BAB I PENDAHULUAN

Kata “dermatitis” berarti adanya inflamasi pada kulit. Ekzema merupakan bentuk khusus dari dermatitis. Beberapa ahli menggunakan kata ekzema untuk menjelaskan inflamasi yang dicetuskan dari dalam pada kulit. Prevalensi dari semua bentuk ekzema adalah 4,66%, termasuk dermatitis atopik 0,69%, eczema numular 0,17%, dan dermatitis seboroik 2,32% yang menyerang 2% hingga 5% dari penduduk. Dermatitis seboroik (D.S.) atau Seborrheic Eczema merupakan penyakit yang umum, kronik, dan merupakan inflamasi superfisial dari kulit, ditandai oleh pruritus, berminyak, bercak merah dengan berbagai ukuran dan bentuk yang menutup daerah inflamasi pada kulit kepala, muka, dan telinga. Daerah lain yang jarang terkena, seperti daerah presternal dada. Beberapa tahun ini telah didapatkan data bahwa sekurang – kurangnya 50% pasien HIV terkena dematitis seboroik. Ketombe berhubungan juga dermatitis seboroik, tetapi tidak separah dermatitis seboroik. Ada juga yang menganggap dermatitis seboroik sama dengan ketombe.

1

5% populasi. mempengaruhi minimal 2-5 % dari populasi. DS lebih sering terjadi pada pria daripada wanita. 2. dari perbandingan usia dan jenis kelamin. paralisis fasial. Juga beberapa obat–obatan neuroleptik mungkin merupakan faktor terjadinya kejadian ini tetapi masih belum dibuktikan. Dimana 46.8 % dari total sampel mengalami dermatitis seboroik. dan 3-5% terjadi pada dewasa muda. Kondisi kronik lebih sering terjadi dan sering lebih parah pada musim dingin yang lembab dibandingkan pada musim panas. 2 . Kebanyakan pasien (72%) terserang minimal atau dermatitis seboroik ringan. pityriasis versicolor. Sedangkan di Amerika Serikat prevalensi dari Dermatitis seboroik adalah sekitar 1-3% dari jumlah populasi umum. Pada tahun 1971-1974 National Health and Nutrition Examination Survey meneliti sampel antara 1 sampai dengan usia 74 tahun.64 % laki-laki dan 55.116 anak–anak. Prevalensinya 40-80 % pada pasien dengan acquired immunodeficiency syndrome. didapatkan prevalensi dermatitis seboroik menyerang 10% anak laki–laki dan 9. Insiden memuncak pada umur 18-40 tahun. misalnya. Dermatitis seboroik dapat menyerang bayi pada tiga bulan pertama kehidupan dan pada dewasa pada umur 30 hingga 60 tahun.56 % wanita.5% pada anak perempuan. Prevalensi semakin berkurang pada tahun berikutnya dan sedikit menurun pada umur lebih dari 4 tahun. depresi dan yang menerima terapi psoralen ditambah ultraviolet A (PUVA). tetapi penyakit ini diyakini lebih banyak ditemukan daripada psoriasis. dapat terlihat pada hampir 35% pasien terdapat peningkatan insiden pada penyakit Parkinson. Pada penderita AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). cedera spinal. Dermatitis seboroik menyerang 2% .BAB II EPIDEMIOLOGI Tidak ada data pasti yang tersedia pada insiden dan prevalensi. Berdasarkan pada suatu survey pada 1. Didapatkan 70 % mengalami dermatitis seboroik pada rentang umur 3 bulan sampai dengan 1 tahun.

Ketombe berhubungan juga dermatitis seboroik. seperti daerah presternal dada. Istilah dermatitis seboroik (DS) dipakai untuk segolongan kelainan kulit yang didasari oleh faktor konstitusi dan bertempat predileksi di tempat-tempat seboroik. termasuk dermatitis atopik 0. Beberapa ahli menggunakan kata ekzema untuk menjelaskan inflamasi yang dicetuskan dari dalam pada kulit. Daerah lain yang jarang terkena.69%.66%. Ada juga yang menganggap dermatitis seboroik sama dengan ketombe.32% yang menyerang 2% hingga 5% dari penduduk. Hanya didapati aktivitas kelenjar sebasea berlebihan. kronik dan superfisial. 3. Ada beberapa kemungkinan penyebab terjadinya dermatitis seboroik :  Pengaruh hormon 3 . bercak merah dengan berbagai ukuran dan bentuk yang menutup daerah inflamasi pada kulit kepala. DEFINISI Kata „dermatitis‟ berarti adanya inflamasi pada kulit. muka. dan telinga. ekzema numular 0. dan dermatitis seboroik 2.1. terutama pada kulit kepala. ditandai oleh pruritus. ETIOLOGI Penyebabnya belum diketahui pasti. dan merupakan inflamasi superfisial dari kulit. Dermatitis seboroika adalah peradangan kulit pada daerah yang banyak mengandung kelenjar sebasea. Dermatitis seboroik adalah peradangan kulit yang sering terdapat pada daerah tubuh berambut. berminyak. alis mata dan muka.BAB III ISI 3. Beberapa tahun ini telah didapatkan data bahwa sekurang-kurangnya 50% pasien HIV terkena dematitis seboroik.2. kronik. Dermatitis seboroik (DS) atau Seborrheic Eczema merupakan penyakit yang umum. Ekzema merupakan bentuk khusus dari dermatitis. Prevalensi dari semua bentuk ekzema adalah 4.17%. tetapi tidak separah dermatitis seboroik.

dan kadar squelen. Pertumbuhan P. Sering berasosiasi dengan meningginya suseptibilitas terhadap infeksi piogenik. Faktor-faktor lain yang diduga sebagai penyebab penyakit ini. Pada bayi dijumpai hormon transplasenta meninggi beberapa bulan setelah lahir dan penyakitnya akan membaik bila kadar hormon ini menurun. Sehingga pengobatan ketokonazole 2 % akan menurunkan jumlah jamur ini dan menyembuhkan penyakit.3. 4 . jumlah kolesterol. Seborrhea merupakan faktor predisposisi terjadinya dermatitis seboroik. meskipun peningkatan produksi sebum tidak selalu dapat di deteksi pada pasien ini. asam lemak bebas dan wax ester menurun. PATOGENESIS Penyakit ini berhubungan dengan kulit yang berminyak (seborrhea).Dermatitis seboroik dijumpai pada bayi dan pada usia pubertas. ovale yang berlebihan dapat mengakibatkan reaksi inflamasi. trigliserida. banyak pada penderita dermatitis seboroik. jamur lipofilik. baik akibat produk metabolitnya yang masuk ke dalam epidermis maupun karena sel jamur itu sendiri melalui aktivasi sel limfosit T dan sel Langerhans.    Lingkungan Hormon Neurologik 3. parafin meningkat. Kelenjar sebasea tersebut aktif pada bayi baru lahir.  Perbandingan komposisi lipid dikulit berubah.  Jamur Pityrosporum ovale Penelitian lain menunjukan bahwa pityrosporum ovale (Malassezia ovale). tetapi terbukti mikroorganisme inilah yang menyebabkan DS. antara lain :  Iklim  Genetik Merupakan kelainan konstitusi berupa stasus seboroik (seborrhoeic state) yang rupanya diturunkan. diperkirakan juga dapat mempengaruhi onset dan derajat penyakit. namun dermatitis seboroik bukanlah penyakit yang terjadi pada kelenjar sebasea.

Meskipun kematangan kelenjar sebasea rupanya merupakan faktor predisposisi timbulnya dermatitis seboroik. jika terjadi puncak aktivitas kelenjar sebasea pada masa awal pubertas. tetapi tidak ada hubungan langsung secara kuantitatif antara keaktifan kelenjar tersebut dengan sukseptibilitas untuk memperoleh dermatitis seboroik. Tingginya insiden dermatitis seboroik pada bayi baru lahir setara dengan ukuran dan aktivitas kelenjar sebasea pada usia tersebut. Penelitian di Rosenberg telah menunjukkan bahwa 2% ketokonazole krim dapat mengurangi jumlah dari organisme yang terdapat pada lesi di kulit kepala atau kulit yang berminyak. Dua penyakit yang memiliki tempat predileksi yang sama di daerah ini yaitu dermatitis seboroik dan acne. Dermatitis seboroik pada bayi terjadi pada umur bulan-bulan pertama. dermatitis seboroik mungkin terjadi pada waktu kemudian. Akan tetapi. dan kadang-kadang pada umur tua. hal tersebut normal ditemukan pada bulan pertama kehidupan. Banyak percobaan telah dilakukan untuk menghubungkan penyakit ini dengan infeksi oleh bakteri atau Pityrosporum ovale yang merupakan flora normal kulit manusia. Kondisi ini dikenal sebagai dermatitis seboroik pada bayi. terdapat hubungan yang erat antara dermatitis seboroik dengan peningkatan produksi sebum. baik akibat produk metabolitnya yang masuk ke dalam epidermis maupun karena sel jamur itu sendiri. ovale dapat terjadi pada kulit kepala yang tidak 5 . Pertumbuhan P. Penjelasan ini dimana jamur yang menjadi penyebabnya dapat dilakukan pencegahannya. ovale yang berlebihan dapat mengakibatkan reaksi inflamasi. pada saat yang bersamaan juga dapat menghilangkan gejala dermatitis seboroik. kulit kepala dan batang tubuh bagian atas yang sangat kaya akan kelenjar sebasea. penelitian lain menunjukkan bahwa P. Pada dewasa sebaliknya. Tempat terjadinya dermatitis seboroik memiliki kecenderungan pada daerah wajah. Pada masa kecil.kemudian menjadi tidak aktif selama 9-12 tahun akibat stimulasi hormon androgen dari ibu berhenti. Hal ini menunjukkan bahwa bayi yang baru lahir memiliki kelenjar sebasea dengan tingkat sekresi sebum yang tinggi. tidak ada hubungan yang erat antara peningkatan produksi sebum dengan dermatitis seboroik. berbeda dengan kondisi dermatitis seboroik yang terjadi pada masa remaja dan dewasa. kemudian jarang pada usia sebelum akil balik dan insidensinya mencapai puncaknya pada umur 18 – 40 tahun. melalui aktivasi sellimfosit T dan sel Langerhans. telinga.

hiperplasia bentuk psoriasis ringan. Pengobatan dari parkinson dengan levodopa mengurangi ekskresi sebum sejak seborrhea pertama kali ditemukan. tetapi tidak terbukti bahwa mikroorganisme inilah yang menyebabkan dermatitis seboroik. timbulnya DS dapat disebabkan oleh faktor kelelahan. Dermatitis seboroik dapat diakibatkan oleh proliferasi epidermis yang meningkat seperti psoariasis. 6 .menunjukkan gejala klinis dari penyakit ini. tersebar superficial infiltrat perivascular dari limfosit dan histiosit. Pinkus’s “spurting papilla” hampir sering terlihat sebagai ciri khas dari dermatitis seboroik sama seperti psoariasis. 3. tetapi abses Munro tidak ada. Penyumbatan folikel oleh karena orthokeratosis dan parakeratosis dan kerak-kerak yang mengandung neutrofil. atau defisiensi imun. emosional. Stress emosional dapat mempengaruhi penyakit ini juga. Pada dermatitis seboroik akut dan subakut. yang berhubungan dengan seborrhoea.4. Histopatologis Gambaran histologi bermacam-macam sesuai dengan stadium penyakitnya. Status seboroik sering berasosiasi dengan meningginya sukseptibilitas terhadap infeksi piogenik. tetapi tidak ada efeknya pada kecepatan ekskresi sebum yang normal. Pada dermatitis seboroik yang kronis terdapat dilatasi pembuluh darah kapiler dan vena pada plexus superficial. salah satunya haloperidol. Dermatitis seboroik dapat juga menjadi komplikasi dari Parkinsonisme. Pada orang yang telah mempunyai faktor predisposisi. Obat neuroleptik yang digunakan untuk menginduksi parkinsonsnisme. stress. Kondisi ini dapat diperburuk dengan meningkatnya keringat. dari spongiosis yang ringan sampai yang berat. Hal ini dapat menerangkan mengapa terapi dengan sitostatik dapat memperbaikinya. infeksi. dapat juga menginduksi terjadinya dermatitis seboroik.

telinga. alis). konjungtivitis. umbilicus. badan (petaloid.3. dan dibawah buah dada. dahi. intergluteal. daerah fleksura (aksilla. infra mamma. PREDILEKSI Pada daerah berambut karena banyak kelenjar sebasea. yaitu cradle cap. glabrous (daerah lipatan dan tengkuk) dan generalisata (penyakit Leiner) yang terbagi menjadi familial dan non-familial. pada daerah lipatan/sulcus nasolabial. eritroderma eksoliatif). pitiriasiform) dan generalisata (eritroderma. retroaurikula. area jenggot.  Orang dewasa Berdasarkan daerah lesinya DS terjadi pada kulit kepala (pitiriasis sika dan inflamasi). wajah (blefaritis marginal. paha).5. ialah :  Bayi Ada 3 bentuk. 7 .

6.1. sulkus nasolabialis.6. Pada daerah dahi tersebut. Bentuk yang berminyak menjadi pitiriasis steatoides yang dapat disertai eritema dan krusta-krusta yang tebal. Menurut Usia  Pada orang remaja dan dewasa Kelainan kulit terdiri atas eritema dan skuama yang berminyak dan agak kekuningan. DISTRIBUSI Distribusinya biasanya bilateral dan simetris berupa bercak ataupun plakat dengan batas yang tidak tegas. dengan batas yang tak jelas dan dasar berwarna merah (eritem). batas agak kurang tegas. Ruamnya berbeda-beda. Sering meluas ke dahi. KLASIFIKASI 3. Gejala klinik khas pada DS ialah skuama yang berminyak dan kekuningan dan berlokasi di tempat-tempat seboroik. daerah prestenal. hanya didapati skuama pada kulit kepala. berwarna kekuningan. 8 . Ruamnya berupa skuama yang berminyak. eritem ringan dan sedang.3. pangkal hidung. Rambut pada tempat tersebut mempunyai kecenderungan rontok. sering ditemukan pada kulit yang berminyak. Blefaritis ringan sering terjadi. 3. Dermatitis seboroik berat dapat mengenai alis mata. dandruff). skuama berminyak dan kekuningan. Bentuk yang berat ditandai dengan adanya bercak-bercak yang berskuama dan berminyak disertai eksudasi dan krusta tebal. glabela. kening. mulai dari bagian verteks dan frontal.5.Skuama berwarna putih dan merata tanpa eritem. mulai sebagai bercak kecil yang kemudian mengenai seluruh kulit kepala dengan skuama-skuama yang halus dan kasar menjadi pitiriasis sika (ketombe. telinga post-aurikular dan leher. Pada dermatitis seboroik ringan. DS yang ringan hanya mengenai kulit kepala berupa skuama-skuama yang halus. batasnya sering cembung. belakang telinga. dan daerah di antara skapula.

Jika meluas dapat menjadi eritroderma. Pada bayi. disertai bercak-bercak skuama kekuningan. Bila lebih berkembang lagi. 9 .6. hidung.2. Pada bentuk yang lebih berat lagi seluruh kepala tertutup oleh krusta-krusta yang kotor dan berbau tidak sedap. sekitar pusar (umbilikus). DS dapat bersama-sama dengan akne yang berat. kulit dibawahnya eritematosa dan gatal. Kadang-kadang dijumpai krusta yang disebut Pityriasis Oleasa (pityriasis steatoides). yakni pinggir kelopak mata merahdisertai skuama-skuama halus. dan daerah inguinal. pada bayi disebut penyakit Leiner.  Pada bayi Ada tiga bentuk khas yang terjadi.Pada daerah supraorbital skuama-skuama halus dapat terlihat dialis mata. atau keduanya (misalnya sampo Sebulex atau sampo T-gel). Bagian frontal dan parietal berminyak dan sering menjadi krusta yang menebal tanpa eritema. daerah anogenital. dan dahi kelainan dapat berupa papul-papul. 3. Kadang-kadang skuamanya kering dan berlapis-lapis dan sering lepas sendiri disebut pitiriasis sika (ketombe). yaitu secara klinis. skuama-skuama yang kekuningan dan kumpulan debris-debris epitel yang leket pada kulit kepala disebut cradie cap. lesinya dapat mengenai daerah ketiak. cradle cap muncul pada minggu ketiga sampai minggu keempat dua gambarannya berupa eritema dengan skuama seperti lilin pada kulit kepala. dapat terjadi pula blefaritis. dijumpai skuama yang berminyak dengan warna kekuningan sehingga rambut saling melengket. asam salisil. lipatan gluteus. Pada daerah pipi. infra mamma. Menurut Daerah Lesi  Seboroik Kepala Pada daerah berambut. Skuama dengan mudah dapat dihilangkan dengan sering menggunakan sampo yang mengandung sulfur.

Pada daerah badan. sulkus nasolabial. bisa terjadi blefaritis. infra mamma. ketiak. Bila didapati di daerah berambut.Bisa juga jenis seboroik ini menyebabkan rambut rontok sehingga terjadi alopesia dan rasa gatal. Bila sampai ke palpebra. Bila meluas. lesinya dapat sampai ke dahi. Dijumpai ruam berbentuk makula eritema yang pada permukaanya ada skuama berminyak kekuning-kuningan. Dermatitis seboroik yang dijumpai pada kepala bayi disebut topi buaian (Cradle Cap).  Seboroik Badan dan Sela-sela Jenis ini mengenai daerah presternal. Perluasan bisa sampai ke belakang telinga (retroaurikularis).  Seboroik Muka Pada daerah mulut. Sering pada wanita. krural (lipatan paha. perineum. umbilikus. yang diatasnya dijumpai skuama berminyak kekuning-kuningan. dll. seperti dagu dan atas bibir. interskapula. palpebra. dapat terjadi folikulitis. disebut korona seboroik. nates). lesinya bisa 10 . Terdapat makula eritem. Hal ini sering dijumpai pada laki-laki yang sering mencukur janggut dan kumisnya. Seboroik muka di daerah jenggot disebut sikosis barbe. dagu.

DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis.7. dijumpai pembuluh darah melebar dan sebukan perivaskuler.7. spongiosis ringan hingga sedang. yang membedakan ialah adanya plak yang mengalami penebalan pada liken simpleks.2. Anamnesis Pada berbagai gejala dari gambaran klinis yang ditemukan pada dermatitis seboroik juga dapat dijumpai pada dermatitis atopik atau psoriasis. 3. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan yang dapat dilakukan pada pasien dermatitis seboroik adalah pemeriksaan histopatologi walaupun gambarannya kadang juga ditemukan pada penyakit lain.7.7. perlu ketelitian untuk membedakan DS dengan penyakit lain sebagai diferensial diagnosis. kadang disamakan dengan DS. epidermisnya ekonthoik. dan pemeriksaan penunjang. terdapat infiltrat limfosit dan histiosit dalam jumlah sedikit pada perivaskuler superfisial. dijumpai sebukan ringan limfohistiosit perivaskular. sehingga diagnosis sangat sulit untuk ditegakkan oleh karena baik gambaran klinis maupun gambaran histologi dapat serupa. Pada dermis bagian atas. serta adanya skuama dan krusta yang mengandung netrofil pada ostium folikuler. 3. kadangkadang bisa timbul fisura sehingga menyebabkan infeksi sekunder. 3. ortokeratosis dan parakeratosis yang menyumbat folikuler. Pada korium. Psoriasis misalnya yang juga dapat ditemukan pada kulit kepala. Di daerah intertrigo. pemeriksaan fisik.1. Pada DS akut dan subakut. Gambaran ini merupakan gambaran yang khas. 11 .3. Gambaran histopatologi tergantung daris stadium penyakit. Pemeriksaan Fisik Oleh sebab itu.berbentuk seperti lingkaran dengan penyembuhan sentral. 3. Pada bagian epidermis dijumpai parakeratosis dan akantosis. seperti pada dermatitis atopik atau psoriasis. hiperplasia psoriasiform ringan.

terjadi dilatasi kapiler dan vena pada pleksus superfisial selain dari gambaran yang telah disebutkan di atas yang hampir sama dengan gambaran psoriasis.skuamanya halus dan tidak berminyak. Dermatitis Atopik adalah keadaan peradangan kulit kronis dan residif. trigliserida dan parafin disertai penurunan kadar squalene. Pemeriksaan serologis untuk menyingkirkan dermatitis atopik. Tinea Tinea kapitis. eritem lebih menonjol di pinggir dan pinggirnya lebih aktif dibandingkan tengahnya. umur dan ras. kadang-kadang dijumpai keroin. putih seperti mutiara dan tak berminyak disertai tanda tetesan lilin dan auspitz. 3. Selain itu ada gejala yang khusus untuk psoriasis. 3. Biasanya terjadi pada bayi atau 12 . Dijumpai skuama yang lebih tebal. dan tinea kapitis pada anak-anak. siku dan punggung) dan kulit kepala. Pitiriasis Rosea Distribusi kelainan kulit simetris dan terbatas pada tubuh dan bagian proksimal anggota badan. 4. asam lemak bebas dan wax ester. 2. Pada tinea kapitis dan tinea kruris. Pemeriksaan komposisi lemak pada permukaan kulit dimana memiliki karakteristik yang khas yakni menigkatnya kadar kolesterol. disertai gatal. Diagnosis banding dermatitis seboroik.8. Kondisi yang membingungkan atau mirip dengan dermatitis seboroik adalah psoriasis.Pada DS kronik. Diagnosis banding dapat ditegakkan berdasarkan keluhan dan gejala klinis. Dermatitis Atopik Bentuk Infantil dapat menyerupai dermatitis seboroik muka. Sumbu panjang lesi sejajar dengan gariskulit. antara lain sebagai berikut: 1. dijumpai alopesia. kasar. dermatitis atopik. Kultur jamur dan kerokan kulit amat bermanfaat untuk menyingkirkan tinea kapitis maupun infeksi yang disebabkan kuman lainnya. Psoriasis Predileksi didaerah eksentor (lutut. DIAGNOSIS BANDING Diagnosis dari dermatitis seboroik dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan gejala klinis. berlapis-lapis.

SLE sulit dibedakan dengan DS. 5. sirkumskrip ditandai dengan kulit tebal dan garis kulit tampak lebih menonjol (likenfikasi). bersisik dan basah. pada pemeriksaan dengan larutan KOH 20%. Otitis eksterna menyebabkan tanda-tanda radang. biasanya oleh Candida albicans. 7. berbeda dengan DS yang sering juga terjadi pada bayi dan anak-anak. Tidak biasa terjadi pada anak tetapi pada usia ke atas. Kandidiasis adalah penyakit jamur yang disebabkan oleh spesies Candida.anak-anak. Timbul sebagai lesi tunggal pada daerah kulit kepala bagian posterior atau sekitar telinga. serta tes antibodi-antinuklear (+). Otomikosis dan Otitis Eksterna Otomikosis dan otitis eksterna menyerupai DS yang menyerang saluran telinga luar. Selain itu. Lesi dapat berupa bercak yang berbatas tegas. tersering di area molar dan nasal dengan sedikit edema. blastospora atau hifa semu. malaise. Terdapat gejala demam. multi sistemik dan menyerang jaringan konektif dan vaskular. Yang dapat membedakan ialah lesi SLE berbentuk seperti kupu-kupu. Tempat predileksi di kulit kepala dan tengkuk. Liken Simpleks Kronikus Peradangan kulit kronis yang gatal. Yang membedakannya ialah adanya likensifikasi pada penyakit ini. Skuama kering dan difus. eritema dan atrofi. 8. Kandidosis Kandidiosis menyerupai DS pada lipatan paha dan perianal. Predileksinya juga bukan pada daerah-daerah yang berminyak. 13 . tetapi lebih sering pada daerah yang lembab. berbeda dengan DS yang skuamanya berminyak dan kekuningan. Kandidosis kadang sulit dibedakan dengan DS jika mengenai lipatan paha dan perianal. jika akut terdapat pus. Perbedaannya ialah pada kandidiasis terdapat eritema berwarna merah cerah berbatas tegas dengan satelitsatelit di sekitarnya. terlihat sel ragi. Perbedaannya kandidosis terdapat eritema berwarna merah cerah berbatas tegas dengan satelit-satelit disekitarnya. SLE Penyakit yang biasanya bersifat akut. pada dermatitis atopik dapat terjadi likenfikasi. oleh karena pada SLE juga dapat dijumpai skuama. 6. Selain itu. Bedanya pada otomikosis akan terlihat elemen jamur pada sedian langsung. sehingga kadang sukar dibedakan dengan DS.

Glukokortikosteroid dosis rendah (hydrocortison) cepat membantu pengobatan penyakit ini. dan produk sejenis biasanya memicu terjadinya inflamasi dan harus dihindari. misalnya stress emosional dan kurang tidur. tonik rambut. PENATALAKSANAAN Kasus-kasus yang telah mempunyai faktor konstitusi agak sukar disembuhkan. Keraknya dapat diperbaiki dengan pemberian glukokortikosteroid pada malam hari. 4. benzoyl peroxide. Area intertriginosa. imidazoles. larutan alkohol.9. diaplikasikan emollient dengan glukokortikosteroid dalam cream atau lotion selama beberapa hari. Kulit kepala. 2. dan pasta. Kulit kepala. penggunaan lotion sebelum dan sesudah cukur tidak dianjurkan. rebound phenomenon steroid. sampo bayi. penggunaan yang tidak terkontrol akan menyebabkan dermatitis steroid. perawatan kulit yang teratur dengan emollient. Dermatitis seboroik adalah salah satu manifestasi klinis yang sering terjadi pada pasien dengan AIDS.3. miconazol. Dalam pengujian yang berbeda menunjukkan 75-95% terdapat perbaikan. Larutan alkohol. Pasien harus menghindari salep berminyak dan mengurangi penggunaan sabun. Pengobatan antifungal seperti imidazole dapat memberikan hasil yang baik. asam salisilat. atau asam salisilat dalam larutan air. Antifungal. Mengenai diet. Wajah dan badan. Pada kandidiasis lotion atau cream nistatin atau amphotericin B dapat dicampur dengan pasta lembut. 2. Sehingga merupakan salah satu lesi tanda dan harus lebih hati-hati dalam menangani pasien dengan resiko tinggi. oksikonazol.2-0. Dianjurkan sampo yang mengandung selenium sulfide. Biasanya digunakan 2% dalam sampo dan cream. Faktor predisposisi hendaknya diperhatikan.5 % clioquinol dalam zinc lotion atau zincoil. dianjurkan rendah lemak. Dalam percobaan ini hanya ketokonazol dan itakonazol yang dipelajari. cream. zinc pyrithion. meskipun penyakitnya dapat terkontrol. tar atau deterjen.  Pada Bayi 1. imidazole yang lain seperti econazole. steroid rosacea dan dermatitis perioral. seperti 0. siklopiroxolamin mungkin juga 14 . Pengobatan meliputi lotion pengering. clotrimazol. isokonazol. Tinctura. 3.  Pada dewasa 1. Pengobatan terdiri dari 3-5% asam salisilat dalam minyak zaitun atau air.

5. dosis diturunkan perlahan-lahan. Metronidazol topikal dapat berguna sebagai pengobatan alternatif untuk dermatitis seboroik. Jika telah ada perbaikan. antiinflamasi dan menghambat sintesis dari sel lemak. Rekomendasi ini berdasarkan pengalaman pribadi. Sesudah itu diberikan dosis pemeliharaan 5-10 mg per hari selama beberapa tahun yang ternyata efektif untuk mengontrol penyakitnya. Metronidazol telah berhasil digunakan pada pasien dengan rosacea. misalnya betametason valerat. Ukuran kelenjar tersebut dapat dikurangi sampai 90%. dosis prednisone 20-30 mg sehari. seminggu 2–3 kali scalp dikeramasi selama 5–15 menit. Metronidazole. misalnya dengan selenium sufida (selsun). perbaikan tampak setelah 4 minggu. Kalau disertai infeksi sekunder diberi antibiotik. memiliki spektrum yang luas.6% Kortikostreroid. Pengobatan topical Pada pitiriasis sika dan oleosa. Pengobatan sistemik Kortikosteroid digunakan pada bentuk yang berat. dan obat ini hanya terdaftar sebagai pengobatan untuk rosacea.ovale. 15 . dapat digabung dengan asam salisilat 3 . Obat-obat tersebut sebaiknya diapakai dalam krim. Jika terdapat skuama dan krusta diberi emolien. Imidazol seperti obat antifungal lainnya. akibatnya terjadi pengurangan produksi sebum. Obat lain yang dapat dipakai untuk DS ialah : Ter.1-0. sebagian besar penderita mengalami perbaikan. asalkan jangan dipakai terlalu lama karena efek sampingnya.ovale yang banyak dapat diberikan ketokonazol. bila pada sediaan langsung terdapat banyak P. Isotretinoin dapat digunakan pada kasus yang rekalsitran. Bila pada sediaan langsung terdapat P. Pada kasus dengan inflamasi yang berat dapat dipakai kostikosteroid yang lebih kuat. Setelah pemberian terapi 3x seminggu selama 8 minggu. Tidak ada studi yang formal. Krim ketokonasol 2% dapat diaplikasikan. misalnya krim hidrokortison 2½ %. misalnya likuor karbonas detergens 2-5% atau krim pragmatar Resorsin 1-3% Sulfur praesipitatum 4 – 20%. misalnya krim urea 10%.3 mg per kg berat badan per hari. Efeknya mengurangi aktivitas kelenjar sebasea.efektif. Dosinya 0. dosisnya 200mg per hari. Pada DS yang parah juga dapat diobati dengan narrow band UVB (TL-01) yang cukup aman dan efektif.

KOMPLIKASI Dermatitis seboroik yang meluas sampai menyerang menyerang saluran telinga luar bisa menyebabkkan otitis eksterna yaitu radang yang terdapat pada saluran telinga bagian luar. Ajari tentang menggunakan kortikosteroid topikal seperlunya untuk mengendalikan eritema. meskipun terkontrol. 3. 3. maka DS akan meluaske daerah sternal. umbilikus. atau rasa gatal. penyakit ini agak sukar untuk disembuhkan. lipat paha dan daerah anogenital. Namun pada sebagian kasus yang mempunyai faktor konstitusi. skuama. 16 . Jika tidak mendpatkan pengobatan yang adekuat.11. aerola mamae.Edukasi Pasien 1. Ajari pasien tentang pengendalian daripada pengobatan dermatitis seboroik 2. Tekankan tentang pentingnya membiarkan sampo medikasi sedikitnya 5-10 menit sebelum membilas. PROGNOSIS Dermatitis seboroik dapat sembuh sendiri dan merespon pengobatan topikal dengan baik. Karenakerontokan yang berlebih pun dapat menyebabkan kebotakan. 3.10.

badan dan generalisata. asam lemak bebas dan wax ester menurun. yaitu cradle cap. menghambat pertumbuhan jamur dengan pengobatan anti jamur. jumlah kolesterol. genetik stasus seboroik (seborrhoeic state) yang diturunkan secara gen. Secara umum terapi bertujuan untuk menghilangkan sisik dengan keratolitik dan sampo. pecimen meningkat. Selain itu dermatitis seboroika juga dapat dipengaruhi faktor predisposisi. makanan berlemak. harus dihindari faktor pencetus. Penyakit ini dapat menyerang anak-anak maupun dewasa. Pada bayi ada tiga bentuk. trigliserida. mengendalikan infeksi sekunder danmengurangi eritema dan gatal dengan steroid topikal. jamur Pityrosporum ovale. Diagnosis sulit ditegakkan karena banyaknya penyakit lain yang gambaran klinis dan histopatologisnya serupa. dan neurologik. 17 . Beberapa faktor predisposisinya. daerah fleksura. hormon.BAB IV KESIMPULAN Dermatitis seboroik adalah dermatosis papulo skuamosa kronik yang bisanya mudah ditemukan. Dermatitis seboroika disebabkan meningkatnya status seboroika yaitu aktivitas kelenjar sebasea yang hiperaktif sehingga sekresi sebumnya meningkat. lingkungan. Sedangkan pada orang dewasa berdasarkan daerah lesinya DS terjadi pada kulit kepala. dan kadar squelen. Pasien harus diberitahu bahwa penyakit ini berlangsung kronik dan sering kambuh. dan sebagainya. Secara garis besar. yaitu: hormon. perbandingan komposisi lipid di kulit berubah.seperti stress emosional. gejala klinis DS bisa terjadi pada bayi dan orang dewasa. iklim. glabrous (daerah lipatan dan tengkuk) dan generalisata (penyakit Leiner). wajah.

2007. Jakarta : 98-99. Kapita Selekta Kedokteran Edisi III Jilid II.. Dermatitis dan Peran Steroid dalam Penanganannya No. Suprohaita. Rebora. Molecular Analysis of Malassezia Microflora in Seborrheic Dermatitis Patients : Comparison withOther Diseases and Healthy Subjects. 2.S. 2005. vol. and Tsuboi. United States of America : Mc Grow Hill : 1569-1573. 4 Vol. 17. 11. A Pilot Study on Seborrheic Dermatitis Using Pramiconazole as a Potent Oral Anti-Malassezia Agent. Jakarta : Hipokrates : 188-190. 2005. Lumintang H.2. 128 :345-351.D. A. Agusni I. M. 9. et all. N Engl J Med. DEXAMEDIA. Hamzah M.. Volume 1. Schwartz. 8. Sugita. Journal of Investigative Dermatology. 1998. Mansjoer A. Karger. 5. Seborrheic Dermatitis.. Nishikawa. 360 : 387-396. R. 2007. Christopher A. M. 2006. Camila K. Dalam Dematologi praktis Cetakan pertama. Am Fam Physician. Wolff K. Takashi. 2005. 2004. And Janniger. Surabaya : Airlangga University Press : 112-116. 3. Tajima. 214 : 162-169. Atlas penyakit kulit dan kelamin. 2000. 7. Cetakan ketiga.74 : 125-30. Freedberg IM. Robert A. Mami. Akemi. 18 . Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : 200202. 46(3) : 163-167. Martodihardjo S. Luigi. Goldstein BG. Pierard. Naldi. Sukanto H. vol. Mami. 2008. Tajima. Goldstein AO.. Ardhie. Jakarta: EGC. vol. vol. 10. Siregar. Eisen AZ. Seborrheic dermatitis. Aisah S. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit ed. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi keempat Cetakan kedua. 4. Juanda A. Seborrheic Dermatitis : An Overview. 1993. Alfredo. Fourth edition. Dermatitis seboroik. Dermatology in general medicine. Janusz. Pohan SS. 2009. Plewig G. Austen KF.DAFTAR PUSTAKA 1. Barakbah J. Malassezia Species in Patients with Seborrheic Dermatitis and Atopic Dermatitis. Setiowulan W.. Wardhani W. vol. Japanese Journal of Medical Mycology. Ryoji. In Fitzpatrick TB. 12.I. et al. Gerald E.. 6.

Yoshihiro. Japanese Journal of Medical Mycology. Sei. Seborrheic Dermatitis-Clinical Diagnosis and Therapeutic Value of Different Drugs. 44(2):77-80. 19 .13. 2003. vol.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful