1

Polemik Bendera GAM sebagai Bendera Provinsi Aceh: Perspektif Game Theory
Abu Bakar Fahmi, pemerhati psikologi sosial

Pemerintah Republik Indonesia (RI) melalui Kementerian Dalam Negeri masih terus melakukan dialog dengan Pemerintah Provinsi Aceh menyangkut penggunaan bendera provinsi Aceh yang menyerupai bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sebagaimana tercantum dalam Qanun (perda) Nomor 3 Tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh. Bendera bulan bintang dan lambang singa buraq yang dahulu dipakai GAM disahkan menjadi bendera dan lambang Provinsi Aceh oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) pada 22 Maret 2013. Sampai tulisan ini dibuat, dialog antara pemerintah RI dan pemerintah Aceh untuk mencari solusi terbaik masih terus dilakukan. Pemerintah RI menghendaki agar Pemerintah Provinsi Aceh tidak menggunakan bendera tersebut sebagai bendera provinsi. Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi berpendapat, kalau Aceh dibolehkan menggunakan bendera yang mirip dengan bendera GAM, bisa-bisa Papua atau Maluku ikut menggunakan bendera kelompok separatis di wilayah masing-masing. Gamawan mengingatkan bahwa Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 77 tahun 2007 tentang Lambang Daerah tidak hanya berlaku di Aceh, tapi juga di seluruh wilayah Indonesia. Pasal 6 Ayat (4) PP tersebut menyatakan, “Desain logo dan bendera daerah tidak boleh mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan desain logo dan bendera organisasi terlarang atau organisasi/perkumpulan/lembaga/gerakan sparatis dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Menurut Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Abdullah Zaini, keberadaan bendera di Aceh bukan serta merta menjadi bendera kedaulatan. Sejak berdamai, bendera kedaulatan adalah merah putih. Sedangkan bendera yang ditetapkan dalam Qanun adalah bendera kekhususan di Aceh, sama dengan bendera yang dimiliki oleh daerah lainnya. Terkait masalah ini, Zaini telah bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pertengahan bulan April. Dalam pertemuan tersebut, Pemerintah Aceh tetap bersikukuh menggunakan bendera tersebut karena merupakan hasil dari kesepakatan seluruh pihak di Aceh dan sudah melalui proses yang demokratis, yakni melalui kesepakatan seluruh Fraksi (partai lokal Aceh maupun partai nasional) di DPRA. Pihak DPRA dan pemerintah Aceh menyatakan, rakyat Aceh sendirilah yang memilih bendera dan lambang GAM sebagai bendera mereka. Ketua DPRA, Hasbi Abdullah, mengatakan Aceh memilih bendera bulan bintang dan lambang singa buraq yang identik dengan GAM, karena keduanya merupakan peninggalan Wali Nanggroe Teungku Hasan Muhammad di Tiro—pendiri GAM. Apabila bendera dan lambang itu bertentangan dengan PP, maka Hasbi berpendapat PP tersebut dapat disesuaikan demi kebaikan rakyat Aceh. Menanggapi permasalahan ini, Wakil Ketua Komisi I DPR RI Tubagus Hasanuddin mengatakan, pemakaian bendera GAM sebagai bendera provinsi Aceh merupakan bentuk perlawanan. Menurutnya, kalau mau bendera provinsi sebaiknya pemerintah Aceh mengubah bendera tersebut. Sementara itu, Muhammad Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden yang menjadi pencetus

perdamaian Indonesia-GAM mengungkapkan, pasal 4 ayat (2) MoU Helsinki secara tegas menyatakan bahwa GAM dilarang memakai seragam maupun menunjukkan emblem atau simbol militer setelah penandatanganan Nota Kesepahaman ini. Artinya, menurut Kalla, pemerintah provinsi Aceh dan DPRA harus tanggap terhadap adanya larangan tersebut dan lebih patuh terhadap peraturan yang sudah ada untuk menghindari terjadinya konflik. Kalla berpendapat, pemerintah Aceh lebih baik memakai bendera Aceh saat masa kejayaan yang tidak ada kontroversi sama sekali dan jangan menggunakan bendera Aceh pada masa perang atau konflik. Semua orang, sambung Kalla, ingin hidup damai. Perdamaian ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan untuk menghindari pertikaian. Menurut Kalla, pemerintah pusat dan daerah dapat segera berkoordinasi untuk menyikapi permasalah ini. Menarik kita menganalisis polemik penetapan bendera GAM sebagai bendera provinsi Aceh dalam perspektif game theory. Ada dua player dalam kasus ini, yakni pemerintah RI yang diwakili oleh Kementerian Dalam Negeri (player 1) dan pemerintah Aceh (player 2). Pemerintah Aceh dalam hal ini adalah Gubernur Aceh. Walaupun penetapan bendera dan lambang dilakukan melalui penetapan Qanun di DPRA, artinya melibatkan lembaga legislatif juga, namun proses dialog yang dilakukan lebih melibatkan pemerintah Aceh, dalam hal ini Gubernur. Jadi dalam kasus ini kita hanya memakai pemerintah Aceh sebagai player 2. Dalam kasus ini, masing-masing memiliki dua strategi, yakni keras dan lunak. Player 1 keras jika bersikukuh menolak bendera GAM sebagai lambang provinsi, lunak jika menerima. Player 2 keras jika bersikukuh pada Qanun yang sudah disepakati di parlemen, yakni menggunakan bendera GAM sebagai bendera provinsi, sementara player 2 lunak jika menerima keinginan pemerintah untuk mengganti bendera provonsi dengan bendera yang lain. Isu yang muncul dalam hal ini bendera GAM sebagai bendera provinsi dipandang sebagai perlawanan terhadap pemerintah RI. Walaupun Player 2 dalam kasus ini bukan GAM tetapi pemerintah Aceh dan DPRA, namun banyak orang tahu kalau Gubernur, Bupati, dan anggota DPRA adalah mantan anggota GAM. Maka, alih-alih terjadi coordination game, yang lebih tepat terjadi adalah game dengan hanya ada satu player yang punya strictly dominant strategy. Ini mengingat polemik melibatkan dua player yang tidak setara, yakni pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pemerintah RI bisa saja mencabut Qanun dengan argumen Qanun tersebut bertentangan dengan aturan di atasnya, yakni PP.

Jadi, payoff matrix-nya sebagai berikut. Pemerintah Aceh Pemerintah RI Lunak Lunak Keras 2,2 3,1 Keras -1,5 0,0

Penjelasan payoff matrix-nya adalah sebagai berikut. • Jika pemerintah RI dan pemerintah Aceh sama-sama lunak tidak memberi keuntungan yang maksimal pada kedua belah pihak, dengan mendapat payoff masing-masing 2.

3

• • •

Jika pemerintah RI keras dan Pemerintah Aceh lunak, pemerintah RI lebih mendapat keuntungan dengan mendapat payoff 3 dan pemerintah Aceh mendapat payoff 1. Jika pemerintah Aceh keras dan pemerintah RI lunak, pemerintah Aceh mendapat lebih banyak keuntungan dengan payoff 5 dan pemerintah RI rugi dengan payoff -1. Jika pemerintah Aceh dan pemerintah RI sama-sama keras, masing-masing mendapat payoff 0. Rasionalisasi terhadap matriks tersebut adalah sebagai berikut.

Pada kolom dengan payoff 2 dan 2, yakni kedua belah pihak sama-sama lunak, inti permasalahan tidak dapat diselesaikan. Masing-masing masih punya persepsi yang berbeda terkait lambang provinsi. Pemerintah RI masih tidak menerima, sementara pemerintah Aceh tetap berkeyakinan menggunakan bendera GAM sebagai bendera provinsi sudah tepat. Dalam strategi ini, karena sama-sama menghindari konflik, keduanya memutuskan untuk tidak membicarakannya. Kehidupan damai masih tetap tercipta di bumi Aceh. Namun demikian, masalah yang serupa bisa muncul di kemudian hari. Pada kolom dengan payoff 3 dan 1, yakni pemerintah RI keras sedang pemerintah Aceh lunak, masalah bisa diselesaikan namun tidak menimbulkan kerugian pada pemerintah Aceh. Pemerintah mendapat payoff lebih tinggi karena dapat menyelesaikan masalah terkait gejala separatisme di daerah. Ini bisa menepis keinginan yang sama, yakni menggunakan bendera separatis sebagai bendera provinsi, di daerah lain di Indonesia. Ini bisa dilakukan misalnya dengan menawarkan pada pemerintah Aceh untuk mengganti lambang provinsi dari bendera GAM dengan bendera kesultanan, yakni bendera yang digunakan saat Aceh mengalami kejayaan pada masa Kesultanan Iskandar Muda. Pada kolom dengan payoff -1 dan 5, yakni pemerintah RI lunak dan pemerintah Aceh keras, kerugian didapat oleh pemerintah RI karena membiarkan separatisme muncul yang dikhawatirkan menginspirasi daerah lain untuk melakukan hal yang sama. Pemerintah Aceh mendapat payoff 5 karena menjadi angin segar bagi mereka, khususnya pihak-pihak tertentu dalam pemerintah Aceh, yang menginginkan kedaulatan Aceh. Ini semacam foot in the door bagi pemerintah Aceh untuk meminta otonomi yang lebih besar, bahkan menuntut kedaulatan melalui referendum. Pada kolom dengan payoff 0 dan 0, yakni kedua pihak sama-sama keras, masing-masing tidak mendapat keuntungan dengan payoff 0. Masalah tidak terselesaikan dan berlarut-larut karena masing-masing bersikukuh dengan keinginannya. Energi pemerintahan terbuang percuma, padahal bisa digunakan untuk melakukan pembangunan demi kemajuan masyarakat RI dan Aceh khususnya.

Best response untuk masing-masing player dapat dilihat pada payoff yang ditanda tebal dalam payoff matrix tersebut, yakni sebagai berikut. Pemerintah Aceh Pemerintah RI Lunak Lunak 2,2 Keras -1,5

Keras

3,1

0,0

Berdasar payoff matrix di atas, strategi keras pemerintah RI adalah strict best response jika pemerintah Aceh menggunakan strategi lunak. Strategi keras pemerintah RI juga merupakan strict best response jika pemerintah Aceh menggunakan strategi keras. Strategi keras pemerintah Aceh adalah strict best response jika pemerintah RI menggunakan strategi lunak. Namun, strategi lunak pemerintah Aceh adalah strict best response jika pemerintah RI menggunakan strategi keras. Jadi dalam hal ini, strategi keras bagi pemerintah RI adalah strictly dominant strategy terhadap strategi pemerintah Aceh, baik strategi keras maupun lunak. Ini karena strategi keras pemerintah RI merupakan strict best response terhadap semua strategi yang digunakan pemerintah Aceh. Sementara, pemerintah Aceh tidak punya strictly dominant strategy. Strategi keras digunakan pemerintah Aceh jika pemerintah RI lunak, sementara stretagi lunak digunakan pemerintah Aceh jika pemerintah RI keras. Pada payoff matrix ini, best response bagi kedua player ada pada kolom dengan payoff 3,1. Jadi dalam hal ini, kedua belah pihak melakukan repon terbaik, yakni pemerintah RI menggunakan strategi keras sedangkan pemerintah Aceh menggunakan strategi lunak. Misalnya, dalam hal ini, pemerintah RI bersikukuh agar Qanun tentang Bendera dan Lambang Aceh mengindahkan PP tentang Lambang Daerah, sedang pemerintah Aceh setuju mengganti bendera provinsi yang mirip bendera GAM dengan bendera kesultanan. Masalah bisa selesai namun tidak menimbulkan kerugian pada pemerintah Aceh. Pasa kasus di atas, karena terdapat satu strictly dominant strategy, yakni strategi keras pemerintah RI, maka tidak terjadi Nash equilibrium.

Bahan Bacaan Easley, D. & Kleinberg, J. (2010). Networks, crowds, and markets: Reasoning about a highly connected world. New York: Cambridge University Press. Berita dari berbagai media online.

@abubakarfahmi writer social psychologist