Yogyakarta I Semarang I Solo I Purwokerto I Magelang I Pekalongan

kabarkota
YULIANINGSIH/REPUBLIKA

REPUBLIKA

15

Kamis, 23 April 2009

kilas
Telkomsel Lounching Campus Community
YOGYAKARTA —-Setelah fokus menggarap pasar komunitas anak sekolah tahun lalu, Telkomsel mulai melirik pasar komunitas kampus. Keseriusan Telkomsel ditandai dengan di-launchingnya Program Campus Community di Yogyakarta, Rabu (22/4). Manager Telkomsel Branch Yogya-Solo, Erik Rudianto mengatakan program Campus Community dihadirkan bagi mahasiswa berupa layanan murah dan mudah diakses oleh mereka.’‘Pada tahap pertama, Telkomsel Yogya-Solo berhasil menggandeng 30 perguruan tinggi yaitu 25 dari DIY dan selebihnya dari Solo,’‘ terang Erik. Dalam tiga bulan ke depan, lanjut Erik, pihak nya berharap akan menggandeng sekitar 60-an perguruan tinggi atau sekitar separoh dari 128 perguruan tinggi yang sudah ada di DIY. Sedangkan soal mahasiswa yang akan ditarik dalam komunitas, Erik mengakui belum berani mematok jumlah pasti. Untuk bergabung dengan komunitas ini, pelanggan cukup mendaftarkan secara gratis dengan cara mengirim SMS dengan ketik KAMPUSKODE KAMPUS dan kirim ke 8888. ‘’Banyak keuntungan yang jelas, tarif yang dikenakan hanya Rp 0,5 per detik dan akses internet hanya Rp 10 ribu untuk pemakaian senilai 35 megabyte dengan masa berlaku 30 hari, Kita juga sediakan informasi lowongan kerja dan beasiswa,’‘ tandasnya. ■ yli
BOWO PRIBADI/REPUBLIKA

Sepuluh Orang Incumbent DPRD Masih Bertahan
YOGYAKARTA — Berdasarkan hasil pengumuman perolehan kursi legislatif di DPRD Kota Yogyakarta melalui pemilihan legislatif 2009, diketahui bahwa hanya 10 orang incumbent yang berhasil bertahan dan duduk di kursi wakil rakyat periode 2009-2014 mendatang. Selebihnya 30 orang dari total 40 kursi diisi wajahwajah baru. Kesepuluh incumbent yang tetap bertahan sebagai wakil rakyat antara lain, Henry Kuncoroyekti dan Suharyanto (Dapil I), Chang Wendryanto dan Sujanarko (Dapil II) serta Suwarto (Dapil IV). Kemudian incumbent dari Partai Demokrat yakni, RM Sinarbiyat Nujanat (Dapil I) dan Agus Prasetio (Dapil III). Lalu, PKS diwakili Ardianto (Dapil I) dan M Zuhrif Hudaya (Dapil V). Serta R Bagus Sumbarja (Partai Golkar). Sementara itu, caleg dari Dapil Kota Yogyakarta yang mewakili DPRD Provinsi DIY adalah Kol (Purn) Sukedi dan R Agung Prasetyo (Demokrat), Nuryadi dan Yohanes Widi Pratomo (PDIP), Arif Noor Hartanto (PAN), Sukamta (PKS) dan Nurjanah (Golkar). Meski belum ditetapkan secara resmi, namun KPU Kota Yogyakarta telah mengumumkan daftar calon legislatif sebagai wakil DPRD kota/provinsi tersebut dalam Rapat Pleno Penetapan Suara Sah Pemilu di Pendopo Balai Kota, Selasa (22/4)lalu. KPU Kota Yogyakarta juga menetapkan total perolehan suara dan kursi DPRD. Sama dengan Pemilu 2004, PDIP masih diperingkat pertama dengan 11 kursi (47,414 suara), disusul Partai Demokrat yang sebelumnya mendapat 4 kursi kini naik menjadi 10 kursi (45,620 suara). Partai Amanat Nasional, jeblok dari 9 kursi menjadi 5 kursi (26,828 suara). Lantas Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memperoleh 21,546 suara dan Partai Golkar mendapat 15,868 suara masih bertahan dengan 5 kursi. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) naik dari 1 kursi menjadi 2 kursi (13,777 suara), dan Partai Gerindra mampu mengaet 2 kursi dengan perolehan 8,788 suara.
■ yli

Dewan Pengawas Syariah Bank Permata, Muhammad Faiz tengah menggesek ATM Permata Syariah di kantor Bank Permata Yogyakarta didampingi Head Permata Bank Syariah Yogyakarta, Andrian A Gunadi saat lounching Unit Usaha Syariah Bank Permata di Yogyakarta, Rabu (22/4). UUS Bank Permata di Yogyakarta itu merupakan kantor cabang ke 55 di Indonesia.

Layanan Syariah:

20 Persen PNS Belum Melek Teknologi
Hari Bumi: Sejumlah murid sekolah alam Ar-Ridho menggelar aksi simpatik menyambut Hari Bumi di kawasan Jl Imam Bardjo Semarang, Rabu (22/4). Mereka mengkritik ulah manusia yang telah menyakiti bumi.

BKKBN Siapkan Rp 2,7 Miliar untuk Kampanye KB
YOGYAKARTA — Minat akseptor Keluarga Berencana Pria di DIY masih tergolong tinggi, meskipun Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menyatakan fatwa haram vasektomi. Tercatat hingga Maret peserta KB baru pria pemakai metode MOP (Metode Operasi Pria) mencapai 78 orang, atau tercapai 13,66 dari target tahun 2009 sebanyak 571 akseptor baru, kata Kepala Bidang Keluarga Sejahtera Pemberdayaan Kemasyarakatan (KS/KP) Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) DIY Suripto, Rabu (22/4). Ia mengatakan minat yang masih cukup tinggi ini tak lepas dari digencarkannya kampanye KB pria. ‘’Kita imbangi efek adanya fatwa itu dengan menggencarkan kampanye KB pria,’‘ kata Suripto. Pada 2009 ini Pemerintah menganggarkan dana kampanye KB di seluruh DIY sebesar Rp 2,7 miliar. Dari dana itu hingga Maret sudah terserap sebesar Rp 117,8 juta. Tahun ini BKKBN DIY memiliki target pencapaian peserta baru vasektomi hampir dua kali lipat dibanding tahun 2008, menyesuaikan target pencapaian nasional yang juga tengah didongkrak. Target yang ingin dicapai BKKBN untuk menambah peserta baru KB dengan metode vasektomi pada 2009 mencapai 571, atau meningkat dua kali lipat lebih dibanding target 2008 sebanyak 265 peserta baru. Gencarnya kampanye dari BKKBN itu di antaranya dengan menfasilitasi pertemuan antara ahli urologi, ulama-tokoh agama, dan kelompok peserta KB pria di DIY pada pertengahan Februari lalu. Langkah itu dilakukan untuk mencegah salah persepsi menganai vasektomi di masyarakat. Dari pertemuan itu, sejumlah kelompok KB Pria setidaknya telah terbuka wacana mengenai vasektomi. Sementara itu Ketua Panitia Lomba Karya Tulis tentang Program KB Nasional, Agus Nuruddin mengatakan pertengahan tahun ini BKK BN bekerjasama dengan Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) DIY menggelar karya tulis untuk wartawan, penulis dan masyarakat umum bertema revitalisasi program KB Nasional. Lomba ini bertujuan meningkatkan informasi dan pemahaman kepada masyarakat umum melalui karyakarya yang dibaca, didengar maupun dilihat. ‘’Saat ini BKKBN memang sedang menggencarkan KB untuk kaum pria,’‘ kata dia. ■ nri

Pada tahun 2011 semua PNS Kota Yogya dapat menggunakan aplikasi Linux.
YOGYAKARTA — Sekitar 10 hingga 20 persen pegawai negeri sipil (PNS) dilingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta ternyata belum ‘melek’ teknologi. Apa penyebab yang membuat mereka gagap teknologi (gaptek)? Setelah ditelusuri ternyata mereka yang belum ‘melek’ teknologi itu karena minim kemauan untuk mempelajari teknologi informasi. ‘’PNS yang umurnya sudah lebih dari 30 tahun akan lebih sulit belajar komputer dan mempelajari teknologi informasi,’‘ terang Kepala Bagian Teknologi Informasi dan Telematika Setda Kota Yogyakarta, Rudi Firdaus Jusuf di Balai Kota, Rabu (22/4). Menurutnya, jumlah PNS non guru secara keseluruhan dilingkungan Pemkot sebanyak 4 ribu orang. Secara rutin pihaknya telah mentraining sebanyak 600 hingga 800 PNS. Adapun jumlah komputer yang tersedia secara keseluruhan di Pemkot Yogya sebanyak 700 unit dengan jumlah komputer yang mengalami kerusakan sekitar 40 persen. Mengomentari analisa tersebut, Kepala Bagian Humas dan Infor-

281 Siswa Ikut Olimpiade Sains
SLEMAN — Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman menyelenggarakan Olimpiade Sains Nasional (OSN) bagi siswa-siswa SMP/ MTs negeri dan swasta. Acara yang diikuti 281 siswa itu dilaksanakan di SMP Negeri I Sleman, Rabu (22/4). Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Suyamsih mengatakan, kegiatan semacam ini memang menjadi agenda prioritas khususnya sasaran pada anak didik. Mata pelajaran yang digelar dalam lomba tersebut adalah matematika, fisika dan biologi. Adapun penilaiannya mengacu pada standar olimpiade yang dilaksanakan internasional. Menurut Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Drs Sumarno, mata pelajaran yang diminati peserta dalam lomba olimpiade tersebut antara lain untuk pelajaran Matematika sebanyak 101 siswa, Fisika 92 siswa dan Biologi 88 siswa. Adapun tujuan umum penyelenggaraan olimpiade sains ini, katanya, adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa SMP/MTs di bidang MIPA baik dalam bentuk pemahaman maupun analisis dan praktek. ■ yoe

masi Kota Yogyakarta, Herman Edy Sulistyo mengatakan sebagian besar PNS di Kota Yogyakarta masih berusia muda. Namun memang ada sekitar 10 hingga 20 persen PNS yang usianya lebih dari 35 tahun. Hal itulah yang menurutnya, menjadi salah satu kendala terhadap keinginan untuk terus belajar terkait perkembangan teknologi informasi saat ini. Namun begitu kata dia, pihaknya bersama instansi terkait akan terus melakukan sosialisasi dan pelatihan terhadap para PNS di lingkungannya. ‘’Secara tampilan open source memang tidak jauh berbeda dengan sistem windows tetapi untuk penggunaanya dibutuhkan pembelajaran dan itu harus dilakukan pelatihan terlebih dahulu,’‘ paparnya. Ketrampilan penggunaan teknologi itu juga dipengaruhi oleh pola pembiasaan. Karena itu dengan kebijakan Pemkot Yogyakarta yang sudah lama terbuka terhadap perkembangan teknologi diharapkan mampu merangsang PNS untuk terbiasa dengan teknologi itu sendiri. ‘’Kita sudah lama menggunakan absen sidik jari, bahkan sistem lelang kita telah menggunakan sistem elektronik begitu pula dengan pengaduan melalui unik pelayanan informasi juga menggunakan teknologi,’‘ tandasnya. Sementara itu, sebagai upaya Pemkot dalam melindungi HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) menu-

rut Rudi, Pemkot bekerjasama dengan Yayasan Air Putih dan komunitas open source akan melaksanakan Pengembangan Help Desk Nasional Perangkat Lunak Open Source (PLOS) selama dua tahun.

Migrasi perangkat lunak
Diakuinya, proyek ini akan mengarah pada migrasi ke perangkat lunak open source, didukung dengan help desk yang akan menggantikan dari soft ware yang semula berbayar (Microsoft) menjadi tak berbayar (Linux). Digantinya sistem ini dinilai memberi keuntungan lebih di antaranya menghemat dana, bebas virus dan meminimalisir lambatnya komputer serta mempercepat koneksi dengan internet. ‘’Kita targetkan tahun 2011 semua PNS Kota Jogja dapat menggunakan aplikasi sistem baru ini,’‘ tandasnya. Untuk menuju Open Source Software (OSS), PNS dilingkungan Pemkot Yogya akan didampingi oleh Combine dan KPLI (Kelompok Pengguna Linux Indonesia) untuk mempelajari aplikasi ini. Menurutnya, jika menggunakan sistem ini maka akan menghemat biaya penggunaan mencapai 20 persen hingga 40 persen. ‘’Biaya yang dibutuhkan untuk per unit komputer antara 7 juta hingga 5 juta dengan program ini nanti bakal menghemat anggaran hingga 2 juta per unit per usernya,’‘ terang Rudi. ■ yli

