Laparoskopik Diagnostik Pada Trauma Tumpul Abdomen Latar Belakang Selama dua dekade terakhir, bedah invasif minimal

telah diunggulkan pada kasuskasus bedah tertentu. Dengan tindakan pembedahan yang minimal, telah menghasilkan pemulihan yang lebih cepat dan meningkatkan kepuasan pasien serta menguntungkan dari segi ekonomi. Hal ini memungkinkan laparoskopi dan thorakoskopi belakangan digunakan sebagai metode diagnostik dan terapi pada trauma abdomen.21 Laparoskopik diagnostik pertama dilakukan pada tahun 1902 oleh Kelling pada anjing. Hal ini kemudian berkembang pada manusia yang dilakukan oleh Jacobaeus pada tahun 1910, dengan mengembangkan rongga perut menggunakan udara yang memungkinkan evaluasi rongga perut dengan pengamatan langsung. Laparaskopik diagnostik pertama dengan skala besar pada manusia dilakukan pada tahun 1928 oleh Kalk dan Bruhl. Sejak saat itu ahli ginekologi dan ahli bedah umum mulai menggunakan laparoskopik diagnostik untuk melakukan evaluasi pada pasien.18 Pada tahun 1976, Gazzaniga menyebutkan penggunaan laparoskopi pada trauma dengan menitikberatkan pada pencegahan laparotomi yang hasilnya negative. Dan akhirnya Sejak tahun 1990 an, penggunaan laproskopi pada bedah umum telah berkembang pesat. Tidak mengejutkan bila akhirnya teknologi ini berkembang digunakan pada pasien trauma..16 Pada diagnostik kasus trauma tumpul abdomen, umumnya menggunakan diagnostik peritoneal lavage institusi-institusi

(DPL), Ultrasonograaphy (USG) yang biasa

dikenal dengan Focused abdominal Sonogram to Trauma (FAST) (Rozyzcki dan Shackford, 1997), computerized tomography (CT) atau kombinasi dari semuanya tergantung ketersediaan, keahlian lokal, dan stabilitas pasien. Cukup sedikit yang menggunakaan laparoskopi diagnostik pada trauma tumpul abdomen. Cuschieri dan rekannya (1988) membandingkan DPL dengan Laparoskopi menggunakan sedasi intravena dan anestesi lokal. Mereka menemukan spesifitas untuk cedera intraabdomen pada DPL sebanyak 83 % dan pada laparoskopi diagnostik sebanyak 94%. Selanjutnya Leppaniemi dan Elliot (1996) juga menemukan keakuratan diagnostik laparotomi pada trauma tumpul sebanyak 97%. Cushieri dan rekannya kemudian menyimupulkan bahwa penggunaan laparoskopi terlalu terbatas dalam hal biaya dan waktu untuk digunakan sebagai alat yang rutin. Berdasarkan studi prospektif dari Fabian dan rekannya (1993) menyatakan bahwa diagnostik laparotomi hanya dapat diaplikasikan pada pasien skala kecil dengan trauma tumpul abdomen sebagai modal

Bagaimanapun.1993) 19 . dimana sesitifitas teknik imaging pada daerah ini cukup rendah dan sering menjadi penyebab negatif palsu pada tindakan DPL (Feliciano. pada situasi tertentu laparoskopi diagnostik dapat digunakan sebagai tambahan pada DPL ataupun CT Scan pada pasien nonoperatif yang mengalami cedera ringan dengan kemungkinan adanya cedera lain seperti cedera pada liver dan limpa..untuk diagnostik. Salvino et al. 1991 . Umumnya laparoskopi diagnostik bermanfaat pada pasien yang dicurigai mengalami ruptur diafragma.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful