You are on page 1of 17

Survey dan Disain Jembatan

BAB II
PERENCANAAN ABUTMEN TIPE GRAVITASI
2.1 IDENTIFIKASI PROGRAM
Program/software ini menggunakan satuan kN-meter dalam melakukan analisa abutmen
jembatan tipe gravitasi. Abutmen jembatan diasumsikan terbuat dari pasangan batu dan
dudukan struktur atas jembatan terbuat dari beton struktural. Bentuk umum dari abutmen
jembatan tersebut diasumsikan tersusun atas elemen berbentuk segi empat dan segi tiga.
Program/software ini dibuat khusus untuk tanah timbunan berupa tanah non-kohesif.
Tekanan tanah ke dinding dihitung dengan menggunakan pendekatan dari Coulomb.
Analisa abutmen tipe gravitasi dengan program/software ini memungkinkan untuk
memperhitungkan gaya-gaya tambahan akibat gempa.
Program/software ini tidak menyediakan fasilitas untuk memperhitungkan gaya angkat
atau up-lift dari air. Sehingga untuk kasus dimana terdapat gaya up-lift, program/software
ini tidak bisa digunakan.
Untuk tanah timbunan non kohesif, tekanan air tanah yang menuju dinding tidak ikut
diperhitungkan dalam program/software ini. Diasumsikan bahwa sistem drainase yang baik
akan dibangun/disediakan untuk menjamin tidak ada tekanan hidrostatis tambahan ke
dinding.
Perlu diperhatikan bahwa abutmen jembatan tipe gravitasi hanya bisa digunakan untuk
beda ketinggian yang tidak terlalu besar. Program/software ini membatasi penggunaan
abutmen jembatan tipe gravitasi ini hanya sampai beda tinggi 5 m.
Keluaran dari program/software ini adalah dimensi dari abutmen jembatan yang memenuhi
keamanan dari segi daya dukung, geser dan guling.
Program/software ini juga dilengkapi dengan kombinasi pembebanan sehingga keluaran
dari program ini telah mencakup hasil analisa untuk masing-masing kombinasi
pembebebanan.
Perlu ditegaskan bahwa program/software ini dibuat untuk tujuan pendidikan dan pelatihan
SRRP (Sumatera Region Road Project) IBRD Load No. 4307-IND. Tanggung jawab
terhadap pengunaan hasil keluaran program/software ini 100 % ada pada pengguna.
Pengguna wajib melakukan pengecekan terhadap kesahihan hasil keluaran
program/software ini. Karena program/software ini tidak mencakup semua aspek disain,
sebaiknya penggunaan program ini dibatasi untuk proses pra-disain.
2.2 TEORI DASAR
Sama dengan Teori Dasar Perencanaan Dinding Penahan Tanah (Bab 1.2)
Lampiran : Pedoman Penggunaan Software Komputer II - 1
Survey dan Disain Jembatan
2.3 KOMBINASI BEBAN
Berdasarkan Kombinasi Beban untuk Perencanaan Tegangan Kerja sesuai dengan Tabel
2.2.1 Peraturan Perencanaan Teknik Jembatan, kombinasi yang digunakan dalam
program/software ini adalah seperti yang ditampilkan pada Tabel 2.1 berikut.
Tabel 2.1 Kombinasi Beban Untuk Perencanaan Tegangan Kerja
Aksi K o m b i n a s i
1 2 3 4 5 6 7
Aksi Tetap X X X X X X X
Beban Lalu Lintas X X X X O O O
Pengaruh Temperatur O X O X O O O
Arus/Hanyutan/Hidro/Daya Apung X X X X X O O
Beban Angin O O X X O O O
Pengaruh Gempa O O O O X O O
Beban Tumbukan O O O O O O X
Beban Pelaksanaan O O O O O X O
Tegangan berlebihan yang
diperbolehkan
0 25% 25% 40% 50% 30% 50%
2.4 INPUT DATA
a. Tinggi Abutmen dan Panjang Abutmen (meter)
Pembatasan diberikan kepada tinggi abutmen. Tinggi maksimum tersebut diset = 5
meter. Panjang abutmen di tentukan berdasarkan lebar dari jembatan.
b. Dimensi (panjang tumpuan dan tinggi) dari Balok Girder Struktur Atas (m).
Dimensi dari struktur atas ini akan digunakan untuk menentukan bentuk dan ukuran
bagian atas dari abutmen. Tinggi balok girder akan menentukan tingginya tembok
kepala yang terbuat dari beton. Panjang tumpuan akan digunakan untuk menentukan
lebar dari dudukan tersebut. Semakin panjang bentang jembatan, maka panjang
tumpuan minimumnya akan semakin besar, sehingga bagian atas dari abutmen juga
akan semakin lebar.
Gambar 2.1 Tumpuan Balok Struktur Atas ke Abutmen
Lampiran : Pedoman Penggunaan Software Komputer II - 2
Abutme
n
balok girder
Panjang tumpuan
minimum
Tinggi balok
girder
Survey dan Disain Jembatan
c. Beban Merata di atas Tanah /Surcharge Load (kN/m
2
).
Berdasarkan Peraturan Perencanaan Teknik Jembatan, beban merata diatas tanah yang
diklasifikasikan sebagai beban lalu lintas yang diekivaensikan dengan tanah urugan
setinggi 0.6 meter
d. Data Tanah Timbunan
Data Tanah timbunan yang diperlukan adalah berat jenis γ (kN/m
3
), sudut geser dalam
φ (derajat) , dan kohesi c (kN/m
2
). Berdasarkan Peraturan Perencanaan Tehnik
Jembatan, tanah timbunan hendaknya bukanlah tanah “clay”, sehingga nilai c = 0. Nilai
γ tanah timbunan yang umum digunakan adalah 18 kN/m
3
. Sedangkan sudut geser
dalam φ minimum dari tanah timbunan adalah 30 °. Program/software ini hanya akan
berjalan jika nilai cohesi tanah timbunan = 0 (tanah non-kohesif).
e. Daya Dukung Ijin Tanah di Dasar Abutmen Jembatan (kN/m
2
)
Daya dukung ijin tanah didapat dari analisis daya dukung pondasi dangkal pada elevasi
dasar dari abutmen jembatan.
f. Data Tanah Dasar
Data Tanah Dasar yang diperlukan adalah sudut geser dalam φ (derajat) dan kohesi c
(kN/m
2
). Kedua parameter ini akan digunakan untuk menghitung ketahanan terhadap
geser dari abutmen jembatan tersebut.
a. Koefisien Gempa
Untuk analisis yang memperhitungkan pengaruh gempa diperlukan C
h1
(koefisien
gempa untuk inersia struktur), C
h2
(koefisien gempa untuk tekanan tanah dinamis) dan
Faktor Keutamaan (I). Nilai C
h1
dapat ditentukan berdasarkan Gambar 1.8, Nilai
koefisien C
h2
ditentukan dengan menggunakan Tabel 1.4, sedangkan Besarnya Faktor
Keutamaan “I” ditentukan berdasarkan Tabel 1.2
b. Angka Kemanan Terhadap Geser dan Guling
Berdasarkan Peraturan Teknik Jembatan Bagian 2.8, nilai minimum dari SF terhadap
geser dan guling yang digunakan dalam perencanaan adalah 2.2
c. Tegangan Tarik Ijin Pada Pasangan Batu. (kN/m2)
Berdasarkan Peraturan Teknik Jembatan, tidak diijinkan adanya tegangan tarik pada
pasangan batu, sehingga nilainya = 0. Jika diijinkan untuk terjadi tegangan tarik pada
dinding penahan, bisa dilakukan dengan memberikan nilai absolut dari besarnya
tegangan tarik yang diijinkan untuk terjadi.
d. Gaya Verikal dan Horisontal dari Struktur Atas (kN)
Tanda positif menunjukkan arah gaya tersebut ke atas atau kekanan. Karena
program/software ini menggunakan kombinasi pembebanan berdasarkan Kombinasi
Beban untuk Perencanaan Tegangan Kerja sesuai dengan Table 2.2.1 Peraturan
Perencanaan Teknik Jembatan, maka beban vertikal dan horisontal dari struktur atas di
uraikan sesuai dengan tipe beban yang bekerja. Tipe-tipe beban/aksi tersebut adalah
• Aksi Tetap
• Beban Lalu Lintas
• Pengaruh Temperatur
Lampiran : Pedoman Penggunaan Software Komputer II - 3
Survey dan Disain Jembatan
• Arus/Hanyutan/Hidrolika/Daya Apung
• Beban Angin
• Pengaruh Gempa
• Beban Tumbukan
• Beban Pelaksanaan
k. Lokasi Gaya Vertikal dan Horisontal Struktur Atas (m)
Transfer gaya-gaya dari struktur atas ke abutmen jembatan dilakukan melalui
perletakan atau bearing. Parameter ini digunakan untuk menunjukkan titik tangkap
gaya-gaya dari struktur atas pada abutmen jembatan tipe gravitasi. Posisi arah x
ditentukan dari ujung balok girder, sedangkan posisi gaya-gaya dalam arah y
ditentukan dari permukaan balok girder.
Gambar 2.2 Lokasi Gaya Vertikal dan Horisontal Struktur Atas
2.5 CARA PEMAKAIAN PROGRAM
a. Langkah Pertama adalah mengaktifkan program/software dengan meng-klik- file
program yaitu GABT.EXE. Pada layar monitor akan muncul Form Input Data.
b. Pada Form Input Data masukkan parameter-parameter Input Data. Jika analisa
tidak memperhitungkan kondisi gempa, maka nilai koefisien gempa dan faktor
keutamaan “I” dibuat sama dengan 0. Jika ingin menganalisa data yang sudah pernah
disimpan, gunakan tombol BUKA FILE
c. Pada Form Input Data, jika ingin menyimpan data kasus yang sedang dianalisis,
klik tombol SIMPAN FILE dan tuliskan nama file yang akan digunakan.
d. Pada Form Input Data melakukan analisis perhitungan dimensi abutmen
jembatan tipe gravitasi klik tombol HITUNG. Sehingga akan berada pada Lembar
Analisis dan Output.
e. Pada Lembar Analisis dan Output ini ditampilkan dimensi abutmen jembatan
yang diperlukan, serta gaya-gaya yang bekerja pada dasar abutmen jembatan tersebut
untuk setiap kombinasi pembebanan. Ditampilkan juga besarnya angka keamanan
terhadap geser dan guling serta tegangan yang terjadi pada tanah dasar untuk setiap
kombinasi pembebanan.
Lampiran : Pedoman Penggunaan Software Komputer II - 4
Abutmen
Y
h
bearin
g
V
11
H
12
X
v
Survey dan Disain Jembatan
f. Pada Lembar Analisis dan Output juga ditampilkan hasil pengecekan tegangan
tarik pada badan abutmen jembatan untuk setiap kombinasi pembebanan.

g. Pada Lembar Analisis dan Output, jika ingin memodifikasi data input dapat
menggunakan tombol KEMBALI untuk menuju ke Form Input Data, sedangkan jika
ingin melihat gambar dan dimensi keseluruhan dari abutmen jembatan gunakan tombol
GAMBAR.
h. Pada Lembar Analisis dan Output, jika ingin menyimpan file laporan
perhitungan gunakan tombol LAPORAN dan masukkan nama file yang akan
digunakan untuk menyimpan data laporan yang berbentuk file dengan extension TXT.
Lampiran : Pedoman Penggunaan Software Komputer II - 5
Survey dan Disain Jembatan
2.6 INTERPRETASI HASIL KELUARAN.
1.6.1 NOTASI GAYA GAYA YANG DIGUNAKAN
Gambar 2.3 Notasi Gaya-Gaya
Lampiran : Pedoman Penggunaan Software Komputer II - 6
el. 4
el. 5
el. 6
V
4
H
16
V
5
V
6
H
17
H
18
V
11
H
12
Y
h
X
v
G
W
G
D
H
B
0.5 m
0.5 m
0.5 m
el.1
el. 2
el. 3
V
1
V
2
V
3
V
7
dan H
8
V
10
dan H
11
V
19
dan H
20
H
13
H
1
4
H
15
V
10
dan H
20
akibat gempa
V
7
dan H
8
akibat tek. tanah
V
10
dan H
11
akibat surcharge
Surcharge load = q
V
11
H
12
O
X+
Y+
Y
h
G
D
G
W
X
v
Survey dan Disain Jembatan
Tabel 2.2 Notasi Gaya-Gaya
No Notasi gaya Keterangan
1 V
1
Berat sendiri elemen 1
2 V
2
Berat sendiri elemen 2
3 V
3
Berat sendiri elemen 3
4 V
4
Berat sendiri elemen 4
5 V
5
Berat sendiri elemen 5
6 V
6
Berat sendiri elemen 6
7 V
7
Komponen vertikal dari tekanan tanah aktif
8 H
8
Komponen horisontal dari tekanan tanah aktif
9 V
9
Komponen vertikal dari tekanan akibat surcharge
10 H
10
Komponen horisontal dari tekanan akibat surcharge
11 H
11
Gaya vertikal dari struktur atas
12 H
12
Gaya horisontal dari struktur atas
13 H
13
Gaya inersia gempa elemen 1
14 H
14
Gaya inersia gempa elemen 2
15 H
15
Gaya inersia gempa elemen 3
16 H
16
Gaya inersia gempa elemen 4
17 H
17
Gaya inersia gempa elemen 5
18 H
18
Gaya inersia gempa elemen 6
14 V
19
Komponen vertical dari tambahan tekanan tanah gempa
15 H
20
Komponen horizontal dari tambahan tekanan tanah gempa
Tanda positif untuk gaya menujukkan arah gaya tersebut ke atas atau ke kanan.
1.6.2 OPTIMASI DARI PENGGUNAAN PROGRAM.
Setelah didapat hasil kebutuhan dimensi, yang harus dilakukan adalah mengetahui
kombinasi pembebanan beserta batasannya yang paling menentukan dalam perhitungan
dimensi. Kombinasi yang paling menentukan bisa diketahui dengan melihat kombinasi
beban dengan angka kemanan dan daya dukung yang paling mendekati angka keamanan
dan daya dukung ijinnya.
Jika yang menentukan adalah angka kemanan terhadap geser, maka yang berperan adalah
sudut geser dalam (φ) dan kohesi (c) dari tanah dasar. Nilai yang lebih baik dari kedua
parameter tersebut akan mengurangi kebutuhan dimensi dari dinding penahan tanah.
Jika yang menentukkan adalah daya dukung tanah dasar, maka daya dukung yang lebih
baik adalah cara yang paling efektif untuk mengurangi dimensi yang diperlukan.
Jika yang paling menentukan adalah tegangan tarik ijin pada badan dinding, maka
menaikkan tegangan tarik ijin adalah cara paling efektif untuk mengurangi dimensi dari
dinding penahan tanah tersebut.
Lampiran : Pedoman Penggunaan Software Komputer II - 7
Survey dan Disain Jembatan
2.7 CONTOH KASUS
Suatu abutmen jembatan terbuat dari pasangan batu setinggi 3 meter dengan lebar 9.7
meter direncanakan untuk dibangun dengan data perencanaan sebagai berikut
a. Tanah urugan non-kohesif γ = 1.8 t/m
3
= 18 kN/m
3
, dan φ = 35 °
b. Tanah dasar γ = 1.7 t/m
3
= 17 kN/m
3
, dan φ = 35 °, c = 5 t/m
2
= 50 kPa
c. Beban merata pada permukaan tanah = beban lalu lintas = 0.6*1.8 = 0.48 t/m
2
= 4.8
kPa
d. Angka keamanan terhadap guling yang diinginkan = 2.2 (sesuai persyaratan)
e. Angka keamanan terhadap geser yang diinginkan = 2.2 (sesuai persyaratan)
f. Tegangan ijin tanah = 20 t/m
2
= 200 kPa
g. Tidak diijinkan adanya tegangan tarik pada abutmen jembatan pasangan batu tersebut.
h. Perencanaan dinding penahan tanah tersebut harus terletak di wilayah gempa/zona 6
dengan koefisien gempa C
h
untuk bangunan penahan = 0.06, C
h
untuk tekanan tanah
adalah = 0.06, dan Faktor Keutamaan “I” = 0.8
i. Beban dari struktur atas adalah sebagai berikut ( + = keatas/kekanan , - = kebawah/ke
kiri)
Deskripsi Aksi Vertikal (kN) Horisontal (kN)
Aksi Tetap -597.0 0.0
Beban Lalu Lintas -895.0 0.0
Pengaruh Temperatur 0.0 42.0
Arus/Hanyutan/Hidro/Daya Apung 0.0 0.0
Beban Angin 0.0 0.0
Pengaruh Gempa 0.0 35.0
Beban Tumbukan 0.0 0.0
Beban Pelaksanaan 0.0 0.0
Beban lalu lintas horizontal mempunyai arah ke luar dari pangkal, sehingga diambil = 0
j. Data Tumpuan Struktur Atas
Panjang tumpuan minimum 1.1 meter, tinggi balok girder 1.6 meter, posisi atau titik
tangkap gaya dari struktur atas X
v
= 0.3 meter, Y
h
= 1.5 m
Lampiran : Pedoman Penggunaan Software Komputer II - 8
Abutmen
balok girder
1.1 meter
1.6 meter
Abutmen
1.5 m
bearin
g
V
11
H
12
0.3 m
Survey dan Disain Jembatan
2.7.1 DIMENSI COBA
Lampiran : Pedoman Penggunaan Software Komputer II - 9
el. 4
el. 5
el. 6
V
4
H
16
V
5
V
6
H
17
H
18
V
11
H
12
1.5
0.3
1.1
1.6
0.2 0.2
1.0
0.8
0
1.5
H = 3.0
B= 2.5 m
0.5 m
0.5 m
el.1
el. 2
el. 3
V
1
V
2
V
3
V
7
dan H
8
V
10
dan H
11
V
19
dan H
20
H
13
H
1
4
H
15
V
10
dan H
20
akibat gempa
V
7
dan H
8
akibat tek. tanah
V
10
dan H
11
akibat surcharge
Surcharge load = q
V
11
H
12
O
X+
Y+
Y
h
G
D
G
W
X
v
0.5 m
Survey dan Disain Jembatan
2.7.2 KOMBINASI BEBAN
Aksi K o m b i n a s i
1 2 3 4 5 6 7
Aksi Tetap X X X X X X X
Beban Lalu Lintas X X X X O O O
Pengaruh Temperatur O X O X O O O
Arus/Hanyutan/Hidro/Daya Apung X X X X X O O
Beban Angin O O X X O O O
Pengaruh Gempa O O O O X O O
Beban Tumbukan O O O O O O X
Beban Pelaksanaan O O O O O X O
Tegangan berlebihan yang
diperbolehkan
0 25% 25% 40% 50% 30% 50%
Besarnya gaya luar vertical (V
11
) dan horizontal (H
12
) yang bekerja pada Abutmen sesuai
dengan Kombinasi Pembebanan tersebut diatas adalah sebagai berikut
Vertikal (kN) Horisontal (kN)
Kombinasi 1 -1492.0 0.0
Kombinasi 2 -1492.0 42.0
Kombinasi 3 -1492.0 0.0
Kombinasi 4 -1492.0 42.0
Kombinasi 5 -597.0 35.0
Kombinasi 6 -597.0 0.0
Kombinasi 7 -1492.0 0.0
2.7.3 DIMENSI, BERAT DAN GAYA GEMPA DARI ELEMEN DINDING
Nomor elemen Lebar (m) Tinggi (meter) Berat=W (kN) Gaya Gempa (kN)
1 (pasangan batu) 1.5 0.5 -291.00 13.97
2 (pasangan batu) 1.5 0.1 -34.92 01.68
3 (pasangan batu) 0.0 0.9 0.00 0.00
4 (beton) 1.5 0.8 -291.00 13.97
5 (beton) 0.2 1.0 -48.50 2.33
6 (beton) 0.2 1.6 -77.60 3.72
Gaya Gempa = W*C
h
*I, gaya gempa hanya bekerja pada kombinasi beban yang
memperhitungkan pengaruh gempa yaitu kombinasi 5.
2.7.4 TEKANAN TANAH AKTIF COULOMB
Kemiringan dinding penahan β = 0 °
Sudut gesek dinding-tanah δ = 0 ( pada saat terjadi gempa )
Lampiran : Pedoman Penggunaan Software Komputer II - 10
Survey dan Disain Jembatan
Sudut gesek dinding-tanah δ = φ = 35° ( pada saat tidak terjadi gempa )
2.7.4.1 Koefisien Tekanan Tanah Aktif
2
2
2
) cos( ) cos(
) sin( ) sin(
1 ) cos( cos
) ( cos
1
]
1

¸

− ∗ +
− ∗ +
+ + ∗

·
β ω β δ
ω φ δ φ
β δ β
β φ
a
K
K
a
= 0.250 (pada saat tidak terjadi gempa )
K
a
= 0.271 (pada saat terjadi gempa )
2.7.4.2 Koefisien Tekanan Tanah Aktif Gempa
2
2
2
) cos( ) cos(
) sin( ) sin(
1 ) cos( cos
) ( cos
1
]
1

¸

− ∗ + +
− − ∗ +
+ + + ∗
− −
·
β ω θ β δ
θ ω φ δ φ
θ β δ β
θ β φ
aG
K
K
h
= coefisien gempa untuk tanah = C
h
*I
o
h
K 748 . 2 ) 8 . 0 * 06 . 0 ( tan tan
1 1
· · ·
− −
θ
K
aG
= 0.295
Sudut kemiringan tekanan tanah pada saat tidak terjadi gempa = β + δ = 35°
Sudut kemiringan tekanan tanah pada saat terjadi gempa = β + δ = 0°
2.7.4.3 Tekanan Tanah Akibat Beban Merata Surcharge (per meter)
Beban merata merupakan beban lalu lintas yang bekerja pada permukaan tanah. Pada
kombinasi beban dimana tidak memperhitungkan beban lalu lintas, besarnya tekanan tanah
akibat beban merata/surcharge = 0. Resultante tekanan tanah akibat beban merata bekerja
pada elevasi ½ H dari dasar dengan kemiringan 35°
Lebar H qK P
a q
* ·
= 34.92 kN
Komponen arah vertikal = V
6
= -34.92*sin 35° = -20.01 kN ( ke bawah)
Komponen arah horisontal = H
7
= 34.92*cos 35° = 28.57 kN ( ke kanan)
2.7.4.4 Tekanan Tanah Aktif Coulomb
Resultante tekanan tanah aktif Coulomb bekerja pada elevasi
1
/
3
H dari dasar dengan
kemiringan = 35° (pada saat tidak terjadi gempa) dan 0° (pada saat terjadi gempa).
a. Pada saat tidak terjadi gempa
P
a
= ½ γK
a
H
2
* Lebar = 196.425 kN
Komponen arah vertikal = V
4
= -196.425*sin 35° = -112.554 kN (ke bawah)
Lampiran : Pedoman Penggunaan Software Komputer II - 11
Survey dan Disain Jembatan
Komponen arah horisontal = H
5
= 196.425*cos 35° = 160.73 kN (ke kanan)
b. Pada saat terjadi gempa
Pa = ½ γK
a
H
2
* Lebar = 212.9245 kN
Komponen arah vertikal = V
4
= -212.93*sin 0° = 0 kN (ke bawah)
Komponen arah horisontal = H
5
= 212.93*cos 0° = 212.93 kN (ke kanan)
2.7.4.5 Tekanan Tanah Tambahan Akibat Gempa
Resultante tekanan tanah tambahan akibat gempa bekerja pada elevasi
2
/
3
H dari dasar
dengan kemiringan 0°
P
a
= ½ γ(K
aG
-K
a
)H
2
*Lebar = 20.45 kN
Komponen arah vertikal = V
4
= -20.45*sin 0° = 0 kN (ke bawah)
Komponen arah horisontal = H
5
= 20.45*cos 0° = 20.45 kN ( ke kanan)
2.7.5 GAYA-GAYA YANG BEKERJA UNTUK KOMBINASI PEMBEBANAN 1
Gaya-gaya pada abutmen untuk Kombinasi Pembebanan 1 ditabelkan sebagai berikut

Kode deskripsi
Gaya
(kN)
X thd O
(m)
Y thd O
(m)
Momen
(kN-meter)
V
1
Elemen 1 pasangan batu -291.00 -1.25 0.25 -363.75
V
2
Elemen 2 pasangan batu -34.92 -1.25 0.55 -43.65
V
3
Elemen 3 pasangan batu .00 0.00 0.00 0.00
V
4
Elemen 4 beton -291.00 -1.25 1.00 -363.75
V
5
Elemen 5 beton -48.50 -1.90 1.90 -92.15
V
6
Elemen 6 beton -77.60 -1.70 2.20 -131.92
V
7
Tekanan tanah aktif -112.54 -2.00 1.00 -225.08
H
8
Tekanan tanah aktif 160.73 -2.00 1.00 160.73
V
9
Tekanan tanah surcharge -20.01 -2.00 1.50 -40.01
H
10
Tekanan tanah surcharge 28.57 -2.00 1.50 42.86
V
11
Gaya vertikal Kombinasi 1 -1492.00 -1.30 1.50 -1939.60
V
12
Gaya horisontal Kombinasi 1 0.00 0.00 0.00 0.00
V13 Gempa elemen 1 0.00 0.00 0.00 0.00
V
14
Gempa elemen 2 0.00 0.00 0.00 0.00
V
15
Gempa elemen 3 0.00 0.00 0.00 0.00
V
16
Gempa elemen 4 0.00 0.00 0.00 0.00
V
17
Gempa elemen 5 0.00 0.00 0.00 0.00
V
18
Gempa elemen 6 0.00 0.00 0.00 0.00
V
19
Tekanan tanah gempa 0.00 0.00 0.00 0.00
V
20
Tekanan tanah gempa 0.00 0.00 0.00 0.00
a. Total gaya vertikal = -2367.57 kN
b. Total gaya horisontal = 189.30 kN
Lampiran : Pedoman Penggunaan Software Komputer II - 12
Survey dan Disain Jembatan
c. Total momen guling terhadap titik O = 203.59 kN-meter
d. Total momen penahan terhadap titik O = -3199.91 kN-meter

2.7. 6 TEGANGAN PADA TANAH DASAR
Eksentrisitas gaya-gaya pada dasar dinding penahan dihitung sebagai berikut
57 . 2367
) 59 . 203 91 . 3199 (
2
5 . 2
2

− · − ·

V
M B
eks
net
= 0.016 meter
Tekanan ke tanah dihitung dengan rumus berikut

,
_

¸
¸ ∗
t ·

B
eks
BL
V
q
mak
6
1
min
Untuk Kombinasi 1 tidak diijinkan adanya kenaikan daya dukung ijin sehingga tegangan
ijin tetap sama yaitu 200 kN/m2. Dari persamaan diatas diperoleh
Tekanan maksimum ke tanah = 101.28 kN/m2 < 200 kN/m2
Tekanan minimum ke tanah = 99.38 kN/m2
Tekanan maksimum ternyata lebih kecil dari daya dukung ijin sehingga memenuhi
persyaratan. Tekanan minimum jug alebih besar dari 0 sehingga memenuhi persyaratan.
2.7.7 KESTABILAN TERHADAP GULING
Kestabilan struktur terhadap kemungkinan terguling dihitung dengan persamaan berikut :
717 . 15
59 . 203
91 . 3199
· · ·


O
R
guling
M
M
SF
Angka keamanan terhadap guling lebih besar dari persyaratan (2.2)
2.7.8 KESTABILAN TERHADAP GESER
Ketahanan struktur terhadap kemungkinan struktur bergeser dihitung berdasarkan
persamaan 1.3 dimana nilai φ
2
biasanya diambil sama dengan φ tanah untuk beton pondasi
yang dicor ditempat dan
2
/
3
dari nilai φ tanah untuk pondasi beton pracetak dengan
permukaan halus. Sedangkan nilai c
2
biasanya diambil 0.4 dari nilai c (kohesi) tanah
( )
783 . 9
3 . 189
0 50 * 4 . 0 * 7 . 9 * 5 . 2 ) 30 tan( * 57 . 2367
tan
2 2
·
+ +
·
+ +
·

h
p
geser
P
P BLc V
SF
φ
Angka keamanan terhadap geser lebih besar dari persyaratan (2.2)
Lampiran : Pedoman Penggunaan Software Komputer II - 13
Survey dan Disain Jembatan
2.7.9 TEGANGAN TARIK PADA PASANGAN BATU
2.7.9.1 Pengecekan Tegangan Pada Elevasi 0.6 meter Dari Dasar Pondasi
Lebar penampang pada elevasi tersebut adalah 1.5 meter. Dengan cara yang sama seperti
diatas dapat ditentukan tekanan tanah yang terjadi sehingga dapat dihitung besarnya gaya-
gaya yang bekerja pada potongan 1. Gaya-gaya yang terjadi ditabelkan sebagai berikut
Kode deskripsi
Gaya
(kN)
Lengan gaya ke tepi
potongan (m)
Momen
(kN-meter)
V
3
Elemen 3 pasangan batu (sebagian) 0.00 1.500 0.00
V
4
Elemen 4 beton -291.00 .750 -218.25
V
5
Elemen 5 beton -48.50 1.400 -67.90
V
6
Elemen 6 beton -77.60 1.200 -93.12
V
7
Tekanan tanah aktif -1492.00 .800 -119.3.60
H
8
Tekanan tanah aktif 0.00 .900 0.00
V
9
Tekanan tanah surcharge -16.01 1.500 -24.01
H
10
Tekanan tanah surcharge 22.86 1.200 27.43
V
11
Gaya vertikal Kombinasi 1 -72.03 1.500 -108.04
V
12
Gaya horizontal Kombinasi 1 102.87 .800 82.29
V
15
Gempa elemen 3 (sebagian) .00 .267 0.00
V
16
Gempa elemen 4 .00 .400 0.00
V
17
Gempa elemen 5 .00 1.300 0.00
V
18
Gempa elemen 6 .00 1.600 0.00
V
19
Tekanan tanah gempa .00 1.500 0.00
V
20
Tekanan tanah gempa .00 1.600 0.00
Total gaya vertikal pada potongan 1 = -1903.5 kN
Total momen terhadap tepi kanan pada potongan 1 = -1595.2 kN-meter

Eksentrisitas pada potongan 1 dihitung sebagai
5 . 1903
2 . 1595
2
5 . 1
2
− · − ·

V
M B
eks
net
=0.09 meter
Tegangan pada potongan dihitung dengan rumus berikut.

,
_

¸
¸ ∗
t ·

B
eks
BL
V
q
mak
6
1
min
Tegangan maksimum pada potongan = 176.9 kN/m2
Tegangan minimum pada potongan = 84.8 kN/m2
Nilai tegangan positif pada potongan menunjukkan tegangan tekan. Tegangan minimum
yang terjadi ternyata lebih besar dari 0, yang artinya pada potongan 1 tersebut semua
tegangan yang terjadi adalah tekan, sehingga memenuhi persyaratan
Lampiran : Pedoman Penggunaan Software Komputer II - 14
Survey dan Disain Jembatan
2.7.9.2 Pengecekan Tegangan Pada Elevasi 0.55 meter Dari Dasar Pondasi
Lebar penampang pada elevasi tersebut adalah 1.5 meter. Dengan cara yang sama seperti
diatas dapat ditentukan tekanan tanah yang terjadi sehingga dapat dihitung besarnya gaya-
gaya yang bekerja pada potongan 2. Gaya-gaya yang terjadi ditabelkan sebagai berikut
Kode deskripsi
Gaya
(kN)
Lengan gaya ke
tepi potongan (m)
Momen
(kN-meter)
V
2
Elemen 2 pasangan batu (sebagian) -17.46 .750 -13.10
V
3
Elemen 3 pasangan batu (sebagian) 0.00 1.500 0.00
V
4
Elemen 4 beton -291.00 .750 -218.25
V
5
Elemen 5 beton -48.50 1.400 -67.90
V
6
Elemen 6 beton -77.60 1.200 -93.12
V
7
Tekanan tanah aktif -1492.00 .800 -1193.60
H
8
Tekanan tanah aktif 0.00 .550 0.00
V
9
Tekanan tanah surcharge -16.34 1.500 -24.51
H
10
Tekanan tanah surcharge 23.34 1.225 28.59
V
11
Gaya vertikal Komb. 1 -75.06 1.500 -112.59
V
12
Gaya horisontak Komb. 1 107.20 .817 87.54
V
14
Gempa elemen 2 (sebagian) 0.00 .225 0.00
V
15
Gempa elemen 3 (sebagian) 0.00 .283 0.00
V
16
Gempa elemen 4 0.00 .050 0.00
V
17
Gempa elemen 5 0.00 .950 0.00
V
18
Gempa elemen 6 0.00 1.250 0.00
V
19
Tekanan tanah gempa 0.00 1.500 0.00
V
20
Tekanan tanah gempa 0.00 1.633 0.00
Total gaya vertikal pada potongan 2 = -2018.0 kN
Total momen terhadap tepi kanan pada potongan 2 = -1608.9 kN-meter

Eksentrisitas pada potongan 2 dihitung sebagai
0 . 2018
9 . 1606
2
5 . 1
2
− · − ·

V
M B
eks
net
=0.05 meter
Tegangan pada potongan dihitung dengan rumus berikut

,
_

¸
¸ ∗
t ·

B
eks
BL
V
q
mak
6
1
min
Tegangan maksimum pada potongan 2 = 164.4 kN/m2
Tegangan minimum pada potongan 2 = 113.0 kN/m2
Lampiran : Pedoman Penggunaan Software Komputer II - 15
Survey dan Disain Jembatan
Nilai tegangan positif pada potongan menunjukkan tegangan tekan. Tegangan minimum
yang terjadi ternyata lebih besar dari 0, yang artinya pada potongan 2 tersebut semua
tegangan yang terjadi adalah tekan, sehingga memenuhi persyaratan
2.7.9.3 Pengecekan Tegangan Pada Elevasi 0.55 meter Dari Dasar Pondasi
Lebar penampang pada elevasi tersebut adalah 1.5 meter. Dengan cara yang sama seperti
diatas dapat ditentukan tekanan tanah yang terjadi sehingga dapat dihitung besarnya gaya-
gaya yang bekerja pada potongan 3. Gaya-gaya yang terjadi ditabelkan sebagai berikut

Kode deskripsi
Gaya
(kN)
Lengan gaya ke
tepi potongan (m)
Momen
(kN-meter)
V
2
Elemen 2 pasangan batu (sebagian) -34.92 .750 -26.19
V
3
Elemen 3 pasangan batu (sebagian) 0.00 1.500 0.00
V
4
Elemen 4 beton -291.00 .750 -218.25
V
5
Elemen 5 beton -48.50 1.400 -67.90
V
6
Elemen 6 beton -77.60 1.200 -93.12
V
7
Tekanan tanah aktif -1492.00 .800 -1193.60
H
8
Tekanan tanah aktif 0.00 1.000 0.00
V
9
Tekanan tanah surcharge -16.67 1.500 -25.01
H
10
Tekanan tanah surcharge 23.81 1.250 29.76
V
11
Gaya Vertikal Kombinasi 1 -78.15 1.500 -117.23
V
12
Gaya Horisontak Kombinasi 1 111.62 .833 93.01
V
14
Gempa elemen 2 (sebagian) 0.00 .050 0.00
V
15
Gempa elemen 3 (sebagian) 0.00 .300 0.00
V
16
Gempa elemen 4 0.00 .500 0.00
V
17
Gempa elemen 5 0.00 1.400 0.00
V
18
Gempa elemen 6 0.00 1.700 0.00
V
19
Tekanan tanah gempa 0.00 1.500 0.00
V
20
Tekanan tanah gempa 0.00 1.667 0.00
Total gaya vertikal pada potongan 3 = -2038.8 kN
Total momen terhadap tepi kanan pada potongan 3 = -1618.5 kN-meter

Eksentrisitas pada potongan 3 dihitung sebagai
5 . 1618
8 . 2038
2
5 . 1
2
− · − ·

V
M B
eks
net
=0.04 meter
Teganan pada potongan dihitung dengan rumus berikut

,
_

¸
¸ ∗
t ·

B
eks
BL
V
q
mak
6
1
min
Tegangan maksimum pada potongan 3 = 164.7 kN/m2
Lampiran : Pedoman Penggunaan Software Komputer II - 16
Survey dan Disain Jembatan
Tegangan minimum pada potongan 3 = 115.6 kN/m2
Nilai tegangan positif pada potongan menunjukkan tegangan tekan. Tegangan minimum
yang terjadi ternyata lebih besar dari 0, yang artinya pada potongan 3 tersebut semua
tegangan yang terjadi adalah tekan, sehingga memenuhi persyaratan.
Lampiran : Pedoman Penggunaan Software Komputer II - 17