You are on page 1of 14

LAPORAN PENDAHULUAN ( BBLR ) 2.

1 DEFINISI Bayi berat lahir rendah ( BBLR ) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram ( berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir). Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram pada waktu lahir. BBLR adalah bayi baru lahir dengan BB 2500 gram/ lebih rendah (WHO 1961) Ada dua macam BBLR yaitu : 1. Prematuritas murni / Bayi yang kurang bulan ( KB / SMK ): bayi yang dilahirkan dengan umur kurang dari 37 minggu dengan berat badan sesuai. 2. Dismaturitas / Retardasi pertumbuhan janin intra uterin (IUGR)/Bayi kecil masa kehamilan ( KMK ) : bayi yang dilahirkan dengan berat badan lahir kurang dari persentie ke-10 kurva pertumbuhan janin dan tidak sesuai dengan usia kehamilan.. Sedangkan Bayi dengan berat lahir kurang dari 1500 gram disebut bayi berat lahir sangat rendah ( BBLSR ). Penggolongan derajat prematuritas bayi 1. Bayi yang sangat prematur (extremly prematur) a) b) 24 – 30 mg gestasi Masa gestasi 24-27 mg masih sukar hidup terutama dinegara yang blm maju.

c) Masa gestasi 28-30 mg mgk dapat hidup dengan perawatan intensif yang memerlukan alat-alat canggih untuk mencapai hasil yang optimum d) e) BB 500-1400 gram 0,8% seluruh kelahiran hidup

f) Hampir seluruh kematian neonatal dan defisit neurologis tidak disebabkan oleh defek atau trauma lahir g) Penampilan: kecil, tidak memiliki lemak, kulit sangat tipis

1. Bayi dg derajat prematur sedang (moderatly prematur) 1. Gestasi 31-36 mg

hipertensi .2. Penampilan: kulit tipis. Social ekonomi : Malnutrisi dan antenatal yang kurang b) Faktor janin 1. Borderline prematur Prosentase Kematian 1. BB >1500 gram – 2500 gram 5. Gejala sisa yang dihadapi kemudian hari ringan bila pengelolaan bayi intensif 4. 6%-7% seluruh kelahiran hidup 6. Faktor penyakit (toksemia gravidarum. psikologis dll) 2. Biasanya berat seperti bayi matur dan dikelola seperti bayi matur 10. Gestasi 29 minggu: survive 80% 4. Kesanggupan hidup jauh lebih baik dari yang pertama 3. Masa gestasi 37mg 8. Mempunyai sifat prematur dan matur 9. Faktor ibu a) penyakit jantung. Umur ibu pada dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun dan pada multigravida Jarak kelahian terlalu dekat 3. genetalia kurang berkembang 7. refleks isap lemah 11.infeksi akut. hiperbilirubinemia. trauma fisik. Gestasi 27-28 minggu: survive 50% 3. banyak rambut halus. Gestasi 30 minggu: survive 85% 2. Kehamilan multiple/ganda Penyebab bayi lahir dismature : 1.2 ETIOLOGI Penyebab bayi lahir premature : a) Faktor Ibu : 1.DM. Kadang timbul problem yang dialami seperti bayi prematur seperti sindroma gawat napas. penyakit ginjal kronis. lipatan pada kaki lebih sedikit. Gestasi kurang dari 24 mg : umumnya meninggal 2. Perlu penanganan lebih seksama 1. Hydroamnion 2.

Faktor uterus dan plasentak: kelainan pembuluh darah. kering. Rambut tipis. pelipis. Banyak tidur. Kulit berselubung verniks kaseosa tipis/tak ada. kelainan kromosom.3 TANDA–TANDAKLINIS Gambaran klinis BBLR secara umum adalah : a) Prematuritas murni 1. menelan dan batuk belum sempurna b) Dismaturitas 1. bayi tampak gesit. 2. keriput. infark plasenta dll 2. LD < 30 cm 2. LK < 33 cm. infeksi dalam kandungan (TORCH) 3. tinggal di pegunungan) d) Malnutrisi e) Bahan teratogonik ( alcohol. lemak subkutan kurang. tangis lemah. reflek menghisap. BB < 2500 gram. puting susu belum terbentuk dengan baik 9. halus. Jaringan lemak di bawah kulit tipis. peristaltik usus dapat terlihat 8. Lanugo banyak terdapat terutama pada daerah dahi. insersi tali pusat yang tidak normal. PB < 45 cm. posisi masih posisi fetal. pada wanita labia minora belum tertutup oleh labia mayora. Masa gestasi < 37 minggu 3. Faktor sosek 2. Tulang rawan telinga belum sempurna. rajah tangan belum sempurna 7. mengkilap dan licin 4. obat ) 1. Reflek tonus leher lemah. Kulit pucat bernoda mekonium. aktif dan kuat . Kepala lebih besar dari pada badan. 6. ubun-ubun dan sutura lebar 5.b) Ibu DM berat c) Hipoksia ibu (penyakit paru kronis. tipis 3. Genetalia belum sempurna. Pembuluh darah kulit banyak terlihat. sebagian plasenta lepas. teranyam. pernafasan belum teratur dan sering mengalami apnea. Faktor janin: kehamilan ganda. kulit tipis transparan. Bayi kecil. otot masih hipotonik 11. telinga dan lengan. radiasi. hemoglobinopat. pergerakan kurang dan lemah 10. pada laki-laki testis belum turun.

Hal ini disebabkan oleh karena bayi BBLR sering menderita apnea. Hal ini disebabkan kekurangan surfactan(rasio lesitin/sfingomielin kurang dari 2). 6. Penyakit gangguan pernafasan yang sering pada bayi BBLR adalah penyakit membran hialin dan aspirasi pneumoni. Produksi urine yang sedikit. urea clearence yang rendah. Gangguan imunologok. Ginjal yang immatur baik secara anatomis maupun fungsinya. Luasnya perdarahan intraventrikuler 10.4. fibrosis. Perdarahan mudahbterjadi karena pembuluh darah yang rapuh(fragile). otot yang tidak aktif. 4. faktor VII dan faktor christmas. Gangguan pernafasan yang sering menimbulkan penyakit berat pada BBLR. daya untuk mencernakan dan mengabsorbsi lemak. pertumbuhan dan pengembangan paru yang belum sempurna. Bayi prematur relatif belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap infeksi masih belum baik 9. tidak sanggup mengurangi kelebihan airtubuh dan elektrolit dari badan dengan akibat mudah terjadi edema dan asidosis metabolik. otot pernafasan yang masih lemah yang tulang iga yang mudah melengkung(pliable thorak) 3. 2. distorsi dan parut retina sehingga bayi menjadi buta. Retrolental Fibroplasia : dengan menggunakan oksigen dengan konsentrasi tinggi(PaO2 lebih dari 115 mmHg : 15 kPa) maka akan terjadi vasokonstriksi pembuluh darah retina yang diikuti oleh proliferasi kapiler-kapiler baru kedaerah yang iskemi sehingga terjadi perdarahan. Gangguan alat pencernaan dan problema nutrisi.vitamin yang larut dalam lemakdan bebberapa mineral tertentu berkurang. permukaan tubuh relatif lebih luas dibandingkan dengan berat badan. Untuk menghindari retrolental fibroplasia maka oksigen yang diberikan pada bayi prematur tidak . Perdarahan intraventrikuler. 5. Immatur hati memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia dan defisiensi vitamin K. laktosa. daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang karena rendahya kadar Ig G gamma globulin. Suhu tubuh yang tidak stabil oleh karena kesulitan mempertahankan suhu tubuh yang disebabkan oleh penguapan yag bertambah akibat dari kurangnya jaringan lemak dibawah kulit.produksi panas yang berkurang oleh karena lemak coklat (brown fat) yang belum cukup serta pusat pengaturan suhu yang belum berfungsi sebagaimana mestinya. Kerja dari sfingter kardio esofagus yang belum sempurna memudahkan terjadinya regurgitasi isi lambung ke esofagus dan mudah terjadi asspirasi. kekurangan faktor pembekuan seperti protrombine. 7. 8.asfuksia berat dan sindroma gangguan pernafasan.4 PROBLEMATIK BBLR Dengan kurang sempurnanya alat-alat dalam tubuhnya baik anatomis maupun fisiologis maka mudah timbul beberapa kelainan seperti berikut ini : 1. distensi abdomen akibat dari motilitas usus berkurang. lebih dari 50% bayi prematur menderita perdarahan intraventrikuler. volume lambung berkurang sehingga waktu pengosongan lambung bertambah. Tali pusat berwarna kuning kehijauan 2.

50 C s/d 370 C.20C untuk bayi yang lebih kecil. Sebelum memasukkan bayi kedalam incubator. maka semakin besar perawatan yang diperlukan. untuk bayi dengan berat 1. mempunyai kesulitan dalam mempertahankan suhu tubuh.7 kg dan 32.4 0 C. asal suhu rectal dipertahankan antara 35.6 PENATALAKSANAAN a) Penanganan bayi Semakin kecil bayi dan semakin premature bayi. Suhu perawatan harus diatas 25 0 C. 2. Bayi akan berkembang secara memuaskan. Bayi berat rendah yang dirawat dalam suatu tempat tidur terbuka. Bayi dirawat dalam keadaan . juga memerlukan pengendalian lingkungan secara seksama. Bayi berat rendah harus diasuh dalam suatu suhu lingkungan dimana suhu normal tubuhnya dipertahankan dengan usaha metabolic yang minimal. Semua perawatan bayi harus dilakukan didalam incubator b) Pelestarian suhu tubuh Bayi dengan berat lahir rendah. bagi bayi yang berat sekitar 2000 gram. dan sampai 300 C untuk bayi dengan berat kurang dari 2000 gram c) Inkubator Bayi dengan berat badan lahir rendah. dirawat didalam incubator. sampai sekitar 29.boleh lebih dati 40%. Prosedur perawatan dapat dilakukan melalui “jendela“ atau “lengan baju“. Hal ini dapat dicapai dengan memberikan oksigen dengan kecepatan 2 liter permenit. karena kemungkinan terjadi serangan sianosis lebih besar. incubator terlebih dahulu dihangatkan.5 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK a) Pemeriksaan glucose darah terhadap hipoglikemia b) c) d) e) f) Pemantauan gas darah sesuai kebutuhan Titer Torch sesuai indikasi Pemeriksaan kromosom sesuai indikasi Pemantauan elektrolit Pemeriksaan sinar X sesuai kebutuhan ( missal : foto thorax ) 2.

cuci tangan sebelum dan sesudah merawat bayi. terutama pada bayi yang reflek hisap dan menelannya lemah. Biasanya bayi dipulangkan dengan berat badan lebih dari 2000 gram dan semua masalah berat sudah teratasi. d) Pemberian oksigen Ekspansi paru yang buruk merupakan masalah serius bagi bayi preterm BBLR. akibat tidak adanya alveoli dan surfaktan. bayi dapat bergerak tanpa dibatasi pakaian. makin besar kemungkinan terjadi kecerdasan berkurang dan gangguan neurologik. enterokolitis nekrotikans. Konsentrasi O2 yang diberikan sekitar 30. baik dengan botol maupum putting susu ibu.telanjang. Bayi berat lahir rendah secara relative memerlukan lebih banyak kalori. perawat harus menggunakan gaun khusus. f) Pemberian makanan Pemberian makanan secara dini dianjurkan untuk membantu mencegah terjadinya hipoglikemia dan hiperbillirubin. memakai masker.2500 gram adalah 95 %. gunakan gaun/jas. ASI merupakan pilihan pertama. ia mempunyai sedikit atau tidak memiliki ketahanan terhadap infeksi. lepaskan semua asessoris dan tidak boleh masuk kekamar bayi dalam keadaan infeksi dan sakit kulit. 2. mempunyai system imunologi yang kurang berkembang. makin imatur dan makin rendah berat lahir bayi. atau infeksi sekunder.7 PROGNOSIS Pada saat ini harapan hidup bayi dengan berat 1501. Pada BBLR .35 % dengan menggunakan head box. observasi terhadap pernafasan lebih mudah. Kematian diduga karena displasia bronkhopulmonal. dibandingkan dengan bayi preterm. Selain itu kenaikan berat badan berkisar antara 10 – 30 gram / hari dan suhu tubuh tetap normal diruang biasa. tetapi berat bayi kurang dari 1500 gram masih mempunyai angka kematian yang tinggi.9 PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN . konsentrasi O2 yang tinggi dalam masa yang panjang akan menyebabkan kerusakan pada jaringan retina bayi yang dapat menimbulkan kebutaan e) Pencegahan infeksi Bayi preterm dengan berat rendah. dapat diberikan melalui kateter ( sonde ). hal ini memungkinkan pernafasan yang adekuat. 2. Untuk mencegah infeksi. BBLR yang tidak mempunyai cacat bawaan selama 2 tahun pertama akan mengalami pertumbuhan fisik yang mendekati bayi cukup bulan dengan berat sesuai masa gestasi. 2.8 MEMULANGKAN BAYI Sebelum pulang bayi sudah harus mampu minum sendiri.

APGAR SKORE 4. Berat badan kurang 2500(5lb 8 oz). Sistem gastrointestinal 1. Kehamilan ganda ( gemeli) 3. Saat lahir mungkin terdapat murmur: indikasi adanya shunt ke kiri dan tekanan paru yang masih tinggi atau adanya atelektasis 4. plasenta previa dll 7. ikterik. Anus: paten. 3. BB : < 2500 gram 3. Sistem integumen 1. Refleks hisap lemah. Infeksi: TORCH. Status ekonomi rendah. Riwayat Maternal 1. 4. alkohol.37 minggu 2. 6. Tulang rawan telinga (Cartilago ear) belum berkembang. Adanya riwayat kelahiran prematur sebelumnya 5. KPD. Abdomen menonjol 2. 1. kutis marmorata atau kemerahan 2. Kulit: pucat. Garis tangan sedikit dan halus 8. Kondisi kehamilan: toksemia gravidarum. Kulit tipis. Terdapat edema umum atau lokal 5. jika tidak pertanda kelainan kongenital 5. Pengeluaran mekonium: 12-24 jam 3. 1. 5. penyakit kelamin dll 6. Penggunaan Narkoba. Sistem kardiovaskuler 2. sianosis. 6. Riwayat Kelahiran 1. halus dan licin 3. Kuku pendek 6. rokok 8. HR : 120-160 x/menit 3. 2. koordinasi mengisap dan menelan lemah 4. Rambut sedikit dan halus 7. Sistem muskuloskeletal 1. 9. PENGKAJIAN 1. transparan. Gestasi : 24. Umur ibu dalam resiko kehamilan ( < 16 thn atau > 35 thn) 2.1. A. Verniks caseosa sedikit dengan lanugo banyak 4. telinga halus dan lunak . malnutrisi dan ANC kurang 4.

pernafasan cuping hidung. Pemeriksaan Dubowitz menandakan usia gestasi antara minggu 24 dan 37. Lanugo terdistribusi secara luas diseluruh tubuh. akrosianosis. sutura mungkin mudah digerakan. DIAGNOSA YANG MUNGKIN MUNCUL 2. Reflek kurang dan letargi 4. lemas dengan perut agak gendut. rugae mungkin banyak atau tidak ada pada skrotum. mungkin ada kaput suksedoneum. 7. kurus. dengan klitoris menonjol . Pernafasan Skor apgar mungkin rendah. 9. Ekstremitas mungkin tampak edema. Kulit kemerahan atau tembus pandang. Adanya bunyi “ampelas” pada auskultasi. 1. atau berbagai derajat sianosis mungkin ada. Mengorok. Refleks tergantung pada usia gestasi . rooting terjadi dengan baik pada gestasi minggu 32. Seksualitas Genetalia : Labia minora wanita mungkin lebih besar dari labia mayora. fontanel mungkin besar atau terbuka lebar. Tulang kepala dan tulang rusuk lunak 3. . Tidak efektifnya pola nafas b. Menangis mungkin lemah.2. 1. tidak teratur. Garis telapak kaki mungkin tidak ada pada semua atau sebagian telapak. mata mungkin merapat(tergantung usia gestasi). 10. 8. testis pria mungkin tidak turun. Resiko tinggi tidak efektifnya terumoregulasi : hipotermi berhubungan dengan mekanisme pengaturan suhu tubuh immatur. muda/kebiruan.d imaturitas fungsi paru dan neuromuskuler 3. Edema kelopak mata umum terjadi. komponen keduaa(fleksi anterior dan menangis yang dapat didengar) tampak pada gestasi minggu ke 32. Kuku mungkin pendek. Ukuran kepala besar dalam hubungannya dengan tubuh. dan bernafas biasanya terbentuk pada gestasi minggu ke 32. koordinasi refleks untuk menghisap. menelan. Pernafasan mungkin dangkal.Wajah mungkin memar. menandakan adaya sindrom distress pernafasan (RDS). Neuroensori Tubuh panjang. 1. pernafasan diafragmatik intermiten atau periodik(40-60x/mt). Gangguan pertukaran gas b/d kurangnya ventilasi alveolar sekunder terhadap defisiensi surfaktan 4. atau sianosis/pucat. B. retraksi suprasternal dan substernal. Keamanan Suhu berfluktuasi dengan mudah. 1. komponen pertama dari refleks Moro(ekstensi lateral dari ekstremitas atas dengan membuka tangan)tampak pada gestasi minggu ke 28. warna mungkin merah.

5. Dx. Observasi frekuensi dan bunyi nafas Hasil : 3. imobilisasi. Observasi warna kulit  Tidak 4. taktil b/d stimulus yang kurang atau berlebihan dari lingkungan perawatan intensif 11. Resiko tinggi gangguan keseimbangan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d ketidakmampuan ginjal mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit 6. penciuman. kurang pengetahuan 1. Ukur saturasi oksigen sianosis. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan lemahnya daya cerna dan absorbsi makanan (imaturitas saluran cerna).d defisiensi pertahanan tubuh (imunologi).  Sianosis (-) 5. Kecemasan orang tua b. 8. Whezing (-) 7. Kolaborasi dengan tenaga medis lainnya. Observasi tanda-tanda perburukan  Analisa gas pernafasan darah 6. Tidak efektifnya pola nafas b. 9.  RR 30-60 4.d tipisnya jaringan kulit. pendengaran. Monitor dengan teliti hasil pemeriksaan x/mnt gas darah.d situasi krisis. 7. Observasi pola Nafas. 10.5. C. Beri O2 sesuai program dokter  Perencanaan 1. Gangguan persepsi-sensori : penglihatan. 2 Gangguan pertukaran gas b/d kurangnya ventilasi alveolar sekunder terhadap defisiensi surfaktan Pertukaran gas 1. Lapor dokter apabila terdapat tandanormal tanda perburukan pernafasan  Saturasi .  Ronchi (-) 6. Resiko tinggi injuri susunan saraf pusat b/d hipoksia 9. Resiko tinggi terjadi gangguan perfusi jaringan b/d imaturitas fungsi kardiovaskuler 8. Kriteria 2. Lakukan isap lendir kalau perlu 2. Keperawatan Tujuan 1. Atur ventilasi ruangan tempat perawatan klien.d imaturitas fungsi paru dan neuro muscular Pola nafas efektif. Tempatkan kepala pada posisi  Sesak (-) hiperekstensi. 10. Observasi respon bayi terhadap ventilator dan terapi O2. Resiko gangguan integritas kulit b. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN No. Observasi adanya sianosis. Resiko infeksi b. Berikan oksigen dengan metode yang adekuat sesuai Kriteria : 3.

Observasi reflek hisap dan menelan.Kriteria 3. Monitor tanda-tanda intoleransi terhadap nutrisi parenteral. Hasil :  Suhu 364. 5. gangguan Kriteria: keseimbangan 3. 1. 7. 6. 1. Pasang NGT bila reflek menghisap dan menelan tidak ada.  Ekstremitas hangat 4 1.  Kulit hangat. Monitor tanda-tanda Hipertermi.  Turgor kulit keseimbangan elastik cairan dan 4. Catat intake dan output Kolaborasi dalam pemberian cairan intra vena dan elektrolit Kolaborasi dalam pemeriksaan elektrolit darah 5.oksigen normal. Awasi dan atur control temperature dalam incubator sesuai kebutuhan. Observasi intake dan output. Tempatkan bayi pada incubator.  Tidak ada elektrolit b/d edema ktidakmampuan  Produksi ginjal urin 1-2 mempertahankan cc/kgbb/jm keseimbangan  Elektrolit cairan dan darah dalam batas elektrolit normal Resiko gangguan Nutrisi nutrisi kurang terpenuhi dari kebutuhan setelahKriteria b. Hindari bayi dari pengaruh yang dapat menurunkan suhu tubuh. 3. Resiko tinggi Hidrasi baik 2. Kolaborasi dalam pemeriksaan surfaktan Observasi tanda-tanda vital. Observasi adanya sianosis. Suhu tubuh 2.d hasil : ketidakmampuan  Reflek hisap dan mencerna nutrisi menelan (Imaturitas baik saluran cerna)  Muntah (-)  Observasi turgor kulit. Beri minum sesuai program 4. Kolaborasi dalam pemeriksaan analisa gas darah 8. ) . Ganti pakaian setiap basah.  Sianosis (-) 7. Kaji kesiapan untuk pemberian nutrisi enteral Kembung (7. 37C. 3 Resiko tinggi tidak efektifnya terumoregulasi : hipotermi berhubungan dengan mekanisme pengaturan suhu tubuh immatur. 5. 2. Kaji kesiapan ibu untuk menyusu. 6. kembali normal.

Cegah terjadinya hipoksia Akral hangat & 2.Kriteria:  Kesadaran composme ntis Gerakan aktif dan terkoordina si Tidak ada kejang ataupun twitching Tidak ada tangisan    . Timbang BB setiap hari. Observasi pengisian kembali kapiler 4. Ukur tekanan darah kalau perlu 2. Kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium kembali kapiler <2 6.  BAB lancer 8. Observasi adanya kejang Kesadaran 6. Observasi warna dan suhu kulit 3. Observasi tangisan bayi urin 1-2 cc/kgbb/jm 5. Observasi adanya edema perifer  6 7 Resiko tinggi terjadi gangguan perfusi jaringan b/d imaturitas fungsi kardiovaskuler Resiko tinggi injuri susunan saraf pusat b/d hipoksia Perfusi jaringan baik  Tekanan darah normal     Pengisian 5. Lapor dokter apabila ditemukan kelainan pada saat observasi composme ntis 7. Observasi kesadaran dan aktifitas bayi Produksi 4. 1. Kolaborasi dalam pemeriksaan USG Tidak ada kepala injuri. Ukur lingkar kepala kalau perlu 8. Berat badan meningkat 15 gr/hr Turgor elastis. Ukur saturasi oksigen tak sianosis 3. Kolaborasi dalam pemberian obat-obatan detik 1.

d Infeksi tidak defisiensi terjadi. 7. Jaga kebersihan tempat tidur.Kriteria pertahanan Hasil :  Suhu 36tubuh 37C (imunologi)  Tidak ada tandatanda infeksi. 3. Resiko infeksi b. Kolaborasi dengan dokter.melengking  Hasil USG kepala dalam batas normal 1.sasi.d tipisnya jaringan kulit. Kriteria : pendengaran. Lakukan tindakan secara aseptic dan antiseptic. Cegah kontak dengan orang yang terinfeksi. pada kulit. tanda infeksi (-) 9. Jaga kebersihan kulit bayi. Gangguan Persepsi dan persepsi-sensori : sensori baik penglihatan. Kaji tanda-tanda infeksi.00010. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi. Observasi vital sign. Kurangi suara monitor jika memungkinkan 10. 7.  Leukosit 5. Monitor suhu dalam incubator.537 C   Tidak ada 5. Ganti pakaian setiap basah. Mengajak bayi berbicara atau merangsang pendengaran bayi dengan memutarkan lagu-lagu yang lembut 3.000 9 Resiko gangguan integritas kulit b. Gunakan masker setiap kontak dengan bayi. Berikan antibiotic sesuai program. Tanda8. lecet atau kemerahan 6. 5. Observasi tekstur dan warna kulit. 1. Memberikan rangsang cahaya pada mata 4. penciuman. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi. Lakukan mobilisasi tiap 2 jam. 4. 3. 1. Gangguan integritas kulit tidak terjadi Kriteria hasil :  Suhu 36. taktil  Bayi berespon b/d stimulus terhadap yang kurang atau stimulus berlebihan dari . 8. 8. 6. Isolasi bayi dengan bayi lain. Pastikan semua perawatan yang kontak dengan bayi dalam keadaan bersih/steril. 2. 4. Membelai bayi sebelum malakukan tindakan 2. 2. imobili.

 DAFTAR PUSTAKA 1. Latih orang tua tentang cara-cara tidak perawatan bayi dirumah sebelum bayi bertanyapulang.O. Kliegman & Arvin. L C dan Sowden. Dasar-dasar Keperawatan Maternitas. L A. 3. Berikan support dan reinforcement atas apa yang dapat dicapai oleh orang tua. 2000. Kus. Orang tua brpartisipas i dalam proses perawatan. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ketiga Jilid 1.d kurang berkurang pengetahuan Kriteria hasil :  Orang tua orang tua dan tampak kondisi krisis. 10. 1999. Gaffar. Ngastiyah. Struktur Dan Fungsi Tubuh Manusia Untuk Paramedis. Jumadi. 5. Samik Wahab. Beri penjelasan tentang keadaan bayinya. 4. Jakarta : EGC. 8. Irianto. Jakarta : EGC. 11. Keperawatan Pediatri Edisi 3. 2004.H Markum. Kaji tingkat pengetahuan orang tua 2. Jakarta : EGC. Laksman. Jakarta: EGC. Edisi 2. L. Heri. Jakarta : Djambaran. 1998. 3. Orang tua 5. Jakarta : EGC. Berhman. (2002). (1999). T. Dr.dkk.Bandung : FKU Padjadjaran. Friedman. Jakarta : EGC. Alih Bahasa : A. dkk. Arif. Kamus Kedokteran. 4. 2003. . Jakarta : FKUI 2. Kecemasan orang Cemas tua b. 1997. Mansjoer. Bandung : Yrama Widya. Jakarta : EGC. tenang  5. Keperawatan Keluarga. Pengantar Keperawatan Profesional. 2001. Lakukan stimulas untuk refleks menghisap dan menelan dengan memasang dot 1. Libatkan keluarga dalam perawatan bayinya. Hendra. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. 6. Perawatan Anak Sakit. Drs. tanya lagi. A. Persis Mary Hamilton. Betz. Garna. Ilmu Kesehatan Anak. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak Edisi Ke dua. Jilid 1. 9. (1996). 7.lingkungan perawatan intensif 11. 2002.

2004. SpOG 2005.Kep. 2004. ILMU KEBIDANAN. DR. Ilmu Kesehatan Anak 1. The American Academy Of Pediatrics. 2002. Steven P dan Hannemann. 15. Supartini. dr. Prawirohardjo. Sarwono. Jakarta YBP-SP 13. Robert E. Panduan Lengkap Perawatan Bayi Dan Balita. Shelov. Yupi.12.Jakarta : ARCAN. S. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. . MSc. Jakarta : FKUI. Jakarta : EGC. 14. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak.