PERSYARATAN SEDIAAN STERIL

- Fisik - Kimia : kejernihan, partikel, suspensi : isotonis, isohidris

- Biologi : steril, pirogen

1. Kejernihan Kejernihan adalah suatu batasan yang relatif, yang

artinya sangat dipengaruhi oleh penilaian subjektif dari pengamat. Tujuan dilakukan uji kejernihan ini adalah untuk mengetahui kejernihan dari sediaan yang dibuat. Syarat kejernihan yaitu sediaan larutan ( kecuali suspensi dan emulsi) adalah tidak ada zat yang terdispersi dalam larutan jernih 2. Partikel Sediaan steril harus bebas dari partikel melayang karena dapat menyebabkan kontaminasi dan membawa mikroorganisme. Partikel asing tersebut merupakan partikel-partikel yang tidak larut yang dapat berasal dari larutan dan zat kimia yang terkandung, dari lingkungan, Partikel peralatan, asing personal, dapat maupun wadah. tersebut

menyebabkan pembentukan granuloma patologis dalam organ vital tubuh. Untuk mengetahui keberadaan partikel asing dilakukan dengan menerawang sediaan pada sumber cahaya. Tujuan dari uji partikel asing ini adalah agar mengetahui apakah ada partikel dalam sediaan. Dari

hasil uji ini mensyaratkan bahwa tidak terdapat partikel asing dalam sediaan. Pada waktu pembuatan sediaan steril kemungkinan jika masih terdapat partikel asing bisa terjadi karena sewaktu penyaringan masing ada partikel yang lolos dari saringan 3. Tipe suspensi Untuk sediaan steril tipe suspense harus memenuhi persyaratan yang berlaku untuk suspensi steril Suspensi optalmik merupakan sediaan cair steril yang mengandung mata. Suspensi untuk injeksi merupakan sediaan berupa partikel-partikel yang terdispersi dalam cairan pembawa yang ditujukan untuk penggunaan pada

suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak disuntikan secara intravena atau kedalam saluran spinal. Sedangkan suspensi untuk injeksi kontinyu merupakan sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai untuk membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan bahan pembawa yang sesuai. Suspensi steril berlaku sebagai obat yang hipertonis, mengambil cairan dari jaringan sekitar. Sehingga akhirnya bisa larut. Walau sudah larut semua, cairan tetap sebagai hipertonis Persyaratan fisik lainnya : - Stabil.

hipotonis. Akibatnya dosis menjadi berkurang. Sifat stabil ini berkaitan dengan formulasi. 4. beberapa boleh hipertonis Tonisitas laruan obat suntik : . terjadi pengendapan Contoh: injeksi aminophilin dibuat dengan air bebas CO2. tapi tidak boleh hipotonis. Misal jika bentuk sediaan larutan maka sediaan tersebut tetap berada dalam bentuk larutan (bukan suspensi). Tonisitas • Tonisitas menggambarkan tekanan osmose yang diberikan oleh suatu larutan (zat padat yang terlarut di dalamnya) • Suatu larutan dapat bersifat isotonis. terjadi perubahan warna Contoh: larutan adrenalin yang awalnya berwarna jernih karena teroksidasi akan menjadi merah karena terbentuk adenokrom. Ketidakstabilan dapat dilihat dari: a. karena jika tidak bebas CO2 maka akan terbentuk theopilin yang kelarutannya kecil dalam air sehingga akan mengendap. atau hipertonis • NaCl 0.Artinya sediaan tidak mengalami degradasi fisika (ataupun kimia).9 % sebagai larutan pengisotoni • Tidak semua sediaan steril harus isotonis. b.

6 . sehingga tidak terjadi pertukaran cairan di antara keduanya. Mempunyai tekanan osmotis sama dengan tekanan osmotis cairan tubuh ( darah. 154 mmol Na+ dan 154 mmol Clper liter = 308 mmol per liter. tekanan osmose 6. 3. Pengukuran menggunakan alat osmometer dengan kadar mol zat per liter larutan. Mempunyai titik beku sama dengan titik beku cairan tubuh. yaitu tekanan osmosenya lebih rendah dari serum darah.Isoosmotik Jika suatu larutan memiliki tekanan osmose sama dengan tekanan osmose serum darah.Isotonis Jika suatu larutan konsentrasinya sama besar dengan konsentrasi dalam sel darah merah. .0 % b/v. Larutan obat suntik dikatakan isotonis jika : 1. 2.520C. Tekanan yang lebih besar menyebabkan pecahnya sel – sel darah merah. cairan lumbal. Cairan tubuh kita masih dapat menahan tekanan osmotis larutan injeksi yang sama nilainya dengan larutan NaCl 0.1.9% NaCl. yaitu .0. maka larutan dikatakan isotonis.2.9 % b/v 2. sehingga menyebabkan air akan melintasi membrane sel darah merah yang semipermeabel memperbesar volume sel darah merah dan menyebabkan peningkatan tekanan dalam sel.86 ). air mata ) yang nilainya sama dengan tekanan osmotis larutan NaCl 0.Hipotonis Turunnya titik beku kecil. maka larutan dikatakan isoosmotik ( 0. Peristiwa demikian disebut hemolisa.

tapi tidak selalu.Pecahnya sel ini akan dibawa aliran darah dan dapat menyumbat pembuluh darah yang kecil. Isohidris yaitu pH larutan sama dengan pH darah. tergantung pada stabilitas obat. Aminofilin injeksi R/ Teofilin Etilen diamin 2.55 24% 20. yaitu tekanan osmosenya lebih tinggi dari serum darah. air dalam sel akan ditarik keluar dari sel . Jika larutan injeksi yang hipertonis disuntikkan. Contoh: injeksi aminofilin dibuat sangat basa karena pada kondisi asam akan terurai. sehingga menyebabkan air keluar dari sel darah merah melintasi membran semipermeabel dan mengakibatkan terjadinya penciutan sel – sel darah merah. a. KNO3 dan NaNO3 pH dan Osmolalitas Injeksi adalah : NaCl.Hipertonis Turunnya titik beku besar. Dalam pembuatan ditambahkan etilendiamin untuk menaikkan kelarutan dari aminofilin. Peristiwa demikian disebut Plasmolisa. Bahan pembantu mengatur tonisitas Glukosa. 4.5 .4% 2. tetapi keadaan ini bersifat sementara dan tidak akan menyebabkan rusaknya sel tersebut.0 5. sehingga sel akan mengkerut. Sukrosa. Kalau bisa pH sama dengan pH darah.0 0.

Penambahan larutan dapar. sering injeksi dibuat di luar pH cairan tubuh dan berdasarkan kestabilan bahan tersebut. Vit. Yang perlu diperhatikan pada penambahan dapar adalah : 1. misalnya perubahan warna. Mencegah terjadinya rangsangan / rasa sakit waktu disuntikkan. dapar borat untuk obat tetes mata. 2. Pengaturan pH larutan injeksi diperlukan untuk : 1. efek terapi optimal obat.C. 2. misalnya dapar fosfat untuk injeksi. Menjamin stabilitas obat. Kecuali darah.4 dan disebut Isohidri. ad 100 ml i. pH optimal untuk darah atau cairan tubuh yang lain adalah 7. Penambahan zat tunggal .i. sedangkan pH yang terlalu rendah (di bawah 3) menyebabkan rasa sakit jika disuntikkan.v. Vit.Aqua p.B1 . Pada umumnya larutan dapar menyebabkan larutan injeksi menjadi hipertonis. misalnya asam untuk alkaloida. Jika pH terlalu tinggi (lebih dari 9) dapat menyebabkan nekrosis jaringan (jaringan menjadi mati). Cara pemberian ad 100 i. .m. 2. basa untuk golongan sulfa. cairan tubuh lainnya tidak mempunyai kapasitas dapar. misalnya beberapa obat yang stabil dalam lingkungan asam : Adrenalin HCl. pH dapat diatur dengan cara : 1. Karena tidak semua bahan obat stabil pada pH cairan tubuh. menghindari kemungkinan terjadinya reaksi dari obat.

. karena perlu waktu lama untuk meniadakan kapasitas dapar. NaCl jika terurai menjadi Na (15. yaitu tekanan osmosis larutan lebih besar dari tekanan osmosis cairan tubuh.9%). Bahan obat akan diabsorpsi bila kapasitas dapar sudah hilang.dan langkah kerja pengerjaan formula tersebut. Di luar isotonis disebut paratonis. Sedangkan tekanan osmosis cairan tubuh yaitu 300 mOsmol. cairan masuk ke tubuh dan masuk ke sel darah merah. sehingga sel darah merah bisa pecah (irreversibel) . b. pengaturan Upaya tersebut semula hipotonis menjadi isotonis. meliputi: hipotonis dan hipertonis.1 mOsmol) dan Cl (154 mOsmol) sehingga total 308 mOsmol. sebaiknya obat tidak usah didapar.hipotonis yaitu tekanan osmosis larutan lebih kecil dari tekanan osmosis cairan tubuh (NaCl 0. Air akan mengalir keluar dari sel darah sehinggga sel mengkerut (krenasi). Pengaturan tonisitas Pengaturan meliputi tonisitas adalah formula suatu sehingga upaya formula untuk yang mendapatkan larutan yang isotonis. bersifat reversibel. Jika kestabilan obat pada pH yang jauh dari pH isohidri. Pada hipotonis. yaitu tekanan osmosis larutan sama dengan tekanan osmosis cairan tubuh. .3. Isotonis.hipertonis. maka sebaiknya obat didapar pada pH yang tidak jauh dari isohidri.

artinya larutan bersifat hipotonis. metode perhitungan dengan ekuivalensi NaCl Metode Kelas Dua Dari formula yang ada (selain solven) hitung volume larutannya yang memungkinkan larutan menjadi isotonis.Ada dua kelas untuk pengaturan tonisitas : 1. atau larutan dapar isotonis. Metode Kelas satu 2. misalnya NaCl 0. Jika ΔTf-nya kurang dari 0.9%. Metode kelas 2 Metode Kelas Satu Dari formula yang ada (termasuk jumlah solvennya) dihitung tonisitasnya dengan menentukan ΔTf – nya. yang ditambahkan supaya larutan menjadi isotonis. bukan padatan NaCl.9 % yang harus ditambahkan dalam formula tadi untuk mengganti posisi solven isotonis. harus Cara pengerjaannya semua obat ditimbang. yang ditambahkan berupa larutan NaCl 0. .9 %. Metode kelas satu meliputi metode kriskopik faktor (penurunan disosiasi titik dan beku). 0. diatamabah air sesuai formula. Kemudian hitunglah volume larutan isotonis. selisih volume formula dan volume larutan Metode kelas dua meliputi metode White- Vincent dan metode Sprowls. atau kesetaraan dengan NaCl. ditambah NaCl padat. Jika volume ini lebih kecil dari pada volume dalam formula.52O atau kesetaraannya dengan NaCl kurang dari dihitung banyaknya padatan NaCl.

metode ekuivalensi NaCl.Contoh soal : • Suatu formula injeksi tiap 500 ml mengandung Morfin HCl (BM=375. Aturlah tonisitasnya dengan 4 metode di atas Penyelesaian • Formula di atas adalah sebagai berikut: R/ Morfin HCl Nikotinamida Aquadest ad Pengaturan tonisitas 3 10 500 ml kelas satu mengubah formula menjadi sebagai berikut: R/ Morfin HCl Nikotinamida NaCl Aquadest ad 3 10 x gram 500 ml X dapat dihitung dengan metode Kriskopik.13 g/mol dan Liso=1.3) 3 gram dan nicotinamida (BM=122.84 g/mol dan Liso=3.9) 10 gram. dan faktor disosiasi Pengaturan tonisitas kelas dua mengubah formula menjadi sebagai berikut R/ Morfin HCl Nikotinamida Aqua ad 3 10 y ml .

32 = 0.58.6%. Hafalkan ΔTf% NaCl adalah 0. sehingga larutan isotonis) NaCl 0.3 x (3 g/375. formula: 0.13 g/mol): 1 L = 0.6x0. formula: 2%.32O Maka ΔTf formula adalah 0. Dengan diketahui harga BM dan Liso sebenarnya harga ΔTf1% bisa dihitung.026=0.026O.9 % ad 500 ml yang didapat Harga y dapat dihitung dengan metode white vincent dan metode sprowls • Metode Kriskopik Memerlukan data ΔTf1% data bisa dicari di Farmakope Indonesia Ed IV atau buku lainnya. maka ΔTf-nya 2x0.016+0.52 hipotonis.9 x (10 g/122.16=0.52 – 0.84 g/mol): 1 L = 0.336 < 0.016O 1 % Nikotinamid mempunyai ΔTf = 0. Morfin HCl → ΔTf1% = Liso x C = 3. maka ΔTf-nya 0.(y < 500 ml. diperlukan untuk 100 ml formula adalah NaCl yang 0.336 .52.16O.026O Nikotinamida → ΔTf1% = Liso x C = 1. maka perlu penambahan NaCl untuk menurunkan titik bekunya sehingga ΔTf-nya menjadi 0.16O 1 % Morfin HCl mempunyai ΔTf = 0.

4 -----------122. 45 E nikotinamida = 0.45 g NaCl .3 ----------. di formula 3 g maka setara 0.9 ----------.15 Dengan harga diketahui E bisa harga BM E dan Liso dihitung.27 Metode Ekuivalensi NaCl dimulai dari sini 1 g morfin HCl setara dengan 0. adalah banyaknya NaCl yang secara koligatif setara dengan 3.4 -----------375.84 Untuk nikotinamida 1/1 L E/1 L 58.= 3.58 X dalam formula perubahan adalah 1. sehingga untuk 500 ml perlu 1. 45 1. sebenarnya 1 gram obat (Penurunan TB oleh Obat 1 gram = Penurunan TB oleh NaCl E gram) Untuk Morfin HCl 1/1 L E/ 1 L Emorfin HCl = 0.13 58.586 gram 0.586 • Metode Ekuivalensi NaCl memerlukan data E yang bisa dilihat di Farmakope Indonesia Ed IV atau buku lainnya.317 gram.x 1 g = 0.15 g NaCl.--------------.= 3.

5 g ad 1 liter Diketahui: etil morfin E = 0.45+2.09 na fenobarbital E=0. kurang dari 0.7 g NaCl dalam 500 ml larutan.5 g – 3. di formula 10 g maka setara 2.35 gram tiap 500 ml Contoh soal : • Injeksi fenobarbital R/ Na fenobarbital etil morfin HCl aqua 1g 0.24.27 g NaCl.9 g dalam 100 ml) atau 4. hipotonis Kekurangan NaCl = 4.1 g nikotinamida setara dengan 0. ∆Tf1%=0. ∆Tf1%=0.14 Cek isotonis/blm? Kalau belum aturlah Metode white vincent .5 g per 500 ml.7 g NaCl Maka tonisitas formula setara dengan 0.15 g = 1.9 % (0.16.

tetapi kadar obatnya terlalu besar. maka jumlah NaCl 0. R/ Morfin HCl • • Nikotinamida 3 10 Aquadest ad 350 ml (dengan volume segini. Kemudian hitunglah volume larutan isotonis.15/0. artinya larutan bersifat hipotonis.Metode Kelas Dua Dari formula yang ada (selain solven) hitung volume larutannya yang memungkinkan larutan menjadi isotonis. Supaya tetap isotonis maka pengenceran menggunakan larutan yang isotonis pula. di dapat larutan isotonis. dengan perhitungan dimulai seperti metode Ekuivalensi NaCl. Metode kelas dua meliputi metode White-Vincent dan metode Sprowls. Metode white-vincent • memerlukan data E. maka perlu diencerkan. misalnya NaCl 0.9%) .9 % yang harus ditambahkan dalam formula tadi untuk mengganti posisi solven selisih volume formula dan volume larutan isotonis. Formula setara dengan 3. yaitu NaCl 0.9) x 100 ml = 350 ml. supaya isotonis maka volumenya (3.9 % yang dibutuhkan adalah 500 ml – 350 ml = 150 ml • Formula menjadi: • . 15 gram NaCl. Jika volume ini lebih kecil dari pada volume dalam formula. atau larutan dapar isotonis.

kemudian larutan ini diencerkan dengan NaCl 0.9x(300 mg/122. Dengan diketahui harga BM dan Liso sebenarnya harga V bisa dihitung Untuk Morfin HCl 0.3 g nikotinamida supaya isotonis volumenya 8. Formula menjadi: R/ Morfin HCl 3 350 ml.7 0.• NaCl 0. formula 10 g maka volumenya 299. Nikotinamida 10 gram. yaitu volume larutan dalam ml yang mengandung 0.3 Maka volume larutan obat isotonis adalah diencerkan dengan NaCl 0.9 % sampai 500 ml.3x(300 mg/375. dilarutkan dalam air sampai 350 ml (didapat larutan obat isotonis dengan kadar terlalu tinggi).13g/mol):Vnikotinamida maka Vnikotinamida=8.3 gram obat dan bersifat isotonis.07 ml Untuk Nikotinamida 0.9 % sampai volume 500 ml Metode Sprowls memerlukan data V.98 ml 0. formula 3 g maka volumenya 50.52=3.52=1.9 % ad 500 ml • Pengerjaan: Morfin HCl 3 gram. kadar obat belum sesuai yang diinginkan maka perlu . Harga V dapat dilihat di buku-buku farmasi fisika.98 ml.07 ml.3 g Morfin HCl supaya isotonis volumenya 5.84g/mol):Vmorfin HCl maka Vmorfin HCl=5.

kadar 10 mg/ml. cara w Satuan g% atau g/100 ml Contoh: Dibuat 100 ml.52 (isotonis) . a = 0.52 = 0.101 b = 0.9 % sampai volume 500 ml Cara menghitung isotonis: 1.9 % ad 10 350 ml 500 ml gram. Nikotinamida 10 dilarutkan dalam air sampai 350 ml (didapat larutan obat isotonis dengan kadar terlalu tinggi). NaCl 0.9 x 0.52 (disebut isotonis) 1/0. Pengerjaan: Morfin HCl 3 gram. kemudian larutan ini diencerkan dengan NaCl 0.76 Jawab: Kadar metadon = 10mg/ml = 1000 mg/100ml = 1 g/100ml (1%). Jika a = 0.Nikotinamida Aquadest ad NaCl 0.9% = 0.76 (isotonis) Zat itu hipo atau hiper? Liat a.

8 Aqua ad 100 –> 1000 Jawab: h = 1.5 x 3 + 1. basa lemah . cara h H = mh / fh x (0.1 (c) –> 1 g/L :1 : 1.52 (hipotonis) a > 052 (hipertonis) w = zat pengisotonis yang perlu ditambahkan kalau tanda negatif ditulis.3 (a) –> 3 g/L 0.a < 0. tidak perlu tabel .asam lemah.kuat Contoh infus laktat : NaCl KCl CaCl2 0. bisa dilihat di tabel.8/…… x 1 Dalam penggunaan metode h lebih simpel.8/…. x 1 + 1.28 fa/ma x a + fb/mb x b ……. 2.5 : 1.) g/L mh = berat fh = faktor disosiasi . hipernya berapa? a bisa gabungan..8/58.1 (b) –> 1 g/L 0.netral .

Tingkat sterilitas yang ingin dicapai (hasil) 6. Steril PERSYARATAN STERIL Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menciptakan keadaan steril. selain itu masih banyak substansi pirogenik lainnya seperti bakteri. Pirogen Pirogen merupakan substansi yang mampu menyebabkan demam dan sering mencemari sediaan farmasi. Sampai saat ini. Secara tradisional keadan steril adalah kondisi mutlak yang tercipta sebagai akibat penghancuran dan penghilangan semua mikroorganisme hidup. Tujuan sterilisasi adalah menjamin sterilitas produk maupun karakteristik kualitasnya. DNA–RNA virus dan lain-lain (Suwandi. termasuk stabilitas produk Jadi pemilihan metode berdasarkan pertimbangan : .1. Endotoksin merupakan suatu produk mikroorganisme terutama dari bakteri gram negatif yang terdiri atas suatu senyawa kompleks lipopolysaccharida .2. fungi . Konsep ini menyatakan bahwa steril adalah istilah yang mempunyai konotasi relative.5. 1988). dan kemungkinan menciptakan kondisi mutlak bebas dari mikroorganisme hanya dapat diduga atas dapat proyeksi kinetis angka kematian mikroba. substansi pirogenik yang diketahui paling aktif dan paling sering mencemari sediaan farmasi adalah endotoksin. Kondisi dari materi/objek yang disterilkan (perlu perhatian khusus) .

kuat. Pirogen dapat bersumber dari:     Pelarut Zat aktif Peralatan Timbul pada proses penyimpanan Sifat – sifat pirogen:       Thermostabil. dan non – volatile.000. dan Ukuran umumnya 1 – 50µm. juga pada zat kimia yang digunakan sebagai zat berkhasiat. Pada tahun 1937 Co Tui membuktikan bahwa kontaminasi pirogen ini juga terjadi pada alat-alat seperti wadah-wadah untuk melarutkan obat suntik. Pada saat ini endotoksin diketahui merupakan pirogen yang paling.000 – 4. karena manusia tidak hanya respon terhadap endotoksin saja tetapi juga pirogen yang lain. suatu protein dan suatu lipid yang inert.yang pyrogenic. thermostabil. Sehingga tidak bisa memakai penyaring bakteri. Secara garis besar. Berat molekul (BM) antara 15. Pada tahun 1923 Seibert membuktikan bahwa pirogen adalah substansi yang tidak tersaring. destilasi biasa ada yang ikut bersama percikan air.000. . namun kehadiran pirogen lain dalam suatu sediaan perlu diperhitungkan. 250ºC selama 15 menit atau 180ºC selama 4 jam. Tidak menguap. pirogen dikelompokkan menjadi 2 golongan. yaitu pirogen endogen dan pirogen eksogen. sehingga hanya dapat dihilangkan dengan pemanasan pada suhu 650ºC selama 1 menit. Tidak dipengaruhi oleh bakterisida yang biasa. Larut dalam air.

1988). dan keadaan lingkungan yang dapat berakhir dengan serangan panas. alpha-interferon. Selain itu. Pengujian ini ditetapkan di USP pertama kali pada tahun 1942 dan merupakan pengujian resmi untuk menentukan nonpirogenitas sediaan farmasi. interleukin-6 (IL-6). Jika suatu pirogen masuk ke tubuh. Demam yaitu suatu keadaan ketika temperatur tubuh di atas batas normal yang dapat disebabkan oleh kelainan dalam otak sendiri atau oleh bahan – bahan toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan temperatur. 1995) dengan maksud untuk membatasi resiko reaksi demam yang dapat diterima oleh pasien apabila diinjeksi dengan suatu sediaan farmasi (Suwandi. Misalnya interleukin-1 (IL1). . bisa juga berupa zat racun (toksin) yang dihasilkan oleh bakteri atau virus tertentu. Penyebab – penyebab tersebut meliputi penyakit bakteri. dan tumor necrosis factor (TNF). Misalnya bagian dari sel bakteri dan virus. Uji pirogenitas adalah uji yang dilakukan untuk mengetahui apakan suatu sediaan uji bebas pirogen atau tidak (Anonim. tumor otak.  Pirogen Eksogen yaitu faktor eksternal tubuh yang menyebabkan gangguan pada fungsi tubuh manusia. maka pirogen menjadi suatu benda asing yang dapat menimbulkan respon imun berupa demam. Pirogen Endogen yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam tubuh kita sendiri sebagai reaksi kekebalan melawan kuman penyakit yang masuk ke tubuh. Uji pirogenitas biasanya menggunakan kelinci.

Pemeliharaan hewan harus dilakukan dengan sebaik mungkin untuk menghindari infeksi penyakit yang . Pengujian ini kemudian dikenal sebagai metode Limulus Amebocyt Lysate (LAL Test). kemudian dikembangkan suatu pengujian untuk mendeteksi adanya endotoksin dengan menggunakan reagensia yang dibuat dari sel darah Limulus. Kenaikan suhu kelinci akibat substansi-pirogenik. Metode kelinci mampu mendeteksi semua pirogen termasuk endotoksin sedangkan LAL tidak. Hewan harus dipelihara dalam ruangan dengan temperatur tidak jauh berbeda dengan tempat percobaan. Bangham menyebutkan.Sejak diketahui bahwa endotoksin ternyata mampu menggumpalkan sel darah Limulus. Meskipun demikian. sehingga kenaikan suhu kelinci tersebut dapat distandardisasi terhadap substansi pirogenik yang dapat diterima manusia. Sedangkan kelemahan metode uji pirogenitas menggunakan kelinci dibandingkan dengan LAL Test antara lain:  Memerlukan pemeliharaan dan perawatan hewan dan laboratorium yang lebih intensif. uji kelinci menggambarkan seluruh respon farmakologis terhadap pirogen dan relevan dengan respon pada manusia. pengujian pirogenitas menggunakan kelinci masih menjadi pilihan utama karena:    Metode ini telah lama dikenal dan digunakan untuk menguji berbagai sediaan dan terbukti memberikan hasil memuaskan. sampai batas tertentu masih dapat diterima oleh manusia. Kelinci memiliki sensitivitas terhadap substansi pirogenik yang mirip dengan manusia.

Berat badan kelinci harus dijaga jangan sampai mengalami penurunan yang berarti dalam 1 minggu menjelang digunakan. Tabel 1: Syarat Pirogenitas Sediaan Jumlah Sediaan uji Kelinci memenuhi syarat jika jumlah respon (1) tidak melebihi ( C) (2) 3 6 1. kegelisahan. makanan dan lain sebagainya.  dapat mengganggu percobaan atau mengacaukan interpretasi hasil.70 4.30 . kegaduhan. Farmakope Indonesia menyebutkan. Respon setiap kelinci terhadap substansi yang sama belum tentu sama. Sensitivitas dipengaruhi oleh musim. suatu sediaan dinyatakan memenuhi syarat. Kegelisahan akan dapat menyebabkan kenaikan suhu relatip tinggi. jika kenaikan suhu ketiga kelinci tidak melebihi batas tertentu. sehingga terdapat variasi kenaikan suhu pada tiap kelinci.80 Sediaan uji tidak memenuhi syarat jika jumlah respon melebihi (C) (3) 2. dan tidak memenuhi syarat jika total kenaikan suhu ketiga kelinci melebihi batas tertentu (lihat Tabel 1). Variabilitas biologis. sehingga mengacaukan interpretasi hasil.20 2. Prinsip uji pirogenitas menggunakan kelinci adalah dengan injeksi intravena ke tubuh kelinci di bawah kondisi tertentu dan selanjutnya dipantau dan dicatat temperatur 3 kelinci dalam jangka waktu tertentu.

pengujian dapat diulangi menggunakan 3 kelompok kelinci yang lain. Tidak semua kelinci dapat digunakan sebagai hewan uji.00 6.50 6.60 Jika respon yang terjadi terletak di antara kolom (2) dan kolom (3). Kelinci dengan kriteria berikut ini tidak dapat digunakan:    3 (tiga) hari sebelumnya telah dipakai untuk uji pirogenitas dan hasilnya negatif (menunjukkan penurunan suhu badan) 3 (tiga) minggu sebelumnya telah digunakan untuk uji pirogenitas dan hasilnya sediaan uji tidak memenuhi syarat Telah digunakan kapan saja untuk uji pirogenitas dengan respon rata – rata kelompok kelinci melebihi 1.60 6. Jika hasilnya negatif. .60° C. maka dianggap sama dengan 0 (nol). sediaan tersebut dinyatakan tidak memenuhi syarat.2oC.9 12 4. Yang dimaksud dengan respon adalah selisih antara suhu maksimum (suhu tertinggi yang dicatat selama 3 jam setelah penyuntikan sediaan uji) dikurangi suhu awal kelinci (suhu rata – rata 2 pembacaan suhu dengan interval 30 menit yang dilakukan 40 menit dan 10 menit sebelum penyuntikan sediaan uji). Apabila pengujian ke empat jumlah respon melebihi 6.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful