BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Poliomyelitis atau yang lebih dikenal dengan penyakit polio adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus polio yang dapat mengakibatkan terjadinya kelumpuhan yang permanen karena virus yang menyerang sistem saraf. Penyakit ini sebenarnya dapat menyerang pada semua kelompok umur, namun yang paling rentan adalah kelompok umur kurang dari 3 tahun. Hal ini disebabkan oleh asupan gizi yang kurang. Disamping asupan gizi juga dapat dipengaruhi oleh faktor genetik dari orang tua, terlebih lagi di negeri ini masih banyak dijumpai keluarga kurang mampu, sehingga kebutuhan gizi anaknya kurang mendapat perhatian. Polio adalah penyakit virus RNA termasuk dalam family Picornaviridae, dan terdiri dari 3 serotipe virus yaitu serotipe 1, serotipe 2 dan serotipe 3 yang memiliki gejala awal mirip flu. Gejala dari penyakit ini meliputi demam, lemas, sakit kepala, muntah, sulit buang air besar, nyeri pada kaki, tangan, kadang disertai diare. Kemudian virus menyerang dan merusakkan jaringan syaraf , sehingga menimbulkan kelumpuhan yang permanen. Banyak orang tidak mengerti bahaya ini, sehingga pada waktu kecil anak-anak mereka tidak diimunisasi baik. Padahal dengan imunisasi yang memakan waktu singkat dapat membantu kekebalan tubuh anak selama kurun waktu yang lama. Oleh karena bahayanya penyakit ini kita harus mengetahui pentingnya tentang penyakit virus ini. 1.2 Tujuan 1. 2. 3. 4. 5. 6. Mengetahui etiologi dan epidemiologi penyakit polio. Mengetahui bagaimana mekanisme dan siklus penyakit polio. Mengetahui tentang jenis-jenis penyakit polio. Mengetahui gejala klinis penyakit polio. Mengetahui cara mendiagnosis penyakit polio Mengetahui pengobatan dan pencegahannya.

1

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Etiologi dan Epidemiologi Polio Polio disebabkan oleh virus dan telah ada beribu-ribu tahun. Bahkan ada benda-benda Mesir yang melukiskan individu-individu dengan fitur-fitur khusus dari kelumpuhan setelah polio. Polio telah disebut dengan banyak nama-nama yang berbeda, termasuk kelumpuhan anak-anak, kelemahan dari anggota-anggota tubuh bagian bawah (kaki-kaki dan tangan-tangan), dan spinal paralytic paralysis. Kita sekarang merujuk pada virus dan penyakit sebagai polio, yang adalah kependekan untuk poliomyelitis dan mempunyai asal usul Yunani: polios (abuabu), myelos (sumsum), dan itis (peradangan). Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV), masuk ke tubuh melalui mulut, mengifeksi saluran usus. Penyebab penyakit polio terdiri atas tiga strain yaitu strain 1 (brunhilde) strain 2 (lanzig), dan strain 3 (Leon). Strain 1 adalah yang paling paralitogenik atau yang paling ganas dan sering kali menyebabkan kejadian luar biasa atau wabah. Strain ini sering ditemukan di Sukabumi. Sedangkan Strain 2 adalah yang paling jinak.

2

3 . Virus masuk ke dalam tubuh melalui mulut ketika seseorang memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi feses. famili Picornavirus. Single RNA ini membentuk hampir 30 persen dari virion dan sisanya terdiri dari 4 protein besar (VP1-4) dan satu protein kecil (Vpg). Virus akan menyerang sistem saraf dan kelumpuhan dapat terjadi dalam hitungan jam. Sulawesi Tenggara. Virus Polio termasuk genus enteroviorus. Berdasarkan data yang ada di Ditjen PPM. mungkin karena lemahnya pelayanan kesehatan masyarakat seperti berhentinya kegiatan/program posyandu. Polio menyerang tanpa mengenal usia. Tahun 2005penyakit poliomylitis muncul kembali di indonesia. Bentuknya adalah ikosahedral tanpa sampul dengan genome RNA single stranded messenger molecule. Jambi. Polio adalah penyakit menular yang dikategorikan sebagai penyakit peradaban. Sumatra Selatan.Virus polio ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan. sehingga bayak bayi dan balita yang belum tuntas program imunisasi polio. Sulawesi Utara) dan seluruh propisi belum tuntas memberikan imunisasi Polio 4. lima puluh persen kasus terjadi pada anak berusia antara 3 hingga 5 tahun. hampir semua proponsi di indonesia belim tuntas melaksanakan imunisasi polio I (kecuali propinsi sematra barat. Polio menular melalui kontak antar manusia. Poliovirus adalah virus RNA kecil yang terdiri atas tiga strain berbeda dan amat menular. Depkes.

kurang dari satu penderita dari 200 penderita akan mengalami kelumpuhan. Infeksi ini akan mempengaruhi sistem saraf pusat menyebar sepanjang serabut saraf.kondisi ini disebut acute flaccid paralysis (AFP). lesu. Terjadi kram otot pada leher dan punggung. gusi. Polio paralisis spinal. dan Polio bulbar. -Polio Paralisis Spinal Jenis Strain poliovirus ini menyerang saraf tulang belakang. Meskipun strain ini dapat menyebabkan kelumpuhan permanen. Neuron motor tidak memiliki kemampuan regenerasi dan otot yang berhubungan dengannya tidak akan bereaksi terhadap perintah dari sistem saraf pusat. Poliovirus menyerang saraf tulang belakang dan neuron motor -. -Polio Bulbar Polio jenis ini disebabkan oleh tidak adanya kekebalan alami sehingga batang otak ikut terserang. virus ini akan diserap oleh kapiler darah pada dinding usus dan diangkut seluruh tubuh. pada penderita yang tidak memiliki kekebalan atau belum divaksinasi. Kelumpuhan paling sering ditemukan terjadi pada kaki.yang mengontrol gerak fisik. sakit perut. Kelumpuhan pada kaki menyebabkan tungkai menjadi lemas -. saraf auditori yang mengatur pendengaran. -Polio non-paralisis menyebabkan demam. kelenjar air mata. saraf glossofaringeal yang membantu proses menelan dan berbgai fungsi di 4 . yang mengirim sinyal ke berbagai otot yang mengontrol pergerakan bola mata. muntah. Namun. Infeksi parah pada sistem saraf pusat dapat menye-babkan kelumpuhan pada batang tubuh dan otot pada toraks (dada) dan abdomen (perut). otot terasa lembek jika disentuh. dan otot muka. dan sensitif. Batang otak mengandung neuron motor yang mengatur pernapasan dan saraf kranial. disebutquadriplegia. virus akan menghancurkan neuron motor. saraf trigeminal dan saraf muka yang berhubungan dengan pipi. virus ini biasanya akan menyerang seluruh bagian batang saraf tulang belakang dan batang otak.2 Patofisiologi dan Patogenesis Penyakit Polio Penyakit Polio terbagi atas tiga jenis yaitu Polio non-paralisis. Setelah poliovirus menyerang usus. Seiring dengan berkembang biaknya virus dalam sistem saraf pusat. Pada periode inilah muncul gejala seperti flu. menghancurkan sel tanduk anterior yang mengontrol pergerakan pada batang tubuh dan otot tungkai.2.

Alat ini membantu paru-paru yang lemah dengan cara menambah dan mengurangi tekanan udara di dalam tabung. Tanpa alat bantu pernapasan. paru-paru. Dengan demikian udara terpompa keluar masuk paru-paru. polio bulbar dapat menyebabkan kematian. Penderita juga dapat meninggal karena kerusakan pada fungsi penelanan.kerongkongan. pergerakan lidah dan rasa. masuk ke dalam darah serta menyebar ke seluruh tubuh. paru-paru akan mengembang. dan saraf yang mengirim sinyal ke jantung. Lima hingga sepuluh persen penderta yang menderita polio bulbar akan meninggal ketika otot pernapasan mereka tidak dapat bekerja. Namun trakesotomi juga sulit dilakukan apabila penderita telah menggunakan ''paru-paru besi'' (iron lung). Penyakit Polio dapat ditularkan oleh infeksi droplet dari oro-faring (mulut dan tenggorokan) atau dari tinja penderita yang telah terinfeksi selain itu juga dapat menular melalui oro-fecal (makanan dan minuman) dan melalui percikan ludah yang kemudian virus ini akan berkembangbiak di tengorokan dan usus lalu kemudian menyebar ke kelenjar getah bening. usus. paru-paru akan mengempis. dan saraf tambahan yang mengatur pergerakan leher. korban dapat ''tenggelam'' dalam sekresinya sendiri kecuali dilakukan penyedotan atau diberi perlakuan trakeostomi untuk menyedot cairan yang disekresikan sebelum masuk ke dalam paru-paru. Infeksi yang jauh lebih parah pada otak dapat menyebabkan koma dan kematian. 5 . kalau tekanan udara dikurangi. Kematian biasanya terjadi setelah terjadi kerusakan pada saraf kranial yang bertugas mengirim ''perintah bernapas'' ke paru-paru. Kalau tekanan udara ditambah.

yaitu: Tinja ke mulut Maksudnya. 6 . Penularan virus terjadi secara langsung melalui beberapa cara.Virus masuk melalui mulut dan hidung lalu berkembang biak di dalam tenggorokan dan saluran pencernaan atau usus. diserap dan disebarkan melalui sistem pembuluh darah dan pembuluh getah bening. Selanjutnya. melalui minuman atau makanan yang tercemar virus polio yang berasal dari tinja penderita lalu masuk ke mulut orang yang sehat.

saki perut. muntah. Polio dapat menyebar luas diam-diam karena sebagian besar penderita yang terinfeksi poliovirus tidak memiliki gejala sehingga tidak tahu kalau mereka sendiri sedang terjangkit. Setelah seseorang terkena infeksi. namun virus ini sebenarnya hidup di lingkungan yang terbatas. Meskipun cara penularan utama adalah akibat tercemarnya lingkungan oleh virus polio dari penderita yang terinfeksi. Ketahanan virus ini di dalam tanah dan air sangat bergantung pada kelembapan suhu dan adanya mikroba lain. Polio Paralisis Spinal 7 . 2. Virus ini dapat bertahan lama pada air limbah dan air permukaan. Terjadi kram otot pada leher dan punggung. Virus masuk ke tubuh melalui mulut. Sebaliknya.3 Jenis – Jenis Penyakit Polio Polio Non-Paralisis Polio non-paralisis menyebabkan demam. Virus polio sangat tahan terhadap alkohol dan lisol. Sebenarnya. termasuk otot yang terlibat dalam pernapasan. lesu dan sensitif. Menyerang sel-sel saraf yang mengendalikan otot.Mulut ke mulut Yaitu melalui percikan ludah atau air liur penderita yang masuk ke mulut orang sehat lainnya. namun peka terhadap formaldehide dan larutan chlor. bisa dari makanan atau air yang tercemar virus. Masa inkubasi polio dari gejala pertama berkisar dari 3 hingga 35 hari. virus akan keluar melalui feses selama beberapa minggu dan saat itulah dapat terjadi penularan virus. Salah satu inang atau mahluk hidup perantara yang dapat dibuktikan hingga saat ini adalah manusia. kondisi suhu yang tinggi dapat cepat mematikan virus. pada keadaan beku atau suhu yang rendah justru virus dapat bertahan hidup bertahun-tahun. Virus ditemui di kerongkongan dan memperbanyak dirinya di dalam usus. bahkan dapat sampai berkilokilometer dari sumber penularan. otot terasa lembek jika disentuh.

Polio Bulbar Polio jenis ini disebabkan oleh tidak adanya kekebalan alami sehingga batang otak ikut terserang. Poliovirus menyerang saraf tulang belakang dan neuron motor yang mengontrol gerak fisik. dan saraf yang mengirim sinyal ke jantung. virus akan menghancurkan neuron motor. Namun. Pada periode inilah muncul gejala seperti flu. saraf glossofaringeal yang membantu proses menelan dan berbgai fungsi di kerongkongan. Kematian biasanya 8 . Tanpa alat bantu pernapasan. pada penderita yang tidak memiliki kekebalan atau belum divaksinasi. dan otot muka. virus ini biasanya akan menyerang seluruh bagian batang saraf tulang belakang dan batang otak. usus. Setelah poliovirus menyerang usus. gusi.Strain poliovirus ini menyerang saraf tulang belakang. Infeksi parah pada sistem saraf pusat dapat menyebabkan kelumpuhan pada batang tubuh dan otot pada toraks (dada) dan abdomen (perut). yang mengirim sinyal ke berbagai otot yang mengontrol pergerakan bola mata saraf trigeminal dan saraf muka yang berhubungan dengan pipi. saraf auditori yang mengatur pendengaran. Lima hingga sepuluh persen penderita yang menderita polio bulbar akan meninggal ketika otot pernapasan mereka tidak dapat bekerja. Kelumpuhan pada kaki menyebabkan tungkai menjadi lemas kondisi ini disebut acute flaccid paralysis (AFP). Kelumpuhan paling sering ditemukan terjadi pada kaki. kelenjar air mata. Seiring dengan berkembang biaknya virus dalam sistem saraf pusat. Neuron motor tidak memiliki kemampuan regenerasi dan otot yang berhubungan dengannya tidak akan bereaksi terhadap perintah dari sistem saraf pusat. Batang otak mengandung neuron motor yang mengatur pernapasan dan saraf kranial. polio bulbar dapat menyebabkan kematian. pergerakan lidah dan rasa. Meskipun strain ini dapat menyebabkan kelumpuhan permanen. disebut quadriplegia. paru-paru. menghancurkan sel tanduk anterior yang mengontrol pergerakan pada batang tubuh dan otot tungkai. virus ini akan diserap oleh kapiler darah pada dinding usus dan diangkut seluruh tubuh. kurang dari satu penderita dari 200 penderita akan mengalami kelumpuhan. Infeksi ini akan mempengaruhi sistem saraf pusat menyebar sepanjang serabut saraf. 2001 ). dan saraf tambahan yang mengatur pergerakan leher ( Wilson.

biasanya pada tungkai dan pada sedikit kasus melibatkan otot-otot pernapasan. paru-paru akan mengempis. Polio paralisis tidak bersifat permanen. pasien-pasien tetap asymptomatic 9 . Polio bulbar dan spinal sering menyerang bersamaan dan merupakan sub kelas dari polio paralisis. korban dapat 'tenggelam' dalam sekresinya sendiri kecuali dilakukan penyedotan atau diberi perlakuan trakeostomi untuk menyedot cairan yang disekresikan sebelum masuk ke dalam paru-paru. Kalau tekanan udara ditambah. kalau tekanan udara dikurangi. paru-paru akan mengembang. pasien dapat meninggal dunia. kaku leher. Dengan demikian udara terpompa keluar masuk paru-paru. demam. Tanda-tanda dan gejala-gejala dari polio berbeda tergantung pada luas infeksi.terjadi setelah terjadi kerusakan pada saraf kranial yang bertugas mengirim 'perintah bernapas' ke paru-paru. Pada polio non-paralytic yang bertanggung jawab untuk kebanyakan individu-individu yang terinfeksi dengan polio. Namun trakesotomi juga sulit dilakukan apabila penderita telah menggunakan 'paru-paru besi' (iron lung). Jika sistem saraf telah terserang. mereka yang bertahan hidup dari polio jenis ini harus hidup dengan paru-paru besi atau alat bantu pernapasan. Penderita juga dapat meninggal karena kerusakan pada fungsi penelanan. Tanda-tanda dan gejala-gejala dapat dibagi kedalam polio yang melumpuhkan (paralytic) dan polio yang tidak melumpuhkan (non-paralytic). gejala. dan nyeri otot punggung. yang membutuhkan saluran pernapasan buatan. dapat terjadi kelumpuhan permanen.4 Manisfestasi Klinis Penyakit Polio Kebanyakan orang yang terinfeksi virus polio memiliki sedikit. Infeksi yang jauh lebih parah pada otak dapat menyebabkan koma dan kematian. Jika tak tertolong.Yang lain memiliki gejala jangka pendek. Alat ini membantu paru-paru yang lemah dengan cara menambah dan mengurangi tekanan udara di dalam tabung. termasuk sakit kepala. jika ada. Penderita yang sembuh dapat memiliki fungsi tubuh yang mendekati normal. 2. Hingga saat ini. kelelahan. Tingkat kematian karena polio bulbar berkisar 25-75% tergantung usia penderita.

malaise. ke luar. dan muntah. otot punggung. 1996. sendi telapak kaki jinjir. jika hadir. Ada beberapa kemungkinan “lebih lanjut” yang terjadi pada anak polio: ● Sembuh total (30%) ● Lumpuh tingkat ringan(30%) ● Lumpuh moderat/ berat (30%) ● Meninggal dunia (10%). berdiri. sehingga kekuatan otot hilang.atau mengembangkan hanya gejala-gejala seperti flu yang ringan. demam. atau otot ibu jari. sakit tenggorokan. Kelumpuhan yang terjadi dapat mengenai otot-otot di manapun. Gejalagejala. sendi rulang belakang skoliosis. david Werner. duduk. 1988. Ada beberapa gejala kelainan utama dan penyerta pada anak poliomyelitis yang mungkin dapat dilakukan identifikasi: ● Kelumpuhan dan/atau pengecilan otot anggota gerak tubuh ● Kontraktur atau kekakuan sendi. seperti otot bahu. termasuk kelelahan. Ada sebagian anak yang hanya mengalami sedikit lemah otot. tetapi paling sering di tungkai (Abdul Salim. Gejala-gejala terjadi sebagai akibat dari sistim syaraf dan infeksi dan peradangan sumsum tulang belakang (spinal cord). telenrang. 2002). Thoha Muslim. sakit kepala. 2005): ● Kelainan dungsi mobiliras. melipat ke atas. ke dalam. termasuk kesulitan dari dan ke posisi tengkurap. mungkin hanya bertahan 48-72 jam. 2002) Bentuk hambatan atau kelainan fungsi akibat poliomyelitis diantaranya (Hallahan. seperti sendi paha melipat ke depan. meskipun biasanya mereka bertahan untuk satu sampai dua minggu. 2006. sehingga terjadi deformitas sendi. abdul Salim. sementara yanglain mengalami lumpuh berat/lunglai. sendi lutut melipat ke belakang. ● Atropi otot. berguling. (David Werner. jalan 10 . Paralytic polio terjadi pada kira-kira 2% dari orang-orang yang terinfeksi dengan virus polio dan adalah penyakit yang jauh lebih serius. ● Pemendekan urat di sekitar sendi. otot di belakanglengan.

pasienpasien akan ditempatkan dalam "iron lung" (ventilator bertekanan negatif. Itulah sebabya mengapa sangat mendesak bahwa pasien-pasien menerima evaluasi dan perawatan medis yang tepat.4% pada lengan.6%). Kadang disertai sakit kepala dan muntah-muntah. Kelumpuhan ini bersifat asimetris sehingga cenderung menimbulkan gangguan bentuk tubuh (deformitas) yang menetap atau bahkan menjadi lebih berat. Stadium Konvalescent 11 . Terjadi kelumpuhan anggota gerak yang layuh dan biasanya salah satu sisi saja. karena mereka tidak mampu untuk bernapas sendiri. Stadium Subakut Yaitu fase 2 minggu sampai 2 bulan. Ditandai dengan menghilangnya demam dalam waktu 24 jam. rendah diri.● Hambatan dalam melakukan aktivitas sehari-hari ● Kelainan fungsi sosial psikologis. Kelumpuhan yang terjadi sebagian besar pada tungkai kaki (78. seperti munculnya rasa malu. dan tidak percaya diri ● Hambatan dalam aspek ekonomis produktif Kira-kira 5%-10% dari pasien-pasien yang mengembangkan polio yang melumpuhkan seringkali meninggal dari kegagalan pernapasan. Kelumpuhan terjadi akibat kerusakan sel-sel motor neuron di bagian tulang belakang (medula spinalis) lantaran invasi virus. Ditandai dengan suhu tubuh yang meningkat. Sebelum era vaksinasi dan penggunaan dari ventilator-ventilator modern. Dan adalah gejala yang timbul berdasarkan awitan lama terjadinya penyakit : Stadium Akut Yaitu fase sejak adanya gejala klinis hingga 2 minggu. sedangkan 41. yang digunakan untuk mendukung pernapasan pada pasien-pasien yang menderita polio yang melumpuhkan). Kelumpuhan ini berlangsung bertahap sampai sekitar 2 bulan sejak awal sakit. Kadang disertai kekakuan otot dan nyeri otot ringan.

 Pegang bayi pada ketiak dan ayunkan.  Mintalah anak berjalan pada ujung jari atau tumit.5 Diagnosis dan Pemeriksaan pada Penyakit Polio Dagnosis penyakit polio pada pasien dapat di tegakan dengan bantuin pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penujang.  Lakukan rangsangan dengan menggelitik atau menekan dengan ujung pensil pada telapak kaki bayi. Selanjutnya setelah 2 tahun diperkirakan tidak terjadi lagi pemulihan kekuatan otot.Yaitu fase pada 2 bulan sampai dengan 2 tahun. Bila kaki ditarik berarti tidak terjadi kelumpuhan. Stadium Kronik Yaitu lebih dari 2 tahun. Namun amnesis pada pasien terlebih dahulu harus dilakukakan. Kelumpuhan otot yang terjadi sudah bersifat permanen 2. Anak besar  Mintalah anak berjalan dan perhatikan apakah pincang atau tidak. Bayi normal menunjukkan posisi tungkai menekuk pada lutut dan pinggul.  Mintalah anak meloncat pada satu kaki. sebagai berikut: Bayi  Perhatikan posisi tidur. Bayi normal akan menunjukkan gerakan kaki menekuk. Anak yang lumpuh tak bisa melakukannya. Penegakan diagnosis penyakit polio pada anak dapat dilakakun pemeriksaan fisik. karena suatu penyakit dapat di diagnosis apabila terlebih dahulu dilakukan amnesis yang baik. Bayi yang lumpuh akan menunjukkan tungkai lemas dan lutut menyentuh tempat tidur. pada bayi lumpuh tungkai tergantung lemas. Anak yang mengalami kelumpuhan tidak bisa melakukannya. Sekitar 50-70 persen fungsi otot pulih dalam waktu 6-9 bulan setelah fase akut. 12 . Ditandai dengan pulihnya kekuatan otot yang sebelumnya lemah.

 Tungkai yang mengalami lumpuh pasti lebih kecil. Pengisolasian virus diambil dari 13 . Sedangkan pada penderita penyakit polia ditemukan gejala-gejala umum sebagai berikut : Pada kasus ringan akan ditemukan gejala berupa : • • • • • • • • • • • • • • Demam Sakit kepala Mual Muntah Nyeri perut Peradangan tenggorokan Pada kasus nonparalisis akan ditemukan gejala : Kaku kuduk Sakit kepala yang hebat Nyeri di bagian belakang anggota gerak bawah Perdangan selaput otak Pada kasus paralisis akan ditemukan gejala : Gangguan pada saraf-saraf otot pada lokasi tertentu atau menyebar Gangguan fungsi otot yang tidak simetris (berbeda antara kiri-kanan) Pengecilan ukuran otot (beberapa minggu) Kesembuhan dapat total. Pada pasien dengan kecurigaan suatu polio dapat dilakukan pemeriksaan spesimen dari cairan cerbrospinal. sebagian atau tidak Penyakit juga polio dapat didiagnosis dengan bantuan pemeriksaann penunjang yaitu : Viral Isolation Poliovirus dapat dideteksi dari faring pada seseorang yang diduga terkena penyakit polio. Anak yang mengalami kelumpuhan akan mencoba berdiri dengan berpegangan merambat pada tungkainya. Mintalah anak berjongkok atau duduk di lantai kemudian bangun kembali. feses dan lendir mukosa tenggorokan dan dilakukan kultur dari virus.

Pemeriksaan pada saat fase akut dapat dilakukan dengan pemeriksaan antibodi immunoglobulin M (IgM) yang akan didapatkan hasil yang positif Cerebrospinal Fluid ( CSF) CSF di dalam infeksi poliovirus pada umumnya terdapat peningkatan jumlah sel darah putih yaitu 10-200 sel/mm3 terutama adalah sel limfositnya. Akan tetapi zat antibody tersebut tampak netral dan dapat menjadi aktif pada saat pasien tersebut sakit. tetapi hal itu jarang dikerjakan. Dengan cara serologis yaitu mengukur zat anti yang menetralisasi (neutralizing antibody) yang muncul awal dan mungkin ditemukan meningkat tinggi pada saat penderita masuk rumah sakit oleh karena itu dapat terjadi kenaikan 4 kali yang tidak diketahui. Dan kehilangan protein sebanyak 40-50 mg/100 ml ( Paul. Bila virus polio dapat disolasi dari seorang dengan paralisis flasid akut harus dilanjutkan dengan pemeriksaan menggunakan cara oligonucleotide mapping (finger printing) atau genomic sequencing. orang tersebut harus diuji lebih lanjut menggunakan uji oligonucleotide atau pemetaan genomic untuk menentukan apakah virus polio tersebut bersifat ganas atau lemah. Uji Serology Uji serology dilakukan dengan mengambil sampel darah dari penderita. Isolasi virus dari cairan serebrospinal sangat diagnostik. Jika pada darah ditemukan zat antibody polio maka diagnosis bahwa orang tersebut terkena polio adalah benar.cairan cerebrospinal adalah diagnostik yang jarang mendapatkan hasil yang akurat. Untuk menentukan apakah virus tersebut termasuk virus liar atau virus vaksin. 14 . Virus polio dapat diambil dari daerah faring atau tinja pada orang yang dicurigai terkena poliomyelitis. 2004 ). Jika poliovirus terisolasi dari seseorang dengan kelumpuhan yang akut.

dan 1997. yang sebagian besar limfosit) dan terjadi kenaikan kadar protein ringan dari 40 sampai 50 mg/100ml. Sedangkan penggunaan vaksin yang ada hanya untuk mencegah dan mengurangi rasa sakit pada penderita. ● Melakukan Mopping Up. Pencegahan Dalam World Health Assembly tahun 1998 yang diikuti oleh sebagian besar negara di penjuru dunia dibuat kesepakatan untuk melakukan Eradikasi Polio (Erapo) tahun 2000. dan usia 15 tahun ● Survailance Acute Flaccid Paralysis atau penemuan penderita yang dicurigai lumpuh layuh pada usia di bawah 15 tahun harus diperiksa tinjanya untuk memastikan karena polio atau bukan. Ada beberapa langkah upaya pencegahan penyebaran penyakit polio ini. 1996. 2. artinya pemberian vaksinasi massal di daerah yang ditemukan penderita polio terhadap anak di bawah 5 tahun tanpa melihat status imunisasi polio sebelumnya. artinya dunia bebas polio tahun 2000. di antaranya adalah: 15 . umumnya terjadi kenaikan jumlah sel leukosit (10-200 sel/mm3. Program Eropa pertama yang dilakukan adalah ● ● Melakukan cakupan imunisasi yang tinggi dan menyeluruh Pekan Imunisasi Nasional yang telah dilakukan Depkes tahun 1995. Pemberian imunisasi polio yang sesuai dengan rekomendasi WHO adalah diberikan sejak lahir sebanyak 4 kali dengan interval 6-8 minggu.Pemeriksaan cairan serebrospinal pada infeksi virus polio. Kemudian diulang usia 1½ tahun. 5 tahun.6 Pengobatan dan Pecegahan Penyakit Polio Pengobatan pada penyakit polio sampai sekarang belum ditemukan cara atau metode yang paling tepat.

artinya dunia bebas polio tahun 2000. PIN (Pekan Imunisasi Nasional) Semua bayi harus diimunisasi lengkap sebelum umur 1 tahun. Upaya imunisasi yang berulang ini tentu takkan menimbulkan dampak negatif. POLIO1 DPT /HB COMBO2.5 tahun. Mereka harus diperiksa tinjanya untuk memastikan apakah karena polio atau bukan. polio 4 Selanjutnya. Imunisasi polio yang harus diberikan sesuai dengan rekomendasi WHO yaitu diberikan sejak lahir sebanyak 4 kali dengan interval 6-8 minggu. Mopping Up 16 . Bahkan merupakan satu-satunya program yang efisien dan efektif dalam pencegahan penyakit polio. dan usia 15 tahun. Kemudian diulang pada saat usia 1. 5 tahun. Survailance Acute Flaccid Paralysis Yaitu mencari penderita yang dicurigai lumpuh layuh pada usia di bawah 15 tahun. POLIO2 DPT /HB COMBO3.Eradikasi Polio Dalam World Health Assembly tahun 1988 yang diikuti oleh sebagian besar negara di seluruh penjuru dunia dibuat kesepakatan untuk melakukan Eradikasi Polio (ERAPO) tahun 2000. Program ERAPO yang pertama dilakukan adalah dengan melakukan cakupan imunisasi yang menyeluruh. 1996 dan 1997. pemerintah mengadakan PIN pada tahun 1995. Berbagai kasus yang diduga infeksi polio harus benar-benar diperiksa di laboratorium karena bisa saja kelumpuhan yang terjadi bukan karena polio. TABEL IMUNISASI : UMUR 0 bln 1 bln 2 bln 3 bln 4 bln 9 bln VAKSIN Hepatitis B 1 BCG DPT /HB COMBO1. POLIO3 Campak .

Mengandung virus polio yang telah dimatikan. b. sebenarnya orang tua tak perlu panik jika bayi dan anaknya telah memperoleh vaksinasi polio lengkap. Selain pencegahan dengan vaksinasi polio tentu harus disertai dengan peningkatan sanitasi lingkungan dan sanitasi perorangan. Tampaknya di era globalisasi dimana mobilitas penduduk antarnegara sangat tinggi dan cepat. Pennsylvania pada 23 Februari 1954.Artinya tindakan vaksinasi massal terhadap anak usia di bawah 5 tahun di daerah ditemukannya penderita polio tanpa melihat status imunisasi polio sebelumnya. Menjadi salah satu keprihatinan dunia bahwa kecacatan akibat polio menetap tak bisa disembuhkan. air bersih yang memenuhi persyaratan kesehatan. Namun vaksin yang digunakan untuk inokulasi masal adalah vaksin yang dikembangkan oleh Albert Sabin. yaitu sebagai berikut : a. Inokulasi pencegahan polio anak untuk pertama kalinya diselenggarakan di Pittsburgh. Penggunaan jamban keluarga. Polio hilang di Amerika pada tahun 1979. 17 . Vaksin efektif pertama dikembangkan oleh Jonas Salk. vaksin polio oral yang ditemukan Albert Sabin dan vaksin polio yang dinonaktifkan yang dikembangkan Jonas Salk. Salk menolak untuk mematenkan vaksin ini karena menurutnya vaksin ini milik semua orang seperti halnya sinar matahari. Berisi virus polio hidup yang telah dilemahkan. muncul kesulitan dalam mengendalikan penyebaran virus ini. Vaksin Polio Ada dua jenis vaksin polio. Vaksin polio oral Diberikan ke dalam mulut. Penyembuhan yang bisa dilakukan sedikit sekali alias tidak ada obat untuk menyembuhkan polio. Namun. serta memelihara kebersihan makanan merupakan upaya pencegahan dan mengurangi risiko penularan virus polio yang kembali mengkhawatirkan ini. Vaksin polio yang tidak aktif Pemberiannya dengan cara disuntikkan.

melenturkan urat yangkaku maupun memendek. Penyembuhan yang bisa dilakukan sedikit sekali alias tidak ada obat untuk menyembuhkan polio. Menumbuh kembangkan kemampuan agar dapat mengatasi akibat kelumpuhan 2. Namun sebenarnya orangtua tidak perlu panik jika bayi dan anaknya telah memperoleh vaksinasi polio lengkap. serta kebersihan alat dan bahan makanan serta minuman. Kebutuhan rehabilitasi/ habilitasi bagi anak polioyelitis diarahkan untuk: 1. Yang paling efektif hanyalah pencegahan dengan cara imunisasi. Selain pencegahan dengan vaksinasi polio. mengatasi otot fleksid. air bersih yang memenuhi persyaratan kesehatan. Virus ini menyerang seluruh tubuh (termasuk otot dan sistem saraf) dan bisa menyebabkan kelemahan otot yang sifatnya permanen dan kelumpuhan total dalam hitungan jam saja. adalah : a.Virus polio (poliomyelitis) sangat menular dan tak bisa disembuhkan. Menjadi salah satu keprihatinan dunia bahwa kecacatan akibat polio menetap tak bisa disembuhkan. Cara pencegahan yang utama adalah dengan memberikan imunisasii polio. tentu harus disertai dengan peningkatan sanitasi lingkungan dan sanitasi perorangan. Diantara kebutuhan rehabilitasi/ habilitasi bagi anak yang limpuh karena polio. Hingga saat ini belum ditemukan cara pengobatan penyakit polio. meninglkatkan ruanggerak 18 . Menjaga agar kelainan tidak menjadi parah. Bahkan sekitar 10-15 persen mereka yang terkena polio akhirnya meninggal karena yang diserang adalah otot pernapasannya. Tampaknya di era globalisasi di mana mobilitas penduduk antarnegara sangat tinggi dan cepat muncul kesulitan dalam mengendalikan penyebaran virus ini. Penggunaan jamban keluarga. Mengurangi kondisi kontraktur sendi. meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan keluarga. serta memelihara kebersihan makanan merupakan upaya pencegahan dan mengurangi resiko penularan virus polio yang kembali mengkhawatirkan.

mulaidari posisi tubuh sampai berjalan Bimbingan sosial psikologis untuk menghilangkan dampak negatif kelainan Pendidikan anak dengan orang tua Bimbingan ekonomi produktif Selain dengan melakukan vaksinasi Polio dan rehabilitasi/ habilitasi. sepetu koreksi. antibodi dari sistem kekebalan akan menyerang dan akan menghentikan infeksi (kanan). Beberapa dosis vaksin mungkin diperlukan untuk jawaban kebal 19 . d. Vaksin memaksa tubuh berpikir bahwa sedang diserang oleh organisme spesifik. Vaksin berisi kuman yang telah dimatikan atau dilemahkan atau derivatifnya. Hasil kekebalan yang disebabkan oleh vaksin didapat setelah menerima vaksin. e. Lain waktu saat organisme tersebut kembali menyerang tubuh. vaksin memicu respon kekebalan tubuh. c. bakteri atau organisme lain yang telah mati atau dilemahkan disuntikkan ke dalam tubuh (kiri). Vaksin memicu kemampuan sistem kekebalan berjuang melawan infeksi dengan tanpa kontak langsung dengan kuman yang menghasilkan penyakit. b. Vaksin kemudian merangsang sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi antibodi untuk melawan organisme tersebut (tengah). melatih fungsi koordinaso dan lain-lain melalui berbagai bentuk terapi. Bimbingan ADL baik dengan ataupun tanpa alat bantu Bimbingan mobilitas. Kekebalan anda berkembang mengikuti vaksinasi mirip kekebalan yang diperoleh dari infeksi alami. g. skoliosisi. Jika terekspos terhadap penyakit saat telah divaksin. Kekebalan karena Vaksin Selama vaksinasi. Jika diberikan kepada orang sehat. vaksin yang mengandung virus. brace oanjang. dan sistem kekebalan bekerja untuk memusnahkan penyerbu dan mencegahnya menginfeksi lagi. splint/bidai. cara lain untuk mencegah penyakit polio adalah dengan selalu melakukan cuci tangan bila akan melakukan sesuatu pekerjaan seperti makan dll.sendi. c. Pemberian alat bantu khusus sesuai kebutuhan seperti brace pendek. f. flat foot. kuman yang menyerbu akan menghadapi antibodi.

Pada IPV yang berfungsi sebagai vaksin (antigen) adalah protein-protein dari virus tersebut. tidak untuk seumur hidup. terutama protein kapsid (capsid protein) yang mengandung gugusan epitop antigen (antigenic epitope). yaitu IPV (inactivated poliovirus vaccine) dan OPV (oral poliovirus vaccine). 20 . Pada OPV yang berfungsi sebagai antigen adalah virus itu sendiri. sedangkan OPV adalah virus yang masih hidup. dan 3. Oleh karena itu. mungkin perlu dosis vaksin tambahan untuk memulihkan atau menambah kekebalan. virus yang terekresi oleh resepien akan terinfeksi kepada orangorang yang berhubungan dengan resepien dan otomatis berkembang biak dan memberi daya imun terhadap orang-orang tersebut. Iii Beberapa orang gagal mendapatkan kekebalan penuh saat dosis pertama vaksin. ada dua macam vaksin yang digunakan. seperti tetanus dan pertussis. sehingga sifat virusnya hilang termasuk sifat perkembang biakannya. 2. Oleh karena itu OPV juga dinamakan live-attenuated poliovirus vaccine. Selain itu.yang penuh. Kedua jenis vaksin ini berasal dari virus polio yang dikulturkan pada sel Vero yang berasal dari Monkey kidney dan keduanya mengandung vaksin virus polio serotype 1. tetapi memberi hasil pada dosis lanjutan. virus akan berkembang biak di usus penerima vaksin (resepien) dan menyebar ke seluruh tubuh melalui saluran darah. OPV adalah virus yang masih hidup dan mempunyai kamampuan untuk berkembang biak. Dalam proses imunisasi polio. tetapi hampir tidak bersifat patogen karena sifat patogennya sudah dilemahkan. Perbedaan kedua vaksin ini adalah jika IPV merupakan virus yang sudah dinonaktifkan (inactivated) dengan formaldehyde. Karena OPV mampu berkembang biak setelah vaksinasi. OPV akan membuat daya imun yang lama dan bahkan dikatakan bisa untuk seumur hidup. Berlawanan dengan IPV. Vaksin OPV berbentuk cairan sirup sehingga vaksinasi dengan OPV cukup dengan meminum sirup tersebut tanpa memerlukan alat lain. Karena respon kekebalan mungkin berkurang dengan berjalannya waktu. kekebalan yang didapatkan dari beberapa vaksin. Sebagai tambahan.

HIV/AIDS dan lain-lain). anak yang sedang dirawat di rumah sakit. dan segera dapat membentuk kekebalan lokal sementara (selama 100 hari) di usus. Untuk menghindari ini. Ini adalah keberhasilan yang gemilang yang dicapai oleh program eradikasi polio dengan memakai OPV. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan memberikan tambahan dosis pada umur 18 bulan dan 5 tahun untuk meyakinkan anak mendapatkan dosis yang cukup. 4 dan 5 bulan.Sementara vaksin IPV adalah berbentuk cairan harus disuntikan. 2 dan 3 yang dibiakan pada kultur sel ginjal monyet. Dengan pemakaian OPV. dilanjutkan pada usia 3. Untuk menjamin khasiat dan keamanan vaksin polio. Adapun alasan kenapa vaksin IPV tidak dibuat berbentuk sirup yang bias diminum adalah karena protein-protein yang berfungsi sebagai antigen pada IPV akan terurai di dalam lambung. Setelah mendapat 4 dosis atau lebih. OPV membentuk antibodi dalam darah. dapat mencegah penyebaran virus ke system saraf. IPV langsung disuntikan dan diharapkan bisa bereaksi langsung. setiap lot/batch vaksin polio yang diproduksi harus mendapat release dari Badan POM. Vaksin OPV OPV (Oral Polio Vaccine) adalah virus polio yang dilemahkan dan diberikan melalui mulut dengan cara diteteskan. Pemberian vaksin OPV sebaiknya diberikan pada anak dalam kondisi sehat. anak yang mendapat obat golongan steroid jangka lama. sehingga dalam hal biayapun pemakaian OPV jauh lebih murah dibandingkan dengan IPV. program eradikasi polio dipenjuru dunia mengutamakan pemakaian OPV. baru terjadi kekebalan tubuh secara menyeluruh. OPV diberikan pada anak-anak dengan 4 dosis terbagi (masingmasing 2 tetes) sebelum usia 1 tahun yaitu pada usia 0 bulan. antibiotic neomisin dan streptomicyn. Total pemberian OPV adalah 6 dosis sebelum 5 tahun untuk mencapai dosis kekebalan maksimal. 21 . saat pulang dari rumah bersalin. penderita polio berkurang secara drastis dan virus polio liarpun sudah hampir mendekati kemusnahan. tidak boleh diberikan pada anak yang mengalami sakit gangguan kekebalan tubuh atau defisiensi imun (leukimia. Dengan alasan-alasan ini. OPV mengandung virus polio strain Sabin serotype 1.

penyakit kanker atau keganasan 22 . Virus dalam vaksin ini setelah diberikan dua tetes akan menempatkan diri di usus dan memacu pembentukan antibodi baik dalam darah maupun dalam dinding luar lapisan usus yang mengakibatkan pertahan lokal terhadap virus polio liar yang akan masuk. tipe 2. seperti pengobatan kortikosteroid (imunosupresan) atau pengobatan radiasi umum. OPV di Indonesia dibuat oleh PT Biofarma Bandung. Untuk orang yang berhubungan (kontak) dengan bayi yang baru diimunisasi harus menjaga kebersihan dengan mencuci tangan setelah mengganti popok bayi. Virus polio ini dapat bertahan di tinja hingga enam minggu setelah pemberian vaksin melalui mulut. Vaksin ini dibuat dalam biakan jaringan ginjal kera dan distabilkan dalam sucrosa. dapat digunakan dalam waktu bersamaan di daerah yang sangat luas termasuk daerah dengan kondisi sanitasi yang kurang baik. Jenis vaksin Virus Polio Oral atau Oral Polio Vaccine (OPV) ini paling sering dipakai di Indonesia. Vaksin OPV pemberiannya dengan cara meneteskan cairan melalui mulut. Sehingga.Sistem kekebalan tersebut akan mencegah penyebaran virus dari satu-orang ke orang lain. Setelah diberikan dosis pertama dapat terlindungi secara cepat. bila ada seorang kontak di rumah yang dalam keadaan kondisi tubuh sedang turun. Tiap dosis sebanyak dua tetes mengandung virus tipe 1. Vaksin ini terbuat dari virus liar (wild) hidup yang dilemahkan. OPV dapat mencegah penyebaran virus polio liar pada daerah yang mengalami wabah (daerah KLB) polio. Keuntungan OPV adalah mudah diberikan oleh sukarelawan tidak memerlukan keahlian khusus dalam pemberiannya. 2 dan 3 adalah suku Sabin yang masih hidup tetapi sudah dilemahkan (attenuated). tidak memerlukan peralatan suntik yang steril. relatif lebih murah. Pemberian air susu ibu tidak berpengaruh pada respons antibody terhadap OPV dan imunisasi tidak boleh ditunda karena hal ini. sedangkan pada dosis berikutnya akan memberikan perlindungan jangka panjang. dan tipe 3 serta antibiotika eritromisin tidak lebih dari 2 mcg dan kanamisin tidak lebih dari 10 mcg. Komposisi vaksin tersebut terdiri atas virus polio tipe 1. Anak yang telah mendapatkan imunisasi OPV dapat memberikan pengeluaran virus vaksin selama enam minggu dan akan melakukan infeksi pada kontak yang belum diimunisasi. karena dapat mencegah multiplikasi virus polio.

Jika terjadi. Anggota keluarga yang belum pernah diimunisasi polio atau belum lengkap imunisasinya dan mendapat kontak dengan anak yang mendapat vaksin OPV. Kasus polio seperti ini dikenal dengan vaccine-associated paralytic poliomyelitis (VAPP). dan penderita infeksi HIV atau AIDS (termasuk kontak penerima) OPV memiliki banyak kelebihan sehingga dipakai dalam program eradikasi polio global. Keadaan yang tidak boleh divaksinasi OPV adalah Penyakit akut atau demam (suhu lebih 38. Walaupun demikian. termasuk berubah kembali menjadi patogen.yang berhubungan dengan sistem retikuloendotelial (seperti limpoma. namun sekali dibuka akan kehilangan potensi karena perubahan pH setelah terpapar udara. Vaksin OPV dapat disimpan beku. dijaga agar warna tidak berubah yaitu merah muda sampai oranye muda sebagai indikatoir pH. penyakit kanker atau keganasan (termasuk kontak penerima) yang berhubungan dengan system retikuloendotelial (seperti limpoma. Apabila akan digunakan vaksin beku tersebut dapat dicairkan dengan cepat. Vaksin ini sangat stabil. Kebijakan Departemen Kesehatan menganjurkan bahwa vaksin polio yang telah dibuka botolnya pada akhir sesi imunisasi massal harus dibuang. sebaiknya ditawarkan imunisasi dasar OPV pada waktu yang bersamaan dengan anak tersebut. dengan ditempatkan antara dua telapak tangan dan digulir-gulirkan. leucemia. anak dengan mekanisme imunologik terganggu misalnya hipogamaglobulinemia dan penderita infeksi HIV atau AIDS. dia memiliki kemungkinan berubah. OPV juga memiliki sedikit kelemahan. leucemia. penyakit hodgkin) dan anak dengan mekanisme imunologik yang terganggu misalnya hipogamaglobulinemia. Muntah atau diare. sebaiknya menghindar dari bayi atau anak yang divaksinasi polio paling tidak selama enam minggu sesudahnya. ini akan berisiko terhadap orang yang mendapatkan vaksinasi.5 C). Karena OPV adalah virus hidup. Vaksin IPV 23 . penyakit hodgkin). sedang menerima pengobatan kortikosteroid (imunosupresan) dan pengobatan radiasi umum (termasuk kontak penerima). yaitu kemungkinan berubah menjadi virus yang patogen.

Demikian pula bila ada seorang kontak yang mempunyai daya tahan tubuh yang lemah maka bayi dianjurkan untuk menggunakan IPV. 24 . pasien di luar daerah wabah. 3 dibiakkan pada sel-sel VERO ginjal kera dan dibuat tidak aktif dengan formadehid. pekerja laboratorium yang menangani virus polio dan petugas kesehatan yang merawat pasien polio.5 ml diberikan dalam empat kali berturut-turut dalam jarak dua bulan. IPV tidak dapat mencegah penyebaran virus polio karena tidak dapat mencegah terjadinya multiplikasi virus polio di usus seperti pada OPV. Selain itu. IPV (Inactivated Polio Vaccine) yang diberikan secara suntikan hanya sedikit memberikan kekebalan lokal di usus tetapi memberikan kekebalan yang kuat di seluruh tubuh pada orang yang telah mendapat dosis lengkap. IPV harus disimpan pada suhu 2 . Pemberian vaksin tersebut dengan cara suntikan subkutan dengan dosis 0. Untuk orang yang mempunyai kontraindikasi atau tidak diperbolehkan mendapatkan OPV maka dapat menggunakan IPV.IPV dihasilkan dengan cara membiakkan virus dalam media pembiakkan. streptomisin dan polimiksin B. kemudian dibuat tidak aktif (inactivated) dengan pemanasan atau bahan kimia. pasien yang raguragu tentang status imunisasi anak. Vaksin yang dibuat oleh Aventis Pasteur ini berisi tipe 1.8 derajat C dan tidak boleh dibekukan. 2. Karena IPV tidak hidup dan tidak dapat replikasi maka vaksin ini tidak dapat menyebabkan penyakit polio walaupun diberikan pada anak dengan daya tahan tubuh yang lemah. Total dosis yang diberikan adalah 4 dosis. dalam jumlah sedikit terdapat neomisin. Diberikan pada anak yang mempunyai halangan/ kontraindikasi untuk mendapat OPV. orang dewasa yang melakukan perjalanan ke daerah KLB/wabah.

sehingga menimbulkan kelumpuhan yang permanen.1 Kesimpulan 1) Polio adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus polio yang dapat mengakibatkan terjadinya kelumpuhan yang permanen. Pekan Imunisasi Nasional yang telah dilakukan Depkes tahun 1995. sakit kepala. Polio Bulbar. 3) Gejala polio meliputi demam. 6) Vaksinasi juga dikenali sebagai imunisasi. nyeri pada kaki/tangan. Survailance Acute Flaccid Paralysis. sulit buang air besar. dan 1997. Vaksin membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi dengan itu tubuh akan berupaya untuk melawan penyakit sekiranya terdedah kepada jangkitan 25 . 4) Virus polio menyerang dan merusakkan jaringan syaraf . dan terdiri dari 3 serotipe virus yaitu serotipe 1. melakukan Mopping Up. serotipe 2 dan serotipe 3 2) Jenis polio ada 3 yaitu Polio Non-Paralisis.BAB III PENUTUP 3. Polio Paralisis Spinal. 1996. kadang disertai diare. 5) Pencegahan polio antara lain melakukan cakupan imunisasi yang tinggi dan menyeluruh. muntah. lemas. virus RNA ini termasuk dalam famili Picornaviridae.

Shvoong. 13-04-2010. USA: Thinktwice Global Vaccine Institute. Current Diagnosis and Treatment in Infectious Disease. 2001. Akbayram S. USA : McGraw-Hill Companies. 2004. 465-70. Inc Direktur Jendral PP dan PL. 1999. and long-term health-related consequences . Red Book 2000. The polio vaccine: a critical assessment of its arcane history. GA 31830. Switzerland : Geneva 1211 N. 2003 : 51/4 .2004. Miller. Report Committee on Infectious Disease. Tombul T. American Academy of Pediatric. Gundem A. Epidemiology and prevention of vaccine preventable diseases. Surveillance of adverse events following Immunization. Centers for Disease Control and Prevention. Buku Imunisasi di Indonesia. Elk Grove Village. Heymann. Paul E. Filed guide for managers of Immunization programmers . Poliomyelitis. 23-042010. Arslan S. tahun 2001. Geneve WHO. polio infection. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Walter R.D. Report of five children with Guillain-Barré syndrome following a nationwide oral polio vaccine campaign in Turkey Neurologi India. Summaries of Infectious diseases.2004.DAFTAR PUSTAKA World Health Organization. News. 1997. M. Masalah polio dan Penanggulangannya . Warm Springs .Z. L. Penyakit Polio 12-03-2010 26 . Pusat Informasi Penyakit Infeksi . Wilson. Poliomyelitis. Akdeniz H. Anlar O. 85 – 104. 544-545. efficacy. David dan R. Caksen H. Bruce Aylward. Peach.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful