Spirometri Untuk Pasien di Rumah Sakit Dan Setelah Satu Bulan dengan diagnosis PPOK Eksaserbasi Akut

Oleh: Hayatun Yulia 0807101050050

Pembimbing: dr. Dewi Behtri, Sp. P

seringkali spirometri tidak dilakukan sebelum masuk. dan jarang dilakukan selama masuk  Global Obstruktif Lung Disease (GOLD) menyatakan bahwa spirometri harus dilakukan "Ketika pasien secara klinis stabil dan bebas dari infeksi saluran pernapasan" .Pendahuluan  Diagnosis penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan spirometry.  Spirometri diperlukan dalam penilaian keparahan yang membutuhkan pedoman pengobatan  Pada pasien dengan diagnosis PPOK eksaserbasi akut (PPOKEA) yang dirawat di rumah sakit kami.

Tujuan Penelitian  Untuk menilai apakah spirometri yang dilakukan terhadap penderita penyakit paru obstruksi kronik eksaserbasi akut (PPOKEA) yang dirawat dirumah sakit dapat berguna secara klinis untuk pengelolaan jangka panjang. .

1.Metode Penelitian  Peserta Pasien yang memenuhi syarat yaitu. Rochester. 0. Kent. College Station. meraka yang telah terdaftar di bangsal dewasa pada sebuah rumah sakit pendidikan di Selandia Baru (Rumah Sakit Middlemore) dengan diagnosis PPOKEA.05. Kemudian dibandingkan dengan paired t-test. Signifikansi statistik dikutip di P. . Inggris)  Analisis Statistik software Stata untuk analisis statistik (v 10.  Spirometri Spirometri dilakukan menggunakan alat spirometer Microlab dan Spida 5 software (keduanya berasal dari Micro Medis Ltd. TX). StataCorp.

semua menyetujui 12 ditarik (3 meninggal. 39 memenuhi kriteria pada 1 bulan setelahnya .117 dianggap memenuhi syarat Hasil 51 pasien perawat atau keluarga sehingga dianggap tidak layak untuk berpartisipasi (sebagian besar 66 diundang. 4 kesehatan fisik memburuk) 54 diikutsertakan 4 ditarik kemungkinan tidak memiliki PPOK (lihat teks) 1 spirometri menurun setelah 1 bulan 49 menyelesaikan spirometri pada hari dipulangkan dan 1 bulan setelahnya 41 memenuhi kriteria PPOK GOLD pada hari dipulangkan. 4 kemampuan kognitif kurang. 1 keluarga dukacita.

26 FVC 2.08 (0.Discharge 1 month P value FEV1 1.7 (14.48) 0.04 (0.89) 2.00 FEV1% predicted 38.4) 40.11) 0.18 .12 FEV1/FVC 0.50 (0.3) 0.81) 0.12) 1.51) 1.50 (0.18 (0.6 (14.09 (0.

Pembahasan  Antara hari pasien dipulangkan dengan pasien setelah 1 bulan setelah. spirometri setelah bronkodilator tidak berubah secara signifikan dan tidak ada pasien yang bergerak naik atau turun lebih dari satu tingkat keparahan GOLD PPOK  Kekuatan dari penelitian ini yaitu pasien sampel berasal dari penduduk kami. yang memiliki campuran etnis yang unik  Keterbatasan dari studi ini adalah ukuran penelitian yang relatif kecil .

pasien mereka memerlukan rata-rata 41 hari untuk gejala pemulihan. spirometri pada saat keluar dari rumah sakit selama PPOKEA. nilai FEV1 mereka kembali ke nilai awal dalam waktu sekitar 14 hari  Penelitian ini menunjukkan bahwa. pada pasien dengan tingkat pre-test probabilitas dari PPOK yang tinggi. dapat digunakan untuk mengkonfirmasi diagnosis dan untuk membuat penilaian awal tentang tingkat keparahannya . Parker dan kawan-kawan meneliti 20 pasien selama 60 hari setelah PPOKAE dan.

Kesimpulan  Spirometri yang dilakukan di rumah sakit pada pasien PPOKAE berguna pada pasien dengan tingkat pre-test PPOK sedang sampai dengan parah  Spirometri yang dilakukan pada saat keluar dari rumah sakit dapat berguna untuk mendeteksi pasien-pasien yang memerlukan penilaian lebih lanjut .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful