You are on page 1of 18

Serpihan Biografi Abah Syech M.

Saiful Anwar Zuhri Rosyid

Prolog :

Ojo ndeloki ‘wohe’ Abah !!! Tapi deloken Abah olehe ‘milih tanah’, olehe ‘milih winih’, olehe ‘ndangiri’, olehe ‘nyirami’

Abah : Majlis Durrotun Nasihin Jum’at, 24 April 2004

Fatwa tersebut mengingatkan kita, agar dalam melihat seseorang yang menjadi ‘tokoh idola’, agar dalam memandang seorang figur panutan kita tidak terjebak dengan hanya menyorot ‘buah’ keberhasilan & kesuksesannya. Abah, Guru kita mengajak untuk berpikir secara rasionalistis, beliau menggembleng kita untuk berpola hidup produktif. “Pelajarilah Biografi Tokoh Besar !!” Demikian suatu kali Abah berpesan, beliau ingin agar santrinya tidak mengapungkan cita-cita dalam lautan khayalan. Beliau ingin agar kita mempelajari proses dan jalan panjang berliku yang dihadapi seorang tokoh dalam menggapai keberhasilan, tidak hanya memandang hasil yang dicapainya sekarang. Melalui “Serpihan Biografi : Abah Syeikh Muhammad Saeful Anwar ZR” yang kami sajikan dalam suplemen edisi kali ini, semoga dapat membantu kita semua untuk mempelajari proses dan lika-liku yang dijalani beliau hingga menjadi seorang figur ‘Ayah’ seperti sekarang yang dapat kita saksikan. Kami sebut dengan ‘serpihan’, karena ulasan ini masih jauh dari kesempurnaan, ‘serpihan’ ini belum tersusun secara sistematis

Bila lapar. sosok istri yang manut dan figur ibu yang amat memperhatikan pendidikan putra-putrinya. bahkan tata cara makan dengan berbagai macam sendok. sumber-sumber yang masih tercecer dan berserakan berupa ‘serpihan’ tersebut amat sayang bila tidak kita susun mulai sekarang. Jepang dan Padang. pandai Bahasa Belanda. memilih mulang ngaji dan menjadi Kiai. yakni KH. Karena cantik dan langsing. (2) Menjadi pengusaha sukses dan banyak harta. Eyang pernah memberikan 3 pilihan kepada Abah untuk memilih salah satu. (3) Meninggalkan keduanya. Ayahanda selalu mengingatkan Abah agar eling “pedangane”. salah satu karyawan dari Uminya (ibunya) Habib Syeikh Hamid. Eyang Abah seorang kusir dokar. menjahit. eling purwaduksinane. Mudatsir Zuhri. garpu dan pisau – yang pada waktu itu hanya orang kaya dan suka meniru kehidupan ala Belanda saja yang memahaminya – juga diajarkan kepada Abah oleh Sang Ibu. ke-tiga pilihan tersebut adalah : (1) Menjadi seseorang yang punya jabatan tinggi dan kaya raya. Suka Berantem . disisiri pelan-pelan. Ibunda Abah bernama Sukarni. rujak yang dalam wadah templong/pincukan.baik secara kronologis maupun tematis. ingat dari mana kita berasal) karena dengan begitu akan mencegah untuk bersikap arogan. Sekilas Nasab Ayahanda Abah selain priyayi juga seorang Kiai. gumedhe lan gembagusan. ibunda membeli rujak di depan pegadaian. namun orang mlarat karena kejujurannya dalam menunaikan tugas sebagai pamong praja. Namun. sanggul hingga memasak. Melalui ibu. menjadikannya laris. Ibunda Abah pernah bekerja sebagai seorang makelar di pegadaian. Abah belajar segala sesuatu tentang kaputren. (ingat dapur kita. tak mengherankan bila Abah faham betul tentang menyulam. apapun yang akan dipilih oleh Abah insya-Allah terpenuhi dengan restu Eyang.

. oleh Pak Guru yaitu KH. “Sepet. Nyai Mahwari yang melihat Abah lari ingin tahu mengapa. Abah kecil yang berjualan disebelahnya juga tak mau kalah menawarkan dagangannya. “Salak. Tembok inilah yang dijadikan Abah sebagai tempat merambat dengan muka masih ditutupi lengannya. Kejadian lainnya adalah saat Abah berantem dengan teman sekelas sekaligus kakak kandung beliau sendiri.. Perkelahian sengit itu membuat nekat Abah kecil menancapkan sebatang potlot (pensil) di tubuh lawan berantemnya. waktu ada pementasan drama. Karena malu. “Ono opo pung” (“Ada apa pung ?”).sepet!!”. sampailah Abah di depan pagar rumah Babah Hong Jan yang dikenal sebagai pagar tembok tertinggi di kampung. Karena sahutannya akan menimbulkan kesan pada calon pembeli kalau dagangan salaknya sepet. Abah mendapat omelan habis-habisan olehnya setelah jam pelajaran dibubarkan. sepet…!!!”. Keributan yang disangka para penonton hanyalah sekenario belaka. ternyata menjadi keributan yang sesungguhnya. Ahmarun. suka berantem. Abah diplot sebagai bakul (penjual) sepet (tepes/kulit kelapa) sedangkan seorang murid yang lain diplot menjadi pedagang salak. “sepet. “Cinta”ku di Kampus SRI .Sejak kecil Abah sudah doyan gelutan.. teman Abah yang berperan sebagai penjual salak berteriakteriak menawarkan dagangannya. namun ketika teringat bahwa di rumah Mbah Darmo dikenal sebagai tempat angker dan ada penunggunya bernama “Kuda Semberani” si ‘Abah kecil’ langsung lari kencang. Kakang Anwar Haryono. Hingga Abah kecil menangis.. tentu saja si bakul salak marah pada penjual sepet. Masih dengan menutupi muka. saat menangispun harus menutupi muka dengan kedua lengannya sambil berjalan pulang ke rumah.!!”. wali kelasnya tentu saja mendengar kejadian itu. Ibu Yusriyah. salak..salak!!”. “salak. Saat pementasan. Terjadilah keributan di panggung pementasan. Waktu beliau masih duduk di sekolah MI Ma’arif (setingkat SD).

diidolakannya. “Padahal.MI Ma’arif NU I pada awal perintisannya masih bernama SRI (Sekolah Rakyat Islam) . Kemudian beliau juga mengisahkan awal berjumpa dengan gadis yang sekarang menjadi pendampingnya. guru yang paling cantik di sekolah itu. sesampai di tempat tujuan botol yang belum sempat dinikmati isinya keburu dipecahkan secara tak sengaja oleh seorang gadis cilik. ada seorang teman kecilnya dulu yang sangat dicintainya.guru. Bekal minuman ditempatkannya dalam botol. ‘Abah kecil’ adalah murid kesayangan Guru. tentu saja beliau sudah mempersiapkan segala perbekalan. Namun sayang ada yang merusaknya. Itupun sebenarnya sudah termasuk ketinggalan. ‘Abah kecil’ yang di sayang Bu Sri Suharti juga mulai menaruh hati pada Bu Guru cantik ini. Salah satunya adalah Ibu Sri Suharti. Para mustami’ yang hadir tertawa tak ketinggalan pula Siti Fauziah yang juga hadir di pertemuan alumni waktu itu. beliau mulai berseloroh dan gerrr…. Abah kemudian juga menuturkan. saiki ayune ning endi tho ?”. Kakang Anwar Haryono. Pada acara “Reuni MI Ma’arif NU I” tahun lalu yang bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi 1424 H. dan KH. Abah mulai masuk sekolah ini pada tahun 1955 bersama kakaknya. Mudatsir Zuhri (Ayah Kandung Abah Muhammad Saeful Anwar). “Mungkin Abah paling cakep di sekolah itu”. dalam mauidhohnya. Namun sayang. Abah adalah salah satu pesertanya. Kecemburuan Abah mulai terlimpahkan pada guru pria ini. Pendiri SRI yang dirintis pada awal 50-an ini diantaranya adalah KH. tak lain dan tak . Faizzah Saeful Anwar. pasangan hidupnya. Gadis cilik itu ternyata sekarang menjadi pendamping hidup beliau. Muharir. Abah Syeikh juga menuturkan tentang ‘cinta monyet’ beliau. Siti Fauziah namanya. karena pada jaman dulu seorang bocah baru diperkenankan sekolah bila tangan yang dilingkarkan dikepalanya sudah bisa menyentuh telinga. Pak Sukri yang juga seorang Guru mulai naksir guru kesayangannya. Saat di sekolahan tempat belajar si ‘Abah kecil’ mengirimkan delegasinya untuk turut berperan serta acara pementasan di tingkat Kecamatan. cinta beliau di kampus ini. yaitu Ibu Nyai Hj. demikian Abah menuturkan tentu saja dengan nada gurauan.

Abah juga pernah mencuri combro dan mbes-mbes di tempat Biyung Nah. Dardiri bertanya. Abah Syeikh menuturkan bahwa kalau waktu kecil Ummine (Bu Nyai) yang memecahkan botolnya Abah. karena tergesa-gesa takut ketahuan. Dardiri yaitu orang terkaya di Purwokerto saat itu. buku saja hanya mampu memiliki satu. Bila ingin buah nanas tinggal ambil di Mbah Suro. nanas itu hilang. Bila berangkat sekolah. Saat mencuri nanas di tempat Mbah Suro. seutas tali diselipkan pada buku tepat di halaman tengahnya dan diselempangkan pada bahu agar menyerupai tas sekolah. karena memang tak punya. di tempat Dul Basir dan Dalkin juga gudangnya buah yang sering menjadi korbannya. tentu saja Mbah H. ‘ipung’ kecil tak pernah bawa tas. Banyak sekali buah-buahan yang dicuri bersama teman-temannya. ingat perbuatannya di waktu remaja tersebut. Ada yang mencuri hasil curian. Melalui ‘joke’ segar. nanas itupun disimpan dulu di tempat yang dikiranya aman. sesudah nikah gantian Abah yang memecahkan ‘botol’nya Bu Nyai. Waktu sekolah. menjadi pengemis di alun-alun Purwokerto. Di waktu remaja. disinilah beliau bertemu Mbah H. Namun sayang saat ada kesempatan akan melihat kembali hasil jarahan dengan maksud akan dimakan. “Kowe cah bagus-bagus kok . walaupun sering mencuri tapi tak pernah punya kesempatan untuk menikmati hasil curian. Mungkin melalui kejadian ini Abah mendapat pangreksan (pemeliharaan) Allah Yang Maha Penyayang dari barang haram. cepat-cepat Abah pulang ke Purwokerto dengan tujuan mencari Biyung Nah hanya untuk meminta ke-halal-an dari makanan tersebut.bukan sekarang adalah Bu Nyai itu sendiri. Tapi anehnya. Mengemis Di Alun-alun Pada suatu hari Abah diajak oleh ibunda. Pencuri Yang Terpelihara Si ‘Abah kecil’ juga pernah nyolong (mencuri). Melihat seorang bocah yang penampilannya putih bersih (kayak anak orang Cina).

kalau ngobrol selalu menggunakan Bahasa Arab. Kebanyakan dari mereka anak pondokan. Abah bersama ibunda-pun dimarahi habis-habisan oleh beliau. Waktu muda Abah seneng banget menonton Film-film laga. rokok itu khusus dihadiahkan untuk ibunda tercinta. Bergaul Dengan Anak Kauman Pergaulan Abah diwaktu remaja dihabiskan bersama anak-anak Kauman. Selain “Ipung”. anak Kauman terkenal sebagai golongan elit. hampir satu desa yang mengetahuinya. Setelah ditelusuri ternyata beliau masih kerabat Abah. demikian teriak Mbah Darmo sesekali. Hercules.yang bisa dikatakan air susu saja hanya digunakan untuk berkumur-. Pondok Pesantren di waktu itu sangat ketat dalam menyeleksi santri. Di waktu remaja Abah . Pertama kali Abah menerima gaji digunakan untuk membeli Rokok “Tapal Kuda” dan “Wahid”. waktu itu Abah memakan bakso pelan-pelan sekali. Begitu menerima hadiah tersebut. dari keluarga terpandang. Di masa itu. ibunda senangnya bukan main. “Bajingan sopo yo sing mangan ing mburi ?!”. “Ho Chi Minh”. Tarzan.ngemis ?”. Pertama kali Abah ‘bisa’ membeli bakso pada tahun 1964. Berbeda dengan sekarang yang dapat dikatakan image Pondok Pesantren hanya sebagai kaum pinggiran. mendengar istilah “anak pondokkan” yang terlintas dalam benak setiap orang adalah anak orang kaya. Karena perawakan Abah yang putih bersih kayak Cina. sampai-sampai ibunda selalu bercerita pada setiap orang yang ditemui. sebut saja Zoro. saking takutnya bila bakso yang berhasil dinikmati pertama kali cepat habis. “Darsun” adalah laqoban Abah di masa kecil dari Almarhum Mbah Darmo. seakan tidak percaya melihat cah ngemis anyaran yang bila dilihat dari penampilan tidak pantas menjadi pengemis sungguhan. Sedangkan “Ipung” adalah panggilan Abah di waktu remaja. Abah pernah juga dilaqobi. semua tokoh dunia Abah hafal di luar kepala.

Bahkan di tempat Eyang Halimi. nyatanya beliau bisa menjadi Kiai tanpa mengaji. Begitu pula dengan Almarhum KH. kita tak akan berkesimpulan demikian bila melihat bagaimana usaha Abah mencari Guru ngaji. buku apapun menarik perhatian beliau untuk dipelajari. Tak Pernah Diperbolehkan Mengaji Sejak kecil hingga bermukim di Ketileng Abah belum pernah mengaji. waktu kecil Abah tidak pernah diberi kesempatan mengaji oleh siapapun. supir tank juga pernah !. Dayat dan KH. gumede karena memang pengetahuannya luas dan bisa melakukan pekerjaan apapun. KH. bukannya si ‘ipung’ diperbolehkan mengaji malah disuruh nglinting mbako (cara tradisional membuat rokok). Abah juga paham betul tentang seluk beluk berbagai macam senjata.” Karena pernyataan tersebut hanya bisa disimpulkan oleh orang yang dangkal analisanya. Tanya saja pada Kaji Japari. Walaupun tak pernah mengaji. Jack & Bindstock. “Apapun Pelajari. Namun kita jangan cepat mengambil kesimpulan untuk berkata . Litle red hingga Wiro Sableng semua sudah pernah dibaca. Muharir. apapun bacalah !!!” demikian pesan yang sering disampaikan Abah Syeikh. sebut saja Stochlholm (dr. Ngerti lan iso sekabehane. misalnya jenis senjata AK adalah kepanjangan dari penemunya orang Rusia. nylanger truk juga pernah.juga gemar membaca. Watson). beliau tak berkenan mengajari. “Ipung” tak boleh mengaji di tempatnya. Jangan pernah menganggap rendah pekerjaan apapun !. beliau tetap mencintai pada setiap . malahan ‘Ipung’ dicengkiwing (diangkat)-nya. Hal yang sama juga terjadi saat minta diajari mengaji di tempat KH. Abah pernah menjadi kondektur bus. waktu muda ‘Ipung’seneng gembagusan. Anatomic Kormanov. “Mengaji itu tidak perlu. Ahmad Syatibhi. bukankah Abah juga begitu. Bila “Ipung” mendatangi Ustadz Asy’ari agar diajari mengaji. Ma’shum juga tidak berkenan saat ‘ipung’ mau ikut ngaji.

Sukinah si lonthe dengklang lan Darsi sinden.. kaya. sebab Abah wong pinter. Misalnya KH. KH. Mencintai Orang ‘Alim Karena Abah merasa tidak bisa mengaji. dan pada Darsi (seorang) sinden”.. Ahmad Mudatsir. mengaji.orang yang mencintai ilmu. …. Banyak orang bilang. “Bagus-bagus…. Didorong rasa penasaran dan kekagumannya. Abah tetap ditempat persembunyian menunggu Sang Kiai Terbang. peluang untuk melihat idolanya terbang mulai terbentang saat hari mulai hujan. dan dibeberapa tempat banjir sudah mulai menggenang. Jamhari yang termasyhur paling bagus bacaan Al-Qur’annya di kalangan Kiai-kiai Purwokerto. Walaupun ditolak dan tidak pernah diperkenankan mengaji.. yang . (Abah membaca dengan meniru gaya KH. tapi ingatlah kalau Abah (waktu itu) mampu berkhidmah pada Dini yang bindeng (berbicara sengau). KH. pada Sukinah si lonthe (pramuria/WTS) dengklang (cacat kakinya). dan komentar beliau.” “Mungkin kalian (semua) bisa berkhidmah (mengabdi. “Kawulo maos mekaten marga ngidola’ake panjenengan”. Jamhari) Contoh lain kecintaan Abah pada orang ‘Alim. beliau tetap mendekati dan mencintai para ‘Ulama. ananging elingo yen Abah biso khidmah karo Dini sing wong bindeng. waktu muda Abah selalu berusaha mencintai dan mendekati orang-orang ‘Alim. Muharrir dari kauman. Pada suatu ketika beliau KH. walaupun diguyur hujan deras. saya kalah”. orang ‘Alim. mendengar hal itu-pun Abah kaget dan matur pada beliau. ‘alim. adalah kekaguman dan rasa penasaran yang diiringi keinginan untuk meniru kesaktian KH. Abah ingin melihat Sang Kiai terbang.…. “Mungkin kowe bisa khidmah marang Abahe. menghormati) pada Abah disebabkan (kalian memandang) Abah adalah (sosok) yang pandai.. maka Abah pun mencari tempat persembunyian di pingir jalan yang biasa dilewati oleh Sang Kiai. Jamhari pernah mendengarkan Abah membaca Al-Qur’an. sugih ‘alim. Ahmad Mudatsir terbang di angkasa bila banjir melanda desa.

karena pernah berkeinginan bermain drum band. sarung itu-pun sudah congklang. memiliki sepeda. Di dalam sepur beliau malahan berkenalan dengan banyak tukang copet. “Ojo nyopet wong meteng” (Jangan mencopet wanita hamil). Abah ingin sekali seperti mereka. jangan pernah mencari Abah di rumah. perut hingga muka kelihatan dan menjadi sasaran nyamuk. bila ditarik ke atas untuk menutupi muka maka lutut kelihatan dan membuat kedinginan. salah satu peraturannya. Dari kejadian inilah kemudian muncul kata hikmah. Karena nggak kesampaian. Bashiran dan Slamet pernah dilatih Abah membuat . “Tak ada pekerjaan siasia”. Tidur dengan sarung dari hadiah waktu khitanan. takkan pernah ketemu. naik sepur gratis !!. Kreatifitas dan bakat selalu mampu menemukan pemecahan suatu masalah (problem solving) yang ada pada beliau. begitu juga bila ditarik kebawah untuk menutupi kaki. hingga tidur-pun di Masjid bersama rekan-rekan sebaya. maka Abah ingin naik sepur gratis. Membentuk Gank Di waktu remaja Abah sudah bisa membuat tambur sendiri.ditunggu nggak muncul-muncul hingga hujan mereda. Karena Abah selalu berada di Masjid. Ternyata di manapun kita berada. etika/peraturan adalah suatu keharusan. membuat mudah untuk memenuhi keinginannya. yaitu dengan jalan membantu mengangkat keranjang para bakul. Sang Kiai yang ditunggu-tunggu sampai dibela-belain kehujanan ternyata masih tidur di tempat saudaranya. Usut punya usut. Di usia SMP. Aturan Tukang Copet Menginjak SMP. teman-teman sebaya Abah sudah pada mempunyai sepeda. ada satu hal yang berkesan selama Abah bergaul dengan para copet itu.

pulangnya ?”. Berbekal alasan tersebut Abah memberanikan . Abah membentuk Gank dengan anggota anak-anak nakal namun diberlakukan aturan anti tawuran. Di samping itu sebagai seorang lelaki yang menginjak dewasa. jawab Abah. Abah menjawab. Ayah Mince mengejar lagi dengan pertanyaan. me-nyamak kulit hingga berlatih main drum band. “Ya dengan mobil”. Berita tentang gebrakan Abah membuat grup Drum Band cepat menyebar dan menjadi inspirasi para remaja lain untuk menirunya. “Naik apa ?”.jedur. Kencan Pertama. Ketika minta ijin pada orang tuanya. bukankah truk juga tergolong mobil. Menjadi Wali Dari Ayah Sendiri Setelah ibunda Sukarni wafat. Abah-pun mencari bentuk lain yang belum terpikirkan oleh orang lain. Karena sudah banyak yang meniru. “ Lha. “Corner Boys Club”. gank bentukan Abah ini menjadikan musik “Hippies” sebagai lagu wajibnya. Yang penting tidak berbohong kan? Alasan beliau adalah. beliau sempat mencuri kacamata dan jas milik Eyang. Bapaknya bertanya. “Al-Irsyad” adalah grup Drum Band yang dibentuk Abah dan selalu menjadi pusat perhatian setiap kali ada festival. Karena ingin meniru gaya Hippies. Sekarang ini. adalah biduanita kaya yang pernah diajak kencan Abah naik truk. Mince mungkin masih menjadi teman sejawat Pak Muhtarom.Waktu itu-pun anak-anak remaja sudah marak dengan tawuran. Abah tanggap dan faham betul perasaan Sang Ayah yang tentu saja membutuhkan pendamping untuk berbagi suka dan duka. Naik “Mobil” Mince. sebagai seorang putra Abah tentu rindu akan kehadiran seorang ibu. “mobil”. Beliau dan teamnya menampilkan permainan Barong Sai saat festival dan berhasil menyedot perhatian masyarakat.

. Kamar kontrakan relatif sempit. Tak heran bila Mbah Uti amat segan dan menghormati Abah yang dapat dikatakan sebagai anak sekaligus sebagai orang tua wali.Tahun 1979. dan mengijinkan keinginan Sang putra. Badak No …Semarang. Abah mulai menempati rumah sendiri di Perumahan Ketileng. dengan kata lain. kali ini saya akan berbicara bukan sebagai anak kepada orang tuanya. kalimat berkesan yang dijadikan pembuka dialog dengan Sang Ayah adalah. Abah berangkat menemui seorang wanita yang dulu merupakan kekasih Ayahanda di waktu muda. Sendangmulyo –Semarang . Abah mulai aktif bekerja di DEPAG Propinsi Jawa Tengah. Abah hijrah ke Semarang (mengontrak sebuah rumah di Jl. Abah. Pernah juga Abah bersama Ummi waktu itu tidur di pos ronda. “Maaf Ayah. Pak Munawir dan Pak Juwahir adalah saksi bahwa Abah dan Ummi pernah tidur di pos ronda tersebut. yaitu di tahun 1979 barulah Abah aktif bekerja di DEPAG propinsi Jawa Tengah. Pak Murtadi.Tahun 1971. ngati-ati. Mbah Uti adalah sosok wanita yang gemi. …”. Dengan ijin dan restu Ayah.diri matur pada Ayahanda untuk meminta ijin akan mencarikan pendamping hidup bagi Ayah yang kini menduda. Bersama Ibu Nyai. beliau amat pandai menyulam. . tapi saya ingin bicara sebagi sesama lelaki dewasa. suasana lebih ‘natural’ karena kamar yang ditempati dekat kandang ayam. tepatnya pada tahun 1971. Wanita tersebut tak lain adalah Mbah Uti yang sekarang kita kenal. Abah menjadi wali dari Ayahnya sendiri. Hijrah Ke Semarang Setelah menikah Abah bersama istri tercinta hijrah ke Semarang. Abah-lah yang melamar Mbah Uti untuk Sang Ayah. Setahun kemudian. Badak) . nastiti. beliau mengontrak pada Bapak Muradi di Jl. Ayahanda tentu saja kaget dengan pernyataan putranya.Tahun 1972.

Sendang tersebut dipercaya ada penunggunya yaitu danyang yang berujud seorang wanita cantik jelita. Sedangkan di perumahan Ketileng Indah juga ada kebiasaan yang juga bertentangan dengan agama Islam. setiap ada pertunjukan ronggeng tersebut para lelaki menenggak minuman keras hingga mabuk dan ada juga yang ikut menari. Adapun kondisi geografis desa Ketileng pada waktu masih tergolong tandus. maka danyang tersebut akan murka pada seluruh warga desa. tahun dimana Abah Muhammad Saeful Anwar Zuhri Rosyid mulai bermukim sebuah kompleks perumahan Ketileng Indah. Konon nama “Sendangmulyo” yang sekarang menjadi nama sebuah kelurahan berasal dari nama sendang (sumber mata air) yang dikeramatkan oleh warga Ketileng. Kegiatan-kegiatan yang menimbulkan kemusyrikan tersebut masih berlangsung hingga awal tahun 1979. setiap tanggal satu sura (muharram) selalu mengadakan tanggapan ronggeng. Tingkat pendidikan warganya juga masih tergolong rendah.Mulang Ngaji Tanpa Gaji Ketileng Sebelum “Pencerahan” Ketileng dan sekitarnya pada waktu itu dikenal sebagai dukuh yang masyarakatnya masih diwarnai dengan kegiatan-kegiatan berbau mistik yang berpeluang menimbulkan syirik. Sedangkan warganya masih banyak yang menyatukan bangunan kandang binatang piaraan dengan ruangan utama yang dijadikannya tempat tidur. Seperti sudah menjadi tradisi. Sendangmulyo Semarang. amat jarang bisa ditemui pepohonan. Masyarakat percaya bila sendang tersebut tidak diberi sesaji/persembahan di waktuwaktu tertentu. . warga yang lulus SD saja masih bisa dihitung dengan jari.

Strategi tersebut cukup berhasil. namun hanya sebagai strategi untuk menguasai medan dakwah saja. Saeful Anwar Zuhri Rosyid memulai dakwahnya di lingkungan keluarga sendiri.. Pada awalnya beberapa pemuda dari desa Gendong (+ 2 Km arah Selatan dari Ketileng) yang mendengarnya langsung tertarik dan mengikuti pengajian beliau . yang mengaji semakin bertambah hingga mencapai 150-an orang. muncullah prakarsa untuk mendirikan sebuah Pondok Pesantren di Ketileng untuk menampung pemuda-pemuda yang haus ilmu itu. karena pada kenyataannya pengajian yang berlangsung di lingkungan keluarga tersebut diketahui oleh tetangga sekitar hingga warga desa Gendong (+ 2 Km arah Selatan desa Ketileng) dan menjadikan para tetangga tertarik yang pada akhirnya mengikutkan putra-putrinya untuk mengaji pada Abah. beliau tak punya gambaran atau angan-angan sekalipun untuk memiliki santri. Mereka kebanyakan warga desa Gendong dan Pedurungan. Malah beliau pernah mengatakan. Santri Abah yang pertama diantaranya adalah Bukhori. Abah M. waktu itu sebenarnya beliau sangat ummi (belum mengetahui Islam secara mendalam) dalam hal Agama. Nur Salimi. Pendidikan dan pendalaman Agama Islam yang beliau terapkan pada istri dan putraputri beliau sendiri tersebut bukan berarti tak ada keberanian untuk berdakwah langsung pada masyarakatnya.Embrio Kelahiran Pondok Pesantren Melihat kenyataan dan kondisi masyarakat yang menjadi pilihan tempat hijrah beliau tersebut. Dalam dakwahnya di lingkungan keluarga sendiri. Sebagai seorang Muslim bertanggung jawab yang mempunyai kewajiban untuk berdakwah. Dengan semakin bertambahnya peserta pengajian tersebut tentu saja dibutuhkan fasilitas dan sarana pendukung bagi kelancaran kelangsungan pengajian. Setelah ikutnya ke-empat anak ini. Khoiron dan Madrofah. muncullah niat untuk membangun kembali tradisi yang sesuai syariat Islam. maka beliau. Niat tersebut menjadi isu sentral pada rapat baik .

Pada tahap selanjutnya. Bapak Hendro yang pada waktu itu kakinya patah akibat kecelakan mobil. setelah sembuh lewat perantara “pijitan” Abah yang didampingi Ustadz Sholah. Abah beserta tokoh masyarakat Ketileng membentuk LAM (Lembaga Amalan Muslim) pada tanggal 13 April awal tahun 80-an sebagai wahanan dakwah umat Islam di Ketileng. Abah merasa kecewa karena Masjid tersebut di-akta notaries-kan sebagai yayasan. dan Bapak Mulyadi.tingkat RT maupun RW di Ketileng. Pada masa selanjutnya. Pengajian tersebut kemudian merambah pada pengajian Bapak-bapak maupun Ibu-ibu yang dilaksanakan secara bergiliran di rumah warga yang beragama Islam. Bapak Nur. LAM waktu itu tentu saja sangat mengaharapkan berdirinya sebuah Masjid sebagai pusat pelaksanaan ibadah bagi umat Islam. Bila sebuah yayasan kemudian mendirikan Masjid itu . Mungkin sudah menjadi suratan. Maka mulailah proyek pembangunan Masjid yang kemudian hari diberi nama “AlMaghfur”. rencana pembangunan Masjid yang menjadi idaman warga Ketileng akhirnya menemukan peluang lewat perantara Bapak Hendro. Masjid Hasil Memijit Pengajian yang dirintis Abah pada perkembangan selanjutnya bukan hanya mendidik anak-anak dan pemuda saja di kediaman beliau sendiri. pada akhirnya bersedia mewaqafkan sebidang tanah sebagai ungkapan terimakasih untuk dijadikan lahan pendirian Masjid. namun hanya sebatas pembicaraan yang sulit terealisasikan. informasi bahwa di Ketileng terdapat majlis pengajian tersebar luas dalam waktu relatif singkat. Karena penduduk di Perumahan Ketileng yang natabene merupakan warga pendatang yang berasal dari luar Semarang.

berjuang sendiri tanpa rekan yang mau menemani. hinaan dan rintangan yang beliau hadapi dari warga Ketileng sendiri. Musayawarah itupun berlanjut hingga tingkat RW. maupun NU masyarakat Ketileng yang menentang bagi beliau dianggap sebagai ujian untuk tetap meneruskan majlis pengajian. tokoh-tokoh Kristen. . area yang sekarang menjadi kompleks asrama santri merupakan “kerajaan” para dedemit desa.”. Karena segala sesuatunya pasti ada taksis.merupakan kewajaran. namun tidak sedikit orang yang bisa diibaratkan sebagai “pengamat bola” yang enggan menjadi pelaksana. Boleh dikata beliau bermukim di Ketileng ibarat “Kleyang kabur kanginan. Semua orang. Bermula dari sebuah kehendak. namun bila Masjid yang kemudian dijadikan sebuah yayasan merupakan sebuah kedholiman. niat Abah untuk mendirikan sebuah Pesantren tersebut akhirnya mendapat respon dari warga Ketileng hingga muncul ke permukaan musyawarah RT. Muhammadiyah. Tantangan dan Cemoohan Dalam mendirikan pondok pesantren tidak sedikit tantangan. walaupun sebatas bahasan yang menyentuh masalah teknis namun tidak bersifat praktis. Dari masalah status tanah yang akan dijadikan kompleks Pondok Pesantren hingga rintangan yang tidak kasat mata berupa gangguan secara metafisika karena menurut penuturan para sesepuh warga. Akan tetapi dengan tekad yang pantang menyerah Abah Saeful mulai merintis berdirinya pondok pesantren Az-Zuhri. baik secara individu maupun golongan banyak yang menentang maupun menghalangi langkah Abah yang hendak merintis berdirinya sebuah Pondok Pesantren di Ketileng. cemoohan.

lokasi yang menjadi tempat “peletakkan batu pertama” yang kini menjadi asrama santri putri di atas sebidang tanah di depan kediaman Abah sendiri di perumahan Ketileng Indah tepatnya tanggal 1 juli 1989. Karena adanya santri putri inilah pengasuh pondok pesantren Az-Zuhri berencana membangun kembali sebuah asrama yang nantinya dihuni oleh santri putra. Sedangkan nama Az-Zuhri tercatat dalam akta notaris bernomor 9 sebagai sebuah Yayasan Pondok Pesantren tepat pada tanggal 11 September 1989 . supaya mereka dapat menjaga dirinya. satu ruangan untuk sholat berjamaah dan untuk mengaji. ada santri putri yang hendak bermukim. satu ruangan untuk kamar mandi dan satu ruangan untuk dapur. Pada saat itu santri yang mengaji hanya beberapa orang santri putra. Sedangkan dasar yang melatar belakangi Abah mendirikan Pondok Pesantren Az Zuhri yaitu Al-Qur’an surat At-taubat ayat 122 yang insya-Allah kurang lebih artinya ” Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (kemedan perang). sedangkan santri putri menempati asrama yang sebelumnya dipakai santri putra. Abah Muhammad Saeful Anwar ZR mengambil sikap untuk “uzlah” (mengasingkan diri) menghindari khalayak ramai sesuai dasar hadits yang menerangkan bahwa tatkala umat sudah sulit diajak menuju kebaikan maka ber-uzlahlah.”(QS. Pondok ini didirikan dari sebuah bangunan dengan luas 10 meter persegi. Asrama tersebut pada mulanya hanya dihuni beberapa santri putra . Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya. bangunan ini terbagi atas satu petak bangunan yang di dalamnya dibagi atas empat ruangan . At-taubah 122).Tanggap akan hal tersebut. Dengan bertambahnya waktu . Makna 1 Juli bagi Az-Zuhri Pondok Pesantren Az-Zuhri secara resmi didirikan pada tahun 1989. .yaitu : untuk tidur santri.

dan hanya orang berilmu yang bisa memiliki “akhlaqul karimah”. Konsep demikian pada kenyataannya memberi kesadaran pada kita bahwa hanya orang yang merasa bodoh yang akan terus mencari ilmu.” ( “Santriku bodoh tapi punya akhlaqul karimah”). “Santriku bodhobodho tapi nduweni Akhlaqul Karimah. Shodiq) yang berlokasi di Jl. Kasipin Jarimin (H. Berbeda dengan lokasi asrama santri putri yang sangat dekat dengan nDalem Abah. Sambiroto. Pada perjalanannya. Daerah Binaan Kehadiran pondok pesantren Az-Zuhri semakin mewarnai kehidupan di masyarakat Ketileng dan sekitarnya. perintisan awal Pondok Pesantren ditempati 24 santri putra dan 12 santri putri. semua di kerjakan para santri sendiri yang waktu itu di tukangi oleh santri yang bernama Masrum. Rumpun Diponegoro. Pembangunan Masjid di PP. Seringkali beliau memberi ceramah-ceramah Agama di daearah Pedurungan. Az-Zuhri. Karang Ayu dan Krobokkan. Abah Muhammad Saeful Anwar ZR pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren Az-Zuhri mulai melebarkan kawasan dakwahnya. Salak Utama.Tanah waqaf dari seorang sesepuh dan tokoh masyarakat Ketileng bernama H. Konsep Abah dalam mendidik santri pernah beliau tuturkan. Sinar Waluyo. satu gota’an lagi dijadikan sebagai kamar pengurus.Hidayat yang merupakan tokoh masyarakat desa Gendong.santri lainnya . Medoho. Pendirian gedung TPQ yang berada di sebelah selatan asrama santri putra menempati satu area dengan RA Az-Zuhri yang berada di lantai bawah dan TPQ Az-Zuhri di lantai atas. Ketileng Raya No. Berkat didikan beliau sekarang Masrum telah menjadi seorang kontraktor dan pemborong yang sukses Pada waktu itu Abah menginginkan santri yang mengaji pada beliau tidak perlu banyak-banyak. Dalam pembangunannya. Rogojembangan. Az-Zuhri sebagai pusat kegiatan ibadah umat Islam akhirnya terwujud dengan perantara dari waqaf H. Kedungmundu. . 13 A ini kemudian dibangun komplek asrama Pondok Putra dengan bentuk leter “L” terdiri dari 5 gota’an (kamar) untuk santri putra dan satu gota’an sebagai Kantor. Abah Muhammad Saeful Anwar. dan di bantu oleh santri. lokasi kompleks asrama santri putra ini berjarak kurang lebih 500 m dari kediaman Mudir ‘Aam pp.

Bahkan menginjak tahun berikutnya daerah binaan tersebut melebar pada daerah di luar kota Semarang. daerah binaan tersebut adakalanya masyarakat sekitarnya masih sangat buta sama sekali tentang Islam hingga perlu bimbingan tentang syari’at Islam yang benar. seringkali beliau mengutus seorang santri untuk melanjutkan misi dakwahnya dalam memberi bimbingan dan dukungan pada daerah tersebut. Bila Ketileng dulu dikenal sebagai “daerah rawan” kini masyarakat sekitar berdatangan yang berpotensi menambah kemakmuran. Fasilitas pelayanan kesehatan juga semakin berkwalitas dengan adanya sebuah Rumah Sakit Negri di kawasan ini. Desa Ketileng yang pada mulanya merupakan kawasan yang dipenuhi kegiatan kemusyrikan kini berganti pada semakin maraknya kegiatan-kegiatan yang bernafaskan Islam.Daerah-daerah tersebut secara rutinitas mendapat binaan dan bimbingan beliau. juga munculnya toserba-toserba yang menyediakan kebutuhan sehari-hari warganya. Bila Ketileng dahulu daerah yang gersang. karena keterbatasan fisik. Dampak lainnya juga menyentuh aspek perekonomian dan pendidikan masyarakatnya yang semakin menunjukkan peningkatan dengan ditandai semakin bertambahnya lembaga pendidikan formal di sekitar wilayah ketileng. Adapula yang di daerah tersebut belum ditemukan sebuah tempat ibadah untuk berjama’ah. . sehingga beliau-pun harus terjun langsung dalam perintisan dan pendirian Mushola ataupun Masjid di daerh tersebut. Sulit dipungkiri bahwa kehadiran Pondok Pesantren Az-Zuhri mempunyai dampak positif bagi masyarakat yang melingkupi berbagai aspek kehidupan sehari-hari. sekarang tanahnya mulai mampu memberikan kehidupan pada tanaman. Dalam perkembangannya.