Laporan Akhir Praktikum Metode Numerik II PERSAMAAN DIFUSI 1 DIMENSI PERSEBARAN LIMBAH DI SUNGAI CITARUM

DOSEN Dr. Imran Hilman NIP. 19810814 200812 1001

DISUSUN OLEH
Wanda Rizki Anindya Rahmat Fadhilah Tiffany Gesti Cita Novala Nurudin 140710110005 140710110009 140710110010 140710110015 140710110028

PROGRAM STUDI GEOFISIKA JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PADJADJARAN 2013

BAB I PENDAHULUAN

Penurunan kualitas air di Sungai Cikapundung yang terletak di kota Bandung telah menjadi perhatian utama dari pemerintah setempat karena sungai ini merupakan sumber persediaan air. Sungai ini bermuara ke Sungai Citarum di hilirnya dan menerima buangan limbah terutama dari rumah tangga (domestic wastes) dan pabrik. Peningkatan buangan limbah ke sungai ini menyebabkan meningkatnya kadar beberapa pencemar seperti asam asetat. Sungai Citarum memiliki 3 waduk besar, yaitu waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Sungai ini memiliki peran dalam ekonomi, ekologi, dan sosial yang sangat penting bagi Jawa Barat dan DKI Jakarta. Namun, berdasarkan hasil pemantauan kualitas air menunjukkan bahwa kualitas air pada sungai ini belum dapat memenuhi baku mutu air (SK. Gubernur Jabar No. 39/2000). Kualitas air yang rendah ini disebabkan oleh bahan-bahan polutan yang berasal dari berbagai kegiatan pencemar seperti peternakan, pertambangan, pemukiman, pertanian, dan industri. Dan berdasarkan data tahun 2000, limbah industri menduduki peringkat paling tinggi dalam kontribusi pencemaran dengan beban pencemaran organik (BOD) 81,363 ton BOD/hari. Tentu saja pencemaran sungai ini akan berdampak pada kehidupan masyarakat yang berada pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Pembahasan ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pencemaran yang terjadi dan memprediksi pola transport dan penyebaran polutan digunakan suatu pemodelan. Model didasarkan pada konsep model angkutan limbah. Model diselesaikan dengan menggunakan analisis numerik persamaan difusi satu dimensi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Persamaan Difusi 1 Dimensi a. Persamaan Pembangun Persamaan difusi 1 dimensi yang digunakan :

U  2U  h2 t x 2
dimana U menggambarkan konsentrasi suatu zat terlarut, h adalah koefisien difusi, dan x adalah arah sumbu horisontal.

b. Diskritisasi Model Persamaan beda hingga metode ini adalah pendekatan beda maju untuk turunan waktu dan beda pusat untuk turunan ruang. Bila indeks n untuk waktu,indeks i untuk ruang, dan h dianggap konstan terhadap ruang dan waktu, maka persamaan di bagian (a) dapat didiskritisasi menjadi 𝑛
𝑛 𝑈𝑖𝑛 +1 = 𝑈𝑖𝑛 + 𝛼 (𝑈𝑖𝑛 +1 − 2𝑈𝑖 + 𝑈𝑖−1 )

di mana 𝛼 = 𝑘

∆𝑡 ∆𝑥 2

dan kriteria stabilitas untuk menyelesaikan persamaan difusi dengan
1

metode beda hingga eksplisit adalah : α ≤ 2 c. Nilai Awal Konsentrasi polutan dianggap belum ada, perairan dianggap bersih. Maka secara matematis dapat dituliskan : U = 0 , atau 𝑈𝑖0 = 0 untuk i = 1,2,3, ..., imax d. Syarat Batas Syarat batas di hulu (i=0) dapat ditulis: 𝑛
+1 𝑛 +1 𝑈0 = 𝑈1

sedangkan syarat batas dihilir (i=imax) dapat ditulis: 𝑛
+1 𝑛 +1 𝑈𝑖𝑚𝑎𝑥 = 𝑈𝑖𝑚𝑎𝑥 −1

2. Persebaran Limbah di Sungai Citarum CiTarum atau Citarum adalah sungai terpanjang dan terbesar di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Sungai dengan nilai sejarah, ekonomi, dan sosial yang penting ini sejak 2007 menjadi salah satu dari sungai dengan tingkat ketercemaran tertinggi di dunia. Jutaan orang tergantung langsung hidupnya dari sungai ini, sekitar 500 pabrik berdiri di sekitar alirannya, tiga waduk PLTA dibangun di alirannya, dan penggundulan hutan berlangsung pesat di wilayah hulu. a. Geografi Panjang aliran sungai ini sekitar 300 km. Secara tradisional, hulu Citarum dianggap berawal dari lereng Gunung Wayang, di tenggara Kota Bandung, di wilayah Desa Cibeureum, Kertasari, Bandung. Ada tujuh mata air yang menyatu di suatu danau buatan bernama Situ Cisanti di wilayah Kabupaten Bandung. Namun demikian, berbagai anak sungai dari kabupaten bertetangga juga menyatukan alirannya ke Citarum, seperti Cikapundung dan Cibeet. Aliran kemudian mengarah ke arah barat, melewati Majalaya dan Dayeuhkolot, lalu berbelok ke arah barat laut dan utara, menjadi perbatasan Kabupaten Cianjur dengan Kabupaten Bandung Barat, melewati Kabupaten Purwakarta, dan terakhir Kabupaten Karawang (batas dengan Kabupaten Bekasi). Sungai ini bermuara di Ujung Karawang. Berikut ini adalah sebagian dari anak sungai yang mengalir ke Citarum: Cibeet, Cikao, Cisomang, Cikundul, Cibalagung, Cisokan, Cimeta, Ciminyak, Cilanang, Cijere, Cihaur, Cimahi, Cibeureum, Ciwidey, Cisangkuy, Cikapundung, Cidurian, Cipamokolan, Citarik, Cikeruh, Cirasea. b. Pemanfaatan Sejak lama Citarum dapat dilayari oleh perahu kecil. Penduduk di sekitarnya memanfaatkan sumber daya perikanan di sungai ini, baik secara tradisional dengan cara memancing atau menjala, atau dengan membudidayakan ikan dalam keramba jaring apung di waduk dan bendungan. Karena banyaknya debit air yang dialirkan oleh sungai ini, maka dibangun tiga waduk (danau buatan) sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan juga untuk irigasi persawahan di sungai ini: 1. PLTA Saguling di wilayah hulu DAS Citarum 2. PLTA Cirata di wilayah tengah, dan 3. PLTA Ir. H. Djuanda atau lebih dikenal sebagai PLTA Jatiluhur, di wilayah hilir.

Air dari Citarum dimanfaatkan sebagai pasokan air minum untuk sebagian penduduk Jakarta. Irigasi di wilayah Subang, Karawang, dan Bekasi juga dipasok dari aliran sungai ini. Pengaturannya dilakukan sejak Waduk Jatiluhur. c. Pencemaran Sungai Keadaan lingkungan sekitar Citarum telah banyak berubah sejak paruh kedua dasawarsa 1980-an. Industrialisasi yang pesat sejak akhir 1980-an di kawasan sekitar sungai ini telah menyebabkan menumpuknya limbah buangan pabrik-pabrik di Citarum. Setiap musim hujan wilayah Bandung Selatan di sepanjang Citarum selalu dilanda banjir. Setelah kejadian banjir besar yang melanda daerah tersebut pada tahun 1986, pemerintah membuat proyek normalisasi sungai Citarum dengan mengeruk dan melebarkan sungai bahkan meluruskan alur sungai yang berkelok. Tetapi hasil proyek itu nampaknya sia-sia karena setelahnya tidak ada perubahan perilaku masyarakat sekitar, sehingga sungai tetap menjadi tempat pembuangan sampah bahkan limbah pabrik pun mengalir ke Citarum. Bertahun kemudian, keadaan sungai bahkan bertambah buruk, sempit dan dangkal, penuh sampah, dan di sebagian tempat airnya pun berwarna hitam pekat.

BAB III PEMBAHASAN DAN ANALISA

Secara Analitik : Bila diketahui suatu fungsi difusi 𝜕𝑉
𝜕𝑡 𝜕 2 𝑉 𝜕𝑥 2

= ℎ2

;

Di mana V diasumsikan sebagai banyaknya limbah pada suatu titik tertentu pada waktu tertentu, dengan h adalah konstanta difusi polutan (dalam hal ini salah satu kandungan kimia polutan limbah pabrik tekstil adalah asam asetat) ℎ = 1210 × 10−6 𝑚 𝑠 (polutan, asam asetat) *Jumlah polusi awal = 2000 kg
2

