You are on page 1of 9

Tauhid Dulu Ataukah Khilafah

Oleh: Ammi Nur Baits

Khilafah adalah cita-cita yang didambakan oleh seluruh kaum muslimin, lebih-lebih bagi mereka
yang menjadi aktivis dakwah. Khilafah merupakan hadiah yang Allah persembahkan bagi umat ini
setelah mereka berusaha untuk meniti kebenaran. Karenanya, kami ingatkan tulisan ini hanyalah
sekelumit usaha untuk mewujudkan cita-cita munculnya khilafah. Tulisan ini bukanlah upaya untuk
memecah belah persatuan kaum muslimin. Tulisan ini hanyalah sebatas nasehat antar sesama
muslim yang mencita-citakan kesatuan dan persatuan kaum muslimin di atas kebenaran.

Kelompok yang Pertama Kali Menjadikan Khilafah Sebagai Prinsip Dakwah

Syaikh DR. Shalih bin Sa’ad As Suhaimi pernah ditanya tentang prinsip dakwah imamah (khilafah)
dalam kesempatan dauroh bulan Juli 2008 di Mojokerto. Beliau menjawab:
“Imamah atau khilafah, yang pertama kali menjadikannya sebagai prinsip adalah kelompok Syi’ah
dan Mu’tazilah. Imamah memang diharapkan. Setiap muslim berkeinginan agar kaum muslimin
berada di bawah satu bendera dan satu khalifah. Namun keadaan ini (kaum muslimin di atas satu
khilafah) sedah berakhir sejak masa Khulafa’ur rasyidun atau sejak keluarnya Abdur Rahman Ad
Dakhil dari kekhalifahan Abbasiyah….” (dikutip dari Majalah Adz Dzakhiirah edisi 42 tahun 1429
H).

Orang-orang syi’ah menjadikan Imamah (kekhalifahan) sebagai salah satu rukun iman mereka.
Berikut adalah kutipan perkataan tokoh-tokoh syi’ah:
Muhammad Ridlo al Mudhofar Ar Rofidhi mengatakan: “Kami berkeyakinan bahwasanya imamah
adalah salah satu asas agama. Keimanan tidak sempurna kecuali dengan memiliki keyakinan
tersebut…” (dikutip dari Madkhol Ila al aqidah al islamiyah)
Ibnul Muthohir al Hully dalam muqodimah kitabnya yang berjudul Minhajul Karomah mengatakan:
“Amma ba’du, ini adalah risalah dan makalah yang mulia, yang berisi tentang pembahasan paling
penting dalam masalah agama dan permasalahan paling utama bagi kaum muslimin; yaitu masalah
imamah, dengan imamah bisa didapatkan derajat kemuliaan. Imamah adalah salah satu rukun iman.
(Minhajul Karomah 1/20, sebagaimana dinukil oleh Syaikh Rabi’ dalam Manhajul Anbiya fi
Da’wah).

Bahkan sebagian mereka beranggapan lebih jauh dari pada perkataan tokoh sebelumnya. Mereka
berpendapat bahwa imamah lebih penting dari pada masalah Nubuwah (kenabian). Salah satu tokoh
dan ulama mereka di zaman ini, Hadi At Thohroni mengatakan: “Imamah itu lebih mulia
dibandingkan nubuwah. Karena imamah adalah tingkatan ketiga yang dengannya Allah memuliakan
Ibrohim setelah (seblumnya) mengalami derajat Nubuwah dan Al Khullah. (dikutip dari Madkhol
Ila al aqidah al islamiyah).

Yang dimaksud Nubuwah adalah diangkatnya seseorang menjadi nabi. Sedangkan yang dimaksud
Imamah adalah diangkatnya seseorang menjadi imam atau pemimpin. Dan yang dimaksud Al
Khullah adalah diangkatnya seseorang menjadi kekasih terdekatnya Allah. Maksud perkataan Hadi
At Thohroni adalah derajat diangkatnya seseorang menjadi imam atau pemimpin itu lebih mulia
dari pada status diangkatnya seseorang menjadi nabi. Karena menjadi imam itu tingkatannya paling
tinggi, yang di bawahnya ada tingkatan al khullah dan di bawahnya lagi baru tingkatan kenabian.
Hal yang senada juga pernah disampaikan oleh Abul A’la Al Maududi salah satu tokoh pergerakan
di timur tengah. Beliau mengatakan: “Hakekat tujuan beragama adalah menegakkan aturan imamah
yang baik dan lurus.” (Al Ushul Al Akhlaqiyah).
Alasan Mereka yang Gemar Meneriakkan Tegaknya Khilafah

Berikut kami sisipkan kutipan pendapat dan alasan mereka untuk menegakkan khilafah. Diambil
dari salah satu makalah yang diterbitkan di situs mereka.
“Menegakkan Khilafah dan menunjuk seorang Khalifah adalah kewajiban bagi setiap Muslim di
seluruh dunia, lelaki dan perempuan. Melaksanakan kewajiban ini sama saja seperti menjalankan
kewajiban lain yang telah Allah Swt perintahkan kepada kita, tanpa boleh merasa puas kepada diri
sendiri. Khilafah adalah persoalan vital bagi kaum Muslim.” (lih. Apa itu Khilafah?)
“Penderitaan dan kesengsaraan dunia yang dihasilkan dari negara-negara kapitalis, khususnya AS,
tidak akan lenyap kecuali dengan tegaknya negara Khilafah yang akan menerapkan ideology yang
haq, yaitu Islam yang agung yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW
sebagai rahmatan lil alamin.” (Mafahim Siyasiyah li…hal.105)
“kita telah mengetahui bahwa umat Islam akan segera kembali menjadi negara adidaya, yaitu dalam
Khilafah Rasyidah.” (Mafahim Siyasiyah li…hal.122)
“Masalah Timur Tengah ini tidak akan pernah dapat diselesaikan kecuali dengan berdirinya negara
Khilafah Islam.” (Mafahim Siyasiyah li…hal.135)
“Maka itu, keburukan yang telah mencengkeram dunia selama berabad-abad itu haruslah dibatasi.
Harus pula diwujudkan sebuah negara yang mampu membatasi keburukan itu, yaitu negara
Khilafah Islamiyah.” (Mafahim Siyasiyah li…hal.222)

Jika boleh disimpulkan, maka bisa ditarik satu benang merah bahwa tujuan utama kelompok ini
dalam mendakwahkan tegaknya khilafah adalah menyelesaikan masalah umat. Karena bagi mereka,
hanya dengan khilafah semata semua permasalahan umat ini bisa selesai. Setelah kaum muslimin
berhasil mendirikan khilafah barulah mereka secara bersama-sama berdakwah menegakkan
keadilan dan memerangi kedzaliman di muka bumi ini. Dakwah mengajak orang untuk
mentauhidkan Allah baru diutamakan setelah tegaknya khilafah.

Tidak ada satupun orang yang menganggap jelek tujuan ini. Bisa dikatakan semua orang akan
sepakat dengan tujuan yang indah dan mulia ini. Memperjuangkan kesejahteraan umat merupakan
satu tekad yang mulia. Namun…ada yang perlu dijadikan bahan diskusi, benarkah bahwa khilafah
adalah satu-satunya solusi bagi permasalahan umat. Sehingga hampir semua masalah umat hanya
diberi satu jawaban “SEMUA INI BISA SELESAI HANYA DENGAN KHILAFAH”..?? (lih. Judul
Bulettin Al Islam ketika memberikan jawaban atas kasus Gaza dua bulan yang lalu).

Jalan Menuju Kejayaan Umat Hanya Satu

Banyak jalan menuju mekkah. Demikian anggapan sebagian orang. Karena prinsip ini, sebagian
orang acuh terhadap berbagai fenomena perselisihan yang terjadi di kalangan kaum muslimin.
Selama niatnya baik dan ada tekad untuk memperjuangkan islam, apapun caranya, semuanya tak
jadi masalah. Mari sejenak kita renungkan. Kita meyakini bahwasanya Allah tidaklah menurunkan
syariat ini baik yang penting maupun yang paling penting kecuali semuanya merupakan solusi
terbaik bagi umat manusia untuk menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Maka semua yang Dia
ajarkan, baik melalui Al Qur’an maupun contoh perbuatan NabiNya merupakan jalan utama untuk
menggapai kejayaan umat. Dengan kata lain, siapapun yang mengharapkan kejayaan umat namun
dia memilih jalan yang tidak diajarkan oleh Allah dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam maka
bisa dipastikan harapannya tidak akan tercapai. Disebutkan dalam hadis Ibn Mas’ud ketika
menceritakan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika membuat satu garis lurus,
kemudian beliau bersabda: “Inilah jalan Allah”. Setelah itu, beliau membuat beberapa garis cabang
di sebelah kanan dan kiri garis lurus, kemudian beliau bersabda: “Ini ada banyak jalan, pada
masing-masing jalan ada setan yang mengajak untuk menuju jalan tersebut.” Selanjutnya Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah di surat Al An’am 153, yang artinya: “Inilah
jalanku yang lurus, ikutilah. Janganlah kamu mengikuti banyak jalan cabang, karena kalian akan
berpecah dari jalanya.” (HR. Ahmad dan dihasankan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth). Berdasarkan
riwayat ini bisa kita tegaskan jalan yang benar menuju kejayaan HANYA SATU.

Antara Al Qur’an, Hadis dan Sejarah

Seringkali orang yang berprinsip khilafah sebagai prioritas utama ketika menjelaskan pentingnya
khilafah mereka menunjukkan bukti-bukti sejarah. Terutama sejarah khilafah Utsmaniyah yang
runtuh pada abad ke-18 M. Berikut beberapa klaim mereka tentang sejarah kemenangan khilafah:
“Daulah Utsmaniyah, sebagai Negara Khilafah Islamiyah, pernah menjadi negara pertama hampir
tiga abad lamanya, tanpa satu pesaing pun untuk kedudukannya hingga pertengahan abad ke-18 M.”
(Mafahim Siayasiyah li…hal.34)
“Daulah Utsmaniyah telah membangkitkan kengerian di semua orang Kristen Eropa dan terwujud
suatu kebiasaan umum di kalangan Kristen bahwa pasukan Islam itu tidak terkalahkan,” (Mafahim
Siayasiyah li…hal.45)
“Ringkasnya, kondisi berbagai negara di dunia yang mengalami perubahan adalah sebagai berikut:
Dunia pada masa lampau didominasi oleh Daulah Utsmaniyah, Prusia, Rusia, Austria, Inggris, dan
Perancis. Negara-negara inilah yang dahulu mengendalikan berbagai urusan dunia, mengancam
perdamaian, dan memutuskan perang.” (Mafahim Siayasiyah li…hal. 71)

Meskipun kutipan di atas diakui belum mewakili keseluruhan, namun penulis menyimpulkan,
setelah membaca buku Mafahim Siayasiyah li.. bahwa terkesan mereka lebih menonjolkan bukti-
bukti sejarah untuk mendukung prinsip mereka. Jika begitu hebatnya sejarah untuk dijadikan bukti
mutlak prioritas khilafah, di manakah porsi Al Qur’an dan As Sunnah? Bukankah prinsip dakwah
adalah bagian yang sangat vital dalam islam? Lalu mungkinkah penjelasan Al Qur’an dan Hadis
tentang ini kurang mencukupi, sehingga kita harus beralih pada klaim sejarah? Jangan sampai kita
bersikap apriori dan menutup mata terhadp kajian Al Qur’an dan Hadis dalam menentukan jawaban.
Kita memiliki koridor baku yang ditetapkan dalam Al Qur’an dan Hadis. Semata klaim sejarah
belum cukup. Sebagaimana penjelasan ahli sejarah bahwasanya sejarah belum tentu sesuai fakta.
Sejarah bukanlah realita. Klaim sejarah bisa dimanipulasi berdasarkan sudut pandang masing-
masing pengamat. Karenanya, kesimpulan sejarah banyak dilatar belakangi dengan berbagai
kepentingan. Kita tidak menutup mata atas kebaikan daulah Utsmaniyah yang telah menaklukkan
beberapa negeri kafir. Bagi pengamat yang dilatar belakangi obsesi khilafah mengatakan bahwa
daulah Utsmaniyah merupakan khilafah islamiyah yang terakhir runtuh. Namun bagi pengamat
lainnya khilafah islamiyah al udzma sudah berakhir sejak keluarnya Abdur Rahman Ad Dakhil dari
kekhalifahan Abbasiyah. Karena sejak saat itu kekuasaan kaum muslimin sudah terpecah. (lih.
Keterangan Syaikh Sholeh Suhaimi di majalah Adz Dzakhiroh edisi 42, 1419 H). Di sisi lain, bagi
pengamat orang menganggap daulah Utsmaniyah merupakan bukti sejarah kejayaan umat karena
khilafah. Namun bagi pengamat sejarah yang lain berpendapat sebaliknya, daulah Utsmaniyah sama
sekali tidak menghukumi kaum muslimin dengan syariat Allah, kecuali dalam kaum muslimin yang
tinggal di negeri mereka sendiri, dan itupun hanya sesuai dengan madzhab hanafi. Bahkan daulah
Utsmaniyah telah menjadi pelindung bagi bid’ah dan kesyirikan. Lebih dari itu, raja terakhir dari
daulah ini, Sultan Abdul Hamid II telah menjadikan Muhammad As Shayadi –pemimpin thariqoh
Ar Rifa’iyah- sebagai penasehat utama kerajaan. (lih. Ar Rad ‘Ala Hizb. Karya Abdur Rahman bin
Muhammad Sa’id Ad Dimsyaqi, hal. 71 & 72).

Ringkasnya, semata klaim sejarah bukanlah bukti utama untuk menegakkan satu prinsip dakwah.
Bahkan klaim sejarah bukanlah bukti untuk menunjukkan realita. Namun bukan berarti kita
menolak sejarah seutuhnya. Bahkan jika itu realita, kita terima seutuhnya. Akan tetapi selayaknya
kita jadikan Al Qur’an dan Hadis sebagai acuan utama untuk menegakkan prinsip dakwah.
Mari kita pegangi dua prinsip di atas baik-baik, untuk memberikan jawaban yang tepat dan bijak
terhadap permasalahan khilafah. Kita tetapkan jalan menuju kejayaan umat islam hanya satu, yaitu
jalan yang sesuai dengan Al Qur’an dan Hadis. Oleh karena itu, jika meneriakkan prioritas khilafah
adalah SESUAI DENGAN KORIDOR Al Qur’an dan Hadis maka mari kita sepakati bahwa
Khilafah adalah JALAN SATU yang ditegaskan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai jalan
keselamatan. Sebaliknya, jika memprioritaskan khilafah bukanlah jalan menuju kejayaan umat
sebagimana yang DIGARISKAN Al Qur’an dan hadis maka berarti jalur ini termasuk diantara jalan
menyimpang yang didiami setan.

Tinjauan Al Qur’an, Hadis dan Realita Sejarah

Penjelasan masalah ini bisa kita temukan dengan gamblang dalam Al Qur’an, Hadis, dan sejarah.
Jika diantara kita ada yang merasa sulit untuk diajak menjawab masalah ini dengan Al Qur’an dan
Al Hadis berdasarkan metode pemahaman ulama masa silam, mungkin bisa mempelajari REALITA
SEJARAH kaum muslimin. Mudah-mudahan itu bisa memberikan jawaban yang menenangkan.
Mengingat keterbatasan tempat, berikut hanya akan diberikan jawaban ringkas dan sederhana. Kami
berharap semoga Allah menjadikannya bermanfaat.

Pertama, tinjauan dalil Al Qur’an

Tujuan utama Allah menciptakan manusia, mengutus para Rasul, dan Menurunkan kitab-kitabNya
Allah berfirman, yang artinya: “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah
kepadaKu.” (QS. Adz Dzariyat: 56).
Allah berfirman yang artinya: “Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan
Kami wahyukan kepadanya: “Bahwa tidak ada sesembahan (yang hak) melainkan Aku. Maka
sembahlah Aku!” (QS. Al Anbiya’: 25).
Allah juga berfirman: “Inilah satu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan
secara terperinci yang diturunkan dari sisi Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Agar
kamu tidak menyembah selain Allah…” (QS. Hud: 1-2).
Ibadah yang dilakukan oleh manusia tidak bisa dinamakan ibadah kepada Allah kecuali dengan
meninggalkan pembatal-pembatal ibadah. Diantaranya adalah kesyirikan. Artinya, Ketika beribadah
manusia dituntut untuk mentauhidkan Allah. Sebagaimana shalat tidak bisa disebut shalat keculai
jika bersih dari pembatal shalat. Oleh karena itu, makna kata ibadah dalam ayat ini adalah adalah
tauhid. Karena hakekat ibadah adalah menatuhidkan Allah dalam setiap menjalakan perintah dan
larangan.

