Visi Bank Indonesia:
“Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya (kredibel) secara nasional maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan stabil”.

Misi Bank Indonesia:
“Mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah melalui pemeliharaan kestabilan moneter dan pengembangan stabilitas sistem keuangan untuk pembangunan nasional jangka panjang yang berkesinambungan”.

Nilai-nilai Strategis Organisasi Bank Indonesia:
“Nilai-nilai yang menjadi dasar organisasi, manajemen dan pegawai untuk bertindak dan atau berprilaku yang terdiri atas Kompetensi, Integritas, Transparansi, Akuntabilitas dan Kebersamaan”.

Visi Kantor Bank Indonesia Medan:
“Menjadi Kantor Bank Indonesia yang dapat dipercaya di daerah melalui peningkatan peran dalam menjalankan tugas-tugas Bank Indonesia yang diberikan”.

Misi Kantor Bank Indonesia Medan:
“Berperan aktif dalam mendukung pembangunan ekonomi daerah melalui peningkatan pelaksanaan tugas bidang ekonomi moneter, sistem pembayaran, pengawasan bank serta memberikan saran kepada pemerintah daerah dan lembaga terkait lainnya”.

Kalender Publikasi
Periode Publikasi KER Triwulan I KER Triwulan II KER Triwulan III KER Triwulan IV Publikasi Pertengahan Mei Pertengahan Agustus Pertengahan November Pertengahan Februari

Penerbit: Kantor Bank Indonesia Medan Jl. Balai Kota No.4 MEDAN, 20111 Indonesia Telp : 061-4150500 psw. 1729, 1770 Fax : 061-4152777 , 061-4534760 Homepage : www.bi.go.id Email : KBIMedan@bi.go.id

Puji syukur kehadirat Tuhan YME karena atas rahmat dan karunia-Nya buku Kajian Ekonomi Regional (KER) Sumatera Utara (Sumut) periode triwulan I2012 ini akhirnya dapat kami sajikan kepada para pembaca sekalian. Buku KER ini mengulas dinamika ekonomi di Sumut pada Triwulan I-2012 yang tercermin dari perkembangan makroekonomi regional, perbankan, keuangan daerah, dan sistem pembayaran, serta prospek ekonomi Sumut ke depan dalam rangka pemberian informasi yang komprehensif kepada para stakeholders Bank Indonesia. Secara umum kondisi perekonomian Sumut pada triwulan I-2012 masih menunjukkan optimisme walaupun sedikit melambat dibandingkan tahun sebelumnya seiring dengan penurunan harga dari komoditas ekspor utama Sumatera Utara yaitu karet alam dan CPO. Bahkan ekonomi Sumut di triwulan ini masih tumbuh lebih tinggi dibandingkan angka nasional dimana ekonomi Sumut tumbuh 6,32% (yoy) sementara ekonomi nasional tumbuh 6,3% (yoy). Tingginya angka pertumbuhan ini juga disokong oleh pembiayaan dari perbankan yang tumbuh cukup tinggi di triwulan ini yaitu sebesar 19,92% (yoy). Sementara itu, inflasi di Sumut pada triwulan I-2012 masih relatif terjaga dengan angka realisasi 3,86% (yoy) di akhir periode laporan, lebih rendah dibandingkan angka inflasi nasional sebesar 3,97% ( yoy). Ke depan tantangan dalam menjaga inflasi masih cukup besar yang berasal dari ketidakpastian kebijakan pengurangan subsidi BBM serta fluktuasi harga-harga komoditas internasional sebagai dampak belum selesainya krisis ekonomi di negara-negara maju khususnya di zona Eropa. Namun demikian kami yakin dengan koordinasi yang baik antara Bank Indonesia dengan instansi lainnya di daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah kita mampu menjaga laju inflasi pada level yang diharapkan. Dengan memperhatikan kondisi-kondisi tersebut kami yakin perekonomian Sumut masih masih bisa tumbuh 6,40% – 6,60% pada triwulan II-2012. Sementara inflasi diperkirakan masih terjaga di level 5% ± 1%. Pada kesempatan ini kami juga mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada seluruh pihak yang telah membantu penulisan buku ini. Kami menyadari bahwa cakupan serta kualitas data dan informasi yang disajikan dalam buku ini masih perlu terus disempurnakan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran membangun dari semua pihak yang berkepentingan dengan buku ini, serta mengharapkan kiranya kerjasama yang sangat baik dengan berbagai pihak selama ini dapat terus ditingkatkan di masa yang akan datang. Akhir kata, kami berharap semoga buku ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Medan, Mei 2012 KEPALA KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH IX

Nasser Atorf Direktur Eksekutif

Daftar Isi ii .

Daftar Isi iii .

Daftar Isi iv .

Daftar Isi v .

Daftar Isi vi .

Daftar Isi vii .

.

.

Ringkasan Eksekutif .

namun demikian pertumbuhan ekonomi Sumut masih berada dalam tren positif.32% (yoy) yang berada sedikit diatas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6. Tekanan inflasi Provinsi Sumatera Utara sedikit meningkat dibandingkan triwulan lalu. kinerja industri perbankan relatif terjaga di triwulan I-2012 di tengah kekhawatiran adanya dampak krisis ekonomi global yang belum berakhir . Kendati tumbuh melambat.36%. namun demikian secara keseluruhan pada awal tahun 2012 masih tetap menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Demikian pula dengan transaksi sistem pembayaran yang terus menunjukkan peningkatan dari sisi nilai maupun volume. sektor pertanian. perekonomian Sumut tumbuh melambat pada triwulan I-2012. Inflasi Sumatera Utara tercatat 3. Aktivitas konsumsi dan kegiatan investasi masih merupakan sektor yang dominan dalam perekonomian Sumut.99%.30% (yoy).63% (qtq). Ketiga sektor utama tersebut masih menjadi sektor pendorong pertumbuhan ekonomi Sumut.32% (yoy) PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO Pada triwulan I-2012 perekonomian Sumatera Utara kembali mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 6. sedangkan dari sisi penawaran.RINGKASAN EKSEKUTIF GAMBARAN UMUM Kinerja Perekonomian Sumatera Utara (Sumut) pada triwulan I-2012 menunjukkan perlambatan. Secara umum. dan sektor PHR. pertumbuhan sektorsektor ekonomi andalan Sumut tetap menunjukkan pertumbuhan yang positif pada triwulan laporan. Struktur perekonomian Sumut pada triwulan laporan masih didominasi oleh tiga sektor utama yaitu sektor industri pengolahan. Kendati demikian level inflasi Sumatera Utara masih di bawah inflasi nasional.86% (yoy) atau 0. Kombinasi ketiga sektor tersebut memberikan sumbangan sebesar 62. Kinerja sektor industri pengolahan dan sektor pertanian tercatat mengalami perlambatan dibandingkan dengan triwulan Ringkasan Eksekutif viii . Dari sisi permintaan. kinerja perlambatan perekonomian Sumut dipicu oleh perlambatan di sektor ekonomi utama. Perekonomian Sumut pada triwulan I-2012 tumbuh 6. Indikator perekonomian sisi permintaan menunjukkan perekonomian masih ditopang oleh tingkat konsumsi dan investasi. melambat dibandingkan triwulan IV-2011 yang tumbuh sebesar 6.

Sementara itu inflasi kota Medan adalah sebesar 3.27% (qtq). inflasi Sumut pada periode ini masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3. PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN Industri perbankan Sumatera Utara menunjukkan pertumbuhan moderat sepanjang triwulan I-2012 .60%) merupakan yang terendah dibandingkan kelompok lain. kecuali Sibolga. Total aset perbankan tersebut didominasi oleh bank konvensional yaitu sebesar Rp156. Kendati demikian.12%. Berdasarkan kelompok barang dan jasa.93 triliun (4.77%). namun inflasi kelompok bahan makanan pada triwulan ini mengalami kenaikan dibandingkan triwulan lalu yang tercatat sebesar 1. Selain kelompok bahan makanan. inflasi kelompok sandang (13.00%.95% (yoy) pada triwulan IV-2011 menjadi 13. Total aset perbankan Sumut pada triwulan I-2012 mencapai Rp163. lebih tinggi dibandingkan inflasi triwulanan lalu sebesar 0.86% (yoy) atau 0. dan jasa keuangan juga mengalami peningkatan.14% (qtq). Sementara itu.sebelumnya. Sementara itu.78%) juga merupakan yang tertinggi dibandingkan kelompok lain. Inflasi Sumut pada triwulan I2012 sebesar 3. semuanya mengalami peningkatan bila dibandingkan triwulan lalu. Tingkat inflasi keempat kota yang dihitung inflasinya di Sumatera Utara. kelompok sandang dan kelompok transportasi. seluruh kelompok memiliki level inflasi yang lebih tinggi dibandingkan triwulan lalu kecuali kelompok bahan makanan. Inflasi Sibolga (3. sedangkan sisanya merupakan aset bank syariah yaitu sebesar Rp6.74%) masih menunjukkan level penurunan.26% (qtq) dibanding angka akhir triwulan IV-2011 atau tumbuh 19.63% (qtq) PERKEMBANGAN INFLASI Pada triwulan I-2012. bahkan yang terendah dibandingkan kota lain.67%).23%).75% dan Padangsidempuan sebesar 4. Kelompok bahan makanan justru mengalami deflasi sebesar 0.66%. inflasi tahunan Sumut pada triwulan I-2012 tercatat sebesar 3.74 triliun (95. Sumut mengalami inflasi 0. Inflasi tertinggi terjadi di kota Pematangsiantar (4. Sementara itu. Secara tahunan. sedikit di atas inflasi tahunan triwulan IV-2011 sebesar 3.14%. Inflasi tertinggi dialami oleh kelompok sandang sebesar 2. inflasi kelompok bahan makanan (1.78% (yoy) pada triwulan I-2012.67 triliun.04% (yoy) dibandingkan akhir triwulan I-2011. Kelompok sandang meningkat dari 10.63% (qtq). Meskipun mengalami inflasi terendah. Industri perbankan Sumatera Utara menunjukkan pertumbuhan moderat sepanjang triwulan I-2012 Ringkasan Eksekutif ix .97% (yoy). sektor PHR masih menunjukkan tren yang meningkat pada triwulan laporan. tumbuh sebesar 2. komunikasi.86%.

Hal ini ditandai oleh peningkatan volume transaksi baik tunai maupun non tunai secara tahunan. Nilai ini menurun 0.96 miliar bila dibandingkan dengan triwulan IV-2011 yang tercatat sebesar Rp35. penyaluran kredit perbankan di provinsi Sumatera Utara mengalami pertumbuhan sebesar 2. Realisasi APBD sebesar 9.99% (qtq). perkembangan sistem pembayaran di wilayah Provinsi Sumut pada triwulan I-2012 menunjukkan perkembangan yang positif.8 triliun. sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya mengalami pertumbuhan sebesar 7.34 triliun.31% (qtq) menjadi Rp173. Tingkat realisasi tersebut lebih kecil dibandingkan realisasi APBD triwulan I-2011 sebesar 11. Penerimaan pajak di Provinsi Sumatera Utara melalui Kanwil Ditjen Pajak Sumut 1 Medan dan Kanwil Sumut 2 Pematangsiantar ditargetkan mencapai Rp10. PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH Realisasi anggaran atau tingkat serapan APBD Provinsi Sumatera Utara pada triwulan I-2012 sebesar 9.14% (qtq) dibanding angka akhir triwulan IV-2011 atau tumbuh 14. Namun demikian secara tahunan.92% (yoy).43% (yoy) dibandingkan angka akhir triwulan I-2011 hingga mencapai jumlah Rp128.48% atau Rp 173. Transaksi perbankan Sumatera Utara melalui Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) pada triwulan I-2012 mengalami penurunan sebesar Rp24.1 triliun menjadi Rp885 triliun. kredit perbankan pada triwulan laporan mengalami pertumbuhan sebesar 19.08% tersebut sejalan dengan revisi target pajak APBN yakni dari Rp911.22% Ringkasan Eksekutif x .5 triliun.22% tersebut digunakan untuk belanja langsung (Rp109 miliar) dan belanja pegawai atau pembayaran gaji (Rp725 miliar).42% (qtq).80 triliun. Pemangkasan target pajak sebesar Rp700 miliar atau 6. Sejalan dengan peningkatan aktivitas perekonomian pada awal tahun 2012. Target tersebut telah mengalami revisi dari sebelumnya sebesar Rp11. Sementara itu.Dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun pada triwulan I-2012 tumbuh sebesar 1.08% dari Rp5.06 triliun dari nilai transaksi pada triwulan IV-2011 yang tercatat sebesar Rp197.35 triliun.28 triliun atau menurun 12. Realisasi APBD Sumut triwulan I-2012 sebesar 9.85 triliun.33 triliun. Nilai transaksi kliring pada triwulan I-2012 tercatat sebesar Rp35.22% dari Rp7.98 triliun.

32% (yoy) di triwulan I-2012. indeks penghasilan saat ini masih berada dalam tren yang menurun. Beberapa potensi risiko inflasi tetap perlu dicermati di antaranya adalah keputusan Rapat Paripurna DPR yang menetapkan harga jual eceran BBM tidak mengalami kenaikan. NTP tercatat sebesar 101.37%).00%±1%.09%) dan Tingkat TPAK dan Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 6.79. Laju inflasi tahunan pada triwulan II-2012 diperkirakan berada pada kisaran 5.40%-6.60% (yoy) dan laju inflasi tahunan triwulan II-2012 diperkirakan 5. menurun dibandingkan triwulan lalu sebesar 103. PROSPEK PEREKONOMIAN Setelah tumbuh melambat pada laju 6.40% 6.PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN Perkembangan Perkembangan ketenagakerjaan yang baik terindikasi ketenagakerjaan dari peningkatan partisipasi angkatan kerja dan penurunan yang baik tingkat pengangguran terbuka. Dari sisi petani. Berdasarkan hasil Survei Konsumen yang dilaksanakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX. Pertumbuhan ekonomi sumut triwulan II-2012 diproyeksikan sebesar 6.31% (menurun dari penurunan TPT sebelumnya 6. Tingkat Partisipasi terindikasi dari Angkatan Kerja (TPAK) pada Februari 2012 tercatat sebesar peningkatan 74.60% (yoy) dengan kecenderungan pada batas bawah.13.55% (meningkat dari sebelumnya 72. Pada triwulan I-2012. Pada akhir triwulan I-2012 Indeks Penghasilan Saat Ini tercatat sebesar 101. daya beli petani yang tercermin dari NTP juga mengalami penurunan bila dibandingkan dengan triwulan IV-2011. pertumbuhan ekonomi Sumut pada triwulan II-2012 diperkirakan berada pada kisaran sebesar 6. NTP mencerminkan daya tukar produk pertanian dengan barang dan jasa yang diperlukan petani untuk konsumsi rumah tangga dan keperluan dalam menghasilkan produk pertanian. Ringkasan Eksekutif xi .79.00%±1%. namun pemerintah diperbolehkan melakukan penyesuaian harga BBM bersubsidi dan kebijakan pendukungnya jika rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam kurun waktu berjalan (6 bulan terakhir) mengalami kenaikan atau penurunan lebih dari 15% dari harga ICP yang diasumsikan dalam APBN P 2012.

BAB I Perkembangan Ekonomi Makro Regional .

Sebagaimana tren yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.32% (yoy) yang berada sedikit di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6.30% (yoy). walaupun sedikit melambat dibandingkan triwulan IV-2011 yang tumbuh sebesar 6. pertumbuhan perekonomian Sumatera Utara pada triwulan laporan ditunjang oleh konsumsi dan kegiatan investasi yang tercatat 1 Perkembangan Ekonomi Makro Regional | BAB 1 . perekonomian Sumatera Utara cenderung mencapai puncaknya pada triwulan II dan III yang kemudian melambat pada akhir tahun. walaupun sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya.1 KONDISI UMUM Pada triwulan I-2012 perekonomian Sumatera Utara kembali mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 6.50% (yoy).30%-6. sedangkan dari sisi penawaran.“Perekonomian Sumatera Utara (Sumut) pada triwulan I-2012 menunjukkan angka pertumbuhan yang masih tinggi. pertumbuhan Sumatera Utara dipicu oleh sektorsektor ekonomi utama“ 1. dan perayaan hari besar keagamaan. tahun ajaran baru. Indikator perekonomian sisi permintaan menunjukkan pertumbuhan ini didorong oleh tingkat konsumsi dan investasi. Dari sisi permintaan. Pertumbuhan ini sesuai proyeksi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX pada kajian ekonomi regional sebelumnya yang berkisar antara 6. Hal ini diperkirakan dipengaruhi oleh faktor kembali normalnya aktivitas perekonomian pasca musim liburan sekolah.36%.

37%). 1 Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Sumut dari Sisi Permintaan Dari sisi permintaan. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan output barang dan jasa yang dihasilkan oleh perekonomian Sumatera Utara pada triwulan laporan. 1.972. Sumbangan ketiga sektor ekonomi andalan tersebut tercatat sebesar 62.9 triliun atau meningkat sebesar Rp 670 miliar dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. walaupun sedikit melambat pada triwulan I-2012.2 SISI PERMINTAAN Tabel 1. Sementara kegiatan perdagangan perlambatan pertumbuhan seiring dengan tren penurunan harga komoditi di pasar internasional BAB 1 | Perkembangan Ekonomi Makro Regional 2 . sektor-sektor ekonomi andalan Sumatera Utara yaitu sektor pertanian dan industri pengolahan tetap menunjukkan pertumbuhan walaupun cenderung melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya.31% dari PDB nasional (Rp1. dan PHR (19. Sementara itu. Kegiatan itu. Pertumbuhan kegiatan konsumsi dan aktivitas investasi ini menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Dari sisi penawaran. hotel. perekonomian Sumatera Utara masih tumbuh tinggi yaitu sebesar 6.mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya dan menjadi motor penggerak perekonomian regional. industri pengolahan (20. Sementara itu PDRB Provinsi Sumatera Utara berdasarkan harga berlaku sebesar Rp85. sedikit menurun dibandingkan dengan share ketiga sektor tersebut pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 62. Besaran Pertumbuhan Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumatera Utara pada triwulan laporan sebesar Rp 32.99%. sektor perdagangan. Aktivitas konsumsi dan kegiatan investasi masih merupakan komponen yang dominan dalam perekonomian Sumatera Utara.91% terhadap total perekonomian secara keseluruhan.06 triliun atau 4.32%. Komposisi ketiga sektor ekonomi tersebut diantaranya adalah sektor pertanian (23. dan restoran (PHR) meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya seiring dengan masih tingginya tingkat konsumsi pada triwulan laporan.15%).4 triliun).40%). investasi tercatat memberikan internasional pertumbuhan menunjukkan yang paling tinggi angka dibandingkan dengan aktivitas perekonomian lainnya dari sisi permintaan.

Hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) yang dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX juga memberikan konfirmasi mengenai masih tingginya level konsumsi di Sumatera Utara. Sementara itu. Namun demikian.1 Konsumsi Grafik 1. pembatasan penggunaan BBM bersubsidi.3 Pertumbuhan PDRB Sektor Konsumsi Grafik 1. namun mulai terlihat adanya pesimisme konsumen. Pada triwulan laporan tingkat penjualan eceran mengalami peningkatan 3 Perkembangan Ekonomi Makro Regional | BAB 1 .39 Triliun. Walaupun terjadi peningkatan nilai konsumsi di triwulan ini.36% (yoy). pertumbuhan transaksi perdagangan internasional Sumatera Utara pada triwulan laporan cenderung melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya baik pada kegiatan ekspor maupun impor.4 Perkembangan Nilai Penjualan berdasarkan Survei Perdagangan Eceran Konsumsi pada triwulan I-2012 tumbuh 5. kegiatan investasi di Sumatera Utara pada triwulan laporan menunjukkan perkembangan yang menggembirakan dan tercatat mengalami peningkatan signifikan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.09% (yoy). meningkat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 5. 1. konversi BBM ke BBG. Di sisi lain. secara keseluruhan transaksi perdagangan internasional Sumatera Utara masih mencatatkan surplus neraca perdagangan atau Net Ekspor sebesar Rp 8. Hal ini tercermin dari penurunan Indeks Keyakinan Konsumen pada hasil Survei Konsumen (SK) yang diindikasikan sebagai dampak dari meningkatnya ketidakpastian terkait rencana pengurangan subsidi terhadap BBM bersubsidi baik melalui kenaikan harga BBM bersubsidi.sebagai dampak menurunnya permintaan atas komoditas ekspor utama Sumatera Utara yaitu CPO dan Karet.2. atau alternatif kebijakan lainnya.

serta adanya perayaan hari besar tahun baru Imlek dan Cengbeng. meningkat signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh negatif.7 Perkembangan Kredit Sektor Konsumsi Provinsi Sumut Walaupun mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode sebelumnya.6 Perkembangan Indeks NTPR Provinsi Sumut Grafik 1. Grafik 1. aktivitas konsumsi cenderung mengalami perlambatan pada akhir triwulan I-2012 yang berdampak pada tertahannya tingkat konsumsi untuk tumbuh lebih tinggi. Beberapa hal yang diduga turut mendorong peningkatan konsumsi pada periode ini adalah adanya peningkatan daya beli masyarakat tertentu sebagai dampak kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumatera Utara yang mencapai 15.89% dan kenaikan tunjangan gaji PNS termasuk TNI dan Polri. serta penjualan pakaian dan perlengkapannya.53% (yoy).sebesar 7. BAB 1 | Perkembangan Ekonomi Makro Regional 4 . penjualan makanan dan minuman. Indikator lain juga menunjukkan peningkatan konsumsi yaitu konsumsi BBM.5 Perkembangan Survei Konsumen Provinsi Sumut Grafik 1.

Tingginya kredit investasi diperkirakan juga didorong oleh tren penurunan suku bunga kredit perbankan.93 triliun atau meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 25.53% dan 25. mengingat besarnya jumlah tenaga kerja di sektor pertanian mencapai 43.17%. Dari sisi pembiayaan.Perlambatan aktivitas konsumsi terkonfirmasi oleh perkembangan Nilai Tukar Petani Perkebunan Rakyat (NTPR) sebagai alat ukur kemampuan tukar barang-barang (produk) pertanian yang dihasilkan petani dengan barang atau jasa yang diperlukan untuk konsumsi rumah tangga yang berada pada indeks 100.79% (yoy). Walaupun pada akhirnya terjadi penundaan terhadap rencana dimaksud.96. yang tumbuh sebesar 16. Penurunan indeks NTPR petani disebabkan menurunnya tren harga komoditas perkebunan utama di provinsi Sumatera Utara seperti CPO dan Karet yang pada posisi triwulan I-2012 secara tahunan mengalami penurunan masing-masing sebesar 4. meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencatat pertumbuhan sebesar 6.22. Penurunan kondisi ini juga dikonfirmasi oleh perlambatan penyaluran kredit konsumsi. Beberapa indikator kinerja investasi pada triwulan I-2012 memberikan konfirmasi terjadinya peningkatan kinerja investasi di awal tahun ini.90% dari total tenaga kerja berdasarkan survei BPS. namun masih terbukanya opsi untuk menaikkan harga BBM bersubsidi ketika prasyarat dipenuhi serta masih belum adanya kepastian mengenai upaya pengurangan subsidi lainnya mengakibatkan peningkatan ketidakpastian yang membuat konsumen menjadi lebih pesimis dibandingkan periode sebelumnya.26% (yoy) dengan baki debet mencapai Rp23. menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang berada pada indeks 103.40%. Di sisi lain. yang menjadi salah satu penopang pertumbuhan konsumsi masyarakat. 5 Perkembangan Ekonomi Makro Regional | BAB 1 .47% (yoy). kredit perbankan untuk tujuan investasi tercatat mengalami peningkatan angka pertumbuhan pada triwulan laporan.2. adanya rencana persepsi kenaikan pelaku harga BBM bersubsidi juga menyebabkan penyesuaian ekonomi terkait dengan tingkat konsumsi masyarakat. Pertumbuhan kredit investasi pada triwulan laporan tercatat sebesar 29. Besaran NTPR merupakan proxy tingkat konsumsi Sumatera Utara.73% (yoy). 1.2 Investasi Pada triwulan I-2012 kegiatan investasi tumbuh sebesar 8. melambat dibandingkan dengan periode sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 20. Hal ini terlihat dari penurunan Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berdasarkan hasil Survei Konsumen (SK).38% (yoy).

Selain itu.8 Pertumbuhan PDRB Sektor Investasi Grafik 1. antara lain adanya konversi lahan karet menjadi lahan kelapa sawit yang berdampak kepada kesulitan memperoleh bahan baku bagi industri pengolahan karet. keterbatasan lahan untuk mengembangkan areal industri yang menghambat proses penambahan kapasitas produksi perusahaan. jauh menurun dibandingkan periode tahun sebelumnya yang rata-rata mencapai 17-20 juta kubik per hari.Grafik 1. BAB 1 | Perkembangan Ekonomi Makro Regional 6 . sedangkan kebutuhan pasokan gas di Sumatera Utara direncanakan akan dipenuhi melalui pengalihan pasokan gas ke PLN kepada sektor industri di Sumut. diantaranya adalah minimnya pasokan listrik dan pasokan gas. pasokan gas untuk industri di Sumatera Utara rata-rata mencapai 11 juta kubik per hari. serta masih belum efektifnya peraturan daerah maupun birokrasi terkait dengan kegiatan investasi. Namun demikian terdapat beberapa kendala dalam melakukan kegiatan investasi. Permasalahan kelangkaan pasokan gas di Sumatera Utara telah terjadi sejak tahun 2011. Namun dalam perkembangannya pembangunan proyek terminal gas terapung tersebut akan dialihkan ke provinsi Lampung. kendala investasi juga dipicu oleh minimnya infrastruktur pendukung yang ada di provinsi Sumatera Utara. Semula pasokan gas di wilayah Sumatera Utara direncanakan akan terpenuhi jika pembangunan proyek terminal gas terapung atau Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) di Belawan terealisasi.9 Perkembangan Kredit Investasi Provinsi Sumut Berdasarkan informasi dari liaison contact Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX (Sumatera Utara dan Aceh). pada triwulan laporan realisasi investasi menunjukkan tren yang meningkat baik dalam bentuk penambahan kapasitas produksi maupun perawatan mesin-mesin pabrik secara berkala. Pada awal tahun 2012.

12 Impor Capital Goods Provinsi Sumut sebelumnya.10 Perkembangan Penjualan Semen Provinsi Sumut Grafik 1.60% (yoy) dengan jumlah sebesar 36.84% (yoy). melambat dibandingkan pertumbuhan periode sebelumnya yang tercatat sebesar 41. impor barang modal (capital goods) Sumatera Utara pada triwulan triwulan laporan juga menunjukkan dengan triwulan Pada penurunan dibandingkan Grafik 1.1 ribu ton atau menurun dibandingkan yang sebesar dengan triwulan sebelumnya mengalami pertumbuhan 46. Berdasarkan laporan survei liaison Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX (Sumatera Utara dan Aceh) menunjukkan bahwa kapasitas utilisasi perusahaan relatif stabil pada kisaran 50% . Beberapa indikator pembangunan infrastruktur memberikan konfirmasi terjadinya perlambatan diantaranya adalah tingkat penjualan semen dan Survei Penjualan Eceran (SPE) untuk tingkat pembelian barang konstruksi.49% (yoy).98% (yoy). Beberapa liaison contact 7 Perkembangan Ekonomi Makro Regional | BAB 1 .3 Nilai Penjualan Barang Konstruksi berdasarkan Survei Perdagangan Eceran Sementara itu. Tingkat penjualan semen pada triwulan I-2012 diperkirakan mencapai 737.Grafik 1.9 ribu ton atau tumbuh sebesar 13.100% serta masih adanya optimisme untuk melakukan penambahan kapasitas utilisasi. pembangunan infrastruktur sebagai salah satu indikator tingkat investasi pada awal tahun 2012 tercatat mengalami perlambatan. laporan. pertumbuhan volume impor barang modal tercatat sebesar 21. Pertumbuhan kedua indikator tersebut tercatat mengalami perlambatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Di sisi lain.

1. Hal ini terlihat dari peningkatan volume ekspor yang masih tinggi yaitu 29.39 triliun. Perkembangan ekspor komoditi CPO di sepanjang triwulan I-2012 menghadapi beberapa tantangan antara lain adanya peningkatan tarif Bea Keluar ekspor CPO menjadi 18%. serta penolakan ekspor produk kelapa BAB 1 | Perkembangan Ekonomi Makro Regional 8 . Pelambatan pertumbuhan nilai transaksi ekspor ini lebih disebabkan karena penurunan harga internasional dari komoditas ekspor utama Sumatera Utara khususnya karet alam. kinerja ekspor dan impor tercatat masing-masing tumbuh sebesar 6.13 Pertumbuhan PDRB Aktivitas Perdagangan Luar Negeri Provinsi Sumut Grafik 1.79% (yoy).36% (yoy). ketidakjelasan ketentuan pajak mengenai pengkreditan PPN bagi usaha yang terintegrasi yang berpotensi menambah beban pajak perusahaan perkebunan sehingga mengurangi daya saing produk CPO. melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Grafik 1. Kendati terjadi perlambatan pada transaksi perdagangan internasional Sumatera Utara.2.50% (yoy) melambat dibandingkan dengan pertumbuhannya pada triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 11. Pada triwulan laporan.menyatakan bahwa rencana kegiatan investasi yang belum berjalan sesuai dengan target pada tahun 2011 akan tetap diteruskan pada tahun 2012 mengingat masih tingginya permintaan terutama permintaan domestik.58% (yoy) dengan pertumbuhan net ekspor sebesar 5.3 Ekspor dan Impor Kegiatan transaksi perdagangan internasional berdasarkan data PDRB pada triwulan I-2012 tumbuh melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. neraca perdagangan masih mencatatkan net ekspor sebesar Rp 8.33% (yoy).46 % dan 5. Hal ini menunjukkan masih tingginya optimisme pelaku usaha terkait dengan perkembangan ekonomi Sumatera Utara pada triwulan mendatang.14 Perkembangan Nilai Ekspor Provinsi Sumut Transaksi ekspor Sumatera Utara tercatat tumbuh sebesar 0.

menurun dari periode sebelumnya senilai 2.16 Perkembangan Nilai Ekspor per Kelompok Komoditi Propinsi Sumut Berdasarkan kategori komoditi ekspor.57 milyar USD dengan komoditi ekspor dominan CPO dan karet. berdasarkan klasifikasi komoditi menurut SITC. Grafik 1. kelompok barang intermediate goods (bahan baku) dan consumption goods (barang konsumsi) mendominasi dengan persentase masing-masing sebesar 86% dan 14%. Grafik 1.17 Nilai Ekspor Komoditi Utama Provinsi Sumut Grafik 1. Nilai ekspor Sumatera Utara pada periode ini tercatat sebesar 2.18 Volume Ekspor Komoditi Utama Provinsi Sumut 9 Perkembangan Ekonomi Makro Regional | BAB 1 . perkembangan ekspor Sumatera Utara cenderung tidak sensitif terhadap kenaikan tingkat harga.sawit ke Amerika Serikat terkait dengan faktor lingkungan. Dengan kata lain.83 milyar USD. Tingginya komposisi ekspor bahan baku terhadap total ekspor berimplikasi pada rendahnya elastisitas harga terhadap permintaan produk ekspor. dikarenakan produk ekspor merupakan bahan baku bagi produk negara mitra dagang. Sementara itu. komoditi ekspor Sumatera Utara didominasi oleh komoditi manufaktur bahan makanan dan produk pertanian dengan presentase pada triwulan laporan masing-masing sebesar 47% dan 25%.15 Perkembangan Nilai Ekspor Propinsi Sumut Grafik 1.

Grafik 1.19 Aktivitas Bongkar-Muat di Pelabuhan Belawan

Grafik 1.20 Negara Tujuan Ekspor Provinsi Sumut

Volume ekspor Sumatera Utara terutama untuk komoditi CPO pada triwulan I2012 tercatat menurun sebesar 17% (qtq) dari 1,16 juta ton pada triwulan IV-2011 menjadi sebesar 970 ribu ton. Demikian juga secara nilai mengalami penurunan sebesar 144 juta USD atau 12,54%. Tingginya Bea Keluar (BK) komoditas CPO di tahun 2011 yang dimaksudkan untuk menjaga pasokan dalam negeri, berdampak pada perlambatan aktivitas ekspor. Hal ini diperkirakan karena produsen cenderung untuk menjual produk CPO ke pasar domestik untuk mengurangi beban bea keluar yang relatif berdampak pada pengurangan margin keuntungan. Di sisi lain, adanya penolakan ekspor CPO ke Amerika Serikat juga memberikan tekanan turunnya volume ekspor CPO walaupun pada level yang tidak terlalu signifikan mengingat pasar utama ekspor CPO Sumatera Utara ke negara India, Eropa, dan RRC. Namun demikian, secara tahunan ekspor CPO Sumatera Utara masih mencatatkan pertumbuhan. Pasar ekspor CPO ke negara-negara Eropa sampai dengan triwulan I-2012 secara tahunan maupun triwulanan tercatat masih mengalami pertumbuhan di tengah krisis yang melanda negara-negara Eropa. Di sisi lain, seiring dengan adanya penandatanganan Preferential Trade Agreement dengan Pakistan memberikan peluang munculnya pasar ekspor CPO Sumatera Utara. Sampai dengan triwulan I-2012 ekspor CPO Sumatera Utara ke Pakistan tercatat tumbuh sebesar 132% (qtq). Sementara itu, volume ekspor golongan karet dan barang dari karet di Sumatera Utara pada triwulan I-2012 tercatat sebesar 137 ribu ton, menurun 11,13% dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya (triwulan 1-2011) yang tercatat sebesar 155 ribu ton. Adapun secara nilai, ekspor karet Sumatera Utara tercatat sebesar 480 juta USD atau menurun sebesar 37% (yoy) dibandingkan triwulan 1-2011 yang tercatat sebesar 761 juta USD. Secara triwulanan, ekspor karet juga mengindikasikan hal yang sama, dimana pada triwulan I-2012 volume dan nilai ekspor
BAB 1 | Perkembangan Ekonomi Makro Regional

10

karet dari Sumatera Utara tercatat mengalami penurunan masing-masing sebesar 2,83% dan 15,97% (qtq). Pasar ekspor karet Sumatera Utara ke negara-negara tujuan utama menunjukkan perlambatan baik secara triwulanan maupun tahunan. Penurunan ekspor karet Sumatera Utara ke negara tujuan terutama terjadi di negaranegara Eropa seiring dampak terjadinya krisis. Perkembangan indikator perlambatan aktivitas ekspor juga dikonfirmasi oleh penurunan arus muat barang ekspor dari pelabuhan Belawan. Dilihat dari negara tujuan ekspor, nilai ekspor Sumatera Utara pada triwulan laporan masih didominasi oleh negara India sebesar 29%. Sementara itu, ekspor ke negara-negara epicentrum krisis seperti AS dan kawasan Eropa memiliki kontribusi terhadap total ekspor sebesar 28% sehingga perlu diwaspadai kemungkinan dapat terimbas oleh dampak krisis di kawasan tersebut.
Grafik 1. 5 Nilai Impor Provinsi Sumut Grafik 1. 4 Perkembangan Volume Impor per Kategori Barang Provinsi Sumut

Volume impor Sumatera Utara pada triwulan laporan mencapai 1,2 juta ton atau tercatat menurun sebesar 12,08% (yoy). Volume impor pada triwulan laporan mengalami perlambatan setelah pada triwulan sebelumnya mencatatkan pertumbuhan sebesar 0,30% (yoy). Jika dirinci menurut golongan penggunaan barang terjadi perlambatan transaksi impor golongan barang konsumsi bahan dan barang modal, sementara kelompok barang intermediate atau bahan baku masih menunjukkan tren yang meningkat. Perlambatan transaksi impor terutama dipicu oleh tren perlambatan impor bahan baku sebagai jenis komoditi terbesar pada struktur impor Sumatera Utara. Tren perlambatan yang cukup tinggi juga terjadi pada kelompok barang konsumsi setelah tumbuh cukup signifikan pada triwulan I-2011. Dari struktur komoditi impor Sumatera Utara, bahan

11

Perkembangan Ekonomi Makro Regional | BAB 1

baku/penolong masih memberikan andil yang cukup besar mencapai 88%. Sementara itu, impor barang konsumsi memiliki share sebesar 9% terhadap total impor diikuti dengan impor barang modal sebesar 3%.
Grafik 1. 6 Presentase Volume Impor per Kategori Barang Provinsi Sumut Grafik 1.24 Negara Asal Impor Provinsi Sumut

Dilihat dari negara asal impor, nilai impor dari Cina mencatat nilai tertinggi pada triwulan I-2012 sebesar 204,86 juta USD (38%), diikuti oleh Malaysia sebesar 98,96 juta USD (19%), dan kawasan Eropa sebesar 95,61 juta USD (18%). 1.3 SISI PENAWARAN
Tabel 1. 2 Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Sumut dari Sisi Penawaran

Kendati tumbuh melambat, pertumbuhan sektor-sektor ekonomi andalan Sumatera Utara tetap menunjukkan pertumbuhan yang positif pada triwulan laporan. Struktur perekonomian Sumatera Utara pada triwulan laporan masih didominasi oleh tiga sektor utama yaitu sektor industri pengolahan, sektor pertanian, dan sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR). Kombinasi ketiga sektor tersebut memberikan sumbangan sebesar 62,99% terhadap perekonomian Sumatera Utara. Kinerja sektor industri pengolahan dan sektor pertanian tercatat mengalami perlambatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Sementara itu, sektor PHR masih menunjukkan tren yang meningkat pada triwulan laporan.
BAB 1 | Perkembangan Ekonomi Makro Regional

12

melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 3. Hal ini memberi harapan akan prospek kinerja sektor pertanian yang lebih baik pada tahun 2012. 13 Perkembangan Ekonomi Makro Regional | BAB 1 . Berdasarkan hasil pemantauan BPS Sumatera Utara pada triwulan I-2012. Pada triwulan I-2012.1. kredit perbankan untuk kegiatan sektor pertanian pada triwulan laporan masih menunjukkan tren yang meningkat seiring dengan mulai berlangsungnya musim tanam pada periode ini. Hal ini mencerminkan bahwa kemampuan tukar produk pertanian yang dihasilkan petani dengan barang atau jasa yang diperlukan untuk konsumsi rumah tangga mengalami penurunan.86% (yoy). NTP mengalami tren yang menurun. Berdasarkan data Dinas Pertanian Sumatera Utara menyebutkan realisasi panen gabah periode Januari –Februari 2012 tercatat sebesar 967.3. Di sisi lain.68% (yoy).1 Sektor Pertanian Kinerja sektor pertanian pada triwulan laporan mengalami pertumbuhan yang positif dengan tumbuh sebesar 3.53% (yoy).04% (yoy) atau meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 5. Kredit perbankan sektor pertanian tercatat tumbuh sebesar 17.685 ton serta tidak ditemukan adanya kegagalan panen. kinerja sektor pertanian tercatat tumbuh stabil seiring dengan mulai datangnya musim panen pada bulan Februari – April 2012. Hal ini tercermin dari penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) yang merupakan salah satu indikator kesejahteraan petani. 7 Pertumbuhan PDRB Sektor Pertanian Grafik 1. Grafik 1.26 Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) Propinsi Sumut Perlambatan kinerja sektor pertanian pada triwulan I-2012 juga mempengaruhi tingkat kesejahteraan petani.

tata air mikro (TAM). pembangunan irigasi pertanian di Sumatera Utara tahun 2012 akan terus berjalan dari Anggaran Pendapatan Belanja Nasional (APBN) sebesar Rp34. pompanisasi. Sedangkan anggaran yang bersumber dari APBD diperuntukan bagi 19 BAB 1 | Perkembangan Ekonomi Makro Regional 14 . Program lain yang diharapkan untuk mencapai program ini adalah pembangunan infrastruktur.96. Indeks NTPR pada triwulan laporan tercatat sebesar 100.301 ton atau naik dibandingkan tahun 2011 yang hanya mencapai 3. jalan usaha tani.659.650 hektar.Grafik 1. Perlambatan sub sektor perkebunan juga terkonfirmasi oleh penurunan indeks NTPR.027. dan rumah kompos.683 ton. serta percepatan bantuan pupuk.27 Perkembangan Kredit Sektor Pertanian Propinsi Sumut Grafik 1. Upaya pencapaian produksi tersebut akan didukung dengan pembuatan lahan sawah baru di daerah Nias Selatan dan Mandailing Natal (Madina). jaringan irigasi desa (Jides). kelancaran distribusi pupuk bersubsidi.22 menurun dibandingkan dengan posisi triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 103.86 miliar dan APBD Sumatera Utara mencapai sekitar Rp40 miliar dengan sasaran luas mencapai 10.28 Perkembangan Nilai Tukar Perkebunan Rakyat (NTPR) Propinsi Sumut Perlambatan kinerja sektor pertanian diperkirakan disebabkan perlambatan yang terjadi pada sub sektor perkebunan seiring dengan perlambatan ekspor komoditas perkebunan utama Sumatera Utara yaitu CPO dan karet yang pada triwulan laporan berada pada tren yang menurun. Upaya rehabilitasi jaringan irigasi tersebut meliputi perbaikan infrastruktur jaringan irigasi tingkat usaha tani (Jitut). Terkait dengan pembangunan infrastruktur pertanian. Sementara itu. sebagai lanjutan program peningkatan produktivitas padi. Kenaikan anggaran ini terjadi dengan tujuan merehabilitasi jaringan irigasi usaha tani di Sumatera Utara. target produksi padi tahun 2012 mencapai 4.

secara tahunan kinerja sektor industri masih menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan pertumbuhannya pada triwulan yang sama tahun sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 1.43% manufaktur kredit (yoy) memberikan konfirmasi terjadinya perlambatan sektor industri pengolahan.29 Pertumbuhan PDRB Sektor Industri Pengolahan Grafik 1. Namun demikian. pada triwulan I-2012 tercatat tumbuh sebesar 1.86% (yoy). system of rice intensification (SRI) dan pupuk. 1.2 Sektor Industri Pengolahan Grafik 1. industri sebesar pengolahan triwulan Grafik 1. 9.3. melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 2.22% (yoy).30 Perkembangan Kredit Sektor Industri Pengolahan Propinsi Sumut Kinerja sektor industri pengolahan sebagai salah satu sektor ekonomi utama Sumatera Utara.kabupaten/kota yang juga untuk pembangunan infrastruktur irigasi. Beberapa indikator sektor industri pengolahan seperti kredit perbankan sektor industri serta indeks pertumbuhan Pada perbankan tercatat melambat triwulan sektor produksi laporan.80% (yoy).31 Perkembangan Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Provinsi Sumut tumbuh dibandingkan sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 11. Di sisi lain.55% (yoy). berdasarkan data perkembangan pertumbuhan periode laporan produksi industri manufaktur di Provinsi Sumatera Utara pada menunjukkan bahwa secara triwulanan 15 Perkembangan Ekonomi Makro Regional | BAB 1 .

Sampai dengan akhir triwulan I-2012 Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Provinsi Sumatera Utara tercatat tumbuh sebesar 46. Beberapa prompt indicator seperti perkembangan tingkat hunian hotel. Di sisi lain. Peningkatan kinerja sektor PHR pada triwulan ini mampu menahan perekonomian Sumatera Utara untuk melambat lebih dalam.57% serta penurunan produksi industri makanan sebesar 2.69% (yoy). pembangunan proyek infrastruktur tersebut akan dialihkan ke Provinsi Lampung. sebab sejak Oktober 2011 pasokan gas dipotong lagi menjadi 11. Hotel. Penurunan suplai gas akan berlangsung hingga akhir 2012.65%. Pada dasarnya pasokan gas di wilayah Sumatera Utara direncanakan akan terpenuhi jika pembangunan proyek terminal gas terapung atau Floating Storage and Regasification Unit (FSRU) di Belawan terealisasi. tapi yang mampu dipenuhi pasokannya oleh Perusahaan Gas Negara (PGN) hanya sebesar 17 mmscfd. serta kredit perbankan sektor PHR menunjukkan peningkatan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi sektor PHR. Di sisi lain adanya kenaikan gaji PNS termasuk TNI/Polri juga menjadi salah satu faktor pendorong peningkatan kinerja sektor PHR.98%. Perkembangan sub sektor perhotelan pada triwulan laporan menunjukkan tren yang meningkat. meningkat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 8. Namun demikian. Penurunan produksi tersebut dipicu oleh turunnya produksi dari industri furnitur sebesar 3. Keadaan tersebut semakin memburuk. penurunan produksi industri karet/barang dari karet dan plastik sebesar 3.produksi industri manufaktur besar dan sedang mengalami penurunan sebesar 3% (qtq).93% BAB 1 | Perkembangan Ekonomi Makro Regional 16 . dan Restoran Sektor perdagangan. peningkatan kinerja sektor PHR dipicu oleh faktor musiman seiring dengan adanya perayaan hari besar keagamaan (Tahun Baru Imlek dan Cengbeng) dan hari libur nasional yang diperkuat dengan maraknya kegiatan promosi/ sale di pusatpusat perbelanjaan.3. nilai penjualan berdasarkan hasil Survei Pedagang Eceran (SPE). sedangkan kebutuhan pasokan gas di Sumatera Utara akan dipenuhi melalui pengalihan pasokan gas ke PLN kepada sektor industri di Sumatera Utara 1.4 mmscfd.98% (yoy). permasalahan yang saat ini sedang dihadapi industri di Sumatera Utara adalah sebanyak 54 industri di Sumatera Utara baik PMA maupun PMDN terancam tidak mendapatkan pasokan gas yang sekaligus mengancam kelangsungan usahanya.3 Sektor Perdagangan. hotel dan restoran pada triwulan I-2012 tumbuh sebesar 9. Memasuki awal tahun 2012. Kebutuhan gas bagi industri existing di Sumatera Utara saat ini sebesar 25 mmscfd (millions of standard cubic feet per day).

15% pertumbuhan Rp26. 34 Perkembangan Kredit Sektor PHR Provinsi Sumut sektor triwulan yang pada sebesar mencapai perdagangan. 8 Perkembangan Tingkat Hunian Hotel Provinsi Sumut Indikator aktivitas perdagangan dapat pula dilihat dari dukungan pada pembiayaan tinggi PHR perbankan Grafik 1. trend-reversal signifikan nilai mencatatkan 1. Pada triwulan ini kredit sektor melanjutkan sejak I-2010 (yoy) yang dengan dengan tren meningkat triwulan 27. Grafik 1.3.67% (yoy) lebih tinggi dibandingkan angka pertumbuhan bulan sebelumnya.32 Pertumbuhan PDRB Sektor PHR Grafik 1. berdasarkan hasil SPE yang dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX (Sumatera Utara dan Aceh) sampai dengan akhir triwulan I-2012 tercatat tumbuh sebesar 14.4 Sektor Keuangan Tabel 1. 3 Indikator Kinerja Perbankan Provinsi Sumut 17 Perkembangan Ekonomi Makro Regional | BAB 1 .93 triliun. Sementara itu.16%. dan diperkirakan masih akan terus mengalami peningkatan pada triwulan II-2012. hotel dan restoran yang lebih dibandingkan terus dengan sebelumnya.mengalami peningkatan dibandingkan dengan posisi akhir triwulan IV-2011 yang tercatat tumbuh sebesar 44.

Pertumbuhan penyaluran kredit yang lebih tinggi dibandingkan dengan penghimpunan DPK perbankan menyebabkan tingkat LDR perbankan pada triwulan laporan mengalami peningkatan dari 83. Demikian pula dengan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) perbankan Sumatera Utara yang pada triwulan laporan juga mengalami perlambatan pertumbuhan dari 16. Persewaan dan Jasa mengalami pertumbuhan tertinggi pada triwulan ini yaitu sebesar 11.28%.33%.19% (yoy).43% (yoy). melambat dibandingkan triwulan sebelumnya 8.17%. 9 Perkembangan Penjualan Semen Provinsi Sumut Grafik 1. Realisasi pengadaan semen pada triwulan I-2012 tercatat tumbuh sebesar 13.67% (yoy). melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 20. Kualitas penyaluran kredit perbankan pada periode ini relatif terjaga dengan tingkat NPL sebesar 2.5 Sektor Bangunan Grafik 1. sektor bangunan mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi sebesar 7.92% (yoy). Pertumbuhan sektor ini sedikit melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 14. Sektor Keuangan.84% (yoy) dengan jumlah sebesar 737 BAB 1 | Perkembangan Ekonomi Makro Regional 18 . 1.81% (yoy) menjadi 14.35% (yoy).91% (yoy).63% pada triwulan sebelumnya menjadi 85. Pelambatan ini searah dengan kinerja perbankan Sumatera Utara yang memiliki pangsa dominan pada sektor ini yang pada triwulan laporan membukukan pertumbuhan kredit sebesar 19.37% sedikit meningkat dari sebelumnya yang tercatat sebesar 2. Hal ini dikonfirmasi dengan melambatnya pertumbuhan penjualan Semen di Provinsi Sumatera Utara pada triwulan laporan.3. 10 Perkembangan Kredit Sektor Bangunan Provinsi Sumut Pada triwulan I-2012. Melambatnya kinerja sektor bangunan tidak terlepas dari siklus pembangunan proyek-proyek infrastruktur yang pada umumnya akan mulai berjalan pada awal semester II seiring dengan mulai berjalannya proyek-proyek infrastruktur pemerintah.Dari seluruh sektor.

indikator sub sektor pengangkutan terutama untuk angkutan transportasi.43% (yoy). berdasarkan data perkembangan jumlah penumpang angkutan udara dan angkutan laut masih menunjukkan peningkatan dan menjadi penopang stabilnya kinerja sektor pengangkutan dan komunikasi. Namun demikian. Pertumbuhan penjualan semen tersebut mengalami perlambatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 41. terutama kegiatan bongkar muat barang di pelabuhan Belawan menunjukkan tren menurun pada triwulan I-2012. Perlambatan kinerja sektor pengangkutan dan komunikasi diperkirakan dipicu oleh perlambatan yang terjadi pada sub sektor pengangkutan seiring dengan adanya tren penurunan ekspor pada triwulan laporan. pembiayaan yang dilakukan oleh perbankan di Sumatera Utara ke sektor (yoy). kredit yang disalurkan perbankan pada triwulan 19 Perkembangan Ekonomi Makro Regional | BAB 1 .49% (yoy) meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 17.69% 1.37 Perkembangan Jumlah Penumpang Angkutan Laut dan Udara Provinsi Sumut Grafik 1.98% (yoy) Sementara itu. bangunan dan konstruksi tercatat tumbuh 20.48%. Namun demikian. Grafik 1.38 Perkembangan Kredit Sektor Pengangkutan Provinsi Sumut Perkembangan prompt indicator sub sektor pengangkutan. stabil dibandingkan dengan periode sebelumnya yang tumbuh 8.3.6 Sektor Pengangkutan dan Komunikasi Pada triwulan laporan. sektor pengangkutan dan komunikasi mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi dengan pertumbuhan sebesar 8.ribu ton. Hal ini diperkirakan karena meningkatnya aktivitas yang terkait dengan hari libur nasional pada triwulan I-2012. dukungan pembiayaan perbankan terhadap sektor pengangkutan tumbuh melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Dilihat dari sisi pembiayaan.

laporan masih menunjukkan tingkat pertumbuhan yang cukup tinggi.13% (yoy) masih lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 53. BAB 1 | Perkembangan Ekonomi Makro Regional 20 . Penyaluran kredit pada triwulan ini tercatat tumbuh sebesar 49.75% (yoy).

dan Pelabuhan Belawan Medan. Saat ini Balai Karantina memiliki instalasi karantina seluas 7. Selain itu. ditunda dari penetapan sebelumnya tanggal 19 Maret 2012. Dalam menghadapi pemberlakuan regulasi tersebut. yaitu Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. dibatasi menjadi melalui 4 pintu masuk.57 ribu ton. dan 90 Tahun 20111 tentunya tetap membawa dampak terhadap impor hortikultura maupun aktivitas di Pelabuhan Belawan. Bandara Soekarno-Hatta Tangerang. Pelabuhan Belawan sebagai pintu masuk utama perdagangan dari dan ke luar Sumatera Utara. sumber daya manusia. Permentan tersebut mulai berlaku tanggal 19 Juni 2012.000 m2. produk impor hortikultura yang sebelumnya dapat masuk melalui 8 pintu masuk. setiap tahunnya menerima produk impor hortikultura sebanyak 438. Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Belawan menyatakan kesiapan baik dari segi sarana. Dengan diterapkannya Permentan tersebut. 89. prasarana. Sumatera Utara memiliki 1 laboratorium. Pelabuhan Makassar. Dalam kondisi normal Pelabuhan Belawan menerima 150 s. maupun kapasitas instalasi.BOKS 1 g DAMPAK KEBIJAKAN PEMBATASAN IMPOR HORTIKULTURA Kebijakan Pemerintah melakukan pembatasan impor hortikultura melalui Permentan 88. Kapasitas maksimum yang dimiliki oleh Belawan International Container Terminal (BICT) Permentan 88 Tahun 2011 tentang Pengawasan Keamanan Pangan terhadap Pemasukan dan Pengeluaran Pangan Segar Asal Tumbuhan Permentan 89 Tahun 2011 tentang Persyaratan Teknis dan Tindakan Karantina Tumbuhan untuk Pemasukan Buah-buahan dan/atau Sayuran Buah Segar ke dalam Wilayah Negara Republik Indonesia Permentan 90 Tahun 2011 tentang Persyaratan dan Tindakan Karantina Tumbuhan untuk Pemasukan Hasil Tumbuhan Hidup Berupa Sayuran Umbi Lapis Segar ke dalam Wilayah Negara Republik Indonesia 1 Dampak Kebijakan Pembatasan Impor Hortikultura | Boks 1 . dari 12 laboratorium penelitian barang karantina (BPTPH) yang ada di seluruh Indonesia.d 200 kontainer setiap bulannya. Impor hortikultura melalui Pelabuhan Belawan ini masih jauh di bawah produksi lokal.

pemerintah juga diharapkan melakukan pengawasan ketat terhadap kualitas barang impor yang akan sampai di daerahdaerah yang dapat berdampak pada kesehatan masyarakat.d 5. Kondisi tersebut tentu saja akan meningkatkan volume barang impor yang masuk melalui pelabuhan Belawan hingga 7 kali lipat bila dibandingkan dengan kondisi normal. Jakarta. diharapkan Kementrian Perdagangan segera menerapkan pengaturan kuota impor pada masing-masing pintu masuk. Namun BBKP Belawan menyatakan kesiapannya mengingat kapasitas BICT dan BLC yang masih sangat besar. Sedangkan untuk meningkatkan daya saing produk lokal. mengingat penambahan rantai distribusi dapat berdampak pada turunnya kualitas barang dimaksud (bahkan dapat menjadi racun bagi tubuh).250 kontainer per bulannya. maka diperkirakan pada 4 pintu masuk tersebut masing-masing akan bertambah ± 1. dengan catatan daya saing buah lokal harus terus ditingkatkan mengingat barang impor yang umumnya masuk ke wilayah Indonesia cukup kompetitif. sebagai dampak dari impor yang selama ini masuk melalui Pelabuhan Tanjung Priok.000 s. Dengan diberlakukannya pembatasan pintu masuk bagi impor komoditi holtikultura. tidak dipilih sebagai salah satu pintu masuk karena kondisi pelabuhan saat ini sudah hampir mencapai over capacity. Untuk menghindari terjadinya penumpukan barang impor pada pintu masuk tertentu.adalah 7. Setiap bulannya Pelabuhan Tanjung Priok menerima 3. Pelabuhan Tanjung Priok. Boks 1 | Dampak Kebijakan Pembatasan Impor Hortikultura . Mereka menilai kebijakan tersebut tidak akan merusak tatanan produk lokal. sedangkan Belawan Logistic Center (BLC) mampu menampung 200 kontainer. diharapkan dinas terkait terus melakukan pembinaan dan pelatihan bagi petani baik dari segi produksi maupun pemasarannya.000 kontainer komoditi holtikultura. Di sisi lain.000 kontainer. Pelaku usaha (khususnya importir hortikultura) menyambut baik kebijakan tersebut.

a.a.a. dan 15.10% responden menyatakan bahwa pengeluaran pada 3 bulan y. Sedangkan 29.. Perkiraan kenaikan harga pada periode 3 bulan y.d.89% responden menyatakan pengeluarannya pada 3 bulan y.d akan berada pada level yang relatif tetap.73% (mtm) menuju level pesimis. meskipun secara year on year meningkat tipis sebesar 0. Rencana pembatasan subsidi BBM tersebut telah menggiring ekspektasi masyarakat terhadap kenaikan harga barang dan jasa secara umum. dimana 54.36%. Hal tersebut sejalan dengan hasil Survei Konsumen (SK) Bank Indonesia Medan periode Maret 2012 yang memperlihatkan terjadinya pelemahan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar -6.56% lainnya menyatakan akan terjadi peningkatan harga yang signifikan. Sedangkan 38.a. Sentimen pesimis juga terjadi pada Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) sebesar -19.62% (yoy) atau sebesar -16.02% lainnya menyatakan peningkatan pengeluaran yang signifikan. dimana 48.d akan sedikit meningkat.48% (mtm).a.92% menyatakan bahwa akan terjadi sedikit kenaikan harga barang dan jasa pada 3 bulan y.d diikuti dengan peningkatan perkiraan pengeluaran. Boks 2 | Tendensi Konsumen Triwulan I-2012 23 .BOKS 2 TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN I 2012 Isu ekonomi dan politik terkait rencana pembatasan subsidi BBM yang berlarut-larut disinyalir merupakan penyebab dari terbentuknya sentimen negatif masyarakat terhadap kondisi ekonomi. dan 13.52% responden meyakini harga barang dan jasa 3 bulan y.d akan berada pada kondisi yang relatif stabil.

serta perumahan.79% masyarakat mengeluarkan biaya antara Rp100. rokok & tembakau. listrik. terutama pengeluaran terhadap bahan makanan. makanan jadi. gas dan bahan bakar.000.Peningkatan pengeluaran tersebut diindikasikan akan terjadi pada seluruh kelompok komponen pengeluaran. minuman.000. Pengeluaran untuk BBM/bulan 24 Tendensi Konsumen Triwulan I-2012 | Boks 2 .00 – Rp500. Berdasarkan hasil survei singkat mengenai respon masyarakat terhadap kenaikan BBM pada bulan Maret 2012 di Kota Medan dan sekitarnya. didapati 70.00 setiap bulannya untuk BBM.

sedangkan porsi kredit pemilikan mobil adalah 48%. 65.75% masyarakat memilih mengalihkan moda transportasi mobil ke motor.14/10/DPNP kepada semua bank umum terkait dengan Loan to Value (LTV) pada KPR dan KKB. Hal ini sejalan dengan realisasi kredit kendaraan bermotor (KKB) dimana kredit pemilikan motor memiliki porsi 52% dari total KKB. serta Peraturan Menteri Keuangan Nomor 43/PMK. khususnya pada realisasi kredit bulan Juni 2012. khususnya BBM. Pilihan Pengalihan Moda Transportasi Boks 2 | Tendensi Konsumen Triwulan I-2012 25 . Namun realisasi kredit tersebut diperkirakan akan mengalami penurunan./2012 tentang Uang Muka Pembiayaan Konsumen untuk Kendaraan Bermotor pada Perusahaan Pembiayaan.010.Dalam mengantisipasi kenaikan harga BBM yang akan mendorong peningkatan pengeluaran. sebagai akibat atas penerapan kebijakan Bank Indonesia melalui Surat Edaran No.

BAB II Perkembangan Inflasi Daerah .

Inflasi Sumatera Utara tercatat 3. INFLASI TRIWULANAN Inflasi triwulanan Sumut tercatat sebesar 0.63% (qtq). Ditinjau dari disagregasi inflasi.00%. Inflasi Bulanan Sumut dan Nasional Grafik 2.1. inflasi volatile foods dan administered prices masing-masing sebesar 1.63% (qtq).2.B BA AB B2 2 PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH “ Tekanan inflasi Provinsi Sumatera Utara sedikit meningkat dibandingkan triwulan lalu. BAB 2 | Perkembangan Inflasi Daerah 26 . inflasi tahunan Sumut pada triwulan I-2012 tercatat sebesar 3. sedikit di atas inflasi tahunan triwulan IV-2011 sebesar 3.40% (yoy) dan 3. KONDISI UMUM Pada triwulan I-2012.00%). Grafik 2. inflasi Sumut pada periode ini masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3.1. Kendati demikian.88%. lebih tinggi dibandingkan inflasi triwulanan lalu sebesar 0.63% (qtq).66%. Inflasi Tahunan Sumut dan Nasional 2. Sementara itu.89% (yoy).91%) kembali mendominasi inflasi Sumatera Utara. lebih rendah dibandingkan inflasi triwulanan nasional sebesar 0. Apabila dibandingkan dengan triwulan IV-2011 (0. maka inflasi pada periode ini juga lebih tinggi. Sumut mengalami inflasi 0.86% (yoy) atau 0.97% (yoy). Sementara itu.86%.2. pada periode ini inflasi inti (4. Kendati demikian level inflasi Sumatera Utara masih di bawah inflasi nasional“ 2.

4167 0.1799 0.3076 -0.0733 0.1.0583 -0.0223 0. Komoditas yang Memberikan Andil Deflasi Triwulan I-2012 Januari 2012 Komoditas Cabe merah Emas perhiasan Baju kaos/ T-shirt Calana panjang jeans Daging sapi Tempe Teri Sumber: BPS Februari 2012 Andil Deflasi Komoditas Cabe merah Angkutan udara Daging ayam ras Kacang panjang Kentang Wortel Dencis Andil Deflasi -0.0833 -0.1094 -0.0250 Maret 2012 Komoditas Baru bata/ batu tela Angkutan udara Gaun Bawang merah Kembung/ Gembung Dencis Daging sapi Andil Inflasi 0. INFLASI MENURUT KELOMPOK BARANG DAN JASA Berdasarkan kelompok barang dan jasa.0364 0.0130 0.0554 0.0902 -0.2.14%).0441 -0.0120 Tabel 2.0203 -0.1211 0.1028 0.0268 -0.0154 2. Komoditas yang Memberikan Andil Inflasi Triwulan I-2012 Januari 2012 Komoditas Angkutan udara Daging ayam ras Dencis Tongkol Kembung/ Gembung Kacang panjang Wortel Sumber: BPS Februari 2012 Andil Inflasi 0.0286 -0. Perkembangan Inflasi Daerah | BAB 2 27 .0517 -0.0182 -0.27% (qtq).0292 0.0569 0. seluruh kelompok memiliki level inflasi yang lebih tinggi dibandingkan triwulan lalu kecuali kelompok bahan makanan. Kelompok bahan makanan justru mengalami deflasi sebesar 0. Inflasi tertinggi dialami oleh kelompok sandang (2.1146 -0.0242 -0.2.0294 -0.0257 -0.0371 Maret 2012 Komoditas Daging ayam ras Beras Tongkol Cabe merah Bayam Emas perhiasan Kentang Andil Deflasi -0.0889 -0.0374 0.0228 0.0311 0.1266 0.1.Tabel 2.0264 0.0545 -0.0412 -0.0124 0.4930 0.0539 Komoditas Celana panjang jeans Emas perhiasan Bawang merah Gaun Beras Baju kaos/ T-shirt Tongkol Andil Inflasi 0.4533 -0.

03 Penurunan harga bumbu-bumbuan khususnya cabe merah terkonfirmasi dari hasil Survei Pemantauan Harga (SPH) yang dilakukan di kota Medan.93 7.74 6.97 II III -3. Inflasi Triwulanan di Sumut Menurut Kelompok Barang & Jasa (%) Sumber: BPS a. BAB 2 | Perkembangan Inflasi Daerah 28 . Cabe merah keriting menurun dari Rp38.31%). diolah I II III -1.68 8. Selain komoditas cabe merah.16 IV I -0.67 6. Harga cabe merah besar-segar mengalami penurunan dari Rp35. pada triwulan I-2012 kelompok bahan makanan mengalami deflasi bahkan dalam level yang lebih rendah.000 per kg pada akhir triwulan I-2012 (turun 192.38 IV -0. komoditas beras yang memiliki bobot besar dalam perhitungan inflasi juga mengalami penurunan harga karena berlangsungnya musim panen di seluruh sentra produksi padi Sumatera Utara.000 per kg pada akhir triwulan IV-2011 menjadi Rp25.73 I II III -2.91 5. Deflasi kelompok bahan makanan terutama disebabkan oleh subkelompok bumbubumbuan yang mengalami deflasi 23.000 per kg pada akhir triwulan I-2012 (turun 28.27 IV I 2012 4.03%.01 -0.000 per kg pada akhir triwulan IV-2011 menjadi Rp13.Tabel 2.01 6.3 Inflasi Triwulanan Kelompok Bahan Makanan di Sumut 10% 8 6 4 2 0 -2 -4 -6 Sumber : BPS. Grafik 2.76 2011 -0.10 II III 0.57%).92 2009 IV I -2. Kelompok Bahan Makanan Sama halnya dengan triwulan IV-2011.3.86 2008 2010 0.

41 I II III IV 2011 0.Grafik 2. kelompok sandang mengalami inflasi sebesar 2. terutama komoditas celana panjang jeans dan baju kaos/ t-shirt. Pada triwulan I-2012.14%.00 % pada triwulan IV-2011. Minuman.07 2.47 Sumber : 2008 BPS.38 III IV I II % 6.67%). Rokok dan Tembakau Inflasi kelompok makanan jadi.13 -0. Kelompok Sandang Di tengah penurunan tren harga emas. minuman.64 2. Grafik 2.02 I 2012 2.50 I II III IV 2010 -0. diolah -4 -3. dan tembakau meningkat menjadi 0.20 2009 c.45 4. Subkelompok yang memberikan andil besar terhadap inflasi kelompok ini adalah subkelompok makanan jadi (0. inflasi kelompok sandang lebih banyak disumbang oleh subkelompok sandang laki-laki dewasa.4 Perkembangan Harga Cabe Merah di Kota Medan Sumber: Survei Pemantauan Harga b.14 3.60% pada triwulan I-2012 dari sebelumnya sebesar 0. kelompok sandang masih tetap menjadi kelompok dengan level inflasi tertinggi dibandingkan kelompok lain.5 Inflasi Triwulanan Kelompok Sandang di Sumut 8 6 4 2 0 -2 I 0.95 III IV 3. Sementara itu inflasi Perkembangan Inflasi Daerah | BAB 2 29 . rokok. Pada periode ini. Kelompok Makanan Jadi.69 0.22 6.57 II -1.30 1.24 7.

38 4. pada triwulan I-2012 kelompok transportasi. komunikasi.92 II III IV I 2009 II III IV I 2010 II III IV I 2011 2012 d.00 5.19 2.31 I II -0.00 4.00 I II III IV I 2008 Sumber: BPS. tembakau. dan jasa keuangan. tarif angkutan udara sempat mengalami kenaikan 54% karena perayaan Tahun Baru Imlek.06 III 0.02% pada triwulan IV-2011.89 1. khususnya komoditas angkutan udara yang harganya sangat sensitif terhadap faktor seasonal.31 1.50 0.81 1.61 0.04%) terhadap inflasi kelompok transportasi. komunikasi.00 2. Inflasi Triwulanan Kelompok Transportasi.55% dan 0.47 II III IV 0.99 2011 BAB 2 | Perkembangan Inflasi Daerah 30 .17 -3.37 2.54 3. diolah 1. dan jasa keuangan mengalami inflasi sebesar 1.50 2010 -1. Grafik 2.triwulanan subkelompok minuman yang tidak beralkohol dan subkelompok rokok. Subkelompok transportasi memberikan andil besar (2. dan minuman beralkohol masing-masing sebesar 0.22 0. Kelompok Transportasi. Grafik 2. Komunikasi dan Jasa Keuangan Setelah sempat mengalami deflasi sebesar 0.15 2.00 0.00 0.43 2.45%. diolah I 0. Minuman.84 2.00 3.60 2.02 II III IV I II 0.89 0. Rokok & Tembakau di Sumut 6.7.20 1.29 IV I -1.54% (qtq).46 1.02 III IV I 2012 2.65 2.39 -0.03 1.66 0. Komunikasi & Jasa Keuangan di Sumut % 4 3 2 1 0 -1 -2 -3 -4 Sumber : BPS.56 2.6 Inflasi Triwulanan Kelompok Makanan Jadi. Di awal tahun.11 2008 2009 -3.00 1.

30 1. e.Selain Tahun Baru Imlek. Subkelompok biaya tempat tinggal merupakan yang tertinggi dibandingkan subkelompok lainnya.10%.56 0.8.00 III IV I 2012 1.01% (qtq) pada triwulan IV2011 menjadi 0.39 3.09 III IV I II 0. Sementara itu. Inflasi subkelompok 1 Gafeksi Perkembangan Inflasi Daerah | BAB 2 31 . Kelompok Kesehatan Kelompok kesehatan juga mengalami peningkatan inflasi triwulanan menjadi 0.30 2008 Sumber : BPS.40 0.000 per liter.500 per liter menjadi Rp6. Gas dan Bahan Bakar Dibandingkan dengan triwulan lalu. Kelompok Perumahan. rencana kenaikan BBM turut mempengaruhi kenaikan tarif angkutan. Subkelompok obat-obatan (2.19 2.73 3.040. Subkelompok jasa perawatan jasmani mengalami inflasi sebesar 0. listrik.67% (qtq) pada triwulan I-2012. Air.26 I II 0.64 0. tarif angkutan barang yang ditentukan berdasarkan kesepakatan antar pelaku ekonomi (tidak ditetapkan oleh pemerintah) bahkan dapat meningkat hingga 90%.73 1.09 I II III IV 0. Sementara itu. diolah 2009 2010 2011 f. Berdasarkan informasi kontak liaison1 tarif angkutan umum diperkirakan dapat mengalami kenaikan hingga 33.67 2.63 0. kelompok perumahan.64% (qtq) di triwulan I-2012.54%.69% apabila harga premium naik Rp1. inflasi subkelompok perawatan jasmani dan kosmetika sebesar 0.23 0.22%) mengalami inflasi tertinggi dibandingkan subkelompok lainnya. gas dan bahan bakar juga mengalami peningkatan dari 0. Listrik. Subkelompok jasa kesehatan mengalami inflasi 0. Inflasi Triwulanan Kelompok Kesehatan di Sumut 4% 3 3 2 2 1 1 0 I II III IV 0. baik angkutan umum maupun angkutan barang. air.02% Grafik 2.

97 0.190.07%.58% (qtq) pada triwulan I-2012.00-0.88 0.06 III IV 2008 Sumber : BPS. Sementara itu. Grafik 2. Air.64 0.28%.21 I II III IV I II III IV 1.74 2.84 0. Rekreasi dan Olahraga Pada triwulan I-2012.10.77 0. Inflasi Triwulanan Kelompok Pendidikan.67 1.41 0. Gas & Bahan Bakar di Sumut 4% 3 3 2 2 1 1 0 I II III IV I II 1.01 II III IV 0.01% (qtq) pada triwulan IV-2011 menjadi 0.642. Grafik 2.12 0. subkelompok penyelenggaraan rumah tangga dan subkelompok bahan bakar.01 I 2012 3. penerangan.01 -0. diolah 2009 2010 2011 g.74 0. Inflasi subkelompok perlengkapan rumah tangga sebesar 0.58 0.49%.67 0.56 0. Listrik.16 1.54 2008 Sumber : BPS.12 2. Inflasi Triwulanan Kelompok Perumahan.63 1.biaya tempat tinggal sebesar 1.34% (qtq).16 0.91 2.24 0. dan air masing-masing mengalami inflasi sebesar 0.05 I II 2. Kelompok Pendidikan. inflasi subkelompok pendidikan.33 8. dan olah raga juga sedikit mengalami peningkatan dari 0.02 0.18 0.00 -0. Rekreasi & Olahraga di Sumut 10 % 8 6 4 2 0 -2 I 0. rekreasi. diolah 2009 BAB 2 | Perkembangan Inflasi Daerah 32 .36% dan 0. Subkelompok yang berkontribusi besar terhadap inflasi kelompok ini adalah subkelompok perlengkapan/ peralatan rumah tangga yang mengalami inflasi sebesar 2.68 III IV I II III IV I II III IV I 2010 2011 2012 6.9.

dan jasa keuangan juga mengalami peningkatan.86% (yoy). 2 kota mengalami peningkatan inflasi dan 2 kota mengalami penurunan inflasi triwulanan. INFLASI MENURUT KELOMPOK BARANG DAN JASA Secara tahunan. Tabel 2.67% (yoy). inflasi kelompok sandang (13.78%) juga merupakan yang tertinggi dibandingkan kelompok lain. INFLASI TAHUNAN Secara tahunan.2. Sementara itu. Perkembangan Inflasi Daerah | BAB 2 33 . diolah 2. Selain kelompok bahan makanan. Inflasi kota Sibolga juga menurun menjadi 0. Meskipun mengalami inflasi terendah. 2.14%. Sementara itu.60%) merupakan yang terendah dibandingkan kelompok lain.3. sedikit meningkat dibandingkan triwulan IV-2011 sebesar 3. namun inflasi kelompok bahan makanan pada triwulan ini mengalami kenaikan dibandingkan triwulan lalu yang tercatat sebesar 1. kelompok sandang dan kelompok transportasi.2.4. Kota Medan mengalami peningkatan inflasi menjadi 0.52% (qtq) dan kota Pematangsiantar mengalami peningkatan inflasi menjadi 1. Inflasi Triwulanan di Sumut Menurut Kota (%) Sumber: BPS.60% (qtq).82% (qtq) pada triwulan I-2012.36% (qtq). Kelompok sandang meningkat dari 10. INFLASI MENURUT KOTA Dari 4 kota di Sumatera Utara yang dihitung inflasinya.2.3. inflasi kelompok bahan makanan (1. komunikasi. inflasi Kota Padangsidempuan menurun menjadi 0.78% (yoy) pada triwulan I-2012.1.95% (yoy) pada triwulan IV2011 menjadi 13. inflasi Sumut pada triwulan I-2012 tercatat sebesar 3.

96 17.000 per kg (cabe merah kualitas besar-segar).44 III IV 10.89 14.Tabel 2. Kelompok Bahan Makanan Inflasi kelompok bahan makanan pada triwulan I-2012 tercatat sebesar 1.69 13.69 5.08 11. Pada triwulan I-2011 harga cabe merah menembus Rp60. Inflasi tertinggi terjadi pada subkelompok kacang-kacangan (17.6%).38 I II III 3. ikan diawetkan (11.73 10.14 0.60% (yoy).8%). Hal ini terkonfirmasi dari hasil Survei Pemantauan Harga (SPH) di kota Medan yang menunjukkan bahwa terjadi penurunan harga cabe merah. diolah BAB 2 | Perkembangan Inflasi Daerah 34 . meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 1. Grafik 2.91 18.94 -0.000 per kg dan pada triwulan ini harganya telah menurun menjadi Rp30. Inflasi Tahunan di Sumut Menurut Kelompok Barang & Jasa (%) Sumber: BPS a. dan ikan segar (8.14% (yoy).54 3. Inflasi Kelompok Bahan Makanan 26 21 16 11 6 1 -4 I II III IV I II % 22. Sebaliknya subkelompok bumbubumbuan mengalami deflasi 18.98 9.6 1.14 IV I II 4.8%. Salah satu penyebab deflasi subkelompok bumbu-bumbuan adalah komoditas cabe yang sempat melambung tinggi pada awal tahun 2011.65 1.5.7%).11.14 III IV I 2012 2008 2009 2010 2011 Sumber : BPS.

70% (yoy).30 7. dan tembakau pada triwulan I-2012 sebesar 3. Kelompok Pendidikan.85 8. Minuman.2 2.62 2.12 Inflasi Kelompok Makanan Jadi. rekreasi.b.84 2008 Sumber : BPS.86%) dan subkelompok minuman yang tidak beralkohol (2. yakni sebesar 6. rokok.33 7. Sumut Perkembangan Inflasi Daerah | BAB 2 35 . Kelompok Makanan Jadi.7 IV Sumber : BPS.67 11. Grafik 2.73 7.27 8.82%) memiliki inflasi yang paling besar dibandingkan subkelompok tembakau dan minuman beralkohol (2.12%).7210. Minuman.3 4. diolah 2009 2010 2011 c. Subkelompok yang mengalami inflasi tertinggi adalah pendidikan.17 8. Rekreasi dan Olahraga % 14 12 10 8 6 4 2 0 I II III IV I II III IV I II III 12.76% (yoy).83 4.26 9.87% (yoy).76 3.31 11. minuman.45 6.165.13 Inflasi Kelompok Pendidikan.41 10.15 I II III IV I 0. Rekreasi dan Olahraga Inflasi kelompok pendidikan. sedikit menurun dibandingkan triwulan IV2011 sebesar 4. dan olahraga pada triwulan I-2012 mengalami inflasi sebesar 4. Subkelompok makanan jadi (4.98 5.87 8.52 4.35 1.7 4.81 8.279.58% (yoy). Rokok dan Tembakau Inflasi kelompok makanan jadi.27 9.77 7.20% (yoy). Grafik 2.779.86 8.84% (yoy) menurun dibandingkan triwulan lalu sebesar 4.11 10. Bahkan subkelompok rekreasi mengalami deflasi sebesar 0. Rokok & Tembakau 12% 10 8 6 4 2 0 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I 2012 4.1 3.

95 8. listrik.14 Inflasi Kelompok Sandang 18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 -2 % 16.000 per gram pada triwulan I tahun lalu menjadi Rp477. Senada dengan kedua subkelompok tersebut. e. dan air justru meningkat dari 0.26% dan subkelompok barang pribadi dan sandang lain sebesar 15.18% (yoy) pada triwulan lalu menjadi 1. dan bahan bakar pada triwulan I-2012 tercatat sebesar 3.78 12.74% (yoy).61 11.13% (yoy) pada triwulan ini. Sumut 2009 2010 2011 Harga emas perhiasan 22 karat meningkat dari Rp290. BAB 2 | Perkembangan Inflasi Daerah 36 . Untuk emas perhiasan 24 karat meningkat dari Rp398.78% (yoy) meningkat dibandingkan triwulan lalu sebesar 12. air.43 6.22 8. Sebaliknya inflasi subkelompok bahan bakar. penerangan. Kelompok Sandang Kendati secara triwulanan (qtq).000 per gram pada triwulan I tahun lalu menjadi Rp495.29 10.48% (yoy) menjadi 0. inflasi kelompok sandang menurun dibandingkan triwulan lalu.56%. Subkelompok yang memiliki level inflasi tinggi adalah subkelompok sandang lakilaki sebesar 17.87 10.36 14.34%.16 I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I 2012 2008 Sumber : BPS.23 -0.000per gram pada triwulan I-2012. kembali menurun dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5. Inflasi subkelompok biaya tempat tinggal sebesar 4. sedikit menurun dibandingkan inflasi triwulan lalu sebesar 3.30 9.807.57%. Gas & Bahan bakar Inflasi kelompok perumahan. Listrik.68 6. Kelompok Perumahan. Inflasi subkelompok penyelenggaraan rumah tangga juga jauh menurun dari 10.60% (yoy). Air.24% (yoy). inflasi subkelompok perlengkapan rumah tangga juga sedikit menurun dari 1.398.30%.81 13. gas. inflasi kelompok sandang tercatat sebesar 13.d.000 per gram pada triwulan ini.32 7. namun inflasi tahunan (yoy) kelompok sandang meningkat.95% (yoy) menjadi sebesar 4.87% (yoy).88 8. Grafik 2. Pada triwulan laporan.

403.46 7.65 2.26 7.09 II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I 2012 2008 2009 2010 2011 Sumber : BPS.69 4.Grafik 2. subkelompok yang level inflasinya terendah adalah jasa kesehatan.58 2.57% di triwulan IV-2011 menjadi 3.432.64 5. Subkelompok kesehatan yang level inflasinya tertinggi adalah perawatan jasmani dan kosmetika.63 8.48% (yoy).16 Inflasi Kelompok Kesehatan % 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 I 7. Grafik 2. sebesar 7. dan jasa keuangan sedikit meningkat pada triwulan laporan.988.51 3. inflasi kelompok kesehatan tercatat sebesar 4. dari 2.54% (yoy).90 7.74 2. Sumut f.292.14 4. Sumut g.56 3. Air. sebesar 0.09% (yoy).25 5.21 6.36 3.46 5.15 Inflasi Kelompok Perumahan.34 II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I 2012 2008 2009 2010 2011 Sumber : BPS.84 4.18 4. Komunikasi dan Jasa Keuangan Inflasi kelompok transportasi. Kelompok Kesehatan Kelompok kesehatan kembali mengalami penurunan inflasi. Sementara itu. Pada triwulan I2012.25 3.18 6. komunikasi. Gas & Bahan Bakar 10% 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 I 8.95 6.29 3. Peningkatan inflasi kelompok ini terutama dipicu oleh Perkembangan Inflasi Daerah | BAB 2 37 . Transportasi. Listrik.63 4.43 6.18 7.5 6.83% di triwulan I-2012.70 2.56 5.

Inflasi Tahunan Empat Kota di Sumut (%.24 -6. kelompok bahan makanan dan kelompok sandang menjadi kelompok yang memiliki tingkat inflasi BAB 2 | Perkembangan Inflasi Daerah 38 . kecuali Sibolga.73 -6.19 -0.75% dan Padangsidempuan sebesar 4.3.17 Inflasi Kelompok Transportasi.74%) masih menunjukkan level penurunan. Inflasi Sibolga (3.60 II III IV 2010 I 2008 2009 -4. INFLASI MENURUT KOTA Tingkat inflasi keempat kota yang dihitung inflasinya di Sumut.subkelompok transportasi yang meningkat dari 4. Pengusaha angkutan umum khususnya di kelas non ekonomi yang penentuannya tidak ditetapkan oleh pemerintah telah menaikkan harga sebelum terjadi kenaikan harga BBM. Grafik 2. Rencana kebijakan kenaikan harga premium sebesar Rp1.41 1.87% (yoy) pada triwulan IV-2011 menjadi 6.953. Inflasi tertinggi terjadi di kota Pematangsiantar (4.57 3. yoy) Sumber: BPS Di keempat kota yang dihitung inflasinya di Sumut.500 per liter berimbas pada kenaikan tarif transportasi.32 2. Sumut I II III IV % 3.2.6.12%.05 I II III IV I 1.72 1. semuanya mengalami peningkatan bila dibandingkan triwulan lalu.67%).53 2011 2.52 0.82 2. Sementara itu inflasi kota Medan adalah sebesar 3.83 2.35% (yoy) pada triwulan I-2012. Komunikasi & Jasa Keuangan 6 4 2 0 -2 -4 -6 -8 Sumber : BPS.81 1.98 II III IV I 2012 -0.51 -0. Tabel 2. bahkan yang terendah dibandingkan kota lain.

500 per liter.4. kecuali di Kota Pematangsiantar. tercermin dari indeks keyakinan konsumen yang tetap terjaga di level 103. Di Kota Pematangsiantar. dibandingkan triwulan lalu indeks ekspektasi harga konsumen 3 bulan yang akan datang dan 6 bulan yang akan datang masing-masing sebesar 156 dan 157. Kendati terjadi peningkatan indeks ekspektasi harga. nampaknya masyarakat Sumut tetap optimistis. Perkembangan Inflasi Daerah | BAB 2 39 . dan jasa keuangan di Kota Padangsidempuan justru mengalami deflasi 1.7. komunikasi.1 Faktor Fundamental Ekspektasi Inflasi Berdasarkan Survei Konsumen yang dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX terjadi peningkatan indeks ekspektasi harga konsumen 3 bulan dan 6 bulan yang akan datang menjadi 170.yoy) Sumber: BPS 2. Di tengah rencana kebijakan kenaikan harga premium sebesar Rp1. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB INFLASI 2.4.69%) merupakan yang tertinggi. kelompok transportasi. Inflasi Tahunan di Sumut menurut Kota dan Kelompok Barang & Jasa (%. Tabel 2.35% (yoy).tinggi di masing-masing kota. inflasi kelompok kesehatan (9.

18 Ekspektasi Konsumen terhadap Pergerakan Harga Barang/ Jasa Sumber: Survei Konsumen dan BPS. Peningkatan manajemen ekspektasi masyarakat dan komunikasi publik 4.2 Faktor Non Fundamental Disagregasi Inflasi Inflasi inti mendominasi inflasi Sumatera Utara pada triwulan I-2012. Optimalisasi pemantauan harga barang-barang kebutuhan pokok dan penyumbang inflasi terbesar 2. inflasi administered price juga meningkat dari 3. Percepatan pembangunan infrastruktur 2. diolah Guna mengawal inflasi Provinsi Sumatera Utara tahun 2012. terutama terkait dengan produksi.02% (yoy) pada triwulan lalu menjadi 3. Pemanfaatan riset mengenai inflasi dan harga. distribusi dan ekspektasi masyarakat terhadap perkembangan harga 3. walaupun sedikit menurun dibandingkan triwulan lalu 5.89% (yoy) pada triwulan I-2012. sebagai berikut: 1.25% (yoy).91% (yoy).4. Inflasi volatile foods justru meningkat dari 0. Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Utara merumuskan Lima Langkah Pengendalian Inflasi Daerah.77% (yoy) pada triwulan IV-2011 menjadi 1. yakni sebesar 4. Pemantauan harga pangan dan menjaga kelancaran pasokan barang-barang kebutuhan pokok 5.40% (yoy) pada triwulan I-2012.Grafik 2. BAB 2 | Perkembangan Inflasi Daerah 40 . Senada dengan hal tersebut.

19 Disagregasi Inflasi Sumut Perkembangan Inflasi Daerah | BAB 2 41 .Grafik 2.

BOKS 3 KETERSEDIAAN BBM BERSUBSIDI DI SUMUT Rencana penetapan kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga premium sebesar Rp1. Belawan-Medan.008 kilo liter dan diperkirakan dapat memenuhi konsumsi 9 hari ke depan. Sibolga.191 kilo liter atau mencukupi kebutuhan konsumsi 12 hari ke depan. Kisaran. Tebing Tinggi. dan Gunung Sitoli. Tabel Ketersediaan BBM Sumber: UPms I PT Pertamina Medan Ditreskrimsus Polda Provinsi Sumatera Utara juga melakukan Operasi khususnya di daerah potensial penyimpanan BBM seperti Pangkalan Susu. Disretkrimsus Polda Sumut juga melakukan pengawasan langsung di sebagian besar SPBU. Kendati demikian Unit Pemasaran (UPms) I PT Pertamina memastikan bahwa yang ketersediaan BBM di Provinsi Sumatera Utara mencukupi untuk kebutuhan masyarakat Sumatera Utara. Binjai. Sementara itu. Sibolga. Tanjung Balai.500 per liter pada 1 April 2012 yang lalu menuai respon dari masyarakat termasuk aksi penolakan dan penimbunan BBM. 42 Ketersediaan BBM Bersubsidi di Sumatera Utara | Boks 3 . Pematangsiantar. solar yang tersedia sebanyak 36. Ketersediaan stok BBM juga didukung oleh jaminan pengadaan BBM untuk wilayah Sumut dalam waktu 24 s/d 36 jam. Pematangsiantar. khususnya SPBU yang tingkat kebutuhannya tinggi seperti Medan. Berdasarkan Focus Group Discussion dilaksanakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX dengan UPms I PT. Deli Serdang. dan Gunung Sitoli. Pertamina diketahui bahwa premium yang tersedia sebanyak 39.

216 liter. tangki tumpah.284 liter. solar sebanyak 27. dan penyalahgunaan angkutan.Gambar Daerah Potensial Tempat Penyimpanan dan Tinggi Kebutuhan BBM Sumber: Disretkrimsus Polda Sumut Berdasarkan hasil operasi di 308 SPBU dan 31 APMS ditemukan penimbunan premium sebanyak 4. Beberapa modus operandi yang digunakan di SPBU adalah menggunakan tangki ganda. dan minyak tanah sebanyak 39. Gambar SPBU dan APMS di Provinsi Sumatera Utara Sumber: Disretkrimsus Polda Sumut Boks 3 | Ketersediaan BBM Bersubsidi di Sumatera Utara 43 .300 liter.

Beberapa upaya untuk meminimalisasi penyimpangan adalah sebagai berikut: 1. Pengawasan langsung oleh kepolisian di setiap SPBU 2. Rencana pemberian insentif kepada pengusaha angkutan umum 44 Ketersediaan BBM Bersubsidi di Sumatera Utara | Boks 3 . Kartu kendali BBM untuk pembelian menggunakan jerigen 3.

BAB III Perkembangan Perbankan Daerah dan Sistem Pembayaran .

PERBANKAN 3.43% (yoy) dibandingkan angka akhir triwulan I-2011 hingga mencapai jumlah Rp128.B BA AB B3 3 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN “Secara umum. tumbuh sebesar 2.29% (yoy).44% (qtq). Peningkatan jumlah DPK ini menunjukkan masih tingginya kepercayaan masyarakat Sumatera Utara terhadap industri perbankan.74 triliun (95. Penghimpunan dana pihak ketiga untuk jenis simpanan deposito pada periode laporan relatif tetap dibandingkan dengan periode triwulan sebelumnya. Total aset perbankan tersebut didominasi oleh bank konvensional yaitu sebesar Rp156.26% (qtq) dibanding angka akhir triwulan IV-2011 atau tumbuh 19. Sementara itu. Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran | BAB 3 45 .67 triliun. jenis simpanan tabungan di perbankan tercatat mengalami sedikit penurunan jika dibandingkan triwulan IV-2011 yaitu sebesar -0.23%). Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan simpanan giro yang tumbuh 8.34% (qtq) dibandingkan triwulan IV-2011. Dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun pada triwulan I-2012 tumbuh sebesar 1. Secara tahunan. Demikian pula dengan transaksi sistem pembayaran yang terus menunjukkan peningkatan dari sisi nilai maupun volume“. dibandingkan triwulan I-2011 seluruh instrumen dana pihak ketiga mengalami kenaikan dimana kenaikan tertinggi dialami oleh tabungan yaitu sebesar 17.93 triliun (4.04% (yoy) dibandingkan akhir triwulan I-2011.85 triliun.14% (qtq) dibanding angka akhir triwulan IV-2011 atau tumbuh 14. sedangkan sisanya merupakan aset bank syariah yaitu sebesar Rp6.71%(yoy) dan 8. kinerja industri perbankan relatif terjaga di triwulan I-2012 di tengah kekhawatiran adanya dampak krisis ekonomi global yang belum berakhir.1 KONDISI UMUM Industri perbankan Sumatera Utara menunjukkan pertumbuhan moderat sepanjang triwulan I-2012 .88% (yoy).77%). sedangkan deposito dan giro naik masing-masing sebesar 13. Total aset perbankan Sumut pada triwulan I-2012 mencapai Rp163.

17%. Dari sisi jenis penggunaan. 1 Indikator Utama Perbankan Sumut Sumber : LBU.Sementara itu. Hal ini menunjukkan tingginya dukungan pembiayaan perbankan terhadap pertumbuhan ekonomi Sumut.99% (qtq). penyaluran kredit perbankan di provinsi Sumatera Utara mengalami pertumbuhan sebesar 2. sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya mengalami pertumbuhan sebesar 7.52%.31% (qtq). Stabilnya pertumbuhan kredit dibandingkan dengan pertumbuhan penghimpunan dana pihak ketiga perbankan memberikan peranan besar dalam peningkatan LDR. Sampai dengan triwulan I-2012.63% menjadi 85. spread pertumbuhan kredit dibandingkan dengan penghimpunan dana pihak ketiga perbankan secara tahunan tercatat sebesar 5.2 INTERMEDIASI PERBANKAN Kegiatan intermediasi perbankan selama triwulan I-2012 menunjukkan peningkatan yang tercermin dari tren peningkatan loan to deposit ratio (LDR) dari 83.92% (yoy). BAB 3 | Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran 46 . Namun demikian secara tahunan. Tabel 3. kredit perbankan pada triwulan laporan mengalami pertumbuhan sebesar 19.42% (qtq). Rata-rata pencapaian LDR perbankan selama 3 tahun terakhir tercatat sebesar 80. pertumbuhan kredit tertinggi di triwulan laporan dialami oleh kredit investasi yaitu sebesar 6. Tingkat LDR pada periode laporan tercatat sebagai pencapaian LDR tertinggi selama kurun waktu 3 tahun terakhir.49% lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. diolah 3.

Ditinjau dari strukturnya.63% (qtq). Pada periode triwulan I-2012. Di sisi lain tren penurunan suku bunga acuan atau BI Rate pada triwulan I-2012 menjadi 5. Kinerja penghimpunan dana pihak ketiga dalam bentuk deposito pada periode laporan relatif stabil dan tidak menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.75% dari posisi akhir tahun sebelumnya sebesar 6.00% telah direspon oleh perbankan dengan menurunkan tingkat suku bunga penghimpunan dana pihak ketiga.14% (qtq).34% (qtq). 1 Perkembangan DPK Sumut Tabel 3. menunjukkan konsumsi ini.1 Penghimpunan Dana Masyarakat Grafik 3.85 triliun. DPK Sumut. 2 Struktur DPK Sumut Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) Sumut hingga triwulan I2012 mencapai Rp128.14 triliun dan Rp52. masih tetap didominasi oleh tabungan dan deposito dengan pangsa masing-masing sebesar 42.44% Tingginya satu aktivitas penyebab masyarakat diperkirakan salah melambatnya pertumbuhan penghimpunan dana pihak ketiga pada periode 47 Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran | BAB 3 . tumbuh sebesar 1.02% dan 40. Sementara penurunan itu.2.3. menjadi pada triwulan ini sebesar -0.76 triliun. kinerja tabungan (qtq). sedikit melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 5.95% dari total DPK dengan nilai nominal tercatat masing-masing sebesar Rp54. peningkatan pertumbuhan DPK pada triwulan ini didorong oleh kinerja giro yang tumbuh sebesar 8. Berdasarkan jenisnya.

Tabel 3.2.99% (qtq) hingga mencapai Rp106. dan giro) mengalami penurunan. penghimpunan giro perbankan di Sumut menjadi penyangga stabilnya pertumbuhan DPK. dan giro mengalami penurunan masing-masing sebesar 0. 0.2 Penyaluran Kredit Pada triwulan I-2012 kredit perbankan di Sumatera Utara tumbuh 2. dan 0. Dengan pertumbuhan yang positif pada triwulan ini maka secara tahunan pertumbuhan kredit menjadi 19.92% (yoy) yang diperkirakan sebagai dampak peningkatan pertumbuhan ekonomi regional di tahun 2011. deposito. Pertumbuhan kredit pada triwulan ini melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang BAB 3 | Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran 48 .55 triliun. 3 Perkembangan Suku Bunga DPK 3. serta fitur-fitur dan kemudahan dalam melakukan transaksi.seluruh instrumen penghimpunan dana pihak ketiga perbankan (tabungan. Tren penurunan suku bunga deposito tentunya akan semakin memberikan ruang bagi perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit sehingga mampu menjadi penggerak peningkatan penyaluran kredit khususnya untuk menggerakkan sektor riil yang bersifat produktif. Dilihat dari rata-rata suku bunga tertimbang. mampu menjadi salah satu daya tarik bagi masyarakat untuk menyimpan dananya dalam bentuk ini. Disamping itu sifat tabungan yang lebih likuid sehingga mudah ditarik ataupun dilakukan switching apabila diperlukan.07%.39%.57%. Di tengah tren penurunan suku bunga deposito. tabungan. selama triwulan laporan deposito.

Pertumbuhan kredit pada triwulan laporan menunjukkan adanya peningkatan porsi kredit untuk kegiatan investasi yang merupakan bentuk kredit jangka panjang.28% (qtq).31% dan 2.4 Perkembangan Penyaluran Kredit Sumut Grafik 3. Share kredit investasi tercatat tumbuh 0. Adanya tren peningkatan kredit investasi pada akhirnya akan memberikan multiplier effect lebih besar terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi di masa mendatang. kredit modal kerja masih mendominasi pangsa penyaluran kredit perbankan Sumut dengan proporsi sebesar 50. Berdasarkan jenisnya. Pertumbuhan kredit pada triwulan laporan.68% dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 21. dipicu oleh peningkatan kredit investasi dan kredit modal kerja yang tercatat masing-masing tumbuh sebesar 6.42% (qtq).27% diikuti oleh kredit konsumsi dan kredit investasi dengan pangsa masing-masing sebesar 27. Hal ini mencerminkan adanya optimisme para pelaku usaha terhadap perekonomian Sumut dimasa mendatang.92% dan 21. Grafik 3.13%.tumbuh sebesar 7.81%.5 Kredit Sumut per Jenis Penggunaan (Rp milyar) 49 Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran | BAB 3 .

10 triliun pada akhir triwulan ini. BAB 3 | Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran 50 . Pada triwulan I2012. BI Rate.Grafik 3. nampaknya mulai direspon oleh para pelaku usaha dimana pada triwulan ini pertumbuhan kredit investasi dan modal kerja menunjukkan peningkatan yang signifikan. Secara keseluruhan kredit investasi dan modal kerja mencapai Rp 79.01% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Tabel 3.49% menurun 0.2 Perkembangan Penyaluran Kredit Sumut per Sektor Ekonomi Berdasarkan sektor usaha. secara umum tidak terjadi perubahan struktural pada komposisi penyaluran kredit pada triwulan I-2012.6 Perkembangan Suku Bunga. dan Penyaluran Kredit Sumut Tren penurunan BI Rate semenjak bulan Oktober 2011 hingga triwulan I-2012 mulai diikuti dengan penurunan tingkat suku bunga kredit perbankan walaupun dengan lag yang lebih lama dibandingkan dengan tren penurunan suku bunga penghimpunan dana pihak ketiga. suku bunga kredit tercatat sebesar 11. Tren penurunan suku bunga perbankan Sumut.

3.Penyaluran kredit paling besar di wilayah Sumut diserap oleh sektor Perdagangan sebesar 24.71% dari total kredit UMKM atau mencapai Rp 13. Industri. Dari sisi nominal kredit. Sementara itu.11%.8 Pangsa Kredit UMKM Sumut Jumlah kredit UMKM pada triwulan I-2012 mengalami penurunan sebesar 6. pada triwulan I-2012 didominasi oleh kredit menengah (Rp 500 juta – Rp 5 miliar) dengan proporsi sebesar 49. Share kredit UMKM pada triwulan laporan tercatat sebesar 25.68 triliun.08% dari keseluruhan total kredit perbankan Sumut.56%. baik secara triwulanan maupun secara tahunan pertumbuhan kredit pada hampir semua sektor menunjukkan pertumbuhan positif.7 Perkembangan Kredit UMKM Sumut Grafik 3. Secara tahunan kredit UMKM tumbuh sebesar 15. Hotel.54% dan sektor Industri Pengolahan sebesar 19. Cukup tingginya pertumbuhan kredit pada sektor Perdagangan.92% (qtq). dan -3.52 triliun.46%. 5. kecuali kredit sektor Pertambangan. peningkatan penyaluran kredit pada sektor PHR tercatat mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar Rp2.42% (yoy).81% (yoy) tumbuh melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 32.3 Penyaluran Kredit UMKM Grafik 3. Berdasarkan pangsa penyaluran kredit UMKM Sumut. dan Restoran (PHR) menjadi salah satu indikator meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat pada triwulan I-2012. disusul dengan kredit skala kecil (Rp 51 Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran | BAB 3 .2. dan Konstruksi yang mencatat kontraksi masing-masing sebesar -30.01% (qtq) dengan nominal sebesar Rp27.61 triliun (qtq).

24 triliun (33. Dalam rangka meningkatkan fungsi intermediasi perbankan terutama terkait dengan peningkatan penyaluran kredit UMKM.08% (qtq).58%).81% (qtq). dan kredit skala mikro (dibawah Rp 50 juta) dengan baki debet sebesar Rp 4. Total baki debet penyaluran KUR Sumut mengalami pertumbuhan sebesar 62.70 triliun dengan jumlah debitur sebanyak 253. serta fasilitasi percepatan implementasi resi gudang di wilayah provinsi Sumatera Utara. Komite BAB 3 | Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran 52 .10 Perkembangan Debitur KUR Sumut Sebagai salah satu daerah yang menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang merupakan salah satu skim kredit bagi UMKM.9 Perkembangan Penyaluran KUR Sumut Grafik 3. pada triwulan I2012 Propinsi Sumatera Utara telah menyalurkan KUR dengan total baki debet sebesar Rp 1.50 juta – Rp 500 juta) senilai Rp 9. melambat dibandingkan dengan periode sebelumnya. Grafik 3. melambat dibandingkan dengan periode sebelumnya.60 triliun. Selain itu. Sebagai upaya untuk mempercepat penyaluran KUR. Sedangkan jumlah debitur KUR di Sumut tercatat tumbuh sebesar 41. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX (Sumatera Utara dan Aceh) beserta Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara pada triwulan I-2012 telah melakukan beberapa upaya dalam memajukan UMKM diantaranya melalui upaya pengembangan klaster pengusaha UMKM seperti klaster tanaman ubi kayu. pengembangan industri kreatif daur ulang kertas. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX (Sumatera Utara dan Aceh) juga menyusun KPJU Unggulan Sumut (lihat boks 3).08% (yoy) dan 6.53% (yoy) dan 7.091 debitur.

37%. sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan periode sebelumnya yang tercatat sebesar 2.Kebijakan Penjaminan Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada tanggal 10 Januari 2012.15%. untuk mendorong percepatan penyaluran KUR di wilayah Sumatera Utara ditetapkan melalui Surat Keputusan PT Bank Sumut telah Koordinator Bidang mendapatkan ijin untuk menjadi salah satu bank penyalur KUR yang Menteri Perekonomian Nomor : KEP-08/M. Sementara itu. 3. Walaupun sedikit meningkat namun NPL perbankan Sumut pada periode ini tercatat masih lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata NPL selama 3 tahun terakhir yang tercatat sebesar 3.28%. 53 Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran | BAB 3 . NPL perbankan Sumut pada akhir triwulan I-2012 sebesar 2.EKON/01/2012 tanggal 31 Januari 2012 tentang Penambahan Bank Pelaksana KUR.d. Rp 500 juta) dari semula 14% menjadi 13%. Rasio NPL gross sampai dengan triwulan laporan masih berada di bawah 5%. telah memutuskan untuk melakukan penurunan suku bunga KUR Ritel (plafon lebih dari Rp 20 juta s. Ketentuan tersebut berlaku untuk KUR Ritel yang perjanjian kreditnya sejak tanggal 2 Februari 2012. NPL perbankan Sumut yang selalu berada di bawah batas aman sejak tahun 2008 menunjukkan risiko kredit perbankan di Sumut yang relatif stabil meskipun terdapat perlambatan ekonomi regional di paruh pertama 2009 sebagai dampak krisis keuangan global.11 Perkembangan NPL Perbankan Sumut Risiko periode walaupun terhadap kredit perbankan relatif di laporan terjaga sedikit mengalami total kredit peningkatan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) gross.3.3 STABILITAS PERBANKAN 3.1 Risiko Kredit Grafik 3.

Sebagai upaya mempertahankan stabilitas perbankan serta meningkatkan prinsip kehati-hatian perbankan.88% (yoy) sedangkan pertumbuhan penghimpunan deposito tercatat mengalami pertumbuhan lebih rendah sebesar 13. tren penurunan suku bunga BAB 3 | Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran 54 . Pada periode ini cash ratio perbankan tercatat sebesar 5. pada periode laporan perbankan Sumut perlu memperhatikan terjadinya perubahan preferensi masyarakat dalam melakukan penempatan dana di perbankan yang cenderung pada instrumen jangka pendek seperti tabungan dibandingkan dengan instrumen jangka panjang berupa deposito. Dengan indikator Cash Ratio (CR) yang relatif stabil di atas 3%. 30% untuk pembelian roda empat yang digunakan untuk keperluan non produktif. Regulasi dalam rangka meningkatkan kehati-hatian Bank dalam pemberian KPR dan KKB serta untuk memperkuat ketahanan sektor keuangan dilakukan melalui penetapan besaran Loan to Value (LTV) untuk KPR dan Down Payment (DP) untuk KKB.71% (yoy).32%. Bank Indonesia pada triwulan I-2012 telah mengeluarkan kebijakan yang tertuang dalam Surat Edaran Ekstern Nomor 14/10/DPNP tentang Penerapan Manajemen Resiko pada Bank yang Melakukan Pemberian Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) yang berlaku mulai tanggal 15 Maret 2012.2 Risiko Likuiditas Risiko likuditas perbankan di Sumut pada triwulan IV-2011 tetap terjaga. serta 20% untuk pembelian kendaraan roda empat atau lebih yang digunakan untuk keperluan produktif (angkutan orang atau barang). Sampai dengan triwulan I-2012. 3. Namun demikian. pertumbuhan penghimpunan tabungan tercatat tumbuh sebesar 17.3. Rasio Loan to Value (LTV) untuk perbankan yang menyalurkan KPR ditetapkan paling tinggi sebesar 70% untuk kategori tipe bangunan diatas 70m2. perbankan Sumut memiliki likuiditas yang cukup untuk memenuhi kewajibannya. Sementara di sisi lain. sedangkan Down Payment (DP) untuk perbankan yang menyalurkan KKB ditentukan sebesar 25% untuk pembelian kendaraan roda dua.

4 PERBANKAN SYARIAH Tabel 3.kredit pada periode ini mendorong peningkatan pertumbuhan penyaluran kredit produktif jangka panjang berupa kredit investasi. lebih rendah dibandingkan pertumbuhannya pada triwulan sebelumnya yang mencapai 20. Rendahnya pertumbuhan penghimpunan dana perbankan syariah dibandingkan dengan penyaluran pembiayaan menyebabkan peningkatan Financing to Deposits Ratio (FDR) pada triwulan ini menjadi sebesar 111. diharapkan diikuti dengan peningkatan kualitas pengelolaan likuiditas bank guna mengantisipasi potensi mismatch likuiditas.81%. kinerja penyaluran penghimpunan dana perbankan syariah pada triwulan laporan tercatat sebesar 2. 55 Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran | BAB 3 .3 Indikator Utama Perbankan Syariah Sumut Peningkatan ekspansi usaha perbankan syariah di Sumut pada periode triwulan I-2012 menunjukkan perkembangan positif yang mengindikasikan perkembangan perbankan syariah semakin diminati oleh masyarakat.23% (qtq). Sementara itu.14%.38% (qtq). 3. lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 5. Perkembangan penyaluran kredit perbankan syariah pada triwulan laporan tercatat tumbuh sebesar 5.43% (qtq). meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 107.23% (qtq). Kondisi ini.

Aset BPR Sumut pada triwulan laporan sebesar Rp 785 miliar dengan jumlah jaringan kantor sebanyak 59 jaringan kantor atau tumbuh sebesar 2. Dari sisi regulasi terhadap perkembangan perbankan syariah.14/7/DPbS tanggal 29 Februari 2012 Perihal Produk Qardh Beragun Emas bagi Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah. 3.5 BANK PERKREDITAN RAKYAT (BPR) Tabel 3. Pesatnya perkembangan produk Qardh beragun emas yang biasa dikenal sebagai gadai emas berpotensi meningkatkan resiko bagi perbankan syariah.3 Indikator Utama BPR Sumut Perkembangan kinerja Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Sumut pada triwulan I-2012 menunjukkan perkembangan yang positif.13 Non Performing Financing (NPF) Perbankan Syariah Sumut (%) Kualitas kredit perbankan syariah Sumut yang tercermin dari rasio Non Performing Financing (NPF) gross tetap terjaga dengan baik pada kisaran 4. pada triwulan I-2012 Bank Indonesia menerbitkan kebijakan melalui Surat Edaran Bank Indonesia No.96%. walaupun sedikit menurun jika dibandingkan dengan periode sebelumnya yang BAB 3 | Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran 56 .51% (qtq).Grafik 3.12 Financing to Deposits Ratio (FDR) Perbankan Syariah Sumut (%) Grafik 3.

14 Perkembangan NPL BPR Sumut NPL gross BPR di Sumut pada triwulan I-2012 tercatat sebesar 8. Sedangkan DPK BPR tercatat sebesar Rp 553 miliar meningkat sebesar 4. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah yang IX telah memfasilitasi dalam upaya pembentukan APEX BPR berperan penyatuan/pengumpulan dana (pooling of fund).92%.99% (qtq).47% (qtq). B. Hal ini ditandai oleh peningkatan volume transaksi baik tunai maupun non tunai secara tahunan. Walaupun demikian. dimana LDR BPR pada triwulan laporan tercatat sebesar 101.21% (yoy) atau 3. perkembangan sistem pembayaran di wilayah Provinsi Sumut pada triwulan I-2012 menunjukkan perkembangan yang positif. 3. fungsi intermediasi BPR di Sumut masih menunjukkan pertumbuhan yang positif.6 SISTEM PEMBAYARAN NON TUNAI Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran | BAB 3 57 . mengalami penurunan dibandingkan dengan NPL pada posisi triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 9.17% atau meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 100. Penyaluran kredit BPR pada triwulan laporan senilai Rp 559 miliar atau meningkat sebesar 12.26%.tumbuh sebesar 2.88% (yoy) atau 2.59%. SISTEM PEMBAYARAN Sejalan dengan peningkatan aktivitas perekonomian pada awal tahun 2012. pemberian bantuan keuangan (financial assistance). dan dukungan teknis (technical services) dari bank umum kepada BPR yang tergabung dalam APEX BPR dengan tujuan akhir peningkatan fungsi intermediasi BPR.89% (qtq) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Grafik 3. Peningkatan LDR perbankan dipicu oleh pertumbuhan kredit BPR Sumut yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan DPK BPR. Untuk lebih meningkatkan kinerja BPR.

Begitu pula dengan volume transaksi RTGS yang tumbuh negatif sebesar -13.3. Volume transaksi pada triwulan laporan tercatat sebesar 224.34 triliun.561 transaksi.31% (qtq) menjadi Rp173. besaran rata-rata per hari nilai transaksi pada triwulan I-2012 yang tercatat sebesar Rp2. Sejalan dengan penurunan transaksi BI-RTGS.6.74 triliun.345 transaksi.4 Transaksi BI-RTGS Perbankan Sumatera Utara Transaksi perbankan Sumatera Utara melalui Bank Indonesia Real Time Gross Settlement BI-RTGS) pada triwulan I-2012 mengalami penurunan sebesar Rp24.06 triliun dari nilai transaksi pada triwulan IV-2011 yang tercatat sebesar Rp197. Namun demikian.91% atau Rp 336 miliar bila dibandingkan dengan triwulan IV-2011. Rata-rata volume transaksi per hari pada triwulan I-2012 menurun -12. BAB 3 | Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran 58 .1 Kegiatan Transaksi BI-RTGS Perbankan Sumatera Utara Tabel 3.28 triliun atau menurun -12. secara tahunan nominal dan volume transaksi RTGS masih menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya.17% (qtq).50% menjadi 3.87% (qtq) menurun dibandingkan triwulan lalu yang tumbuh sebesar 56. menurun -10.

23% dibandingkan triwulan lalu menjadi 1.48% atau Rp 173.046 lembar warkat. jumlah penolakan cek dan bilyet giro (Cek/BG) kosong di wilayah Sumut 59 Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran | BAB 3 .15 Perkembangan Cek/BG Kosong Perbankan Sumut besaran rata-rata per hari nilai miliar. Sementara itu. volume warkat kliring mengalami peningkatan sebesar 0.98 triliun.5 Transaksi Kliring Perbankan Sumatera Utara Nilai transaksi kliring pada triwulan I-2012 tercatat sebesar Rp35. sebesar rata-rata diproses sebelumnya.124. Nilai ini menurun -0.96 miliar bila dibandingkan dengan triwulan IV-2011 yang sebesar Rp35. sebanyak 17.3.842 transaksi (warkat) per hari.80 triliun. Sementara itu.6. Grafik 3.2 Kegiatan Transaksi Kliring Tabel 3. Hal ini menunjukkan bahwa pada triwulan laporan jumlah transaksi cenderung merupakan transaksi dengan nominal yang lebih kecil Pada transaksi Rp568 jumlah dibandingkan triwulan kliring warkat adalah dengan yang triwulan I-2012.

Penolakan cek dan bilyet giro (Cek/BG) kosong ini mengalami penurunan dibandingkan triwulan lalu dari segi nilai sebesar -5.81 triliun.1 Perkembangan Aliran Uang Kartal (Inflow dan Outflow) Perkembangan aliran uang kartal di Sumatera Utara pada triwulan I2012 mengalami net inflow.74% (qtq). artinya jumlah aliran uang masuk lebih besar dibandingkan aliran uang keluar.7. Kegiatan transaksi aliran uang kartal di Sumatera Utara menunjukkan posisi net inflow sebesar Rp 3. sedangkan posisi outflow atau aliran uang kartal keluar tercatat sebesar Rp 3.pada triwulan I-2012 tercatat sebanyak 15. Tabel 3.16 Perkembangan Aliran Uang Kartal melalui Bank Indonesia di Sumatera Utara BAB 3 | Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran 60 .89% (qtq). meningkat dibandingkan dengan triwulan IV-2011 yang tercatat net outflow sebesar Rp 1. Dengan demikian rata-rata penolakan cek dan bilyet giro per harinya sebanyak 250 warkat dengan nilai Rp 6.16 triliun.746 warkat dengan nilai Rp388 miliar.08 triliun atau meningkat sebesar 33.25% (qtq). 3. Posisi inflow atau aliran uang kartal yang masuk ke Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX di Medan pada periode laporan tercatat sebesar Rp 7.91 triliun atau menurun sebesar 44.15 miliar.7 SISTEM PEMBAYARAN TUNAI 3. tetapi dari segi volumenya justru mengalami peningkatan sebesar 2.02% (qtq).

7. Jika salah satu kantor cabang bank mengalami posisi kas yang kurang. denominasi Rp50.2011 ditemukan sebanyak 373 uang palsu dengan total nilai sebesar Rp22. Kegiatan ini dilakukan agar uang kartal yang ada dapat beredar merata di masyarakat dan tidak menumpuk di satu bank atau satu wilayah tertentu saja.87% dibandingkan total temuan uang palsu. Mekanisme TUKAB adalah kegiatan saling memenuhi persediaan uang kartal layak edar sesama bank.000 paling banyak dipalsukan dibandingkan pecahan lainnya.2 Temuan Uang Palsu Tabel 3. maka kantor cabang bank tersebut bisa meminta uang kartal kepada salah satu kantor cabang bank yang posisi kasnya berlebih. Di sisi lain.422. pada tanggal 8 Februari 2012 telah dilakukan peresmian kegiatan Transaksi Uang Kartal Antar Bank (TUKAB) di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX.17 Data Temuan Uang Palsu di Kantor Bank Indonesia Medan Temuan uang palsu di KBI Medan menunjukkan kecenderungan yang menurun baik dari segi nominal maupun jumlah lembar uang palsunya. Mekanisme TUKAB ini juga diharapkan akan mendorong efisiensi bagi perbankan nasional sehingga meningkatkan daya saing industri perbankan nasional terutama dalam menghadapi pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Sebagaimana periode triwulan-triwulan sebelumnya. atau sebanyak 64. Pada triwulan IV.000. Sementara itu jumlah temuan uang palsu Rp100.000 sebanyak 98 61 Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran | BAB 3 . 3. dengan adanya TUKAB diharapkan kebutuhan masyarakat akan uang layak edar akan dapat terlayani dengan baik.Guna meningkatkan kualitas layanan pengedaran uang kepada masyarakat.

3. Jumlah uang kartal yang dicatat sebagai PTTB tersebut menurun dibandingkan triwulan lalu yang sebesar Rp3.44 triliun.7. BAB 3 | Perkembangan Perbankan dan Sistem Pembayaran 62 .000 (22 lembar).86 triliun atau sebesar 26.000 (2 lembar) dan denominasi Rp2.17 Perkembangan Jumlah PTTB di Sumatera Utara Salah satu tugas pokok Bank Indonesia dalam pengedaran uang diantaranya adalah melakukan pemusnahan atau kegiatan Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB) terhadap uang kartal yang sudah tidak layak edar (lusuh/rusak) sebagai upaya untuk memelihara kualitas uang kartal yang diedarkan di masyarakat (clean money policy) secara berkesinambungan.3 Penyediaan Uang Layak Edar Tabel 3.29% dari jumlah inflow. Pada triwulan I-2012 jumlah uang kartal yang telah dikenai Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB) atau dimusnahkan tercatat sebesar Rp1.lembar. temuan uang palsu denominasi Rp20. denominasi Rp10. denominasi Rp5. Selebihnya.000 sebanyak 1 lembar.000 (9 lembar).

2004). Sehubungan dengan itu Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX (Sumut dan Aceh) bekerjasama dengan SEM Institut Jakarta telah melaksanakan penelitian mengenai Komoditas/Produk/Jenis Usaha (KPJU) Unggulan UMKM di 10 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara yaitu Serdang Bedagai. Labuhan Batu. Melihat peran strategis UMKM dan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi. Boks 4 | Diseminasi Hasil Penelitian Pengembangan Komoditi/Produk/Jasa Usaha (KPJU) Unggulan UMKM Di Provinsi Sumatera Utara . Asahan. Kedua. Disebut demikian karena penelitian ini juga menggunakan Metode Perbandingan Eksponensial (MPE). kecil dan menengah (UMKM) dalam perekonomian nasional memiliki peran yang penting dan strategis.Tahun 2011 63 . Tebing Tinggi. dilanjutkan dengan survei di seluruh Kecamatan di daerah yang menjadi obyek penelitian serta melaksanakan FGD tingkat Kabupaten/Kota yang diteliti guna mendapatkan data serta informasi yang akurat. Binjai. Simalungun.TAHUN 2011 Dalam upaya menunjang pembangunan ekonomi diperlukan data serta informasi yang lengkap dan akurat serta dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan maupun kebijakan strategis. Sebagaimana diketahui. potensinya yang besar dalam penyerapan tenaga kerja.72% dari total PDB (BPS. Tanah Karo. Pertama. Metode Borda dan Metode Bayes.BOKS 4 DISEMINASI HASIL PENELITIAN PENGEMBANGAN KOMODITI/PRODUK/JASA USAHA (KPJU) UNGGULAN UMKM DI PROVINSI SUMATERA UTARA . usaha mikro. Untuk memperoleh data dan informasi yang handal diperlukan suatu kajian dan penelitian secara ilmiah yang menggunakan metodologi yang tepat sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan serta bermanfaat untuk menjadi salah satu referensi dalam pertimbangan suatu kebijakan ekonomi. Bank Indonesia telah melakukan Penelitian Pengembangan Komoditi/Produk/Jasa Usaha (KPJU) Unggulan UMKM Di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2011. dan ketiga. Tapanuli Utara dan Mandailing Natal. jumlah industrinya yang besar dan terdapat dalam setiap sektor ekonomi. Tapanuli Selatan. kontribusi UMKM dalam pembentukan PDB cukup signifikan yakni sebesar 56. Kondisi tersebut dapat dilihat dari berbagai data yang mendukung bahwa eksistensi UMKM cukup dominan dalam perekonomian Indonesia. Penelitian diawali dengan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) tingkat Provinsi. Penelitian ini menggunakan Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) yang dimodifikasi atau modified AHP.

4.Penelitian ini bertujuan untuk : 1. yang dikaitkan pula dengan kebijakan Pemerintah Pusat. kabupaten/kota dan kecamatan. 3. profil UMKM di Provinsi Sumatera Utara termasuk faktor pendorong dan penghambat dalam pengembangan UMKM. Mengenal dan memahami profil daerah. teknologi yang digunakan. kondisi permintaan. Tujuan penetapan KPJU unggulan yang paling dominan adalah penciptaan lapangan kerja (0. misal mengenai bahan baku. dan potensi sumberdaya. perekonomian. Memberikan informasi tentang KPJU potensial. demografi. Memberikan informasi dan permasalahan yang timbul dari masing-masing KPJU unggulan lintas sektoral di masing-masing kabupaten/kota. 5. dalam rangka pengembangan KPJU unggulan UMKM. Memberikan rekomendasi KPJU unggulan yang perlu/dapat dikembangkan di masing-masing KPJU kabupaten/kota. dan pertumbuhan ekonomi di masa mendatang. harga dan lokasi (kecamatan). dan Peranan rekomendasi Perbankan Kebijakan dalam kepada pengembangan Pemerintah Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota). peningkatan daya saing. baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah (Daerah Tingkat I dan II) yang terkait dengan pengembangan UMKM.296) dan pertumbuhan ekonomi (0. kemudian selanjutnya berturut-turut adalah peningkatan daya saing (0. Diseminasi Hasil Penelitian Pengembangan Komoditi/Produk/Jasa Usaha (KPJU) Unggulan UMKM Di Provinsi Sumatera Utara . meliputi: kondisi geografis. 2.294). produksi. Memberikan informasi tentang KPJU unggulan yang perlu mendapat prioritas untuk dikembangkan di Provinsi Sumatera Utara. tenaga kerja.410). unggulan. dan Peranan Perbankan dalam pengembangan UMKM. KPJU unggulan UMKM di Provinsi Sumatera Utara dalam penelitian ini didefinisikan secara operasional oleh multi stakeholder sebagai KPJU UMKM yang secara eksisting (saat ini) telah unggul dalam sejumlah kriteria tertentu dalam mencapai tujuan penciptaan lapangan kerja.Tahun 2011 | Boks 4 . Kebijakan Pemerintah.

089). dan (11) Sosial Budaya (0.069). (6) Manajemen Usaha (0. Ini terjadi karena potensi sumberdaya alam dan karakteristik ekosistem yang memang sangat kondusif bagi pembangunan ekonomi daerah dan nasional.089).170). (3) Sumbangan terhadap Perekonomian (0. (5) Tenaga Kerja Terampil (0. peluang tersebut dituangkan dalam visi/misi dan kebijakan daerah. (10) Ketersediaan Bahan Baku (0. Unggulan lintas sektoral tersebut adalah sebagai berikut : No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kabupaten Labuhan Batu Tebing Tinggi Tapanuli Utara Karo Maindailing Natal Binjai Tapanuli Selatan Asahan Simalungun Serdang Bedagai 1 Padi Restoran Tenun Ulos Jagung Padi Kedai Sampah Padi Sawah Pabrik Kelapa Sawit Padi Sawah Padi Sawah 2 Kelapa Sawit Ubi Kayu Padi Cabai Karet Angkutan Umum Karet Kelapa Sawit Cabai Merah Mie Iris KPJu Unggulan 3 Ayam Angkutan Umum jagung Padi Cabai Voucher Pulsa Cabai Karet jagung Karet 4 Jagung Padi Kopi Ateng Hotel Karet/Latex Rumah Sakit Salak Pengolahan Minyak Curah Kelapa Sawit Pasar Harian 5 Bebek Ikan Lele Cabai Merah Kol Kelapa Sawit Minimarket Kelapa Sawit Showroom Sepeda Motor Kakao Ubi Kayu Lima KPJU Penanganan dan pengembangan KPJU Unggulan Lintas Sektor di Provinsi Sumatera Utara.144).046). (9) Teknologi (0.Tahun 2011 65 . melalui konfirmasi dan analisis lanjutan dengan pendekatan metode MPE. Borda dan Bayes diperoleh 5 KPJU unggulan lintas sektoral (dan 5 KPJU Potensial lintas sektoral). KPJU Unggulan Kabupaten/Kota dan Pendekatan Penanganannya Di setiap kabupaten/kota yang diteliti.Kriteria seleksi yang digunakan dalam penentuan KPJU unggulan dari yang paling penting berturut-turut adalah: (1) Penyerapan Tenaga Kerja (0. (2) Ketersediaan Pasar (0. Boks 4 | Diseminasi Hasil Penelitian Pengembangan Komoditi/Produk/Jasa Usaha (KPJU) Unggulan UMKM Di Provinsi Sumatera Utara . yakni sebagai pengembangan perkebunan dan daerah agraris yang menjadi pusat dan salah satu pusat hortikultura perkembangan industri dan pintu gerbang pariwisata di Indonesia.099). (7) Sarana Produksi/Usaha (0. khususnya di 10 Kabupaten/Kota yang diteliti perlu menggunakan titik kekuatan (yang selanjutnya dikembangkan menjadi competitive advantages dan nilai jual) dan mengeliminasi titik kritisnya (kelemahan). Peluang yang dimaksud secara umum adalah positioning eksisting Provinsi Sumatera Utara yang memiliki keunikan tersendiri dalam kerangka perekonomian nasional. Pada beberapa daerah.065).063). AHP. serta memanfaatkan peluang yang tersedia. (4) Harga (0.023).143). (8) Modal (0.

2. perbankan. Titik kritis yang dimaksud secara umum adalah lebih kepada persoalan biaya produksi/proses yang masih tinggi. seperti: BDS (Business Development Service). instansi pemerintah terkait dan pihak-pihak strategis lain. serapan tenaga kerja dan kontribusinya bagi perekonomian daerah. yang Peran pemerintah pada upaya kini dan masa mendatang dalam pembangunan UMKM adalah sebagai regulator. pengembangan etos kerja.Tahun 2011 | Boks 4 . serta mengkomunikasikan hal tersebut kepada pihak-pihak yang dinilai membantu. luas lahan. dan stimulator. Diseminasi Hasil Penelitian Pengembangan Komoditi/Produk/Jasa Usaha (KPJU) Unggulan UMKM Di Provinsi Sumatera Utara . menekankan kemandirian dalam pemberdayaan masyarakat melalui penguatan UMKM berbasis KPJU Unggulan. Rekomendasi 1. fasilitator. (1) Identifikasi akar masalah atas berbagai kendala dan hambatan yang dihadapi dapat di dalam pengembangan penyedia usaha mereka. asosiasi UMKM. dan stakeholder lain dalam pengembangan UMKM dan KPJU unggulannya sebagai berikut: a.Titik kekuatan yang dimaksud secara umum adalah KPJU yang terpilih umumnya memang KPJU yang unggul di sektornya. b. Pemerintah. pelaku/asosiasi pengusaha UMKM. disiplin kerja serta peningkatan komitmen moral yang tinggi. baik dalam aspek kapasitas produksinya. Pelaku/Asosiasi Pengusaha UMKM. (2) Meningkatkan kapasitas dan kompetensinya melalui upaya pengembangan jiwa kewirausahaan. Rekomendasi Peran Strategis Direkomendasikan pembagian peran strategis yang dapat dilakukan antara pemerintah. tingkat produktivitas yang belum optimal dan teknologi pengembangan yang belum ada/minim. Rekomendasi Penetapan KPJU Unggulan dan Potensial Direkomendasikan kepada Pemerintah Kabupaten/Kota yang diteliti untuk menetapkan 5 KPJU Unggulan (dan Potensial hasil penelitian ini sebagaimana telah disebutkan sebelumnya) sebagai KPJU Unggulan (dan Potensial) daerah.

(4) Meningkatkan produktivitas. serta daya saing UMKM. (2) Mengembangkan teknologi tepat guna dan paket teknologi dalam rangka peningkatan efisiensi.Tahun 2011 67 . Perguruan Tinggi. serta model-model pengembangan alternatif untuk UMKM. (6) Mengaktifkan KADIN sebagai forum strategis bagi penyaluran aspirasi. informasi SDM bimbingan. pemantauan dan evaluasi pemberdayaan UMKM dengan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. produktivitas. Pemerintah Daerah. pendampingan. serta merumuskan dan menyampaikan program pemberdayaannya kepada pemerintah dan lembaga lain yang relevan. c. instansi pemerintah lainnya. forum informasi dan komunikasi dan sinergisitas antar UMKM dan dengan organisasi bisnis lainnya di dalam dan luar negeri dalam pengembangan usahanya. pelatihan sehingga kompetensi mengembangkan usahanya secara berkesinambungan. pengembangan usaha. fasilitasi. (5) Aktif dalam berbagai forum pengembangan usaha sebagai wahana untuk pengembangan penyampaian aspirasi dan kebutuhannya untuk pengembangan usaha serta memperluas jaringan usaha. konsultasi. Lembaga Penelitian dan LSM (1) Melakukan identifikasi atas berbagai permasalahan dan kebutuhan UMKM dalam pengembangan usahanya. (4) Mengembangkan penelitian dan pengkajian yang berkaitan dengan pengembangan kelembagaan. pengembangan SDM UMKM.(3) Melaksanakan secara seksama. pelaksanaan. pengembangan teknologi. Boks 4 | Diseminasi Hasil Penelitian Pengembangan Komoditi/Produk/Jasa Usaha (KPJU) Unggulan UMKM Di Provinsi Sumatera Utara . Asosiasi UKM/KADIN. Dekopinda. konsisten dan berkesinambungan program pemberdayaan yang diberikan oleh pemerintah dan lembaga lainnya untuk pengembangan usahanya. (3) Mengembangkan pemanfaatan mengembangkan program teknologi. untuk dapat serta UMKM. (5) Mengembangkan koordinasi perencanaan. efisiensi dan daya saing produk barang dan jasa yang dihasilkan.

kepada pelaku UMKM. (3) Mengembangkan program pendampingan. Pemerintah Daerah. Perbankan (1) Melakukan identifikasi atas berbagai permasalahan dan kebutuhan pembiayaan UMKM dalam pengembangan usahanya. d. Pembiayaan basis syariah sangat relevan dengan visi dan misi pembangunan di banyak kabupaten/kota tersebut.Tahun 2011 | Boks 4 . asosiasi Pengusaha UMKM dan lembaga swadaya masyarakat.(6) Melaksanakan menumbuhkan advokasi iklim kebijakan yang pemerintah kondusif. bimbingan. Rekomendasi Khusus Pengembangan KPJU Unggulan Dengan mempertimbangkan peluang dan tantangan serta titik kekuatan dan titik kritis setiap KPJU unggulan. instansi pemerintah lainnya. baik strategis (jangka panjang dan menengah) maupun taktis (jangka pendek). termasuk pengembangan pola dan model pembiayaan alternatif berbasis syariah. 3. dan Perbankan Diseminasi Hasil Penelitian Pengembangan Komoditi/Produk/Jasa Usaha (KPJU) Unggulan UMKM Di Provinsi Sumatera Utara . Instansi Pemerintah Terkait. pemantauan dan evaluasi perkembangan pembiayaan UMKM dengan pihak Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. dalam dan rangka berusaha pemberian dukungan perkuatan bagi UMKM. pelaksanaan. telah direkomendasikan dalam FGD dan Indepth Interview sejumlah rencana aksi. serta merumuskan dan menyampaikan program pemberdayaannya kepada pemerintah dan lembaga lain yang relevan. konsultasi dan pelatihan pemanfaatan pembiayaan dan permodalan untuk pengembangan usahanya secara berkesinambungan (4) Mengembangkan koordinasi perencanaan. (2) Mengembangkan paket pembiayaan dan permodalan untuk mengembangkan usaha UMKM.

Jumlah total luas tanah di Propinsi Sumatera Utara tercatat sebesar 7. sedangkan sisanya sebesar 76. dimana upaya legalisasi tanah dapat memberikan kemudahan bagi para pelaku UMKM dalam mengajukan kredit pembiayaan kepada perbankan.BOKS 5 PERKEMBANGAN SERTIFIKASI LAHAN DI PROVINSI SUMATERA UTARA Salah satu kendala dalam perkembangan investasi di wilayah Provinsi Sumatera Utara adalah adanya keterbatasan lahan serta sengketa lahan. Kecil. kejelasan status tanah juga bertujuan meningkatkan akses pelaku UMKM terhadap sektor perbankan. jumlah tanah terdaftar di Propinsi Sumatera Utara didominasi oleh SHM sebesar Boks 5 | Perkembangan Sertifikasi Lahan Di Provinsi Sumatera Utara 69 . kejelasan status tanah dapat meminimalisir adanya sengketa lahan yang pada akhirnya akan memberikan kepastian dalam kegiatan berinvestasi. dan Menengah (UMKM). faktor sulitnya pembebasan lahan juga menyebabkan pengembangan proyekproyek infrastruktur di Provinsi Sumatera Utara mengalami kendala dan menyebabkan lamanya proses pembangunan suatu proyek infrastruktur seperti proyek Bandara Kuala Namu yang hingga saat ini masih belum dapat merealisasikan akses jalan tol menuju bandara. Oleh sebab itu.61% luas tanah yang telah memiliki sertifikat.31 juta Ha.39% belum terdaftar atau belum memiliki sertifikat. Grafik % Sertifikat Tanah Di Propinsi Sumatera Utara Grafik Status Tanah Di Propinsi Sumatera Utara Terdaftar 24% Belum Terdaftar 76% Sampai dengan tahun 2010. Selain itu. Di sisi lain. Berdasarkan jenis sertifikatnya. Upaya legalisasi tanah juga memberikan permasalahan tersendiri bagi para pelaku Usaha Mikro. tercatat sebesar 23.

67% memiliki sertifikat Hak Guna Bangunan. Secara total. masih berada pada level yang cukup tinggi dengan presentase rata-rata sebesar 78.72 juta Ha.000 300 JUMLAH 40. Tapanuli Selatan merupakan daerah dengan luas tanah belum terdaftar yang terbesar di wilayah Sumatera Utara yaitu sebesar 1.08 juta Ha atau sebesar 84.000 REDIST 17.44 juta Ha. sedangkan sebesar 13. presentase tanah belum terdaftar terhadap luas tanah di beberapa daerah.500 IP4T 15.41% dengan jumlah luas tanah tidak terdaftar sebesar 10.81 juta Ha diikuti oleh daerah Mandailing Natal sebesar 11.56%.80. jumlah presentase tanah tidak terdaftar di Propinsi Sumatera Utara yang terbesar berada di daerah Tapanuli Selatan sebesar 19.60%.57% dengan jumlah luas tanah tidak terdaftar sebesar 6.000 Perkembangan Sertifikasi Lahan di Provinsi Sumatera Utara | Boks 5 . Tabel Program Sertifikasi Tanah Propinsi Sumatera Utara PRONA 6.600 UKM PERTANIAN 1. jumlah tanah yang telah terdaftar di Propinsi Sumatera Utara sebesar 1.66% dari total jumlah tanah di wilayah tersebut. Berdasarkan daerahnya. Grafik % Tanah Belum Terdaftar per Kota/Kab di Propinsi Sumatera Utara Tabel Luas Tanah Belum Terdaftar per Kota/Kab di Propinsi Sumatera Utara Sementara itu.620 29.920 35.000 800 300 1.

dilanjutkan pada tahun 2011 sebanyak 35. Untuk tahun 2012. yaitu Program Operasi Nasional Pertanahan Agraria (PRONA). dan Layanan Rakyat Sertifikasi Tanah (Larasita). program sertifikasi tanah land reform. program sertifikasi tanah untuk pelaku UMKM/pertanian/nelayan. oleh sebab itu penentuan biaya BPHTB sepenuhnya diserahkan kepada kabupaten/kota. Dapat diinformasikan bahwa BPHTB adalah salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Dalam proses sertifikasi tanah. Tahun 2010 BPN Sumatera Utara berhasil melakukan sertifikasi terhadap 40.000 bidang tanah (lebih rendah 14. dan stakeholders lainnya. dan pendaftaran tanah.000 bidang tanah. sehingga kerap masyarakat tidak menebus sertifikat yang telah diproses oleh BPN. Untuk mengatasi kendala terkait biaya BPTHB dimaksud. Biaya inilah umumnya yang menjadi kendala masyarakat dalam melakukan pengurusan sertifikasi tanah. Pada tahun 2010.166 bidang tanah. biaya yang harus dikeluarkan adalah biaya pengurusan sertifikat hak milik dari BPN untuk proses pengukuran.920 bidang tanah. Untuk itu. perlu dilakukan kolaborasi antara perbankan (dalam hal ini Bank Indonesia). pemeriksaan. direkomendasikan dapat dibuat MoU antara Bank Indonesia dengan BPN di level pusat (antara GBI dengan Kepala BPN). Selain itu.857. Boks 5 | Perkembangan Sertifikasi Lahan Di Provinsi Sumatera Utara 71 . pihak yang mengajukan sertifikasi juga harus membayar Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang relatif mahal.Sebagai upaya percepatan sertifikasi tanah. Badan Pertanahan Nasional (BPN) Provinsi Sumatera Utara telah melakukan berbagai program yang dibiayai oleh APBN. BPN mentargetkan dapat melakukan sertifikasi terhadap 33.47%). BPN. luas bidang tanah yang belum disertifikasi tercatat sebanyak 2.

BAB IV Perkembangan Keuangan Daerah .

22% tersebut digunakan untuk belanja langsung (Rp109 miliar) dan belanja pegawai atau pembayaran gaji (Rp725 miliar). PENERIMAAN PAJAK Penerimaan pajak di Provinsi Sumatera Utara melalui Kanwil Ditjen Pajak Sumut 1 Medan dan Kanwil Sumut 2 Pematangsiantar ditargetkan mencapai Rp10. 3 Tahun 2011 dan Perwal No. Tingkat realisasi tersebut lebih kecil dibandingkan realisasi APBD triwulan I-2011 sebesar 11. di dalamnya termasuk PBB dan BPHTB. atau telah terealisasi sekitar Rp3. Realisasi APBD sebesar 9.5 triliun).08% tersebut sejalan dengan revisi target pajak APBN yakni dari Rp911.34 triliun. 1 Tahun 2011 dan Peraturan Walikota (Perwal) No.1 triliun menjadi Rp885 triliun. 73 tentang PBB Kota Medan.22% dari Rp7.3.2. PBB dan BPHTB sudah menjadi pajak daerah. KENAIKAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (PBB) Dengan disahkannya Perda No.33 triliun. 4. Pemangkasan target pajak sebesar Rp700 miliar atau 6. 3 Tahun pengenaan tarif PBB yang 2011. 24 tahun 2011 tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) serta Perda No. REALISASI APBD Realisasi anggaran atau tingkat serapan APBD Provinsi Sumatera Utara pada triwulan I-2012 sebesar 9. terhitung sejak tanggal 1 Januari 2012. pengelolaan BPTHB dan PBB Kota Medan berada di tangan Pemda Kota Medan.1. Realisasi penghimpunan pajak hingga 30 April 2012 mencapai 29% dari target sebelum revisi (Rp11. Dengan perhitungan berlakunya Perda No.08% dari Rp5. Dengan memperhatikan angka revisi target. terdapat perubahan signifikan perbedaannya cukup BAB 4 | Perkembangan Keuangan Daerah 72 .35 triliun. Target tersebut telah mengalami revisi dari sebelumnya sebesar Rp11.8 triliun. 28 Tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah yang boleh ditagih di daerah.B BA AB B4 4 PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH 4. Hal ini merupakan amanah dari UU No. Sebab. 4. maka realisasi pajak hingga 30 April 2012 telah mencapai 32%.5 triliun.

2% 4.000.dibandingkan dengan perhitungan PBB tahun 2011. 15.1.-) x 0.3%) Terhadap kenaikan yang sangat signifikan tersebut. Alokasi 20% ini ditujukan untuk perbaikan saranan dan prasarana gedung sekolah. Hal ini mengakibatkan kenaikan PBB yang cukup besar.2% (atau 0. ALOKASI APBD UNTUK PENDIDIKAN Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menghimbau Pemerintah Kabupaten / Kota di Sumatera Utara agar mengalokasikan anggaran untuk pendidikan sebesar 20% dari total APBD masing-masing. terdapat resistensi dari masyarakat untuk membayarnya. Tabel 4. bantuan kepada seluruh guru di Sumatera Utara.3. Total anggaran pendidikan di Sumatera Utara tahun 2012 sekitar Rp150 miliar. 73 Perkembangan Keuangan Daerah | BAB 4 .Rp. Perbandingan cara perhitungan PBB 2011 dengan 2012 selengkapnya adalah sebagai berikut: PBB 2011 = (NJOP-NJOPTKP) X 20% (atau 40%) x 0. yakni untuk NJOP di atas Rp1 miliar tarif pajaknya 0. Di dalam Perda No. yang dapat berdampak pada tercapainya target penerimaan daerah.5%. PBB 2012 = (NJOP.3 Tahun 2011 terdapat dua tarif pengenaan PBB.2%.3% dan untuk NJOP di bawah Rp1 miliar tarif pajaknya 0.3% 0. NJOP dan Tariff NJOP >Rp1 miliar ≤Rp1 miliar Tariff 0. Sistem perhitungan yang ada saat ini tidak lagi menggunakan Nilai Jual Kena Pajak (NJKP) melainkan berdasarkan hasil perkalian NJOP dengan tarif. hingga 100%.000.

BAB V Perkembangan Ketenagakerjaan Daerah dan Kesejahteraan .

2.31 juta orang. jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas bekerja mengalami peningkatan. Senada dengan sektor pertanian.55% (meningkat dari sebelumnya 72. penduduk yang bekerja sebanyak 6. tingkat penyerapan tenaga kerja sektor industri juga meningkat 74 Perkembangan Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan| BAB 5 .1. PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAERAH 5. tepatnya 51. Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Kegiatan Utama Sumber : BPS 5.B BA AB B5 5 PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN “Perkembangan ketenagakerjaan yang baik terindikasi dari peningkatan partisipasi angkatan kerja dan penurunan tingkat pengangguran terbuka “ 5. kondisi ketenagakerjaan di Sumatera Utara ditandai perubahan beberapa yang indikator dan ketenagakerjaan menganggur juga peningkatan jumlah angkatan kerja.90%).56 juta orang. Seiring Secara dengan Jumlah keseluruhan. membaik.6 ribu orang.1.14 juta orang dan yang menganggur sebanyak 413.1.13%. meningkat sebesar 3. Lapangan Pekerjaan Utama Penyerapan tenaga kerja di Provinsi Sumatera Utara masih bertumpu pada sektor pertanian.1. Penduduk yang Bekerja dan Angka Pengangguran Pada Februari 2012. Persentase tersebut mengalami sedikit peningkatan dibandingkan tahun lalu (50. Dengan demikian Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada Februari 2012 tercatat sebesar 74. jumlah angkatan kerja Provinsi Sumatera Utara tercatat sebanyak 6.31% (menurun dari sebelumnya 6.37%) Tabel 5.09%) dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 6. Angkatan Kerja.86% dibandingkan bulan Agustus 2011 yang tercatat sebesar yang 6.1. Lebih dari setengah angkatan kerja di Sumut bekerja di sektor pertanian.

yang tergolong bekerja di sektor informal adalah pekerja bebas dan pekerja keluarga/ tidak dibayar.90% 10. pekerja di Provinsi Sumatera Utara bekerja sebagai buruh/karyawan/ pegawai. Porsi terkecil adalah berusaha dibantu buruh tetap/ buruh dibayar sebesar 3.81% 19. yang tercatat sebagai buruh/karyawan/pegawai sebesar 30.30%.00% 2012 Februari 15.98% 3. Secara umum.13% 24.96% menjadi 37.77% 100. Angkatan Kerja Sumut Menurut Status Pekerjaan Utama (%) Status Pekerjaan Utama 1 2 3 4 5 6 Berusaha Sendiri Berusaha dibantu buruh tidak tetap / buruh tidak dibayar Berusaha dibantu buruh tetap / buruh dibayar Buruh/ Karyawan/Pegawai Pekerja Bebas Pekerja Keluarga Jumlah Sumber : BPS 2011 Februari 14. dan buruh/ karyawan/ pegawai tergolong formal.14 juta orang yang bekerja di Provinsi Sumatera Utara.06% 100.00% Februari 2012 (Persen) 51.96% 100.14% 38.67%. Dari total 6. Status Pekerjaan Utama Status pekerjaan utama pada dasarnya terbagi 2.14% (Februari 2011) menjadi 11. Tabel 5.dari 10.16% (Februari 2012).34% 30.57% 3.3. Lebih rinci lagi dapat dibagi menjadi 6 status pekerjaan utama: berusaha sendiri. Sebaliknya tingkat penyerapan tenaga kerja di sektor jasa justru menurun dari 38.30% 5.71% 100.61% 29.16% 37.3. pada bulan Februari 2012 hampir 80% tenaga kerja di Sumatera Utara bekerja pada kegiatan formal. Tabel 5.67% 6.00% 5. Sementara itu. berusaha dibantu buruh tetap.96% 21.0% BAB 5 | Perkembangan Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan 75 .2. Jika dilihat dari status pekerjaan berdasarkan klasifikasi formal dan informal.34%. berusaha dibantu buruh tidak tetap/ buruh tidak dibayar. yaitu formal dan informal. meningkat pangsanya dibandingkan Februari 2011 sebesar 29. Persentase Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama (%) Lapangan Pekerjaan Utama Pertanian (Agricultural) Industri (Manufacturing) Jasa (Services) Jumlah Sumber : BPS Februari 2011 (Persen) 50.1.79% 24.71%.13% 11.

5. Senada dengan jenjang pendidikan lainnya.41 19.05 12.18% menjadi 9.03% menjadi 19.73 23.97 17.1.41% menjadi 23.12 4.87 15. Tabel 5.00 Februari 2012 (Persen) 1.70 100. jumlah jam kerja di atas 35 jam seminggu mengalami penurunan dari 66.51 33.86 4.50 76 Perkembangan Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan| BAB 5 .45 100.24 25 -34 1 . Penduduk yang bekerja dengan jenjang pendidikan terakhir SMK meningkat dari 9. Jumlah Jam Kerja Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional Februari 2012.17 35.30 66.55 64.52 19.30% (Februari 2011) menjadi 35.14 15 .00 5. Sebaliknya jumlah jam kerja hingga 34 jam dalam seminggu meningkat dari 33.70% pada Februari 2011 menjadi 64.50%.52%.89% menjadi 5.5. penduduk yang bekerja dengan jenjang pendidikan terakhir sarjana/ universitas juga meningkat dari 4. hanya 1. Penduduk yang bekerja dengan jenjang pendidikan terakhir SMA meningkat dari 19.03 Februari 2012 (Persen 39.21%. Persentase Penduduk Usia 15 Tahun ke atas yang Bekerja Menurut Jumlah Jam Kerja Seminggu di Provinsi Sumatera Utara Jumlah Jam Kerja Seminggu (jam) 1-7 8 .4.4.12%. pekerja dengan jumlah jam kerja 1 hingga 7 jam dalam seminggu relatif kecil pangsanya. Sementara itu. Penduduk yang Bekerja menurut Pendidikan Secara umum terjadi peningkatan penduduk yang bekerja dengan pendidikan tertinggi di atas pendidikan dasar. Persentase Penduduk Usia 15 Tahun ke atas yang Bekerja Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan di Provinsi Sumatera Utara Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan SD Kebawah Sekolah Menengah Pertama Sekolah Menengah Atas Februari 2011 (Persen) 40.34 35+ *) Jumlah Sumber : BPS Februari 2011 (Persen) 0. Tabel 5.5.67 23.28 12.55% (Februari 2012).45% pada Februari 2012. Penduduk bekerja dengan jenjang pendidikan terakhir SMP meningkat dari 23.1.39%.

81 4. Kendati NTP tersebut di atas 100.0 Februari 2012 (Persen 9.00 0.00 160.Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Sekolah Menengah Kejuruan Diploma I/II/III Universitas Jumlah Februari 2011 (Persen) 9. namun pada masa panen awal BAB 5 | Perkembangan Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan 77 .1.00 60. Nilai Indeks Ekspektasi Penghasilan 6 bulan yang akan datang pada akhir triwulan I-2012 sebesar 122.79.00 100. Pada akhir triwulan I-2012 Indeks Penghasilan Saat Ini tercatat sebesar 101. Senada dengan penghasilan saat ini.79.00 80.2.13.66 5.1. menurun dibandingkan triwulan lalu sebesar 103.2.2. Grafik 5. daya beli petani yang tercermin dari NTP juga mengalami penurunan bila dibandingkan dengan triwulan IV-2011.00 140.0 5. Pada triwulan I-2012.89 100. Indeks Penghasilan dan Indeks Ekspektasi Penghasilan 180. masyarakat juga memperkirakan akan terjadi penurunan penghasilan 6 bulan yang akan datang. Nilai Tukar Petani (NTP) Dari sisi petani.00 20.21 100.00 120. indeks penghasilan saat ini masih berada dalam tren yang menurun.39 2. NTP mencerminkan daya tukar produk pertanian dengan barang dan jasa yang diperlukan petani untuk konsumsi rumah tangga dan keperluan dalam menghasilkan produk pertanian.2. NTP tercatat sebesar 101. Tingkat Penghasilan Masyarakat Berdasarkan hasil Survei Konsumen yang dilaksanakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX.18 2.00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 2009 2010 2011 2012 Penghasilan saat ini dibandingkan 6 bln yl Ekspektasi penghasilan 6 bulan yad 5. PERKEMBANGAN KESEJAHTERAAN 5.00 40.

indeks NTPP hanya 99.59 untuk subsektor hortikultura (NTPH).tahun di sejumlah sentra padi di Sumatera Utara. Indikasi ini mencerminkan peningkatan harga yang tinggi tersebut tidak dinikmati oleh petani.17 untuk subsektor padi & palawija (NTPP). Nilai Tukar Petani Untuk periode Maret 2012. Ironisnya.65 untuk subsektor perikanan (NTN).99 untuk subsektor peternakan (NTPT).94. 107. di tengah melambungnya harga beras di awal Januari 2011.57 untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTPR). 78 Perkembangan Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan| BAB 5 . peningkatan ataupun penurunan harga komoditas pertanian lebih banyak ditentukan dan dinikmati oleh pedagang besar dalam struktur pasarnya. 102.2. Hal tersebut sekaligus mengkonfirmasi bahwa selama ini. 110. Grafik 5. NTP Sumut per sub sektor masing-masing tercatat sebesar 100. seharusnya terjadi peningkatan daya beli petani. melainkan oleh pedagang atau distributor. dan 96.

BAB VI Prospek Perekonomian Daerah .

aktivitas ekspor diperkirakan juga meningkat pada triwulan mendatang. Grafik 6. ketersediaan lapangan kerja.60% (yoy)1 dengan kecenderungan pada batas bawah. 1 Indeks Ekspektasi Konsumen Sumber: Survei Konsumen. pertumbuhan ekonomi Sumut pada triwulan II-2012 diperkirakan berada pada kisaran sebesar 6. Perkiraan Ekonomi Setelah tumbuh melambat pada laju 6. Diperkirakan berbagai proyek pembangunan infrastruktur belum banyak yang dimulai karena masih berada dalam tahap pengadaan. termasuk kondisi ekonomi. Kenaikan harga komoditas CPO yang diperkirakan terus berlanjut pada triwulan II-2012 turut mendukung 1 Angka Proyeksi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX BAB 6 | Prospek Perekonomian Daerah 79 . KBI Medan Pertumbuhan triwulan mendatang masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan mulai berjalannya konsumsi pemerintah. investasi di Sumatera Utara diperkirakan belum banyak dimulai pada triwulan II-2012 mendatang.40%-6.BAB 6 PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH 6.1. Sementara itu. dan ekspektasi penghasilan 6 bulan yang akan datang menunjukkan peningkatan optimisme ke depan. ekspektasi konsumen terhadap kondisi perekonomian yang akan datang.32% (yoy) di triwulan I-2012. Berdasarkan hasil Survei Konsumen yang dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX hingga April 2012. Selain konsumsi.

2 Ekspektasi Konsumen dan Inflasi Sumber : Survei Konsumen. 6. khususnya nilai ekspor CPO sebagai komoditas utama ekspor. namun pemerintah diperbolehkan melakukan penyesuaian harga BBM bersubsidi dan kebijakan pendukungnya jika rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam kurun waktu berjalan (6 bulan terakhir) mengalami kenaikan atau penurunan lebih dari 15% dari harga ICP yang diasumsikan dalam APBN P 2012. Namun demikian. Perkiraan Inflasi Daerah Laju inflasi tahunan pada triwulan II-2012 diperkirakan berada pada kisaran 5. Hasil Survei Konsumen yang dilaksanakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX menunjukkan adanya tendensi peningkatan harga pada 3 bulan dan 6 bulan yang akan datang.peningkatan nilai ekspor Provinsi Sumatera Utara.00%±1%.2. terdapatnya opsi untuk menyesuaikan harga BBM oleh pemerintah tanpa melalui persetujuan DPR turut menciptakan ketidakpastian. Hal ini tercermin BAB 6 | Prospek Perekonomian Daerah 80 .75 (IKK secara month to month). beberapa potensi risiko inflasi tetap perlu dicermati di antaranya adalah keputusan Rapat Paripurna DPR yang menetapkan harga jual eceran BBM tidak mengalami kenaikan. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IX Kendati demikian. Grafik 6. Penundaan kenaikan harga BBM pada awal April 2012 tersebut disinyalir sesuai dengan keinginan masyarakat sehingga mendorong keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke level yang optimis menjadi BS 102.

dari kenaikan nilai IEK menjadi BS 98.2 namun tetap berada pada level yang pesimis. Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Utara dan Kota Medan berupaya mengendalikan inflasi baik dari sisi demand maupun supply. Beberapa rencana kerja yang telah diagendakan TPID Provinsi Sumatera Utara dan TPID Kota Medan dalam waktu dekat adalah: a. Memberikan informasi harga-harga kepada masyarakat melalui wartawan berupa Press Release (dan atau Talkshow). Dalam press release tersebut antara lain ditekankan informasi yang positif berkenaan dengan perkembangan harga. b. Mengundang distributor/ asosiasi gula pasir, minyak goreng, beras, dan daging unggas (Forum Komunikasi Pedagang Unggas-FORGAS) untuk menanamkan kesadaran sekaligus memperkuat hubungan antara TPID dengan distributor/ asosiasi. c. Mengundang Otorita Belawan, DPD Organda dan didampingi Divisi Khusus Pelabuhan Belawan, Badan Otoritas Wilayah II Bandara Polonia, Balai Besar Jalan Nasional Wilayah II pada rapat mendatang. Hal ini dimaksudkan untuk mengawal inflasi dari sisi supply, khususnya memastikan hasil produksi dapat terdistribusi dengan baik dan efisien. d. Meningkatkan koordinasi antar instansi, terutama Bulog dan Dishub terkait penyaluran raskin.

BAB 6 | Prospek Perekonomian Daerah

81

Lampiran

.

Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionally blank .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful