You are on page 1of 12

BAB I PENDAHULIAN Latar Belakang Obyek studi ilmu akhlak ialah semua perbuatan manusia untuk ditetapkan apakah

perbuatan itu termasuk baik atau buruk. Perbuatan-perbuatan manusia itu dapat dibagi kepada tiga macam perbuatan dan ada yang tidak masuk perbuatan akhlak : a) perbuatan yang dikehendaki, b) perbuatan yang tidak dikehendaki, c) perbuatan yang samar-samar, tengah-tengah mutasyabihat.

Rumusan Masalah 1) Obyek Studi Ilmu Akhlak 2) Sejarah Penyelidikan Ilmu Akhlak 3) Aliran akhlaq dalam ilmu akhlaq

Tujuan Tujuan dari pada penjelasan akhlaq sebagai ilmu adalah untuk dapat memaparkan bagaimana obyek studi ilmu akhlaq, sejarah-sejarah penyelidikan ilmu akhlaq, dan juga aliranaliran akhlaq dalam ilmu akhlaq.

BAB I PEMBAHASAN

A. AKHLAQ SEBAGAI ILMU 1. Obyek Studi Ilmu Akhlak

Obyek studi ilmu akhlak ialah semua perbuatan manusia untuk ditetapkan apakah perbuatan itu termasuk baik atau buruk. Perbuatan-perbuatan manusia itu dapat dibagi kepada tiga macam perbuatan dan ada yang tidak masuk perbuatan akhlak : 1. Perbuatan yang dikehendaki atau yang disadari diwaktu dia berbuat, perbuatan disengaja, jelas perbuatan ini akhlak, mungkin baik, mungkin pula buruk tergantung pada sikap perbuatannya. 2. Perbuatan yang dilakukan tiada dikehendaki, sadar atau tidak sadar diwaktu dia berbuat, tapi perbuatan itu di luar kemampuannya, dia tidak bisa mencegahnya, perbuatan demikian bukan perbuatan akhlak.Perbuatan ini ada dua macam: a. Reflecs action, umpamanya seseorang keluar di tempat gelap ketempat terang matanya berkedip-kedip perbuatan berkedip-kedip itu tidak ada hukumnya. b. Automatic actions, seperti halnya degup jantung, denyut urat nadi, dan sebagainya. 3. Perbuatan samar-samar, tengah-tengah, mutasyabinat, seperti: lupa, tersalah, dipaksa, perbuatan diwaktu tidur, dalam hal ini ada mengatakan termasuk perbuatan berakhlak dan ada mengatakan tidak termasuk akhlak. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 286 yang berbunyi: Artinya : Ya Tuhan kami, janganlah tuhan menyiksa kami, apabila kami terlupa atau tersalah.Ya tuhan kami, jangan engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. (Q.S. Al-Baqarah: 286)

2. Sejarah Penyelidikan Ilmu Akhlak Akhlak pada Zaman Yunani


2

Masalah etika dan moral telah memperoleh perhatian yang besar pada masa peradapan gerik Yunani kurang lebih 500 SM. Pada saat itu telah dikenal ahli-ahli filsafat moral seperti Solon, Clion, Aristoteles, Pittacus dan lain-lain.

Dengan filsafat moral mereka bertujuan untuk memperoleh kebahagiaan baik yang abadi maupun yang sementara. Hal yang dapat dilihat misalnya pendapat Socrates (469-399 SM) yang mengatakan bahwa kebahagiaan itu tidak berupa benda melainkan bersifat kerohanian.

Kemudian Plato (427-347 SM) juga berpendapat bahwa ilmu pengetahuan diperlukan untuk memperoleh kesenangan, tetapi moral lebih penting dari pada ilmu pengetahuan.

Kalimat-kalimat lainnya yang mencerminkan nilai-nilai moral pada saat itu, antara lain: a. b. c. Kenalilah dirimu. Jangan berlebih-lebihan. Janganlah suatu perbuatan menggelisahkan, karenanya aturlah keinginan dan pikiranmu, sehingga jiwamu menjadi tentram dan lain-lain.

Menurut catatan sejarah orang Yunani, yang pertama kali membahas soal moral secara khusus adalah Aristoteles (394-322 SM) dalam bukunya Ethica Nicomachea yang ditulis untuk anak perempuannya Nicomachea yang nakal. Isi buku ini kemudian menjadi pembicaraan akhlak dikalangan masyarakat Yunani. Ethica pada mulanya berarti peraturan, kemudian menjadi nama cabang ilmu pengetahuan. Akhlak pada Abad Pertengahan

Kehidupan masyarakat Eropa abad pertengahan dikuasai oleh gereja. Pada waktu itu, gereja berusaha memerangi filsafat yunani serta menentang penyiaran ilmu dan kebudayaan kuno. Gereja berkeyakinan bahwa kenyataan hakikat telah diterima dari wahyu. Dan tidak ada gunanya lagi menggunakan akal dan fikiran dalam penelitian, mempergunakan filsafat boleh saja asalkan tidak bertentangan dengan doktrin yang dikeluarkan oleh gereja.

Sekalipun demikian sebagian dari kalangan gereja mempergunakan pemikiran Plato, Aristoteles dan Stoics untuk memperkuat ajaran gereja dan mencocokkannya dengan akal. Adapun filsafat yang menentang agama nasrani dibuang jauh-jauh.

Dengan demikian ajaran yang lahir di Eropa pada abad pertengahan adalah ajaran akhlak yang dibangun dari perpaduan antara ajaran Yunani dan ajaran Nasrani. Diantara mereka yang termasyhur adalah Abelard (1079-1142) seorang ahli filsafat Perancis dan Thomas Aquinas (1226-1274) seorang ahli filsafat agama berkebangsaan Italia.

Bangsa Arab pada zaman jahiliyah tidak menonjol dalam segi filsafat sebagaimana bangsa Yunani (Zeno, Plato dan Aristoteles). Hal ini karena penyelidikan terhadap ilmu terjadi hanya pada bangsa yang sudah maju pengetahuannya. Sekalipun demikian, bangsa Arab pada waktu itu mempunyai ahli-ahli hikmah dan syair-syair yang hikmah dan syairnya yang mengandung akhlak, seperti Luqman Al-Hakim, Aksam bin Shaifi, Zubair bin Abi Sulma (530-627) dan Hatim At-Thai.

Dapat dipahami bahwa bangsa Arab sebelum islam telah memiliki kadar pemikiran yang minimal pada bidang akhlak, pengetahuan tentang berbagai macam keutamaan dan mengerjakannya, walaupun nilai syair-syairnya belum sebanding dengan kata-kata hikmah yang diucapkan oleh filsuf-filsuf yunani kuno, dalam syariat-syariat mereka tersebut sudah ada muatan-muatan akhlak. Akhlak pada Bangsa Arab sebelum Islam

Bangsa Arab pada zaman jahiliah tidak mempunyai ahli-ahli Filsafat yang mengajak kepada aliran atau faham tertentu sebagaimana Yunani, seperti Epicurus, Zeno, Plato dan Aristoteles.

Hal itu terjadi karenapenyelidikan ilmu tidak terjadi, kecuali di Negara yang sudah maju. Waktu itu bangsa Arab hanya memiliki ahli-ahli hikmat dan sebagian ahli syair. Yang memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, mendorong menuju

keutamaandan menjauhkan diri dari kerendahan yang terkenal pada zaman mereka.
4

Akhlak pada Bangsa Arab setelah Islam

Islam datang mengajak manusia pada kepercayaan bahwa Allah SWT adalah sumber segala sesuatu diseluruh alam. Semua yang ada di dunia berasal dari-Nya. Dengan kekuasaan-Nya pula alam ini dapat berjalan secara beraturan. Sebagaimana halnya Allah SWT telah menetapkan beberapa aturan yang harus diikuti manusia, seperti kebenaran dan keadilan, juga menetapkan keburukan yang harus dihindari manusia. Seperti dusta dan kedzaliman. Allah berfirman:

sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kaum kerabat dan dia melarang melakukan perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan, dia memberi kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran (Q.S. An-Nahl: 90)

barang siapa mengerjakan kebajikan baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (Q.S. An-Nahl: 97)

Dalam Islam tidak diragukan lagi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah guru terbesar dalam bidang akhlak, bahkan ke-terusannya ke muka bumi ini adalah untuk menyempurnakan akhlak. Akan tetapi tokoh yang pertama kali menggagas atau menulis ilmu akhlak dalam islam masih terus diperbincangkan. Tokoh yang pertama kali menggagas ilmu akhlak adalah Ali Bin Abi Thalib.

Akhlak pada Abad Modern

Pada pertengahan abad ke-15 Eropa mulai bangkit. Para ilmuan mulai menghidup suburkan filsafat Yunani kuno. Akal mulai dari dibangunkan dari tempat tidurnya, sebagian ajaran klasik dikritik sehingga tegaklah kemerdekaan akal. Diantaranya ajaran yang dikritik sekaligus diselidiki adalah ajaran akhlak yang dibawa bangsa Yunani dan bangsa-bangsa setelahnya.

Diantara sekian banyak tokoh barat yang memperhatikan kajian akhlak adalah dekorates (1596-1650) filsuf dari Perancis, ia meletakkan dasar-dasar baru bagi ilmu pengetahuan dan filsafat, diantaranya:

a. Tidak menerima sesuatu yang belum diperiksa oleh akal dan sebelum dipastikan nyata. b. Penyelidikan terhadap sesuatu harus dimulai dari yang terkecil dan yang termudah lalu mengarah pada yang lebih kompleks. c. Tidak boleh menetapkan kebenaran sebelum diuji terlebih dahulu. Thomas Hill Green (1836-1882) dan Herbert Spencer (1820-1903) mengaitkan paham evolusi dengan akhlak. Diantara pemikiran akhlak Green adalah:

a. Manusia dapat memahami sesuatu keadaan yang lebih baik dan dapat menghendaki sebab ia adalah pelaku moral. b. Manusia dapat melakukan realisi diri karena ia adalah subjek yang sadar diri, suatu reproduksi dari kesadaran diri yang abadi. c. Cita-cita keadaan yang lebih baik adalah yang ideal, tujuan yang terakhir. d. Ide menjadi pelaku bermoral dalam kehidupan manusia. Kebaikan moral adalah yang memuaskan hasrat pelaku moral. Kebaikan yang ideal sesungguhnya adalah suatu tujuan yang memiliki nilai yang mutlak. Ideal dari kehidupan yang sempurna adalah kesempurnaan manusia dari alam, ditentukan oleh kehendak yang selaras, kehendak yang mendorong tindakan yang utama.

Spinoza (1632-1677), Hegel (1770-1831), dan Kant (1724-1831) adalah ilmuan barat yang mempunyai pengaruh besar dalam bidang akhlak, Eticha yang merupakan karya utama Spinoza ditulis dengan maksud untuk membantu mengurangi penderitaan orang-orangyang menganut suatu keyakinan.

B. Aliran Akhlak Dalam Ilmu Akhlak

Membicarakan baik dan buruk pada perbuatan manusia maka penentuan dan karakternya baik dan buruk perbuatan manusia dapat diukur melalui fitrah manusia. 4 Menurut Poedja Wijatna berhubungan dengan perkembangan pemikiran manusia dengan pandangan filsafat tentang manusia (antropologi metafisika) dan ini tergantung pula dari metafisika pada umumnya. Dan dapat disimpulkan bahwa diantara aliran-aliran filsafat yang mempengaruhi dalam penentuan baik dan buruk diantaranya :

1.

Baik Buruk Menurut Aliran Adat Istiadat ( Sosialisme ) Menurut aliran ini ditentukan berdasarkan adat istiadat yang berlaku dan dipegang teguh

oleh masyarakat. Didalam masyarakat kita jumpai adat istiadat yang berkenaan dengan cara berpakaian, makan, minum, bercakap-cakap dan sebagainya. Orang yang mengikuti cara-cara yang demikian itulah yang dianggap orang yang baik, dan orang yang menyalahinya adalah orang yang buruk. Poedja Wijatna mengatakan bahwa adat istiadat pada hakikatnya produk budaya manusia yang sifatnya nisbi dan relative. Keberadaan paham adat istiadat ini menunjukkan eksistensi dan pesan moral dalam masyarakat. Berpegang adat istiadat itu, meskipun tidak benar ada juga faedahnya, sebab ada juga orangorang yang tidak mau melanggar adat istiadat yang baik, dan banyak pula orangorang yang tidak mau mengikutinya adat istiadat dari lingkungannya. 2. Baik Buruk Menurut Aliran Hedoisme Aliran Hedoisme adalah aliran filsafat yang terhitung tua, karena berakar pada pemikiran filsafat Yunani. Menurut paham ini banyak yang disebut perbuatan yang baik adalah perbuatan yang banyak mendatangkan kelezatan, kenikmatan, dan kepuasan nafsu biologis. Aliran ini tidak mengatakan bahwa semua perbuatan mengandung kelezatan, melainkan adapula yang mendatangkan kepedihan, dan apabila ia disuruh memilih manakah perbuatan yang harus
7

dilakukan, maka yang dilakukan adalah yang mendatangkan kelezatan.

Maka apabila terjadi

keraguan dalam memilih sesuatu perbuatannya, harus diperhitungkan banyak sedikitnya kelezatan dan kepedihannya dan sesuatu itu baik apabila diri seseorang yang melakukan perbuatan mengarah kepada tujuan. 3. Baik dan Buruk Menurut Paham Intuisisme ( Humanisme ) Intuisi adalah merupakan kekuatan batin yang dapat menentukan sesuatu berbagai baim dan buruk dengan sekilas tanpa melihat buah / akibatnya. 8 Aliran Intuitionesme berpendirian bahwa setiap manusia mempunyai kekuatan naluri batiniah yang dapat membedakan sesuatu itu baik atau buruk dengan hanya selintas pandang. Jadi sumber pengetahuan tentang suatu perbuatan mana yang baik atau mana yang buruk adalah kekuatan naluri.

4. Baik Buruk Menurut Paham Utilitarianisme Maksud dan paham ini adalah untuk sesame manusia / semua makhluk yang memiliki perasaan. Dalam abad sekarang ini kemajuan dibidang teknik cukup meningkat, dan kegunaanlah yang menentukan segala-galanya. Namun demikian paham ini terkadang cenderung akstrem dan melihat kegunaan hanya dari sudut pandang materialistic kegunaan dalam arti bermanfaat yang tidak hanya berhubungan dengan materi melainkan juga dengan yang bersifat rohani bisa diterima. 5. Baik Buruk Menurut Paham Vitalisme Menurut pahamm ini yang baik ialah yang mencerminkan kekuatan dalam hidup manusia. Paham ini pernah dipraktekkan pada penguasa di zaman feodalisme terhadap kaum yang lemah dan bodoh. Dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki ia mengembangkan pola hidup feodalisme, kolonialisme, dictator dan tiranik. Perbuatan dan ketetapan yang dikeluarkan menjadi pegangan bagi masyarakat, mengingat orang yang bodoh dan lemah selalu mengharapkan pertolongan dan bantuannya. 6. Baik Buruk Menurut Paham Religiosme Menurut paham ini dianggap baik adalah perbuatan yang sesuai dengan kehendak Tuhan, sedangkan perbuatan buruk adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Dalam paham ini keyakinan feologis, yakni keimanan kepada Tuhan sangat memegang peranan penting, karena tidak mungkin orang mau berbuat sesuai dengan kehendak Tuhan, jika yang bersangkutan
8

tidak beriman kepadanya. Menurut Poedjawitna aliran ini dianggap paling baik dalam praktek, namun terdapat pula keberatan terhadap aliran ini, yaitu karena ketidakumuman dari ukuran baik dan buruk yang digunakannya. Diketahui bahwa didunia ini terdapat bermacam-macam agama, dan masing-masing agama menentukan baik buruk menurut ukurannya masin-gmasing. Agama Hindu, Budha, yahudi. Kristen, dan Islam, misalnya masingmasing memiliki pandangan dan tolak ukur tentang baik dan buruk yang satu dan lainnya berbeda-beda. 7. Baik Buruk Menurut Paham Evolusi ( Evolution ) Mengikuti paham ini mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini mengalami evolusi yaitu berkembang dari apa adanya menuju kepada kesempurnaannya. Paham ini pertama muncul dibawah oleh seorang ahli pengetahuan bernama LAMARK. Dia berpendapat bahwa jenis binatang itu berubah satu sama lainnya. Pendapat ini bukan hanya berlaku pada bendabenda yang tampak, seperti binatang, manusia, dan tumbuh-tumbuhan. Tetapi juga berlaku pada benda yang tak dapat dilihat / diraba oleh indra, seperti akhlak dan moral.

Ada 2 faktor pergantian : Lingkungan mengadakan penyesuaian dirinya menurut keadaan Warisan bahwa sifat-sifat tetap pada pokok, sesuai dengan pertengahan berpindah pada cabang-cabangnya. Paham ini disebut paham pertumbuhan dan kepeningkatan ( Evolution ).

8. Baik Buruk Menurut Aliran Theologis Aliran ini berpendapat bahwa yang menjadi ukuran baik dan buruknya perbuatan manusia, adalah didasarkan atas ajaran Tuhan, apakah perbuatan itu diperintahkan / dilarang oleh-Nya. Dengan perkataan theologies saja nampakanya masih samara karena didunia ini terdapat bermacam-macam agama yang mempunyai kitab suci sendiri-sendiri yang antara satu dengan yang lain tidak sama. Sebagai jalan keluar dari kesamaran itu ialah dengan mengkaitkan etika, theologies ini dengan jelas kepada agama, missal etika theologies menurut Kristen, ertika theologies menurut Yahudi dan Theologis menurut Islam. 9. Baik dan Buruk Menurut Ajaran Islam Ajaran Islam adalah ajaran yang bersumberkan wahyu Allah SWT. Al Quran yang dalam penjabarannya dilakukan oleh hadits Nabi Muhammad SAW. Menurut ajaran Islam
9

penentuan baik dan buruk harus didasarkan pada petunjuk Al Quran dan Al Hadits. Jika tidak memperhatikan Al Quran dan Al Hadits dapat dijumpai berbagai istilah yang mengacu pada yang baik dan adapula yang mengacu pada yang buruk. Missal Alhasanah dikemukakan oleh Al Eqghib al asfahani adalah suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang disukai atau dipandang baik. Lawan dari alhasanah adalah al sayyiah. Yang termasuk al hasanah missal keuntungan kelapangan rezeki dan kemenangan. Misalnya kita jumpai pada ayat yang artinya :"Ajaran manusia menuju Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik." Adapun kata Al birr digunakan untuk menunjukkan pada upaya memperluas / memperbanyak melakukan perbuatan yang baik. Jika kata tersebut digunakan untuk sifat Allah, maka maksudnya adalah bahwa Allah memberikan balasan pahala yang besar, dan jika digunakan untuk manusia, maka yang dimaksud adalah ketaatannya.

10

BAB III PENUTUP

Kesimpulan Perbuatan samar-samar, tengah-tengah, mutasyabinat, seperti: lupa, tersalah, dipaksa, perbuatan diwaktu tidur, dalam hal ini ada mengatakan termasuk perbuatan berakhlak dan ada mengatakan tidak termasuk akhlak Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 286 yang berbunyi: Artinya : Ya Tuhan kami, janganlah tuhan menyiksa kami, apabila kami terlupa atau tersalah.Ya tuhan kami, jangan engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. (Q.S. Al-Baqarah: 286)

Saran Dalam pembahasan ini penulis belum begitu spesifik membahas tentang akhlaq sebagai ilmu, maka dari itu disaranpan pada penulis yang lain agar lebih bisa membahasnya secara detail terkait dengan hal tersebut.

11

Daftar Pustaka AKHLAK TASSAWUF II Pencarian Marifah Bagi Sufi Kontemporer, Drs H. Mahjuddin, M.Pd.I KALAM MULIA, Jakarta Mei 2010 Pengantar Studi Akhlak, Drs. Zahruddin AR, M.M.Si & Hasanuddin Sinaga, S. Ag., M.A., PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, Maret 2004 Akhlak Tassawuf, Dr. H. Abd Syukur, M. Ag, Dr. H. Hamzah Tualeka Zn., M. Ag, Dra. Muzayanah, M. Fil. I. , Dra. Zumrotul Mukaffah, M. Pd. I. , H.M. Yazid, S.Ag. M.Si. , IAIN SA Press Surabaya, Agustus 2012 AKHLAK TASSAWUF, Drs. H.A. Mustofa, CV PUSTAKA SETIA Bandung, September 1999 http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/2203779-obyek-akhlak/#ixzz2PCmZtLrU -

12