Khilafah adalah hadiah dari Allah bagi setiap orang yang bertauhid

Allah berfirman yang artinya: “Dan Allah telah menjanjikan orang-orang yang beriman dan beramal
sholeh bahwa Allah sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi (baca: mewujudkan
khilafah) sebagaimana Allah telah memberikan kekuasaan kepada orang-orang sebelum kalian. Dan
sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Dia ridhoi untuk mereka (Islam), dan Dia
sungguh akan mengganti keadaan mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman. Mereka
beribadah kepadaKu dan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu apappun.” (QS. An Nur: 55).
Dalam tafsir Al Jalain dijelaskan bahwa Allah telah mewujudkan janjiNya kepada kaum muslimin
(Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat) dan Allah memuji mereka dengan firmanNya
di akhir ayat di atas: “Mereka beribadah kepadaKu dan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu
apapun.” Maka ayat ini berstatus sebagai alasan kenapa Allah memberikan kekuasaan kepada
mereka (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat).
Oleh karena itu, secara urutan manusia dituntut untuk menegakkan tauhid terlebih dahulu barulah
kemudian Allah memberikan hadiah kepada kaum muslimin dengan diwujudkannya kekuasaan
(khilafah) bagi mereka. Bukan sebaliknya, khilafah dulu baru semua penyimpangan diselesaikan.
Karena sebagaimana yang dijelaskan dalam tafsir di atas bahwa tauhid merupakan syarat mutlak
suatu kaum itu mendapatkan khilafah. Dan demikianlah realita yang terjadi pada dakwahnya Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah belasan tahun beliau mengajak umat kepada tauhid barulah
Allah memberikan kekuasaan kepada beliau dan para sahabat tepatnya setelah mereka hijrah ke
madinah.

Kedua, tinjauan dari dalil hadis

Oleh karena itu, dalam sejarah dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tercatat bahwa
beliau hanya mengajak umat untuk tunduk dan taat kepada Allah terutama tauhid. Tidak pernah
sedikitpun mengajak umat untuk mendirikan daulah islam. Bahkan sebaliknya, beliau menolak
semua tawaran orang-orang musyrikin Quraisy untuk menjadi raja Mekkah. Karena tujuan utama
beliau bukanlah mencari kekuasaan namun mengajak manusia untuk memurnikan tauhid kepada
Allah. Dan demikianlah keadaan dakwah para rasul ‘alaihim as sholatu was salam mereka tidaklah
hadir di masyarakatnya untuk memusnahkan daulah yang berkuasa di sana kemudian membangun
daulah yang baru. Mereka tidak menuntut untuk dijadikan raja maupun penguasa. Namun mereka
datang dengan membawa hidayah bagi umat manusia, menyelamatkan mereka dari kesesatan dan
kemusyrikan.

Bahkan beliau sendiri pernah ditawari oleh Rabnya (Allah ta’ala) dan diberi pilihan antara menjadi
seorang rasul sekaligus raja ataukah menjadi seorang rasul yang statusnya hanya hamba biasa.
Kemudian beliau memilih untuk menjadi rasul yang statusnya hanya hamba biasa. (sebagaimana
disebutkan dalam hadis riwayat Al Bukhari & Muslim). Andaikan obsesi Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam adalah menegakkan khilafah di muka bumi ini maka tentu beliau akan memenuhi tawaran
orang kafir Quraisy atau bahkan tawaran Allah ta’ala untuk menjadi penguasa jazirah arab baru
kemudian mendakwahkan tauhid. Ini menunjukkan bahwa sedikitpun beliau tidak berobsesi untuk
menegakkan kekuasaan, namun obsesi beliau hanya satu, yaitu mengajak umat untuk berislam
dengan mentauhidkan Allah sepenuhnya.

Ketiga, bukti sejarah bahwa kekuasaan bukanlah jaminan kemenangan

Sekali lagi, kita tidak menolak sejarah. Jika itu realita maka kita terima sepenuhnya. Berikut kami
sisipkan beberapa realita sejarah bahwa kekuasaan tidaklah menjamin diterimanya dakwah.

Pertama, kisah raja Romawi yang sezaman dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, raja
Heraklius. Disebutkan dalam shahih Al Bukhari hadis ke-7 di Bab “Bad’ul wahyi” bahwa setelah
raja Heraklius menerima surat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia paham betul bahwa
beliau adalah Nabi akhir zaman setelah berdialog dengan salah satu orang Quraisy (Abu Sufyan)
yang berdagang ke Syam dan membandingkannya dengan apa yang ada di injil. Kemudian
Heraklius memerintahkan para pembesar-pembesar Romawi untuk berkumpul di Daskarah (istana
yang dikelilingi benteng) yang berada di kota Hims. Setelah semuanya masuk, dia perintahkan
untuk menutup semua pintu istana. Kemudian Raja Nasrani ini berpidato: “Wahai masyarakat
Romawi, siapa yang ingin mendapatkan kejayaan, kebenaran, dan kerajaan yang kokoh maka
hendaknya dia membai’at Nabi ini.” Tiba-tiba para hadirin bubar berlarian seperti keledai liar
menuju pintu-pintu istana. Namun ternyata semuanya tertutup. Setelah Heraklius melihat mereka
pada berlarian dan dia putus untuk bisa mengajak mereka beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam, raja ini meminta agar mereka berkumpul kembali. Kemudian dia berpidato: “Apa yang
aku katakan barusan sesungguhnya hanyalah untuk menguji komitmen kalian terhadap agama
kalian (nasrani).” Kemudian para hadirin bersujud pada Heraklius dan mau menerima
keputusannya. Dan inilah akhir keadaan Heraklius.

Kedua, kisah raja Najasyi sang penguasa negeri Habasyah. Disebutkan dalam buku-buku siroh
nabawiyah bahwa setelah Raja Najasyi mendengar keterangan tentang dakwah Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dan mendengar bacaan surat Maryam yang disampaikan oleh Ja’far (salah satu
sahabat yang berhijrah ke Habasyah), beliau menangis dan masuk Islam. Hanya saja Raja yang adil
ini menyembunyikan Islamnya di hadapan para uskup-uskupnya. Oleh karena itu, Allah ta’ala tidak
memerintahkan NabiNya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin untuk berhijrah ke
Habasyah. Para ahli sejarah menjelaskan analisis hal tersebut disebabkan:
a) Posisi rijaluddin (tokoh agama) nasrani yang cukup kuat dalam pemerintahan. Keadaan ini
selanjutnya membuat mereka mampu menghalangi dakwah islam di tengah masyarakat Habasyah
b) Raja Najasyi, meskipun beliau itu raja yang adil dan telah masuk islam, namun beliau tidak
mampu menunjukkan secara terang-terangan kepada rakyatnya bahwa beliau telah meninggalkan
nasrani. Ini menunjukkan kelemahan hukumnya. Sehingga setinggi apapun posisinya tidak mampu
mengubah Habasyah menjadi daulah islamiyah. (lih. Siroh Nabawiyah jilid I, Mediu)

Demikianlah pelajaran berharga dari keadaan dua raja tersebut. Kekuasaannya tidak mampu
menampakkan aqidahnya. Berbeda dengan Fir’aun. Sebab utama dia mampu menguasai kaumnya
disebutkan oleh Allah dalam firmannya, yang artinya: “dia menakut-nakuti kaumnya, sehingga
mereka mentaati Fir’aun..” (QS. Zukhruf: 54). Disebutkan dalam tafsir Jalalain bahwasanya
Fir’aun menginginkan agar rakyatnya mendustakan Musa dengan menakut-nakuti mereka.
Kemudian mereka-pun taat kepada Fir’aun. Mari kita bandingkan antara dua kasus di atas. Raja
Najasyi dan Kaisar Romawi tidak mampu memaksakan aqidahnya karena sebelumnya dia tidak
menyiapkan keadaan hati rakyatnya untuk menerima islam. Berbeda dengan Fir’aun, dia berhasil
menguasai rakyatnya dan memaksa mereka untuk mewujudkan keinginannya setelah sebelumnya
dia menyiapkan keadaan hati rakyatnya agar meyakini bahwa tujuan Musa adalah mengusir kalian
dari Mesir.

Bisakah kita bayangkan, ketika Allah mewujudkan khilafah bagi kaum muslimin, sementara
kebanyakan mereka tidak paham syariat islam. Mungkinkah mereka akan menerima aturan syariat
yang ditetapkan oleh khilafah? Mungkin bisa kita pastikan; yang ada hanyalah kudeta. Bisa jadi
ketika khalifah ingin menghilangkan kesyirikan, kemaksiatan, dan kebid’ahan, namun justru para
pemuja kesyirikan, bid’ah dan maksiat akan melawan. Dengan kekuatan apa khilafah akan
memaksa, sementara kelompok mereka (pemuja syirik, bid’ah dan maksiat) jauh lebih banyak
dibandingkan mereka yang memahami syariat. Atau… mungkin dengan alternatif yang kedua.
Sistem Khilafah membiarkan sepenuhnya setiap kegiatan keagamaan rakyatnya meskipun itu sarat
dengan syirik, khurafat, dan bid’ah. Karena yang penting rakyat bisa tenang, sehingga bersama-
sama rakyat bisa menggulingkan kekuasaan hegemoni orang yahudi & nasrani. Membiarkan
rakyatnya bergelimang dengan kesyirikan selama hukum hudud (seperti potong tangan, qisos,
cambuk, dst.) ditegakkan? Demikiankah sistem khilafah yang diinginkan? Dengan tegas kita
katakan: “Sistem ini bukan sistem khilafah islam!!!” ini sistem khilafah syirkiyah bukan islamiyah.
Belum lagi ketika khilafah ini berdiri, sementara banyak masyarakat masih ambisi untuk meraih
jabatan… apa yang terjadi? Tidak lain adalah perebutan kekuasaan.. dari mana kaum muslimin bisa
bersatu.
Lalu mana yang lebih penting… berdakwah mengajak umat untuk membenahi agama mereka
dengan menyempurnakan tauhid mereka masing-masing, ataukah… mengajak semua elemen untuk
menegakkan khilafah tanpa peduli bagaimana aqidah mereka? Jika tujuannya untuk memahamkan
rakyat dengan syariat maka harusnya yang pertama kali dilakukan adalah mendahulukan
mengajarkan syariat islam sebelum mengajarkan fiqih politik. Kita mengkhawatirkan, jangan-
jangan obsesi menggalang umat untuk mewujudkan khilafah ini hanyalah akan menjadi angan-
angan belaka yang tidak mungkin terwujudkan selama kita membiarkan umat islam masih
bergelimang dengan syirik, bid’ah dan maksiat. Mari kita renungkan perkataan para ulama:
“Siapa yang menginginkan sesuatu sebelum waktunya maka dia dihukum dengan tidak
mendapatkannya”

Bahaya Sikap Lebih Mengutamakan Penegakan Khilafah Di Atas Lainnya

Ada beberapa konsekwensi negatif ketika seseorang itu berlebih-lebihan terhadap khilafah.
Diantaranya:
1. Menganggap semua oknum yang tidak memiliki andil dalam penegakan khilafah
sebagai orang sesat. Jika dia mati maka mati dalam keadaan membawa aqidah jahiliyah.
Atau dengan bahasa yang lebih kasar, mati kafir. Diantara dalil yang digunakan untuk
menguatkan anggapan ini adalah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa
yang berpisah dari jama’ah (mereka maknai dengan khilafah) maka dia mati sebagaimana
matinya orang-orang jahiliyah.” (HR. Al Bukhari). Karenanya siapa saja yang tidak mau
gabung dengan khilafah, atau tidak ikut andil dalam menegakkan khilafah (karena khilafah
belum berdiri) maka dia mati seperti matinya orang jahiliyah. Yang benar, hadis ini sama
sekali tidak menunjukkan makna di atas. Karena yang dimaksud keluar dari jamaah adalah
memberontak kepala negara kaum muslimin yang sah. Sedangkan yang dimaksud mati
jahiliyah adalah mati dalam keadaan bermaksiat bukan mati kafir. (lih. Fathul Bari 20/58).

2. Meremehkan dosa besar atau bahkan kekafiran. Setelah Khumaini berhasil


memberangus rezim Reza Pahlevi, datanglah beberapa utusan dari kelompok yang gemar
memprioritaskan khilafah untuk menemui Khumaini dan menawarkan penegakan khilafah
kepadanya. (lih. Majalah Al Khilafah At Tahririyah, edisi 18 bulan Agustus 1989).
Disamping itu, kelompok ini juga sempat memuji tulisan Al Khumaini yang berjudul Al
Hukumah Al Islamiyah, dimana pada tulisan ini ditegaskan Khumaini bahwa Imam
(Khalafah) itu lebih utama dibandingkan malaikat atau para nabi. (lih. Majalah Al Wa’i At
Tahririyah edisi 26, tahun ke-3 Dzul Qo’dah 1409). Padahal para ulama telah menyatakan
kafirnya orang yang beranggapan: “para imam lebih utama dibandingkan para nabi.” (lih.
Pernyataan Syaikhul Islam dan beberapa ulama lainnya sebagaimana disebutkan oleh Ibn
Hajar Al Haitami dalam Al I’lam bi Qowathi’il Islam).
Ditambah lagi keadaan orang-orang syi’ah yang mencela para sahabat, menghina para istri
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengkultuskan ahli bait, menyimpangkan Al Qur’an dan
beberapa penyelewengan syi’ah yang keterlaluan lainnya, bagi kelompok khilafah itu bukan
masalah besar. Itu masalah kecil dalam pandangan mereka jika dibandingkan dengan
masalah penegakan khilafah. Bukankah ini berarti merelakan untuk mengorbankan aqidah
yang benar demi tegak dan kembalinya khilafah.

3. Menganggap ajaran agama terbagi dua; bagian inti dan kulit. Kenyataan lain ketika
terlalu ambisi terhadap khilafah. Mereka menggolongkan ke dalam dua golongan. Bagian
inti dan kulit. Setiap masalah penting bagi mereka digolongkan sebagai inti agama,
sementara masalah yang kurang penting bagi mereka digolongkan bagian kulit, meskipun
hakikatnya itu dosa besar. Akibatnya, ketika diingatkan bahaya bid’ah, atau ancaman untuk
orang-orang yang celananya menyelisihi syariat, atau masalah wanita terjun ke jalan,
mereka menganggap itu masalah kurang penting. Karena lebih penting menjaga perasaan
masyarakat agar mau menerima dakwah mereka ketimbang mengingatkan mereka yang
justru membuat mereka lari.

4. Munculnya obsesi kekuasaan sehingga tega untuk mencela ulama. Setelah mereka
terkesima dengan sejarah khilafah daulah Utsmaniyah, mereka merasa terpukul berat
dengan runtuhnya daulah ini. Sehingga tidak heran, ada sebagian di antara mereka
yang memperingati tanggal mulai runtuhnya daulah Utsmaniyah dalam rangka
mengenang sejarah berakhirnya khilafah bagi mereka. Sayangnya, kesedihan ini
membuahkan satu sikap yang kurang tepat. Setelah meruntut sekian penyebab
runtuhnya daulah Utsmaniyah mereka berkesimpulan bahwa salah sebab runtuhnya
daulah ini adalah dakwah tauhid yang digencarkan Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahab yang bekerja sama dengan inggris. Abdul Qodim Zalum mengatakan:
“Sesungguhnya tentara inggris telah membantu mereka (dakwah Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahab) dengan senjata dan harta untuk membangun asaa madzhab,
mereka menginginkan untuk menguasai Karbala dan kuburan Al Hasan. Dan ketika
kota Madinah sudah jatuh ke tangan mereka, merera hendak merobohkan kubah
besar yang menaungi makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam… dan masalah
ini telah banyak diketahui, bahwa penyebab semua ini adalah Wahabiyah, anteknya
inggris.” (lih. Kaifa Hudimat Al Khilafah hal. 10-12 karya Abdul Qodim Zalum, cet.
1962).

Perkataan Salah Satu Tokoh Pergerakan


Berikut perkataan salah satu tokoh da’i pergerakan, yang kebanyakan pengikutnya mendambakan
tegaknya khilafah. Dalam kesempatan kajian di Darul Hadis di Mekkah, beliau juga pernah ditanya:

Isi pertanyaan: Sebagian mengatakan bahwa islam akan kembali jaya dengan hakimiyah (khilafah),
sebagian yang lain mengatakan islam akan kembali jaya melalui jalur pelurusan aqidah dan tarbiyah
jamaah. Manakah yang benar?

Beliau menjawab: “Dari manakah datangnya kekuasaan (khilafah) agama ini di muka bumi jika
tidak ada da’i-da’i yang mengajak untuk meluruskan aqidah dan beriman dengan iman yang benar.
Kemudian mereka diuji dalam beragama dan mereka bersabar, mereka juga berjihad di jalan Allah.
Kemudian hukum agama Allah akan ditegakkan di bumi. Satu permasalahan yang sangat jelas
sekali. Hakim (Khalifah) tidaklah datang dari langit, tidak pula turun dari langit. Segala sesuatu
datang dari langit namun dengan usaha keras manusia. Allah tetapkan hal ini untuk manusia. Allah
berfirman yang artinya: “Andaikan Allah menghendaki Allah akan menolong kalian dari
(kejahatan) mereka (orang kafir). Namun Allah menguji sebagian kalian dengan sebagian yang
lain..” (QS. Muhammad: 4). Maka wajib kita awali dengan meluruskan aqidah dan mendidik
generasi dengan aqidah yang benar. Generasi yang akan diuji kemudian mereka mampu bersabar
atas ujian, sebagaimana bersabarnya generasi yang pertama.” (Dikutip dari kitab: Minhaj Al Firqoh
An Najiyah karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu).

Terakhir kami akhiri tulisan ini dengan kutipan pidato salah satu da’i pergerakan internasional.
Perkataan ini kami letakkan di akhir tulisan ini dengan harapan bisa menjadi kesimpulan bagi
pembahasan di atas. Kami hanya bisa mengharapkan, andaikan pengikut beliau menuruti apa yang
beliau sampaikan.
“Tegakkanlah daulah islam di hati kalian masing-masing, niscaya daulah ini akan tegak di
bumi kalian”