You are on page 1of 3

Nama: MH.

Yuda Alhabsy NIM: 082011101036

1.

Komplikasi Trauma mata a. Hematoma palpebra Adanya hematoma pada satu mata merupakan keadaan yang ringan, tetapi bila terjadi pada kedua mata , hati-hati kemungkinan adanya fraktur basis kranii. Penanganan: Kompres dingin 3 kali sehari. b. Ruptura kornea Kornea pecah, bila daerah yang pecah besar dapat terjadi prolapsus iris, merupakan suatu keadaan yang gawat dan memerlukan operasi segera. c. Ruptura membran descement Di tandai dengan adanya garis kekeruhan yang berkelok-kelok pada kornea, yang sebenarnya adalah lipatan membran descement, visus sangat menurun dan kornea sulit menjadi jernih kembali. Penanganan: Pemberian obat-obatan yang membantu menghentikan perdarahan dan tetes mata kortisol. d. Hifema Perdarahan dalam kamera okuli anterior, yang berasal dari pembuluh darah iris atau korpus siliaris, biasanya di sertai odema kornea dan endapan di bawah kornea, hal ini merupakan suatu keadaan yang serius. Pembagian hifema: 1. Hifema primer, timbul segera oleh karena adanya trauma. 2. Hifema sekunder, timbul pada hari ke 2-5 setelah terjadi trauma. Hifema ringan tidak mengganggu visus, tetapi apabila sangat hebat akan mempengaruhi visus karena adanya peningkatan tekanan intra okuler. Penanganan: Istirahat, dan apabila karena peningkatan tekanan intra okuli yang di sertai dengan glaukoma maka perlu adanya operasi segera dengan di lakukannya parasintesis yaitu membuat insisi pada kornea dekat limbus, kemudian di beri salep mata antibiotik dan di tutup dengan verband. Komplikasi hifema: 1. Galukoma sekunder, di sebabkan oleh adanya penyumbatan oleh darah pada sudut kamera okuli anterior.

harus di lakukan operasi. Penanganan terhadap imhibisi kornea: Tindakan pembedahan yaitu keratoplastik.luksasio lentis Luksasio lentis yang terjadi bisa ke depan atau ke belakang. e. tetapi jika ada maka perlu adanya operasi untuk memfixasi iris yang lepas. Ruptura retina Menyebabkan timbulnya ablasio retina sehingga menyebabkan kebutaan. Ruptura sklera Menimbulkan penurunan teknan intra okuler. apabila dengan pemberian yang sampai berbulanbulan tetap midriasis maka telah terjadi iridoplegia yang iriversibel. pupil menjadi tdak bula dan di sebut dengan pseudopupil. yaitu masuknya darah yang terurai ke dalam lamel-lamel kornea.2. Iridoparese IridoplegiaAdalah adanya kelumpuhan pada otot pupil sehingga terjadi midriasis. Glaukoma Di sebabkan oleh kare na robekan trabekulum pada sudut kamera okuli anterior. f. l. yang di sebut “traumatic angle” yang menyebabkan gangguan aliran akquos humour. Iridodialisis Iridodialisis ialah iris yang pada suatu tempat lepas dari pangkalnya. j. Subluksasio lentis. h. Penanganan: Bila tidak ada keluhan tidak perlu di lakukan apa-apa. . Bila terjadi gaukoma maka perlu operasi untuk ekstraksi lensa dan jika terjadi afakia pengobatan di lakukan secara konservatif. k. visus akan sangat menurun. Penanganan: Berikan pilokarpin. Penanganan secara konservatif adalah dengan memberikan kacamata untuk mengurangi silau. i. sehingga kornea menjadi berwarna kuning tengguli dan visus sangat menurun. kare na bnayak terdapat eritrosit pada korpus siliare. Irideremia Ialah keadaan di mana iris lepas secara keseluruhan. Jika ke depan akan menimbulkan glaukoma dan jika ke belakang akan menimbulkan afakia. Perlu adanya tindakan operatif segera. g. Hemoragia pada korpus vitreum Perdarahan yang terjadi berasal dari korpus siliare. Imhibisi kornea.Penanganan di lakukan secara operatif.

atau neurogenic yang berarti jalur saraf yang mengendalikan otot-otot mata yang terganggu. Dibekacin Golongan: Aminoglikosida Komposisi: Dibekacin sulfate Sediaan: Tetes mata Kemasan: 50mg/mL x 10 dan 100mg/2mL x 10 3.2. . Definisi Ophtalmoplegia Kelumpuhan atau kelemahan dari satu atau beberapa otot yang mengatur gerakan mata. Bisa disebabkan karena miopati yang berarti bahwa otot-otot yang mengendalikan gerakan mata secara langsung terlibat. Kondisi ini dapat disebabkan oleh gangguan neurologis.