.11 sampai diperoleh besar sampel 29 dari 155. sehingga nomor urutan pengambilan sampel dimulai dari nomor 3. Responden yang ada diwawancarai oleh peneliti satu persatu. Kriteria Inklusi adalah : 1) Bersedia diminta menjadi responden 2) Ibu yang mempunyai balita 3) Dapat berkomunikasi dengan baik b.Pengambilan sampel untuk RW IV dilakukan dengan membagi 155 dengan 29. Pengambilan sampel berikutnya dengan menambahkan nilai interval 5. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi menggunakan kuesioner yang telah disediakan. diperoleh interval 5. a. diisi oleh peneliti dengan memberi tanda silang pada pilihan jawaban yang disediakan. 33 . kemudian terpilih 3. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan kuesioner yang memuat pertanyaan untuk mengenali informasi tentang variabel independen dan variabel dependen. Kriteria Eksklusi adalah: 1) Responden tidak bersedia diwawancarai 2) Responden mengalami gangguan bicara/ komunikasi. sampel pertama dilakukan dengan dibuat nomor undian 1 s/d 5.8. D. Sebelum wawancara dilakukan responden diminta untuk mengisi lembar persetujuan menjadi responden dengan menandatangani informed consent terlebih dahulu.

setuju nilai 1. jawaban benar diberi nilai 1 dan salah diberi nilai 0. Pengkodean data (coding) Memberikan kode pada setiap informasi yang sudah terkumpul pada setiap pertanyaan dalam angket untuk memudahkan dalam mengolah data. dimana nilai pernyataan positif untuk sangat setuju nilai 4. setuju nilai 3.Teknik Pengolahan Data Teknik pengolahan data dalam suatu penelitian merupakan suatu langkah yang sangat penting agar data diperoleh dapat memberi jawaban atau gambaran informasi tentang penelitian. jelas dan jawaban sudah relevan dengan pertanyaan. Penyuntingan data (editing) Melakukan pengecekan terhadap isian angket apakah jawaban yang sudah dibuat sudah lengkap. Pernyataan sikap digunakan dengan standar Likert. 34 .E. 2. setuju nilai 3. 3. Skoring Jawaban yang benar Untuk pertanyaan pengetahuan. Tidak setuju nilai 2. Pengolahan data dilakukan secara manual dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Pembersihan data (cleaning) Merupakan pengecekan kembali data yang sudah terkumpul apakah ada kesalahan/tidak. 4. tidak setuju 2 dan sangat tidak setuju 1 sedangkan nilai pernyataan negatif untuk sangat tidak setuju 4.

5. Dengan ditampilkan dalam bentuk tabel frekuensi. 35 . maka data ditabulasi dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi. untuk melihat sejauh mana hubungan dua variabel tersebut. 2005). Analisa Bivariat Data –data yang dikumpulkan kemudian diolah dengan komputerisasi dan dianalisa secara deskriptis. Teknik Analisa Data Data yang terkumpul dan diolah secara komputerisasi. setelah itu data dianalisis dengan cara : 1. Analisa Univariat Analisa univariat adalah analisis yang dilakukan untuk satu variabel atau analisa yang dilakukan tiap variabel dari hasil penelitian (Notoatmodjo. F. 2. Tapi sebelumnya di editing kelengkapannya dan ditabulasi serta disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. digunakan tabel silang (chi-square) dan dinyatakan bermakna jika value p ≤ 0.05 dan jika p > 0. Tabulasi data (tabulating) Setelah semua angket diisi dengan benar.05 maka dinyatakan tidak ada hubungan yang bermakna. Analisa Univariat merupakan penyajian dalam bentuk satu variabel dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi.

Hasil penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut: A. sikap dan tindakan pencegahan ISPA dengan kejadian ISPA pada balita di Kelurahan Nan Balimo wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1.dan Laing. Keadaan Demografis Jumlah penduduk yang ada di Kelurahan Nan balimo adalah berjumlah 3.824 orang dan 36 : Kelurahan Tanjung paku : Kelurahan Kampung Jawa : Kelurahan Laing : Kelurahan Kampung Jawa . pada umumnya semua posyandu di wilayah kerja Puskesmas Nan Balimo dapat dilalui oleh kendaraan. Di sebelah Barat d. Wilayah kerja Puskesmas Nan balimo Kecamatan Tanjung Harapan Kota Solok ini berbatasan dengan: a. Di sebelah Timur 2. Di sebelah Selatan c. Dan Puskesmas Nan balimo mempunyai 9 posyandu yang terdiri dari 4 orang kader setiap posyandu. Data Geografi Puskesmas Nan balimo Kecamatan Tanjung Harapan Kota Solok mempunyai 2 Kelurahan yaitu Kelurahan Nan balimo. Di sebelah utara b.BAB V HASIL PENELITIAN Dalam penelitian ini yang peneliti lihat adalah hubungan pengetahuan.867 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki 1.

8 %) berpendidikan menengah dan 8 orang (8.043 orang.7 %) berpendidikan dasar. sebanyak 49 orang (53.9 %) mempunyai tingkat pengetahuan rendah tentang penyakit ISPA. swasta. 2. 37 . Tingkat Pengetahuan Responden Tabel 5. tani dan PNS.841 KK.1 100 Dari tabel 5.8 %) berpendidikan tinggi.jumlah penduduk perempuan sebanyak 2. B. Hasil Analisa Univariat 1. Latar belakang pendidikan responden di Kelurahan Nan Balimo sebanyak 27 orang (29.9 57.1 dapat dilihat bahwa dari 91 responden sebanyak 39 responden (42. Tingkat Pengetahuan Rendah Tinggi Jumlah f 39 52 91 % 42. serta jumlah kepala keluarga 1. Rata-rata mata pencarian responden di Kelurahan Nan Balimo adalah pedagang.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu Dalam Pencegahan ISPA Pada Balita Di Kelurahan Nan Balimo Wilayah Kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok Tahun 2013 No 1.

9 68. Tindakan Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Tindakan Ibu Dalam Pencegahan ISPA Pada Balita Di Kelurahan Nan Balimo Wilayah Kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok Tahun 2013 No 1.3 52.2 dapat dilihat bahwa dari 91 responden sebanyak 43 responden (47.3 %) memiliki sikap negatif tentang penyakit ISPA.3 dapat dilihat bahwa dari 91 responden sebanyak 29 responden (31.1 100 Dari tabel 5. 3.7 100 Dari tabel 5. 2. Sikap Responden Tabel 5. Tindakan Tidak dilakukan Dilakukan Jumlah f 29 62 91 % 31. 38 . 2. Sikap Negatif Positif Jumlah f 43 48 91 % 47.9 %) tidak melakukan tindakan pencegahan ISPA.2.2 Distribusi Frekuensi Sikap Ibu Dalam Pencegahan ISPA Pada Balita Di Kelurahan Nan Balimo Wilayah Kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok Tahun 2013 No 1.

dimana α = 0. Kejadian ISPA Terjadi Tidak terjadi Jumlah f 35 56 91 % 38. Untuk membuktikan ada tidaknya hubungan tersebut.5 61. Kejadian ISPA Tabel 5. C. dan sebaliknya apabila p > α berarti tidak ada hubungan antara variabel independent dengan variabel dependen. 39 . Hasil Analisa Bivariat Analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan dua variabel yaitu variabel independent dan variabel dependent.05.5 100 Dari tabel 5.4 dapat dilihat bahwa dari 91 responden sebanyak 35 responden (38.5 %) responden terjadi ISPA. 2.4 Distribusi Frekuensi Kejadian ISPA Pada Balita Di Kelurahan Nan Balimo Wilayah Kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok Tahun 2013 No 1. digunakan uji chi-square yaitu apabila p ≤ α berarti ada hubungan antara variebel independent (pengetahuan. sikap dan tindakan) dengan variabel dependen (kejadian ISPA). Penganalisaan bivariat menggunakan Program komputerisasi yang hasilnya dapat dilihat pada lampiran 6.4.

Hubungan Pengetahuan Dengan Kejadian ISPA Pada Balita Di Kelurahan Nan Balimo Wilayah Kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok Tahun 2013 Tabel 5. Artinya ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian ISPA.58825.448) p Value 0.0005.556 (1. Dari hasil analisis didapatkan nilai Odds Ratio (OR) adalah 9. ada 9 (17.556 kali terjadi ISPA dibandingkan dengan responden yang mempunyai tingkat pengetahuan tinggi.5 No 1 2 Tingkat Pengetahuan Rendah Tinggi Jumlah Jumlah N 39 52 91 % 100 100 100 OR 9.5 43 56 82. Hasil uji statistik diperoleh hubungan yang signifikan dengan nilai p = 0.3 49.7 61. artinya responden yang memiliki pengetahuan rendah mempunyai peluang 9. sedangkan responden yang memiliki pengetahuan tinggi.3 9 35 17. 40 .3%) yang terjadi ISPA.7 13 33.7 %) responden yang memiliki pengetahuan rendah yang terjadi ISPA.1.5 diperoleh sebanyak 26 (66.5 Hubungan Pengetahuan Dengan Kejadian ISPA Pada Balita Di Kelurahan Nan Balimo Wilayah Kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok Tahun 2013 Kejadian ISPA Tidak Terjadi Terjadi n % n % 26 66.556.0005 Dari tabel 5.

6 61.4%) yang terjadi ISPA.2 5 35 10.8 %) responden yang memiliki sikap negatif yang terjadi ISPA.5 43 56 89.846.6 diperoleh sebanyak 30 (69.5 No 1 2 Sikap Negatif Positif Jumlah Jumlah N 43 48 91 % 100 100 100 OR 19.553) p Value 0. Dari hasil analisis didapatkan nilai Odds Ratio (OR) adalah 19.8 13 30.4 38.5 Hubungan Sikap Dengan Kejadian ISPA Pada Balita Di Kelurahan Nan Balimo Wilayah Kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok Tahun 2013 Kejadian ISPA Tidak Terjadi Terjadi n % n % 30 69.846 kali terjadi ISPA dibandingkan dengan responden yang mempunyai sikap positif.0005 Dari tabel 5. ada 5 (10.39961. Hubungan Sikap Dengan Kejadian ISPA Pada Balita Di Kelurahan Nan Balimo Wilayah Kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok Tahun 2013 Tabel 5. responden yang 41 .846 (6. artinya responden yang memiliki sikap negatif mempunyai peluang 19. sedangkan memiliki sikap positif.2.0005. Artinya ada hubungan antara sikap dengan kejadian ISPA. Hasil uji statistik diperoleh hubungan yang signifikan dengan nilai p = 0.

sedangkan responden yang melakukan tindakan pencegahan ISPA. Dari hasil analisis didapatkan nilai Odds Ratio (OR) adalah 32.3%) yang terjadi ISPA.869) p Value 0.0005 Dari tabel 5. Hasil uji statistik diperoleh hubungan yang signifikan dengan nilai p = 0.7 Hubungan Tindakan Pencegahan Dengan Kejadian ISPA Pada Balita Di Kelurahan Nan Balimo Wilayah Kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok Tahun 2013 Kejadian ISPA Tidak Terjadi Terjadi n % n % 25 86.3. 42 .2 %) responden yang tidak melakukan tindakan pencegahan.1 38.8 10 35 16.5 52 56 83. ada 9 (17.500 kali terjadi ISPA dibandingkan dengan responden yang melakukan tindakan pencegahan ISPA.5 No 1 2 Tindakan Tidak dilakukan Dilakukan Jumlah Jumlah N 29 62 91 % 100 100 100 OR 32.0005.276113.7 diperoleh sebanyak 25 (86.500.2 4 13. artinya responden yang tidak melakukan tindakan pencegahan ISPA mempunyai peluang 32.9 61. yang terjadi ISPA. Artinya ada hubungan antara tindakan dengan kejadian ISPA.500 (9. Hubungan Tindakan Pencegahan Dengan Kejadian ISPA Pada Balita Di Kelurahan Nan Balimo Wilayah Kerja Puskesmas Nan Balimo Kota Solok Tahun 2013 Tabel 5.

rasa dan raba. Dalam penelitian ini pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui responden tentang ISPA (Notoatmodjo 2003. Asumsi peneliti faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya pengetahuan seseorang adalah pengalaman.7 % responden mempunyai pengetahuan tinggi. Hasil penelitian sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Radhyallah (2009) yang melakukan penelitian tentang faktor –faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA berulang pada balita di Puskesmas Salotungo Watan Soppeng. dengan pengalaman itu seseorang tidak akan merasa canggung dan bisa mengatasi chikugunya yang dialami karena sudah mengetahui secara keseluruhan 43 .9 %) responden mempunyai tingkat pengetahuan rendah tentang penyakit ISPA. Tingkat Pengetahuan Dari hasil penelitian diperoleh bahwa kurang dari sebagian (42. Analisa Univariat 1. penciuman.127).BAB VI PEMBAHASAN A. karena dari pengalaman dapat dijadikan sebagai acuan untuk meningkatkan pengetahuan. pendengaran. p. dimana 66. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan itu terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui alat indera manusia yakni indera penglihatan. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

62) Hasil penelitian sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Radhyallah (2009) yang melakukan penelitian tentang faktor –faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA berulang pada balita di Puskesmas Salotungo Watan Soppeng. Jadi sikap senantiasa terarah terhadap suatu hal. tidak ada sikap yang tanpa objek. Pendidikan merupakan salah satu aspek sosial yang umumnya berpengaruh pada sikap dan perilaku manusia”. dimana 52. Jika seseorang memiliki pendidikan tinggi maka sikap dan perilakunya akan baik. Sikap Dari hasil penelitian diperoleh bahwa kurang dari sebagian (47. Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau dari orang lain yang paling dekat. Selain itu kurangnya rasa peduli dan rasa tidak ingin tahu terhadap pengetahuan yang baru.penyakit ISPA.7 % responden mempunyai sikap positif. p. Dengan tingginya tingkat pengetahuan responden maka sikap responden juga akan lebih baik. Asumsi peneliti bahwa responden mempunyai sikap positif terhadap penyakit ISPA disebabkan karena mereka sudah mengetahui akibat dari penyakit ISPA sehingga responden ada melakukan pencegahan penyakit ISPA salah satunya dengan memberikan balita makanan yang bergizi. Sikap adalah pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan sikap yang objek tadi. suatu objek. Kurang dari sebagian 44 .3%) responden memiliki sikap negatif tentang penyakit ISPA. Sikap membuat seseorang mendekati atau menjauhi orang lain atau objek lain (Purwanto 1999. 2.

145) Hasil penelitian sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Anom (2010) yang melakukan penelitian tentang faktor –faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA. 45 .responden mempunyai sikap negatif terhadap penyakit ISPA hal ini disebabkan karena responden tidak mengetahui penyebab.3 % responden melakukan tindakan pencegahan ISPA. Selain faktor fasilitas. Asumsi peneliti lebih dari sebagian responden ada melakukan tindakan pencegahan ISPA hal ini disebabkan karena responden selalu mendapatkan penyuluhan dari kader di lingkungan masing-masing untuk memberikan ASI pada bayi dan memberikan makanan bergizi pada balita serta tidak membiarkan balita jajan sembarangan dan masih ada responden yang tidak melakukan tindakan pencegahan ISPA disebabkan karena responden sibuk bekerja sebagian besar responden bekerja sebagai pedagang. Tindakan Dari hasil penelitian diperoleh bahwa kurang dari sebagian 29 (31. akibat dari ISPA. dimana 51.9%) responden tidak melakukan tindakan pencegahan ISPA. untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan antara lain fasilitas. juga diperlukan faktor dukungan dari pihak lain. (Notoatmodjo 2007.p. Suatu sikap yang belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan. 3.

94) bahwa “Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting terbentuknya tindakan atau perilaku seseorang“. Menurut pendapat peneliti kurang dari sebagian responden memiliki tingkat pengetahuan rendah tapi tidak terjadi ISPA hal ini disebabkan karena 46 . Artinya ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian ISPA. Dari hasil analisis didapatkan nilai Odds Ratio (OR) adalah 9.Dalam penelitian ini pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui responden tentang penyakit ISPA. dimana terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kejadian ISPA dengan p value = 0. p. Sedangkan menurut pendapat Ware.556. Hasil penelitian sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Radhyallah (2009) yang melakukan penelitian tentang faktor –faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA berulang pada balita di Puskesmas Salotungo Watan Soppeng.H (1984) yang dikutip oleh Heri Purwanto (1999) “semakin tinggi keingintahuan seseorang maka semakin besar kemungkinan orang tersebut mencari informasi dan meningkatkan kemampuan seseorang tersebut memahami yang akan dilakukan dalam menghadapi suatu masalah atau bertindak “.0005. artinya responden yang memiliki pengetahuan rendah mempunyai peluang 9. Analisa Bivariat 1.556 kali terjadi ISPA dibandingkan dengan responden yang mempunyai tingkat pengetahuan tinggi Hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2007.B.002. Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Kejadian Penyakit ISPA Setelah dilakukan uji statistik diperoleh hubungan yang signifikan dengan nilai p = 0.

Dan sebagian kecil responden yang mempunyai pengetahuan tinggi tapi terjadi ISPA pada balita hal ini disebabkan karena balita tidak dapat dikontrol jajan.responden tidak bekerja selalu memberikan makanan bergizi pada balitanya dan juga selalu memperhatikan jajan anaknya serta jika anak sudah mulai demam langsung dibawa berobat ke puskesmas. artinya responden yang memiliki sikap negatif mempunyai peluang 19. diantaranya perilaku normal. 2. dan balita malas makan serta disebabkan balita suka bermain di lura rumah walaupun cuaca buruk. Sikap positif terhadap nilai-nilai kesehatan tidak selalu terwujud dalam suatu tindakan nyata.846 kali terjadi ISPA dibandingkan dengan responden yang mempunyai sikap positif. Hubungan Sikap Dengan Kejadian ISPA Setelah dilakukan uji statistik diperoleh hubungan yang signifikan dengan nilai p = 0. Dari hasil analisis didapatkan nilai Odds Ratio (OR) adalah 19. Sikap membuat seseorang mendekati atau menjauhi suatu objek. Sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap objek. Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang lain: orang yang paling dekat. Sikap diikuti atau tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasarkan pada banyak atau sedikitnya pengalaman seseorang. hal ini disebabkan oleh beberapa alasan.0005. kebiasaan nilai – nilai dan penggunaan sumber-sumber dalam suatu masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup dan kebudayaan. Artinya ada hubungan antara sikap dengan kejadian ISPA.846. 47 .

Artinya ada hubungan antara tindakan dengan kejadian ISPA. Kenyataan ditemukan di lapangan dilihat kurang dari sebagian responden yang mempunyai sikap positif tapi terjadi ISPA hal ini disebabkan karena responden sibuk bekerja sehingga kurang memperhatikan bermain dan makan anaknya. Dan kurang dari sebagian responden yang mempunyai sikap negatif tapi tidak terjadi ISPA hal ini disebabkan karena responden selalu memberikan makanan seimbang kepada balitanya didukung dengan anggota keluarga yang lain yang selalu memperhatikan anak dan mendukung ibu untuk memberikan ASI serta melengkapi pemberian imunisasi balitanya. Hubungan Tindakan Dengan Kejadian Penyakit ISPA Setelah dilakukan uji statistik diperoleh hubungan yang signifikan dengan nilai p = 0.500.Hasil penelitian sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Radhyallah (2009) yang melakukan penelitian tentang faktor –faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA berulang pada balita di Puskesmas Salotungo Watan Soppeng. Suatu sikap yang belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan.0005. 3. dimana terdapat hubungan yang bermakna antara sikap dengan kejadian ISPA dengan p value = 0. untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan antara lain fasilitas. Dari hasil analisis didapatkan nilai Odds Ratio (OR) adalah 32.500 kali terjadi ISPA dibandingkan dengan responden yang melakukan tindakan pencegahan ISPA. 48 . artinya responden yang tidak melakukan tindakan pencegahan ISPA mempunyai peluang 32.001.

p. 49 . Hasil penelitian sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Anom (2010) yang melakukan penelitian tentang faktor –faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA. Dan sebagian kecil responden yang tidak melakukan tindakan pencegahan.Selain faktor fasilitas. tapi terjadi ISPA hal ini disebabkan karena responden jarang ada di rumah dan sibuk bekerja di luar rumah sehingga tidak memberikan ASI sampai 2 tahun dan juga jarang memperhatikan jajan anak. dimana terdapat hubungan yang bermakna antara tindakan pencegahan dengan kejadian ISPA pada balita dengan p value = 0.145). tapi tidak terjadi penyakit ISPA hal ini disebabkan karena tidak bekerja sehingga memberikan dapat memperhatikan konsumsi makanan balita di rumah dan juga disebabkan setiap bulannya responden membawa balita ke posyandu. Kenyataan ditemukan di lapangan sebagian kecil responden melakukan tindakan pencegahan ISPA.02. juga diperlukan faktor dukungan dari pihak lain (Notoatmodjo 2007.

dapat ditarik kesimpulan: 1.3 %) responden mempunyai sikap negatif tentang penyakit ISPA di Kelurahan Nan Balimo Kecamatan Tanjung Harapan Kota Solok tahun 2013. 3. 5. Kurang dari sebagian (38. 4. p value = 0.9 %) responden mempunyai tingkat pengetahuan rendah tentang penyakit ISPA di Kelurahan Nan Balimo Kecamatan Tanjung Harapan Kota Solok tahun 2013. Ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kejadian ISPA di Kelurahan Nan Balimo Kecamatan Tanjung Harapan Kota Solok tahun 2013. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan pada penelitian ini dengan 91 responden yaitu ibu yang mempunyai balita di Kelurahan Nan Balimo Kecamatan Tanjung Harapan Kota Solok tahun 2013. Kurang dari sebagian (31.556 50 .BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN A.9 %) responden tidak melakukan pencegahan ISPA di Kelurahan Nan Balimo Kecamatan Tanjung Harapan Kota Solok tahun 2013.0005 OR = 9. Kurang dari sebagian (47.5 %) responden terjadi penyakit ISPA di Kelurahan Nan Balimo Kecamatan Tanjung Harapan Kota Solok tahun 2013. 2. Kurang dari sebagian (42.

6.0005 OR = 32. Bagi Institusi Pendidikan Sebagai bahan perpustakaan untuk menambah buku dan sarana penyuluhan tentang ISPA dan juga dapat memberikan informasi bagi mahasiswa untuk melakukan penelitian lebih lanjut. B.0005 OR = 19. Ada hubungan yang bermakna antara tindakan pencegahan dengan kejadian ISPA di Kelurahan Nan Balimo Kecamatan Tanjung Harapan Kota Solok tahun 2013.846 7. Bagi Responden Diharapkan hasil penelitian dapat menjadi acuan bagi responden di Kelurahan Nan Balimo Kecamatan Tanjung Harapan Kota Solok dalam rangka meningkatkan perilaku sehat di lingkungan rumah dan melakukan tindakan pencegahan ISPA dengan lebih memperhatikan konsumsi makanan balita dengan menjaga jajan balita sembarangan. Saran 1. Bagi Petugas Surveilan Puskesmas Perlunya memberikan penyuluhan tentang pencegahan penyakit ISPA kepada masyarakat diwilayahnya guna meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang penyakit ISPA minimal tiap awal bulan dan menyarankan masyarakat agar menjaga kesehatan balita di rumah. 3. Ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan kejadian ISPA di Kelurahan Nan Balimo Kecamatan Tanjung Harapan Kota Solok tahun 2013. 51 .500. 2. p value = 0. p value = 0.

dan lokasi yang berbeda. lingkungan.4. 52 . Bagi Peneliti Lain Diharapkan kepada peneliti lain untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan variabel yang beda seperti kualitas air minum.