You are on page 1of 48

BAB I PENDHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG Infertilitas merupakan suatu permasalahan yang cukup lama dalam dunia

kedokteran. Namun sampai saat ini ilmu kedokteran baru berhasil menolong ± 50% pasangan infertil untuk memperoleh anak. Perkembangan ilmu infertilitas lebih lambat dibanding cabang ilmu kedokteran lainnya, kemungkinan disebabkan masih langkanya dokter yang berminat pada ilmu ini. WHO pada awal tahun 90-an mengekstrapolasi 50 sampai 80 juta pasangan di dunia mempunyai masalah fertilitas, dan diperkirakan sekitar 2 juta pasangan infertil baru muncul setiap tahun, jumlah ini diperkirakan terus meningkat. Walaupun angka ini kecil dibandingkan 5,9 juta kasus baru kanker per tahun dan 100 juta kasus baru malaria, masalah infertilitas cukup berarti dan dapat menimbulkan penderitaan pribadi, masalah keluarga dan sosial. Di samping itu infertilitas mungkin merupakan manifestasi klinis dari keadaan patologis, baik pada pihak istri maupun suami (Buletin Penelitian Sistem Kesehatan,2010). Sesuai dengan definisi fertilitas yaitu kemampuan seorang isteri untuk menjadi hamil dan melahirkan anak hidup oleh suami yang mampu

menghamilinya,maka pasangan infertil haruslah dilihat sebagai satu kesatuan. Sekitar 10% dari pasangan suami-istri mengalami infertilitas. Faktor peyebab infertilitas berasal dari suami, istri, atau keduanya. Faktor lain dari kedua belah pihak sebesar 30-40%. Menurut penelitian yang dilakukan Lim dan Ratnam, faktor penyebab yang berasal dari suami sebesar 33%, sedangkan hasil penelitian WHO sebesar 40%. Penelitian yang dilakukan Arsyad terhadap 246 pasangan infertil di Palembang menunjukkan infertilitas yang disebabkan faktor pria sebesar 48,4%.

Laboratorium klinik sangat berperan dalam diagnosis dan penatalaksanaan pada kasus infertil ini, diataranya ART yang khusus dikembangkan untuk membantu mengatasi kasus infertilitas pada pasangan suami-istri.

1.2

TUJUAN :  Mengetahui apa itu infertilitas serta penanganannya, baik pada pria maupun pada wanita.

1.3

MANFAAT :

1. Untuk memberikan tambahan informasi mengenai infertilitas bagi mahasiswa
Kedokteran Universitas Cenderawasih.

2. Sebagai latihan bagi penulis untuk mengetahui cara membuat karya tulis yang
benar.

BAB II ISI 2.1 DEFINISI : Fertilitas barasal dari kata fertil yang berarti subur. Dalam hal ini fertilitas pria diartikan sebagai kemampuan untuk dapat menghamili wanita.Syarat suatu sperma yang baik / normal adalah sesuai dengan parameter spermatozoa normal. Bila bagian besar parameter tersebut (terutama jumlah dan motilitas spermatozoa) tidak sesuai, maka spermatozoa tidak akan dapat membuahi sel talur. Keadaan seperti ini disebut infertilitas. Sedangkan dikatakan infertilitas pada wanita adalah jika kesuburannya yang berkurang Suatu pasangan disebut infertil kalau sang isteri tidak hamil dalam waktu 1 (satu) tahun setelah kawin tanpa mempraktekkan konstrasepsi (disengaja). Menurut Whitelaw pasangan yang sehat 56,5% menjadi hamil pada bulan pertama dan 78.9% dalam 6 bulan yang pertama. Sterilitas adalah istilah yang dipergunakan bagi seseorang yang mutlak tidak mungkin mendapat keturunan misalnya wanita dengan aplasia genitalis atau pria tanpa testes. 2.2 KLASIFIKASI

Secara gasris besar infertilitas dapat di bagi dua yaitu: 1. Infertilitas primer, suatu pasangan dimana isteri belum hamil walau telah berusaha selama satu tahun atau lebih dengen hubungan seksual yang teratur dan adekuat tanpa kontrasepsi. 2. Infertilitas sekunder, bila suatu pasangan dimana sebelumnya isteri telah hamil, tapi kemudian tidak hamil lagi walau telah berusaha untuk memperoleh kehamilan satu tahun atau lebih dan pasangan tersebut. telah melakukan hubungan seksual secara teratur dah adekuat tanpa kontrasepsi. Pada infertilitas sekunder ini sebagian telah mempunyai. anak, tapi ada

keinginan untuk menambah anak, baik karena anaknya masih satu atau karena jenis kelamin yang diinginkan belum didapatkan. Dan sebagian lagi memang istri telah pernah hamil mungkin anak yang lahir meninggal atau mengalami keguguran dan sebagainya.

1.3

ETIOLOGI

1.3.1 Penyebab infertilitas laki-laki dan perempuan Pada laki-laki mungkin terjadi perubahan tingkat motilitas sperma dan penurunan kualitas atau pembentukan sperma yang abnormal, smen bersifat basa, seperti juga halnya sekresi servikal. Sedangkan pada wanita mungkin mengalami penurunan kepatenan tuba karena endometriosis atau infeksi pelviks, anatomi uterus abnormal, atau perubahan hormonal yang mempengaruhi perubahan endometrium selama siklus menstruasi atau kualitas mukus servikal. Perkiraan komposisi tentang frekuensi relatif penyebab infertilitas adalah sebagai berikut : Faktor Tidak jelas Masalah sperma Kegagalan ovulasi Kerusakan tuba Endometriosis Masalah koitus Mukus servikal Masalah pria lainnya Insiden (%) 28 % 21 % 18 % 14 % 6% 5% 3% 2%

Banyak faktor yang menyebabkan mengapa seorang wanita tidak bisa atau sukar menjadi hamil setelah kehidupan seksual normal yang cukup lama. Diantara faktor-faktor tersebut yaitu faktor organik/fisiologik, faktor ketidakseimbangan jiwa dan kecemasan berlebihan. Dimic dkk di Yugoslavia mendapatkan 554 kasus (81,6%) dari 678 kasus pasangan infertil disebabkan oleh kelainan organik, dan 124 kasus (18,4%) disebabkan oleh faktor psikologik. Ingerslev dalam penelitiannya mengelompokkan penyebab infertilitas menjadi 5

masalah tuba. Pemeriksaan mikroskopis spermatozoa dan uji ketidakcocokan imunologi dimasukkan juga kedalam masalah air mani.2 Faktor yang disengaja . kombinasi. viskositas. 1. masalah vagina. volume. endokrin. Masalah air mani meliputi karakteristiknya yang terdiri dari koagulasinya dan likuefasi. suami.3. dan tidak diketahui (unexplained infertility). dan masalah peritoneum. masalah serviks. pH dan adanya fruktosa dalam air mani. rupa dan bau.kelompok yaitu faktor anatomi. Sumapraja membagi masalah infertilitas dalam beberapa kelompok yaitu air mani. masalah ovarium. masalah uterus.

maka tidak akan terjadi pembuahan . Perkembangan organ reproduksi pria mencapai keadaan stabil umur 20 tahun. pola hidup) a. rata . sehingga fertilisasi masih mungkin jilka ovulasi terjadi sekitar 1-3 hari sesudah koitus berlangsung. Faktor umum/non organik (umur.2 Faktor yang tidak disengaja I. lama berusaha. dimana keadaan ini disebabkan karena perubahan bentuk dan faal organ reproduksi. akan terjadi bila koitus berlangsung pada saat ovulasi. Frekuensi senggama Fertilisasi (pembuahan) atau peristiwa terjadinya pertemuan antara spermatozoa dan ovum. Setelah usia 25 tahun kesuburan pria mulai menurun secara perlahan-lahan.3. Hal ini berarti walaupun suami istri mengadakan hubungan seksual tapi tidak bertepatan dengan masa subur istri yang hanya terjadi satu kali dalam sebulan. Dalam keadaan normal sel spermatozoa masih hidup selama 13 hari dalam organ reproduksi wanita. frekuensi. Tingkat kesuburan akan bertambah sesuai dengan pertambahan umur dan akan mencapai puncaknya pada umur 25 tahun. Umur Umur mempengaruhi kesuburan dimana pada usia tertentu tingkat kesuburan seorang pria akan mulai menurun secara perlahan-lahan. Kesuburan pria ini diawali saat memasuki usia pubertas ditandai dengan perkembangan organ reproduksi pria. senggama. sehingga bila koitus dilakukan pada waktu tersebut kemungkinan besar bisa terjadi pembuahan. b. Sedangkan ovum seorang wanita umurnya lebih pendek lagi yaitu 1 x 24 jam.1.rata umur 12 tahun.

Penurunan fertilitas juga dialami oleh lelaki yang memiliki kebiasaan merokok.c. . d. Jadi lama suatu pasangan suami istri berusaha secara teratur merupakan faktor penentu untuk dapat terjadi kehamilan.0% dalam tiga bulan pertama. dijumpai fakta bahwa merokok dapat menurunkan fertilitas perempuan. terbukti mengalami keterlambatan hamil.8 bulan. 72.7% hamil dalam satu bulan pertama. pada laki-laki terdapat sebuah laporan yang menyatakan adanya hubungan antara minum alkohol dalam jumlah banyak dengan penurunan kualitas sperma 2.rata yang dibutuhkan untuk menghasilkan kehamilan adalah 2. Namun. Lama berusaha Penyelidikan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan kehamilan menunjukkan bahwa 32. Pola hidup 1. Merokok Dari beberapa penilitian yang ada.4% dalam 12 bulan pertama.3 – 2.1 % dalam enam bulan pertama. 57. Alkohol Pada perempuan tidak terdapat cukup bukti ilmiah yang menyatakan adanya hubungan antara minuman mengandung alkohol dengan peningkatan resiko kejadian infertilitas. yang termasuk didalam kelompok obesitas. Oleh karena itu sangat dianjurkan untuk menghentikan kebiasaan merokok jika perempuan memiliki masalah infertilitas. Waktu rata . Usaha yang paling baik untuk menurunkan berat badan adalah dengan cara menjalani olahraga teratur serta mengurangi asupan kalori dalam makanan. 85. Berat badan Perempuan dengan indeks massa tubuh yang lebih daripada 29.4% dalam 24 bulan pertama. dan 93. 3.

Misalnya penderita sindroma klinefelter. anomali orifisium uretra (epispadia hipospadia). Kelainan endokrin Kurang lebih 2% dari infertilitas pria disebabkan karena adanya kelainan endokrin antara lain berupa: a. b) Faktor Post testikular 1) Kelainan epididimis dan funikulus spermatikus. kelainan kromosom dan varikokel. dapat berupa absennya duktus deferens. duktus deferens tidak bersambung dengan epididimis. Kelainan paras hipotalamus-hipopise seperti : tidak adanya sekresi gonadotropin menyebabkan gangguan spermatogenesis b. testis tidak berfungsi baik. c. Faktor khusus/organik A. . biasanya mengenai kedua organ ini. tumor prostat dan prostatektomi 4) Kelainan penis / uretra berupa malformasi penis. congenital adrenal hyperplasi menyebabkan gangguan spermatogenesis.II. Varikokel Terjadinya pemanjangan dan dilatasi serta kelokan-kelokan dari pleksus pampiriformis yang mengakibatkan terjadinya gangguan vaskularisasi testis yang akan mengganggu proses spermatogenesis. Kelainan tiroid menyebabkan gangguan metabo1isme androgen. dan lain-lain. 3.sehingga spermatogenesis tidak terjadi. testikular.keadaan diluar testis dan mempengaruhi proses spermatogenesis yang terdiri dari kelainan endokrin. anomali preputium (fimosis). berupa sumbatan 3) Kelainan prostat dan vesikula seminalis. Kelainan kromosom. terjadi penambahan kromosom X. sumbatan dan lain-lain 2) Kelainan duktus ejakulatorius. Kelainan kelenjar adrenal. aplasia. pada pria (pre testikular. yang sering adalah peradangan. post testikular. reaksi imunologi dan faktor lingkungan) a) Faktor Pre testikular yaitu keadaan . 2. 1.

Dapat juga terjadi penghancuran sel (sitolisis) melalui peranan sel Tsitotoksis. Spermatozoa dapat digolongkan self antigen karena diproduksi jauh setelah sistem imunologik berfungsi. atau dari plasma semen. Atrofi testi primer. torsi peradangan. sel T helper dan sel T supresor. Para iluwan masih meragukan. antigen jaringan yang telah ada dalam tubuh sebelum sistem imunologik berfungsi. kecuali terlihat adanya aglutinasi spermatozoa yang dapat ditentukan dengan tes imunologi. Antibodi ini melalui beberapa jalan menyebabkan penghancuran antigen antara lain membentuk komplek antibodi komplemen menyebabkan lisis. Menurut burnett. mulai dari masa gamet dan telur yang dibuahi. antibody dependent cell mediated cytotoxicity (ADCC) menimbulkan sitolisis. bingung dan timbul berbagai pendapat yang saling kontradiksi. Sebagaimana hormon. jaroingan dan cairan sekresi yang berhubungan dengan traktus genitalia potensial bersipat antigenik dan mampu menimbulkan suatu respon imun. gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Suatu antigen akan mengalami beberapa proses dalam tubuh kita akibat sistem imunitas tubuh. Pada beberapa wanita antigen sperma menyebabkan timbulnya antibodi terhadap antigen spesifik atau permukaan pada sperma yang menyebabkan infertilitas. sehingga ia dianggap seebagai antigen asing. Analisis sperma biasanya tidak menunjukan kelainan. Se-sel ini memberikan sinyal-sinyal kepada limfosit B sehingga berdifensiasi menjadi sel plasma dan membentuk antibodi spesifik. Mekanisme lain yaitu dengan membentuk antibodi dengan bantuan makrofag. Antigen tersebut akan difagositosis sebagai respon imun nonspesifik dari tubuh. Antigen tersebut dapat berasal dari spermatozoa sendiri. kriptorkidism. d) Reaksi imunologis Dulu orang masih bertanya-tanya apakah faktor imunologi besar peranannya dalam infertilitas. trauma. Hampir 9% infertilitas pria disebabkan karena kriptorkismus (testis tidak turun pada skrotum).c) Faktor testikular. tumor. atau fagositosis spesifik. . dikenal sebagai self anitigen. sedangkan antigen jaringan yang timbul setelah sistem imunologik berfungsi sebagai non self antigen. Jones pada penelitian nya mengajukan teori bahwa faktor imunologi berpengaruh pada beberapa tahap dalm proses reproduksi manusia.

autoantibodi anti oavarium. endometriosis. Sifat antigenik dari sperma dan cairan sperma Pada keadaan normal inilah yang menyebabkan terbentuknya antibodi antisperm reaksi imun ini dihalangi oleh salah satu fungsi sel Sertoli pada testis yaitu mempertahankan lingkungan intralumen bebas dari komponen serum. Hanya ± 1/5 dari sisa-sisa tersebut yang lolos dari tubulus dn sisa ini diresorbsi oleh epitel germinativum. . Geva dalam tulisannya tentang autoimunitas dan reproduksi mendapatkan bahwa banyaknya autoantibodi dalam serum berhubungan dengan kegagalan kehamilan yang berulang. infertilitas yang tak jelas penyebabnya(unexplained infertility). dan antibodi otot polos ( smooth muscle antibodies). antibodi antikardiolipin dan antikoagulan lupus. Beberapa penyakit autoimun dapat menyebabkan suatu keadaan infertilitas. BEBERAPA ANTIGEN DAN ANTIBODI PADA PASANGAN INFERTIL Sperma dan plasma/cairan semen Banyak molekul yang dibentuk pada saat terjadi miosis dalam testis. faktor rhematoid. Autoantigen spesifik testis pada saat terjadinya spermiogenesis. antibodi antitiroid. antibodi antinuklear (ANA). Antigen lain muncul pada membran plasma setelah stadium midspermatid proses spermatogenesis dan pada permukaan sperma pada masa perjalanan sperma diepididimis. dan kegagalan fertilisasi invitro (IVF). Antibodi anti-DNA.Selain itu dapat juga terjadi keadaan autoimun terhadap semen dan komponen sperma yang biasanya terjadi pada suami yang pernah mengalami proses pada genitalianya termasuk vasektomi dan infeksi (mumps). Beberapa jenis antibodi yang dapat dideteksi antara lain antibodi antifosfolipid (APA). kegagalan ovarium prematur (prematur ovarian failure/POF). Dalam tulisannya Geva berkesimpulan bahwa abnormalitas autoimun mungkin menyebabkan kegagalan reproduksi (infertilitas) dan sebaliknya kegagalan reproduksi dapat merupakan manifestasi awal dari penyakit autoimun yang belum terdiagnosis. Sel sertoli juga membentuk barier imunologik yang secara aktif memfagositosis dan menghancurkan sisa-sisa produk hasil spermatogenesis tadi yang bila dibiarkan lolos dari tubulus seminiferus akan menyebabkan reaksi imunologik.

Sel-sel ini memfagositosis spermatozoa dan memproses antigennya sehingga menimbulkan pertahanan imun seseorang. FA-1 menghambat penetrasi sperma ke ovum melalui pengaruhnya terhadap kapasitasi dan reaksi akrosom sel sperma. Jumlah sperma yang sangat banyak/berlebihan 2.Antigen fertilisasi-1 (FA-1) merupakan antigen yang terdapat pada sel-sel germinal laki-laki dan bereaksi kuat dengan semen dari laki-laki dan perempuan infertil dan bereaksi lemah dengan semen dari orang –orang normal. Dari datanya juga Kaplan mengganggap bahwa FA-1 dapat digunakan dalam diagnosis dan pengobatan dalam imunoinfertiliti dan memungkinkan pengembangan vaksin kontrasepsi pada manusia. Sperma dilapisi oleh membran plasma yang mengandung antigen spesifik yang fungsinya sebagai pengenal zona pellusida telur dan berfungsi dalam proses kapasitas dan reaksi akrosom. antibodi ini menghambat fertilisasi dengan cara mempengaruhi interaksi antara sperma & zona pellucida. misalnya adanya infeksi vagina . dan semen secara kemotatik mempengaruhi makrofag dan netropil 3. Sperma juga difagositosis oleh sel-sel somatik sebagaimana makrofag. sedangkan Kaplan dalam penelitiannya mendapatkan kesimpulan bahwa FA-1 tidak mempunyai efek proteolitik atau aktivitas akrosin. Respon imun saluran reproduksi wanita terhadap antigen sperma dapat melalui 2 jalur yaitu jalur aferen dan jalur eferen. Antibodi antisperma Ada banyak bukti bahwa saluran reproduksi manusia khususnya pada wanita mampu menimbulkan respons imun lokal terhadap antigen asing. Saluran reproduksi wanita dibantu oleh sel-sel yang kompeten untuk menimbulkan respon imun. Rumke dan Hellinger (1959) adalah orang pertama yang membuktikan adanya antibodi antisperma atau autoantibodi terhadap sperma manusia. FA-1 adalah glikoprotein spesifik-sperma yang didapatkan dari membran plasma sel germinal manusia. termasuk antigen sperma. Antigen asing lain mempunyai efek ajuvans terhadap saluran reproduksi. Mekanisme ini dibantu oleh beberapa faktor yaitu : 1. Naz dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa hal ini terjadi karena antibodi terhadap FA-1 tidak mengaglutinasi atau menyebabkan immobilisasi sel sperma.

4. yang masing –masing lebih dominan bersipat lokal dibanding sistemik. Limfosit dalam semen berperanan menyebabkan sterilitas bagi wanita melalui mekanisme histokompatibilitas 5. Respon ini terhadap sperma pada wanita dapat melalui pembentukan antibodi atau melalui sel-sel. Faktor-faktor yang mempengaruhi respon imun lainnya misalnya prostaglandin E yang bersipat imunosupresif. .

abortus spontan. fertilisasi oosit yang abnormal. tapi karena antigen tidak mencapai sirkulasi respon sistemik jarang terjadi. . Haas dkk. Ada juga bukti klinik yang menunjukkan bahwa antigen yang terpapar akibat hubungan seksual dapat menimbulkan reaksi hipersensitif akut lokal maupun sistemik. 75% wanita dengan endometriosis dan 60% wanita dengan infertilitas karena faktor tuba. dan sperm-immobilizing antibody (SIA) yang menyebabkan spermatozoa motil menjadi berhenti. dan kepala ekor). Biasanya stimulus antigen terhadap membran mukosa membentuk antibodi lokal maupun sistemik. Ia mendapatkan 7% laki-laki dan 13% wanita antibodi antisperma (+). ekorekor. Moghisssi dalam penelitiannya menadpatkan insidens adanya antibodi antisperma pada pasangan infertil berupa sperm-aglutination antibodi (SAA) yang mempunyai kegiatan mengaglutinasikan sperma (aglutinasi kepala-kepala. insidens SAA dan SIA lebih tinggi dalam cairan serviks dibandingkan dalam serum. tidak mobil. Nip dkk. Apakah antibodi antisperma adalah penyebab dari kelainan-kelainan tersebut ataukah semata-mata antibodi antisperma itu sebagai tanda adanya penyakit yang masih dicari. Penelitian terhadap antibodi antisperma penting dilakukan karena berhubungan erat dengan transport sperma. bahkan walaupun dalam serum tidak ditemukan antibodi antisperma. walaupun sangat jarang. mengevaluasi semen 614 orang laki-laki & wanita dengan explained infertility.Imunisasi lokal (intravaginal) dengan berbagai antigen menghasilkan antibodi spesifik pada mukosa serviks. dan antibodi anti-DNA. Penelitian teakhir terhadap antibodi antisperma pada wanita dan hubungannya dengan infertilitas mulai diarahkan keanalisis cairan saluran reproduksi. Dalam penelitiannya Moghissi berkesimpulan bahwa diantara wanita infertil. Juga didapatkan bahwa kandungan antibodi antisperma ini lebih tinggi pada pasangan infertil yang tidak jelas sebabnya dibandingkan kandungan pada pasangan infertil yang diketahui penyebabnya (explained infertility). perkembangan embrio yang abnormal. Pada penelitian ini hanya didapatkan 5% antibodi antiperma (+) pada kontrol. daya tahan sperma. menggunakan cara ELISA melaporkan bahwa antibodi antisperma terdapat pada serum 77% wanita dengan explained infertility.

IgE. IgG ini paling mudah berdifusi kedalam jaringan ekstravaskuler dan melakukan aktivitas antibodi dijaringan. Makromolekul ini dapat menyebabkan aglutinasi berbagai partikel and fiksasi komplemen dengan efisiensi yang sangat tinggi. Karena itu IgM terdapat hanya dalam intravaskuler dan merupakan 10% dari imunoglobuin dalam serum. Antibodi IgM cenderung menunjukkan afinitas rendah terhadap antigen dengan determinan tunggal (hapten) tetapi karena molekul IgM multivalen. Fungsi polipeptida ini adalah mengikat dan menghancurkan antigen dengan bantuan fungsi efektor sekunder yaitu memacu aktivitas komplemen. 12 IgA merupakan immunoglobulin terbanyak kedua dalam serum dan merupakan imunoglobulin terbanyak dalam cairan sekresi termasuk cairan vagina/serviks. IgA dapat mengikat vaksin atau bakteri sehingga mencegah mikroorganisme tersebut melekat pada permukaan mukosa. Masing-masing mengandung 2 rantai berat spesifik dan 2 rantai ringan (α atau λ).Imunoglobulin adalah antibodi yang diproduksi sebagai respons terhadap antigen spesifik. Ig dibagi dalam 2 region. Pada elektroforesis molekul bermigrasi sebagai gammaglobulin. 3. Fab (amino-terminal) porsion to antibodi dan Fc (carboxy-terminal) portion bind to other imunosupresor. . molekul IgM dapat menunjukkan aviditas yang tinggi terhadap antigen yang mempunyai banyak epitop (bagian antigen yang bereaksi dengan antibodi). Imunoglobulin yang dibentuk oleh sel limfosit B merupakan molekul glikoprotein yang terdiri dari komponen polipeptida sebanyak 82-96% dan selebihnya karbohidrat. dan IgD. IgM. 12 IgM dijumpai dalam bentuk pentamer sehingga merupakan imunoglobulin terbesar.11. Ada 5 isotip imunoglobulin yang dikenal IgA. yaitu 20 kali lipat lebih efektif dalam aglutinasi and 1000 kali lebih efektif dalam aktivitas penghancuran bakteri dibanding IgG. IgG. Aktivitas lain yaitu melapisi mikroorganisme sehingga lebih mudah difagositosis.12 IgG merupakan 75% imunoglobulin total dan dijumpai dalam bentuk monomer. dan juga menetralisir toksin serta virus.

Selain itu IgE dapat dijumpai dalam cairan sekresi. Pembentukan antibodi antisperma juga terjadi sebagai akibat adanya radang lokal setelah infeksi genital pada seorang wanita. IgD diduga merupakan reseptor antigen pertama pada permukaan sel B. Peran biologiknya sebagai antibodi humoral belum jelas. hanya 0. terutama sel B neonatus dalam jumlah jauh lebih banyak dibanding konsentrasi dalam serum. Peran IgE secara pasti belum diketahui. Secara teoritis. virus dan jamur dapat mencapai membran luar sperma yang berfungsi sebagai antigen atau hapten yang menimbulkan respons imun. vasektomi.IgD merupakan monomer dan konsentrasinya dalam serum hanya sedikit. obstruksi mekanis traktus genitalis dapat terjadi akibat kelainan kongenital . Antibodi ini biasanya terdiri dari subkelas IgG atau IgA yang akan melekat pada sperma dan mempengaruhi fertilitas. Pembentukan antibodi antisperma pada wanita dapat terjadi pada traktus genitalia wanita yang terpapar antigen sperma. Salah satu sifat penting dari IgE adalah kemampuan melekat secara erat pada permukaan mastosit atau basofil melalui reseptor Fc. IgD dapat dijumpai pada permukaan sel B. Ekstravasasi sperma dapat dijumpai pada pria setelah dilakukan vasektomi. Beberapa penelitian membuktikan bahwa beberapa bakteri. Beberapa penilitian mendapatkan 50-70% laki-laki tersebut mempunyai antibodi antisperma serum(+). 12 Ig E dijumpai dalam serum dengan kadar yang sangat rendah. atau trauma. Fertilitas akan baik . barier darah-testis dapat ditembus oleh beberapa mekanisme yang menyebabkan terpaparnya sirkulasi oleh antigen sperma sehingga menyebabkan respon imun yang menimbulkan reaksi radang dan pemebentukan antibodi antisperma . 12 Ada beberapa hipotesis pembentukan antibodi antisperma pada laki-laki. Seorang wanita yang aktif secara seksual akan terpapar triliunan speermatozoa selama hidupnya. dan bahwa IgD berperan dalam mengawali respon imun. Sebagain besar laki-laki yang mengalami vasektomi dan laki-laki sebagian kecil infertil mempunyai antibodi antisperma dalam plasma semennya.004% dari imunoglobulin total. Organisme penyebab penyakit yang ditularkan secara seksual merupakan initiator pembentukan antibodi antisperma melalui mekanisme proses radang dan autoimun.

Cunningham dkk. merupakan faktor yang memegang peranan penting pada spermatogenesis.klamidia.bila wanita tersebut memberikan reaksi imun yang kompromistik. Atmosfer dataran tinggi (high altitude) juga menghambat pembuatan spermatozoa. mencari prevalensi antibodi antisperma pada wanita nulligravid usia reproduksi dengan berbagai proses infeksi ginekologis. sedikitnya 1. sebaliknya suhu rendah akan meningkatkan spermatogenesis pada manusia.30°C.2. Antibodi terhadap intrinsik sperma yang dihasilkan saat maturasi dalam testis dan antigen kapsul sperma yang muncul selama dalam epididimis dan saat bercampur dengan plasma semen berhubungan dengan infertilitas yang tidak dapat dijelaskan sebabnya (unexplained infertility). Proses imunisasi yang (akibat hubungan seksual) pada wanita terhadap sperma dapat menurunkan fertilitas berdasarkan kemungkinan kombinasi efek antibodi antisperma seperti aglutinasi sperma. Sperma yang mencapai cavum peritonium juga dapat menginduksi pembentukan antibodi antisperma serum melalui fagositosis makrofag dan presentasi sel T untuk menimbulkan respon imun. e) Faktor lingkungan 1) Suhu. 46 % wanita didiagnosis dengan penyakit radang pelvis (PID) (n=81) mempunyai antibodi antisperma (+) pada serum dan cairan serviks dibandingkan prevalensi antibodi antisperma (+) 20% pada wanita dengan infeksi genital bagian bawah ( jamur. Antibodi antisperma juga ditemukan pada 69% wanita yang dilaparoskopi pada wanita dengan perlengketan dipelvis atau hidrosalping tanpa riwayat PID. kenaikan suhu beberapa derajat akan menghambat proses spermatogenesis. n=86). 2) Tempat/dataran tinggi. Pada mamalia spermatazoa hanya dapat diproduksi bila suhu testis 29. fagositosis sperma. gagalnya penetrasi lendir serviks.5. Pembentukan antibodi antisperma juga dapat terjadi akibat radang lokal pada genitalia wanita. spermatogonia dan spermatosit sangat peka terhadap sinar rontgen kecuali spermatic dan sel sertoli. 3) Sinar rontgen. namun terpengaruh bahan kimia . bakteri. fusi sperma telur yang tidak efisien. dan gagalnya kehamilan sebelum atau sesudah implantasi. menurunnya motilitas.0°C dibawah suhu dalam tubuh.

2. Sebagai contoh : gangguan kongenital seperti kriptokidime atau testis tidak turun. Selain itu masalah spermatogenesis dapat terjadi karena terdapat gangguan pada tempat sintesis sperma yaitu testis. simetidin dan lain-lain. konsumsi alkhohol. serta masalah lingkungan seperti penggunaan celana ketat. trauma masa lalu. suhu yang terlalu tinggi (di atas temperatur tubuh). merokok. Infertilitas yang terkait masalah transpor dan penghantaran sperma. Sedangkan masalah penghantaran dapat terjadi karena gangguan ereksi. Masalah fisiologis seperti penyakit neuromuskular atau gangguan endokrin tertentu. stess. timah dan antibiotik tertentu (penisilin dan tetrasiklin). FSH dan LH. Menurut Handerson dan Jones (2006) Penyebab infertilitas pada pria dibagi menjadi dua kategori yaitu : 1. varikokel. Infertilitas yang diakibatkan spermatogenesis defektif Dua masalah spermatogensis ialah sperma yang dihasilkan terlalu sedikit seperti oligopserma(jumlah produksi sperma kurang dari 20x106 ml) dan azoopermia (kegagalan memproduksi sperma) atau masalah pada Motilitas sperma. Masalah seperti ini dapat disebabkan karena gangguan pada produksi hormon yang mendukung spermatogenesis seperti hormon testosteron. radiasi. Masalah transpor sperma dapat terjadi karena terjadi hambatan dalam vas deferen atau terjadi obstruksi vesikula seminalis. Sedang masalah psikologis seperti rasa takut gagal.dan obat-abatan tertentu yang dapat menghambat proses spermatogenesis. atau akibat pengalaman seksual yang tidak memusakan. . obat-obatan terlarang. Gangguan ereksi dapat disebabkan masalah yang bersifat fiologis dan psikologis. misal metronidazol.

luka parut di penis akibat infeksi sebelumnya. seperti uretritis. infeksi klamidia trakomatis vagina.B. infeksi klamidia trakomatis memiliki kaitan yang erat dengan infertilitas melalui kerusakan tuba yang dapat ditimbulkannya. Terjadinya proses reproduksi manusia sangat terkait dengan konisi vagina yang sehat dan berfungsi normal. akibat kontraksi refleks otot pubokoksigeus yang terlalu sensitif. Masalah vagina Vagina merupakan hal yang penting dalam tatalaksana infertilitas. a. 1) 2) . Faktor anatomi yang terkait dengan vaginismus dapat disebabkan oleh operasi di vagina sebelumnya seperti episiotomi atau luka trauma di vagian yang sangat hebat sehingga meninggalkan jaringan parut. endometriosis pelvik. atau sistitis. Faktor organik. prostitis. dan sebagainya. infeksi trikomonas vagina. Faktor organik. Vaginismus Merupakan masalah pada perempuan yang ditandai dengan adanya rasa nyerisaat penis akan melakukan penetrasi kedalam vagina. seperti prepusium yang terplampau sempit. Faktor infeksi. b. Vaginitis Beberapa infeksi kuman seperti klamidia trakomatis. Dispareunia pada lelaki dapat disebabkan oleh beberapa faktor berikut : Faktor infeksi. Pada perempuan dapat disebabkanoleh beberapa faktor antara lain adalah sebagai berikut : a. sehingga terjadi kesulitan penetrasi vagina oleh penis. Faktor khusus / organik Pada Wanita a. Hal ini bukan disebabkan oleh kurangnya zat lubrikans atau pelumas vagina. atau keganasan vagina. Beberapa kuman infeksi antara lain adalah neisseria gonorhe b. Penyempitan liang vagina ini dapat disebabkan oleh faktor psikogenik atau disebabkan oleh kelainan anatomik. dan pada saluran berkemih. nodul endometriosis di vagina. tetapi disebabkan oleh diameter liang vagina yang terlalu sempit. dan bakterial vaginosis seringkali tidak menimbulkan gejala klinik sama sekali. Masalah pada vagina yang memiliki kaitan erat dengan peningkatan kejadian infertilitas adalah sebagai berikut : Dispareunia Merupakan masalah kesehatan yang ditandai dengan rasa tidak nyaman atau rasa nyeri saat melakukan senggama. Niseria Gonore. seperti infeksi kandida vagina. Namun. Dispareunia dapat dialami perempuan ataupun lelaki. seperti vaginismus.

Pada tuba uterina yang mengalami kerusakan berat. Potensi tuba dan keberhasilan pengobatan fertilitas . dapat menjadi penyebab infertilitas. tuba yang tersumbat dapat tampil dengan bentuk dan ukuran yang normal. maupun pada ujung dista dari titik. Sumbatan tuba dapat disebabkan oleh infeksi atau dapat disebabkan oleh endometriosis.Faktor serviks a) Servisitis Memiliki kaitan yang erat dengan terjadinya infertilitas. Infeksi klamidia trakomatis memiliki kaitan yang erat dengan terjadinya kerusakan tuba. karena tuba berperan dalm proses tranpor sperma. atau memintas serviks denganterapi inseminasi intrauterin (IIU) menggunakan sperma suami.terapi fertilisasi in vitro mungkin memberikan angka keberhasilan yang lebih tinggi daripada perbaikan tuba secara bedah mikro.dan tranpor embrio. pada bagian tengah tuba. 30% perempuan dengan infertilitas ditemukan mengidap penyakit tuba. Pada perempuan anovulatorik dengan mukus serviks abnormal. Adanya kerusakan atau kelainan tuba tertentu akan berpengaruh terhadap angka fertilitas. kapasitas sperma. Terapi untuk mukus serviks yang inadekuatmeliputi pemberian estrogen terkonjugasi 0. Berdasarkan bentuk dan ukurannya.325 mg per hari pada hari ke 3 sampai ke 12 siklus. Adanya tanda infeksi klamidia trakomatis di serviks sering kali memiliki kaitan erat dengan penimgkatan resiko kerusakan tuba melalui reaksi imunologi. b) Trauma pada serviks Tindakan operatif tertentu pada serviks seperti konisasi atau upaya abortus profokatus sehingga menyebabkan cacat pada serviks. Faktor tuba Tuba fallopi memiliki peran yang besar didalam proses frtilisasi. Kelainan tuba yang seringkali dijumpai pada penderita infertilitas adalah sumbatan tuba baik pada pangkal. Pada pemeriksaan histerosalpingografi atau laparoskopi. proses fertilisasi. uji antibodi antisperma harus dilakukan pada perempuan tersebut dan pasangannya. Jika uji paska koitus memberi hasil yang abnormal akibat sperma yang “bergetar” atau imobile. perlu disingkirkan kemungkinan “poor timing” dengan penentuan waktu yang tepat melalui uji LH urin atau peninjauan cermat suhu basal tubuh. yang tampail sebagai uji paska koitus abnormal. tetapi dapat pula tampil dalam bentuk hirosalping. Servisitis kronik dapat menyebabkan kesulitan bagi sperma untuk melakukan penetrasi kedalam kavum uteri. Terapi utama untuk infertilitas akibat kelainan tuba adalah pembedahan. c) Mukus serviks dapat menjadi penghalang yang signifikan bagi penetrasi sperma sehingga perlu dinilai. Penyakit radang panggul atau perlekatan panggul akibat pembedahan terdahulu juga dapat menyebabkan gangguan potensi tuba uterina.

Faktor uterus Faktor yang terkait kavumuteri meliputi kelainan anatomi kavum uteri dan faktor yang terkait dengan endometrium. mungkin lebih sering menyebabkan abortus habituali. Kelainan anatomi kavum uteri. Adanya septum pada kavum ueteri. Faktor endometriosis Endometriosis kronis memiliki kaitan yang erat dengan rendahnya ekspresi integrin (avb3) endometrium yang sangat berperan dalam proses implantasi. atau leiomioma submukosa. progestin. Perlekatan dipanggul diperkirakan dapat mengganggu fertilitas dengan menghambat pengambilan ovum atau mengganggu hubungan ovarium dan tuba. seperti perlekatan intrauterin (sindrom Asherman). dan derajat kerusakan intratuba. kecuali pada leiomioma submukosa berukuran besar yang perlu diangkat dengan laparotomi. Defek anatomik. Berdasarkan lokasi mioma uteri terhadap endometrium. Kondisi uterus bikornis atau uterus arkuatus tidak meniliki kaitan yang erat dengan infertilitas.bergantung pada derajat dilatasi tuba. tentu akan mengubah struktur anatomi dan struktur vaskularisasi endometrium. Namun. ketebalan dinding tuba. Endometriosis dianggap mengganggu fertilitas dengan mengganggu motilitas tuba atau melalui pengaktifan makrofag. Faktor miometrium Mioma uteri merupakan tumor jinak uterus yang berasal dari peningkatan aktifitas proliferasi sel-sel endometrium. danokrin. Faktor ini yang dapat menerangkan tingginya penyakit radang panggul subklinik pada perempuan dengan infertilitas. Adanya kaitan antara kejadian polip iendometrium dengan kejadian endometrium krinik tampaknya meningkatnya kejadian infertilitas. lisis perlekatan dan drainase terhadap endometrium. dan analog GnRH pernah diberikan dan memberikan hasil yang baik. Tidak terdapat kaitan yang erat antara septum uteri ini dengan peningkatan kejadian infertilitas. maka mioma uteri dapat diklasifikasi sebagai berikut : . polip. Malformasi uterus kongenital. b. dapat mengganggu fertilitas. terdapat kaitan yang erat antara septum uteri antara peningkatan kejadian kegagalan kehamilan muda berulang. a. serviks dan kavum uteri. obstruksi tuba. Septum dapat diperbaiki secara heteroskopik atau dengan metroplasti uetrus. atau laser. Terapi disesuaikan untuk tiap orang dan terdiri atas pengangkatan implan peritonium dengan eksisi. Angka kehamilan berkisar antara 15-40% bergantung pada keparahan kerusakan tuba. atau defek fase luteal. Terapi medis diberikan untuk pasien dengan penyakit yang ringan atau setelah pembedahan untuk menekan penyakit residual. Kontrasepsi oral. sperti septum uterus. Terapinya berupa pengangkatan secara histeroskopik. kauterisasi. Perlekatan dieksisi secara hati-hati menggunakan teknik bedah mikro hemostasis yang cermat.

Kista ovarium yang sringkali dijumpai pada penderita infertilitas adalah kista ovarium yang sering dengan istilah kista coklat. atau mempengaruhi implantasi Adenomiosis Merupakan kelainan pada miometrium berupa susupan jaringan stroma dan kelenjar yang sangat menyerupai endometrium. Masalah utama yang terkait dengan fertilitas adalah terkait dengan fungsi ovulasi. Terdapat siklus haid oligoovulasi atau anovulasi. Mioma uteri mempengaruhi fertilitas kemungkinan terkai dengan sumbatan pada tuba. dan infertilitas. Pada kista endometriosis dengan AFS . Untuk menilai derajat keparahan endometriosis. terjadinya proses metaplasi jaringan bagian dalam dari miometrium (the junctional zona) yang secara ontogeni merupakan sisa dari duktus muller. 2. neyri haid. Sindrom ovarium polikistik merupakan masalah gangguan ovulasi utama yang seringkali dijumpai pada kasus infertilitas. deformitas bentuk uterus.1) 2) 3) 4) 5) Mioma subserosum Mioma intramural Mioma submukosum Mioma serviks Mioma di rongga peritonium Pengaruh mioma uteri terhadap kejadian infertilitas hanyalah berkisar 30-50%. Terdapat gambaran ovarium polikistik pada pemeriksaan ultrasonografi. perdarahan uterus yang abnormal. Terdapat gambaran hiperandrogenisme baik klinis maupun biokimiawi. Masalah ovarium Ovarium memiliki fungsi sebagai penghasil oosit dan penghasil hormon. saat ini digunakan klasifikasi berdasarkan revisi American Fertility Society (AFS). Saat ini untuk mengakkan diagnosis sindrom ovarium polikistik jika dijumpai dari 3 gejala dibawah ini : 1. Secara teoritis. Masalah gangguan ovulasi yang lain adalah yang terkait dengan pertumbuhan kista ovarium non neoplastik ataupun kista ovarium neoplastik. tetapi juga dapat mempengaruhi fungsi maturasi oosit. Penderita infertilitas dengan obesitas seringkali menunjukkan gejala sindrom ovarium polikistik. Kista endometriosis tidak hanya mengganggu fungsi ovulasi. 3. 40-70% kasus sindrom ovarium polikistik ternyata memiliki kaitan erat dengan kejadian resistensi insulin. Sampai saat ini masih belum diketahui dengan pasti patogenesis dari adenomiosis ini. sumbatan pada kanalis servikalis. Adenomiosis memiliki kaitan yang erat dengan nyeri pelvik.

Varikokel merupakan dilatasi abnormal pleksus pampiniformis vena spermatikainterna. Pada keadaan tersebut dianjurkan inseminasi buatan dengan donor (artificial insemination by donor. Endometriosis dijumpai sebesar 25-40% pada perempuan dengan masalh infertilitas dan dijumpaisebesar 2-5% pada populasi umum. Endometriosis dapat terlihat dengan mudah dalam bentuk yang khas yaitu nodul hitam. Kualitas sperma membaik pada 50-90% laki-laki yang diterapi dengan ligasi bedah atau oklusiradiologik vena spermatika interna. Masalah peritonium Masalah yang sering dikaitkan antara faktor peritoneum dengan infertilitas adanya faktor endometriosis. 20-40 % lakilaki infertil ternyata mengalami varikokel dengan derajar bervariasi. Diperkirakan disebabkan oleh faktor-faktor imunologis yang kemudian berdampak negatif terhadapt kerusakan jaringan. Azoospermia sering tidak dapat diobati. Obstruksi duktus ejakulatorius atau ejakulasi retrogad kedalam kandung kenih akan memberikan gambaran kadar FSH yangnormal. dan adapula bercak endometriosis yang tertanam dalam dibawah lapisan peritoneum (deep infiltrating endometriosis). dan kegagalan fungsi tuba akibat deformitas tuba. kegagalan maturasi oosit. Oligospermia didefinisikan sebagai jumlah sperma yang kurang dari 20 juta per mililiter dan biasanya idiopatik. Peningkatan FSH serum mengisyaratkan berkurangnya fungsi jaringan germinal. Tindakan operatif untuk pengangkatan kista ovarium jika tidak dilakukan dengan hati-hati dapat berakibat meningkatnya kejadian kegagalan fungsi ovarium. nodul hitam kebiruan. Patogenesis endometriosis di rongga peritoneum seringkali dikaitkan dengan teori regurgitasi implantasi dari Sampson atau dapat pula dikaitkan dengan teorimetaplasia.derajat sedang atau berat kejadian infertilitas dapat dikaitkan dengan kegagalan ovulasi. Endometriosis dapat tampil dalam bentuk adanya nodul-nodul saja dipermukaan peritoneum atau berupa jaringan endometriosis yang berinfiltrasi dalam dibawah lapisan peritoneum. infeksi atau varikokel. nodul kuning. . misalnya trauma. nodul coklat. Pertumbuhan endometriosis sangat dipengaruhi pula oleh paparan hormonal seperti estrogen dan progesteron. dan nodul merah. yang seringkali dipenuhi pula oleh sebaran pembuluh darah. Faktor laki-laki Pemilihan terapi yang sesui untuk infertilitas akibat faktor laki-laki bergantung pada penyebab defek. yang akan semakin memperburuk prognosis fertilitasnya. tetapi mungkin disebabkan oleh gangguan testis. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti hubungan yang erat antara endometriosis dengan kejadian infertilitas. AID) atau adopsi. Pada laki-laki dengan ejakulasi retrogad sperma dapat ditemukan didalam urin. Bercak endometriosis juga dapat tampil tersembunyi tipis dibawah lapisan peritoneum yang dikenal dengan istilah nodul powderburn. nodul putih. Pada keadaan ini infertilitas diperkirakan terjadi karena peningkatan suhu testis atau venostatis.

dapat diberikan terapi empiris dengan induksi ovulasi. inseminasi intrauterin. . Semua penyakit atau stres akut atau kronik harus diatasi dan dilakukan analisis sperma berulangulang untuk menentukan ketepatannya. Infertilitas yang tidak dapat dijelaskan Sekitar 10%pasangan yang datang dengan infertilitas tidak diketahui penyebabnya. atau teknologi untuk membantu reproduksi.Namun angka konsepsi tidak lebih tinggi daripada 20-25% dan diperlukan penilitian lebih lanjut sebelum terapi ini dianjurkan secara luas. klomifen sitrat atau testosteron secara rutin untuk mengatasi oligospermia harus dihindari karena dapat terjadi supresi sperma paradoksal. Jika pasangan yang bersangkutan tetap infertil setelah suatu periode pengamatan. Pada kelompok pasangan ini ditemukanangka konsepsi tidak bergantung terapi yang bermakna (30% dalam tahun pertama dan angka kehamilan kumulatif setelah akhir tahun ke 3 adalah 60%). Pemakaian hormon tiroid. Perlu dilakukan pengkajian ulang terhadap evaluasi awal dan penentuan apakah harus dilakukan pemeriksaan tambahan.

. Hipotiroidismus (myxoedema) Penderita hipotiroidismus jarang terjadi hamil karena biasanya tidak terjadi ovulasi. b. seorang cebol dan penderita miksoedema dapat menjadi hamil. Walaupun demikian. Hipertiroidismus (Basedowi morbus) Penderita hipertiroidismus biasanya mengalami gangguan haid dan kemandulan.Penyakit dan Kelainan yang Tidak Langsung Berhubungan dengan Kehamilan I. Penyakit Endokrin a. Walaupun demikian. kadang terjadi juga kehamilan atau penyakitnya baru timbul dalam masa hamil.

tinja yang berdarah. dapat pula terjadi diare yang berdarah dan berlendir. Penyakit ini diawali dengan gejala dermatitis yang timbul dalam 24 jam setelah penetrasi “serkaria” melalui kulit. II. kehamilan sering berakhir dengan abortus.mekongi.mansoni dapat masul ke dalam saluran genital. sehingga wanita tidak menjadi hamil. Trematoda Schistosomiasis adalah penyakit infeksi cacing yang disebabkan oleh S.japonicum. . Tergantung kepada jenis schistosoma yang menyerangnya.interkalatum. yang biasanya disertai anovulasi. yang memudahkan terjadinya kehamilan ektopik dan infertilitas. penurunan berat badan. Carayon dkk melaporkan dijumpainya filariasis pada tuba ataupun ovarium yang dapat menyebabkan infertilitas. Infeksi akut S. Infeksi yang berat dapat menampilkan gejala disentri dan tenesmus serta prolapsus rektum. serta mungkin hepatosplenomegali. Penyakit Menular a. anemia. Nematoda lain yang berpengaruh terhadap reproduksi adalah golongan nematode jaringan.haematobium dapat menyebabkan hematuri. Apabila pengobatan tidak diberikan dari permulaan.dan S. S. Kemudian akan terjadi urtikaria. Selain itu. Siklus hidupnya sangat komplek dan membutuhkan pejamu intermediet berupa siput air tertentu. serta nyeri perut. Hiperfungsi kelenjar adrenal Hiperfungsi kelenjar adrenal menyebabkan sindroma Cushing. telur S. sehingga terjadi inflamasi pada tuba.mansoni. b.haematobium dan S.c. Ada kalanya penderita sindroma Crushing menjadi hamil. walaupun kadang-kadang dapat mencapai cukup bulan. sakit perut. yang menimbulkan penyakit Filariasis atau Elefantiasis. Nematoda Trikuris Trikuria Jenis cacing usus lainnya yang dapat menimbulkan gejala berupa malaise. demam dan malaise. S.

maka terapi dapatdiberikan dengan cepat dan tepat. termasuk kortikosteroid. Kematian biasanya disebabkan oleh gawat-jantung pada scleroderma difusa. frekuensi dan  Waktu melakukan hubungan seksual Pemeriksaan lanjutan  Riwayat perkembangan urologis. luasnya. Menilai perkiraan angka keberhasilan terapi yang dianjurkan tersebut 4. Pengobatan scleroderma hingga kini tidak memuaskan. tergantung pada beratnya. Mengedukasi kepada pasangan mengenai gangguan spesifik yang mereka alami dan terapi alternaif yang tersedia atau adopsi.  Usia pasangan. Skleroderma Skleroderma.  Pekerjaaan. pembedahan.III.Yang paling sering menderita ialah para wanita muda dalam masa bisa mendapat anak (childbearing age). Dengan melakukan pemeriksaan dasar yang baik dan lengkap. jarang dijumpai. sehingga penderita infertilitas dapat terhindar dari keterlambatan tata laksana infertilitas yang dapat memperburuk prognosis dari pasangan suami istri tersebut. kontak dengan zatzat . Beberapa pasien tertentu yang hanya mencari diagnosis dan tidak ingin meneruskan terapi atau tidak dapat membiayai uji diagnostik atau terapi yang dianjurkan. Memberikan pasangan tersebut protokol pengobatan yang dianjurkan 3. dan banyaknya alat tubuh yang ikut serta dalam proses penyakit. Pemeriksaan dasar 1. Penyakit Kolagen a. Wawancara / anamnesis dan pemeriksaan fisik 2. suatu penyakit yang ditandai dengan penebalan dan pengerasan kulit secara lokal atau umum. Menentukan penyebab infertilitas 2. Evaluasi infertilitas berfungsi untuk : 1. sementara yang lain mematuhi terapi medis atau bedah yang dianjurkan. Skleroderma sering menyebabkan kemandulan. Pemeriksaan Evaluasi Infertilitas Dasar pemeriksaan dasar merupakan hal yang sangat penting dalam tata laksana infertilitas. Pemeriksaan Infertilitas Pria Pada umumnya dilakukan pemeriksaan berupa: 1. Wawancara / anamnesis meliputi:  Lama menikah. hubungan kelamin. Jalannya penyakit berbeda. Sebagian pasangan kemudian melakukan adopsi.

Pemeriksaan laboratorium khusus seperti : kadar serum darah.2 atau lebih 20 juta/ml atau lebih 40 juta/ejakulat atau lebih 25% atau lebih 50% atau lebih 30% atau lebih 75% atau lebih yang hidup Kurang dari 1 juta/ml . testosteron dan lain-lain bila ada indikasi. mortalitas dan morfologi sperma.  Lakukan abstinensia (pantang sanggama) selama 2-3 hari  Keluarkan sperma dengan cara masturbasi dan hindari dengan cara sanggama terputus  Hindari penggunaan pelumas pada saat masturbasi  Hindari penggunaan kondom untuk menampung sperma  Gunakan tabung dengan mulut lebar untuk tempat penampungan sperma  Tabung sperma harus dilengkapi dengan nama jelas. tanggal dan waktu pengumpulan sperma. 2. LH. Hasil dari analisis sperma tersebut menggunakan teknologi khusus yang diharapkan dapat menjelaskan kualitas sperma berdasarkan konsentrasi. letak lubang uretra.toksik. darah dan analisis sperma. epididimis dll) Pemeriksaan laboratorium rutin. urin. ginekomastia dll) Pemeriksaan khusus alat reproduksi (penis. penyakit infeksi alat reproduksi Pemeriksaan jasmani pada umumnya termasuk seks sekunder (penyebaran rambut. Beberapa syarat yang harus diperhatikan agar menjamin hasil analisis sperma yang baik adalah sebagai berikut. FSH. Nilai normal analisis sperma berdasarkan kriteria WHO Kriteria Volume Waktu likuefaksi pH Konsentrasi sperma Jumlah sperma total Lurus cepat (gerakan yang progresif dalam 60 menit setelah ejakulasi (1)) Jumlah antara lurus lambat (2) dan lurus cepat (1) Morfologi normal Vitalitas Lekosit Keterangan: Derajat 1: gerak sperma cepat dengan arah yang lurus       Nilai Rujukan Normal 2ml atau lebih Dalam 60 menit 7. Kriteria yang digunakan untuk menilai normalitas analisis sperma adalah kriteria normal berdasarkan kriteria World Health Organization (WHO). konsistensi testis. ukuran. vas deferens. karena dari berbagai penelitian menunjukan bahwa faktor lelaki turut memberikan kontribusi sebesar 40% terhadap kejadian infertilitas. metode yang dilakukan dalam pengambilan sperma  Kirimkan sampel secepat mungkin ke laboratorium sperma  Hindari paparan tempratur yang terlampau tinggi (lebih dari 38˚C) atau terlalu rendah (kurang dari 15˚) atau meenempelkannya ke tubuh sehingga sesuai dengan suhu tubuh. Pemeriksaan dasar:  Analisis semen Pemeriksaan analisis sperma sangat penting dilakukan pada awal kunjungan pasutri dengan masalah infertilitas.

Derajat estrogenisasi vagina (adanya sel vagina yang berugae. cukup melakukan analisis sperma tunggal jika pada pemeriksaan telah dijumpai hasil analisis sperma yang normal. Pada saat pemeriksaan panggul. kriokauterisasi. galaktorea. Namun. Evaluasi dan terapi infertilitas sebelumnya juga perlu didapatkan dan diinterpretasikan. dan hirsutisme mungkin disebabkan oleh kelebihan androgen. merah muda dan persentase sel-sel superfisial pada kerokan dinding vagina) dan kualitas serta kuantitas mukus serviks harus dicatat. Masalah seksual. harus dicari ada tidaknya nyeri tekan. durasi dan jumlah perdarahan. sedangkan riwayat hirsutisme yang muncul saat pubertas atau hirsutisme yang cepat memburuk mungkin mengisyaratkan adanya penyakit ovarium polikistik ataukelebihan anddrogen lainnya. Ukuran dan kontur uterus serta adneksa juga harus dicatat. dan spikologis harus dibahas. . serta dismenorea atau gejala prahaid yang menyertai. sedangkan riwayat amenore atau menometroragia mungkin menunjukkan anovulasi atau kelainan uterus. Riwayat penyakit radang panggul. massa. atau terapi laser pada serviks. teratur. dan siklik sesuai dengan ovulasi. akantosis nigrikans. Riwayat galaktorea mungkin jadi petunjuk hiperprolaktinemia. perforasi appendiks atau pembedahan abdomen lainnya. Serviks harus diperiksa untuk mencari riwayat pajanan dietilstilbestrol atau riwayat operasi. Akne. atau kelainan berat badan harus diperiksa dengan cermat. kulit berminyak. Pemeriksaan fisik yang menyeluruh diperlukan untuk membantu menentukan faktor-faktor penting yang mungkin menyebabkan infertilitas. Pembesaran tiroid. sosial. atau pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim dapat menyebabkan penyakit pada tuba. Pasien harus ditanyai mengenai disparaeunia atau dismenore berat yang mungkin berhubungan dengan endometriosis. Riwayat haid yang dapat diperkirakan. stri abdomen. Riwayat haid harus meliputi lama siklus.Derajat 2: gerak sperma lambat atau berputar-putar Terminologi dan definisi analisis sperma berdasarkan kualitas sperma Terminologi Normozoospermia Oligozoospermia Definisi Ejakulasi normal sesuai dengan nilai rujukan WHO Konsentrasi sperma lebih rendah dari nilai rujukan WHO Konsentrasi sel sperma dengan motilitas lebih rendah dari nilai Astenospermia rujukan WHO Konsentrasi sel sperma dengan morfologi lebih rendah dari nilai Teratozospermia rujukan WHO Azospermia Tidak didapat sel sperma di dalam ejakulat Aspermia Tidak terdapat ejakulat Kristospermia Jumlah sperma sangat sedikit yang dijumpai setelah sentrifugasi Dua atau tiga analisis sperma diperlakukan untuk menegakan diagnosis adanya analisis sperma yang abnormal. Harus dilakukan anamnesis menyeluruh mengenai riwayat penyakit dahulu dan riwayat keluarga. parut bedah. uterus atau adneksa. Pemeriksaan ovulasi. 1. Pemeriksaan Infertilitas Wanita Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik Pihak perempuan harus ditanyai mengenai saat ia mengalami pubertas dan menarke. basah. dan mobilitas serviks. pigmentasi kulit. Pemeriksaan harus dilakukan berulang untuk mengurangi nilai positif palsu.

dan dapat diperkirakan sedikit banyak dengan molimina merupakan bukti presumtif adanya ovulasi. Bagan suhu haid dibawa ke tempat praktik setiap kali kunjungan agar dapat ditambakan kedalam status pasien. merokok. faktor-faktor ovarial : tumor-tumor. (pada siklus 28 hari yang biasa. Evalusi laboratorium dasar untuk mendokumentasikan ovulasi dimulai dengan bagan haid yang mencatat hari pertama perdarahan haid sebagai hari siklus 1. Sesudah ovulasi terjadi kenaikan suhu basal disebabkan pengaruh progesteron. dysfungsi. d) pemeriksaan endometrium : kuretase pada hari pertama haid atau pada fase premenstruil menghasilkan endometrium dalam stadium sekresi dengan gambaran histologis yang khas. pembentukan progesterone menimbulkan perubahan-perubahan sitologis pada sel-sel superfisial. penyakit kronis. faktor-faktor intermediate : gizi. Bagan ini dapat digunakan untuk mencatat suhu basal tubuh harian (SBT) (gambar 24-1). Sebab-sebab gangguan ovulasi : a. Pada saat ovulasi. hal ini biasanya terjadi pada hari siklus ke-13 atau ke-14. Namun. diperbesar agar pengukuran lebih akurat. penyakit metabolis. Adanya episode demam atau sakit. dysfungsi hypofise. faktor-faktor susunan saraf pusat : tumor. Fase luteal seyogyanya berlangsung sampai 11-16 hari. a) pencatatan suhu-suhu basal dalam suatu kurve : kalau siklus ovulatoar maka suhu basal bersifat bifasis. spotting vagina. ICSH dan pregnandiol. b. c) pemeriksaan lendir cervix : adanya progesteron menimbulkan perubahan slfat lendir cervix ialah lendir tersebut menjadi lebih kental. atau perdarahan harus dicatat. Tersedia alat yang dijual bebas untuk mengukur LH urin dan dapat diunakan untuk memantau lonjakan LH di pertengahan siklus yang memicu ovulasi. Suhu dicatat di tempat tidur setiap pagi pada waktu yang hampir sama sebelum makan atau minum. Dokumentasi Ovulasi Riwayat haid yang teratur. Jika perkiraan waktu ovulasi dapat diramalkan dari bagan suhu. Bagan tersebut diinterpretasikan sebagai berikut. dysfungsi hypothalamus.8°F akibat efek termogenik progesteron. juga gambaran fern (daun pakis) yang terlihat pada lendir yang telah dikeringkan hilang. Ada cara-cara perkiraan ovulasi yang lebih akurat. coitus.7°c) 2. Turner syndrom. atau mengosok gigi. Hubungan kelamin seyogianya dlakukan 12-14 jam setelah awitan lonjakan LH. c. siklik. b) dengan pemeriksaan vaginal smear . Progesteron adalah produk sekretorik utama korpus luteum.Terjadinya ovulasi dapat kita ketahui dengan berbagai pemeriksaan. Suhu fase luteal meningkat 0.) 3. memperlihatkan sedikit penurunan suhu. kadar pada . faktor psikogen. Kadar progesteron fase luteal sebesar 3-4 ng/ml atau lebih mengindikasikan terjadinya ovulasi.6-0. Suhu fase proliferatif biasanya kurang dari 98°F (36. 1. Untuk tujuan ini digunakan termometer basal khusus dengan rentang suhu ovulasi. e) pemeriksaan hormon seperti oestrogen. Durase fase luteal dihitung dari penurunan suhu di pertengahan siklus sampai awitan haid berikutnya.pasangan tersebut dianjurkan untuk berhubungan kelamin setiap 36-48 jam selama 3-4 hari sebelum dan 2-3 harisesudah suhu meningkat.

Sims Huhner test yang baik menandakan : 1) 2) 3) 4) teknik coitus baik lendir cervix normal oestrogen ovarial cukup sperma cukup baik.  Kurzrock Miller test. Pada suasana yang alkalis spermatozoa dapat hidup lebih lama. Suasana menjadi asam pada cervicitis. Dengan menggunakan kriteria tersebut. b) pH lendir cervix. Selain oestrogen rupanya juga enzym enzym proteolytik seperti trypsin dan chemotrypsin mempengaruhi viscositas lendir cervix. e) Berbagai kuman-kuman dalam lendir cervix dapat membunuh spermatozoa.pertengahan fase luteal idealnya lebih besar daripada 10 ng/ml. sebaliknya pada stadium sekresi lendir cervix lebih kental karena pengaruh progesteron. Sims Huhner test dianggap baik kalau terdapat 5 spermatozoa yang motil per high powerfield. 2. dapat ditentukan adanya insufisiensi fase luteal jika perkembangan endometrium tertinggal lebih dari 2 hari dari siklus saat awitan lonjakan Lh atau periode haid berikutnya pada paling sedikit dua siklus. . Kadar dibawah angka-angka ini mungkin mengisyaratkan fase luteal yang tidak adekuat atau kelainan hormonal lainnya. Pemeriksaan lendir cervix dilakukan post coitum sekitar waktu ovulasi. Keadaan dan sifat lendir cervix sangat mempengaruhi keadaan spermatozoa. Progesteron akan merangsang perubahan-perubahan sekretorik didalam endometrium dan telah diciptakan kriteria histologik spesifik untuk dating endometrium. c) Enzym proteolytik. Pada stadium proliferasi lendir cervix agak cair karena pengaruh oestrogen. Biopsi endometrium yang diambil 2-3 hari sebelum perkiraan awitan haid juga dapat digunakan untuk membuktikan adanya ovulasi. a) Kentalnya lendir cervix. Lendir cervix bersifat alkalis dengan pH ± 9. Lendir Cervix. Biasanya baik tidaknya lendir cervix diperiksa dengan :  Sims Huhner test (post coital test). Lendir cervix yang cair lebih mudah dilalui spermatozoa. d) Dalam lendir cervix dapat juga diketemukan immunoglobulin yang dapat menimbulkan agglutinasi dari spermatozoa.

Hysterosalpingografi. 2. PERTUBASI (INSUFLASI) SECARA RUBIN. CO2 dimasukkan ke dalam cavum uteri dan tuba. Kalau tekanan tidak melewati 180 mm Hg. maka ada penutupan parsiil dan kalau lebih 200 mm Hg. 2. Pemeriksaan Tuba : Untuk mengetahui keadaan tuba dapat dilakukan : 1. yang disebabkan oleh peristaltik tuba. Selain dari pada mempunyai nilai diagnostis pemeriksaan tersebut di atas juga ada nilai terapeutisnya karena dengan memasukkan gas atau cairan ke dalam uterus dan tuba perlekatan-perlekatan ringan kadang-kadang terlepas.Dilakukan pada pertengahan siklus kalau hasil Sims Huhner test kurang baik. Biasanya tekanan gas dicatal dengan kymogram. 3. dilihat apakah ada penetrasi spermatozoa. Kalau tuba paten (tidak tertutup) maka gas akan keluar dari ujung tuba. Hal ini dapat kita ketahui dengan stetoskop yang diletakkan kiri atau kanan dari uterus : gas yang keluar menimbulkan bunyi yang khas. maka ada obstruksi. Satu tetes lendir cervix diletakkan berdampingan dengan tetes sperma pada obyekglas. 1. Di samping itu pasien merasa nyeri di bahu dan dengan Ro foto dapat terlihat gelembung udara di bawah diafragma. lendir cervix kurang baik. Kuldoskopi. Kalau tidak ada invasi spermatozoa. 3. maka tuba palen. Kalau mencapai 180 — 200 mm Hg. Pada kymogram juga nampak gelombanggelombang dengan amplitude 10 —30 mm Hg. Hysterosalpingografi . Pertubasi (insuflasi) sering disebut Rubin test.

Dengan laparoskopi dapat dilihat keadaan genetalia interna dan sekitarnya 4. pasutri dengan kriteria tertentu akan langsung dirujuk ke rusat layanan kesehatan yang lebih tinggi tanpa dilakukan tata laksana sebelumnya di pusat layanan kesehatan primer. Terdapat indikator tertentu yang digunakan sebagai batasan untuk melakukan rujukan dari pusat layanan kesehatan primer ke pusat layanan kesehatan di atasnya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing pusat pelayanan kesehatan. Endometrium yang normal harus memperlihatkan gambaran histologik yang khas untuk stadium sekresi.Kalau dengan pertubasi hanya dapat diketahui utuh tidaknya tuba maka dengan hysterosalpingografi dapat diketahui :   bentuk dari cavum uteri bentuk dari liang tuba dan kalau ada sumbatan. tempat sumbatan jelas nampak. Dengan kuldoskopi dapat dilihat keadaan tuba dan ovarium. Bahan kontras yang larut dalam air lebih baik dari bahan kontras yang larut dalam minyak yang dapat memmbulkan emboli dan granulom tuba. Dengan mengetahui indikator ini. Jenis kelamin Indikator Rujukan . Kalau tidak diketemukan stadium sekresi maka : a) Endometrium tidak bereaksi terhadap progesteron. Kemudian dibuat foto Rontgen dari genitalia interna. Pemeriksaan Endometrium: Pada stadium premenstruil atau pada hari pertama haid dilakukan mikrokuretase. Laparaskopi. SISTEM RUJUKAN Dalam melakukan tata laksana terhadap pasangan suami-istri. tuba terlihat sebagai benang halus tanpa pelebaran dan karena tidak ada sumbatan nampak juga cairan kontras dalam rongga panggul kecil. Kalau keadaan nornal maka batasbatas cavum uteri rata. 3. b) Produksi progesteron kurang. Kuldoskopi. diperlukan sistem rujukan yang baik untuk menghindari keterlibatan dalam menegakkan diagnosis atau tata laksana yang terkait dengan keterbatasan yang dimiliki pusat layanan kesehatan primer. 4. Pada hysterosalpingograli disuntikkan cairan kontras ke dalam rahim misalnya lipiodol. urografin atau pyelocyl.

11 Uji Kibrick ( sperm aglutination test) Pemeriksaan ini untuk menentukan adanya aglutinasi sperma dalam serum. Semen normal yang segar diencerkan dengan Baker’s buffer sampai tercapai kepekatan 40 juta per mil. tray agglutination test (TAT). uji Isojima. atau penyakit menular seksual Riwayat pembedahan tuba. dan daerah panggul lainnya Menderita endometriosis Gangguan haid seperti amenorea atau oligomenorea Hirsutisme atau galaktore Kemoterapi Testis andesensus. semen. ovarium. dan radiolabeled agglutinin assays. orkidopeksi Kemoterapi atau radioterapi Riwayat pembedahan urogenital Varikokel Riwayat penyakit menular seksual DETEKSI ANTIBODI PADA PASANGAN INFERTIL Deteksi antibodi antisperma dapat dilakukan secara langsung terhadap antibodi yang terikat pada sperma atau tidak langsung mengukur antibodi dalam cairan (serum. ELISA. Sperm immobilization assay test. flow cytometry.Perempuan Lelaki Usia lebih dari 35 tahun Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya Riwayat kelainan tuba seperti hidrosalphing. Diantara metode lain uji Kibrick. 3. penyakit radang panggul. Suspensi sperma ini kemudian dicampur dengan 10% larutan gelatin dalam Baker’s buf fer dalam jumlah yang sama. mixid antiglobulin reaction (MAR) test. sekret vagina atau serviks atau cairan lain ). keduanya dalam suhu 37 C. uji Kremer & Jager. imunobead assays (IBD). uterus. Serum yang akan diperiksa dan serum 0 . abses tuba.

yang berasal dari sperma yang teraglutinasi.2 ml suspensi sperma dalam gelatin dicampur dengan 0. Kemudian dibuat pengenceran serum yang diperiksa. suatu reaksi positif terlihat sebagai gumpalan-gumpalan putih diantara media yang bening. dimulai dengan 1:4. dan seterusnya. Secara mikroskopis. Interaksi antara molekul antibodi dan antigen sperma mengaktifkan sistem komplemen dan mengganggu permeabilitas dan integritas membran sel sperma 11 0 0 . 1:16.kontrol negatif dipanaskan pada suhu 56 C selama 30 menit untuk menginaktifkan komplemen. Sebanyak 0.2 ml serum inaktif. Uji Isojima (Sperm immobilization test) Immobilisasi sperma yang tergantung komplemen merupakan dasar dari test antibodi sperma ini. 1:8. Campuran tersebut kemudian dipindahkan pada tabung Kibrick yang berukuran 5 x 65 mm dan diinkubasi pada suhu 37 C selama 2 jam.

Spermatozoa yang digunakan dalam tes immobilisasi ini haruslah sperma yang baru diejakulasikan dengan kualitas yang baik. Sebagai kontrol 0.05 ml serum manusia sebagai komplemen. Serum penderita dipanaskan pada suhu 56 0 2 C selama 20 menit untuk mengaktifkan komplemen. kedalam 0.05 ml larutan komplemen dan 0. Nilai ini imobilitas dihitung sebagai C/T. cairan serviks atau keduanya. 1 tetes dari campuran diletakkan pada gelas objek dasn motilitas sperma dilihat dibawah mikroskop. yang kemudian dipakai untuk menutup campuran itu. Tes immobilisasi sperma ini adalah suatu metode pilihan untuk skrining antibodi serum wanita dan juga dapat dikerjakan pada pemeriksaan antibodi serviks. Kedua tetesan itu dicampur dan diaduk dengan sebuah gelas penutup. Tas ini sangat bernilai untuk mendeteksi antibodi lokal dan juga cocok untuk uji silang.025 ml serum manusia inaktif tanpa aktivitas imobilisasi 0. Aktivitas immobilisasi sperma terletak pada faksi IgG dan IgM dari semen yang positif yang dapt digunakan sebagai dasar pemeriksaan aktivitas antisperma humoral. dihitung jumlah sperma motil diantara 50 spermatozoa.25 ml serum percobaan yang inaktif tersebut dimasukkan 0. Setelah 60 menit.025 ml semen yang segar yang telah disesuaikan jumlah spermanya sebanyak 60 juta per ml. Cara ini diulangi sampai 40 lapangan pandangan.025 ml suspensi sperma dicampurkan dan diinkubasi. Hasil positif menunjukkan adanya antibodi antisperma baik pada seman. Serum yang digunakan masih segar. Pengaruh yang dapat dilihat secara mikroskopik adalah hilangnya motilitas sperma diikuti kematian sel. Uji Kremer & Jager ( Tes kontak sperma-cairan serviks) Tes ini pertama kali dilakukan oleh Kremer dan Jager untuk melihat antibodi lokal pada pasangan infertil. Persentase sperma motil diantara 200 spermatozoa dihitung sebagai T% dan kontrol sebagai C%. Hasil dianggap positif apabila T kurang dari ½ C.(akrosom dan bagian tengah). Kedalamnya ditambahkan pula 0. Campuran tersebut diinkubasi dalam penangas air pada 32 C yang lebih sesuai dengan temperatur testis dalam skrotum. Setetes lendir istri praovulasi dengan tanda-tanda pengaruh estrogen yang baik dan pH lebih dari 7 diletakkan pada sebuah gelas objek disamping stetes air mani suami. 11 0 .

yang dengan dempet imunobead (immunobead attached) dan tanpa dempet imunobead. Dengan 2 slide yang berbeda 5 μL suspensi sperma tadi dicampur dengan 5 μL immunobead GAM yang mengandung campuran imunoglobulin antihuman immunobead (IgG. Supernataan dibuang dan endapan sperma dicampur lagi dengan 500 μL PBS + 0. Supernatan dibuang dan enadpan sperma dilarutkan lagi dengan 50 μL PBS segar ditambah 5% BSA. Sediaan itu kemudian disimpan kedalam tatakan peetri yang lembab. kemudian ditutup dengan gelas penutup. Setidaknya 200 sperma motil dihitung. dan 50 μL suspensi sperma ditambahkan pada masing -masing tabung dan dicampur secara hati-hati. Lokalisasi band bead juga diperiksa (misalnya kepala. gerakan maju spermatozoa akan berubah menjadi terhenti atau gemetaran ditempat (shaking movement) kalau bersinggungan dengan lendir serviks. Sampel kemudian diinkubasi pada suhu 37 C selama 60 menit dan kemudian disentrifus selama 5 menit pada putaran 500 putaran permenit. Slide kemudian diinkubasi selama 10 menit dan kemudian diperiksa dengan pembesaran 400 kali dengan mikroskop kontras. dikelompokkan menjadi 2. dan IgM).4% BSA dan disentrifus selama 5 menit pada 500 ppm. Perangai gemetar ditempat ini terjadi juga kalu air mani yang normal bersingggungan dengan lendir 2. ekor an ujung ekor). 0 6 . pada ejakulat dengan autoimunisasi.11 serviks wanita yang serumnya mengandung antibodi terhadap spermatozoa. pad suhu kamar selama 30 menit. untuk kemudian diamati lagi. Menurut Kremer & Jager. Indirect immunobead binding (IBD) test Tes ini menggunakan butir (bead) poliakrilimida yang berikatan dengan antiimunoglobulin spesifik butir tersebut kemudian dicampur dengan sperma segar yang viabel dan dicuci atau tidak dicuci. Penilaian dilakukan dengan membandingkan mobilitas spermatozoa dari kedua sediaan itu. midpiece. Sepuluh mikroliter plasma semen masing-masing dilarutkan dalam 40 μL phosphate buffered saline (PBS) ditambah dengan 5% (50g/L) albumin serum sapi (BSA) dalam tabung Effendorp.Setetes air mani yang sama diletakkan pada gelas objek itu juga. Sampel semen dengan antibodi antisperma (+) dari donor dan disiapkan dengan cara/metode renang atas untuk mendapatkan sperma yang mengandung ± 50 x 10 /ml sperma motil. IgA.

mahal. Gelatin aglutination test Pada test ini spermatozoa motil dicampur dengan medium gelatin dan sperma atau cairan ditambahkan kedalam campuran tersebut secara serial. Komplek antibodi-enzim imunoglobulin adpat dideteksi dengan menambahkan subsrat enzim spesifik. dan akan terjadi aglutinasi sperma eritrosit bila ada antibodi antisperma. Tray aglutination test (TAT) TAT dignakan untuk mendeteksi adanya antibodi anti sperma dalam serum atau semen pasien. Mixed antiglobulin reaction (MAR) test Eritrosit golongan darah O dengan Rh-positif dilapisi oleh IgG atau IgA. mampu mendeteksi isotif dan lokasi fisik ASA. dicampur dengan sperma viabel yang dicuci ataupun tidak dicuci. 3 Elisa (enzym linked immunosorbent assay) Antibodi spesifik dapat diikat oleh suatu enzim. dan mixed immunobead screen. Antiserum yang spesifik terhadap imunoglobulin pada eritrosit ditambahkan. dan sulit dalam interpretasi. Persentase aglutinasi sperma dihitung dengan bantuan mikroskop cahaya. memerlukan waktu yang banyak.Peersentase sperma yang motil dengan GAM imunobead dihitung. Kemudian ditambahkan sperma motil yang dicuci dari donor yang sehat kedalam contoh cairaan. Keuntungan tes ini adalah bersifat semikuantitaf. Sedangkan kerugiannya yaitu membutuhkan staf yang trampil. Cairan yang akan diperiksa dilarutkan secara serial setelah dilakukan pemanasan untuk menginaktivasi komplemen. Beberapa metode lain yang dikembangkan dari metode ini yaitu modifikasi metode imunobead (modified immunobead method). baik dalam hal sensitivitas dan spesifisitas. yang biasanya menghasilkan perubahan warna. Keuntungan metode ini adalah spesifik dan kuantitatif. Aglutinasi ini dapat dinilai secara semikuantitatif dengan menggunakan mikroskop. Tes dikatakan positif bila ≥ 20% sperma motil mempunyai bead attache dan secara klinik bermakna bila ≥ 50% dilapisi bead. Aglutinasi dapat dilihat 3 20 .

Tes ini digunakan secara luas pada suami pasangan infertil. Pewarnaan akrosom terjadi karena adanya antibodi IgM dan IgG. Sediaan kemudian ditetesi serum yang diperiksa (atau cairan serviks atau plasma semen) dan dilakukan pemeriksaan imunofluresens terhadap imunoglobulin. leher dan bagian tengah adalah tempet yang menimbulkan warna nonspesifik. Antibodi antisperma dalam darah bereaksi pada teknik imunofluoresens hanya terhadap antigen diakrosom dan ekor. Sepuluh mikroliter suspensi sperma yang disiapkan dengan metode renang atas dari donor dengan antibodi anti sperma (-) mengandung ± 125. sperma dicuci sebanyak 2 kali untuk menghilangkan antibodi yang tidak terikat. Beberapa bagian sperma seperti kutub. IgA daan IgM. Kontrol menggunakan sampel yang diketahui positif atau negatif terhadap ASA. Satu mililiter PBS ditambahkan dan campuran digoyang-goyang teratur. Sedangkan pewarnaan pada ujung ekor disebabkan oleh adanya antibodi IgM.secara mikroskopik. Subsrat antigen disiapkan dengan cara membuat apusan spermatozoa yang dikeringkan diudara. Teknik immunofluresens Pemeriksaan ini terdiri dari tiga langkah dasar. 19 0 2 Setelah inkubasi paada suhu 37 C daalam inkubator yang mengandung CO2 5% selama 1 jam. Metode ini membutuhkan kontrol dan interpretasi yang teliti.000 sperma motil ditambahkan pada tiap sampel. 2 2 Reaksi pewarnaan yang lemah pada kasus yang meragukan seringkali didapatkan dan hasil yang dianggap positif bila diadpatkan pada pengenceran lebih dari 1/16. Tabung kemudian disentrifus selama 5 menit pada 500 ppm dan supernatan . dan pewarnaan pada ekor utama hampir selalu disebabkan oleh IgG. Flow cytometry Sampel plasma semen sebanyak 50 μL dicampur dengan 40 μL PBS ditambah 5% albumin serum goat. sedangkan penggunaan paad isteri kurang memberikan hasil yang baik. Walaupun tidak dianjurkan lagi aktivitas aglutinasi gelatin terletaak pada IgG. Reaksi antigen antibodi antara semen dan cairan saluran reproduksi dan sel-sel sperma dapat dilihat dan dilokalisasi secara makroskopik dan penampakannya berhubungan dengan anatomi spermatozoa.

IgG. Setelah disentrifus. Antibodi lokal (SIgA) tidak dapat dideteksi pada lendir serviks dan plasma semen dengan tes konvensional untuk antibodi antisperma serum. Dengan uji silang menggunakan sperma atau lendir serviks donor dapat ditentukan apakah aktivitas antibodi berasal dari isteri atau suami. Tes aglutinasi dengan gelatin cocok digunakan untuk suami. khususnya plasma semen. tapi mungkin bermanfaat untuk menilai sifat reaksi antigen-antibodi dalam suatu penelitian. dan ketelitian pemeriksaan antibodi antisperma. 6. metode. tes kontak sperma – lendir serviks untuk melihat faktor imunologis lokal. IgM dan diinkubasi selama 1 jam pada suhu 4 C dan terhindar dari sinar. 4. Tes menggunakan mikroskop imunofluoresens tak langsung bukan merupakan tes rutin. endapan diencerkan lagi dengan 50 μL larutan fluoresens isotiosianat konjugat (FITC) yang mengandung imunoglobulin IgA. Dihitung berapa persen sperma yang dilapisi antibodi. 3. Tes mikroaglutinasi sperma sebaiknya dihindarkan. Antibodi yang tidak terikat dihilangkan dengan mencuci menggunakan PBS sebanyak 2 kali dan sperma dianalisis dengan flow cytometry. 2 . 19 Berdasarkan hasil. Tes imobilisasi sperma cocok sebagai tes untuk skrining terhadap adanya antibodi suami atau isteri dan juga dapat digunakan untuk pemeriksaan lendir serviks. 5. 2. Ia membuat suatu pedoman meliputi : 1. beberapa petunjuk untuk langkah pemeriksaan pasangan pasangan infertil dengan kemungkinan adanya faktor imunologi telah diusulkan oleh Jones. Bila < 20% dikatakan negatif dan bila ≥ 20% dikatakan positif. 19 0 Sebanyak ± 5000 sperma dianalisis dari tiap sampel menggunakan histogram.dipisahkan. tapi memerlukan interpretasi yang teliti. Endapan sperma dicampur lagi dengan 1 ml PBS dan kemudian dicuci ulang.

Sampel harus dikirm ke laboratorium dalam 1 jam setelah pengeluaran. dianjurkan melakukan abstinensia seksual selama 48-72 jam. Nilai normal untuk analisis semen ditentukan oleh World Heath Organization ditmpilkan pada tabael 24-2.encer. yakni kemempuan teregan (stretchility). Uji Pascakoitus Uji pascakoitus dapat memberikan informasi mengenai kualitas dan reseptivitas (kemampuan menerima) mukus serviks ovulatorik.Penanganan Infertil Pada Laki-Laki Analisis Semen Pemeriksaan spesimen terhadap semua pasangan yang mengeluh infertil harus dilakukan. kandungan garam dalam mukus serviks meningkat sehingga menyebabkan terbentuknya pola daun pakis saat mukus serviks pertengahan siklus dikeringkan diatas kaca objek. Akibat peningkatan kadar estrogen saat ovulasi. Sebelum analisis dilakukan. Mukus pada pertengahan siklus haruslah seperti air. Spesimen ini diperoleh melaluui masturbasi dan ditampung dalam sebuah wadah steril. . jernih dan aseluler serta harus memperhatikan suatu fenomena yang disebut sebagai spinnbarkeit.

dilakukan 3-6 hari setelah haid berhenti. abortus septik. uterus. Histerosalpingografi Kerusakan tuba dapat disebabkan oleh penyakit radang panggul. Dokter mula-mula harus menyingkirkan gangguan hipofisis. Ada tidaknya sperma non motil atau “bergetar”(quivering)tanpa motilitas yang progresif dianggap abnormal dan memerlukan evaluasi lebih lanjut. Pada pasien infertil sering dijumpai perlekatam. Jika ketiadaan ovulasi merupakan satu-satunya penyebab infertilitas. Laparaskopi Diagnostik Jika anamnesis mengisyaratkan adanya endometriosis atau penyakit radang panggul atau diperoleh histerosalpingogram yang abnormal atau jika kausa infertilitas tidak dapat ditemukan. pemakaian AKDR. ovarium. pasangan yang . Penatalaksanaan Infertil Gangguan ovulasi Gangguan ovulasi merupakan penyebab pada 10-15 % kasus infertilitas. oklusi tuba distal. Hasil yang normal dari pemeriksaan dibawah fluoroskopi memperlihatkan rongga uterus yang normal dan pengisisan yang cepat serta tumpahnya kontras dari tuba uterina kedalam rongga peritonium. dan adanya sperma motil progresif. Mukus diambil dari serviks dengan seuah angiocath atau hub tabung suntik insulin dan diperiksa untuk mencari ada tidaknya spinnbarkeit. dapat dilakukan laparoskopi diagnostik untuk melihat langsung organ-organ panggul. dan kista ovarium. adrenal. atau bedah uterus atau tuba. Kemajuan dalam bidang laparoskopi operatif ditujukan oleh banyaknya prosedur bedah untuk koreksi infertilitas. dantiroid. Temuan lebih dari spermamotil per lapangan pandang besar biasanya berkolerasi dengan hasil analisis sperma yang normal dan angka kehamilan akan lebih tinggi daripada seandainya hitung tersebut kurang dari jumlah diatas. dan berbagai penilitian terakhir mendapatkan bahwa nilai prediktif dari uji ini tidak terlalu besar. daun pakis.Uji ini dijadwalkan pada perkiraan tanggal ovulasi dan mukus serviks diperiksa dalam 8 jam setelah koitus. yang dahulu dilakukan melalui laparotomi eksploratif sekarang dapat diselesaikan dengan laparoskopi. Terapi farmakologik untuk perempuan anovulatorik merupakan kemajuan dramatik dalam bidang endrokinologi reproduktif. Histerosalpingografi. uji paskakoitus yang abnormal pernah ditemukan pada pasangan-pasangan yang subur. namun. endometriosis. yaitu penyuntikan suatu zat warna radio-opak kedalam uterus dibawah sorotan fluoroskopik.ruptur apendiks. Kromotubasi dapat dilakukan (penyuntikan zat warna biru metilen melalui serviks) untuk mengetahui potensi tuba.

misalnya medroksiprogesteron asetat. Obat ini diberikan dalam bentuk tablet 50 mg pada hari siklus ke 5 sampai ke 9 sehingga menyebabkan peningkatanLH dan FSH serum. terapi dimulai dengann dosis 50 mmg dan ditingkatkan – sampai maksimal 200 mg/hari. Efek samping klomifen sitrat dicantumkan di tabel 24-3. . misalnya haid spontan atau perdarahan withdrwal. Saat terjadinya ovulasi dan keadekuatan respons terhadap klomifen sitrat ditentukan oleh evaluasi mukus serviks pada pertengahan siklus. Pasien yang kemungkinan besar memberi respons adalah meeka yang memperlihatkan tanda-tanda aktivitas estrogen-endogen. Klomifen sitrat tidak merangsang ovulasi secara langsung. pemantauan dengan kit LH urin di rumah.bersangkutan dapat berharap bahwa kemungkinan mereka memiliki anak menyamai pasangan normal. setelah diidentifikasikan adanya folikel matang dengan ultrasonografi. Kadar progesteron serum pada pertengahan siklus atau biopsi endometrium yang dilakukan pada hari ke 27 atau ke 28 siklus dapat digunakan untuk mendokumentasikan ovulasi dan mengetahui keadekuatan fase luteal. Klomifen sitrat merupakan suati obat nonsteroid oral yang strukturnya mirip obat sintetik degan efek estrogenik. Jika tidak terjadi okulasi. namunmemicu serangkaian proses yang merupakan proses fisiologik siklus normal. yang sampai saat ini masih menjadi obat yang paling aman. pertumbuhan dan pematangan folikel-folikel ovarium. A. sebagai respons terhadap pemberian progesteron. namun dengan usaha yang keras. Klomifen Sitrat Merupakan obat ovulatorik pertama yang tersedia untuk pemakaian umum adalah klomifen sitrat. Pasien hipoestrgenik biasanya tidak akan mengalami ovulasi setelah pemberian klomifen sitrat. 5000-10. Kegagalan mengalami ovulasi setelah dosis yang adekuat kadang dapat diperbaiki dengan penambahan human chorionic gonadotropin (hCG). Indikasi utama pemakaian klomifen sitrat adalah infertilitas akibat penyakit ovarium polikistik dan defisiensi fase luteal. atau pembuktianperkembangan folikel dan kolapsnya folikel dominan dengan ultrasonografi. sperti dietilstilbestrol (DES).000 IU intramuskular. Ovulasi terjadi antara hari ke 15 dan ke 20 siklus. Peningkatan FSH dan Lh menyebabkan rekrutmen. Klomifen sitrat memiliki efek estrogenik serta antiestrogenik yang lemah dan diperkirakan bekerja melalui pelepasan FSH danLH hipofisis. efektif dan digunakan secara luas.

ketidakseimbangan elektrolit.70-80% perempuan anovulatorik yang dipilih dengan benar akan dapat dibuat mengalami ovulasi dengan dosis klomifen yang cukup besar. seleksi pasien yang akan diberi obat ini harus dilakukan dengan benar. Penyuntikan hMG biasanya dimulai pada hari ketiga suatu siklus spontan atau setelah perdarahan withdrawl yang dipicu oleh medroksiprogesteron asetat. tirah baring dan cairan intravena. Oleh karena biaya yang mahal dan perlunya pemantauan secara klinis dan laboratorium yang cermatserta kemungkinan adanya efek samping serius. Obat ini tidak aktif jika diberikan peroral dan harus diberikan melalui suntikan intramuskular. Pada kasus yang parah. HMG diindikasikan untuk menginduksi ovulasi pada pasien yang tidak mengalami ovulasi setelah pemberian klomifen sitrat. distensi abdomen dan penambahan berat badan. danperrempuan yang bersangkutan biasanya tidak akan mengalami ovulasi. Anka kehamilan per siklus serupa dngan angka pada perempuan dengan ovulasi normal. Hiperstimulasi menimbulkan pembesaran ovarium. Jika kadar estradiol meningkat melebihi 2000pg/ ml atau terjadi pembesaran ovarium yangcukup bermakna. Dosis awal adalah satu sampai dua ampul (150-300IU) perhari sampai sekitar harike tujuh. Jika kehamilan masih juga belum terjadi sampai waktu tersebut. Pengobatan terdiri atas rawat inap.000 IU human chorionic gonadotropin (hCG) yang diberikan 24-48 jam setelah penyuntikan hMG berakhir. dan hasil pengukuran diameter folikel dengan ultrasongrafi akan mendekati angka 16-20 mm. timbul keadaan kritis berupa ascites. Saat ini. Penilaian dilakukan pada ukuran folikel menggunakan ultrasonograsi dan kadar ekstradiol serum. Dengan peningkatan kadar estradiol (yang dihasilkan oelh folikel yang berkembang) mukus serviks akan bertambah dan menjadi jernih disertai pembentukan spinbarkeit dan pola daun pakis jika dikeringkan. ovulasi dipicu dengan menyuntikkan 5000-10. Stimulasi folikel yang adekuat biasanya dicapai setelah 7-14 hari pemberian hMG secara terus-menerus. hCG secara biologis dan struktural serupa dengan LH dan akan merangsang lonjakan pengeluaran LH di pertengahan siklus. Sepanjang terjadi respons yang adekuat dan tidak ada efek samping yangtidak lazim. kemudian dosis hMG disesuaikan seperlunya. penyebab lain infertilitas harus dinilai kembali. B. atau setiap saat jika perempuan yang bersangkutan mengidap hipogonadisme hipogonadotropik dan amenore. Preparat komersial (pergonal) mengandung 75 IU FSH dan 75 IU LH. Angka kehamilan pada superovulasi menggunakan hMG yang diikuti dengan inseminasi dengan sperma suami yang telah dicuci dapat mendekat 2030%. hCG harus ditunda. pasien dengan hipopituitarisme. hMG) hMG diperoleh melalui ekstrasi dari urin permpuan pascamenopause. Penundaan hCG akan mencegah hiperstimulasi ovarium yang berlebihan. Pada saat kematangan folikel. atau mereka yang dipilih untuk “superovulasi”. Ovulasi biasanya terjadi 32-36 jam setelah pemberian hCG. dan hipovolemia disertai hipotensi dan oliguria. trapi klomifen biasanya dilanjutkan selama36 bula. efusi pleura. kadar estradiol akan mendekati 200-300 pg/ml per folikel matang. . Menotropin (Human Menopausal Gonadotropin.

Perkembangan folikel dipantau dengan ultrasonografi dan biasanya tuntas pada harike 10 sampai ke 14. pilihan pengobatan berikutnya adalah pemberian hMG atau urofollitropin (FSH). Walaupun pemantauan terhadap efek samping kombinasi obat ini harus seketat pemantauan pada terapi hMg.Factrel) Pemberian GnRH secara pulsatif menyebabkanpelepasan FSH dan LH dari hipofisis serta ovulasi pada perempuan dengan anovulasi.misalnya 10µg setiap 60 menit. Resiko angka kehamilan multipel dan anka hiperstimulasi tampaknya setara dengan yang dijumpai pada pemberian hMG. Kandidat terbaik untuk terapi GnRH adalah perempuan dengan hipogonadisme hipogonadotropik. Klomifen dosis 100 mg diberikan per hari pada hari ke 3 sampai ke 7. namun. Perempuan yang menderita penyakit ovarium polikistik sering memiliki kadar LH yang tinggi sementara kadar FSH-nya tetap normal atau sedikit dibawah normal. Keunggulan GnRH dibandingkan dengan hMG adalah sindrom hiperstimulasi ovarium hampir tidak pernah terjadi pada pemberian GnRH dengan dosis 1-5µg setiap 90 menit. Setiap ampul urofollitropin mengandung 75 IUFSH dan kurang dari 1 IU LH. Kombinasi Klomifen dan hMG Kombinasi pemberian klomifen sitrat dan hMG menawarkan beberapa keunggulan dibandingkan pemakaian hanya satu macam obat. Pompa yang sduah di program dengan komputer ini menyalurkan obat dengan dosis dan interval yang sesuai dengan yang kita inginkan. Diperkirakan bahwa 10-40% pasien yang mendapat FSH akan menjadi hamil selama tidak terdapat faktor fertilitas yang lain. . C. Perkembangan folikel multipel dapat dicapai dengan dosis yang lebih besar dan frekuensi yang lebih sering. tetapi penggunaan hMG yang lebih sedikit pada terapi kombinasi akan mengurangi biaya pengobatan. Hasil terapi kombinasi mungkin setara hasil terapi tunggal hMG. Ovulasi berlangsung secara spontan akibat lonjakan LH endogen. GnRH. Untuk mengatasi waktu paruh yang singkat dan secara fisiologis sekresinya yang pulsasif. jika ovulasi atau kehamilan belum terjadi setelah pemberian dosis yang adekuat. diikuti oleh satu sampai dua ampul hMG. Jika kehamilan tetap tidak terjadi setelah waktu ini.Sekitar 90% perempuan yang dipilih dengan benar akan dapat dibuat mengalami ovulasi dengan hMG. resiko stimulasi berlebihan tampaknya lebih kecil. hMG dapat diulang sebanyak 3-6 siklus. maka terapi harus dihentikan selama 2-3 bulan dan kasus diperikas kembali secara cermat. Gonadorelin (Gonadotropin-Releasing-Hormone. Sekitar 80% pasien penyakit ovarium polikistik yang mendapat FSH akan mengalami ovulasi. Angka kehamilan adalah 25% per siklus pada mereka yang mengalami ovulasi. GnRH paling baik diberikan intravena atau subkutan melalui pompa infus pulsasif. Pemantauan dan saat penyuntikan hMG pada terapi kombinasi tersebut serupa dengan terapi hMG tunggal. E. Angka kehamilan multipel adalah sekitar 20% dengan 15% diantaranya kembar dan 5% kembar tiga atau lebih. Follicle Stimulating Homrmone (Urofollitropin). Tetapi pilihan untuk penyakit ovarium polikistik biasanya adalah klomifen. Urofollitropin diberikan intramuskular dengan dosis satu sampai dua ampul per hari dan dipantau seperti pada pemberian hMG. D.

Bromokriptin Evaluasi fertilitas rutin harus mencakup pengukuran prolaktin serum karena 10-15% perempuan anovulasi terbukti memiliki kadar yang berlebihan. Pengambilan ovum dilakukan setelah stimulasi ovarium dengan hormoh hMG dengan agonis GnRH sehingga dapat diperoleh banyak oosit untuk fertilisasi. gamete untrafallopian tranfer (GIFT). Pada prosedur GIFT. Teknologi untuk membantu reproduksi Perempuan dengan tuba uterina yang rusak atau tersumbat dan pasangan yang sudah lama infertil dan gagal berespons terhadap terapi lain mungkin dapat dibantu dengan teknik fertilisasi in vitro (in vitro fertilization. IVF).F. Pada perempuan dengan peningkatan prolaktinserum dan amenorea. 2. ART (Assisted reproductive technology). Sebagian besar kelompok IVF memperolehoosit melalui aspirsi oosit yang dipandu ultrasonografi transvagina. dan 3. baik secara transvagina maupun laparoskopi. Saat ini. oosit diambil. PENANGANAN UNTUK IMUNOLOGI : Ada tiga strategi dasar dalam penanganan pasangan infertil karena imunologi ini yaitu: 1.5-7. ZIFT dan TET merupakan prosedur kombinasi. . Inseminasi dengan sperma donor. atau tubal embryo tranfer (TET). Ketiga sterategi ini secara teoritis menurunkan paparan gamet oleh antibodi antisperma yang akan meningkatkan fungsi gamet. menurunkan produksi ASA. Terapi imunosupresif. yakni oosit diaspirasi secara transvagina. Oosit diinkubasikan dengan sprema. Angka keberhasilan teknik-teknik diatas bervariasi dan berkisar antara 10-30%. Ovumdan sperma kemudian langsung diinjeksikan kedalam tuba uterina melalui sebuah kateter yang dipasang secara laparoskopi. zygote intrafallopian tranfer (ZIFT). Manipulasi sperma. dan 3. Tidak lebih dari 50% diantaranya akan mengalami galaktorea. sekitar 48 jam setelah aspirasi.5 mg biasanya dapat memacu terjadinya siklus ovulatorik. biasanya 24-48 jam setelah aspirasi. Sedangkan Alexander mengajukan 3 pilihan terapi yaitu : 1. laparoskopi atau minilaparotomi jarang dihunakan untuk mengambil ovum untuk IVF. Menghilangkan antibodi antisperma yang terikat pada sperma. dan setelah terjadi fertilisasi embrio dipindahkan kedalamuterus. Ada hubugan antara antibodi antisperma dan ART. dibuahi kemudian zigot atau embrio dimasukkan kedalam tuba sewaktu dilakukan laparoskopi. 2. bromokriptin dosis 2.

Terapi oklusi Di sini suami menggunakan kondom selama 6-9 bulan bila isteri mempunyai bukti faktor imunologis sebagai penyebab infertilitasnya. Terapi ini lebih rasional bila diberikan pada pasien dengan adanya faktor imunologik lokal (lendir serviks). Uji imunologi harus diulang setiap 3 bulan sehingga menjadi negatif atau titernya menjadi 1:4 atau kurang. 3 Lahteenmaki membandingkan efektivitas pemberian prednisolon oral dengan inseminasi intrauteri pada 46 pasangan dengan antibodi antisperma (+) pada suami. Sedangkan Rojas dalam penelitiannya terhadap 41 orang yang dilakukan inseminasi dengan menggunakan sperma yang dicuci hanya mendapatkan insidens antibodi antisperma (+) pada 2 pasien (4. Franklin dan Dukes melaporkan bahwa kondom efektif untuk beberapa pasien.8%). intracervical insemination (ICI). gamete intrafallopian tube transfer (GIFT). Terapi imunosupresif/kortikosteroid Terapi kortikosteroid dapat diharapkan menurunkan produksi ASA. Ada juga peneliti yang menggunakan metilprednisolon. Beberapa penelitian antara lain penggunaan intra uterine insemination. Ada yang menganjurkan 6-12 bulan. Memang indikasi inseminasi ini masih kontroversi karena beragamnya hasil yang dilaporkan. Terapi ini tidak memberikan hasil yang memuaskan pada isteri yang mempunyai antibodi antisperma dalam serumnya. Francavilla dkk dalam penelitiannya tidak berhasil melakukan inseminasi intrauterin ini dimana spermatozoa yang digunakan semuanya berikatan dengan antibodi. in vitro fertiliztion (IVF).Walaupun ART digunakan untuk pengobatan ASA. Suami diberikan 20 mg prednisolon selama 10 hari pertama sesuai siklus isteri dan 5 mg/hari pada hari ke 11-12 selama 3 siklus. Tetapi menurut Aiman tidak ada bukti yang menyakinkan untuk pemakaian kondom ini. Angka keberhasilan dengan metode ini berkisar antara 20-30%. Suami diberi prednisolon 20 mg/hari selama 10 hari ditambah 5 mg/hari pada hari ke 11-12 selama 3 . Tujuannya adalah untuk mengurangi titer antibodi antispermatozoa dengan mencegah pengulangan stimulasi antigenik. subzonal sperm injection (SUZI) dan intracytoplasmic sperm injection (ICSI). antibodi antisperma mungkin mempunyai efek merusak ART. Inseminasi intrauterin Inseminasi intrauterin terutama diberikan bila terbukti adanya antibodi antisperma lokal pada lendir serviks yang menyebabkan kegagalan penetrasi lendir serviks oleh sperma.

4 % dan kelompok kedua 4. Namun pada penelitian ini ia berkesimpulan bahwa inseminasi lebih baik dibandingkan terapi steroid pada suami. Memang disini masih belum jelas apakah faktor steroid berperan dalam tingginya tingkat kehamilan karena masih ada faktor lain yaitu keadaan superovulasi. Didapatkan tingkat kehamilan pada kelompok pertama sebesar 39. Steroid yang diberikan yaitu prednisolon selama 4 bulan dan diberikan jadwal hubungan suami isteri.siklus. Penambahan protease IgA Bronson menemukan bahwa porsi Fc pada antibodi antisperma imunoglobulin bertanggung jawab dalam menghambat penetrasi sperma kedalam lendir serviks. Kelompok pertama diberikan steroid oral selama 4 bulan dan dilakukan inseminasi. Kutteh dkk melaporkan bahwa penggunaan 3. Spermatozoa yang telah dicuci diinseminasi kekanalis servikalis atau kavum uteri isteri.5 . Disini sperma dari suami dicuci beberapa kali dengan buffer fisiologik yang ditambah serum/albumin manusia 5-10%. Lebih lanjut Kutteh dan kawan-kawan menambahkan protease IgA pada campuran antibodi antisperma (-) dan antibodi antisperma (+) pada lendir serviks. Kualitas sperma yang baik penting sekali dalam metode ini. Ia berasumsi bahwa IgA protese yang melepaskan porsi Fc dapat meningkatkan penetrasi lendir serviks. bypass terhadap lendir serviks atau perbaikan lingkungan uterus. Sher mendapatkan tingkat kehamilan sebesar 49% pada kelompok terapi dan hanya 16% pada kelompok non terapi. Pencucian spermatozoa Metode ini merupakan salah satu metode menghilangkan antibodi antisperma yang terikat pada sperma. 3 Penelitian lain yaitu membandingkan 30 pasangan dengan antibodi antisperma suami positif yang dibagi menjadi 2 kelompok. Penggunaan heparin dan aspirin Pada keadaan infertilitas yang disebabkan adanya faktor autoimum dimana didapatkan antibodi antifosfolipid beberapa peneliti menggunakan heparin dan aspirin sebagai obat yang digunakan. Pada kelompok protease terdapat penurunan 81% pengikatan sperma oleh ASA. Beberapa efek samping pemakaian imunosupresif ini antara lain nekrosis aseptik sendi paha. sedangkan kelompok kedua diberikansteroid selama 4 bulan dan diberikan jadwal hubungan suami isteri. kambuhnya ulkus duodenal.8%. Steroid yang diberikan yaitu prednisolon selama 10 hari pertama siklus istri dan 10 mg pada hari ke11 dan 12.

Ia mendapatkan angka kehamilan 44% pada kelompok aspirin dan 80% pada kelompok aspirin ditambah heparin. Wada dkk juga berhasil meningkatkan tingkat kehamilan dengan menggunakan aspirin 150 mg atau 300 mg dalam penelitiannya.5%.heparin dasn aspirin dosis rendah lebih bik dibandingkan hanya menggunakan aspirin saja. Balasch dengan menggunakan aspirin 100 mg perhari mulai 1 bulan sebelum konsepsi sampai selama kehamilan dapat meningkatkan angka keberhasilan kehamilan dari 6.1% sampai 90. 13 .