You are on page 1of 36

Di Susun

0 L E h

LIYANOVITASARI A. AMALI KELAS XI – IPA 1

SMA NEGERI 2 GORONTALO TAHUN AJARAN 2011/2012

1. ACEH :

Raja Burung Parakeet.

Alkisah di sebuah hutan hiduplah sekelompol burung parakeet. Raja burung parakeet memiliki bulu dan paruh yang cantik, gagah dan indah. Oleh sebab itulah dia diangkat menjadi raja dikalangan burung parakeet. Pada suatu hari datang seorang pemburu yang ingin menangkap burung-burung parakeet. Mengetahui hal itu semua burung parakeet menjadi risau sebab pemburu itu merupakan orang yang handal dalam menjebak burung. Sudah banyak jenis burung lain yang masuk dalam perangkapnya dan tidak akan selamat. Burung-burung yang sudah ditangkap itu biasanya di jual atau dimakan oleh si pemburu. Raja burung parakeet menjadi risau dan coba untuk mencari akal bagaimana caranya supaya tidak masuk perangkap pemburut tersebut. Namun, raja burung parakeet tidak menemukan jalan sehingga banyaklah rakyat burung parakeet yang masuk perangkap sang pemburu. Raja burung parakeet menjadi sedih lalu timbul ide untuk mengelabui si pemburu. Dia memerintahkan pada rakyat burung parakeet yang sudah masuk perangkap si pemburu agar berpura-pura mati. Rakyat burung parakeet setuju, ketika keesokan harinya pemburu datang kembali ke hutan dan bermaksud untuk mengambil burungburung yang sudah terjebak. Melihat semua burung-burung itu mati si pemburu menjadi kesal dan kemudian mengeluarkan semua burung dari perangkapnya. Setelah semua burung keluar dari sangkar dengan serentak burung-burung itu terbang ke udara. Kumpulan burung parakeet itu dapat menipu si pemburu berkat ide dari raja mereka. Namun sayangnya ada satu burung yang tidak berhasil lolos dari si pemburu, dia adalah raja burung parakeet sendiri. Si pemburu merasa senang karena walaupun semua burung terlepas tapi dia masih memiliki burung parakeet yang sangat cantik. Raja burung parakeet tidak bisa berbuat apa-apa. Dia di bawa pulang oleh si pemburu. Sesampainya di rumah pemburu tersebut bermaksud ingin memakan raja burung parakeet. Mengetahui hal ini raja burung parakeet tidak kehilangan akal dia mengajukan syarat kepada si pemburu. Syarat itu adalah bahwa raja burung parakeet akan bernyanyi untuk si pemburu setiap hari sampai rasa penat si pemburu hilang. Mendengar perkataan raja burung parakeet si pemburu setuju dan tidak jadi memakannya. Maka sejak saat itu raja burung parakeet akan bernyanyi setiap hari sampai rasa sedih dan penat si pemburu hilang. Kemerduan suara raja burung parakeet terdengar di seluruh kota dan menyebabkan baginda raja tertarik akan kemerduan suara raja burung parakeet. Kemudian raja memerintahkan bawahannya untuk membawa si pemburu beserta raja burung parakeet. Raja memerintahkan agar burung parakeet bernyanyi untuknya. Mendengar suara raja burung parakeet menyebabkan raja menjadi tertarik kemudian dia berkata kepada si pemburu bahwa dia akan membayar berapapun yang diminta oleh si pemburu asalnya burung parakeet itu menjadi miliknya. Si pemburu setuju dan menyerahkan raja burung parakeet kepada baginda raja. Baginda raja sangat senang menerima raja burung parakeet, dia membangun sebuah sangkar dari emas untuk tempat tinggal raja burung parakeet. Akan tetapi raja burung parakeet tidak merasa bahagia. Dia teringat kepada rakyatnya burung parakeet yang saat ini sudah bebas di hutan. Lalu raja burung parakeet mencari akal. Suatu hari raja burung parakeet berpura-pura mati, ketika mengetahui hal ini sang raja menjadi sangat sedih. Baginda raja lalu membuat upacara kematian yang sangat meriah bagi raja burung parakeet. Namun ketika hendak di kubur, raja burung parakeet tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia lalu terbang ke udara meninggalkan sang raja dan kembali ke hutan menemui rakyatnya.

2. Sumatra Utara

(BATU GANTUNG)

Alkisah,di sebuah desa terpencil di pinggiran Danau Toba Sumatera Utara, hiduplah sepasang suami-istri dengan seorang anak perempuannya yang cantik jelita bernama Seruni. Selain rupawan, Seruni juga sangat rajin membantu orang tuanya bekerja di ladang. Setiap hari keluarga kecil itu mengerjakan ladang mereka yang berada di tepi Danau Toba, dan hasilnya digunakan untuk mencukupikebutuhan sehari-hari. Pada suatu hari, Seruni pergi ke ladang seorang diri, karena kedua orang tuanya ada keperluan di desa tetangga. Seruni hanya ditemani oleh seekor anjing kesayangannya bernama si Toki. Sesampainya di ladang, gadis itu tidak bekerja, tetapi ia hanya duduk merenung sambil memandangi indahnya alam Danau Toba. Sepertinya ia sedang menghadapi masalah yang sulit dipecahkannya. Sementara anjingnya, si Toki, ikut duduk di sebelahnya sambil menatap wajah Seruni seakan mengetahui apa yang dipikirkan majikannya itu. Sekali-sekali anjing itu menggonggong untuk mengalihkan perhatian sang majikan, namun sang majikan tetap saja usik dengan lamunannya. Memang beberapa hari terakhir wajah Seruni selalu tampak murung. Ia sangat sedih, karena akan dinikahkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pemuda yang masih saudara sepupunya. Padahal ia telah menjalin asmara dengan seorang pemuda pilihannya dan telah berjanji akan membina rumah tangga yang bahagia. Ia sangat bingung. Di satu sisi ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, dan di sisi lain ia tidak sanggup jika harus berpisah dengan pemuda pujaan hatinya. Oleh karena merasa tidak sanggup memikul beban berat itu, ia pun mulai putus asa. "Ya, Tuhan! Hamba sudah tidak sanggup hidup dengan beban ini," keluh Seruni. Beberapa saat kemudian, Seruni beranjak dari tempat duduknya. Dengan berderai air mata, ia berjalan perlahan ke arah Danau Toba. Rupanya gadis itu ingin mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Danau Toba yang bertebing curam itu. Sementara si Toki, mengikuti majikannya dari belakang sambil menggonggong. Dengan pikiran yang terus berkecamuk, Seruni berjalan ke arah tebing Danau Toba tanpa memerhatikan jalan yang dilaluinya. Tanpa diduga, tiba-tiba ia terperosokke dalam lubang batu yang besar hingga masuk jauh ke dasar lubang. Batu cadas yang hitam itu membuat suasana di dalam lubang itu semakin gelap. Gadis cantik itu sangat ketakutan. Di dasar lubang yang gelap, ia merasakan dinding-dinding batu cadas itu bergerak merapat hendak menghimpitnya. "Tolooooggg……! Tolooooggg……! Toloong aku, Toki!" terdengar suara Seruni meminta tolong kepada anjing kesayangannya. Si Toki mengerti jika majikannya membutuhkan pertolongannya, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali hanya menggonggong di mulut lubang. Beberapa kali Seruni berteriak meminta tolong, namun si Toki benar-benar tidak mampu menolongnnya. Akhirnya gadis itu semakin putus asa. "Ah, lebih baik aku mati saja daripada lama hidup menderita," pasrah Seruni. Dinding-dinding batu cadas itu bergerak semakin merapat. "Parapat! Parapat batu… Parapat!" seru Seruni menyuruh batu itu menghimpit tubuhnya.. Sementara si Toki yang mengetahui majikannya terancam bahaya terus menggonggong di mulut lubang. Merasa tidak mampu menolong sang majikan, ia pun segera berlari pulang ke rumah untuk meminta bantuan. Sesampai di rumah majikannya, si Toki segera menghampiri orang tua Seruni yang kebetulan baru datang dari desa tetangga berjalan menuju rumahnya. "Auggg…! auggg…! auggg…!" si Toki menggonggong sambil mencakar-cakar tanah untuk memberitahukan kepada kedua orang tua itu bahwa Seruni dalam keadaan bahaya. "Toki…, mana Seruni? Apa yang terjadi dengannya?" tanya ayah Seruni kepada anjing itu. "Auggg…! auggg…! auggg…!" si Toki terus menggonggong berlari mondar-mandir mengajak mereka ke suatu tempat. "Pak, sepertinya Seruni dalam keadaan bahaya," sahut ibu Seruni. "Ibu benar. Si Toki mengajak kita untuk mengikutinya," kata ayah Seruni. "Tapi hari sudah gelap, Pak. Bagaimana kita ke sana?" kata ibu Seruni. "Ibu siapkan obor! Aku akan mencari bantuan ke tetangga," seru sang ayah. Tak lama kemudian, seluruh tetangga telah berkumpul di halaman rumah ayah Seruni sambil membawa obor. Setelah itu mereka mengikuti si Toki ke tempat kejadian. Sesampainya mereka di ladang, si Toki langsung menuju ke arah mulut lubang itu. Kemudian ia menggonggong sambil mengulur-ulurkan mulutnya ke dalam lubang untuk memberitahukan kepada warga bahwa Seruni berada di dasar lubang itu. Kedua orang tua Seruni segera mendekati mulut lubang. Alangkah terkejutnya ketika mereka

melihat ada lubang batu yang cukup besar di pinggir ladang mereka. Di dalam lubang itu terdengar sayup-sayup suara seorang wanita: "Parapat… ! Parapat batu… Parapat!" "Pak, dengar suara itu! Itukan suara anak kita! seru ibu Seruni panik. "Benar, bu! Itu suara Seruni!" jawab sang ayah ikut panik. "Tapi, kenapa dia berteriak: parapat, parapatlah batu?" tanya sang ibu. "Entahlah, bu! Sepertinya ada yang tidak beres di dalam sana," jawab sang ayah cemas. Pak Tani itu berusaha menerangi lubang itu dengan obornya, namun dasar lubang itu sangat dalam sehingga tidak dapat ditembus oleh cahaya obor. "Seruniii…! Seruniii… !" teriak ayah Seruni. "Seruni…anakku! Ini ibu dan ayahmu datang untuk menolongmu!" sang ibu ikut berteriak. Beberapa kali mereka berteriak, namun tidak mendapat jawaban dari Seruni. Hanya suara Seruni terdengar sayup-sayup yang menyuruh batu itu merapat untuk menghimpitnya. "Parapat… ! Parapatlah batu… ! Parapatlah!" "Seruniiii… anakku!" sekali lagi ibu Seruni berteriak sambil menangis histeris. Warga yang hadir di tempat itu berusaha untuk membantu. Salah seorang warga mengulurkan seutas tampar (tali) sampai ke dasar lubang, namun tampar itu tidak tersentuh sama sekali. Ayah Seruni semakin khawatir dengan keadaan anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyusul putrinya terjun ke dalam lubang batu. "Bu, pegang obor ini!" perintah sang ayah. "Ayah mau ke mana?" tanya sang ibu. "Aku mau menyusul Seruni ke dalam lubang," jawabnya tegas. "Jangan ayah, sangat berbahaya!" cegah sang ibu. "Benar pak, lubang itu sangat dalam dan gelap," sahut salah seorang warga. Akhirnya ayah Seruni mengurungkan niatnya. Sesaat kemudian, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Bumi bergoyang dengan dahsyatnya seakan hendak kiamat. Lubang batu itu tiba-tiba menutup sendiri. Tebing-tebing di pinggir Danau Toba pun berguguran. Ayah dan ibu Seruni beserta seluruh warga berlari ke sana ke mari untuk menyelamatkan diri. Mereka meninggalkan mulut lubang batu, sehingga Seruni yang malang itu tidak dapat diselamatkan dari himpitan batu cadas. Beberapa saat setelah gempa itu berhenti, tiba-tiba muncul sebuah batu besar yang menyerupai tubuh seorang gadis dan seolah-olah menggantung pada dinding tebing di tepi Danau Toba. Masyarakat setempat mempercayai bahwa batu itu merupakan penjelmaan Seruni yang terhimpit batu cadas di dalam lubang. Oleh mereka batu itu kemudian diberi nama "Batu Gantung". Beberapa hari kemudian, tersiarlah berita tentang peristiwa yang menimpa gadis itu. Para warga berbondong-bondong ke tempat kejadian untuk melihat "Batu Gantung" itu. Warga yang menyaksikan peristiwa itu menceritakan kepada warga lainnya bahwa sebelum lubang itu tertutup, terdengar suara: "Parapat… parapat batu… parapatlah!"Oleh karena kata "parapat" sering diucapkan orang dan banyak yang menceritakannya, maka Pekan yang berada di tepi Danau Toba itu kemudian diberi nama "Parapat". Parapat kini menjadi sebuah kota kecil salah satu tujuan wisata yang sangat menarik di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Demikian cerita tentang asal-usul nama kota prapat. Cerita di atas termasuk cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah akibat buruk dari sifat putus asa atau lemah semangat. Sifat ini tercermin pada sikap dan perilaku Seruni yang hendak mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Danau Toba yang bertebing curam, namunia justru terperosok ke dalam lubang batu dan menghimpitnya hingga akhirnya meninggal dunia.

3. Cerita Rakyat dari Sumatera Barat MINANGKABAU Dulu, di Sumatera Barat, ada sebuah negeri. Penduduk negeri itu hidup aman dan makmur. Suatu hari, ada berita bahwa Kerajaan Majapahit dari Jawa akan menyerang negeri itu. Segera Raja mengadakan pertemuan. Ucapnya pada para kaulanya, “Majapahit akan menyerang kita! Apa yang harus kita lakukan? Apakah kita akan diam saja dan membiarkan negeri ini hancur?” “Mereka sangat kuat. Bila kita berperang dengan mereka, kita pasti kalah,” ujar seorang tetua. Suasana hening. Semua orang terlihat cemas. Seorang tetua yang lain kemudian berkata, “Kita tak perlu berperang dengan mereka. Bagaimana kalau kita tantang mereka mengadu kerbau?

Jika kerbau mereka mati, kita menang. Tapi jika kerbau kita mati, mereka menang.” “Apa yang harus kita lakukan agar menang?” tanya tetua lainnya. “Kita tak akan membiarkan mereka menang,” ucap tetua yang mengusulkan. “Aku punya rencana bagus.” Ia lalu mengemukakan rencananya pada Raja dan tetua-tetua lain, dan semua setuju pada rencana itu. “Kau yakin kita bisa menang?” cetus seorang tetua. “Ya! Sekarang mari kita cari seekor anak kerbau yang kuat,” ucap tetua yang mengusulkan. Mereka pun melakukan rencana itu. Mereka mengambil seekor anak kerbau dan memisahkannya dari induknya. Mereka tidak memberi anak kerbau itu makan dan membiarkannya lapar selama beberapa hari. Anak kerbau itu melenguh-lenguh kelaparan. Orang-orang itu kemudian mengikat kuat-kuat dua pisau tajam pada tanduk anak kerbau itu. Hari pertandingan tiba. Orang berkumpul di tanah lapang. Orang-orang Majapahit mengeluarkan seekor kerbau liar besar dari kandangnya. Orang-orang Sumatera Barat mengeluarkan anak kerbau mereka. Anak kerbau sangat lapar karena tidak makan selama beberapa hari. Ia juga amat kehilangan induknya. Cepat ia memburu ke kerbau besar dan menyusup ke bawah perutnya mencari puting susu. Pisau-pisau di tanduk anak kerbau merobek perut kerbau besar. Kerbau itu rubuh ke tanah dan mati. “Hore!” seru orang-orang Sumatera Barat penuh suka cita. “Kita menang! Kita menang!” Orang-orang Majapahit meninggalkan Sumatera Barat. Sumatera Barat selamat dari kehancuran. Orang-orang Sumatera Barat kemudian mengganti nama kerajaan mereka menjadi Minangkabau, yang artinya ‘kerbau menang’. Sampai sekarang, atap rumah di Sumatera Barat berbentuk tanduk kerbau. Begitu pula dengan pakaian tradisional para wanita Sumatera Barat.

4. Cerita rakyat Riau : PEKANBARU Alkisah ada sebuah kerajaan yang bernama Gasib. Kerajaan ini dipimpin oleh rajanya yang bernama raja Gasib. Raja Gasib mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Putri Kaca Mayang serta seorang panglima yang tangguh bernama Panglima Gimpam. Kecantikan putri tersohor sampai ke berbagai negri, tetapi tak ada satu pun yang berani melamar sang putri, karena Raja Gasib sangat disegani di kalangan raja-raja. Kecantikan putri Kaca Mayang, terdengar sampai ke telinga Raja Aceh. Raja Aceh pun berniat meminang sang putri. Maka, dipanggillah dua orang panglimanya untuk menyampaikan niatnya ke pada sang putri. “Wahai panglimaku,” kata Raja Aceh, “Pergilah kalian ke kerajaan Gasib, sampaikan niatku yang ingin mempersunting putri Kaca Mayang.” “Baik, Banginda Raja, titah Baginda hamba laksanakan.” Maka, berangkatlah dua utusan ini ke kerajaan Gasib. Akhirnya, sampailah mereka di kerajaan langsung menghadap Raja Gasib. “Maaf baginda Raja Gasib yang bijaksana. Hamba utusan dari Kerajaan Aceh, ingin menyampaikan niat raja kami yang ingin mempersunting putri tuanku Baginda, Putri Kaca Mayang.” “Wahai Panglima Raja Aceh, sampaikan kepada Raja kalian, bahwa saya tidak bisa menerima pinangan Raja kalian. Putri Kaca Mayang belum bersedia untuk dipersunting siapa pun. Sampaikan maaf saya kepada raja kalian,” sahut Raja Gasib dengan wibawanya. Berangkatlah pulang dua utusan ini dan menyampaikan semua yang disampaikan Raja Gasib. Raja Aceh sangat marah dan merasa terhina atas penolakan lamaran ini. Maka, Raja Aceh yang memiliki sifat yang sombong berniat akan menculik sang putri dan memporakporandakan Kerajaan Gasib. Pasukan pun dipersiapkan untuk menyerang kerajaan Gasib. Raja Gasib yang mengetahui kelicikan dan perangai Raja Aceh juga mempersiapkan pasukannya. Raja Gasib tahu akan ada penyerangan atas penolakan lamaran itu, dipanggillah panglima kebanggaannya. ”Wahai, Panglimaku Gimpam! Untuk menjaga kemungkinan serangan dari kerajaan Aceh, kamu saya utuskan menjaga di Kuala Gasib daerah Sungai Siak.“ “Hamba laksanakan titah Baginda Raja,” kata Panglima Gimpam. Lalu berangkatlah Panglima Gimpan ke daerah Sungai Siak. Rupanya, mata-mata raja Aceh ada di kerajaan Gasib. Raja Aceh mengetahui bahwa di kerajaan tidak dijaga panglima yang terkenal sakti itu. Raja Aceh pun mengatur strategi jahatnya. Karena tidak mengetahui jalan kekerajaan Gasib, raja Aceh menemui seorang warga kerajaan di jalan. Bertanyalah Raja Aceh,”Hai, Anak muda, tahukah kamu jalan menuju kerajaan Gasib?” Karena melihat pasukan yang ramai berarti ingin menyerang kerajaan Gasib, pemuda inipun menjawab dengan berbohong, “Ampun Tuanku, hamba tidak mengetahui jalan menuju kerajaan Gasib. Hamba penduduk baru negeri ini.” Raja Aceh tahu kalau pemuda itu berbohong, dipanggillah pengawalnya untuk

menghajar pemuda itu. Karena tak tahan, pemuda itu pun kemudian menunjukkan jalan menuju kerajaan Gasib. Raja Aceh kemudian melanjutkan perjalanan menuju perkampungan sekitar kerajaan. Pasukannya membunuh setiap warga yang ia temui di jalan yang dilaluinya. Sungguh, perbuatannya teramat kejam. Akhirnya, sampailan mereka di istana. Raja Aceh pun berhasil menculik Putri Kaca Mayang. Melihat hal ini, Raja Gasib tidak bisa berbuat apa-apa karena ini semua di luar dugaannya. Berita ini pun kemudian sampai di telinga Panglima Gimpam. Bukan main marah dan murkanya panglima Gimpam. Panglima pun segera menuju kerajaan. Betapa sedih dan dendamnya panglima Gimpam, negerinya dirusak oleh pasukan Raja Aceh. Panglima Gimpam pun bersumpah akan membalas dendam dan akan membawa sang putri kembali ke istana. Berangkatlah panglima Gimpam. Kedatangannya disambut dengan Raja Aceh rupanya dengan pengawalan dua ekor gajah yang sangat besar. Raja Aceh tidak mengetahui kehebatan panglima Gimpam yang bisa menundukkan hewan, hingga panglima berhasil masuk ke kerajaan Aceh. “Wahai raja Aceh kembalikan sang Putri kepada kami atau kerajaan ini akan porak-poranda!” “Baiklah akan saya kembalikan Putri Kaca Mayang!”kata Raja Aceh. “Kau memang hebat panglima Gimpam setelah kulihat denganmata kepalaku sendiri.” Raja Aceh yang mengakui juga kehebatan panglima Gimpam, akhirnya menyerahkan sang putri kepada panglima Gimpam yang dalam keadaan sakit akibat penculikan itu. Pulanglah panglima Gimpam bersama sang putri dan pasukannya. Dalam perjalanan, rupanya angin laut sangat kencang membuat Putri Kaca Mayang tidak bisa bernafas. Dari waktu ke waktu, sakitnya semakin parah. Putri pun berucap kepada panglima Gimpam sesampai mereka di sungai Kantan. Dengan suara lemahnya putri berkata, “Panglima aku sudah tidak kuat lagi menahan sakit ini sampai menuju istana. Sampaikan maafku pada ayahanda Gasib dan semua keluarga istana,” ucap sang putri dengan suara yang semakin parau. Belum sempat panglima Gimpam berucap sang putri memejamkan matanya. Putri Kaca Mayang menghembuskan nafas terakhirnya di perairan Sungai Kuantan. Betapa sedinya panglima Gimpam dan merasa bersalah tidak berhasil membawa Putri Kaca Mayang dalam keadaan hidup. Raja Gasib dan keluarga istana serta seluruh penduduk negri merasa berduka atas meninggalnya sang putri raja. Sang Putri Kaca Mayang akhirnya dimakamkan di dekat kerajaan Gasib. Sejak kehilangan putri tercintanya raja Gasib merasakan kesedihan yang dalam. Akhirnya raja Gasib memutuskan meninggalkan kerajaan, menyepi di gunung Ledeng, Malaka. “Wahai panglimaku, aku memutuskan akan meninggalkan kerajaan ini untuk mengapus bayang-bayang terhadap putriku tercinta. Maka aku akan menyepi ke Gunung Ledeng. Jagalah kerajaan ini dengan bai!” begitu titah terakhir sang Raja kepada Panglima Gimpam. Panglima Gimpam sangat bersedih karena Raja Gasib akan meninggalkan kerajaan. ”Baginda raja, kalau itu keputusan Baginda. Hamba akan laksanakan amanah yang Baginda berikan dan akan hamba jaga dengan baik kerajaan ini,” kata Gimpam. Sementara kerajaan dititipkan kepada panglima kepercayaannya, pergilah raja Gasib menuju penyepiannya. Sekian lama ditinggalkan raja Gasib yang tak kunjung kembali dan kerajaan juga aman maka Panglima Gimpam pun mengambil keputusan akan meninggalkan kerajaan juga. Walaupun kerajaan itu sudah dititpkan padanya, tetapi Panglima tidak mau mengambil kesempatan menguasai kerajaan. Panglima Gimpam tidak mau bahagia di atas penderitaan orang lain. Panglima Gimpam membuka lahan baru, di sebuah perkampungan baru, yang dinamainya Pekanbaru. 5. Kepulauan Riau : Burung Tempua dan Burung Puyuh Di tanah Melayu pada zaman dahulu kala hiduplah seekor burung Tempua dan seekor burung Puyuh. Keduanya bersahabat akrab, tolong menolong dan menyayangi sejak lama. Pada siang hari mereka sehilir semudik mencari makan bersama-sama. Suka dan duka selalu bersama. Kalau hujan sama berteduh, kalau panas sama bernaung. Mereka berpisah hanya jika pada malam hari. Dalam semua hal mereka sepakat, namun dalam hal bersarang mereka berbeda pendapat. Suatu hari mereka bercakap tentang sarang burung yang terbaik. Menurut Tempua, sarangnya nyaman dan aman, sementara puyuh menceritakan sarangnya yang praktis. “Aku memiliki sarang yang cantik. Sarangku terbuat dari helaian alang-alang dan rumput kering. Helaian itu dijalin dengan rapi sehingga tidak akan basah saat hujan, dan tidak akan kepanasan di kala terik. Aku menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk membuatnya,” kata Tempua. Sarang Tempua tergantung tinggi di atas pohon walaupun ada yang agak rendah. Jika rendah maka pasti di dekatnya ada sarang ular, lebah atau penyengat. Tempua berlindung pada hewan-hewan tersebut. Kalau Tempua bersarang rendah, pastilah ada yang menjaganya. Orang Melayu mengatakan,

“kalau tidak ada berada, takkan mungkin Tempua bersarang rendah.” Hanya karena keberadaan sesuatu hal (penjaga) maka Tempua mau bersarang di dahan rendah. Berbeda dengan Tempua, sarang burung Puyuh lebih praktis. Puyuh merasa tak perlu menghabiskan waktunya untuk membuat sarang. Puyuh cukup mencari batang pohon yang tumbang untuk berlindung di bawahnya. Jika tidak aman, Puyuh akan berpindah ke tempat lain lagi. “Dengan sarang berpindah-pindah, musuh tidak tahu keberadaanku pada malam hari,” kata Puyuh. Akhirnya mereka sepakat untuk mencoba sarang masing-masingnya. Malam pertama, Puyuh mencoba sarang Tempua. Dengan susah payah Puyuh memanjat pohon sarang Tempua tergantung. Sesampai di sarang Tempua, Puyuh terkagum-kagum melihat sarang Tempua yang nyaman, kering dan bersih serta rapi. Kemudian, malam pun berlarut, Puyuh merasa haus dan meminta minum kepada Tempua. “Maaf kawan. Tidak mungkin aku terbang dan turun mencari air karena keadaan gelap gulita,” kata Tempua. Puyuh pun tertidur dalam kehausan. Tak lama ketika Puyuh dan Tempua tidur pulas, tiba-tiba angin bertiup kencang. Pohon tempat sarang Tempua pun bergoyang-goyang seakan-akan mau tumbang. Sarang Tempua pun terayun-ayun. Puyuh ketakutan sekali dan seakan-akan mau muntah karena terombang-ambing. “Tenanglah kawan, kita tidak akan jatuh,” kata Tempua menghibur. Tak lama angin pun reda. Keesokan harinya mereka bangun pagi-pagi sekali. Puyuh berkata, “kawan, aku tak mau lagi tidur di sarangmu. Aku takut jatuh lagi pula aku tidak bisa menahan haus.” Tempua diam saja dan memaklumi alasan Puyuh. Mereka pun kembali bersama-sama mencari makan siang hari itu. Setelah hari mulai gelap, Puyuh mengajak Tempua mencari pohon tumbang untuk dijadikan tempat bermalam karena malam ini giliran Tempua yang mencoba sarang Puyuh. Setelah mencari, akhirnya ditemukan pohon tumbang di dekat air mengalir. Sangat cocok bagi Puyuh. “Puyuh, dimana kita akan tidur?” tanya Tempua karena ia tidak melihat sarang untuk tidur mereka. “Disini, kita akan berlindung di bawah pohon ini,” jawab Puyuh. Tempua merasa tidak nyaman, tetapi mengikuti apa yang dilakukan Puyuh. Tak lama kemudian, Puyuh sudah tertidur pulas sedangkan Tempua masih gelisah dan mondarmandir saja. Tiba-tiba hujan turun, membasahi tempat Puyuh dan Tempua tidur. “Puyuh, aku kedinginan,” kata Tempua. “Tidak apa-apa, kalau hujan reda tentu tidak akan kedinginan lagi,” jawab Puyuh. Keesokan harinya Tempua mengeluh pada Puyuh bahwa ia tidak bisa tidur di sarang Puyuh. Ternyata mereka masing-masing tidak cocok dengan sarang kawannya. Mereka akhirnya memahami bahwa setiap makhluk mempunyai kesukaan dan kebiasaan yang tidak bisa dipaksakan. Walaupun berbeda begitu, mereka saling menghargai perbedaan dan pendapat itu sebagai hal yang wajar. Keduanya juga tetap bersahabat.

6. JAMBI : Asal Usul Raja Negeri Jambi
Pada zaman dahulu, wilayah Negeri Jambi terdiri dari lima buah desa dan belum memiliki seorang raja. Desa tersebut adalah Tujuh Koto, Sembilan Koto, Petajin, Muaro Sebo, dan Batin Duo Belas. Dari kelima desa tersebut, Desa Batin Duo Belaslah yang paling berpengaruh. Semakin hari penduduk kelima desa tersebut semakin ramai dan kebutuhan hidup mereka pun semakin berkembang. Melihat perkembangan itu, maka muncullah suatu pemikiran di antara mereka bahwa hidup harus lebih teratur, harus ada seorang raja yang mampu memimpin dan mempersatukan mereka. Untuk itu, para sesepuh dari setiap desa berkumpul di Desa Batin Duo Belas yang terletak di kaki Bukit Siguntang (sekarang Dusun Mukomuko) untuk bermusyawarah. ”Sebelum kita memilih seorang raja di antara kita, bagaimana kalau terlebih dahulu kita tentukan kriteria raja yang akan kita pilih. Menurut kalian, apa kriteria raja yang baik itu?” tanya sesepuh dari Desa Batin Duo Belas membuka pembicaraan dalam pertemuan tersebut. ”Menurut saya, seorang raja harus memiliki kelebihan di antara kita,” jawab sesepuh dari Desa Tujuh Koto. ”Ya, Benar! Seorang raja harus lebih kuat, baik lahir maupun batin,” tambah sesepuh dari Desa Petajin. ”Saya sepakat dengan pendapat itu. Kita harus memilih raja yang disegani dan dihormati,” sahut sesepuh dari Desa Muaro Sebo. ”Apakah kalian semua setuju dengan pendapat tersebut?” tanya sesepuh dari Desa Batin Duo Belas. ”Setuju!” jawab peserta rapat serentak. Akhirnya, mereka bersepakat tentang kriteria raja yang akan mereka pilih, yakni harus memiliki kelebihan di antara mereka.

”Tapi, bagaimana kita dapat mengetahui kelebihan masing-masing di antara kita?” tanya sesepuh dari Desa Sembilan Koto. ”Kalau begitu, setiap calon pemimpin harus kita uji kemampuannya,” jawab sesepuh Desa Batin Duo Belas. ”Bagaimana caranya?” tanya sesepuh Desa Petajin penasaran. ”Setiap calon harus melalui empat ujian, yaitu dibakar, direndam di dalam air mendidih selama tujuh jam, dijadikan peluru meriam dan ditembakkan, dan digiling dengan kilang besi. Siapa pun yang berhasil melalui ujian tersebut, maka dialah yang berhak menjadi raja. Apakah kalian setuju?” tanya sesepuh Desa Batin Duo Belas. Semua peserta rapat setuju dan siap untuk mencari seorang calon raja. Mereka bersepakat untuk melaksanakan ujian tersebut dalam tiga hari kemudian di Desa Batin Duo Belas. Dengan penuh semangat, seluruh sesepuh kembali ke desa masing-masing untuk menunjuk salah seorang warganya untuk mewakili desa mereka dalam ujian tersebut. Tentunya masing-masing desa berharap memenangkan ujian tersebut. Oleh karena itu, mereka akan memilih warga yang dianggap paling sakti di antara mereka. Waktu pelaksanaan ujian pun tiba. Semua warga dari kelima desa telah berkumpul di Desa Batin Duo Belas untuk menyaksikan lomba adu kesaktian yang mendebarkan itu. Setiap desa telah mempersiapkan wakilnya masing-masing. Sebelum perlombaan dimulai, peserta yang akan tampil pertama dan seterusnya diundi terlebih dahulu. Setelah diundi, rupanya undian pertama jatuh kepada utusan dari Desa Sembilan Koto. Wakil desa itu pun masuk ke tengah gelanggang untuk diuji. Ia pun dibakar dengan api yang menyala-nyala, tapi tubuhnya tidak hangus dan tidak kepanasan. Ujian kedua, ia direndam di dalam air mendidih, namun tubuhnya tidak melepuh sedikit pun. Ujian ketiga, ia dimasukkan ke dalam mulut meriam lalu disulut dengan api dan ditembakkan. Ia pun terpental dan jatuh beberapa depa. Ia segera bangun dan langsung berdiri tegak seperti tidak terjadi apa-apa. Seluruh penonton kagum menyaksikan kehebatan wakil dari Desa Sembilan Koto itu. Ketika memasuki ujian terakhir, tiba-tiba suasana menjadi hening. Seluruh penonton menjadi tegang, karena ujian yang terakhir ini adalah ujian yang paling berat. Jika kesaktian wakil dari Desa Sembilan Koto itu kurang ampuh, maka seluruh tulangnya akan hancur dan remuk. Ternyata benar, belum sempat penggilingan itu menggiling seluruh tubuhnya, orang itu sudah meraung kesakitan, karena tulang-tulangnya hancur dan remuk. Penggilingan pun segera dihentikan. Wakil dari Desa Sembilan Koto itu dinyatakan tidak lulus ujian dan gagal menjadi raja Jambi. Ujian berikutnya jatuh kepada wakil dari Desa Tujuh Koto. ”Wakil dari Desa Tujuh Koto dipersilahkan untuk memasuki gelanggang,” kata salah seorang panitia mempersilahkan. Setelah beberapa saat menunggu, wakil dari Desa Tujuh Koto belum juga maju. ”Mana wakil dari Desa Tujuh Koto? Ayo, maju!” seru salah seorang panitia. “Kalau tidak berani, lebih baik mundur saja!” tambahnya. Merasa dilecehkan oleh panitia, calon dari Desa Tujuh Koto pun segera maju. “Siapa takut? Kami dari Desa Tujuh Koto dak kenal kato undur, dak kenal kato menyerah!” seru wakil Desa Tujuh Koto itu dengan nada menantang. Calon raja dari Desa Tujuh Koto pun diuji. Ia berhasil melalui ujian pertama hingga ujian ketiga. Namun, ia gagal pada ujian keempat. Akhirnya, ia pun gagal menjadi raja Jambi. Ujian berikutnya dihadapi oleh wakil dari Desa Batin Duo Belas, kemudian diikuti oleh Desa Petajin dan Muaro Sebo. Namun, wakil dari ketiga desa tersebut semuanya gagal melalui ujian keempat, yakni digiling dengan kilang besi. Oleh karena semua wakil dari kelima desa tersebut gagal melalui ujian, maka mereka pun kembali mengadakan musyawarah. “Bagaimana kalau kita mencari calon raja Jambi dari negeri lain?” usul sesepuh dari Desa Batin Duo Belas. Usulan tersebut diterima oleh peserta rapat lainnya. Selanjutnya mereka mengutus dua wakil dari setiap desa untuk pergi mencari calon raja. Keesokan harinya, rombongan itu berangkat meninggalkan Negeri Jambi menuju ke negeri-negeri di sekitarnya. Di setiap negeri yang disinggahi, mereka menanyakan siapa yang bersedia menjadi raja Jambi dan tidak lupa pula mereka menyebutkan persyaratannya, yaitu harus mengikuti keempat ujian tersebut. Sudah berpuluh-puluh negeri mereka singgahi, namun belum menemukan seorang pun yang bersedia menjadi raja Jambi, karena tidak sanggup menjalani keempat ujian tersebut. Rombongan itu pun kembali mengadakan musyawarah. ”Kita kembali saja ke Negeri Jambi. Mustahil ada orang yang mampu memenuhi syarat itu untuk

menjadi raja Jambi,” keluh wakil Desa Petijan. ”Sabar, Saudara! Kita jangan cepat putus asa. Kita memang belum menemukan calon raja Jambi di beberapa negeri yang dekat ini. Tetapi, saya yakin bahwa di negeri jauh sana kita akan menemukan orang yang kita cari,” kata wakil Desa Muaro Sebo. ”Apa maksudmu?” tanya wakil Desa Petijan penasaran. ”Kita harus mengarungi samudera yang luas itu,” jawab wakil Desa Muaro Sebo dengan tenang. ”Kami setuju!” sahut wakil dari Desa Batin Duo Belas, Tujuh Koto, dan Sembilan Koto. ”Kalau begitu, kami juga setuju,” kata wakil Desa Petijan. Akhirnya, rombongan itu bertekat untuk mengarungi samudera di ujung Pulau Sumatra. Setelah mempersiapkan segala keperluan, berangkatlah rombongan itu dengan menggunakan dendang (perahu besar). Setelah berhari-hari diombang-ambing oleh gelombang laut di tengah samudera yang luas itu, mereka pun tiba di Negeri Keling (India). Mereka berkeliling di Negeri Keling yang luas itu untuk mencari orang yang bersedia menjadi Raja Negeri Jambi dengan ujian yang telah mereka tentukan. Semua orang yang mereka temui belum ada yang sanggup menjalani ujian berat itu. Pada suatu hari, mereka mendengar kabar bahwa di sebuah kampung di Negeri Keling, ada seseorang yang terkenal memiliki kesaktian yang tinggi. Akhirnya, mereka pun menemui orang sakti itu. ”Permisi, Tuan! Kami adalah utusan dari Negeri Jambi. Negeri kami sedang mencari seorang raja yang akan memimpin negeri kami, tapi dengan syarat harus lulus ujian. Apakah Tuan bersedia?” tanya salah seorang dari rombongan itu sambil menceritakan ujian yang harus dijalani calon raja itu. ”Saya sanggup menjalani ujian itu,” jawab orang itu. Rombongan itu segera membawa calon raja itu pulang ke Negeri Jambi. Setelah menempuh perjalanan selama berminggu-minggu, tibalah mereka di Negeri Jambi. Orang sakti itu disambut gembira oleh rakyat Jambi. Mereka berharap bahwa calon yang datang dari seberang lautan itu benar-benar orang yang sakti, sehingga lulus dalam ujian itu dan menjadi raja mereka. Keesokan harinya, orang sakti itu pun diuji. Seperti halnya calon-calon raja sebelumnya, orang sakti itu pertama-tama dibakar dengan api yang menyala-nyala. Orang Keling itu benar-benar sakti, tubuhnya tidak hangus, bahkan tidak satu pun bulu romanya yang terbakar. Setelah diuji dengan ujian kedua dan ketiga, orang itu tetap tidak apa-apa. Terakhir, orang itu akan menghadapi ujian yang paling berat, yang tidak sanggup dilalui oleh calon-calon raja sebelumnya, yaitu digiling dengan kilang besi yang besar. Pada saat ujian terakhir itu akan dimulai, suasana menjadi hening. Penduduk yang menyaksikan menahan napas. Dalam hati mereka ada yang menduga bahwa seluruh tubuh orang itu akan hancur dan remuk. Ini adalah saat-saat yang mendebarkan. Ujian terakhir itu pun dimulai. Pertama-tama, kedua ujung jari-jari kaki orang Keling itu dimasukkan ke dalam kilang besi. Kilang mulai diputar dan sedikit demi sedikit tubuh orang Keling itu bergerak maju tertarik kilang besi yang berputar. Semua penduduk yang menyaksikannya menutup mata. Mereka tidak sanggup melihat tubuh orang Keling itu remuk. Namun apa yang terjadi? Mereka yang sedang menutup mata tidak mendengarkan suara jeritan sedikit pun. Tetapi justru suara ledakan dahsyatlah yang mereka dengarkan. Mereka sangat terkejut saat membuka mata, kilang besi yang besar itu hancur berkeping-keping, sedangkan orang Keling itu tetap tidak apa-apa, bahkan ia tersenyum sambil bertepuk tangan. Penduduk yang semula tegang ikut bergembira, karena berhasil menemukan raja yang akan memimpin mereka. Seluruh penduduk dari Desa Tujuh Koto, Sembilan Koto, Muaro Sebo, Petajin, dan Batin Duo Belas segera mempersiapkan segala keperluan untuk membangun sebuah istana yang bagus. Selain itu, mereka juga mempersiapkan bahan makanan untuk mengadakan pesta besar-besaran untuk meresmikan penobatan Raja Negeri Jambi. Beberapa bulan kemudian, berkat kerja keras seluruh warga, berdirilah sebuah istana yang indah dan orang Keling itu pun dinobatkan menjadi raja Jambi.

7. Sumatra Selatan :
Putri Bongsu Alang. Di daerah Sumatera Selatan tepatnya di tepi Sungai Bilah hiduplah seorang putri yang cantik bernama Bongsu Alang. Kecantikan putri Bongsu Alang semakin bersinar dengan kepribadiannya yang mulia sehingga semua orang menyayanginya. Kecantikan putri ini tersiar hingga ke mana-mana dan sampai ke telinga Raja Nulong. Kemudian raja Nulong mengutus seorang patih untuk datang menemui Putri Bongsu Alang. Kedatangan patih bermaksud untuk menyampaikan pesan Raja Nulong yang ingin mengambilnya sebagai permaisuri.

Putri Bongsu Alang mengajukan sebuah syarat yaitu Raja Nulong harus dapat memetik tujuh buah jeruk purut dan dipetik dengan menggunakan kaki. meskipun sulit namun Raja Nulong sudah bertekad untuk menjadikan Putri Bongsu Alang sebagai istrinya. Setelah beberapa hari akhirnya Raja Nulong berhasil memetik tujuh buah jeruk purut dengan menggunakan kaki. jeruk purut itu lalu diletakkan di dalam ruas bambu dan diberikan kepada Putri Bongsu Alang. Sang putri merasa senang dan menerima pinangan raja Nulong. Akhirnya pernikahan pun dilangsungkan dan putri Bongsu Alang diboyong ke istana untuk menjadi permaisuri. Walaupun telah tinggal di istana namun permaisuri tidak menjadi sombong, dia malah sangat berbaik hati kepada semua rakyat. Kecerdasannya dalam menyelesaikan masalah istana dan masyarakat membuat rakyat mencintai Permaisuri Bongsu Alang. Rakyat hidup dengan makmur dan sejahtera. Di dalam istana Permaisuri memiliki seorang dayang yang di percaya mengurusi semua keperluannya nama dayang tersebut adalah Jebak Jabir. Dayang ini merasa iri kepada Permaisuri dan bermaksud ingin mencelakakannya. Pada suatu hari Permaisuri Bongsu Alang mengajak Dayang Jebak Jabir untuk mandi di sungai. Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Jebak Jabir. Ketika sedang asyik bermain air, Jebak Jabir mengajak Permaisuri Bongsu Alang untuk mandi di tempat yang lebih dalam. Jebak Jabir berjanji akan menjaga permaisuri. Tanpa berprasangka apa-apa permaisuri pun mandi ke tempat yang lebih dalam, ketika itulah Jebak Jabir mendorong permaisuri hingga tenggelam. Permaisuri yang tidak bisa berenang merasa ketakutan dan akhirnya tenggelam. Jebak Jabir lalu memakai pakaian permaisuri dan pulang ke istana dan berpura-pura menjadi permaisuri Bongsu Alang. Perawakan Jebak Jabir memang sangat mirip dengan Permaisuri, wajah dan bentuk tubuhnya sangat mirip seperti kembar adanya. Hanya saja Jebak Jabir memiliki kulit yang lebih hitam dari Permaisuri. Hal ini tidak menimbulkan kecurigaan Raja Nulong. Ketika Jebak Jabir pulang ke istana dia berpura-pura menangis dan mengatakan kalau Jebak Jabir tenggelam di sungai. Raja Nulong yang tidak mengetahui hal ini berusaha menghibur permaisuri palsu. Lalu tinggallah Jebak Jabir di istana sebagai permaisuri dan tidak ada yang curiga terhadapnya. Hingga pada suatu hari Raja Nulong berjalan-jalan di tepi sungai, ketika itu Raja Nulong menemukan bambu yang berisi jeruk purut pemberiannya kepada Permaisuri Bongsu Alang ketika ingin meminangnya dahulu. Raja Nulong merasa sedih karena menganggap bahwa permaisuri telah melupakan pemberian itu. Pada ketika itulah terdengar angin berbisik dan membunyikan suara seorang wanita. Suara tersebut memberitahu kepada Raja Nulong bahwa Jebak Jabir adalah permaisuri palsu. Suara itu tidak lain adalah suara Permaisuri Bongsu Alang yang telah berubah menjadi sebatang pohon rindang di tepi sungai. Mendengar bisikan angin tersebut Raja Nulong sadar kalau dia telah ditipu. Kemudian raja Nulong segera pulang ke istana dan menemui Jebak Jabir. Mengetahui kalau penyamarannya telah di ketahui raja, Jebak Jabir menggigil ketakutan dan menceritakan kejadian sebenarnya. Mendengar cerita itu raja Nulong marah dan memerintahkan bawahannya untuk menangkap Jebak Jabir dan memberi hukuman setimpal atas kesalahannya. Seluruh rakyat yang mendengar cerita itu menjadi sedih, mereka berdoa agar permaisuri bisa kembali menjadi manusia. Karena permaisuri memiliki hati yang mulia maka ia pun berubah menjadi manusia dan kembali ke istana. Permaisuri hidup bahagia bersama raja Nulong. Pohon tempat Permaisuri di namai pohon Kayu Si Alang. Lama-kelamaan menjadi kayu Tualang dan desa itu kini bernama desa Tualang.

8. Bujang Katak (Cerita Rakyat Bangka Belitung)

Alkisah, di sebuah dusun di daerah Bangka, Provinsi Bangka-Belitung (Babel), hidup seorang perempuan tua yang sangat miskin. Ia tinggal seorang diri di sebuah gubuk reot yang terletak di kaki bukit. Ia tidak memiliki sanak saudara. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia menggarap sebidang tanah (ladang) warisan orang tuanya. Pada suatu ketika, musim tanam tiba. Seluruh warga dusun sibuk bekerja di ladang masingmasing, tidak terkecuali perempuan tua itu. Namun karena tubuhnya sudah lemah, ia sebentarsebentar beristirahat untuk melepas lelah. Ketika sedang duduk beristirahat, tiba-tiba ia beranganangan ingin mempunyai anak. “Seadainya aku mempunyai anak tentu aku tidak secapek ini bekerja. Bagaimana jadinya nanti kalau aku sudah tidak mampu lagi bekerja. Siapa yang akan menggarap ladang ini?” pikirnya.

Setelah itu, ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Menjelang siang hari, ia kembali ke gubuknya untuk beristirahat. Pada malam harinya, cuaca tampak terang, ia duduk-duduk di depan gubuknya. Pandangan matanya menerawang ke langit. Ia kembali berangan-angan ingin mempunyai anak. Perempuan tua itu segera menengadahkan kedua tangannya ke atas lalu berdoa, “Ya, Tuhanku! Berilah hamba seorang anak, walaupun hanya berbentuk katak.” Berselang tiga hari kemudian, perempuan tua itu merasakan ada sesuatu yang aneh di dalam perutnya. “Ya Tuhan! Ada apa di dalam perutku ini. Sepertinya ada benda yang bergerak-gerak,” ucap perempuan itu sambil mengelus-elus perutnya. Rupanya, ia sedang mengandung. Tuhan telah mengabulkan doanya. Alangkah bahagianya hati perempuan tua itu. Semakin hari perutnya pun tampak semakin membesar. Para penduduk dusun pun bertanya-tanya mengenai kehamilan perempuan tua itu. “Bagaimana si tua renta itu bisa hamil? Bukankah dia itu tidak mempunyai suami?” kata seorang penduduk. “Wah, jangan-jangan dia telah berbuat tidak senonoh di dusun ini,” sahut seorang warga lainnya. Demikian, perempuan itu setiap hari menjadi bahan pembicaraan para penduduk. Pada suatu malam, perempuan itu berteriak-teriak meminta tolong karena mengalami sakit perut yang luar biasa. Mendengar teriakan itu, para warga pun berdatangan hendak menolongnya. Namun, baru saja sampai di depan gubuk perempuan tua itu, mereka mendengar suara tangis bayi. Alangkah terkejutnya mereka ketika masuk ke dalam gubuk. Ternyata perempuan tua itu telah melahirkan seorang anak yang bentuk dan kulitnya seperti katak. “Hei, Perempuan Tua! Bagaimana hal ini bisa terjadi?” tanya seorang warga heran. “Iya. Apakah kamu telah berhubungan badan dengan katak?” tanya warga lainnya dengan nada mengejek. Perempuan itu pun menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya hingga ia bisa melahirkan anak berbentuk seekor katak. Setelah mendengar penuturan si perempuan tua itu, para warga pun kembali ke rumah masing-masing. Sementara perempuan tua itu tetap menerima kenyataan dengan perasaan suka-cita. Ia sadar bahwa kenyataan yang dialaminya adalah permintaannya sendiri. Ia pun merawat dan membesarkan bayinya dengan penuh kasih sayang. Waktu terus berjalan. Anak yang mirip katak itu tumbuh menjadi dewasa. Penduduk dusun memanggilnya Bujang Katak. Ia adalah pemuda yang rajin. Sejak kecil ia tidak pernah pergi ke manamana, kecuali membantu ibunya bekerja di ladang, sehingga ia tidak mengetahui situasi dan kehidupan di sekelilingnya. Ibunya pun tidak pernah bercerita kepadanya. Pada suatu hari, Bujang Katak meminta ibunya agar bercerita kepadanya tentang keadaan di negeri itu. “Anakku, ketahuilah! Negeri ini diperintah oleh seorang raja yang mempunyai tujuh putri yang cantik dan rupawan. Ketujuh putri raja tersebut belum seorang pun yang menikah,” cerita sang Ibu. Sejak mendengar cerita ibunya itu, Bujang Katak selalu tampak murung membayangkan kecantikan ketujuh putri sang Raja. Dalam hatinya, ia ingin sekali mempersunting salah seorang dari mereka. Namun, ia tidak berani mengungkapkan perasaan tersebut kepada ibunya. Pada suatu sore, sang Ibu melihatnya sedang duduk termenung seorang diri di depan gubuknya. “Apa yang sedang kamu pikirkan, Anakku? Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?” tanya sang Ibu sembari duduk di samping anaknya. “Benar, Bu!” jawab Bujang Katak singkat. “Apakah itu, Anakku? Katakanlah!” desak ibunya. “Bu, bukankah aku sekarang sudah dewasa? Aku ingin mempunyai seorang pendamping hidup. Sudikah Ibu meminang salah seorang putri raja untukku?” pinta Bujang Katak. Betapa terkejutnya sang Ibu mendengar permintaan anaknya itu. Baginya, permintaan itu sangatlah berat. “Sungguh berat permintaanmu itu, Anakku! Kita ini orang miskin. Mustahil dari tujuh putri raja tersebut ada yang mau menikah denganmu, apalagi melihat kondisimu seperti ini,” ujar sang Ibu. “Tapi, Bu! Sebaiknya Ibu mencobanya dulu. Siapa tahu salah seorang di antara mereka ada yang mau menerima lamaranku,” desak Bujang Katak. Oleh karena sayang kepada putranya, sang Ibu pun menyanggupi permintaan itu. Keesokan harinya, berangkatlah sang Ibu seorang diri ke istana hendak melamar salah seorang putri raja. Sesampainya di istana, ia pun disambut dengan baik oleh sang Raja. “Hai, Perempuan Tua! Kamu siapa dan apa maksud kedatanganmu kemari?” tanya sang Raja.

Namun karena tidak berani berkata terus terang, Ibu Bujang Katak menjawabnya dengan pantun. “Te... sekate menjadi gelang. Pe... setempe nek madeh pesan urang” Sang Raja yang mengerti maksud pantun itu kembali bertanya kepada perempuan itu. “Apakah engkau ingin meminang salah seorang putriku?” “Be... be... benar, Baginda! Hamba mohon ampun atas kelancangan hamba. Kedatangan hamba kemari ingin menyampaikan pinangan putra hamba yang bernama Bujang Katak kepada salah seorang putri Baginda,” jawab perempuan itu gugup. “Ooo, begitu! Baiklah, aku akan menanyakan dulu hal ini kepada ketujuh putriku,” kata sang Raja. Sang Raja pun segera memanggil ketujuh putrinya untuk menghadap. Setelah mengetahui maksud kedatangan perempuan itu, para putri Raja bukannya memberikan jawaban dengan kata-kata sopan, melainkan memperlakukan perempuan itu dengan tindakan kasar. Satu per satu mereka maju meludahi kepala perempuan tua itu. Hanya Putri Bungsu yang tidak melakukan hal itu. Hatinya tidak tega melihat kakak-kakaknya berlaku kasar kepada perempuan tua itu. Namun, ia juga tidak berani mengatakan bahwa ia sebenarnya bersedia menerima pinangan tersebut, karena takut kepada sang Raja. Ibu Bujang Katak pun pulang dengan perasaan sedih. Sesampainya di gubuk, ia segera menceritakan semua kejadian yang dialaminya di istana kepada Bujang Katak. Mendengar cerita ibunya tersebut, Bujang Katak merasa yakin bahwa Putri Bungsu sebenarnya bersedia menerima pinangannya. “Besok Ibu harus kembali ke istana untuk menemaniku menghadap sang Raja. Aku yakin Putri Bungsu akan menerima pinanganku, karena dialah satu-satunya yang tidak meludahi kepala Ibu,” kata Bujang Katak dengan nada sedikit memaksa. Keesokan harinya, Bujang Katak bersama ibunya berangkat ke istana. Alangkah terkejutnya sang Raja saat melihat Bujang Katak yang datang bersama ibunya. “Hei, perempuan tua! Apakah ini anakmu yang bernama Bujang Katak itu?” tanya sang Raja. “Benar, Baginda,” jawab ibu Bujang Katak. “Ha... ha..., pantas saja ia dinamakan Bujang Katak! Bentuknya mirip seperti katak,” ucap sang Raja mengejek. Setelah itu, sang Raja pun segera memanggil ketujuh putrinya dan menanyakan apakah mereka bersedia menikah dengan si manusia katak. Namun, dengan sombongnya, para putri Raja satu per satu meludahi kepala Bujang Katak, kecuali si Putri Bungsu. Melihat sikap putri bungsunya itu, sang Raja pun bertanya kepadanya. “Hei, Putriku! Kenapa kamu diam saja? Apakah kamu bersedia menikah dengan manusia katak itu?” “Ampun, Ayahanda! Jika Ayahanda merestui, Ananda bersedia menjadi istri Bujang Katak,” jawab Putri Bungsu. Alangkah terkejutnya sang Raja mendengar jawaban putrinya itu. Ia pun segera meminta nasehat kepada menteri penasehat Raja. Rupanya, menteri penasehat Raja setuju jika Putri Bungsu menikah dengan Bujang Katak. “Baiklah, manusia katak! Kamu boleh menikah dengan putriku, asalkan sanggup memenuhi satu syarat,” kata sang Raja. “Apakah syarat itu, Baginda?” tanya Bujang Katak penasaran. “Kamu harus membuat jembatan emas yang panjangnya mulai dari gubukmu sampai pintu gerbang istana ini. Apakah kamu sanggup menerima syaratku ini?” tanya sang Raja. `Hamba sanggup, Baginda!” jawab Bujang Katak. “Tapi, ingat! Jembatan emas itu harus terwujud dalam waktu satu minggu. Jika tidak, maka hukuman mati yang akan kamu dapatkan,” ancam sang Raja. Bujang Katak pun tidak gentar terhadap ancaman sang Raja. Dengan perasaan gembira, ia bersama ibunya segera kembali ke gubuknya. Sesampainya di gubuk, sang Ibu kebingungan memikirkan cara untuk memenuhi permintaan sang Raja tersebut. Ia tidak ingin kehilangan anak yang sangat disayanginya itu. “Anakku! Bagaimana kita dapat mewujudkan permintaan Raja, sementara kita ini orang miskin?” tanya sang Ibu bingung. “Tenang, Bu! Aku akan pergi bertapa di suatu tempat yang sepi. Jika Yang Mahakuasa menghendaki, apapun bisa terjadi,” jawab Bujang Katak dengan penuh keyakinan. Pada saat hari mulai gelap, Bujang Katak ditemani ibunya pergi ke suatu tempat yang sepi di tengah hutan untuk bertapa. Sudah enam hari enam malam ia dan ibunya bertapa, namun belum juga menemukan tanda-tanda akan datangnya keajaiban. Pada malam ketujuh, keajaiban itu pun tiba.

Seluruh tubuh Bujang Katak memancarkan sinar berwarna kekuning-kuningan. Kulit katak yang menyelimuti seluruh tubuhnya sedikit demi sedikit mengelupas. Secara ajaib, Bujang Katak pun berubah menjadi pemuda yang tampan dan gagah. Kemudian ia membakar kulit katak pembalut tubuhnya itu. Maka seketika itu pula, kulit katak tersebut menjelma menjadi tumpukan emas batangan. Dengan perasaan gembira, Bujang Katak bersama ibunya segera menyusun emas batangan tersebut dari gubuknya hingga pintu gerbang istana. Dalam waktu semalam, terwujudlah sebuah jembatan emas seperti yang diminta oleh sang Raja. Keesokan harinya, istana menjadi gempar. Sang Raja beserta seluruh keluarga istana yang mengetahui keberadaan jembatan emas itu segera berlari menuju ke arah pintu gerbang istana. Sang Raja sangat kagum melihat keindahan jembatan emas itu. Batangan-batangan emas yang diterpa sinar matahari pagi tersebut memancarkan sinar kekuning-kuningan. Beberapa saat kemudian, dari kejauhan tampak seorang perempuan tua berjalan beriringan dengan seorang pemuda tampan dan gagah sedang menuju ke arah tempat mereka berdiri. “Hei, Pengawal! Siapa kedua orang itu?” tanya sang Raja kepada pengawalnya. “Ampun, Baginda! Bukankah perempuan tua itu ibunya Bujang Katak? Tapi, Baginda, hamba tidak mengenal siapa pemuda yang sedang berjalan bersamanya itu,” jawab seorang pengawal. Ketika perempuan tua dan pemuda itu sampai di depannya, sang Raja pun segera bertanya, “Hei, perempuan tua! Siapa pemuda itu?” “Dia Bujang Katak, putra hamba,” jawab perempuan tua itu lalu menceritakan semua peristiwa yang dialami Bujang Katak hingga ia bisa berubah menjadi pemuda yang tampan. Bujang Katak pun segera berlutut memberi hormat kepada sang Raja. “Ampun, Baginda! Hamba ini Bujang Katak,” kata Bujang Katak. Betapa terkejutnya sang Raja beserta seluruh keluarga istana. Mereka benar-benar tidak pernah mengira sebelumnya jika Bujang Katak adalah seorang pemuda yang gagah dan tampan. “Baiklah, Bujang Katak! Karena kamu telah memenuhi persyaratanku, maka sesuai dengan janjiku, aku akan menikahkanmu dengan putri bungsuku,” kata sang Raja. Beberapa hari kemudian, pesta pernikahan Bujang Katak dengan Putri Bungsu dilangsungkan selama tujuh hari tujuh malam. Para undangan yang datang dari penjuru negeri turut gembira dan bahagia menyaksikan pesta pernikahan tersebut. Namun, lain halnya dengan keenam kakak Putri Bungsu, mereka sangat sedih dan menyesal karena telah menolak pinangan Bujang Katak. Usai pesta perkawinan tersebut, keenam kakak Putri Bungsu memerintahkan kepada seorang pengawal istana untuk pergi menangkap katak di sawah. Mereka mengira bahwa Bujang Katak berasal dari katak biasa yang hidup di sawah. Tidak berapa lama, pengawal itu pun kembali dari sawah sambil membawa enam ekor katak. Setiap putri mendapat seekor katak, lalu membawanya masuk ke dalam kamar masing-masing dan memasukkannya ke dalam lemari dengan harapan katak-katak tersebut akan menjelma menjadi seorang pemuda tampan seperti Bujang Katak. Tujuh hari kemudian, keenam putri tersebut membuka lemari masing-masing. Namun malang nasib mereka, katak-katak tersebut bukannya menjelma menjadi pemuda tampan, melainkan mati dan sudah berulat karena tidak diberi makan. Bau busuk pun menyebar ke mana-mana. Keenam putri tersebut keluar dari kamarnya sambil muntah-muntah. Akhirnya seisi istana menjadi gempar. Seluruh penghuni istana turut muntah-muntah karena mencium bau busuk itu. Sang Raja pun menjadi murka melihat perbuatan keenam putrinya tersebut dan memberi hukuman kepada mereka, yaitu memerintahkan mereka untuk membersihkan kamar masing-masing dari bau busuk itu. Bujang Katak dan Putri Bungsu pun hanya tersenyum melihat kelakuan keenam kakaknya tersebut. Beberapa tahun kemudian. Sang Raja sudah tidak mampu lagi menjalankan tugas-tugas kerajaan karena usianya yang sudah semakian tua. Akhirnya, ia pun mengundurkan diri dan menobatkan Bujang Katak sebagai raja. Bujang Katak bersama istrinya memimpin negeri itu dengan arif dan bijaksana.

9. SAYEMBARA PANDAI TIDUR (Cerita Rakyat dari Bengkulu) Raja Jungur seorang raja yang bijak. Ia mempunyai seorang putri cantik dan berbudi luhur. Putri Serindu nama putri itu. Para pemuda berharap dapat menjadi suaminya. Namun, dengan alasan belum siap berumah tangga, Putri Serindu selalu menolak setiap pinangan yang datang. Raja Jungur sedih menghadapi itu. Ia yang semakin tua sudah sangat mengharapkan sekali mendapatkan seorang cucu lelaki yang akan mewarisi tahta kerajaan.

Suatu hari, Raja Jungur memerintahkan Perdana Menteri mengumpulkan pemuda seluruh negeri. Ia ingin mengadakan pesta selama seminggu. Dengan adanya acara itu, ia berharap sang Putri dapat memilih salah seorang pemuda sebagai calon suami. Namun sang Putri menolak menentukan itu. Penuh kasih dan kelembutan, Permaisuri meminta Putri Serindu memberikan alasan mengapa ia tak mau menentukan pemuda yang akan menjadi pendamping hidupnya. Ucap sang Putri, “Bunda, saya hanya akan menikah dengan seorang pemuda yang pandai tidur”. Segera Permaisuri menemui Raja dan menceritakan apa yang diinginkan Putri Serindu. Raja kemudian mengadakan sayembara untuk mendapatkan pemuda yang dingin putrinya. Lumang, pemuda yatim piatu, berniat mengikuti sayembara itu. Tetapi, ia tak bisa meninggalkan pekerjaannya sebagai tukang bubu. Jika istirahat menjual bubu, berarti tak ada penghasilan untuk membeli makanan. Ia akhirnya memutuskan untuk mengikuti sayembara sambil berdagang. Saat sayembara tiba. Para pemuda berkumpul di balairung istana. Tempat tidur yang jumlah banyak telah disiapkan. Lumang memasuki balairung sambil membawa bambu yang sudah diikat dengan rotan. Ia juga membawa baronang (sejenis keranjang yang dibawa dengan cara digendong di belakang dan talinya diikat di kepala). Baronang itu berisi rotan, parang, pisau, tempurung, dan perlengkapan lainnya untuk membuat bubu. Peserta lain tak ada yang dekat dengan Lumang, karena penampilan pemuda itu kotor. Sayembara dimulai. Para penonton menyaksikan para peserta tidur. Ada yang miring, menelungkup, terlentang, dan ada pula yang duduk. Sementara Lumang tak segera tidur. Ia memikirkan cara menyelesaikan pekerjaannya karena ia sudah tak punya uang lagi untuk membeli makanan. Lalu ia memutuskan untuk menyelesaikan sebuah bubu dulu sebelum tidur. Kokok ayam jantan terdengar, tanda pagi sudah tiba. Lumang sudah menyelesaikan bubunya. Karena sangat mengantuk sekali, pemuda itu merebahkan diri dan segera tertidur pulas. Putri Serindu memilih Lumang sebagai calon suaminya. Karena Lumang tidur setelah menyelesaikan pekerjaannya. Hasil pekerjaannya berguna untuk orang lain. Pesta pernikahan meriah lalu diadakan selama tujuh hari tujuh malam. Raja Jungur dan Permaisuri sangat bahagia. 10. ASAL MULA KERATUAN RATU MELINTING DAN KERATUAN RATU DARAH PUTIH (Cerita Rakyat Daerah Lampung ) Ratu Dipugung atau Ratu Galuh mempunyai dua orang anak laki-laki. Anak pertema bernama Seginder Alam dang yang kedua bernama Gayung Gerunggung. Seginder Alam mempunyai seorang anak gadis yang bernama Putri Sinar Kaca, sedangkan Gayung Gerunggung juga mempunai seorang anak gadis yang bernama Putri Sinar Alam. Kala itu datanglah Sultan Banten ke Lampung, ia melihat cahaya terang yang memenacar dari bumi ke langit. Sultan mendapat firasat bahwa di Pugung ada seorang putri yang dapat mengakibatkan hal baik jika menikah dengannya. Ratu Dipugung menunjukkan cucunya yaitu putri Seginder Alam yang tak lain adalah Putri Sinar Kaca. Dan kemudian Sultan pun menikahi Putri Sinar Kaca. Beberapa lama setelah Sultan menikahi Putri Sinar Kaca, Sultan memutuskan untuk kembali sementara ke Banten tanpa Putri Sinar Kaca. Belum lama Sultan berada di Banten, ia melihat kembali cahaya terang yang memenacar dari bumi ke langit seperti yang ia lihat sebelum menikahi Putri Sinar Kaca. Sang Sultan berkata dalam hatinya, "Jika demikian, tentu putri itu masih ada di Pugung (Lampung). Putri yang kunikahi ternyata bukanlah yang terlihat sinarnya itu." Oleh sebab itu, Sultan memutuskan untuk kembali ke Lampung, tujuannya bukan untuk menemui istrinya "Putri Sinar Kaca" tetapi akan mencari dan menikahi sesegera mungkin Putri yang terlihat sinarnya tadi. Setelah tiba di Pugung, ia terus berkata pada kakeknya yaitu Ratu Dipugung, bahwasanya yang dinikahinya itu bukanlah putri yang terlihat di dalam sinar yang dilihatnya. Ratu Dipugung lalu menunjukkan cucunya yang lain, putri Gayung Gerunggung yaitu Putri Sinar Alam. Akhirnya Sultan pun menikahinya. Beberapa lama setelah Sultan menikahi Putri Sinar Alam, Sultan memutuskan untuk kembali lagi sementara ke Banten tanpa Putri Sinar Alam. Beberapa lama sang Sultan berada di Banten, Putri Sinar Kaca melahirkan seorang putra yang diberi nama Kejalo Bidin. Dan kemudian Putri Sinar Alam pun melahirkan seorang putra yang bernama Kejalo Ratu. Kejalo Bidin dan Kejali Ratu tumbuh dan besar di Pugung Lampung. Saat mereka berdua bermain di halamn rumah mereka, mereka melihat tiga ekor burung perkutut yang hinggap di pelepah pohon kelapa, mereka memandang ketiga ekor burung perkutut tersebut dan berlari kepada ibu mereka untuk bertanya: ”Mengapa burung perkutut itu ada tiga ekor, biasanya hanya ada sepasang burung perkutut? Tanya Kejalo Bidin (anak Putri Sinar Kaca). Putri Sinar Kaca pun menjawab ”Yang di sebelah kiri adalah

induknya, di tengah adalah anaknya, dan di sebelah kanan adalah anaknya”. Kejalo Bidin pun kembali melontarkan kata-kata ”berarti kami pun mempunyai seorang ayah pula, siapa ayah kami Ibu??” Putri Sinar Kaca pun tidak berkenan menjelaskan kepada keduanya. Dengan bersikeras mereka berdua selalu memaksa Putri Sinar Kaca untuk menjelaskan kepada mereka yang akhirnya Putri Sinar Kaca pun menceritakan kepada mereka berdua bahwa ayah mereka adalah sama yaitu Sultan Banten. Setelah mereka tumbuh dewasa, mereka berdua pun memutuskan pergi ke Banten untuk menemui ayah mereka yaitu Sultan Banten. Tiba mereka di Banten dan bertemu Sultan Banten, Sultan Banten pun tidak langsung percaya pada pernyataan mereka berdua, dan sang Sultan memutuskan untuk menoreh pedangnya di dahi kedua bersaudara tersebut, jika darah putih yang keluar dari dahi mereka maka benar mereka berdua adalah putranya. Sang Sultan pun mencabut pedangnya dan menorehkannya ke dahi kedua bersaudara itu. Ternyata darah putih bercampur kemerahan keluar dari dahi Kejalo Bidin, sedangkan darah putih keluar dari dahi Kejalo Ratu. Sang Sultan pun langsung percaya dan yakin bahwa mereka berdua adalah putra kandungnya. Sultan pun memberikan gelar kepada kedua putra kandungnya. Kejalo Bidin diberi gelar ”MINAK KEJALO BIDIN”, sedangkan Kejalo Ratu diberi gelar ”MINAK KEJALO RATU DARAHPUTIH”. Mereka berdualah yang menjadi cikal bakal kebuaian Melinting dan kebuaian Ratu Darahputih. Minak Kejalo Bidin di Melinting dan Minak Kejalo Ratu Darahputih di Kalianda. Setelah bertahun-tahun sejak peristiwa itu, Ratu Dipugung meminta dua orang ini mendirikan keratuan baru di dalam keratuan Ratu Dipugung. Minak Kejalo Bidin diminta mendirikan keratuan di Melinting (Labuhanmaringgai) dan Minak Kejalo Ratu Darahputih di Kalianda. Keturunan Ratu Darahputih di Kalianda diantaranya adalah Raden Intan yang menjadi pahlawan nasional asal Lampung (perkiraannya Raden Intan keturunan yang ketujuh dari Minak Kejalo Ratu Darahputih).

11. SI PITUNG (cerita rakyat dari DKI JAKARTA) Si Pitung adalah seorang pemuda yang soleh dari Rawa Belong. Ia rajin belajar mengaji pada Haji Naipin. Selesai belajar mengaji ia pun dilatih silat. Setelah bertahun- tahun kemampuannya menguasai ilmu agama dan bela diri makin meningkat. Pada waktu itu Belanda sedang menjajah Indonesia. Si Pitung merasa iba menyaksikan penderitaan yang dialami oleh rakyat kecil. Sementara itu, kumpeni (sebutan untuk Belanda), sekelompok Tauke dan para Tuan tanah hidup bergelimang kemewahan. Rumah dan ladang mereka dijaga oleh para centeng yang galak. Dengan dibantu oleh teman-temannya si Rais dan Jii, Si Pitung mulai merencanakan perampokan terhadap rumah Tauke dan Tuan tanah kaya. Hasil rampokannya dibagi-bagikan pada rakyat miskin. Di depan rumah keluarga yang kelaparan diletakkannya sepikul beras. Keluarga yang dibelit hutang rentenir diberikannya santunan. Dan anak yatim piatu dikiriminya bingkisan baju dan hadiah lainnya. Kesuksesan si Pitung dan kawan-kawannya dikarenakan dua hal. Pertama, ia memiliki ilmu silat yang tinggi serta dikhabarkan tubuhnya kebal akan peluru. Kedua, orang-orang tidak mau menceritakan dimana si Pitung kini berada. Namun demikian orang kaya korban perampokan Si Pitung bersama kumpeni selalu berusaha membujuk orang-orang untuk membuka mulut. Kumpeni juga menggunakan kekerasan untuk memaksa penduduk memberi keterangan. Pada suatu hari, kumpeni dan tuan-tuan tanah kaya berhasil mendapat informasi tentang keluarga si Pitung. Maka merekapun menyandera kedua orang tuanya dan si Haji Naipin. Dengan siksaan yang berat akhirnya mereka mendapatkan informasi tentang dimana Si Pitung berada dan rahasia kekebalan tubuhnya. Berbekal semua informasi itu, polisi kumpeni pun menyergap Si Pitung. Tentu saja Si Pitung dan kawan-kawannya melawan. Namun malangnya, informasi tentang rahasia kekebalan tubuh Si Pitung sudah terbuka. Ia dilempari telur-telur busuk dan ditembak. Ia pun tewas seketika.Meskipun demikian untuk Jakarta, Si Pitung tetap dianggap sebagai pembela rakyat kecil. 12. Tangkuban perahu (Cerita Rakyat Jawa Barat) Beribu-ribu tahun yang lalu, tanah Parahyangan dipimpin oleh seorang raja dan seorang ratu yang hanya mempunyai seorang putri. Putri itu bernama Dayang Sumbi. Dia sangat cantik dan cerdas,

sayangnya dia sangat manja. Pada suatu hari saat sedang menenun di beranda istana, Dayang Sumbi merasa lemas dan pusing. Dia menjatuhkan pintalan benangnya ke lantai berkali-kali. Saat pintalannya jatuh untuk kesekian kalinya Dayang Sumbi menjadi marah lalu bersumpah, dia akan menikahi siapapun yang mau mengambilkan pintalannya itu. Tepat setelah kata-kata sumpah itu diucapkan, datang seekor anjing sakti yang bernama Tumang dan menyerahkan pintalan itu ke tangan Dayang Sumbi. Maka mau tak mau, sesuai dengan sumpahnya, Dayang Sumbi harus menikahi Anjing tersebut. Dayang Sumbi dan Tumang hidup berbahagia hingga mereka dikaruniai seorang anak yang berupa anak manusia tapi memiliki kekuatan sakti seperti ayahnya. Anak ini diberi nama Sangkuriang. Dalam masa pertumbuhannya, Sangkuring se lalu ditemani bermain oleh seekor anjing yang bernama Tumang yang dia ketahui hanya sebagai anjing yang setia, bukan sebagai ayahnya. Sangkuriang tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa. Pada suatu hari Dayang Sumbi menyuruh anaknya pergi bersama anjingnya untuk berburu rusa untuk keperluan suatu pesta. Setelah beberapa lama mencari tanpa hasil, Sangkuriang merasa putus asa, tapi dia tidak ingin mengecewakan ibunya. Maka dengan sangat terpaksa dia mengambil sebatang panah dan mengarahkannya pada Tumang. Setibanya di rumah dia menyerahkan daging Tumang pada ibunya. dayanng Sumbi yang mengira daging itu adalah daging rusa, merasa gembira atas keberhasilan anaknya. Segera setelah pesta usai Dayang Sumbi teringat pada Tumang dan bertanya pada pada anaknya dimana Tumang berada. Pada mulanya Sangkuriang merasa takut, tapa akhirnya dia mengatakan apa yang telah terjadi pada ibunya. Dayang Sumbi menjadi sangat murka, dalam kemarahannya dia memukul Sangkuriang hingga pingsan tepat di keningnya. Atas perbuatannya itu Dayang Sumbi diusir keluar dari kerajaan oleh ayahnya. Untungnya Sangkuriang sadar kembali tapi pukulan ibunya meninggalkan bekas luka yang sangat lebar di keningnya.Setelah dewasa, Sangkuriang pun pergi mengembara untuk mengetahui keadaan dunia luar. Beberapa tahun kemudian, Sangkuriang bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik. Segera saja dia jatuh cinta pada wanita tersebut. Wanita itu adalah ibunya sendiri, tapi mereka tidak saling mengenali satu sama lainnya. Sangkuriang melamarnya, Dayang Sumbi pun menerima dengan senang hati. Sehari sebelum hari pernikahan, saat sedang mengelus rambut tunangannya, Dayang Sumbi melihat bekas luka yang lebar di dahi Sangkuriang, akhirnya dia menyadari bahwa dia hampir menikahi putranya sendiri. Mengetahui hal tersebut Dayang Sumbi berusaha menggagalkan pernikahannya. Setelah berpikir keras dia akhirnya memutuskan untuk mengajukan syarat perkawinan yang tak mungkin dikabulkan oleh Sangkuriang. Syaratnya adalah: Sangkuriang harus membuat sebuah bendungan yang bisa menutupi seluruh bukit lalu membuat sebuah perahu untuk menyusuri bendungan tersebut. Semua itu harus sudah selesai sebelum fajar menyingsing. Sangkuriang mulai bekerja. Cintanya yang begitu besar pada Sangkuriang memberinya suatu kekuatan aneh. Tak lupa dia juga menggunakan kekuatan yang dia dapat dari ayahnya untuk memanggil jin-jin dan membantunya. Dengan lumpur dan tanah mereka membendung air dari sungai dan mata air. Beberapa saat sebelum fajar, Sangkuriang menebang sebatang pohon besar untuk membuat sebuah perahu. Ketika Dayang Sumbi melihat bahwa Sangkuriang hampir menyelesaikan pekerjaannya, dia berdoa pada dewa-dewa untuk merintangi pekerjaan anaknya dan mempercepat datangnya pagi. Ayam jantan berkokok, matahari terbit lebih cepat dari biasanya dan Sangkuriang menyadari bahwa dia telah ditipu. Dengan sangat marah dia mengutuk Dayang Sumbi dan menendang perahu buatannya yang hampir jadi ke tengah hutan. Perahu itu berada disana dalam keadaan terbalik, dan membentuk Gunung Tangkuban Perahu(perahu yang menelungkub). Tidak jauh dari tempat itu terdapat tunggul pohon sisa dari tebangan Sangkuriang, sekarang kita mengenalnya sebagai Bukit Tunggul. Bendungan yang dibuat Sangkuriang menyebabkan seluruh bukit dipenuhi air dan membentuk sebuah danau dimana Sangkuriang dan Dayang Sumbi menenggelamkan diri dan tidak terdengar lagi kabarnya hingga kini.

13. Pande Gelang dan Putri Arum (Cerita Rakyat dari Daerah Banten) Putri Arum adalah seorang putri yang cantik jelita selain itu dia juga memiliki budi pekerti yang baik. Kecantikan putri Arum telah memikat hati pangeran Cunihin. Namun sayangnya pangeran Cunihin adalah seorang pangeran yang sombong. Putri Arum tidak menyukai pangeran Cunihin. Walaupun begitu putri Arum tidak bisa menolak pinangan pangeran, dia takut jika menolak sang

pangeran akan marah dan merusak segalanya. Putri Arum menjadi amat sedih dan bingung tentang apa yang harus dilakukannya. Pada suatu hari putri Arum berjumpa dengan ki Pande. Kemudian putri Arum menceritakan kegelisahan hatinya pada Ki Pande. Ki Pande adalah seorang pembuat gelang yang hidup di kampung tersebut. Bersama ki Pande, putri Arum mengatur rencana agar dapat membatalkan pertunangannya dengan pangeran Cunihin. Setelah beberapa hari pangeran Cunihin datang menemui putri Arum dan memintanya untuk menerima pinangannya. Putri Arum mengajukan syarat yaitu pangeran Cunihin harus dapat melubangi batu yang besar. Putri Arum ingin melihat keindahan laut melalui lubang batu tersebut. Mendengar permintaan itu pangeran Cunihin tertawa dan dengan sombongnya dia menyanggupi syarat yang diajukan putri Arum. Waktu yang diberikan putri Arum untuk membuat lubang batu adalah tiga hari. Namun sebelum waktunya tiba ternyata pangeran Cunihin sudah selesai membuat lubang yang sangat besar di sebuah batu. Melihat hal ini putri Arum menjadi gentar dan takut jika akhirnya nanti harus menerima pertunangan tersebut. Setelah lubang batu selesai, pangeran Cunihin mendatangi putri Arum dan menagih janjinya. Putri Arum berpura-pura senang dan mendatangi lubang batu itu, di hadapan pangeran Cunihin, putri Arum berbohong. Putri Arum mengatakan bahwa dia tidak dapat melihat lubang batu yang telah dibuat pangeran Cunihin. Pangerang Cunihin menjadi bingung dan mencoba untuk masuk ke dalam lubang batu tersebut. Saat itulah keajaiban terjadi, dengan perlahan kekuatan pangeran Cunihin melemah, dia kemudian berubah menjadi seorang lelaki tua dan kekuatannya menghilang. Putri Arum menjadi terkejut dan secara tidak sadar dia mendekati ki Pande. Berubahnya pangeran Cunihin menjadi tua ternyata berbalik kepada ki Pande. Sebelumnya ki Pande adalah seorang lelaki tua namun kemudian berubah menjadi pangeran yang gagah dan tampan. Putri Arum yang melihat hal ini menjadi terkejut, kemudian ki Pande menjelaskan apa yang terjadi. Sebenarnya pangeran Cunihin dan ki Pande adalah saudara seperguruan, namun pangeran Cunihin adalah orang yang sombong. Pangeran Cunihin juga telah mencuri ilmu kesaktian ki Pande dan merubahnya menjadi lelaki tua. Ki Pande dapat berubah menjadi semula jika pangeran Cunihin masuk ke dalam lubang batu yang di lapisi gelang buatan ki Pande. Kini ki Pande telah selamat dan dia berterima kasih kepada putri Arum yang telah membantunya. Akhirnya ki Pande di panggil dengan sebutan Pande Gelang dan menikah dengan Putri Arum. Mereka hidup damai dan tinggal di daerah Banten. 14. Batu Raden (cerita rakyat dari Jawa Tengah). Suta adalah seorang abdi kadipaten yang baik hati. Pekerjaannya sebagai abdi adalah mengerjakan pekerjaan kasar di kadipaten. Selain itu Suta juga bertugas menjaga keamanan wilayah kadipaten dari orang-orang jahat. Pada suatu hari Suta sedang berjalan-jalan memeriksa sudutsudut wilayah kadipaten, kemudian dia mendengar suara perempuan sedang menjerit-jerit ketakutan. Suta segera bergegas berlari ke arah sumber suara. Setelah mencari sumber suara tersebut Suta berhenti di sebuah pohon yang besar. Di salah satu dahan pohon ternyata ada seekor ular besar dan didekatnya ada putri adipati yang ketakutan melihat ular tersebut. Sebenarnya Suta juga merasa takut melihat ular sebesar itu. Namun karena kesetiaannya mengabdikan diri pada adipati Suta berusaha menyingkirkan rasa takutnya. Suta berusaha menolong putri adipati. Kemudian Suta mengambil sebatang kayu besar dan di pukulkan kearah ulat besar itu. Setelah di pukul beberapa kali akhirnya ular itu roboh ke tanah dan tidak bergerak lagi. Ular itu mati di tangan Suta. Melihat kejadian itu putri adipati merasa senang dan mengucapkan banyak terima kasih pada Suta yang telah menolongnya. Keberanian Suta membuat putri adipati menjadi kagum dan menyukainya. Setelah kejadian itu mereka menjadi akrab dan sering bertemu. Dari seringnya mereka bertemu telah menumbuhkan bibit cinta di antar keduanya. Mereka saling mencintai walaupun perbedaan derajat kala itu tidak membolehkan seorang abdi mencintai putri. Kanjeng adipati yang mendengar berita bahwa putrinya menyukai Suta menjadi murka. Adipati merasa malu jika putri yang di sayanginya menikah dengan seorang abdi kadipaten yang miskin. Adipati lalu memerintahkan putrinya untuk menjauhi Suta dan tidak boleh ada hubungan di antar keduanya. Putri adipati menjadi sedih karena dilarang bertemu dengan Suta. Setelah itu tersiar kabar yang lebih memprihatinkan. Dari seorang abdi kepercayaan putri mendengar bahwa Suta di masukkan dalam penjara bawah tanah oleh kanjeng adipati. Tidak hanya itu, selama di penjara Suta tidak di beri makan dan minum. Penjara itu sendiri di genangi air sehingga membuat Suat demam tinggi karena dinginnya genangan air tersebut. Mendengar berita itu putri adipati tidak tahan lagi. Dia

berusaha untuk menolong Suta karena bukan hanya karena putri mencintainya namun ketika dulu putri pernah berhutang nyawa pada Suta saat dirinya di selamatkan Suta dari ular besar. Putri Adipati lalu menemui abdi kepercayaan dan memaksanya untuk mengeluarkan Suta dari dalam penjara bawah tanah. Abdi kepercayaan itu lalu menyusup ke dalam penjara dan bertemu Suta yang sedang terserang demam tinggi. Lalu abdi kepercayaan membawa Suta keluar dari penjara tersebut secara diam-diam. Dia mengatakan bahwa putri adipati yang telah menolongnya dan saat ini putri sedang menunggu di halaman kadipaten. Setelah berhasil keluar dari penjara, putri dan Suta melarikan diri keluar kadipaten. Mereka lalu menikah dan tinggal di sebuah desa kecil. Kini desa itu disebut desa Baturaden asal kata dari Batur yang artinya abdi dan keturunan raden yang menunjukkan keturunan adipati.

15. Cerita Rakyat Dari Yogyakarta "Legenda Candi Prambanan"

Di dekat kota Yogyakarta terdapat candi Hindu yang paling indah di Indonesia. Candi ini dibangun dalam abad kesembilan Masehi. Karena terletak di desa Prambanan, maka candi ini disebut candi Prambanan tetapi juga terkenal sebagai candi Roro Jonggrang, sebuah nama yang diambil dari legenda Lara Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Beginilah ceritanya.Konon tersebutlah seorang raja yang bernama Prabu Baka. Beliau bertahta di Prambanan. Raja ini seorang raksasa yang menakutkan dan besar kekuasaannya. Meskipun demikian, kalau sudah takdir, akhirnya dia kalah juga dengan Raja Pengging. Prabu Baka meninggal di medan perang. Kemenangan Raja Pengging itu disebabkan karena bantuan orang kuat yang bernama Bondowoso yang juga terkenal sebagai Bandung Bondowoso karena dia mempunyai senjata sakti yang bernama Bandung.Dengan persetujuan Raja Pengging, Bandung Bondowoso menempati Istana Prambanan. Di sini dia terpesona oleh kecantikan Roro Jonggrang, putri bekas lawannya -- ya, bahkan putri raja yang dibunuhnya. Bagaimanapun juga, dia akan memperistrinya. Roro Jonggrang takut menolak pinangan itu. Namun demikian, dia tidak akan menerimanya begitu saja. Dia mau kawin dengan Bandung Bondowoso asalkan syarat-syaratnya dipenuhi. Syaratnya ialah supaya dia dibuatkan seribu candi dan dua sumur yang dalam. Semuanya harus selesai dalam waktu semalam. Bandung Bondowoso menyanggupinya, meskipun agak keberatan. Dia minta bantuan ayahnya sendiri, orang sakti yang mempunyai balatentara roh-roh halus.Pada hari yang ditentukan, Bandung Bondowoso beserta pengikutnya dan roh-roh halus mulai membangun candi yang besar jumlahnya itu. Sangatlah mengherankan cara dan kecepatan mereka bekerja. Sesudah jam empat pagi hanya tinggal lima buah candi yang harus disiapkan. Di samping itu sumurnya pun sudah hampir selesai.Roro Jonggrang akan terpenuhi. Apa yang harus diperbuat? Segera gadis-gadis dibangunkan dan disuruh menumbuk padi di lesung serta menaburkan bunga yang harum baunya. Mendengar bunyi lesung dan mencium bau bunga-bungaan yang harum, roh-roh halus menghentikan pekerjaan mereka karena mereka kira hari sudah siang. Pembuatan candi kurang sebuah, tetapi apa hendak dikata, roh halus berhenti mengerjakan tugasnya dan tanpa bantuan mereka tidak mungkin Bandung Bondowoso menyelesaikannya.Keesokan harinya waktu Bandung Bondowoso mengetahui bahwa usahanya gagal, bukan main marahnya. Dia mengutuk para gadis di sekitar Prambanan -- tidak akan ada orang yang mau memperistri mereka sampai mereka menjadi perawan tua. Sedangkan Roro Jonggrang sendiri dikutuk menjadi arca. Arca tersebut terdapat dalam ruang candi yang besar yang sampai sekarang dinamai candi Roro Jonggrang. Candi-candi yang ada di dekatnya disebut Candi Sewu yang artinya seribu. 16. Joko Baru - Cerita Rakyat dari Jawa Timur Adipati Betak dikenal sebagai seorang adipati yang sangat melindungi dan memperhatikan kebutuhan rakyat. Daerah wilayah kadipaten saat itu sudah sangat padat dengan perkembangan penduduk yang semakin hari semakin banyak. Melihat hal ini Adipati Betak bermaksud untuk memperluas wilayah kekuasaanya. Pada suatu hari ketika sedang berjalan-jalan dia melihat sebidang rawa-rawa yang sangat luas. Terfikirlah dalam benak kanjeng adipati untuk menjadikan daerah tersebut sebagai tempat tinggal yang baru bagi rakyatnya. Maka dipanggillah orang-orang yang ahli di kadipaten untuk mengeringkan rawa-rawa tersebut. Namun ternyata hal itu tidaklah mudah. Rawa-rawa itu terus mengeluarkan air yang tiada

habisnya. Adipati Betak menjadi risau dan akhirnya memutuskan untuk mengadakan sayembara yaitu siapa yang dapat mengeringkan rawa tersebut akan dijadikan patih kadipaten. Setelah tersiar sayembara itu maka berbondong-bondonglah orang dari berbagai daerah untuk mengikuti sayembara tersebut. Sudah banyak yang mengikutinya namun ternyata air rawa tersebut tidak kunjung kering. Air rawa itu tetap keluar walaupun sudah berusaha untuk di keringkan. Melihat kejadian ini Adipati Betak menjadi putus asa. Jauh dari wilayah kadipaten Betak tinggallah seorang pemuda yang bernama Joko Baru. Dia tinggal di daerah lereng Gunung Wilis. Joko Baru adalah pemuda sederhana yang ingin mengikuti sayembara tersebut. Tujuannya adalah untuk menolong kanjeng Adipati agar tempat itu bisa menjadi wilayah baru pemukiman rakyat. Namun Joko Baru belum menemukan cara untuk dapat mengeringkan rawa-rawa tersebut. Berhari-hari dia memikirkan caranya namun tak jua di temui. Kemudian Joko Baru mendatangi ayahnya Ki Ageng Mangir, orang yang di segani di lereng Gunung Wilis. Di hadapan sang ayah Joko Baru mengutarakan maksudnya untuk mengikuti sayembara itu berikut tujuannya. Mendengar penuturan anaknya sang ayah merasa senang karena niat mulia Joko Baru. Ki Ageng Mangir lalu memberikan petunjuk kepada Joko Baru yaitu, selama di perjalanan menuju Kadipaten Betak Joko baru harus mencari pohon aren untuk diambil ijuknya segenggam lalu sebatang lidi. Ketika sampai ke rawa-rawa tersebut Ki Ageng menyuruh Joko Baru untuk menyumbat sumber air rawa dengan ijuk dan menancapkan lidinya tepat di samping ijuk. Setelah mendapat petunjuk dari ayahnya, Joko Baru berangkat menujur Kadipaten Betak. Sesampainya di kadipaten, Joko Baru di sambut langsung oleh kanjeng Adipati. Di hadapan adipati Betak Joko Baru menyampaikan maksudnya untuk mengikuti sayembara tersebut. Mulanya Adipati Betak merasa tidak yakin namun melihat ketulusan Joko Baru akhirnya Adipati Betak mengijinkannya untuk mengikuti sayembara itu. Joko Baru mendatangi rawa-rawa yang luas itu lalu segera mencari sumber air rawa. Setelah memohon kepada Tuhan Joko Baru mencari sumber air rawa. Setelah di temuinya segera Joko Baru menutupnya dengan segenggam ijuk yang di ambilnya dari sebatang pohon aren yang di jumpainya di puncak gunung. Sesaat setelah ijuk tersebut di sumbat ke dalam sumber air lantas Joko Baru menancapkan sebatang lidi aren di samping ijuk. Ajaib, dalam sekejap saja sumber air itu tidak keluar lalu air rawa seolah tersedot ke dalam lidi dan lama kelamaan rawa tersebut menjadi kering. Melihat rawa yang mengering Adipati Betak sangat senang dan memeluk Joko Baru sambil mengucapkan banyak terima kasih. Kemudian wilayah tersebut dijadikan pemukiman baru bagi rakyatnya dan diberi nama Tulung Agung. Tidak lama kemudian Adipati Betak memindahkan ibukota Kadipaten ke Tulung Agung. Adipati Betak juga tidak mengingkari janjinya, dia mengangkat Joko Baru sebagai patih kadipaden dan memerintah wilayah tersebut dengan bijaksana.

17. ASAL MULA SELAT BALI (cerita rakyat Bali)
Pada jaman dulu di kerajaan Daha hiduplah seorang Brahmana yang benama Sidi Mantra yang sangat terkenal kesaktiannya. Sanghyang Widya atau Batara Guru menghadiahinya harta benda dan seorang istri yang cantik. Sesudah bertahun-tahun kawin, mereka mendapat seorang anak yang mereka namai Manik Angkeran. Meskipun Manik Angkeran seorang pemuda yang gagah dan pandai namun dia mempunyai sifat yang kurang baik, yaitu suka berjudi. Dia sering kalah sehingga dia terpaksa mempertaruhkan harta kekayaan orang tuanya, malahan berhutang pada orang lain. Karena tidak dapat membayar hutang, Manik Angkeran meminta bantuan ayahnya untuk berbuat sesuatu. Sidi Mantra berpuasa dan berdoa untuk memohon pertolongan dewa-dewa. Tiba-tiba dia mendengar suara, "Hai, Sidi Mantra, di kawah Gunung Agung ada harta karun yang dijaga seekor naga yang bernarna Naga Besukih. Pergilah ke sana dan mintalah supaya dia mau mernberi sedikit hartanya." Sidi Mantra pergi ke Gunung Agung dengan mengatasi segala rintangan. Sesampainya di tepi kawah Gunung Agung, dia duduk bersila. Sambil membunyikan genta dia membaca mantra dan memanggil nama Naga Besukih. Tidak lama kernudian sang Naga keluar. Setelah mendengar maksud kedatangan Sidi Mantra, Naga Besukih menggeliat dan dari sisiknya keluar emas dan intan. Setelah mengucapkan terima kasih, Sidi Mantra mohon diri. Semua harta benda yang didapatnya diberikan kepada Manik Angkeran dengan harapan dia tidak akan berjudi lagi. Tentu saja tidak lama kemudian, harta itu habis untuk taruhan. Manik Angkeran sekali lagi minta bantuan ayahnya. Tentu saja Sidi Mantra menolak untuk membantu anakya. Manik Angkeran mendengar dari temannya bahwa harta itu didapat dari Gunung Agung. Manik

Angkeran tahu untuk sampai ke sana dia harus membaca mantra tetapi dia tidak pernah belajar mengenai doa dan mantra. Jadi, dia hanya membawa genta yang dicuri dari ayahnya waktu ayahnya tidur. Setelah sampai di kawah Gunung Agung, Manik Angkeran membunyikan gentanya. Bukan main takutnya ia waktu ia melihat Naga Besukih. Setelah Naga mendengar maksud kedatangan Manik Angkeran, dia berkata, "Akan kuberikan harta yang kau minta, tetapi kamu harus berjanji untuk mengubah kelakuanmu. Jangan berjudi lagi. Ingatlah akan hukum karma." Manik Angkeran terpesona melihat emas, intan, dan permata di hadapannya. Tiba-tiba ada niat jahat yang timbul dalam hatinya. Karena ingin mendapat harta lebih banyak, dengan secepat kilat dipotongnya ekor Naga Besukih ketika Naga beputar kembali ke sarangnya. Manik Angkeran segera melarikan diri dan tidak terkejar oleh Naga. Tetapi karena kesaktian Naga itu, Manik Angkeran terbakar menjadi abu sewaktu jejaknya dijilat sang Naga. Mendengar kernatian anaknya, kesedihan hati Sidi Mantra tidak terkatakan. Segera dia mengunjungi Naga Besukih dan memohon supaya anaknya dihidupkan kembali. Naga menyanggupinya asal ekornya dapat kembali seperti sediakala. Dengan kesaktiannya, Sidi Mantra dapat memulihkan ekor Naga. Setelah Manik Angkeran dihidupkan, dia minta maaf dan berjanji akan menjadi orang baik. Sidi Mantra tahu bahwa anaknya sudah bertobat tetapi dia juga mengerti bahwa mereka tidak lagi dapat hidup bersama. "Kamu harus mulai hidup baru tetapi tidak di sini," katanya. Dalam sekejap mata dia lenyap. Di tempat dia berdiri timbul sebuah sumber air yang makin lama makin besar sehingga menjadi laut. Dengan tongkatnya, Sidi Mantra membuat garis yang mernisahkan dia dengan anaknya. Sekarang tempat itu menjadi selat Bali yang memisahkan pulau Jawa dengan pulau Bali.

18. Cerita Putri Anjani (Cerita Rakyat dari Nusa Tenggara Barat).
Anjani adalah seorang putri yang cantik namun tidak seperti putri yang lainnya. Anjani sangat berbeda, dia tidak suka berdandan selayaknya putri. Putri Anjani sangat tidak memperdulikan penampilan, dia juga tidak suka merawat tubuhnya. Sebaliknya putri Anjani lebih suka berburu di hutan, belajar ilmu bela diri dan hidup bebas di luar istana. Melihat hal ini raja bermaksud untuk menjodohkan putri Anjani bersama seorang pangeran agar perangainya berubah. Namun apa yang terjadi, putri Anjani menolak mentah-mentah perjodohan itu. Orang tuanya tidak bisa berbuat apaapa atas penolakan putrinya. Sebaliknya putri Anjani berkata pada ayahnya bahwa dia akan keluar istana dan mencari sendiri jodohnya. Maka berangkatlah putri keluar istana dengan menaiki kuda yang gagah. Berbagai daerah telah dilewatinya. Gunung dan sungai serta kampung telah di jelajahinya, namun putri Anjani tetap belum menemukan lelaki yang sanggup membuatnya jatuh cinta. Putri Anjani tidak putus asa, dia terus melanjutkan perjalanannya dari satu daerah ke daerah lain. Hingga pada suatu hari sampailah putri Anjani di sebuah hutan yang lebat. Tiba-tiba timbul keinginan hatinya untuk berburu binatang di dalam hutan tersebut. Putri Anjani melupakan tujuan utamanya yaitu mencari pemuda yang sesuai dengan keinginannya. Putri Anjani segera memasuki hutan dan semakin jauh ke dalam. Bergegas dia menyiapkan busur dan anak panah untuk membunuh binatang di dalam hutan tersebut. Ketika itu ada seekor rusa yang besar sedang memakan rumput. Putri mengendap diam-diam dan membidikkan panahnya ke arah rusa tersebut. Pada saat itu tiba-tiba seorang pemuda menampar tangan putri Anjani. Putri Anjani yang terkejut langsung marahi pemuda tersebut. Sang pemuda tidak peduli dia balik marah kepada putri Anjani. Pemuda itu tidak setuju melihat putri Anjani membunuh binatang hanya untuk kesenangannya saja. Putri Anjani tidak terima di marahi oleh pemuda itu, mereka lalu berkelahi. Perkelahian itu seimbang sebab keduanya memang mahir dalam ilmu silat. Menjelang malam tiba-tiba tubuh putri Anjadi terangkat ke atas oleh gumpalan awan hitam. Pemuda yang melihat kejadian itu mengetahui bahwa awan tersebut adalah kiriman nenek sihir yang menjaga hutan tersebut. Pemuda desa itu mengikuti gumpalan awan hitam tersebut dan sampailah dia di sebuah gua tempat tinggal nenek sihir. Dengan diam-diam pemuda memasuki gua dan bertemu dengan putri Anjani yang sudah terikat dan akan di masak dalam kuali yang besar. Pemuda tersebut ini menolong putri Anjani namun dengan satu syarat putri Anjani tidak boleh membunuh binatang dengan sesuka hati. Putri Anjani menyetujui syarat itu, pemuda kampung lalu mengelabui nenek sihir dengan ilmunya. Setelah berhasil pemuda tersebut segera melepaskan putri Anjani. Mereka berlari keluar dari hutan dan menuju kota. Namun kota masih sangat jauh. Putri Anjani meminta pemuda itu untuk

membawanya ke rumah pemuda tersebut. Pemuda itu setuju lalu tinggallah putri Anjani di rumah pemuda tersebut. Pemuda itu tinggal bersama ibunya. Putri Anjani banyak belajar tentang kehidupan dari keluarga sederhana tersebut. Setelah beberapa bulan putri Anjani membawa pemuda kampung itu ke istana untuk dikenalkan kepada ayahnya. Putri Anjani meminta ayahnya untuk menyetujui pernikahan mereka sebab sang putri sudah jatuh cinta kepada pemuda kampung yang sederhana namun memiliki budi pekerti yang baik.

19. Lona Kaka dan Lona Rara (Cerita rakyat dari Nusa Tenggara Timur)
Lona Kaka dan Lona Rara adalah kakak beradik yang tinggal bersama ibu mereka. Suatu hari Lona Kaka dan Lona Rara di suruh ibu mereka untuk menumbuk padi. Bersama-sama keduanya mulai menumbuk padi di lesung masing-masing. Keduanya mengadu kecepatan menumbuk padi yang akan di jadikan beras. Tidak lama kemudian Lona Rara sudah hampir selesai menumbuk padi. Lona Kaka yang melihat merasa iri lalu pergi menemui ibunya. Di depan ibu mereka Lona Kaka mengatakan bahwa padi yang ditumbuknya sudah selesai. Ibunya merasa senang dan ingin memberikan hadiah kepada Lona Kaka. Namun sebelum hadiah diberikan Lona Rara muncul dan memberitahu bahwa padi yang ditumbuknya sudah selesai. Dan dia juga mengatakan bahwa padi yang ditumbuk kakaknya Lona Kaka belum selesai. Ibunya membuktikan sendiri padi siapa yang sudah selesai ditumbuk. Ternyata padi yang ditumbuk Lona Kaka belum selesai. Dengan demikian yang mendapat hadiah adalah Lona Rara. Ibunya memberikan hadiah berupa daging dendeng kesukaan Lona Rara. Daging itu dimasukkan dalam ruas bambu dan disimpan oleh Lona Rara. Melihat adiknya mendapat hadiah menyebabkan Loka Kaka merasa iri dan berusaha mencari cara untuk mencelakakan Lona Rara. Pada suatu hari Lona Kaka mengajak adiknya ke sungai, sesampainya di sungai Loka Kaka menyuruh adiknya mengambil air. Sementara itu sang kakak akan menjaga dendeng yang disimpan dalam bambu. Tanpa rasa curiga Lona Rara memberikan dendeng tersebut kepada kakaknya. Ketika itulah sang kakak membuang dendeng tersebut dan berlari-lari sambil berteriak mengatakan bahwa dendeng itu di makan anjing. Mendengar dendengnya di makan anjing Lona Rara berlari mengejar anjing tersebut sampai ke dalam hutan. Di dalam hutan Lona Rara tersesat hingga tidak bisa keluar ketika itulah dia duduk di atas batu. Sambil menangis Lona Rara mendendangkan lagu sedih. Oou kakakku yang kucinta Mengapa engkau membuat aku begini Membiarkan aku jalan sendiri Oou Gela Wuamaroto berilah aku kedamaian Tuntunlah aku kembali ke rumah
Setelah Lona Rara menyanyi tiba-tiba muncul seorang pemuda tampan dan berdiri dihadapanya. Loka Rara menjadi ketakutan dan berusaha lari. Namun pemuda itu mencegah, dia menjelaskan bahwa dirinya adalah Goa Wuamaroto yang telah dinyanyikan oleh Lona Rara. Goa Wuamaroto ingin mengantar Lona Rara kembali ke rumah. Lona Rara menyetujui, mereka berdua saling merasa jatuh cinta. Sesampainya di rumah Lona Rara mengenalkan pemuda tersebut kepada ibunya. Sang ibu yang melihat Lona Rara telah kembali pulang merasa senang dan menerima pinangan lelaki tersebut. Tidak lama kemudian menikahlah Lona Rara dengan Goa Wuamaroto, sementara kakaknya Loka Kaka menjadi gila karena terlalu memikirkan cara untuk mencelakakan Lona Rara. Cerita rakyat Lona Kaka dan Lona Rara dari Nusa Tenggara Timur ini menceritakan tentang saudara tua yang tidak senang kepada adiknya. Kebencian sang kakak terhadap adiknya mirip dengan cerita Bawang Merah maupun Bawang Putih dan beberapa cerita rakyat lainnya, termasuk cerita rakyat dari dataran eropa dan Amerika. Hal ini menunjukkan bahwa sifat manusia itu ada yang baik dan ada yang buruk. Tetapi kebaikanlah yang selalu akan menemukan kebahagiaan.

20. Asal Usul Burung Ruai (cerita rakyat Kalimantan Barat) Konon pada zaman dahulu di daerah Kabupaten Sambas (Kalimantan Barat), tepatnya di pedalaman benua Bantahan sebelah Timur Kota Sekura Ibukota Kecamatan Teluk Keramat

yang dihuni oleh Suku Dayak, telah terjadi peristiwa yang sangat menakjubkan untuk diketahui dan menarik untuk dikaji, sehingga peristiwa itu diangkat ke permukaan. Menurut informasi orang bahwa di daerah tersebut terdapat sebuah kerajaan yang kecil, letaknya tidak jauh dari Gunung Bawang yang berdampingan dengan Gunung Ruai. Tidak jauh dari kedua gunung dimaksud terdapatlah sebuah gua yang bernama “Gua Batu”, di dalamnya terdapat banyak aliran sungai kecil yang di dalamnya terdapat banyak ikan dan gua tersebut dihuni oleh seorang kakek tua renta yang boleh dikatakan sakti. Cerita dimulai dengan seorang raja yang memerintah pada kerajaan di atas dan mempunyai tujuh orang putri, raja itu tidak mempunyai istri lagi sejak meninggalnya permaisuri atau ibu dari ketujuh orang putrinya. Di antara ketujuh orang putri tersebut ada satu orang putri raja yang bungsu atau Si Bungsu. Si Bungsu mempunyai budi pekerti yang baik, rajin, suka menolong dan taat pada orang tua, oleh karena itu tidak heran sang ayah sangat menyayanginya. Lain pula halnya dengan keenam kakak-kakaknya, perilakunya sangat berbeda jauh dengan Si Bungsu, keenam kakaknya mempunyai hati yang jahat, iri hati, dengki, suka membantah orang tua, dan malas bekerja. Setiap hari yang dikerjakannya hanya bermain-main saja. Dengan kedua latar belakang inilah, maka sang ayah (raja) menjadi pilih kasih terhadap putri-putrinya. Hampir setiap hari keenam kakak Si Bungsu dimarah oleh ayahnya, sedangkan Si Bungsu sangat dimanjakannya. Melihat perlakuan inilah maka keenam kakak Si Bungsu menjadi dendam, bahkan benci terhadap adik kandungnya sendiri, maka bila ayahnya tidak ada di tempat, sasaran sang kakak adalah melampiaskan dendam kepada Si Bungsu dengan memukul habis-habisan tanpa ada rasa kasihan sehingga tubuh Si Bungsu menjadi kebiru-biruan dan karena takut dipukuli lagi Si Bungsu menjadi takut dengan kakaknya. Untuk itu segala hal yang diperintahkan kakaknya mau tidak mau Si Bungsu harus menurut seperti: mencuci pakaian kakaknya, membersihkan rumah dan halaman, memasak, mencuci piring, bahkan yang paling mengerikan lagi, Si Bungsu biasa disuruh untuk mendatangkan beberapa orang taruna muda untuk teman/menemani kakaknya yang enam orang tadi. Semua pekerjaan hanya dikerjakan Si Bungsu sendirian sementara ke enam orang kakaknya hanya bersenda gurau saja. Sekali waktu pernah akibat perlakuan keenam kakaknya itu terhadap Si Bungsu diketahui oleh sang raja (ayah) dengan melihat badan (tubuh) Si Bungsu yang biru karena habis dipukul tetapi takut untuk mengatakan yang sebenarnya pada sang ayah, dan bila sang ayah menanyakan peristiwa yang menimpa Si Bungsu kepada keenam kakaknya maka keenam orang kakaknya tersebut membuat alasan-alasan yang menjadikan sang ayah percaya seratus persen bahwa tidak terjadi apa-apa. Salah satu yang dibuat alasan sang kakak adalah sebab badan Si Bungsu biru karena Si Bungsu mencuri pepaya tetangga, kemudian ketahuan dan dipukul oleh tetangga tersebut. Karena terlalu percayanya sang ayah terhadap cerita dari sang kakak maka sang ayah tidak memperpanjang permasalahan dimaksud. Begitulah kehidupan Si Bungsu yang dialami bersama keenam kakaknya, meskipun demikian Si Bungsu masih bersikap tidak menghadapi perlakuan keenam kakaknya, kadangkadang Si Bungsu menangis tersedu-sedu menyesali dirinya mengapa ibunya begitu cepat meninggalkannya. sehingga ia tidak dapat memperoleh perlindungan. Untuk perlindungan dari sang ayah boleh dikatakan masih sangat kurang. Karena ayahnya sibuk dengan urusan kerajaan dan urusan pemerintahan. Setelah mengalami hari-hari yang penuh kesengsaraan, maka pada suatu hari berkumpullah seluruh penghuni istana untuk mendengarkan berita bahwa sang raja akan berangkat ke kerajaan lain untuk lebih mempererat hubungan kekerabatan diantara mereka selama satu bulan. Ketujuh anak (putrinya) tidak ketinggalan untuk mendengarkan berita tentang kepergian ayahnya tersebut. Pada pertemuan itu pulalah diumumkan bahwa kekuasaan sang raja selama satu bulan itu dilimpahkan kepada Si Bungsu, yang penting bila sang raja tidak ada di tempat, maka masalah-masalah yang berhubungan dengan kerajaan (pemerintahan) harus mohon (minta) petunjuk terlebih dahulu dari Si Bungsu. Mendengar berita itu, keenam kakaknya terkejut dan timbul niat masing-masing di dalam hati kakaknya untuk melampiaskan rasa dengkinya, bila sang ayah sudah berangkat nanti. Serta timbul dalam hati masing-masing kakaknya mengapa kepercayaan ayahnya dilimpahkan kepada Si Bungsu bukan kepada mereka. Para prajurit berdamping dalam keberangkatan sang raja sangat sibuk untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Maka pada keesokan harinya berangkatlah pasukan sang

raja dengan bendera dan kuda yang disaksikan oleh seluruh rakyat kerajaan dan dilepas oleh ketujuh orang putrinya. Keberangkatan sang ayah sudah berlangsung satu minggu yang lewat. Maka tibalah saatnya yaitu saat-saat yang dinantikan oleh keenam kakaknya Si Bungsu untuk melampiaskan nafsu jahatnya yaitu ingin memusnahkan Si Bungsu supaya jangan tinggal bersama lagi dan bila perlu Si Bungsu harus dibunuh. Tanda-tanda ini diketahui oleh Si Bungsu lewat mimpinya yang ingin dibunuh oleh kakanya pada waktu tidur di malam hari. Setelah mengadakan perundingan di antara keenam kakaknya dan rencanapun sudah matang, maka pada suatu siang keenam kakak di bungsu tersebut memanggil Si Bungsu, apakah yang dilakukannya?. Ternyata keenam kakanya mengajak Si Bungsu untuk mencari ikan (menangguk) yang di dalam bahasa Melayu Sambas mencari ikan dengan alat yang dinamakan tangguk yang dibuat dari rotan dan bentuknya seperti bujur telur (oval). Karena sangat gembira bahwa kakaknya mau berteman lagi dengannya, lalu Si Bungsu menerima ajakan tersebut. Padahal dalam ajakan tersebut terselip sebuah balas dendam kakaknya terhadap Si Bungsu, tetapi Si Bungsu tidak menduga hal itu sama sekali. Tanpa berpikir panjang lagi maka berangkatlah ketujuh orang putri raja tersebut pada siang itu, dengan masing-masing membawa tangguk dan sampailah mereka bertujuh di tempat yang akan mereka tuju (lokasi menangguk), yaitu gua batu, Si Bungsu disuruh masuk terlebih dahulu ke dalam gua, baru diikuti oleh keenam kakaknya. Setelah mereka masuk, Si Bungsu disuruh berpisah dalam menangguk ikan supaya mendapat lebih banyak dan ia tidak tahu bahwa ia tertinggal jauh dengan kakak-kakanya. Si Bungsu sudah berada lebih jauh ke dalam gua, sedangkan keenam kakaknya masih saja berada di muka gua dan mendoakan supaya Si Bungsu tidak dapat menemukan jejak untuk pulang nantinya. Keenam kakaknya tertawa terbahak-bahak sebab Si Bungsu telah hilang dari penglihatan. Suasana gua yang gelap gulita membuat Si Bungsu menjadi betulbetul kehabisan akal untuk mencari jalan keluar dari gua itu. Tidak lama kemudian keenam kakaknya pulang dari gua batu menuju rumahnya tanpa membawa Si Bungsu dan pada akhirnya Si Bungsu pun tersesat. Merasa bahwa Si Bungsu telah dipermainkan oleh kakaknya tadi, maka tinggallah ia seorang diri di dalam gua batu tersebut dan duduk bersimpuh di atas batu pada aliran sungai dalam gua untuk meratapi nasibnya yang telah diperdayakan oleh keenam kakaknya, Si Bungsu hanya dapat menangis siang dan malam sebab tidak ada satupun makhluk yang dapat menolong dalam gua itu kecuali keadaan yang gelap gulita serta ikan yang berenang kesana kemari. Bagaimana nasib Si Bungsu? tanpa terasa Si Bungsu berada dalam gua itu sudah tujuh hari tujuh malam lamanya, namun ia masih belum bisa untuk pulang, tepatnya pada hari ketujuh Si Bungsu berada di dalam gua itu, tanpa disangka-sangka terjadilah peristiwa yang sangat menakutkan di dalam gua batu itu, suara gemuruh menggelegar-gelegar sepertinya ingin merobohkan gua batu tersebut, Si Bungsu pun hanya bisa menangis dan menjerit-jerit untuk menahan rasa ketakutannya, maka pada saat itu dengan disertai bunyi yang menggelegar muncullah seorang kakek tua renta yang sakti dan berada tepat di hadapan Si Bungsu, lalu Si Bungsu pun terkejut melihatnya, tak lama kemudian kakek itu berkata,” Sedang apa kamu disini cucuku?”, lalu Si Bungsu pun menjawab,” Hamba ditinggalkan oleh kakak-kakak hamba, kek!”, maka Si Bungsu pun menangis ketakutan sehingga air matanya tidak berhenti keluar, tanpa diduga-duga pada saat itu dengan kesaktian kakek tersebut titik-titik air mata Si Bungsu secara perlahan-lahan berubah menjadi telur-telur putih yang besar dan banyak jumlahnya, kemudian Si Bungsu pun telah diubah bentuknya oleh si kakek sakti menjadi seekor burung yang indah bulu-bulunya. Si Bungsu masih bisa berbicara seperti manusia pada saat itu, lalu kakek itu berkata lagi, “Cucuku aku akan menolong kamu dari kesengsaraan yang menimpa hidupmu tapi dengan cara engkau telah kuubah bentukmu menjadi seekor burung dan kamu akan aku beri nama Burung Ruai, apabila aku telah hilang dari pandanganmu maka eramlah telur-telur itu supaya jadi burung-burung sebagai temanmu!”. Kemudian secara spontanitas Si Bungsu telah berubah menjadi seekor burung dengan menjawab pembicaraan kakek sakti itu dengan jawaban kwek … kwek … kwek … kwek …. kwek, Bersamaan dengan itu kakek sakti itu menghilang bersama asap dan burung ruai yang sangat banyak jumlahnya dan pada saat itu pula burung-burung itu pergi meninggalkan gua dan hidup di pohon depan tempat tinggal Si Bungsu dahulu, dengan bersuara kwek … kwek …. kwek … kwek …. kwek, Mereka menyaksikan kakak-kakak Si Bungsu yang dihukum oleh ayahnya karena telah membunuh Si Bungsu.

21. Raja Mintin (Cerita rakyat Kalimantan Tengah) Kerajaan Pulau Mintin sedang dirundung duka. Permaisuri raja Mintin baru saja mangkat, hal ini menyebabkan raja selalu bersedih hati. Raja Mintin kehilangan istri tercinta sehingga dirinya sangat terpukul. Kerajaan menjadi tidak tentram sebab raja Mintin senantiasa dirundung duka. Dia tidak bisa lagi memerintah dengan baik. Kesehatan raja Mintin semakin hari semakin menurun, raja Mintin jadi sering sakit-sakitan. Kondisi ini menghawatirkan raja dan rakyat, oleh karena itu raja Mintin memutuskan untuk pergi berlayar keluar istana. Selama dia tidak berada di istana maka tahta di serahkan kepada kedua putranya yang bernama Buaya dan Naga. Maka dipanggillah kedua putranya, kemudian raja Mintin berpesan agar menjaga kerajaan dengan baik dan benar. Kedua putranya menyanggupi perintah raja. Maka berangkatlah raja Mintin berlayar keluar istana bersama beberapa prajurit. Sepeninggal raja Mintin, Buaya dan Naga memerintah kerajaan. Namun ternyata keduanya memiliki sifat yang bertolak belakang. Naga memiliki watak yang negatif, seperti senang berfoyafoya, mabuk-mabukkan, dan berjudi. Sementara itu Buaya memiliki sifat positif seperti pemurah, ramah-tamah, tidak boros dan suka menolong. Rakyatpun banyak yang menyukai Buaya ketimbang Naga. Mengetahui Naga yang suka menghambur-hamburkan uang kerajaan menyebabkan Buaya marah padanya. Buaya mengancam akan memberitahu ayah mereka atas perilaku Naga yang tidak baik. Mendengar hal itu Naga menjadi marah dan menantang Buaya untuk berkelahi. Buaya dan Naga menjadi musuh dan berkelahi. Kerajaan menjadi terguncang, dua kubu saling berselisih. Satu kelompok kerajaan memihak Naga dan satu kelompok lagi memihak Buaya. Tidak sampai di situ ternyata rakyatpun terpecah menjadi dua bagian. Satu bagian memihak Naga dan sebagian lagi memihak Buaya. Maka terjadilah perang saudara yang melibatkan rakyat jelata. Banyak warga kerajaan dan rakyat yang menjadi korban akibat perkelahian antara Naga dan Buaya. Sehingga berhari-hari perseteruan itu tidak kunjung meredan, raja Mintin yang kala itu sedang berlayar tidak enak hati. Dia lalu menyuruh prajuritnya untuk memutar kembali kapal ke kerajaan. Sesampainya di kerajaan alangkah terkejutnya raja Mintin melihat kerajaan yang porak-poranda, banyak rakyat kerajaan yang mati dan begitupula rakyat jelata. Raja Mintin menjadi murka dan memanggil kedua anaknya Buaya dan Naga. Di hadapan sang ayah keduanya saling menyalahkan satu sama lain. raja Mintin semakin marah dan mengusir keduanya untuk meninggalkan kerajaan. Mendengar keputusan sang ayah, kedua putra tersebut menjadi terkejut dan meminta maaf atas kejadian tersebut. Namun sayang raja Mintin tidak mau memaafkan mereka hingga akhirnya mereka berdua di usir keluar dari istana.

22. Putri Junjung Buih (Cerita rakyat dari Kalimantan Selatan)
Kerajaan Amuntai dipimpin oleh dua bersaudara, yakni Padmaraga yang disebut Raja Tua dan Sukmaraga yang biasa disebut Raja Muda. Keduanya tidak berputra. Oleh karena itu, mereka terus berdo’a agar segera dikaruniai keturunan. Raja Muda berdo’a di sebuah tempat dekat Kota Banjarmasin. Begitu kuanya dia memohon sehingga tak lama kemudian, istrinya hamil dan dianugerahi sepasang anak kembar yang rupawan. Demikian pula Raja Tua berdo’a di Candi Agung, di luar Kota Amuntai. Setelah sekian lama berdo’a dia pulang ke Amuntai. Dalam perjalanan pulang, dia melewati sebuah sungai. Tampak olehnya seorang bayi perempuan yang sangat cantik terapung-apung di atas sungai, tepat di atas buih. Padmaraga menghentikan perjalananya. Kemudian Raja Tua memerintahkan pada Datuk Pujung tetua istana untuk mengambil bayi di atas buih tersebut. Raja Tua ingin menyelamatkan bayi itu dan menjadikannya sebagai anak asuhnya. Datuk Pujung segera mendekat ke tempat buih yang di atasnya terbaring bayi perempuan itu. Datuk Pujung berusaha mengambil bayi itu, tetapi buih bergerak terus mengombang-ambingkan si bayi. Rupanya bayi itu sangat susah di dekati. Kemudian dengan tiba-tiba bayi itu berbicara kepada Datuk Pujung. Bayi tersebut bersedia ikut dengan Raja Tua asalkan permintaannya dipenuhi. Semua orang yang mendengar terheran-heran. Bagaimana mungkin ada seorang bayi yang bisa bicara. Datuk Pujung terperanjat. Ketika bayi itu berkata bahwa dirinya akan ikut ke istana dengan Raja Tua asalkan diberi selembar kain dan selimut yang selesai ditenun dalam waktu setengah hari. Selain itu, bayi tersebut juga ingin dijemput oleh empat puluh wanita cantik. Permintaan bayi itu

disampaikan kepada Raja Tua. Raja Tua segera memerintahkan untuk mencari empat puluh wanita cantik dan mengumumkan sayembara untuk menenun kain dan selimut dalam waktu setengah hari. Banyak yang mengikuti sayembara, tetapi belum ada yang dapat menyelesaikan tenunan dalam waktu setengah hari. Sampai kemudiam, datanglah seorang perempuan bernama Ratu Kuripan. Ratu Kuripan dapat menyelesaikan tugasnya menenun selembar kain dan selimut dalam waktu setengah hari. Hasilnya pun sangat mengagumkan. Bayi di atas buih itu pun dapat diambil dan diangkat anak oleh Raja Tua. Bayi itu kemudian dinamai Putri Junjung Buih. Sementara itu, Ratu Kuripan diangkat menjadi pengasuh Putri Junjung Buih. Ratu Kuripan mengajarkan semua ilmu yang dimilikinya dan membimbing Putri Junjung Buih hingga dewasa. Karena kecerdasannya, Putri Junjung Buih tumbuh menjadi putri yang sangat cantik serta dikaruniai kepandaian yang luar biasa. Raja Tua sangat menyayanginya. Kelak di kemudian hari, Putri Junjung Buih menjadi anutan takyat Amuntai dan menikah dengan pangeran dari karajaan Majapahit. Akhirnya mereka menurunkan raja-raja yang berkuasa di wilayah Kalimantan.

23. Ratu Aji Bidara Putih (Cerita Rakyat Kalimantan Timur) Kecamatan Muara Kaman (Kalimantan Timur) terletak di tepi aliran sungai Mahakam. Jaraknya cukup jauh dari kota Samarinda. Keadaan perkampungannya terdiri dari rumahrumah papan yang sederhana. Di wilayah ini beredar sebuah cerita legenda yang amat dikenal oleh penduduk. Kisah tentang seorang ratu yang cantik jelita dengan pasukan lipan raksasanya. Dahulu kala negeri Muara Kaman diperintah oleh seorang ratu namanya Ratu Aji Bidara Putih. Ratu Aji Bidara Puthi adalah seorang gadis yang cantik jelita. Anggun pribadi dan penampilannya serta amat bijaksana. Semua kelebihannya itu membuat ia terkenal sampai di mana-mana; bahkan sampai ke manca negara. Sang Ratu benar-benar bagaikan kembang yang cantik, harum mewangi. Maka tidaklah mengherankan apabila kemudian banyak raja, pangeran dan bangsawan yang ingin mempersunting sebagai istri. Pinangan demi pinangan mengalir bagai air sungai Mahakam yang tak pernah berhenti mengalir. Namun sang Ratu selalu menolak. “Belum saatnya aku memikirkan pernikahan. Diriku dan perhatianku masih dibutuhkan oleh rakyat yang kucintai. Aku masih ingin terus memajukan negeri ini,” ujarnya. Kemudian pada suatu hari muncullah sebuah jung atau kapal besar dari negeri Cina. Kapal itu melayari sungani Mahakam yang luas bagai lautan. Menuju ke arah hulu. Hingga akhirnya berlabuh tidak jauh dari pelabuhan negeri Muara Kaman. Penduduk setempat mengira penumpang kapal itu datang untuk berdagang. Sebab waktu itu sudah umum kapal-kapal asing datang dan singgah untuk berdagang. Akan tetapi ternyata penumpang kapal itu mempunyai tujuan lain. Sesungguhnya kapal itu adalah kapal milik seorang pangeran yang terkenal kekayaannya di negeri Cina. Ia disertai sepasukan prajurit yang gagah perkasa dan amat mahir dalam ilmu beladiri. Kedatangannya ke Muara Kaman semata-mata hanya dengan satu tujuan. Bukan mau berdagang, tetapi mau meminang Ratu Aji Bidara Putih! Kemudian turunlah para utusan sang Pangeran. Mereka menghadap Ratu AJi Bidara Putih di istana negeri. Mereka membawa barang-barang antik dari emas, dan keramik Cina yang terkenal. Semua itu mereka persembahkan sebagai hadiah bagi Ratu Aji Bidara Putih dari junjungan mereka. Sambil berbuat demikian mereka menyampaikan pinangan Sang Pangeran terhadap diri Ratu Aji Bidara Putih. Kali ini sang Ratu tidak langsung menolak. Ia mengatakan bahwa ia masih akan memikirkan pinangan Sang Pangeran. Lalu dipersilakannya para utusan kembali ke kapal. Setelah para utusan meninggalkan istana, Ratu memanggil seorang punggawa kepercayaannya. “Paman,” ujarnya, “para utusan tadi terasa amat menyanjung-nyanjung junjungannya. Bahwa pangeran itu tampan, kaya dan perkasa. Aku jadi ingin tahu, apakaah itu semua benar atau cuma bual belaka. Untuk itu aku membutuhkan bantuannmu.” “Apa yang mesti saya lakukan, Tuanku?” tanya si punggawa.

“Nanti malam usahakanlah kau menyelinap secara diam-diam ke atas kapal asing itu. Selidikilah keadaan pangeran itu. Kemudian laporkan hasilnya kepadaku.”“Baik, Tuanku. Perintah Anda akan saya laksanakan sebaik-baiknya.” Ketika selimut malam turun ke bumi, si punggawa pun berangkat melaksanakan perintah junjungannya. Dengan keahliannya ia menyeberangi sungai tanpa suara. Lalu ia melompat naik ke atas geladak kapal yang sunyi. Dengan gerak-gerik waspada ia menghindari para penjaga. Dengan hati-hati ia mencari bilik sang pangeran. Sampai akhirnya ia berhasil menemukannya. Pintu bilik yangsangat mewah itu tertutup rapat. Tetapi keadaan di dalamnya masih benderang, tanda sang pangeran belum tidur. Si punggawa mencari celah untuk mengintip kedalam, namun tidak menemukan. Maka akhirnya ia hanya dapat menempelkan telinga ke dinding bilik, mendengarkan suara-suara dari dalam. Pada saat itu sebenarnya sang Pangeran Cina sedang makan dengan sumpit, sambil sesekali menyeruput arak dari cawan. Suara decap dan menyeruput mulutnya mengejutkan sipunggawa. “Astaga.. suara ketika makam mengingatkanku kepada… kepada apa, ya?” pikir si Punggawa sambil mengingat-ingat. Kemudian si Punggawa benar-benar ingat. Pada waktu ia berburu dan melihat babi hutan sedang minum di anak sungai. Suaranya juga berdecap-decap dan menyeruput seperti itu. Ia juga teringat pada suara dari mulut anjing dan kucing ketika melahap makanan. “Ah ya … benar-benar persis … persis seperti suara yang kudengar! Jadi jangan-jangan..” Tiba-tiba mata si punggawa terbelalak. Seperti orang teringat sesuatu yang mengejutkan. Hampir serentak dengan itu ia pun menyelinap meninggalkan tempat bersembunyi. Ia meninggalkan kapal dan cepat-cepat kembali untuk melaporkan kepada Ratu Aji Bidara Putih. “Kau jangan mengada-ada, Paman,” tegur Ratu setelah mendengar laporan punggawa itu.“Saya tidak mengada-ada, Tuanku! Suaranya ketika makan tadi meyakinkan saya, ” kata si punggawa. “Pangeran itu pasti bukan manusia seperti kita. Pasti dia siluman! Entah siluman babi hutan, anjing atau kucing. Pokoknya siluman! Hanya pada waktu siang ia berubah ujud menjadi manusia! Percayalah Tuanku. Saya tidak mengada-ada..” Penjelasan si punggawa yang meyakinkan membuat Ratu Aji Bidara Putih akhirnya percaya. Tidak lucu, pikirnya, kalau ia sampai menikah dengan siluman. Padahal banyak raja dan pangeran tampan yang telah meminangnya. Maka pada keesokan harinya dengan tegas ia menyatakan penolakannya terhadap pinangan pangeran itu. Sang Pangeran amat murka mendengar penolakan Ratu Aji Bidara Putih. Berani benar putri itu menolaknya. Dalam kekalapannya ia segera memerintahkan pada prajuritnya untuk menyerang negeri Muara Kaman. Para prajurit itu menyerbu negeri Muara Kaman. Kentara bahwa mereka lebih berpengalaman dalam seni bertempur. Para prajurit Muara Kaman terdesak, korban yang jatuh akibat pertempuran itu semakin bertambah banyak. Sementara para prajurit suruhan sang pangeran makin mendekat ke arah istana. Ratu Aji Bidara Putih merasa sedih dan panik. Namun kemudian ia berusaha menenangkan pikirannya. Ia mengheningkan cipta. setelah itu ia mengunyah sirih. Kemudian kunyahan sepah sirih digenggamnya erat-erat. Lalu berkata, “Jika benar aku keturunan rajaraja yang sakti, terjadilah sesuatu yang dapat mengusir musuh yang sedang mengancam negeriku!” Serentak dengan itu dilemparkannya sepah sirih itu ke arena pertempuran… dan , astaga..lihatlah! Tiba-tiba sepah sirih itu berubah menjadi lipan-lipan raksasa yang amat banyak jumlahnya! Lipan-lipan yang panjangnya lebih dari satu meter itu segera menyerang para prajurit Pangeran Cina. Para prajurit itu menjadi ketakutan. Mereka lari tungganglanggang dan kembali ke kapal. Tetapi lipan-lipan itu tidak berhenti menyerbu. Tiga ekor lipan raksasa mewakili kelompoknya. Mereka berenang ke kapal, lalu membalikkannya hingga kapal itu tenggelam beserta seluruh penumpangnya dan isinya… Tempat bekas tenggelamnya kapal itu hingga kini oleh penduduk Muara Kaman disebut Danau Lipan. Konon, menurut empunya cerita, dulu di tempat ini sesekali ditemukan barang-barang antik dari negeri Cina.

24. Lintan (Cerita Rakyat SulawesiUtara)

Dulu, di Minahasa, ada seorang gadis yang sangat cantik. Lingkan, begitu nama gadis itu. Ia seorang yang ramah, baik hati, dan tidak sombong. Para pemuda menginginkannya menjadi istrinya. Para orang tua ingin menjadikannya sebagai menantu. Suatu ketika, tersiar berita bahwa Raja Mongondow akan datang ke Minahasa. Ia datang bersama anak buahnya. Mereka membawa perhiasan, emas, permata, dan barang berharga lainnya. Mendengar itu, penduduk Minahasa seketika amat mencemaskan Lingkan. Mereka takut Raja akan mengambilnya. Untuk menghindari hal itu terjadi, orang tua Lingkan lalu menyembunyikan Lingkan di dalam hutan, di atas sebuah pohon besar di tepi sungai. Untuk makan gadis itu, mereka menyediakan makanan yang dimasak dalam bambu. Raja dan para pengiringnya tiba di Minahasa. Setelah beberapa hari di daerah itu mereka pun kembali ke Mongondow. Dalam perjalanan, mereka beristirahat di tepi sungai. Tiba-tiba Raja melihat suatu benda mengapung di sungai. Diperintahkan seorang anak buahnya mengambil benda itu. Benda itu adalah bumbung bambu dan daun bekas memasak nasi. Raja pun berpendapat, bahwa di udik sungai itu pasti ada penghuninya. Ia kemudian memerintahkan anak buahnya untuk menyelidiki dari mana benda-benda itu berasal. Anak buah Raja segera menyusuri sungai. Mereka bertemu dengan seorang lelaki tua tengah duduk di bawah pohon besar. Lelaki itu adalah ayah Lingkan yang sedang menjaga Lingkan. Anak buah Raja lalu melihat seorang gadis sangat cantik duduk di atas pohon. Cepat mereka menghadap raja mereka dan melaporkan apa yang telah mereka temui. Raja sangat senang mendengar laporan itu. Katanya, “Bawa gadis itu ke mari! Katakan padanya bahwa aku akan memenuhi apa saja yang ia minta asal ia mau menjadi istriku!” Anak buah Raja menemui Lingkan dan menyampaikan apa yang dikatakan raja mereka pada gadis itu. Lingkan tak mau. Anak buah Raja membujuknya. Akhirnya Lingkan dapat dibawa ke hadapan Raja. Penuh suka cita, Raja menyambut gadis cantik itu. Mereka kemudian meneruskan perjalanan. Namun, setiap kali akan menyeberangi sebuah sungai Lingkan berhenti. Ia tak mau meneruskan perjalanan. Ia baru mau terus setelah keinginannya dipenuhi Raja. Akhirnya, semua barang yang dibawa Raja habis diberikan pada Lingkan. Mereka hampir sampai di Mongondow. Satu sungai lagi harus mereka seberangi untuk sampai di sana. Lingkan berhenti dan meminta sesuatu. Raja bingung. Ucapnya, “Lingkan, barang-barang yang kubawa telah habis kuberikan padamu. Mari kita meneruskan perjalanan. Nanti, setelah kita sampai di istana, apa yang kau minta pasti kuberi.” “Aku ingin hadiah itu sekarang!” tukas Lingkan. “Jika tidak, aku tak mau di bawa ke Mongondow!” “Tapi apa yang harus kuberi?” “Hmh,” ucap Lingkan tersenyum, “aku ingin seluruh tanah sebelah utara sungai ini untukku!” Raja terdiam. Bila ia memenuhi keinginan Lingkan, itu berarti ia melepaskan daerah kekuasaanya yang terletak di sebelah utara sungai itu. Kalau tidak memenuhi keinginan Lingkan, berarti ia gagal memperistri gadis yang sangat cantik itu. Raja akhirnya merasa berat untuk melepaskan Lingkan. Cetusnya, “Baiklah kupenuhi keinginanmu!” Sungai itu dijadikan batas daerah Mongondow dan Minahasa dan diberi nama Posigadan yang artinya perbatasan. Sekarang daerah itu telah berganti nama menjadi Sungai Poigar.

25. Asal Mula Nama Pamboang (Cerita Rakyat Sulawesi Barat)
Alkisah, di Kampung Benua, Majene, Sulawesi Barat, hiduplah tiga orang pemuda yang hendak memperluas lahan perladangan dan permukiman penduduk, serta membangun pelabuhan di pantai. Ketiga pemuda tersebut bergelar I Lauase, I Lauwella, dan I Labuqang. Gelar tersebut mereka sandang berdasarkan pada tugas mereka dalam mewujudkan keinginan tersebut. Pemuda pertama bergelar I Lauase, karena dalam menjalankan tugasnya membuka hutan lebat menjadi lahan perladangan selalu menggunakan wase (kapak). Pemuda kedua bergelar I Lauwella, karena bertugas untuk membabat dan membersihkan wella (rumput) laut di pantai yang akan dijadikan sebagai wilayah perdagangan. Pemuda ketiga bergelar I Labuqang, karena bertugas untuk meratakan tanah di pantai yang berlubang akibat ulah buqang (kepiting). Ketiga pemuda tersebut melaksanakan tugas di wilayah mereka masing-masing. I Lauase bekerja di daerah hutan untuk membuka lahan perladangan, sedangkan I Lauwella dan I Labuqang bekerja di daerah pantai. I Lauwella membersihkan rumput laut, sedangkan I Labuqang meratakan tanah yang berlubang di pantai. Ketiga pemuda tersebut bekerja dengan penuh semangat di wilayah kerja masing-masing.

Menjelang sore hari, ketiga pemuda itu kembali ke kampung untuk beristirahat. Sebelum tidur, mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing setelah melalui hari pertama. “Hari ini saya sudah merobohkan puluhan pohon besar,” cerita I Lauase. “Kalian bagaimana?” tanya I Lauase kepada I Lauwella dan I Labuqang. “Saya sudah banyak membersihkan rumput laut di pantai,” jawab I Lauwella. “Saya juga sudah meratakan puluhan lubang kepiting,” sahut I Labuqang. “Kalau begitu, saya perkirakan dalam waktu seminggu kita sudah dapat menyelesaikan tugas kita masing-masing,” kata I Lauase. “Benar! Kita harus bekerja lebih keras lagi,” sahut I Lauwella. Ternyata benar perkiraan mereka, setelah seminggu bekerja keras, semua pekerjaan mereka telah selesai. Kemudian ketiga pemuda tersebut menjadi penguasa di wilayah yang mereka buka. I Lauase menanami ladangnya dengan berbagai jenis tanaman palawija, sedangkan I Lauwella dan I Labuqang yang wilayah kekuasaannya berada di daerah pantai bekerja sama membangun sebuah pelabuhan untuk dijadikan sebagai sarana perdagangan. Semakin hari semakin banyak penduduk yang ikut berladang bersama dengan I Lauase. Demikian pula di pelabuhan, aktivitas perdagangan pun semakin ramai. Akhirnya, mereka bersepakat untuk menggabungkan ketiga wilayah mereka menjadi satu. “Tapi, apa nama yang cocok untuk wilayah ini?” tanya I Labuqang. Mendengar pertanyaan itu, I Lauase dan I Lauwella terdiam. Keduanya juga masih bingung untuk memberikan nama yang bagus untuk wilayah mereka. Setelah beberapa saat berpikir, I Lauase kemudian mengajukan usulan. “Bagaimana kalau tempat ini kita namakan Pallayarang Tallu?” “Pallayarang Tallu? Apa masksudnya?” tanya I Lauwella penasaran. “Pallayarang artinya tiang layar, sedangkan Tallu artinya tiga. Jadi, Pallayarang Tallu berarti Tiga Tiang Layar,” jelas I Lauase. “Waaah, nama yang bagus. Saya setuju dengan usulan I Lauase. Kalau kamu bagaimana?” tanya I Labuqang kepada I Lauwella. “Saya juga setuju dengan nama itu,” jawab I Lauwella. Akhirnya ketiga pemuda itu menemukan nama yang bagus untuk wilayah mereka. Selanjutnya, mereka selalu bekerja sama mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan wilayah mereka. Pada suatu hari, sekitar 7.000 orang pengungsi yang dipimpin oleh Puatta Di Karena tiba di daerah Adolang yang berbatasan dengan daerah kekuasaan I Lauase. Ribuan pengungsi tersebut berasal dari Kerajaan Passokkorang yang hancur akibat diserang oleh pasukan musuh. Setelah beberapa lama berada di daerah itu, Puatta Di Karena ingin mengajak negeri Pallayarang Tallu untuk bergabung menjadi anggota Pitu Baqbana Binanga, yaitu persekutuan kerajaan-kerajaan di daerah Mandar. Suatu hari, Puatta Di Karena didampingi oleh beberapa pengawalnya pergi ke Negeri Pallayarang Tallu untuk menemui I Lauase. Setiba di rumah Lauase, ia pun mengutarakan maksud kedatangannya. ”Anak Muda! Maksud kedatangan kami adalah ingin mengajak Anda untuk bergabung menjadi anggota Pitu Baqbana Binanga. Apakah Anda bersedia?” tanya Puatta Di Karena menawarkan. ”Maaf, Tuan! Saya tidak dapat memutuskan sendiri masalah ini. Saya harus bermusyawarah dengan kedua saudara saya, I Lauwella dan I Labuqang,” jawab I Lauase. ”Baiklah, kalau begitu! Saya akan menunggu keputusan dari kalian. Tapi, kapan kita bisa bertemu lagi?” tanya Puatta Di Karena. ”Tuan boleh kembali ke mari besok pagi,” jawab I Lauase. Setelah Puatta Di Karena mohon diri, I Lauase segera mengundang I Lauwella dan I Labuqang. Di rumah I Lauase, ketiga pemuda itu bermusyawarah. Dalam pertemuan itu mereka bersepakat untuk tidak bergabung menjadi anggota Pitu Baqbana Binanga. Keesokan harinya, Puatta Di Karena pergi lagi ke rumah I Lauase. Kedatangannya disambut oleh ketiga pemuda tersebut. ”Bagaimana keputusan kalian?” tanya Puatta Di Karena penasaran. ”Maafkan kami, Tuan! Kami telah sepakat belum bersedia menerima tawaran, Tuan!” jawab I Lauase. ”Kenapa?” tanya Puatta Di Karena. ”Negeri kami belum makmur. Rakyat kami masih banyak yang hidup susah,” tambah I Lauwella. ”Bagaimana jika aku membayar tambo[2] kepada kalian?” tanya Puatta Di Karena menawarkan. Mendengar tawaran itu, ketiga orang pemuda tersebut terdiam. Mereka berpikir, menerima atau menolak tawaran itu. Setelah berunding sejenak, akhirnya mereka memutuskan untuk menerima tawaran itu.

”Baiklah! Kami menerima tawaran Tuan! Kapan tambo itu akan Tuan berikan kepada kami?” tanya I Lauase. ”Kami akan mengantarkan tambo itu minggu depan,” janji Puatta Di Karena. Akhirnya, Pallayarang Tallu pun bergabung menjadi anggota Pitu Baqbana Binanga. Ketiga pemuda itu sangat senang, karena mereka akan mendapat tambo untuk digunakan membangun wilayah dan membantu rakyat mereka. Namun, setelah seminggu mereka bergabung, Puatta Di Karena tidak memberikan tambo yang telah dijanjikannya. Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, Puatta Di Karena tidak kunjung datang mengantarkan tambo. Akhirnya, tambo pun menjadi pembicaraan masyarakat Pallayarang Tallu. Oleh karena setiap hari diucapkan, lama-kelamaan kata tambo berubah menjadi Tamboang, lalu menjadi Pamboang. Berdasarkan kata inilah masyarakat setempat mengganti nama Pallayarang Tallu menjadi Pamboang. Hingga kini, kata Pamboang dipakai untuk menyebut nama sebuah kecamatan di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.

26. Asal mula ikan duyung (cerita rakyat Sulawesi Tengah ) Alkisah, di sebuah kampung di daerah Sulawesi Tengah, Indonesia, hiduplah sepasang suamiistri bersama tiga orang anaknya. Dua orang laki-laki dan seorang perempuan. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Sang Ayah menanam sayur-sayuran dan umbi-umbian di ladang dan mencari ikan di laut. Setiap pagi, sebelum berangkat ke ladang, sang Ayah selalu sarapan bersama istri dan ketiga orang anaknya. Pada suatu pagi, sepasang suami-istri bersama ketiga orang anaknya sedang sarapan bersama dengan lauk ikan. Saat itu persediaan lauk ikan cukup banyak, sehingga mereka tidak mampu menghabiskan semua. Usai sarapan, sang Ayah pun bersiap-siap berangkat ke kebun. Sebelum berangkat, ia berpesan kepada istrinya. “Istriku! Tolong simpan sisa ikannya untuk lauk makan siang nanti!” “Baik, Bang,” jawab istrinya singkat. Setelah itu, berangkatlah sang Ayah ke Ladang. Istrinya pun segera menyimpan sisa ikan itu di dalam lemari makan. Menjelang siang hari, anaknya yang bungsu tiba-tiba menangis minta makan. Ia sangat kelaparan setelah setengah harian bermain dengan kakak-kakaknya. Sang Ibu pun segera memberinya sepiring nasi dan beberapa cuil daging ikan dari dalam lemari. Si Bungsu makan dengan lahap sekali. Dalam beberapa menit saja, lauk ikan yang diberikan oleh ibunya langsung ia habiskan. Si Bungsu pun minta tambah lauk kepada ibunya. “Ibu… aku ingin tambah lauk ikan lagi,” pinta si Bungsu sambil menangis merengek-rengek. “Tapi sedikit saja ya, Anakku! Sisakan juga untuk makan siang Ayahmu nanti,” bujuk sang Ibu. Bujukan sang Ibu tidak membuat si Bungsu berhenti menangis. Bahkan, si Bungsu menangis semakin menjadi-jadi sambil berguling-guling di tanah. Sang Ibu tidak sampai hati melihat anaknya menangis. Ia pun memberikan semua sisa ikan itu kepada si Bungsu. Setelah itu, barulah si Bungsu berhenti menangis. Menjelang siang hari, sang Ayah pulang dari ladang. Ia sangat lapar dan meminta istrinya untuk segera menghidangkan makanan untuknya. Dengan perasaan cemas, istrinya pun segera menghidangkan makanan. Setelah hidangan tersedia, sang Ayah melihat hidangan itu tidak lengkap. “Bu, mana sisa ikan tadi pagi? Kenapa tidak kamu hidangkan?” tanya sang Ayah. “Maaf, Bang! Tadi si Bungsu menangis minta makan dengan lauk ikan,” jawab istrinya. “Kenapa kamu berikan semua kepadanya?” tanya sang Ayah dengan nada marah. “Maaf, Bang! Tadi aku hanya memberinya beberapa cuil daging ikan, tapi si Bungsu terus menangis merengek-rengek dan berguling-guling di tanah meminta ikan. Aku tidak tega melihatnya, Bang! Makanya aku berikan semua sisa ikan itu kepadanya,” jawab istrinya. Mendengar jawaban itu, sang Ayah semakin marah dan tidak mau menerima alasan apapun dari istrinya. “Aku tidak mau tahu. Aku sudah berpesan kepadamu agar menyimpan sisa ikan itu untuk makan siang!” bentak sang Ayah. Sang Istri tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa menangis dan meminta maaf kepada suaminya karena merasa bersalah. Berkali-kali ia meminta maaf kepada suaminya, namun sang Suami

tetap tidak berhenti marah, bahkan kemarahannya semakin menjadi-jadi. Sang istri yang tidak tahan dimarahi terus meneteskan air mata. “Aku tak sanggup lagi tinggal di rumah ini. Suamiku benar-benar tidak mau memaafkan aku lagi,” keluh sang Istri dalam hati. Akhirnya, sang Istri pun memutuskan pergi. Pada saat tengah malam, ketika suami dan anak-anaknya sedang tertidur pulas, secara diam-diam ia meninggalkan rumah dan pergi ke laut. Pada pagi harinya, sang Ayah dan ketiga anaknya bangun tidur. Seperti biasanya, setiap pagi mereka berkumpul untuk sarapan bersama. Betapa terkejutnya sang Ayah, karena hidangan untuk sarapan bersama belum tersedia. Dengan perasaan kesal, ia pun berteriak-teriak memanggil istrinya. “Istriku… Istriku…! Kamu di mana?” Berkali-kali sang Ayah berteriak memanggil istrinya, namun tidak mendapatkan jawaban sama sekali. Sang Ayah bersama ketiga anaknya pun segera mencari sang Ibu di sekitar rumah. Mereka sudah mencari ke mana-mana, tetapi mereka tidak juga menemukannya. “Ayah! Apa yang harus kita lakukan? Si Bungsu menangis tidak kuat lagi menahan lapar?” tanya si Sulung kepada ayahnya. “Carilah ibu kalian di laut!” seru sang Ayah. “Kenapa harus ke laut, Ayah?” tanya lagi si Sulung. “Barangkali ibu kalian sedang mencari ikan di laut. Bukankah si Bungsu kemarin menangis minta ikan?” imbuh sang Ayah. Mendengar perintah sang Ayah, si Sulung pun segera mengajak kedua orang adiknya pergi ke laut untuk mencari ibu mereka. Sesampainya di laut, mereka memanggil ibu mereka sambil bernyanyi: Ibu pulanglah Ibu…

Ibu pulanglah Ibu… Si Bungsu ingin menyusu…
Tidak berapa lama kemudian, tiba-tiba ibu mereka muncul dari laut sambil membawa beberapa ekor ikan, lalu segera menyusui si Bungsu. Seusai menyusui, sang Ibu berpesan kepada anak-anaknya. “Wahai, anak-anakku! Pulanglah ke rumah. Ayah kalian pasti sudah menungggu kalian.” “Ayo Bu, kita pulang bersama-sama!” bujuk ketiga anak itu sambil menari-narik tangan sang Ibu. “Kalian pulanglah duluan! Ibu akan menyusul kalian. Bawalah ikan ini untuk makan siang bersama Ayah kalian nanti. Ibu masih ingin mencari ikan lagi untuk kalian,” ujar sang Ibu. Ketiga anak itu pun menuruti perintah sang Ibu. Mereka pulang sambil membawa ikan hasil tangkapan Ibu mereka. sesampainya di rumah, mereka segera melapor kepada sang Ayah. “Ayah, Benar. Ternyata Ibu sedang berada di laut mencari ikan. Ini hasil tangkapannya,” kata si Sulung sambil menunjukkan ikan yang mereka bawa kepada sang Ayah. “Ke mana Ibu kalian? Kenapa dia tidak pulang bersama kalian?” tanya sang Ayah. “Ibu masih ingin mencari ikan yang lebih lagi, Ayah!” jawab ketiga anak itu serentak. “Kalau begitu, segeralah panggang ikan itu untuk makan siang kita nanti!” seru sang Ayah. Ketiga anak itu pun segera melaksanakan perintah sang Ayah. Tidak berapa kemudian, ikan-ikan tersebut selesai mereka pangggang. Namun, sang Ibu belum juga datang. “Ayo kita makan dan habiskan ikan pangggang ini. Tidak usah menunggu Ibu kalian!” ajak sang Ayah. “Tapi, kasihan Ibu, Ayah! Kalau ikan pangggang ini kita habiskan, nanti Ibu makan apa? Ibu pasti kelaparan sepulang dari laut nanti,” kata si Sulung.

“Diam kamu Sulung! Kamu tidak udah merasa kasihan kepada Ibumu. Bukankah dia juga tidak kasihan kepada Ayah, karena telah memberikan semua sisa ikan sarapan kemarin kepada si Bungsu,” bentak sang Ayah. Mendengar bentakan itu, si Sulung dan kedua adiknya pun tidak berani membantah dan terpaksa mematuhi perintah sang Ayah. Dengan perasaan berat hati, ketiga anak itu pun terpaksa ikut menghabiskan ikan panggang itu bersama sang Ayah. Hingga mereka selesai makan siang, sang Ibu belum juga datang. Hati ketiga anak itu pun mulai cemas kalau-kalau terjadi sesuatu terhadap ibu mereka. Hati mereka semakin cemas saat hari menjelang sore, karena ibu mereka tidak juga kunjung pulang. Mereka pun tidak berani menyusul ibu mereka ke laut, karena hari sudah semakin gelap. Keesokan harinya, barulah ketiga anak itu kembali ke laut menemui ibu mereka. Sesampainya di laut, mereka tidak melihat ibu mereka. Mereka pun memanggil sang Ibu sambil bernyanyi:

Ibu pulanglah Ibu… Ibu pulanglah Ibu… Si Bungsun ingin menyusu…
Setelah tiga kali mereka bernyanyi, barulah ibu mereka baru muncul dari laut. Betapa terkejutnya ketiga kakak beradik itu ketika melihat tubuh ibu mereka dipenuhi dengan sisik ikan. Mereka sangat ketakutan dan tidak percaya bahwa perempuan yang bersisik seperti ikan itu adalah ibu mereka. Si Bungsu pun enggan untuk menyusu kepadanya. “Mendekatlah kemari, anak-anakku! Aku ini ibu kalian!” bujuk sang Ibu. “Tidak! Ibu kami tidak bersisik seperti ikan,” jawab ketiga anak itu serentak. Setelah berkata begitu, ketiga anak tersebut langsung pergi meninggalkan perempuan bersisik itu. Mereka menyusuri pantai tanpa arah dan tujuan yang jelas. Sementara sang Ibu yang telah menjelma menjadi ikan duyung kembali ke laut.

27. Nini dan Putri Ikan (Cerita rakyat dari Sulawesi Tenggara Kendari) Di sebuah pedesaan bawah laut tinggallah Nini seekor ikan kecil berwarna biru bersama keluarganya. Karena masih kecil Nini dilarang ibunya untuk keluar rumah. Keseharian Nini adalah bermain-main di sekitar rumahnya. Padahal Nini ingin sekali berenang keluar dari rumah seperti ikan lainnya yang bebas berenang kemanapun mereka inginkan. Pada suatu hari ketika Nini sendirian di rumah datanglah ikan-ikan kecil lainnya. Mereka sangat cantik dan berwarna-warni, ada si kuning bergaris-garis putih, keemasan, dan biru seperti dirinya. Nini senang sekali. Ikan-ikan kecil itu mendatangi Nini dan mengajaknya bermain di luar rumah, mulanya Nini keberatan sebab takut dimarahi ibunya. Namun ketiga teman Nini terus membujuknya dan mengatakan bahwa pemandangan laut lainnya amat menarik, mereka juga berjanji akan menjaga Nini. Setelah berfikir akhirnya Nini ikut bersama teman-temannya bermain di luar rumah. Nini sangat terkesan dengan pemandangan di permukaan laut, dia melihat kapal yang besar dan ombak laut yang bergulung-gulung. Nini berenang mengitari kapal besar tersebut, karena terlalu senang Nini lupa pada pesan ibunya agar jangan pergi jauh. Tanpa terasa hari sudah beranjak senja, Nini yang tersadar kebingungan karena ditinggal sendiri oleh teman-temannya. Dia tidak tahu jalan pulang. Ketika itulah terdengar suara lembut dari arah belakang. Ternyata dibelakang Nini ada seekor putri ikan yang cantik. Putri ikan melihat Nini kebingungan. Dihadapan putri ikan Nini mengatakan bahwa dirinya tersesat dan tidak tahu jalan pulang. Putri ikan yang merasa kasihan akhirnya berjanji akan menolong Nini kembali ke rumah. Ketika itu putri ikan selalu melihat ke arah kapal besar yang sedang berhenti. Nini merasa heran lalu bertanya kenapa putri ikan selalu memandang ke arah kapal itu. Tiba-tiba wajah putri ikan menjadi muram, dia lalu mengatakan bahwa dirinya dulu adalah seorang putri yang cantik. Putri cantik itu bernama Kanaya. Namun, karena ulah seorang nenek sihir Putri Kanaya di sihir menjadi manusia setengah ikan. Putri Kanaya mempunyai seorang kakak yang bernama Miruni. Miruni merasa iri dengan Putri Kanaya karena pangeran tampan yang lebih memilih putri Kanaya dibanding Miruni. Karena rasa iri tersebut, Miruni mencari seorang nenek sihir untuk mengubah Kanaya menjadi manusia setengah ikan. Putri Kanaya hanya akan sembuh jika dirinya bertemu dengan pangeran dan menikah dengannya.

Nini yang mendengar cerita itu merasa kasihan lalu berniat ingin menolong Kanaya. Nini berenang mendekati kapal besar dan melompat ke atas kapal. Dirinya jatuh tepat di kaki pangeran tampan yang mencintai Kanaya. Nini lalu menjelaskan kepada pangeran bahwa dirinya adalah teman Kanaya, putri yang telah disihir menjadi manusia setengah ikan. Nini juga menjelaskan bahwa sihir itu akan hilang jika pangeran bersedia menikah dengan putri Kanya. Pangeran yang mendengar penjelasan itu merasa senang karena dapat bertemu kembali dengan Kanaya. Dia lalu membawa Nini menuruni kapal dan pindah ke sampan kecil untuk menemui Kanaya di lautan. Nini kemudian di lepaskan ke dalam air dan membawa pangeran bertemu dengan Kanaya. Setelah bertemu pangeran berjanji akan menikah dengan Kanaya. Saat itulah dengan perlahan-lahan Kanaya berubah menjadi manusia. Ekornya berubah menjadi sepasang kaki yang cantik. Putri Kanaya tidak melupakan janjinya kepada Nini, dengan bantuan seekor ikan teman Kanaya, Nini dibawa pulang menuju rumahnya. Putri Kanaya menikah dan hidup di pinggir pantai bersama pangeran. Nini dan teman-temannya sering datang mengunjungi mereka yang telah hidup bahagia. 28. “La Dana dan Kerbaunya” (Cerita Rakyat Sulawesi Selatan ) La Dana adalah seorang anak petani dari Toraja. Ia sangat terkenal akan kecerdikannya. Kadangkala kecerdikan itu ia gunakan untuk memperdaya orang. Sehingga kecerdikan itu menjadi kelicikan. Pada suatu hari ia bersama temannya diundang untuk menghadiri pesta kematian. Sudah menjadi kebiasaan di tanah toraja bahwa setiap tamu akan mendapat daging kerbau. La Dana diberi bagian kaki belakang dari kerbau. Sedangkan kawannya menerima hampir seluruh bagian kerbau itu kecuali bagian kaki belakang.Lalu La Dana mengusulkan pada temannya untuk menggabungkan dagingdaging bagian itu dan menukarkannya dengan seekor kerbau hidup.Alasannya adalah mereka dapat memelihara hewan itu sampai gemuk sebelum disembelih. Mereka beruntung karena usulan tersebut diterima oleh tuan rumah. Seminggu setelah itu La Dana mulai tidak sabar menunggu agar kerbaunya gemuk. Pada suatu hari ia mendatangi rumah temannya, dimana kerbau itu berada, dan berkata “Mari kita potong hewan ini, saya sudah ingin makan dagingnya.” Temannya menjawab, “Tunggulah sampai hewan itu agak gemuk.”Lalu La Dana mengusulkan, “Sebaiknya kita potong saja bagian saya, dan kamu bisa memelihara hewan itu selanjutnya.” Kawannya berpikir, kalau kaki belakang kerbau itu dipotong maka ia akan mati. Lalu kawannya membujuk La Dana agar ia mengurungkan niatnya. Ia menjanjikan La Dana untuk memberinya kaki depan dari kerbau itu. Seminggu setelah itu La Dana datang lagi dan kembali meminta agar bagiannya dipotong.Sekali lagi kawannya membujuk.Ia dijanjikan bagian badan kerbau itu asal La Dana mau menunda maksudnya. Baru beberapa hari berselang La Dana sudah kembali kerumah temannya.Ia kembali meminta agar hewan itu dipotong. Kali ini kawannya sudah tidak sabar, dengan marah ia pun berkata, “Kenapa kamu tidak ambil saja kerbau ini sekalian! Dan jangan datang lagi untuk mengganggu saya.” La dana pun pulang dengan gembiranya sambil membawa seekor kerbau gemuk. 29. Limonu (Cerita Rakyat Gorontalo) Limonu hanya hidup bersama ibunya. Dia terkenal sebagai anak yang tangkas melebihi kawankawannya. Kepandaiannya menangkap burung malwo yang banyak menetas di spanjang Pantai Marisa tak terkalahkan. Dalam segala hal permainan, Limonu juga selalu mengalahkan kawan-kawannya. Namun, kawan-kawannya selalu saja mengejeknya. Hal ini disebabkan karena Limonu tidak mempunyai ayah. Sedari kecil Limonu hanya mengenal ibunya saja. Limonu sangat sedih mendengar ejekan kawanawannya itu. Dia tidak meneruskan bermain di sepanjang pantai dan memilih pulang. Sesampainya di rumah Limonu segera menemui ibunya dan menanyakan tentang keberadaan ayahnya. Melihat wajah Limonu yang muram membuat ibunya sedih dan akhirnya menceritakan tentang siapa ayah Limonu. Ibunya berkata bahwa ayah Limonu adalah seorang raja dari timur. Namun, mereka tidak bisa hidup bersama ayahnya di istana sebab ketika itu terjadi kerusuhan di istana. Oleh sebab itu mereka tinggal di luar istana dan hidup sebagai rakyat biasa agar selamat dari kerusuhan tersebut.

Mendengar penjelasan tentang jati dirinya Limonu berniat ingin bertemu dengan ayahnya di istana. Semula ibunya merasa keberatan sebab takut jika Limonu akan celaka. Ibu Limonu tidak ingin kehilangan anak satu-satunya selain itu usia Limonu masih sangat muda. Namun, melihat kesungguhan yang terpancar di mata Limonu, akhirnya ibunya mgnizinkan Limonu pergi. Berangkatlah Limonu mencari ayahnya. Setelah mengalami penderitaan dalam pengembaraan, akhirnya sampailah Limonu di Kerajaan Gorontalo. Setiap sore, di halaman kerajaan selalu diadakan permainan bola keranjang yang melibatkan semua penonton dari pembesar dan punggawa kerajaan. Limonu mendekat arena permainan itu dan tertarik untuk mencoba. Ketika memasuki gelanggang permainan, semua mata tertuju padanya. Dia memang oran gasing yang baru saja tiba di kerajaan itu sehingga menimbulkan daya tarik tersendiri untuk orang-orang yang berada di sana. Salah satu pemuda yang sedang memegang bola keranjang mendatangi Limonu dan mengejeknya. Pemuda itu ingin menantang Limonu bermain bola keranjang. Limonu tidak menerima tantangan tersebut, justru sebaliknya ia berkata bahwa hanya ingin ikut bermain bukannya menantang. Beberapa saat kemudian, Limonu memperlihatkan kemampuannya bermain bola keranjang. Dengan tangkas, dia memainkan bola itu. Gerakan-gerakannya indah dan cepat. Semua mata kagum memandang permainan Limonu yang luar biasa. Penonton bertepuk tangan usai Limonu memainkan bola keranjang. Raja yang terpesona memanggil Limonu. Raja memuji permainan Limonu dan menanyakan daerah asal pemuda itu, sebab jika dilihat jelas sekali bahwa Limonu bukan dari wilayah kerajaan tersebut. Limonu memberi hikmat takzim kepada raja dan mengatakan bahwa dirinya berasal dari daerah barat. Limonu juga mengatakan tujuannya ke kerajaan tersebut adalah ingin mencari ayahnya. Limonu memberi tahu bahwa ibunya bernama Huyahulawa. Raja sangat terkejut mendengar penuturan Limonu dan menanyakan sekali lagi tentang kebenaran bahwa Limonu adalah anak Huyahulawa atau Putri Raja Buhu Ponelo. Limonu menangguk mendengar perkataan raja. Seketika itu juga raja bangkin dari duduknya dan memeluk Limonu seraya berkata bahwa dirinya adalah ayah Limonu. Raja kemudian mengumumkan kepada punggawa, pembesar, dan rakyat bahwa Limonu adalah putra kandungnya. Akhirnya Limonu bertemu dengan ayahnya dan tinggal di istana. 30. Cerita Rakyat Maluku Kisah ini bermula di daerah Maluku Utara, tepatnya di daerahTobelo. Beratus tahun yang lalu di suatu rumah yang berdindingkan daun rumbia diamlah satu keluarga. Sang ayah seorang nelayan yang siang dan malam hidupnya di atas lautan, mempertaruhkan nyawa untuk menghidupkan anak istrinya. Sang ibu adalah wanita setia dan sangat bijaksana. Mereka memiliki dua orang anak. Yang sulung anak perempuan bernama O Bia Moloku. Kecantikannya melebihi kecantikan ibunya. Sedangkan adiknya yang laki-laki bernama O Bia Mokara. la ganteng, dan berperawakan mirip ayahnya. Pada suatu hari ayah mereka pergi melaut dan seperti biasa sebelum ayah mereka bertolak ke laut, tak lupa ditinggalkannya makanan dan telur ikan pepayana di rurnahya. Beberapa hari setelah kepergian ayahnya melaut, ibunya pergi ke kebun. Sebelum ibunya pergi ia berpesan kepada kedua anaknya. “Hai anak-anakku, jangan kamu makan telur ikan yang ditinggalkan ayahmu ini. Apabila kamu rnemakannya akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan”. Ibunya berkata dengan sungguh-sungguh tetapi mereka berdua hanya tertawa saja. Setelah ibunya selesai memberi nasihat maka pergilah ibunya ke kebun. Kira-kira tigajam berlalu, adiknya, O Bia Mokara, merasa lapar. Dimintanya makanan dan telur ikan. Kakaknya, O Bia. Moloku, tak rnau memberikan permintaan adiknya. Adiknya menangis tersedu-sedu tetapi O Bia Moloku tetap tidak mau memberikan telur ikan itu, Semakin lama semakin keras saja tangisan adiknya. Akhirnya O Bia Moloku tak tega melihat adiknya menangis terusmenerus, dan telur ikan itu segera diberikan kepada adiknya. Sambil tertawa adiknya memakan telur ikan itu dengan lahapnya. Setelah memakan telur itu sampai habis, beberapa sisa telur ikan itu melekat pada gigi adiknya. Tak lama kemudian ibunya kembali dari kebun membawa singkoNg, pepaya, dan sayur-sayuran. Setelah selesai membersihkan badannya, ibunya pun menggendong O Bia Mokara dan ia segera menyusukan si O Bia Mokara. Setelah itu, ibunya menyanyi sambil menari sambil menggendong O Bia Mokara yang tertawa gembira karena sangat senang berada dalam pelukan ibunya yang sangat didambakannya. Namun, tiba-tiba ayunan mesra ibunya dikejutkan dengan terlihatnya, sisa telur ikan yang melekat pada gigi O Bia Mokara. Suasana sukacita segera berubah menjadi keheningan yang mendalam. Ibunya tertegun sebentar, sekujur badannya menjadi dingin gemetar dan marah sekali

kepada kedua anaknya. Amarah ibunya tak dapat ditekan lagi. la segera melepaskan O Bia Mokara dan segera melarikan diri menyusuri pesisir pantai. Sambil menggendong O Bia Mokara yang menangis terus, O Bia Moloku mengejar ibunya sambil memanggil-manggil ibunya. “Mama, Mama, O Bia Mokara menangis terus, Mama!” Namun, panggilannya hanya dijawab oleh mamanya. “Peras saja daun katang-katang, ada air susunya!” Setelah tiga kali O Bia Moloku memberikan airsusu dari daun katang-katang kepada adiknya, ibunya pun menerjunkan diri ke iaut. Sementara menyelam ia menemukan sebuah batu yang timbul di permukaan air. Naiklah ibunya ke atas batu itu dan berkata, “Terbukalah agar aku dapat masuk”. Batu itu terbuka, lalu ibunya pun masuk ke dalam batu itu. Dengan segera ia pun berteriak, “Tutuplah”, maka batu itu pun tertutup selama-lamanya tanpa berbekas. 31. Si Rusa dan si Kulomang (Cerita Rakyat dari Maluku Utara) Rusa di Kepulauan Aru mempunyai kemampuan berlari dengan sangat cepat. Namun, karena kelebihan itu, mereka menjadi hewan yang sombong dan serakah. Demi kesenangan, mereka menantang hewan lain untuk berlomba lari. Lawan yang berhasil dikalahkan harus menyerahkan tempat tinggal mereka kepada rusa. Tentu saja rusa yang jadi pemenangnya. Sudah banyak wilayah di Kepulauan Aru yang berhasil mereka kuasai. Luasnya wilayah mereka membuat rusa semakin merasa berkuasa. Mereka mengganggap diri mereka bangsa penguasa pulau. Di tempat lain, di tepian Pulau Aru, terdapat sebuah pantai yang sangat indah. Deburan ombak yang lembur, tiupan angin yang sejuk, dan hamparan pasir yang hangat membuat siapa pun yang berada di sana merasa nyaman. Di sanalah hidup siput laut yang terkenal sebagai hewan yang cerdik dan sabar. Mereka hidup bersama dan saling tolong-menolong. Mereka sadar akan kelemahan tubuh mereka. Tapi, mereka percaya bahwa kekuatan otak tidak kalah dengan kekuatan apapun. Pada suatu hari, rusa menantang siput yang bernama Kulomang untuk bertanding. Selain ingin menguasai keindahan pantai, rusa ingin memuaskan hati dengan menambah koleksi kemenangan. Rusa sangat yakiin dapat mengalahkan siput. Di seluruh pulau, siputlah binatang yang terkenal paling lambat berjalan. Berjalan dan berlari tidak terlihat bedanya. Selain itu, siput selalu membawa cangkang yang ukurannya melebihi tubuh mereka. Bagi rusa, tidak ada halangan yang mengganggunya untuk memenangkan pertandingan. Tapi, ada satu hal yang dilupakan rusa, siput adalah binatang yang terkenal dengan kecerdikannya. Hari pertandingan pun tiba. Rusa membawa rombongannya untuk menyaksikan pertandingan dengan wajah optimis. Tak mau kalah, siput juga membawa sepuluh temannya. Masing-masing dari mereka ditempatkan di setiap pemberhentian yang telah ditentukan. Dia meminta agar temantemannya membalas setiap perkataan rusa. Jalur yang akan mereka pakai, melewati 11 tempat peristirahatan termasuk tempat dimulainya pertandingan. Dia sendiri akan berada di garis start bersama rusa sombong.“Sudah siap menerima kekalahan, siput?” tantang rusa dengan congkaknya.“Siapa takut?!” ujar siput pendek. Pertandingan pun dimulai. Si rusa lari secepat kilat mendahului siput. Sementara siput berjalan dengan tenang ke arah semak-semak. Beberapa jam kemudian, rusa sudah sampai ke pos pemberhentian pertama. Napasnya naik turun dengan cepat. Sambil bersandar kelelahan di pohon yang rimbun, rusa bergumam.“Baru sampai mana si lambat itu berlari? Hihihihi…?”. “Sampai di belakangmu,” jawab teman siput yang sudah bersiaga di semak-semak. Rusa kaget siput sudah berada di dekatnya. Saking terkejutnya rusa, ia langsung melonjak dan lari tunggang langgang. Tidak dipedulikannya rasa lelah yang dirasakannya. Rusa terus saja berlari. Sampai-sampai, dia tidak berhenti di pos kedua. Di pos ketiga, dia kelelahan. Dia berhenti sebentar untuk mengatur napasnya.“Sekarang, tidak mungkin siput mampu mengejarku!” kata rusa disela engahnya.“Mengapa berpikir begitu?” ujar teman siput yang lain santai, membalas ucapan rusa.Tanpa berpikir panjang, rusa berlari lagi.“Tidak ada yang boleh mengalahkanku! Apa kata rusa yang lain kalau aku mempermalukan bangsa sendiri?!” kata rusa pada dirinya sendiri. Rusa terus berlari dan berlari. Tidak lupa di setiap pemberhentian, dia memastikan keberadaan si siput. Tentu saja teman siput siap menjawab segala perkataan rusa. Memasuki pos ke 11, rusa sudah kehabisan napas. Saking lelahnya, rusa jatuh tersungkur dan mati. Semua binatang yang pernah diremehkan rusa bersorak-sorak. Akhirnya, siput berhasil mengalahkan rusa yang sombong dengan cara memperdayainya. 32. Asal Mula Telaga Werabur (Cerita Rakyat Papua)

Menurut cerita, dahulu suku Wekaburi mendiami kali sekitar Wekaburi, penduduknya bermaksud mengadakan pesta adat di kampungnya. Untuk maksud tersebut sebelumnya mereka harus menyediakan bahan perlengkapan yang dibutuhkan, antara lain membangun rumah, menyediakan makanan dan lain sebagainya. Hari penentuan pelaksanaan pesta telah tiba maka berdatanganlah masyarakat dari suku Kandami, Wettebosy, Sakarnawari dan Torambi yang mendiami daerah Azas untuk merayakan pesta yang dimaksud. Para pengunjung dan undangan dipersilakan mengambil tempat dalam rumah adat yang telah dipersiapkan. Dari sekian banyak orang itu, turut hadir pula nenek tua bersama cucunya yang bernama ISOSI. Sang nenek membawa pula anjing kesayangannya ke pesta tersebut. Acara pesta sudah dimulai dan berjalan dengan meriah sekali. Sementara anjing sang nenek sedang tidur nyenyek di pinggir api yang disediakan untuk berdiang. Berhubung banyak orang yang menari-nari dan bersuka-sukaan, maka terinjaklah anjing kesayangannya. Anjing itu menjerit-jerit kesakitan. Melihat peristiwa itu si nenek sangat marah, sebaba anjing kesayangannya terinjak oleh mereka. Dengan demikian ia membawa anjing itu ke dalam kamar lalu diikatkan cawat ke anjingnya. Setelah itu ia keluar sambil memeluk anjing itu serta menari-nari dalam pesta.Sang nenek tau bahwa perbuatannya itu adalah suatu pelanggaran. Karena menurut nenek moyangnya apabila penduduk berbuat demikian akan mendatangkan kilat,guntur dan hujan. Oleh sebab itu ia cepat-cepat mengambil puntung api lalu disembunyikan dalam seruas bambu,supaya tidak kelihatan oleh orang banyak. Setelah itu ia bergegas untuk keluar sambil memanggil cucunya supaya segera mengikutinya. Mereka mengikuti jalan tapak lalu mendaki gunung Ainumuwasa pada malam itu juga. Di antara sekian banyak pemuda yang hadir dalam pesta itu ada seorang yang bernama ASYA. Sewaktu Asya melihat Isosi meninglkan ruangan maka iapun segera menyusul gadis idamannya. Ketika mereka berada di gunung Ainumuwasi, dilihatnyan keadaan cuaca alam sudah mulai memburuk. Tidak berapa lama disusul dengan kilat, guntur dan hujan di hulu kali Wekaburi yang makin lama makin hebat, sehingga terjadilah banjir dashyat. Walaupun hujan lebat namun keadaan pesta semakin hangat dan meriah sehinggah terlupakan bahaya yang sedang mengancam. Banjirpun makin lama semakin tinggi akhirnya mencapai lantai rumah. Para pengunjung kelam kabut hendak mencari jalan untuk meluputkan diri dari bahaya tersebut. Tetapi terlambat karena banjir telah menghanyutkan rumah dan seluruh isinya ke muara. Keesokan harinya si nenek, Isosi dan Asya turun dari gunung untuk melihat kejadian yang telah terjadi semalam itu. Setibanya di sana mereka tidak melihat rumah adat itu lagi. Orangorangnya telah mati dan menjelma menjadi katak dan buaya. Sekarang si nenek merasa puas dengan perbuatannya. Untuk mengisi daerah kosong itu maka atas kebijaksaan si nenek, Isosi cucunya dikawinkan dengan Asya, setelah kawin mereka membangunun sebuah rumah yang besar dan panjang dan diberi nama ANIOBIAROI. Dari perkawinan Asya dan Isosi lahir banyak anak yang kemudian saling kawin sehinggah rumah itu makin lama penuh sesak. Oleh sebab itu atas kebijakan Asya disambung rumah aniobiroi itu dan diberi nama MANUPAPAMI. Tahun berganti tahun dan rumah manupapami yang diperkirakan dapat menampung sekian banyak orang itu, pada akhirnya penuh sesak lagi. Melihat keadaan itu maka Asya mengambil kebijaksanaan lagi untuk menyambung rumah aniobiroi kemudian diberi nama YOBARI. Walaupun rumah itu sudah dua kali disambung, namun tetap tetap, tidak dapat menampung juga semua orang yang berada di Aniobiaroi, Manupapami maupun Yobari. Oleh sebab itu untuk ketiga kalinya Asya menyambung lagi kemudian diberi nama SONESYARI dan KETARANA. Karena rumah itu sudah berkali-kali disambung menjadi Manupapami, Yobari, Sonesyari dan Ketarana, namun tidak tertampung juga semuanya. Akhirnya bersepakatlah mereka untuk memutuskan sebagian penghuninya keluar dari rumah- rumah tersebut, kemudian pergi mencari tempat tinggal baru guna membangun rumah bagi anggota-anggotanya. Dengan demikian dari rumah Manupapami keluarlah orang-orangnya yang kemudian menjadi WETTEBOSY. Dari rumah Yobari keluarlah orang-orang yang kemudian menjadi suku WEKABURI. Sedangkan dari rumah Sonesyari dan Keterana menjadi suku TOREMBI. Tempat baru yang didiaminya diberi nama “WERABUR” yang artinya kampung yang terletak di atas air. Jadi kata WER adalah asal dari nama NEMBIWER yang berarti air sehinggah orang-oramg Nambi memberi nama WERABUR. 33. Towjatuwa dan Buaya Sakti (Cerita Rakyat Papua Barat)

Pada jaman dahulu, hiduplah seorang lelaki bernama Towjatuwa di tepian sungai Tami daerah Irian Jaya. Lelaki itu sedang gundah, oleh karena isterinya yang hamil tua mengalami kesulitan dalam melahirkan bayinya. Untuk membantu kelahiran anaknya itu, ia membutuhkan operasi yang menggunakan batu tajam dari sungai Tami. Ketika sedang sibuk mencari batu tajam tersebut, ia mendengar suara-suara aneh di belakangnya. Alangkah terkejutnya Towjatuwa ketika ia melihat seekor buaya besar di depannya. Ia sangat ketakutan dan hampir pingsan. Buaya besar itu pelan-pelan bergerak ke arah Towjatuwa. Tidak seperti buaya lainnya, binatang ini memiliki bulu-bulu dari burung Kaswari di punggungnya. Sehingga ketika buaya itu bergerak, binatang itu tampak sangat menakutkan. Namun saat Towjatuwa hendak melarikan diri, buaya itu menyapanya dengan ramah dan bertanya apa yang sedang ia lakukan. Towjatuwapun menceritakan keadaan isterinya. Buaya ajaib inipun berkata: “Tidak usah khawatir, saya akan datang ke rumahmu nanti malam. Saya akan menolong isterimu melahirkan.” Towjatuwa pulang menemui isterinya. Dengan sangat berbahagia, iapun menceritakan perihal pertemuannya dengan seekor buaya ajaib. Malam itu, seperti yang dijanjikan, buaya ajaib itupun memasuki rumah Towjatuwa. Dengan kekuatan ajaibnya, buaya yang bernama Watuwe itu menolong proses kelahiran seorang bayi laki-laki dengan selamat. Ia diberi nama Narrowra. Watuwe meramalkan bahwa kelak bayi tersebut akan tumbuh menjadi pemburu yang handal. Watuwe lalu mengingatkan agar Towjatuwa dan keturunannya tidak membunuh dan memakan daging buaya. Apabila larangan itu dilanggar maka Towjatuwa dan keturunannya akan mati. Sejak saat itu, Towjatuwa dan anak keturunannya berjanji untuk melindungi binatang yang berada disekitar sungai Tami dari para pemburu.