BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Perkembangan wilayah kota Depok sebagai hinterland kota Jakarta saat ini berterlihat cepat baik dibidang struktur dan infrastruktur, terutama dibidang pembangunan gedung, hunian serta sarana sosial dan sarana umum .

Secara administrasi, batas-batas wilayah adalah: ƒ Sebelah Utara

pemerintah kota Depok

:

Kecamatan Cilandak,

Pasar

Minggu,

Pasar

Rebo,

Provinsi DKI, Kecamatan Ciputat,

Kabupaten Tangerang ƒ Sebelah Selatan ƒ Sebelah Timur ƒ Sebelah Barat : Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor : Kecamatan Pondok Gede, Kabupaten Bekasi, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor : Kecamatan Parung, Kecamatan Gunung Sindur dan Kabupaten Bogor.

Sedangkan secara geografis kota Depok terletak pada kordinat antara 6o19’00’’ - 6o28’00’’ Lintang Selatan dan 106 o43’.00’’ - 106 o55’.30’’ Bujur Timur. Dari pusat kota Depok, jarak ke DKI sebesar 10 km, Bekasi sebesar 60 km, Bogor sebesar 20 km dan Tangerang dan 80 km.1

Luas wilayah kota Depok kurang lebih 20.504, 54 ha dengan jumlah penduduk pada tahun 2000 sebesar 1.145.091 jiwa, wilayah tersebut terdiri dari 6 (enam) kecamatan yaitu : Kecamatan Beji, Kecamatan
1

RTRW Kota Depok tahun 2000
  Tugas Akhir Sistem Informasi Geografi ‐ 2004  Program Pascasarjana Kajian Pengambangan Perkotaan Universitas Indonesia

 

2  Sukmajaya, Kecamatan Pancoran Mas, Kecamatan Sawangan,

Kecamatan Limo dan Kecamatan Cimanggis2.

Sumber daya alam hayati merupakan unsur ekosistem yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Namun, keseimbangan ekosistem harus tetap

terjamin. Mengingat pentingnya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia, maka masyarakat juga mempunyai kewajiban dan tanggung jawab dalam kegiatan konservasi3.

Saat ini perbandingan lahan terbuka hijau dengan kawasan terbangun yang terdiri dari permukiman, perkantoran, dan sarana kota lainnya adalah 55:45. Sampai tahun 2010, Pemerintah Kota Depok

mengalokasikan 50 persen areal kota untuk kawasan terbangun dan mempertahankan 50 persen sebagai lahan terbuka hijau. Di sekitar lahan terbuka itu pemanfaatan untuk permukiman hanya diperbolehkan 35 hingga 40 persen. Kawasan yang ditetapkan untuk mempertahankan konservasi air adalah Kecamatan Limo, Cimanggis, dan Sawangan. 1.2 Permasalahan 1. Untuk mengidentifikasikan wilayah konservasi pada kota Depok 2. Mengetahui luasan wilayah konservasi

1.3 Tujuan Mencari wilayah kesesuaian yang perlu dikonservasi pada kota Depok sesuai dengan Undang-undang no. 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dan Undang-undang No. 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup agar dilakukan perlindungan,
2 3

Bunga Rampai Kota Depok Http:// www.google.com / UU No.5 Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
  Tugas Akhir Sistem Informasi Geografi ‐ 2004  Program Pascasarjana Kajian Pengambangan Perkotaan Universitas Indonesia

 

3  pengawetan dan pelestarian pada wilayah-wilayah konservasi di kota Depok.

1.4 Batasan Wilayah kesesuaian yang perlu di konservasi di dapat dari hasil overlay peta-peta unsur fisik, yaitu : • • • • • Peta jaringan sungai Peta jaringan situ Peta landuse 2001 Peta RTRW 2010 Peta Administrasi.

1.5 Jenis Penggunaan Tanah dan RTRW 2010 Dikota depok terdapat berbagai macam jenis penggunaan tanah dan luasan penggunaan tanah tersebut yang dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 1.5.1 Land Use 2001 di Kota Depok.

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Penggunaan Lahan Badan air Dipo Kereta api Gardu Listrik Industri Jalan Tol Kawasan Khusus Kebun Permukiman pendidikan Rawa Rumput/tanah kosong Sawah non-teknis Sawah teknis Tanah perusahaan Tegalan/ladang TOTAL

Luas (Ha) 341,26 12,46 20,72 101,53 18,99 98,63 3253,55 9171,12 232,00 6,20 1658,60 240,40 1401,70 88,40 3745,00 20388,10

 
Tugas Akhir Sistem Informasi Geografi ‐ 2004  Program Pascasarjana Kajian Pengambangan Perkotaan Universitas Indonesia

 

4  Dikota depok juga terdapat rencana tata ruang yang berfungsi sebagai alat pengatur dan pengendali pembangunan kota Depok. Rencana Tata Ruang (RTRW) di kota Depok berlangsung hingga tahun 2010. RTRW membagi wilayah kota depok dalam 7 peruntukan lahan, yaitu Kawasan industri, kawasan khusus, permukiman, pendidikan, pertanian, pertokoan, tata hijau seperti pada tabel dibawah ini.
Tabel 1.5.2 Luas RTRW 2010

No 1 2 3 4 5 6 7

Kawasan Kawasan Industri Kawasan khusus Pemukima Pendidikan Pertanian Pertokoan Terbuka hijau TOTAL

Luas (Ha) 594,41 97,86 6981,31 226,07 4930,89 290,10 7271,61 20392,25

 
Tugas Akhir Sistem Informasi Geografi ‐ 2004  Program Pascasarjana Kajian Pengambangan Perkotaan Universitas Indonesia

 

BAB II DASAR TEORI
2.1 Undang-undang no. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (pasal 5)

Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui: Perlindungan sistem penyangga kehidupan. Kehidupan adalah merupakan suatu sistem yang terdiri dari proses yang berkait satu dengan lainnya dan saling mempengaruhi, yang apabila terputus akan mempengaruhi kehidupan. Agar manusia tidak dihadapkan pada perubahan yang tidak diduga yang akan mempengaruhi kemampuan pemanfaatan sumber daya alam hayati, maka proses ekologis yang mengandung kehidupan itu perlu dijaga dan dilindungi. Perlindungan sistem penyangga kehidupan ini meliputi usaha-usaha dan tindakan-tindakan yang berkaitan dengan perlindungan mata air, tebing, tepian sungai, danau, dan jurang, pemeliharaan fungsi hidrologi hutan, perlindungan pantai, pengelolaan daerah aliran sungai; perlindungan terhadap gejala keunikan dan keindahan alam, dan lain-lain.

Undang-undang No. 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup

Pelestarian

fungsi

lingkungan

hidup

adalah

rangkaian

upaya

untuk

memelihara kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup dengan cara konservasi sumber daya alam.

Konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya alam tak terbaharui untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan sumber daya alam yang terbaharui untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta

keanekaragamannya.
 
Tugas Akhir Sistem Informasi Geografi ‐ 2004  Program Pascasarjana Kajian Pengambangan Perkotaan Universitas Indonesia  

Sejak tahun 1990 akibat dari pembangunan yang dilaksanakan secara serampangan, kerusakan lingkungan semakin mencemaskan. Tujuan

pembangunan yang berkelanjutan yang bermutu adalah tercapainya standar kesejahteraan hidup manusia yang layak dan taraf kesejahteraan ini diusahakan dicapai dengan menjaga kelestarian alam. Untuk menjaga kelestarian alam maka diperlukan konservasi yang bertujuan :

1. Menjaga berlangsungnya proses ekologis yang esensial dan sistem penunjang kehidupan. Hal ini berfungsi untuk perlindungan alam. 2. Pengawetan keanekaragaman plasma nutfah. Hal ini berfungsi untuk pengawetan. 3. Menjamin kelestarian pemanfaatan jenis dan ekosistem. Hal ini berfungsi untuk pelestarian.

Perlindungan terhadap proses ekologi yang menunjang sistem penyangga kehidupan, antara lain :

1. Daerah pegunungan yang berlereng 2. Pantai, hutan payau, terumbu karang 3. Mata air, tebing dan tepian sungai atau danau dan jurang. 4. Daerah aliran sungai 5. Mintakat rimba 6. Gejala, keunikan dan keindahan alam serta budaya.

Pengawetan keanekaragaman sumber daya alam serta keanekaragaman plasma nutfah dilakukan dalam bentuk :

1. Didalam kawasan konservasi (Insitu) ; Suaka alam yang terdiri dari cagar alam dan suaka margasawa, mintakat inti Taman Nasional, cagar budaya, pembinaan gejala, keunikan dan keindahan alam.
 
Tugas Akhir Sistem Informasi Geografi ‐ 2004  Program Pascasarjana Kajian Pengambangan Perkotaan Universitas Indonesia  

7  2. Diluar kawasan konservasi (ex-situ) ; Kebun koleksi, kebun botani, kebun binatang, cagar budaya, museum geologi, pembinaan gejala, keunikan dan keindahan alam serta budaya.

Kegiatan pelestarian pemanfaatan jenis sumberdaya alam dan ekosistem meliputi : 1. Pemanfaatan langsung ; eksploitasi hutan alam, penangkapan ikan, penangkapan atau pemburuan satwa, dan eksploitasi arang tambang. 2. Pemanfaatan melalui budidaya ; perkebunan, pertanian tanaman pangan, peternakan, perikanan dan kehutanan. 3. Pemanfaatan dalam bentuk jasa ; rekreasi dan pariwisata. 4. Pengaturan terhadap lalu lintas dan perdagangan flora/fauna, hasil budidaya dan pengembangan sumberdaya alam, penegakan hukum, dsb.

Konservasi ini merupakan pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatnnya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas

keanekaragaman dan nilainya. Tujuan dari diadakannnya konservasi agar terwujud kelestarian alam serta keseimbangan ekosistemnya untuk lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia.

2.3 Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1991 (Pasal 1) Sungai adalah tempat-tempat dan wadah-wadah serta jaringan pengaliran air mulai dari mata air sampai muara dengan dibatasi kanan dan kirinya serta sepanjang pengalirannya oleh garis sempadan. Danau adalah bagian dari sungai yang lebar dan kedalamannya secara alamiah jauh melebihi ruas-ruas lain dari sungai yang bersangkutan.

 
Tugas Akhir Sistem Informasi Geografi ‐ 2004  Program Pascasarjana Kajian Pengambangan Perkotaan Universitas Indonesia

 

8  Sungai adalah tempat-tempat dan wadah-wadah serta jaringan pengaliran air mulai dari mata air sampai muara dengan dibatasi kanan dan kirinya serta sepanjang pengalirannya oleh garis sempadan. Danau adalah bagian dari sungai yang lebar dan kedalamannya secara alamiah jauh melebihi ruas-ruas lain dari sungai yang bersangkutan. (Pasal 26) Mendirikan, mengubah atau membongkar bangunan-bangunan di dalam atau melintas sungai hanya dapat dilakukan setelah memperoleh ijin dari Pejabat yang berwenang. (Pasal 27) Dilarang membuang benda-benda/bahan-bahan padat dan/atau cair ataupun yang berupa limbah ke dalam maupun di sekitar sungai yang diperkirakan atau patut diduga akan menimbulkan pencemaran atau menurunkan kualitas air, sehingga membahayakan dan/atau merugikan penggunaan air yang lain dan lingkungan. (Pasal 28) Mengambil dan menggunakan air sungai selain untuk keperluan pokok seharihari hanya dapat dilakukan setelah memperoleh ijin teriebih dahulu dari pejabat yang berwenang. (Pasal 29) Melakukan pengerukan atau penggalian serta pengambilan bahan-bahan galian pada sungai hanya dapat dilakukan ditempat yang telah ditentukan oleh Pejabat yang berwenang.

 
Tugas Akhir Sistem Informasi Geografi ‐ 2004  Program Pascasarjana Kajian Pengambangan Perkotaan Universitas Indonesia

 

BAB III PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA
Variabel Parameter Data-data unsur fisik meliputi : • Jaringan sungai dengan parameter 50 m dan 100 m di kiri dan kanan sungai • Jaringan situ dengan parameter 50 m dan 100 m di kiri dan kanan sungai • Landuse 2001 • RTRW 2010 • Administrasi, sebagai data untuk mengetahui penyebaran pola konservasi di tiap kelurahan yang ada.

Alat yang Digunakan Praktikum ini menggunakan beberapa piranti lunak, yaitu: a. Arc View 3.2 sebagai alat bantu proses analisis b. Microsoft Word dan Excel, sebagai alat dalam penyusunan laporan dan proses perhitungan data atribut

Tahapan Pengolahan dan Analisis Data a. Variabel sungai dengan parameter 50 m dan 100 m dari sepadan kiri dan kanan sungai b. Variabel situ dengan parameter 50 m dan 100 m dari sepadan kiri dan kanan situ c. Pengolahan data dilakukan sebagai berikut: 1. Jariangan sungai dibuffer 50 m dan 100 m kanan kiri sungai = file BUFSNG. 2. Jaringan situ dibuffer 50 m dan 100 m kanan kiri situ = file BUFSITU 3. Hasil buffer sungai diunion dengan situ = file UNISNG_SITU
  Tugas Akhir Sistem Informasi Geografi ‐ 2004  Program Pascasarjana Kajian Pengambangan Perkotaan Universitas Indonesia

 

10  4. File UNISNG_SITU dioverlay dengan landuse 2001 menghasilkan wilayah kesesuaian dan ketidak sesuaian. 5. File UNISNG_SITU dioverlay dengan RTRW 2010 menghasilkan wilayah kesesuaian dan ketidak sesuaian.

Diagram Alir 3.3.1 Metodologi Pengelolaan dan Analisis Data

Sungai

Situ

Buffer

Buffer

Radius 50 & 100 m

Radius 50 & 100 m

Land Use

Overla

File Wilayah Konservasi

Overla

RTRW

Wilayah Ketidaksesuaian Wilayah Kesesuaian

Wilayah Ketidaksesuaian Wilayah Kesesuaian

Kesimpulan

Saran

 
Tugas Akhir Sistem Informasi Geografi ‐ 2004  Program Pascasarjana Kajian Pengambangan Perkotaan Universitas Indonesia

 

11 

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisis berdasarkan peta Land use 2001 dan RTRW Wilayah konservasi dikota Depok berdasarkan pada penggunaan lahan (land use) dan Rencana Umum Tata Ruang (RTRW) 2010. Lahan pada wilayah kota depok yang termasuk wilayah konservasi berdasarkan Land use berupa badan air, kebun, rumput/tanah kosong, sawah nonteknis, sawah teknis, tegalan/ ladang, dipo kereta api, industri, jalan tol, kawasan khusus (RRI), permukiman dan tanah perusahaan. Wilayah konservasi berdasarkan RTRW 2010 adalah kawasan industri, kawasan khusus, permukiman, pendidikan, pertanian, pertokoan dan terbuka hijau. Luas wilayah yang di konservasi pada penggunaan lahan (land use) mencapai 2966.29 Ha, sedangkan pada Rencana Umum Tata Ruang (RTRW) 2010 mencapai luas 2902.52 Ha.
Tabel 4.1 Wilayah Konservasi Berdasarkan Land Use

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Badan air Kebun

Penggunaan Lahan

Luas (Ha) 249,83 617,00 333,93 21,83 318,60 599,45 2,66 9,12 1,57 1,66 809,31 1,34 2966,29

Rumput/tanah kosong Sawah non-teknis Sawah teknis Tegalan/ladang Dipo Kereta api Industri Jalan Tol Kawasan Khusus (RRI) Permukiman Tanah perusahaan TOTAL

 
Tugas Akhir Sistem Informasi Geografi ‐ 2004  Program Pascasarjana Kajian Pengambangan Perkotaan Universitas Indonesia

 

12 
Diagram Lingkaran 4.1 Wilayah Konservasi Berdasarkan Land Use
Badan air 0% 28% 21% 8% Kebun Rumput/tanah kosong Sawah non-teknis Sawah teknis Tegalan/ladang 0% 0% 0% 0% 11% 20% 11% 1% Dipo Kereta api Industri Jalan Tol Kawasan Khusus (RRI) Permukiman Tanah perusahaan

Berdasarkan hasil analisis diatas, maka Wilayah yang harus dikonservasi adalah; situ, sungai, danau, dan ruang terbuka hijau di Kota Depok yang terdapat pada penggunaan lahan; ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ ƒ
ƒ

Daerah pemukiman yang paling besar yaitu 28 %, Kebun 21 %, Tegalan/ladang 20 % Rumput/tanah kosong 11 %, Sawah teknis 11 %, air 8 %, Sawah non teknis 1 %, Lainnya 0 %. (dipo kereta api, industri, jalan tol, kawasan khusus, dan tanah perusahaan)

Tabel 4.2 Wilayah Konservasi Berdasarkan RTRW 2010

No 1 2 3 4 5 6 7

Kawasan Kawasan Industri Kawasan khusus Pemukiman Pendidikan Pertanian Pertokoan Terbuka hijau TOTAL

Luas (Ha) 56,83 3,57 1060,02 3,98 585,25 20,81 1172,07 2902,52

 
Tugas Akhir Sistem Informasi Geografi ‐ 2004  Program Pascasarjana Kajian Pengambangan Perkotaan Universitas Indonesia

 

13 
Diagram Lingkaran 4.2 Wilayah Konservasi Berdasarkan RTRW 2010
2% 0% Kawasan Industri Kawasan khusus 40% 37% Pemukima Pendidikan Pertanian Pertokoan 1% 20% 0% Terbuka hijau

Berdasarkan hasil pengolahan data mengenai wilayah-wilayah konsevasi di Kota Depok pada land use 2001 dan RTRW 2010, maka di temukan wilayah kesesuaian konservasi, yaitu : a. Berdasarkan Land use, yaitu wilayah badan air, kebun, rumput/tanah kosong, sawah non teknis, dan sawah teknis dengan luas 2140.64 Ha. b. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah 2010, yaitu wilayah terbuka hijau dengan luas 1172.06 Ha.
Tabel 4.3 Wilayah Kesesuaian Konservasi berdasarkan Land use

No 1 2 3 4 5 6 Badan air Kebun

Penggunaan Lahan

Luas (Ha) 249,83 617,00 333,93 21,83 318,60 599,45

Rumput/tanah kosong Sawah non-teknis Sawah teknis Tegalan/ladang

TOTAL

2140,64

 
Tugas Akhir Sistem Informasi Geografi ‐ 2004  Program Pascasarjana Kajian Pengambangan Perkotaan Universitas Indonesia

 

14 
Diagram Batang 4.1 Wilayah Kesesuaian Konservasi berdasarkan Land use

700,00 600,00 500,00 400,00 300,00 200,00 100,00 0,00 Wilayah Kesesuaian Badan air Kebun Rumput/tanah kosong Sawah non-teknis Sawah teknis Tegalan/ladang

Tabel 4.4 Wilayah Kesesuaian Konservasi berdasarkan RTRW 2010

No 1

Kawasan Terbuka hijau TOTAL

Luas (Ha) 1172,06 1172,06

Berdasarkan hasil pengolahan data mengenai wilayah-wilayah konsevasi di Kota Depok pada land use 2001 dan RTRW 2010, maka ditemukan juga wilayah ketidak kesesuaian konservasi, yaitu : a. Berdasarkan Land use, yaitu wilayah dipo kereta api, industri, jalan tol, kawasan khusus (RRI), permukiman, tanah perusahaaan dengan luas 825.65 Ha
b. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah 2010, yaitu wilayah Kawasan

industri, kawasan khusus (RRI), permukiman, pendidikan, pertanian dan pertokoan dengan luas 1730.45 Ha.

 
Tugas Akhir Sistem Informasi Geografi ‐ 2004  Program Pascasarjana Kajian Pengambangan Perkotaan Universitas Indonesia

 

15 
Tabel 4.5 Wilayah Ketidak Kesesuaian Konservasi berdasarkan Land use

No 1 2 3 4 5 6 Industri Jalan Tol

Penggunaan Lahan Dipo Kereta api

Luas (Ha) 2,66 9,12 1,57 1,66 809,31 1,34 825,65

Kawasan Khusus (RRI) Permukiman Tanah perusahaan TOTAL

Diagram Batang 4.2 Wilayah Kesesuaian Konservasi berdasarkan Land use

900,00 800,00 700,00 600,00 500,00 400,00 300,00 200,00 100,00 0,00 Wilayah ketidak sesuaian Dipo Kereta api Industri Jalan Tol Kawasan Khusus (RRI) Permukiman Tanah perusahaan

Tabel 4.6 Wilayah Ketidak Kesesuaian Konservasi berdasarkan RTRW 2010

No 1 2 3 4 5 6

Kawasan Kawasan Industri Kawasan khusus Pemukima Pendidikan Pertanian Pertokoan TOTAL

Luas (Ha) 56,83 3,57 1060,02 3,98 585,25 20,81 1730,45

 
Tugas Akhir Sistem Informasi Geografi ‐ 2004  Program Pascasarjana Kajian Pengambangan Perkotaan Universitas Indonesia

 

16 
Diagram Batang 4.3 Wilayah Kesesuaian Konservasi berdasarkan RTRW 2010

1200,00 1000,00 800,00 600,00 400,00 200,00 0,00 Wilayah Ketidak Sesuaian Kawasan Industri Kawasan khusus Pemukima Pendidikan Pertanian Pertokoan

4.2 Kondisi di Lapangan

Foto 1 : Kali Baru di Pancoran di Mas, wilayah

terdapat

bangun

sepadan sungai. Kondisi ini dapat menyebabkan erosi tanah, karena konstruksi bangunan yang ada. Ini tidak sesuai dengan UU Konservasi yang tidak membolehkan pendirian bangunan pada jarak 50-100 m dari pinggir (sempadan sungai)
Gbr. 1 Kali Baru di Pancoran Mas

 
Tugas Akhir Sistem Informasi Geografi ‐ 2004  Program Pascasarjana Kajian Pengambangan Perkotaan Universitas Indonesia

 

17  Foto 2 : Kali Baru di Pancoran Mas, adanya jalan di pinggir sungai tidak diikuti dengan konstruksi yang baik sehingga terjadi erosi. Kondisi ini dapat membahayakan pengendara dan pejalan kaki yang melintas di kawasan ini.

Gbr. 2 Erosi pada Kali Baru di Pancoran Mas

Foto 3 : Situ Rawa Besar di daerah perumahan Depok I, di

sekitar situ terdapat sampah yang menumpuk. seharusnya area Padahal tersebut

ditata dan dikelola dengan baik sehingga dan dapat dijaga sebagai

terpelihara kelestariannya
Gbr. 3 Situ Rawa Besar yang Dikotori Sampah

daearh penangkap air.

 
Tugas Akhir Sistem Informasi Geografi ‐ 2004  Program Pascasarjana Kajian Pengambangan Perkotaan Universitas Indonesia

 

18  Foto 4 : Situ Rawa Besar di daerah perumahan Depok I, Di

terdapat keramba ikan.

area ini terdapat kegiatan seperti; dalam pembenihan jumlah besar, ikan ini

mengakibatkan

banyak

kegiatan yang mendukung usaha
Gbr. 4 Situ Rawa Besar yang Terdapat Karamba Ikan

tersebut

sehingga

area situ menjadi kotor.

Foto 5 :

Sungai Ciliwung-Bagian Timur akan Pesona dibangun perumahan Depok. untuk

Khayangan, pohon

Penebangan

daerah perumahan di sekitar sungai Ciliwung dapat

mengakibatkan erosi.
Gbr. 5 Tepi Sungai Ciliwung yang Akan Dibangun Perumahan Pesona Khayangan

 
Tugas Akhir Sistem Informasi Geografi ‐ 2004  Program Pascasarjana Kajian Pengambangan Perkotaan Universitas Indonesia

 

19 

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pengolahan data mengenai wilayah-wilayah konsevasi di Kota Depok pada land use 2001 dan RTRW 2010, maka di temukan wilayah kesesuaian konservasi, yaitu : ƒ Berdasarkan Land use, yaitu wilayah badan air, kebun, rumput/tanah kosong, sawah non teknis, dan sawah teknis dengan luas 2140.64 Ha. ƒ Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah 2010, yaitu wilayah terbuka hijau dengan luas 1172.06 Ha. Berdasarkan hasil pengolahan data mengenai wilayah-wilayah konsevasi di Kota Depok pada land use 2001 dan RTRW 2010, maka ditemukan juga wilayah ketidak kesesuaian konservasi, yaitu : ƒ Berdasarkan Land use, yaitu wilayah dipo kereta api, industri, jalan tol, kawasan khusus (RRI), permukiman, tanah perusahaaan dengan luas 825.65 Ha ƒ Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah 2010, yaitu wilayah Kawasan industri, kawasan khusus (RRI), permukiman, pendidikan, pertanian dan pertokoan dengan luas 1730.45 Ha.

5.2 Saran 1. Pemda Depok harus tegas dalam menjalankan peraturan yang telah ditetapkan agar tidak terjadi alih fungsi daerah konservasi menjadi perumahan atau komersil, karena kota Depok berfungsi sebagai daerah tangkapan air untuk daerah Depok dan Jakarta. 2. Daerah konservasi diperlukan untuk mengendalikan banjir pada musim hujan, terutama pada daerah-daerah yang mempunyai permukaan yang lebih rendah. 3. pengelolaan daerah sungai dan situ perlu dilakukan agar tidak tercemar sampah dan limbah karena banyaknya kegiatan di kawasan itu.
 
Tugas Akhir Sistem Informasi Geografi ‐ 2004  Program Pascasarjana Kajian Pengambangan Perkotaan Universitas Indonesia  

20  4. Ruang Terbuka Hijau perlu ditata dengan baik, agar dapat menjadi penyaring polusi dan partikel padat.

 
Tugas Akhir Sistem Informasi Geografi ‐ 2004  Program Pascasarjana Kajian Pengambangan Perkotaan Universitas Indonesia

 

21  DAFTAR PUSTAKA Http:// www.google.com / UU No.5 Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Modul Pratikum Sistem Informasi Geografis II. GIS MIPA UI. RTRW Kota Depok, 2000. Sriyanto, dkk. Bunga Rampai Kota Depok. Pandu Karya, Depok, 2002. Jakarta.

 
Tugas Akhir Sistem Informasi Geografi ‐ 2004  Program Pascasarjana Kajian Pengambangan Perkotaan Universitas Indonesia