P. 1
Materi Laporan Modul 1 Blok 6

Materi Laporan Modul 1 Blok 6

|Views: 7|Likes:
Published by dies

More info:

Published by: dies on May 27, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/30/2014

pdf

text

original

PATOFISIOLOGI Fraktur terjadi apabila ada suatu trauma yang mengenai tulang, dimana trauma tersebut kekuatannya melebihi

kekuatan tulang,ada 2 faktor yang mempengaruhi terjadinya fraktur yaitu ekstrinsik (meliputi kecepatan, sedangkan durasi trauma yang mengenai tulang, arah dan kekuatan), intrinsik (meliputi kapasitas tulangmengabsorbsi energi trauma, kelenturan,kekuatan adanya densitas tulang tulang.yang dapat menyebabkan terjadinya patah pada tulang bermacammacam antaralain trauma (langsung da ntidak langsung), akibat keadaan patologi serta secara spontan. Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Trauma tidak langsung terjadi apabila trauma dihantarkanke daerahyang lebih jauh dari daerah fraktur, pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh. Tekanan pada tulang dapat berupa teknanberputar, membengkok,kompresi bahkan tarikan. Sementara kondisi patologis disebabkan karena kelemahan tuklang sebelumnya akibat kondisi patologis yangterjadi di dalam tulang. Akibat trauma pada tulang tergantung pada jenistrauma,kekuatan dan arahnya.Sementara fraktur spontan terjadi akibat stress tulang yang terjadi terus menerus misalnya padaorang yan bertugas kemiliteran. Menurut Black dan Matassarin (1993) serta Patrick dan Woods (1989). Ketika patah tulang, akan terjadi kerusakan di korteks, pembuluh darah, sumsum tulang dan jaringan lunak. Akibat dari hal tersebutadalah terjadi perdarahan, kerusakan tulang dan jaringan sekitarnya. Keadaan ini menimbulkanhematom pada kanal medulla antara tepi tulang dibawah periostium dengan jaringan tulang yangmengatasi fraktur. Terjadinya respon inflamasi akibat sirkulasi jaringan nekrotik adalah ditandai denganvasodilatasi dari plasma dan leukoit. Ketika terjadi kerusakan tulang, tubuh mulai melakukan prosespenyembuhan untuk memperbaiki cidera, tahap ini menunjukkan tahap awal penyembuhan tulang.Hematon yang terbentuk bisa menyebabkan peningkatan tekanan dalam sumsum tulang yang kemudianmerangsang pembebasan lemak dan gumpalan lemak tersebut masuk kedalam pembuluh darah yangmensuplai organ-organ yang lain. Hematon menyebabkn dilatasi kapiler di otot, sehingga meningkatkantekanan kapiler, kemudian menstimulasi histamin pada otot yang iskhemik dan menyebabkan proteinplasma hilang dan masuk ke interstitial. Hal ini menyebabkan terjadinya edema. Edema yang terbentukakan menekan ujung syaraf, yang bila berlangsung lama bisa menyebabkan syndroma comportement.

yaitu : .FRAKTUR HEALING PENYEMBUHAN FRAKTUR PADA TULANG KORTIKAL Proses penyembuhan fraktur pada tulang kortikal terdiri dari 5 fase.

Periosteum akan terdorong dan mengalami robekan akibat tekanan hematoma yang terjadi sehingga dapat terjadi ekstravasasi darah kedalam jaringan lunak. Pada pemeriksaan radiolgis kalus atau woven bone sudah terlihat dan merupakan indikasi radiologik pertama terjadinya penyembuhan fraktur. Osteosit dengan lakunannya yang terletak beberapa millimeter dari daerah fraktur akan kehilangan darah dan mati. maka pembuluh darah kecil yang melewati kanalikuli dalam system haversian mengalami robekan dalam daerah fraktur dan akan membentuk hematoma diantara kedua sisi fraktur. maka penyembuhan sel berasal dari diferansiasi sel – sel mesenkimal yang berdiferensiasi kedalam jaringan lunak. Waktu terjadinya proses ini dimulai saat fraktur terjadi sampai 2 – 3 minggu. Pada tahap awal dari penyembuhan fraktur ini terjadi penambahan jumlah dari sel – sel osteogenik yang memberi penyembuhan yang cepat pada jaringan osteogenik yang sifatnya lebih cepat dari tumor ganas. Bentuk tulang ini disebut moven bone. yang akan menimbulkan suatu daerah cincin avaskular tulang yang mati pada sisi – sisi fraktur segera setelah trauma. Fase konsolidasi (Fase union secara radiology) . Fase pembentukan kalus (Fase union secara klinis) Setelah pembentukan jaringan seluler yang tumbuh dari setiap fragmen sel dasar yang berasal dari osteoblast dan kemudian pada kondroblast membentuk tulang rawan. Penyembuhan fraktur terjadi karena adanya sel – sel osteogenik yang berproliferasi dari periosteum untuk membentuk kalus eksterna serta pada daerah endosteum membentuk kalus interna sebagi aktivitas seluler dalam kanalis medularis. Apabila terjadi robekan yang hebat pada periosteum. Tempat osteoblas diduduki oleh matriks interseluler kolagen dan perlekatan polisakarida oleh garam – garam kalsium pembentuk suatu tulang yang imatur. kalus dari fraktur akan membentuk suatu massa yang meliputi jaringan osteogenik. Pada pemeriksaan radiologist kalus belum mengandung tulang sehingga merupakan suatu daerah radioluscen.Fase hematoma Apabila tejadi fraktur pada tulang panjang. Hematoma yang besar diliputi oleh periosteum. Pada fase ini dimulai pada minggu ke 2 – 3 setelah terjadinya fraktur dan berakhir pada minggu ke 4 – 8. Setelah beberapa minggu. Fase proliferasi seluler subperiosteal dan endosteal Pada saat ini terjadi reaksi jaringan lunak sekitar fraktur sebagai suatu reaksi penyembuhan. Jaringan seluler tidak terbentuk dari organisasi pembekuan hematoma suatu daerah fraktur.

Fase remodeling Bilamana union telah lengkap. Pada anak – anak proses penyembuhan pada daerah korteks juga memegang peranan penting. yaitu : 1. tulang pendek serta tulang pipih diliputi oleh korteks yang tipis. . Penyembuhan fraktur pada tulang kanselosa terjadi pada daerah dimana terjadi kontak langsung diantara permukaan tulang fraktur yang berarti satu kalus endosteal. Vaskularisasi yang cukup 2. Terdapat permukaan yang lebih luas 3. Selanjutnya woven bone diganti oleh tulang lamellar dan tulang mengalami konsolidasi. Pada fase remodeling ini perlahan – lahan terjadi resorpsi secara osteoklastik dan tetapi terjadi osteoblastik pada tulang dan kalus eksterna secara perlahan – lahan menghilang. Pada fase 3 dan 4 dimulai pada minggu ke 4 – 8 dan berakhir pada minggu ke 8 – 12 setelah terjadinya fraktur. Kontak yang baik memberikan kemudahan vaskularisasi yang cepat 4. Pada fase terakhir ini. Hematoma memberikan peranan dalam penyembuhan fraktur Tulang kanselosa yang berlokalisasi pada metafisis tulang panjang. Kalus intermediet berubah menjadi tulang yang kompak dan berisi system haversian dan kalus bagian dalam akan mengalami peronggaan untuk membentuk susmsum. Apabila terjadi kontak dari kedua fraktur maka terjadi union secara klinis. PENYEMBUHAN FRAKTUR PADA TULANG KANSELOSA Penyembuhan fraktur pada tulang kanselosa terjadi secara cepat karena beberapa factor. berproliferasi untuk membentuk woven bone primer di dalam daerah fraktur yang disertai hematoma. maka tulang yang baru akan membentuk bagian yang meyerupai bulbus yang meliputi tulang tetapi tanpa kanalis medularis.Woven bone akan membentuk kalus primer dan secara perlahan – lahan diubah menjadi tulang yang lebih matang oleh aktivitas osteoblas yang menjadi struktur lamellar dan kelebihan kalus akan di resorpsi secara bertahap. dimulai dari minggu ke 8 – 12 dan berakhir sampai beberapa tahun dari terjadinya fraktur. Proses osteogenik peyembuhan sel dari bagian endosteal yang menutupi trabekula. Pembentukan kalus interna mengisi ruangan pada daerah fraktur. Peyembuhan fraktur pada tulang kanselosa melalui proses pembentukan kalus interna dan endosteal.

Dislokasi sendi umumnya perlu dilakukan pembidaian dalam posisi sebagaimana ditemukan. b. termasuk muskuloskeletal . Resusitasi cairan yang agresif merupakanhal yang penting disamping usaha menghentikan perdarahan. . tetapi jarang menjadi penyebab ancaman nyawa atau ancaman ekstremitas. Fraktur panjang dapatmeni mbulkan perdarahan yang berat .Imobilisasi fraktur Tujuan imobilisasi fraktur adalah meluruskan ekstremitas yang cedera dalam posisi anatomis mungkin dan mencegah gerak yang berlebihan pada daerah fraktur. keadaan hemodinamik serta mekanisme trauma. untuk memperoleh hasil yang optimal. ditentukan oleh hasil pemeriksaan. Foto pelvis AP perludilakukan segera pada penderita trauma multiple dengan sumber perdarahan yang belum dapat ditentukan. menimbulkan syok kelas III. tetapi terbentuk melalui fibrokartilago.Pemakaian bidai secara benar akan membantu menghentikan perdarahan. Dokter harus menangani penderita secara keseluruhan. karena itu trauma muskuloskeletal tidak boleh diabaikan atauditan gani terlambat. PRIMARY SURVEY DAN RESUSITASI Selama primary survey. perdarahan harus dikenal dan dihentikan. TRAUMA MUSKULOSKLETAL Trauma sistem muskuloskeletal sering tampak dramatis dan ditemukan pada 85% penderitatrauma tumpul. namun tidak boleh menganggu resusitasi yang merupakan prioritas utama. Fraktur femur dapat menyebabkan kehilangan darah didalam paha sampai 3-4 unit.Foto rontgenJenis dan saat pemeriksaan ronsen dilakukan. menguranginyeri dan mencegah kerusakan jaringan lunak lebih lanjut. Pada fraktur terbuka. TINDAKAN TAMBAHAN ( ADJUNCTS ) PADA PRIMARY SURVEY a. Pada fraktur interartikular penyembuhan tidak terjadi melalui tulang rawan hialin. Menghentikan perdarahanyang terbaik adalah dengan melakukan tekanan langsung.PENYEMBUHAN FRAKTUR PADA TULANG RAWAN PERSENDIAN Tulang rawan hialin permukaan sendi sangat terbatas kemampuan untuk regenerasi.Trauma muskuloskeletal tidak mengubah urutan prioritas resusitasi ( ABCDE ).tanda klinis. namun akanmenyita perhatian dokter. penggunaan balut tekan steril dapat menghentikan perdarahan. Pemasangan bidaiharus dilakukan segera.

Riwayat / anamnesa1. sisi yang cedera.Apakah penderita pejalan kaki yang ditabrak kendaraan. misalnya di dalam kendaraan atau terlempar keluar.3.Apakah terdapat kerusakan bagian dalam kendaraan. 2.Apakah pasie n terlindas (crush) sesuatu.g. dapat .SECONDARY SURVEY a. lamanya beban menekan bagian yang cedera. b. berapa besar ledakan. air tawar atau laut).Mekanisme traumaKepentingan mekanisme trayma adalah untuk mencari kemungkinan cedera lainyang saat ini belum tampak.Apakah ada kerusakan bagian luar kendaraan. berapa jarak penderita dengansumber ledakan. Jika penderita terlempar tentukan jarak terlemparnya.Keadaan sebelum trauma dan faktor predisposisi Penting mengetahui keadaan sebelum cedera. Traumamuskuloskeletal diramalkan (cedera bumper) berdasarkan ukuran danusia penderita.Dimana posisi penderita dalam kendaraan sebelum kecelakan.Kemampuan fisik dan tingkat aktivitas. Apakah penderita memakai sabuk pengaman? f. i. misalnya stir bengkok. misalnya pengemudi atau penumpang.Penemuan ini memberi petunjuk besar kemungkinan terdapat trauma dada. danmendapatkan sebanyak mungkin informasi sebagai berikut: a. h.Dimana posisi penderita setelah kecelakaan. Dokter harus melakukan rekonstruksi kejadian. jika benar tentukan berat bendatersebut.Lingkungan Harus ditanya tentang : Apakah penderita terkena trauma termal ( panas atau dingin ) Apakah terkena gas atau bahan beracun Pecahan kaca Sumbersumber kontaminasi ( kotoran binatang.Apakah penderita jatuh.Informasi ini akan membantu doketr mengatasi masalahh yang dapattimbul serta pemilihan jenis antibiotika awal. Riwayat AMPLE harus mencakup : 1.Apakah terjadi ledakan. cara terapi dan hasil terapi. c. misalnya kerusakan bagiandepan mobil karena tabrakan depan. karena dapat mengubah kondisi penderita. bila jatuh berapa jaraknya dan bagaimanamendaratnya.klavikula.menetapkan trauma penyerta yang mungkin terjadi pada penderita.d. e.

4. disertai gerak abnormal maka diagnosis fraktur adalah pasti. Trauma musculoskeletal sebelumnya. Luka terbukaakan jelas terlihat kecuali pada bagian punggung. Lihat dan Tanya Melihat adanya perubahan warna dan perfusi.Observasi dan pelayanan pra rumah sakit Waktu kejadian harus dicatat. Pembalutan dan pemasangan bidai dengan perhatian khusus diatas penonjolan tulang. deformitas (angulasi. dapat digunakan alat .2. pemendekan).jika hipotensi mempersulit pemeriksaan pulsasi.adanya sakit. 4. Jikaditemukan sakit. pembengkakan.Pemeriksaan sirkulasi Pulsasi bagian distal tiap ekstremitas diperiksa dengan palpasi dan diperiksa pengisian kapiler jar i-jari ( capillary refill ). terutama jika terdapat perdarahan yang berlanjutserta keterlambatan mencapai rumah sakit. Penggunaan obat dan alkohol. 2. Hilangnya rasa rabadan nyeri menunjukkan adanya trauma spinal atau saraf tepi. dan deformitas menyokong daiagnosis fraktur. pembengkakan dan perubahan warna atau memar. nyeri tekan. 3. Observasi gerakan motorik membantu menenntukanadanya gangguan neurologi atau muskular 2 . Perubahan fungsi ekstremitas.Observasi dan tindakan pra rumah sakit harus dicatat dan dilaporkan. b.Pemeriksaan Fisik Seluruh pakaian penderita harus dibuka agar dapat dilakukan pemeriksaan yangbaik. 3. Pemeriksaan penderita cedera ekskremitas mempunyai 3 tujuan : 1.\ 1 . Menemukan masalah yang mengancam ekstremitas (secondary survey). Pemerikasaan tulang secara sistematis untuk menghindari luputnya trauma muskuloskeletal yang lain ( re-evaluasi berlanjut ). Raba Dilakukan palpasi pada ekstremitas untuk memeriksa sensorik ( fungsi neurologi )dan daerah nyeri tekan ( fraktur atau trauma jaringan lunak. Menemukan masalah mengancam jiwa (primary survey). luka. perfusi atau status neurology terutama setelah imobilisasi atau selama transfer ke rumah sakit.Masalah emosional dan penyakit lain. Penderita harus dilakukan log-r o l l i n g s e c a r a h a t i h a t i . 3.Reposisi fraktur atau dislokasi selama ekstrikasi atau pemasangan bidai di tempaikejadian dan 3. Informasilain yang penting adalah : 1. 2. nyeritekan.

Doppler ( probe ultrasonic yang tidak invasive dapat membedaka aliran darah dan cairan). besar kemungkinan ada fraktur . Adanyanyeri dan deformitas pada ekstremitas. Hilangnya rasa berbentuk kaus kaki atau sarung tangan merupakan tanda awal gangguan vaskuler.Foto ronsen Kebutuhan pemeriksaan foto ronsen ditentukan oleh pemeriksaan klinik. 4.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->