You are on page 1of 11

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pembangunan dan pengoperasian PLTN ditujukan untuk memenuhi kebutuhan listrik, sering menimbulkan masalah terutama mengenai faktor keselematannya. Sebenarnya masalah itu tidak perlu timbul karena dalam pengembangan dan desain reaktor, aspek keselamatan selalu berada pada prioritas paling utama. Pada tahun 1952 di AS, panitia keselamatan yang terbentuk menghasilkan konsep system pengungkung kedap udara yang kuat untuk mencegah zat radioaktif bocor ke lingkungan. Hal ini menjadi suatu persyaratan bagi reaktor nuklir. Dilanjutkan dengan konsep pertahanan berlapis yang berupa mekanisme dan tindakan untuk mempertahankan reaktor pada kondisi selamat dan dapat diterima. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dirancang agar energy nuklir yang terlepas dari proses fisi dapat dimanfaatkan sebagai sumber energy listrik dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai tipe PLTN telah beroperasi di dunia seperti, Pressurized Water Reactor(PWR), Boiling Water Reactor (BWR), Pressurized Heavy Warer Reactor (PHWR), Gas Cooled Reactor (GCR), dan lainlain. Data IAEA tahun 2007 menunjukkan bahwa PWR 264 unit, BWR 93 unit, PHWR 42 unit dan GCR 18 unit. Reaktor nuklir mulai dikembangkan setelah Einstein pada tahun 1915 mengungkapkan teori relativitasnya, di mana energi sebanding dengan massa dan kuadrat kecepatan cahaya, E=m.C2. Ekivalen energi yang terjadi untuk 1 kg massa

adalah 9 x 1016 Joule. Padahal konsumsi energi di dunia sebesar 7,1 x 1012 Watt. Harga konversi untuk 1 kg massa adalah sebesar 3,5 jam pemakaian sehingga untuk satu hari hanya dibutuhkan 7 kg massa yang ekivalen dengan seluruh bahan bakar fosil yang digunakan saat ini. B. Rumusan Masalah 1. Apa itu reactor nuklir dan komponen apa saja yang terdapat dalam sebuah reactor. 2. Bagaimana cara kerja untuk setiap jenis reactor. C. Tujuan 1. Mengetahui komponen-komponen yang ada dalam sebuah reactor. 2. Mengetahui cara kerja dari masing-masing reactor. D. Manfaat 1. Dapat memanfaatkan tenaga nuklir sebagai pembangkit listrik dengan mengetahui komponen penyusun dalam reactor. 2. Ada berbagai informasi mengenai cara kerja dari setiap jenis reactor.

BAB II PEMBAHASAN

A. Reaktor Nuklir Reaktor nuklir ialah alat tempat terjadinya reaksi berantai yang menyangkut fisi nuklir yang terkendali. Sebuah reaktor merupakan sumber energi yang sangat efisien: fisi 1 g nuclide yang memadai per hari, melepaskan energi dengan laju sekitar 1 MW (106 W), bandingkan dengan pembakaran 2,6 ton batu bara per hari supaya menghasilkan energi sebesar itu. Energi yang dilepaskan dalam sebuah reaktor nuklir timbul sebagai kalor, dan dapat diambil dengan mengalirkan zat cair atau gas sebagai pendingin, melalui bagian dalam reaktor itu.(Arthur. 1982. 432). Terjadinya reaksi fisi itu dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti: - jumlah netron yang dipancarkan oleh inti fisile, - peluang netron yang dipancarkan inti fisile diperlambat oleh moderator tanpa ditangkap oleh moderator, - peluang netron yang sudah diperlambat itu berinteraksi dengan uranium, - peluang netron thermal bertemu U235 dan memicu reaksi fisi, - peluang netron thermal ditangkap U238 . Berdasarkan jenisnya,reactor atom fisi dapat diklasifikasikan sebagai: 1) Reaktor Termal-dimana neutron-neutron yang dihasilkan memiliki energi yang hampir sama dengan energi partikel-partikel gas pada suhu normal. 2) Reaktor Cepat (fast reactor)-dimana neutron-neutron yang menghasilkan fisi memiliki energi yang besar.

B. Komponen Penyusun Komponen utama suatu reactor terdiri atas teras, reflector, mekanisme kendali, moderator, pendingin, alat ukur, damn pelindung. 1. Teras Reaktor Teras reaktor merupakan tempat reaksi berantai terjadi dan energi fisi dilepaskan dalam bentuk panas. Teras ini terdiri dari perakitan unsure-unsur bahan bakar, batang kendali, pendingin, dan moderator. Pada umumnya teras reactor berbentuk silinder dengan diameter 0,5 meter sampai 15 meter. Bejana tekanan yang mewadahi teras dianggap sebagai bagian dari teras itu juga. 2. Reflektor Reflektor biasanya ditempatkan di sekeliling teras reactor untuk memantulkan kembali sejumlah neutron yang bocor ke permukaan teras itu. Reflector ini biasanya dibuat dari bahan yang sama dengan bahan moderator. 3. Mekanisme kendali Mekanisme kendali merupakan bagian penting dalam suatu reactor untuk: a. Menghidupkan reactor, yaitu menjalankan reaktor pada tingkat operasi secara normal b. Mempertahankan tingkat operasi tersebut, yaitu menjaga agar produksi daya dalam keadaan tunak c. Mematikan reactor dalam keadaan darurat

Sistem kendali juga digunakan untuk mencegah reaksi berantai luar biasa yang bisa mengganggu dan merusak reaksi. Factor multiplikasi efektif harus dipertahankan lebih besar satu agar jumlah neutron selalu bertambah dalam generasi berikutnya. Karena jumlah neutron dan rapat fluks neutron bertambah, maka temperaturnya juga bertambah. Jika pertambahan neutron ini tidak diperiksa pada suatu saat, maka reactor bisa rusak karena pelepasan energi yang terlampau besar. 4. Moderator Moderator berfungsi untuk memperlambat neutron-neutron cepat dalam proses fisi. Sifat-sifat penting yang perlu dipenuhi suatu bahan moderator antara lain: a. Bahan moderator seharusnya mempunyai nomor massa rendah agar energi neutron maksimum hilang tiap kali bertumbukan dengan intinya. b. Bahan-bahan itu seharusnya mempunyai luas penampang kecil untuk penangkapan neutron. 5. Pendingin Pendingin berfungsi untuk menghilangkan panas yang dihasilkan dalam reactor. Bahan pendingin bisa dibagi dalam empat kategori, yaitu (a) air biasa dan air berat, (b) logam cair, (c) cairan organik (hidrokarbon), dan (d) gas. Air biasa dan air berat merupakan bahan pendingin yang sangat baik dan bisa digunakan sebagai moderator sekaligus pendingin. Namun demikian,

air dan air berat mempunyai titik didih rendah, sehingga memerlukan penekanan. Air juga bersifat korosif pada temperatur tinggi. 6. Alat ukur Alat ukur utama yang digunakan dalam reactor adalah alat untuk mengukur fluks neutron termalyang menentukan daya yang dihasilkan oleh reactor. 7. Pelindung Pelindung dalam reactor diperlukan untuk memperlemah sinar –γ dan neutron yang keluar dari reactor, sehingga tidak membahayakan makhluk hidup. Dalam reactor yang berdaya tinggi biasanya terdapat dua pelindung yaitu: a. Pelindung termal. Pelindung ini dipasang dekat teras reactor, yang terdiri atas besi atau baja tebal. Sebagian besar sinar –γ diserap oleh pelindung termal. b. Pelindung biologis. Pelindung ini merupakan lapisan semen dengan ketebalan beberapa desimeter yang menyelubungi pelindung termal. Pelindung ini berfungsi sebagai penyerap sinar –γ dan neutron yang berhasil menembus pelindung sebelah dalam. (Drs. Yos Sumardi, M.Pd, M.S, 1994) C. Cara Kerja Reaktor Mini 1. Reaktor Pendidihan Air (Boiling-Water Reactor, BWR) Reaktor Air Didih adalah salah satu tipe reaktor nuklir yang digunakan dalam Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Reaktor tipe ini

menggunakan air (H2O) sebagai pendingin dan moderator. Moderator adalah medium untuk memperlambat kecepatan partikel neutron cepat. Air pendingin digunakan untuk mengambil panas yang dihasilkan dalam teras reactor (reactor core) sehingga temperatur air akan naik. Temperatur air dibiarkan meningkat hingga mencapai titik didih. Uap yang dihasilkan pada proses pendidihan air kemudian disalurkan untuk memutar turbin yang terhubung dengan generator listrik. Dalam reaktor tipe ini, uap yang terbentuk akan menyebabkan reaktivitas reaktor menjadi negatif. Reaktivitas negative dapat menahan kenaikan daya reaktor, sehingga penambahan reaktivitas (penaikan daya reaktor) dapat dikendalikan secara stabil dengan batang kendali. Dalam BWR, pendingin bersinggungan langsung dengan panas yang dihasilkan bahan bakar nuklir dan menguap dalam kompartemen yang sama dengan di mana bahan bakar itu berada. Pendingin itu mendidih karena tekanan reactor berada pada sekitar 1000 Psia (sekitar70 bar), lebih kecil dari setengah tekanan dalam PWR, dengan temperature bahan bakar yang sebanding. Karena air dan uap berada bersama dalam inti, BWR menghasilkan uap jenuh pada sekitar 5450F (2850C). jadi pendingin memiliki tiga macam fungsi, yaitu sebagai pendingin, modedrator, dan fluida kerja. 2. Reaktor Air Bertekanan (Pressurized-Water-Reactor, PWR) Air sistem pendingin primer masuk ke dalam bejana tekan reactor pada tekanan tinggi dan temperatur lebih kurang 290 oC. Air bertekanan dan bertemperatur tinggi ini bergerak pada sela-sela batang bahan bakar dalam

perangkat bahan bakar ke arah atas teras sambil mengambil panas dari batang bahan bakar, sehingga temperaturnya naik menjadi sekitar 320 oC. Air pendingin primer ini kemudian disalurkan ke perangkat pembangkit uap (lewat sisi dalam pipa pada perangkat pembangkit uap), di perangkat ini air pendingin primer memberikan energi panasnya ke air pendingin sekunder (yang ada di sisi luar pipa pembangkit uap) sehingga temperaturnya naik sampai titik didih dan terjadi penguapan. Uap yang dihasilkan dari penguapan air pendingin sekunder tersebut kemudian dikirim ke turbin untuk memutar turbin yang dikopel dengan generator listrik. Perputaran generator listrik akan menghasilkan energi listrik yang disalurkan ke jaringan listrik. 3. Reaktor Pembiakan Cepat dengan Pendingin Logam Cair (Liquid Metal Fast Breeder Reactor, LMFBR) Pada system LMFBR, bahan pendingin reactor dari logam cair jenis Natrium untuk menghindari terjadinya radiasi nuklir maka digunakan beberapa loop pengubah kalor (heat exchanger) yang terdiri dari loop pendingin primer berfluida kerja Na cair dan loop perantara dengan fluida kerja Na cair sebagai penyuplai panas untuk system generator uap yang terjadi pada loop berikutnya. 4. Reaktor Temperatur Tinggi Berpendingin Gas (High Temperatur GasCooler Reactor, HTGR) Reaktor ini menggunakan gas helium sebagai pendingin.

Karakteristika menonjol yang unik dari reaktor HTGR ini adalah konstruksi teras didominasi bahan moderator grafit, temperature operasi dapat

ditingkatkan menjadi tinggi dan efisiensi pembangkitan listrik dapat mencapai lebih dari 40 %. Terdapat 3 bentuk bahan bakar dari HTGR, yaitu dapat berupa: (a) Bentuk batang seperti reaktor air ringan (dipakai di reaktor Dragon dan Peach Bottom); (b) Bentuk blok, di mana di dalam lubang blok grafit yang berbentuk segi enam di masukkan batang bahan bakar (dipakai di reaktor Fort St. Vrain, MHTGR, HTTR); (c) Bentuk bola (peble bed), di mana butir bahan bakar bersalut didistribusikan dalam bola grafit (dipakai di reaktor AVR, THTR-300). Helium disirkulasikan pada tekanan rata-rata sekitar 48 bar (700 Psi). helium memasuki inti reactor pada bagian atas dengan suhu sekitar 22400C (6440F), mengalir turun melalui lubang-lubang dalam blok grafit, dan keluar pada suhu 7600C (14000F) ke tabung gas panas pada bagian bawah. Dari sini helium mengalir secara radial ke saluran masuk bawah enam pembangkit uap, memasuki enam sirkulator bagian atas pembangkit uap di mana temperaturnya mencapai titik terendah, dan kembali secara radial ke tabung gas dingin pada bagian atas inti reactor.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Tenaga Nuklir tidak hanya digunakan pada senjata militer tapi dapat digunakan juga pada reactor sebagai penghasil listrik dengan efisiensi lebih besar. Reaktor nuklir ialah alat tempat terjadinya reaksi berantai yang menyangkut fisi nuklir yang terkendali. 2. Cara kerja dari setiap jenis reactor itu berbeda-beda, baik reactor pendidihan air, reactor air bertekanan, reactor pembiakan cepat dengan pendingin logam cair, dan reactor temperature tinggi berpendingin gas. 3. Reaktor Nuklir dapat menghasilkan energi listrik lebih banyak dibandingkan dengan Reaktor berbahan bakar fosil. Sehingga Reaktor nuklir lebih efisien jika dibandingkan dengan Reaktor biasa. B. Saran 1. Sebagai mahasiswa seharusnya lebih giat dan rajin dalam mempelajari fisika inti karena referensi yang berkaitan dengan fisika inti lebih dominan yang berbahasa asing sehingga mahasiswa harus lebih giat lagi dari sebelumnya. 2. Sebaiknya mahasiswa lebih tekun dalam mempelajari mengenai nuklir, karena tenaga nuklir memiliki banyak menfaat, diantaranya memiliki energy listrik yang lebih besar.

DAFTAR PUSTAKA

Babcock & Wilcox Modular Nuclear Energy, B&W mPower Brochure (2010): www.babcock.com/library/pdf/E2011002.pdf Beiser, Arthur. 1982. Konsep Fisika Modern. Jakarta: Penerbit Erlangga. Black, R. (2010), “DOE Programs for Small Modular Reactors and Advanced Reactor Concept”, Office of Advenced Reactor Concept, Office of Nuclear Energy, US Department of Energy: www.nrc.gov/readingrm/doc-collection/commission/slides/2010/20100406/black20100406.pdf Liliana Y. Pandi dan Budi Rohman. Pertahanan Berlapis pada Reaktor Air Mendidih. Badan Pengawas Tenaga Nuklir. Vol. 268 No.1. Jakarta. Nafi Feridian, Sriyana.2008. Studi Unjuk Kerja Sistem Proteksi pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Tipe Advanced Power Reactor . Vol.10 No. 2 , Jakarta. Nuclear energy agency. June 2011. Current status, technical feasibility and economics of small nuclear reactors. Organization of economic cooperation and development. Pudjanarsa, Astu & Djati Nursuhud. Mesin Konversi Energi. Yogyakarta : Penerbit C.V Andi Offset. Sumardi, Yos. 1994. Fisika Modern. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka, Depdikbud.