You are on page 1of 6

ANALISA KUALITATIF ASAM SIANIDA PADA BENGKOANG, KUCAI, DAUN KATUK, KOL DAN KLUWEK DI DAERAH GUNUNGPUTRI, BOGOR

DENGAN MENGGUNAKAN ASAM PIKRAT

Nurul Hikmah 1111096000018

Laboratorium Kimia Organik, Jurusan Kimia FST UIN Syarif Hidayatullah Kampus 1 UIN Syahid Jakarta, Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat 15412 TangSel

ABSTRAC In the present study, carried out a qualitative analysis of cyanide on yam, chives, cinnamon leaves, cabbage and beef stew using picric acid and tartaric acid as a catalyst. All samples taken from the area gunungputri, Bogor. Based on observations, yam and cabbage showed negative results in cyanide meanwhile chives, cinnamon leaf and kluwek showed positive results. All samples were macerated for 30 minutes and do the heating for 1 hour. The positive result is indicated by a filter paper that has been etched with picric acid color changes from yellow to red picric acid until brown. The color changes depending on the content of hydrogen cyanide that exist within each sample. Keyword : Cyanide, picric acid, tartaric acid

PENDAHULUAN Asam sianida atau hydrocyanic acid (HCN) atau dikenal juga dengan nama prussic acid adalah salah satu racun yang paling toksik dan paling cepat reaksinya dalam tubuh hewan maupun manusia dibandingkan dengan racun lainnya dengan rata-rata lethal dosisnya antara 2,0 - 2,3 mg/kg HCN liampir untuk semua spesies (CLARKE dan CLARKE, 1975). Umumnya racun HCN ini terdapat dalam tanaman yang mengandung cyanogenic glycosides yang mana enzinm glycosidase membebaskan sianida ketika terjadi maserasi dalam rumen. Kemudian ion sianida masuk dalam darahdan bereaksi dengan ion ferric dari cytochrome oxidase dan membentuk sianida cytochrome oxidase complex yang cukup stabil. Apabila besi (Fe) dipertahankan dalam bentuk ferric, maka perpindahan elektron akan berhenti dan ikatan cellular respirasi juga akan berhenti dan akan menyebabkan hypoxiacellular atau

cytotoxic anoxia dan liaemoglobine tidak dapat membebaskan oksigen pada sistim perpindahan elektron . Terjadi perubahan warna darah yaitu dari warna merah menjadi warna merah terang (bright cherrv red) sebagai gejala klinis yang spesifik dari ternak yang menderita keracunan sianida (OSWEILER et al ., 1976). Asam sianida dapat pula di sebut dengan nama Hidrogen sianida. Hidrogen sianida merupakan aalah satu senyawa dari berbagai contoh senyawa sianida lainnya. Sianida di hasilkan oleh beberapa bakteri, jamur dan ganggang. Contoh dari senyawa senyawa sianida lainnya adalah sodium sianda (NaCN) dan potasium sianida (KCN). Sianida juga dapat di temukan di sejumlah makanan dan secara alami terdapat diberbagai tumbuhan. Didalam tubuh, sianida dapat bergabung dengan senyawa lain membentuk vitamin B12. Hidrogen sianida merupakan gas tek berwarna yang samarsamar, dingin dan tak berbau. Hidrogen sianida dapat di gunakan daam elektroplating, metalurgi, produksi zat kimia, pengembangan fotografi, pembuatan plastik, dan beberapa proses pertambangan. Oleh karena di pakai dalam proses pertambangan, Hidrogen sianida merupakan salah satu pencemar air. Hidrogen sianida adalah cairan tak berwana atau juga dapat berwarna hijau pucat pada suhu kamar. Hidrogen sinanida bersifat voatie dan mudah terbakar. Hidrogen sianida dapat berdifusi baik dengan udara dan bahan peledak. Hidrogen sianida sangat mudah bercampur dengan air, sehingga sering di gunakan. Sianida juga banyak di gunakan dalam industri terutama dalam pembuatan garam seperti Natrium, kalium , atau kalsium sianida.

a. b. c. d. e. f.

Sianida dengan konsentrasi tinggi sangatlah berbahaya. Sebenarnya bila sianida masuk ke dalam tubuh dalam konsentrasi yang kecil, maka sianida dapat di ubah menjadi tiosianat dan di berikatan dengan vitamin B12, tetapi bila kadar sianida yang masuk meninggi, maka sianida akan mengikat bagian aktif dari enzim sitokrom oksidase dan mengakibatkan terhentinya metaboisme sel secara aerobik. Sianida dapat mengikat dan mengaktifkan beberapa enzim, tetapi yang mengakibatkan karena sianida mengikat bagian aktif dari enzim sitikrom oksidase sehingga akan mengakibatakan terhentinya sel secara aerobik. Sebagai akibatnya hanya dalam waktu beberapa menit akan mengganggu transmisi secara neuronal, Sianida dapat di buang melalui proses tertentu sebelum sianida berhasil masuk ke dalam sel. Tanda awal dari keracunan sianida adalah: Hiperapnea sementara Nyeri kepala Disapnea Kecemasan Perubahan perilaku seperti agitasi dan gelisah Berkeringat banyak, warna kulit memerah, tubuh terasa lemah dan vertigo juga dapat muncul Tanda akhir adanya keracunan sianida adalah koma, dilatasi pupil, tremor, aritmia, kejang-kejang, gagal nafas sampai henti jantung. Efek racun dari sianida adalah memblok pengambilan dan penggunaan oksigen maka akan di dapatkan rendahnya kadar oksigen dalam jaringan.

METODE PENELITIAN Alat Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Labu erelenmeyer + Tutup, Kertas saring, Gelas ukur, pipet tetes, dan tabung reaksi. Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah larutan asam pikrat jenuh, larutan asam tartrat 5%, larutan Na2CO3 8%, aquadest, bengkoang, kucai, kol, kluwek, dan daun katuk. Cara Kerja Mula-mula dimaserasikan 50 gram sampel yang telah di tumbuk dalam 50 ml air pada

erlenmeyer 250 ml dan di tambahkan 10 ml Larutan asam tartrat 5 %. Kemudian, disiapkan kertas saring ukuran 1 x 7 cm, kemudian di celupkan dalam larutan asam pikrat jenuh, kemudian di keringkan di udara. Setelah kering di basahi dengan larutan Na2CO3 8 % dan di gantungkan pada leher Erlenmeyer di atas, dan di tutup sedemikian rupa sehingga kertas tak kontak dengan cairan dalam erlenmeyer. Setelah itu, di panaskan di atas penanggas air 500C selama 15 menit. Apabila warna kuning dari kertas saring asam pikrat berubah menjadi warna merah, berarti sampel tersebut positif mengandung sianida.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengamatan Tabel 1. Hasil pengamatan uji sianida No 1 2 3 4 5 Sampel Bengkoang Kucai Daun katuk Kol Kluwek Berat Sampel 1 buah Beberapa helai Beberapa helai Beberapa gram 2 buah Sesudah Pemanasan +++ ++ +

Pembahasan Penelitian HCN secara kualitatif ini menggunakan sampel bengkoang, kucai, daun katuk, kol dan kluwek. Sampelsampel tersebut berasal dari daerah gunungputri, Bogor. Sampel terlebih dahulu dihancurkan supaya dapat tercampur dengan baik dalam pelarut aquades, setelah itu sampel ditimbang sejumlah keperluan dan ditambahkan aquades sebanyak 50 ml. Sampel tersebut harus di maserasikan selama 30 menit, Proses perendaman sampel menggunakan pelarut aquades pada temperatur ruangan. Proses ini sangat menguntungkan karena dengan perendaman sampel tumbuhan akan terjadi pemecahan dinding dan membran sel akibat perbedaan tekanan antara di dalam dan di luar sel, sehingga metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut aquases, dan identifikasi senyawa akan sempurna karena dapat diatur lama

Keterangan : (-) = hasil negatif (+) = hasil positif sedikit (++) = hasil positif sedang (+++) = hasil positif banyak

perendaman yang dilakukan. Pemilihan pelarut untuk proses maserasi akan memberikan efektivitas yang tinggi dengan memperhatikan kelarutan senyawa bahan alam dalam pelarut tersebut. Dalam penelitian ini menggunakan pelarut air (aquades), setelah itu dilakukan penambahan 10 ml asam tartarat ke dalam larutan sampel. Kemudian larutan diaduk agar tercampur atau homogen. Tidak terjadi perubahan pada sampel. Asam tartrat merupakan hablur tidak berwarna atau bening atau serbuk. hablur halus sampai granul, warna putih, tidak berbau, rasa asam, dan stabil di udara. Kelarutan sangat mudah larut dalam air. Dalam penelitian ini asam tartarat digunakan untuk mengikat HCN agar tidak menguap.

Warna kertas saring yang tetap kuning mengindikasikan sampel yang diuji tidak memproduksi HCN sedangkan warna coklat muda, coklat tua atau merah bata mengindikasikan sampel memproduksi HCN yang semakin meningkat. Pada penelitian ini warna kertas saring berubah menjadi warna merah pada sampel daun katuk, merah muda pada kluwek dan merah pekat pada kucai. Sedangkan, pada kol dan bengkoang menunjukan hasil yang negatif. Warna merah terbentuk karena adanya reaksi sianida dengan asam pikrat menggunakan katalis asam tartrat dan natrium karbonat menjadi senyawa pikrosianat yang menyebabkan terbentuknya warna merah. Berikut reaksinya : sianida + asam pikrat senyawa pikrosianat (warna merah) HCN + 2,4,6-trinitrofenol 5-bromo-3nitroanilina pikrosianat

Gambar 1. Rumus Asam tartrat Kertas saring pada praktikum ini digunakan sebagai indikator untuk menentukan apakah sampel mengandung HCN atau tidak yang ditentukan dengan perubahan warna yang terjadi. Kertas saring terlebih dahulu dicelupkan dalam larutan asam pikrat. kedalam natrium karbonat 10% kemudian di gantung pada mulut Erlenmeyer. Erlenmeyer yang digunakan adalah Erlenmeyer yang tertutup agar gas HCN yang dikeluarkan sampel pada saat pemanasan tidak keluar dari Erlenmeyer. Pemanasan dilakukan pada suhu 50 C selama 60 menit. Kemudian diamati terjadi perubahan warna pada kertas pikrat.
o

Dalam penelitian yang dilakukan didapatkan hasil positif pada pemeriksaan HCN secara kualitatif yang dilakukan pada sampel kucai, daun katuk dan kluwek. Hal itu dikarenakan terjadi perubahan warna mejadi merah pada kertas pikrat. Karena penelitian yang dilakukan hanya secara kualitatif saja maka sampel yang diperiksa tidak dapat dipastikan dengan benar kadar HCN didalamnya, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan secara kuantitatif untuk mengetahui dengan benar kadar HCN dalam sampel makanan. Jika dalam pemeriksaan HCN secara kuantitatif juga didapatkan hasil positif (tidak memenuhi syarat yang diperbolehkan dalam makanan) maka makanan tersebut tidak layak untuk dikonsumsi. Dan jika

didapatkan hasil yang tidak memenuhi syarat kadar maksimum HCN yang diperbolehkan dalam makanan, maka makanan tersebut tidak layak untuk dikonsumsi karena bersifat toksik yang berbahaya bagi kesehatan. Kadar HCN dapat dikurangi atau diperkecil (detoksifikasi sianida) dengan cara perendaman, ekstraksi pati dalam air, pencucian, perebusan, fermentasi, pemanasan, pengukusan, pengeringan dan penggorengan. Tetapi HCN itu tak dapat sepenuhnya dapat dihilangkan, sebab glucosida yang mengandung HCN pada sampel adalah suatu bahan padat yang tahan terhadap pemanasan hingga 140C, kecuali pada kentang kadar sianidanya dapat hilang. Ini berarti bahwa dengan jalan merebus ataupun menggoreng belumlah cukup dan racun HCN-nya tidaklah dapat dihilangkan seluruhnya. Kadar HCN juga tergantung pada musim, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, 3 dari 5 sampel yang digunakan mengandung sianida. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tanah pada daerah tersebut belum cukup baik. untuk meminimalisir kandungan sianida dalam tanaman yang akan dikonsumsi, pada umumnya dapat dilakukan dengan proses rebus dan di iris kecil-kecil pada sampel dapat mengurangi kadar sianida lebih dari 50 90 %, sedangkan proses tumis mengurangi kadar sianida kurang dari 50%. KESIMPULAN Dari hasil penelitian kesimpulan bahwa : dapat diambil

mengandung sianida didalamnya. Kadar kandungan sianida dalam sampel dapat diminimalisir dengan beberapa proses pengolahan seperti direbus, dikukus, atau digoreng. DAFTAR PUSTAKA Anonimus. 2007. Rebung Kaya Serat penangkal Stroke http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/cy bermed/. Diakses tanggal 27 Agustus 2010. AOAC. 1984. Official Method of Analysis of the Association of Official Analytical Chemists, 14th ed.AOAC, Inc., Arlington. Bradbury, J.H. dan W.D. Holloway. 1988. Chemistry of Tropical Root Crops: Significance for Nutrition and Agriculture in the Pacific. Australian Centre for International Agricultural Research, Canberra. Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI. 1981.Daftar Komposisi Bahan Makanan. Bhratara Karya Aksara, Jakarta HEYNE, K. 1987 . Tumbuhan Berguna di Indonesia. Diterjemahkan oleh Badan Litbang Kehutanan. Jakarta. 1203. OSWEILER, G.D., T.L . Carson, W.B . Buck, dam G.A . VAN GELDER.1976 . Cyanide and cyanogenic plants . Clinical and Diagnostic Veterinary Toxicology . Kendall/Hunt. Pub. Co. 455-459. http://digilib.unimus.ac.id/download.php?i d=788 http://www.scribd.com/doc/132581909/L APORAN-PRAKTIKUM

Bengkoang dan kol negatif tidak mengandung sianida sedangkan kucai, kluwek dan daun katuk positif

LAMPIRAN

Hasil positif pada daun katuk (kiri) dan kucai (kanan)

Hasil negatif pada Kol

Hasil positif pada Kluwek

Hasil negatif pada Bengkoang