Indikasi Hemodialisa cito

Beberapa waktu lalu di bangsal terdapat pasien CRF dengan ureum 290 dan kreatinin 11, Hb 5. Awal datang pasien mengeluh sesak, dan tensi tinggi 190/110 mmHg. Karena Hb 5 maka oleh dr SpPD diberikan transfuse PRC sebanyak 2 kolf sambil diberikan furosemide 2 ampul dan bicnat 3×1 tablet. Elektrolit belum sempat di cek. Di IGD pasien di diagnosis anemia dengan IHD, sehingga mendapatkan ISDN. Selanjutnya setelah di ruangan ISDN di stop oleh dokter penyakit dalam. Belakangan di bahas dalam sebuah diskusi kasus bahwa seharusnya dari awal sudah dapat di spesifikkan diagnosis anemianya mengarah ke CRF. Mengingat pasien dengan anemia berat namun tidak ada tanda-tanda perdarahan (hematemesis, melena), maka sudah seharusnya kita curiga adanya gagal ginjal. Namun disini saya tidak akan membahas terapi dan diagnosisnya, tapi tentang rencana tindakan selanjutnya untuk pasien ini. Dua hari perawatan di bangsal, kondisi pasien semakin memburuk. Terakhir, tanggal 22 Mei, pasien semakin sesak. Rr mencapai 46x/menit, cepat dan dalam, tensi 220/110 mmHg, serta nadi 140 x per menit, cepat dan lemah. Keadaan mengarah ke asidosis metabolic. Karena takut kondisi pasien tidak terselamatkan, selanjutnya saya konsulkan ke DPJP (dokter penanggung jawab pasien) yaitu seorang dokter spesialis penyakit dalam, namun sampai beberapa kali tidak tersambung. Maklum, dokter penyakit dalam yang satu ini memang jam terbangnya tinggi, sehingga sulit dihubungi. Melihat kondisi pasien yang semakin memburuk, maka saya inisiatif untuk menelpon center yang lebih lengkap fasilitasnya untuk Hemodialisa. Karena di RS tempat saya bekerja, tidak terdapat fasilitas hemodialisa. Akhirnya setelah perdebatan lama dengan perawat tempat saya akan merujuk pasien, akhirnya center tersebut menyetujui untuk menerima pasien. Kemudian sekarang tinggal edukasi keluarga, mudah-mudahan mereka setuju agar pasien dirujuk ke center yang terdapat fasilitas hemodialisanya. Dan Alhamdulillah, akhirnya keluarga pasien menyetujui untuk dirujuk. Nah, sekarang permasalahannya justru muncul ketika, kondisi ini kemudian dilaporkan ke ketua komite medis tempat saya bekerja. Menurut beliau, prosedur rujuk pasien tetap harus seijin DPJP sehingga, harus menunggu sampai dokter DPJP bisa dihubungi. Hmmmm, memang secara “legalitas” benar pemikiran si “beliau” ini. Tapi dilihat dari segi keselamatan pasien, menurut hemat saya, hemodialisa cito lebih penting di dahulukan demi menyelamatkan kegawatdaruratan pada pasien ini, dibandingkan dengan masalah legalitas. Dalam ilmu etik kedokteran kita mengenal istilah “beneficence” alias melakukan tindakan demi keselamatan pasien. Jadi refresh lagi nih, tentang 4 kaidah dasar moral yang sering juga disebut kaidah dasar etika kedokteran atau bioetika, antara lain:
  

Beneficence Non-malficence Justice

     Memandang pasien atau keluarga bukanlah suatu tindakan tidak hanya menguntungkan seorang dokter Mengusahakan agar kebaikan atau manfaatnya lebih banyak dibandingkan dengan suatu keburukannya Menjamin kehidupan baik-minimal manusia Memaksimalisasi hak-hak pasien secara keseluruhan Meenerapkan Golden Rule Principle. pandangan politik. perbedaan kedudukan sosial. Non-malficence mempunyai ciri-ciri:         Menolong pasien emergensi Mengobati pasien yang luka Tidak membunuh pasien Tidak memandang pasien sebagai objek Melindungi pasien dari serangan Manfaat pasien lebih banyak daripada kerugian dokter Tidak membahayakan pasien karena kelalaian Tidak melakukan White Collar Crime 3. Justice Keadilan (Justice) adalah suatu prinsip dimana seorang dokter memperlakukan sama rata dan adil terhadap untuk kebahagiaan dan kenyamanan pasien tersebut. Perbedaan tingkat ekonomi. Ciri-ciri prinsip ini. agama. Non-malficence Non-malficence adalah suatu prinsip yang mana seorang dokter tidak melakukan perbuatan yang memperburuk pasien dan memilih pengobatan yang paling kecil resikonya bagi pasien sendiri. yaitu. Beneficence Prinsip bahwa seorang dokter berbuat baik. Autonomy 1. tetap berlaku dan harus diikuti. menghormati martabat manusia. Justice mempunyai ciri-ciri :  Memberlakukan segala sesuatu secara universal . do no harm. kebangsaan. yaitu melakukan hal yang baik seperti yang orang lain inginkan 2. dan kewarganegaraan tidak dapat mengubah sikap dokter terhadap pasiennya. kebangsaan. Pernyataan kuno Fist. Dalam suatu prinsip ini dikatakan bahwa perlunya perlakuan yang terbaik bagi pasien. dokter tersebut juga harus mengusahakan agar pasiennya dirawat dalam keadaan kesehatan. Beneficence membawa arti menyediakan kemudahan dan kesenangan kepada pasien mengambil langkah positif untuk memaksimalisasi akibat baik daripada hal yang buruk.

Laboratoriun abnormal : asidosis metabolic. Tapi ngeliat pasien lagi gawat gini. neouropati perifer. oligouri berat atau anuri. menyetujui. pericarditis. Dalam hal ini pasien diberi hak untuk berfikir secara logis dan membuat keputusan sendiri. Dini atau profilaksis Sindroma uremia. 2. Memang urusan legalitas DPJP penting. sedangkan darah kembali ke dalam tubuh sesuai dengan arti dari hemo yang berarti darah dan dialisis yang berarti memindahkan. Setiap individu harus diperlakukan sebagai manusia yang mempunyai hak menentukan nasib diri sendiri. Segera Encephalopathy. gangguan pertumbuhan. tentang indikasi “hemodialisa cito”. dan membiarkan pasien demi dirinya sendiri. edema paru. tojh nanti ujung-ujungnya dari sisi etik medic juga kita harus berprinsip “beneficence” kan? Terus selain itu. azotemia . membela. Hemodialisis (HD) adalah cara pengobatan / prosedur tindakan untuk memisahkan darah dari zat-zat sisa / racun yang dilaksanakan dengan mengalirkan darah melalui membran semipermiabel dimana zat sisa atau racun ini dialihkan dari darah ke cairan dialisat yang kemudian dibuang. membenarkan. Indikasi HD A.   Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan Menghargai hak sehat pasien Menghargai hak hukum pasien 4. 1. dari segi kelimuan juga kita perlu refresh lagi deh. Autonomy bermaksud menghendaki. hiperkalemi dan asidosis metabolic. penyakit tulang. wahai bapak si “beliau” I think you should think twice before you make decision. untuk urusan kemanan dari sisi hokum. B. Autonomy mempunyai ciri-ciri:     Menghargai hak menentukan nasib sendiri Berterus terang menghargai privasi Menjaga rahasia pasien Melaksanakan Informed Consent Nah. Autonomy Dalam prinsip ini seorang dokter menghormati martabat manusia. hipertensi maligna.

dimana darah dipompa menuju alat ini yang kemudian alat ini mencuci darah itu dari berbagai zat berbahaya. jika tidak memungkinkan untuk mengqadha maka statusnya sebagaimana orang tua yang tidak mampu puasa. “Pasien yang harus melakukan cuci darah.” Read more about puasa by www. Dia boleh tidak puasa ketika proses cuci darah dan diganti dengan fidyah. jika campuran yang disisipkan di darah pasien ketika proses dialisis (cuci darah) bukan nutrisi bagi tubuh. sehingga seseorang boleh mengambil tindakan medis ini meskipun sedang berpuasa. Tapi kembali lagi dengan si pemegang kebijakan. syekh Ibnu Utsaimin ditanya tentang hukum cuci darah ketika puasa.konsultasisyariah. proses pencucian ini dicampur dengan beberapa nutrisi mineral. Sayang belum sempet cek kalium. sehingga dia boleh membayar fidyah. Dan karena di RS tempat saya bekerja ga ada fasilitas buat cek analisa gas darah buat cek asidosis metabolic.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin. namun hanya sebatas membersihkan dan mencuci darah. 20:113) Kesimpulan dari Syekh Muhammad Al-Munajid. CCT kurang dari 5 – 10 mL. sehingga menggantikan makan dan minum. BUN 100 – 120 mg%. maka hal ini tidak membatalkan puasanya. Akan tetapi. mungkin perlu diberikan makanan cair melalui pembuluh darah. kemungkinan besar si pasien asidosis metrabolik dengan hiperkalemi juga.com Ini ada dua cara: Pertama: Dengan perantaraan alat yang disebut mesin dialiser (yang berfungsi sebagai ginjal buatan – pent). Persoalan semacam ini perlu ditanyakan ke dokter. statusnya membatalkan puasa.(kreatinin 8 – 12 mg%. yawda amannya kan ngliat dari klinis gitu curiga ke arah asidosis metabolic. baiknya dirujuk aja. jika ada orang yang mendapatkan ujian dengan penyakit ini sepanjang hidupnya maka dia tergolong orang yang sakit. yang tidak ada harapan untuk sembuh. Namun. yang penting pasien bisa terselamatkan (atas ijin Alloh pastinya). Beliau menjawab. puasanya batal di hari dilakukannya tindakan dialisis. Oleh karena itu. Tapi Alhamdulillah akhirnya pasien dirujuk juga walaupun dengan keterangan : “Atas permintaan pasien”.menit) Kalo ngeliat kondisi pasien kaya gini sih. Kedua: . Jika masih memungkinkan untuk qadha maka dia wajib qadha. “… Saya khawatir. Jika keadaannya demikian. Gapapa deh. Dan dalam perjalanan proses ini. kemudian kembali ke dalam tubuh melalui pembuluh vena.

bahwa dialisis akan menggantikan darah dengan darah yang segar.Melalui membran peritoneum (selaput rongga perut) di perut. Dalil mereka. Mereka berdalil bahwa hal ini bukan perkara yang telah di-nash-kan dan bukan pula yang semakna dengan perkara yang telah ada nashnya. kemudian ditarik kembali dan diulangi proses ini beberapa kali dalam satu hari. Para ulama kontemporer berselisih pendapat tentangnya. dan juga akan memberikan zat makanan lain. apakah membatalkan puasa atukah tidak? Pendapat pertama: Membatalkan puasa. Pendapat kedua: Tidak membatalkan puasa. . dan dibiarkan di dalam perut selama beberapa waktu. Yaitu dengan memasukkan pipa kecil ke dalam dinding perut di atas pusar. kemudian biasanya dimasukkan dua liter cairan yang mengandung gula glukosa berkadar tinggi ke dalam perut. Ini pendapat Ibnu Baz – rohimahulloh – dan al-Lajnah ad-Daimah. Sehingga terkumpullah dua pembatal puasa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful