You are on page 1of 64

Bab I Pendahuluan 1.

1 Latar Belakang Pertumbuhan penduduk usia lanjut (usila) di Indonesia tercatat sebagai paling pesat di dunia dalam kurun waktu tahun 1990-2025. Pada tahun 2005 terdapat 17.767.709 jiwa atau 7,97% dari total populasi, akan menjadi sekitar 25,5 juta orang pada tahun 2020 atau sebesar 11,37 persen dari jumlah penduduk, itu berarti jumlah usila di Indonesia akan berada di peringkat empat dunia sesudah Cina, India dan Amerika Serikat. Sedangkan di DKI Jakarta, berdasarkan data survei kesehatan nasional 2001 usilanya berjumlah 641.124 jiwa atau 8,64% dari keseluruhan penduduk DKI Jakarta yang berjumlah 7.423.379 jiwa.1 Insidens dan prevalensi dari DM semakin meningkat dan pada tahun 2030 diperkirakan prevalensi DM di seluruh dunia akan meningkat. menjadi dua kali lipat. DM tipe 2 didapatkan pada 85-90% dari total penderita DM dan seringkali ditemukan pada usila. Prevalensi DM tertinggi didapatkan pada penduduk berusia 60 tahun dan ke atas dengan insidens tertinggi juga didapatkan pada kelompok usia tersebut. Hasil penelitian The Canadian Study of Health and Aging (CHSA) menunjukkan prevalensi DM besarnya 12,1%. Menurut survei yang dilakukan World Health Organization (WHO), Indonesia menempati urutan ke-4 dengan jumlah penderita DM terbesar di dunia setelah India, Cina dan Amerika Serikat. Studi epidemiologi menunjukkan bahwa prevalensi Diabetes Melitus maupun Gangguan Toleransi Glukosa (GTANJUNG) meningkat seiring dengan pertambahan usia, menetap sebelum akhirnya menurun. Dari data WHO didapatkan bahwa setelah mencapai usia 30 tahun, kadar glukosa darah akan naik 1-2 mg %/tahun pada saat puasa dan akan naik sebesar 5,6-13 mg%/tahun pada 2 jam setelah makan.2 Seiring dengan pertambahan usia, usila mengalami kemunduran fisik dan mental yang menimbulkan banyak konsekuensi. Proses menua adalah keadaan yang tidak dapat dihindarkan. Perubahan-perubahan pada usia lanjut dan kemunduran kesehatannya kadang-kadang sukar dibedakan dari kelainan patologi yang terjadi akibat penyakit. Dalam bidang endokrinologi hampir semua produksi dan pengeluaran hormon dipengaruhi oleh enzim-enzim yang sangat dipengaruhi oleh proses menjadi tua.1 Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit gangguan metabolisme yang bersifat kronis dengan karakteristik hiperglikemia. Klasifikasi DM
1

berdasarkan etiologi mempunyai 4 bentuk klinis yaitu DM tipe-1, DM tipe-2, DM tipe lain dan gestational diabetes mellitus. Diabetes mellitus yang terdapat pada usia lanjut gambaran klinisnya bervariasi luas dari tanpa gejala sampai dengan komplikasi nyata yang kadang-kadang menyerupai penyakit atau perubahan yang biasa ditemui pada usia lanjut.3 Berdasarkan penelitian oleh Laurentia Mihardja, Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta dengan judul Faktor yang Berhubungan dengan Pengendalian Gula Darah pada Penderita Diabetes mellitus di Perkotaan Indonesia, hasil yang didapat adalah prevalensi responden yang mempunyai riwayat DM meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. Prevalensi lebih banyak pada wanita dan kelompok sosioekonomi yang lebih tinggi. Penderita yang makan sayur dan buah 5 porsi atau lebih hanya 8,8%, beraktivitas fisik kurang 35,1%, prevalensi kegemukan 60,8% pada laki-laki dan 66,9% pada perempuan, obesitas sentral 32,5% pada laki-laki dan 59,9% pada wanita, tekanan darah tidak terkontrol (> 130/80 mmHg) 70,0% pada laki-laki dan 76,8 % pada wanita.4 Pria dalam kelompok usia 45-54 memiliki diabetes tipe 2 dua kali lebih sering daripada wanita. Di atas usia 75 tahun, wanita memiliki diabetes tipe 2 laki-laki lebih sering daripada (Hummel).4 Sebagian besar penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa wanita memiliki insiden lebih besar dari obesitas dibandingkan dengan pria. Hal ini karena estrogen berpengaruh pada metabolisme lemak. perempuan memiliki proporsi tubuh dan distribusi lemak sangat banyak berbeda dari laki-laki. Dalam penelitian K M Prasanna Kumar dengan tentang hubungan jenis kelamin usia lanjut dengan DM yang dilakukan di Ramaiah Medical College dan Rumah Sakit nya, dan Diacon Hospital, Bangalore melibatkan 13.662 Pasien NIDDM yang terdiri dari 8.344 laki-laki dan 5.318 perempuan, dan hasilnya ditemukan obesitas lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Mengambil batas atas BMI sebagai 27 pada pria, kami menemukan bahwa 13,2% pria yang obesitas dibandingkan dengan 55% dari wanita yang memiliki BMI lebih dari 25. Rasio pinggang pinggul lebih dari 0.85 di perempuan adalah 35,1% dan lebih dari 0,95 pada pria adalah 25,4%.5 Lebih dari 50% usila diatas 60 tahun yang tanpa keluhan, ditemukan hasil Tes Toleransi Glukosa Oral (TTANJUNGO) yang abnormal. Intoleransi glukosa ini masih belum dapat dikatakan sebagai diabetes. Pada usia lanjut terjadi penurunan maupun kemampuan insulin terutama pada post reseptor.4
2

Beberapa faktor yang berkaitan dengan penyebab diabetes mellitus pada usila (Jeffrey) umur yang berkaitan dengan penurunan fungsi sel pankreas dan sekresi insulin, umur yang berkaitan dengan resistensi insulin akibat kurangnya massa otot dan perubahan vaskuler, obesitas, aktivitas fisik yang kurang dan keturunan. Tahun 1995, dilaporkan prevalensi usia lanjut dengan DM di Jawa Timur dan Bali adalah 5,7%. DM meningkat seiring umur. Pada 2010, dianggarkan prevalensi DM pada umur <20 tahun adalah 0,2% dan 11,3% pada usia >20 tahun. Pada orang berusia >60 tahun, prevalensi DM adalah 26,9%. Prevalensinya dalah sama antara perempuan dan laik-laki pada semua tingkat usia (11,8% dan 10,8% pada usia > 20 tahun). World Health Organization (WHO) mengatakan bahawa obesitas merupakan salah satu dari 10 kondisi yang berisiko di seluruh dunia dan salah satu dari 5 kondisi berisiko di negara berkembang.4,5 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, ditemuakn masalah-masalah sebagai berikut : 1.2.1 1.2.2 Pertumbuhan penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia tercatat sebagai paling pesat di dunia dalam kurun waktu tahun 1990-2025. Insidens dan prevalensi dari DM semakin meningkat dan pada tahun 2030 diperkirakan prevalensi DM di seluruh dunia akan meningkat menjadi dua kali lipat. 1.2.3 Prevalensi DM tertinggi didapatkan pada penduduk berusia 60 tahun dan ke atas dengan insidens tertinggi juga didapatkan pada kelompok usia tersebut. Menurut data dari World Health Organization ( WHO ) adalah sebanyak 26,9%. 1.2.4 Prevalensi kejadian Diabetes mellitus yang meningkat pada usia lanjut berhubungan dengan status gizi, pola makan, aktifitas fisik, riwayat DM dalam keluarga, usia dan jenis kelamin.

1.3 Tujuan
3

1.3.1 Tujuan umum 1.3.1.1 Penelitian ini bertujuan umum untuk mengetahui gambaran kadar glukosa darah pada orang usia lanjut di Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan, Kecamatan Grogol Petamburan dan faktor-faktor yang berhubungan. 1.3.2 Tujuan khusus 1.3.2.1 Diketahui gambaran kadar glukosa darah sewaktu pada orang usia lanjut di Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan 1.3.2.2 Diketahui distribusi menurut status gizi, pola makan, aktifitas fisik, riwayat DM dalam keluarga, usia, hipertensi, jenis kelamin dan stress di Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan. 1.3.2.3 Diketahui hubungan antara kadar glukosa darah sewaktu pada orang usia lanjut dengan status gizi, pola makan, aktifitas fisik, riwayat DM dalam keluarga, usia, penyakit penyerta, jenis kelamin dan stress di Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan.

1.4 Manfaat 1.4.1 Manfaat Bagi Peneliti 1.4.1.1 Menerapkan dan mengembangkan ilmu yang telah dipelajari pada saat kuliah. 1.4.1.2 Sebagai bagian dari tugas dalam rangka menyelesaikan pendidikan di bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat di Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta. 1.4.1.3 Mengetahui gambaran kadar gula darah pada lansia di Kelurahan Tanjung Duren Selatan dan mengungkap faktor apa saja yang dapat mempengaruhi kadar gula darah.
4

1.4.1.4 Memperoleh pengalaman belajar dan pengetahuan dalam melakukan penelitian 1.4.1.5Mengembangkan daya nalar, minat dan kemampuan dalam bidang penelitian

1.4.2

Manfaat Bagi Perguruan Tinggi 1.4.1.5 Sebagai masukan dan acuan untuk penelitian-penelitian berikutnya dan diharapkan dapat menjadi data dasar atau pembanding serta masukan bagi penelitilain yang berkait hal kadar glukosa darah pada orang usia lanjut dan faktor-faktor yang mungkin berkait atau dapat juga dimasukkan faktor-faktor selain yang diuji dalam penelitian ini.

1.4.3 Manfaat Bagi Masyarakat 1.4.1.5 Dengan mengetahui gambaran kadar gula darah pada usia lanjut di Kelurahan Tanjung Duren Selatan dan faktor- faktor yang berhubungan dengannya, diharap mampu memberikan pengetahuan khususnya bagi masyarakat tentang faktor risiko terjadinya diabetes mellitus dan seterusnya masyarakat mampu mengambil langkah pencegahan penyakit ini.

1.5 Sasaran 1.5.1 Semua orang usia lanjut yang berkunjung ke Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan pada tanggal empat dan lima April 2013.

Bab II Tinjauan Pustaka 2.1 Epidemiologi Diabetes melitus (DM) merupakan keadaan yang seringkali dikaitkan dengan meningkatnya risiko kesakitan dan kematian. Insidens dan prevalensi dari DM semakin meningkat dan pada tahun 2030 diperkirakan prevalensi DM di seluruh dunia akan meningkat. menjadi dua kali lipat. DM tipe 2 didapatkan pada 85-90% dari total penderita DM dan seringkali ditemukan pada usila. Prevalensi DM tertinggi didapatkan pada penduduk berusia 60 tahun dan ke atas dengan insidens tertinggi juga didapatkan pada kelompok usia tersebut. Hasil penelitian The Canadian Study of Health and Aging (CSHA) menunjukkan prevalensi DM besarnya 12,1%. Menurut survei yang dilakukan World Health Organization (WHO), Indonesia menempati urutan ke-4 dengan jumlah penderita DM terbesar di dunia setelah India, Cina dan Amerika Serikat.6 Pada tahun 2000 terdapat 8,4 juta penderita DM dan pada tahun 2030 diperkirakan meningkat menjadi 21,3 juta penderita. DM telah menyebabkan sekitar 60% kematian dan 43% kesakitan di seluruh dunia. Usila yang menderita DM tipe 2 membutuhkan perawatan yang berbeda dengan penderita DM tipe 2 usia yang lebih muda. Penelitian eksperimental pada lansia yang menderita DM tipe 2 lebih sedikit dibandingkan kelompok usia lebih muda. Dengan demikian hasil penelitian pada subjek yang lebih muda tidak dapat diekstrapolasikan pada lansia. Lansia yang menderita DM seringkali juga mengalami penyakit lainnya, ketidakmampuan fisik (physyical disability), gangguan psikososial dan fungsi kognisi, serta meningkatnya pelayanan kedokteran.Pada akhirnya, komplikasi yang terjadi akan mengganggu kualitas hidup lansia.6 2.2 Usia lanjut
6

Definisi tua menurut UU Nomor 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan usila adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas. Tua adalah suatu keadaan yang dapat dipandang dari tiga sisi yaitu sisi kronologis, fisis, dan psikologis.8 Menurut WHO, seseorang disebut tua atau usia lanjut apabila orang tersebut berdasarkan usia kronologis telah mencapai 60 tahun atau lebih. 4 Seseorang yang belum berumur 60 tahun atau lebih, tetapi secara fisis sudah tampak setua usia 60 tahun atau lebih karena stress psikologis yang dialaminya disebut tua psikologis, tetapi bila orang tersebut karena penyakit kronik yang dialaminya disebut tua fisis walaupun sebenarnya orang tersebut belum mencapai usia 60 tahun atau lebih.7 2.3 2.3.1 Teori Penuaan Teori Radikal Bebas

Radikal bebas adalah adalah atom atau molekul yang memiliki satu atau lebih elektron bebas (tidak mempunyai pasangan). Elektron bebas ini dapat bereaksi dengan molekul apa saja sehingga sangat reaktif. Teori radikal bebas ini menyatakan bahwa produk samping metabolisme oksidatif yang sangat reaktif dapat bereaksi dengan unsur-unsur sel utama, termasuk protein, DNA, dan lipid untuk menghasilkan molekul-molekul disfungsional yang mengganggu fungsi sel tersebut.8 Beberapa bukti menunjukan bahwa molekul yang terganggu tersebut berakumulasi menurut perjalanan umur tetapi relatif sedikit bukti bahwa akumulasi tersebut menyebabkan penurunan fungsi dan gangguan yang dapat menerangkan perbedaan laju menua antar spesies. 2.3.2 Teori Glikosilasi

Teori glikosilasi menyatakan bahwa glikosilasi nonenzimatik dapat menghasilkan perubahan bentuk protein, dan mungkin juga makromolekul lainnya, yang berakumulasi dan menyebabkan disfungsi pada binatang tua. Teori glikosilasi yang meyatakan bahwa proses glikosilasi nonenzimatik yang menghasilkan pertautan glukosa protein yang disebut sebagai advanced glycation end products (AGEs) dapat menyebabkan penumpukan protein dan makromolekul lain yang termodifikasi sehingga terjadi disfungsi pada hewan atau manusia yang menua.7 Berbagai bentuk glikosilasi kolagen manusia berakumulasi menurut umur didalam tendo dan kulit, meskipun protein berumur panjang lainnya hannya berubah sedikit. Teori glikosilasi ini
7

didukung oleh temuan bahwa tikus mempunyai kadar glukosa darah rendah, dan dengan demikian akumulasi produk-produk glikosilasi juga lebih lambat sehingga umurnya menjadi lebih panjang.7 2.3.3 Teori Laju Reparasi DNA

Penelitian Hart dan Setlow (1992) menunjukan adanya perbedaan pola reparasi kerusakan fibroblast antar spesies, setelah diberi penyinaran ultraviolet pada kultur fibroblast. 7 Fibroblast dari spesies dengan lama hidup maksimum (maximum life span) yang panjang menunjukan reparasi DNA lebih cepat dan menunjukan korelasi yang tinggi pada berbagai ordo mamalia.8 2.3.4 Teori Pemendekan Telomer

Kromosom mamalia mempunyai bangunan khusus disebut telomer di ujung tiap lengan kromosom, terdiri atas DNA non koding yang memungkinkan replikasi RNA-primed ujung 5 kromosom, dan diduga dapat mencegah terjadinya aberasi kromosom tertentu. Pada manusia panjang telomer sel-sel darah memendek secara proporsional dengan umur.8 Menurut Hayflick (1980) dalam Hendra (2006) menyatakan bahwa bahwa sel-sel normal manusia dan binatang mempunyai kapasitas replikasi terbatas harus diintepretasi sebagai ekspresi penentuan menua pada tingkat sel. Temuan ini mempunyai implikasi adanya mekanisme penghitungan didalam sel, dan ini ternyata dikendalikan oleh pemendekan telomer pada setiap putaran replikasi DNA. Oleh karena itu Hayflick (1998), menyarankan penggunaan istilah replikometer, karena replikasi dihitung sehingga istilah jam (clock) atau kronometer kurang tepat. Telomer terdiri atas untaian DNA yang berulang-ulang dan terletak diujung kromosom linear (Sherwood, 2001).7 Pemendekan telomer yang terjadi pada beberapa kelas sel-sel somatik normal yang membelah mungkin sebagai replikometer yang menentukan berapa kali satu sel normal dapat membelah. 2.4 Metabolisme glukosa pada usia lanjut Proses menua merupakan fenomena universal, yang kecepatan prosesnya bervariasi pada setiap individu. Perbedaan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor endogen ( genetis dan biologis ) dan faktor eksogen ( lingkungan, gizi, pola dan gaya hidup, social, budaya, ekonomi dan penyakit ). Studi populasi menunjukkkan peningkatan kadar gula darah post pemberian glukosa
8

oral sebesar 6-9 mg/dL per dekade usia, sedangkan angka gula darah puasa meningkat 1-2 mg/dL setiap dekade kehidupan. Data WHO menyebutkan setelah mencapai usia 30 tahun, kadar glukosa darah akan meningkat 1-2 mg % / pada 2 jam setelah makan.4 Pada usia 60 tahun keatas, proses menua berjalan lebih cepat sehingga sehingga

memperlihatkan penurunan fisik yang nampak progresif. Proses ini ditandai dengan kegagalan tubuh dalam mempertahankan proses homeostasis terhadap suatu stress, meskipun masih dalam batas-batas fisiologis. Salah satu contoh yang dapat diibaratkan adalah fungsi homeostasis glukosa.Fungsi homeostasis glukosa pada orang dewasa meliputi berbagai komponen yang mengatur satu fungsi iaitu fungsi ambilan glukosa. Komponen yang dimaksud adalah sel beta pankreas yang menghasilkan hormon insulin, sel-sel jaringan target yang menggunakan glukosa serta sistem lain seperti sistem saraf dan hormonal yang diproduksi berbagai organ ( glukagon, kortikosteroid, dll). Sehingga berbagai teori mengenai gangguan pada proses hemostasis tersebut berbicara seputar gangguan pada komponen di atas.4 Seiring pertambahan usia, sel-sel tubuh menjadi lebih resisten terhadap insulin, yang mengurangi kemampuan usila untuk memetabolisme glukosa. Selain itu, pelepasan insulin dari sel beta pankreas berkurang dan melambat. Hasil dari kombinasi proses ini adalah hiperglikemia. Umur merupakan salah satu faktor resiko terjadinya gangguan gangguan toleransi glukosa.Toleransi glukosa terganggu dapat disebabkan oleh turunnya sekresi insulin oleh sel beta pankreas atau turunnya ambilan glukosa oleh sel target.4 Timbulnya gangguan toleransi glukosa pada usia lanjut semula oleh sementara para ahli diduga karena menurunnya sekresi insulin oleh sel beta pankreas dan adanya resistensi insulin. Hal ini dikarenakan oleh penemuan pada otopsi dari lansia yang meninggal dunia ditemukan perubahan gambaran histologi pankreas dan adanya resistensi insulin dikarenakan kadar insulin plasma yang cukup tinggi pada 2 jam setelah pembebanan glukosa 75 gr dengan kadar glukosa darah yang tinggi pula. Resistensi insulin pada usila diperkirakan karena 4 faktor yaitu : 4 a. Penurunan jumlah massa otot dari 19 % menjadi 12 %, disamping peningkatan jumlah jaringan lemak dari 14 % menjadi 30 %.
9

b. Turunnya aktivitas fisik yang mengakibatkan kecepatan translokasi GLUT-4 juga menurun. c. Perubahan pola makan pada lansia karena berkurangnya gigi geligi

d. Konsentrasi IGF-1 serum turun sampai 50 % pada usia lanjut dan juga konsentrasi DHEAS (dehidroepiandrosteron) plasma juga menurun pada lansia. Hal ini didasarkan atas percobaan invitro serta invivo bahwa IGF-1 meningkatkan baik ambilan glukosa maupun kecepatan oksidasinya. Sedangkan DHEAS sendiri dikarenakan mempunyai hubungan terbalik dengan tingginya konsentrasi insulin plasma. Berdasarkan teori menua dan hasil dari peneliti sebelumya, dapat dikatakan terjadinya perubahan toleransi tubuh terhadap glukosa pada lansia cenderung karena proses di pasca reseptor sel sasaran.4 2.5 Faktor Risiko 2.5.1 Status gizi dan pola makan

Pada usia lanjut terjadi perubahan komposisi tubuh dimana massa lemak meningkat dan komposisi air menurun demikian juga massa otot sehingga hal ini berhubungan dengan timbulnya resistensi insulin pada usia lanjut. Dengan demikian jika usila makan dengan kuantitas yang sama seperti orang yang masih muda, kecenderungan untuk menjadi obesitas akan lebih besar. Ditambah dengan aktivitas fisik yang cenderung menurun seiring dengan bertambahnya usia juga ikut mempertinggi risiko obesitas pada usila. Menurut Robby dkk, obesitas yang terjadi pada usila dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit seperti hiperglikemia, hiperlipidemia, penyakit kardiovaskular, DM dan kanker.6 Populasi orang Indonesia sendiri memiliki indeks massa tubuh yang lebih rendah dibandingkan populasi kaukasia pada umur dan jenis kelamin yang sama, namun memiliki lemak tubuh yang tinggi. Wannamethee dkk mendapatkan bahwa indeks massa tubuh dan lingkar perut memiliki hubungan yang kuat dengan abnormalitas metabolik pada usia lanjut.6 Hasil survey kesehatan Inggris (2003) menyatakan bahwa kelompok 16 24 tahun tidak berisiko menjadi obesitas dibandingkan dengan kelompok usia yang jauh lebih tua. Kelompok usia setengah baya dan pension punya risiko obesitas lebih tinggi ( WHO, 1999 ). Di Indonesia,
10

terdapat penelitian tentang obesitas yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan ( DepKes ) di 26 kota dari tahun 1996-1997 dan ditemukan prevalensi overweight ( body mass index ( BMI ) 2530 dan obesitas ( BMI > 30 ) pada dewasa ( 19-65 tahun ) mengalami peningkatan sekitar 17,5%.5 Menurut Stockslager dan Schaeffer ( 2008), penuaan dicirikan dengan kehilangan banyak sel tubuh dan penurunan metabolism di sel lainnya. Proses ini menyebabkan penurunan fungsi tubuh dan perubahan komposisi tubuh. Salah satu buktinya, konsentrasi glukosa meningkat dan tetap naik lebih lama dibandingkan orang yang lebih muda.5 Terjadi peningkatan prevalensi hiperglikemia pada usia lanjut. Prevalensi hiperglikemia dari tahun 2001-2004 terjadi peningkatan yaitu dari 7,9% menjadi 11,3%. Hasil pemeriksaan kadar glukosa darah pada sejuta orang yang dilakukan DepKes selama 2 tahun (2003-2005) mendapatkan sebanyak 81.696 orang ( 8,29%) memiliki kadar glukosa darah sewaktu melebihi 200mg/dL. Hiperglikemia berhubungan erat dengan obesitas, tekanan darah tinggi, dan hipertrigliseridemia pada usia lanjut.6 Seiring pertambahan usia, sel-sel tubuh menjadi lebih resisten terhadap insulin, yang mengurangi kemampuan sel-sel dalam tubuh lansia untuk memetabolisme glukosa. Selain itu, pelepasan insulin dari sel beta pancreas berkurang dan melambat. Hasil dari kombinasi proses ini adalah hiperglikemia. Pada pasien lansia, peningkatan konsentrasi glukosa yang mendadak dapat meningkakan dan lebih memperpanjangkan hiperglikemia.6 Status gizi pada lansia dapat dinilai dengan cara cara yang baku bagi berbagai tahapan umur yakni penilaian secara langsung dan tak langsung. Penilaian secara langsung dilakukan melaui pemeriksaan klinik, antropometrik, biokimia dan biofisik. Di dalam melakukan pemeriksaan klinik perlu dibedakan tiga kelompok gejala yaitu: (1) tanda-tanda yang dianggap mempunyai nilai dalam pemeriksaan gizi; (2) gejala-gejala yang memerlukan penyelidikan lebih lanjut; (3) gejala-gejala yang tidak berhubungan dengan gizi. Tanda-tanda yang masuk ke tiga kategori dapat ditemukan di berbagai organ seperti rambut, lidah, konjungtiva, bibir, kulit, hati, limpa dan sebagainya.

11

Pemeriksaan antropometrik adalah pengukuran variasi berbagai dimensi fisik dan komposisi tubuh secara umum pada berbagai tahapan umur dan derajat kesehatan. Pemgukuran yang dilakukan meliputi berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan tebal lemak di bawah kulit. Semua hasil pengukuran tersebut harus dikontrol terhadap umur dan jenis kelamin. Dalam melakukan interpretasi, digunakan berbagai bahan baku (standard) internasional maupun nasional seperti baku WHO, NCHC, Havard, dan sebagainya. Perlu ditekankan disini bahwa pemeriksaan tinggi badan pada lansia dapat memberikan nilai kesalahan yang cukup bermakna oleh karena telah terjadinya osteoporosis pada lansia yang akan berakibat pada kompresi tulangtulang columna vertebral. Untuk itu para ahli sepakat bahwa sebagai gantinya tinggi badan dapat dipakai panjang rentang tangan (armspan) dalam penentuan indeks massa tubuh (BMI). Ternyata korelasi koefisien antara BMI dengan BMA (body mass-armspan) cukup tinggi yaitu 0,83 dan 0,81 untuk wanita dan untuk pria dengan nilai p-0,001.10 Pemeriksaan biokimia dapat dilakukan terhadap berbagai jaringan tubuh, namun yang paling lazim, mudah dan praktis adalah darah dan urine. Zat-zat gii tertentu dapat dievaluasi statusnya melalui pemeriksaan biokimiawi seperti vitamin A, besi, yodium, protein dan sebagainya. Pemeriksaan biofisik dilakuakan misalnya terhadap tulang untuk menilai derajat osteoporosis, jantung untuk kecurigaan beri-beri dan smear terhadap mukosa organ tertentu. Obesitas merupakan salah satu faktor risiko dari resistensi insulin.Dengan didukung oleh beberapa faktor risiko lainnya. Resistensi insulin adalah kondisi sensitivitas insulin menurun, sensitivitas insulin adalah kemampuan dari hormon insulin menurunkan kadar glukosa darah dan menekan produksi glukosa hepatik dan menstimulasi pemanfaatan glukosa didalam otot skelet dan jaringan adiposa. Resistensi insulin juga tak lepas dari hiperglikemia yang merupakan peningkatan kadar gula darah yang disebabkan oleh glukoneogenesis yang berlebihan dan dapat juga disebabkan oleh efek insulin yang tidak adekuat.10

12

2.5.2 Aktifitas Fisik Aktifitas fisik juga sangat mempengaruhi kadar glukosa darah. Jika orang malas berolah raga memiliki resiko lebih tinggi untuk terjadinya kenaikan kadar glukosa darah karena olah raga berfungsi untuk membakar kalori yang berlebihan di dalam tubuh. Kalori yang tertimbun di dalam tubuh merupakan faktor utama penyebab diabetes mellitus selain disfungsi pankreas.Salah satu pola hidup yang baik adalah olahraga dengan teratur.

Manfaat olah raga yaitu penurunan kadar glukosa darah, mencegah kegemukan, ikut berperan dalam mengatasi kemungkinan terjadinya komplikasi, keadaan-keadaan ini dapat mengurangi resiko penyakit jantung koroner (PJK) dan meningkatkan kualitas hidup diabetisi dan meningkatkan kerja serta memberikan keuntungan secara psikologis.5 Menurut Chaveau & Kaufman (1989) olah raga pada diabetes dapat menyebabkan terjadinya peningkatan glukosa oleh otot yang aktif, sehingga secara langsung olahraga dapat menyebabkan penurunan kadar glukosa darah. Dan hasil penelitian Allen bahwa olah raga aerobik yang teratur akan mengurangi kebutuhan insulin sebesar 30-50% pada diabetes tipe 1 yang terkontrol dengan baik. Pada diabetes tipe 2 yang dikombinasikan dengan penurunan BB akan mengurangi kebutuhan insulin hingga 100%.6 Berikut adalah beberapa manfaat dari pentingnya olahraga bagi penderita diabetes 9 i. Mengontrol glukosa darah, terutama pada diabetes tipe 2, sedangkan bagi diabetes tipe 1 masih merupakan problematik. ii. Menghambat dan memperbaiki faktor resiko penyakit kardiovaskular yang banyak terjadi pada penderita diabetes, seperti Penyakit Jantung Koroner (PJK), stroke dan penyakit pembuluh darah perifer.
13

iii.

Membantu program penurunan berat badan pada penderita diabetes yang juga mengalami obesitas, terlebih lagi apabila dilakukan bersama dengan pengaturan pola makan.

iv.

Memberikan keuntungan psikologis, olah raga yang teratur dapat memperbaiki tingkat kesegaran jasmani karena memperbaiki sistem kardiovaskular, respirasi, pengontrolan gula darah sehingga penderita merasa fit, mengurangi rasa cemas terhadap penyakitnya, timbul rasa senang dan lebih meningkatkan rasa percaya diri serta meningkatkan kualitas hidupnya.

v. vi.

Mengurangi kebutuhan pemakaian obat oral dan insulin. Mencegah terjadinya diabetes yang dini terutama bagi orang orang dengan riwayat keluarga penderita diabetes ataupun bagi yang masuk dalam golongan pre diabetes.

Latihan jasmani untuk pasien diabetes melitus dilakukan 3-4 kali seminggu selama lebih kurang 30 menit.Latihan jasmani yang dilakukan bersifat aerobik dengan intensitas yang disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani serta ada tidaknya komplikasi dari diabetes melitus.Latihan aerobik dengan intensitas sedang (50-70% denyut janrung maksimum) sebaiknya dilakukan minimal 150 menit setiap minggu.Latihan aerobik berat (>70% denyut jantung maksimum) sebaiknya dilakukan minimal 90 menit setiap minggu.Bentuk olahraga dapat berupa jalan kaki, bersepeda santai, jogging dan berenang.Selain berolahraga, kegiatan sehari-hari harus tetap dilakukan seperti berjalan kaki ke pasar, menggunakan tangga dan berkebun.11

14

Alur 1 : Mekanisme penurunan kadar gula darah akibat olahraga11

olahraga

Peningkatan sensitivitas reseptor insulin Peningkatan ikatan insulin-reseptor Peningkatan fosforilasi tirosin&pengaktifan insulin receptor substrate

Peningkatan aktivitas 5AMP-activated kinase Peningkatan translokasi vesikel yang berisi GLUT 4 (tidak bergantung insulin)

Peningkatan fosfoinositid3 kinase Peningkatan aktivasi jalur tergantung fosfoinositid (protein kinase B dan protein kinase C atipikal)

Peningkatan translokasi vesikel yang berisi GLUT 4 (yang bergantung insulin)

Peningkatan GLUT 4 di membran sel Peningkatan transportasi glukosa dari sirkulasi ke 15 dalam sel

Penurunan glukosa darah

Berikut ini adalah pertimbangan manfaat-risiko olah raga pada lansia.12 Tabel 1 : Peran Olah Raga pada Lansia Manfaat Perbaikan toleransi glukosa Risiko Hipoglikemia

Peningkatan kemampuan konsumsi oksigen Cedera pada tulang-sendi dan kaki maksimum Peningkatan kekuatan otot Penurunan tekanan darah Pengurangan lemak tubuh Perbaikan profil lipid Sudden cardiac death

Karena pada lansia, seringkali dijumpai juga penyakit penyerta seperti osteoartritis, parkinson, gangguan penglihatan, dan gangguan keseimbangan, maka olah raga sebaiknya dilakukan di lingkungan yang memang dekat, dan jenis olah raga yang dilakukan lebih bersifat isotonik daripada isometrik.11 2.5.3 Riwayat DM dalam keluarga13,14 1. Faktor keturunan : a. Diabetes tipe 1: Jika ibu mengalami kondisi tersebut, risiko berkembangnya penyakit pada anak adalah 2%.

16

Jika bapa mengalami kondisi tersebut, risiko berkembang penyakit pada anak adalah 8%.

Jika kedua ibu bapa mengalami kondisi tersebut, risiko berkembangnya penyakit pada anak adalah 30%.

Jika abang atau kakak mempunyai penyakit tersebut, risiko berkembang penyakit adalah 10%( meningkat sebanyak 15% jika kembar tidak seiras dan 40% pada kembar seiras).

b. Diabetes tipe 2: Jika terdapat salah satu ( ibu atau bapa) mengalami kondisi tersebut, risiko berkembnagnya penyakit adalah 15%. Jika kedua ibu bapa mengalami kondisi tersebut, risiko berkembangnya penyakit adalah 75%. Jika kembar tidak seiras mengalami kondisi tersebut, risiko berkembang 10%. Jika kembar seiras mengalami kondisi tersebut, risiko berkembang sebanyak 90%.

2.5.4 Usia DM tipe II biasanya terjadi setelah usia 30 tahun dan semakin sering terjadi setelah usia 40 tahun, selanjutnya terus meningkat pada usia lanjut. Usia lanjut yang mengalami gangguan toleransi glukosa mencapai 50-92%.10 Sekitar 6% individu berusia 45-64 tahun dan 11% individu diatas usia 65 tahun menderita DM tipe II. Goldberg dan Coon dalam Rochman (2006) menyatakan bahwa umur sangat erat kaitannya dengan terjadinya kenaikan kadar glukosa darah, sehingga semakin meningkat usia maka prevalensi diabetes dan gangguan toleransi glukosa semakin tinggi.16 Proses menua yang berlangsung setelah usia 30 tahun mengakibatkan perubahan anatomis, fisiologis dan biokimia. Perubahan dimulai dari tingkat sel, berlanjut pada tingkat jaringan dan akhirnya pada tingkat organ yang dapat mempengaruhi fungsi homeostasis. Komponen tubuh yang dapat mengalami perubahan adalah sel beta pankreas yang menghasilkan
17

hormon insulin, sel-sel jaringan target yang menghasilkan glukosa, sistem saraf, dan hormon lain yang mempengaruhi kadar glukosa.16

Tabel 2 : Prevalensi diabetes mellitus mengikut umur dan jenis kelamin di Inggris pada tahun 2006.16 Usia (tahun) 16-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Laki-laki (%) 0.8 1.2 2.4 6.0 8.5 15.7 13.5 Perempuan (%) 0.9 1.2 1.2 3.6 6.0 10.4 10.6

2.5.5 Penyakit penyerta Di Amerika Serikat telah dilakukan penelitian mengenai hubungan antara tekanan darah dengan diaberes tipe 2 dan menemukan bahwa wanita yang memiliki tekanan darah tinggi berisiko 3 kali terkena diabetes dibandingkan dengan wanita yang memiliki tekanan darah rendah. Dari beberapa studi ditemukan adanya hubungan yang erat antara hipertensi dengan diabetes tipe 2, namun hanya ada sedikit infomasi mengenai hubungan antara tingkat tekanan darah dan diabetes tipe 2 yang terjadi sesudahnya. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa wanita yang memiliki hipertensi, berisiko 3 kali lipat menjadi diabetes dibandingkan dengan wanita yang memiliki tekanan darah optimal.5

18

Di sisi lain, adanya penyakit akut (seperti infark miokard akut, stroke, pneumonia, infeksi saluran kemih, trauma fisik/psikis) dapat meningkatkan kadar glukosa darah. Hal ini menyebabkan lansia yang sebelumnya sudah mengalami toleransi glukosa darah terganggu (TANJUNGT) meningkat lebih tinggi kadar gula darah sehingga mencapai kriteria diagnosis DM. Tata laksana kondisi medis akut itu dapat membantu mengatasi eksaserbasi intoleransi glukosa tersebut.6 2.5.6 Kelamin Jenis kelamin laki-laki memiliki risiko diabetes meningkat lebih cepat.Para ilmuwan dari University of Glasgow, Skotlandia mengungkap hal itu setelah mengamati 51.920 laki-laki dan 43.137 perempuan. Seluruhnya merupakan pengidap diabetes tipe II dan umumnya memiliki indeks massa tubuh (IMT) di atas batas kegemukan atau overweight. Laki-laki terkena diabetes pada IMT rata-rata 31,83 kg/m2 sedangkan perempuan baru mengalaminya pada IMT 33,69 kg/m2. Perbedaan risiko ini dipengaruhi oleh distribusi lemak tubuh.Pada laki-laki, penumpukan lemak terkonsentrasi di sekitar perut sehingga memicu obesitas sentral yang lebih berisiko memicu gangguan metabolisme.10

2.5.7 Stress Respon stress menyebabkan terjadinya sekresi sistem saraf simpatis yang diikuti oleh sekresi simpatis-medular, dan bila stress menetap maka sistem hipotalamus-pituitari akan diaktifkan dan akan mensekresi corticotropin releasing factor yang menstimulasi pituitari anterior memproduksi adenocorticotropic factor (ACTH). ACTH memstimulasi produksi kortisol, yang akan mempengaruhi peningkatan kadar glukosa darah.5,6

2.6

Manifestasi Klinik

Gejala klasik DM seperti poliuria, polidipsi, polifagia, dan penurunan berat badan tidak selalu tampak pada usila penderita DM karena seiring dengan meningkatnya usiaterjadi kenaikan ambang batas ginjal untuk glukosa sehingga glukosa baru dikeluarkan melalui urin bila glukosa darah sudah cukup tinggi. Selain itu, karena mekanisme haus terganggu seiring dengan penuaan, maka polidipsi pun tidak terjadi, sehingga lansia penderita DM mudah mengalami dehidrasi
19

hiperosmolar akibat hiperglikemia berat.5-8 DM pada usila umumnya bersifat asimptomatik, kalaupun ada gejala, seringkali berupa gejala tidak khas seperti kelemahan, letargi, perubahan tingkah laku, menurunnya status kognitif atau kemampuan fungsional (antara lain delirium, demensia, depresi, agitasi, mudah jatuh, dan inkontinensia urin). Inilah yang menyebabkan diagnosis DM pada lansia seringkali agak terlambat.5,6 Bahkan, DM pada usila seringkali baru terdiagnosis setelah timbul penyakit lain. Berikut ini adalah data M.V. Shestakova (1999) mengenai manifestasi klinis pasien lansia sebelum diagnosis DM ditegakkan.15 Tabel 3. Menifestasi Klinis Pasien Lansia Sebelum Diagnosis DM*15 Sistem kardiovaskular Hipertensi arterial Infark miokard Penyakit serebrovaskular Kaki Neuropati Ulkus pada kaki Amputasi kaki Mata Katarak Retinopati proliferatif Kebutaan Ginjal Infeksi ginjal dan saluran kemih Proteinuria Gagal ginjal (50%) (10%) (5%) (30%) (8%) (5%) (50%) (5%) (3%) (45%) (10%) (3%)

2.7

Diagnosis

Pada usia 75 tahun, diperkirakan sekitar 20% lansia mengalami DM, dan kurang lebih setengahnya tidak menyadari adanya penyakit ini. Oleh sebab itu, American Diabetes
20

Association (ADA) menganjurkan penapisan (skrining) DM sebaiknya dilakukan terhadap orang yang berusia 45 tahun ke atas dengan interval 3 tahun sekali. Interval ini dapat lebih pendek pada pasien berisiko tinggi (terutama dengan hipertensi dan dislipidemia).Berikut ini adalah kriteria diagnosis DM menurut standar pelayanan medis ADA 2011.12

Tabel 4. Kriteria untuk mendiagnosa diabetes mellitus.12 Simptom diabetes ditambah dengan konsentrasi glukosa darah sewaktu > 11.1 mmol/L (200 mg/dL)a atau Gula darah puasa > 7.0 mmol/L (126 mg/dL)b atau A1C > 6.5%c atau Gula darah selepas 2 jam > 11.1 mmol/L (200 mg/dL) sewaktu tes toleransi glukosa orald
a

sewaktu adalah tanpa mengira waktu setelah makan terakhir. puasa adalah tidak adanya kalori yang diambil sekurang-kurangnya 8 jam terakhir.

tes harus dilakukan di laboratorium yang bersertifikat menurut standar A1C dari Diabetes

Control and Complication Trial.


d

tes harus dilakukan dengan menggunakan 75 g glukosa yang dilarutkan dalam air, tidak

direkomendasikan untuk kegunaan rutin klinik. Catatan: karena tidak adanya hiperglikemia tegas dan dekompensasi metabolik akut, kriteria ini harus dikonfirmasi dengan tes ulang pada hari yang berbeda. Sumber : American Diabetes Association, 2011. GDP > 7.0 mmol/dL (126 mg/dL), glukosa >11.1 mmol/L (200 mg/dL) 2 jam selepas bebanan glukosa, atau A1C > 6.5 % memastikan untuk diagnosa diabetes mellitus. Pada glukosa darah > 11.1 mmol/dL (200 mg/dL) ditambah dengan simptom klasik diabetes mellitus (poliuria,

21

polidipsi, penurunan berat badan) juga dapat didiagnosa dengan diabetes mellitus berdasarkan tabel 4. Homeostasis glukosa terganggu didefinisikan sebagai (1) GDP = 5.6 6.9 mmol/L (100-125 mg/dL), yang mana dikatakan sebagai toleransi glukosa terganggu (dapat dilihat bahwa WHO menggunakan GDP 6.1-6.9 mmol/L (110-125 mg/dL); (2) tahapan glukosa darah dalam plasma antara 7.8 dan 11 mmol/L (140 dan 199 mg/dL) diikuti oleh bebanan glukosa oral, dikatakan toleransi glukosa terganggu (TANJUNGT); atau (3) A1C 5.7 6.4%. A1C 5.7 6.4 %, toleransi glukosa oral terganggu, dan TANJUNGT tidak menggambarkan individual yang sama, tetapi indivu pada ketiga-tiga kelompok yang berisiko untuk perkembangan diabetes mellitus dan mempunyai risiko yang tinggi untuk penyakit kardiovaskular. Ada sesetengah yang menggunakan istilah prediabetes (ADA), atau intermidiate hyperglicemia (WHO) untuk kategori ini.Kriteria yang terbaru untuk mendiagnosa diabetes mellitus menegaskan bahwa A1C dan GDP adalah lebih dipercayai dan tes yang aman untuk mengenal pasti diabetes mellitus yang asimptomatik pada seseorang individu. Walaupun tes toleransi glukosa masih lagi digunakan untuk mendiagnosa diabetes mellitus, ianya sering jarang dilakukan secara rutin di klinik. 12 Diagnosis terhadap diabetes mellitus memiliki implikasi yang mendalam bagi seorang individu dari kedua sudut medis dan keuangan.Oleh itu, kelainan terhadap tes skrining untuk diabetes mellitus harus diulang sebelum melakukan diagnosa pasti mengenai diabetes mellitus, melainkan terdapatnya kelainan metabolik akut atau glukosa darah puasa yang meningkat secara bermakna (tabel 3). Kriteria-kriteria ini juga membolehkan diagnosa diabetes mellitus ditolak dalam situasi dimana intoleransi glukosa beralih ke normal. 2.8 Pencegahan

Pencegahan pada penyakit diabetes sangat penting mengingat sifat penyakitnya yang menahun dan bila telah timbul komplikasi biaya perawatannya sangat mahal.Antara langkah pencegahan yang dianjurkan pada usila termasuk modifikasi gaya hidup. Namun begitu, terdapat beberapa masalah yang menghalang pelaksanaan langkah pencegahan ini terutama terhadap usila.Terapi diet untuk usila dapat merupakan sebuah masalah tersendiri karena adanya berbagai keterbatasan,antara lain berupa keterbatasan finansial, tidak mampu menyediakan bahan makanan karena masalah transportasi/mobilitas, tidak mampu menyiapkan makanan (terutama
22

pada pria usila tanpa istri), keterbatasan dalam mengikuti instruksi diet karena adanya gangguan fungsi kognitif, berkurangnya pengecapan karena berkurangnya kepekaan dan jumlah reseptor pengecap, meningkatnya kejadian konstipasi pada usila. Pada dasarnya ada empat tingkatan pencegahan penyakit secara umum yang meliputi:

pencegahan tingkat dasar (primordial prevention), pencegahan tingkat pertama (primary prevention) yang meliputi promosi kesehatan dan pencegahan khusus, pencegahan tingkat kedua (secondary prevention) yang meliputi diagnosa dini serta pengobatan yang tepat, pencegahan tingkat ketiga (tertiary prevention) yang meliputi pencegahan terhadap terjadinya cacat dan rehabilitasi.12 A. Pencegahan Tingkat Dasar12 Pencegahan tingkat dasar (primordial prevention) adalah usaha mencegah terjadinya resiko atau mempertahankan keadaan resiko rendah dalam masyarakat terhadap penyakit secara umum. Pencegahan ini meliputi usaha memelihara dan mempertahankan kebiasaan atau perilaku hidup yang sudah ada dalam masyarakat yang dapat mencegah resiko terhadap penyakit dengan melestarikan perilaku atau kebutuhan hidup sehat yang dapat mencegah atau mengurangi tingkat resiko terhadap suatu penyakit tertentu atau terhadap berbagai penyakit secara umum. Umpamanya memelihara cara masyarakat pedesaan yang kurang mengkonsumsi lemak hewani dan banyak mengkonsumsi sayuran, kebiasaan berolahraga dan kebiasaan lainnya dalam usaha mempertahankan tingkat resiko yang rendah terhadap penyakit. Bentuk lain dari pencegahan ini adalah usaha mencegah timbulnya kebiasaan baru dalam masyarakat atau mencegah generasi yang sedang bertumbuh untuk tidak meniru atau melakukan kebiasaan hidup yang dapat menimbulkan resiko terhadap beberapa penyakit. Sasaran pencegahan tingkat dasar ini terutama pada kelompok masyarakat berusia muda dan remaja dengan tidak mengabaikan orang dewasa dan kelompok usila. B. Pencegahan Tingkat Pertama.12 Pencegahan tingkat pertama (primary prevention) adalah upaya mencegah agar tidak timbul penyakit diabetes mellitus. Faktor yang berpengaruh pada terjadinya diabetes adalah faktor keturunan, faktor aktivitas fisik yang kurang, faktor obesitas, faktor pola makan, faktor hormon,
23

dan faktor lain seperti obat-obatan. Faktor keturunan jelas berpengaruh pada terjadinya diabetes mellitus. Keturunan orang yang mengidap diabetes (terutama kalau kedua orangtuanya mengidap diabetes, jelas lebih besar kemungkinannya untuk mengidap diabetes daripada orang normal). Demikian pula saudara kembar identik pengidap diabetes hampir 100% dapat dipastikan akan juga mengidap diabetes pada nantinya. Faktor keturunan merupakan faktor yang tidak dapat diubah, tetapi faktor lingkungan (obesitas, aktivitas fisik kurang, pola makan) merupakan faktor yang dapat diubah dan diperbaiki. Usaha pencegahan ini dilakukan menyeluruh pada masyarakat tapi diutamakan dan ditekankan untuk dilaksanakan dengan baik pada mereka yang beresiko tinggi untuk kemudian mengidap diabetes. Orang-orang yang mempunyai resiko tinggi untuk mengidap diabetes adalah orang-orang yang pernah terganggu toleransi glukosanya, yang mengalami perubahan perilaku/gaya hidup ke arah aktivitas fisik yang kurang, yang juga mengidap penyakit yang sering timbul bersamaan dengan diabetes, seperti tekanan darah tinggi dan obesitas.

Tindakan yang dilakukan untuk pencegahan primer meliputi penyuluhan mengenai perlunya pengaturan gaya hidup sehat sedini mungkin dengan cara memberikan pedoman: 1. Mempertahankan perilaku makan sehari-hari yang sehat dan seimbang dengan meningkatkan konsumsi sayuran dan buah, membatasi makanan tinggi lemak dan karbohidrat sederhana. 2. Mempertahankan berat badan normal sesuai dengan umur dan tinggi badan. Berdasarkan analisis terhadap sekelompok orang dengan perubahan gaya hidup intensif, pencegahan diabetes paling berhubungan dengan penurunan berat badan. . Menurut penelitian, penurunan berat badan 5-10% dapat mencegah atau memperlambat munculnya diabetes. 3. Melakukan aktivitas fisik yang cukup sesuai dengan umur dan kemampuan. Akitivitas fisik harus ditingkatkan dengan berolah raga rutin, minimal 150 menit perminggu, dibagi 3-4 kali seminggu. Olah raga dapat memperbaiki resistensi insulin yang terjadi pada pasien prediabetes, meningkatkan kadar HDL (kolesterol baik), dan membantu mencapai
24

berat badan ideal. Selain olah raga, dianjurkan juga lebih aktif saat beraktivitas seharihari, misalnya dengan memilih menggunakan tangga dari pada elevator, berjalan kaki ke pasar daripada menggunakan mobil atau sepeda motor. 4. Merokok, walaupun tidak secara langsung menimbulkan intoleransi glukosa, dapat memperberat komplikasi kardiovaskular dari intoleransi glukosa dan Diabetes. Oleh karena itu, pasien juga dianjurkan berhenti merokok.

C. Pencegahan Tingkat Kedua12 Sasaran utama pada mereka yang baru terkena penyakit atau yang terancam akan menderita penyakit tertentu melalui diagnosa dini serta pemberian pengobatan yang cepat dan tepat.Salah satu kegiatan pencegahan tingkat kedua adanya penemuan penderita secara aktif pada tahap dini. Kegiatan ini meliputi pemeriksaan berkala, penyaringan (screening) yakni pencarian penderita dini untuk penyakit yang secara klinis belum tampak pada penduduk secara umum pada kelompok resiko tinggi dan pemeriksaan kesehatan atau keterangan sehat. Upaya pencegahan tingkat kedua pada penyakit diabetes adalah dimulai dengan mendeteksi dini pengidap diabetes. Karena itu dianjurkan untuk pada setiap kesempatan, terutama untuk mereka yang beresiko tinggi agar dilakukan pemeriksaan penyaringan glukosa darah. Dengan demikian, mereka yang memiliki resiko tinggi diabetes dapat terjaring untuk diperiksa dan kemudian yang dicurigai diabetes akan dapat ditindaklanjuti, sampai diyakinkan benar mereka mengidap diabetes. Bagi mereka dapat ditegakkan diagnosis dini diabetes kemudian dapat dikelola dengan baik, dapat mencegah penyulit lebih lanjut. D. Pencegahan Tingkat Ketiga12 Pencegahan tingkat ketiga (tertiary prevention) merupakan pencegahan dengan sasaran utamanya adalah penderita penyakit tertentu, dalam usaha mencegah bertambah beratnya penyakit atau mencegah terjadinya cacat serta program rehabilitasi. Tujuan utama adalah mencegah proses penyakit lebih lanjut, seperti perawatan dan pengobatan khusus pada penderita diabetes mellitus, tekanan darah tinggi, gangguan saraf serta mencegah terjadinya cacat maupun kematian karena penyebab tertentu, serta usaha rehabilitas.
25

Upaya ini dilakukan untuk mencegah lebih lanjut terjadinya kecacatan kalau penyulit sudah terjadi. Kecacatan yang mungkin timbul akibat penyulit diabetes ada beberapa macam, yaitu: 1. Pembuluh darah otak, terjadi stroke dan segala gejala sisanya. 2. Pembuluh darah mata, terjadi kebutaan. 3. Pembuluh darah ginjal, gagal ginjal kronik yang memerlukan tindakan cuci darah. 4. Pembuluh darah tungkai bawah, dilakukan amputasi tungkai bawah. Untuk mencegah terjadinya kecacatan, tentu saja harus dimulai dengan deteksi dini penyulit diabetes, agar kemudian penyulit dapat dikelola dengan baik di samping tentu saja pengelolaan untuk mengendalikan kadar glukosa darah. Pemeriksaan pemantauan yang diperlukan untuk penyulit ini meliputi beberapa jenis pemeriksaan, yaitu: 1. Mata, pemeriksaan mata secara berkala setiap 6-12 bulan. 2. Paru, pemeriksaan berkala foto dada setiap 1-2 tahun atau kalau ada keluhan batuk kronik. 3. Jantung, pemeriksaan berkala urin untuk mendeteksi adanya protein dalam urin. 4. Kaki, pemeriksaan kaki secara berkala dan penyuluhan mengenai cara perawatan kaki yang sebaik-baiknya untuk mencegah kemungkinan timbulnya kaki diabetik dan kecacatan yang mungkin ditimbulkannya

2.9 Kerangka Teori


26

Usia Faktor yang tidak boleh dimodifikasi Kelamin Riwayat DM dalam keluarga Ras

Kadar glukosa darah

Pola makan Aktifitas fisik Faktor yang boleh dimodifikasi Status gizi Stress Hipertensi

27

2.10

Kerangka Konsep

Status gizi Status gizi Aktifitas Aktifitas fisik fisik

Pola makan Pola makan

Usia Usia

Kadar KadarGlukosa Glukosa Darah Darah

riwayat riwayat DM dalam DM dalam keluarga keluarga

Jenis Jenis Kelamin Kelamin

Stress Stress Hipertensi Hipertensi

28

Bab III Metode Penelitian 3.1. Desain Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross

sectional mengenai gambaran kadar glukosa darah sewaktu pada orang usia lanjut dan faktorfaktor yang berhubungan di Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan. Subjek penelitian yang diambil adalah orang usia lanjut (berumur 60 tahun dan ke atas) yang tinggal di Kelurahan Tanjung Duren Selatan, Jakarta Barat. 3.2. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan, Kecamatan Grogol Petamburan pada tanggal empat dan lima April 2013 3.3. Sumber Data Sumber data terdiri dari: Data primer yang diambil dengan kuesioner, pemeriksaan tinggi badan, berat badan dan pemeriksaan glukosa darah sewaktu pada orang usia lanjut yang berkunjung ke Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan. 3.4. Populasi Populasi Populasi penelitian sebagai subyek penelitian adalah orang usia lanjut (berumur 60 tahun dan ke atas) yang berkunjung ke Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan pada tanggal empat dan lima April 2013.

29

3.5. Kriteria Inklusi Kriteria inklusi Orang usia lanjut yang berkunjung di Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan Bersedia untuk diperiksa kadar gula darah, status gizi dan mengisi kuisioner.

3.6. Besar Sampel 3.6.1 Penghitungan Jumlah Sampel Melalui rumus dibawah ini didapatkan besar sampel minimal : (Z.)2 .p.q n1 = L2 n2 = n1 + (10% . n1) n1 = jumlah sampel minimal n2 = jumlah sampel ditambah substitusi 10% (substitusi adalah persen responden yang mungkin drop out) Z = nilai konversi pada tabel kurva normal, dengan nilai = 5% didapatkan Z pada kurva normal = 1,96. p = proporsi variabel yang diteliti, yaitu prevalensia dari orang usia lanjut ( berumur 60 tahun dan ke atas ) yang memiliki kadar glukosa darah sewaktu ( GDS )> 200 mg/dL ( kadar GDS penderita DM > 200 mg/dL ) p diambil 27% karena pada penelitian sebelumnya ditemukan prevalensi dari diabetes mellitus pada orang usia lanjut sebesar 27 % q = 1-p L = derajat kesalahan yang masih diterima adalah 10%.

30

Berdasarkan rumus diatas, didapatkan angka : (1,96)2 x 0.27 x 0,73 n1 = (0,1)2 n1 = 75,72 Untuk menjaga kemungkinan adanya responden yang drop out, maka dihitung : n2 = n1 + ( 10% . n1 ) = 75,72 + ( 10%. 75,72 ) = 83,292 dibulatkan menjadi 84 responden

3.6.2 Teknik pengambilan sampel Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik non probability consecutive sampling. Alasan teknik pengambilan sampel ini adalah jumlah populasi yang digunakan dalam penelitian ini tidak diketahui. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara berikut : setiap orang usia lanjut yang berkunjung ke Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan, memenuhi kriteria untuk dijadikan subjek penelitian sampai jumlah sampel minimal terpenuhi ( 84 orang )atau habisnya waktu penelitian.

3.7. Identifikasi Variabel Variabel dependent : kadar glukosa darah sewaktu Variabel independent : Status gizi, pola makan, aktivitas fisik, faktor keturunan, usia, jenis kelamin, stress

31

3.8. Cara Kerja Menghubungi Kepala Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat, yang akan menjadi daerah penelitian untuk melaporkan tujuan penelitian dan meminta ijin melakukan penelitian di Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan; Membuat kuesioner Melakukan uji coba kuesioner Melakukan pengumpulan data dengan mengunakan instrumen penelitian berupa kuesioner, microtoise, timbangan berat badan dan alat mengukur kadar glukosa darah sewaktu di Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan, Data yang dikumpulkan berupa usia, jenis kelamin, pola makan, aktifitas fisik, berat badan, tinggi badan, dan body mass index ( BMI ) serta kadar glukosa darah sewaktu. Melakukan pengolahan, analisis, dan interpretasi data Penulisan laporan penelitian Pelaporan penelitian.

3.9. Manajemen Data Batasan operasional


Variabel Kadar glukosa darah sewaktu (GDS) Definisi Kadar glukosa darah sewaktu adalah hasil pengukuran kadar glukosa darah sewaktu-waktu Cara ukur dihitung dengan menggunakan glukometer dengan menusuk jari manis tangan kiri dan darah 32 Alat Ukur Glukometer merek EASY TOUCH DCU Hasil 1. GDS >200 mg/dL 2. GDS 110-199 mg/dL 3. GDS <109mg/dL Skala Ordinal

atau kapan saja tanpa melakukan persiapan puasa. Orang Usia Lanjut Orang yang berusia 60 tahun dan ke atas

diletakkan padas stick dengan satuan mg/dL. 1. Wawancara 2. Selisih antara tahun penelitian dengan tahun kelahiran responden (berdasarkan KTP) Dihitung kadar glukosa darah dengan menggunakan glukometer 1.Kuesioner 2.KTP 1. 60 tahun dan ke atas Rasio

Diabetes mellitus

Sesuatu kelainan metabolik berupa hiperglikemia dan gangguan metabolism karbohidrat, lemak dan protein

Glukometer merek EASY TOUCH DCU

1. Hiperglikemia GDS melebihi 200 mg/dL 2. Normoglikemia GDS 110-199 mg/dL 3. Hipoglikemia GDS kurang dari 110 mg/dL

Ordinal

Status Gizi

Keadaan gizi seseorang berdasarkan indeks massa tubuh yang diukur dengan cara berat badan dalam satuan kilogram (kg) dibagi dengan tinggi badan dalam

Mengukur berat badan dan tinggi badan

1.Berat badan - menggunakan timbangan injak (kg) 2.Tinggi badan - menggunakan microtoise (cm)

1. 2.

Kurang
2

Ordinal

( IMT <18,5 kg/m ) Normal ( IMT 18,5 25 kg/m2) 3. Lebih ( IMT > 25,0 kg/ m2) (Depkes,2005)

33

satuan meter Aktifitas fisik kuadrat (m2) Penilaian tingkat aktifitas fisik yang dilakukan pasien sehari-hari Hipertensi Suatu keadaan di mana tekanan darah responden melebihi batas normal yaitu sistolik 140 mmHg dan diastolik> 90 mmHg. 1.Wawancara 2.Mengukur tekanan darah dengan tensimeter 1.Kuesioner 2.Tensimeter Wawancara Kuesioner 1. cukup ( 3 kali/ minggu, 30menit setiap sesi ) 2. tidak cukup ( < 3 kali/minggu ) 1. 140/90 mmHg 2. Tidak hipertensi < 140/90 mmHg Nominal Ordinal

Pola makan

Kebiasaan orang Menu, frekuensi Kuesioner usia lanjut yang menekankan pada menu, frekuensi dan jumlah makanan yang dikonsumsi dan jumlah makanan yang dikonsumsi

1. Baik 2. Sedang 3. Buruk *

Ordinal

Riwayat DM dalam keluarga

adanya diabetes mellitus dalam keluarga yaitu orang tua , saudara kandung atau kembar.

Wawancara

Kuesioner

1. Ada 2. tidak ada

Nominal

Umur

Umur kronologis

1.Wawancara 34

1.Kuesioner

1. 60- 75 tahun

Rasio

pasien berdasarkan kartu tanda penduduk

2. Selisih antara tahun penelitian dengan tahun kelahiran responden( berda sarkan KTP) Observasi

2.KTP

2. > 75 tahun

Jenis kelamin

Sifat atau karakteristik yang dapat membedakan antara perempuan dan laki-laki. Tekanan dari luar atau peristiwa yang memberi kesan terhadap emosi atau tubuh

Penampilan fisik

1. laki-laki 2. perempuan

Nominal

Stress

Wawancara

Kuesioner ( PHQ9 )

Dihitung dari hasil kuesioner 1. 15-19 stress berat 2. 10-14 stress sedang 3. 5-9 stress ringan 4. 0-4 tidak stress

Ordinal

* 1. Frekuensi makan 3x/hari, jenis makanan karbohidrat, protein, lemak, sayuran, buah dengan 1 porsi = 1 piring 2. Frekuensi makan >3x/hari, jenis makanan karbohidrat, protein, lemak, sayuran, buah dengan 1 porsi = 1 piring 3. Frekuensi makan >3x/hari, jenis makanan karbohidrat, protein, lemak, sayuran, buah dengan 1 porsi = >2 piring

35

3.10. Pengolahan Data Terhadap data-data yang telah dikumpulkan akan dilakukan pengolahan berupa proses editing, verifikasi dan coding. Selanjutnya dimasukkan dan diolah dengan menggunakan program komputer, yaitu program SPSS 16 . 3.12. Analisis Data Terhadap data yang telah diolah kemudian dilakukan analisis yang menggunakan cara uji statistik non-parametrik yang sesuai yaitu menggunakan uji Chi-square dan Kormogorov - Smirnov 3.13. Interpretasi Data Data diinterpretasi secara deskriptif korelatif antar variabel-variabel yang telah ditentukan. 3.14.Penyajian data Data yang didapat, disajikan secara tekstular dan tabular. 3.15.Pelaporan Data Data disusun dalam bentuk pelaporan penelitian yang selanjutnya akan dipresentasikan dihadapan staf pengajar Program Pendidikan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) pada hari Jumaat 12 April 2013 dalam forum pendidikan Ilmu Kesehatan Masyarakat FK UKRIDA.

36

Bab IV Hasil Penelitian Selama proses pengumpulan data yang dilakukan pada tanggal 4 dan 5 April 2013 dengan sampel sebanyak 74 orang usia lanjut yang datang ke Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kacamatan Grogol Petamburan, berikut adalah hasil penelitian yang disajikan dalam bentuk tabel ; Tabel 4.1 Distribusi gambaran kadar glukosa darah pada orang usia lanjut dan faktor-faktor yang berhubungan di Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kacamatan Grogol Petamburan, April 2013. Kadar GDS (mg/dL) >200 110-199 <110 Total Frekuensi(n) 19 16 39 74 Persentase (%) 25.7 21.6 52.7 100.0

37

Tabel 4.2. Distribusi Karakteristik Jenis Kelamin, Usia, Riwayat DM dalam Keluarga, Hipertensi, IMT, Pola Makan, Aktifitas Fisik, dan Stress pada Orang Usia Lanjut di Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan, Kecamatan Grogol Petamburan, April 2013. Karakteristik Jenis kelamin Laki-laki Perermpuan Usia 60 75 tahun >75 tahun Riwayat keluarga Ya Tidak Hipertensi Ya Tidak IMT Lebih Normal Kurang Pola makan Buruk Sedang Baik Aktifitas fisik Kurang Cukup Stress Berat Sedang Ringan Tidak stress Frekuensi(n) 16 58 68 6 14 60 38 36 34 36 4 46 28 0 38 36 4 8 18 44 5.4 10.8 24.3 59.5 Persentase (%) 21.6 78.4 91.9 8.1 18.9 81.1 51.4 48.6 46.0 48.6 5.4 62.2 37.8 0 51.4 48.6

38

Tabel 4.3 Hubungan antara Gambaran Gula Darah Sewaktu dengan Jenis Kelamin, Usia, Riwayat DM dalam Keluarga, Hipertensi, IMT, Pola Makan, Aktifitas Fisik, dan Stress pada Orang Usia Lanjut di Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan, Kecamatan Grogol Petamburan, April 2013. Kadar GDS Variabel Jenis kelamin Laki-laki Perermpuan Usia 60 75 tahun >75 tahun Riwayat keluarga Ya Tidak Hipertensi Ya Tidak IMT* Lebih Kurang/Normal Pola makan* Buruk Sedang Aktifitas fisik Kurang Cukup Stress* Sedang/Berat Tidak/Ringan >200 110199 4 15 18 1 4 15 13 6 11 8 6 10 15 1 4 12 9 7 10 6 6 33 35 4 6 33 16 23 13 26 16 58 68 6 14 60 38 36 34 40 2
KS = 0,6728 > 0,05 Gagal Ditolak

<110

Total

dF

Uji

Ho

KS = 0,152

> 0,05

Gagal Ditolak

KS = 0,289

> 0,05

Gagal Ditolak

2
X2 = 4,034 > 0,05 Gagal Ditolak

2
X2 = 5,301 > 0,05 Gagal Ditolak

14 5 10 9 4 15

7 9 9 7 3 13

25 14 19 20 5 34

46 28 38 36 12 62

X2= 3,441

> 0,05

Gagal Ditolak

X2= 0,273

> 0,05

Gagal Ditolak

KS= 0,682

> 0,05

Gagal Ditolak

*telah disederhanakan untuk tujuan menghitung uji hipotesis


39

Bab V Pembahasan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan beberapa keterbatasan. Antara keterbatasaan tersebut adalah : Penelitian ini dilakukan salah satu pada hari Kamis di mana terdapat kemungkinan terdapat sebagian responden beragama Islam yang berpuasa sunat. nilai sebenar. Salah satu cara untuk mencapai tujuan penelitian adalah dengan menggunakan kuesioner. Dengan menggunakan kuesioner berkemungkinan besar untuk terjadinya kesalah pahaman antara pertanyaan yang ditanya dengan jawaban yang diberikan. Selaian itu, pertanyaan dengan kuesioner tidak boleh dijamin tahap kebenarannya dimana sekiranya orang usia lanjut tidak mengetahui dan memahami pertanyaan kuesioner, mereka coba mengarang jawaban. Justeru, berkemungkinan informasi yang diberikan adalah tidak tepat dan ini boleh mempengaruhi hasil penelitian. Jadi hal ini menyebabkan nilai kadar glukosa darah sewaktu yang didapatkan tidak sesuai dengan

5.1

Distribusi Gambaran Kadar Glukosa Darah Sewaktu pada Orang Usia Lanjut di

Kelurahan Tanjung Duren Selatan, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, April 2013. Pada penelitian ini didapatkan gambaran kadar glukosa darah sewaktu lebih 200 mg/dL pada orang usia lanjut sebesar 25,7 %. Hal ini didukung oleh prevalensi DM pada orang usia lanjut berusia lebih 60 tahun yang dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO) pada tahun 2010 sebesar 26,9 %.3

5.2

Hubungan Antara Usia Dengan Gambaran Kadar Glukosa Darah Orang Usia

Lanjut di Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan, April 2013.


40

Pada penelitian ini, hasil uji statistik menggunakan uji Kolmogorov Smirnov didapatkan nilai p = 0,152, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara usia dengan diabetes mellitus dengan kadar glukosa sewaktu pada orang usia lanjut di Puskkesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan ini. Pada penelitian yang dilakukan oleh Goldberg dan Coon dalam Rochman (2006) menyatakan bahwa umur sangat erat kaitannya dengan terjadinya kenaikan kadar glukosa darah, sehingga semakin meningkat usia maka prevalensi diabetes dan gangguan toleransi glukosa semakin tinggi.1 Sekitar 6% individu berusia 45-64 tahun dan 11% individu diatas usia 65 tahun menderita DM tipe II (Ignativicius & Workman, 2006). Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian sebelum ini mungkin karena jumlah sampel orang usia lanjut di atas 75 tahun sebanyak enam orang di mana jumlah ini tidak sebanding dengan jumlah sampel orang usia lanjut antara 60 hingga 75 tahun yaitu 68 orang. 5.3 Hubungan Antara Jenis Kelamin Dengan Gambaran Kadar Glukosa Darah Orang

Usia Lanjut di Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan, April 2013. Hasil uji statistik menggunakan uji Kolmogorov Smirnov didapatkan nilai nilai p = 0,6728, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara jenis kelamin dengan kadar glukosa sewaktu pada orang usia lanjut di Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan ini. Hal ini mungkin karena kami menggunakan metode non probability sampling iaitu consecutive sampling sehingga proporsi sampel antara laki-laki dan perempuan yang didapatkan tidak sama banyak. Kedua, mungkin karena populasi orang usia lanjut ini mempunyai tingkat kepedulian terhadap kesehatan yang tinggi seperti penyertaan posbindu yang dilakukan setiap bulan. 5.4 2013. Hasil uji statistik menggunakan uji Kolmogorov Smirnov didapatkan nilai p = 0,289, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara riwayat keluarga dengan diabetes mellitus dengan kadar glukosa sewaktu orang usia lanjut ini. Berdasarkan dari data statistik diabetes di United Kingdom tahun 2010, mengatakan bahwa jika terdapat anggota keluarga yang mempunyai riwayat diabetes mellitus ( ayah, ibu, kakak, adik atau kembar) kemungkinan seseorang itu mempunyai risiko untuk mendapat penyakit ini. Hal ini tidak sejalan dengan hasil
41

Hubungan Antara Riwayat DM dalam Keluarga Dengan Gambaran Kadar

Glukosa Darah Orang Usia Lanjut di Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan, April

yang didapatkan dari penelitian ini. Ini mungkin dikarenakan kesadaran masyarakat telah meningkat tentang penyakit DM yang bisa diturunkan dalam keluarga sehingga mereka lebih berwaspada dan berusaha menurunkan faktor risiko penyakit DM dengan cara pemilihan makanan yang seimbang dan aktifitas fisik yang teratur. 5.5 Hubungan Antara Hipertensi Dengan Gambaran Kadar Glukosa Darah Orang

Usia Lanjut di Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan, April 2013. Pada penelitian ini, hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square didapatkan nilai X2= 4,034, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara riwayat hipertensi dengan diabetes mellitus dengan kadar glukosa sewaktu orang usia lanjut ini, sesuai dengan penelitian penelitian terdahulu. Hal ini karena penderita yang mempunyai riwayat hipertensi telah mempunyai kesadaran dan kepedulian tentang penyakit hipertensinya sendiri. Jadi, mereka perlu mengatur pola makan dan aktifitas fisik untuk mendapatkan nilai tekanan darah yang normal. Secara tidak langsung membantu regulasi kadar gula darah yang baik. 5.6 Hubungan Antara IMT Dengan Gambaran Kadar Glukosa Darah Orang Usia

Lanjut di Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan, April 2013. Hasil uji statistik menggunakan uji chi square didapatkan nilai X2 = 5,301. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara IMT dengan kadar glukosa darah sewaktu pada orang usia lanjut di Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan ini. Menurut data yang yang didapatkan dari penelitian oleh penelitian K M Prasanna Kumar, perempuan dengan DM yang memiliki obesitas lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki yang memiliki DM. Hal ini karena hormon estrogen berpengaruh pada metabolisme lemak. Perempuan memiliki proporsi tubuh dan distribusi lemak sangat banyak berbeda dari laki-laki. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rizky Ashary 2010 didapatkan hubungan yang bermakna antara obesitas dengan kadar glukosa darah sewaktu pada lansia. Hal ini tidak sejalan dengan hasil yang didapatkan dalam penelitian ini. Ini mungkin berhubungan cara pengukuran tinggi badan yang tidak sesuai dilakukan ke atas orang usia lanjut. Perlu ditekankan disini bahwa pemeriksaan tinggi badan pada lansia dapat memberikan nilai kesalahan yang cukup bermakna oleh karena telah terjadinya osteoporosis pada lansia yang akan berakibat pada kompresi tulang-tulang columna vertebral. Untuk itu para ahli sepakat bahwa sebagai gantinya tinggi badan dapat
42

dipakai panjang rentang tangan (armspan) dalam penentuan indeks massa tubuh (IMT). Ternyata korelasi koefisien antara IMT dengan BMA (body mass-armspan) cukup tinggi yaitu 0,83 dan 0,81 untuk wanita dan untuk pria dengan nilai p-0,001.10 5.7 Hubungan Antara Pola Makan Dengan Gambaran Kadar Glukosa Darah Orang

Usia Lanjut di Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan, April 2013. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan uji chi square pada tabel 4.3 menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara kebiasaan makan responden dengan kadar glukosa darah responden. Hal ini ditunjukkan dengan besarnya nilai p =3,441. Hal ini tidak sejalan dengan data yang yang didapatkan dari penelitian Achmad Yoga Setyo Utomo yang memperlihatkan bahwa pengaturan pola makan mempunyai hubungan yang signifikan dengan keberhasilan pengelolaan DM tipe 2 ( P= 0,008 ). Hal ini boleh dikaitkan dengan keadaan sosial ekonomi penduduk di kelurahan Tanjung Duren Selatan di mana rata-rata orang usia lanjut yang datang ke puskesmas adalah dengan sosial ekonomi rendah sehingga asupan makanan mereka kurang mengandung makanan yang berkalori tinggi. 5.8 Hubungan Antara Aktifitas fisik Dengan Gambaran Kadar Glukosa Darah Orang

Usia Lanjut di Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan, April 2013. Berdasarkan data dari Tabel 4.3, berdasarkan uji Chi Square didapatkan aktifitas fisik tidak berhubungan dengan kadar glukosa darah yang mana didapatkan nilai X2=0.273. Beberapa studi menunjukkan bahwa aktifitas fisik terbukti dapat meningkatkan sensitivitas insulin, memperbaiki profil lipid dan mengurangi kadar lemak perut. Studi DA Qing di Cina menunjukkan bahwa aktifitas fisik secara regular dapat mengurangi risiko berkembangnya diabetes sampai 46 %. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Roro Utami Adiningsih (2011) menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara aktifitas fisik yang rendah (OR=260) dengan kejadian diabetes mellitus pada orang dewasa di bandingkan dengan orang yang memiliki aktifitas tinggi di Kota Padang Panjang Tahun 2011. Selain sampel yang dikumpulkan dalam jumlah yang sedikit, hal ini dapat dikaitkan dengan ketidakseimbangan antara pola makan dan aktifitas fisik. 5.9 Hubungan Antara Stress Dengan Gambaran Kadar Glukosa Darah Orang Usia
43

Lanjut di Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan, April 2013.

Hasil uji statistik menggunakan uji Kolmogorov Smirnov didapatkan nilai p = 0,682, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara stress dengan kadar glukosa darah sewaktu pada orang usia lanjut di Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan ini. Data dari penelitian ini tidak bersesuaian dengan penelitian yang dilakukan oleh Atyanti Isworo dan Saryono yang menyatakan terdapat hubungan yang bermakna antara stress dengan kadar gula darah sewaktu orang usia lanjut. Hal ini mungkin karena jumlah sampel pada penelitian ini yang masih belum cukup banyak sehingga data yang didapatkan tidak ada hubungan signifikan antara stress dengan glukosa darah sewaktu.

Bab VI Kesimpulan dan Saran Kesimpulan


44

1. Gambaran kadar glukosa darah pada orang usia lanjut di Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren adalah 25,7% yang memiliki kadar glukosa darah hiperglikemia (> 200mg/dL), 21,6 % normoglikemia (110mg/dL-199mg/dL) dan 52,7% hipoglikemia (<110mg/dL). 2. Didapatkan sebaran jenis kelamin perempuan 78,4%, usia 60-75 tahun adalah 91,9%, riwayat DM dalam keluarga 18,9%, hipertensi 51,4%, IMT >25,0kg/m2 adalah 46,0%, pola makan buruk adalah 62,2%, aktifitas fisik yang kurang adalah 51,4%, dan tidak stress adalah 59,5%. 3. Pada penelitian ini tidak didapatkan hubungan bermakna antara status gizi, pola makan, aktifitas fisik, riwayat DM dalam keluarga, usia, hipertensi, jenis kelamin dan stress dengan kadar glukosa darah yang pada orang usia lanjut.

Saran 1. Untuk Kepala Puskesmas Kelurahan Tanjung Duren Selatan a. Menambah penyuluhan tentang penyakit diabetes mellitus dan pentiungnya pola hidup sehat supaya angka prevalensi diabetes mellitus dapat diturunkan. b. Melakukan penyuluhan pada pasien yang datang berobat ke puskesmas untuk meningkatkan aktifitas fisik dan kebiasaan makan makanan yang sehat untuk menghindari factor risiko yang menyebabkan kadar glukosa darah meningkat.

45

Daftar Pustaka 1. Darmojo B, Martono H. Teori proses menua. Ilmu Kesehatan Usia Lanjut. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI; 2006.hal 7-8. 2. Report of WHO. Definition and diagnosis of diabetes mellitus and intermediate hyperglycaemia. Geneva: WHO; 2006.p.9-43. 3. Diabetes. Diunduh dari http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs312/en/ pada tanggal 22 Maret 2013 4. Rochmah W. Diabetes mellitus pada Usia Lanjut. In: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 4th ed. Jakarta: Pusat Penerbitan IPD FKUI; 2006.p.1915-18. 5. Khatib NM, Quazi ZS, Gaidhane AM, Waghmare TS, Goyal RC.Risk factors of type 2 diabetes mellitus in rural Wardha: A community based study. Int J Diabetes. 2008; vol 28 (3):79-82 6. Skripsi: Roro Utami Adiningsih. Faktor Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Diabetes mellitus Tipe 2 Pada Orang Usia lanjut Di Kota Padang Panjang Tahun 2011 7. Sherwood. Fisiologi Manusia dari Sel Ke Sistem. Jakarta: Buku Penerbitan ECG: 2001. Hal 651-676 8. Wasilah R, Aswin. Tua dan proses menua. Majalah Berkala Ilmu Kedokteran 2001 . Volume 33, nomor 4, 2001 hal 221-8. 9. Achmad Yoga Setyo Utomo. Hubungan Antara 4 Pilar Pengelolaan Diabetes Melitus dengan keberhasilan Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2. Program Pendidikan Sarjana kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. 2011. 10. Krishnan S, Rosenberg L, Djousse L, Cupples A, Palmer YR. Overall and central obesity and risk of type 2 diabetes. Obesity.2007;15:1860-6. 11. Yunir, E. M. & Soebardi S.(2006). Terapi nonfarmakologis pada diabetes mellitus. Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid III. Jakarta: Pusat penerbit Departemen Penyakit Dalam FK UI 12. Perkeni. Konsensus Diagnosis Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes mellitus tipe 2 di Indonesia 2006. Jakarta: Perkeni; 2006 13. Lie, B.A., Todd, J.A., Pociot, F., et al. The predisposition to type 1 diabetes linked to the human leukocyte antigen complex includes at least one non-class II gene. Am J Hum Genet, 1999. 64: 793800. 14. Nejentsev, S., Reijonen, H., Adojaan, B., et al. The effect of HLA-B allele on the IDDM risk defined by DRB1*04 subtypes and DQB1*0302. Diabetes, 1997. 46: 1888-1892

46

15. American Diabetes Association. Standards of Medical Care in Diabetes 2010. Diabetes Care.2010;33(1):S11-4. 16. Basuki E. Penyuluhan Diabetes mellitus. Dalam Soegondo S, Soewondo P dan Subekti I (eds). Penatalaksanaan Diabetes mellitus Terpadu, Pusat Diabetes dan Lipid RSUP Nasional Cipto Mangunkusumo-FKUI, Jakarta,2004.

47

Lampiran 1 LEMBAR DATA PENELITIAN


Petunjuk: 1. Mohon menjawab pertanyaan dibawah ini dengan memberikan jawaban yang benar sesuai pendapat anda. 2. Anda tidak diminta untuk mencantumkan nama, cukup inisial saja. 3. Jawaban diisi sendiri tidak boleh diwakilkan. 4.. Semua pertanyaan harus dijawab. Jika kurang jelas dapat ditanyakan kepada petugas. 5. Jawaban yang anda berikan akan dijaga kerahasiaannya. 6. Setelah selesai menjawab, mohon angket dikembalikan. 7. Sebelum dan sesudahnya, kami ucapkan terima kasih atas bantuan dan partisipasinya.

I.

Identitas Responden

No penelitian : Nama : Laki-laki tahun Perempuan

Jenis Kelamin : Umur :

Tanggal lahir :
48

Suku Alamat Pekerjaan

: : :

II.

Pendidikan Terakhir :

Pendidikan Terakhir
Sekolah Dasar SLTP SLTA Perguruan Tinggi (Diploma / S1/S2/S3)

Tamat

Tidak Tamat

* Beri tanda pada pilihan jawaban yang dianggap benar

III.

Pola makan

* Beri tanda pada pilihan jawaban yang dianggap benar. Jawaban boleh lebih dari satu.

Jenis Makanan Makanan pokok :

Jumlah

Frekuensi (per hari)

1. Nasi ............................ piring 2. Singkong 3. Ubi jalar 4. Roti 5. Mie/bihun/ kuew tiow 6. Sagu 7. Bubur 8. Lain-lain :. Sumber Protein : 1. Daging sapi 2. Daging ayam ............................ potong
49

................... kali

................... kali

3. Daging kambing 4. Telur ayam 5. Ikan segar 6. Tempe/ tahu 7. Kacang-kacangan 8. Lain-lain :. Sumber lemak : 1. Susu fullcream 2. Minyak sayur 3. Jeroan 4. Keju 5. Mentega 6. Santan Sumber serat : 1. Sayuran 2. Buah-buahan ............................ ................... kali

............................ sendok ............................ potong

................... kali ................... kali

1. Apakah mengkonsumsi sarapan ( contoh : nasi uduk, mee ayam, nasi goreng dsb) sebelum beraktifitas sehari-hari ? a. Ya. Pada jam b. Tidak. Alasan.....

2. Apakah anda mempunyai jadwal makan yang teratur setiap hari ? a. Ya b. Tidak. Alasan

3. Berapa jam jarak antara makan terakhir dengan waktu tidur anda? a. 3 jam

b. 3 jam 4. Seberapa sering anda mengemil/ mengkonsumsi snack ? a. Sering ( 4-7 kali/minggu ) b. Tidak sering ( 3 kali/ minggu ) 50

5. Seberapa sering anda mengkonsumsi makanan jadi/ jajanan/ fastfood ? a. Sering ( 4-7kali/minggu ) b. Tidak sering ( 3 kali/ minggu )

6. Adakah anda sering mengkonsumsi minuman manis setiap hari? a. >3 gelas per hari b. 3 gelas per hari c. 2 gelas per hari d. 1 gelas per hari e. Tidak minum minuman manis

IV.

Aktifitas fisik 1. Apakah anda rutin berolahraga ? a. Ya b. Tidak ( langsung ke no. 3 )

2. Sebutkan jenis olahraga dan seberapa sering anda berolahraga ? Jenis olahraga ( Intensitas ) 2.a 2.b 2.c Jam / minggu ( waktu )

51

3. Pada waktu luang, apakah aktiviti yang dilakukan ? a. Membaca Koran b. Menonton tv c. Berkebun d. Memancing e. Bermain catur f. Lain-lain. Sebutkan .

4. Alat transportasi apakah yang anda gunakan sehari-hari? a. Berjalan kaki b. Bersepeda c. Menaiki kendaraan bermotor (mobil, motor, bis, ojek dsb)

5. Berapa lamakah anda melakukan aktiviti jalan kaki setiap hari? a. < 5 menit b. 5-15 menit c. 16-30 menit d. 31-45 menit e. > 45 menit

V.

Riwayat keluarga

Anggota keluarga Ayah Ibu Kakak Adik

Ya

Tidak

52

Saudara kembar
Berikan tanda pada yang berkenaan

VI.

Riwayat penyakit 1. Apakah, bapak/ ibu menghidap diabetes ( kencing manis ) ? a. Ya b. Tidak

2. Apakah bapak/ibu menghidap penyakit hipertensi? a. Ya

b. Tidak

VII.

Pemeriksaan fisik ( diisi oleh petugas ) 1. Tinggi Badan = 2. Berat Badan 3. IMT = = cm kg kg/m2

53

54

Lampiran 2
Data-Data Orang usia lanjut di Kelurahan Tanjung Duren Selatan, Jakarta Barat, April 2013

55

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50

Nama Ny H Ny S Tn L Ny U Ny I Ny M Ny S Ibu F Tn S Ny S Ny L Ny Y Tn R Ny Z Ny S Ny K Ny R Tn H Ny H Ny Y Ny E Ny N Ny E Ny L Ny L Tn P Ny N Ny R Tn A Ny S ny H ny S tn Y tn W Ny L Ny K Ny N Ny I Ny T Tn L Ny S Ny K Ny M Ny S Ny W Tn T Ny D Ny M Ny F Tn S

Kelamin perempuan perempuan laki-laki perempuan perempuan perempuan perempuan perempuan laki-laki perempuan perempuan perempuan laki-laki perempuan perempuan perempuan perempuan laki-laki perempuan perempuan perempuan perempuan perempuan perempuan perempuan laki-laki perempuan perempuan laki-laki perempuan perempuan perempuan laki-laki laki-laki perempuan perempuan perempuan perempuan perempuan laki-laki perempuan perempuan perempuan perempuan perempuan laki-laki perempuan perempuan perempuan laki-laki

Umur 63 65 67 66 60 69 80 73 78 70 67 67 90 63 63 70 60 72 60 68 69 64 70 65 66 66 62 65 64 63 62 61 70 68 75 62 61 63 65 67 66 60 69 80 73 78 70 67 67 90

Aktifitas fisik kurang kurang cukup kurang kurang cukup kurang kurang cukup cukup cukup cukup kurang cukup kurang kurang cukup cukup kurang cukup kurang kurang cukup cukup kurang kurang kurang cukup cukup kurang cukup kurang kurang kurang cukup cukup cukup kurang kurang cukup kurang kurang cukup kurang kurang cukup cukup cukup cukup kurang

Riwayat keluarga tidak tidak tidak tidak tidak ya tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak ya tidak tidak ya tidak ya tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak ya tidak tidak tidak tidak tidak ya ya tidak tidak tidak tidak tidak ya tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak

GDS 399 76 315 73 88 93 93 82 145 47 416 75 93 118 96 209 173 75 75 110 58 109 71 82 118 159 123 115 107 120 105 82 125 142 85 108 212 399 76 315 73 88 93 93 82 145 47 416 75 93

56

TD 159/100mmHg 134/94mmHg 201/99mmHg 141/74mmHg 180/120mmHg 145/80mmHg 151/75mmHg 186/90mmHg 161/82mmHg 164/90mmHg 160/87mmHg 151/96mmHg 192/94mmHg 144/77mmHg 130/78mmHg 150/55mmHg 157/86mmHg 130/80mmHg 125/80mmHg 157/102mmHg 133/78mmHg 123/73mmHg 127/66mmHg 135/82mmHg 130/70mmHg 135/71mmHg 120/60mmHg 104/71mmHg 180/108mmHg 130/80mmHg 130/80 mmHg 130/80 mmHg 140/90 mmHg 170/100 mmHg 110/70 mmHg 90/60 mmHg 130/80 mmHg 159/100mmhg 134/94mm/hg 201/99mmHg 141/74mmHg 180/120mmHg 145/80mmHg 151/75mmHg 186/90 mmHg 161/82mmHg 164/90mmHg 160/87mmHg 151/96mmHg 192/94mmHg

IMT 31.4 30.1 28.7 36.4 27.8 27.8 22.1 16.4 30.1 21.5 17.9 23.7 25.1 33.8 29.8 21.9 26.4 19.1 24.3 20.5 23.6 21.1 21.8 21.6 22.8 26.4 23.3 28.9 23.9 32 27.9 23.9 25.3 24.9 21.1 27.3 23.2 31.4 30.1 28.7 36.4 27.8 27.8 22.1 16.4 30.1 21.5 17.9 23.7 25.1

Stress tidak tidak tidak sedang tidak tidak ringan tidak ringan tidak sedang ringan tidak tidak berat tidak ringan tidak tidak tidak tidak ringan tidak tidak tidak berat sedang ringan ringan tidak tidak tidak tidak ringan ringan sedang tidak tidak tidak tidak sedang tidak tidak ringan tidak ringan tidak sedang ringan tidak

Lampiran 3 Analisis SPSS Crosstabs jenis kelamin*GDS

kelamin * GDS2 Crosstabulation GDS2 1 kelamin laki-laki Count Expected Count perempuan Count Expected Count Total Count Expected Count 4 4.1 15 14.9 19 19.0 2 6 3.5 10 12.5 16 16.0 3 6 8.4 33 30.6 39 39.0 Total 16 16.0 58 58.0 74 74.0

Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2Value Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 3.279a 3.053 df 2 2 sided) .194 .217

.598

.439

74

57

Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2Value Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association 3.279a 3.053 df 2 2 sided) .194 .217

.598

.439

a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3.46.

Crosstabs Umur*GDS

umur * GDS2 Crosstabulation GDS2 1 umur 60-75 Count Expected Count 76 dan ke atas Count Expected Count Total Count Expected Count 18 17.5 1 1.5 19 19.0 2 15 14.7 1 1.3 16 16.0 3 35 35.8 4 3.2 39 39.0 Total 68 68.0 6 6.0 74 74.0

58

Crosstabs Riwayat Keluarga*GDS

riwayatkeluarga * GDS2 Crosstabulation GDS2 1 riwayatkeluarga ya Count Expected Count tidak Count Expected Count Total Count Expected Count 4 3.6 15 15.4 19 19.0 2 4 3.0 12 13.0 16 16.0 3 6 7.4 33 31.6 39 39.0 Total 14 14.0 60 60.0 74 74.0

59

Crosstabs riwayat hipertensi*GDS

hipertensi * GDS2 Crosstabulation GDS2 1 hipertensi ya Count Expected Count tidak Count Expected Count Total Count Expected Count 13 9.8 6 9.2 19 19.0 2 9 8.2 7 7.8 16 16.0 3 16 20.0 23 19.0 39 39.0 Total 38 38.0 36 36.0 74 74.0

Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2Value Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 4.034a 4.101 3.969 74 df 2 2 1 sided) .133 .129 .046

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.78.

60

Crosstabs IMT*GDS

bmi2 * GDS2 Crosstabulation GDS2 1 bmi2 kurang normal Count Expected Count lebih Count Expected Count Total Count Expected Count 8 10.3 11 8.7 19 19.0 2 6 8.6 10 7.4 16 16.0 3 26 21.1 13 17.9 39 39.0 Total 40 40.0 34 34.0 74 74.0

Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2Value Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 5.356a 5.417 3.903 74 df 2 2 1 sided) .069 .067 .048

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.35.

61

Crosstabs Pola makan*GDS

polamakan * GDS2 Crosstabulation GDS2 1 polamakan sedang Count Expected Count buruk Count Expected Count Total Count Expected Count 5 7.2 14 11.8 19 19.0 2 9 6.1 7 9.9 16 16.0 3 14 14.8 25 24.2 39 39.0 Total 28 28.0 46 46.0 74 74.0

Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2Value Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 3.441a 3.412 .164 74 df 2 2 1 sided) .179 .182 .686

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6.05.

Crosstabs Aktifitas fisik*GDS


62

aktifitasfisik * GDS2 Crosstabulation GDS2 1 aktifitasfisik cukup Count Expected Count kurang Count Expected Count Total Count Expected Count 9 9.2 10 9.8 19 19.0 2 7 7.8 9 8.2 16 16.0 3 20 19.0 19 20.0 39 39.0 Total 36 36.0 38 38.0 74 74.0

Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2Value Pearson Chi-Square Likelihood Ratio N of Valid Cases .274a .275 74 df 2 2 sided) .872 .872

a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.78.

Crosstabs Stress*GDS

63

stress2 * GDS2 Crosstabulation GDS2 1 stress2 sedang berat Count Expected Count tidak/ringan Count Expected Count Total Count Expected Count 4 3.1 15 15.9 19 19.0 2 3 2.6 13 13.4 16 16.0 3 5 6.3 34 32.7 39 39.0 Total 12 12.0 62 62.0 74 74.0

Chi-Square Tests Asymp. Sig. (2Value Pearson Chi-Square Likelihood Ratio N of Valid Cases .734a .729 74 df 2 2 sided) .693 .695

a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2.59.

64