You are on page 1of 26

BAB I PENDAHULUAN

Tumor tonsil merupakan salah satu jenis tumor yang terdapat di rongga mulut, karena tonsil merupakan bagian rongga mulut yang terdapat di palatum durum. Tumor tonsil dapat bersifat jinak maupun ganas, biasanya hanya mengenai satu tonsil saja. Tumor jinak tonsil jarang ditemui, karena penderita tidak mengalami gangguan yang berarti sehingga mereka jarang berobat ke dokter. Biasanya tumor ganas ini terlambat ditangani karena gejalanya yang kurang khas.1 Tonsil adalah organ dari jaringan limfoid yang berlokasi di dinding lateral orofaring. Bersama dengan adenoid, tonsil membentuk cincin Waldeyer, yaitu cincin jaringan limfoid yang ditemukan di faring. Seperti halnya jaringan atau organ lain pada tubuh, pada daerah orofaring umumnya, dan pada tonsil khususnya, dapat timbul tumor dan keganasan. Bahkan, tonsil merupakan bagian dari orofaring dengan kejadian keganasan paling banyak di banding struktur orofaring yang lain yaitu dasar lidah, palatum molle, dan dinding faring posterior.2,3,4 Ada banyak tipe keganasan yang dapat timbul pada jaringan tonsil yang kaya dengan jaringan limfatik, pembuluh darah, otot, serabut saraf sekitar, dan epitel. Semua jaringan ini adalah sumber keganasan yang potensial. Penyebab tumor ini belum diketahui dengan pasti, tapi diduga sering berhubungan dengan erat dengan merokok, penyalahgunaan alkohol, memamah sirih dan tembakau. 1,2,3,4 Di Amerika Serikat pada tahun 2001, kanker orofaring menempati urutan ke-7 kanker paling banyak di antara pria dengan angka kejadian 16,7 per 100.000 orang. Karsinoma sel skuamosa mencakup 90% karsinoma orofaring. Sedangkan limfoma merupakan keganasan ke-2 terbanyak.3,4 Banyak pasien dengan karsinoma tonsil datang sudah dalam keadaan lanjut karena lesi awal biasanya asimptomatik. Oleh karena itu, diperlukan pembahasan lebih lanjut mengenai tumor dan keganasan pada tonsil, sehingga diagnosis yang cepat dan tepat serta penatalaksanaan yang sesuai dapat diberikan.

1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Anatomi Tonsil Tonsila palatina adalah dua massa jaringan limfoid yang terletak pada dinding lateral orofaring, dalam fossa tonsilaris. Tiap tonsila ditutupi oleh membran mukosa, dan permukaan medialnya yang bebas menonjol ke dalam faring. Permukaannya tampak berlubang-lubang kecil, yang berjalan ke dalam kripta tonsilaris. Permukaan lateral tonsila ditutupi selapis jaringan fibrosa, yang disebut sebagai kapsul. Tonsila mencapai ukuran terbesarnya pada masa kanak-kanak, namun sesudah pubertas akan nyata mengecil. Batas-batas tonsila palatina dalam rongga mulut:3 anterior : arcus palatoglossus

posterior : arcus palatopharyngeus superior : palatum molle - inferior : sepertiga posterior lidah medial : ruang oropharynx

lateral: m. constrictor pharynges superior

2

karsinoma hidung-sinus paranasalis dan karsinoma laring. Tonsil dan adenoid tampak anterior dan sagital II.5% keganasan baru tiap tahunnya di Amerika. Di Indonesia karsinoma tonsil merupakan keganasan nomor 4 di bidang THT setelah karsinoma nasofaring. Tumor tonsil yang paling sering ditemukan adalah karsinoma sel skuamosa yang ditemukan pada 90% kasus 3 .Gambar 1.2 Epidemiologi Keganasan tonsil adalah kasus yang tidak umum dan mencakup sedikit lebih dari 0.

