You are on page 1of 16

Referat

JUVENILE ANGIOFIBROMA NASOFARING

Penyaji :
Mellyana, S.Ked Febrilia Anggraini, S.Ked (04114708002) (04114708071)

Penyanggah
Rizky Putri Ayu Ina Fitriana Robin Iskandar Aisyah Triansari May Dianti Fitri Azis M. Qusyairi Fakhurudin

Pembimbing: Dr. Denny Satria Utama, Sp.THT-KL, M.Si, Med

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROK BEDAH KEPALA LEHER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2012

Sp. M. Palembang.LEMBARAN PENGESAHAN Referat dengan judul: JUVENILE ANGIOFIBROMA NASOFARING Disusun oleh : Mellyana Febrilia Anggraini (04114708002) (04114708071) Telah disahkan sebagai syarat dalam menyelesaikan kepaniteraan klinik senior di bagian Ilmu Penyakit Telinga-Hidung-Tenggorok Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Rumah Sakit Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang periode 12 November – 17 Desember 2012.Si. Med . Denny Satria Utama.THT-KL. 01 Desember 2012 Mengetahui Dr.

THT-KL. Med yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis sehingga reftrat ini dapat diselesaikan. Penyusun mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing dr. Denny Satria Utama. Sp. Semoga refrat ini dapat bermanfaat dalam menambah khasanah pengetahuan di bidang kedokteran terutama dalam bidang THT bagi para pembacanya. Palembang.Si. Referat ini ditulis sebagai salah satu syarat dalam mengikuti kepaniteraan klinik senior di bagian Ilmu Penyakit Telinga-Hidung-Tenggorok Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Rumah Sakit Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang dan juga sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian akhir di bagian ini.KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah penyusun panjatkan ke hadirat Allah SWT karena dengan rahmat-Nya jualah penyusun dapat menyelesaikan referat yang berjudul “Juvenile Angiofibroma Nasofaring”. M. 01 Desember 2012 Penyusun . Kritik dan saran terhadap reftat ini diharapkan dapat memberi masukan untuk perbaikan di kemudian hari.

.................................................................................................... 4 II............................................................... 5 II........ 4 II..... i Halaman Pengesahan.............................................. iii Daftar Isi.....................................................5 Gejala Klinis.......3 Etiologi...................................................................................... 6 PENDAHULUAN....................1 Anatomi .. iv BAB I 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA II............................. ii Kata pengantar........................................................................................................6 Diagnosis.................... 4 II.........................................2 Definisi............................................................................................................DAFTAR ISI Halaman Judul.......................... ................................................................................................................................. 3 II....................................................................................................................................................................................................................4 Patogenesis.........................................................................................................................................

..... 9 II.... Tumor ini dapat meluas ke daerah sinus paranasal......................................................................................................7................. tumor ini meluas ke dalam sinus paranasal............................... Histopatologi...... pipi dan orbita serta dapat meluas ke intra kranial setelah mengerosi dasar tengkorak.... dan tengkorak...... 10 BAB III PENUTUP......................9 Prognosis.....................1.........................2 ......... 9 II...................................... Tumor yang kaya pembuluh darah ini memperoleh aliran darah dari arteri faringealis asenden atau arteri maksilaris interna........................ 11 BAB I PENDAHULUAN Angiofibroma nasofaring adalah suatu tumor jinak pembuluh darah di daerah nasofaring yang secara histologik jinak................. namun secara klinis bersifat seperti tumor ganas karena mempunyai kemampuan mendekstruksi tulang dan meluas ke jaringan sekitarnya..8 Penatalaksanaan. serta sangat mudah menimbulkan perdarahan dan susah untuk dihentikan... Angiofibroma kaya dengan jaringan fibrosa yang timbul dari atap nasofaring atau bagian dalam dari fossa pterigoid.................................. mata........................ rahang atas...... pipi..................... Setelah mengisi nasofaring.II..........

1. diikuti epistaksis (45-60%) yang kebanyakan unilateral dan rekuren. sumbatan hidung dan massa di nasofaring sangat mendukung kecurigaan adanya angiofibroma nasofaring. Istilah juvenile tidak sepenuhnya tepat. dan pemeriksaan radiologis. pemeriksaan fisik. Juvenile Nasopharyngeal Angiofibroma jarang ditemukan dan diperkirakan hanya 0. deafness. pembengkakan palatum serta deformitas pipi juga dapat ditemukan pada penderita angiofibroma nasofaring. Trias gejala dan tanda klinis dari tumor ini adalah epistaksis masif berulang. Angiofibroma nasofaring sangat sulit untuk di palpasi. yang umumnya terdapat pada rentang usia 7 sampai 21 tahun dengan insidens terbanyak antara usia 14-18 tahun. Insiden angiofirboma nasofaring diperkirakan antara 1 : 5. Diagnosis angiofibroma nasofaring ditegakkan berdasarkan anamnesis. merupakan gejala yang paling sering. karena neoplasma ini kadang ditemukan juga pada pasien yang lebih tua.Angiofibroma nasofaring paling sering ditemukan pada anak lak-laki prepubertas dan remaja.000-60. Angiofibroma nasofaring jarang terjadi pada usia diatas 25 tahun sehingga tumor ini disebut juga Juvenile Nasopharyngeal Angiofibroma. Gejala lain seperti anosmia.2 Gejala klinik yang dapat ditemukan pada juvenile angiofibroma nasofaring dapat berupa hidung tersumbat (80-90%). nyeri kepala (25%) khususnya bila sudah meluas ke sinus paranasal. palpasi harus sangat hati-hati karena sentuhan jari pada permukaan tumor dapat menimbulkan perdarahan yang ekstensif.05% dari seluruh tumor kepala dan leher. pembengkakan wajah (1018%).000 pada pasien THT. 2.3 . rhinolalia.

Fossa Rosenmuller (lateral dari resesus nasofaring) terletak di bagian superior dan posterior torus tubarius dan merupakan predileksi dari karsinoma nasofaring. Nasofaring diliputi oleh mukosa yang terdiri atas epitel squamous kompleks atau epitel kolumner pseudokompleks. yang disebut sebagai torus tubarius. dan orofaring di bagian inferior melalui bagian terbawah dari palatum molle. Banyak terdapat foramen kranial yang membawa struktur syaraf dan pembuluh darah penting yang terletak di dekat nasofaring. nasofaring berhubungan dengan korpus vertebra.BAB II PEMBAHASAN II. Sedangkan di bagian superior dan posterior.1 Anatomi Ruang nasofaring yang relatif kecil mempunyai hubungan yang erat dengan beberapa struktur yang secara klinis mempunyai arti penting. Tuba eustachius memasuki nasofaring di sebelah lateralnya. Anatomi nasofaring . Nasofaring berhubungan dengan rongga hidung di anterior melalui koana.4 Gambar 1. dan bagian superior dan posterior muara tuba ini ditutupi oleh kartilago.

dapat menginvasi orbita. nasopharyngeal tumor. secara klinis bersifat ganas. fossa pterigoid dan temporal atau ke ruang intrakranial.6 II.3 Etiologi Etiologi JNA masih belum jelas.8 II.1.4 Patogenesis Permukaan tumor dilapisi oleh mukosa yang dibawahnya terdapat anyaman pembuluh darah. sinus paranasal. 1. atau angiofibroma nasofaring belia.5 Sebutan lain untuk angiofibroma di dalam literatur antara lain: juvenile angiofibroma. yaitu pendapat bahwa tempat perlekatan spesifik angiofibroma adalah di dinding posterolateral atap rongga hidung. karena mempunyai kemampuan mendestruksi tulang dan meluas ke jaringan sekitarnya. tumor hidung (nose tumor). Tumor pertama kali tumbuh di bawah mukosa di tepi sebelah posterior dan lateral koana di atap nasofaring. salah satunya adalah teori jaringan asal.6. mata dan tengkorak.II. seperti ke sinus paranasal. Pengaruh hormonal yang dikemukakan ini dapat menjelaskan mengapa beberapa JNA jarang terjadi (ber. Berbagai teori banyak diajukan.involute) setelah masa remaja (puberty). Massa tumor terdiri dari jaringan ikat padat dan gumpalan sel serta terisi pembuluh vena lebar yang menumpuk di bagian pinggir. nasal tumor. juvenile nasopharyngeal angiofibroma (JNA). benign nasal tumor. Tumor akan tumbuh besar dan meluas dibawah mukosa sepanjang atap nasofaring. Faktor ketidakseimbangan hormonal juga banyak dikemukakan sebagai penyebab dari tumor ini.2 Definisi Angiofibroma nasofaring adalah suatu tumor jinak nasofaring yang secara histologik jinak. Tumor ini tidak bermetastasis tetapi dapat tumbuh mendesak. mencapai tepi posterior septum dan meluas ke arah bawah membentuk .4. nasal cavity tumor. serta sangat mudah berdarah yang sulit dihentikan. pipi. bahwa JNA berasal dari sex steroid-stimulated hamartomatous tissue yang terletak di turbinate cartilage.

Dari sinus ethmoid masuk ke fossa serebri anterior atau dari sinus sfenoid ke sinus kavernosus dan fossa hipofise. Timbul rinorea kronik diikuti gangguan penciuman. Bila meluas terus.1. dan dapat terjadi otitis media. mendorong septum ke sisi kontralateral dan memipihkan konka.1 Gambar 2. Sefalgia hebat terjadi bila tumor sudah meluas ke intrakranial. Perdarahan ini kadang-kadang merupakan komplikasi berat.tonjolan massa diatap rongga hidung posterior. akan masuk ke fossa intratemporal yang akan menimbulkan benjolan di pipi. Jika . dan anosmia. Suara menjadi datar atau “mati”.5 Gejala klinik Gejala yang sering ditemukan adalah sumbatan hidung yang progresif dan epistaksis berulang yang masif. tumor melebar kearah foramen sfenopalatina. pernafasan dan proses menelan terhalang jika proses berlanjut. disfagi. Dapat pula menyebabkan deformitas pada muka. Tuli atau otalgia akibat okulasi pada tuba eustachius. masuk ke fisura pterigomaksila dan akan mendesak dinding posterior sinus maksila. Pada stadium lanjut timbul rasa nyeri dan sekret muko purulen. proptosis dan gangguan visus.8 Perluasan ke intrakranial dapat terjadi melalui fossa infratemporal dan pterigomaksila masuk ke fossa serebri media. Angifibroma nasofaring yang sudah dioperasi II. Perluasan ke arah anterior akan mengisi rongga hidung. Pada perluasan kearah lateral. rinolalia. Gejala-gejala dini adalah kongesti dari sumbatan hidung dengan disertai perdarahan. Apabila tumor mendorong salah satu atau kedua bola mata maka akan tampak gejala yang khas pada wajah. yang akan disebut “muka kodok”. dan “rasa penuh” di wajah.

5. warnanya bervariasi dari abu-abu sampai merah muda.1. sedangkan bagian yang meluas ke luar nasofaring berwarna . Penampang koronal CT scan yang memperlihatkan adanya lesi angiofibroma yang mengisi cavum nasal kiri dan sinus ethmoid. tulang maksila merenggang dan tampak eksopthalmus yang menonjol. maka wajah seperti “muka kodok” jelas terlihat. memenuhi sinus maksilaris dan menyebabkan deviasi septum nasi ke kanan Pada pemeriksaan fisik secara rinoskopi posterior akan terlihat massa tumor yang konsistensinya kenyal.2 Gejala-gejala lain muncul tergantung dari luasnya tumor dan arah pembesarannya. kecuali jika tumor meluas ke luar rongga hidung atau faring. Sering disertai “aprosexsia” dan rasa ngantuk. seperti misalnya ke rongga intrakranial.7 II. pemeriksaan fisik dan penunjang seperti x-foto polos.pertumbuhan tumor mencapai besar tertentu.2 Gambar 2. Pada keadaan ini nekrosis akibat penekanan tulang tidak terlalu besar. Bagian tumor yang terlihat di nasofaring biasanya diliputi oleh selaput lendir berwarna keunguan. infeksi sekunder dapat terjadi pada ruangan di belakang hidung akibat berkurangnya drainase di tempat tersebut. sampai penyerapan jaringan tulang meningkat.7 Gejala lanjut meningkat lebih berat sesuai dengan makin besarnya tumor. angiografi atau MRI. CT scan.6 Diagnosis Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis. Gejala yang paling sering ditemukan (>80%) ialah hidung tersumbat yang progresif dan epistaksis yang berulang dan masif.

lateral dan posisi waters) akan terlihat gambaran klasik yang disebut sebagai tanda “Holman Miller” yaitu pendorongan prosesus pterigoideus ke belakang. sehingga vaskularisasi berkurang dan akan mempermudah pengangkatan tumor.1 Karena tumor sangat mudah berdarah. karena lebih banyak komponen fibromanya.1. sehingga fisura pterigopalatina melebar. Pada usia muda warnanya merah muda. Kadang-kadang juga sekaligus dilakukan embolisasi agar terjadi trombosis intravaskular.2 Gambar 3. Pada pemeriksaan radiologik konvensional (foto kepala potongan anteroposterior. sebab akan mengakibatkan perdarahan yang masif. karena biopsi merupakan kontraindikasi. Gambaran angiogram yang memperlihatkan adanya angifibroma sebelum embolisasi .putih atau abu-abu. Akan terlihat juga adanya massa jaringan lunak di daerah nasofaring yang dapat mengerosi dinding orbita. sebagai pemeriksaan penunjang diagnosis dilakukan pemeriksaan radiologik konvensional CT scan serta pemeriksaan arteriografi. akan memperlihatkan vaskularisasi tumor yang biasanya berasal dari cabang a.1 Pemeriksaan patologi anatomik tidak dapat dilakukan. pada usia yang lebih tua warnanya kebiruan. Pada pemeriksaan CT scan dengan zat kontras akan tampak secara tepat perluasan massa tumor serta destruksi tulang ke jaringan sekitarnya. Mukosanya mengalami hipervaskularisasi dan tidak jarang ditemukan adanya ulserasi.4 Pada pemeriksaan arteriografi arteri karotis interna. arkus zigoma dan tulang disekitar nasofaring. maksila interna homolateral.

Stage I . Ada 2 sistem yang paling sering digunakan yaitu Sessions dan Fisch. . : Perluasan ke intrakranial dengan atau tanpa perluasan ke dalam sinus kavernosus. : Mengisi seluruh fossa pterygomaksila dengan atau tanpa erosi ke tulang orbita. : Tumor menginvasi fossa pterygomaksila.Stage II : Tumor terbatas pada kavum nasi. nasofaring tanpa destruksi tulang.Stage IIA . dibuat sistem staging. Gambaran angiogram yang memperlihatkan adanya angifibroma setelah embolisasi Untuk menentukan perluasan tumor.1.3 Klasifikasi menurut Sessions sebagai berikut : .Stage IA . :Mengerosi dasar tengkorak. : Perluasan lateral minimal ke dalam fossa pterygomaksila.Stage IIIA . sinus paranasal dengan destruksi tulang.Stage IB . perluasan intrakranial yang minimal.Stage IIB . Klasifikasi menurut Fisch : .Stage IIIB :Tumor terbatas pada nares posterior dan/atau nasofaring :Tumor melibatkan nares posterior dan/atau nasofaring dengan perluasan ke satu sinus paranasal.Gambar 4.

seperti melalui transpalatal.. chiasma optikum dan/atau fossa pituitary.8 Penatalaksanaan Tindakan operasi merupakan pilihan utama selain terapi hormonal atau radioterapi. : Tumor menginvasi sinus kavernosus. namun ada buku yang menyebutkan bahwa tumor ini cenderung mengalami regresi ketika penderita tumor ini masuk ke masa pubertas. Gambaran histopatologi angiofibroma nasofaring II. orbita dan/atau daerah parasellar sampai sinus kavernosus.7 Histopatologi Pada pemeriksaan histopatologi angiofibroma nasofaring.Stage III . Gambar 5.1. menghalangi saluran udara atau menyebabkan epistaksis menahun.Stage IV : Tumor menginvasi fossa infra temporal. jadi operasi diindikasikan jika ada komplikasi akibat tumor ini seperti jika angiofibroma tumbuh membesar. Berbagai pendekatan operasi dapat dilakukan sesuai dengan lokasi tumor dan perluasannya. . karena resiko perdarahan yang hebat. ditemukan jaringan fibrous yang matur yang terdiri dari berbagai ukuran pembuluh darah dengan dinding yang tipis.4 Operasi tumor ini sendiri harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas cukup. Hal inilah yang menyebabkan angiofibroma nasofaring mudah berdarah. II. Pembuluh darah tersebut dibatasi endotelium tetapi pada dinding pembuluh darahnya sedikit mengandung elemen kontraktil otot yang normal.

1 BAB III KESIMPULAN . Dengan kata lain. Cara lain yang dapat digunakan yaitu embolisasi (penyumbatan arteri dengan suatu bahan) yang bisa menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada tumor dan menghentikan perdarahan. Embolisasi efektif untuk mengatasi perdarahan hidung dan tindakan ini bisa diikuti dengan pembedahan untuk mengangkat tumor. Pada kasus yang lain. 3 Pada pemberian hormonal terapi menggunakan testosterone receptor blocker flutamide didapatkan penurunan staging pada staging I dan II sebesar 44%. tumor jenis ini dapat berkembang menjadi degenerasi yang ganas dan memiliki prognosis yang buruk. Embolisasi dilakukan dengan cara menyuntikkan suatu zat ke dalam pembuluh darah untuk menyumbat aliran darah yang melaluinya.6 II. sehingga setelah pengangkatan tumor seringkali terjadi kekambuhan. Untuk tumor yang sudah meluas ke jaringan sekitarnya dan mendestruksi dasar tengkorak sebaiknya diberikan radioterapi prabedah yakni dengan penanaman radium dan sinar rontgen yang dilanjutkan dengan elektrokoagulasi atau dapat pula diberikan terapi hormonal meskipun hasilnya tidak sebaik radioterapi.rinotomi lateral. Biasanya ini terjadi pada pasien dengan usia yang lebih tua. terutama pada pasien berusia lebih muda. rinotomi sublabial atau kombinasi dengan kraniotomi bila sudah meluas ke intrakranial.6 Pada kasus-kasus di mana pertumbuhan tumor dapat diatasi dengan pambedahan dapat dikatakan memiliki prognosis yang baik. fibroma kecil yang tidak memenuhi rongga nasofaring lebih muda diangkat daripada yang telah memenuhi rongga tersebut sesudah umur 25 tahun pertumbuhan cenderung berkurang.7 Prognosis Prognosis lebih baik jika cepat diketahui dan segera di ekstirpasi juga lebih menguntungkan jika umur diatas 25 tahun.3 Perlu dicatat bahwa pengangkatan tumor seringkali sulit dilakukan karena tumor terbungkus dan menyusup ke dalam.

Tindakan operasi merupakan pilihan utama selain terapi hormonal atau radioterapi. DAFTAR PUSTAKA . ada dua teori yaitu teori asal jaringan asal dan teori ketidakseimbangan hormonal. seperti ke sinus paranasal. mata dan tengkorak. Gejala yang sering ditemukan adalah sumbatan hidung yang progresif dan epistaksis berulang yang masif. angiografi atau MRI. Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis. Pada kasus-kasus di mana pertumbuhan tumor dapat diatasi dengan pambedahan dapat dikatakan memiliki prognosis yang baik. Angiofibroma nasofaring khusus menyerang jenis kelamin laki-laki prepubertas dan remaja. CT scan. serta sangat mudah berdarah yang sulit dihentikan. Gejala-gejala lain muncul tergantung dari luasnya tumor dan arah pembesarannya.Angiofibroma nasofaring adalah suatu tumor jinak nasofaring yang secara histologik jinak. pemeriksaan fisik dan penunjang seperti x-foto polos. karena mempunyai kemampuan mendestruksi tulang dan meluas ke jaringan sekitarnya. pipi. secara klinis bersifat ganas. mencapai tepi posterior septum dan meluas ke arah bawah membentuk tonjolan massa diatap rongga hidung posterior. Etiologi tumor ini masih belum jelas. Tumor akan tumbuh besar dan meluas dibawah mukosa sepanjang atap nasofaring. Tumor pertama kali tumbuh di bawah mukosa di tepi sebelah posterior dan lateral koana di atap nasofaring.

Jakarta: Binarupa Aksara. http://www. Kepala Dan leher. 2007:188-190. 2006. 1994. jilid 1. diakses tanggal 20 April 2007. Juvenile Nasopharyngeal Angiofibroma. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta. Santoso K. 3.1991:322-346 5. editors Boeis. diakses tanggal 22 April 2007 . Jakarta: EGC. Jakarta. Available from : http:/www. Angiofibroma Nasofaring Belia. Jilid 1. Juvenile Angifibroma Nasopharynx . Setiowulan W.com/med/topic 2758.ac. Edisi 13. Dalam : EffendiH.emedicine. Adam G. Buku Ajar Penyakit THT. Referat Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti. Ballengger JJ. 2. Tenggorok.id. Edisi keenam. Mansfield E.brownmed. Penyakit Nasofaring dan Orofaring. Mansjoer A. Angiofibroma Nasofaring Belia.111 6.com. 2009.usu.Savitri R. Asroel HA. Jakarta. Dalam: Soepardi AIN. 8. Dharmabaktio S.Penyakit Telinga. Juvenile Nasopharyngeal Angiofibroma. Wardhani IW. 7. 4. http://library.htm. Triyanti K. Angiofibroma Nasofaring Belia. Hidung. Roezin A.1999. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 9. June 26. Pradhana D.1. editors: Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Anonymous.