P. 1
Tahammul Wa Ada

Tahammul Wa Ada

|Views: 63|Likes:
FHJJ
FHJJ

More info:

Published by: استجب جزولي on May 26, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/09/2013

pdf

text

original

MAKALAH ULUMUL HADIST

TENTANG TAHAMMUL WA AL-ADA’ (Metode Penerimaan Hadits dan Penyampaiannya)

Oleh EKO SUPRIADI NIM.088121637

Dosen pemimbing Prof. Dr. H. EDI SYAFRI

KOSENTRASI PENDIDIKAN ISLAM PROGRAM PASCASARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

IMAM BONJOL PADANG
2012 M / 1433 H

2006). 195 3 Muhammad „Ajaj al-Khatib. cet.11 Munzier Suparta. Kamus Bahasa Arab.5 Jadi al„ada adalah proses menyampaikan dan meriwayatkan hadits. Al-„Ada adalah kegiatan meriwayatkan dan menyampaikan hadits. Berarti tahammul al-hadits menurut bahasa adalah menerima hadits atau menanggung hadits. lalu mereka membuat beberapa kaidah (batasan-batasan) dan berbagai syarat dengan berbagai bentuk yang cermat dan sistematis. Adapun salah satu ilmu yang sangat penting yang memiliki pengaruh besar terhadap pemeliharaan. pemahaman dan pengenalan terhadap para perawi hadits untuk memahami ilmu hadits. 2001). h.II. penjelasan. Tahammul adalah menerima dan mendengar suatu periwayatan hadits dari seorang guru dengan menggunakan beberapa metode penerimaan hadits. h. h. 5 Munzier Suparta. 2 1 1 . Para ulama hadis yang telah bersusah payah mengusahakan adanya ilmu hadis ini. Ilmu-ilmu itu tumbuh dalam waktu yang hampir bersamaan dan saling berkaitan. Ilmu Hadis.2 Muhammad „Ajaj alKhatib memberikan defenisi dengan kegiatan menerima dan mendengar hadits. (Jakarta: Gaya Media Pratama. Yang disusun oleh ulama dalam bentuk beragam karya sampai masing. op.4 Menurut Nuruddin „Itr adalah menyampaikan atau meriwayatkan hadits kepada orang lain. Pengertian Tahammul wa al-Ada’ Menurut bahasa tahammul merupakan masdar dari fi‟il madli tahmmala (‫مال‬ َُ ‫م‬ ََ ‫م‬ َ ‫ح‬-‫م‬ َ َ‫ٌَخ‬-‫م‬ َ َ‫ )ح‬yang berarti menanggung. Di dalam makalah ini akan penulis bahas cara perimaaan dan periwayatan hadis yang disebut dengan At-Tahammul wa Al-'Ada. B.masing ilmu bisa berdiri sendiri.3 Jadi tahammul adalah proses menerima periwayatan sebuah hadits dari seorang guru dengan metode-metode tertentu. atau biasa diterjemahkan dengan َّ ‫ح‬ َّ ‫ح‬ ُ ‫َح‬ menerima1. Muhammad Yunus.cit.. Raja Grafindo. pemahaman dan pengenalan terhadap para perawi hadits adalah tahammul wa „ada‟ul hadist yang akan dibahas dalam makalah ini. penjelasan. (Jakarta: 2009). membawa. 200 4 Ibid. Pendahuluan Ulama telah memberikan kontribusi yang besar dalam menyusun ilmu-ilmu yang memiliki pengaruh besar terhadap pemeliharaan.. (Jakarta: PT.TAHAMMUL WA Al-ADA’ (Metode Penerimaan Hadits dan Penyampaiannya) A. Ushul al-Hadits: Pokok-pokok Ilmu Hadits .

Ulum al-Hadits Terj. Saya merasa yakin bahwa yang beliau maksudkan adalah tamyiz. Namun demikian mereka memberikan keterangan bersamaan dengan pendapat mereka. Abu Sa ‟ id al-Khudriy. Dan kita bisa meringkas penjelasan itu ke dalam tiga pendapat:8 Pertama. h. bahwa umur minimalnya adalah lima tahun.. Sedang sebagian mereka tidak memperbolehkannya. Mahmud ibn ar-Rabi ‟ dan lain-lain tanpa memilah-milah antara riwayat yang mereka terima sebelum dan sesudah baligh. Sahabat. Mayoritas ulama cendrung membolehkan kegiatan mendengar yang dilakukan oleh anak kecil. yakni anak yang mencapai usia taklif. h.” Kedua pendapat al-Hafidz Musa ibn Harun al-Hammal. 201 2 .. Hujjah yang digunakan oleh pendapat ini adalah riwayat Imam Bukhari dalam Shahihnya dari hadits Muhammad ibn ar-Rabi‟ ra. katanya : “Aku masih ingat siraman Nabi SAW dari timba ke mukaku. Kelayakan Tahammul Dalam menerima hadis tidak disyaratkan seorang harus muslim dan baligh.7 Mereka yang memperbolehkan kegiatan mendengar hadits yang dilakukan oleh anak kecil. Karena hal itu tergantung pada masalah tamyiz dari anak kecil itu. seperti Hasan. 1994). namun ketika menyampaikannya disyaratkan Islam dan baligh. 201 Nuruddin „Itr. Abdullah ibn az-Zubair. Maka diterima riwayat seorang muslim yang baligh dari hadis yang diterimanya sebelum masuk Islam atau sebelum baligh. op. Banyak di antara mereka yang telah berusaha keras untuk menjelaskannya. yaitu bahwa kegiatan mendengar yang dilakukan oleh anak kecil dinilai absah bila ia telah mampu membedakan antara sapi dengan himar.C. Husain. dengan syarat tamyiz atau dapat membedakan bagi yang belum baligh. Beliau menjelaskan pengertian tamyiz dengan kehidupan di 6 7 Ibid. tabi‟in dan ahli ilmu setelah mereka menerima riwayat sahabat yang masih berusia anak-anak. (Bandung: Remaja Rosda Karya. Abdullah ibn Abbas. 194 8 Muhammad „Ajaj al-Khatib. Nuruddin „Itr menyimpulkan bahwa pokok kecakapan dan keahlian menerima hadits menurut jumhur adalah tamyiz yaitu suatu kemampuan yang menjadikan seseorang dapat memahami dan hafal terhadap apa yang didengarnya. Inilah pendapat yang benar.6 Dalam perbedaan pendapat para ulama tersebut Dr. dan aku (ketika itu) berusia lima tahun. Tamyiz ini jelas berbeda-beda antar masing-masing anak kecil. Mujiyo.cit. berbeda pendapat tentang batas usianya. Anas ibn Malik. Syarat Penerima Hadits dan Penyampaiannya 1.

meski usianya di atas lima tahun. meski usianya di bawah lima tahun. (Bandung: Pustaka Setia. Salah satu sahabat yang mendengar sabda Rasululllah sebelum masuk Islam adalah Zubair. Mengenai penerimaan hadits bagi orang kafir dan orang fasik. berdasarkan ijima’ ulama. 183 Muhammad „Ajaj al-Khatib. Ilmu Hadis. melalui firman-Nya: ِ َّ ُّ‫يا أَي‬ ِ ِ ُ‫ة فَتُصبِحوا علَى ما فَع ْلت‬ ٍ ‫ِب‬ ِ ‫ك‬ ِ ‫صيبوا قَو‬ ِ ْ َ‫اسق بِنَبٍإ فَتَب يَّ نُوا أ‬ ‫ني‬ ْ ِ‫منُوا إ‬ َ ‫م نَادم‬ َ َ ‫ما‬ َ َ ً ْ ُ ُ‫ن ت‬ َ َ ٌ َ‫م ف‬ َ ‫ن‬ َ َ‫ين آ‬ ْ َ َ َ ُ ْ َ‫هال‬ ْ ُ َ‫جاء‬ َ ‫ها الذ‬ (6:‫(احلجرات‬ Hai orang-orang yang beriman.. Bagaimana mungkin riwayat perusak Islam bisa diterima? Di samping itu. bila penerimaan hadist oleh orang kafir yang disampaikannya setelah memeluk Islam dapat diterima. Sebab menerima riwayatnya berarti membiarkan caciannya atas kaum muslimin. maka ia sudah mumayyiz dan absah pendengarannya.sekitar. jumhur ulama menganggap sah. 2005).9 2. baik laki-laki maupun wanita. maka kegiatannya mendengar hadits tidak absah. Ketiga keabsahan kegiatan anak kecil dalam mendengar hadits didasarkan pada adanya tamyiz. asalkan hadits tersebut diriwayatkan kepada orang lain pada saat mereka telah masuk Islam dan bertobat. Bila anak telah memahami pembicaraan dan mampu memberikan jawaban. Allah SWT juga memerintahkan kita untuk mengecek berita yang dibawa oleh orang fasik. dia dalam keadaan masih kafir. jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu 9 10 Mudasir. ulama ushul dan ulama fiqh sependapat bahwa orang yang riwayatnya bisa dijadikan hujjah. 202 3 . Is l a m Sehingga tidaklah diterima riwayat orang kafir. Dia pernah mendengar Rsulullah membaca surat Ath-Thur pada waktu sholat maghrib ketika dia tiba di Madinah untuk menyelesaikan urusan perang Badr. baik diketahui agamanya tidak memperbolehkan dusta ataupun tidak dan sangat tidak logis bila riwayatnya diterima. harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:10 a . h.cit. Kelayakan Ada‟ Mayoritas ulama hadits. Alasan yang mereka kemukakan adalah banyaknya kejadian yang mereka saksikan dan banyaknya sahabat yang mendengar sabda Rasulullah sebelum mereka masuk Islam. Akhirnya dia massuk Islam. maka sudah tentu penerimaan hadits oleh orang fasik yang diriwayatkannya setelah dia bertobat dianggap sah. Pada saat itu. Namun bila ia tidak memahami pembicaraan dan tidak bisa memberikan jawaban. op. h.

Baligh Ini merupakan pusat taklif. mencuri sesuap makanan. termasuk ke dalamnya menjauhi sebagian dosa kecil. Menjauhi dosa besar. Di samping itu. seperti makan di jalan. Sifat Adil Ia merupakan sifat yang tertancap dalam jiwa yang mendorong pemiliknya untuk senantiasa bertakwa dan memelihara harga diri. op. ْ ‫َه‬ ْ ‫ع‬ ْ ‫مَع‬ ْ َ‫سخ‬ ْ ٌََ‫حخَّى‬ َّ ‫هَان‬ )‫مَ(رواه ابو داود‬ ََ ِ‫خَّىٌََحْ خَه‬ َ‫َح‬ ُ َ ‫َو‬،َ َ َ‫َحخَّىٌَُفٍِقََو‬ ٍ َ‫َهَثَال‬ َ ‫ى‬ َ َ‫م‬ َ ‫ون‬ َ ِ ‫رف‬ ُ َ‫َانقَه‬ ِّ ِ‫صب‬ َ َ‫ٍقِظ‬ ِ ِ‫هَانىَّائ‬ َ ‫َان‬ ِ ‫ع‬ ِ ‫ع‬ ِ ُ‫مجْ ى‬ ِ ‫َع‬:‫د‬ Terangkat pena dari tiga orang: dari orang gila sampai sembuh. berteman dengan orang-orang keji dan terlalu berlebihan dalam berkelakar. b. d. dari orang yang tidur sampai terbangun dan dari anak kecil sampai mimpi basah. buang air kecil di jalan. Sehingga baligh merupakan standarisasi adanya kemampuan berakal dan pusat taklif yang membuat seseorang jera untuk berbuat dusta dan menghalanginya untuk melakukannya. 206 4 . Karena kadang-kadang ia berdusta disebabkan tidak mengerti dampak dan siksaan perbuatan dusta itu. karena khawatir akan kedustaannya. Dhabt Dhabtu adalah:11 ‫تيقظ ال راوي حني حتملو وفهمو ملا مسعو وحفظو لذالك من وقت التحمل ايل وقت اداء‬ “Teringat kembali perawi saat penerimaan dan pemahaman suatu hadits yang ia 11 Munzier Suparta. Sehingga jiwa kita akan percaya akan kejujurannya.musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. sebagai penerapan sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Daud. al-Hujurat: 6) Bila terhadap berita yang dibawa orang fasik saja seperti itu. h. tidak ada yang membuatnya takut untuk melakukannya.cit. (HR. maka terhadap berita yang dibawa orang kafir tentu kita harus menolaknya. seperti mengurangi timbangan sebiji. (Qs. karena itu riwayat anak yang berada di bawah usia taklif tidak bisa diterima. Abu Daud) Ulama mengecualikan penerimaan riwayat dari anak di bawah usia baligh. Kemudian. syara‟ juga tidak memberikan kekuasaan bagi anak kecil dalam masalah keduniaannya. apalagi dalam masalah agama karena menerima periwayatannya berarti mengabulkan atau memberikan kekuasaan padanya terhadap segenap kaum muslimin. c.. serta menjauhi perkaraperkara mubah yang dinilai mengurangi harga diri.

Terj. atau pengurangan bila ia bandingkan haditsnya dengan hadits perawi-perawi lain yang tsiqqat. sedang sang murid menulis darinya.cit. (Jakarta: Lentera.. 186 5 . Namun bila banyak berbeda dan sedikit kesamaan. Bila ia sejalan dengan mereka dalam hal riwavat pada umumnya meski hanya dari segi makna. Tanya-Jawab Cara as. sebab lebih meyakinkan tentang terjadinya pengungkapan riwayat. Meth Kieraha. 14 M.. Tidak masalah bila ada sedikit perbedaan. Pembacaan dari kitab c.sama‟ ini ada beberapa bentuk: 14 a. seorang perawi harus benar-benar hafal bila ia meriwayatkan dari hafalannya. 1993). menurut al-Khatib al-Baghdadi (w 463H/1072 M). 22-24 15 Endang Soetari. Maksudnya. kata yang tertinggi adalah kemudian 12 13 d. Menurut M. Menurut mayoritas ulama. Sebab sang guru sibuk membacakan hadits.M. yaitu seorang guru membaca hadits baik dari hafalan ataupun dari kitabnya sedang hadirin mendengarnya. maka kedhabitannya cacat. Metode Penerimaan Hadits dan Penyampaiannya13 1. Alasannya adalah kata Muhammad „Ajaj al-Khatib.dengar dan hafal sejak waktu menerima hingga menyampaikan” Yaitu keterjagaan seorang perawi ketika menerima hadits dan memahaminya ketika mendengarnya serta menghafalnya sejak menerima sampai menyampaikannya kepada orang lain. 1997). dan memahami tulisannya dari adanya perubahan.. metode ini berada di peringkat tertinggi. Dikte ً‫حدثى‬،َ ‫ حدثىا‬. h. cet. Ada juga yang berpendapat.M. 204 Ibid. (Bandung: Amal Bakti Press.sama‟ ini tinggi nilainya.Sima’ . op. bahwa mendengar dari seorang guru disertai dengan menuliskan darinya lebih tinggi daripada mendengar saja. 15 Istilah atau kata yang dipakai dalam metode ini: ً‫أخبرو‬،َ‫أخبروا‬،ًَ‫حدثى‬،َ‫حدثىا‬،َ‫سمعىا‬،َ‫ سمعج‬. dan haditsnya tidak bisa digunakan sebagai hujjah. Cara mengetahui kedhabitan seorang perawi adalah dengan mem penggantian. II. Bobot kualitas penggunaan kata-kata ini tidak disepakati oleh ulama. As. maka ia dinilai dhabit. meriwayatkan dari tulisannya. mendengar).Azami metode as. Sehingga keduanya lebih terhindar dari kelalaian dan lebih dekat kepada kebenaran. baik majlis itu untuk imla‟ ataupun untuk yang lain. Memahami Ilmu Hadis. Penyampaian hadist secara lisan oleh guru b. Ilmu Hadis. ( ‫ السماع‬. h. h. dhabit dan teguh.12 D. Azami. Dhabt mencakup hafalan dan tulisan.

Yakulu. Haddatsa. 2005). maka tahammulnya tidak absah.sima’ . Ada juga menyebutnya ’ ‫( ع ر ض َ ا ن ق ر أ ة‬menyodorkan bacaan). karena kata bisa berarti guru hadis. baik dari hafalannya ataupun dari kitabnya yang telah diteliti sedang guru memperhatikannya atau menyimaknya baik dengan hafalannya atau dari kitab asalnya ataupun dari naskah yang digunakan untuk mengecek dan yang telah diberi kepercayaan olehnya. 184 Ibid. Se bagian ulama berpendapat cara-cara tersebut menunjukkan periwayatan secara as . Se dangkan kata ً‫ أخبرو‬. 16 Kata Kana. (Padang: The Minangkabau Foundation. Sandaran ulama dalam memperbolehkan metode ini adalah hadits Dhammam ibn Tsa‟labah. h.sima‟ bila di dalamnya tidak terdapat penyembunyian cacat (tadlis) oleh periwayat yang menggunakan kata-kata dimaksud. atau yang serupa dengannya diperselisihkan dalam penggunaannya oleh ulama. ada sebagian mereka yang tidak memperbolehkan menerimanya.menunjukkan kepastian periwayat mendengar secara langsung hadits yang diriwayatkannya. tidak khusus menghadapkan riwayatnya kepada penerima riwayat yang menyatakan sami‟tu tadi. „Ardh ini merupakan praktik yang paling umum sejak awal abad keduaMayoritas ulama memperbolehkan metode ini. pendapat yang terakhir ini menyamakan cara tersebut dengan penggunaan kata „an. bahwa i a berkata kepada Rasulullah Saw : “Apakah Allah memerintahkan kepadamu untuk melakukan sholat lima waktu? ” Beliau menjawab : “ Benar. Imam Haramain menyaratkan seorang guru harus meluruskan bila pembaca mengalami kekeliruan atau kesalahan. Sebagian lagi berpendapat kata-kata tersebut menunjukkan cara as. Bila tidak.. Qala Fulan. ” Mereka mengatakan : Itu adalah bacaan di hadapan 16 17 Zainimal. Al. h. Zakara. 185 6 . Karena murid menyodorkan bacaannya kepada sang guru. Sedangkan menurut Ibn Shalah (w 643-1245M) kata َ ‫حدثىا‬ ً‫حدثى‬، disatu sisi dapat saja lebih tinggi kualitasnya daripada ‫ سمعج سمعىا‬.Qira’ah ‘ala asy -Syaikh ( ‫ ) انقرأة َ عهًَانشٍخ‬atau'Aradh Al-Qira'ahَ Sebagian besar ulama hadits menyebutnya al -„Aradh (penyodoran). Namun diriwayatkan pula. Yang dimaksud adalah seorang membaca hadits di hadapan guru. Ulumul Hadis. 17 2. ً‫ حدثى‬tersebut. ً‫حدثى‬ memberi petunjuk bahwa guru hadits menyampaikan dan menghadapkan riwayatnya kepada periwayat yang menyatakan ً‫ أخبرو‬. seperti ketika ia menyodorkan bacaan al-Qur‟an kepada gurunya. misalnya beberapa orang yang masing-masing memiliki satu naskah yang telah diteliti yang semuanya mendengar dari orang yang membaca di hadapan guru.

lalu mereka memperbolehkannya. h. Imam Malik dan lain-lain. Semuanya memperbolehkan mengamalkan ijazah dan mmyingkirkan segala sesuatu yang menghalanginya. op. Lafadz-lafadz yang digunakan dalam metode ini adalah ًٍ‫َقرئَ عهًَفالنَوَاواَاسمع عه‬،ًٍَ‫َحدثىاَاوَاخبرواَ قرأةَعه‬،‫ قرأث‬. Tetapi mereka memberikan persyaratan bahwa seorang ahli hadits harus mengenal betul apa yang akan diijazahkannya.Nabi Saw. Menurut ulama mutaqaddimin ijazah hanya diperbolehkan bagi kalangan tertentu dari para pengikut hadits yang berstatus tsiqat. Ada riwayat yang mengukuhkan hal ini dari sebagian besar ulama mutaqaddimin. dan hadits yang diijazahkan juga tidak lebih dari beberapa hadits. 18 19 Endang Soetari. dan Aku mengijazahkan kepadamu untuk meriwayatkannya dariku”. seperti: ً‫( أجسثَنكَأنَورويَعى‬aku mengijazahkan kepadamu untuk kamu riwayatkan dariku). Inilah yang mereka sebut dengan Ijazah dari guru tertentu. Yang tertinggi adalah seorang guru membawa kitab atau beberapa kitab riwayatnya. Diantara macam-macam ijazah adalah: a. sehingga tidak akan terjadi peletakan ilmu tidak pada tempat atau ahlinya. Ibn Juraij. b. h. Ijazah memiliki beberapa jenis. Ibn Syihab az-Zuhriy.”Aku ijazahkan kepadamu Shahih Bukhari”. op. Misalnya dia berkata. atau juz‟ atau kitab. 185 7 .”Aku ijazahkan kepadamu untuk meriwayatkan semua riwayatku”. Makhtil.19 Ulama mutaqaddimin tidak memperbolehkan metode ijazah tanpa kriteria dan syarat. Syaikh mengijazahkan sesuatu yang tertentu kepada seorang yang tertentu.cit. Seperti mengatakan. Abban ibn „Iyasy. lalu berkata kepada murid: “Kitab ini atau kitabkitab ini saya dengar dan Fulan. semisal al-Hasan al-Bashriy. inilah yang paling tinggi derajatnya. naskah yang ada pada murid harus dibandingkan dengan-naskah aslinya sampai benar-benar sama dan yang meminta ijazah ahli ilmu dan telah memiliki posisi dalam hal keilmuan. sertifiksi atau rekomendasi) Yaitu seorang guru memberikan izin kepada muridnya untuk meriwayatkan hadis atau kitab kepada seseorang atau orang-orang tertentu.cit. Dhammam membacakan khabar tentang hal itu kepada kaumnya. sekalipun sang murid tidak membacakan kepada gurunya atau tidak mendengar bacaan gurunya. Di antara jenis-jenis ijazah.18 3.. al-Ijazah َ( ‫ األجازة‬. 186 Mudasir. Syaikh mengijazahkan orang yang tertentu dengan tanpa menentukan apa yang diijazahkannya. kepada murid tertentu dan mengenai kitab tertentu pula.

Penerj:Mifdhol Abdurrahman. h. Umpamanya dia berkata.21 M. d. Syaikh memberikan ijazah kepada orang yang tidak hadir demi mengikutkan mereka yang hadir dalam majelis.183 21 Endang Soetari. sementara sebagian yang lain tidak memperbolehkannya. h. 187 22 Muhammad „Ajaj al-Khatib. Seperti dia mengatakan. Mabahis fi Ulumul Hadist. haddatsana ijaazatan – ‫حدثىا َإجازة‬.cit. tanpa mengatakan: Riwayatkanlah ini dariku. Sebagian ulama memperbolehkan metode ini. Tak seorang pun yang diriwayatkan menyebut silang pendapat.”Aku ijazahkan kepada Muhammad bin Khalid Ad-Dimasyqi”. ًَ‫َأَوبأو‬،َ‫ أوباءَوا‬Sedangkan yang dipakai dalam Al-Munawalah Al-Magrunah bila Al-Ijazah 20 Al-Qaththan. op. Al-Qadhiy „Iyadh dan al-‟Iraqiy juga mengutip adanya kesepakatan ahli hadits dalam menerima metode munawalah ini.”Aku ijazahkan semua riwayatku kepada semua orang pada zamanku”. atau inilah riwayat-riwayat yang kudengar. e. Lafadh-lafdh yang dipakai dalam menyampaikan riwayat yang diterima dengan jalur ijazah adalah ajaza li fulan – ‫( أجاز لفالن‬beliau telah memberikan ijazah kepada si fulan). Syaikh mengijazahkan kepada siapa saja (tanpa menentukan) dengan juga tidak menentukan apa yang diijazahkan. dan anba-ana ijaazatan – ‫( أنبأنا إجازة‬beliau telah memberitahukan kepada kami secara ijazah)20 4. ia tetap berada di bawah tingkat as-Sima‟ dan al-Qira‟ah. seorang guru memberikan sebuah kitab kepada muridnya seraya berkata : Inilah haditsku.22 Misalnya. Syaikh mengijazahkan kepada orang yang tidak diketahui atau majhul. Bahkan ada yang menjadikan “Al-Munawalah Al-Magrunah bi Al-Ijazah” setingkat dengan as-Sima‟.cit. sedangkan di situ terdapat sejumlah orang yang mempunyai nama seperti itu. op. 207 8 . Tak ada silang pendapat di kalangan mayoritas ulama ahli hadits dalam menerima munawalah ini. Pengantar Studi Ilmu Hadis. 2005). atau aku memperbolehkanmu (untuk meriwayatkannya dariku). „Ajaj al-Khatib memberikan defeni seorang guru memberikan beberapa hadits atau sebuah kitab kepada muridnya agar sang murid meriwayatkannya darinya. Al-Munawalah َ ( ً‫) انمىون‬ Maksudnya. Namun yang benar menurut Muhammad „Ajaj al-Khatib. Lafadz yang digunakan dalam Al-Munawalah Al-Magrunah bi Al-Ijazah adalahَ.Syaikh Manna‟.c. seperti mengatakan. (Jakarta: Pustaka Al-Kaustsar. akhbarana ijaazatan – ‫أخربنا إجازة‬. seperti halnya dalam ijazah. seorang ahli hadits memberikan sebuah sebuah naskah asli kepada muridnya atau salinan yang sudah dikoreksinya untuk diriwayatkan.”Aku ijazahkan riwayat ini kepada si fulan dan keturunannya”. h.

Mereka menilai bahwa pemberitahuan semacam itu sudah mengandung pengertian pemberian ijin atau ijazah dari guru kepada murid untuk meriwayatkan darinya. 188 Muhammad „Ajaj al-Khatib. 5. bahwa kejujuran dan keterpercayaan sang guru tidak memungkinkannya mengaku mendengar apa yang tidak didengarnya. tanpa menyatakan secara jelas pemberian ijazah kepada murid untuk meriwayatkan darinya. I’lam asy-Syeikhَ( ‫) اعهمَانشٍخ‬ Maksudnya seorang syeikh memberitahukan kepada muridnya bahwa hadits tertentu atau kitab tertentu merupakan bagian dari riwayat-riwayat miliknya dan telah didengarnya atau diambilnya dari seseorang. op.cit. 209 25 Endang Soetari.23 Hujjah yang digunakan ulama dalam memperbolehkan metode munawalah adalah hadits Rasulullah SAW bahwa beliau berkirim surat kepada panglima perang. Lafadz yang digunakan adalah َ‫َكخبَانًَفالن‬،َ‫َأخبروًَفالنَكخابت‬،َ‫َحدثىًَفالنَكخابت‬،َ‫ قالَحدثىاَفالن‬. 24 Lafadz yang digunakan adalah َ‫ أجسثَنكَماَ كخبخًَانٍك‬.cit. h. sebagian besar ulama memperbolehkan meriwayatkannya. Dan ketika sampai di tempat yang dimaksud. Misalnya guru menulis beberapa hadits untuk sang murid seraya memberikan ijazah kepadanya. Mukatabah ini memiliki dua bagian Pertama. 9 . Inilah Endang Soetari. 26 Ada sekelompok ulama yang melarang meriwayatkan darinya.25 Kedua. loc. Namun pendapat yang shahih memperbolehkannya. disertai dengan ijazah. tanpa disertai dengan ijazah. Al-Mukatabah َ ( ً‫) انمكخب‬ Yaitu seorang guru menulis dengan tangannya sendiri atau meminta orang lain menulis darinya sebagian haditsnya untuk seorang murid yang ada dihadapannya atau murid yang berada di tempat lain lalu guru itu mengirimkannya kepada sang murid bersama orang yang bisa dipercaya. seraya bersabda : Jangan kamu baca kecuali setelah sampai di tempat ini. h. 26 Ibid. Pendapat terakhir ini dipilih oleh mayoritas ulama mutaqaddimin dan muta‟akhkhirin . ia membacanya dan memberitahukan kepada orang-orang tentang apa yang diperintahkan Nabi. Meski dengan pemberitahuan seperti itu saja. Atau perkataan lain yang senada. Mereka juga menilai.adalah ‫َواونىا‬،ًَ‫واَوَنى‬. Pemberitahuannya kepada muridnya menunjukkan keridhaannya 23 24 untuk menerima dan meriwayat kannya. Jenis ini setara dengan munawalah yang disertai dengan ijazah dalam keshahihan dan kekuatan.cit. 6. op.

„Ajaj al -Khatib. atau hasil tulisan orang yang tidak semasanya tapi ia merasa yakin bahwa tulisan itu benar penisbatannya kepada yang bersangkutan melalui kesaksian orang yang bisa dipercaya atau kepopuleran kitab itu ataupun dengan sanad yang ada pada kitab 27 28 Muhammad „Ajaj al-Khatib. atau ungkapan lain yang senada. bahwa Fulan meriwayatkan kepadanya begini-begini. mendapatkan ijazah ataupun proses munawalah. Salah satunya adalah riwayat bahwa Abu Qilabah Abdullah ibn Zaid al-Jirmiy mewasiatkan kitab-kitabnya untuk Ayyub as-Sakhtiyani (68-131 H). A I.cit. seperti Ibn Juraij. Misalnya. op. baik ia pernah bertemu atau tidak. Ulama muta‟akhkhirin menghitungnya dalam jajaran me tode tahammnul dengan dasar riwayat dari sebagian ulama salaf tentang wasiat kitab-kitab mereka sebelum mereka wafat. h. Al-Wijadahَ( ‫ انوجد ي‬. mengatakan telah memberikan khabar kepadaku Fulan dengan cara wasiat. 215 Ibid. ia tidak menemukan seorang pun yang menerima riwayat dengan cara ini pada masa-masa terdahulu selain Ibn Juraij dan yang menerima dengan cara itu harus menjelaskannya sewaktu menyampaikan. lalu kitab-kitab itu didatangkan kepada Ayyub yang jumlah sebanyak muatan kendaraan unta. Ayub juga memberikan upah pengangkutannya. Ternyata kami tak menemukan seorang pun dari ulama mutaqaddimin yang meriwayatkan dengan cara wasiat. 210 10 . penemuan) Kata al-Wijadah dengan kasrah wawu merupakan konjugasi dari kata WajadaYajidu. sebelum bepergian jauh atau sebelum meninggal. Menurut M. atau saya menemukan dalam wasiat Fulan kepadaku. 8. seseorang menemukan kitab hasil tulisan orang semasanya dan telah mengenal dengan baik tulisannya itu.pendapat yang dipegangi oleh mayoritas ulama mutaqaddimin. juga mayoritas ulama muta‟akhkhirin.Washiyyah ( ًٍ‫) انوص‬ Yaitu seorang guru berwasiat. Misalnya mengatakan: Fi Ma A’lamani Syaikhi. Misalnya perawi mengatakan: Telah mewasiatkan kepadaku Fulan. 27 7. Bentuk ini merupakan bentuk tahammul yang amat langka. bentuk yang tidak analogis. Ulama hadits menggunakannya dengan pengertian ilmu yang diambil atau didapat dari shahifah tanpa ada proses mendengar. agar kitab riwayatnya diberikan seorang untuk boleh meriwayatkan darinya. 28 Penyampaian riwayat yang diterima dengan cara wasiat menurut yang memperbolehkannya adalah dengan menjelaskan hal itu sewaktu menyampaikannya.

Namun bila perawi tidak mengerti dan tidak memahami kata-kata yang bisa merubah makna maka ia tidak diperbolehkan meriwayatkan hadits dengan makna. menilai dha‟if per iwayatan dari kitab-kitab. ia diperbolehkan meriwayatkan dengan makna. Karena dengan pemahamannya yang kuat. Karena mayoritas mereka sangat mengutamakan periwayatan secara langsung melalui mendengar atau menyodorkan kitab. bahwa mereka meriwayatkan dari shahifah-shahifah dan kitab-kitab. bukan dalam bentuk mendengar.29 E. bahwa seorang muhaddits boleh meriwayatkan dengan makna. Periwayatan Hadits: Antara bi al-Lafzh dan bi al-Ma’na Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa salah satu tugas perawi adalah menjelaskan bentuk tahammul yang digunakan untuk menerima apa yang diriwayatkannya. Tidak ada silang pendapat. dan tak memperbolehkan periwayatan dengan makna sama sekali. Dalam hal ini. Di samping bersemangat menjelaskan bentuk tahammul hadits sewaktu menyampaikannya. Imam asy-Syafi‟i mengatakan: Orang yang meriwayatkan harus kukuh 29 Ibid. Kita juga mengenal semangat dari ulama hadits terhadap hal itu. Mereka mewajibkan periwayatan hadits dengan lafadz. tidak dengan lafadz. Sebagian ahli hadits.itu ataupun melalui sarana lainnnya yang mengukuhkan penisbatannya kepada yang bersangkutan. Ada riwayat akurat dari sebagian ulama salaf. tentang kewajiban menyampaikannya riwayat dengan lafadz seperti yang didengarnya. Mayoritas ulama cenderung berpendapat. Bila ia telah merasa yakin melalui sarana-sarana itu. namun demikian periwayatan dengan metode wijadah ini pada masa klasik amat langka. ia bisa menghindari perubahan makna dan pergeseran hukum-hukum yang terkandurg didalamnya.Qur‟an dari orang -orang yang mempelajarinya dari mushhaf saja dan jangan menerima ilmu dari orang-orang yang menerimanya dari shahifahshahifah. ulama juga bersemangat untuk menyampaikan hadits persis seperti yang mereka dengar tanpa penggantian dan perubahan sedikit pun. Bahkan sebagian besar ulama salaf mencela mereka yang meriwayatkan dari shahifah -shahifah. 213 11 . bila ia memahami bahasa Arab dengan segala seluk-beluknya dan mengerti makna-makna dan kandungan hadits serta memahami kata yang bisa merubah makna dan kata yang tidak merubahnya. Sehingga sangat popule r di kalangan mereka ungkapan: “Ja ngan kalian membaca al. ahli fiqh dan ahli ushul bersikap ketat. maka ia boleh meriwayatkan isi yang dikehendakinya dalam bentuk menceritakan. Bila demikian.” Bahkan ada di antara mereka yang.

memahami apa yang diriwayatkannya dan mengetahui betul kata kata yang bisa merubah makna. Karena ia telah menerima kata dan makna. Namun karena ia tidak mampu menyampaikan salah satunya. maka tidak ada kesempatan terjadinya perubahan pengertian hadits yang bersangkutan. Karena bila tidak. h. Di samping itu ia juga harus menyampaikan hadits dengan huruf-hurufnya seperti yang didengarnya. Abu ad-Darda‟. 216 12 . atau “ au syibhahu ” ( ‫او‬ ‫( ) شبهو‬atau ungkapan yang serupa).30 Dari sini. seusai meriwayatkan hadits harus me ngatakan : “au kama qala ” ( ‫ ) او كما قال‬atau yang sejenis. Karena itu. mengetahui dengan benar haditsnya. maka ia termasuk menyembunyikan hukum. maka tidak ada halangan meriwayat kannya secara makna selama ia aman dari keterpelesetan dan kekeliruan. Bila ia menyampaikan hadits dengan lafadz.agamanya. Namun demikian. jelaslah bahwa orang yang mengerti betul kata-kata yang bisa merubah makna boleh meriwayatkan hadits secara makna.kata yang merupakan bacaan ibadah atau ungkapan ungkapan Nabi SAW yang jami’ (padat makna). Anas ibn Malik dan lain-lain. “au nahwa hadza” (‫ )او حنو ىذا‬atau ungkapan sejenis. tidak meriwayatkannya dengan makna. peperangan ataupun peristiwa tertentu. Ia juga harus hafal betul bila ia meriwayatkan dengan hafalannya. di samping dengan syarat yang diriwayatkan bukan kata. banyak di antara mereka yang sangat berhati-hati. Kemudian beliau berkata: Namun bila ia tidak lupa akan lafadznya. maka tidak boleh baginya menyampaikan selainnya. yakni bila ia tidak mengerti kata-kata yang dapat merubah makna. seperti yang dipraktekkan oleh Abdullah ibn Masud. Karena kalam Nabi SAW mengandung fashahah yang tidak dimiliki oleh kalam lainnya. Yang memperbolehkan periwayatan dengan makna hanya memperbolehkannya bagi orang yang benar-benar mengerti. maka ia tidak mengerti barangkali ia telah merubah yang halal menjadi haram. Bahkan Imam al-Mawardiy mewajibkan seseorang menyampaikan dengan makna bila ia telah lupa akan lafadznya. tabi‟in dan ahli hadits sesudah mereka. bila ia tidak ingat katakata persisnya. dan seusai meriwayatkan mereka mengatakan : “ au kama qala” (atau seperti yang disabdakan Nabi). Mereka tidak beralih dari redaksi aslinya kecuali berkenaan dengan keterangan mengenai keadaan. Sebenarnya kita juga telah menyaksikan hal itu pada praktek sahabat. sebagai sikap hati-hati bila yang diriwayatkannya itu merupakan riwayat 30 Ibid. Karena bila demikian. dan mengerti betul tulisannya bila ia meriwayatkan dari kitabnya.

217 13 . al-Munawalah. Sifat Adil. al -Ijazah. al-Wijadah. Dhabt. namun ketika menyampaikannya disyaratkan Islam dan baligh. al-Mukatabah.dengan makna. Maka diterima riwayat seorang muslim yang baligh dari hadis yang diterimanya sebelum masuk Islam atau sebelum baligh. Dalam menerima hadis tidak disyaratkan seorang harus muslim dan baligh. Inilah pendapat yang mayoritas.31 F. dengan syarat tamyiz atau dapat membedakan bagi yang belum baligh Syarat kelayakan al-Ada adalah: Islam. I‟lam asy-Syaikh. Sedangkan al-„Ada adalah adalah proses menyampaikan dan meriwayatkan hadits. 31 Ibid. alWashiyyah. Baligh. al Qira‟ah „ala Syaikh. Kesimpulan Tahammul adalah proses menerima periwayatan sebuah hadits dari seorang guru dengan metode-metode tertentu. Sedangkan metode dalam tahammul al-ada‟ adalah melalui beberapa jalan yaitu as -sima‟.

1997 Suparta. Mabahis fi Ulumul Hadist. Padang: The Minangkabau Foundation. Nuruddin. Muhammad al-Khatib. Bandung: Remaja Rosda Karya. Raja Grafindo. Jakarta: Lentera. Bandung: Amal Bakti Press. Ilmu Hadis.M. Ilmu Hadis. 2005 14 . 2005 Soetari. 1994 Mudasir. Ulum al-Hadits Terj. 2005) Azami. Mujiyo. M. Munzier. Jakarta: Gaya Media Pratama. Endang. (Jakarta: PT. 1993 „Itr. Memahami Ilmu Hadis. 2001 Al-Qaththan.DAFTAR KEPUSTAKAAN „Ajaj. Ushul al-Hadits: Pokok-pokok Ilmu Hadits . Bandung: Pustaka Setia. Ilmu Hadis. 2006 Zainimal. Meth Kieraha. Pengantar Studi Ilmu Hadis. Terj.Syaikh Manna‟. (Jakarta: Pustaka Al-Kaustsar. Ulumul Hadis. Penerjemah : Mifdhol Abdurrahman.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->