2 Daerah penyebaran tumor tonsil Limfoma adalah keganasan tonsil ke-2 yang paling sering terjadi. Tumor-tumor ini 3 hingga 4 kali lipat lebih sering timbul pada pria dibandingkan wanita. Limfoma adalah keganasan paling banyak ke-2 di tonsil. maka biasanya pembesaran nodusnodus limfe akan terlihat pada leher sisi yang sama. mencapai paru. Sesekali. Limfoma tonsil biasanya muncul sebagai massa pada tonsil yang tidak nyeri.4 Gambar. dan tonsil adalah tempat 4 . semua cincin Waldeyer. dimana 15% kasusnya adalah bilateral. Limfoma tonsil biasanya timbul dengan sebuah massa submukosa pada salah satu tonsil yang membesar dan asimetris.rongga mulut. nasofaring. dan seringkali berhubungan dengan riwayat merokok dan meminum alkohol. tulang tengkorak. dapat timbul gejala otalgia. Metastase jauh ditemukan pada sekitar 7 % kasus. dan hati. tonsil lingual. Jika terjadi limfadenopati. Sisanya adalah keganasan yang jarang meliputi tumor kelenjar ludah minor dan lesi metastatik.4. Sekitar 60% pasien datang dengan metastase servikal. meskipun nyeri tenggorokan biasa dijumpai. Karena kayanya jaringan limfoid pada bagian ini.1.5 Karsinoma sel skuamosa paling sering timbul pada usia 50 dan 70 tahun.

Meskipun virus Epstein-Barr (EBV) merupakan pertimbangan penting pada karsinoma nasofaring. Cincin Waldeyer adalah lokasi utama limfoma NonHodgkin sekitar 5-10% dari semua pasien limfoma. beberapa indikasi menunjukkan bahwa ada kemungkinan penyebab virus juga.5 Adapun faktor risiko karsinoma sel skuamosa tonsil adalah:5        Diet yang kurang buah dan sayuran Infeksi HPV Rokok Meminum alkohol Higiene oral yang buruk Pajanan di tempat kerja Riwayat radiasi sebelumnya Supresi imun akibat bawaan. virus papilloma manusia (HPV) terbukti lebih banyak menimbulkan penyakit pada daerah ini. Akan tetapi baru-baru ini. dan pajanan simultannya bersifat sinergistik. Namun meskipun demikian. limfoma.limfoma yang sering dijumpai. Efek agen-agen ini berkaitan dengan dosis. 5 .3 Etiologi Ada banyak faktor lingkungan yang berhubungan dengan karsinoma sel skuamosa orofaring.1 II.4. dan infeksi HIV dapat mengakselerasi perkembangan karsinoma sel skuamosa. saat ini tidak ada faktor risiko umum maupun penyebab limfoma yang disetujui. dan tumor-tumor orofaring lainnya. dan mencapai lebih dari 50% dari semua limfoma ekstranodal primer kepala dan leher. transplantasi. dengan cara mengganggu mekanisme surveilans imun yang normal. dimana pajanan keduanya menghasilkan risiko yang lebih besar daripada pajanan tunggal. Beberapa studi telah mengidentifikasi indikasi adanya HPV pada sekitar 60% karsinoma tonsil. tetapi yang paling penting adalah pajanan berkepanjangan terhadap rokok dan alkohol. seperti halnya pendapat dari the National Cancer Institute.

Tonsil juga dapat membesar sedemikian rupa sehingga menonjol ke rongga mulut. Semua faktor ini. Perluasan superior ruang parafaringeal dapat menyebabkan keterlibatan dasar tengkorak.4 Perjalanan Penyakit Karsinoma sel skuamosa tonsil mungkin terbatas pada fossa tonsil.5 Namun. yang mungkin menjadi tempat penyebaran karsinoma. constrictor superior. Hal ini dikarenakan karsinoma timbul dari dalam kripta-kripta yang merupakan invaginasi epitel permukaan. datang pertama kali dengan keluhan massa leher yang terisolasi. Suatu karsinoma skuamosa dapat berasal dari 1 atau lebih bagian dalam sarang atau cabang yang dalam pada tonsil. sekitar 30% dari pasien ini akan mengalami penyakit leher okulta. Meskipun demikian. yang dapat membantu neoplasma memasuki dan bermetastase ke nodus-nodus leher. Karsinoma umumnya menyebar di sepanjang sulkus glossotonsillar sampai ke dasar lidah dengan tingkat bervariasi. Metastasis leher dijumpai pada sekitar 65% dari pasien. 5 6 . penyebaran sering ke superior sampai ke palatum mole atau nasofaring.5 Metastasis ke daerah limfatik umum terjadi.5 II. tetapi perluasan untuk struktur berdekatan adalah umum. constrictor superior.5 Gejala Klinis Pasien kanker tonsil dapat mengeluhkan beberapa gejala dan banyak diantaranya yang datang dengan tonsil yang membesar secara asimetrik.II. melibatkan otot-otot pterygoid atau mandibula. jika penyebaran melewati m. penyebaran luas dalam ruang parafaringeal mungkin melibatkan arteri karotis. Fossa tonsil dibatasi lateral oleh m. Selain itu.5 Tonsil adalah jaringan limfoid yang kaya dan mengandung limfatik yang sangat banyak. dan penyebaran inferior dapat menyebabkan keterlibatan leher lateral. Akhirnya. sebelum ia disadari oleh pasien. Pada pasien dengan leher klinis negatif. dan mungkin faktor lain yang belum diketahui. tumor memperoleh akses ke ruang parafaringeal. menjelaskan mengapa pasien dapat datang dengan keluhan massa pada leher. hanya 5% pembesaran tonsil yang ternyata adalah suatu keganasan dan dari 20% yang terdiagnosis pasti dengan kanker tonsil.

Selain itu. yang biasanya pada daerah jugulodigastrik. yang dapat berwarna merah tua 7 . 4. Tumor-tumor tonsil primer dapat tumbuh total di bawah permukaan. trismus. limfadenopati servikal dapat teraba dengan palpasi yang seksama. dan otalgia. tumor tersebut dapat meluas hingga ke tulang tengkorak dan mediastinum. Gejala yang biasanya dikeluhkan pasien adalah odinofagia. gangguan suara (mengecil). yang mana hal ini telah menyebabkan kesalahan evaluasi sebagai karsinoma cekungan brankial. 5 Selain itu. 5 Diantara gejala-gejala tersebut. Karsinoma sel skuamosa primer okulta yang bermanifestasi sebagai limfadenopati leher adalah suatu keadaan yang sering dijumpai dalam kasuskasus THT. Gejala lain yang mungkin didapati adalah nyeri tenggorokan. Tumor yang demikian dapat cukup besar hingga melibatkan atau menyelubungi selubung karotis. gejala dan tanda lain mungkin juga dapat dijumpai. Banyak ahli patologi yang merasa bahwa karsinoma cekungan brankial sebenarnya adalah metastasis atau penyebaran langsung karsinoma sel skuamosa tonsil. sensasi adanya benda asing atau massa. Meskipun sebenarnya masih banyak perdebatan mengenai karsinoma cekungan brankial. trismus adalah yang berbahaya karena dapat mengindikasikan adanya keterlibatan ruang parafaring (ruang masticator dan mandibula).Salah satu hal yang tidak biasa pada metastase nodus leher adalah adanya fakta bahwa sejumlah besar keadaan ini bersifat kistik. disfagia. sehingga tidak bisa dilihat dokter atau hanya terlihat sebagai sedikit peningkatan ukuran tonsil atau kekerasan daerah tersebut. ditemukannya nodus limfe leher yang kistik dengan suatu tumor primer okulta harus diikuti dengan pemeriksaan tonsil. Jika tumor telah melibatkan dasar lidah. 5 Selain adanya massa pada leher. Adapun tanda-tanda dan gejala konstitusional adanya pengurangan berat badan dan kelemahan (fatigue) jarang dijumpai pada neoplasma ini. Gejala dan tanda ini dapat timbul bersamaan dengan adanya massa pada leher atau mungkin hanya sebagai penampakan tunggal. Meskipun begitu. maka nodus-nodus kontralateral juga dapat terkena. juga dapat dijumpai adanya suatu massa eksofitik seperti jamur dengan ulserasi sentral dan tepi-tepi yang meninggi.5 Jika tak dapat terlihat dengan inspeksi. dan pendarahan.

5 II. 5  Tes fungsi paru: o Pembedahan kepala dan leher membawa tambahan risiko terjadinya komplikasi nafas perioperasi dan pasca-operasi.6 Pemeriksaan Penunjang Laboratorium  Tes fungsi hati: Pengetahuan fungsi hati adalah penting. 5  Tes fungsi ginjal: Bila dipertimbangkan penggunaan agen kemoterapi tertentu. tergantung pada spesifikasi tumor berdasarkan parameter-parameter diatas. crossmatch). o o Pendarahan adalah salah satu masalah terbesar pada bedah tonsil. karena (1) riwayat diet dan alkohol pada pasien seringkali menyebabkan memburuknya fungsi hati. dan kistifikasi (suatu fungsi nekrosis). Pemotongan lesi pada biopsi dapat memperlihatkan tekstur granuler (suatu fungsi yang menandakan derajat keratinisasi). Pencitraan  Radiografi dada polos diperlukan untuk menilai adanya kemungkinan metastasis ke paru. (2) kemungkinan digunakannya agen-agen kemoterapi atau obat lainnya yang dimetabolisir hati (misal: pereda nyeri). Adalah bijak untuk menyiapkan keperluan transfusi. typing. 5  Studi masa pembekuan dan koagulasi (termasuk hitung trombosit. dan (3) kemungkinan metastasis ke hati. 5 o Kepala dan leher adalah salah satu bagian tubuh yang sangat kaya dengan vaskularisasi. 5 o Pengetahuan mengenai cadangan nafas diperlukan jika akan dilakukan operasi semacam ini. keras (suatu fungsi penanda derajat fibrosis).hingga putih. maka diperlukan tes fungsi ginjal untuk memastikan apakah pasien dapat mengeliminasi agen yang dikeluarkan melalui ginjal. Jelas bahwa temuan ini bervariasi. 5 8 .

dengan dan tanpa kontras. Selain itu. CT scan leher secara bilateral.3 Axial CT Scan. 5 Gambar. 5  PET (Positron Emission Tomography). jika tumor meluas ke atas hingga ke bagian tulang. Hal ini penting dalam untuk menentukan stadium tumor tonsil. menunjukkan pembesaran tonsil kiri  MRI juga sangatlah diperlukan untuk menilai ukuran tumor dan invasi ke jaringan lunak. menggunakan material radioaktif untuk mengidentifikasi aktivitas metabolisme jaringan. diperlukan untuk meneliti keberadaan metastase dan menilai perluasan tumor. 4 PET Scan karsinoma sel skuamosa tonsil kanan Biopsi Biopsi merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan jaringan diagnostik: 5 9 . maka keterangan mengenai invasi tulang merupakan bagian pengetahuan juga. 5 Gambar.

Varian-varian berikut ini. o Harus disiapkan sediaan fiksasi yang khusus. ahli patologi dan timnya harus selalu sedia menerima dan merawat jaringan dengan baik. meskipun pada dasarnya adalah karsinoma sel skuamosa yang sering dijabarkan: 5    Karsinoma basoskuamosa Karsinoma non-keratinisasi (sel transisional atau tipe sinonasal). maka prosedur ini adalah prosedur yang sulit. membuat ahli bedah mengambil biopsi yang dalam agar neoplasma yang sebenarnya dapat terangkat. Hal ini mengejutkan. dan ahli bedah harus siap untuk kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Karena tendensinya untuk mengalami pendarahan. 5 Kebanyakan karsinoma tonsil adalah limfoma sel-B besar non-Hodgkin yang difus. jarang didapati pada tonsil. Limfoma sel-B derajat-rendah yang bersifat mucosa-associated lymphoid tissue (MALT) yang terdiri dari sel-sel kecil. Marker sel dan jaringan untuk menentukan tipe limfoma cukup sensitif. Beberapa jaringan harus dibekukan dalam cairan nitrogen. karena tonsil terdiri dari gabungan susunan epitel dan limfosit yang 10 . Tipe tak terdiferensiasi atau limfoepitelioma Limfoma Penentuan tipe limfoma adalah penting dan hanya dapat dilakukan dengan bantuan studi khusus oleh ahli patologi. karena itu. dimana studi ini bergantung pada waktu dan membutuhkan penanganan yang segera.o Keganasan tonsil dapat berupa limfoma. Marker ini membutuhkan jaringan beku yang segar dan sediaan fiksasi khusus selain diperlukannya pengecatan imunohistokimiawi. Beberapa jaringan mungkin diperlukan untuk studi yang cepat. 5 Temuan-temuan patologi anatomi: Karsinoma sel skuamosa Kebanyakan karsinoma sel skuamosa tonsil palatina berdiferensiasi sedang hingga buruk. 5 o Fakta bahwa karsinoma sel skuamosa biasanya berasal dari kripta yang dalam.

onkolog medik. dan dukungan social juga berperan. Ahli bedah harus mempertimbangkan sejumlah factor saat memutuskan regimen terapi yang akan diberikan. bedah rekonstruktif. yang menurut teori. onkolog radiasi. serta patologi bicara dan bahasa.sangat erat. keahlian. prosthodontis. Faktor sarana dan prasarana. Pembedahan reseksi berguna untuk pasien dengan invasi luas tulang di mana: a. Radiasi atau kombinasi kemoradiasi merupakan modalitas terapi pilihan.4 Pilihan Terapi 1. kondisi umum pasien. Eksposur tumor merupakan tantangan pada reseksi b. Kenyataannya. Pertimbangan itu antara lain: terapi untuk tumor primer dan leher. pilihan rekonstruktif. dan yang paling penting apa yang diinginkan pasien. akan membentuk lingkungan yang ideal untuk berkembangnya limfoma MALT. 2. Diseksi leher: Dapat dilakukan sebelum radiasi atau kemoradiasi pada pasien dengan N1N3 Dapat dilakukan post-terapi pada pasien dengan N2 atau lebih dan/ atau penyakit yang secara klinis terdeteksi 11 . Hindari n.7 Penatalaksanaan Penatalaksanaan keganasan orofaring adalah kompleks dan dibutuhkan kerjasama multidisiplin meliputi bedah kepala leher. Semua pasien harus dikonseling untuk menghentikan konsumsi rokok dan alkohol. Pendekatan pada tonsil dan orofaring lateral: Eksisi transoral: penggunaannya terbatas pada lesi yang sangat kecil yang melekat ke tonsil atau kapsul tonsil Mandibulotomi anterior dengan mandibular swing: bermanfaat untuk kanker tonsil dan dasar lidah tanpa invasi tulang. 5 II. Reseksi komposit: reseksi en bloc mandibula posterior dan tumor primer. mereka sangat jarang dijumpai pada daerah ini.alveolaris inferior. Dimanfaatkan pada tumor-tumor yang besar yang melibatkan multilokasi dengan invasi mandibula. c.

Tumor ganas kelenjar ludah minor mirip dengan kelenjar ludah utama dan diterapi dengan eksisi local luas dengan atau tanpa radiasi post-operatif. Pilihan rekonstruktif: Penutupan primer atau penyembuhan yang merupakan efek sekunder yang diharapkan dapat dicapai untuk defek yang sangat kecil yang timbul setelah pembedahan reseksi. o Defek komposit dapat direkonstruksi dengan fibula atau flap osteokutaneus scapula atau fibula. Tumor T3 dan T4 paling baik dikontrol dengan pembedahan dan radiasi post-operatif. Ekstipasi kanker orofaring yang berhasil 12 . atau melibatkan arteri karotis. Radiasi postoperatif diindikasikan jika setelah reseksi batas –batas terlibat atau menutup atau jika tumor agresif. Pembedahan atau radiasi secara tunggal sama efektif bagi kanker orofaring T1 dan T2. trapezius Pemindahan jaringan bebas: o Lengan bawah radial berguna untuk defek jaringan lunak yang lebih besar untuk lateral orofaring dan dasar lidah. fascia prevertebral. Atau dapat dikombinasi sehingga salah satu modalitas merupakan pendukung bagi modalitas yang lain sehingga keberhasilan kontrol lokal yang tinggi.4 Sebagian besar tumor orofaring dapat dieksisi. Flaps pedicled regional memberikan cukup jaringan pengisi dan kulit yang adekuat untuk penutupan defek mukosa yang besar yang melibatkan orofaring lateral dan dasar lidah: o M.latissimus dorsi dan m.- Terdapat kontroversi mengenai keperluan diseksi leher pada pasien dengan N1 setelah dilakukan radiasi atau kemoradiasi dengan anggapan tidak ada penyakit yang terdeteksi secara klinis d.4 Limfoma diterapi dengan kemoterapi dan radiasi. pectoralis major merupakan sumber flap yang paling umum untuk rekonstruksi orofaringeal o Flaps pedicled lain meliputi m. namun secara relatif tidak dapat direseksi jika invasinya meluas hingga ke ruang parafaringeal post-styloid.

8 Komplikasi Komplikasi dari berbagai bentuk terapi adalah termasuk berikut ini:          Rasa nyeri Xerostomia Infeksi Penyembuhan luka yang buruk Disfagia Pembentukan fistula Trismus Potensi terjadinya skar Kelemahan umum II. palatum durum.bergantung pada eksposur yang baik dan batas reseksi yang luas (1-2 cm) karena tumor-tumor ini memiliki kecenderungan penyebaran submukosa. atau mandibula  T4b: Tumor invasi otot pterigoid lateral. Untuk menentukan stadium digunakan klasifikasi TNM. dasar tengkorak atau meyelubungi arteri karotis Kategori nodus AJCC (kecuali tiroid dan karsinoma nasofaring) 13 . lateral nasofaring. II.4 cm T3: Tumor >4 cm T4a: Tumor invasi laring.5 Staging karsinoma tonsil adalah berdasarkan AJCC Cancer Staging Manual. yaitu:        Tx: tumor primer tidak dapat ditemukan T0: tidak ada bukti tumor primer Tis: karsinoma in situ T1: Tumor <2 cm T2: Tumor 2 .9 Prognosis Prognosis dari tumor tonsil tergantung dari stadium saat pasien datang pertama kali untuk berobat. otot dalam atau ekstrinsik lidah. otot pterigoid medial.

yang tidak > 6 cm     N2a: Metastasis 1 nodus limfe ipsilateral > 3 cm tapi tidak > 6 cm. > 3 cm tapi tidak lebih dari 6 cm. nodus limfe multipel ipsilateral yang tidak > 6 cm. tidak ada yang > 6 cm N2c: Metastasis nodus limfe bilateral atau kontralateral. tidak > 6 cm N3: Metastasis nodus limfe > 6 cm Metastasis jauh:    Mx: Metastasis jauh tidak ditemukan M0: Tidak ada metastasis jauh M1: Metastasis jauh Stadium     Stadium I: T1 N0 M0 Stadium II: T2 N0 M0 Stadium III: T3 N0 M0 T1 N1 M0 T2 N1 M0 T3 N1 M0 Stadium IVa: T4a N0 M0 T4a N1 M0 T1 N2 M0 T2 N2 M0 T3 N2 M0 T4a N2 M0   Stadium IVb: T mana saja N3 M0 T4b N mana saja M0 Stadium IVc: T mana saja N mana saja M1 14 . nodus limfe bilateral atau kontralateral.    Nx: Nodus limfe regional tidak dapat ditemukan N0: Tidak ada metastasis nodus regional N1: Metastasis pada 1 nodus limfe ipsilateral. 3 cm atau kurar N2: Metastasis pada 1 nodus limfe ipsilateral. N2b: Metastasis nodus limfe multipel bilateral.

70% Stadium III .Gambar.80% Stadium II .5 Limfonodus yang dapat terlibat pada tumor ganas tonsil Prognosis dari tingkat survival 5-tahun pada karsinoma sel skuamosa daerah tonsil yang diterapi adalah sebagai berikut:3     Stadium I .30% 15 .40% Stadium IV .

dan kadang disertai dengan nyeri tenggorok yang menjalar ke telinga. Gejala dan tanda lain yang biasanya dikeluhkan pasien adalah odinofagia. disfagia. gangguan suara (mengecil). Bagaimana gambaran dan tanda-tanda spesifiknya? 2. Tumor tonsil yang besar menimbulkan gangguan berupa sumbatan pada saluran nafas dan saluran cerna. sensasi adanya benda asing atau massa. Hal ini dikarenakan karsinoma timbul dari dalam kripta-kripta yang merupakan invaginasi epitel permukaan. yang dapat membantu neoplasma memasuki dan bermetastasis ke nodus-nodus leher. Gambaran dan tanda-tanda spesifik tumor tonsil: Secara klinis gejala tumor ganas tonsil pada stadium permulaan tidak khas. 16 . Gejala penyerta adalah badan semakin kurus karena pasien sukar menelan. Pada tumor stadium lanjut didapatkan gejala perdarahan dari rongga mulut. trismus. Jenis yang sering dijumpai secara patologi? 3. dan pendarahan. Gejala lain yang mungkin didapati adalah nyeri tenggorokan. Gejala yang sering dikeluhkan pasien adalah rasa seperti adanya benda asing di tenggorok. Rasa nyeri di tenggorok baru timbul bila tumor telah menginfiltrasi ke daerah sekitarnya. dan otalgia. Pasien tumor tonsil biasa datang dengan tonsil yang membesar secara asimetrik. Pasien juga dapat datang dengan keluhan massa pada leher karena tonsil adalah jaringan limfoid yang kaya dan mengandung limfatik yang sangat banyak. Bagaimana penatalaksanaannya? Pembahasan: 1. Adapun tanda-tanda dan gejala konstitusional adanya pengurangan berat badan dan kelemahan (fatigue) jarang dijumpai pada neoplasma ini. sukar membuka mulut dan sukar menelan.BAB III DISKUSI Pertanyaan: 1.

Radioterapi masih merupakan terapi pilihan untuk tumor ganas tonsil. Secara makroskopis tumor dapat eksofitik. Sedangkan pada tumor stadium tiga dan empat dengan terapi radiasi kemungkinan residif 30-50%. flat. Limfoma tonsil sendiri yang paling sering dijumpai adalah limfoma sel B besar non-Hodgkin. Limfoma adalah keganasan paling banyak ke-2 di tonsil. hasilnya cukup memuaskan. sitostatika. 2. operasi. oleh karena daerah operasi yang kaya akan pembuluh darah sehingga terdapat resiko perdarahan dan penyebaran tumor secara hematogen. tersebar dan useroinfiltratif. permukaan tumor tidak rata. Jenis yang sering dijumpai pada patologi: Sekitar 90-95% dari kanker tonsil ini merupakan karsinoma sel skuamosa. Operasi pada tumor tonsil ganas sulit dikerjakan dan berbahaya. Pada pemeriksaan tenggorok tumor tonsil ganas akan tampak adanya tumor/pembesaran tonsil unilateral. trismus adalah yang berbahaya karena dapat mengindikasikan adanya keterlibatan ruang parafaring. Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan pemeriksaan patologi anatomi dan biopsi tumor. 17 . kadang-kadang tampak adanya ulserasi dan bila diraba konsistensi tumor keras serta mudah berdarah.Diantara gejala-gejala tersebut. pemeriksaan lokalis pada tonsil dan pemeriksaan leher. Penatalaksanaannya meliputi radioterapi. Kemoterapi merupakan metode terapi yang efektif digunakan sebelum radiasi. oleh karena vaskularisasi tonsil masih baik. Penatalaksanaannya: Pada prinsipnya penatalaksaan tumor tonsil tergantung dari stadium tumornya. Pada tumor stadium satu dan dua dengan radiasi 5000-6000 rad. Operasi biasanya dikerjakan setelah terapi radiasi. 3. dan terapi kombinasi. Kemoterapi juga dianjurkan untuk tumor ganas tonsil stadium lanjut atau bila sudah terjadi metastasis secara hematogen. karena tumor ini bersifat radiosensitif. Sisanya adalah keganasan yang jarang meliputi tumor kelenjar ludah minor. Diagnosis tumor tonsil ditegakkan berdasarkan manifestasi klinik.

Radiasi atau kombinasi kemoradiasi merupakan modalitas terapi pilihan. c.latissimus dorsi dan m. Flaps pedicled regional memberikan cukup jaringan pengisi dan kulit yang adekuat untuk penutupan defek mukosa yang besar yang melibatkan orofaring lateral dan dasar lidah: o M.Pilihan Terapi 1. Reseksi komposit: reseksi en bloc mandibula posterior dan tumor primer. Pilihan rekonstruktif: Penutupan primer atau penyembuhan yang merupakan efek sekunder yang diharapkan dapat dicapai untuk defek yang sangat kecil yang timbul setelah pembedahan reseksi. pectoralis major merupakan sumber flap yang paling umum untuk rekonstruksi orofaringeal o Flaps pedicled lain meliputi m. Diseksi leher: Dapat dilakukan sebelum radiasi atau kemoradiasi pada pasien dengan N1N3 Dapat dilakukan post-terapi pada pasien dengan N2 atau lebih dan/ atau penyakit yang secara klinis terdeteksi Terdapat kontroversi mengenai keperluan diseksi leher pada pasien dengan N1 setelah dilakukan radiasi atau kemoradiasi dengan anggapan tidak ada penyakit yang terdeteksi secara klinis d. Dimanfaatkan pada tumor-tumor yang besar yang melibatkan multilokasi dengan invasi mandibula. Hindari n. 2. Pembedahan reseksi berguna untuk pasien dengan invasi luas tulang di mana: a. Pendekatan pada tonsil dan orofaring lateral: Eksisi transoral: penggunaannya terbatas pada lesi yang sangat kecil yang melekat ke tonsil atau kapsul tonsil Mandibulotomi anterior dengan mandibular swing: bermanfaat untuk kanker tonsil dan dasar lidah tanpa invasi tulang. trapezius 18 .alveolaris inferior. Eksposur tumor merupakan tantangan pada reseksi b.

namun secara relatif tidak dapat direseksi jika invasinya meluas hingga ke ruang parafaringeal post-styloid. Pembedahan atau radiasi secara tunggal sama efektif bagi kanker orofaring T1 dan T2. Atau dapat dikombinasi sehingga salah satu modalitas merupakan pendukung bagi modalitas yang lain sehingga keberhasilan kontrol lokal yang tinggi. Ekstipasi kanker orofaring yang berhasil bergantung pada eksposur yang baik dan batas reseksi yang luas (1-2 cm) karena tumor-tumor ini memiliki kecenderungan penyebaran submukosa. o Defek komposit dapat direkonstruksi dengan fibula atau flap osteokutaneus scapula atau fibula. Limfoma diterapi dengan kemoterapi dan radiasi. Tumor ganas kelenjar ludah minor mirip dengan kelenjar ludah utama dan diterapi dengan eksisi local luas dengan atau tanpa radiasi post-operatif. 19 . atau melibatkan arteri karotis. Sebagian besar tumor orofaring dapat dieksisi. Tumor T3 dan T4 paling baik dikontrol dengan pembedahan dan radiasi post-operatif.- Pemindahan jaringan bebas: o Lengan bawah radial berguna untuk defek jaringan lunak yang lebih besar untuk lateral orofaring dan dasar lidah. fascia prevertebral. Radiasi postoperatif diindikasikan jika setelah reseksi batas –batas terlibat atau menutup atau jika tumor agresif.

faring. Ezzat AA. Kokot N. Non-Hodgkin’s Lymphoma of Tonsil.p. Edisi 6. EGC. 4. Available from Hyperlink: URL: http://emedicine.htm.p.266. 1997. Seikaly H. 5.DAFTAR PUSTAKA 1. Dalam: Buku Ajar ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. 20 . 3th ed.htm. In: Byron J. Edisi 6. Head and neck surgery – Otolaryngology.medscape. Boies LR.166 2. 3. Orofaryngeal cancer.com/tonsil_lymphoma. Wiswanatha B. 2007.com/article/ 848034-overview.p. Dalam: Adams GL. 2001. Available from Hyperlink: URL: http://emedicine. esofagus dan leher. Available from Hyperlink: URL: http://www. Lippincott William & Wilkins. editors. Tumor telinga hidung tenggorok. Munir M. 2010. Bailey MD.medscape. Head and Neck Cancer: NCCN Clinical Practice Guidelines in Oncology.125. Penerbit FKUI. National Comprehensive Cancer Network. Malignant Tumors of Tonsil.htm 6. anatomi. Tonsil and adenoids. Embriologi. 7.aboutcancer. Boies buku penyakit THT. Higler PH.com/article/ 1899367-overview. Liston SL. Rassekh CH. dan fisiologi rongga mulut.

Lampiran Penatalaksanaan Karsinoma Tonsil 21 .

22 .

23 .

24 .

25 .

Gambar Karsinoma sel skuamosa tonsil Gambar Limfoma Tonsil 26 .