You are on page 1of 31

Oleh: Masrida Sinaga, SKM, M.Kes.

Seks/jenis kelamin (identitas biologis): Karakteristik genetik/fisiologik atau biologis/seseorang yg menunjukkan apakah dia seorang perempuan atau laki-laki Gender: perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam peran, fungsi, hak, tanggung jawab, dan perilaku yg dibentuk oleh tata nilai sosial, budaya dan adat istiadat.

LAKI-LAKI CIRI CIRI FISIK UTAMA `Penis `Zakar `Sperma

PEREMPUAN `Vagina `Sel telur `Payudara

CIRI CIRI FISIK TAMBAHAN

`Jakun `Kulit halus `Kumis dan `Pinggul jenggot besar `dada bidang

Jenis kelamin Tidak dpt dirubah

Contoh Alat kelamin laki dan wanita

Gender Dapat berubah

Contoh Peran dlm kegiatan sehari-hari,seperti di rmh perempuan memasak, tetapi di restoran banyak lakilaki yang jadi juru masak

Tidak dpt ditukar

Jakun pd laki dan payudara pd wanita

Dpt dipertukar kan

Jenis kelamin

Contoh

Gender

Contoh

Berlaku sepanjang masa

Status Tergantung Di pulau Jawa sebagai budaya dan Jaman Belanda kebiasaan Laki-laki Wanita tdk atau memperoleh hak perempuan pendidikan. Setelah merdeka mempunyai Kebebasan mengikuti pendidikan

Jenis kelamin
Berlaku di mana saja

Contoh
Di rumah, dikantor, dan dimanapun berada , seorang laki-laki dan perempuan tetap laki-laki dan perempuan

Gender
Tergantung budaya setempat

Contoh
Pembatasan kesempatan di bidang pekerjaan terhadap perempuan dikarenakan budaya setempat misalnya: perempuan diutamakan utk mjd perawat, guru tk, pengasuh anak

Jenis Contoh Gender Contoh kelamin Merupakan Laki-laki Bukan Pengaturan kodrat mempunyai merupakan jumlah Tuhan ciri-ciri kodrat anak utama yg Tuhan dlm suatu berbeda dg keluarga ciri-ciri utama perempuan , misal jakun

Jenis kelamin Ciptaan Tuhan

Contoh

Gender

Contoh
Laki-laki dan perempuan berhak mjd Calon ketua RT, Kades, bahkan Presiden

Perempuan Buatan biasanya manusia haid, hamil, melahirkan, dan menyusui, sedangkan laki-laki tdk

Bias gender: suatu pandangan yang membedakan peran, kedudukan, serta tanggung jawab laki-laki dan perempuan dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan pembangunan

Perbedaan peran dan fungsi antara laki-laki dan perempuan atau yang lebih tinggi dikenal dengan perbedaan gender yang terjadi di masyarakat tidak menjadi suatu permasalahan sepanjang perbedaan tersebut tidak mengakibatkan diskriminasi atau ketidakadilan

Gender sering melahirkan perilaku diskriminatif yang akan menimbulkan dampak negatif, yaitu:
1. Steriotipe (pembakuan seperti: nilai baku, peran baku dan citra baku) 2. Subordinasi (pembawahan dalam hal status, kedudukan, fungsi, peran, hak dan kewajiban, hukum)

3. Marginalisasi (tersingkir dari arus utama dalam hal ekonomi, pendidikan, media, kesehatan, sosial dan politik) 4. Beban ganda (pembebanan yang berlipat ganda) 5. Kekerasan (fisik, psikis, ekonomi)

Adalah pelabelan (terhadap jenis kelamin tertentu) atau penandaan yang seringkali bersifat negatif, secara umum seringkali melahirkan ketidakadilan. Misalnya: pandangan terhadap perempuan, bahwa tugas dan fungsinya melaksanakan pekerjaan yang berkaitan dengan kerumahtanggaan atau tugas domestik.

Perempuan dianggap cengeng, suka digoda. Perempuan tidak rasional, emosional. Perempuan tidak bisa mengambil keputusan penting. Perempuan sebagai ibu rumah tangga dan pencari nafkah tambahan. Laki-laki sebagai pencari nafkah utama.

Akibatnya, ketika perempuan berada di ruang publik, maka jenis pekerjaan dan kegiatannya sering hanyalah merupakan perpanjangan peran domestiknya Contoh: karena perempuan pintar merayu, dianggap lebih tepat bekerja di bagian penjualan Laki-laki dianggap lebih tegas, sehingga lebih tepat kalau jadi pimpinan

Pelabelan sering lebih banyak merugikan perempuan

Adalah adanya keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibanding jenis kelamin lainnya Sejak dahulu ada pandangan yang menempatkan perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Kenyataan masih ada nilai-nilai masyarakat yang membatasi ruang gerak terutama perempuan di berbagai kehidupan Contoh: anak laki-laki dan perempuan tidak punya hak sekolah yang sama

Proses marginalisasi (pemiskinan) terhadap perempuan maupun laki-laki Misalnya: perkembangan teknologi telah menyebabkan apa yang semula dikerjakan secara manual oleh perempuan, diambil alih oleh mesin yang umumnya dikerjakan oleh tenaga laki-laki. Sebaliknya, banyak lapangan pekerjaan yang menutup pintu bagi laki-laki karena anggapan bahwa mereka kurang teliti melakukan pekerjaan yang memerlukan kecermatan dan kesabaran

Guru TK, perawat, pekerja konveksi, buruh pabrik, pembantu rumah tangga dinilai sebagai pekerja rendah, sehingga berpengaruh pada tingkat gaji/upah yang diterima

1. 2.

3. 4. 5.

Pemupukan dan pengendalian hama dengan teknologi baru yang dikerjakan oleh laki-laki Pemotongan padi dengan peralatan mesin yang membutuhkan tenaga dan keterampilan laki-laki, menggantikan tangan-tangan perempuan yang dulu menggunakan ani-ani Usaha konveksi yang lebih suka menyerap tenaga perempuan Peluang menjadi pembantu RT lebih banyak diberikan kepada kaum perempuan Banyak pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan perempuan seperti: guru TK, sekretaris atau perawat yang dinilai lebih rendah dibandingkan pekerjaan laki-laki yang berdampak pada pembedaan gaji yang diterima perempuan

Sebagai suatu bentuk diskriminasi dan ketidakadilan gender adalah beban kerja yang harus dijalankan oleh salah satu jenis kelamin tertentu. Observasi menunjukkan bahwa perempuan mengerjakan hampir 90% dari pekerjaan RT, sehingga bagi mereka yang bekerja di luar rumah, selain bekerja di wilayah publik mereka juga masih harus mengerjakan pekerjaan domestik

1.

2.

Seorang ibu dan anak perempuannya mempunyai tugas untuk menyiapkan makanan dan menyediakan di atas meja, kemudian merapikan kembali sampai mencuci piringpiring kotor. Seorang bapak dan anak laki-laki setelah selesai makan, mereka akan meninggalkan meja makan tanpa berkewajiban mengangkat dan mencuci piring kotor mereka. Beban kerja semacam itu juga terjadi pada lakilaki, contohnya sepulang dari kantor sore hari, pada malam harinya masih harus siskamling untuk memenuhi tugasnya sebagai warga masyarakat setempat

Suatu serangan terhadap fisik maupun mental/psikologi seseorang


Fisik: perkosaan, pemukulan, penyiksaan Non fisik: pelecehan seksual, ancaman, paksaan

1. 2.

Suami membatasi uang belanja dan memonitor pengeluaran secara ketat Istri menghina/mencela kemampuan/kegagalan karier suami

1.

2.

3.

Status kesehatan manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor: Gender berkaitan dengan sikap dan perilaku manusia. Ada perilaku dan sikap yang berdampak negatif terhadap status kesehatan reproduksi manusia Ketidakadilan gender di berbagai aspek kehidupan lebih banyak dialami oleh perempuan dibandingkan laki-laki Kualitas kesehatan perempuan berdampak terhadap kualitas generasi/keturunan dan kondisi sosial ekonomi dan masyarakat

1.

a.

Ketidakmampuan perempuan dalam mengambil keputusan berkaitan dengan kesehatan dirinya. Misalnya: menentukan kapan hamil dan dimana akan melahirkan. Hal tersebut berhubungan dengan kedudukan perempuan yang lemah di keluarga dan masyarakat b. Sikap dan perilaku keluarga yang cenderung mengutamakan laki-laki, misal: 1) dalam mengkonsumsi makanan sehari-hari yang menempatkan bapak/anak laki-laki pada posisi yang diutamakan daripada ibu dan anak perempuan. Hal tersebut sangat merugikan kesehatan perempuan, terutama bila sedang hamil. 2)Tuntutan untuk tetap bekerja keras pada ibu hamil seperti pada saat kondisi tidak hamil. 3) adanya pantangan bagi perempuan yang sedang hamil untuk melakukan kegiatan/makan makanan tertentu yang cukup bergizi

Kesehatan ibu dan bayi (safe motherhood)

2.

a. Kesetaraan berKB yang timpang antara laki-laki dan perempuan. 98% akseptor adalah perempuan yang selalu menjadi target sasaran b. Perempuan tidak mempuanyai kekuatan untuk metode kontrasepsi yang diinginkan, antara lain karena ketergantungan pada keputusan suami, informasi yang kurang lengkap dari petugas kesehatan, penyediaan alat dan obat kontrasepsi yang tidak memadai di tempat pelayanan c. Pengambilan keputusan: partispasi laki-laki dalam berKB sangat kecil dan kurang, namun kontrol terhadap perempuan dalam hal memutuskan untuk berKB sangat dominan d. Ada anggapan bahwa KB adalah urusan perempuan karena kodrat perempuan untuk hamil dan melahirkan

Keluarga Berencana (KB)

a.

b.

Ketidakadilan dalam membagi tanggung jawab, misalnya: pada pergaulan bebas, remaja putri menjadi korban dan menanggung segala akibatnya (seperti: KTD, putus sekolah). Ada kecenderungan untuk menyalahkan pihak perempuan, sedangkan remaja putra seolaholah terbebas dari segala permasalahan, walaupun ikut andil dalam menciptakan permasalahan tersebut Ketidakadilan dalam aspek hukum. Dalam tindakan aborsi illegal, yang diancam oleh sanksi dan hukum adalah perempuan yang menginginkan tindakan aborsi tersebut, sedangkan laki-laki yang menyebabkan kehamilan tidak tersentuh oleh hukum

a.

b.

Perempuan selalu dijadikan obyek intervensi dalam program pemberantasan PMS, walau laki-laki sebagai konsumen justeru memberikan kontribusi yang besar pada permasalahan tersebut Setiap upaya mengurangi praktik prostitusi, perempuan sebagai PSK selalu menjadi obyek dan tudingan sember permasalahan, sementara laki-laki yang mungkin menjadi sumber penularan tidak pernah diintervensi dan dikoreksi

Bagaimana mewujudkan Kesetaraan gender dalam keluarga?

1. Laki-laki dan perempuan saling mendukung dlm penyelesaian tugas domestik. 2. Mengelola bersama pendapatan keluarga 3. Berpartisipasi bersama dlm peran sosial di masyarakat 4. Bersama-sama berdialog dlm pengambilan keputusan. 5. Bersama mempunyai akses yg sama terhadap informasi & sumberdaya

30

1. 2. 3. 4.

5.

Kelompok I: issue gender berkaitan dengan dampak negatif steriotype Kelompok II: issue gender berkaitan dengan dampak negatif subordinasi Kelompok III: issue gender berkaitan dengan dampak negatif marginalisasi Kelompok IV: issue gender berkaitan dengan dampak negatif beban ganda Kelompok V: issue gender berkaitan dengan dampak negatif kekerasan