forum akademia
DOKUMEN

‘’Revitalisasi Cita-cita Kartini’‘
selalu bergaung di benak bangsa ini. Namun cita-cita Kartini yang menjadi ikon wanita Indonesia, gagasannya diharapkan terus dapat terus berkumandang sehingga dapat menggerakkan gadis-gadis muda di Tanah Air. Begitu besarnya jasa-jasa beliau pada Ibu Pertiwi, setiap hari kelahiran Kartini pada 21 April, kita selalu memperingati masyarakat Indonesia sebagai hari Kartini. Saat peringatan, seperti yang sudah-sudah, siswa-siswa sekolah diwajibkan mengenakan pakaian adat dan mengadakan kegiatan lomba ketrampilan seperti masak, menari atau kegiatan lainnya yang bernuansa mendidik ketrampilan motorik para siswa sekolah. Kita melihat, seremonial peringatan hari Kartini selalu identik dengan pakaian adat Jawa, Minang, Bugis, dan sebagainya. Tak terkecuali siswa sekolah dasar, para siswa siswi Taman Kanak-Kanak tak luput dari ‘ketentuan’ mengenakan pakaian adat. Alhasil mereka harus sewa pakaian, make up ke salon dan tersiksa tidak bisa bergerak secara leluasa seperti hari sekolah biasanya. Dengan mengenakan pakaian adat seperti itu, kita akan mengenang perilaku Kartini, dengan mengidentikkan dirinya seperti tampilan Kartini kala itu. Bagi para siswa pria memakai pakaian adat, mengenang siapa, mengidentikkan diri terhadap siapa ? Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah mengapa peringatan Kartini identik dengan pakaian adat, apa tujuannya dan apakah pakaian adat cita-cita Kartini ? ingin merombak dan merubah tradisi wanita Indonesia saat itu. Oleh sebab itu seharusnya pengembangan kreativitas yang harus ditradisikan pada generasi abad ini? Kartini merupakan pemikir besar untuk bangsa ini, terukir dalam slogannya ‘terbitlah terang.’ Kartini bercita-cita agar gadisgadis Jawa (Indonesia) bisa mendudukkan diri sejajar dengan kaum pria dalam pendidikan, melakukan aktifitas kemasyarakatan, sehingga kaum wanita tidak sekedar diperankan sebagai konco wingking. Tetapi ia diperankan menjadi pendamping yang berperan aktif dalam menata berkehidupan keluarga, kemasyarakatan dan bernegara. Sayangnya cita-cita besar Kartini ini ternodai oleh gerakan kaum wanita sendiri. Kita lihat munculnya ‘geng Nero’, yang terjadi di daerah kelahiran Kartini di Rembang, terdapatnya Kartini abad 21 yang ‘rela menikah dan dinikahkan di bawah umur’, munculnya wanita yang pesta ganja, Zarima ratu ganja, munculnya wanita penghibur, dan sebagainya. Kasus seperti ini, disadari atau tidak akan menodai cita-cita Kartini, bukan lagi terbit terang, tetapi tenggelam di kegelapan, bagi diri mereka, kelompok mereka dan lingkungan mereka. Kecemerlangan ide Kartini diakui semua kalangan masyarakat Indonesia, popularitas Kartini belum tersaingi oleh tokoh wanita lain. Idenya selama ini dikenang dan setiap tahun diperingati oleh masyarakat kita. Yang menjadi pertanyaan apakah perjuangan Kartini sekedar berpakaian daerah, lomba masak, make up dan sejajarnya. kiranya kalau Kartini bangun dari kuburnya, ia tentu akan marah pada kita, kenapa hari sudah berganti, tahun sudah lewat, dunia sudah berubah, tapi peringatan hari Kartini masih sama seperti sedia kala. Hal ini menjadi pertanyaan besar apakah tidak ada ide baru atau belum ada ide yang bisa diterima. Persoalan yang ditunggu masyarakat adalah apa agenda besar Kartini di tahun tahun mendatang. Walaupun kita tahu kaum perempuan saat ini sedang memperjuangkan kesetaraan politik di legislatif dan eksekutif. Hanya itukah agenda besar para penerus Kartini? Hanya mereka yang tahu. ■

● Drs Sukardi MM

Pemandegan cita-cita
Mengadakan peringatan hari Kartini, hakekatnya bermaksud meneruskan cita-cita perjuangan RA Kartini. Mengapa peringatan Kartini harus mengenakan pakaian yang telah ditampilkan Kartini ratusan tahun silam ? Kalau di abad global sekarang kita berpenampilan yang sama dengan tampilan wanita abad 18 apa maknanya ? Apakah tidak berarti kita justru memandegkan cita-cita Kartini? Apa tepat kalau meneruskan cita-cita Kartini harus menyamakan diri dengan tampilan pejuang ratusan tahun lampau?. Karena sebetulnya menganakan pakaian adat berarti mematikan kreatifitas yang telah dibangun Kartini. Bukankah menuntut hak belajar merupakan ide kreatifitas besar Kartini yang

K

artini adalah tokoh wanita dan idola kaum wanita Indonesia, seorang keturunan bangsawan Jawa, di saat negara Indonesia terjajah oleh bangsa lain. Dia sanggup menggebrak jiwa kaum wanita Indonesia, dengan bukunya yang terkenal ìhabis gelap terbitlah terang”. Buku yang berisi cita-cita Kartini untuk menyadarkan kaum wanita Indonesia yang terkurung di rumah tak berpendidikan, agar mereka bisa berkembang dan menyamai wanita bangsa barat. Buku itu juga melukiskan keinginan Kartini agar kaum wanita Indonesia dapat mengenyam pendidikan lebih baik. Harus diakui, meskipun saat ini susah mencari buku mitos tulisan Kartini yang

Drs Sukardi MM Dekan Fakultas Ekonomi UAD

REPUBLIKA
Hubungi (0274) 541582

Berlangganan

Yogyakarta I Semarang I Solo I Purwokerto I Magelang I Pekalongan

kabarkota

REPUBLIKA

16

Kamis, 23 April 2009
EKOWIDIYATNO/REPUBLIKA

kilas
Embung Tegalombo Jadi Lapangan Bola
SRAGEN — Embung Tegalombo di Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen mangkrak. Fasilitas pengairan senilai senilai Rp 400 juta tidak dapat mengairi sawah petani. Embung Tegalombo dibangun seluas ukuran 80 X 55 M2 dengan kedalaman enam meter seharusnya bisa mengairi sawah seluas 82 hektare. ‘’Embung tersebut sekarang mengering. Malah, sudah berubah menjadi lapangan sepakbola,’‘ kata Cipto Suwarno (65) petani di Tegalombo, Kalijambe, Sragen, kepada Republika, kemarin. Kepala Desa Tegalombo, Kecamatan Kalijambe, Jumari, prihatin dengan kondisi tidak berfungsinya embung. Ia khawatir tanaman padi petani terancam kena puso kalau tidak memperoleh pengairan cukup. ■ eds

Hari Bumi, Siswa SMA Jelajah Merapi
MAGELANG — Memperingati Hari Bumi, Rabu (22/4), puluhan siswa SMA di Kabupaten Magelang melakukan jelajah alam Merapi dan refleksi budaya pertanian. Sedangkan di Kota Magelang, berlangsung kegiatan budaya dan pameran buku di Universitas Muhammadiyah Magelang (UMM). Acara di Merapi, merupakan kerjasama Dinas Pertanian Jawa Tengah dan Komunitas Gubug Selo Merapi (GSPi) Magelang. Selain itu, juga diselenggarakan Live In selama tiga hari, 21-24 April, dengan peserta sebanyak 84 siswa dari SMA Negeri 4 Semarang dan SMA Nasima Semarang. Menurut Kepala Bidang Usaha Pertanian Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Tengah, Agus Yuwono, kegiatan tersebut dilakukan, terkait dengan peringatan hari bumi. ‘’Kebetulan hari ini bertepatan dengan hari bumi, kita berharap ada kesadaran terhadap kelestarian bumi, sekaligus merefleksikan budaya pertanian,’‘ kata Agus Yuwono. Jelajah alam dan budaya petani, katanya, bermanfaat bagi para siswa agar mereka kelak tidak salah saat menjadi pemimpin. Dengan langsung terjun ke lapangan, mereka nanti memiliki refrensi tentang lingkungan, dan bisa mengenal dengan baik proses bertani yang benar. ‘’Para siswa itu hidup berbaur dengan petani, mereka mengikuti kegiatan seharihari petani setempat. Mereka ikut mengolah lahan pertanian, dialog alam dan pertanian, serta menggelar pementasan kesenian,’‘ katanya. Selama mengikuti kegiatan, para siswa tinggal di rumah-rumah petani di Dusun Grogol, Desa Mangunsuko, Kecamatan Dukun. Jelajah alam ditandai jalan kaki dari gedung GSPi, melewati areal pertanian, jalan kampung, Sungai Lamat, dan refleksi budaya petani setempat. Sutar, Koordinator Live In Edukasi Pertanian Berbasis Alam dan Budaya GSPi mengatakan, mencintai air, tanah, dan tanaman ditanamkan kepada mereka sejak muda. Sehingga kaum muda kota bisa menghargai pertanian. Selain di kawasan Merapi, peringatan Hari Bumi 2009 juga berlangsung di aula UMM Kota Magelang. Acara yang diprakarsai komunitas seniman Kota Magelang tersebut ditandai dengan pameran buku, diskusi, pemutaran film dokumenter tentang lingkungan, pentas monolog dan musikalisasi puisi. Pentas musikalisasi puisi tentang alam dilakukan grup Rupadatu Percution, Teater Fajar UMM, dan Alam Raya Institute Kota Magelang. Monolog bertajuk Masa Tanpa Ulang oleh seniman Magelang Gepeng Nugroho. Sementara puluhan aktivis gerakan peduli lingkungan hijau Yogyakarta menggelar aksi. Mereka makan siang dengan menggunakan pincuk daun pisang dan gelas blirik di salah satu restoran siap saji di Malioboro, Yogyakarta, Rabu (22/4). Koordinator aksi, Ignatius Kendal disela-sela aksi mengatakan bahwa aksi ini sebagai bentuk penolakan akan styrofoam dan juga plastik yang tidak ramah lingkungan. Namun banyak digunakan di restoran siap saji dan akhirnya merambah ke rumah tangga. Dalam aksinya aktivis menggunakan busana jawa kebaya dan jarik bagi perempuan, laki-laki mengenakan surjan dan jarik. Mereka mengajak tinggalkan plastik dan styrofoam. ■ asd/nri

Ekspor Pertanian Sulit Tembus Pasar
SRAGEN — Mayoritas produk pertanian di Kabupaten Sragen sulit menembus pasar luar negeri. Pasalnya, produk pertanian diketahui memiliki kandungan residu kimia cukup tinggi. Menurut Dwi Hariyanto, staf ahli Teknis Laboratorium Hama dan Penyakit Departemen Pertanian di Surakarta, sebenarnya produk pertanian bagus kualitasnya. Artinya, memenuhi standar untuk dilempar ke pasar ekspor. Namun kandungan kimia masih diatas standar membuat produk pertanian tidak laku di luar negeri. ‘’Petani dalam menggunakan obat pestisida antara dua-tiga kali dalam sepekan,’‘ kata Dwi Hariyanto ketika memberi pengarahan petani pada acara ‘Sekolah Lapang Pengendali Hama Terpadu (SLPHT) di Desa Gawan, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, kemain. ■ eds

Tasyakuran: Seniman di Kabupaten Banyumas yang tergabung dalam Barisan Sukarela Tanggap Hadapi Bencana, menggelar acara tasyakuran di halaman kantor KPU Banyumas, Rabu (22/4). Acara tasyakuran ditandai dengan pagelaran acara kesenian tradisional Banyumasan dengan menyertakan patung Bawor (Bagong) berukuran besar.

Pemilu Damai, Seniman Tasyakuran
PURWOKERTO — Seniman di Kabupaten Banyumas rupanya memiliki keperdulian besar terhadap pelaksanaan Pemilu. Karena itu, ketika pelaksanaan Pemilu di Banyumas berlangsung damai, mereka merasa wajib untuk menyukuri. Acara tasyakuran ini, digelar di halaman Kantor KPU Banyumas, Rabu (22/4). Cara menyukurinya pun unik. Para seniman yang tergabung dalam Barisan Sukarela Tanggap Hadapi Bencana, menggelar acara tasyakuran dengan cara menggelar kesenian tradisional yang menyertakan patung Bawor (Bagong) berukuran besar. Ritual dilakukan dengan diiringi musik gending Banyumas. Kemudian serombongan seniman membakar kemenyan dan mulai memanjatkan doa serta rasa syukur kepada Tuhan. Sesudah doa bersama, ritual diakhiri dengan makan tumpengan bersama. Salah satu seniman yang ikut acara itu, Titut Cowongan, mengatakan, terlepas dari segala masalah teknis Pemilu seperti surat suara yang tertukar, wacana Pemilu ulang dan sebagainya, secara umum Pemilu di Banyumas berlajan aman dan damai. Semua itu, lanjutnya, karena masyarakat Banyumas memperlakukan alam secara baik, sehingga alampun bersahabat dengan manusia. Diharapkan Pemilu Legislatif dan Presiden dapat menghasilkan pemimpin yang cinta alam. ‘’Sepanjang kita memperlakukan alam dengan baik dan ramah, maka alampun akan merespon positif terhadap kita,’‘ katanya. ■ wid

Status Gunung Slamet Waspada
Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas meminta warga untuk menyiapkan masker
BANYUMAS — Kalangan pecinta alam yang hendak melakukan pendakian di Gunung Slamet, diminta mengurungkan niatnya. Karena aktivitas vulkanik gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa tersebut, mengalami peningkatan dari aktif normal menjadi waspada. Selain itu, warga juga diminta untuk menyiapkan masker untuk menghadapi kemungkinan terjadinya hujan abu akibat letusan gunung tersebut. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, dr Gempol Suwondo, mengakui, jika terjadi hujan abu masker tersebut dibutuhkan untuk menghindari terjadinya infeksi saluran pernafasan akibat menghirup abu vulkanik. Suwondo mengakui, pihaknya memang memiliki persediaan masker bagi masyarakat yang membutuhkan. ‘’Namun jumlah masker yang kami miliki tidak banyak. Karena itu, sebaiknya masyarakat mempersiapkan masker sendiri. Di apotik banyak yang menjual, dan harganya tidak mahal,’‘ katanya, Rabu (22/4). Mengantisipasi kemungkinan buruk terhadap aktivitas gunung tersebut, Gempol menyatakan pihaknya telah memerintahkan Puskesmas di lereng Gunung Slamet, seperti Puskesmas Baturraden, untuk meningkatkan kewaspadaan. ‘’Dengan demikian, bila sewaktuwaktu terjadi proses evakuasi warga, petugas sudah siap,’‘ Gunung Slamet yang puncaknya menjadi perbatasan lima kabupaten, Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Brebes dan Tegal ini, selama ini dikenal sebagai gunung yang relatif tenang. Meski termasuk gunung aktif, namun jarang sekali gunung tersebut mengalami peningkatan aktivitas vulkanik. logi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung. Dalam siaran persnya, Surono memberitahukan bahwa, pada 19 April terekam 49 kali gempa permukaan. Pada hari selanjutnya, kegempaan berubah menjadi tremor vulkanik sebanyak 97 kali, dan hingga 21 April kegempaan tremor vulkanik masih terus menerus. Temperatur suhu pada sumber air panas di lereng Gunung Slamet, yakni di Pandansari dan Pasepuhan naik tiga derajat celcius. Temperatur suhu air panas di Pandansari naik dari 42,2 derajat celcius menjadi 45,7 derajat celcius, sementara di Pasepuhan naik dari 61,6 derajat celcius menjadi 63 derajat celcius. Secara visual, asap dari puncak Gunung Slamet mengalami perubahan pada tanggal 21 April. Tinggi asap naik dari 50 meter menjadi 300 meter, dan warnanya berubah dari putih menjadi kecokelatan. Dengan meningkatnya aktivitas Gunung Slamet itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi merekomendasikan agar lima kabupaten kawasan Gunung Slamet, yaitu Pemalang, Brebes, Tegal, Banyumas, dan Purbalingga, dapat meningkatkan kewaspadaannya tetapi harus tetap tenang. Sehingga bisa menghindarkan hal-hal yang tidak diharapkan. ■ wid

”MULIA”

AUTHORIZED MONEY CHANGER
Inna Garuda Hotel Jl. Malioboro 60 Yogyakarta (Depan Tiket Counter Garuda Indonesia) Senin - Jumat : 07.00 - 19.00 WIB Sabtu - Minggu : 08.00 - 15.00 WIB Telp. 0274-563314 (Hunting), 566353 Ext. 8901 Fax.(0274) 549777

Tanggal : 22 April 2009 URRENCY
USD EURO AUD CAD GBP CHF SGD HKD JPY RM KWD KPW NT BND NZD PHP THB YUAN SAR

Gempa permukaan
Namun Selasa (21/3) lalu, Balai Vulkanologi Bandung menyebutkan aktivitas vulkanik Gunung Slamet mengalami peningkatan. Sehingga menetapkan status aktivitas Gunung Slamet dinaikkan dari aktif normal ke waspada. Keputusan meningkatkan status aktivitas gunung yang memiliki ketinggian 3.432 dari permukaan laut ini, ditetapkan Selasa (21/4) pukul 12.00 WIB. Peningkatan status itu diumumkan oleh Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung, Surono, pada Selasa (21/4). Pengumuman itu dapat dilihat di situs Pusat Vulkano-

BELI BN
10,800 13,975 7,600 8,675 15,775 9,175 7,175 1.360 109,00 2,900 35,000 7/7.5 300/310 7,100 5,950 210 290 1,575 2,775

TC
10,450 13,475 7,300 8,075 15,375 8.825 99,00

JUAL
10,950 14,125 7,750 8,825 16,275 9,375 7,300 1.460 114,00 3,100 39,000 9.00 350 7,250 6,100 250 330 1,650 2,900

Catatan : kurs sewaktu-waktu dapat berubah

fokus

‘’BKPRMI Siapkan Remaja Masjid Masa Depan’‘

B

ila kini, di masjid-masjid telah terbentuk organisasi pemuda atau remajanya, semuanya tak lepas dari keberadaan Badan Komunikasi Masjid Indonesia (BKPRMI). Organisasi yang pada masa berdirinya sempat mengalami tekanan dan bahkan teror oleh rezim Orde Baru. Tak mengherankan jika, pada saat itu kata Muhammad Jazir Asp, ketua MPP BKPRMI, kegiatan remaja masjid lebih bersifat lokal, dan jarang bersentuhan. Tapi itu dulu. Bagaimana dengan sekarang? ‘’Saat ini sudah ada minimal 2 ribu organisasi remaja masjid di Indonesia, yang terkoordinasi dalam BKPRMI,’‘ katanya akhir pekan lalu. Menurutnya, cabang organisasi ini kini telah membentang di 30 provinsi di Indonesia. ‘’Rencananya pada bulan Juni 2009, wakil-wakil mereka akan bermusyawarah nasional di Jakarta,’‘ imbuhnya. Dalam perkembangannya BKPRMI berada di bawah naungan Dewan Masjid Indonesia (DMI). DMI sendiri menargetkan tahun 2010, minimal satu persen dari total 700 ribu masjid yang ada di Indonesia sudah mempunyai manajemen yang baik, di antaranya, memiliki

wadah kegiatan remaja. Bagaimana sebetulnya awal berdirinya BKPRMI? Ia mengisahkan setelah pecahnya peristiwa Malari tahun 1974 rezim Orde Baru semakin represif. Pemerintah kala itu membatasi kegiatan mahasiswa di kampus dengan NKK/BKK. Karena ruang geraknya dipersempit, maka aktivis mahasiswa memindahkan kegiatan ke masjid di dalam atau di sekitar kampus. Di Bandung (ITB) menonjol dengan Keluarga Remaja Islam Masjid Salman, lalu Jakarta ada Remaja Islam Masjid Sunda Kelapa, Remaja Islam Masjid Cut Meuthia, dan Youth Islamic Studies di Al Azhar. Lantas di Yogya, saat itu kampus-kampusnya belum mempunyai masjid, sehingga mahasiswa beraktivitas di masjid di sekitar kampus, di antaranya, dengan membentuk Himpunan Angkatan Muda Masjid (Himamumas). Pada tahun 1977, kata Yazir, Himamumas diundang mengikuti Khuliatul Mujahiddin di Masjid Istiqomah Bandung— semacam training di bulan Ramadhan untuk aktivis remaja masjid se Jawa dan Sumatera. ‘’Saya ikut. Waktu itu kelas satu SMA,’‘ kata Yazir, kelahiran Yogyakarta

tahun 1962, yang kini menjadi pengasuh Ponpes Alquran Abdullah Ibnu Abbas di Bantul. Dari diskusi di training tersebut, muncul ide membentuk badan koordinasi remaja masjid. Ide disampaikan ke tokoh MUI saat itu, almarhum MZ Mutaqim. Gagasan tersebut lantas dikonsultasikan ke menteri agama saat itu almarhum Alamsyah Prawiranegara. Dan memang, kata Yazir, rupanya fenomena maraknya pembentukan remaja masjid sedang dicermati oleh rezim Order Baru. ‘’Gerakan ini dianggap mengkhawatirkan, ditakutkan memunculkan radikalisme Islam. Apalagi kalau remaja masjid bisa berkoordinasi,’‘ kata dia. Kata koordinasi dianggap menggangu. Sebagai kompromi, diusulkan nama diubah menjadi Badan Komunikasi Pemuda Masjid Indonesia (BKPMI). ‘’Saya ikut mendirikannya, yakni tanggal 13 September 1977. Terpilih sebagai ketua umum Toto Tasmasra, yang sekarang menjadi imam masjid di Houston (AS).’‘ Berawal dari sana, BKPMI lalu menggelar training Mapraba (Massa Pembinaan Rohani

Anggota Baru). Tapi nama ini lalu diganti memakai nama yang dipakai di Masjid Salman, yakni Latihan Mujahid Dakwah (tokohnya almarhum M Imaduddin).

Kader yang qurani
Melalui LMD, fenomena remaja masjid semakin menyebar ke seluruh Indonesia. Organisasi remaja masjid yang ada bergabung ke dalam BKPMI. Dan 10-14 April 1980, BKPMI menggelar menggelar Silaturohim Remaja Masjid dan Pesantren di Asrama Haji di Jakarta —menghadirkan sampai 10 ribu remaja yang mewakili 2.000 organisasi remaja masjid. Namun Pangkopkamtib Sudomo membubarkannya. Sejak itu, BKPMI diawasi, namanya dikait-kaitkan dengan kasus Imron Cs yang menyerang Polsek Cicendo (Bandung) dan kasus pembajakan pesawat Woyla. Angin baik mulai berhembus saat BKPMI mengangkat program pemberantasan buta Alquran, melalui pembentukan TKA/TPA Alquran yang digagas dalam Munas ke-5 BKPMI 29 Juni 1989 Masjid Al Falah Surabaya. Kata Yazir, kini ada 78 ribu TKA/TPA berada di bawah koordinsi BKPRMI, dengan

santri mencapai 14 juta. Model TKA/TPA ini malah menyebar Malaysia, Singapura, Arab Saudi dan ke Amerika Serikat. Terakhir tahun 1996, dengan diberlakukan UU Keormasan (1985), yang mengharuskan semua organisasi masuk keorganisasi yang dianggap induknya. BKPMI dimasukkan dalam naungan Dewan Masjid Indonesia, yang juga punya program pembinaan remaja. Sejak itu, nama BKPMI diubah menjadi BKPRMI —Badan Komunikasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia— sampai sekarang. Kata Yazir, BKPRMI kini konsern untuk menyiapkan kader pemimpin bangsa ‘’yang qurani’‘ melalui program Panca Bina Cipta. Melalui program ini, BKPRMI berusaha membina remaja masjid untuk mencapai lima sukses —studi, organisasi, ekonomi, sosial dan sukses ukhrowi. ‘’Tapi dengan program itu, terbukti aktivis remaja masjid malah bisa semakin bersaing dalam studi, berorganisasi, dan kini banyak yang mampu menempuh pendidikan sampai S2 dan S3. Melihat ini, mereka terbuka dan malah mendorong anak-anaknya untuk aktif di organisisasi masjid.’‘ ■ yoe