You are on page 1of 7

Pemeriksaan Evaluasi Infertilitas Dasar pemeriksaan dasar merupakan hal yang sangat penting dalam tata laksana infertilitas

. Dengan melakukan pemeriksaan dasar yang baik dan lengkap, maka terapi dapatdiberikan dengan cepat dan tepat, sehingga penderita infertilitas dapat terhindar dari keterlambatan tata laksana infertilitas yang dapat memperburuk prognosis dari pasangan suami istri tersebut. Evaluasi infertilitas berfungsi untuk : 1. Menentukan penyebab infertilitas 2. Memberikan pasangan tersebut protokol pengobatan yang dianjurkan 3. Menilai perkiraan angka keberhasilan terapi yang dianjurkan tersebut 4. Mengedukasi kepada pasangan mengenai gangguan spesifik yang mereka alami dan terapi alternaif yang tersedia atau adopsi. Beberapa pasien tertentu yang hanya mencari diagnosis dan tidak ingin meneruskan terapi atau tidak dapat membiayai uji diagnostik atau terapi yang dianjurkan. Sebagian pasangan kemudian melakukan adopsi, sementara yang lain mematuhi terapi medis atau bedah yang dianjurkan. Pemeriksaan Infertilitas Pria Pada umumnya dilakukan pemeriksaan berupa: 1. Wawancara / anamnesis dan pemeriksaan fisik 2. Pemeriksaan dasar 1. Wawancara / anamnesis meliputi:  Lama menikah,  Usia pasangan,  Pekerjaaan, frekuensi dan  Waktu melakukan hubungan seksual Pemeriksaan lanjutan  Riwayat perkembangan urologis, pembedahan, hubungan kelamin, kontak dengan zatzat  toksik, penyakit infeksi alat reproduksi  Pemeriksaan jasmani pada umumnya termasuk seks sekunder (penyebaran rambut,  ginekomastia dll)  Pemeriksaan khusus alat reproduksi (penis, letak lubang uretra, ukuran, konsistensi  testis, vas deferens, epididimis dll)  Pemeriksaan laboratorium rutin, urin, darah dan analisis sperma. Pemeriksaan laboratorium khusus seperti : kadar serum darah, FSH, LH, testosteron dan lain-lain bila ada indikasi. 2. Pemeriksaan dasar:  Analisis semen Pemeriksaan analisis sperma sangat penting dilakukan pada awal kunjungan pasutri dengan masalah infertilitas, karena dari berbagai penelitian menunjukan bahwa faktor lelaki turut memberikan kontribusi sebesar 40% terhadap kejadian infertilitas. Beberapa syarat yang harus diperhatikan agar menjamin hasil analisis sperma yang baik adalah sebagai berikut.  Lakukan abstinensia (pantang sanggama) selama 2-3 hari

       Keluarkan sperma dengan cara masturbasi dan hindari dengan cara sanggama terputus Hindari penggunaan pelumas pada saat masturbasi Hindari penggunaan kondom untuk menampung sperma Gunakan tabung dengan mulut lebar untuk tempat penampungan sperma Tabung sperma harus dilengkapi dengan nama jelas. Hasil dari analisis sperma tersebut menggunakan teknologi khusus yang diharapkan dapat menjelaskan kualitas sperma berdasarkan konsentrasi.2 atau lebih 20 juta/ml atau lebih 40 juta/ejakulat atau lebih 25% atau lebih 50% atau lebih 30% atau lebih 75% atau lebih yang hidup Kurang dari 1 juta/ml Terminologi dan definisi analisis sperma berdasarkan kualitas sperma Terminologi Normozoospermia Oligozoospermia Astenospermia Teratozospermia Azospermia Aspermia Kristospermia Definisi Ejakulasi normal sesuai dengan nilai rujukan WHO Konsentrasi sperma lebih rendah dari nilai rujukan WHO Konsentrasi sel sperma dengan motilitas lebih rendah dari nilai rujukan WHO Konsentrasi sel sperma dengan morfologi lebih rendah dari nilai rujukan WHO Tidak didapat sel sperma di dalam ejakulat Tidak terdapat ejakulat Jumlah sperma sangat sedikit yang dijumpai setelah sentrifugasi . Nilai normal analisis sperma berdasarkan kriteria WHO Kriteria Volume Waktu likuefaksi pH Konsentrasi sperma Jumlah sperma total Lurus cepat (gerakan yang progresif dalam 60 menit setelah ejakulasi (1)) Jumlah antara lurus lambat (2) dan lurus cepat (1) Morfologi normal Vitalitas Lekosit Keterangan: Derajat 1: gerak sperma cepat dengan arah yang lurus Derajat 2: gerak sperma lambat atau berputar-putar Nilai Rujukan Normal 2ml atau lebih Dalam 60 menit 7. metode yang dilakukan dalam pengambilan sperma Kirimkan sampel secepat mungkin ke laboratorium sperma Hindari paparan tempratur yang terlampau tinggi (lebih dari 38˚C) atau terlalu rendah (kurang dari 15˚) atau meenempelkannya ke tubuh sehingga sesuai dengan suhu tubuh. tanggal dan waktu pengumpulan sperma. Kriteria yang digunakan untuk menilai normalitas analisis sperma adalah kriteria normal berdasarkan kriteria World Health Organization (WHO). mortalitas dan morfologi sperma.

parut bedah. Masalah seksual. juga gambaran fern (daun pakis) yang terlihat pada lendir yang telah dikeringkan hilang. serta dismenorea atau gejala prahaid yang menyertai. kriokauterisasi. Ukuran dan kontur uterus serta adneksa juga harus dicatat. . harus dicari ada tidaknya nyeri tekan. d) pemeriksaan endometrium : kuretase pada hari pertama haid atau pada fase premenstruil menghasilkan endometrium dalam stadium sekresi dengan gambaran histologis yang khas. Riwayat galaktorea mungkin jadi petunjuk hiperprolaktinemia. galaktorea. dan siklik sesuai dengan ovulasi. dan spikologis harus dibahas. durasi dan jumlah perdarahan. pigmentasi kulit. Riwayat haid yang dapat diperkirakan. sedangkan riwayat hirsutisme yang muncul saat pubertas atau hirsutisme yang cepat memburuk mungkin mengisyaratkan adanya penyakit ovarium polikistik ataukelebihan anddrogen lainnya. atau pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim dapat menyebabkan penyakit pada tuba. cukup melakukan analisis sperma tunggal jika pada pemeriksaan telah dijumpai hasil analisis sperma yang normal. Pemeriksaan fisik yang menyeluruh diperlukan untuk membantu menentukan faktor-faktor penting yang mungkin menyebabkan infertilitas. pembentukan progesterone menimbulkan perubahan-perubahan sitologis pada sel-sel superfisial. ICSH dan pregnandiol. Pada saat pemeriksaan panggul. Pembesaran tiroid. Serviks harus diperiksa untuk mencari riwayat pajanan dietilstilbestrol atau riwayat operasi. Pemeriksaan Infertilitas Wanita Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik Pihak perempuan harus ditanyai mengenai saat ia mengalami pubertas dan menarke. sosial. atau terapi laser pada serviks. Harus dilakukan anamnesis menyeluruh mengenai riwayat penyakit dahulu dan riwayat keluarga. b) dengan pemeriksaan vaginal smear .Dua atau tiga analisis sperma diperlakukan untuk menegakan diagnosis adanya analisis sperma yang abnormal. e) pemeriksaan hormon seperti oestrogen. basah. perforasi appendiks atau pembedahan abdomen lainnya. Pemeriksaan harus dilakukan berulang untuk mengurangi nilai positif palsu. stri abdomen. Pemeriksaan ovulasi. Derajat estrogenisasi vagina (adanya sel vagina yang berugae. Namun. kulit berminyak. Akne. Evaluasi dan terapi infertilitas sebelumnya juga perlu didapatkan dan diinterpretasikan. dan hirsutisme mungkin disebabkan oleh kelebihan androgen. a) pencatatan suhu-suhu basal dalam suatu kurve : kalau siklus ovulatoar maka suhu basal bersifat bifasis. Riwayat haid harus meliputi lama siklus. Riwayat penyakit radang panggul. c) pemeriksaan lendir cervix : adanya progesteron menimbulkan perubahan slfat lendir cervix ialah lendir tersebut menjadi lebih kental. dan mobilitas serviks. massa. uterus atau adneksa. Terjadinya ovulasi dapat kita ketahui dengan berbagai pemeriksaan. teratur. atau kelainan berat badan harus diperiksa dengan cermat. merah muda dan persentase sel-sel superfisial pada kerokan dinding vagina) dan kualitas serta kuantitas mukus serviks harus dicatat. sedangkan riwayat amenore atau menometroragia mungkin menunjukkan anovulasi atau kelainan uterus. Sesudah ovulasi terjadi kenaikan suhu basal disebabkan pengaruh progesteron. 1. Pasien harus ditanyai mengenai disparaeunia atau dismenore berat yang mungkin berhubungan dengan endometriosis. akantosis nigrikans.

Adanya episode demam atau sakit. b. merokok. atau perdarahan harus dicatat. faktor-faktor intermediate : gizi. kadar pada pertengahan fase luteal idealnya lebih besar daripada 10 ng/ml. Tersedia alat yang dijual bebas untuk mengukur LH urin dan dapat diunakan untuk memantau lonjakan LH di pertengahan siklus yang memicu ovulasi. (pada siklus 28 hari yang biasa. Dokumentasi Ovulasi Riwayat haid yang teratur. memperlihatkan sedikit penurunan suhu.8°F akibat efek termogenik progesteron. Progesteron adalah produk sekretorik utama korpus luteum. Bagan tersebut diinterpretasikan sebagai berikut. diperbesar agar pengukuran lebih akurat. . Turner syndrom. faktor-faktor susunan saraf pusat : tumor. hal ini biasanya terjadi pada hari siklus ke-13 atau ke-14. Bagan suhu haid dibawa ke tempat praktik setiap kali kunjungan agar dapat ditambakan kedalam status pasien. Kadar dibawah angka-angka ini mungkin mengisyaratkan fase luteal yang tidak adekuat atau kelainan hormonal lainnya. siklik. Biopsi endometrium yang diambil 2-3 hari sebelum perkiraan awitan haid juga dapat digunakan untuk membuktikan adanya ovulasi. Fase luteal seyogyanya berlangsung sampai 11-16 hari. atau mengosok gigi. penyakit kronis. Untuk tujuan ini digunakan termometer basal khusus dengan rentang suhu ovulasi. coitus. c. Durase fase luteal dihitung dari penurunan suhu di pertengahan siklus sampai awitan haid berikutnya. Namun. Suhu fase luteal meningkat 0.pasangan tersebut dianjurkan untuk berhubungan kelamin setiap 36-48 jam selama 3-4 hari sebelum dan 2-3 harisesudah suhu meningkat. Progesteron akan merangsang perubahan-perubahan sekretorik didalam endometrium dan telah diciptakan kriteria histologik spesifik untuk dating endometrium. 1. Hubungan kelamin seyogianya dlakukan 12-14 jam setelah awitan lonjakan LH.7°c) 2. dysfungsi hypothalamus.) 3. dysfungsi hypofise. Suhu fase proliferatif biasanya kurang dari 98°F (36. Evalusi laboratorium dasar untuk mendokumentasikan ovulasi dimulai dengan bagan haid yang mencatat hari pertama perdarahan haid sebagai hari siklus 1. dysfungsi. faktor-faktor ovarial : tumor-tumor. faktor psikogen. Jika perkiraan waktu ovulasi dapat diramalkan dari bagan suhu. Bagan ini dapat digunakan untuk mencatat suhu basal tubuh harian (SBT) (gambar 24-1). Suhu dicatat di tempat tidur setiap pagi pada waktu yang hampir sama sebelum makan atau minum. penyakit metabolis. spotting vagina. dan dapat diperkirakan sedikit banyak dengan molimina merupakan bukti presumtif adanya ovulasi. dapat ditentukan adanya insufisiensi fase luteal jika perkembangan endometrium tertinggal lebih dari 2 hari dari siklus saat awitan lonjakan Lh atau periode haid berikutnya pada paling sedikit dua siklus.6-0. Kadar progesteron fase luteal sebesar 3-4 ng/ml atau lebih mengindikasikan terjadinya ovulasi.Sebab-sebab gangguan ovulasi : a. Dengan menggunakan kriteria tersebut. Ada cara-cara perkiraan ovulasi yang lebih akurat. Pada saat ovulasi.

Lendir cervix bersifat alkalis dengan pH ± 9. Lendir Cervix. Sims Huhner test dianggap baik kalau terdapat 5 spermatozoa yang motil per high powerfield.2. sebaliknya pada stadium sekresi lendir cervix lebih kental karena pengaruh progesteron. c) Enzym proteolytik. Biasanya baik tidaknya lendir cervix diperiksa dengan :  Sims Huhner test (post coital test). lendir cervix kurang baik. dilihat apakah ada penetrasi spermatozoa. e) Berbagai kuman-kuman dalam lendir cervix dapat membunuh spermatozoa. Sims Huhner test yang baik menandakan : 1) 2) 3) 4) teknik coitus baik lendir cervix normal oestrogen ovarial cukup sperma cukup baik. Selain oestrogen rupanya juga enzym enzym proteolytik seperti trypsin dan chemotrypsin mempengaruhi viscositas lendir cervix. b) pH lendir cervix. Kalau tidak ada invasi spermatozoa. Dilakukan pada pertengahan siklus kalau hasil Sims Huhner test kurang baik. Pemeriksaan Tuba : Untuk mengetahui keadaan tuba dapat dilakukan : 1. d) Dalam lendir cervix dapat juga diketemukan immunoglobulin yang dapat menimbulkan agglutinasi dari spermatozoa.  Kurzrock Miller test. Keadaan dan sifat lendir cervix sangat mempengaruhi keadaan spermatozoa. a) Kentalnya lendir cervix. Pertubasi (insuflasi) sering disebut Rubin test. 3. 3. Lendir cervix yang cair lebih mudah dilalui spermatozoa. Pada suasana yang alkalis spermatozoa dapat hidup lebih lama. Suasana menjadi asam pada cervicitis. Kuldoskopi. 2. . Hysterosalpingografi. Pada stadium proliferasi lendir cervix agak cair karena pengaruh oestrogen. Satu tetes lendir cervix diletakkan berdampingan dengan tetes sperma pada obyekglas. Pemeriksaan lendir cervix dilakukan post coitum sekitar waktu ovulasi.

urografin atau pyelocyl. PERTUBASI (INSUFLASI) SECARA RUBIN. CO2 dimasukkan ke dalam cavum uteri dan tuba. tuba terlihat sebagai benang halus tanpa pelebaran dan karena tidak ada sumbatan nampak juga cairan kontras dalam rongga panggul kecil. Di samping itu pasien merasa nyeri di bahu dan dengan Ro foto dapat terlihat gelembung udara di bawah diafragma. maka tuba palen. Bahan kontras yang larut dalam air lebih baik dari bahan kontras yang larut dalam minyak yang dapat memmbulkan emboli dan granulom tuba. . maka ada penutupan parsiil dan kalau lebih 200 mm Hg. tempat sumbatan jelas nampak. Biasanya tekanan gas dicatal dengan kymogram. Kalau tuba paten (tidak tertutup) maka gas akan keluar dari ujung tuba. Kalau tekanan tidak melewati 180 mm Hg.Selain dari pada mempunyai nilai diagnostis pemeriksaan tersebut di atas juga ada nilai terapeutisnya karena dengan memasukkan gas atau cairan ke dalam uterus dan tuba perlekatan-perlekatan ringan kadang-kadang terlepas. maka ada obstruksi. yang disebabkan oleh peristaltik tuba. Hal ini dapat kita ketahui dengan stetoskop yang diletakkan kiri atau kanan dari uterus : gas yang keluar menimbulkan bunyi yang khas. 2. Kalau mencapai 180 — 200 mm Hg. Pada kymogram juga nampak gelombanggelombang dengan amplitude 10 —30 mm Hg. Pada hysterosalpingograli disuntikkan cairan kontras ke dalam rahim misalnya lipiodol. Hysterosalpingografi Kalau dengan pertubasi hanya dapat diketahui utuh tidaknya tuba maka dengan hysterosalpingografi dapat diketahui :   bentuk dari cavum uteri bentuk dari liang tuba dan kalau ada sumbatan. Kemudian dibuat foto Rontgen dari genitalia interna. 1. Kalau keadaan nornal maka batasbatas cavum uteri rata.

Laparaskopi.3. pasutri dengan kriteria tertentu akan langsung dirujuk ke rusat layanan kesehatan yang lebih tinggi tanpa dilakukan tata laksana sebelumnya di pusat layanan kesehatan primer. dan daerah panggul lainnya Menderita endometriosis Gangguan haid seperti amenorea atau oligomenorea Hirsutisme atau galaktore Kemoterapi Testis andesensus. Jenis kelamin Indikator Rujukan Usia lebih dari 35 tahun Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya Riwayat kelainan tuba seperti hidrosalphing. diperlukan sistem rujukan yang baik untuk menghindari keterlibatan dalam menegakkan diagnosis atau tata laksana yang terkait dengan keterbatasan yang dimiliki pusat layanan kesehatan primer. Kuldoskopi. Kalau tidak diketemukan stadium sekresi maka : a) Endometrium tidak bereaksi terhadap progesteron. Dengan mengetahui indikator ini. Endometrium yang normal harus memperlihatkan gambaran histologik yang khas untuk stadium sekresi. abses tuba. Dengan kuldoskopi dapat dilihat keadaan tuba dan ovarium. penyakit radang panggul. b) Produksi progesteron kurang. atau penyakit menular seksual Riwayat pembedahan tuba. Pemeriksaan Endometrium: Pada stadium premenstruil atau pada hari pertama haid dilakukan mikrokuretase. ovarium. Dengan laparoskopi dapat dilihat keadaan genetalia interna dan sekitarnya 4. uterus. orkidopeksi Kemoterapi atau radioterapi Riwayat pembedahan urogenital Varikokel Riwayat penyakit menular seksual Perempuan Lelaki . 4. Terdapat indikator tertentu yang digunakan sebagai batasan untuk melakukan rujukan dari pusat layanan kesehatan primer ke pusat layanan kesehatan di atasnya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing pusat pelayanan kesehatan. SISTEM RUJUKAN Dalam melakukan tata laksana terhadap pasangan suami-istri.