Kultur Jaringan │2012

K U LT U R JA R I N GA N
“Budidaya Tanaman Pisang (Musa sp.) dan Rosella Merah (Hibiscus sabdariffa L.) secara Kultur Jaringan In Vitro”

Oleh :

N urmawita

(1001071)
Dosen Pembimbing :
I r . Fetmi Silvina, M.P Enda Mora,M.Farm,Apt

Asisten :
Aceng Sumpena Dodi Saputra

Program Studi S1 Farmasi Sekolah Tinggi Farmasi (STIFAR) Riau Pekanbaru 2012
BAB I
1

Kultur Jaringan │2012

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Dewasa ini penggunaan obat herbal cenderung terus meningkat, baik di negara yang sedang berkembang maupun di negara-negara maju. Peningkatan penggunaan obat herbal ini mempunyai dua dimensi korelatif yaitu aspek medik terkait dengan penggunaannya yang sangat luas diseluruh dunia dan aspek ekonomi terkait dengan nilai tambah yang mempunyai makna pada perekonomian masyarakat. Banyak orang yang telah menyadari efek samping yang ditimbulkan obat-obat sintetik, terutama bila digunakan dalam jangka waktu yang lama. Sehingga masyarakat kembali dengan menggunakan obat tradisional yang merupakan warisan nenek moyang. Jika dilihat prospek ke depan saat ini membudidayakan tanaman obat hingga memproduksi berbagai olahan produk seperti jamu, bahan makanan hingga kosmetika tradisional sangat baik dan cukup menjanjikan. Kegiatan identifikasi tanaman perlu diperhatikan dengan seksama karena pada kegiatan ini akan diketahui jenis atau spesies dari tanaman. Selain itu dalam hal budidaya tanaman sangat berpengaruh terhadap khasiat atau kualitas dari produk tanaman yang diperoleh dan kuantitas produk yang dihasilkan. Jika penanganan pada saat panen dan pasca panen hingga pada pengolahannya tidak benar maka kualitas produk yang dihasilkan kurang berkhasiat atau kemungkinan juga dapat menimbulkan racun apabila dikonsumsi tidak sesuai dosis. Negara Indonesia berada didaerah tropis yang banyak keanekaragaman tanaman yang ada di Indonesia. Berbagai macam tanaman dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan maupun bahan obat. Salah satu tanaman yang dapat dijadikan bahan obat dan dihidangkan yaitu tanaman rosella merah yang dalam bahasa latin Hibiscus sabdariffa L. dan Pisang (Musa sp.) merupakan salah satu jenis buah tropika yang mempunyai potensi cukup tinggi untuk dikelola secara intensif dengan berorientasi agribisnis, karena telah menjadi usaha dagang eksport dan import di pasar internasional (Rukmana 1999).

2

Kultur Jaringan │2012 Namun demikian produksi pisang cenderung turun dari tahun ketahun, penurunan produksi tersebut terutama disebabkanoleh serangan hama dan penyakit. Salah satu penyebab turunnya produksi pisang adalah akibat penyakit layu darah yang disebabkan oleh phytotype IV Ralstonia solanacearum (Fegan & Prior 2005). Tanaman rosella merah memberikan banyak manfaat dibidang kesehatan. Produk hasil olahan rosella merah ini juga beraneka ragam sehingga dapat memikat masyarakat yang biasa mengkonsumsi produk herbal. Namun pada kenyataannya pembudidayaan rosella merah di Indonesia masih terpusat di daerah-daerah tertentu padahal pembudidayaannya mudah dilakukan. Oleh karena itu, diperlukan pengenalan atau sosialisasi pada pembudidayaan sekaligus manfaat senyawa metabolis sekunder dari rosella merah sebagai bahan pangan baru dan apotik hidup. Ketersediaan bibit pisang bermutu merupakan syarat utama agribisnis pisang, disamping aspek budidaya maupun penanganan pra dan pasca panen yang baik (Purnomo, 1996). Sampai saat ini pembibitan tanaman pisang yang diakui paling mutakhir adalah perbanyakan in vitro atau kultur jaringan melalui kultur meristem, dimana teknik ini telah dilakukan secara besar-besaran oleh produsen-produsen bibit pisang di Indonesia (Sutanto, 1996). Teknik kultur in vitro merupakan alternatif untuk menghasilkan bibit pisang yang bermutu dalam jumlah banyak, seragam dan dalam waktu singkat (Meldia, dkk, 1996). Chadijah dan Rukmana (1997) telah melakukan perbanyakan terhadap beberapa jenis tanaman pisang di Indonesia dan menggunakan meristem tunas sebagai sumber eksplan. Jenis pisang yang berhasil menjadi planlet hanya jenis pisang kepok dan pisang Cavendis, sedangkan pisang ambon kuning belum berhasil

dikembangkan. Perbanyakan tanaman dengan teknik kultur in vitro memiliki banyak kelebihan, yaitu tanaman dapat diperbanyak setiap saat tanpa tergantung musim, daya multiplikasi yang tinggi dan membutuhkan ruang yang relatif kecil untuk menyimpan tanaman (Wiendi, dkk, 1995). Penelitian tanaman pisang dengan teknik ini yang telah dilaporkan antara dari dengan kultur meristem sebagai eksplan untuk pembentukan tunas adventif (Djoni dan Soepardi, 1998).

3

Kultur Jaringan │2012 Pada perbanyakan tanaman secara in vitro, hal yang penting untuk diperhatikan adalah media tumbuh. Media tumbuh untuk masing-masing tanaman berbeda-beda komposisinya, tetapi pada dasarnya terdiri dari media dasar anorganik (unsur hara makro dan mikro), zat pengatur tumbuh, senyawa organik, gula dan bahan tambahan beserta bahan pemadat (Purnomo, 1996). Penelitian-penelitian kultur in vitro telah mengarah ke efesiensi biaya, dimana telah dicoba untuk mengganti bahan penyusun media dengan bahan-bahan lain yang lebih murah, yaitu mengganti bahan kimia penyusun medium Murashige dan Skoog (MS), sukrosa dan bacto agar dengan pupuk majemuk seperti Hyponex, gula dan agar-agar swallow (Sutanto, 1996). Gula dan agar merupakan komponen-komponen penyusun dari medium sederhana yang digunakan untuk tumbuh suatu eksplan yang sudah disterilisasi. Media sederhana ini harganya cukup murah dan terjangkau di kalangan masyarakat (Purnomo, 1996). Komponen-komponen penyusun media sederhana ini adalah gula putih, agar dan aquades (Supriadi, 2003).

4

Kultur Jaringan │2012 1.2. Tujuan Adapun tujuan dari penulisah makalah ini yaitu mampu memahami dan menjelaskan tujuan, manfaat, metode yang dikembangkan dan aplikasinya dalam perbanyakan, produksi metabolit sekunder, penelitian-penelitian fundamental dalam kultur jaringan tumbuhan, serta mampu melakukan tahapan-tahapan kerja dalam metoda kultur jaringan tumbuhan. 1. Mengetahui variasi somaklonal pada tanaman pisang secara in vitro. Collin dan Edwards (1998) melaporkan bahwa pada tahap awal variasi somaklonal dapat memberikan suatu kontribusi yang nyata pada pemuliaan tanaman. Regenerasi selanjutnya selalu menunjukkan variasi yang luas dalam morfologi tetapi sebagian besar akan hilang pada biji pertama yang dihasilkan. 2. Menginduksi dan memperbanyak tunas tanaman pisang dari ekplan berupa jaringan meristem pisang serta memperoleh planlet tanaman pisang bebas patogen melalui kultur meristem. Penelitian ini menggunakan metode percobaan di laboratorium, dengan menggunakan beberapa perlakuan diantaranya induksi tunas, multiplikasi tunas dan induksi akar. 3. Meningkatkan keterampilan di bidang pembudidayaan tanaman obat rosella merah dan pemanfaatan senyawa metabolit sekundernya. 4. Dapat memecahkan berbagai permasalahan dalam bidang budidaya tanaman rosella merah.

5

Kultur Jaringan │2012

BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Teknik secara Kultur Jaringan Perbanyakan tanaman atau propagasi tanaman dapat dilakukan secara generatif atau secara vegetatif. Perbanyakan secara vegetatif dilakukan dengan menggunakan bagian dari tanaman tersebut. Secara konvensional teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif antara lain cangkok, stek, okulasi dan sebagainya. Sedangkan perbanyakan vegetatif secara modern dilakukan dengan teknik kultur jaringan. Kultur jaringan (Tissue Culture) atau Kultur In Vitro adalah suatu teknik untuk mengisolasi, sel, protoplasma, jaringan, dan organ dan menumbuhkan bagian tersebut pada nutrisi yang mengandung zat pengatur tumbuh tanaman pada kondisi aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman sempurna. Disebut sebagai kultur in vitro (bahasa Latin, berarti "di dalam kaca") karena jaringan dibiakkan di dalam tabung kaca, botol kaca, cawan Petri dari kaca, atau material tembus pandang lainnya. Kultur adalah budidaya, sedangkan jaringan adalah sekelompok sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama. Berarti kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti protoplasma, sel, jaringan dan organ serta menumbuhkannya dalam kondisi aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman lengkap kembali (Gunawan, 1999). Kegunaan utama dari kultur jaringan adalah untuk mendapatkan tanaman baru dalam jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat, yang mempunyai sifat fisiologi dan morfologi sama persis dengan tanaman induknya (Hendaryono & Wijayani, 1994). Cara kerja kultur jaringan adalah berdasarkan prinsip “ totipotensi”. Berdasarkan prinsip ini sebuah sel atau jaringan tumbuhan yang diambil dari bagian manapun akan dapat tumbuh menjadi tumbuhan sempurna jika diletakkan pada media yang cocok. Perbanyakan dengan sistem kultur jaringan harus dilakukan dalam keadaan steril (Widarto, 1996).

6

Kultur Jaringan │2012

Usaha pengembangan tanaman dengan kultur jaringan merupakan usaha perbanyakan vegetatif tanaman yang dapat dikatakan masih baru. Namun saat ini sudah banyak sekali penemuan-penemuan tentang ilmu pengetahuan kultur jaringan dalam bidang pertanian, biologi, farmasi, kedokteran, dan sebagainya (Hendaryono & Wijayani, 1994). Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan dalam wadah yang steril. Dengan demikian Kultur Jaringan Tanaman dapat didefinisikan sebagai teknik menumbuh kembangkan bagian tanaman, baik berupa sel, jaringan maupun organ dalam kondisi aseptik secara in vitro. Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan adalah: 1) Pembuatan media 2) Inisiasi 3) Sterilisasi 4) Multiplikasi 5) Pengakaran 6) Aklimatisasi.

7

Kultur Jaringan │2012

1)

Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.

2)

Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.

3)

Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan.
8

Kultur Jaringan │2012 4) Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Tabung reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar. 5) Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya

pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri). 6) Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif. Kultur jaringan yang berdasar pada teori totipotensi memiliki beberapa kegunaan diantaranya adalah untuk mendapatkan tanaman baru dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang relatif singkat, yang memiliki sifat fisiologi dan morfologi sama persis dengan tanaman induknya. Selain itu kultur jaringan juga mempunyai manfaat yang besar di bidang farmasi karena dari usaha ini dapat dihasilkan metabolit sekunder sebagai upaya pembuatan obat-obatan (Hendaryono & Wijayani, 1994).

9

Kultur Jaringan │2012 2.2 Pisang (Musa sp.) Pisang (Musa sp.) merupakan salah satu jenis buah tropika yang mempunyai potensi cukup tinggi untuk dikelola secara intensif dengan berorientasi agribisnis, karena telah menjadi usaha dagang eksport dan import di pasar internasional (Rukmana 1999). Indonesia merupakan salah satu sentral primer keragaman pisang. Lebih dari 200 kultivar pisang terdapat di Indonesia. Tingginya keragaman ini, memberikan peluang pada Indonesia untuk dapat memanfaatkan dan memilih kultivar pisang komersial yang dibutuhkan oleh konsumen. Salah satu kendala yang dihadapi dalam usaha budidaya pisang adalah adanya penyakit darah dan layu fusarium (Fegan,M.2005;Pegget.1996).

Klasifikasi Kingdom Subkingdom Super Divisi Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae (Tumbuhan) : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) : Spermatophyta (Menghasilkan biji) : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Liliopsida (berkeping satu / monokotil) : Commelinidae : Zingiberales : Musaceae (suku pisang-pisangan) : Musa : Musa paradisiaca

Pisang adalah nama umum yang diberikan pada tumbuhan terna raksasa berdaun besar memanjang dari suku Musaceae. Beberapa jenisnya (Musa acuminata, M. balbisiana, dan M. ×paradisiaca) menghasilkan buah konsumsi yang dinamakan sama. Buah ini tersusun dalam tandan dengan kelompok-kelompok tersusun menjari, yang disebut sisir.
10

Kultur Jaringan │2012 Hampir semua buah pisang memiliki kulit berwarna kuning ketika matang, meskipun ada beberapa yang berwarna jingga, merah, hijau, ungu, atau bahkan hampir hitam. Buah pisang sebagai bahan pangan merupakan sumber energi (karbohidrat) dan mineral, terutama kalium. Pisang adalah salah satu jenis buah-buahan yang dapat tumbuh di daerah yang beriklim, yang banyak mengandung vitamin A, B1, B2, B6 dan C. Pisang merupakan tanaman terna yang tidak mengenal musim. Pisang mas (Musa paradisiaca L) merupakan salah satu tanaman pisang unggul lokal. Pengembangan pisang mas unggul lokal secara komersial dihadapkan pada kesulitan mendapatkan bibit yang bermutu baik dalam jumlah besar dan dalam waktu singkat. Secara konvensional pisang ini dapat diperbanyak dengan biji dan pemisahan anakan. Namun perbanyakan dengan biji tidak lazim dilaksanakan karena membutuhkan waktu satu sampai dua tahun lebih lama dibandingkan dengan teknik pemisahan anakan (Satuhu,2001) dan tanaman yang dihasilkan sangat beragam karena tanaman pisang merupakan tanaman menyerbuk silang (Sastrapraja,dkk.,1978).

Pemeliharaan kandidat somaklon dilakukan secara in vitro dan ex vitro. Pemeliharaan secara in vitro dilakukan dengan melakukan subkultur pada medium MS. Kultur jaringan merupakan salah teknik yang dapat digunakan untuk meningkatkan keragaman genetik tanaman sehingga sifat-sifat unggul yang diperlukan dapat dihasilkan. Untuk mendapatkan tanaman yang lebih baik sifatnya selain melalui teknologi keragaman somaklonal dapat dilakukan dengan seleksi invitro (Lestari et al.2006). Metode keragaman somaklonal dan seleksi in-vitro telah diaplikasikan pada berbagai tanaman seperti tanaman pisang.

11

Kultur Jaringan │2012 Tanaman pisang hasil induksi mutasi dengan mutagen kimia secara in-vitro menunjukkan keragaman yang besar (Hwang 1990; Bhagwat & Duncan 1998). Penggunaan mutagen kimia pada kultur in-vitro merupakan teknik yang lebih baik untuk mendapatkan mutan daripada mutagen fisik (Herawati 1999; Roux 2004). Mutasi pada tanaman juga dapat diamati dengan adanya perubahan bentuk daun. Secara in-vitro perubahan ini dapat dilihat pada planlet yang meliputi warna daun, persentase planlet yang tumbuh,tinggi planlet (Jamaluddin 1995), bentuk daun (Hawa 1996), dan perkembangan tunas dimana tunas sangat sensitif terhadap mutagen kimia (Satyanarana et al, 1980; EPP 1987). Dalam kultur in vitro peranan kalus sangatlah penting. Pentingnya kalus dalam kultur in vitro karena dapat disub kultur dan dipelihara dalam waktu yang tidak terbatas, dengan perlakuan khusus dapat dikembangkan menjadi kultur suspensi dan dapat diinduksi menjadi planlet. Perbanyakan tanaman pisang (Musa paradisiaca. L) melalui kultur in vitro telah diterapkan secara komersial yaitu dengan penerapan teknik induksi bud like body, penggandaan dan pengakaran tunas mikro secara in vitro (Priyono dan Mawardi, 1993). Priyono (2000) berhasil memperbanyak bibit pisang Abaca melalui kultur mata tunas, sedangkan Sisunandar dan Julia (2000) berhasil menyediakan bibit pisang Abaca melalui kultur pucuk. Variasi somaklonal pertama kali dikemukakan oleh Larkin dan Scowcroft (1981) dalam Kadir (2007), yang didefinisikan sebagai keragaman genetik dari tanaman yang dihasilkan melalui kultur sel, baik sel somatik seperti sel daun, akar, dan batang, maupun sel gamet.

12

Kultur Jaringan │2012 2.3 Rosella Merah (Hibiscus sabdariffa L.) Tanaman rosella memiliki lebih dari 300 spesies yang tersebar pada daerah tropis dan non tropis. Biasanya, digunakan sebagai tanaman hias dan beberapa diantaranya dipercaya memiliki khasiat medis, salah satu diantaranya adalah rosella merah atau rosella (Hibiscus sabdariffa L.). Nama lain rosella adalah Hibiscus Sabdariffa L., H. Sabdariffa varaltissima, Rozelle, Red Sorrel, Sour-sour, Lemon bush, Florida cranberry, Oseille rouge (Perancis), Quimbombo Chino (Spanyol), Karkad (Afrika Utara), Bisap (Senegal).(Ullych, 2009). A. Deskripsi Tanaman Rosella Merah 1. Klasifikasi Tanaman Dalam taksonomi tumbuhan, rosella merah diklasifikasikan sebagai berikut : Devisio : Spermatophyta

Subdivisio : Angiospermae Kelas Ordo Famili Genus Speces Varietas : Dicotyledoneae : Malvaceales : Malvaceae : Hibiscus : Hibiscus sabdariffa L. : Hibiscus sabdariffa varietas sabdariffa L. Hibiscus sabdariffa varietas ultissima Wester (Anonim, 2009). 2. Morfologi Tanaman Pohon rosella merah tumbuh dari biji atau benih dengan ketinggian yang bisa mencapai 3 - 5 meter serta mengeluarkan bunga hampir sepanjang tahun. Bunga rosella berwarna cerah, kelopak bunga atau kaliksnya berwarna merah gelap dan lebih tebal jika dibandingkan dengan bunga sepatu. Bagian bunga rosella yang bisa diproses menjadi makanan ialah kelopak bunganya (kaliks) yang mempunyai rasa yang amat masam. Kelopak bunga ini bisa diproses menjadi berbagai jenis makanan seperti minuman, jelly, saos, serbuk (teh) atau manisan rosella.

13

Kultur Jaringan │2012

Daun muda rosella bisa juga dimakan sebagai ulam atau salad. Sementara itu di Afrika, biji rosella dimakan karena dipercaya mengandung minyak tertentu. Di Sudan, rosella diproses menjadi minuman tradisional yang dinamakan karkadeh dan merupakan minuman kebangsaan orang Sudan (Nnuke, 2008). Hibiscus sabdariffa L. merupakan tanaman semusim yang tumbuh tegak bercabang yang berbatang bulat dan berkayu. Daunnya tunggal, berbentuk bulat telur, pertulangan menjari dan letaknya berseling dan pinggiran daun bergerigi. Bunga rosella bertipe tunggal yaitu hanya terdapat satu kuntum bunga pada setiap tangkai bunga. Bunga ini mempunyai 8-11 helai kelopak yang berbulu dengan panjang 1 cm, pangkal saling berlekatan dan berwarna merah. Mahkota bunga rosella berwarna merah sampai kuning dengan warna lebih gelap dibagian tengahnya. Tangkai sari merupakan tempat melekatnya kumpulan benang sari berukuran pendek dan tebal. Putik berbentuk tabung dan berwarna kuning atau merah. Bunga rosella bersifat hermaprodit sehingga mampu menyerbukan sendiri (Maryani, 2005). Varietas yang umum dibudidayakan ada 2 jenis yaitu rosella berkelopak bunga kuning (Hibiscus sabdariffa var. Altisima) yang biasa dimanfaatkan serat batangnya sebagai bahan membuat tali dan karung goni (Anonim, 2008) dan rosella berkelopak bunga merah (H. sabdariffa var. Sabdariffa) yang biasa dimanfaatkan sebagai tanaman obat meskipun varietas ini juga mepunyai potensi untuk diambil seratnya. Tanaman rosella merupakan tanaman semusim, sehingga setelah selesai masa pembungaannya tanaman akan mati dan sebagian besar masyarakat sudah tidak dapat

memanfaatkannya lagi.

14

Kultur Jaringan │2012 Pemanfaatan batang tanaman rosella merah yang juga memiliki potensi serat dapat menambah nilai ekonomi tanaman rosella. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman rosella merupakan peristiwa yang sangat kompleks, yang dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor lingkungan. Faktor internal yang mempengaruhi antara lain factor hormonal dan genetik sedangkan factor lingkungan meliputi cahaya, air, temperatur, kelembaban, ion organik dan gravitasi. Faktor cahaya berperan dalam pertumbuhan lewat berbagai proses, baik karena intensitasnya, kualitasnya serta lamanya penyinaran. Sel serat merupakan sel meristematik yang telah mengalami diferensiasi. Pertumbuhan dan perkembangan serat merupakan hasil dari proses pertambahan jumlah dan ukuran sel. Pertambahan jumlah sel suatu organisme terjadi karena proses pembelahan sedangkan proses penambahan ukuran sel terjadi karena proses pembentangan sel. Proses pembelahan sel menentukan dasar untuk pertumbuhan yang merupakan serangkaian proses yang diatur secara biokimia. Jaringan ini harus dilengkapi dengan cadangan makanan yang cukup, hormon dan vitamin untuk dapat membelah. Sel-sel baru hasil pembelahan memerlukan karbohidrat dalam jumlah yang besar, karena dinding-dindingnya terbuat dari selulosa dan protoplasmanya terbuat dari gula (Fosket, 1994). Berdasarkan hal diatas maka penting untuk dikaji perkembangan serat batang rosella yang dipengaruhi oleh kombinasi naungan dan volume penyiraman yang berbeda. Beberapa Tunas Regenerasi Rosela (Hibiscus Sabdariffa L.) dari Sistem Budidaya Apeks Pucuk. Ada beberapa laporan di dalam regenerasi in vitro dari genus Hibiscus, dengan kenaf (H.cannabinus L.) menjadi studi yang paling spesies dalam hal regenerasi organogenesis dari apeks (Zapata et al, 1999;.. Srivatanakul et al, 2000), sementara penulis lain melaporkan pembentukan tunas beberapa dari tunas muda dan kotiledon (Hatun et al, 2003.); Herart et al, 2004). Sebuah protokol untuk regenerasi tanaman dari kalus dengan menggunakan segmen hipokotil dan kotiledon telah dibentuk untuk Hibiscus siryacus spesies (Jenderek dan Olney, 2001).

15

Kultur Jaringan │2012 Saat ini tidak ada laporan yang menjelaskan metode untuk dalam regenerasi in vitro dari Hibiscus sabdariffa. Oleh karena itu pengembangan metode regenerasi yang sesuai akan penting bagi perbaikan kultivar ada dari rosela. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan sistem direproduksi untuk tanaman regenerasi H.sabdariffa melalui tunas beberapa tumbuh dari apeks pucuk, menggunakan BA, mtopolin dan Thidiazuron ((TDZ).

16

Kultur Jaringan │2012 BAB III METODE PELAKSANAAN

3.1

Metode Kultur Jaringan pada Pisang (Musa sp.) 3.1.1 Metoda secara Umum

Penulisan makalah ini kami rumuskan melalui metode Studi Pustaka, yaitu dengan mengumpulkan data-data dan informasi yang berasal dari jurnal hasil penelitian yang berkaitandengan rekayasa somaklonal atau gametoklonal. Dua tahapan Kultur Jaringan yaitu : a. Pembuatan Media Merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf pada suhu 121º C selama 45 menit.

b.

Sterilisasi eksplant Inisiasi kultur (Culture Estabilishment) Sterilisasi eksplan merupakan bagian yang paling sulit dalam proses produksi

bibit melalui kultur jaringan. Sterilisasi biasanya dilakukan dalam beberapa tahap. Pertama-tama eksplan dicuci dengan deterjen atau bahan pencuci lain, selanjutnya direndam dalam bahan-bahan sterilan baik yang bersifat sistemik atau desinfektan.
17

Kultur Jaringan │2012 Bahan-bahan yang biasa digunakan untuk sterilisasi antara lain clorox, kaporit atau sublimat. Sebagai contoh, sterilisasi eksplan tanaman dapat dilakukan sebagai berikut: tunas yang akan digunakan sebagai eksplan dicuci dengan deterjen sampai betul-betul bersih. Setelah itu, tunas diambil dan direndam berturut-turut dalam benlate (0,5%) selama 5 menit, alkohol (70%) selama 5 menit, clorox (20%) selama 20 menit, dan HgCl2 (0,2%) selama 5 menit. Akhirnya eksplan dibilas dengan aquades steril (3-5kali) sampai larutan bahan kimia hilang. Apabila kontaminan tetap ada maka konsentrasi dan lamanya perendaman sterilan dapat ditingkatkan.

c.

Penumbuhan eksplant dalam media cocok Setelah disterilkan eksplan ditumbuhkan dalam media kultur. Media yang

banyak digunakan sampai saat ini adalah media MS. Untuk mengarahkan biakan pada organogenesis yang diinginkan, ke dalam media ditambahkan zat pengatur tumbuh.

d.

Multipliksi atau perbanyakan planlet Proses penggandaan tanaman dimana tanaman dipotong-potong pada bagian

tertentu menjadi ukuran yang lebih kecil kemudian ditanam kembali kemedia agar yang telah disiapkan. Proses ini dilakukan secar berulang setiap tanggal waktu tertentu. Pada setiap siklusnya tanaman dipotong dan menghasilkan perbanyakan dengan tingkat RM (Rate Of Multiplication) tertentu yang berbeda-beda untuk setiap tanaman. Kemampuan multiplikasi akan meningkat apabila biakan disubkultur berulang kali. Namun perlu diperhatikan, walaupun subkultur dapat meningkatkan factor multiplikasi dapat juga meningkatkan terjadinya mutasi. Untuk itu, biakan perlu diistirahatkan pada media MS, yaitu tanpa zat pengatur tumbuh. Banyaknya bibit yang dihasilkan oleh suatu laboratorium tergantung kemampuan multiplikasi tunas pada setiap periode tertentu. Semakin tinggi kemampuan kelipatan tunasnya maka semakin banyak dan semakin cepat bibit dapat dihasilkan.

18

Kultur Jaringan │2012 e. Pemanjangan tunas, induksi dan perkembangan akar Merupakan proses induksi (perangsangan) bagi sistem perakaran tanaman. Hasil dari proses ini adalah tanaman dari kondisi sempurna. Tahapan ini tidak berlaku untuk semua jenis tanaman. Pengakaran adalah fase dimana planlet akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang mana biasanya hanya berupa penambahan zat pemacu pertumbuhan dari golongan auxin. Dalam fase ini biasanya tunas ditanam dalam media yang mengandung zat pengatur tumbuh (IAA, IBA atau NAA). Perakaran umumnya dilakukan pada tahap akhir dalam suatu periode perbanyakan kultur jaringan, yaitu apabila jumlah tunas in vitro sudah tersedia sesuai dengan jumlah bibit yang akan diproduksi.

f.

Aklimatisasi planlet kelingkungan luar Aklimatisasi adalah proses penyesuaian planlet dari kondisi mikro dalam botol

(heterotrof) ke kondisi lingkungan luar (autotrof). Planlet yang dipelihara dalam keadaan steril dalam lingkungan (suhu dan kelembaban) optimal, sangat rentan terhadap lingkungan luar (lapang). Planlet yang tumbuh dalam kultur di laboratorium memiliki karakteristik daun yang berbeda dengan planlet yangtumbuh di lapang. Daun dari planlet pada umumnya memiliki stomata yang lebih terbuka, jumlah stomata tiap satuan luas lebih banyak, dan sering tidak memiliki lapisan lilin pada permukaannya. Dengan demikian, planlet sangat rentan terhadap kelembaban rendah. Mengingat sifat-sifat tersebut, sebelum ditanam di lapang, planlet memerlukan aklimatisasi. Aklimatisasi dapat dilakukan di rumah kaca atau pesemaian, baik dirumah kaca atau pesemaian. Dalam aklimatisasi, lingkungan tumbuh (terutama kelembaban) berangsur-angsur disesuaikan dengan kondisi lapang. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup.

19

Kultur Jaringan │2012 Teori ini mempercayai bahwa setiap bagian tanaman dapat berkembang biak karena seluruh bagian tanaman terdiri atas jaringan ± jaringan hidup. Sedangkan Tahap-tahap pada kultur jaringan tanaman yaitu : a. b. c. d. e. f. Pemilihan dan Penyiapan Tanaman Induk Sumber Eksplan Inisiasi Kultur Sentrilisasi Multiplikasi atau Perbanyakan Propagul Pemanjangan Tunas, Induksi, dan Perkembangan Akar Aklimatisasi.

3.1.2

Kultur Meristem Pisang (Musa sp.) menggunakan metode percobaan di laboratorium, dengan

Penelitian

menggunakan beberapa perlakuan diantaranya induksi tunas, multiplikasi tunas dan induksi akar yang terdiri atas dua faktor yaitu konsentrasi BAP dan NAA. Kombinasi perlakuan untuk induksi tunas, multiplikasi tunas dan induksi akar. Semuanya disusun secara faktorial dalam rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan, dan setiap unit perlakuan menggunakan 5 botol kultur.

20

Kultur Jaringan │2012

Tata Laksana Penelitian Sumber dan Steriliasi Eksplan Bahan yang akan digunakan sebagai eksplan adalah jaringan meristem pisang mas jenis Musa paradisiaca L. Penyediaan eksplan dilakukan dengan cara mengambil jaringan meristem dari tunas apikal yang sudah terpilih dan disterilisasikan. Sterilisasi akan dilakukan dengan cara merendam dalam 70% etanol selama 5, 10 dan 15 menit. Kemudian direndam dalam 30% bayclin selama 5, 10 dan 15 menit sambil dikocok, selanjutnya dibilas dengan akuades steril 3 kali. Hasil kultur dari variasi konsentrasi bayclin dan lama waktu perendaman yang tidak menyebabkan kematian jaringan dan tidak menyebabkan terjadinya kontaminasi berupa bakteri maupun jamur yang diamati hingga eksplan berumur 20 hari akan digunakan untuk metode sterilisasi eksplan yang akan digunakan untukpenelitian selanjutnya. Eksplan yang tidak terkontaminasi untuk selanjutnya akan digunakan sebagai bahan tanam yang dapat menghasilkan planlet yang bebas penyakit baik penyakit yang disebabkan oleh jamur maupun bakteri. Induksi Tunas, Multiplikasi Tunas dan Induksi Akar Untuk menginduksi pembentukan tunas dan multiplikasi tunas dari jaringan meristem yang sudah bebas pathogen yang diperoleh dari proses sterilisasi, dilakukan pada medium dasar MS dengan penambahan BAP 2-6 mg/l medium dan NAA 0,1 mg/l medium. Induksi tunas dilakukan dengan cara menanam jaringan meristem dalam medium induksi tunas. Selanjutnya ditentukan medium yang paling banyak menginduksi pembentukan tunas setelah enam belas minggu kultur. Tunas yang terbentuk setelah enam belas minggu kultur kemudian dipindahkan ke medium sub kultur dengan tujuan memperbanyak tunas. Tunas yang dipindahkan berukuran panjang 1,0 – 2,0 cm. Masing-masing botol ditanami tiga tunas dengan pengulangan sebanyak lima kali. Medium yang digunakan untuk induksi akar adalah medium dasar MS dengan penambahan zat pengatur tumbuh NAA dengan konsentrasi 0,1 –0,5 mg/l tanpa BAP Induksi akar akan dilakukan dengan cara tunas lengkap dengan daun yang diperoleh dari multiplikasi ditanam pada medium induksi akar.
21

Kultur Jaringan │2012

22

Kultur Jaringan │2012 Setelah lima minggu kultur diamati jumlah akar dan rata-rata panjang akar yang terbentuk. Selanjutnya ditentukan medium kultur yang terbaik untuk menginduksi pembentukan akar. Variabel yang diamati Variabel yang diamati meliputi waktu induksi tunas, persentase eksplan yang tumbuh, jumlah tunas yang tumbuh dari jaringan meristem, jumlah tunas yang tumbuh pada sub kultur, jumlah tunas yang tumbuh pada media multiplikasi , panjang tunas, persentase jumlah tunas yang berakar, jumlah akar, rata-rata panjang akar, dan persentase kontaminasi. 3.2 Metoda Kultur Jaringan Rosella Merah (Hibiscus sabdariffa L.)

Beberapa Tunas Regenerasi Rosela (Hibiscus Sabdariffa L.) dari Sistem Budidaya Apeks Pucuk. Benih Berkecambah dan Generasi Eksplan : Benih yang ada permukaan disterilkan dengan pencelupan dalam etanol 70% selama 3 menit diikuti dengan 20 menit dalam larutan natrium hipoklorit 50% (v/v) ditambah 0,2% Tween 20 dengan pengadukan konstan dan akhirnya dibilas 3 kali dengan air suling steril. Biji disterilkan ditempatkan pada media MS (Murashige Skoog iklan, 1962) ditambah 4,43 μM BA dan diinkubasi pada 270C dengan cahaya kontinyu.
23

Kultur Jaringan │2012 Tunas puncak (5-6mm) dengan dua daun primordia dan segmen nodal yang dipotong dari 10-hari-bibit berumur tumbuh in vitro digunakan sebagai sumber eksplan. Beberapa Induksi Tunas: Tips pucuk olaced vertikal pada Sprouting Menengah Induksi (SIM) yang berisi Murashige dan Skoog (1962) garam ditambah dengan 555 μM dari myo-inositol, 1,5 μM tiamin HCl, 4,1 μM asam nikotinat, piridoksin HCl 2,4 μM, sukrosa 3% dan tanaman pengatur pertumbuhan. Para PH medium diatur pada 5,7 dengan NaOH dan 0,35% dari phytagel ditambahkan sebagai agen jellifying. Percobaan didirikan pada desain acak penuh mendaftarkan frekuensi dan jumlah tunas yang dibentuk oleh masing-masing eksplan. Sebuah ANOVA digunakan untuk menilai perbedaan antara perlakuan dan uji jarak berganda Duncan digunakan menilai jarak antara sarana yang signifikansi 5%. Tunas pemanjangan, membasmi dan transfer planlet ke tanah: Setiap kelompok kuncup dibedakan yang memanjang dalam kegelapan total selama 3 sampai 4 hari dan sekali mereka mencapai 3 sampai 4 cm mereka dipotong menjadi bagian-bagian individu dan ditempatkan dalam media MS tanpa pertumbuhan regulator untuk meningkatkan pembangunan vegetatif dan radikuler. Ekstraksi DNA dan analisis RAPD: DNA genomik diekstraksi dari sekitar 100 mg jaringan daun dengan menggunakan metode CTAB (Doyle dan Doyle, 1990). Analisis RAPD dilakukan pada setiap tanaman yang dihasilkan dari BA dan m-topolin perawatan, dalam rangka mendeteksi adanya variasi somaklonal. Keandalan dari 20 sewenang-wenang 10 primer dasar untuk analisis RAPD pada awalnya diuji dengan menggunakan Kit B (Operon Technologies). Di dua independen PCR berjalan dilakukan per sampel dan primer yang dipilih. Hanya fragmen diperkuat dengan intensitas pewarnaan serupa di masing-masing berjalan dianggap dalam analisis berikutnya.

24

Kultur Jaringan │2012

BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN

4.1

Pisang (Musa sp.) “Upaya Pengembangan Tanaman Pisang Mas (Musa Paradisiaca L) Bebas

Patogen Melalui Metode Kultur Meristem” AGRITECH, Vol. XIII No. 1 Juni 2011 : 46 – 66. Persentase Kontaminasi Persentase eksplan hidup dan terkontaminasi diamati untuk mempelajari kemampuan eksplan hidup dan tingkat keberhasilan metode sterilisasi yang diterapkan. Adapun hasilnya disajikan dalam table. 4 bawah ini. 70% etanol selama 5, 10 dan 15 menit. Kemudian direndam dalam 30% bayclin selama 5, 10 dan 15. Pada penanaman tahap pertama keberhasilan rata-rata diatas 50%, hal ini disebabkan oleh proses sterilisasi eksplan yang cukup efektif. Namun demikian secara umum peningkatan lama perendaman eksplan dalam larutan etanol 70% dan lama perendaman dalam laritan Bayclin yang semakin ditingkatkan cenderung

meningkatkan kematian eksplan. Penggunaan etanol 70% selama 5 menit dan diikuti perendaman dalam larutan bayclin 30% selama 5 menit ternyata menunjukkan tingkat kontaminasi tertinggi yaitu sekitar 60%. Tingginya kontaminasi yang terjadi menunjukkan bahwa lamanya perendaman dalam etanol yang dilanjutkan dengan perendaman dalam larutan bayclin yang digunakan belum efektif membunuh agensia penyebab kontaminasi seperti jamur dan bakteri. Gejala yang ditimbulkan dari adanya serangan jamur adalah tumbuhnya hifahifa jamur pada permukaan media maupun eksplan setlah inokulasi selama ratarata 4-14 hari setelah tanam. Hifa-hifa yang terbentuk berwarna putih yang selanjutnya dalam kurun waktu tertentu berubah menjadi berwarna coklat dan hitam.

25

Kultur Jaringan │2012

Sedangkan kontaminasi yang disebabkan oleh bakteri lama penyebaran agensia kontaminan ini lebih singkat hanya dalam kurun waktu 2-7 hari setelah tanam, dicirikan dengan munculnya lendir berwarna kuning kecoklatan di permukaan media dan eksplan. Agensia penyebab kontaminasi ini terbawa lewat alat maupun eksplan yang digunakan dalam penelitian, terutama yang terbawa oleh eksplan. Hal ini dapat dipahami karena eksplan yang digunakan berasal dari mata tunas pisang yang diisolasi bagian meristemnya, dimana mata tunas tersebut berada pada bagian bawah (bonggol) tanaman yang bersentuhan langsung dengan tanah, sehingga besar kemungkinan kontaminasi dapat terjadi apabila proses sterilisasi tidak sempurna. Namun kematian eksplan diawali dengan perubahan warna permukaan jaringan meristem pisang yang berubah warna dari putih kehijauan menjadi putih pucat dan selanjutnya berubah warna menjadi coklat, selanjutnya eksplan dalam waktu dua minggu berangsur-angsur mengalami kematian. Agensia penyebab kontaminasi seperti jamur dan bakteri yang umum mengkontaminasi media dan eksplan adalah jamur yang biasa ada di laboratorium seperti Aspergillus sp, Monilla sp dan Penicillium sp (Setoyoko,1995).

26

Kultur Jaringan │2012 Sedangkan jenis bakteri yang mungkin berasal dari laboratorium adalah bakteri gram positif. Menurut Purseglove (1981) bakteri yang semispesifik untuk pisang adalah Pseudomonas solanacearum. Sedangkan pengaruh perlakuan NAA dan BAP yang memberikan pengaruh terhadap persentase hidup eksplan dan persentase kontaminasi eksplan dapat dilihat dalam tabel 5 dibawah ini.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan NAA 0,1 ppm dan BAP 4 ppm menujukkan persentase hidup tertinggi yaitu 86,67 % dan persentase kontaminasi 13,33 %, selanjutnnya perlakuan NAA 0,1 ppm dan BAP 6 ppm menunjukkan persentase hidup eksplan 80% dan persentase kontaminasi 6,67%, sedangkan perlakuan NAA 0,1 ppm dan BAP 42 ppm menunjukkan persentase hidup eksplan sebesar 73,33 % dan persentase kontaminasi sebesar 6,67 %. Hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa kematian eksplan yang terjadi tidak semuanya disebabkan oleh karena serangan agensia kontaminasi seperti jamur dan bakteri. Sebagian kecil eksplan mengalami kematian akibat pencoklatan (Browning) yang terjadi selama proses inokulasi/penanaman. Pencoklatan terjadi pada umur 1 hari sampai 2 minggu setelah penanaman. Pencoklatan yang terjadi disebabkan oleh sintesis metabolit sekunder. Fitriani (2003) mendapatkan bahwa warna coklat kalus menandakan sintesis senyawa fenolik. Dalam penelitian ini, sel meristem mengalami cekaman luka pada jaringan, selain cekaman dari medium. Vickery & Vickery (1980) menyatakan bahwa sintesis senyawa fenolik dipacu oleh cekaman atau gangguan pada sel tanaman. Senyawa fenol sangat toksik bagi tanaman dan dapat menghambat pertumbuhan.

27

Kultur Jaringan │2012 Untuk mencegah timbulnya warna coklat (browning) pada luka bekas potongan eksplan dapat dilakukan dengan penambahan senyawa tertentu seperti

Polivinylpyrrolidone (PVP) ataupun arang aktif dalam medium penanaman eksplan (Widiastoety, 2001). Keadaan Umum Eksplan Selama Penelitian Secara umum kondisi eksplan cukup baik, dimana tahap demi tahap penelitian dapat berjalan sesuai dengan rencana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meristem pisang mas yang ditanam dalam media dasar MS dengan penambahan NAA dan BAP berpengaruh tidak nyata hampir pada semua variabel pengamatan kecuali pada variabel pengamatan rata-rata jumlah akar dan rata-rata panjang akar perlakuan NAA dan BAP menunjukkan pengaruh nyata dan sangat nyata. Variabel pengamatan yang diambil menunjukkan hasil sebagai berikut : Waktu Induksi Tunas Pertumbuhan tunas dari meristem pisang mas terjadi mulai minggu ke-4 sampai minggu ke-8 setelah tanam. Pertumbuhan eksplan terlihat bervariasi antar perlakuan dan rata-rata waktu induksi tunas tercepat terdapat pada kombinasi perlakuan perlakuan NAA 0,1 ppm dan BAP 4 ppm yaitu selama 4,67 minggu, dan untuk kombinasi perlakuan NAA 0,1 ppm dan BAP 2 ppm selama 4,83 minggu, sedangkan perlakuan NAA 0,1 ppm dan BAP 6 ppm menunjukkan waktu induksi tunas lebih lama yaitu 5,27 minggu. Hasil tersebut jelas menunjukkan bahwa dengan pemberian BAP yang semakin ditingkatkan sampai pada konsentrasi 4 ppm memberikan waktu induksi yang semakin cepat, begitu pula dengan penambahan NAA yang dikombinasikan dengan BAP ternyata mampu merangsang proses induksi tunas lebih baik (tabel 4).

28

Kultur Jaringan │2012

Penambahan zat pengatur tumbuh BAP dan NAA pada media MS untuk merangsang induksi tunas pisang MAS ternyata cukup efektif . Hal ini disebabkan karena NAA dapat melunakkan kulit pelindung jaringan meristem, sehingga sel-sel pada jaringan meristem dapat dengan mudah berdiferensiasi dan mengalami pembelahan sehingga dapat dengan mudah menembus bagian kulit pelindung dari jaringan meristem tersebut. Jumlah Tunas dari Jaringan Meristem (tunas) Hasil penelitian menunjukkan bahwa meristem pisang mas yang ditanam dalam media dasar MS dengan penambahan NAA dan BAP berpengaruh tidak nyata terhadap variabel pengamatan jumlah tunas dari jaringan meristem, dan tidak terjadi interaksi antara keduanya (tabel 7). Kombinasi perlakuan BAP dan NAA yang memberikan jumlah tunas yang terbentuk dari jaringan meristem terbanyak terdapat pada kombinasi perlakuan BAP 4 ppm dan NAA 0,1 ppm yaitu sebanyak 2 tunas, yang tidak berbeda nyata dengan kombinasi perlakuan BAP 2 ppm dan NAA 0,1 ppm, serta BAP 6 ppm dan NAA 0,1 ppm yaitu masing-masing sebanyak 1,9 tunas.

29

Kultur Jaringan │2012

Hasil diatas menujukkan bahwa sel-sel pada jaringan mersitem dengan penambahan NAA dan BAP mengalami proses pembelahan lebih cepat, sesuai dengan peran sitokinin dimana berfungsi sebagai pemacu proses pembelahan sel. Sesuai dengan pendapat sebelumnya bahwa selain untuk meningkatkan pelunakan dinding sel, auksin ternyata sangat efektif untuk proses pemuluran dan pemanjangan dinding sel sehingga akan lebih mempermudah proses pembentukan tunas ditambah dengan meningkatnya proses pembelahan sel sehingga akan memacu pembentukan tunas-tunas baru dari jaringan meristem. Jumlah Tunas Pada Media Multiplikasi (tunas) Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan BAP dan NAA berpengaruh tidak nyata terhadap variabel pengamatan jumlah tunas pada media multiplikasi , dan tidak terjadi interaksi antara keduanya.

30

Kultur Jaringan │2012 Kombinasi Perlakuan BAP dan NAA yang memberikan jumlah tunas yang terbanyak terdapat pada perlakuan BAP 6 ppm dan NAA 0.3 ppm yaitu sebanyak 3,22 tunas, dan kombinasi perlakuan yang menunjukkan jumlah tunas terendah pada perlakuan BAP 2ppm dan NAA 0,1 ppm yaitu sebanyak 2,67 tunas. Banyaknya tunas yang terbentuk pada media multiplikasi selain dipengaruhi oleh zat pengatur tumbuh yang digunakan ternyata juga dipengaruhi oleh banyaknya embrio yang terbawa selama proses pemisahan planlet dari media sebelumnya. Panjang Tunas Pada Media Multiplikasi (cm) Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan BAP dan NAA berpengaruh tidak nyata terhadap variabel pengamatan panjang tunas pada media multiplikasi, dan tidak terjadi interaksi antara keduanya.

Kombinasi perlakuan Perlakuan NAA dan BAP yang memberikan panjang tunas tertinggi terdapat pada perlakuan NAA 0,3 ppm dan BAP 4 ppm yaitu sepanjang 2,48 cm sedangkan kombinasi perlakuan yang menunjukkan panjang tunas terendah terdapat pada kombinasi perlakuan NAA 0,3 ppm dan BAP 6 ppm yaitu sepanjang 1,85 cm. Ada kecenderungan semakin banyak tunas pisang yang terbentuk memberikan rata-rata panjang tunas yang lebih rendah dikarenakan pengukuran panjang tunas dilakukan pada seluruh tunas yang terbentuk pada botol kultur sedangkan masing-masing tunas menunjukkan panjang tunas yang bervariasi.

31

Kultur Jaringan │2012 Rerata Persentase Jumlah Tunas Yang Berakar Pada Media Induksi Akar Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan BAP dan NAA berpengaruh tidak nyata terhadap variabel pengamatan rerata persentase jumlah tunas yang berakar pada media induksi akar, dan tidak terjadi interaksi antara keduanya.

Dari tabel 10 diatas terlihat bahwa perlakuan NAA 0,3 ppm dan NAA 0,5 ppm menunjukkan rerata persentase jumlah tunas yang berakar paling tinggi yaitu sebesar 88,89 %, sedangkan perlakuan tanpa NAA dan BAP menunjukkan rerata persentase terrendah yaitu 44,47%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemberian NAA memberikan pengaruh baik terhadap persentase jumlah tunas yang mampu berakar, bila dibandingkan tanpa pemberian NAA. Seperti yang diungkapkan Santoso (2004), bahwa fungsi auksin salah satunya adalah NAA adalah mampu menstimulir pembentukan akar baru serta mendorong proses morfogenesis kalus membentuk akar atau tunas. Jumlah Akar Pada Media Induksi Akar (Akar) Hasil penelitian menunjukkan bahwa akar yang terbentuk pada media multiplikasi dengan penambahan NAA berpengaruh nyata terhadap variabel pengamatan jumlah akar pada media induksi akar.

32

Kultur Jaringan │2012

Kombinasi perlakuan NAA yang memberikan jumlah akar tertinggi terdapat pada perlakuan NAA 0.4 ppm dan NAA 0,5 ppm yaitu sebanyak 3,2 akar. Sedangkan kombinasi perlakuan yang memberikan jumlah akar terendah terdapat pada perlakuan tanpa NAA yaitu sebanyak 2 akar ( tabel 11). Dari tabel 11 terlihat bahwa pada media induksi akar ternyata akar mampu tumbuh dengan baik, walaupun jumlah tunas yang terbentuk tidak begitu banyak. Hal ini lebih dikarenakan lamanya waktu tunas berada pada medium induksi akar sangat singkat baru kurang lebih 2 minggu sejak pemindahan. Panjang Akar Pada Media Induksi Akar (cm) Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang akar yang terbentuk pada media induksi akar dengan penambahan NAA berpengaruh sangat nyata terhadap variabel pengamatan panjang akar pada media induksi akar.

33

Kultur Jaringan │2012 Perlakuan NAA yang memberikan panjang akar tertinggi terdapat pada kombinasi perlakuan tanpa NAA yaitu sebesar 1,02 cm, yang berbeda nyata dengan semua perlakuan. Sedangkan kombinasi perlakuan yang memberikan panjang akar terendah pada perlakuan NAA 0,4 ppm yaitu sebesar 0,49 cm (tabel 12). Dari tabel 12 terlihat bahwa pada media multiplikasi ternyata proses pemanjangan akar berjalan, hal ini dapat dilihat dari panjang akar yang terbentuk pada masing-masing kombinasi perlakuan. Penambahan NAA pada media induksi akar ternyata mampu merangsang pemanjangan akar.

Namun demikian panjang akar tertinggi dari hasil penelitian ini terdapat pada perlakuan tanpa NAA , hal ini lebih disebabkan oleh karena jumlah akar yang terbentuk pada perlakuan tersebut lebih sedikit sehingga rata-rata panjang akar yang terbentuk menjadi lebih besar.
34

Kultur Jaringan │2012 4.2 Rosella Merah (Hibiscus sabdariffa L.) Studi awal menilai pengaruh α-Naphtalene Acetic Acid (NAA) (10,74-42.96 μM) dan BA (8,87-35,48 μM) dalam induksi embriogenesis somatik pada cakram daun kotiledon dan hipokotil. Penelitian ini tidak berhasil karena pembentukan kalus dengan produksi akar berlimpah adalah efek hanya diamati ketika NAA Dan BA konsentrasi yang lebih tinggi dari 20 μM dan lebih rendah dari 10 μM digunakan, masing-masing. Pertumbuhan terbaik regulator kombinasi untuk memproduksi kalus meremah diperoleh setelah 3 minggu dengan menggabungkan hipokotil sebagai eksplan dengan 21,48 μM NAA dan 35,48 μM BA (data tidak ditunjukkan). McLean NAA dan BA 0,44 μM menginduksi produksi tunas adventif dalam kalus dari H.cannabinus setelah 4 minggu, kondisi ini dapat dievaluasi dalam studi terakhir dari rosela.

Gambar. 1: tahap pembentukan tunas beberapa dari bunga roselle. Bar = 1. (a) tahap proliferasi, 3 minggu setelah tumbuh dalam media induksi dengan 17,74 μM BA, (b) tunas, 4 minggu setelah didirikan pada SIM, menyusul periode gelap untuk menginduksi pemanjangan batang (c) tunas memanjang, potong dan ditempatkan dalam medium MS (d) perkembangan akar kuat dan pemanjangan batang dalam medium MS (e) substrat fase adaptasi, (f) pembentukan dan produksi calyces di lapangan.
35

Kultur Jaringan │2012 Tumbuh benih dalam medium dengan 4,43 μM BA memfasilitasi isolasi eksplan karena pemendekan dan pelebaran tunas apikal, serta tidak adanya produksi akar bila dibandingkan dengan tanaman yang tidak diobati. Perlakuan juga pra membuang eksplan terhadap pembentukan tunas sebelumnya. Sitokinin yang digunakan, secara umum, menunjukkan efek yang berbeda dalam pembentukan tunas apikal (Tabel 1). Dalam perawatan dengan BA, proses tumbuh mulai 3 minggu setelah transplantasi ke dalam medium SIM dan meningkat terutama dengan pembentukan sejumlah besar tunas beberapa di medium dengan 17,74 μM BA, di mana rata-rata 3,2 tunas per eksplan diperoleh setelah 8 minggu (Gambar la), dibandingkan dengan 2,7 dan 3,2 tunas dengan 8,87 dan 35,48 BA μM, masing-masing (Tabel 1).

Pengobatan dengan TDZ tidak menunjukkan pembentukan tunas dan kalus eksplan mengembangkan vitrifikasi dan deformasi daun pada tunas apikal. Hasil ini berbeda dengan yang dilaporkan untuk kenaf, dimana penambahan 1 μM dari TDZ disebabkan produksi 6 tunas dalam 2 minggu, dengan menggunakan UDS apikal sebagai eksplan (Srivatanakul et al., 2000).
36

Kultur Jaringan │2012 Mengingat hasil ini kami tidak menyarankan penggunaan TDZ untuk budidaya rosela dalam konsentrasi sini dengan bekerja. Pengobatan dengan BA dan m-topolin apikal menunjukkan frekuensi yang lebih besar dari 98% menggunakan tumbuh tunas apikal sebagai eksplan. Lain rosela eksplan, seperti daun atau hipokotil, dari kalus tumbuh di bawah konsentrasi sitokinin yang sama. Pucuk dipotong sekali ketika mereka memiliki kurang lebih 1 sampai 4 cm panjang, yang diperoleh dengan menjaga roset dalam kegelapan selama 4 hari, dengan demikian menyebabkan pemanjangan batang. Pucuk yang dipotong dengan sekitar 6 daun menunjukkan sistem radikuler berkembang dengan baik (Gambar 1c) sehingga tidak perlu untuk menyediakan media pembentukan akar. Kondisi ini mungkin karena tingginya kandungan auksin endogen. Setelah eksplan telah didirikan selama 2 minggu pada media MS bebas hormon, tanaman yang ada kuat dan memiliki radikuler sistem berlimpah (Gambar Id) yang difasilitasi adaptasi mereka terhadap substrat tanah, dimana mereka melanjutkan pertumbuhan mereka tanpa masalah aklimatisasi nyata (Gambar 1e). Seratus persen dari tunas dipotong berhasil mengembangkan sepenuhnya dalam kondisi lapangan dengan kondisi fenotipik mirip dengan tanaman rosela dari varietas yang sama yang berasal dari biji, di mana tampuk pembentukan diamati 3 bulan setelah pendirian mereka. (Gambar 1f). Pengembangan meristem aksial daun dikendalikan oleh efek menghambat diberikan oleh meristem apikal, namun, adalah mungkin bahwa paparan BA atau m-topolin ulang program sel-sel meristem tunas aksiler di muda, menyebabkan divisi dipercepat sehingga menimbulkan tunas vegetatif banyak. Ini menunjukkan kemungkinan bahwa gen homolog mungkin ada H.sabdariffa yang dapat juga ditekan oleh aksi BA atau m-topolin sitokinin, yang mengarah ke produksi induksi tunas beberapa dalam tips tunas.

37

Kultur Jaringan │2012 Penelitian terbaru menggunakan cahaya dan mikroskop elektron scanning di H.cannabinus telah menunjukkan bahwa regenerasi tunas beberapa dari tunas apikal diobati dengan BA dimulai dengan pembentukan daerah berdekatan dengan meristem tunas lateral dan pada permukaan abaxial berdekatan dengan tunas lateral dan pada abaxial permukaan primordia daun primer yang kemudian berkembang menjadi tunas (Herawati dkk., 2004). Berdasarkan hasil ini, kami sarankan bahwa tidak ada variasi somaklonal pada tanaman regenerasi, mungkin karena fakta bahwa mereka langsung regenerasi dari tunas ujung terorganisir. Dengan hasil ini kita dapat menyatakan bahwa adalah mungkin untuk melakukan transformasi genetik H.sabdariffa melalui penembakan partikel atau melalui Agrobacterium, menggunakan tunas muda sebagai target. Setelah transformasi, pengobatan tambahan dengan BA dapat memberikan kontribusi untuk tunas proliferasi dan, karena itu, mencegah munculnya tunas tidak masuk akal, ada yang mengarah ke transformasi dengan lebih stabil.

38

Kultur Jaringan │2012

BAB V PENUTUP

5.1 a.

Kesimpulan Pisang (Musa sp.) Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa:

1.

Pemberian kombinasi NAA dan BAP berpengaruh pada peningkatan keberhasilan perkembangbiakan eksplan tanaman pisang mas dengan metode kultur meristem, diantaranya pada peningkatan kecepatan waktu yang diperlukan untuk induksi tunas, jumlah tunas yang terbentuk dari eksplan jaringan meristem yang digunakan dan peningkatan jumlah tunas yang terbentuk pada berbagai media yang digunakan serta mampu terbentukan akar pada medium induksi akar.

2.

Perlakuan BAP 4 ppm yang diberikan pada medium induksi tunas memberikan hasil terbaik hampir pada semua variabel pengamatan diantaranya waktu induksi tunas selama 4.67 minggu, jumlah tunas dari jaringan meristem sebanyak 2,0 tunas. Sedangkan pada medium multiplikasi tunas kombinasi perlakuan NAA dan BAP yang ditambahkan tidak berpengaruh nayat terhadap jumlah tunas dan panjang . Sedangkan untuk jumlah akar terbanyak terdapat pada kombinasi perlakuan NAA 0.4 ppm dan NAA 0,5 ppm yaitu sebanyak 3,2 akar.

3.

Dalam penelitian ini penggunaan eksplan meristem pisang mas pada perbanyakan secara in vitro diperoleh bibit pisang mas yang bebas patogen , hal ini dapat dilihat dari persentase eksplan yang dapat tumbuh cukup tinggi yaitu rata-rata diatas 80 %.

39

Kultur Jaringan │2012 b. Rosella Merah (Hibiscus sabdariffa L.)

1.

Pengembangan meristem aksial daun dikendalikan oleh efek menghambat diberikan oleh meristem apikal, namun paparan BA atau m-topolin ulang program sel-sel meristem tunas aksiler di muda, menyebabkan divisi dipercepat sehingga menimbulkan tunas vegetatif banyak. Ini menunjukkan kemungkinan bahwa gen homolog mungkin ada H.sabdariffa yang dapat juga ditekan oleh aksi BA atau m-topolin sitokinin, yang mengarah ke produksi induksi tunas beberapa dalam tips tunas.

2.

Dengan hasil ini kita dapat menyatakan bahwa adalah mungkin untuk melakukan transformasi genetik H.sabdariffa melalui pucuk/tunas partikel atau melalui Agrobacterium, menggunakan tunas muda sebagai target. Setelah transformasi, pengobatan tambahan dengan BA dapat memberikan kontribusi untuk tunas proliferasi dan, karena itu, mencegah munculnya tunas tidak masuk akal, ada yang mengarah ke transformasi dengan lebih stabil.

5.2

Saran Bertitik tolak dari penelitian ini perlu dilakukan kajian lebih lanjut tentang

perbanyakan bibit pisang secara in vitro. Kajian-kajian yang dapat dikembangkan antara lain pemilihan metode sterilisasi yang tepat, penambahan zat pengatur tumbuh dan alternatif penggunaan eksplan lain yang lebih mudah pertumbuhannya sehingga nantinya dapat menekan biaya produksi bibit secara in vitro pada skala industri. Selain itu perlu pula dikaji lebih jauh tentang hasil dari penelitian ini khususnya bagaimana bibit yang diperoleh dari metode kultur meristem ini kaitannya dengan perolehan bibit yang identik dengan induknya dan berproduksi tinggi.

40

Kultur Jaringan │2012

DAFTAR PUSTAKA
a) Pisang

http://tissuecultureandorchidologi.blogspot.com/2010/02/multiplikasi-tunas-pisangambon-secara.html http://fmipa.unp.ac.id/artikel-132-kultur-meristem-tunas-pisang-ambon-kuning--musa-paradisiaca-l-var-sapientum-dengan-penambahan-hypon.html http://mediaperbanyakansecarakulturjaringan.blogspot.com/2010/10/perbanyakanpisang-cavendish-secara.html http://www.scribd.com/doc/34147817/Jurnal-Kultur-Jaringan http://mediaperbanyakansecarakulturjaringan.blogspot.com/2010/08/perbanyakanpisang-cavendish-secara.html http://www.tehceluprosella.com/beberapa-hasil-jurnal-penelitian-rosella-di-korea/ http://www.scribd.com/doc/58867314/Kultur-Jaringan-Pisang

b) Rosella

http://ayobertani.wordpress.com/2009/04/20/teknik-budidaya-rosela/ http://www.scribd.com/doc/89027452/Rosela

41

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful