You are on page 1of 1

ABSTRAK Banyak institut sekarang menyebut nyeri sebagai tanda vital kelima.

Proses nyeri diawali oleh nosisepsion dimana merupakan persepsi yang disebabkan rangsangan yang berpotensi menimbulkan kerusakan jaringan. Reseptor neurologic yang berperan dalam hal ini disebut nosiseptor. Kerusakan jaringan menghasilkan kerusakan sel dengan konsekuensi pengeluaran zat-zat bersifat agelsik, seperti histamin, bradikinin, dan prostaglandin. Suatu proses elektrofisiologis menjadi rangkaian perjalanan antara kerusakan jaringan sampai dirasakan nyeri, yaitu transduksi, transmisi, modulasi dan persepsi. Nosisepsi bermula dengan aktivasi serabut aferen primer, terutama serabut C dan serabut A-delta, menuju dorsal horn spinal, dilanjutkan oleh second order spinal nosiseptif yaitu wide dynamic range neuron dan nociceptive specific neuron secara ascending kontralateral menuju batang otak dan diensefalon. Berdasarkan tingkat susunan aferen ini, pengelolaan nyeri dapat dimodulasi antara lain pada tingkat reseptor, spinal, supraspinal, dan sentral. Nyeri kanker disebabkan baik oleh perkembangan dan terapi kanker, berupa nyeri somatik, visceral, dan somatik, dan bersifat sangat kuat sampai menyebabkan disabilitas. Pembebasan rasa nyeri merupakan target manajemen nyeri kanker dengan cara modifikasi sumber, gangguan transmisi, dan modulasi sentral. Hal ini dapat dicapai secara monoterapi maupun kombinasi. NSAIDs, Opioids, dan analgesik adjuvant merupakan lanjutan terapi intervensional seperti analgesia neuroaxial, certebroplasty, dan blok saraf dikombinasi dengan terapi nonfarmakologis seperti guided imagery, biofeedback, hipnosis, dan akupuntur.