0
Pusat polusi, pabrik x

2km

Bila diilustrasikan, secara sederhana dapat digambarkan bahwa pada titik nol adalah titik di mana suatu pabrik x membuang limbahnya ke sungai, dan pada pembahasan ini akan disimulasikan persebaran polutan pada bagian sungai sepanjang 2 km seiring waktu yang kita tentukan. Diperkirakan bahwa pabrik tersebut membuang limbah sebanyak 2 ton dalam bentuk cair atau 2000 kg pada titik nol tersebut, dan diasumsikan bahwa pada saat dibuang, sungai berada dalam kondisi belum sama sekali terpolusi. Maka ditentukan pada tiap titik di sungai bernilai nol pada kondisi awalnya. Maka secara matematis dapat kita tuliskan, BC: 𝑉 0, 𝑡 = 2000 𝑉 2000, 𝑡 = 𝜕𝑉
𝜕𝑥

=0

IC: 𝑥 = 0, 𝑉 = 2000 𝑥 > 0 , 𝑉 = 0 𝑉 𝑥, 0 = 𝐹 (𝑥)

Di sini digunakan untuk syarat batas awal adalah dirichlet dan pada ujung sungai adalah syarat batas Neumann, di mana tidak ada sumber polutan lain selain dari yang telah ditentukan. Kemudian, secara analitik dapat diselesaikan sebagai berikut, 𝑉 𝑥, 𝑡 = 𝑋 𝑥 𝑇(𝑡) 𝜕𝑉 𝜕𝑇 = 𝑋 𝜕𝑡 𝜕𝑡 𝜕 2 𝑉 𝜕 2 𝑋 = 𝑇 2 𝜕𝑥 2 𝜕𝑥 𝜕𝑉 𝜕 2 𝑉 2 =ℎ 𝜕𝑡 𝜕𝑥 2 𝑑𝑇 𝑑 2 𝑋 2 𝑋 = ℎ 𝑇 2 𝑑𝑡 𝑑𝑥

1 𝑑𝑇 1 𝑑 2 𝑋 = ℎ2 ∙ 𝑇 𝑑𝑡 𝑋 𝑑𝑥 2 1 𝑑𝑇 1 𝑑 2 𝑋 ∙ = ℎ2 𝑇 𝑑𝑡 𝑋 𝑑𝑥 2 Lakukan permisalan untuk mendapatkan solusi
1 ℎ 2 𝑇

∙ 𝑑𝑡 = −𝜆2 𝜆2 = 𝜆12 𝑑𝑇

1 𝑑2 𝑋 = −𝜆12 𝑋 𝑑𝑥 2 𝑑𝑇 = −𝜆2 ℎ2 𝑇 𝑑𝑡 𝑇 = 𝐸 𝑒 −𝜆
2 ℎ 2 𝑡

1 𝑑2 𝑋 = −𝜆2 𝑋 𝑑𝑥 2 𝑑2 𝑋 = −𝜆2 𝑋 2 𝑑𝑥 𝑋 = 𝐴 cos 𝜆1𝑋 + 𝐵 sin 𝜆𝑋 Diperoleh solusi untuk T dan X, masukkan syarat batas, X=0 1000=A X=2000 𝜕𝑋 = −𝜆𝐴 sin 𝜆𝑥 + 𝜆𝐵 cos 𝜆𝑥 = 0 𝜕𝑥 −𝐴 sin 𝜆𝑥 + 𝐵 cos 𝜆𝑥 = 0 −2000 sin 2000𝜆 + 𝐵 cos 2000𝜆 = 0 𝑛𝜋 𝜆 = 2000 𝐵 = 0 Dipilih nilai yang bersesuaian agar memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. V = - 2000 E 𝑠𝑖𝑛 2000 x 𝑒 −(2000 ) V = - 2000 E Kondisi awal, t=0 F(x) = -2000 E Orthogonalitas,
∞ 2000 𝑛𝜋 ∞ 𝑛 =1 𝑠𝑖𝑛 2000 x 𝑛𝜋 ∞ 𝑛 =1 𝑠𝑖𝑛 2000 𝑛𝜋 𝑛𝜋
2 ℎ 2 𝑡 𝑛𝜋

x 𝑒 −(2000 )

2 ℎ 2 𝑡

−2000 𝐸 𝑛
=1 0 2000 2 𝑛𝜋

𝑚𝜋 𝑠𝑖𝑛 𝑥 𝑠𝑖𝑛 𝑥 𝑑𝑥 = 𝐹 𝑥 2000 2000
2000 0 𝑛𝜋

2000 𝑠𝑖𝑛

0 𝑚𝜋

𝑥 𝑑𝑥 2000

. 2000 𝑥 𝐸 = 𝐸

= 𝐹 𝑥
2000 0

sin 2000 𝑥 𝑑𝑥 𝑛𝜋

−2 2000 2 𝑓

𝑥 𝑠𝑖𝑛

2000 𝑥 𝑑𝑥

Maka diperoleh fungsi V adalah, 1 𝑉 = 2000 + 𝑓 𝑥 1000
∞ 𝑛𝜋
2 2 𝑛𝜋 𝑠𝑖𝑛 𝑥 𝑒 −(2000 ) ℎ 𝑡 2000

2000 𝑠𝑖𝑛

0 𝑛

=1 𝑛𝜋

𝑥 𝑑𝑥 2000

Kemudian, secara numerik digunakan penyelesaian PDP orde dua untuk kasus parabolik dengan metode implisit. 𝜕𝑢
𝜕𝑡 𝜕 2 𝑢 𝜕𝑥 2

Bila diketahui

= 𝑘

Diuraikan dengan pendekatan backward difference, maka diperoleh bentuk, 𝑛
𝑢𝑖𝑛+1 − 2𝑢𝑖𝑛 + 𝑢𝑖− 𝑢𝑖𝑛 − 𝑢𝑖𝑛−1 1 𝑘 = ∆𝑥 2 ∆𝑡

Dijabarkan menjadi, 𝑛
𝑛 𝑛 𝑛−1 −𝑟𝑢𝑖− 1 + (1 + 2𝑟 )𝑢𝑖 − 𝑢𝑖 +1 = 𝑢𝑖

Dengan, 𝑟 = 𝑘 ∆𝑡 ∆𝑥 2

Di mana, k adalah konstanta difusi bahan, ∆𝑡 adalah beda waktu, ∆𝑥 adalah beda jarak, dan u adalah jumlah polusi yang ada pada satu titik. Dan i = 1, 2, ......, m-1 Bila dengan persamaan di atas dijabarkan untuk sebanyak n dan i, dan kemudian persamaanpersamaan tersebut disusun ke dalam suatu matriks, maka akan diperoleh,
1 + 2r -r 0 . 0 0 -r 1 + 2r -r . 0 0 0 -r 1 + 2r . 0 0 . . . . . . 0 0 0 . 1 + 2r -r 0 0 0 . -r 1 + 2r 𝑛
𝑢1 𝑛 𝑢2 𝑛 𝑢3 𝑛−1 𝑛 𝑢1 + 𝑟𝑢0 𝑛−1 𝑢2

= 𝑛

−1 𝑢3

. 𝑛
𝑢𝑚 −2 𝑛 𝑢𝑚 −1

. 𝑛
−1 𝑢𝑚 −2 𝑛−1 𝑛 𝑢𝑚 −1 + 𝑟𝑢𝑚

Yang kemudian dapat dihitung dengan menggunakan program sesuai dengan pola yang ada. 𝑛
𝑛 Yang dicari pada matriks ini adalah 𝑢1 , 𝑢2 , dan seterusnya. Dengan menggunakan program

Scilab,
k = 0.0012 xp = 2000 m = 25 tp = 10 n = 25 dx = xp/m dt = tp/n r = k*(dt/(dx^2)) r2 = 1 + 2*r x = [0:m]*dx t = [0:n]*dt u = zeros(m+1,n+1) u(1,:)=2000 for i = 1:m-1

a(i,i) = r2 if i>1 a(i-1,i) = -r a(i,i-1) = -r end end for k = 2:n+1 b = [r*u(1,3); zeros(m - 3,1); r*u(m + 1,2)] + u(2:m,k - 1) u(2:m,k) = inv(a)*b end surf(t,x,u)

Pada program, di awal ditentukan koefisien difusi k, panjang sungai xp, waktu tp, besar diskritisasi m untuk panjang dan n untuk waktu. Setelah itu ditentukan delta x dan delta t (dx dan dt) yaitu jarak pembagian untuk panjang dan waktu dengan membagi panjang dan waktu masing-masing dengan besar diskritisasinya. Kemudian ditentukan koefisien r yaitu k*(dt/dx2) dan juga 1 + 2r yang nantinya akan digunakan untuk membentuk matriks a untuk mencari solusi dari persamaan. Setelah itu ditentukan berapa titik-titik nilai x dan t, dengan mengalikan dx dan dt dengan 0 – indeks diskritisasi terakhir m dan n. Kemudian membentuk matriks u, yaitu matriks yang berisi nilai-nilai besar polutan yang terdapat pada suatu titik. Pertama-tama dibentuk matriks u yang semua elemennnya nol agar memudahkan perhitungan, lalu dengan syarat-syarat batas diberikanlah nilai-nilai pada matriks u tersebut. Dalam program diberi nilai sepanjang baris pertama sesuai syarat batas, yaitu u(0,t) = 2000 yang memiliki makna bahwa pada x = 0 pada setiap waktu, besarnya polutan adalah 2000kg karena digunakan asumsi bahwa setiap saat pabrik tersebut membuang limbahnya sedemikian rupa sehingga pada titik nol tetap ditemukan sebanyak 2000kg limbah. Kemudian kita bentuk matriks a sedemikian rupa menurut pola yang sudah terbentuk pada persamaan sebelumnya, dan diperoleh matriks a,

Kemudian membentuk matriks b yaitu matriks hasil yang berada pada sebelah kanan pada persamaan sebelumnya dengan menggunakan looping. Di dalam looping tersebut juga kita hitung nilai u atau besarnya polutan untuk tiap waktunya. Nilai matriks b ini akan berubah menurut waktu yang dipilih sesuai dengan persamaan sebelumnya. Di sini nilai u diperoleh melalui mengalikan inverse matriks a dengan matriks b, di mana hal ini bisa dilakukan karena bila dijabarkan,

au = b a-1au = a-1b karena bila suatu matriks dikalikan dengan inversenya, akan bernilai 1, maka, u = a-1b. Setelah itu diplotkan nilai-nilai u dengan menggunakan perintah surf.

Variabel u,

Pada hasil grafik terlihat bahwa sepanjang 10 detik, polutan hanya menyebar sepanjang sekitar 100 meter. Dan dengan tidak terlalu besar. Hal ini karena asumsi yang dipakai adalah bahwa sungai yang dimodelkan adalah diam, tidak mengalir, jadi polutan yang ada terdifusi pada air tenang sesuai dengan sifat bahan pada umumnya, dan juga di sini hanya diasumsikan bahwa polutan yang ada hanya mengandung asam asetat dengan koefisien difusi seperti pada perhitungan. Dapat dilihat di sini bahwa dengan asumsi-asumsi yang sederhana ini polutan terdifusi sangat lambat, namun tentu jika sungai dimodelkan sesuai keadaan sesungguhnya bahwa ia mengalir, akan berbeda hasilnya dan kemungkinan polutan akan semakin cepat menyebar. Juga dengan bahan polutannya, karena limbah tekstil mengandung banyak bahan kimia lain selain asam asetat seperti, deterjen, lauryl sulfate, urea, gliserin, bahan pewarna (yang dapat mengandung surfaktan, alkali, asam, dan lain-lain), pemutih, dan lain-lain. Bahan-bahan tersebut merupakan residu dari pengolahan bahan tekstil yang memerlukan pencucian, pewarnaan, dan proses-proses lainnya.

BAB V KESIMPULAN

Melalui hasil pemodelan dapat diperoleh kesimpulan bahwa pada sungai yang tenang yang tidak mengalami aliran, penyebaran polutan (asam asetat) terjadi cukup lambat. Di mana dalam waktu 10 detik polutan hanya terdifusi sangat sedikit. Namun lama-kelamaan akan semakin bertambah, dan polutan akan menyebar memenuhi sungai tersebut. Disaranakan untuk melakukan pemodelan yang lebih real dengan memperhitungkan kecepatan aliran sungai, sehingga kita dapat melihat seberapa cepat polutan menyebar pada sungai. Dan bila ditemukan bahwa penyebarannya sangat cepat, maka perlu diambil tindakan untuk mengatasi masalah pencemaran ini karena pencemaran ini akan membawa dampak yang sangat buruk bagi lingkungan juga kesehatan masyarakat pada DAS Citarum.

DAFTAR PUSTAKA

Bukit, Nana Terangna, Yusuf, Iskandar A. 2002. Beban Pencemaran Limbah Industri dan Status Kualitas Air Sungai Citarum. Jurnal Teknologi Lingkungan, Vol. 3, No, 2, Mei 2002: 98-106. http://diffusion.wikidot.com/values:acetic-acid http://inderaja.mipa.unsri.ac.id/wp-content/uploads/2012/04/Praktikum-3.pdf. http://id.wikipedia.org/wiki/Ci_Tarum Smith, Brent. 1986. Identification and Reduction of Pollution Source in Textile Wet Processing. Department of Textile Chemistry, School of Textiles : North Carolina State University Yang, Won young, dkk. 2005. Applied Numerical Methods Using Matlab®. John Wiley & Sons : New Jersey accessed {May16th 2013}

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful