You are on page 1of 3

Azas-azas Hukum Pidana Perkembangan (Pertemuan 1)

Oleh: Imaduddin Mauluddin Sumarno (110110110293)

Pada pertemuan pertama ini Pak Aman menanyakan mengenai mengapa filsafat membahas hukum. Dalam buku Prof. Dr.Soerjono Soekanto, S. H., M. A. bersama dengan Prof. Purnadi Purwacaraka, S. H. yang berjudul Perihal Kaidah Hukum, filsafat hukum adalah perenungan dan perumusan nilai-nilai, kemudian filsafat hukum juga mencakup penyerasian nilai seperti penyerasian antara ketertiban dengan ketentraman, antara kebendaan dengan keahlakan, Maka dari dan itu antara filsafat

kelanggengan/konservatisme

dengan

pembaharuan.

membahas hukum agar perumusan nilai-nilai itu sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam kehidupan masyarakat. Kemudian masih banyak pendapat-pendapat dari pakar-pakar hukum mengenai filsafat hukum, seperti Satijipto Rahardjo yang menyatakan bahwa filsafat hukum itu membahas mengenai pertanyaan-pertanyaan yang bersifat dasar dari hukum. Dari rumusan E. Utrecht yaitu filsafat hukum memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti: apa hukum itu sebenarnya? Apakah sebabnya kita menaati hukum? Apakah keadilan yang menjadi ukuran untuk baik buruknya hukum itu? Filsafat hukum hendak melihat hukum sebagai kaidah dalam arti kata ethisch wardeoordeel, yaitu filsafat hukum berusaha membuat dunia etis yang menjadi latar belakang yang tidak dapat diraba oleh pa ncaindera dari hukum, filsafat hukum merupakan suatu ilmu yang normatif.. Tidak seperti ilmu hukum yang bertindak sebagai suatu ilmu empiris yang hanya melihat hukum sebagai suatu gejala saja. Kemudian, beliau menannyakan lagi mengenai apa itu hukum, dalam buku yang saya sebutkan sebelumnya, menurut L. J. van Apeldoorn definisi hukum itu masih dicari-cari dan belum didapatkan karena hukum itu mencakup aneka macam segi dan aspek serta luasnyanya ruang lingkup hukum itu. Namun, arti mengenai hukum dapat ditujukan pada cara-cara untuk merealisasikan hukum tersebut juga pada pengertian yang diberikan oleh masyarakat.

Kemudian saya ditugaskan untuk mencari tahu apa itu tindak pidana. Berikut penjelasannya. Pengertian tindak pidana menurut para pakar: 1. Vos: Peristiwa pidana merupakan suatu kelakuan manusia yang oleh peraturan perundang-undangan diberi hukuman. Jadi, suatu kelakuan manusia yang pada umumnya dilarang dan diancam dengan hukuman. 2. Pompe: Menggambarkan dua gambaran, yaitu suatu gambaran teoretis (tindak pidana merupakan suatu pelanggaran kaidah yang diadakan karena adanya kesalahan pelanggar dan yang harus diberi hukuman untuk mempertahankan tata hukum dan menyelamatkan kesejahteraan umum) dan gambaran menurut hukum positif (delik merupakan suatu peristiwa yang oleh undang-undang ditentukan sebagai suatu peristiwa yang menyebabkan dijatuhkan hukuman). 3. Van Hattum (berdasarkan pendapat Van der Hoeven): Tindak pidana adalah suatu peristiwa yang menyebabkan seseorang mendapatkan hukuman. 4. Simons: Peristiwa Pidana adalah suatu perbuatan yang oleh hukum diancam dengan hukuman, bertentangan dengan hukum, dilakukan oleh orang yang bersalah, dan orang itu boleh dianggap dapat mempertanggung jawabkan perbuatannya. Lalu, mengenai istilah elemen, kualifikasi, elemen dan kualifikasi dalam hukum pidana. Istilah-istilah tersebut digunakan dalam ketentuan-ketentuan undang-undang pidana. Dalam buku Rangkaian Sari Kuliah Hukum Pidana 1 dari Mr. Drs. E. Utrecht, bahwa ketentuan-ketentuan dalam undang-undang pidana bisa berupa hanya elemen atau kualifikasi, atau juga bisa kedua-duanya disebutkan. Ketentuanketentuan dalam undang-undang pidana yang menyebutkan unsur elemen-elemen beserta merupakan anasir-anasir yang bersama-sama merupakan suatu tindak pidana tertentu yang sudah dikenal banyak orang, contohnya dalam pasal 362 KUHPidana yang menyebutkan beberapa anasir dalam pencurian itu, yaitu: 1. perbuatan mengambil; 2. benda yang diambil itu adalah milik atau sebagiannya menjadi milik orang lain; 3. dengan maksud benda itu dijadikan milik sendiri tanpa ijin orang tersebut. Sedangkan kualifikasi merupakan suatu penggolongan tindak pidana yang disebutkan dalam suatu undang-undang pidana berdasarkan elemen-elemen yang dipaparkan, contohnya pasal 362 KUHPidana yang menyebutkan bahwa elemenelemen yang dipaparkan dalam pasal tersebut termasuk ke dalam golongan tindak pidana pencurian.

Kemudian, ditanyakan mengenai maksud dari pasal 103 KUHPidana yang mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan daalam Bab 1 sampai Bab 8 dalam KUHPidana itu juga berlaku bagi perbuatan-perbuatan yang oleh ketentuan perundang-undangan lainnya diancam dengan pidana, kecuali jika oleh undangundang ditentukan lain. Maksud dari pasal tersebut adalah jika ada suatu undangundang yang jika dilanggar akan menimbulkan suatu sanksi pidana yang telah ditentukan oleh undang-undang tersebut maka ketentuan-ketentuan dalam

KUHPidana dari Bab 1 sampai dengan Bab 8 itu tidak berlaku. Sebaliknya, jika dalam suatu undang-undang yang apabila dilanggar dapat menimbulkan sanksi pidana tetapi sanksi tersebut tidak diatur dalam undang-undang tersebut maka ketentuan dalam KUHPidana Bab 1 sampai Bab 8 tetap berlaku.